www.smashyes.com

www.smashyes.com

Rekor Kekalahan Bisa Semakin Lebar

Kamis, 29 September 2016

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan punya tugas berat
TIGA kali kekalahan beruntun dialami Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan atas pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen.  Kali terakhir, pil pahit tersebut ditelan pasangan ganda putra terbaik Indonesia tersebut dalam Japan Open 2016 pekan lalu. Sementara, dua kekalah lain dialami Hendra/Ahsan di Singapore Open 2016 dan Kejuaraan Asia 2016.

Total, kini, mereka kalah 2-4 dalam rekor pertemuan dengan Li/Liu. Kekalahan perdana dialami Hendra/Ahsan di Malaysia Open 2014. Meski sebenarnya, pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut menang dalam perjumpaan pertama di Tiongkok Open 2014. Bahkan, Hendra/Ahsan sempat leading usai mempermalukan Li/Liu di Malaysia Open tahun ini.

Kini, ancaman semakin tertinggal terbentang. Hendra/Ahsan kembali bertemu dengan pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, pada babak perempat final Korea Open 2016.

Hendra /Ahsan melaju ke babak perempat final  setelah melewati laga tiga game. Kemenangan diraih Hendra/Ahsan atas Lee Jhe-Huei/Lee Yang (Taiwan), dengan skor 18-21, 21-14, 21-15.

Di game pertama, Hendra/Ahsan memang sudah kecolongan start saat tertinggal 0-4 dari Lee/Lee. Pasangan Taiwan yang tak diunggulkan ini semakin percaya diri ketika mampu terus mengungguli Hendra/Ahsan hingga 12-6 dan akhirnya mengamankan game pertama.

 Pada game kedua, Hendra/Ahsan mulai bermain lebih agresif dengan unggul di permainan depan. Perubahan strategi ini membuahkan hasil, Hendra/Ahsan unggul 17-11. Di game penentuan, Hendra/Ahsan yang sudah unggul 7-4, malah balik tertinggal 10-12. Saat kedudukan imbang 15-15, Hendra/Ahsan tak memberi kesempatan pada Lee/Lee dan mereka meraih enam poin berturut-turut menuju kemenangan.

“Pasangan Taiwan ini punya kecepatan dan kekuatan, di game pertama kami memang tertekan duluan. Di game selanjutnya, kami coba atur penempatan bola dan banyak bermain di depan net,” kata Hendra yang dihubungi di Seoul seperti dikutip media PBSI.

Sementara, di babak II, pasangan Li/Liu melibas rekan senegara Liu Cheng/Zheng Siwei dengan tuga game 22-20, 14-21, 24-22. (*)

Praveen/Melati Gagalkan DKI Sapu Bersih

Praveen/Melati meraih emas ganda campuran
DKI Jakarta gagal memborong medali emas dari cabang olahraga bulu tangkis nomor perorangan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat.  Penggawa ibu kota hanya mampu meraih empat gelar.

Meski, sebenarnya, kans untuk membawa pulang semua emas terbentang. Mereka meloloskan wakilnya di lima nomor yang dipertandingkan.

Sayang, di final yang dilaksanakan di Cirebon pada Selasa waktu setempat (28/9/2016), pasangan Hafiz Fauizal/Shela Devi Aulia menyerah dua game langsung 14-21, 18-21 kepada unggulan teratas asal Jawa Tengah Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani.

Sementara, di empat nomor lainnya, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda putri, ibu kota merajai. Di tunggal putra, wakil DKI Jakarta Jonatan Christie tak mengalami kesulitan untuk menundukkan Wisnu Yuli Prasetyo (Jawa Timur) dengan 21-16, 21-5. Sukses ini diilkuti oleh Fitriani. Dia memupus asa wakil tuan rumah Hana Ramadhini dengan 24-22, 21-12.

Di ganda putri, pasangan Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris unggul 21-13, 21-11 atas Suci Rizki Andini/Tiara Rosalia Nuraidah. Pesta ditutup pasangan ganda putra Markus ''Sinyo'' Gideon Fernaldi/Angga Pratama dengan memupus asa Kenas Adi Haryanto/Praveen Jordan (Jawa Tengah) dengan 21-17, 21-15.

Di nomor beregu sendiri, emas disabet semuanya oleh Jawa Barat. Di putra,mereka mengalahkan Jawa Tengah dan di putri menghentikan DKI Jakarta. (*)

Hanya Ulangi Hasil 2012

Jonatan Christie kalahkan Wisnu Yuli
HARAPAN Jawa Timur membawa pulang emas dari cabang olahraga bulu tangkis dari Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 pudar. Satu-satunya wakil yang tersisa, Wisnu Yuli Prasetyo, menyerah di babak final.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Cirebon, Jawa Barat, pada Rabu WIB (28/9/2016), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut kalah oleh Jonatan Christie dari DKI Jakarta dengan dua game yang mudah 16-21, 5-21. Laga tersebut berlangsung selama 55 menit.

Sebenarnya, di atas lapangan, Wisnu lebih diunggulkan. Alasannya, di babak penyisihan grup beregu Grup B, dia menghentikan perlawanan Jonatan dengan 14-21, 21-19, 21-14.

Sayang, penampilan tersebut gagal dipertahankan di babak final perorangan. Meski sebelumnya, di semifinal, Wisnu, yang asli Tulungagung, melibas unggulan kedua Ihsan Maulana Mustofa (Jawa Tengah).

''DI PON 2016 ini, sebenarnya Wisnu bermain gemilang. Semua pebulu tangkis pelatnas dikalahkannya di beregu. Selain Jonatan, Ihsan dan Anthony Ginting (Jawa Barat) disikat Wisnu,'' ungkap Ketua Pengprov PBSI Jawa Timur Wijanarjko Adi Mulya.

Kekalahan Wisnu ini membuat Jatim harus puas dengan capaian tertinggi perak. Hal yang sama juga dilakukan pada PON 2012 di Pekanbaru, Riau.

Bedanya, kala itu, medali perak bukan dari tunggal putra. Aprilia Yuswandari mampu menembus final tunggal putri. Sayang, langkahnya dihentikan oleh Bellaetrix Manuputty yang membela DKI Jakarta. (*)

Modal Nekat Hadapi Jorgensen

Selasa, 27 September 2016

Jan O Jorgensen diunggulkan di posisi ketiga (foto:yonex)
SONY Dwi Kuncoro bakal berjuang sendirian di Korea Open 2016. Dia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tampil dalam turnamen berhadiah total USD 600 riu tersebut.

Tommy Sugiarto yang pekan lalu bersama Sony berjuang di Japan Open, di Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, memilih absen. Dalam Japan Open, Tommy dan Sony meraih hasil buruk. Kedua mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut tumbang di babak I.

Di Korea Open, Sony juga mendapat tugas yang tak mudah. Arek Surooyo tersebut langsung berhadapan dengan unggulan ketiga Jan O Jorgensen dari Denmark.

Selama ini, Sony baru sekali berjumpa dengan Jorgensen. Itu terjadi di All England 2013.

Saat itu, Sony kalah 7-11. Pertandingan tak dilanjutkan karena bapak dua anak tersebut mengalami cedera.

''Saya bondo nekat aja melawan Jorgensen,'' kata Sony melalui pesan singkat.

Hanya, dia tetap mengaku tak minde. Meski, saat ini, Jorgensen tengah on fire.

Di Japan Open, dia mampu menembus babak final. Sayang, langkahnya dihentikan unggulan teratas dari Malaysia Lee Chong Wei.

Di Korea Open 2016, wakil Indonesia lainnya adalah pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Keduanya diharapkan menjadi pemenang di ajang yang dilaksanakan di Seoul tersebut. (*)

Tinggal Bertumpu pada Wisnu


Wisnu Yuli saat berlaga di Indonesian Masters
HARAPAN JAwa Timur meraih emas di Pekan Olahraga Nasional  (PON) 2016 dari cabang olahraga bulu tangkis semakin berat.  Kini, provinsi dengan ibu kota Surabaya tersebut hanya menyisakan satu wakil di semifinal nomor perorangan.

Wakil semata wayang tersebut adalah Wisnu Yuli Prasetyo di nomor tunggal putra. Tiket empat besar diperoleh usai mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung yang kini bernaung di klub Djarum Kudus tersebut mengalahkan Fikri Ihsandi Hadmadi dari DKI Jakarta dengan straight game 21-19, 21-17 di Cirebon, Jawa Barat, pada Senin WIB (26/9/'2016).

Hanya, untuk menembus babak final cukup berat. Wisnu akan menantang unggulan kedua asal Jawa Tengah Ihsan Maulana Mustofa. Pebulu tangkis masa depan Indonesia itu di perempat final melibas rekannya di pelatnas, Firman Abdul Kholik, dengan 21-18, 21-10.

Jika Wisnu kalah, ini menjadi hasil yang mengecewakan bagi Jawa Timur. Bahkan bisa dikatakan gagal total.

Meski, sebenarnya, di PON 2016, mereka diperkuat oleh pebulu tangkis papan atas. Selain Wisnu di tunggal, di ganda ada para barisan andalan Indonesia di ajang internasional. Sebut saja Kevin Sanjaya, Riky Widianto, Ronald Alexander, dan Edi Subaktiar.

Tapi, mereka hanya mengantarkan Jawa Timur hingga babak semifinal nomor beregu putra. Begitu juga di beregu putri yang juga terhenti langkahnya di empat besar.

Empat tahun lalu di Pekanbaru, Riau, Jawa Timur juga memperoleh perunggu dari beregu. Sedang di perorangan, Aprilia Yuswandari mempersembahkan perak di perorangan tunggal putri. (*)

Semakin Dekat untuk Dipisah

Senin, 26 September 2016

Hendra/Ahsan gagal bersinar di Japan Open 2016
KEGAGALAN kembali mengiring penampilan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Langkah pasangan ganda putra terbaik Indonesia saat ini tersebut hanya sampai babak semifinal Japan Open 2016.

Hendra/Ahsan dikalahkan Li Jinhui/Liu Yuchen dari Tiongkok dengan rubber game 13-21, 21-18, 15-21 di Tokyo pada Sabtu (24/9/2016). Ini menjadi kekalahan keempat juara dunia 2015 tersebut atas lawan yang sama.  Ironisnya, tiga kali kekalahan tersebut ditelan secara beruntun.

Hasil di Jepang Open 2016 bisa semakin mempertegas bahwa Hendra/Ahsan bakal diceraikan secara permainan. Apalagi, di Eropa dalam Denmark Open 206 dan France 2016, keduanya tak lagi berpasangan.

Rencananya,  mereka akan dimix dengan pasangan Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan. Hendra dengan Agung dan Ahsan bersama Berry.

Usai menjadi juara dunia 2015, Hendra/Ahsan seperti sudah kehilangan kekuatan. Sempat memberi harapan dengan di awal tahun dengan menjadi juara di Thailand Masters 2016, keduanya terus layu.

Di semua turnamen yang diikuti, pasangan yang dibentuk pada 2013 tersebut selalu tumbang di kandang sendiri. Ironisnya, mereka sudah kalah dengan pasangan-pasangan yang secara kualitas dan ranking jauh di bawah.

Bahkan, dalam Indonesia Open Super Series Premier, Hendra/Ahsan sudah menyerah di babak II. Puncaknya di Olimpiade Rio 2016. Digadang-gadang membawa pulang emas, keduanya sudah tersingkir di penyisihan.

''Usai dari Eropa nanti, kami akan mengevaluasi penampilan Hendra/Ahsan. Tetap atau akan dipisah akan dilihat nanti,'' kata Ahmad Budiharto, Wasekjen PP PBSI. (*)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger