www.smashyes.com

www.smashyes.com

Felix Anthonius, Pelatih Junior Berbakat asal Hi-Qua Wima

Kamis, 12 Oktober 2017

Felix (dua dari kiri) di podium SBI 2014 di Surabaya
Pensiun Muda, Pernah Berpasangan dengan Juara Dunia



Berhenti di usia muda sebagai atlet tak membuatnya patah semangat. Sebaliknya, Felix Anthonius tertantang mencetak pebulu tangkis berprestasi.

--
SEORANG lelaki tengah duduk di sebuah pojok restoran cepat saji. Dengan memakai jaket warna merah, dia tampak memenangi telepon seluler.

Penulis kemudian datang menghampiri. Tak lama kemudian, lelaki bernama Felix Anthonius tersebut mengajak penulis masuk dan memesan makanan.

Empat buah ayam dan dua bungkus nasi dipesannya. Dua piring pun dibawa ke meja di bagian luar.

Rupanya, Felix usai menangani anak asuhnya di Hi-Qua Wima Surabaya. Dia pun juga bakal segera kembali melatih anak asuhnya di klub yang sama.

''Istirahat sebentar.Habis ini melatih lagi,'' jelas Felix.

Karena kerja kerasnya itu nama lelaki kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 15 November 1974 tersebut masuk dalam jajaran pelatih yang sukses mencetak pebulu tangkis muda . Bukan hanya sebagai pelatih, sebenarnya saat menjadi pebulu tangkis, Felix sempat memberikan harapan besar.

Dia pernah direkrut klub besar, Djarum Kudus. Sebelumnya, Felix mengenal bulu tangkis di klub asal Surabaya, Wima, kini menjadi Hi-Qua Wima.

''Sejak usia 11 tahun saya mulai berlatih dan bergabung Wima. Ini karena keinginan saya untuk bisa menjadi pebulu tangkis,'' kenang Felix.

Hanya dalam waktu dua tahun, kemampuannya tercium Djarum. Pada 1988, Felix ditempa di Kudus yang menjadi markas klub yang disponsori perusahaan rokok tersebut.

Di Djarum, Felix mampu mempersembahkan prestasi. Felix ikut berkontribusi ketika Djarum menjadi juara Ardath Trophy and Masters 1990 di Bandung, Jawa Barat.

''Saya turun di nomor ganda. Ketika itu, saya dipasangkan dengan Sigit Budiarto,'' terang Felix.

Kelak di saat senior, Sigit menjadi salah satu andalan Indonesia di nomor ganda. Dengan capaiannya antara lain juara dunia 1997, All England 2001 dan 2003. Felix menganggap dia belum rezeki dan nasibnya tak bisa mengikuti jejak pasangannya tersebut.

''Cedera lutut yang membuat saya kemudian memilih keluar dari Djarum dan kembali ke Wima pada 1992. Saya cedera saat salah tumpuan dalam latihan,'' ujar Felix.

Wima, ujarnya, menjadi pilihan karena dia ingin membagi ilmu kepada pebulu tangkis muda yang dilatihnya. Apalagi, di klub tersebut ada sosok Ferry Stewart yang menjadi panutan Felix.

Ferry merupakan sosok pelatih yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencetak pebulu tangkis. Belajar dari Ferry, dia sukses melahirkan para atlet yang levelnya mendunia.

Tercatat ada nama Sony Dwi Kuncoro, Febriyand Irvanaldy, Ricky Widianto, Selvanus Geh, hingga Ade Yusuf. Nama-nama itu mampu menembus kerasnya persaingan di Pelatnas Cipayung.

Bahkan, Sony mampu meraih medali perunggu di Olimpiade Athena 2004. Sony juga pernah tiga kali menjadi juara Asia yakni pada 2002, 2003, dan 2005. Sedangkan Febriyand, yang juga turun di tunggal, pernah menjadi juara di ajang Sirkuit Nasional.

Sementara, Ricky, Selvanus, dan Yusuf merupakan pebulu tangkis spesialis nomor ganda. Ketiganya pernah menjadi penghuni Pelatnas PBSI. Namun, dari mereka, kini tinggal Ade yang masih bertahan.

Berkat polesan Felix dari junior, Ricky, Selvanus, dan Ade pernah mengharumkan Indonesia dengan menjadi juara di turnamen internasional.

Ricky pernah juara di India Grand Prix Gold 2015, Selvanus di New Zealand 2015 berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang kini menjadi ganda papan atas dunia dengan Marcus Gideon. Sedang Ade baru saja menjadi juara dengan Wahyu Nayaka di Vietnam Open 2017.

Karena itu, Felix sempat menjadi pelatih di Thailand. Itu dilakukannya pada 2005-2010 atau dia usai menangani Tim Jawa Timur dalam Kejurnas. Atlet yang ditangani  salah satunya Tontowi Ahmad, yang kelak menjadi peraih emas Olimpiade Rio 2016 di nomor ganda campuran dengan Liliyana Natsir. Saat itu, dalam Kejurnas di Bali 2002, Tontowi menembus semifinal ganda putra berpasangan dengan Teguh Siswanto.

Pada 2005–2009, Felix menjadi pelatih di Trillert Udohthani.Salah satu anak asuhnya yang kini menjadi pebulu tangkis andalan Thailand adalah Saapshiree Taerattanachai. Kini, dia masuk peringkat 10 besar dunia di nomor ganda putri. Kemampuan Felix juga memikat Tananon Bangkok. ''Setahun saya di Tananon,'' ungkapnya.

Tapi, semua itu belum menghentikan keinginan Felix terus mencetak pebulu tangkis berbakat. Saat kembali ke Hi-Qua Wima pada 2010,  ada beberapa anak asuhnya yang ditangani mulai menunjukan potensi besar.

Sebut saja Tabita Kristian/Jannatul A'la dan Lisa Anjeli. Tabita/Jannatul merupakan juara ganda putri kelompok pemula putri dalam Sirnas Li-Ning Jogjakarta 2013dan Kalimantan Open 2013. Tahun lalu, mereka juga naik ke podium terhormat ganda taruna putri di Sirnas Li-Ning Jatim.

Sedangkan Lisa merupakan juara Kejurkot Piala KONI Surabaya 2017 di nomor tunggal remaja putri.

Dari semua yang sudah dicapai, hasil dalam Djarum Superliga Badminton Indonesia 2014 yang paling berkesan. Dengan materi yang tak diunggulkan, Hi-Qua Wima mampu diantarkannya menembus babak semifinal dan akhirnya menduduki posisi ketiga dalam ajang yang dilaksanakan di DBL Arena, Surabaya, tersebut. (*)


Biodata
Nama: Felix Anthonius
Lahir: Surabaya,15 November 1974
Alamat: Kupang Panjaan IIIA/29 Surabaya
Pengalaman:
1984-1987: Wima
1988-1992: Djarum Kudus
Prestasi:
-Juara tunggal di Sinar Mutiara Tegal
-Posisi III Suryanaga Open Surabaya
-Posisi II Elang Open Jogjakarta
-Posisi III Bimantara Jakarta Open
-Juara Beregu Ardath Trophy XI, Bandung (berpasangan dengan Sigit Budiarto
-Juara Beregu Ardath Trophy XII, Jember (berpasangan dengan Sigit Budiarto)
-Juara Ardath Master I, Jakarta (berpasangan dengan Sigit Budiarto)

1993– 2000    :   Pelatih PB Hi-Qua Wima Surabaya
Menangani  Sony Dwi Kuncoro, Febriyan Irvanaldi , Ade Yusuf , Selvanus Geh, Ricky Widianto, Imam Tohari

2001 – 2004    :  Tim Kejurnas Jawa Timur
Atlet yang ditangani  Tontowi Ahmad

 2005 – 2009    :   Pelatih di Trillert Udohthani, Thailand
Atlet yang ditangani Saapshiree Taerattanachai

 2009 – 2010    : Pelatih di Tananon Bangkok, Thailand

2010 – sekarang   : Pelatih di P.B HI – Qua Wima, Surabaya

2014        :   1. Membawa Hi-Qua Wima di Posisi III Djarum Superliga Badminton Indonesia Beregu Putra
2015        : 1. Ofisial Hi-Qua Wima di Djarum Superliga Badminton Indonesia di Bali

Bisa Rasakan Lagi Podium Terhormat

Minggu, 24 September 2017

KEGAGALAN Marcus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya menjadi juara berakhir. Keduanya pun bisa kembali merasakan naik ke podium terhormat.

Itu dilakukan Sinyo/Kevin di Japan Open 2017. Dalam final yang dilaksanakan di Tokyo pada Minggu waktu setempat (24/9/2017), mereka mengalahkan wakil tuan rumah Takuto Inoue/Yuki Kaneko dengan skor 21-12, 21-15.

Gelar ini sekaligus menjadi yang keempat buat Kevin/Marcus sepanjang tahun 2017. Sebelumnya mereka sudah mengoleksi titel juara dari All England, India Open Super Series dan Malaysia Open Super Series Premier 2017.

“Secara keseluruhan kami main cukup bagus. Mungkin awal-awal sempat kurang menguasai lapangan. Karena shuttlecocknya juga beda dari Korea Open kemarin. Tapi setelah itu sudah enak mainnya dan lebih menguasai lapangan,” kata Sinyo seperti dikutip media PBSI.

Gelar ini, ungkapnya, sangat berarti. Alasanya, bisa membangkitkan kepercayaan diri setelah kemarin-kemarin sempat kalah terus.

''Kami bisa bangkit lagi. Jadi bagus buat menambah kepercayaan diri kami juga, ini sangat penting buat kami berdua,” sambung Kevin.

Laga final kali ini merupakan pertemuan ketiga Kevin/Marcus dengan Inoue/Kaneko. Pada dua pertemuan sebelumnya, Kevin/Marcus selalu berhasil memetik kemenangan. Terakhir di India Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-16 dan 21-18.

 “Saya tidak menyangka akan menang mudah. Saya pikir akan ramai. Karena kemarin-kemarin mereka mainnya bagus dan safe, defendnya juga nggak gampang mati. Mungkin mereka juga agak nervous, jadi agak terburu-buru,” ucap Sinyo.

Game pertama berlangsung dalam 12 menit saja. Kevin/Marcus dengan baik dan cepat berhasil merebut poin demi poin. Tak banyak reli yang terjadi pada game pertama ini. (*)

Kali Ini hanya Sampai Semifinal

Sabtu, 23 September 2017

PASANGAN ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto tak bisa mengulang sukses pekan lalu. Mereka menyerah kepada pasangan Tiongkok Wang Yilyu/Huang Dongping 14-21, 19-21 di babak semifinal Japan Open Super Series Premier 2017.

Padahal, pekan lalu, di final Korea Open Super Series 2017, Praveen/Debby menang atas lawan yang sama dengan 21-17, 21-18. “Tadi kami kalah tenaganya dari lawan. Sama tadi juga ada reli yang kami turun fokusnya,” kata Jordan usia laga semifinal Japan Open 2017 di Tokyo (23/9/2017) seperti dikutip media PBSI.

Sebenarnya, tambah Debby, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok,  tampil tak berubah. Hanya,kali ini, mereka jauh lebih berani buat mengangkat bola.

''Mereka berani membuka dulu, berani defend dan balik serang. Di sini juga bolanya berat dan mereka cukup solid. Mereka nggak takut-takut out. Kalau kemarin di Korea kan ada angin, jadi mereka nggak bisa angkat bola seleluasa hari ini,” ungkap Debby.

Meski tak berhasil mencapai partai puncak, Jordan/Debby mengaku tetap bersyukur dengan pencapaian mereka di Jepang kali ini. Kekalahan ini juga membuat Indonesia sejak 2008 tak pernah lagi menjadi juara di Japan Open.Ketika itu, pasangan M. Rijal/Vita Marissa naik ke podium juara.  (*)

Lin Dan Gagal Ulangi 2015

KEPERKASAA N Lin Dan terus tergerus. Gelar juara sudah bukan menjadi hal yang mudah bagi pebulu tangkis asal Tiongkok tersebut.

Sejak April lalu, Lin Dan gagal naik ke podium terhormat. Terakhir, pebulu tangkis yang dijuluki Super Dan tersebut hanya sampai babak perempat final Japan Open 2017.

Langkahnya dihentikan Son Wan-ho dari Korea Selatan dengan dua game langsung 15-21, 15-21 di Tokyo pada Jumat waktu setempat (23/9/2017). Ini menjadi kekalahan ketiganya dari Wan-ho selama 16 kali pertemuan.

Sebenarnya, Japan Open bukan ajang yang asing bagi Lin Dan. Lelaki berjuluk Super Dan itu pernah menjadi pemenang pada 2015. Ketika itu, dia mengalahkan wakil Denmark Viktor Axelsen dengan tiga game yang ketat 21-19, 16-21, 21-19.

Tahun ini, Lin Dan sebenarnya sudah dua kali menjadi juara yakni di Swiss Open dan Malaysia Open. (*)

Astrup/Rasmussen Bisa Jadi Mimpi Buruk

Kamis, 21 September 2017

PASANGAN Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Sinyo' Fernaldi Gideon harus mulai memikirkan variasi permainan. Alasannya, lawan-lawan yang dihadapi mulai hapal dengan gaya bermain pasangan ganda putra terbaik Indonesia tersebut.

Usai dipaksa ketat di babak I, kali ini Kevin/Sinyo harus tampil tiga game 21-13, 11-21, 21-18 saat menghadapi pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, di babak kedua Japan Open Super Series 2017 di Tokyo pada  Kamis waktu setempat (21/9/2017).

 Sebelumnya, rekor pertemuan mencatat, dalam empat kali pertandingan, Kevin/Marcus selalu bisa mendapat kemenangan. Terakhir di Singapore Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-12, 21-15.

Bahkan, jika masih bermain monoton, mantan pasangan nomor satu dunia itu bisa pulang lebih awal. Alasannya, di babak perempat final, Kevin/Sinyo akan berjumpa lawan tangguh, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.

Pasangan Denmark itu menang dalam pertemuan terakhir. Ironisnya itu terjadi di Indonesia Open Super Series Premier 2017 lalu. Kevin/Sinyo kalah  dua game langsung 16-21, 16-21. (*)

Lolos tapi Kembali Bertemu Unggulan I

Rabu, 20 September 2017

JALAN terjal menghadang Greysia Polii/Apriani Rahayu di Japan Open 2017. Meski, kini, pasangan ganda putri andalan Indonesia tersebut mamu melewati hadangan lawan di babak pertama dalam ajang yang masuk level super series premier tersebut.

Sebelumnya di babak pertama, Greysia/Apriani sukses memulangkan pasangan Thailand Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong, dengan rubber game 21-14, 17-21, 21-13 di Tokyo pada Rabu waktu setempat (20/9/2017). Ini merupakan pertemuan kedua Greysia/Apriani dengan pasangan tersebut. Sebelumnya di Thailand Open 2017, Greysia/Apriani menang dengan 21-12 dan 21-12.

Namun, di babak kedua, mereka  kembali akan menghadapi pasangan nomor satu dunia, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang).

Pekan lalu di Korea Open Super Series 2017, kedua pasangan ini baru saja bertemu di lapangan. Saat itu, Greysia/Apriani kalah dua game langsung dengan 15-21, 13-21.

“Kami mau coba lagi, apa yang belum kami terapkan kemarin. Seperti pola main yang nggak monoton. Kami coba untuk tidak tertekan lawan. Kami harus siap menghadapi mereka, dan yang penting pikirannya aja dulu jangan mau kalah,” kata Greysia seperti dikutip dari media PBSI.

Sayang, jejak keberhasilan Greysia/Apriani tak dapat diikuti oleh pasangan ganda putra, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Angga/Ricky mundur bertanding dan menyerahkan kemenangannya kepada unggulan empat asal Negeri Sakura, julukan Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Hal ini terjadi menyusul cedera otot paha kanan yang dialami Ricky dalam sesi latihan sebelum bertanding di Tokyo Metropolitan Gymnasium.(*)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger