www.smashyes.com

www.smashyes.com

Masih Belum Bisa Lewati Tunggal Tiongkok

Kamis, 22 Juni 2017

TUNGGAL putra Indonesia harus kerja keras. Kelas mereka masih kalah dibandingkan seteru beratnya, Tiongkok.

Buktinya, dua andalan merah putih tumbang di hari yang sama dalam Australia Open 2017. Jonatan Christie harus mengakui keunggulan Lin Dan dan Anthony Sinisuka tak berdaya di tangan Chen Long.

Kali ini Jonatan ditaklukkan Super Dan, julukan Lin Dan,  di babak II dengan skor 14-21,19-21 pada pertandingan yang dilaksanakan Kamis (22/6/2017). Sedangkan Anthony juga kalah straight game 10-21, 13-21.

Meskipun kalah, Jonatan mengaku cukup puas dengan penampilannya, terutama di game kedua. Sempat memimpin 7-1 di awal game kedua, perolehan skor Jonatan perlahan mulai disusul Lin Dan. Saat kedudukan imbang 18-18, Jonatan melakukan kesalahan beruntun hingga akhirnya Lin Dan merebut tiket perempat final.

“Di game kedua, saya cukup puas dengan penampilan saya. Lin Dan kelihatan benar-benar mengejar shuttlecock. Sayangnya saya melakukan kesalahan di akhir game kedua. Saat itu senar raket saya bergeser, jadi tensinya berubah, ini mempengaruhi arah pukulan saya,” beber Jonatan seperti dikutip media PBSI.

Jonatan juga telah mempelajari pertandingan Lin Dan di babak sebelumnya kala ia melawan Lee Dong-keun (Korea). Namun permainan Lin Dan ternyata berbeda saat bertemu Jonatan, sehingga Jonatan perlu beradaptasi dengan pola yang diterapkan Lin Dan di game pertama.

“Tiap pemain pasti begitu, kadang di video dan di lapangan berbeda mainnya. Ya pokoknya kalau ketemu lagi harus dicoba terus sampai bisa (menang). Dilatih lagi teknik dan mentalnya. Saya juga harus lebih yakin di setiap pukulan, jangan ragu-ragu,” tuturnya.

Dengan kekalahan Jonatan dan Anthony, maka Indonesia hanya mengirim satu wakil ke laga perempat final Australia Open Super Series 2017 lewat pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto.

Pasangan ganda putra ‘gado-gado’ Hendra Setiawan/Tan Boon Heong (Malaysia), juga lolos ke perempat final setelah menang atas Lee Yang/Lee Jhe-Huei (Taiwan), dengan skor 21-17, 21-11.
(*)

Srikant Lampaui Dua Legenda India

Senin, 19 Juni 2017

KIDAMBI Srikanth dapat apresiasi. Asosiasi Bulu Tangkis India bakal menggyurnya dengan bonus.

Ini setelah Srikanth mampu menjadi juara nomor tunggal putra dalam ajang Indonesia Open Super Series Premier 2017. Dia menjadi pebulu tangkis India yang berhasil menjadi juara di Indonesia Open.Srikant mampu melebihi para legenda negeri tersebut seperti Prakash Padukono dan Gopichand.

Dalam final Indonesia Open Super Series Premier 2017 di JCC Jakarta pada Minggu (18/6/2017), Srikanth menang dua game langsung 21-11, 21-19 atas Kazumasa Sakai dari Jepang dengan 21-11, 21-19.

Presiden BAI  Himanta Biswa Sarma merayakan kemenangan atletnya yang masih berusia 23 tahun itu. Menurutnya, Srikant mampu menjadi kebanggaan bagi negaranya.

''Saya memanggilnya usai pertandingan dan mengucapkan selama atas kemenangannya,'' ujar Himanta.

Sebenarnya, pada 2017 ini, Srikanth mengawali dengan keraguan. Dia berkutat dengan cedera.

''Tapi, dia menunjukkan kebangkitan usai mengalahkan pebulu tangkis nomor satu dunia  Son Wan-ho di semifinal dan mendominasi di pertandingan final,'' ujar Himanta.

Tunggal putra India menjadi sorotan di Indonesia Open Super Series Premier 2017.  Rekan Srikanth,  HS Prannoy,  mampu  memulangkan dua kandidat juara yakni Lee Chong Wei dari Malaysia dan Chen Long (Tiongkok). (*)

Kutukan Itu Akhirnya Berakhir

PERJUANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir membuahkan hasil. Keduanya mampu menjadi juara di kandang sendiri dalam Indonesia Open Super Series Premier 2017.

Sebelumnta, Tontowi/Liliyana harus menanti selama tujuh tahun. Ini sekaligus melengkapi koleksi gelar bagi keduanya menjadi komplet.
 Semua ajang bergengsi di muka bumi sudah mampu disabet. Mulai dari All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade.

“Terbukti Istora itu yang angker buat kami. Kalau JCC ternyata tidak. Saya bersyukur dengan keterbatasan saya, lutut saya belum seratus persen pulih, saya masih bisa,” kata Liliyana usai pertandingan.

 Lawan mereka di babak final, Zheng Siwei/Chen Qingchen dari Tiongkok yang ditempatkan sebagai unggulan teratas dikalahkan dua game langsung  22-20, 21-15 di JCC Jakarta pada Minggu (18/6/2017).

''Ini tidak mudah, mereka adalah pasangan muda yang sedang on fire dan andalan Tiongkok. Kami pernah satu kali bertemu dan kalah, '' ucap Liliyana.

Mereka, lanjutnya, banyak mempelajari video pertandingan lawan. Apalagi, di final, dia bersama Tontowi bisa menerapkan permainan yang benar.

''Karena poin ketat tetapi kami bisa bermain fokus,” jelas Liliyana.

Raihan gelar ini sekaligus mengakhiri ‘kutukan’ gelar di Indonesia Open. Sejak pertama kali berpartisipasi di Indonesia Open tahun 2011, Tontowi/Liliyana belum pernah menaklukkan ketatnya persaingan di kejuaraan ini. Keduanya tercatat pernah masuk final pada tahun 2011, namun kala itu mereka dikalahkan Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok).

Setahun kemudian, Tontowi/Liliyana kembali mencoba peruntungan di laga final. Namun mereka masih belum beruntung dan dihentikan oleh pasangan ganda campuran terbaik Thailand, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam.

Sempat diragukan karena cedera lutut yang diderita Liliyana pada akhir tahun lalu, penampilan pasangan ini begitu luar biasa di laga final. Kedua pasangan selalu berkejaran angka hingga saat-saat kritis. Satu sambaran bola tanggung oleh Liliyana memastikan pasangan ini mempersembahkan gelar untuk Indonesia.

Hasil Final:

Ganda Putri: Chen Qingchen/Jia Yifan (Tiongkok x5) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x3) 21-19, 15-21, 21-10

Tunggal Putra: Kidambi Srikanth (India) v Kazumasa Sakai (Jepang) 21-11, 21-19

Tunggal Putri: Sayaka Sato (Jepang) v Sung Ji-hyun (Korsel x5) 21-13, 17-21, 21-14

Ganda Putra: Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok x3) v Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark x2) 21-19, 19-21, 21-18

Ganda Campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x6) v Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok x1) 22-20, 21-15

Kini hanya Fokus Kejar Prestasi

Minggu, 18 Juni 2017

LIMA tahun berada di Singapura sudah cukup bagi seorang Aldo Oktaviano. Kini, fokusnya adalah mengejar karir. Sakura Badminton Management menjadi jalan baginya untuk meraih impiannya itu.

''Sejak SMP saya di Singapura. Saya di sana melatih private dan juga membela bendera sana,'' kata Aldo yang berasal dari Tuban, Jawa Timur, tersebut.

Di Negeri Singa, julukan Singapura, konsentrasi lelaki 17 tahun tersebut memang terbagi.Selain bermain bulu tangkis, Aldo juga sekolah. Sehingga tak banyak ajang yang diikuti.

''Karena saya harus menangani private juga. Jadi gak bisa ke mana-mana dengan bebas,'' ungkap Aldo.

Kini, setelah lulus, lelaki yang dipanggil Tago karena mirip dengan pebulu tangkis Jepang Kenichi Tago tersebut ingin mengembangkan karir bulu tangkisnya.

 ''Semoga di Sakura prestasi saya bisa lebih baik,'' harap Aldo.

Di situs BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), namanya ada. Hanya, Aldo tak punya ranking dan tak ada nama turnamen yang diikuti.

''Kami ingin menjadikan Aldo pebulu tangkis dengan prestasi dunia. Namun, semuanya tergantung dari prestasi yang diraihnya,'' tegas Direktur Sakura Badminton Management Ade Dharma. (*)

Tinggalkan Singapura demi Sakura

SAKURA Badminton punya daya pikat tinggi. Pebulu tangkis Indonesia yang tengah bergabung dengan klub Singapura, Aldo Oktaviano, pun sampai datang untuk mengikuti seleksi.

''Kami masih melihat kemampuannya. Jadi, belum diputuskan bisa bergabung atau tidak dengan Sakura,'' ujar Direktur Sakura Badminton Management Ade Dharma.

 Hanya, dia mengakui kemampuan atlet 17 tahun tersebut di atas rata-rata. Namun, Ade melihat masih ada sisi kelemahan dari Aldo.

''Pertimbangan itu pula yang membuat saya bisa langsung memutuskan segara status Aldo. Dia harus membenahi itu kalau ingin bergabung dengan Sakura,'' ujar Ade.

Rencananya, nanti akan turun di kelompok taruna atau U-19. Hanya, lanjut lelaki yang juga menantu mantan pesepak bola termahal Indonesia Parlian Siagian tersebut, kelompok tersebut hanya jadi transisi bagi Aldo.

 ''Dia nantinya bermain di kelompok senior. Aldo harus bisa menembus  kelompok elite dunia,'' tegas Ade.

Di kelompok dengan Aldo juga nama Nur Yahya Velanie. Pebulu tangkis ini menunjukkan kualitasnya. Saat ini, Yahya, panggilan merupkan tunggal taruna nomor satu Indonesia. (*)

Bukan karena Terlalu Percaya Diri

Rabu, 14 Juni 2017

KEKALAHAN Marcus ''Sinyo'' Fernaldi/Kevin Sanjaya termasuk kejutan besar. Sebagai unggulan teratas, keduanya diharapkan mampu menjadi penyelamat muka tuan rumah.

Lalu mengapa bisa kalah? Sinyo/Kevin mengakui bahwa mereka tidak dalam kondisi seratus persen fit. Kevin tengah menderita cedera bahu sejak Rabu pekan lalu. Otot bahunya sobek dan hingga saat ini ia masih dalam tahap pengobatan oleh tim dokter PBSI.

Keduanya memang terlihat underperformed di pertandingan, Kevin tak selihai biasanya di depan net, ia juga sangat berhati-hati melayangkan smash di area belakang lapangan. Sementara Marcus terlihat kesulitan mengcover lapangan, smash nya juga kurang akurat.

“Saya pribadi memang agak hati-hati mainnya, sebelumnya saya pernah bilang kalau saya ada masalah, saya mengalami cedera bahu, ada otot yang sobek sedikit,” ungkap Kevin seperti dikutip media PBSI.

“Soal beban sebagai tumpuan sih nggak ada, sepanjang permainan saya memang hati-hati di bola-bola belakang, tiap smash saya merasa sakit di bahu, tetapi ini tidak bisa dijadikan alasan kekalahan kami,” ujar Kevin.

Dokter, ujarnya, tidak memberi estimasi kapan cederanya bisa sembuh. Sekarang, dia hanya disuruh maintain dan minum obat.

''Soal partisipasi di Australia Open minggu depan, masih kami diskusikan dengan pelatih,” tambahnya.

Sementara itu, Sinyo merasa tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam laga hari ini. Ketika disinggung soal overconfidence, dia menampiknya dan mengatakan mereka tak berpikir seratus persen bisa memenangkan pertandingan, apalagi lawan yang dihadapi adalah pasangan yang cukup bagus.

“Saya mainnya lagi nggak enak hari ini, memang ada kendala di angin, tetapi ini tidak bisa dijadikan alasan, karena lawan juga merasakan hal yang sama. Bermain di lapangan berangin, sebaiknya tidak boleh banyak mengangkat bola dan menyerang terus,” kata Sinyo. (*)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger