www.smashyes.com

www.smashyes.com

Hendra/Ahsan Tergelincir Tiga Peringkat

Minggu, 28 Agustus 2016

HASIL Olimpiade Rio 2016 memberi dampak negatif kepada pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Ranking keduanya di nomor ganda putra dunia melorot tiga setrip.

Dari ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Hendra/Ahsan ada di posisi kelima. Posisinya tergusur oleh pasangan Tiongkok yang baru saja meraih emas di Olimpiade Rio 2016, Fu Haifeng/Zhang Nan.

Bahkan, Hendra/Ahsan masih didepak oleh Kim Gi-jung/Kim Sa -rang dari Korea Selatan di posisi ketiga dan Chai Biao/Hong Wei dari Negeri Panda, julukan Tiongko, di peringkat keempat. Di Rio 2016, langkah pasangan terbaik Indonesia tersebut hanya sampai di babak penyisihan.

Hendra/Ahsan hanya mampu memetik satu kemenangan dalam tiga kali turun ke lapangan. Mereka menundukkan pasangan India Manu Attri/Reddy Sumeteh dengan 21-18, 21-13.

Tapi, di dua laga berikut, juara dunia 2015 itu tak berdaya. Hendra/Ahsan dipermalukan pasangan Jepang Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo 17-21, 21-16, 14-21. Setelah itu, giliran Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok) yang menjegalnya dengan  15-21, 17-21.

Sebenarnya, di Rio 2016, pasangan merah putih tersebut diunggulkan di posisi teatas. Sayang, labilnya penampilan membuat Hendra/Ahsan gagal memenuhi ambisi membawa pulang gelar. Kegagalan ini membuat beredar rumor, keduanya bakal dipisahkan.

Ranking satu dunia masih ditempat ganda Korea Selatan Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Pasangan ini juga gagal meraih emas karena terhenti di babak kedua. (*)

Ratu Baru Tunggu Panggilan

SIRKUIT Nasional (Sirnas) 2016 sudah memasuki seri VI. Deretan pebulu tangkis pun berjejer naik ke podium juara.

Hanya, selama itu, pemenang di tunggal putri yang tak pernah berganti. Hera Desi selalu menjadi langganan pengaluangan medali juara.

Kali terakhir, dia menjadi pemenang di Medan dalam Seri Sumatera. Dalam final yang dilaksanakan pada Sabtu (27/8/2016), Hera,yang diunggulkan di posisi pertama, menghentikkan perlawanan unggulan kedua Febby Angguni (Tjaktindo Masters Surabaya) dengan 21-14, 21-12.

Pertemuan di final ini menjadi ulangan Seri Sulawesi di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu, Hera menang tiga game 8-21, 2-13, 21-7.

Sebelumnya dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Febby sempat mendapat sebutan ratu sirnas. Ini dikarenakan mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut selalu menjadi juara.

Dengan sekarang mengganti status Febby menjadi ratu sirnas, Hera layak dapat kesempatan memanaskan persaingan di Pelatnas Cipayung. Tapi, semua keputusan ada di tangan PP PBSI. (*)


Seri Kalimantan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (22-27 Februari)
Tungga putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik) 21-10, 23-21

Seri Sulawesi  di Makassar, Sulawesi Selatan (14-19 Maret 2016)
Tungga putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Febby Angguni (Tjakrindo Masters) 8-21, 21-13, 21-7

Seri Jakarta di Jakarta Pusat (2-7 Mei 2016)
Tunggal putri: Hera Desi (Mutiara Bandung) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik) 21-15, 11-21, 21-19

Seri Lampung di Bandar Lampung (18-23 Juli 2016)
Tungga putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Devi Yunita (Djarum Kudus) 21-11,21-14

Seri Jawa Barat di Cirebon (8-13 Agustus 2016)
Tunggal putri: Hera Desi (Mutiara Bandung)  v Priskilia Siahaya (Exists Jakarta) 16-21, 21-16, 22-15

Seri Sumatera di Medan, Sumatera Utara (22-27 Agustus 2016)
Tunggal putra:Fikri Hadmadi (Tangkas Jakarta) v Viky Angga (Tangkas Jakarta) 21-15,21-19
Tunggal putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Febby Angguni (Tjakrindo Masters) 21-14, 21-12
Ganda putra:Agripinna Prima/Rian Swastedian (Jaya Raya Jakarta) v Hantoro/Tedi Supriadi (Djarum Kudus) 21-11, 21-15
Ganda putri:Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina) v Suci Rizki0Zulfira Barkah (Mutiara Bandung) 19-21, 21-19, 21-19
Ganda campuran: Trikusuma Wardhana/Suci Rizki (Exists Jakarta/Mutiara Bandung) v Tedi Supriadi/Kesya Nurvita (Djarum/Berkah Abadi) 21-14, 21-19

Karena Sudah Paham Gaya Kido

Sabtu, 27 Agustus 2016

SAAT MASIH BERSAMA: Agripinna/Markis Kido

PASANGAN Agripinna Prima Putra/Rian Sawstedian membuat kejutan di Sirkuit Nasional (SIrnas) Seri Sumatera 2016. Datang dengan status nonunggulan, wakil Jaya Raya Jakarta tersebut mampu menembus babak final.

Di babak semifinal yang dilaksanakan di Medan pada Jumat waktu setempat (26/8/2016), Angripinna/Rian menang dua game langsung 21-18,21-13 atas Danang Dwi Setyadi/Muhammad Rydo Akbar (Jaya Raya Jakarta/Halim Jakarta). Tapi, kemenangan spesial dibukukan mereka sehari sebelumnya.

Agripinna/Rian menjungkalkan unggulan teratas, Markis Kido/Hendra Aprida Gunawan (Jaya Raya/Djarum) dengan straight game 21-17, 21-14. Di seri sebelumnya, Jawa Barat, yang dilaksanakan di Cirebon, Kido/Hendra mampu menjadi juara.

Bagi Agripinna, pertandingan tersebut menjadi reuni dengan Kido. Keduanyan sempat berpasangan hampir setahun.

Kido/Agripinna mampu menembus posisi 50 besar dunia. Sayang, dibandingkan pasangan-pasangan sebelumnya, mereka tak terlalu moncer dengan menjadi juara di ajang international.

Kido sendiri sempat menjadi juara dunia dan Olimpiade Beijing 2008 bersama Hendra Setiawan. Kemudian menembus Kejuaraan Dunia dengan Alvent Yulianto, serta menjadi juara France Open Super Series 2014 dengan Gideon Markus Fernaldi.

Agripinna sendiri dengan lama berpasangan dengan Kido membuatnya paham dengan gaya bermain kakak dari mantan ganda putri terbaik Pia Zebadiah tersebut.

Di babak final Seri Sumatera Utara, Agripinna/Rian dengan wakil Djarum Kudus, Hantoro/Tedi Supriadi yang di semifinal menghentikan lanju Ade Yusuf/Nugroho Andi Saputra (Wima Surabaya/Halim Jakarta) dengan 21-13, 22-24, 21-15. (*)

Masih Ingin Kejar Juara Dunia

Kamis, 25 Agustus 2016

LEE Chong Wei tak mau larut dalam kesedihan.  Meski, dia baru saja gagal meraih emas dalam Olimpiade Rio 2016.

Kegalan tersebut menjadi kali ketiga sepanjang karirnya berlaga dalam event olahraga empat tahunan itu. Chong Wei juga hanya menjadi finalis tunggal putra di Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012.

Hanya bedanya, jika di Beijing dan London dia kalah oleh Lin Dan, di Rio lelaki yang kini berusia 33 tahun tersebut dihentikan wakil Tiongkok lainnya Chen Long.

And the Penangite is adamant that if his body and mind allow he will certainly go for the World Championships title in Glasgow, Scotland next year.

“Saya sudah memberikan yang terbaik di Rio dan bohong kalau saya mengatakan tidak kecewa meraih emas,'' kata Chong Wei kepada awak media pada Rabu waktu Malaysia (24/8/2016).

Dia sangat kecewa dengan hasil yang diraih. Tapi, tambah Chong Wei, dia tak mau berpikir soal itu.

''Saya hanya ingin istirahat yang lama,'' ucap pebulu tangkis yang sebenarnya diunggulkan di posisi pertama di Rio 2016 itu.

Jika, ujarnya,  masih mampu berjalan, melompat, dan berlari, dia akan mencari perburuan gelar lain yang bergengsi. Pada 2017, Kejuaraan Dunia menjadi bidikan.

Pada tahun depan,ajang bergengsi tersebut digelar di Glasgow, Skotlandia, pada 21-27 Agustus. Pada 2015 di Jakarta, Chong Wei juga hanya menjadi runner-up. Lagi-lagi, Chen Long yang menghentikan ambisinya. (*)

Terharu dengan Sambutan yang Diberikan

Rabu, 24 Agustus 2016

Tontowi dan Liliyana saat diarak di Jakarta
TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir kembali ke tanah air. Sambutan pun diberikan atas prestasinya meraih emas semata wayang Indonesia di ajang Olimpiade Rio 2016.

 Usai mendarat di terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (23/8/2016), Tontowi/Liliyana beserta ti bulu tangkis langsung menuju terminal Ultimate untuk menghadiri acara penyambutan dan konferensi pers. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan dan segenap tim penyambutan memberikan kalungan bunga kepada Tontowi/Liliyana, tim bulu tangkis serta Chief de Mission Kontingen Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari.

 Usai sesi pengalungan bunga, Tontowi/Liliyana dipertemukan dengan kedua orangtua yang rela datang jauh-jauh untuk menyambut kedatangan mereka usai berjuang di Rio de Janeiro. Orangtua Tontowi, Muhammad Husni Muzaitun dan Masruroh, datang dari Desa Selandaka, Banyumas, Jawa Tengah. Sedangkan kedua orang Liliyana, Beno Natsir dan Auw Jin Chen, terbang dari Manado, Sulawesi Utara.

 “Selamat atas prestasi yang diraih para pahlawan olahraga di Olimpiade Rio 2106. Mereka betul-betul tampil luar biasa. Pemerintah akan terus mendukung olahraga, bukan hanya untuk kesenangan tetapi juga demi martabat bangsa. Kami betul-betul ingin menghargai pahlawan olahraga, pensiun sudah disiapkan, bonus-bonus olimpiade kali ini betul-betul spektakuler,” kata Imam dalam acara konferensi pers usai penyambutan seperti dikutip media PBSI.

Lilliyana mengaku terharu dengan penyambutan yang diberikan. Tak lupa, dia mengucapkan terimakasih atas apresiasi yang diberikan.

Setelah acara konferensi pers, acara dilanjutkan dengan Parade Pahlawan Olahraga. Tontowi/Liliyana serta kedua peraih medali perak dari cabang angkat besi, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan diarak menggunakan bus bandros dengan rute bandara, kantor Kemenpora, hingga sepanjang jalan Asia Afrika, Semanggi dan jalan Sudirman.

 Puncaknya, Tontowi/Liliyana bersama menuju kantor kemenpora untuk menghadiri acara syukuran dengan pemotongan tumpeng berwarna Merah-Putih. Di gedung Kemenpora telah berkumpul ribuan masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kedatangan para pahlawan olahraga. Letupan kembang api yang meriah di sekitar Gedung Kemenpora seolah menggambarkan kebahagiaan masyarakat atas kehadiran pahlawan olahraga.

 Keempat pahlawan olahraga ini dielu-elukan dan disanjung oleh masyarkat yang bersuka cita akan prestasi gemilang di Olimpiade Rio 2016. Rabu (24/8/2016), Tontowi/Liliyana dan tim diundang ke Istana Negara untuk bertemu Presiden Widodo. (*)

Yakin Bakal Kuat usai Olimpiade

Selasa, 23 Agustus 2016

Tangis Chen Long usai meraih emas Olimpiade 2016
TIONGKOK gagal di Rio 2016. Mereka hanya mampu meraih dua emas dalam pesta olaraga empat tahunan yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil, tersebut.

Negeri terpadat penduduknya di dunia tersebut meraih posisi terhormat dari Chen Long di nomor tunggal putra dan pasangan ganda putra Zhang Nan/Fu Haifeng. Capaian ini menjadi terburuk bagi Tiongkok di ajang olimpiade dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Tragisnya, di nomor putri, tunggal dan ganda, Tiongkok gagal menyabet medali. Jangankan emas, perunggu pun terbang ke negara lain.

Kritikan tajam pun diarahkan ke pelatih kepala Li Yongbo. Namun, lelaki 53 tahun tersebut menanggapi dingin.

''Kadang kamu uat. Tapi, kadang juga lemah,'' kata Li menerangkan kekuatan Tiongkok kepada media asing.

Dia menilai Indonesia dan Denmark sebagai negara kuat di bulu tangkis. Negaranya akan menyiapkan generasi baru yang bakal membuat mereka kembali disegani.

''Kami mempunyai banyak pebulu tangkis muda yang akan menembus papan atas. Mereka bakal tangguh usai olimpiade'' ujar Li.  (*)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger