www.smashyes.com

www.smashyes.com

Saksi Kegagalan Indonesia Raih Piala Thomas

Senin, 28 Januari 2013


SEPULUH tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang itu pula, Indonesia gagal menjadi juara Piala Thomas.
Yang lebih menyakitkan lagi, saya dua kali menjadi saksi mata penggawa merah putih menelan malu gagal mengangkat trofi kejuaraan bulu tangkis beregu putra tersebut. Kali pertama saya mengalaminya di kandang sendiri, Istora Senayan,Jakarta, pada 2004.
 Datang dengan status sebagai juara bertahan dan tuan rumah, Taufik Hidayat tentu diunggulkan mengulang sukses 2002. Sayang, harapan tersebut gagal direalisasikan. Sebaliknya, Indonesia harus menelan malu karena dipecundangi Denmark dengan skor 2-3. Gelar juara akhirnya jatuh ke tangan Tiongkok. Posisi terhormat tersebut sekaligus mengakhiri dahaga gelar Negeri Panda, julukan Tiongkok, selama 14 tahun. Kali terakhir, mereka meraih juara di Tokyo, Jepang, pada 1990.
AWAL: Tiongkok saat juara Piala Thomas 2004 (foto: gov.cn)
 Kekalahan ini juga berimbas dengan mundurnya Ketua Umum PB PBSI Chairul Tanjung dari jabatannya. Padahal, selama dipimpin bos salah satu media tersebut pretasi Indonesia termasuk tak mengecewakan.
 Dua tahun kemudian, Indonesia berangkat dengan semangat tinggi. Taufik dkk diharapkan mampu membalas kekalahan dalam event yang digelar di dua kota di Jepang, Sendai dan Tokyo, itu. Tapi, lagi-lagi langkah Indonesia terhenti pada babak semifinal.
Jika dua tahun lalu dihentikan Denmark, kali ini Tiongkok yang melakukannya. Lin Dan dkk terlalu tangguh ditaklukkan. Indonesia pun menyerah dengan skor teelak 0-3. Pada final, Negeri Tembok Raksasa, julukan lain Tiongkok, kembali bersua Denmark dan menang 3-0.
 Setelah 2004 dan 2006, Tiongkok terus mendominasi. Bahkan, pada 2012 saat Piala Thomas dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, untuk kali pertama, Indonesia menuai prestasi memalukan. Gagal menembus semifinal karena dihentikan Jepang pada perempat final. Tapi, saya tak berada di sana saat aib tersebut terjadi.
 Tapi, dua kali menjadi saksi Indonesia juara Piala Thomas tetap menyakitkan. Saya dan masyarakat Indonesia tentu berharap,Indonesia kembali menjadi penguasa Piala Thomas. Apalagi, Merah Putih masih menjadi penguasa event yang kali pertama dilaksanakan 1930-an itu dengan 13 kali atau empat kali lebih banyak dibandingkan Tiongkok. (*)

 Juara Piala Thomas (10 event terakhir)
1992: Indonesia
1994: Indonesia
1998: Indonesia
2000: Indonesia
2002: Indonesia
2004: Tiongkok
2006: Tiongkok
2008: Tiongkok
2010: Tiongkok
2012: Tiongkok

Distribusi Juara Piala Thomas
Indonesia     13 (1958, 1961*, 1964, 1970, 1973*, 1976, 1979*, 1984,
1994*, 1996, 1998, 2000, 2002)   

Tiongkok: 9 (1982, 1986, 1988, 1990, 2004, 2006, 2008, 2010, 2012*)   

Malaysia**     5 (1949, 1952, 1955, 1967, 1992* )

*tuan rumah

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger