www.smashyes.com

www.smashyes.com

Simon Ternyata Masih Ada

Minggu, 29 September 2013

Simon (kanan) dan Hayom (foto: twitter)
17 JUNI 2012. Tanggal tersebut tak akan pernah dilupakan Simon Santoso.
 Saa itu, dia mampu menjadi juara tunggal putra Indonesia Super Series Premier. Dalam final yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, Simon, yang diunggulkan di posisi ketujuh, menundukkan unggulan kedelapan asal Tiongkok Du Pengyu dengan rubber game 21-18, 13-21, 21-11.
 Namun, setelah itu, penampilan lelaki yang kini berusia 28 tahun tersebut seolah antiklimaks. Dia lebih sering tumbang pada babak-babak awal.
 Puncaknya, dia pun mengalami cedera dan absen panjang. Selama 2013, tercatat Simon hanya tampil dalam lima turnamen.
 Hasilnya, dia gagal menjadi juara. Bahkan, saat tenaganya dibutuhkan, lelaki yang dikabarkan pernah dekat dengan Maria Kristin, peraih perunggu tunggal putri Olimpiade Beijing 2008, tak bisa membela Indonesia dalam Piala Sudirman 2013.
 Awalnya, dia sempat menyanggupi. Namun, di tengah jalan, Simon membatalkannya dengan alasan kondisinya belum 100 persen dan bakal fit saat Indonesia Super Series Premier 2013.
  Tapi, sehari menjelang turnamen berhadiah USD 700 ribu tersebut, Simon mengakui sakit leher karena salah tidut. Ini membuat PP PBSI sempat mengeluarkan peringatan bahwa Simon bisa out dari pelatnas Cipayung.
Untuk sementara, dia tak dikirim ke berbagai turnamen. Imbanya, peringkatnya pun turus drastis.
 Dari posisi ketiga di 2012, kini dari peringkat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 26 September, Simon terdampar di posisi ke-83.
 Dengan peringkat tersebut, Simon pun hanya diunggulkan di posisi kesebelas dalam Indonesia Grand Prix Gold. 2013. Dia masih kalah oleh Tommy Sugiarto, Sony Dwi Kuncoro, dan Dionysius Hayom Rumbaka.
 Untung, kondisi tersebut tak membuat Simon ciut nyali, Sebaliknya, dia membuktikan bahwa dia belum habis.
 Satu demi satu lawan pun dikalahkan. Tommy, unggulan teratas, dikalahkannya dengan rubber game 21-14,13-21, 21-17 di babak semifinal di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Sabtu (28/9). Kemudian, sehari kemudian (29/9) di final, Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, dibuatnya tak berdaya dalam laga dua game 21-17, 21-11.
 Ini membuat Simon mengakhisi dahaga gelar selama setahun lebih. Gelar tersebut juga menegaskan bahwa Simon masih ada. (*)

CAPAIAN SIMON SANTOSO SELAMA 2013
Australia Grand Prix Gold : Babak III
Selandia Baru Grand Prix: Perempat Final
India Super Series: Babak I
Malaysia Grand Prix Gold: Babak I
Kejuaraan Dunia: Babak I
Indonesia Grand Prix Gold: Juara

Kuburan bagi sang Juara Dunia

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (foto: twitter)
INDONESIA Grand Prix Gold 2013 jadi kuburan juara dunia. Setelah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, kali ini giliran Tontowi Ahmad/Liliyama Natsir yang gagal meraih gelar dalam event berhadiah total USD 120 ribu tersebut. 
 Dalam final yang dilaksanakan di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Minggu (29/9), mereka secara mengejutkan kalah oleh pasangan Indonesia lainnya, Praveen Jordan/Vita Marissa, dengan rubber game 20-22, 21-9, 14-21. Pertandingan kedua pasangan ini memakan waktu 49 menit.
Sebelumnya, juara dunia tunggal putra, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan juga sudah tersingkir di perempat final. Keduanya menyerah di babak perempat final oleh Ronald Alexander/Selvanus Geh.
 Di Indonesia Grand Prix Gold 2013, Tontowi/Liliyana menduduki unggulan teratas sementara Praveen/Vita di posisi keenam. Kemenangan Praveen/Vita ini juga membalas kekalahan dalam babak semifinal Singapura Super Series 2013. Saat itu, mereka kalah 11-21, 21-16,18-21.
 Ya, sejak menjadi juara dunia di Guangzhou, Tiongkok, pada Agustus lalu, Tontowi/Liliyana tak pernah berlaga. Ini membuat peringkatnya pun turun satu setrip di peringkat ketiga.
Sedangkan Praveen/Vita merupakan pasangan yang baru dibentuk tahun ini. Namun, penampilan keduanya termasuk stabil. Bahkan, keduanya pernah menembus semifinal Malaysia Super Series 2013.
 Dalam peringkat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 26 September, Praveen/Vita sudah ada di posisi ke-13. Ini berarti tinggal waktu bagi mereka untuk menembus posisi 10 besar. (*)

HASIL FINAL INDONESIA GRAND PRIX GOLD 2013
TUNGGAL PUTRA: Simon Santoso (Indonesia x11) v Dionysius Hayom Rumbaka (Indonesia x3) 21-17, 21-11
TUNGAL PUTRI: Suo Di (Tiongkok) v Yao Xue (Tiongkok) 21-12, 22-20
GANDA PUTRA: Angga Pratama/Rian Agung Saputro (Indonesia x2) v Ronald Alexander/Selvanus Geh (Indonesia) 17-21, 21-15, 21-16
GANDA PUTRI: Luo Ying/Luo Yu (Tiongkok) v Huang Dongping/Jia Yi Fan (Tiongkok) 19-21, 21-15, 21-18
GANDA CAMPURAN: Praveen Jordan/Vita Marissa (Indonesia x6) v Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x1) 22-20, 9-21, 21-14

Malu Kalau hanya Satu Pukul-Dua Pukul

Sabtu, 28 September 2013

SONY Dwi Kuncoro gagal mempertahankan gelar Indonesia Grand Prix Gold. Dia gagal melewati hadangan rekannya sendiri di pelatnas Cipayung, Dionysius Hayom Rumbaka, dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Sabtu (28/9).
 Hanya, Sony menyerah kepada Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, bukan karena kalah tangguh di lapangan. Arek Suroboyo tersebut gagal bertanding.
 ‘’Saya cedera engkel. Saat perempat final, gerakannya gak pas jadi sekarang sakit,’’ kata Sony kepada smashyes.
 Ya, pada babak perempat final, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut dipaksa kerja keras selama tiga game oleh pebulu tangkis Thailand Suppanyu Avihingsanon. Memang, dia akhirnya menang 15-21, 21-11, 21-13.
 ‘’Saya nggak tahu bisa sembuh cepat atau enggak,’’ ucap Sony.
 Sementara, ayah Sony, Sumadji, menambahkan bahwa anaknya memang mengalami cedera di engkel kaki. Bahkan, kaki lelaki yang telah memberinya dua cucu tersebut bengkak besar.
 ‘’Sony memang memaksakan menang melawan pebulu tangkis Thailand. Dia ingin Indonesia bisa menguasai semifinal,’’ ungkap dia.
 Sebelum turun menghadapi Hayom, lanjut Sumadji, Sony sudah menjalani terapi. Itu dilakukan bukan hanya sekali.
 ‘’Tapi, Sony akhirnya bilang tak mau memaksakan. Kalau hanya satu pukul, dua pukul terus mundur kan malu juga,’’ lanjut dia.
 Padahal, kalau dalam kondisi fit, dia optimistis anaknya mampu menang atas Hayom dan mampu mengalahkan Simon Santoso dalam pertandingan final.
 Hanya, dia mengakui cedera yang dialami Sony bukan lagi di punggung. Cedera punggung pula yang membuat anaknya sempat melorot jauh peringkatnya hingga terlempar dari 100 besar. (*)



Simon Ingin Berikan Bukti

Simon Santoso
SIMON Santoso berteriak lantang. Itu setelah dia memastikan menembus babak semifinal Indonesia Grand Prix Gold 2013 dengan mengalahkan Tommy Sugiarto dengan rubber game 21-14, 13-21, 21-17 di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Sabtu waktu setempat (28/9).
 Tommy memang masih juniornya di pelatnas Cipayung. Namun, dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013, putra Icuk Sugiarto, salah satu juara dunia yang dimiliki Indonesia, menempati unggulan teratas.
 Itu disebabkan Tommy duduk di posisi keenam, sebelum melorot satu setrip dalam peringkat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 26 September. Melonjaknya peringkat Tommy dalam beberapa waktu terakhir ini salah satu tak lepas dari gelar juara di Singapura Super Series 2013.
 Beda dengan Simon. Setelah juara Indonesia Super Series Premier dan melonjak ke peringkat ketiga, Simon langsung absen dalam berbagai turnamen selama 2012. Bahkan, pada 2013 ini, dia hanya empat kali tampil yakni dalam Australia Grand Prix Gold, Selandia Baru Grand Prix , India Super Series dan Kejuaraan Dunia.  ‘
 Hasilnya pun tak ada yang memuaskan. Simon sering tumbang sebelum babak semifinal. Bahkan, di India Super Series dan Kejuaraan Dunia, pebulu tangkis asal Tegal, Jawa Tengah, tersebut sudah tumbang pada babak pertama.
 Jebloknya penampilan Simon ini membuat PP PBSI (Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) mengancam dia bakal didepak dari pelatnas. Selain itu, lelaki yang dikabarkan pernah dekat dengan Maria Kristin, peraih perunggu tunggal putri Olimpiade Beijing 2008, tersebut tak pernah dikirim dalam beberapa turnamen. Imbanya, peringkatnya pun anjlok hingga kini terdampar di posisi ke-87. 
 Dalam final yang dilaksanakan Minggu (29/9), Simon akan menjajal juniornya, Dionysius Hayom Rumbaka. Dalam dua pertemuan, dia selalu memetik kemenangan. Jadi, peluang Simon mengakhiri paceklik gelar terbuka lebar. (*)



Ulangi Pertemuan Final Polandia

MELAJU: Christopher (depan)

CHRISTOPHER Rusdianto/Trikusuma Wardhana sudah menjejaki perempat final Ceko Challenge 2013. Itu setelah pasangan asal klub Suryanaga, Surabaya, tersebut mampu menang dua kali dalam pertandingan yang dilaksanakan di Brno pada Jumat waktu setempat (27/9) atau Sabtu WIB (28/9).
 Dalam penampilan perdananya, Christopher/Trikusuma mengalahkan Bastian Kersaudy/Gaetan Mittelheisser asal Prancis dengan susah payah 21-18, 14-21, 21-14. Kemudian, tiket perempat final ditangan setelah menumbangkan unggulan keempat asal Inggris Peter Briggs/Harley Towler dua game langsung 21-17, 21-19.
 Nah, untuk bisa menembus semifinal, mereka harus bisa menundukkan Chen Chung Jen/Wang Chi-Lin dari Taiwan yang di babak sebelumnya memupus asal wakil Indonesia lainnya, Siswanto/Julian Arbitama, 21-6, 21-9.
 Pasangan Taiwan ini bisa jadi menghadirkan mimpi buruk bagi Christopher/Trikusuma lagi. Pekan lalu di Polandia International Series, mereka kalah di final dengan rubber game 24-22, 14-21, 14-21.
  Di Ceko Challenge, Christopher/Trikusuma hadir karena menepati janji untuk bisa datang. Meski, seharusnya kesempatan mendulang poin yang lebih besar terbentang di Indonesia Grand Prix Gold yang pada saat bersamaan dilaksanakan di Jogjakarta.
 Dengan peringkat 60 besar dunia, mereka tak perlu susah payah melalui babak kualifikasi. (*)

Sudah Juara meski Kehilangan Hendra/Ahsan

Jumat, 27 September 2013

Ronald/Selvanus
HENDRA Setiawan/Mohammad Ahsan tersungkur. Bukan oleh Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark atau pun juga Cai Yun/Fu Haifeng dari Tiongkok.
 Juara dunia 2013 tersebut kalah oleh rekannya sendiri di pelatnas Ronald Alexander/Selvanus Geh dengan rubber game 21-8, 19-21, 18-21 pada babak perempat final Indonesia Grand Prix Gold 2013 di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Jumat WIB (27/8). Hasil ini menjadi kejutan terbesar selama turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.
 Itu disebabkan peringkat keduanya jauh berbeda. Hendra/Ahsan di posisi kedua sementara lawannya 48 setrip di bawah.
 Dalam capaian prestasi, Ronald/Selvanus juga bukan apa-apa dibandingkan Hendra/Ahsan.   Mereka langganan tumbang di babak-babak awal turnamen yang diikuti.
 Beda dengan Hendra/Ahsan. Lima gelar bergengsi sudah dikoleksi tahun ini, yakni Malaysia Super Series, Indonesia Super Series Premier, Singapura Super Series, dan Jepang Super Series. Ini ditambah satu koleksi juara dunia.
 Bisa jadi, faktor kelelahan membuat Hendra/Ahsan tak bisa optimal. Mereka langsung berlaga di Jogja setelah sukses merebut gelar di Jepang.
 Untung, meski kehilangan Hendra/Ahsan, Indonesia sudah memastikan gelar ganda putra di tangan. Itu setelah babak semifinal dikuasai pasangan merah putih.
 Ronald/Selvanus akan menantang unggulan kelima Markis Kido/Markus Wijano, yang di babak ketiga mematahkan perlawanan pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen 21-16, 21-18.
 Semifinal lain mempertemukan Angga Pratama/Rian Agung Saputra, yang diunggulkan di posisi kedua, melawan Berry Anggriawan/Ricky Karanda Suwandi. Angga/Rian tak mengalami kesulitan berarti untuk mengikis ambisi Yohanes Rendy Sugiarto/Muhammad Ullinuha 21-12, 21-18. Sementara, Berry/Ricky mengalahkan rekannya sendiri Wahyu Nayaka/Ade Yusuf 11-21, 21-17, 21-16. (*)


Chong Wei Akan Timba Ilmu dari Tong Sin Fu

ASAL INDONESIA: Tong Sin Fu (kiri) dan Lin Dan

LEE Chong Wei bakal dapat tambahan ilmu. Tentornya bukan main-main, Hsien-hu atau yang akrab disapa Tong Sin Fu..
 Lelaki ini merupakan pelatih paling sukses di Tiongkok dan juga di Indonesia. Di tangannya, Lin Dan mampu dipolesnya sehingga menjadi tunggal putra terbaik di dunia hingga saat ini. Dengan capaian puncaknya menjadi juara Olimpiade Beijing 2008. Di Indonesia, lelaki asal Lampung tersebut sukses mencetak para pendekar bulu tangkis seperti Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, dan Joko Supriyanto.
 Chong Wei bisa bergabung dengan Sin Fu karena keduaya berada satu tim di Guangdong Century City Badminton Club dalam Liga Bulu Tangkis Tiongkok 2013.  Chong Wei menjadi satu-satunya pebulu tangkis asing yang bergabung di tim tersebut.
 ‘’Saya pernah bertemu dan berbicara dengan Hsien-hu sudah lama sekali. Tapi, ini untuk kali pertama saya bisa bekerja sama dengan dia,’’ kata Chong Wei kepada media Malaysia.
 Dia pun mengetahui bahwa Sin Fu merupakan pelatih Lin Dan sebelumnya. Chong Wei pun mengakui bahwa lelaki yang fasih berbahasa Indonesia tersebut termasuk pelatih papan atas di dunia.
 ‘’Saya berharap bisa banyak belajar dari dia,’’ ungkap Chong Wei.
 Ayah dari Kingstone tersebut menambahkan, di Liga Bulu Tangkis Tiongkok, dia satu tim dengan pasangan senior sekaligus peraih emas Olimpiade London 2012 sekaligus empat kali juara dunia Cai Yun/Fu Haifeng.
‘’Ada juga Liu Xin yang menjadi juara Tiongkok Masters 2013 dan juga pebulu tangkis ganda putri Tang Jinhua,’’ lanjut Chong Wei.
 Dia mengakui selain bayaran yang menjanjikan, keuntungan lain yang diperoleh bermain di liga adalah bisa menjaga kondisi guna persiapan menghadapi turnamen. Apalagi, dia menyandang status pebulu tangkis peringkat 1 yang dituntut harus selalu berada di puncak permainan.
 ‘’Saya sudah bermain di beberapa liga seperti di Indonesia dan India.Saya harus bisa mengatur kondisi,’’ ungkap Chong Wei.
 Penampilannya dalam Liga Bulu Tangkis Tiongkok tahun ini membuatnya sudah kali keempat.  Chong Wei menyadari bukan hal yang mudah untuk mencapainya.
 ‘’Kualitas pertandingannya begitu tinggi. Saya juga bisa memantau perkembangan pebulu tangkis junior Tiongkok,’’ tandas dia. (*)

Pia Zebadiah Cedera Pinggang

Markis Kido/Pia Zebadiah (foto:PBSI)

PIA Zebadiah harus melupakan ambisi menjadi juara di Indonesia Grand Prix Gold 2013. Bukan karena kalah dua game atau tiga game dari lawan.
 Tapi, dia menyerah karena cedera yang membekap. Imbasnya, Pia tersingkir di dua nomor yang diikuti, ganda putri dan ganda campuran.
 Di ganda putri, Pia  yang berpasangan dengan Rizki Amelia Pradipta, tumbang pada penampilan perdana. Mereka kalah 11-20 oleh pasangan Malaysia Lee Meng Yean/Lim Yin Loo. Di nomor ganda putri, Pia/Rizki menduduki unggulan teratas.
 Begitu juga di nomor ganda campuran. Berpasangan dengan kakak kandungnya, Markis Kido, Keduanya sempat melewati hadangan pasangan junior pelatnas Kevin Sanjaya/Masita Mahmudin 21-17,21-13. Namun,pada babak kedua, Kido/Pia memilih kalah WO oleh pasangan pelatnas Lukhi Apri Nugroho/Annisa Saufika.
 ‘’Pia memilih mundur. Dia mengalami cedera pinggang,’’ kata Kido kepada smashyes.
 Hanya, dia belum mengetahui cedera yang menimpa adiknya tersebut parah atau tidak. Kido menganggap Pia pasti sudah mempunyai pertimbangan matang untuk memutuskan mundur dari turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut. (*)

Pergi ke Ceko demi Sebuah Janji

EROPA: Trikusuma (depan)

TAMPIL di sebuah turnamen bukan hanya melulu mengejar poin. Sebuah janji pun bisa membuat pebulu tangkis melupakan perburuan peringkat yang sudah di depan mata.
 Bahkan, mereka pun rela keluar uang jauh lebih besar. Ini dialami pasangan Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana.
 ‘’Kami sudah janji mau tampil di Ceko Challenge 2013. Jadi, kami pun rela tak berlaga di Indonesia Grand Prix Gold,’’ kata Christopher melalui pesan singkat kepada smashyes.
 Janji itu kepada seseorang asal Ceko yang telah banyak membantu Christopher/Trikusuma saat berada di Eropa enam bulan lalu. Apalagi, lelaki tersebut juga menjadi bos dari Vicky Indra Okvana yang merupakan senior Christopher/Trikusuma di klub Suryanaga, Surabaya.
 Padahal, kalau melihat peringkat, Christopher/Trikusuma bisa langsung lolos ke babak utama Indonesia Grand Prix Gold 2013. Bahkan, kalau melihat peta kekuatan, keduanya bisa menembus minimal babak ketiga turnamen yang tengah berlangsung di GOR Amongrogo, Jogjakarta, tersebut.
 ‘’Namun, kami sudah jauh-jauh hari sudah mau ke Ceko. Sekalian, kami ka nada tur Eropa ke beberapa turnamen,’’ tambah Christopher.
 Dalam turnamen Ceko Challenge 2013 yang dilaksanakan di City Sport Hall Voldova pada 26-29 September tersebut, Christopher/Trikusuma akan menghadapi pasangan Prancis Bastian Kersaudy/Gaetan Mittelheiser.  Dari peringkat terakhir BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Christopher/Trikusuma jauh unggul. Keduanya ada di tangga ke-57. Sementara sang lawan di 442.
 Selain Christopher/Trikusuma, di nomor ganda, Indonesia juga diwakili Albert Saputra/Viky Indra. Di tunggal putra, mantan penghuni pelatnas Siswanto juga ikut ambil bagian. (*)

Kalah Pengalaman, Kalah Telak

Yodhi/Ketut

LANGKAH  Satrio Yodhi/Ni Ketut Mahadewi di Indonesia Grand Prix Gold 2013 akhirnya terhenti. Mereka harus mengakui ketangguhan pasangan ganda campuran Malaysia Ong Jian Guo/Lim Yin Loo dengan dua game langsung 10-21,12-21 pada babak kedua di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Kamis (26/9).
 Awalnya, Satrio/Ketut optimistis mampu menembus babak perempat final. Alasannya, pada penampilan perdana, pasangan asal Jawa Timur tersebut menumbangkan unggulan kelima Danny Bawa Chrisnanta/Vannesa Neo.
 ‘’Musuhnya menang pengalaman,’’ kata Wijanarjo Adi Mulya, Kabid Binpres Pengprov PBSI Jatim, kepada smashyes.
 Bahkan, dia mengakui Satrio/Ketut kalah segalanya. Ini disebabkan Jin Guo/Yin Loo memang lebih kaya pengalaman.
 Ya,  pasangan negeri jiran tersebut sudah sering berlaga di level super series. Bahkan, mereka pun unjuk kemampuan dalam Kejuaraan Dunia 2013 di Guangzhou, Tiongkok, pada 5-11 Agustus lalu.
 Mereka pun mampu menembus babak kedua. Namun, langkahnya dihentikan pasangan Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang akhirnya keluar sebagai juara dunia.
 Tontowi/Liliyana dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013 juga ikut ambil bagian. Ini menjadi penampilan perdana setelah Kejuaraan Dunia.
 Mereka pun menembus babak perempat final setelah menang 21-11, 21-9 atas pasangan Tiongkok Li Junhui/Jia Yi Fan. Pada babak perempat final, Tontowi/Liliyana akan dijajal pasangan baru Markus Fernaldi/Rizki Amelia Pradipta, yang di babak kedua menundukkan sesame pasangan Indonesia Alfian Eko Prasetyo/Shendy Puspa Irawati 12-21, 21-16, 21-19. (*)

Jangan Pernah Remehkan Derek Wong

Derek Wong (redsport.sg)

DEREK Wong punya kenangan manis bersua pebulu tangkis Indonesia. Dalam dua edisi Kejuaraan Dunia, 2011 di Birmingham, Inggris, dan 2013 di Guangzhou, Tiongkok, pebulu tangkis tunggal putra asal Singapura itu  mampu memulangkan lebih awal dua pebulu tangkis papan atas merah putih.
 Pada 2011, Derek memaksa Taufik Hidayat pulang awal serta Sony Dwi Kuncoro 2013 langsung tersingkir dalam penampilan perdana. Kali ini, dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013, tentu Derek ingin mengulanginya.
 Pada event yang menyediakan hadiah USD 120 ribu tersebut, dia akan menjajal ketangguhan unggulan teratas Tommy Sugiarto pada babak perempat final. Itu setelah keduanya mampu menyingkirkan lawan-lawannya pada babak ketiga.
 Tommy tak mengalami kesulitan berarti untuk menghentikan langkah juniornya, Resky Aureza Megananda, dengan dua game langsung 21-16, 21-11. Sementara, Derek Wong, yang diunggulkan di posisi keenam, melibas unggulan ke-15 Robin Gonansa asal Indonesia 21-15, 21-18.
 Melihat rekor pertemuan, seharusnya Tommy bakal melaju ke semifinal. Putra asal satu legenda bulu tangkis Indonesia Icuk Sugiarto tersebut dua kali menang dalam dua kali pertemuan dengan Derek Wong.  Itu terjadi di India Super Series 2012 dan Iran Challenge 2011. Di India, Tommy menang 21-10,21-9 dan di Iran dia unggul 21-17,18-21, 21-11.
 Sukses ini juga diikuti oleh dua rekannya, Sony Dwi Kuncoro dan Dionysius Hayom Rumbaka.Sony, yang diunggulkan di posisi kedua, menang dua game 21-13,21-12 atas wakil Malaysia Iskandar Zulkarnain. Di perempat final, Sony akan dijajal unggulan ketujuh asal Thailand Suppanyu Avihingsanon, yang di babak ketiga menundukan Huang Chao asal Singapura 21-11, 21-11. Ini merupakan pertemuan kedua antara Sony dan Suppanyu.
 Pertemuan perdana terjadi di babak kualifikas Piala Thomas 2010. Saat itu, Sony menang 21-10, 21-12.
 Sementara, Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, menghentikan langkah Loh Wei Sheng asal Malaysia dengan dua game 21-16,22-20.  Unggulan ketiga tersebut akan berebut tempat semifinal dengan rekannya sendiri di pelatnas Cipayung, Wisnu Yuli Prasetyo, yang di babak ketiga menghentikan ambisi Ashton Chen (Singapura) 21-15, 21-13.
 Tommy, Sony, dan Hayom baru saja memetik hasil buruk di Jepang Super Series. Dalam turnamen berhadiah USD 200 ribu tersebut, ketiganya langsung tersingkir pada babak pertama. (*)

Bisa Juga Lolos Babak II

Rabu, 25 September 2013

Tommy Sugiarto (foto:redsport.sg)
TRAGEDI babak I mampu dilalui Tommy Sugiarto dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013. Kemenangan atas Sean Lee dari Singapura dengan dua game langsung 21-6, 21-10 di GOR Amongrogo, Jogjakarta, membuat dia mampu menembus babak kedua.
 Dalam dua turnamen yang  diikuti sebelumnya, Tiongkok Masters dan Jepang Super Series, Tommy langsung tersungkur pada babak I. Padahal, dalam dua turnamen tersebut, Tommy menempati posisi unggulan.
 Dalam Tiongkok Masters yang dilaksanakan di Changzhou pada 10-15 September tersebut, Tommy diunggulkan di posisi keempat. Namun, secara mengejutkan, dia kalah oleh Kento Momota dari Jepang 17-21, 14-21. Sepekan kemudian, dalam Jepang Super Series yang digelar di Tokyo pada 17-22 September, putra salah satu juara dunia bulu tangkis yang dimiliki Indonesia Icuk Sugiarto tersebut juga jeblok dalam penampilan perdana. Dia dipaksa harus mengakui ketangguhan pebulu tangkis Thailand Tanongsak Saensomboonsuk 28-30, 13-21.
 Dalam babak kedua, Indonesia Grand Prix Gold, Tommy akan dijajal Mark Shelley Alcala (Filipina) yang sebelumnya memupus asal wakil Indonesia Kaizar Bobby Alexander 22-20, 21-19.Dari sisi peringkat, Shelley bukan lawan yang sepadan bagi Tommy. Ini disebabkan Tommuy duduk di posisi ketujuh sedangkan lawannya di peringkat 292. Peringkat itu pula yang membuat Tommy diunggulkan  di posisi teratas dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013.
 Kemenangan juga dipetik Dionysius Hayom Rumbaka dan Sony Dwi Kuncoro. Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, yang diunggulkan di posisi ketiga, menang mudah 21-6, 21-10 atas wakil Meksiko Andres Lopez. Pada babak kedua, Hayom akan menghadapi sesama pebulu tangkis Indonesia Ihsan Maulana Mustofa, yang di babak pertama menang atas Hermansyah (Indonesia) 20-22, 21-15, 21-17.
 Sedang Sony, yang diunggulkan di posisi kedua, menang 21-16, 21-17 atas Tze Wong asal Malaysia. (*) 

Yodhi/Ketut Pulangkan Unggulan Kelima

KEJUTAN: Satryo Yodhi dan Ni Ketut
SATRIO Yodhi/Ni Ketut Mahadewi bikin kejutan dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013. Datang dengan status nonungulan, mereka menumbangkan unggulan kelima asal Singapura Danny Bawa Chrisnanta/Yu Yan Vanessa Neo  dengan rubber game 10-21, 21-19, 22-20 pada pertandingan babak I yang dilaksanakan di GOR Amongrogo, Jogjakarta, pada Selasa (24/9).
 Kemenangan ini membawa Satrio/Ketut menjajal ketangguhan pasangan Malaysia Ong Jian Guo/Lim Yin Loo, yang di babak pertama menang dua game atas pasangan Indonesia Akbar Ridho/Hanadia Nurvita 21-13, 21-17.
 Ini merupakan pertemuan perdana bagi kedua pasangan. Namun, kalau melihat peringkat terakhir BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Satrio/Ketut masih kalah jauh.
 Pasangan negeri jiran ada di posisi 37 dunia sedangkan Satrio/Ketut di peringkat 272. Jian Guo/Yin Loo memang sudah pengalaman.
 Bahkan, keduanya turun dalam Kejuaraan Dunia 2013 di Guangzhou, Tiongkok. Hanya, langkahnya dihentikan pasangan Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir 14-21, 11-21 pada babak kedua. Tontowi/Liliyana akhirnya mampu menjadi juara dunia nomor ganda campuran.
 ‘’Tidak perlu gentar. Yodhi/Ketut berani tok,’’ terang Ketua Binpres Pengprov PBSI Jatim Wijanarko Adi Mulya kepada smashyes.
 Alasannya, kemampuan pasangan Malaysia tersebut masih kalah oleh Danny Bawa/Yu Yan. Pertimbangannya, pasangan Negeri Singa, julukan Singapura, tersebut menduduki unggulan kelima sedangkan Jian Guo/Yin Loo tidak.
 ‘Kemampuan Yodhi/Ketut juga tak bisa diremehkan. Dalam Indonesia Challenge 2013, keduanya mampu menembus final juga,’’ lanjut Wijar, sapaan karib Wijanarko.
 Ya, dalam Indonesia Challenge yang dilaksanakan Juli 2013, Yodhi/Ketut mampu menembus babak pemungkas. Sayang, di final, keduanya harus mengakui ketangguhan Ardiansyah/Devi Tika 21-19, 18-21, 19-21. (*)

Wartawan pun Punya Kejuaraan

Selasa, 24 September 2013

PARA wartawan yang hobi bulu tangkis di Jawa Timur serta Indonesia Timur kembali punya penyaluran. Mereka bakal diberi kesempatan untuk unjuk kemampuan dalam Bakti Olahraga Djarum Foundation Turnamen Bulutangkis Antar Media 2013.Event ini akan dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada 3-4 Oktober mendatang.
 ‘’Ini event tahunan. Hanya, tiap tahun divariasi. Untuk 2013, yang dipertandingkan nomor beregu setelah tahun lalu perorangan,’’kata Sekretaris Panpel Bakti Olahraga Djarum Foundation Turnamen Bulutangkis Antar Media 2013 Ram Surahman kemarin (23/9).
 Untuk itu, dia mengharapkan agar media yang ada di Jawa Timur bisa segera mendaftarkan diri. Hingga kemarin, sudah ada belasan media yang memastikan ikut.
 ‘’Tapi, kalau lebih banyak akan tambah semarak. Sekalian menjalin silaturahmi antarawak media,’’ terang Ram.
 Tapi, lanjut dia, panitia tetap akan menerapkan aturan tegas. Setipa media hanya boleh mendaftarkan satu tim.
‘’ Satu tim hanya berhak mendaftarkan maksimal sebanyak 6 pebulu tangkis. Dengan komposisi peserta minimal 2 wartawan olahraga, 2 wartawan, dan 2 karyawan media lain,’’ lanjut Ram. Untuk keeabsahan peserta diperlihatkan dengan identitas yang jelas, antara lain kartu PWI dan kartu karyawan yang dikeluarkan oleh media masing-masing.  
 Untuk nomor pertandingan terdiri dari 1 tunggal dan 2 ganda, Dengan masing-masing pebulu tangkis tidak diperbolehkan merangkap bertanding di nomor lain.’’ Urutan pertandingan dimulai dari ganda pertama, tunggal, serta ganda kedua.Peraturan yang digunakan mengacu pada ketentuan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) dengan hitungan reli poin 21 dan rubber game,’’ ucap Ram.
  Selain di Surabaya, Bakti Olahraga Djarum Foundation Turnamen Bulutangkis Antar Media 2013 juga dilaksanakan di Jakarta pada 30 September – 2 Oktober 2013 untuk wilayah barat dan Semarang pada 3 – 4 Oktober  (wilayah tengah). Juara wilayah akan tampil di Kudus pada 17-19 Oktober.  (*)
         

Tunggal Putra Indonesia Cari Pelampiasan

Senin, 23 September 2013

HABIS GAGAL: Dionysius Hayom Rumbaka (foto: djarum)

SEKTOR tunggal putra Indonesia tengah jadi sorotan. Turun di dua turnamen, Tiongkok Masters dan Jepang Super Series, wakil merah putih gagal total.
 Jangankan juara, lolos ke babak kedua pun tak bisa. Mereka langsung tersingkir pada penampilan perdana.
 Pada Tiongkok  Masters yang dilaksanakan di Changzhou pada 10-15 September 2013, Tommy, yang diunggulkan di posisi keempat, secara mengejutkan dipermalukan pebulu tangkis muda asal Jepang Kento Momota dua game langsung 17-21, 14-21. Ini diikuti oleh Dionysius Hayom Rumbaka yang dipulangkan oleh pebulu tangkis Tiongkok yang tampil dari babak kualifikasi Zhou Wenlong 19-21, 21-19,10-21.
 Hasil buruk diulangi lagi oleh Tommy dan Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, di Jepang Super Series yang dilaksanakan seminggu kemudian. Bahkan, dalam turnamen yang berhadiah USD 200 ribu ini, merah putih menambah kekuatannya di sektor tunggal putra dengan mengirimkan pebulu tangkis senior, Sony Dwi Kuncoro.
 Tommy, yang diunggulkan di posisi keenan, angkat koper setelah tumbang 28-30,13-21 oleh Tanongsak Saensomboonsuk dari Thailand. Hayom menyerah kepada Marc Zwiebler dari Jerman 21-16,11-21, 12-21. Begitu juga dengan Sony. Arek Suroboyo ini belum kembali dalam penampilan terbaik. Dia harus mengakui ketangguhan Anand Pawar asal India yang lolos dari babak kualifikasi dengan 17-21, 21-7, 18-21.
 Kini, tunggal putra Indonesia bakal kembali diuji. Saatnya, mereka bisa memberikan bukti.
 Apalagi, kali ini, mereka tampil di kandang sendiri. Tommy dkk bakal unjuk kemampuan dalam Indonesia Grand Prix Gold yang dilaksanakan di GOR Amongrogo,Jogjakarta, pada 24-29 September 2013.
 Kans menjadi juara terbuka lebar. Dua unggulan teratas ditempati Tommy dan Sony.
 ‘’Dari Tokyo, Jepang, mampir bentar ke Jakarta terus ke Jogja,’’ kata Sony keepada smashyes.
 Dalam Indonesia Grand Prix Gold, bapak dua anak ini juga menyandang status juara bertahan. (*)

Hendra/Ahsan Koleksi Gelar Kelima

MATANG: Hendra/Ahsan (foto;zimbio)

HENDRA Setiawan/Mohammad Ahsan kembali menyelamatkan muka Indonesia. Pasangan yang baru digabungkan akhir 2012 tersebut menjadi satu-satunya wakil merah putih yang menjadi juara dalam Jepang Super Series 2013.
  Dalam final yang dilaksanakan di Tokyo pada Minggu waktu setempat (22/9), Hendra/Ahsan menundukkan pasangan Tiongkok  Chai Biao/ Hong Wei Hong dengan dua game langsung 22-20 21-16. Kemenangan ini membuat Hendra/Ahsan menambah koleksinya tahun ini menjadi lima selama 2013.
  Sebelumnya, mereka menjadi juara di Malaysia Super Series, Indonesia Super Series Premier, Singapura Super Series, dan Kejuaraan Dunia. Selain Kejuaraan Dunia, lawan yang dikalahkan Hendra/Ahsan selala sama yakni pasangan Korea Selatan Ko Sung-hyun/Lee Yong-dae.  Dalam Kejuaraan Dunia yang dilaksanakan di Guangzhou, Tiongkok, Hendra/Ahsan menghentikan ambisi pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.
 Untuk Jepang Super Series 2013 ini, sebenarnya Indonesia mengirim komposisi terbaiknya. Sayang, semuanya sudah tersandung sebelum melangkah ke babak final.
 Bahkan, hasil jeblok ditelan nomor tunggal putra. Tiga wakil yang dikirim, Tommy Sugiarto, Sony Dwi Kuncoro, dan Dionysius Hayom Rumbaka, sudah langsung tersingkir pada babak pertama.  (*)



HASIL FINAL JEPANG SUPER SERIES 2013

GANDA CAMPURAN: Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok x2) v Chen Xu/MaJin (Tiongkok x1) WO

TUNGGAL PUTRA: Le Chong Wei Lee (Malaysia x 1)v Kenichi Tago (Jepang x7)          23-21 21-17                      

TUNGGAL PUTRI: Akane Yamaguchi (Jepang) v Shizuka Uchida
(Jepang) 21-15 21-19              

GANDA PUTRI: Ma Jin/Tang Jinhua (Tiongkok x1) v Christinna Pedersen/
Kamilla Rytter Juhl (Denmark x3) 21-11 21-14                        

GANDA PUTRA: Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan    (Indonesia x1) v
Chai Biao/ Hong Wei Hong 22-20 21-16

x=unggulan

Christopher/Trikusuma Gagal Bendung Dominasi Taiwan

Minggu, 22 September 2013

PODIUM: Pasangan Christopher/Trikusuma (kiri)
CHRISTOPHER Rusdianto/Trikusuma Wardhana gagal menambah pundi-pundi gelar. Itu setelah keduanya kalah dalam final Polandia Internasional Series 2013.
 Dalam final yang dilaksanakan di Wzgorze Zamkowe, Lubin, Minggu waktu setempat (22/9), Christopher/Trikusuma, yang diunggulkan di posisi kedua, harus mengakui ketangguhan pasangan Taiwan Chen Chung Jen/Wang Chi-lin dengan rubber game 24-22, 14-21, 14-21.
 Sebenarnya, kesempatan menjadi juara dalam turnamen berhadiah total USD 5 ribu tersebut terbentang lebar. Rival terberat sekaligus unggulan teratas Adam Cwalina/Przemyslaw Wacha asal Polandia sudah tersungkur di semifinal.
 Tapi ternyata, pasangan Chen    Chung Jen/Wang Chi-Lin tampil di luar dugaan. Meski sempat kalah di game pertama, namun pada game kedua dan ketiga,  mereka membuat pasangan merah putih tak berdaya.
 Ya, pasangan Christopher/Trikusuma memang tengah berburu poin ke Eropa lagi. Sebelummya, pada Februari lalu, pasangan asal klub Suryanaga, Surabaya, tersebut juga telah menginjakkan kaki di Benua Putih.
 Bahkan, selama hampir sebulan, keduanya mampu membawa pulang gekar dari Krosia Internasional. Dalam final, keduanya mampu menundukkan pasangan tuan rumah Zvonimir Durkinjak/Zvonimir Hoelbling 21-14, 22-20.
 Ini membuat peringkat Christopher/Trikusuma lambar lain naik hingga kini menembus posisi 60 besar dunia. Padahal, saat berangkat, keduanya belum mempunyai peringkat. (*)


HASIL FINAL POLANDIA INTERNASIONAL SERIES 2013

TUNGGAL PUTRA: Lin Yu Hsien (Taiwan) v Wang Tzu Wei    21-19 21-16   

TUNGGAL PUTRI: Cheng Chi Ya (Taiwan x 3) v Hsu Taipei    Ya Ching (Taiwan x 1) 21-18 14-21 21-17

GANDA PUTRA: Chen    Chung Jen/Wang Chi-Lin (Taiwan) v Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana (Indonesia x2) 22-24 21-14 21-14

GANDA PUTRI: Lee Chia Hsin/Wu Ti Jung (Taiwan) v Chiang Mei Hui/Hsu Ya Ching  21-10 21-16

GANDA CAMPURAN: Hsuan    Lin Chia/Hsu Ya Ching    (Taiwan) v  Lu Ching Yao/ Pai Yu Po (Taiwan) 12-21 21-16 21-18   

Rasakan Jadi Unggulan Pertama

Senin, 16 September 2013

MEROKET: Hendra/Ahsan (foto: djarum)

HENDRA Setiawan/Mohammad Ahsan menyandang beban berat di Jepang Super Series 2013. Mereka menjadi unggulan pertama di nomor tunggal putra dalam event yang dilaksanakan 17-22 September tersebut.
 Naiknya Hendra/Ahsan, sapaan karib Mohammad Ahsan, ini menyusul absennya peringkat pertama Ko Sung-hyun/Lee Yong-dae. Pasangan Korsel ini pekan lalu baru saja menjadi juara di Tiongkok Masters 2013.
 Namun, pasangan Negeri Ginseng,julukan Korsel, tersebut juga punya catatan kurang bagus jika bersua Hendra/Ahsan. Selama 2013, Sung-hyun/Yong-dae tak pernah menang. Kebetulan, ketiga partai pertemuan merupakan laga final yakni di Malaysia Super Series, Indonesia Super Series Premier, dan Singapura Super Series. Pada babak pertama, Hendra/Ahsan akan dijajal pasangan yang lolos dari babak kualifikasi.
 Selain Hendra/Ahsan. Pelatnas juga diwakili pasangan muda Angga Pratama/Rian Agung Saputro. Mereka menduduki unggulan kelima. (*)


WAKIL INDONESIA DI JEPANG SUPER SERIES 2013

TUNGGAL PUTRA: Tommy Sugiarto (x6), Sony Dwi Kuncoro, Dionysius Hayom Rumbaka

TUNGGAL PUTRI: Lindaweni Fanetri,Aprilia Yuswandari

GANDA PUTRA: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (x1), Yonathan Suryatama Dasuki/Hendra Aprida Gunawan,Markis Kido/Markus Fernaldi, Angga Pratama/Rian Agung Saputro (x5)

GANDA PUTRI: Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta (x4), Gebby Ristiyani/Tiara Rosalia, Variella Aprilsasi Putri/Vita Marissa, Nitya Krishinda/Greysia Polii

GANDA CAMPURAN: Muhammad Rijal/Debby Susanto (x5), Markis Kido/Pia Zebadiah (x7), Riky Widianto/Puspita Richi Dilli (x8), Praveen Jordan/Vita Marissa, Markus Fernaldi/Rizki Amelia Pradipta

Tua-Tua Masih Berprestasi


Wakil di Kejuaraan Dunia Senior (foto: badminton indonesia)
MENTAL juara dimiliki Hariyanto Arbi dan Tri Kusharjanto. Buktinya, mereka masih mampu menjadi juara.
 Memang, bukan lagi di kelompok umum yang banyak diikuti oleh pebulu tangkis muda. Tapi, dalam event kelompok umur.
 Hariyanto/Trikus, sapaan karib Tri Kusharjanto, mampu menjadi pemenang dalam kelompok umur 35 ke atas nomor ganda dalam Kejuaraan Dunia Senior 2013. Dalam final yang dilaksanakan di Ankara, Turki, pada Minggu pagi WIB (15/9), mereka mampu mengalahkan unggulan kedua asal Inggris Lee Chapman/Nick Ponting 21-16, 21-11. Hariyanto/Trikus menempati unggulan 3-4.
 Sebelum berangkat ke Turki, Trikus sempat memperkirakan lawan terberat bakal datang dari Thailand. Ternyata, perkiraan tersebut salah.
  Bermain di ganda memang bukan spesialisasi Hariyanto. Saat masih masih jayanya di era 1990-an, lelaki asal Kudus, Jawa Tengah, tersebut dikenal jagoan di nomor tunggal.
 Juara dunia pernah disandangnya pada 1995 serta dua kali di turnamen bergengsi All England pada 1993 dan 1994.
 Sebaliknya bagi Trikus. Nomor ganda merupakan spesialisasinya. Prestasi puncaknya meraih perak nomor ganda campuran bersama Minarti Timur dalam Olimpiade Sydney 2000.
 Dalam Kejuaraan Dunia Senior 2013 ini, Indonesia juga berjaya di nomor ganda 40. Kakak Hariyanto, Eddy Hartono, yang berpasangan dengan Rudy Wijaya mampu menundukkan unggulan pertama asal Swedia Stefan Edvardsson/Joacim Fellenius 21-10, 21-15. Hanya, dalam event ini, Rudy membawa bendera Filipina.
 Eddy Hartono yang akrab disapa Kempong ini sukses mempersembahkan emas bagi Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992. Dia berpasangan dengan Gunawan. Bersama Gunawan pula, mereka menjadi juara All England 1992.
 Sayang, di dua nomor lainnya, ganda putra 45 dan 50, wakil merah putih harus mengakui ketangguhan lawan-lawannya. Di ganda putra 45, wakil Indonesia Hendry Saputra/Effendy Wijaya,yang diunggulkan di posisi 3-4, takluk 16-21, 14-21 oleh unggulan 5-8 Patrik Bjokler/Jens Olsson dari Swedia.
 Pil pahit juga ditelan Bobby Ertanto/Simbarsono Sutanto. Turun di final kelompok 50,mereka harus mengakui unggulan teratas asal Denmark Morten Christensen/Martin Olesen 19-21, 18-21.
 Bobby merupakan pebulu tangkis spesialis ganda yang disegani di era 1980-an. (*)

Bisa Juara tanpa Pasangan Terkuat Indonesia

Minggu, 15 September 2013

MENANG: Ko Sung-hyun/Lee Yong-dae (foto: victor)
ABSENNYA pasangan tangguh asal Indonesia membawa berkah bagi bagi : Ko Sung-hyun Ko/Lee Yong-dae. Pasangan Korea Selatan (Korsel) ini mampu menjadi juara ganda putra Tiongkok Masters 2013.
 Dalam final yang dilaksanakan di Olympic Sport Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Minggu waktu setempat (15/9), mereka mengalahkan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa asal Jepang dengan dua game langsung 25-23 21-19.
Ini menjadi gelar keempatbagi pasangan Negeri Ginseng, julukan Korsel, selama 2013. Tiga posisi terhormat digapai  di Korea Super Series Premier, Malaysia Super Series, dan Kejuaraan Asia. Hanya, dalam tiga laga pemuncak tersebut, Sung-hyun/Yong-dae tidak berhadapan dengan wakil Indonesia.
 Sebaliknya, di tiga laga pemungkas, mereka tumbang dari lawan yang sama, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Ini terjadi di Malaysia Super Series, Indonesia Super Series Premier, dan Singapura Super Series. Bahkan, pada Taiwan Grand Prix Gol, Sung-hyun/Yong-dae menyerah pada pasangan anyar Indonesia Fran Kurniawan/Bona Septano. 
 Pada Tiongkok Masters 2013 ini, pasangan terbaik Indonesia tak ada yang ikut. Di nomor ini, merah putih hanya diwakili Markis Kido/Markus Fernaldi. Sayang, langkah pasangan yang baru terbentuk ini terjegal di perempat final. (*)

HASIL FINAL TIONGKOK MASTERS 2013


TUNGGAL PUTRA: Wang Zhengming Wang (Tiongkok x7) v    Son Wan-Ho 11-21 21-14 24-22          



TUNGGAL PUTRI: Liu Xin (Tiongkok) v Porntip Buranaprasertsuk
(Thailand)    21-4 13-21 21-12


GANDA PUTRA: Ko Sung-hyun Ko/Lee Yong-dae (Korsel x1) v Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang x2) 25-23 21-19

  
GANDA PUTRI: Wang Xiaoli/Ya Yang (Tiongkokl x1) v Ma Jin Ma/Tang Jinhua (Tiongkok x2)  21-17 21-16              


GANDA CAMPURAN: Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok x2) v Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won (Korsel)    21-18 21-12  

Ket: x: unggulan  


Bikin Bangga meski Level Challenge

YES: Febby Annguni (foto:djarum)

INDONESIA tak selamanya gagal. Di Tiongkok Masters 2013, merah gagal meloloskan wakilnya di laga final.
 Tapi, beda dengan di Belgia Challenge. Memang, levelnya masih dua setrip di bawah Tiongkok Masters.
 Namun, apresiasi tetap layak diberikan kepada Andre Kurniawan Tedjono dan Febby Angguni. Kedua pebulu tangkis Djarum tersebut sukses menjadi juara di nomor tunggal putra dan putri.
Dalam final yang dilaksanakan di Leuven pada Sabtu waktu setempat (14/9) atau Minggu dini hari WIB (15/9), Andre mampu menundukkan unggulan pertama Eric Pang asal Belanda dua game langsung 21-17, 21-11. Dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 15 ribu tersebut, Andre hanya diunggulkan di posisi keenam.
 Eric bukan lawan yang asing bagi Andre.  Pebulu tangkis yang pernah menghuni pelatnas Cipayung tersebut sudah dua kali mengalahkan lawannya. Itu dilakukannya di Indonesia Super Series 2010 dan Malaysia Super Series 2008.
 Hasil di Belgia ini menjadi capaian terbaik Andre selama 2013. Dari berbagai turnamen yang diikuti, dia lebih sering tumbang pada babak-babak awal.
  Sementara, Febby, yang diunggulkan di posisi kedelapan, menghentikan ambisi pebulu tangkis Taiwan nonunggulan Cheng Chi Ya 22-20, 21-11. Ini mengulangi sukses pekan lalu.
 Dalam Babolat Kharkov Challenge di Ukraina, Febby juga mampu menjadi juara. Hanya, saat itu, dia mengalahkan rekannya sendiri dari Djarum Ana Rovita. (*)



HASIL FINAL BELGIA CHALLENGE 201
TUNGGAL PUTRA: Andre Kurniawan Tedjono (Indonesia x6) v Eric Pang (Belanda x1) 21-17, 21-11

TUNGGAL PUTRI: Febby Angguni (Indonesia x8) v Cheng Chi Ya (Taiwan) 22-20, 21-11

GANDA PUTRA:Anders Skaarup/Kim Astrup (Denmark) v Chris Langridge/Peter Mills (Inggris x1) 28-26,21-18

GANDA PUTRI:Imogen Bankier/Petya Nedelcheva (Skotlandia/Bulgaria) v Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria x2) 13-21, 21-11, 21-18

GANDA CAMPURAN: Anders Skaarup/Lena Grebak (Denmark x4) v Jacco Arends/Selena Piek (Belanda) 21-18, 9-21,21-15

X=unggulan

Gagal Menembus Babak Final

MANDIRI: Markus, Joko, Kido, Pia. Rizky 

INDONESIA gagal total di Tiongkok Masters 2013. Dua wakil yang tersisa di nomor ganda campuran, pasangan Markis Kido/Pia Zebadiah dan Riky Widianto/Puspita Richi Dilli, menyerah kepada lawan-lawannya.
 Kido/Pia, yang diunggulkan di posisi keempat, harus mengakui ketangguhan unggulan kedua asal Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei dengan dua game 16-21,14-21 pada pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Olympic Sport Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, pada Sabtu waktu setempat (14/9). Ini merupakan pertemuan perdana bagi kedua pasangan yang saat ini sama-sama berada di posisi sepuluh. Kido/Pia berada di tangga kesembilan sementara lawannya enam setrip di atasnya.
 Sedangkan Riky/Puspita, yang diunggulkan di posisi keenam, secara mengejutkan tunduk dua game langsung 21-23, 17-21 oleh Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won dari Korsel. Sebelumnya, wakil Indonesia sudah bertumbangan di babak-bawal awal. Bahkan, di nomor tunggal putra dan putri, wakil Indonesia sudah bertumbangan di babak pertama. (*)

HASIL WAKIL INDONESIA DI TIONGKOK MASTERS 2013
TUNGGAL PUTRA:
Tommy Sugiarto:
Babak I:v Kento Momota (Jepang) 17-21, 14-21

Dionysius Hayom Rumbaka
Babak I: v Zhou Wenlong (Tiongkok) 19-21, 21-19, 10-21
TUNGGAL PUTRI
Bellaetrix Manuputty
Babak I: v Li Xuerui (Tiongkok) 18-21, 8-21

GANDA PUTRA:
Markis Kido/Markus Fernaldi
Babak I:v Song Ziwei/Xu Xiaofeng (Tiongkok) 21-19, 18-21,21-17
Babak II: v Lu Chia Pin/Wang Chih Hao (Tiongkok) 21-11, 25-23
Perempat Final: v Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok) 17-21,16-21

GANDA PUTRI:
Nitya Krishinda/Greysia Polii
Babak I:v Liu Linlin/Wang Qindanqing (Tiongkok) 21-13, 21-10
Babak II: v Bao Yixin/Zhong Qianxin (Tiongkok) WO
Perempat Final: v Wang Xiaoli/Yu Yang (Tiongkok) 16-21, 11-21

Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta
Babak I:v Du Yue/Li Yin Hui (Tiongkok) 21-19, 21-12
Babak II: Shinta Mulia Sari/Yao Lei (Singapura) 21-18, 16-21,21-17
Perempat Final:Jang Ye-na/Kim So-young (Korsel) 17-21,21-18, 10-21

Gabby Ristiyani/Tiara Rosalia
Babak I: v Jung Kyun-eun/Kim Ha-na (Korsel) 19-21, 17-21

GANDA CAMPURAN:
Lukhi Apri Nugroho/Annisa Saufika
Babak I: v Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok) 8-14 (ret)
Babak II: v Guo Junjie/Luo Jiaxin (Tiongkok) 21-19, 21-15
Perempat Final: v Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won (Korsel) 13-21, 24-22,15-21

Irfan Fadilah/Weni Angraeni
Babak I: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel) 7-21, 19-21

Praveen Jordan/Vita Marissa
Babak I: v Hiroyuki Endo/Ayaka Takahashi (Jepang) 15-21,21-14, 21-12
Babak II:v Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (Thailand) 21-15,21-23, 21-11
Perempat Final: v Riky Widianto/Puspita Richi Dilli (Indonesia) 21-8,14-21, 20-22

Riky Widianto/Puspita Richi Dilli
Babak I: v Shi Longfei/Du Peng (Tiongkok) 20-22,21-12, 21-9
Babak II: v Hirokatsu Hashimoto/Miyuki Maeda (Jepang) 21-11, 21-14
Perempat Final: v Praveen Jordan/Vita Marissa (Indonesia) 8-21,21-14,22-20
Semifinal: v Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won (Korsel) 21-23,17-21

Markis Kido/Pia Zebadiah
Babak I:  v Chai Biao/Tan Jinhua (Tiongkok) 22-20, 22-20
Babak II: v Phillip Chew/Jamie Subandhi (AS) 21-18, 21-11
Perempat Final: v Shin Baek-choel/Jang Ye-na (Korsel) 21-15, 21-19
Semifinal: Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok) 16-21, 14-21

Jalan Bawa Pulang Dua Gelar

Sabtu, 14 September 2013

Andre Kurniawan (foto: djarum)

INDONESIA punya kans membawa pulang dua gelar dari Belgia Challenge 2013. Dua wakil merah putih, Andre Kurniawan Tedjono dan Febby Angguni mampu menembus babak puncak dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 15 ribu tersebut.
 Di nomor tunggal putra, Andre, yang diunggulkan di posisi keenam, mampu mengalahkan unggulan kedelapan asal Denmark Joachim Persson dua game langsung 21-17, 21-16 dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Leuven pada Jumat waktu setempat (13/9) atau Sabtu dini hari WIB (14/9).
Sebelum menundukkan Joachim, pebulu tangkis Djarum tersebut juga memulangkan Anup Sridhar dari India juga dengan dua game 21-18, 21-5. Ya, dengan waktu yang mepet, pertandingan perempat final dan semifinal dilaksanakan di hari yang sama.
 Pada pertandingan final, Andre akan menjajal ketangguhan unggulan teratas asal Belanda Eric Pang, yang sebelumnya melibas Lin Yu Hsien (Taiwan) 22-24,21-10, 21-14. Peluang Andre menang terbentang lebar.
 Alasannya, dalam dua kali pertemuan,mantan penggawa pelatnaas Cipayung tersebut selalu menang.Meski, peringkat Andre, 50, kalah oleh Eric yang kini di posisi 29.
 Sementara, Febby, yang turun di tunggal putri, pada babak perempat final menghentikan ambisi Karin Schnaase dari Jerman dua game 21-12, 21-14. Febby diunggulkan di posisi kedelapan sedang lawannya di posisi keenam.
 Pada babak perempat final, Febby sudah memulangkan lebih awal unggulan ketiga asa Skotlandia Kirsty Gilmour 21-11,19-21, 21-17.
 Untuk bisa juara, Febby harus bisa menundukkan Cheng Ya Chi, yang di semifinal menang 21-17, 21-17 atas rekan senegaranya sendiri Lee Chia Hsin. Ini pertemuan pertama bagi Febby dengan lawannya tersebut.
 Hanya, di sisi peringkat, dia harusnya bisa menang. Febby duduk di posisi 41 sementara lawannya 96. (*)

Asa di Pundak Ganda Campuran

Markis Kido/Pia Zebadiah (foto: twitter)

MARKIS Kido/Markus Fernaldi menuai hasil kurang memuaskan dalam Tiongkok Masters 2013. Memasang target lolos semifinal, keduanya terhenti pada babak perempat final turnamen yang menyediakan hadiah  USD 250 ribu tersebut.
 Kido/Markus dipaksa mengakui ketangguhan pasangan tuan rumah Chai Biao/Hong Wei dengan dua game langsung 17-21, 16-21 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Olympic Sport Center Xincheng Gymnasium,Changzhou, pada Jumat waktu (13/9).
 Ini membuat Indonesia sudah tak punya wakil lagi di nomor ganda putra. Ya, Kido/Markus merupakan satu-satunya wakil di nomor ganda putra.
Pil pahit juga ditelan pasangan Gresyia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Wakil semata wayang di ganda putri ini juga tersungkur di perempat final.
 Pasangan yang baru digabungkan lagi pada Mei lalu tersebut harus mengakui ketangguhan unggulan pertama sekaligus andalan tuan rumah Wang Xiaoli/Yu Yang dua game langsung 16-21, 11-21. Kekalahan ini mengulangi hasil di Piala Sudirman 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia.
 Saat itu,pada 21 Mei, Nitya/Greysia juga kalah dua game 10-21, 13-21. Secara peringkat, pasangan Indonesia memang kalah jauh. Nitya/Gresyia ada di posisi 55 sementara lawannya di tangga teratas.
 Kini, asa juara hanya diletakan di ganda campuran. Sebelumnya, wakil Indonesia di tunggal putra dan tunggal putri sudah angkat koper sejak babak pertama.
 Di ganda campuran, Indonesia masih menyisakan dua slot yakni Kido/Pia Zebadiah dan Riky Widianto/Puspita Richi Dilli. Pasangan kakak-beradik Kido/Pia, yang diunggulkan di posisi keempat, lolos setelah menundukkan unggulan ketujuh asal Korea Selatan Shin Baek-choel/Jang Ye-na 21-15, 21-19,
 Di semifinal, Kido/Pia akan menantang unggulan kedua Zhang Nan/Zhao Yunlei yang menang WO atas rekannya sendiri Kang Jun/Ou Dongni. Kido/Pia belum pernah bertemu dengan lawannya yang duduk di peringkat ketiga tersebut.
 Dalam laga lain, Riky/Puspita, yang diunggulkan di posisi keenam, memupus harapan rekannya sendiri asal Indonesia Praveen Jordan/Vita Marissa  8-21,21-14, 22-20. Riky/Puspita bakal menjajal ketangguhan pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won, yang di perempat final menundukkan ganda Indonesia Lukhi Apri Nugroho/Annisa Saufika 21-12, 21-9.
 Ini juga menjadi pertemuan pertama Riky/Puspita dengan lawannya tersebut. Hanya,secara peringkat, pasangan merah putih diunggulkan bisa menang karena peringkatnya jauh lebih unggul. Riky/Puspita ada di posisi ke-12 sedang pasangan Korsel di peringkat 47. (*)

Dua Kali Beruntun Kalah oleh Febby

Jumat, 13 September 2013

TEMAN SENDIRI: Ana Rovita (foto: djarum)

ANA Rovita kembali tersandung. Untuk kali kedua secara beruntun, pebulu tangkis tunggal putri asal Djarum gagal menjadi juara di turnamen level internasional challenge di Babolat Kharkov Internasional dan Belgia Internasional.
 Ironisnya, dua-duanya kalah dari lawan yang sama dan rekannya berlatih di Djarum Febby Angguni. Di Babolat Kharkov Internasional di Ukraina pekan lalu, Ana kalah di babak final.
 Tapi, di Belgia Internasional yang dilaksanakan di Leuven, Ana sudah tersingkir pada babak kedua oleh Febby. Dia menyerah dalam pertarungan tiga game 14-21, 21-9, 21-14 pada Kamis malam waktu setempat (12/9) atau Jumat dini hari WIB (13/9).
 Ini membuat skor pertemuan Ana dan Febby menjadi 1-3. Selain di Ukraina, dia pada Juli lalu juga kalah oleh Febby di Indonesia Challenge di Surabaya dengan tiga game 21-13, 4-21,11-21. Satu-satunya kemenangan  dipetik Ana juga di Indonesia Challenge hanya pada edisi 2010 dengan dua game 21-15, 21-12.
 Kemenangan atas Ana membawa Febby, yang diunggulkan di posisi kedelapan, menantang Kirsty Gilmour. Unggulan ketiga asal Skotlandia tersebut pada babak kedua menundukkan Panuga Riou asal Inggris 21-9, 21-11. Secara peringkat, Febby kalah karena lawannya tujuh setrip di atasnya yang saat ini di posisi 41.
 Kemenangan juga dipetik Dinar Dyah. Juara Indonesia Challenge 2013 tesebut menundukkan Lene Clausen dari Denmark dengan 21-16, 21-17. Pada babak perempat final, gadis asal Karanganyar ini akan menghadapi Cheng Chi Ya, yang sebelumnya memupus asa Fontaine Mica (Inggris) 21-14,20-22, 21-6. Saat ini, Dinar ada di posisi 216 dan lawannya 96.
 Sayang, satu lagi wakil Djarum Sylvina Kurniawan tersungkur di babak kedua karena kalah dari unggulan keenam asal Jerman Karin Schnaase 210-14,12-21, 11-21. (*)

Ganda Campuran Loloskan Empat Pasangan


GANDA campuran Indonesia gemilang di babak kedua Tiongkok Masters  2013. Empat wakil mampu menembus perempat final turnamen yang menyediakan hadiah total USD 250 ribu tersebut.
 Bahkan, satu tempat di semifinal sudah menjadi milik merah putih. Itu disebabkan dua pasangan Indonesia, Praveen Jordan/Vita Marissa, bakal berhadapan dengan Riky Widianto/Puspita Richi Dili.
 Dari rekor pertemuan resmi, Praveen/Vita unggul 1-0. Kemenangan ini digapai dalam final Selandia Baru Grand Prix pada 14 April lalu dengan dua game langsung 21-18, 21-8.
Dua pasangan lainnya yang lolos dari jeratan babak kedua adalah Lukhi Apri Nugroho/Annisa Saufika dan pasangan kakak beradik Markis Kido/Pia Zebadiah.
 Lukhi/Annisa akan menghadapi pasangan Korea Selatan Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won. Ini merupakan pertemuan kedua bagi kedua pasangan. Dalam pertemuan perdana, Lukhi/Annisa kalah 15-21, 19-21 dalam Thailand Grand Prix Gold 2013.
Sementara Kido/Pia, yang diunggulkan di posisi keempat, juga dijajal ganda Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, Shin Baek-choel/Jang Ye-na. Kido/Pia pernah mengalahkannya pada All England Super Series 2013.
 Pada babak kedua yang dilaksanakan di Changzhou pada Kamis waktu setempat (12/9) , Praveen/Vita membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan ketiga asal Thailand Sudket Parapakamol/Saralee Thoungthongkam dalam pertarungan tiga game 21-15, 21-23, 21-11. Ini diikuti oleh Riky/Puspita yang memupus asa pasangan Jepang Hirokatsu Hashimoto/Miyuki Maeda 21-11, 21-14.
 Sedangkan Lukhi /Annisa menundukkan Guo Junjie/Luo Jiaxin dari Tiongkok dua game langsung 21-19, 21-15. Dan, Kido/Pia masih terlalu tangguh bagi pasangan Amerika Serikat  Philip Chew/Jamie Subandhi dengan 21-18, 21-11. (*)

Razif Masih Dibutuhkan BAM

Kamis, 12 September 2013

Razif Sidek (foto: thestar)
MASIH ingat Razif Sidek. Ya, dia adalah satu pebulu tangkis papan atas dunia yang berasak dari keluarga Sidek.
 Hanya, dibandingkan dua saudaranya, Misbun dan Rashid, lelaki berusia 51 tahun tersebut fokus di nomor ganda. Pasangannya pun saudaranya sendiri, Jalani.
 Kini, nama Razif kembali mencuat di pentas bulu tangkis Malaysia. Bukan lagi sebagai atlet, tetap dia masuk sebagai pengurus Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM).
 Ini termasuk kejutan. Sebab, sudah 16 tahun, Razif tak masuk dalam kepengurusan. Dia diajak oleh Direktur Bidang Pembinaan Tan Aik Mong.
Dia akan menjadi pengawas independen yang akan mengevaluasi paran pebulu tangkis dan pelatih Malaysia di semua level.
 Nama Razif di Malaysia termasuk harum. Dia mampu menyumbangkan perunggu di nomor ganda dalam Oliompiade Barcelona 1992 bersama Jalani. Mereka juga menjadi juara ganda dalam turnamen bergengsi All England 1982. pasangan Razif/Jalani juga punya andil besar saat Malaysia menjadi juara Piala Thomas 1992. He was also once the chief coach from 1994-1996.
 Setelah pensiun, Razif dikenal kritis kepada BAM. Hanya, hubungan baiknya dengan Aik Mong yang membuat dia bersedia kembali ke BAM.
 ‘’Saya sangat terkejut dan tak percaya bisa kembali setelah beberapa tahun,’’ kata Razif kepada media Malaysia.
 Dia mau karena Aik Mong punya semangat yang tinggi untuk bisa mengembalikan kejayaan bulu tangkis Malaysia. Apalagi, Razif sudah mengerti kinerja Aik Mong.
‘’Saat saya di timnas pada era 1980-an, Aik Mong adalah kepada pelatihnya. Saya pun pernah bermasalah dengan dia, tapi itu masa lalu,’’ ucap Razif.
Selain Razif, tunggal putra peringkat 1 dunia Lee Chong Wei juga punya kerja yang sama. Mantan pebulu tangkis Cheah Soon Kit juga bakal dilibatkan. Namun, Aik Mong masih butuh tiga orang lagi guna membantu kinerjanya. (*)

Tiga Tunggal Temani Febby

Sylvina Kurniawan (foto: djarum)
FEBBY Angguni punya teman di babak utama Belgia Internasional Challenge 2013. Temannya pun bukan hanya satu tapi tiga. Ini setelah Sylvina Kurniawan, Ana Rovita, dan Dinar Dyah mampu lolos dari jeratan babak kualifikasi tunggal putri turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut.
Dalam final kualifikasi yang dilaksanakan di Leuven pada Rabu waktu setempat (11/9) atau  Rabu WIB (12/9), Sylvina menundukkan Jenny Wan, unggulan kelim asal Swedia, dengan straight game 21-17, 21-10.  Sukses ini diikuti oleh Anna yang tak mengalami kesulitan berarti saat menundukkan pebulu tangkis Denmark Camilla Martens 21-14, 21-14. Tiket ke babak elite terakhir jatuh ke tangan Dinar. Juara Indonesia Challenge 2013 ini memupus Helena Lewczynska (Inggris) 21-8, 21-17.
 Dari undian yang ada, besar kemungkinan, keempat pebulu tangkis Djarum tersebut bakal melaju mudah ke babak kedua. Febby akan dijajal Ellinor Widh (Swdia). Dalam Belgia Internasional Challenge ini, dia menempati unggulan kedelapan.Dari segi peringkat, Febby 100 setrip di atas lawannya.
  Sementara, Sylvina menghadapi Sarah Milne dari Inggris. Meski peringkatnya jauh di bawah, 401, tapi dia diyakin bisa menundukkan Sarah yang ada di posisi 141.
Lawan lebih ringan dihadapi Anna. Meski peringkatya kalah, 247, namun dia bakal memulangkah lebih awal Katerina Tomalova asal Rusia yang punya peringkat 182. Dan Dinar bakal mencoba menyingkirkan Nicole Cerfontyne asal Rep Ceko. Secara peringkat, Dinar juga kalah. Perempuan asal Karanganyar, Jawa Tengah, ini ada di posisi 243 dan  Nicole di tangga 116.
 Pekan lalu, dalam Babolat Kharkov Internasional Challenge di Ukraina pekan lalu, Febby menjadi juara setelah mengalahkan Ana.  Sukses ini diharapkan berlanjut di Belgia. (*)


JALAN MENEMBUS BABAK UTAMA
Silvina Kurniawan
Babak I: v Yu Chien Hu (Taiwan) 15-21, 21-18, 21-12
Babak II: Flore Vandenhoucke (Belgia) 15-21, 21-9, 21-9
Babak III:  Jenny Wan (Swedia) 21-17, 21-10

Anna Rovita
Babak I: Cheng Yu Chieh (Taiwan) 21-17, 21-15
Babak II: Bergstein Iben (Denmark) 17-21, 21-9, 21-12
Babak III: Camilla Martens (Denmark) 21-14, 21-14

Dinar Syah
Babak I: Hannah Pohl (Jerman) 21-8, 21-14
Babak II: Evgeniya Kosetskaya (Rusia) 21-15, 21-12
Babak III:Helena Lewczynska (Inggris) 21-8, 21-17

Hariyanto/Trikus Tembus Perempat Final

MELAJU: Hariyanto Arbi (twitter)
SISA-SISA kejayaan Hariyanto Arbi dan Tri Kusharjanto masih ada bekasnya. Buktinya, keduanya masig bertahan dalam Kejuaraan Dunia Senior 2013.
 Hariyanto/Trikus, sapaan karib Trikus, mampu menembus babak utama di nomor ganda putra kelompok umur 35 tahun. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Ankara, Turki, pada Rabu waktu setempat (11/9), keduanya menundukkan pasangan Rusia Sergey Bushuev/Sergey Makin dengan dua game langsung 21-12, 21-16.
 Untuk bisa lolos semifinal, Hariyanto/Trikus harus bisa menyingkirkan Andre Bertko/Frank Heuwing asal Jerman, yang di babak ketiga dipaksa harus bekerja keras selama tiga game untuk bisa menundukkan unggulan 5-8 Johan Clausen/Frank Johansen (Swedia/Denmark) 15-21, 21-17, 25-23.
 Di atas kertas, Hariyanto/Trikus seharusnya bisa memenangkan pertandingan. Keduanya punya skill yang jauh di atas lawannya sewaktu masih aktif sebagai pebulu tangkis yang mengejar prestasi.
 Bahkan, sampai sekarang, Trikus masih aktif turun di berbagai turnamen di Indonesia, sekelas sirkuit nasional. Bahkan, pada Juli lalu di Surabaya, wong Jogja itu masih unjuk kemampuan di level challenge. Meski, usianya sekarang sudah 38 tahun.
 Sementara, penampilannya di ganda sebuah hal yang asing bagi Hariyanto. Di masa keemasannya, lelaki yang kini menginjak 40 tahun tersebut merupakan pebulu tangkis tunggal putra yang disegani. Gelar juara dunia pun mampu disandangnya pada 1995.
 Di kelompok ini, sebenarnya ada wakil Indonesia lainnya, yakni Dharma Gunawi. Hanya, dia berpasangan dengan pebulu tangkis Austria Jurgen Koch. Keduanya lolos ke perempat final setelah menundukkan Simon Gilhooly/Philip Troke (Inggris) dengan dua game 21-13, 21-10. 

Wang Xin Siap Bangkit

Rabu, 11 September 2013

PETAKA: Wang Xin saat cedera di Olimpiade London
NAMA Wang Xin sempat hilan ditelan bumi. Pas setahun dia tak pernah mengayunkan raket.
 Kali terakhir, gadis berusia 27 tahun tersebut ikut ambil bagian dalam Olimpiade London yang dilaksanakan Agustus. Pada 4 Agustus, dia menghadapi Saina Nehwal dari India.
Hasilnya, Wang yang diunggulkan di posisi kedua tak bisa melanjutkan pertandingan hingga usai. Dia menyerah 21-18, 1-0 karena cedera lutut.
Imbasnya, dia pun gagal memperoleh medali perunggu yang sudah di depan mata. Wang gagal melaju ke final karena kalah oleh rekannya sendiri, Li Xuerui, 20-22, 18-21. 
 Tapi, pada Tiongkok Masters 2013 ini, Wang masuk dalam daftar peserta. Hanya, perempuan yang suka menyaksikan film polisi tersebut tak bisa langsung menembus babak utama.
 Alasannya, peringkat yang dimilikinya sekarang tak memungkinan. Dalam daftar peringkat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), dia berada di peringkat 159. Memang, lama absen dalam berbagai turnamen hampir setahun membuat peringkatnya turun drastis.
 Dalam babak kualifikasi, Wang pun tampil trengginas. Dua lawanpun mampu dikalahkannya. Mereka adalah Sayaka Sato (Jepang) yang takluk 21-18, 20-22, 21-14 dan Sarita Suwannakitborihan (Thailand) dengan dua game 21-14, 21-12.
 Kemenangan atas pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, membuat Wang pun menembus babak elite. Nah, pada babak utama, dia pun mampu menang atas kompatriot (rekan satu negara) Deng Xuan  21-11, 21-19. Lawan yang dikalahkannya ini peringkatnya jauh di atas yakni 42.
Pada babak kedua, Wang akan menjajal ketangguhan Sayaka Takahashi. Peringkat terakhir pebulu tangkis Jepang ini ada di posisi 20. (*)

WANG XIN MASIH MENAKUTKAN
Nama: Wang Xin
Lahir: 10 November 1985
Negara: Tiongkok
Tinggi: 1,66 meter
Peringkat Tertinggi: 1
Prestasi:
Kejuaraan Dunia
Perak 2010 Paris
Perunggu 2011 London

Asian Games
Emas Beregu Guangzhou 2010
Perak Perorangan Guanghiu 2010

Uber
2012 Wuhan

Sudah tanpa Wakil Tunggal Putra-Putri

TUMBANG: Dionysius Hayom Rumbaka (foto:djarum)
TIONGKOK masih menjadi kandang macan bagi pebulu tangkis Indonesia, khususnya nomor tunggal. Itu terbukti dalam Tiongkok Masters 2013.
 Merah Putih sudah tak punya wakil di tunggal putra dan putri dalam turnamen yang masuk level super series tersebut. Di nomor tunggal putra, Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka langsung tumbang pada penampilan perdana. Begitu juga dengan Bellaetrix Manuputty di tunggal putri.
 Tommy, yang diunggulkan di posisi keempat, secara mengejutkan harus mengakui ketangguhan Kento Momota dari Jepang dengan dua game langsung 17-21, 14-21 dengan waktu hanya 46 menit dalam pertandingan yang dilaksanakan di Changzhou pada Rabu waktu setempat (11/9). Secara peringkat, Tommy seharusnya tak perlu tumbang. Juara Singapura Super Series 2013 ini berada di posisi keenam sedangkan Momota di posisi 35.
 Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, juga takluk. Pebulu tangkis asal Djarum ini dipermalukan pebulu tangkis Tiongkok yang lolos dari babak kualifikasi Zhou Wenlong dengan rubber game 19-21, 21-19, 10-21. 
 Bella, sapaan karib Bellaetrix, juga tak bisa melangkah lebih jauh. Langsung bertemu unggulan teratas, Li Xuerui, asal Tiongkok dia pun menyerah dua game langsung 18-21, 8-21. Ini merupakan kekalahan kelima Bella dari pebulu tangkis Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut.
 Pada Tiongkok Masters ini, Pelatnas PB PBSI tak menurunkan kekuatan terbaik. Bahkan, di nomor andalan, ganda putra, pelatnas tak ada wakil. Di nomor ini hanya ada pasangan nonpelatnas, Markis Kido/Markus Fernaldi.
Pasangan baru ini pun mampu lolos ke babak kedua setelah menundukkan pasangan tuan rumah Song Ziwei/Xu Xiaofeng dengan rubber game 21-19, 18-21, 21-17.
 Untuk bisa lolos babak perempat final, Kido/Markus harus bisa mengalahkan pasangan Taiwan Lu Chia Pin/Wang Chih Hao, yang di babak pertama menumbangkan unggulan ketujuh asal Malaysia Mohd Zakry/Mohd Fairuzuzian 21-17, 21-19. Sementara di nomor ganda campuran, tak ada nama Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.  (*)

Christopher/Trikusuma Berburu ke Eropa Lagi

Senin, 09 September 2013

Christopher Rusdianto (pbsi)
CHRISTOPHER Rusdianto/Trikusuma Wardhana kembali memulai petulangan. Sasaran yang dituju kembali di Eropa.
 Tujuannya untuk menambah poin guna mendongkrak peringkat yang dimili.Dalam peringkat terakhir BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 5 September, Christopher/Trikusuma berada di posisi ke-58.
 ‘’Kami ingin menembus posisi 50 besar dunia,’’ kata Christopher kepada smashyes.
 Pada penampilan perdananya di kancah internasional, Christopher/Trikusuma juga menjelajah beberapa negara Eropa. Hasilnya, banyak poin yang diperoleh.
 Turnamen yang diikuti di Benua Putih, julukan Eropa, dimulai dari Polandia Internasional Series yang dilaksanakan di Lubin pada 19-22 September mendatang. Turnamen ini menyediakan hadiah total USD ribu.
 Setelah itu, ada beberapa turnamen yang bisa diikuti oleh pasangan asal klub Suryanaga, Surabaya, tersebut. Sebut saja Rep Ceko Internasional Series (26-29 September), Bulgaria Internasional Series (3-6 Oktober), Belanda Grand Prix (8-13 Oktober), Swiss Internasional Series (17-20 Oktober).
 Christopher kembali menegaskan bahwa dia tetap akan berpasangan dengan Trikusuma. Ini dikarenakan dia sempat dikabarkan bakal digandengkan dengan pebulu tangkis senior, Alvent Yulianto.
 Apalagi, keduanya pernah berpasangan dan tampil dalam Indonesia Challenge di Surabaya 2-7 Juli. Selain itu, Alvent kini tengah menjomblo setelah pasangan terakhirnya, Markis Kido, punya gandengan baru, Markus Fernaldi. Pasangan ini bakal tampil perdana dalam Tiongkok Masters yang dilaksanakan 10-15 September. (*)

Kido/Markus Andalkan Main Cepat

Markus Fernaldi
MARKIS Kido bakal menjalani debut. Berpasangan dengan tandem barunya, Markus Fernaldi, keduanya bakal turun dalam Tiongkok Masters 2013 yang mulai dilaksanakan di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Selasa waktu setempat (10/9).
 Meski termasuk pasangan baru, namun Kido/Markus tak perlu memulai dari babak kualifikasi. Kido/Markus langsung memulai dari babak utama.
 Ini dikarenakan peringkat kedua pebulu tangkis dengan pasangan sebelumnya sudah cukup untuk bisa berlaga dalam babak elite dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 250 ribu tersebut. Sebelumnya, Kido bertandem dengan  Alvent Yulianto. Dalam peringkat terakhir BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Kido/Alvent masih berada di posisi 14.
 Sedangkan Markus berpasangan dengan Andrei Adistia. Duet mantan penghuni pelatnas ini dalam peringkat terakhir ada di posisi 77.
 ‘’Kami sudah berlatih dengan serius pagi dan sore di GOR Jaya Raya Jakarta,’’ terang Kido kepada smashyes.
 Dia pun juga memuji pasangan barunya. Putra pelatih Tangkas Kurnia Hu tersebut dianggapnya punya kecepatan yang bisa mengimbanginya.
 ‘’Jadi, kami mengandalkan kecepatan. Ini yang membedakan saya dengan pasangan lama,’’ tambah Kido.
 Dalam Tiongkok Masters 2013, pada babak pertama, Kido/Markus akan dijajal pasangan asal Tiongkok Song Ziwei/Xu Xiaofeng. Pasangan Merah Putih itu sendiri berharap bisa menembus babak semifinal.
 Khusus bagi Kido, Tiongkok selalu memberi berkah baginya. Dia pernah menjadi juara Tiongkok Master 2007 saat berpasangan dengan Hendra Setiawan. Bersama Hendra pula, mereka mampu meraih emas Olimpiade Beijing 2008. Pada Tiongkok Masters 2013, Kido/Markus menjadi satu-satunya pasangan ganda putra Indonesia yang unjuk kemampuan.
  Sementara di nomor tunggal putra, pelatnas juga mengirim minim kekuatan. Mereka hanya diwakili Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka.
 Pada babak pertama, Tommy, yang diunggulkan di posisi keenam, bakal dijajal Kento Momota dan Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, menghadapi pebulu tangkis dari babak kualifikasi.
 Ini beda dengan undian yang sempat dikeluarkan oleh pihak panitia. Imbasnya, kans lolos babak kedua pun terbuka lebar bagi Tommy dan Hayom. (*)

Febby Angguni Juara di Ukraina

Minggu, 08 September 2013

EROPA: Febby Angguni (foto: djarum)
TUNGGAL putri Indonesia masih ada taji. Buktinya, Febby Angguni mampu menjadi juara di Eropa.
 Memang, event yang dimenangi mantan pebulu tangkis pelatnas Cipayung tersebut bukan level super series premier, super series, ataupun juga grand prix. Febby juara dalam turnamen Babolat Kharkov 2013 yang masuk kategori internasional challenge dan berhadiah total USD 15 ribu .
 Dalam final yang dilaksanakan di Kharkov, Ukraina, Minggu waktu setempat (8/9), dia mengalahkan rekannya satu klub di Djarum, Ana Rovita, dengan dua game langsung 22-20, 21-14.
 Meski sering bertemu dalam latihan, pertemuan di negara pecahan Uni Soviet ini merupakan kali ketiga. Dalam dua pertemuan sebelumnya, Febby dan Ana berbagi skor 1-1.
 Ana menang dalam Indonesia Challenge 2010 dengan 21-15, 21-12. tapi, Febby mampu membalasnya di Indonesia Challenge 2013 dengan tiga game 13-21, 21-4, 21-11.
 ‘’Sebenarnya kami mengirim empat tunggal putri. Ada juga yang turun di ganda putra,’’ kata Yoppy Rosimin, ketua PB Djarum, kepada smashyes.
 Selain Febby dan Ana, di nomor tunggal putri, klub yang disponsori perusahaan rokok tersebut juga mengirimkan Sylvina Kurniawan dan Dinar Dyah Agustine. Sayang, keduanya gagal melangkah lebih jauh.
 Sylvina tersingkir pada babak pertama setelah kalah 16-21, 8-21  oleh unggulan pertama asal Bulgaria Petya Nedelcheva dan Dinar juga tumbang dalam penampilan perdana oleh pebulu tangkis tuan rumah Natalya Voytsekh 22-24, 12-21, 16-21.
 Sementara di ganda putra, wakil Djarum Didit Juang/Andrei Adistia menyerah dalam babak semifinal. Mereka takluk pasangan Denmark Anders Skaarup/Kim Astrup 18-21, 16-21.
 ‘’Ada juga wakil di tunggal putra dari Indonesia. Namun, mereka dari pelatnas,’’ tambah Yoppi.
 Ya, di tunggal putra dua wakil pelatnas adalah Muhammad Bayu Pangisthu dan  Ihsan Maulana Mustofa. Keduanya sudah menyerah pada babak awal. (*)

HASIL FINAL BABOLAT KHARKOV 2013

TUNGGAL PUTRA: Dymtro Zavadsky (Ukraina x4) v Mathias Borg (Swedia) 21-14, 21-17

TUNGGAL PUTRI: Febby Angguni (Indonesia x2) v Ana Rovita (Indonesia) 22-20, 21-14

GANDA PUTRA: Adam Cwalina/Przemyslaw Wacha (Polandia x1) v Anders Skaarup/Kim Astrup (Denmark) 22-20, 15-21, 21-12

GANDA PUTRI: Imogen Bankier/Petya Nedelcheva (Inggris/Bulgaria) v Lena Grebak/Maria Hesbol (Denmark) 21-11, 21-12

GANDA CAMPURAN:  Robert Blair/Imogen Bankier (Inggris x3) v Kim Astrup/Maria Hesbol (Denmark x4) 20-22, 21-9, 21-18

Sudah Lumayan buat Pasangan Debutan

Bona Septano/Fran Kurniawan (foto: djarum)
LANGKAH Fran Kurniawan/Bona Septano di Taiwan Grand Prix Gold  2013 terhenti di babak semifinal. Keduanya harus mengakui ketangguhan pasangan tuan rumah Lee Sheng-mu/Tsai Chia Hsin dengan rubber game 20-22, 21-13, 9-21 dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di New Taipei pada Sabtu setempat (7/9).
 Ini membuat Indonesia pun gagal total dalam turnamen yang menyediakan  hadiah total USD 200 ribu tersebut. Ya, status Fran/Bona memang satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan.
 ‘’Sebagai pasangan baru, hasil ini sudah lumayan bagus,’ kata Herry I.P, pelatih ganda putra pelatnas PP PBSI, kepada smashyes.
 Ya, Fran/Bona memang pasangan yang baru ditandemkan sejak Agustus. Penampilannya di Taiwan juga yang pertama.
 Namun, keduanya sempat menarik perhatian. Pada babak perempat final, Fran/Bona mampu menjungkalkan unggulan teratas asal Korea Selatan Kim Ko Sung-hyun/Lee Yong-dae dua game langsung 21-18, 21-16. Dalam peringkat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pekan ini, peringkat Fran/Bona bakal muncul.
 Sementara, dalam Taiwan Grand Prix Gold 2013 yang berakhir Minggu (8/9) waktu setempat, Korea Selatan mampu menyapu bersih gelar. Dari lima tempat terhormat, tak ada yang lari ke negara lain.
 Bahkan, di nomor tunggal putra, unggulan pertama asal Vietnam Nguyen Tien Minh menyerah kepada wakil Negeri Ginseng, julukan Korsel, Son Wan-ho, dengan rubber game 21-19, 9-21, 18-21. (*)

HASIL FINAL TAIWAN GRAND PRIX GOLD 2013
TUNGGAL PUTRA: Son Wan-ho (Korsel) v Nguyen Tien Minh (Vietnam x1) 19-21, 21-9, 21-18

TUNGGAL PUTRI: Sung Ji-hyun (Korsel x1) v Tai Tzu Ying (Taiwan x2 21-16, 21-9

GANDA PUTRA: Kim Ki-jung/Kim Sa-rang (Korsel x2) v Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (Taiwan x4) 21-11,21-11

GANDA PUTRI: Jung Kyung-eun/Kim Ha-na (Korsel x1) v Lee Sho-hee/Shin Seung-chan (Korsel x2) no match

GANDA CAMPURAN:   Shin Baek-choel/Jang Ye-na (Korsel x3) v Yoo Yeon-seong/Eom Hye-won (Korsel) 22-20, 12-21, 21-16

Ket: x=unggulan

Liga Malaysia Putar Tahun Depan

LOKAL: Liew Daren (foto: badminton)

ADANYA liga bulu tangkis di beberapa negara membuat Malaysia gerah. Negeri jiran tersebut bakal menggelarnya mulai tahun depan atau 2014.
 Adalah  Looi Badminton Academy yang memulai gagasan tersebut. Pada Senin (2/9), manajer klub tersebut Jack Koh mengatakan mereka akan menggelar liga yang dinamani  Purple  League pada tahun depan. Biaya yang dikeluarkan pun lumayan besar 5 juta ringgit Malaysia. Mereka berharap Liga Malaysia menjadi salah satu kompetisi terbaik di atas bumi ini.
 Seperti dikutip dari sebuah media di Malaysia, dengan dukungan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Khairy Jamaludin serta mendapat restu dari Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM), liga ini akan direncanakan dengan matang.
 Di antara negara yang jadi kekuatan olahraga tepok bulu, Malaysia menjadi negara yang tak punya liga bulu tangkis. Mereka kalah dengan Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, Jetman, dan Denmark.
 Di antara negara-negara tersebut, India yang baru saja menggelar liga. Dengan titel Indian Badminton League (IBL), para pebulu tangkis papan atas dunia ikut serta.
 Sebut saja tunggal putra peringkat teratas dunia saat ini asal Malaysia Lee Chong Wei, mantan juara dunia tunggal putra asal  Indonesia Taufik Hidayat, dan juga juara tunggal putri All England Super Series Premier 2013 Tine Baun dari Denmark. Total hadiahnya pun cukup menggiurkan USD 1 juta atau lebih Rp 10 miliar.
 Liga di Malaysia nanti bakal diberi nama Purple League. Menurut Jack ada alasan kuat yang mendasari.
‘’Sebenarnya, kami mau memberi nama Premier. Tapi, nama tersebut sudah dipakai di sepak bola,’’ jelas dia.
 Purple atau dalam Bahasa Indonesia berari Unggu, lanjut dia, adalah tingkat tertinggi dalam susunan warna. Dibandingkan liga di negara lain, lanjut Jack, Purple League bakal punya perbedaan.
 ‘’Purple League akan ada dua. Satu untuk pebulu tangkis di atas 19 tahun dan yang satunya di bawah 19. Kami juga mengutamakan peembinaan,’’ ungkap dia.
 Ini akan membuat peserta juga menyiapkan tim junior.  Peserta nanti, lanjut Jack, ditargetkan 18 tim.
 ‘’Format yang akan dipakai adalah home and away dan harus memakai nama negara bagian,’’ paparnya. (*)

RENCANA LIGA BULU TANGKIS MALAYSIA:
Titel: Purple League
Peserta: 18 tim
Level: Senior dan Junior
Format pertandingan: Home and Away
Komposisi pertandingan: Tiga partai tunggal dan 2 partai ganda

Beri Kesempatan Kedua Kien Keat/Boon Heong

Jumat, 06 September 2013

TERSENYUM: Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (foto: thestar)

KABAR gembira bagi pasangan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) batal memisahkan keduanya.
  Itu setelah BAM menggelar pertemuan dengan dipimpin presidennya Tengku Tan Sri Mahaleel Tengku Arif pada Senin lalu. Nama Kien Keat/Boon Heong ada dalam daftar pasangan yang membela Malaysia dalam berbagai turnamen.
 Ini artinya BAM memberikan kesempatan kedua bagi mereka untuk bisa membuktikan diri. Meskil, sebelumnya, Kien Keatt/Boon Heong diancam diceraikan menyusul hasil buruk dalam Kejuaraan Dunia 2013 di Tianhe Indoor Stadium, Guangzhou, Malaysia, pada 5-11 Agustus lalu.
 Diunggulkan di posisi kedua, mereka tersingkir dalam babak perempat final. Imbasnya, posisi Kien Keat/Boon Heong di peringkat kedua pun turun dua setrip.
BAM pun sempat mengkombinasikan keduanya dengan pebulu tangkis Malaysia. Mereka berkaca dari keberhasilan Indonesia menduetkan pasangan senior-junior saat Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi juara dunia 2013.
 Media Malaysia juga menyebutkan banyak faktor  yang membuat Kien Keat/Boon Heong redup, salah satunya kedisiplinan dan tidak akur dengan pelatih. Padahal, sebelumnya, mereka pernah disegani dalam kurun 2006-2010.
 Pasangan Negeri Jiran ini menjadi juara dalam Asian Games Doha 2006, juara All England 2007, serta finalis Kejuaraan Dunia 2010. (*)

Fran/Bona Tumbangkan Unggulan Pertama

TERSINGKIR: Lee Yong-dae (foto: facebook)

KO Sung-hyun/Lee Yong-dae punya musuh baru dari Indonesia. Bukan hanya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang jadi momok bagi ganda putra asal Korea Selatan tersebut.
 Kini, ada nama Fran Kurniawan/Bona Septano. Itu setelah pasangan anyar pelatnas Cipayung tersebut menang atas Sung-hyun/Yong-dae dengan dua game langsung 21-18, 21-16 dalam pertandingan semifinal Taiwan Grand Prix 2013 yang dilaksanakan di New Taipei City pada Jumat siang waktu setempat (6/9).
 Sebelumnya, pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut selalu kalah dalam tiga pertemuan terakhir dengan Ahsan/Hendra. Menariknya, semua terjadi di pertandingan final 2013 yakni di Malaysia Super Series, Indonesia Super Series Premier, dan Singapura Super Series 2013.
 Dalam Taiwan Grand Prix 2013, Sung-hyun/Yong-dae diunggulkan di posisi teratas. Sementara Fran/Bona nonunggulan.
 Mereka tak jadi kandidat juara karena masih pasangan baru dan di Taiwan Grand Prix merupakan penampilan perdana bagi Fran/Bona.  (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger