www.smashyes.com

www.smashyes.com

Christopher/Trikusuma Berjuang dari Kualifikasi

Sabtu, 31 Mei 2014


 CHRISTOPHER Rusdianto/Trikusuma Wardana kembali merambah pentas internasional. Keduanya akan tampil dalam Jepang Super Series 2014 yang dilaksanakan di  Metropolitan Gymnasium, Tokyo, pada 10-15 Juni mendatang.
 Hanya, pada turnamen berhadiah total USD 250 ribu tersebut, Christoper/Trikusuma harus berjuang dari babak kualifikasi. Menempati unggulan keempat, mereka ditantang pasangan tuan rumah Kazuki Matsumaru/Izumi Okoshi.
 Jika menang, besar kemungkinan, pasangan asal Suryanaga, Surabaya, tersebut bersua seniornya, Alvent Yulianto. Mantan andalan Indonesia di nomor ganda tersebut berpasangan dengan Shintaro Ikeda asal Jepang yang di babak pertama melawan pasangan tuan rumah Kazuya Itani/Toyoma Takashima.
 Karena jadwal yang berdekatan, Christopher/Trikusuma memilih absen dari Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Kalimantan yang dilaksanakan 2-7 Juni di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di ajang Sirnas, Christopher/Trikusuma juara di Seri Makassar atau Seri Perdana.
 Sayang, setelah itu, keduanya gagal mengulangi. Di Seri Jakarta dan Seri Jawa Barat, mereka sudah tersingkir di babak awal.
 Begitu juga dengan di ajang internasional. Dari berbagai turnamen yang diikuti, Christopher/Trikusuma gagal bersinar. Imbasnya, ranking yang dimiliki pun melorot.Sempat masuk 50 besar dunia, kini mereka ada di posisi 61dunia. (*)

Wijar Pimpin PBSI Jatim

TIM SUKSES: Wijanarko Adi Mulya (dua dari kiri)


TONGKAT kepemimpinan Pengprov PBSI Jatim berganti. Wijanarko Adi Mulya mendapat amanah memimpin induk organisasi olahraga bulu tepok di provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut untuk empat tahun ke depan.
 Wijar, sapaan karib Wijanarko Adi Mulya, menggantikan posisi Yacob Rusdianto yangt telah dua periode memimpin organisasi Pengprov Jatim. Sebelum terpilih menjadi orang nomor satu di PBSI Jatim, dia menjadi ketua bidang pembinaan dan prestasi.
 Wijar sendiri sudah lama berkecimpung di olahraga tepok bulu. Lelaki kelahiran 7 Juli 1967 ini lama berkecimpung di klub, pengurus PBSI Surabaya, dan terakhir ketua tim pemandu bakat nasional.
 Di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), dia pernah merasakan menjadi atlet dan juga manajer. Wijar berpeluh keringat saat membela Jatim pada PON 1989 di Jakarta. Setelah itu, pada PON 2000, 2004, 2008, dan 2012, dia dipercaya menjadi manajer PON.
 Pergantian ketua umum Pengprov Jatim ini dilaksanakan di Musprov PBSI Jatim di Banyuwangi pada Jumat lalu. Di tangan Wijar diharapkan Jatim tetap bisa menjadi salah satu kiblat bulu tangkis nasional dan menjadi daerah yang rutin menyumbang pebulu tangkis bagi Pelatnas Cipayung.
 Sebelum Wijar dan Yacob, beberapa nama juga pernah menjadi nakhoda PBSI Jatim seperti Harun, Soeparjono, dan Trimaryono.  Banyak legenda bulu tangkis yang lahir dari Jawa Timur seperti Rudy Hartono (juara All England delapan kali) dan Alan Budikusuma (peraih emas tunggal putra Olimpiade Barcelona 1992) . (*)

Bukan Indonesia, tapi Pilih Australia

HITUNG-HITUNG: Lin Dan pilih ke Australia

INDONESIA bisa jadi tempat yang dihindari Lin Dan. Buktinya, dia memilih absen tampil dalam Indonesia Super Series Premier 2014.
 Padahal, namanya tercatat tampil di Jepang Super Series 2014 yang dilaksanakan di Tokyo pada 10-15 Juni dan Australia Super Series di Sydney pada 24-29 Juni.  Indonesia Open Super Series sendiri pelaksanaannya di tengah-tengah kedua turnamen yang diikuti Lin Dan.
 Selain itu, di Jepang dan Australia, juara dunia lima kali tersebut harus melalui babak kualifikasi. Sama halnya dengan di Indonesia.
 Hanya, dibandingkan dua turnamen lain, Indonesia sebenarnya punya gengsi yang lebih tinggi karena levelnya super series premier. Poin yang disediakan pun lebih banyak.
 Dalam Jepang Super Series, total hadiah yang disediakan USD 250 ribu. Sementara Indonesia dan Australia menyediakan hadiah total yang sama yakni USD 750 ribu.
 Lin Dan harus melalui babak kualifikas lebih dulu karena ranking yang dimiliki belum cukup untuk langsung menembus babak utama. Saat turnamen tersebut pendatarannya dibuka, suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang itu ada di posisi 58 dunia.
 Saat ini, Lin Dan sudah ada di posisi 35 dunia usai membela Tiongkok dalam putaran  final Piala Thomas 2014 di New Delhi, India, pada 18-25 Mei lalu. Sayang, dengan menempati tunggal ketiga, dia tak bisa memberikan konstribusi saat negaranya dikalahkan Jepang 0-3 di babak semifinal. Kekalahan ini juga membuat Tiongkok gagal mempertahankan gelar sekaligus menjadi juara Piala Thomas enam kali beruntun.
 Lin Dan perlu turun di banyak turnamen guna mendongkrak ranking dan poin untuk bisa berlaga dalam Kejuaraan Dunia yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, pada 25-31 Agustus 2014. Ini perlu dilakukan karena BWF tak lagi memberikan wild card seperti 2013 yang mampu dimanfaatkannya menjadi juara. (*)

Pulang dari Piala Thomas, Naik Enam Tingkat


TAMPIL di Piala Thomas 2014 memberi dampak kepada Simon Santoso. Kini, rankingnya naik enam setrip dibandingkan pekan sebelumnya.
 Dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 30 Mei, Simon ada di posisi 28 atau naik enam setrip. Memang, ini masih jauh dibandingkan capaian terbaiknya yang pernah duduk di posisi tiga besar. Hanya, selama tak lagi berada di Pelatnas Cipayung, ranking 28 merupakan yang tertinggi bagi lelaki 28 tahun tersebut.
 Ya, pulang dari Piala Thomas 2014 yang dilaksanakan di New Delhi, India, Simon membawa pulang 4479,05 poin. Donasi tersebut tak lepas dari penampilan gemilang dalam perebutan trofi lambing supremasi beregu putra tersebut.
 Dalam empat kali penampilannya, Simon tak pernah menelan kekalahan. Bahkan, semua lawan-lawannya ditundukkan dengan dua game langsung.
  Pada babak penyisihan Grup A, juara Indonesia Super Series Premier 2014 itu menundukkan Sean Lee dari Singapura dengan 21-16, 22-20 (19/5). Sehari kemudian (20/5), Simon menang cepat atas wakil Nigeria Victor Makanju 21-7, 21-7, serta Thammasin Sitthikom (Thailand) dengan 21-13, 21-13 (22/5).
  Kemudian,Simon mengalahkan wakil Korea Selatan Soo Hwang-jong dengan 21-12, 22-20. Kemenangan ini juga membawa Indonesia menembus babak semifinal.
 Sebenarnya, peluang menembah poin lebih banyak terbuka lagi. Sayang, Simon gagal turun di babak semifinal.
 Alasannya, Indonesia sudah ketinggalan 0-3 sebelum jatahnya turun ke lapangan. Kegagalan ini juga membuat lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, tersebut urung menghadapi Liew Daren dalam partai kelima. (*)


Jonatan Christie Tak Bisa Hat-trick

Jumat, 30 Mei 2014

ABSEN: Jonatan Christie (foto;PBSI)

JONATAN Christie gagal mengukir hat-trick (tiga kali beruntun juara) dalam sirkuit nasional (sirnas) 2014. Bukan karena dia sudah kalah sebelum menuju final.
 Tapi, Jonatan tak bisa tampil dalam Sirnas Seri Kalimantan 2014 yang dilaksanakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 2-8 Juni mendatang. ‘’Pelatnas tak mengirim wakil dalam Sirnas di Kalimantan. Otomatis, Jonatan juga nggak ikut,’’ kata Budi Santoso, salah satu pelatih tunggal putra Pelatnas Cipayung.
 Alasan tak berangkatnya Jonatan dkk dikarenakan mereka bakal kembali masuk dalam program pematangan fisik dan teknik. Apalagi, mereka juga dipersiapkan menghadapi beberapa turnamen yang masuk kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).
 Sebelumnya, dalam dua seri terakhir yakni di Jakarta dan Jawa Barat, pebulu tangkis Pelatnas Cipayung selalu meraih gelar. Jonatan menjadi juara di kedua seri yang langsung menyambung tersebut.
 Di Jakarta, lelaki yang duduk di ranking pertama dunia dalam level junior tersebut menundukkan seniornya, Alamsyah Yunus. Sepekan kemudian di Bandung, Jonatan menghentikan perlawanan Setyaldi Putra Wibowo.
 Sementara, satu gelar lain digapai dari nomor ganda putri. Ketangguhan Maretha Dea Giovani/Rosyita Eka Putra tak bisa dibendung lawan-lawannya. Termasuk pasangan senior Jenna Gozali/Komala Dewi dari Djarum dalam Seri Jabar. (*)

Sony Ingin PBSI Kembali Percaya

Sony Dwi Kuncoro (foto;PBSI)

NAMA Sony Dwi Kuncoro terpental dari Tim Piala Thomas 2014. Dia tergusur setelah  performanya dianggap belum sesuai harapan saat menjalani pemusatan latihan di Kudus (Jawa Tengah) dan pertandingan simulasi di Solo (Jawa Tengah).
 Banyak yang menduga, Sony tinggal menunggu waktu untuk terdepak dari Pelatnas Cipayung. Hanya, Arek Suroboyo tersebut belum mau menyerah.  Bahkan, Sony masih percaya kalau dua tahun lagi bisa menebus kecewa dengan menembus masuk Tim Piala Thomas.
 ‘’Hanya, PBSI mungkin nggak percaya. Untuk itu, saya harus bisa membuktikannya,’’ jelas Sony.
 Nah, event terdekat yang bakal menjadi arena unjuk kemampuannya adalah Jepang Super Series 2014. Event yang dilaksanakan 10-15 Juni tersebut menjadi debutnya setelah lama absen karena cedera Maret lalu.
 ‘’Setelah All England, baru kali ini saya tampil lagi,’ ungkap Sony.
  Pada babak pertama, pebulu tangkis yang tercatat sebagai anggota PB Suryanaya, Surabaya, itu langsung berhadapan dengan Nguyen Tien Ming. Lelaki asal Vietnam itu pada Jepang Super Series diunggulkan di posisi ketujuh.
 Ini bukan tugas yang mudah bagi Sony. Dalam empat kali pertemuan, dia dua kali kalah. Bahkan, kali terakhir, Sony menyerah kepada Tien Minh di Vietnam Grand Prix 2012 dengan dua game langsung 15-21, 26-28. (*)

Jakarta Gagal Jadi Host Thomas-Uber 2016

Kamis, 29 Mei 2014

MENANG BIDDING: : Salah satu sudut kota Kunshan

TIONGKOK punya cara untuk mengembalikan lagi Piala Thomas. Selain mematangkan pebulu tangkisnya, mereka juga mengajukan diri menjadi tuan rumah 2016.
 Hasilnya, BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) menunjuk Kunshan dalam pertemuan yang dilaksanakan di New Delhi, India, itu. Terpilihnya kota dengan penduduk 1,6 juta tersebut juga memupus asa Jakarta untuk kembali menggelar event Piala Thomas yang selalu dibarengkan dengan Piala Uber tersebut.
 Delegasi Kunshan serta Asosiasi Bulu Tangkis Tiongkok mampu meyakinkan BWF tentang kesiapan mereka menjadi host. Kunshan Sport Centre yang berkapasitas 5 ribu pasang mata dianggap sangat layak. Meski, sebenarnya Indonesia dengan Istora Senayan mampu mendatangkan 6000 orang.
‘’Ini menjadi kali kedua kami mengajukan tuan rumah di event besar dan akhirnya bisa menang. Kami kalah dalam penyelenggaraan host Kejuaraan Dunia 2015 oleh Jakarta,’’ kata Guan Fengliang, wakil wali kota Kunshan.
 Pihaknya berjanji bakal memberikan konstribusi yang besar kepada bulu tangkis dengan penunjukan tuan rumah tersebut. Untuk itu, dia mengundang peserta pertemuan BWF hadir ke kota yang masuk provinsi Jiangsu tersebut.
 Selain menunjuk Kunshan sebagai host Piala Thomas-Uber 2016, BWF juga memutuskan Lima, Peru, sebagai host Kejuaraan Dunia Junior 2015.  (*)

Tiongkok tuan rumah Piala Thomas-Uber
2002: Guanghou
2012: Wuhan
2016: Kunshan

Datang dengan Kenangan Manis 2006

PERNAH JUARA: M.Rijal/Vita Marissa (foto;PBSI)

MUHAMMAD Rijal/Vita Marissa datang lagi ke Jepang Open. Mereka akan ikut ambil bagian dalam event yang pada 2014 mempunyai nama titel Jepang Super Series tersebut.
Di Jepang Open, Rijal/Vita punya kenangan manis. Pada 2006, mereka mampu menjadi juara dengan menundukkan Nova Widianto/Liliyana Natsir dengan rubber game 14-21, 21-15, 21-19.
 Namun, setelah itu, mereka lama  berpisah. Awal tahun 2014, Rijal mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung dan berpasangan dengan kembali dengan Vita.
 Dalam beberapa turnamen yang diikuti, Jepang pun memberi tuah kepada mereka. Pasangan yang sama-sama berasal dari klub Djarum Kudus tersebut hanya mampu menjadi juara di Negeri Sakura, julukan Jepang.
 Rijal/Vita naik ke podium terhormat dalam Osaka Challenge .
 Kini,dalam Jepang Open 2014 atau Jepang Super Series Premier 2014, kemampuan mereka akan diuji. Pada babak pertama, Rijal/Vita, yang kini duduk di posisi ke-70, bakal dijajal Chan Yun Lung/Tse Ying Suet (Hongkong).
 Jika menang, tantangan tak kalah berat sudah menghadang. Mereka berhadapan dengan unggulan keenam asal Korea Selatan Shin Baek-choel/Jang Ye-na yang diprediksi tak akan mengalami kesulitan untuk mengatasi perlawanan Nipitphon Puangpuapech/Puttita Supajirakul dari Thailand.
Selain Rijal/Vita, dalam turnamen yang digelar di Tokyo Metropolitan Gymnasium itu, Indonesia juga diwakili Praveen Jordan/Debby Susanto dan Riky Widianto/Richi Dilli Puspita. Keduanya membela bendera Pelatnas Cipayung. (*)

Hendri Bisa Masuk Jajaran Pelatih Pelatnas

Rabu, 28 Mei 2014

TUNGGAL: Hendri (kiri) dan Joko Supriyanto (foto;PBSI)
DALAM putaran final Piala Thomas 2014, Joko Supriyanto punya teman pendamping. Dia selalu di dekat Joko saat Indonesia menurunkan wakilnya dalam nomor tunggal putra.
Siapa? Sosok tersebut adakah Hendri Saputra. Dia masuk dalam Tim Thomas Indonesia 2014 dengan status pelatih Simon Santoso.
 Di tangannya, Simon bisa kembali tampil gemilang. Meski lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, tersebut sudah mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung.
 Gelar juara Malaysia Grand Prix Gold 2014 dan Singapura Super Series 2014 mampu disabet Simon. Hebatnya, di Singapura, dia mampu mempermalukan tunggal putra peringkat satu dunia asal Malaysia Lee Chong Wei.
 Selain itu, berkat polesan Hendri pula, Jonatan Christie bisa menembus persaingan di Pelatnas Cipayung. Padahal, usianya belum genap 18 tahun. Bahkan, kini, Jonatan sudah masuk kategori prestasi, kategori bagi pebulu tangkis senior yang diharapkan berjaya di ajang-ajang bergengsi.
 Ini pula yang membuat santer denger, Hendri bakal masuk jajaran pelatih Pelatnas Cipayung. Benarkah? ‘’Saya malah nggak pernah dengar. Saat ini, status saya belum pelatih pelatnas,’’jelas Hendri.
 Sayang, dia tak memberikan jawaban jika seandainya dia benar-benar dipercaya menjadi bagian dari Pelatnas Cipayung. SMS (layanan pesan singkat) yang dikirimkan kepadanya pun tak dibalas. (*)

Malaysia Belum Berani Rombak Pasangan

KOMPAK: Goh V Shem/Tan Wee Kiong
MALAYSIA tak hanya Lee Chong Wei. Di Piala Thomas, mereka punya pasangan yang memberikan konstribusi berarti yang sukses membawa negeri jiran menembus babak final Piala Thomas 2014.
 Salah satunya adalah pasangan Goh V Shem/Tan Wee Kiong. Mereka tak pernah kalah selama Piala Thomas 2014 digelar.
 Tentu ini membuat pelatih ganfa Pang Cheh Chang pusing. Alasannya, V Shem/Wee Kiong bukan pasangan permanen.
 Selama ini, V Shem berpasangan dengan Lim Khim Wah dan Wee Kiong digandengkan dengan Hoon Thien How. Capaian keduanya juga tak mengecewakan.
 V Shem/Kim Wah mengukirkan namanya sebagai juara dalam turnamen bergengsi, Malaysia Super Series Premier 2014. Sementara, Wee Kiong/Thien How mampu menembus posisi 10 besar. Bahkan, dalam ranking terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), mereka ada di posisi ketujuh.
 Dalam Piala Thomas 2014, V Shem/Wee Kiong bermain empat kali. Mereka mampu mempermalukan Akshay Dewalkar/Pranaav Jerry Chopra (India), pasangan nomor empat dunia Kim Ki-jung-Kim Sa-rang (Korea Selatan), finalis Olimpiade London aal Denmark Carsten Mogensen/Joachim Fischer Nielsen, dan  wakil Jepang Keigo Sonoda/Takeshi Kamura.
 Meski Cheh Chang mengaku bangga. Namun, dia belum punya rencana untuk melakukan rotasi pasangan. Alasannya,  mereka tengah memburu poin untuk bisa tampil dalam Kejuaraan Dunia 2014 yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, pada 25-31 Agustus. (*)

Absen agar Fokus Indonesia Super Series Premier

DISIMPAN: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

INDONESIA Super Series Premier tak bersahabat dengan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Pasangan Pelatnas Cipayung tersebut belum pernah menjadi juara dalam event bergengsi tersebut.
 Tahun lalu, Tontowi/Liliyana hanya sampai babak semifinal. Langkah mereka untuk bisa menembus babak semifinal dihentikan oleh pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dengan straight game 15-21, 14-21. Saat itu, mereka diunggulkan di posisi kedua.
 Kans terbesar menjadi juara ada pada 2012. Tontowi/Liliyana sudah sampai babak final.
 Lawan yang dihadapi pun relative lebih ringan. Diunggulkan di posisi ketiga, Tontowi/Liliyana ditantang pasangan nonunggulan asal Thailand Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam.
 Namun, hasil yang terjadi sungguh di luar dugaan. Tontowi/Liliyana menyerah dengan rubber game 17-21, 21-17, 13-21.
 Nah, tahun 2014 ini, PP PBSI tak mau malu. Di kandang sendiri, induk organisasi bulu tangkis tanah air tersebut berharap nomor ganda bisa mengamankan gelar. Asa itu pun dibebankan kepada Tontowi/Liliyana. Apalagi, mereka masih menyandang status juara dunia dan turnamen bergengsi tertua di dunia, All England.
 Nah, untuk itu, agar hanya fokus di Indonesia Super Series Premier 2014, Tontowi/Liliyana pun tak diikutkan dalam Jepang Super Series yang dilaksanakan pada 10-15 Juni atau sepekan sebelum Indonesia Super Series 2014 dilaksanakan.
 Di Jepang Super Series Premier 2014, di nomor ganda campuran, Indonesia diwakili Muhammad Rijal/Vita Marissa, Praveen Jordan/Debby Susanto, dan Riky Widianto/Richi Dilli Puspita. (*)


Juara Ganda Campuran Indonesia Super Series Premier (5 tahun terakhir)
2013: Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok)
2012: Sudkat Prapakamol/Saralee Thoungthonkam (Thailand)
2011: Zhang Nan/Zhaou Yunlei (Tiongkok)
2010: Robert Mateusiak/Nadiezda Kostiucyk (Polandia)
2009: Zheng Bo/Ma Jin (Tiongkok)

Park Joo-bong Sudah Komplet

Selasa, 27 Mei 2014

KUNCI: Park Joo-bong angkat trofi Piala Thomas
TAK semua orang Korea Selatan bisa seperti Park Joo-bong. Dia sudah komplet menjadi seorang yang berkecimpung di bulu tangkis.
 Semasa masih aktif sebagai atlet, Joo-bong mampu menjadi juara dunia dan juga peraih emas olimpiade.
 Juara dunia pun diraihnya sebanyak lima kali, yakni empat kali di nomor ganda campuran dan sekali di ganda putra. Yoo Sang-hee menjadi tandemnya di ganda campuran serta Kim Moon-soo di ganda putra.
 Kini, Joo-bong pun juga bisa merasakan mengangkat trofi Piala Thomas. Hanya, statusnya bukan lagi sebagai atlet. Negara yang diharumkan namanya pun juga tak lagi Korea Selatan.
 Ya, lelaki yang kini berusia 49 tahun tersebut mampu meracik Jepang menjadi kekuatan baru di pentas bulu tangkis, khususnya beregu putra. Hasilnya, Negeri Sakura, julukan Jepang, menjadi juara Piala Thomas 2014.
 Dalam final yang dilaksanakan di Siri Fort, New Delhi, India, pada Minggu (25/5), Jepang mengalahkan Malaysia dengan skor 3-2.  Ini membuat Jepang masuk dalam daftar juara event beregu putra tersebut selain Malaysia, Tiongkok, dan Indonesia.
 Bagi Jong-boo ini juga menjadi torehan perdana baginya setelah sebelumnya dia pernah menangani Inggris dan Malaysia. Hanya, di dua negara itu, dia belum memberikan hasil juara.
 Datang ke Jepang sejak 2005, polesannya mulai membuahkan hasil dalam empat tahun terakhir. Jepang dibawanya menembus semifinal Piala Thomas pada 2010 di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Wuhan (Tiongkok) pada 2012.
‘’Jepang belum pernah menjadi juara Piala Thomas. Ini tentu akan menjadi sejarah besar bagi bulu tangkis di Jepang,’’ ungkap Joo-bong.
 Dalam perjalanan di Piala Thomas 2012, Jepang mengalahkan tim unggulan Denmark 3-1 dalam perebutan juara juara grup. Di perempat final, Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, menundukkan tim kejutan Prancis juga dengan 3-1.
  Yang tidak terbayangkan lagi. Jepang mempermalukan Tiongkok, sang juara lima kali beruntun, dengan skor telak 3-0. Puncaknya, Malaysia pun disikat 3-2. Semua itu tak bisa dipungkiri hasil jerih payak dari seorang Joo-bong. (*) 

Chong Wei-Xuerui Terbaik 2013

APRESIASI: Li Xuerui
LEE Chong Wei gagal membawa Malaysia menjadi juara Piala Thomas. Meski, dia sempat memberikan harapan berkat kemenangan atas Kenichi Tago dari Jepang dalam final yang dilaksanakan di Siri Fort, New Delhi, India,pada Minggu (25/5).
 Sayang, konstribusinya gagal diikuti rekan-rekannya yang lain. Imbasnya, Malaysia pun menyerah 2-3 dari Negeri  Sakura, julukan Jepang. Ini sekaligus membuat Chong Wei belum pernah merasakan kebahagian mengangkat trofi Piala Thomas. Kali terakhir, Malaysia menjadi juara event yang merupakan lambang supremasi beregu putra tersebut pada 1992 atau 22 tahun yang lalu.
 Hanya, Chong Wei dapat obat kecewa. Dia dinobatkan sebagai pebulu tangkis putra terbaik 2013 (BWF Male Player of the Year for 2013).  Lelaki 31 tahun ini menyingkirkan dua tunggal asal Tiongkok Lin Dan dan Chen Long, pasangan Indonesian Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan  Ko Sung-hyun-Lee Yong-dae dari Korea Selatan.
 Selama 2013, penampilan Chong Wei sangat konsisten. Dia mampu menjuarai tujuh turnamen super series/super series premier.
 Selain itu, bapak satu anak itu juga menembus final Kejuaraan Dunia 2013 yang dilaksanakan di Guangzhou, Tiongkok. Sayang, di final, dia  menyerah kepada Lin Dan.
 Sementara, di kelompok putri, Li Xuerui dari Tiongkok tak tertahankan menjadi pebulu tangkis terbaik (Female Player of the Year). Meski, dia gagal menjadi juara dunia karena kalah oleh andalan Thailand Ratchanok Intanon. Namun, Xuerui membalasnya di Indonesia Super Series Premier dan Tiongkok Super Series Premier.
 Dalam pemilihan pebulu tangkis putri terbaik itu, Xuerui menyongkirkan Intanon serta kompatriot (rekan senegara) Wang Yihan serta pasangan juara dunia Wang Xiaoli-Yu Yang. Xuerui juga mampu membawa negaranya mempertahankan Piala Uber setelag mengalahkan Jepang 3-1 dalam  final di Siri Fort, New Delhi, India, pada Sabtu (24/5).  (*)

Marin Gagal Juara di Kandang


CAROLINA Marin malu di kandang. Dia gagal menjadi juara di kandangnya sendiri dalam Spanyol Challenge 2014.
 Dalam final yang dilaksanakan pada Minggu waktu setempat di Madrid, perempuan 21 tahun tersebut harus mengakui ketangguhan Kirsty Gilmaour (Skotlandia) dengan dua game langsung 19-21, 18-21. Dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 15 ribu tersebut, sebenarnya Marin lebih diunggulkan.
 Dengan ranking 10 dunia, Marin diunggulkan di posisi pertama. Sementara, Kirsten dengan ranking 18 BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), diunggulkan di posisi kedua.
 Selain itu,  Marin juga mempunyai rekor pertemuan yang bagus jika berhadapan dengan Kirsty. Dia belum terkalahkan dalam tiga kali pertemuan sebelumnya. Tiga kali hasil manis dipetik Marin di London Grand Prix Gold 2013, Skotlandia Grand Prix 2013, dan Jerman Grand Prix Gold 2013.
 Kekalahan ini juga membuat Negeri Matador, julukan Spanyol, gagal total meraih gelar. Marin merupakan wakil semata wayang tuan rumah.
 Gelar yang digapai Kirsty membuat Skotlandia pulang membawa dua gelar dari Spanyol Challenge 2014. Satu gelar lainnya disumbangkan dari nomor ganda campuran. Robert Blair/Imogen Bankier, yang menjadi unggulan teratas, menang 21-13, 14-21, 21-16 atas wakil Polandia Robert Mateusiak/Agnieska Wojtkowska .
Sebenarnya, kans memperoleh tiga gelar sempat terbuka.Sayang, Kirsty yang berpasangan dengan Imogen menyerah  dengan mudah dengan dua game langsung 14-21, 9-21 kepada pasangan kakak beradik asal Bulgaria yang juga diunggulkan di posisi kedua Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva.
 Spanyol Challenge 2014 pelaksanaanna berbenturan dengan ajang putaran final Piala Thomas-Uber yang berlangsung di New Delhi, India.(*)

Cara Tepat Matangkan Jonatan Christie

Senin, 26 Mei 2014

PERCAYA diri Jonatan Christie terus bertambah. Itu setelah dia mampu menjadi juara dalam dua kali Sirkuit Nasional (Sirnas) yang diikuti.
 Setelah pekan lalu menjadi raja tunggal putra Seri Jakarta, Jonatan mampu mengulanginya di Seri Jabar 2014. Dalam final yang dilaksanakan di GOR UPI Bandung pada Sabtu (24/5),pebulu tangkis yang membela bendera Pelatnas PBSI itu mampu mengalahkan Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma) dengan rubber game 9-21, 22-20, 21-18. Di Jakarta, Jonatan menundukkan pebulu tangkis senior, Alamsyah Yunus.
 Jonatan sempat menjadi sorotan negatif. Lelaki 17 tahun itu gagal total dalam Kejuaraan Dunia Junior 2014.
 Berangkat dengan ekspektasi tinggi, putra Andreas, manajer klub bulu tangkis Exist, tersebut tak bisa membawa Indonesia juara, baik di nomor beregu maupun perorangan.  Di final beregu (11/4), Jonatan harus mengakui ketangguhan tunggal pertama Tiongkok Shi Yuqi dengan dua game langsung 19-21, 20-22.
 Sepekan kemudian, di nomor perorangan, Jonatan sudah tumbang di babak perempat final. Dia kembali dikalahkan wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok.
 Kali ini, pebulu tangkis yang pernah bermain di film layar lebar The King tersebut dipermalukan Lin Gui Pu juga dengan straight game 17-21, 18-21. Dalam Kejuaraan Dunia Junior nomor perorangan, Jonatan diunggulkan di posisi teratas.
 Dengan kegagalan Indonesia meraih kembali Piala Thomas, Jonatan diharapkan mampu mengembalikan trofi lambang supresmasi bulu tangkis beregu putra dunia itu. Salah satunya tentu menambah jam terbang serta pengalaman dengan mengirimkan dia ke berbagai turnamen internasional. (*)

Indonesia Punya Peran Besar dalam Sukses Jepang

TAHUN ini, Jepang layak dapat acungan jempol. Negeri dengan ibu kota Tokyo tersebut mampu lolos ke final Piala Thomas-Uber 2014.
 Sayang, di final, hanya tim putra yang mampu menjadi juara setelah menang 3-2 atas Malaysia. Sementara di Uber, mereka harus puas di posisi kedua karena kalah oleh tim juara bertahan, Tiongkok, dengan 0-3.
 Namun, di antara kesuksesan Jepang tersebut, peran serta Indonesia tak boleh di pandang sebelah mata.  Di Tim Thomas, ada nama Reony Mainaky.
 Lelaki keturunan keluarga bulu tangkis Mainaky tersebut punya andil besar. Polesannya membuat pasangan Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo membawa Jepang mampu memetik kemenangan dan membuat skor imbang 1-1.
 Bahkan, kalau menengok ke belakang, pebulu tangkis Indonesia banyak membawa kemajuan bagi Negeri Sakura, julukan Jepang. Pebulu tangkis merah putih jadi favorit klub Jepang untuk diikat kontrak dalam kompetisi. Begitu juga dengan pelatih.
 Pebulu tangkis sekelas Markis Kido/Hendra Setiawan maupun Alvent Yulianto pun pernah dikontrak tim Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, untuk menambah kekuatan. Selain tentunya, belajar teknik bermain bulu tangkis dengan skill tinggi. Mereka juga memadukannya dengan permainan tak  kenal menyerah ala Jepang.
 Selain itu, banyak pelatih asal Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, yang menularkan ilmunya di sana. Bukan hanya untuk level klub, di level provinsi pun, pelatih asal Indonesia menjadi favorit bidikan.
 Hasilnya pun terlihat sekarang. Bulu tangkis Jepang mulai diperhitungkan. Bahkan, kini, mereka telah mengungguli Indonesia. Negeri yang mereka timba ilmunya lewat atlet dan pelatihnya. (*)

Jepang Jadi Juara Baru Piala Thomas

PIALA Thomas punya juara baru. Itu setelah Jepang mampu mengalahkan Malaysia dengan skor 3-2 dalam pertandingan final Piala Thomas 2014 yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi. India, pada Minggu waktu setempat (25/5).
 Takuma Ueda menjadi pahlawan kemenangan negerinya atas Malaysia. Turun sebagai tunggal ketiga, dia mampu menundukkan Daren Liew dengan rubber game  21-12, 18-21, 21-17. Kemenangan ini sekaligus mengubur ambisi Malaysia yang sudah 22 tahun tak pernah lagi menjadi juara.
 Kali terakhir, negeri jiran mengangkat Piala Thomas pada 1992 di kandangnya sendiri, Kuala Lumpur. Saat itu, dalam pertandingan final, mereka mengalahkan Indonesia dengan skor 3-2.
 Sebenarnya, peluang negeri jiran memboyong pulang trofi lambang supremasi bulu tangkis beregu putra tersebut terbuka. Di tunggal pertama, Lee Chong Wei membawa Malaysia unggul 1-0. Tunggal putra nomor satu dunia tersebut hanya butuh dua game 21-12, 21-16 untuk menundukkan andalan Jepang Kenichi Tago.
 Namun, pasangan Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo memupus asa Tan Boon Heong/Hoon Thien How  dalam pertarungan tiga game 12-21, 21-17, 21-19.  Kemenangan ini membuat semangat pebulu tangkis Negeri Sakura, julukan Jepang, terangkat kembali. Buktinya, Kento Momota yang baru mentas dari kelompok junior menundukan  Chong Weng Fei dengan  dua game langsung 21-15,21-17
 Pertandingan pun semakin seru. Di ganda kedua pasangan Jepang Keigo Sonoda/Takeshi Kamura menyerah kepada Goh V Shem/Tan Wee Kiong  dengan rubber game 21-19, 17-21, 12-21.
 Hanya, di laga yang sangat menentukan tersebut, Takuma Ueda tampil lebih tenang. Apalagi, dia tengah on fire setelah bulan lalu mampu menjadi finalis Kejuaraan Asia 2014 sebelum ditundukkan oleh legenda dari Tiongkok Lin Dan.  (*)

Jepang vs Malaysia  3-2

1. Kenichi Tago vs Lee Chong Wei: 12-21, 16-21
2. Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo vs Tan Boon Heong/Hoon Thien How: 12-21, 21-17, 21-19
3. Kento Momota vs Chong Weng Fei: 21-15,21-17
4. Keigo Sonoda/Takeshi Kamura vs Goh V Shem/Tan Wee Kiong: 21-19, 17-21, 12-21.
5. Takuma Ueda vs Daren Liew: 21-12, 18-21, 21-17

Bakal Ketat hingga Partai Kelima

Minggu, 25 Mei 2014

SEPANJANG sejarah Piala Thomas, Jepang belum pernah merasakan menjadi juara. Capaian terbaik adalah menembus babak semifinal dalam dua gelaran terakhir, 2010 di Kuala Lumpur (Malaysia) dan 2012 di Wuhan (Tiongkok).
 Kini, di 2014, Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, secara mengejutkan melaju di babak final. Lawan yang ditumbangkan di babak semifinal di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Jumat waktu setempat (23/5) bukan tim sembarangan, Tiongkok, sang juara bertahan. Skornya pun sangat telak 3-0 langsung.
 Kini, kans mengukir sejarah sudah di depan mata. Kenichi Tago dkk bakal berhadapan dengan Malaysia pada Minggu waktu setempat (25/5). Malaysia sendiri lolos ke partai puncak setelah mempermalukan Indonesia juga dengan skor 3-0.
 Menghitung kekuatan yang ada, pertandingan bisa berlangsung selama lima partai. Asumsinya, Jepang bakal memetik kemenangan di ganda pertama, tunggal kedua, dan tunggal ketiga.
 Di tunggal putra, Tago bakal menyerah kepada Lee Chong Wei. Dalam 16 kali pertemuan, 15 kali Chong Wei memetik kemenangan.
 Selain itu, dari sisi ranking, Chong Wei duduk di ranking pertama sementara Tago di posisi keempat. Namun, di atas lapangan, bisa berubah.
 Tago pernah membuat Chong Wei menelan kekalahan perdana di semifinal Prancis Super Series 2013. Saat itu,  Tago menang 17-21, 21-16, 21-12. Namun, dalam Korea Super Series 2014, Chong Wei membalasnya juga di babak semifinal dengan straight game 21-17, 21-17.
 Di partai kedua, pasangan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa lebih diunggulkan untuk bisa menundukkan ganda Malaysia Tan Boon Heong/Hoon Thien How. Meski, pasangan Malaysia tersebut di babak semifinal lalu menjungkalkan juara dunia asal Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.
 Namun, hasil tersebut bukan menjadi acuan. Endo/Hayakawa sangat solid di lapangan.
 Nah, Jepang bakal kembali memetik kemenangan di partai ketiga yang mempertemuan Kento Momota dengan Chong Wei Feng.
Meski pernah kalah di Malaysia Grand Prix Gold 2012, namun, Momota  bakal tak mudah lagi ditumbangkan oleh Wei Feng. Apalagi,dari sisi ranking, Momota masih unggul. Dia ada di posisi ke-14 sementara Wei Feng masih 13 setrip di bawahnya.
 Tapi, Malaysia bisa jadi  akan menang mudah di nomor ganda. Pasangan dadakan Goh V Shem/Tan Wee Kiong masih diunggulkan untuk menang atas  Keigo Sonoda/Takeshi Kamura. Pengalaman V Shem masih akan sangat membantu untuk bisa memetik poin. Meski, dia tak tampil dengan pasangan aslinya, Lim Khim Wah, yang merupakan juara Malaysia Super Series Premier 2014.
 Hanya, dua kemenangan Malaysia bakal sia-sia karena tunggal ketiganya Liew Daren bakal menyerah kepada Sho Sasaki. Hanya, partai kedua pebulu tangkis ini juga akan menguras emosi dan tenaga.
 Dari sisi ranking, Sasaki unggul jauh. Kini, dia di posisi 17 sedangkan Daren di tangga ke-66.
 Namun, siapa pun pemenangnya, telah membuat terbuka peta persaingan beregu yang tak lagi di dominasi Tiongkok dan Indonesia. (*)

Putri Tiongkok Raih Gelar Ke-13

TIM Uber Tiongkok makin susah dikejar. Mereka mampu mengoleksi 13 gelar trofi lambang supremasi bulu tangkis beregu putri dunia tersebut.
Gelar terakhir diraih Negeri Panda, julukan Tiongkok, setelah menundukkan Jepang dengan skor 3-1 dalam final Piala Uber 2014 yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Sabtu waktu setempat (24/5).
 Tiongkok membuka kemenangan melalui Li Xuerui. Tunggal putri nomor satu dunia tersebut menang Minatsu Mitani dengan dua game langsung 21-15, 21-5 pada pertandingan yang hanya memakan waktu 36 menit.  Ini merupakan kemenangan kelima Xuerui atas lawannya yang kini duduk di ranking 12 dunia.
 Namun, Negeri Sakura, julukan Jepang, mampu menyamakan kedudukan. Di partai kedua yang mempertandingkan nomor ganda, pasangan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi mempermalukan Bao Yixin/Tang Jinhua dengan 21-18, 21-9.
 Hasil ini menjadi kemenangan perdana bagi Misaki/Ayaka yang tak pernah atas lawannya dalam tiga kali perjumpaan sebelumnya. Apalagi, dari sisi peringkat, Bao/Tang dua setrip di atas mereka yang ada di ranking keempat.
 Sayang, di laga ketiga yang mempertemukan nomor tunggal, wakil Jepang Sayaka Takahashi menyerah straight game 16-21, 12-21 kepada Wang Shixian. Perlawanan Jepang terhenti saat pasangan Miyuki Maeda/Reika Kakiwa menyerah mudah 13-21, 6-21 kepada Zhao Yunlei/Wang Xiaoli.
 Dengan hasil yang sudah 3-1, partai terakhir yang mempertemukan Akane Yamaguchi, juara dunia junior tahun lalu, dengan Wang Yihan, yang kini duduk di posisi ketiga dunia, tak dilaksanakan.
 Trofi di Piala Uber ini sekaligus mengobati kekecewaan di ajang Piala Thomas. Datang dengan status lima kali beruntun menjadi juara di event beregu putra itu, Tiongkok secara mengejutkan tumbang dengan skor 0-3 kepada Jepang pada pertandingan yang dilaksanakan Kamis waktu setempat (23/5).
 Di final, Jepang akan bersua dengan Malaysia yang di semifinal menundukkan Indonesia juga dengan skor 3-0. (*)

Sejarah India Cukup Semifinal

Sabtu, 24 Mei 2014


INDIA gagal melanjutkan sejarah. Setelah mampu mengukir sukses menembus semifinal, Saina Nehwal dkk harus mengakui ketangguhan Jepang dengan skor tipis 2-3 dalam pertandingan semifinal Piala Uber 2014 yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Sabtu malam waktu setempat (23/5).
 Di awal pertandingan, sebenarnya harapan menembus final terbentang lebar. Tuan rumah langsung memimpin 2-0. Dua tunggal putri andalannya, Saina dan PV Sindhu, menundukkan wakil Negeri Sakura, julukan Jepang.
 Saina, yang kini duduk di posisi kedelapan, menang mudah 21-12, 21-13 dalam pertandingan yang berlangsung selama 41 menit. Ini merupakan kemenangan keempat  selama enam kali pertemuan. Meski, dalam dua pertemuan terakhir, di Pancis Super Series 2012 dan Kejuaraan Dunia 2013, Saina kalah.
 Torehan Saina di partai pertama membakar semangat Sindhu. Perempuan yang kini duduk di posisi 11 ini menang rubber game 19-21, 21-18, 26-24 atas Sayaka Takahashi.
 Petikan ini membuat Sindhu juga mampu melakukan revans atas Takahashi. Dua tahun lalu di Malaysia Grand Prix, dia dipaksa takluk dua game langsung 19-21, 12-21.
 Nah, di partai ketiga, India berharap peristiwa seperti melawan India sehari sebelumnya (22/5) kembali terulang. Pasangan Jwala Gutta/Ashwini Ponnapa menjadi tumpuan untuk memastikan kemenangan.
 Sayang, asa itu gagal terlaksana. Jwalla/Ashwini menyerah tiga game 12-21, 22-20, 16-21 kepada Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.
 Nah, kekalahan ini langsung membuat posisi India berubah. Mereka tak lagi diunggulkan menembus final.
 Alasannya,tunggal ketiga India Thulasi dan ganda kedua Saina/Sindhu kekuatannya masih di bawah wakil Jepang. Akhirnya terbukti. Thulasi menyerah 14-21, 15-21 kepada Eriko Hirose dan Saina/Sindhu tumbang 14-21, 11-21 kepada Miyuki Maeda/Reika Kakiiwa.
 Di final, Jepang akan menantang juara bertahan sekaligus kolektor 12 kali Piala Uber, Tiongkok, pada pertandingan yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (24/5). (*)

Belum Bisa Menanggung Beban Berat


DUA kali menjadi penentu, dua kali pula amanah itu gagal dilaksanakan. Itulah gambaran tentang Dionysius Hayom Rumbaka di ajang Piala Thomas dalam dua edisi terakhir.
 Dua tahun lalu di Wuhan, Tiongkok, pemuda asal Jogjakarta tersebut juga kalah oleh wakil dari Jepang Takume Ueda. Saat itu, Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, menyerah dua game langsung 14-21, 19-21.
 Kekalahan ini menjadi aib bagi Indonesia. Sejak mengikuti Piala Thomas 1957, baru pada 2012 merah putih tak mampu menembus babak semifinal.
 Nah, tahun ini pun kembali terulang. Hayom menanggung beban harus menang untuk membuka peluang Indonesia bisa lolos ke final.
 Kans itu terbuka. Alasannya, lawan yang dihadapi adalah Chong Wei Feng. Secara peringkat, Hayom,sapaan karib Dionysius HayomRumbaka, masih di atas lawannya. Dia di posisi 19 sedangkan Wei Feng  delapan setrip di bawahnya.
 Hanya, beban Hayom sangat  berat. Dua partai awal, Indonesia kalah sehingga kedudukan sebelum dia turun ke lapangan sudah 0-2.
 Sayang, seperti halnya di Wuhan, host Piala Thomas 2012, Hayom pun gagal memberikan sumbangan donasi angka yang sangat dibutuhkan Indonesia. Indonesia pun harus gigit jari karena gagal lagi menggapai partai puncak yang sudah ada di depan mata.
Kekalahan Hayom pun menamatkan langkah merah putih karena kalah 0-3. Nampaknya, PP PBSI tak hanya memberikan porsi latihan yang lebih berat lagi kepada Hayom tapi juga menempa mentalnya agar punya mental juara. (*)

Gagal ke Final, Buang Kesempatan Terbesar


ASA memulangkan Piala Thomas kembali ke Indonesia tak tergapai. Merah putih dipaksa harus mengakui ketangguhan Malaysia 0-3.
 Ironisnya, pil pahit tersebut ditelan sudah di babak semifinal event beregu putra tersebut. Tommy Sugiarto yang diharapkan mencuri kemenangan dari tunggal terbaik dunia saat ini Lee Chong Wei malah tampil hangat-hangat tahi ayam.
 Dia hanya mampu memberikan perlawanan di game pertama sebelum akhirnya menyerah 19-21. Pada game kedua, Tommy jadi mainan Chong Wei dengan 13-21.
 Nah, pada game kedua, skenario Indonesia bisa mengalahkan langsung kandas. Juara dunia 2013 Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan secara mengejutkan kalah 19-21, 21-8, 21-23 kepada Tan Boon Heong/Hoon Thien How.
 Di atas kertas, pasangan merah putih seharusnya bisa memenangkan pertandingan. Hendra/Ahsan merupakan juara dunia sekaligus peringkat pertama dunia saat ini. Sementara,  lawannya merupakan pasangan dadakan di Piala Thomas 2014.
 Namun, di atas lapangan berkata lain. Beban untuk menyamakan kedudukan membuat Hendra/Ahsan tampil tegang, khususnya di game terakhir.
 Di partai ketiga, Dionysius Hayom Rumbaka tak kuasa membendung aksi Chong Wei Feng. Dia menyerah dua game langsung 10-21, 18-21.
 Kekalahan ini pun menambah panjang kegagalan Indonesia membawa pulang Piala Thomas. Kali terakhir, merah putih merebut Piala Thomas 2002 di Guangzhou, Tiongkok.
 Sebenarnya, peluang itu sangat terbuka tahun ini. Alasannya, kekuatan semua negara tengah merata. Bahkan, bisa disebut, Indonesia masih sedikit di atas.
 Tiongkok yang selama ini merajai Piala Thomas pun tengah berada di tren menurun. Materi yang dimiliki tak setangguh sebelum-sebelumnya.
 Ini memang terbukti. Lin Dan dkk terhenti di semifinal oleh Jepang dengan skor telak 0-3. Sayang, beberapa jam kemudian, giliran Indonesia yang langkahnya terhenti.(*)


Tiongkok Stop di Angka Lima


TIONGKOK gagal memecahkan rekor Indonesia di ajang Piala Thomas. Ambisi meraih Piala Thomas untuk kali keenam secara beruntun digagalkan oleh Jepang di babak semifinal.
 Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok,tersebut menyerah 0-3 langsung dalam pertandingan yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Jumat sore waktu setempat (23/5). Kemenangan Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, disumbangkan Kenichi Tago dan Kento Momota dari nomor tunggal serta pasangan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.
 Tago yang dipercaya turun di partai pertama menumbangkan Chen Long dengan dua game langsung 21-13, 21-11. Kemenangan ini cukup mengejutkan karena ranking Tago dua setrip masih di bawah Chen Long, yang ada di posisi kedua.
 Selain itu, Tago juga tampil dalam pertandingan perempat final. Dia dipermalukan tunggal pertama Prancis Brice Leverdez.
 Kemenangan Tago ini diikuti oleh Endo/Hayakawa yang menjungkalkan Chai Biao/Hong Wei 22-20, 21-19. Tiket ke final digenggaman Jepang berkat kemenangan Momota atas Pengyu dengan rubber game 23-25, 21-18, 21-14.
 Bagi Jepang, ini merupakan final perdana. Sebaliknya, kegagalan menembus babak pemungkas ini yang pertama sejak 2002.
 Padahal, jika lolos ke final dan kembali menjadi juara, Tiongkok akan memecahkan rekor Indonesia menjadi juara enam kali beruntun dalam ajang perebutan supremasi bulu tangkis beregu putra tersebut.
 Sejak 2004, Tiongkok selalu menjadi pemenang. Sedangkan Indonesia melakukannya pada 1994-2002. (*)

Kembali Berharap dari Simon Santoso

Jumat, 23 Mei 2014


 Hanya, sudah 12 tahun, Indonesia tak pernah lagi berhadapan dengan negeri jiran tersebut. Saat itu, ketika event perebutan  supremasi beregu putra dilaksanakan di Guanghou, Tiongkok, merah putih mampu mengalahkan Malaysia dua kali.
 Dua kali? Ya, ketika itu, Indonesia  juga satu grup dengan Malaysia di babak penyisihan. Merah Putih unggul 4-1 dalam pertandingan yang digelar 12 Mei  2012 tersebut.
 Kedua negara pun kembali bersua di babak final yang dilaksanakan 19 Mei 2012. Hasilnya, merah putih pun berkibar setelah unggul 3-2.
Tiga kemenangan disumbangkan Candra Wijaya/Sigit Budiarto yang mengalahkan Chan Chong Ming/Chew Choon Eng 7-3, 7-4, 7-2 (masih memakai format 7).Kemudian pasangan Halim Haryanto/Tri Kusharyanto yang melibas Choong Tan Fook/Lee Wan Wah  8-7, 7-8, 7-1, 7-3.  Kemenangan ini membuat skor imbang 2-2. Sebelumnya, Indonesia kehilangan angka dari tunggal pertama.
 Marleve Mainaky menyerah kepada Wong Choong Han 5-7, 5-7, 1-7. Di tunggal kedua, Taufik Hidayat, yang menjalani debutnya di Piala Thomas, takluk 7-1, 5-7, 2-7, 7-2, 3-7 kepada Lee Tsuen Seng.
 Nah, di partai terakhir, Hendrawan memastikan Indonesia merebut Piala Thomas untuk kali ke-13 setelah memupus asa Roslin Hashim 8-7, 7-2, 7-1. Ironisnya, sekarang, Hendrawan menjadi bagian pelatih Malaysia.
 Kejadian serupa bisa kembali terulang. Pertarungan Indonesia versus  Malaysia yang dilaksanakan Jumat sore waktu setempat (23/5) bisa berlangsung lima partai.
 Nah, di sini, Simon Santoso memegang peranan besar. Pertimbangannya, Malaysia bakal mencuri melalui nomor tunggal dari aksi Lee Chong Wei dan ganda kedua Goh V Shem/Tan Wee Kiong. Chong Wei diprediksi tak akan mengalami kesulitan menundukkan Tommy Sugiarto.
 Pertimbangannya, Tommy tak pernah menang atas Chong Wei dalam sembilan kali pertemuan. Kali terakhir, putra legenda bulu tangkis Indonesia Icuk Sugiarto tersebut kalah 19-21, 9-21 di final Malaysia Super Series Premier 2014.
 Di Malaysia Super Series Premier 2014 pula, Angga/Rian menyerah kepada V Shem/Wee Kiong. Jadi, peran Simon sangat dibutuhkan. Harapannya, Simonlah yang akan menang atas tunggal ketiga negeri jiran Liew Daren. (*)

Ketemu Malaysia di Semifinal


SIMON Santoso menjadi pahlawan Indonesia ke semifinal Piala Thomas 2014. Kemenangan 21-12, 22-20 atas Soo Hwang-joo membuat merah putih unggul 3-2 atas Korea Selatan dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Kamis malam waktu setempat (23/5).
 Sebelumnya, Indonesia sempat tertinggal setelah tunggal pertama Tommy Sugiarto menyerah 21-23, 22-24 atas Son Wan-ho dalam waktu 1 jam 6 menit. Kekalahan ini memberikan pil pahit kepada Tommy dua kali beruntun.Sebelumnya, di babak penyisihan Grup A, dia juga kalah saat berhadapan dengan tunggal pertama Thailand Boonsak Ponsana.
 Namun, lagi-lagi, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membuka kembali harapan lolos ke empat besar. Penampilan tak kenal menyerah, membuat juara dunia 2013 tersebut unggul 21-15, 17-21, 21-19 atas Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong.
 Ini merupakan kemenangan perdana Hendra/Ahsan atas pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut. Dalam tiga laga sebelumnya, mereka tak pernah memetik kemenangan.
 Pelatih ganda Herry I.P pun benar-benar  membuktikan omongannya. Saat kali terakhir bertemu di semifinal, dia mengaku sudah tahu titik lemah Yong-dae/Yeon-seong meski saat itu kalah 20-22, 20-22.
 Indonesia kembali leading saat  Dionysius Hayom Rumbaka menang straight game 21-17, 21-16 atas  Lee Dong-keun. Pertandingan ini merupakan pertemuan perdana kedua pebulu tangkis.
 Hanya, secara ranking,Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, unggul. Dia ada di posisi 19 sementara lawannya   32.
 Kubu Indonesia kembali deg-degan saat Angga Pratama/Rian Agung Saputro menyerah tiga game 14-21, 21-10, 13-21. Kedudukan pun menjadi imbang 2-2. Untung, pada pertandingan penentuan, Simon mampu menjawab kepercayaan yang diberikan.
 Di babak semifinal, Indonesia bersua dengan Malaysia yang di perempat final mengalahkan Denmark 3-1. Satu laga lainnya mempertemukan Tiongkok dengan Jepang. Tiongkok lolos berkat kemenangan 3-0 atas Thailand dan Jepang menundukkan Prancis 3-1. (*)

Penantian 18 Tahun Belum Berakhir


HARAPAN memulangkan Piala Uber ke Indonesia lagi gagal. Itu setelah langkah merah putih dihentikan India dengan skor telak 0-3 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Siri Ford, New Delhi, India, pada Kamis sore waktu setempat (23/5).
 Sebenarnya, jika Indonesia mampu mencuri satu partai di tiga pertandingan lawan, langkah menembus babak semifinal sangat terbuka lebar. Sayang, Lindaweni Fanetri, Bellaetrix Manuputty, dan pasangan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari gagal menundukkan wakil tuan rumah.
 Linda, sapaan karib Lindaweni Fanetri, yang turun di partai pertama menyerah dua game langsung 17-21, 10-21 kepada Saina Nehwal. Ini menjadi kekalahan kedua Linda kepada pebulu tangkis India yang pernah duduk di tangga kedua peringkat dunia tersebut.
 Sebelumnya, dia menyerah kepada Sania di Indonesia Super Series Premier 2013 dengan 17-21, 13-21. Tapi, sepekan kemudian, Linda membalasnya di Singapura Super Series dengan memetik kemenangan 17-21, 21-13, 21-13.
Kekalahan Lindan atas Sania di pertandingan pertama membuat Bella, sapaan karib Bellaetrix Manuputty, terbebani. Sempat tegang dan kalah 16-21 oleh P V Sindhu, dia membalikkan keadaan di game kedua dengan memetik kemenangan  21-10.
 Pertandingan di game ketiga atau game pemungkas, pertandingan Bella dan Sidhu berlangsung alot. Namun, Sindhu lebih beruntung dan memenangi game ketiga dengan 25-23.
 Pada pertandingan ketiga, Greysia/Nitya tak berdaya di tangan Jwala Gutta/Ashwini Ponnapa dan menyerah 18-21, 18-21. Kekalahan ini membuat penantian Indonesia merebut Piala Uber semakin panjang. Kali terakhir, Indonesia menjadi juara pada 1996 atau 18 tahun lalu.
 Kemenangan ini membawa India akan berhadapan dengan Jepang di babak semifinal yang dilaksanaan Jumat waktu setempat (23/5). Negeri Sakura, julukan Jepang, menembus empat besar setelah menundukkan Denmark 3-0.
 Sementara, semifinal lain saling bertemu antara Tiongkok dan Korea Selatan. Negeri Panda, julukan Tiongkok, menghentikan perlawanan Inggris 3-0 dan Korea Selatan membungkam Thailand dengan 3-1.
 Lolos ke semifinal juga menjadi sejarah bagi India. Selama ini, mereka belum pernah menjejakkan kaki di empat besar. (*)

Prancis Bikin Jepang Sempat Kaget


KEJUTAN Prancis di ajang Piala Thomas 2014 terhenti. Tak masuk dalam daftar unggulan, mereka mampu menembus babak perempat final dengan status runner-up Grup D.
 Dalam penyisihan selama tiga pertandingan, Prancis hanya menyerah kepada Tiongkok dengan skor 0-5. Sementara, dua partai lainnya dilalui dengan kemenangan atas Rusia 3-2 dan Taiwan juga dengan 3-2.
 Saat berhadapan dengan Jepang di babak perempat final yang dilaksanakan din Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Kamis siang waktu setempat (22/5), Prancis juga membuat gempar di laga pembuka. Tunggal pertama Negeri Anggur, julukan Prancis, Brice Leverdez mempermalukan Kenichi Tago dengan rubber game 21-14, 15-21, 21-16 dalam pertarungan yang berlangsung selama 1 jam enam menit tersebut.
 Tago sendiri merupakan pebulu tangkis yang menduduki ranking keempat dunia.  Sementara, Brice terdampar di posisi 31. Selain itu, pada pertemuan pertama di India Super Series 2011, Tago memetik kemenangan 25-23, 21-13.
 Sayang, kemenangan Brice gagal diikuti rekan-rekannya. Jepang mampu menyamakan kedudukan melalui Sho Sasaki yang menjungkalkan Lucas Corvee dengan dua game yang mudah 21-12, 21-11. Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, unggul berkat kemenangan Keigo Sonoda/Takeshi Kamura atas wakil Prancis Bastian Kersaudy/Gaetan Mittelheisser 21-8, 21-13.
 Jepang memastikan menggenggam tiket semifinal setelah tunggal ketiganya Takuma Ueda melibas Thomas Rouxel 21-13, 21-12. Ini membuat partai kelima yang seharusnya mempertandingkan nomor ganda antara Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo melawan Brice Leverdez/Lucas Corvee urung dilaksanakan. (*)

Hanya Alamsyah Yunus yang Tersingkir


DOMINASI Alamsyah Yunus di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) mulai goyah. Buktinya, dalam dua seri yang diikuti, Jakarta dan Jawa Barat, dia gagal menjadi juara.
 Padahal, tahun lalu, dari sembilan seri yang diikuti, Alamsyah menjadi juara delapan kali. Sementara di Seri III atau Seri Jakarta, lelaki 29 tahun tersebut kalah oleh pebulu tangkis muda asal Pelatnas Cipayung Jonatan Christie di babak final.
 Di seri IV yang dilaksanakan di GOR UPI, Bandung, dia sudah tersingkir di babak ketiga. Secara mengejutkan, Alamsyah kalah tiga game 22-20, 21-15, 21-19 oleh wakil Jaya Raya R. Eka Fajar dalam pertandingan yang dilaksanakan Kamis (22/5).
 Kekalahan Alamsyah ini menjadi satu-satunya pil pahit yang ditelan unggulan papan atas. Unggulan Jonatan Christie, Senatria  Agus (SGS Bandung), dan Febiyan Irvannaldy (WimaSurabaya) tak menemui hambatan berarti di babak kedua.
 Jonatan menghentikan langkah Muhammad Maftuki (Pelatprov DKI Jakarta) 25-23, 21-10. kemudian Agus, yang diunggulkan ketiga, memupus asa wakil dari PB Candra Wijaya Elham Saptono 21-12, 21-13 dan Febri, sapaan karib Febriyan Irvannaldy, yang diunggulkan di posisi keempat menang 21-16, 21-16 atas Ryan Fajar Satrio (Djarum Kudus).
 Juara sirnas 2014 ini dibagi rata oleh tiga pebulu tangkis. Febri menjdi kampiun seri perdana di Makassar (Sulawesi Selatan), Jeffer Rosobin (Jeffer Rosobin Academy) menjadi pemenang di Seri Kepulauan Riau, dan Jonatan  memegang gelar terhormat di seri III di Jakarta. (*)

Lumbung Poin dari Lin Dan

Kamis, 22 Mei 2014


LIN Dan terus diberi kesempatan. Dalam tiga pertandingan, juara dunia lima kali nomor tunggal putra asal Tiongkok tersebut turun ke lapangan dua kali dalam ajang penyisihan Grup D Piala Thomas 2014 yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India.
 Hasilnhya, Lin Dan memberi donasi poin. Saat menghadapi Prancis (18/5), dia menundukkan Lucas Claerbout  dengan dua game langsung 21-5, 21-11. Saat melawan Rusia (19/5), suami Xie Xingfang tersebut digantikan juniornya, Tian Houwei.
 Namun,ketika berhadapan dengan Taiwan, Lin Dan kembali mendapat amanah. Hanya, dia dipaksa bermain tiga game 19-21, 21-13, 21-14 oleh Lin Yu Hsien.
 Pada babak perempat final melawan Thailand pada Kamis waktu setempat (22/5), tentu Lin Dan bakal mengisi posnya lagi. Lawan yang dihadapi pun, Thammasin Sitthikom, pun akan dilibas dengan mudah.
 Keduanya bersua dalam Tiongkok Masters Grand Prix Gold 2014 pada 16 April lalu.Hasilnya, Lin Dan menang mudah dua game 21-12, 21-12.
 Sehingga, sampai perempat final, peraih emas di Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012 tersebut akan selalu menjadi lumbung poin bagi Tiongkok.
 Jadi, selama ini, tak salah kalau Lin Dan dipaksa untuk turun lagi setelah delapan bulan absen usai Kejuaraan Dunia 2013 di Guangzhou, Tiongkok. Dua turnamen yang jadi pemanasannya, Tiongkok Masters Grand Prix Gold dan Kejuaraan Asia, pun mampu dimenangi.
 Ranking dunianya pun ikut melonjak. Kini, Lin Dan ada di posisi 58 setelah sempat terdampar di luar 100 besar. (*)


Lin Dan di Piala Thomas 2014
18 Mei: Lin Dan v Lucas Claerbout  (Prancis) 21-5, 21-11
20  Mei: Lin Dan v Lin Yu Hsien (Taiwan) 19-21, 21-13, 21-14

Tim Uber Indonesia Cium Aroma Semifinal

Suci Rizky Andini/Tiara Rosalia (foto:PBSI)

INDONESIA gagal menjadi juara Grup X Piala Uber 2014. Risikonya, Lindaweni Fanetri dkk bisa berhadapan dengan para juara grup, salah satunya Tiongkok, yang selama ini menjadi momok bagi pebulu tangkis putri Indonesia di ajang Piala Uber.
 Namun, undian berkata lain. Indonesia berhadapan dengan India dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India,pada Kamis waktu setempat (22/5). Indonesia gagal menjadi pemuncak grup karena dikalahkan Korea Selatan dengan skor 1-4.
 Melawan India tentu tak seberat menghadapi Tiongkok ataupun Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan. Namun, tuan rumah juga tak boleh dipandang sebelah mata.
 Mereka mempunyai tiga andalan yang diharapkan bisa menamatkan perlawanan lawan-lawannya. Tiga poin India diharapkan lahir dari dua nomor tunggal melalui Saina Nehwal, PV Sindhu, dan pasangan Jwala Gutta/Ashwini Ponnapa. Jika Indonesia bisa mencuri satu dari tiga partai tersebut,kemenangan sudah ada di tangan.
 Jika melihat kekuatan yang ada, di tunggal pertama, Indonesia akan memainkan Lindaweni Fanetri. Selama ini, Linda, sapaan karib Lindaweni, dan Saina sudah dua kali bertemu dan sama-sama saling mengalahkan.
 Linda, yang kini duduk di posisi 23 dunia, kalah di Indonesia Super Series Premier 2013 dengan 17-21, 29-27, 13-21. Namun, sepekan kemudian, dia membalasnya di Singapura Super Series 2013 dengan memetik kemenangan 17-21, 21-13, 21-13 atas lawannya yang kini ada di posisi delapan dunia tersebut.
 Di tunggal kedua, merah putih mempunyai Bellaetrix Manuputty dan Maria Febe Kusumastuti. Namun, Bella, sapaan karib Bellaetrix Manuputty, lebih layak diberi kesempatan menantang Sindhu.
 Dua tahun terakhir, kedua pebulu tangkis tak bertemu. Hanya, seperti halnya Linda dan Saina, antara Bella dan Sindhu pun punya rekor imbang 1-1.
 Sindhu mengalahkan Bella di Indonesia Challenge 2011 dengan 21-15,  13-21, 16-21. Tapi, setahun kemudian di Hongkong Super Series, Bella membalasnya dengan 21-12, 18-21, 21-15.
 Sementara, Jwala/Ashwini belum pernah bersua dengan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, yang besar kemungkinan bakal diturunkan. Hanya, melihat ranking, pasangan Indonesia lebih unggul karena di ranking kedelapan sementara Jwala/Ashwini di posisi 36 dunia.
 Dengan mencuri satu kemenangan akan memudahkan Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta atau Tiara Rosalia Nuraidah/Suci Rizky Andini dan Adriyanti Firdasari lebih peercaya diri di lapanagan.
 Kemenangan atas India akan membuat Indonesia kembali merasakana aroma semifinal setelah dua tahun lalu di Wuhan, Tiongkok, merah putih menyerah dari Jepang dengan skor 2-3 di babak perempat final. (*)

Saatnya Hendra/Ahsan Menang

BISA: Hendra Setiawan (kanan)/Mohammad Ahsan (foto;PBSI)

HENDRA Setiawan/Mohammad Ahsan selalu memetik kemenangan dalam pertandingan Piala Thomas Grup A. Namun, rekor manis tersebut terancam saat Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, paa Kamis waktu setempat (22/5).
 Ini disebabkan Hendra/Ahsan diperkirakan bakal bersua dengan musuh lamanya Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong.  Ganda nomor satu dunia itu punya rekor jeblok jika berhadapan dengan Yong-dae/Yoo Yeong-seong.
 Hendra/Ahsan tak pernah menang dalam tiga pertemuan. Ironisnya, semuanya kalah dengan dua game langsung (straight game).
 Pil pahit tersebut ditelan juara dunia 2013 itu di Denmark Super Series Premier 2013 dengan 19-21, 16-21, di Tiongkok Super Series Premier 18-21, 11-21, dan Hongkong Super Series 20-22, 20-22.
Meski belum sekali pun mempermalukan Yong-dae/Yeon-seong peluang menang tetap terbuka. Alasannya, Hendra/Ahsan sudah mengetahui titik lemah lawannya.
 Ini berkaca dari pertemuan terakhir di Hongkong yang berlangsung ketat. Selain itu, Yong-dae lama absen dari turnamen setelah sempat terkena skorsing larangan bermain selama satu tahun dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) karena menolak tes doping. Untung, larangan tersebut akhirnya tak berlaku setelah banding Asosiasi Bulu Tangkis Korea Selatan melakukan banding.
 Hanya, lama tak tampil dalam beberapa kejuaraan membuat Yong-dae/Yeon-seong selalu kerepotan di Piala Thomas 2014. Meski belum terkalahkan namun skor kemenangannya selalu tipis. Bahkan, saat berlaga melawan Jerman, mereka dipaksa tampil tiga game. (*)

Hindari Aib Kedua

ASA: Simon Santoso (foto:PBSI)

INDONESIA gagal sapu bersih kemenangan di laga terakhir Grup A Piala Thomas 2014. Hendra Setiawan dkk  hanya menang 4-1 atas Thailand dalam pertandinan yang dilaksanakan di Siri Fort  Indoor Stadium, New Delhi, India,pada Rabu waktu setempat (21/5).
 Satu-satunya kekalahan ditelan Tommy Sugiarto yang dipaksa harus mengakui ketangguhan pebulu tangkis senior Boonsak Ponsana dengan rubber game 21-14, 13-21, 17-21.  Untung, di partai berikutnya, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membangkitkan kembali semangat rekan-rekannya.
 Juara dunia 2013 sekaligus pasangan nomor satu dunia tersebut menundukkan Wannawat Ampunsuwan/Nipitphon Puangpuech dengan dua game langsung 21-15, 21-14. Kemenangan ini diikuti Dionysius Hayom Rumbaka  yang menang dua game langsung 21-17, 21-19 atas Suppanyu Avihingsanon.
 Kepastian Indonesia menjadi juara Grup A ditentukan Angga Pratama/Rian Agung Saputra. Pasangan yang kini berada di posisi 11 dunia tersebut menghentikan ambisi Maneepong Jongjit/Patiphat Chalardchaleam 21-14, 22-20. Dalam partai terakhir, Simon Santoso memupus asa Thammasin Sitthikom dengan dua game langsung 21-13, 21-13.
 Hasil ini membuat Indonesia Indonesia bersua dengan Korea Selatan pada pertandingan yang dilaksanakan Kamis waktu setempat (22/5). Itu setelah BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) melakukan undian (drawing) pada Rabu malam. Dalam ajang Piala Thomas 2014, BWF memakai aturan juara grup yang terdiri dari Indonesia (Grup A), Jepang (Grup B), Malaysia (Grup C), dan Tiongkok (Grup D) tak akan bersua di perempat final. Sebagai gantinya, para jawara grup bersua dengan para runner-up yang terdiri dari  Thailand (Grup A), Denmark (Grup B), Korea Selatan (Grup C), dan Prancis Grup D.
 Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, pernah mempermalukan Indonesia di ajang Piala Thomas 2008.Bertanding di kandang sendiri, Istora Senayan, Jakarta, Taufik Hidayat dkk kalah 0-3 di babak semifinal.
 Korsel pun melenggang ke babak pemungkas. Sayang, di final, mereka kalah 1-3 dari Tiongkok.
 Ini membuat merah putih tetap tak boleh lengah melawan Lee Yong-dae dkk. Paling tidak kemenangan atas Korea Selatan bisa membuat Indonesia terhindar dari aib kedua. Kalah melawan Korea Selatan dan tersingkir lagi di babak perempat final seperti peristiwa dua tahun lalu di Wuhan, Tiongkok. Saat itu, Indonesia kalah 2-3 oleh Jepang. (*)

Jadwal  Perempat Final (22/5)
Piala Thomas:Tiongkok v Thailand; Jepang v Prancis, Indonesia v Korea Selatan, Denmark v Malaysia

Piala Uber: Korea Selatan v Thailand; Denmark v Jepang, Tiongkok v Inggris; Indonesia  v India

Tommy Mati di Tangan Lawan yang Ofensif

Rabu, 21 Mei 2014

UNGGUL: Boonsak Ponsana 

TOMMY Sugiarto gagal menyumbangkan poin bagi Indonesia saat berhadapan dengan Thailand. Pebulu tangkis peringkat kelima dunia di nomor tunggal putra tersebut kalah kepada Boonsak Ponsana dengan rubber game 21-14, 13-21, 17-21 dalam pertandingan penyisihan Piala Thomas 2014 Grup A yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Rabu waktu setempat (21/5).
 Ini menjadi kekalahan kedua Tommy selama lima kali perjumpaan dengan pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut. Kekalahan perdana ditelan putra salah satu leegenda bulu tangkis Indonesia Icuk Sugiarto itu di Indonesia Open 2005.
 Sementara, tiga kali kemenangan  dipetik Tommy pada Australia Grand Prix Gold 2011, Jerman Grand Prix Gold 2013, dan Singapura Super Series 2013. Khusus di pertemuan terakhir merupakan laga final yang dimenangi Tommy dengan 20-22, 21-5, 21-17.
 Kekalahan atas Boonsak di Piala Thomas 2014 ini semakin menunjukkan bahwa dia sering kerepotan jika lawannya memakai strategi menyerang. Ini juga dialaminya saat berhadapan dengan Derek Wong di laga pembuka Grup A pada 19 Mei lalu.
 ‘’Alasannya jangan masih trauma dengan cedera kaki. Padahal, waktu mau berangkat kan sudah siap tempur,’’ kritik M. Nadib, salah satu pelatih Puslatda Jatim.
 Sebelumya, salah satu pengurus teras PP PBSI pernah mengatakan bahwa Tommy tak suka dengan lawan yang punya karakter menyerang. Jika tak dibenahi gaya bermainnya, dia bakal menjadi santapan empuk lawan-lawannya yang bergaya ofensif. (*)

Dua Tunggal Andalan India Main Ganda

TIGA PILAR: Tim Uber India (foto;indiaexpress)

INDIA punya dua tunggal putri tangguh, Saina Nehwal dan PV Sindhu. Mereka menjadi andalan negerinya dalam ajang Piala Uber 2014. Keduanya pernah sama-sama menembus posisi sepuluh besar.
 Hasilnya, India pun mampu keluar sebagai juara grup Y.  Dalam tiga kali pertandingan yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, tuan rumah tak terkalahkan dalam tiga pertandingan.
 Terakhir, Thailand dikalahkannya dengan skor 3-2. Saina dan Sindhu mampu menyumbangkan poin kemenangan. Hanya, mereka juga gagal memperbesar skor keunggulan.
 Kok bisa? Ya, untuk kali pertama, Saina dan Sindhu berpasangan. Turun sebagai ganda kedua, mereka menyerah kepada ganda Thailand Kunchala Voravichitchaikul/Sapsiree Taerattanachai 12-21, 21-18, 15-21.
 Di atas lapangan, Saina/Sindhu masih sering salah langkah dan kurang komuninasi, khususnya di game pertama. Namun, kesalahan itu diperbaik di game kedua dan mampu memetik kemengan.
 Sayang, pada game ketiga, Kunchala dan Sapsiree yang merupakan pebulu tangkis spesialis ganda mengubah strategi. Hasilnya, mereka pun mampu memetik kemenangan dan memperkecil kekalahan.
 Tak menutup kemungkinan, Saina/Sindhu bakal kembali dipasangkan. Mereka akan menjadi ganda kedua setelah Jwala Gutta/Ashiwini Ponnapa. (*)

Juara SEA Games Gagal Sumbang Poin

Bellaetrix Manuputty saat menghadapi Xiayu (foto:PBSI)

LIANG Xiaoyu hanya punya peringkat 220 dunia. Tumbang di babak-babak awal, sudah menjadi hal yang bisa bagi perempuan 18 tahun itu.
 Namun, di Piala Uber 2014, dia membuat kejutan. Liang mampu menyumbangkan poin bagi Singapura saat menghadapi Indonesia dalam pertandingan Grup X yang dilaksanakan di Siri Fort, New Delhi, India, pada Selasa waktu setempat (20/5).
 Lawan yang dikalahkannya pun bukan pebulu tangkis sembarangan, Bellaetrix Manuputty. Tunggal kedua Indonesia ini merupakan peraih emas SEA Games 2013.
 Namun, di lapangan pada Selasa, Bella, sapaan karib Bellaetrix Manuputty, menyerah kepada Xiaoyu dengan rubber game 21-14, 17-21, 14-21. Ini membuat Negeri Singa, julukan Singapura, memperkecil ketinggalannya menjadi 1-2.
 Indonesia sudah unggul melalui Lindaweni Fanetri dan pasangan Tiara Rosalia Nuraidah/Suzi Rizky Andini. Untung di partai keempat, ganda putri terbaik Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda menang mudah 21-11, 21-8 atas Yao Lei/Shinta Mulia Sari.
 Selain itu, kejutan lain adalah tampilnya Maria Febe Kusumastuti sebagai tunggal ketiga. Dia menggantikan posisi Adriyanti Firdasari.
 Kepercayaan ini mampu dijawab Febe, sapaan karib Maria Febe Kusumastuti. Dia unggul dua game langsung 21-15, 21-10 atas Fu Mingtian.
 Tampaknya, Firda, sapaan karib Adriyanti Firdasari, disimpan sebagai persiapan menghadapi Korea Selatan yang dilaksanakan Rabu pagi waktu setempat (21/5).


Hasil Indonesia v Singapura  4-1
1.Lindaweni Fanetri v Chen Jiayuan 21-15, 21-15

2. Tiara Rosalia Nuraidah/Suzi Rizky Andini v Vanessa Neo/Fu Mingtian 21-14, 21-15

3. Bellaetrix Manuputty v Liang Xiaoyu 21-14, 17-21, 14-21

4. Greysia Polii/Nitya Krishinda v Yao Lei/Shinta Mulia Sari  21-11, 21-8

5. Maria Febe Kusumastuti v Fu Mingtian 21-15, 21-10

Berangkat hanya dengan Empat Skuad

Hendra/Ahsan menyalami pasangan Nigeria (foto:PBSI)

NIGERIA boleh dianggap sebagai salah satu kekuatan di sepak bola. Tim berjuluk Elang Hijau tersebut menjadi wakil Afrika dalam tiga edisi Piala Dunia (1994, 1998, dan 2010). Nigeria juga melahirkan bintang-bintang lapangan hijau seperti Nwankwo Kanu, Jay-Jay Okocha, maupun Obafemi Martins.
 Nigeria pun mulai membangun kekuatan di cabang olahraga yang lain, bulu tangkis. Mereka menjadi wakil Afrika  dalam putaran final Piala Thomas yang dilaksanakan di New Delhi, India, pada 18-25 Mei 2014. Ini menjadi keikutsertaan kedua setelah sebelumnya pada 2008.
 Hanya, pada 2014 ini, Nigeria tak berdaya bersua dengan negara-negara papan atas bulu tangkis internasional. Apalagi, Nigeria menghuni Grup A bersama Indonesia, Singapura, dan Thailand.
 Dalam dua pertandingan, mereka selalu menelan kekalahan dengan skor telak 0-5. Pada 19 Mei, Nigeria kalah oleh Thailand dan 20 Mei ditaklukan Indonesia.
 Pada putaran final Piala Thomas 2014 ini, Nigeria mengusung kekuatan minim.  Negeri beribukota Abuja itu hanya membawa empat pebulu tangkis dari maksimal 10 pebulu tangkis. Mereka adalah Jinkan Ifraimu Bulus, Enejoh Abah, Victor Makanju, dan Ola Fagbemi.
 Imbasnya, pebulu tangkisnya pun harus bermain rangkap, tunggal dan ganda. Saat berhadapan dengan Indonesia, hanya Ola Fagbemi yang tak merangkap. Dia hanya turun di ganda.
 Memang, masih butuh waktu bagi Nigeria untuk berbicara banyak di ajang Piala Thomas. Namun, tak menutup kemungkinan, di masa-masa mendatang, pebulu tangkisnya bakal menjadi bintang dunia seperti skuad Elang Hijau di lapangan sepak bola. (*)


Skuad Nigeria di Piala Thomas 2014
1.Jinkan Ifraimu Bulus (184)
2.Enejoh Abah (186)
3.Victor Makanju (266)
4. Ola Fagbemi (953)

Pelapis pun Tak Diberi Kesempatan Turun

Tommy tetap turun sebagai tunggal pertama (foto:PBSI)

INDONESIA tak mau main-main menghadapi Nigeria. Buktinya, merah putih tampil dengan kekuatan penuh saat menghadapi wakil Afrika tersebut dalam pertandingan Grup A Piala Thomas 2014 yang dilaksanakan di Siri Fort New Delhi, India, pada Selasa waktu setempat (20/5).
Beda dengan saat menghadapi Singapura sehari sebelumnya, kali ini, Hendra Setiawan dkk memetik kemenangan sempurna 5-0 dan juga tak kehilangan satu game pun. Hasil manis ini juga membuat Indonesia memimpin Grup A. Ini disebabkan rival terberat, Thailand, kehilangan satu partai saat berhadapan dengan Singapura. Negeri Gajah Putih, julukan Thailand hanya menang 4-1.
Saat berhadapan dengan Nigeria, kemenangan tercepat dari semua partai dibukukan pasangan Angga Pratama/Rian Agung Saputra. Mereka hanya perlu 22 menit saat menundukkan Jinkan Ifraimu Bulus/Ola Fagbemi 21-13, 21-10. Manajer Tim Thomas Indonesia, Christian Hadinata, tak mau anaknya turun trennya. Apalagi, pada Rabu waktu setempat (21/5), merah putih akan bersua dengan Thailand dalam pertandingan penentuan juara Grup A.
 Pertandingan melawan Nigeria juga bisa dianggap sebagai pemantapan tim. Sebelumnya, ketika melawan Negeri Singa, julukan Singapura, beberapa pebulu tangkis Indonesia masih demam panggung.
 Tommy misalnya. Lelaki yang kini duduk di posisi kelima dunia tersebut dipaksa memeras keringat selama tiga game sebelum menundukkan Derek Wong.
 Begitu juga dengan Simon Santoso. Dipercaya sebagai tunggal ketiga, dia harus melakukan deuce saat menghadapi pebulu tangkis muda negeri pulau itu, Sean Lee.
 Namun, dengan kemenangan atas Nigeria, kondisi pebulu tangkis merah putih diharapkan dalam kondisi puncak saat melawan Thailand. (*)


Hasil Indonesia v Nigeria 5-0

1.Tommy Sugiarto v Jinkan Ifraimu Bulus 21-4, 21-2

2. Dionysius Hayom Rumbaka v Enejoh Abah 21-8, 21-10

3. Simon Santoso v Victor Makanju 21-7, 21-7

4. Angga Pratama/Rian Agung Saputro v Jinkan Ifraimu Bulus/Ola Fagbemi 21-13, 21-10

5. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Enejoh Abah/Victor Makanju 21-8, 21-8

Ditingal tapi Tetap Berlatih

Selasa, 20 Mei 2014


PADA Piala Thomas 2014 ini, nama Sony Dwi Kuncoro tak ada. Dia terpental setelah dianggap tak dalam kondisi terbaik saat menjalani karantina di Kudus, Jawa Tengah, dan pertandingan simulasi di  Solo, Jawa Tengah.
 Bahkan, dalam pertandingan simulasi, Sony kalah oleh pebulu tangkis muda Ihsan Maulana Mustofa 19-21, 18-21. Ini membuat Ihsan menjadi tunggal keempat di bawah Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka, dan Simon Santoso.
 Lalu apa aktivitas Sony di saat rekan-rekannya di New Delhi, India, venue putaran final Piala Thomas? ‘’Saya tetap berlatih di Cipayung. Pelatihnya Budi Santoso,’’ kata Sony.
 Jadwal latihan yang dilakoni pun tetap tak berubah. Hanya, suasanya memang tak seramai biasanya. Apalagi, beberapa pebulu tangkis potensi juga ikut ambil bagian dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Jabar yang saat ini tengah bergulir.
 ‘’Ya tetap masih ada kok,’’ ungkap  Sony.
 Gagalnya Sony masuk Tim Piala Thomas 2014 ini mengulangi kejadian dua tahun lalu. Hanya, kondisinya berbeda.
Pada 2012, Sony masih dibekap cedera. Namun, sekarang, dia baru sembuh hanya masih belum bisa optimal.
 Jika fit, Sony bakal turun sebagai tunggal kedua atau ketiga. Ini bakal menjadi jaminan Indonesia merebut poin. Alasannya, sebelum cederanya kambuh,lelaki yang masa kecilnya dibina PB Wima Surabaya tersebut tengah berada di puncak penampilan.
 Sayang, Maret lalu lalu, di All England Super Series, cedera lamanya kambuh. Imbasnya, dia pun harus lama absen dari berbagai turnamen dan rankingnya pun lambat laun terlempar dari 10 besar. Dalam ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terakhir, Sony ada di posisi 20. (*)

Penampilan Perdana yang Kurang Greget

KETETERAN:Simon Santoso (foto:PBSI)

KEMENANGAN 5-0 dipetik Indonesia di pertandingan perdana Grup A Piala Thomas 2014. Hanya, kemenangan tersebut masih kurang greget.
 Apalagi, pada partai perdana, Tommy Sugiarto dipaksa bermain rubber game 21-11, 17-21, 21-15 oleh tunggal pertama Singapura Derek Wong pada laga yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Senin siang waktu setempat (19/5).
 Pada game pertama, Tommy unggul segalanya. Namun, di game kedua, Derek mulai mengetahui titik lemah lawannya yang kini duduk di posisi kelima dunia tersebut.
 Tommy akan selalu mengalami kerepotan jika mendapat tekanan. Ini mampu dioptimalkan dengan baik oleh Derek. Lelaki yang punya ranking dunia 38 tersebut selalu melepaskan smash saat shuttlecock pengembalikan Tommy naik.
 Ini kembali diulangi di game ketiga. Bedanya, pada game penentuan itu, stamina Derek ikut turun. Sehingga, dia sering melakukan banyak kesalahan sendiri yang menguntungkan Tommy.
 Hal serupa juga dialami Simon Santoso. Menghadapi  Sean Lee 21-16, 22-20. Dia sempat kesulitan di game kedua.
 Namun, kalau melongok ke belakang, Sean, yang punya ranking 383, juga pernah membuat Simon kelebakan di game kedua dalam babak kualifikasi Singapura Super Series 2014. Simon, yang kini punya ranking 34, hanya menang 21-6, 24-22. Dalam event ini, akhirnya Simon menjadi juara setelah di final menundukkan unggulan teratas Lee Chong Wei asal Malaysia.
 Dalam pertandingan lainnya di Grup A ini, Thailand juga memetik kemenangan telak 5-0 saat berhadapan dengan Nigeria. Indonesia akan bertemu Negeri pada Selasa waktu setempat (20/5). (*)


Hasil Indonesia v Singapura

1.Tommy Sugiarto v Derek Wong 21-11, 17-21, 21-15

2. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Danny Bawa Chrisnanta/Chaiyut Triyachart 21-15, 21-16

3. Dionysius Hayom Rumbaka v Chao Huang 21-17, 21-14

4. Angga Pratama/Rian Agung Saputro v Terry Hee/Derek Wong 21-9, 21-15

5. Simon Santoso v Sean Lee 21-16, 22-20

Indonesia Turunkan Komposisi Terbaik

Senin, 19 Mei 2014

HARAPAN: Tim Thomas Indonesia 2014 (foto;PBSI)

INDONESIA tak mau main-main di laga perdana Piala Thomas 2014. Berhadapan dengan Singapura di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Senin waktu setempat (19/5), merah putih turun dengan komposisi terbaik .
 Tiga tunggal terbaik, Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka, dan Simon Santoso dipercaya turun ke lapangan di penyisihan grup A itu. Begitu juga dengan dua ganda, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan serta Angga Pratama/Rian Agung Saputro.
 Ini membuktikan bahwa Indonesia tak mau menganggap remeh Singapura. Potensi Negeri Singa, julukan Singapura, untuk mencuri kemenangan tetap terbuka, khususnya di tunggal pertama dan ganda pertama.
 Di tunggal, Derek Wong memang peringkatnya masih jauh di bawah Tommy. Dalam ranking yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 16 Mei lalu, dia di posisi 41 sementara Tommy di tangga kelima.
 Selain itu, Tommy selalu memetik kemenangan dalam tiga pertemuan. Hanya, kondisi putra legenda bulu tangkis Indonesia Icuk Sugiarto tersebut masih diragukan karena baru sembuh dari cedera. Selain itu, penampilannya di Piala Thomas 2014 merupakan aksi perdananya All England Maret lalu.
 Sementara, di partai ganda pertama,Hendra/Ahsan akan dijajal Danny Bawa Chrisnanta/Chayut Triyachart. Dari sisi peringkat,pasangan merah putih jauh di atas.
 Hendra/Ahsan di posisi teratas sedang lawannya di ranking 61. Hanya, Chaiyut/Danny punya kemampuan yang tak boleh di pandang sebelah mata.
Kemenangan atas Singapura awal bagi Indonesia untuk merealisasikan target menjadi juara Piala Thomas 2014. Sejak 2004, trofi lambang supremasi bulu tangkis beregu putra tersebut terbang dari Indonesia ke Tiongkok. (*)


Komposisi Indonesia v Singapura
1.Tommy Sugiarto v Derek Wong

2.Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Chaiyut Triyachart/Danny Bawa Chrisnanta

3. Dionysius Hayom Rumbaka v Chao Huang

4. Angga Pratama/Rian Agung Saputro v Terry Hee/Derek Wong

5. Simon Santoso v Sean Lee

Untung Ada Lee Yong-dae


KOREA Selatan (Korsel) memulai perjalanan di Piala Thomas 2014 dengan tertatih. Sempat tertinggal 1-2, Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, akhirnya mampu menang 3-2 atas Jerman dalam pertandingan Grup C yang dilaksanalan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Minggu waktu setempat (18/5).
 Lee Yong-dae yang absen selama empat bulan dari lapangan, menjadi bintang Korea Selatan. Berpasangan dengan Yoo Yeon-seong, dia membangkitkan semangat rekan-rekannya yang sempat down. Ini dikarenakan di partai tunggal pertama, Son Wan-ho menyerah kepada wakil Jerman Marc Zwiebler dengan dua game langsung 18-21, 17-21.
 Untung, Yong-dae/Yeon-seong mampu menundukkan Michael Fuchs/Johannes Schoettler dengan tiga game 21-11, 8-21, 21-19. Korea Selatan tertinggal saat tunggal keduanya Lee Dong-keun tumbang 17-21, 16-21 kepada Dieter Domke. Namun, lagi-lag, nomor ganda menjadi penyelamat.
 Pasangan Kim Sa-rang/Ko Sung-hyun menghentikan ambisi Andreas Heinz/Max Schwenger dengan dua game langsung 21-16, 21-16. Negeri yang terpisah menjadi dua tersebut menutup kemenangan dari tunggal ketiga. Soo Hwang-jong unggul straight game 21-15, 21-16 atas Lukas Schmidt.
 Penampilan di Piala Thomas 2014 ini menjadi tanda kembali Yong-dae. Dia baru saja dibebaskan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) dari sanksi karena menolak menjalani tes doping.
 Sebenarnya, sanksi yang diberikan kepada Yong-dae dan rekannya, Kim Ki-jung, tersebut berlaku selama  1 tahun. Artinya, keduanya baru boleh kembali berlaga di ajang turnamen pada 1 Februari 2015.
 Namun, banding yang dilakukan federasi bulu tangkis Korea Selatan akhirnya membuat BWF mencabut hukuman. Imbasnya, kekuatan Korea Selatan pun kembali ditakuti. Selama ini, nomor ganda memang menjadi andalan negeri beribukota Seoul tersebut memetik poin di ajang Piala Thomas.
 Dua tahun lalu di Wuhan, Tiongkok, mereka menjadi runner-up. Di final, Korea Selatan kalah 0-3 dari tuan rumah. (*)

Hasil Pertandingan 18 Mei 2014
Piala Thomas:
Grup B: Hongkong v Denmark 4-1; Jepang v Inggris 4-1
Grup C: Malaysia v India 4-1, Korsel v Denmark 3-2
Grup D:Tiongkok v Prancis: 5-0; Taiwan v Rusia 4-1

Piala Uber
Grup W: Tiongkok v Rusia 5-0; Inggris v Taiwan 3-2
Grup X: Indonesia v Australia 5-0; Korea Selatan v Singapura 5-0
Grup Y: India v Kanada 5-0; Thailand v Hongkong 3-2

Febri Ingin Balas Dendam


FIT LAGI: Febriyan Irvannaldy (foto: sidiq)

KEGAGALAN di Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Jakarta tak bisa dilupakan Febriyan Irvannaldy. Apalagi, kegagalan tersebut terjadi pada babak semifinal saat skor masih imbang 20-20 pada game  ketiga.
 Itu terjadi ketika Febri, sapaan karib Febriyan Irvannaldy, saat menantang unggulan teratas Alamsyah Yunus dalam pertandingan yang dilaksanakan di GOR Asia-Afrika, Jakarta, pada Sabtu (18/5). Sempat kalah 14-21 di game perdana, Febri membalasnya di game kedua dengan 21-16. Sayang, saat game ketiga di saat-saat yang menentukan di skor 20-20, pebulu tangkis binaan Ferry Stewart di Wima Surarabya itu kram dan tak bisa melanjutkan pertandingan.
 ‘’Sekarang, saya sudah sembuh dan bersiap tampil di Seri Bandung,’’ terang Febri.
 Bahkan, dia sudah mengusung semangat balas dendam  kepada Alamsyah. Jika semua berjalan sesuai skenario, Febri bakal kembali bersua dengan pebulu tangkis JR Enkei itu di babak semifinal.
 Hanya, sebelum melangkah jauh, lelaki yang pernah ditawari warga negara Singapura itu akan ditantang Marvin Mainaky dari SGS Bandung di babak pertama.
 Kalau menang, tantang tak ringan sudah menanti di babak kedua. Besar kemungkinan, Febri bersua dengan wakil Djarum Kudus Ryan Fajar Satrio.
 Saat ini, Febri tengah dalam peak performance. Dia sudah menjadi juara dalam tiga turnamen yang diikuti yakni Sirnas Seri Makassar (Sulawesi Selatan), Piala Wali Kota Balikpapan (Kalimantan Timur), dan Piala Wali Kota Surabaya (Jawa Timur). (*)

Mulus tapi Tidak Sempurna

TAMU: Tim Thomas-Uber Indonesia bersama Presiden SBY

AWAL yang mulus bagi Tim Uber Indonesia. Lindaweni Fanetri dkk memetik kemenangan 5-0 atas Australia dalam pertandingan Grup X yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, pada Minggu waktu setempat (18/5).
 Hanya, kemenangan ini tak sempurna. Alasannya, Indonesia kehilangan satu game dari10 game yang harusnya dilakoni.
 Satu game itu lepas saat pasangan Indonesia Rizki Amelia Pradipta/Pia Zebadiah menghadapi  pasangan Negeri Kanguru, julukan Australia, He Tian Tang/Renuga Veeran.  
 Rizki/Pia menang di game pertama dengan 21-15. Namun, kehilangan di game kedua  17-21. Untung, pada game ketiga, pasangan asal Jaya Raya tersebut menang mudah  21-8.
 Partai yang dilakoni Rizki/Pia juga menjadi partai terlama  dibandingkan empat partai lainnya. Keduanya harus tampil selama 47 menit.
 Sementara kemenangan tercepat dibukukan pasangan Tiara Rosalia/Suci Rizky Andini yang turun di partai kelima. Mereka hanya butuh 22 menit saat mengalahkan Verder Kessler/Jacqueline Guan dengan 21-10, 21-9.
Dalam pertandingan lainnya di Grup X, Korea Selatan juga memetik kemengan mulus 5-0 atas Singapura. Senin (19/5), Grup X Piala Uber tidak menggelar pertandingan.
 Besoknya, Selasa (20/5), Indonesia akan dijajal oleh Singapura dan Korea Selatan meladeni Australia.
 Di atas kertas, Indonesia masih bisa memetik kemenangan 5-0. Hanya, di tunggal ketiga dan ganda, merah putih tak boleh lengah.
 Singapura mempunyai Fu Mingtian yang sempat membuat pebulu tangkis Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, memeras keringat dengan bermain tiga game di nomor tunggal dan ganda.
 Di tunggal, dia kalah 21-13, 19-21, 16-21 oleh Kim Hyo-min dan takluk 15-21, 22-20, 16-21 saat berpasangan dengan Yu Yan Vanessa dengan menghadapi Jung Kyung-eun/Kim Ha-na. (*)  

  

Hasil Indonesia v Australia 5-0
1.Lindaweni Fanetri v Tara Pilven 21-16, 21-11

2. Rizki Amelia Pradipta/Pia Zebadiah v He Tian Tang/Renuga Veeran 21-15, 17-21, 21-8

3. Bellaetrix Manuputty v Verdet Kessler 21-12, 21-12

4. Adriyanti Firdasari v Joy Lai 21-10, 21-12

5. Tiara Rosalia/Suci Rizky Andini v Verder Kessler/Jacqueline Guan 21-10, 21-9

Jonathan Kembali Tundukkan Alamsyah

Sabtu, 17 Mei 2014

JUARA: Jonatan Christie
JONATAN Christie ulangi sukses Indonesia Challenge 2013. Dia kembali mampu mengalahkan seniornya, Alamsyah Yunus, dalam final Sirkuit Nasional Seri Jakarta.
 Pada pertandingan yang dilaksanakan di GOR Asia-Afrika, Jakarta, tersebut, Jonatan memetik kemenangan tiga game 21-23, 21-12, 21-10. Pada Indonesia Challenge 2013 yang dilaksanakan di Surabaya, pebulu tangkis Pelatnas Cipayung itu unggul dua game langsung 21-17, 21-10.
 Kemenangan ini juga menjadi obat kecewa bagi Jonatan yang baru saja gagal mengemban asa yang diberikan kepadanya dalam Kejuaraan Dunia Junior 2014. Dalam event yang dilaksanakan di Alor Setar, Malaysia, bulan lalu itu, pebulu tangkis yang bermain di film layar lebar ‘’King’’ tersebut gagal menyumbang angka bagi Indonesia dalam final beregu menghadapi Tiongkok.
Kemudian, di nomor perorangan, dia sudah tersungkur di babak perempat final. Padahal, Jonathan menduduki unggulan teratas.
 Di antara semua pebulu tangkis yang ada di level prestasi, hanya Jonathan yang turun dalam Sirnas Seri Jakarta. Mayoritas rekan-rekannya saat ini tengah membela Indonesia dalam ajang putaran final Piala Thomas yang dilaksanakan di New Delhi, India, pada 18-25 Mei ini.(*)


Hasil final kelompok dewasa
Tunggal putra: Jonatan Christie (Pelatnas x2) v Alamsyah Yunus (JR Enkei x1) 21-23, 21-12, 21-10

Tunggal putri: Dinar Dyah Ayustine (Djarum x2) v Elizabeth Purwaningtyas (SGS Bandung x6) 21-16, 21-14

Ganda putra:Rendra Wijaya/Rian Sukmawan (Musica) v Hantoro/Kenas Adi Haryanto (Djarum) 21-12, 21-18

Ganda putri: Maretha Dea Giovani/Rosyita Eka Putri (Pelatnas x5) v Shendy Puspa Irawati/Vita Marissa (Djarum x8) 21-12, 21-15

Ganda campuran:Tri Kusharjanto/Vita Marissa (Musica/Djarum x6) v Fran Kurniawan/Komala Dewi (Djarum) 21-17, 23-21

X=unggulan

Untung, Lawan Korsel di Laga Terakhir

PERTAMA: Lindaweni Fanetri

Membedah Kekuatan Lawan Indonesia di Penyisihan Uber

Tahun  ini, Indonesia punya target tinggi di ajang Piala Uber 2014. Adriyanti Firdasari dkk diharapkan bisa memulangkan trofi lambang supremasi beregu putri itu.
---
SEJAK 1996, Indonesia tak lagi menjadi juara Piala Uber. Berakhirnya era Susi Susanti tuntas juga supremasih Indonesia di ajang dua tahunan tersebut.
 Kini, Indonesia pun kembali hadir dalam putaran final yang dilaksanakan di New Delhi, India,pada 18-25 Mei 2014. Targetnya pun tak main-main, juara.
 Target boleh tinggi, namun, seharusnya Indonesia juga melihat realistis. Janganlah menatap terlalu tinggi.
 Perjuangan dari babak penyisihan sudah berat. Okelah, Australia bisa dilewati dengan mudah. Namun, lain halnya dengan dua negara penghuni Grup X, Singapura dan Korea Selatan (Korsel).
 Dibandingkan Singapura, Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, bakal menjadi ganjaran terberat. Di nomor tunggal, mereka mempunyai dua wakil di ranking 10 besar yakni Sung Ji-hyun, ranking 5 dunia  dan Bae Yeon-ju (6).
Begitu juga di nomor ganda. Negeri yang beribukota Seoul tersebut punya dua pasangan di 10 besar. Mereka adalah Yang Ye-na/Kim So-young di ranking keenam  dan dua setrip di bawahnya ada Jung Kyung-eun/Kim Ha-na.
 Bukan hal yang mudah mencuri poin dari Korea Selatan. Untung,laga melawan negeri yang terbelah menjadi dua tersebut dilakukan di pertandingan terakhir grup X. Jika semua berjalan sesuai scenario, laga tersebut hanya menjadi laga perebutan juara dan runner-up grup.
 Singapura sendiri kekuatannya redup. Ini dikarenakan tunggal putri terbaik Negeri Singa, julukan Singapura, Gu Juan mundur dari tim.
  Praktis,waspada kehilangan poin di nomor ganda. Alasannya, Singapura mempunyai Shinta Mulia Sari/Yao Lei yang kini duduk di posisi 16. (*)

Lawan Indonesia di Penyisihan
Korea Selatan: Sung Ji-hyun  (5), Bae Yeon-ju (6), Kim Hyo-min (77),Kim So-young, Kim Ha-na, Yoo Hae-won, Jung Kyung-eun, Ko A-ra, Jang Ye-na

Singapura: Chen Jiayuan (58), Liang Xiaoyu (220), Yao Lei, Tan Wei Tan, Fu Mingtian, Yu Yan Vanessa, Shinta Mulia Sari

Australia: Tara Pilven (104), Verdet  Kessler (171), Joy Lai (190), Alice Wu (213), Jacqueline Guan, Gronya Sommerville, Renuga Veeran, He Tian Tang

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger