www.smashyes.com

www.smashyes.com

Setelah Roy Danu,Giliran Febri

Jumat, 26 September 2014


R. Fajar Kusuma menjadi ‘’pembunuh’’ pebulu tangkis Puslatda Jatim. Setelah menundukkan I Putu Roy Danu di babak kedua dengan 21-18, 21-8, kali ini giliran Febriyan Irvannaldy yang dipermalukannya dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Bali 2014.
 Secara mengejutkan, Febri, sapaan karib Febriyan Irvannaldy, menyerah dengan rubber game 17-21,22-20, menyerah kepada wakil Jaya Raya Jakarta itu dalam pertandingan babak ketiga yang dilaksanakan di GOR Lila Buana, Denpasar, pada Kamis waktu setempat (25/9). Dalam event di Pulau Dewata, julukan Bali, ini, sebenarnya Febri ditempatkan sebagai unggulan ketiga. Sementara Fajar di posisi kesembilan. Di ajang Sirnas 2014, Febri sudah dua kali menjadi juara yakni di Seri Sumatera Utara dan Seri Kalimantan Tengah.
 Dalam babak ketiga, Febri menjadi satu-satunya unggulan empat besar yang gagal menembus perempat final. Tiga unggulan lainnya, Sony Dwi Kuncoro, unggulan pertama dari Tjakrindo Surabaya, Alamsyah Yunus (unggulan kedua dari JR Enkei), dan Hermansyah (unggulan keempat dari Jaya Raya Jakarta) mampu menundukkan lawan-lawannya.
 Sony menundukkan Kho Hendriko Wibowo (Djarum Kudus) dengan straight game 21-14, 21-14, Alamsyah juga menang dua game 21-10, 21-19 atas Panji Akbar (Pelatprov DKI Jakarta), dan Hermansyah unggul 21-15, 21-19 atas wakil Puslatprov DKI lainnya M.Nizar.
 Bagi Sony, penampilannya di Bali merupakan debut di ajang sirnas. Ini disebabkan sejak berada di pelatnas Cipayung, dia selalu berlaga di ajang internasional.
 Sejak Juni 2014, Sony tak lagi menjadi penghuni pelatnas. Cedera membuat penampilannya dianggap sudah tak bisa lagi maksimal. (*)

Adi Pratama Naik 27 Setrip

Kamis, 25 September 2014

KEMAMPUAN Adi Pratama belum luntur.  Meski, dia sudah tak lagi  menjadi penghuni Pelatnas Cipayung.
 Buktinya, dia mampu menjadi runner-up nomor tunggal putra dalam Polandia International 2014. Dalam final yang dilaksanakan pada 20 September, Adi harus mengakui ketangguhan andalan tuan rumah Michal Rogalski dengan 9-11, 11-8, 6-11, 7-11. Ini menjadi capaian terbaik Adi selama ini.
 Namun, itu sudah cukup baginya untuk terkerek ke posisi 182. Ini melonjak 27 setrip dibandingkan pekan sebelumnya.
 Di Polandia International, Adi menjadi satu-satunya wakil Indonesia di ajang tersebut. Hanya, kedatangan dia bukan langsung dari Jakarta.
 Mulai tahun ini, Adi menjadi lawan tanding (sparring partnet) tim nasional Austria di Wina. Diharapkannya, dia mampu mengangkat kemampuan pebulu tangkis di negeri yang masuk belahan Benua Eropa tersebut.
 Secara skill, Adi layak diacungi jempol. Dia pernah menembus babak perempat final Kejuaraan Dunia Junior 2007. Dia seangkatan dengan juara dunia 2014 asal Tiongkok Chen Long dan andalan Jepang Kenichi Tago.
 Tahun lalu, Adi masih menancapkan kualitasnya dengan menjadi juara pada Piala Wali Kota Surabaya. Tahun ini, Austria juga sempat menaruh hati kepada Febriyan Irvannaldy untuk menjadi lawan tanding.
 Hanya, masalah nokteknis yang membuat Febri, sapaan karib Febriyan Irvannaldy, memilih tetap bergabung klub asalnya, Wima Surabaya. Lelaki asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, ini juga pernah menjadi penghuni Pelatnas Cipayung. (*)

Feinya Ayunkan Raket Lagi

Rabu, 24 September 2014

ANNEKE Feinya Agustin kembali mengayunkan raket. Pebulu tangkis kelahiran 11 Agustus 1992 itu turun dalam Sirkuir Nasional (Sirnas) Seri Bali 2014 yang dilaksanakan di Denpasar pada 22-27 September.
 Hanya, nama yang terdaftar ada sedikit perbedaan. Dia tampil dengan nama belakang Nugroho atau lengkapnya, Anneke Feinya Nugroho.
 Membela bendera klub asalnya, Jaya Raya, Feinya, sapaan karib Anneka Feinya Agustin eh Nugroho, tampil di dua nomor, ganda putri dan ganda campuran. Di ganda putri, mantan pebulu tangkis penghuni Pelatnas Cipayung tersebut berpasangan dengan Tike Arieda Ningrum asal Jaya Raya Suryanaga Surabaya.  Selama ini, Tike juga dikenal sebagai spesialis tunggal.  Sementara, di ganda campuran, Feinya juga menggandeng pebulu tangkis Jaya Raya Suryanaga Yodhi Satrio.
 Hampir setahun ini, Feinya menghilang dari hiruk pikuk bulu tangkis, baik nasional maupun internasional. Kali terakhir, dia mengayunkan raket dalam Indonesia Grand Prix Gold 2013. Saat itu, dia berpasangan dengan Ririn Amelia dan menyerah di babak kedua kepada unggulan keenam asal Singapura Yao Lei/Shinta Mulia Sari 19-21, 14-21. Setelah itu, dia batal tampil di Korea Grand Prix Gold 2013.
  Ternyata, Feinya sudah menikah dengan kekasihnya yaitu Ridho Bayu Nugroho. Selain itu, dia juga dikabarkan mengalami cedera yang membuat performanya terun menurun.
 Dia pun dipisahkan dengan pasangannya, Nitya Krishinda Maheswari.  Padahal, keduanya dikenal sebagai salah satu pasangan tangguh dengan salah satunya menduduki nomor 15 dunia pada 14 Maret 2013.
 Selain itu, pada 2011, Feinya/.Nitya meraih emas nomor ganda putri dalam SEA Games 2011 dan menjadi bagian tim putri saat meraih medali perak di ajang yang sama. (*)

Korea Selatan Ulangi Kenangan Manis 2002

KEGAGALAN Tiongkok di nomor beregu putra berlanjut. Kali ini, terjadi di ajang Asian Games 2014. Negeri Panda, julukan Tiongkok, dipaksa harus mengakui ketangguhan tuan rumah Korea Selatan dengan skor 2-3 pada pertandingan final yang dilaksanakan di Incheon pada 22 September 2014.
 Chen Long gagal memberi kemenangan bagi Tiongkok. Turun di tunggal pertama, juara dunia 2014 ini secara mengejutkan harus mengakui ketangguhan Son Wan-ho dengan rubber game 5-21, 24-22, 14-21. Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, memperbesar kemenangan menjadi 2-0 dari ganda.
 Pasangan nomor satu dunia Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong unggul 23-21 21-13 atas pasangan dadakan Xu Chen/Zhang Nan.Selama ini, Xu Chen dan Zhang Nan lebih dikenal sebagai pebulu tangkis spesialias ganda campuran.
 Lin Dan membuka harapan bagi Tiongkok. Juara dunia lima kali nomor tunggal putra tersebut menang straight game 21-18, 21-15 atas Lee Dong-keun.
 Pertandingan semakin memanas saat pasangan senior yang juga juara olimpiade asal Tiongkok Cai Yun/Fu Haifeng menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Mereka menundukkan pasangan nomor lima dunia Kim Gi-jung/Kim Sa-rang 19-21 21-18 21-16. Kemenangan ini juga berbau spekulasi. Alasannya, sejak November 2013, Cai Yun/Fu Haifeng tak pernah lagi dipasangkan.
 Nah, keraguan pun sempat merebak di kubu Korea Selatan. Mereka mengandalkan Lee Hyun-il yang kini usianya sudah tak muda lagi, 34 tahun.
 Lawan yang dihadapi pun 10 tahun lebih muda, Gao Huan. Namun, dengan kematangan yang dimiliki, Hyun-il mampu menang dua game langsung 21-14, 21-18. 
 Kemenangan ini mengulang peristiwa 2002. Saat itu, mereka mengalahkan Indonesia di babak final. Saat itu, Hyun-il juga masuk dalam tim.
 Indonesia sendiri tampil memalukan di nomor beregu. Mereka sudah terhenti di perempat final setelah ditundukkan Taiwan dengan skor 1-3.  Di Piala Thomas 2014, Tiongkok menyerah kepada Jepang di semifinal. (*)

Daftar juara beregu cabor bulu tangkis Asian Games


1962: Indonesia
1966: Thailand
1970: Indonesia
1974: Tiongkok
1978: Indonesia
1982: Tiongkok
1986: Korea Selatan
1990: Tiongkok
1994: Indonesia
1998: Indonesia
2002: Korea Selatan
2006: Tiongkok
2010: Tiongkok
2014: Korea Selatan

Sony Kembali ke Ajang Sirnas

ADA nama Sony Dwi Kuncoro di pentas Sirkuit Nasional (Sirnas) 2014 Seri Bali. Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut unjuk kekuatan dalam event yang dilaksanakan di Denpasar, Bali, yang dilaksanakan 22-27 September.
 Bahkan, Sony langsung ditempatkan sebagai unggulan teratas. Ranking dunianya yang kini 32 merupakan tertinggi dari semua peserta.
 Posisi ini membuat arek Suroboyo tersebut memperoleh bye di babak pertama yang digelar 23 September. Di babak kedua, Sony ditantang pebulu tangkis Mutiara Bandung yang di laga perdana menang WO atas Sigit Ahmad dari Musi Rawas.
 Sony terjun ke sirnas setelah tak lagi menjadi penghuni Pelatnas Cipayung. Mulai Juni, bapak dua anak ini dikembalikan ke klub asalnya, Suryanaga Surabaya.
 Alasannya, penampilannya masih labil dan dibekap cedera yang membuatnya tak bisa tampil optimal. Ini membuat Sony harus meninggalkan pelatnas Cipayung yang sudah dihuninya sejak 2002 atau 12 tahun lalu.
 Namun, di Sirnas Bali ini, Sony tak membela bendera Suryanaga. Pebulu tangkis yang memperoleh perunggu pada Olimpiade Athena 2004 itu berkostum Tjakrindo Surabaya.
 Penampilannya di sirnas  ini menjadi penampilan keduanya dengan bendera mandiri. Kali pertama, Sony berlaga dalam Indonesia Grand Prix Gold 2014 yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, pada September lalu.
 Sayang, dia harus tersingkir di babak ketiga turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut. Secara mengejutkan, Sony kalah oleh pebulu tangkis muda Rifan Fauzin Ivanudin dengan dua game langsung 23-25, 22-24. 
 Dari undian yang ada di Sirnas Bali, Sony diskenariokan bertemu dengan unggulan kedua Alamsyah Yunus. Dari empat kali pertemuan, Sony  hanya kalah sekali. (*)

Hore, Firman Akhirnya Punya Ranking Senior

Jumat, 19 September 2014


HASIL Indonesia Grand Prix Gold 2014 memberikan dampak yang signifikan kepada Firman Abdul Kholik. Pebulu tangkis Pelatnas Cipayung ini akhirnya mempunyai ranking dunia di level senior.
 Tak tanggung-tanggung, dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 18 September 2014, Firman langsung duduk di ranking 246 dunia. Padahal, pekan lalu, lelaki 17 tahun tersebut belum mempunyai ranking.
 Dari Indonesia Grand Prix Gold 2014, Firman pulang dengan membawa poin 5950. Ini disebabkan dia mampu menembus final dalam turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut. Sayang, di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, pada 14 September, Firman harus mengakui ketrangguhan Pronny HS, unggulan kelima dari India, dengan 11-21, 20-22.
 Bagaimanapun, capaian yang ditorehkan pebulu tangkis binaan Mutiara Bandung, Jawa Barat, tersebut tetap perlu mendapat acungan jempol. Dia mengawali Indonesia Grand Prix Gold dari babak kualifikasi.
 Lawan-lawan yang dikalahkannya pun bukan pebulu tangkis kacangan. Di babak pertama, Firman menundukkan Jonatan Christie, yang kini menjadi tunggal ketiga di Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Kemudian, di babak kedua, giliran unggulan kesepuluh asal Hongkong Tam Chun Hei yang dipermalukannya.
 Pebulu tangkis senior, Andre Kurniawan Tedjono, pun takluk di babak ketiga. Setelah itu, Thomi Azizan Mahbub asal Indonesia pun dipulangkannya. Tiket di final berada di tangannya usai melibas pebulu tangkis Malaysia Zulfadli Zukiffli.
 Sepekan sebelumnya, Firman menjuarai turnamen Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2014. Hanya, kemenangan itu tak memberiknya poin di kategori senior.(*)

Kali Pertama Tangani Tunggal Putri

Kamis, 18 September 2014


BUDI Santoso dikenal sebagai pebulu tangkis tunggal putra andalan Indonesia. Namanya pun terukir saat Indonesia meraih Piala Thomas di awal decade 2000-an.
 Setelah pensiun, Budi pun terjun sebagai pelatih di nomor tunggal di klub Mutiara Bandung. Pada 2013, namanya pun masuk dalam jajaran pelatih Pelatnas Cipayung.
Tugasnya, tetap menangani tunggal putra. Hanya, bukan di level atas atau kategori prestasi. Bapak dua anak ini dipercaya memoles kelompok potensi atau yang dulu dikenal dengan nama pelatnas pratama.
 Namun, kini, tugas baru diemban Budi. Mulai September 2014, dia dipasrahi memoles tunggal putri.
 ‘’Saya belum pernah jadi pelatih putri. Ini kali pertama saya menangani tunggal putri,’’ kata Budi.
 Di sektor kaum hawa ini, suami mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung Eni Widiowati tersebut bakal bekerja sama dengan Sarwendah dan Bambang Supriyanto.
‘’Tapi, saya akan tetap jalani dan bisa memberikan apa yang diinginkan PP PBSI,’’ ungkap Budi.
 Meski, dia mengakui bukan tugas mudah. Saat ini, dari lima nomor yang ada,nomor tunggal putri, dianggap paling lemah.
 Bahkan, kekuatannya di Asia Tenggara bukan lagi yang pertama. Indonesia sudah kalah dibandingkan Thailand.
 Negeri Gajah Putih itu pada 2013 telah melahirkan juara dunia melalui Rachanok Intanon. Ironisnya lagi, tahun ini, gelar juara tunggal putri disabet wakil Spanyol Carolina Marin. Pebulu tangkis Negeri Matador, julukan Spanyol, ini tahun lalu menimba ilmu di Pelatnas Cipayung. (*)

Hanya Ada Adi Pratama


INDONESIA masih punya wakil di Polandia International Series. Adi Pratama akan tampil di nomor tunggal putra dalam event yang dilaksanakan di Lubin mulai 18 September ini.
 Memang, tak seperti rekan-rekannya kebanyakan, Adi memang tak langsung terbang dari Jakarta. Ini disebabkan sudah hampir setahun ini, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut menjadi sparring partner tim nasional Austria.
 Posisi itu pula yang membuat lelaki 20 tahun tersebut sering berkelana Eropa dari satu turnamen ke turnamen lain. Kali terakhir, Adi berlaga dalam Spanyol Internasional Series.
 Hasilnya, dia mampu menembus babak final. Sayang, langkahnya dihentikan rekannya sendiri asal Indonesia namun membela bendera Italia Indra Bagus Ade Candra.
 Sementara, di Polandia International Series 2014, Adi juga kurang beruntung dalam undian. Pada babak pertama, dia langsung bertemu dengan unggulan kelima asal Malaysia Beryno Jiann.
 Pertemuan ini bisa menjadi ajang Adi untuk balas dendam. Pada Portugal International Series  pada Maret lalu, dia kalah.
 Secara ranking, Adi memang kalah. Dia ada di posisi 197. Sementara lawannya di ranking 123.
  Di nomor tunggal putra ini, unggulan teratas di duduki pebulu tangkis tuan rumah Michal Rogalski. Tahun lalu, gelar juara jatuh ke tangan Lin Yu Hsien dari Taiwan yang di final mengalahkan compatriot (rekan senegara) Wang Tzu Wei 21-19, 21-16.
 Pada 2013 itu, Indonesia sempat meloloskan wakilnya Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana di nomor ganda putra. Pasangan asaln Suryanaga, Surabaya, itu takluk 24-22, 14-21, 14-21 kepada Chen Chung Jen/Wang Chi-Lin (Taiwan). Kemenangan itu juga membuat Taiwan mampu menyapu bersih lima gelar. (*)

Bukti Firda Masih Ada

Selasa, 16 September 2014


ADRIYANTI Firdasari sudah lupa rasanya menjadi juara. Bahkan, bisa jadi, dia sudah lupa kapan kali terakhir, perempuan 28 tahun tersebut naik ke podium terhormat.
 Namun, rasa lupanya itu bakal terhapus setelah mengalahkan sesama pebulu tangkis Indonesia yang juga sama-sama berasal satu klub dengannya di Jaya Raya Ruselli Hartawan. Firda, sapaan karib Adriyanti Firdasari, menang dua game langsung 21-14, 21-14 dalam final tunggal putri Indonesia Grand Prix Gold 2014 yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan,Minggu (14/9).
 Tercatat, kali terakhir, Firda menjadi juara di Belanda dan Bulgaria. Itu pun bukan dalam turnamen besar sekelas grand prix.
 Apalagi, dalam dua tahun terakhir. Pebulu tangkis binaan Jaya Raya Jakarta tersebut jadi langganan tumbang pada babak-babak awal.
 Tak heran, jika akhirnya PP PBSI pun mengambil keputusan tegas. Firda dipaksa meninggalkan Pelatnas Cipayung yang sudah dihuni hampir 10 tahun.
 Untung, keputusan itu tak membuat dia patah semangat. Dia tetap bisa membuktikan kualitasnya.
 Di Malaysia Grand Prix 2014, Firda mampu menembus babak final. Sayang, perempuan 28 tahun itu gagal menjadi juara setelah dikalahkan Yao Xue dari Tiongkok 18-21, 8-21.
 PP PBSI pun kembali memakai tenaganya dalam Piala Uber 2012 yang dilaksanakan di New Delhi, India. Selama dua kali berlaga, dia selalu menyumbangkan kemenangan bagi merah putih.
Hasil di Palembang pun kembali membuktikan bahwa Firda masih ada. Meski, dia sudah tak lagi menjadi penghuni pelatnas. (*)

Firda setelah tak di Pelatnas Cipayung
1.Malaysia Super Series Premier 2014:Babak I
2.Malaysia Grand Prix Gold 2014: Finalis
3.Singapura Super Series 2014: Babak II
4. Indonesia Super Series Premier 2014: Babak II
5.Australia Super Series 2014: Babak II
6.Taiwan Grand Prix 2014: Perempat final
7.Vietnam Grand Prix 2014: Perempat final
8. Indonesia Grand Prix Gold 2014: Juara

Selvanus/Kevin Belum Habis

Minggu, 14 September 2014


PASANGAN Selvanus Geh/Kevin Sanjaya sempat memberikan harapan. Mereka langsung menjadi juara dalam dua turnamen yang diikuti yakni Vietnam Challenge 2014 dan Selandia Baru Grand Prix 2014.
 Di Vietnam, mereka mampu mengalahkan pasangan Australia Robin Middleton/Ross Smith dengan 21-14, 21-13 (30/3). Kemudian, pada 19 April di Auckland, Selandia Baru, Selvanus/Kevin menumbangkan unggulan kedua dari Taiwan Chen Hung Ling/Lu Chia Pin 15-21, 23-21, 21-11.
 Sayang, setelah itu, kegagalan demi kegagalan mengiringi pasangan beda klub, Wima Surabaya/Djarum Kudus. Kalah di babak-babak awal sudah menjadi langganan.
 Namun, di Indonesia Grand Prix Gold 2014, harapan juara kembali terbuka. Selvanus/Kevin mampu menembus babak final. Pada babak semifinal yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Utara, Sabtu (13/9), mereka mampu mengalahkan pasangan Taiwan yang diunggulkan di posisi kedelapan Huang Po Jui/Lu Ching Yao dengan dua game 21-18, 21-11.
 Kemenangan ini membuat Selvanus/Kevin menantang unggulan teratas yang juga berasal dari Indonesia Markis Kido/Markus Gideon yang di semifinal melibas pasangan senegara Ade Yusuf/Wahyu Nayaka 21-13, 21-19.  Pertandingan final ini menjadi pertemuan perdana Selvanus/Kevin dengan lawannya yang kini duduk di posisi 10 dunia tersebut.
 ‘’Kami berusaha memenangkan pertandingan final,’’ jelas Selvanus melalui pesan singkatnya. (*)

Beban di Pundak Firman

Sabtu, 13 September 2014


FIRMAN Abdul Kholik tak pernah membayangkan dirinya bisa menembus final Indonesia Grand Prix  Gold 2014.  Bagaimana tidak, turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut menjadi debutnya tampil di ajang senior.
 Apalagi, di kelompok senior, Firman tidak mempunyai ranking dunia. Ini pula yang membuatnya harus merangkak dari babak kualifikasi Indonesia Grand Prix Gold.
 Namun, kemenangan dua game langsung 21-17, 21-15 atas Zulkiffli Zulfadli dari Malaysia di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu WIB (13/9) membuat Firman pun menjadi tumpuan harapan bisa menjadi juara tunggal putra. Sekaligus melestarikan tradisi bahwa gelar juara nomor bergengsi tersebut selalu menjadi milik Indonesia setelah Taufik Hidayat pada 2010, Dionysius Hayom Rumbaka (2011), Sony Dwi Kuncoro (2012), dan Simon Santoso (2013).
 Pada babak final, Firman akan menjajal ketangguhan Prannoy HS. Unggulan kelima dari India itu lolos setelah menundukkan Daren Liew (Malaysia) dengan rubber game 21-14, 14-21, 21-14. Jika mampu menang atas Prannoy, Indonesia bakal menyapu semua gelar.Ini disebabkan di empat nomor lainnya, terjadi final sesama wakil Indonesia (All Indonesian Finals).  Sejak dilaksanakan pada 2010, Indonesia belum pernah menggondol empat gelar apalagi sampai sapu bersih.
 Firman sendiri pekan lalu juga menjadi juara. Hanya, levelnya junior yakni Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya. (*)

Jadwal final Indonesia Grand Prix Gold 2014
Tunggal putra; Firman Abdul Kholik (Indonesia)  v Prannoy HS (India x5)

Tunggal putri: Adriyanti Firdasari (Indonesia x3) v Ruselli Hartawan (Indonesia)

Ganda putra: Markis Kido/Markus Gideon Fernaldi (Indonesia x1) v Selvanus Geh/Kevin Sanjaya (Indonesia x5)

Ganda putri: Vita Marissa/Shendy Puspa Irawati (Indonesia x3) v Keshya Nurvita/Devi Tika (Indonesia x4)

Ganda campuran: Riky Widianto/Richi Dili Puspita (Indonesia x1) v Muhammad Rijal/Vita Marissa (Indonesia x2)

X=unggulan  

Kini, Firman Tinggal Sendirian


INDONESIA akhirnya hanya mempunyai satu wakil di nomor tungga putra. Menariknya, asa juara tersebut dibebankan kepada pebulu tangkis yang masih berstatus junior, Firman Abdul Kholik.
 Itu setelah tiga rekannya bertumbangan di babak perempat final. Ya, Riyanto Subagja, Thomi Azizan Mahbub, dan Rifan Fauzin Ivanudin menyerah kepada lawan-lawannya.
 Riyanto, yang diunggulkan di posisi ke-15, kalah 13-21, 19-21 kepada Prannoy H.S, unggulan kelima dari India, dalam pertandingan yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang,Sumatera Selatan, pada Jumat WIB.  Sedang Thomi menyerah kepada Firman dengan rubber game 21-14, 14-21, 21-14, dan Rifan kalah oleh wakil Malaysia Zulkiffli Zulfadli 19-21, 12-21.
 Pada babak semifinal, Firman akan menantang Zulkiffli. Secara ranking, pebulu tangkis negeri jiran tersebut unggul jauh. Dia ada di posisi 74 sementara Firman belum mempunyai ranking di level senior. Di junior, dia hanya berada di posisi 62.
  Firman sendiri tampil di Indonesia Grand Prix Gold 2014 dari babak kualifikasi. Setelah pekan lalu, dia mampu menjadi juara dalam Jaya Raya Indonesia Junior Challenge 2014 di GOR Sudirman,Surabaya.
 Pada babak sebelumnya, dua unggulan teratas asal Indonesia, Dionysius Hayom Rumbaka dan Sony Dwi Kuncoro, sudah tumbang. Tahun lalu, gelar juara jatuh ke tangan Simon Santoso yang tahun ini absen. (*)

Jalan Lapang Masuk 20 Besar Dunia

Jumat, 12 September 2014

POSITIF:Muhammad Rijal/Vita Marissa (foto:djarum)

PERINGKAT Muhammad Rijal/Vita Marissa terus terkerek naik. Dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 11 September 2014, mereka ada di posisi 21 dunia.
 Artinya, Rijal/Vita melonjak enam tingkat dari pekan sebelumnya. Ini tak lepas dari hasil yang diraih dalam Vietnam Grand Prix 2014.
 Dalam event yang menyediakan hadiah total USD 50 ribu itu, Rijal/Vita mampu menjadi juara. Pada pertandingan final yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City Minggu (31/8) itu, mereka mengalahkan pasangan Indonesia lainnya, Irfan Fadilah/Weni Anggraini, 21-18, 21-10.
 Kemenangan itu membuat Rijal/Vita mengantongi poin 5.500 yang ikut melambungkannya enam tingkat. Bahkan, tak menutup kemungkinan, posisi tersebut bakal menembus 20 besar dunia.
 Alasannya, saat ini, keduanya tengah berlaga dalam Indonesia Grand Prix Gold 2014. Dalam kejuaraan yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, langkah Rijal/Vita sudah sampai perempat final.
 Jalan ke semifinal pun semakin lapang. Ini dikarekan Rijal/Vita berhadapan dengan juniornya Lukhi Apri Nugroho/Masita Mahmudin.
 Tahun ini, selain di Vietnam Grand Prix, Rijal/Vita juga menjadi juara di Indonesia Challenge. Amerika Serikat Grand Prix Gold, dan Osaka Challenge.  (*)

Pasangan Indonesia di atas Rijal/Vita (ranking BWF per 11 September 2014)
4.Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir
10. Markis Kido/Pia Zebadiah
17. Riky Widianto/Richi Dili Puspita
18.Praveen Jordan/Debby Susanto

Kejutan Firnan Terus Berlanjut

KEJUTAN: Firman A.K 

LAJU Firman Abdul Kholiq belum terhenti. Kini, langkahnya sudah sampai babak perempat final Indonesia Grand Prix Gold 2014.
 Padahal, lelaki 17 tahun tersebut tampil dalam turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut dari babak kualifikasi. Namun, ternyata, penampilan Firman diluar dugaan.
 Dari babak kualifikasi, dia mampu menundukka rival beratnya di level junior, Krisna Adi dari Jaya Raya, dengan 21-15, 21-16. Kemudian, di babak pertama, Firman mempermalukan rekannya di pelatnas yang digadang-gadang bakal jadi tunggal putra andalan Indonesia, Jonatan Christie, dengan rubber game 17-21, 21-18, 21-18.
 Sabetan raketnya pun kembali memakan korban. Di babak kedua, Firman menjungkalkan unggulan kesepuluh asal Hongkong lewat straight game 21-17, 21-14.
 Nah, tiket ke perempat final pun di tangan usai menundukkan unggulan kedelapan Andre Kurniawan Tedjono. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung ini dikalahkan 21-18, 18-21, 21-10.
 Bahkan, tak menutup kemungkinan, Firman bisa melaju ke semifinal. Alasannya, lawan yang dihadapinya pun ‘’hanya’’ pebulu tangkis Indonesia Thomi Azizan Mahbub.
 Hanya, Thomi di babak ketiga juga membuat kejutan dengan menundukkan unggulan keempat asal India Anand Pawar dengan 22-20, 21-19. Firman dan Thomi belum pernah bertemu di ajang turnamen internasional. (*)

Dua Unggulan Teratas Tumbang

KALAH: Sony Dwi Kuncoro (foto:sidiq)

HARAPAN juara tunggal putra sempat diletakan di pundak Dionysius Hayom Rumbaka. Alasannya,mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut diunggulkan di posisi teratas. Apalagi, lelaki yang akrap disapa Hayom itu baru saja menjuarai nomor tunggal putra dalam Vietnam Grand Prix 2014 pekan lalu.
 Namun, kejutan membuat asa tersebut sirna. Hayom dipaksa menyerah straight game 20-22, 14-21 kepada Liew Daren dari Malaysia pada babak ketiga Indonesia Grand Prix Gold 2014 yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang, pada Kamis waktu setempat (11/9).
 Sebelumnya, rekor pertemuan kedua pebulu tangkis memang imbang 1-1. Hayom menang di Indonesia Grand Prix Gold 2010. Namun, Daren mampu membalasnya dua tahun kemudian di Hongkong Super Series.
 Di perempat final, Daren , yang diunggulkan di posisi kesembilan, akan menjajal Sai Praneeth asal India. Pada babak sebelumnya, dia menjinkkan rekan senegaranya, Ajay Jayaram, dalam pertarungan tiga game 21-16, 14-21, 23-21.
 Menariknya, kekalahan bukan hanya dialami Hayom. Unggulan kedua, Sony Dwi Kuncoro, juga ikut tumbang.
 Lelaki yang juga pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut dikalahkan pebulu tangkis muda Rifan Fauzin Ivanudin dengan dua game 23-25, 22-24. Bagi Sony, penampilan di Indonesia Grand Prix merupakan debutnya setelah terpental dari pelatnas.
 Untuk bisa menembus semifinal, Rifan, yang kini berada di posisi 191, bakal menantang Zulkifli Zulfadli. Lelaki asal negeri jiran itu lolos berkat kemenangan 21-15, 21-14 atas Huang Chao (Singapura). Bagi Rifan dan Zulkifli, pertemuan nanti bakal jadi pertarungan perdana. (*)

Firman Bikin Malu Jonatan Christie

Kamis, 11 September 2014

Jonatan Christie (foto;sidiq)
FIRMAN Abdul Kholiq tak boleh dipandang sebelah mata lagi. Dia mampu membuktikannya dalam Jaya Raya Indonesia Junior Challenge 2014 yang dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur, 25-31 Agustus lalu.
Kini, Firman kembali menyedot perhatian. Pebulu tangkis potensi Pelatnas Cipayung itu menundukkan rekannya yang lebih pengalaman Jonatan Christie dengan rubber game 17-21, 21-18, 21-18 pada pertandingan babak pertama Indonesia Grand Prix Gold 2014 yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, pada Rabu (10/9) waktu setempat.
Secara ranking, Firman jauh di bawah Jonatan Christie. Dari ranking terakhir yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), dia belum terdaftar sementara Jonatan di posisi 139. Selain itu, Jonatan tahun lalu pernah meraskan gelar juara di level senior dengan memenangi Indonesia Challenge.
Kemenangan atas Jonatan pun membuat Firman menantang unggulan kesepuluh Tham Chun Hei. Pada babak pertama, lelaki asal Hongkong ini menang dua game 21-15, 21-18 atas Viky Anindita (Indonesia).
Firman sendiri tampil di Indonesia Grand Prix Gold dari babak kualifikasi. Pebulu tangkis binaan Mutiara Bandung itu menembus babak elite setelah menundukkan saingan beratnya Krisna Adi dari Jaya Raya. (*)

Belum Terlalu Susah buat Sony

Sony 
AWAL manis bagi Sony Dwi Kuncoro. Dia menang mudah dua game 21-10,21-12 atas sesama pebulu tangkis Indonesia Wahyu Triansyah dalam pertandingan babak pertama Indonesia Grand Prix Gold 2014 yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, pada Rabu WIB (10/9).
Di atas kertas, Sony memang lebih diunggulkan. Dia menempati unggulan dan saat ini duduk di peringkat 29 dunia. Sementara, Wahyu masih ada di ranking 796.
Di babak kedua, arek Suroboyo itu akan ditantang Alrie Guna Dharma. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu menundukkan wakil Malaysia Lim Zhen Ting dengan straight game 21-11, 21-12. Di ajang internasional, Sony belum pernah bersua dengan Alrie.
Bagi Sony, penampilannya di Indonesia Grand Prix ini menjadi debutnya sebagai pebulu tangkis profesional. Usai Indonesia Super Series 2014 pada Juni lalu, PP PBSI memulangkan Sony ke klub asalnya, Suryanaga, Surabaya.
Setelah tak lagi di pelatnas tapi tetap tak melunturkan pamor bapak dua anak ini.Buktinya, Sony sudah diikat sponsor Tjakrindo dan sebuah perusahaan apparel.
Sony mengakui dia tampil tanpa beban. Hanya, dia berharap bisa mengukir prestasi untuk mengembalikan nama besar. (*)

Pengprov Jatim Gandeng Toko Kacamata

Rabu, 10 September 2014

SPONSOR: Wijanarko (kanan) dan Nursalim (foto;sidiq)
SATU lagi sponsor datang ke Pengprov PBSI Jatim. Optik Nusa akan menjadi pendukung dalam Kejuaraan Kota/Kejuaraan Kabupaten PBSI se-Jatim pada 2014 ini.
Dalam setiap kejuaraan, perusahaan yang bergerak di bidang kacamata itu akan memberikan bantuan Rp 2,5 juta.Hanya, pemkot/pengkab tak menerima utuh.  Rp 500 ribu dipergunakan untuk pembelian majalah.
Penandatanganan kesepakatan antara Pengprov PBSI Jatim dengan Optik Nusa dilakukan di Sekretariat Pengprov PBSI Jatim di GOR Sudirman, Surabaya,pada Selasa siang (9/9). Pengprov PBSI langsung diwakili ketua umumnya  Wijanarko Adi Mulya dan Optik Nusa diwakili pemiliknya Nursalim.
Sebelumnya, beberapa sponsor juga mendukung Kejurkot/Kejurkab seperti Djarum dan Tjakrindo. Dalam tahun ini, bakal digelar 38 kejurkot/kejurkab.(*)

Uji Kemampuan hingga Johor Bahru

KE NEGERI JIRAN: Irvannaldy (kanan)
TIM Bulu Tangkis Mahasiswa Indonesia dapat bekal penting. Mereka baru saja mengalahkan anak asuh Rashid Sidek dalam pertandingan uji coba di Johor Bahru, Malaysia, akhir Agustus lalu.
 "Kami berada di Johor pada 21-26 Agustus. Salah satunya dengan uji coba menang 5-0," kata Febriyan Irvannaldy, salah satu skuad Indonesia.
Febri, sapaan karib Febriyan Irvannaldy, turun sebagai tunggal pertama. Dia menang 21-19, 21-12 atas M. Syawal, yang pernah masuk pelatnas junior Malaysia.
 Selama di negeri jiran, Indonesia juga melakukan dua kali latihan bersama. Di Malaysia, anak asuh Hera itu membawa 14 pebulu tangkis. Mereka berangkat bersama beberapa cabor seperti bola voli dan sepak takraw.
Selama di Johor, tambah Febri, hanya mematangkan teknik. Rencananya, mereka akan turun di Palembang, Sumatera Selatan, pada Desember mendatang. (*)

Beberapa Personel Tim Mahasiswa Indonesia

Tunggal Putra; Febriyan Irvannaly, Senatria Agus, Bandar Sigit

Tunggal Putri; Megawati

Ganda Putra: Riyo Yulianto, Faizal, Kevin Sanjaya,

Ganda Putri: Nur Beta, Dea Riska, Sri Wulansari

Ganda Campuran; Ariyanto

Mati Lampu, hanya Laksanakan Pembukaan

VENUE: GOR Sudirman,Surabaya (foto:sidiq)
SUASANA GOR Sudirman, Surabaya, pada Selasa siang (9/9) sudah sepi. Padahal, sesuai jadwal, gedung yang berada di kawasan Kertajaya itu digelar Kejuaraan Kota (Kejurkot) Piala KONI 2014.
 Apa sudah selesai? "Belum ada pertandingan. Tadi hanya acara pembukaan yang dilakukan Ketua Pengprov PBSI Jatim Wijar (Wijanarko Adi Mulya)," kata Sekretaris Pemkot PBSI Surabaya Nanang Hidayat.
 Selain itu, tidak ada pertandingan Kejurkot Piala KONI dikarenakan adanya edaran dari PLN. Isinya,    wilayah di sekitar GOR Sudirman aliran listriknya bakal dipadamkan.
"Ini sudah kami sebarkan ke para peserta kejurkot. Mereka mau mengerti," terang dia.
 Imbasnya, dia menyadari jadwal pertandingan bakal padat. Apalagi, venue yang dipergunakan hanya satu.
 Dalam kejurkot 2014, peserta yang ikut menembus 425 pebulu tangkis dari 19 klub. Tahun lalu, juara umum jatuh ke tangan Suryanaga.
"Sedangkan kelompok yang dipertandingkan dari usia dini hingga taruna. Nomor dewasa memang tidak digelar," jelas Nanang. 
 Juara akan mewakili Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dalam ajang Kejurprov yang dilaksanakan di Probolinggo. (*)

Badminton Lovers Rambah Jawa Timur

Edy Prayitno (foto:sidiq)
PENGGEMAR bulu tangkis di Jawa Timur punya wadah. Itu setelah Pengprov PBSI daerah tersebut merilis Badminton Lovers.
"Sebenarnya, bukan Surabaya yang pertama. Malang sudah kami bentuk dengan ketuannya Wali Kota Malang," kata Edy Prayitno, Kabid Pengembangan Komunitas PP PBSI.
Menurutnya, ini membuat bulu tangkis mampu berkembang karena kepeduliannya kepada olahraga bulu tepok tersebut. Bahkan, program latihan Pemkot Malang pun bisa berjalan lancar setelah sebelumnya tersendat-sendat.
"Total baru enam Pengprov yang sudah ada. Ini Jatim jadi provinsi ketujuh. Sekarang jumlahnya total sudah 11 ribu," ucap Edy.
Lelaki yang juga Sekum Pengprov PBSI itu menambahkan, untuk Jatim bakal dikoordinir  Arif Sosiawan. Hanya, lelaki yang juga ketua Siwo PWI Jatim tersebut belum pasti menjadi ketua Badminton Lovers Jatim.
"Ada pejabat yang akan memimpin Badminton Lovers. Kami akan menghadap beliau dalam waktu dekat," tambah Edy.
  Badminton Lovers nanti, lanjut dia, juga akan akan mendapat kemudahan dengan kartu yang dimiliki. Salah satunya saat menyaksikan pertandingan bulu tangkis level nasional dan internasional.
"Jadi juga memudahkan pengkordiniran untuk memberikan dukungan. Ini merupakan wadah resmi," tambah Edy. (*)

Kembali Bertemu untuk ke Babak Utama

Selasa, 09 September 2014


GELAR juara baru saja digapai Firman Abdul Kholiq. Tunggal putra potensi Pelatnas Cipayung tersebut mampu mengalahkan Panji Ahmad Maulana asal Mutiara Bandung di laga final Jaya Raya Indonesia Junior International 2014 di GOR Sudirman, Surabaya, pada 31 Agustus lalu.
 Namun, moment berharga yang membuatnya naik ke podium terjadi saat di babak semifinal. Firman, yang juga didikan Mutiara Bandung, menundukkan rival beratnya, Krisna Adi Nugroho dari Jaya Raya, dengan 21-19, 21-18 di babak semifinal sehari sebelumnya.
 Kemenangan dalam pertarungan yang memakan waktu 55 menit tersebut menjadi ajang balas dendam Firman. Kali terakhir, Krisna menundukkanya di ajang Masters akhir tahun lalu.
 Namun, belum sebulan, keduanya bakal kembali adu kekuatan. Hanya, kini, mereka berdua bukan lagi berjumpa di level junior.
 Firman akan coba kembali melewati Krisna, yang sebelumnya berkaos Suryanaga Surabaya, pada babak kualifikasi Indonesia Grand Prix Gold 2014.  Pemenang laga dua pebulu tangkis junior merah putih di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, pada Selasa (9/9), akan langsung menembus babak utama.
 Hanya, untuk bicara juara bagi Firman dan Krisna masih terlalu jauh. Di level senior, keduanya masih belum apa-apa. Bisa lolos ke babak kedua sudah menjadi catatan khusus bagi Firman dan Krisna.  Di level senior, Krisna mempunyai ranking 1660 sedangkan Firman belum tercatat di BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).
 Dalam Indonesia Grand Prix Gold 2014 nomor tunggal putra, unggulan teratas ditempati Dionysius Hayom Rumbaka dari Indonesia serta rekannya yang sama-sama pernah menempati Pelatnas Cipayung, Sony Dwi Kuncoro, di posisi kedua. (*)

Jadi Lokomotif Kebangkitan Bulu Tangkis Indonesia

AYO KERJA: Nusron Wahid (kiri) dan Wijanarko

KEPENGURUSAN Pengprov PP PBSI Jatim resmi dilantik.  Wakil Ketua Umum PP PBSI Nusron Wahid telah mensahkan  kepemimpinan kepada Wijanarko Adi Mulya dalam sebuah acara di GOR Sudirman, Surabaya, pada 31 Agustus lalu.
 Di tangan Wijar, sapaan karib Wijanarko Adi Mulya, diharapkan Jatim mampu menjadi lokomotif kebangkitkan bulu tangkis Indonesia dengan pembinaan yang diawali dari daerah. Apalagi, sebelumnya, provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut dikenal sebagai gudang lahirnya para pebulu tangkis papan atas Indonesia di setiap dekade. Sebut saja Rudy Hartono, Tony Gunawan, hingga Sony Dwi Kuncoro.
 Wijar pun siap menerim tantangan tersebut. Salah satu program yang bakal dilaksanakannya adalah memperbanyak turnamen. Event tersebut bukan hanya untuk kelompok dewasa tapi juga mulai usia dini.
 ‘’Kejurkab dan kejurkot menjadi ujung tombak untuk mencetak pebulu tangkis handal. Setiap pengkab/pengkot setiap tahun akan turun menggelar kejuaraan di wilayahnya,’’ ucap Wijar. (*)

Habis Taiwan, Kini Vietnam

Senin, 08 September 2014


MERAIH dua gelar beruntun dalam turmamen kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) bukan hal yang mudah. Namun, itu mampu dilakukan oleh Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan.
 Pada Minggu (7/9), keduanya mampu menjadi juara nomor ganda putra dalam Vietnam Grand Prix Gold 2014. Pada pertandingan final di Ho Chi Minh City, Andrei/Hendra mampu mengalahkan pasangan Jepang Kenta Kazuno/Kazushi Yamada dengan rubber game 15-21, 23-21,21-17.
 Sebenarnya, kemenangan ini di luar dugaan. Alasannya, dalam turnamen yang meyediakan hadiah total USD 50 ribu tersebut, mereka hanya diunggulkan di posisi ketujuh.
 Unggulan teratas ditempati pasangan Indonesia lainnya yang turun dengan bendera Pelatnas Cipayung Ade Yusuf/Wahyu Nayaka.  Oleh Andrei/Hendra, kandidat juara tersebut dipermalukan di perempat final dalam pertarungan rubber game 21-16, 13-21, 21-17.
 Kemudian, di semifinal, pasangan yang sama-sama pernah ditempa di Pelatnas Cipayung itu menundukkan rekannya di Djarum Kudus Yohanes Rendy Sugiarto/Afiat Yuris Wirawan dengan straight game 21-13, 22-20.
 Sebelumnya, di Taiwan Grand Prix Gold, Andrei/Hendra juga menjadi juara. Mereka menang atas pasangan Tiongkok Junhui Li/Liu Yuchen. Kemengan itu melambungkan Andrei/Hendra puluhan tingkat.
 Kini, keduanya berada di ranking 64 dunia. Namun, tak menutup kemungkinan, hasil dari Vietnam Grand Prix 2014, bakal melambungkan pasangan yang baru bergabung pada tahun ini tersebut melonjak lagi. (*)

Dulu, Pegang Raket pun Tak Bisa

KARIR: Lia (kiri) dan Sony Dwi Kuncoro (foto:sidiq)

TUGAS  Piala Thomas 2006 di Jepang, Makau Open 2007, dan Indonesia  Super Series Premier 2014 merupakan event yang pernah dipimpinnya. Ketiganya juga bukan event kelas kacangan.
 Namun, siapa sangka, wasit yang bertugas di ajang tersebut, Qomarul Lailia, ternyata bukan seorang pebulu tangkis. Dia merupakan seorang guru.
 "Gurunya pun juga bukan guru olahraga. Saya guru bahasa Inggris," kata Lia, sapaan karib Qomarul Lailia.
  Dia bisa berkecimpung di olahraga tepok bulu atas ajakan rekannya yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Hanya, rekannya tersebut menangani bidang olahraga.
 "Rekan melihat bahasa Inggris saya akan sangat bermanfaat kalau menjadi wasit bulu tangkis. Dia pula yang mengajari saya menjadi wasit," ungkap Lia.
  Dia pun nekat menerima tawaran rekannya untuk berkecimpung di olahraga tepok bulu tersebut. Padahal, perempuan lulusan Stieba Satya Widya (dulu ABA) itu pegang raket pun tidak bisa.
  "Saya  belajar teori yang kemudian dipraktekan di lapangan.
 Pekan Olahraga dan Seni Sekolah Dasar (Porseni SD) se Surabaya, Jawa Timur, 1998 menjadi tugas perdananya di ajang resmi. Lia dipercaya menjadi hakim garis.
  "Setelah itu, pada 2000, saya mendapat linsensi dari  Penprov PBSI Jatim dan lisensi nasionalnya pada  2003," tambah Lia.
 Sertifikasi BAC (Asosiasi Bulu Tangkis Asia) diperolehnya pada 2007. Kini, guru SD Ketintang 1, Surabaya, Jawa Timurm itu pun ingin mencari lisensi yang lebih tinggi.
"Saya mau ikut tes BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Semoga secepatnya dapat saya peroleh," pungkas Lia. (*)

Hayom Ikuti Jejak Simon


TERPENTAL dari Pelatnas Cipayung tak selamanya membuat pebulu tangkis habis. Simon Santoso sudah membuktikannya.
 Dia mampu bersinar lagi dengan mampu menjadi juara di Malaysia Grand Prix Gold 2014 dan Singapura Super Series 2014. Ini membuat Simon pun kembali dipanggil ke pelatnas.
 Ini juga terjadi kepada Dionysius Hayom Rumbaka. Setelah lama tak menjadi juara, lelaki yang akrab disapa Hayom tersebut mampu naik ke podium terhormat.
 Menariknya, dia menjadi juara setelah dicoret sebagai penghuni pelatnas. Ya, Hayom mampu meraih gelar nomor tunggal putra Vietnam Grand Prix 2014.
 Dalam final yang dilaksananakan di Tan Binh Sport Center, Ho Chi Minh City, Minggu (7/9), dia menang 18-21, 21-15, 21-18 atas Prannoy H.S. dari India yang diunggulkan di posisi kelima. Sementara, dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut, Hayom diunggulkan di posisi teratas.
 Selama 2014 dan masih berstatus pebulu tangkis nasional, Hayom lebih banyak tumbang di babak-babak awal. Bahkan di kandang sendiri, dalam Indonesia Super Series Premier, tunggal ketiga Indonesia di Piala Thomas 2014 itu langsung tersingkir di babak pertama.
 Ini menjadi puncak kekecewaan PP PBSI. Sebulan sebelumnya, Hayom dianggap sebagai biang kegagalan Indonesia menembus final Piala Thomas 2014. Turun sebagai penentu, lelaki asal Jogjakarta tersebut kalah kepada wakil Malaysia Chong Wei Feng dan membuat kedudukan menjadi 2-3.
 Di Vietnam Grand Prix 2014, Hayom turun dengan membela bendera klub asalnya, Djarum Kudus. Kemenangan di tunggal putra ini, membuat Indonesia mengoleksi empat gelar.
 Sebelumnya, dua posisi terhormat sudah pasti dibawa pulang karena terjadi final sesama pebulu tangkis Indonesia (All Indonesian Finals) di ganda putri dan ganda campuran. Satu gelar lagi dipetik dari nomor ganda putra. (*)

Hasil Final Malaysia Grand Prix 2014
Tunggal putra: Dionysius Hayom Rumbaka (Indonesia x1) v Prannoy HS (India x5) 18-21, 21-15, 21-18

Tunggal putri:Nozomi Okuhara (Jepang) v Aya Ohori (Jepang) 21-15, 21-11

Ganda putra: Andrei Adistia/Hendra Aprida  Gunawan (Indonesia x7) v Kenta Kazuno/Kazushi Yamada (Jepang x8) 15-21, 23-21, 21-17


Ganda putri:Mareta Dea Geoani/Eka Putri Sari (Indonesia) v Gebby Ristiyani /Ni Ketut Mahadewi (Indonesia) 21-19, 15-21, 21-10

Ganda campuran: Muhammad Rijal/Vita Marissa (Indonesia x1) v Irfan Fadillah/Weni Anggraeni (Indonesia x2) 21-18, 21-10

X=unggulan

Mentok, Pilih Tekuni Jadi Pelatih

Minggu, 07 September 2014

PULANG:Prasetyo Restu Basuki (foto:sidiq)

ENAM tahun bukan waktu yang sebentar. Selama rentang waktu itu pula, seorang Prasetyo Restu Basuki menghabiskan waktunya menjadi pelatih di Singapura.
 ‘’Sejak 2006, saya tinggal di Singapura. Saya menjadi asisten pelatih khusus ganda di sana,’’ kata Prasetyo Restu Basuki di sela-sela mendampingi anak asuhnya di klub Exist saat mengikuti kejuaraan Jaya Raya Indonesia International Challenge 2014 di GOR Sudirman, Surabaya, pada 30 Agustus lalu.
 Sebenarnya, Negeri Singa, julukan Singapura, bukan negeri manca yang kali pertama ditangani. Pada 2005, Prasetyo sudah singgah di Malaysia.
 ‘’Saya di Malaysia dari Februari 2006 sampai Juli 2006 ikut Rexy Mainaky. Saya bukan hanya sebagai asisten pelatih tapi juga sparring partner,’’ ungkap Prasetyo.
 Dia mengakui terjun sebagai pelatih setelah merasa mentok sebagai pemain. Meski, Prasetyo pernah merasakan menjadi penghuni Pelatnas Cipayung pada 22 Maret 2002 hingga September 2004.
 ‘’Hanya, saya jarang diberi kesempatan. Persaingan di Pelatnas Cipayung juga sangat ketat,’’ ungkap lelaki kelahiran Karawang, Jawa Barat, 14 Mei 1982 itu.
 Sebenarnya, setelah tak lagi jadi penghuni pelatnas, Prasetyo masih ingin bermain.Namun, kesempatan tak kunjung datang kepadanya.
 ‘’Sambil menunggu, saya jadi asisten pelatih nomor ganda di Djarum. Itu saya jalani dari 2005 hingga 2006,’’ ungkap lelaki yang memulai karirnya sebagai pemain tunggal di klub KBE pada 1997 itu.
 Nah, pada 2006, kesempatan pun akhirnya datang kepadanya untuk bisa bermain sebagai atlet. Dia diajak Rexy Mainaky, sekarang Kabid Binpres PP PBSI, untuk menjadi sparring partner dan juga asisten pelatih di Malaysia dari Februari 2006 hingga Juli 2006.
 ‘’Selama itu pula, saya berusaha keras untuk bisa berprestasi sebagai atlet. Namun, hasilnya tetap tidak maksimal,’’ papar Prasetyo.
 Ini membuatnya tak menolak saat Asosiasi Bulu Tangkis Singapura (SBA) menawarinya menjadi asisten pelatih pada Agustus 2006. Awalnya, dia juga menjadi lawan tanding.
 ‘’Banyak hikmahnya jadi pelatih di luar negeri. Saya bisa menjelajah ke berbagai negara,’’ ungkap Prasetyo.
 Padahal, tambah dia, itu tak bisa dilakukannya saat masih aktif sebagai atlet. Meski, statusnya sudah menjadi pebulu tangkis nasional.
 Kini, hampir dua tahun, Prasetyo pun mengandikan diri ke klub Exist. Diharapkan, dari tangannya bakal lahir pasangan-pasangan tangguh.
 Kemampuan Prasetyo pun mendapat pujian. Salah satunya dari pebulu tangkis Singapura Derek Wong.
 ‘’Dia pelatih bagus. Dia sudah membuktikannya di Singapura,’’ jelas peraih medali perak nomor tunggal di Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) 2014 di Glasgow, Skotlandia, pada Agustus lalu tersebut. (*)

Sekilas Tentang
Nama Lengkap: Prasetyo Restu Basuki
Lahir: Karawang, Jawa Barat, 14 Mei 1982

Karir:
Atlet
1997-1999: BEC
1999-2002: Djarum Kudus
2002-2004: Pelatnas Cipayung

Pelatih
2005-Januari 2006: Djarum Kudus (asisten)
 Februari –Juli 2006: Malaysia (asisten)
Agustus 2006-Agustus 2012: Singapura
2012-..: Exist

Dua Pasti, Empat Masih Bisa


DUA gelar sudah dipastikan dibawa pulang pebulu tangkis Indonesia dari Vietnam Grand Prix 2014. Itu setelah terjadi final sesama wakil merah putih (All Indonesian Finals) di nomor ganda putri dan ganda campuran.
 Dua pasangan Indonesia yang bersua di babak pemungkas itu adalah Mareta Dea/Eka Putri Sari melawan  Gebby Ristiyani/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia) di ganda putri dan unggulan teratas ganda campuran Muhammad Rijal/Vita Marissa berhadapan dengan Irfan Fadhilah/Weni Anggraeni, yang diunggulkan di ganda campuran.
 Mareta/Eka menembus babak pemungkas setelah menang 21-19, 21-14 atas pasangan tuan rumah Nguten Thi Sen/Vu Thi Trang pada pertandingan babak semifinal yang memakan wantu 35 menit di Ho Chi Minh City pada Sabtu waktu setempat (6/9).  Sementara, Gebby/Ketut menundukkan Chiang Kai Hsin/Hung Shih Han (Taiwan) juga dengan dua game 21-13, 21-17 pada pertandingan yang berlangsung selama 30 menit.
 Sementara, di ganda campuran, sejak di babak semifinal, Indonesia sudah tak menyisakan tempat bagi pasangan lain. Di empat besar, Rijal/Vita, yang membela Djarum Kudus, melibas pasangan Pelatnas Cipayung Ronald Alexander/Melati Daeva 21-11, 21-18. Dan Irfan/Weni, asal Pelatnas Cipayung, menghentikan langkah pasangan seniornya, Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati, 21-19, 21-19. Ini menjadi pertemuan perdana Rijal/Vita dengan Irfan/Weni.
 Sayang, harapan menciptakan All Indonesian Finals di ganda putra urung terlaksana. Ini disebabkan pasangan Ronald Alexander/Alfian Eko Prasetya menyerah 16-21, 16-21 kepada Kenta Kazuno/Kazushi Yamada, unggulan kedelapan dari Jepang.
 Padahal, di laga semifinal lainnya, pasangan Indonesia Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan, yang diunggulkan di posisi ketujuh, menundukkan rekannya sendiri Yohanes Rendy Sugiarto/Afiat Yuris Wirawan 21-13, 22-20.
 Koleksi gelar bisa bertambah lagi kalau di tunggal putra Dionysius Hayom Rumbaka bisa menang atas Prannoy H.S. dari India. (*)  



Jadwal Final Vietnam Grand Prix 2014
Tunggal putra: Dionysius Hayom Rumbaka (Indonesia x1) v Prannoy HS (India x5)

Tunggal putri: Nozomi Okuhara (Jepang) v Aya Ohori (Jepang)

Ganda putra: Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan (Indonesia x7) v Kenta Kazuno/Kazushi Yamada (Jepang x8)

Ganda putri:Mareta Dea/Eka Putri Sari (Indonesia) v Gebby Ristiyani/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia)

Ganda campuran:Muhammad Rijal/Vita Marissa (Indonesia x1) v Irfan Fadhilah/Weni Anggraeni (Indonesia x2)

X=unggulan

Akhirnya Bisa Kalahkan Jagoan Tuan Rumah

Sabtu, 06 September 2014

Nguyen Tien Minh (foto:sidiq)

DUA kali Dionysius Hayom Rumbaka takluk oleh pebulu tangkis Vietnam Nguyen Tien Minh. Kekalahan tersebut semuanya terjadi di Vietnam, dalam ajang challenge 2009  dan grand prix gold 2008.
 Tahun ini pun, kekalahan kali ketiga pun sudah di depan mata. Alasannya, Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, sudah tak digembleng di Pelatnas Cipayung. Penampilannya yang labil membuat dia dicoret usai pagelaran putaran final Piala Thomas 2014 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Mei lalu.
 Sebaliknya, Tien Minh lagi on fire. Dia baru saja menjadi juara Amerika Serikat Grand Prix Gold dan menembus babak ketiga Kejuaraan Dunia 2014 di Kopenhagen, Denmark.
 Namun, hasilnya di luar perkiraan. Hayom memetik kemenangan 15-21, 21-17, 23-21 pada pertandingan babak semifinal Vietnam Grand Prix 2014 yang dilaksanakan di Tan Binh Sports Center, Ho Chi Minh City, pada Sabtu waktu setempat (6/9). Selain menjadi kemenangan perdana, hasil tersebut membuka jalan bagi pebulu tangkis yang kini membela bendera klub asalnya, Djarum Kudus, untuk menjadi juara kali pertama sepanjang 2014.
 Pada babak final, Hayom, yang diunggulkan di posisi teratas, akan dijajal Prannoy H.S. Di semifinal, unggulan kelima asal India tersebut menundukkan Tan Chun Seang dari Malaysia 21-16, 14-21, 24-22.
 Ini menjadi pertemuan perdana Hayom dengan lawannya yang berperingkat 50 dunia tersebut. Dari ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terakhir, Hayom ada di posisi ke-25. (*)



Jadi Rumah bagi Tien Minh


BAGI Nguyen Tien Minh, Vietnam Grand Prix seperti menjadi miliknya. Sudah empat kali, lelaki 31 tahun tersebut menjadi juara  tunggal putra di kandangnya sendiri.
 Dia naik ke podium terhormat pada 2008 dan 2009. Capaian itu diulanginya pada 2011 dan 2012. Sayang, tahun lalu, Tien Minh gagal membuat hat-trick (tiga kali juara beruntun).
 Pada 2012, saat kali terakhir menjadi juara, dia mengalahkan Takuma Ueda dari Jepang dengan 21-14, 21-19. Setelah sebelumnya, di semifinal, pebulu tangkis yang kini duduk di ranking 23 dunia itu mengandaskan harapan Indonesia melalui Sony Dwi Kuncoro  lewat permainan dua game 21-15, 18-26.
 Tahun lalu, Tien Minh absen. Gelar juara pun jatuh ke tangan wakil Korea Selatan Shon Wan-ho yang menundukkan Tan Chun Sean dari Malaysia dengan 21-14,21-9. Kini, Tien Minh pun kembali turun.
 Langkah menjadi juara untuk kali kelima pun semakin dekat. Tien Minh sudah menembus babak semifinal. Untuk bisa menjadi juara, langkah terdekat, dia harus bisa mengalahkan unggulan teratas asal Indonesia Dionysius Hayom Rumbaka.
  Tahun ini, Tien Minh sudah mengoleksi gelar juara di Amerika Serikat Grand Prix Gold. Di babak final, dia melibas Chou Tien Chen (Taiwan) dengan 21-19,14-21, 21-19. Event terakhir yang dilakoninya adalah Kejuaraan Dunia yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark.
 Dalam kejuaraan yang dilaksanakan 25-31 Agustus itu, dia sampai babak ketiga sebelum dihentikan Viktor Axelsen (Denmark) 16-21, 17-21. Capaian ini membuat Tien Minh gagal mengulangi hasil 2013.
 Saat dilaksanakan di Guanzhou, Tiongkok,dia menembus babak semifinal. Sayang, langkahnya dihentikan andalan tuan rumah Lin Dan 17-21, 15-21. (*)

Peringkat Terburuk Tontowi/Liliyana


ABSEN dari Kejuaraan Dunia 2014 membawa risiko bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dari daftar yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 4 September, ranking pasangan asal Djarum Kudus itu turun dua setrip ke posisi keempat.
 Posisi ini terburuk dalam setahun terakhir. Posisi kedua mulai duduki Tontowi/Liliyana sejak November 2013.
 Posisi yang ditinggalkan Tontowi/Liliyana diduduki ganda Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Mereka melonjak dua setrip.Ini tak lepas dari capaian dalam Kejuaraan Dunia 2014.
 Dalam event yang dilaksanakan di kandangnya sendiri, Kopenhagen, pada 25-31 Agustus lalu, mereka menembus babak semifinal. Sayang, langkah keduanya dihentikan Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) dengan 15-21, 9-21.
 Namun, tambahan poin 8400 sudah cukup untuk mendongkel Tontowi/Liliyana. Apalagi, sebelumnya, mereka mampu mencetak hat-trick dengan menjuarai India Super Series 2014, Kejuaraan Eropa 2014, dan Indonesia Super Series Premier 2014.
 Posisi teratas di nomor ganda campuran masih kukuh ditempati Zhang Nan/Zhao Yunlei dari Tiongkok yang juga sukses menjadi juara dunia 2014. Sementara, posisi ketiga diduduki Xu Chen/Ma Jin.
 Tontowi/Liliyana urung berlaga dalam Kejuaraan Dunia 2014 karena Tontowi mengalami cedera pinggang. Tahun lalu, keduanya menjadin jara dunia di Guangzhou, Tiongkok, setelah di babak pemungkas menghentikan langkah pasangan tuan rumah Xu Chen/Ma Jin. (*)

Ranking ganda campuran (per 4 September 2014)
1.Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok)
2.Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark)
3.Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok)
4.Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia)
5.Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris)
6. Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel)
7.Michael Fuchs/Birgit Michels (Jerman)
8.Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (Thailand)
9. Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok)
10.Markis Kido/Pia Zebadiah (Indonesia)

Hayom Mulai Percaya Diri


PELAN tapi pasti, kepercayaan diri Dionysius Hayom Rumbaka mulai pulih. Dia bisa menempatkan dirinya di babak semifinal turnamen Vietnam Grand Prix 2014.
 Tiket itu diperolehnya setelah mengalahkan Mohamad Arif Abdul Latif dari Malaysia dengan rubber game 19-21, 21-13, 22-20 pada pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City pada Jumat waktu setempat. Kemenangan ini juga membawa Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, menantang andalan tuan rumah Nguyen Tien Minh. Pada babak sebelumnya, lelaki yang diunggulkan di posisi ketiga tersebut menang 21-16, 21-8 atas Ng Ka Long dari Hongkong.
 Pertemuan dengan Tien Minh nanti akan menjadi pertemuan ketiga. Hanya, dalam dua kali pertemuan sebelumnya, Hayom belum pernah memetik kemenangan. Kekalahan ditelan pebulu tangkis Djarum Kudus tersebut diVietnam Challenge 2009 dan Vietnam Grand Prix setahun sebelumnya.
 Pada Vietnam Grand Prix 2014 ini, Hayom diunggulkan di posisi teratas. Saat drawing, rankingnya masih 19. Sayang, saat ini, posisinya turun enam setrip. Sementara, Tien Minh ada di posisi 23.
 Selain mempertemukan Hayom versus Tien Minh, babak semifinal Vietnam Grand Prix 2014 juga saling bersua Prannoy H.S dari India dengan Tan Chung Seang (Malaysia).
 Turnamen berhadiah total USD 50 ribu ini menjadi penampilan perdana Hayom setelah didepak dari Pelatnas Cipayung pada Juni lalu. Kini, dengan membawa bendera klub asalnya. (*)

Dominasi Ganda Campuran

Jumat, 05 September 2014


PASANGAN ganda campuran Indonesia menguasai perempat final Vietnam Grand Prix 2014. Dari delapan tiket yang ada, enam pasangan merah putih berada di slot tersebut.
 Ini membuat dua tiket semifinal sudah pasti di tangan. Empat pasangan yang saling bentrok adalah Muhammad Rijal/Vita Marissa berhadapan dengan Yonathan Suryatama Dasuki/Variella ‘’Lala’’ Aprilsasi dan Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati dijajal Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika.
 Sementara, dua pasangan lain, Ronald Alexander/Melati Daeva dan Irfan Fadilah/Weni Anggraini harus berhadapan dengan pasangan negara lain. Ronald/Melati menjajal ketangguhan wakil Singapura Yong Kai Terry Hee/Wei Han Tan dan Irfan/Weni, yang diunggulkan di posisi kedua, bersua dengan unggulan keenam asal Malaysia Wong Fai Yin/Chow Mei Kuan.
 Jika kedua pasangan Pelatnas Cipayung tersebut mampu mengalahkan lawan-lawannya, maka All Indonesian semifinals bakal terjadi. Hasil ini tentu jauh lebih baik dibandingkan nomor-nomor lain.
 Tahun lalu, gelar juara ganda campuran di Vietnam Grand Prix jatuh ke tangan Choi Sul-kyu/Chae Yoo-jung asal Korea Selatan yang menang 22-20, 19-21, 21-14 atas Liao Min-chun/Chen Hsiao-huan (Taiwan). Indonesia tak mengirimkan wakilnya pada kejuaraan 2013. Beberapa pasangan yang bakal turun pilih mengundurkan diri.
 Pada 2013, Indonesia membawa pulang satu gelar melalui Fran Kurniawan/Bona Septano dari nomor ganda putra. (*)

Ronald Susilo is Back

Kamis, 04 September 2014

KEMBALI: Ronald Susilo dengan bendera Singapura di dana

NAMANYA sempat jadi buah bibir. Lelaki ini mampu mengalahkan Lin Dan dari Tiongkok, yang jadi unggulan teratas pada babak pertama Olimpiade Athena, Yunani, 2004, dengan dua game langsung 15-12, 15-10. D
 Kemenangan itu dianggap sebagai salah satu pembuka jalan Taufik Hidayat bisa meraih emas di nomor tunggal putra sekaligus melanggengkan tradisi emas olimpiade. Dia adalah Ronald Susilo.Perjalanan dia di Athena terhenti di babak perempat final setelah ditaklukkan Boonsak Ponsana (Thailand) 10-15, 1-15.
 Mendengar namanya tentu bayangkan kita, dia adalah pebulu tangkis Indonesia. Oops. Jawaban tersebut salah.
 Ini disebabkan Ronald sudah tercatat sebagai warga negara Singapura sejak 1998 atau saat usianya masih 19 tahun. Masuk jajaran 20 besar pun pernah digapai lelaki kelahiran Kediri, Jawa Timur, pada 6 Juni 1979 tersebut.
 Namun, dia gagal mengulanginya pada 2008 saat olimpiade dilaksanakan di Beijing, Tiongkok. Ronald langsung tersingkir di babak pertama usai ditundukkan Lee Chong Wei asal Malaysia dengan 13-21, 14-21.
 ‘’Setelah itu, saya istirahat lama. Cedera membuat saya tak bisa tampil maksimal,’’ terang Ronald kepada smashyes.
 Dia tercatat pernah tampil dalam Singapura Super Series 2010. Hanya, nomor yang diikuti bukan tunggal tapi ganda berpasangan dengan rekan lamanya dari Indonesia Candra Wijaya. Bersama Candra pula, Ronald mengayunkan raket di turnamen yang sama dua tahun kemudian.
 Baru pada 2014, Ronald tampil di nomor tunggal pada Singapura Internasional Series. Memulai langkah dari babak kualifikasi, Ronald akhirnya menggapai tiket babak kualifikasi setelah melibas Neo Winson (Malaysia) dengan 21-14,14-21, 21-9.
 Di babak utama, pada babak kedua, bapak dua anak itu memulangkan lebih awal unggulan kelima Andre Marteen (Indonesia) dengan dua game langsung 21-15, 21-15. Namun, di babak kedua, Ronald dihentikan Woon Kok Hong, unggulan ke-10 dari Malaysia, dengan tiga game 21-16, 18-21, 17-21.
 Dengan tiga game pula, Andre Kurniawan Tedjono dari Indonesia harus menghentikan  Ronald pada babak pertama Vietnam Grand Prix 2014 di Hanoi pada Rabu waktu setempat (3/9). Andre, yang diunggulkan di posisi kelima, menang 21-19, 18-21, 21-19.
 ‘’Ronald masih susah ditundukkan. Hanya, staminanya memang kendor di game ketiga dan itu bisa saya manfaatkan,’’ ucap Andre. (*)

Ada Juara Olimpiade di Belakang Lapangan

Rabu, 03 September 2014

EMAS:Ha Tae-kwon (foto:sidiq)

SEORANG lelaki duduk di belakang lapangan pasangan Korea Selatan Lee Hong-sub/Lim Su-min. Dia terus mencatat dan sesekali memberikan instruksi kepada pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, yang tengah menghadapi ganda Indonesia Sabar Karyawan Gautama/Franki Wijaya pada babak semifinal Jara Raya Indonesia Junior International 2014 di GOR Sudirman, Surabaya, pada Sabtu (38/8).
 Hong-sub/Su-min sangat segan kepada pelatihnya. Bahkan, mereka pun meminta maaf karena gagal menundukkan pasangan yang berasal dari klub Exis Jakarta tersebut. Siapa pelatih Korea Selatan itu?
 Ternyata dia adalah Ha Tae-kwon. Dia merupakan salah satu legenda bulu tangkis Korea Selatan di nomor ganda. Sayang, saat smashyes berusaha mewancarainya, Tae-kwon mengaku tak bisa banyak bicara bahasa Inggris.
 ‘’Sedikit. Bahasa Inggris saya tidak bagus,’’ jelas lelaki 39 tahun itu sambil menggabungkan jari kelingking dan jempolnya sebagai tanda sedikit soal kemampuan berbahasa Inggrisnya.
 Hanya, dia masih ingat tentang kenangan manisnya di lapangan hijau. Termasuk soal pertandingan di Olimpiade Atlanta 2004 ketika berpasangan dengan Kim Dong-moon dan meraih emas.
 ‘’Saya di final mengalahkan sesama pasangan Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung 15-11, 15-4. Di semifinalnya, saya menundukkan ganda Indonesia Flandy (Limpele)/Eng Hian,’’ ungkapnya.
 Sukses itu mengulangi emas yang dipetik seniornya Park Jo-boong/Kim Moon-soo pada Olimpiade Barcelona 1992.Sayang, setelah itu, belum ada lagi pasangan Korea Selatan yang mampu menjadi juara olimpiade.
 Tae-kwon/Dong-moon bukan hanya berjaya di olimpiade. Keduanya juga pernah merasakan manisnya juara turnamen bergengsi All England. Bukan hanya, sekali namun dua kali yakni pada 2000 dan 2002.
 ‘’Tapi, setelah pensiun, saya memutuskan jadi pelatih. Saat ini, saya dipercaya menangani junior,’’ lanjut Ta-kwon. (*)

Atap Roboh, Vietnam Grand Prix Pindah Hall


VIETNAM Grand Prix 2014 kembali dilanjutkan. Sebelumnya, pada Selasa (2/9), atap gedung yang dipakai untuk menggelar pertandingan tersebut,Phan Dinh Phung, roboh.
 ‘’Untung, tidak ada pertandingan. Semua bisa dilihat di jejaring social saya,’’ kata Ronald Susilo, pebulu tangkis Singapura, kepada smashyes.
 Seharusnya, pada Selasa, lelaki yang berstatus warga negara Singapura itu akan menghadapi Andre Kurniawan Tedjono dari Indonesia. Awalnya, Ronald mengira turnamen bakal dihentikan.
 ‘’Pindah ke hall yang lain. Hall yang sekarang katanya baru,’’ tambah Andre.
 Pebulu tangkis binaan Djarum Kudus tersebut menerangkan pertandingan melawan Ronald dilaksanakan Rabu waktu Ho Chi Minh City. Dia pun  menambahkan, hall yang akan dipakai merupakan hall baru.
 ‘’Kalau yang atapnya roboh memang hall lama. Jadi, atapnya memang tak kuat lagi,’’ ungkap Andre. Menariknya, media Vietnam tak banyak atau bahkan tidak ada yang menulisnya.
 Pertemuan Andre dengan Ronald ini merupakan kali pertama. Hanya, dari sisi ranking, Andre ungguh jauh. Dia ada di posisi 61 sementara lawannya yang asli Kediri, Jawa Timur, di ranking 739. (*)

Tak Lagi Klimis, Rambut Mulai Memutih

Selasa, 02 September 2014

Rudy Hartono usai menyerahkan medali

LAMA tak melihat langsung Rudy Hartono. Kali terakhir, penulis bersua dengan sang maestro pada putaran final Piala Thomas 2006 yang dilaksanakan di Sendai dan Tokyo, dua kota di Jepang.
Ketika itu, Rudy dipercaya oleh Ketua Umum PB PBSI Sutiyoso untuk menakhodai perjuangan Taufik Hidayat dkk memulangkan Piala Thomas ke Indonesia. Sayang, tugas itu tak bisa dilakukan oleh lelaki asli Surabaya tersebut.
Pada 2006 pun, rambut Rudy pun masih hitam dan klimis. Namun, setelah delapan tahun, banyak yang berubah dari penampilan fisiknya.
Rambut putihnya dibiarkan mewarnai mahkotanya. Dia juga tak memakai dasi yang dulu sering membuat Rudy terlihat perlente.
Saat datang ke GOR Sudirman pada Minggu siang (31/8) menyaksikan final Jaya Raya Junior, lelaki yang kini berusia 65 tahun tersebut hanya memakai kaos polo.
 Rudy duduk di kursi VIP yang berada tepat di belakang lapangan utama tempat berlangsungnya pertandingan final. Dia pun dipercaya melakukan pengalungan medali kepada pemenang di nomor tunggal putra yang jatuh ke tangan Firman Abdul Kholik dari Pelatnas Cipayung.
 Usai laga final Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2014, Rudy pun diserbu penonton. Bahkan, juara All England delapan kali itu pun diajak foto para siswa dari sebuah sekolahan swasta di Surabaya.
 Tak bisa dipungkiri Rudy tetap menjadi idola masyarakat Indonesia. Apalagi, sampai saat ini, rekor delapan kali juara All England belum ada yang menyamai. (*)

Sekilas Rudy Hartono
Nama: Rudy Hartono Kurniawan
Lahir; Surabaya, 18 Agustus 1949
Prestasi:
Juara All England (1968, 1969, 1970,1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
Juara Dunia: 1980
Juara Piala Thomas: 1970,1973, 1976, 1979

Sedih Tak Bisa Lihat Tommy

SAUDARA: Jauza Sugiarto (foto:sidiq)

KEJUARAAN Dunia 2014 menyisakan kesedihan bagi Jauza Fadhila Sugiarto. Kok bisa? Ini dikarenakan dia tak bisa menyaksikan langsung kakaknya, Tommy Sugiarto, yang tengah bertanding dalam event yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, pada 25-31 Agustus lalu.
 ‘’Guest house tempat saya menginap tidak ada televisi kabel. Sedih ngak bisa menyaksikan kak Tommy main,’’ kata Jauza di GOR Sudirman,Surabaya, di sela-sela tampil pada Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2014.
 Kesedihan tersebut bertambah karena Tommy gagal menjadi juara. Langkah andalan Indonesia di nomor tunggal putra itu dihentikan Chen Long dari Tiongkok pada babak semifinal. Namun, kesedihan tersebut terhapus dengan capaiannya menjadi juara nomor ganda putri.
 Pada pertandingan final yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada 31 Agustus, Jauza yang berpasangan dengan Apriyani Rahayu menang 21-13, 21-18 atas sesama pasangan Indonesia Yulfira Barkah/Dianita Saraswati. Pada turnamen yang menyediakan poin 7 ribu itu, Jauza/Apriyani duduk sebagai unggulan teratas.
 Jauza merupakan putra legenda bulu tangkis Indonesia Icuk Sugiarto. Sang bapak pernah menjadi juara dunia tunggal putra pada 1983.
 Meski sudah mulai menuai prestasi, Jauza belum tertarik mengikuti jejak sang kakak untuk digembleng di Pelatnas Cipayung. Alasannya, usianya masih terlalu muda, 15.
 ‘’Saya juga masih mau main di dua nomor, tunggal dan ganda. Itu pasti nggak bisa kalau saya di pelatnas,’’ ungkap Jauza. (*)

Tak Ada Ruselli di Pelatnas Cipayung



TIDAK ada lagi nama Ruselli Hartawan di Pelatnas Cipayung. Namanya sudah pasti tergusur dari kawah candradimuka olahraga tepok bulu tersebut.
"Dia (Ruselli) sudah tidak ada di Pelatnas. Kini ada delapan tunggal putri yang ada di sana," kata pelatih tunggal putri potensi Pelatnas Cipayung Bambang Supriyanto.
Dia tidak terlalu mempermasalahkan hilangnya nama Ruselli. Meski, pebulu tangkis asal Jaya Raya itu menduduki peringkat teratas di semua anak asuhnya.
Bambang tak merinci secara detail tentang terpentalnya perempuan yang baru saja membela Indonesia di ajang Youth Olympic Games di Nanjing, Tiongkok, pekan lalu. Dalam event itu, Ruselli hanya sampai babak penyisihan.
Capaian ini beda dengan pebulu tangkis tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting. Penghuni Pelatnas Cipayung ini mampu membawa pulang medali perunggu dalam event yang diperuntukkan bagi atlet di bawah usia 17 tahun tersebut.
Salah satu sumber yang minta tak ditulis namanya, mengungkapkan Ruselli harus out dari pelatnas karena tindakan indisipliner yang sudah tak bisa ditoleransi. (*)

Surya Baja Pindah Sidoarjo

DIEVA: M.Nadib bersama atlet Surya Baja (foto;sidiq)

SURYA Baja pindah tempat latihan. Klub binaan Abdul Chodir tersebut  berlatih di GOR Dieva di kawasan Candi, Sidoarjo.
"Mulai 1 September, Surya Baja latihannya di Gedung Bulu Tangkis Perumahan Candi Loka Sidoarjo. Mesnya juga tidak jauh dari GOR," kata Pelatih Kepala Surya Baja M. Nadib.
Ini, tambah dia, GOR Surya Baja yang berada kawasan Kutisari, Surabaya, tengah dipakai sebagai gudang alat-alat berar. Rencananya, tempat yang berada di samping rumah pembina sekaligus pemilik Surya Baja Abdul Chodir tersebut bakal dipakai selama dua tahun.
"Jadi, kami pun menyewa mes dan GOR ini selama dua tahun. Semoga saja anak-anak betah karena tempatnya cukup enak," jelas Nadib, sapaan karib M. Nadib.
Lelaki yang pernah ditempa di Puslatda PON Jatim itu menjelaskan, PB Surya Baja menempati GOR Surya Baja selama sepuluh tahun. Kebetulan, hari perdana latihan dan saat mereka harus meninggalkan GOR Surya Baja hampir sama.
"Akhir Agustus 2004, Surya Baja mulai  berdiri. Tak menyangka juga akhirnya kami meninggalkan Kutisari meski hanya sementara," kenang Nadib.
Meski berlatih di Kota Udang, julukan Sidoarjo, namun status Surya Baja tetap masih klub Surabaya. Hanya, tak menutup kemungkinan bakal lahir Surya Baja Sidoarjo.
"Bisa saja yang sifatnya pembibitan ada nama Sidoarjo-nya. Ini juga kami lakukan di Tulungagung dengan membentuk Surya Baja Tuluagung," papar Nadib.
Dengan berlatih dan tinggal di Candi membuat tugas Nadib lebih ringan. Dia bisa lebih intensif mengawai Agie Hariawan dkk karena tempat tinggalnya tak jauh dari mes. (*)

Fitriani Back to Back

Senin, 01 September 2014

JUARA: Fitriani (kanan)


FITRIANI langsung mengepalkan tangan. Ini sebagai ekspresi atas kemenangan yang diraihnya atas Gregoria Mariska Tunjung dalam final tunggal putri kejuaraan Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2014 di GOR Sudirman, Surabaya, pada Minggu WIB (31/8).
  Dalam duel sesama penghuni Pelatnas Cipayung itu, Fitriani, yang diunggulkan di posisi kedua, memetik kemenangan straight game 21-17, 21-10 atas lawannya yang menempati unggulan keempat. Kemenangan atas Gregoria juga membuat Fitriani mengulang sukses tahun lalu.
 Saat masih bernama Specs Indonesia Junior Challenge, Fitriani juga menang dua game 21-18, 21-16. Pebulu tangkis asal klub Exist tersebut menjadi satu-satunya juara yang tampil kembali dan sukses mempertahankan gelar.
 Dalam Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2014, di nomor tunggal putri ini, unggulan teratas Ruselli Hartawan yang juga dari Pelatnas Cipayung absen dengan alasan masih berada di Nanjing, Tiongkok, bersama rombongan Youth Olympic Games 2014. (*)

Tunggal putri
Fitriani (4)(INA) vs Gregoria Mariska (INA) 21-18, 21-16


Hasil Final Jaya Raya Junior International Challenge 2014
Tunggal putra:Firman Abdul Kholik (Indonesia x6) v Panji Ahmad Maulana (Indonesia) 21-17, 21-10

Tunggal putri: Fitriani (Indonesia x2) v Gregoria Mariska Tunjung (Indonesia) 21-17, 21-10

Ganda putra: Sabar Karyawan Gautama/Frenki Wijaya (Indonesia) v Akbar Bintang/Jeka Wiratama (x6) 21-15, 21-14

Ganda putri: Jauza Fadhila Sugiarto/Apriyani Rahayu (x1) v Yulfira Barkah/Dianita Saraswati (Indonesia) 21-13, 21-18

Ganda campuran: Tedi Supriadi/Mychelle Chrystine Bandaso (Indonesia x7) v Jeka Wiratama/Marsehilla Gischa Islami (x4) 21-15, 21-13

X=unggulan

Lee Chong Buang Peluang Emas


GAGAL: Lee Chong Wei (foto; BWF)
TIONGKOK menambah panjang daftar wakilnya yang menjadi juara dunia.Setelah Lin Dan tahun lalu di kandangnya sendiri, Guangzhou,  kali ini giliran Chen Long yang mengukirkan namanya.
 Itu setelah dalam final yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, Minggu waku setempat, dia mengalahkan unggulan teratas Lee Chong Wei asal Malaysia dengan dua game langsung 21-19, 21-19.Selama bergulirnya Kejuaraan Dunia mulai 1977, Negeri Panda, julukan Tiongkok, sudah mengoleksi 13 gelar.
 Sebaliknya, bagi Malaysia, kegagalan Lee Chong Wei ini membuat negeri jiran belum pernah menempatkan wakilnya di podium terhormat. Meski, sebenarnya, mereka pernah mempunya pebulu tangkis-pebulu tangkis hebat sekelas Misbun dan Rashid Sidek atau pun juga Razif dan Jaelani Sidek di ganda putra.
 Tahun ini, jalan Chong Wei juga sangat lapang. Apalagi, lawan terberatnya, Lin Dan, asal Tiongkok, tak bisa ikut karena ranking dan poin yang dimiliki belum mampu membawanya berlaga di Kopenhagen. Superdan, julukan Lin Dan, pula yang mengalahkan Chong Wei dalam dua kali final, 2011 dan 2013.
 Sebelum final, banyak yang memprediksi, Chong Wei bakal mengukir sejarah. Alasannya, penampilannya sejak babak penyisihan sangat konsisten.
 Selain itu, dia mampu mengalahkan Chen Long dalam dua kali pertemuan terakhir yakni di final All England Super Series 2014 dan India Super Series 2014.  Ini membuat dia unggul 9-8 dalam head to head. (*)

Perjalanan Lee Chong Wei di Kejuaraan Dunia (5 Terakhir)

2009: Perempat final (v Sony Dwi Kuncoro 16-21, 21-14, 12-21)
2010: Perempat final ( v Taufik Hidayat 15-21, 21-11, 12-21)
2011: Final (v Lin Dan 22-20, 14-21, 21-23)
2013: Final (v Lin Dan 21-16, 13-21, 17-20 /mundur)
2014: Final (v Chen Long 19-21, 19-21)

Marin Panen Rekor


KEJUTAN Carolina Marin mencapai puncak. Gadis 21 tahun asal Spanyol tersebut mampu menjadi juara dunia tunggal putri.
 Pada pertandingan final yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, pada Minggu waktu setempat, Marin, yang diunggulkan di posisi kesembilan, menumbangkan unggulan teratas Li Xuerui dari Tiongkok dengan rubber game 17-21, 21-17,21-18. Sukses ini membuat Marin mengukir beberapa rekor.
 Dia menjadi perempuan Spanyol pertama yang mampu menjadi juara dunia. Selama ini, belum ada wakil Negeri Matador, julukan Spanyol, berkiprah sampai final apalagi juara.
 Marin juga menjadi tunggal Eropa pertama yang mampu mengawinkan juara tunggal Eropa dan dunia. Selain itu, perempuan yang pernah tampil di DBL Arena, Surabaya, dalam Axiata Cup tersebut mengakhiri paceklik Benua Putih, julukan Eropa, di nomor tunggal putri selama 25 tahun. Kali terakhir, Eropa menjadi juara melalui Camilla Martin dari Denmark, pada 1999 saat Kejuaraan Dunia juga dilaksanakan di Denmark.
 Selain Marin, kejutan lain juga terjadi di tunggal putra dan ganda putra. Dua unggulan teratas menyerah kepada lawan-lawannya dan gagal menjadi juara.
 Pada tunggal putra, Lee Chong Wei asal Malaysia dipermalukan Chen Long, unggulan kedua, dari Tiongkok Chen Long dengan straight game 19-21, 19-21. Sementara, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, unggulan kedua, takluk 22-20, 13-21, 21-18 kepada rekan senegaranya yang ‘’hanya’’ menempati unggulan ke-12 Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel.
 Sebenarnya, unggulan teratas di tempati pasangan Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Namun, mereka absen karena Ahsan mengalami cedera.
 Kejuaraan Dunia 2015 akan dilaksanakan di Jakarta. (*)

Hasil final Kejuaraan Dunia 2014
Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x2) v Lee Chong Wei (Malaysia x1) 21-19, 21-19

Tunggal putri: Carolina Marin (Spanyol x9) v Li Xuereui (Tiongkok x1) 17-21, 21-17, 21-18

Ganda putra: Shin Baek-choel/Ko Sung-hyun (Korea Selatan x12) v Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x2) 22-20, 21-23, 21-18

Ganda putri: Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5) v Wang Xiaoli/Yu Yang (Tiongkok x4) 21-19, 21-15

Ganda campuran: Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok x1) v Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok x2)  21-12, 21-23, 21-13

X=unggulan

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger