www.smashyes.com

www.smashyes.com

Dewi Tira Kembali ke Lapangan

Jumat, 24 Oktober 2014

IS BACK: Dewi Tira (kiri) dan Martinus Rudi (foto;sidiq)
SEORANG cewek berhijab ada di ruangan Kantor Pengprov PBSI Jawa Timur pada Kamis (23/10/2014). Dia pun memakai kaca mata.
 Banyak yang mengira dia hanya staf di induk organisasi tepok bulu provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut. Lalu siapa dia? Orang banyak yang tak mengira dia adalah Dewi Tira.  Meski tak setenar Susi Susanti ataupun Maria Kristin, perempuan itu pernah menjadi penghuni Pelatnas Cipayung.
 ‘’Hampir tiga tahun saya ada di Cipayung. Pada 2003, saya sudah tak di sana. Memang, tidak terlalu lama,’’ kata Dewi Tira.
 Namun, dalam rentang waktu itu, dia mencatatkan namanya pernah masuk Tim Uber Indonesia pada 2000. Dia mengisi nomor tunggal bersama Ellen Angelina dan Yuli Marfuah.
 Saat itu, Indonesia mampu menembus babak semifinal. Sayang, merah putih dikalahkan Tiongkok dengan 0-3. Dua tunggal yang dipercaya turunm Ellen dan Yuli gagal menyumbangkan angka. Saat itu, usianya masih belum genap 17.
 Tapi, dua tahun kemudian, dia mampu mengukir prestasi bagi merah putih. Dewi Tira mampu meraih perunggu dalam Kejuaraan Dunia Junior 2002 yang dilaksanakan di Afrika Selatan.
 ‘’Tapi, setahun kemudian, saya dikeluarkan dari Pelatnas Cipayung. Saya kena aturan tunggal putri Indonesia harus tingginya minimal 170 sentimeter,’’ jelas Dewi Tira.
 Peraturan itu, lanjut Dewi Tira, dikeluarkan oleh Ketua Umum PB PBSI saat itu, Chairul Tanjung. Dia menjadi korban karena postur yang dimilikinya tak sampai 170 sentimeter.
‘’Ini membuat saya kembali ke klub dan ikut persiapan PON 2004 di Palembang, Sumatera Selatan,’’ lanjut Dewi Tira.
 Namun, dalam event olahraga empat tahunan itu, perempuan yang kini berusia 30 tahun tersebut hanya menyumbangkan perak di nomor tunggal putri dan perunggu dari beregu putri.
 Dalam nomor tunggal putri, Dewi Tira lolos ke final setelah menundukkan Lidya Lidya Djaelawijaya (Jabar) 11-6, 6-11, 11-3. Lawan yang dihadpi Silvi Antarini (DKI) yang mengalahkan Nitya Krishinda (Aceh ) 11-3, 11-2.  Tapi, di babak final, penampilan Dewi antiklimaks. Dia kalah mudah 11-2, 11-0.
 Setelah PON, nama Dewi seolah menghilang. Wajahnya sempat terlihat di sebuah televisi lokal di Surabaya sebagai presenter.
 ‘’Itu juga nggak lama kok. Kini, saya ingin aktif lagi,’’ ujar Dewi.
 Keinginan itu pun tak bertepuk sebelah tangan. Rencananya, pebulu tangkis binaan PB Suryanaga, Surabaya, itu akan disiapkan menangani di sektor spesialisnya, tunggal putri.
 ‘’Hanya, dalam kejuaraan apa, kami belum sebutkan. Yang pasti, Dewi akan menjadi pelatih,’’ ujar Martinus Rudianto, wakil Sekum Pengprov PBSI Jatim. (*)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger