www.smashyes.com

www.smashyes.com

Ihsan Permalukan Unggulan Keempat

Kamis, 26 November 2015

Ihsan Maulana Mustofa
PEBULU tangkis muda Indonesia kembali membuat kejutan di Makau Grand Prix Gold 2015. Kali ini, Ihsan Maulana yang melakukannya.

Dia mampu menjungkalkan unggulan keempat Son Wan -ho asal Korea Selatan dengan dua game langsung 21-15, 26-24 dalam pertandingan babak III yang dilaksanakan Kamis waktu setempat (26/11/2015).Kemenangan ini mengantarkan Ihsan menembus babak perempat final turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut.

Di ajang grand prix dan grand prix gold, kualitas Ihsan memang bisa bersaing.Itu terbukti di Thailand dan Taiwan. Di Negeri Gajah Putih, Ihsan mampu menembus babak final sebelum dihentikan Lee Hyun-il dari Korea Selatan dengan 17-21, 24-22, 8-21.Dua pekan kemudian (17/10/2015), dia melangkah ke semifinal di Taiwan. Hanya, dia menyerah kepada pebulu tangkis tuan rumah Tzu Wei Wang dengan 10-21, 21-8, 15-21.

Hanya, jika sudah di ajang super series atau super series premier, Ihsan seolah kehilangan gigi. Dia selalu tumbang di babak-babak awal.

Kali terakhir, dia jeblok di Hongkong Super Series  2015, dia langsung angkat koper di babak perdana. Ihsan menyerah kepada legenda hidup bulu tangkis dunia asal Negeri Panda, julukan Tiongkok, Lin Dan, dengan 17-21, 21-15, 14-21.

Sebelumnya, rekan Ihsan di Pelatnas PBSI Jonatan Christie membuat kejutan lebih besar. Dia langsung memulangkan unggulan teratas asal India Kidambi Srikanth dengan 21-16, 23-21. Jonatan juga masih bertahan hingga babak ketiga. (*)

Hanya di Brasil Sistem Itu Ada

BRASIL dikenal sebagai negeri sepak bola. Negeri di Amerika Selatan tersebut sudah lima kali mengangkat trofi juara dunia.

Banyak maestro olahraga bola sepak tersebut yang muncul dari Negeri Samba, julukan Brasil. Mulai dari Pele, Socretes, Zico, Ronaldo, Ronaldinho, hingga sekarang Neymar.

Tapi, Brasil tetap tak melupakan cabang olahraga lain. Bulu tangkis salah satunya.

Ya, mulai 24 November lalu, Brasil menjadi tuan rumah kejuaraan dengan level grand prix. Hadiahnya pun tak sedikit, USD 50 ribu.

Bahkan, salah satu pesertanya adalah legenda hidup yang masih aktif Lin Dan asal Tiongkok. Ini tentu mengangkat pamor ajang yang dilaksanakan di Rio de Janeiro tersebut.

Lin Dan merupakan juara dunia lima kali dan dua kali peraih emas nomor tunggal putra olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012.

Selain itu, sistem yang dipakai dalam Brasil Grand Prix 2015 pun beda dengan biasanya. Kok bisa?

Ya, dalam event dengan host Rio de Janeiro tersebut memakai sistem grup (grouping). Dalam kalender BWF selama 2015 ini, baru Brasil Grand Prix yang memakai sistem tersebut.

Memang, sistem grup tersebut hanya di babak awal. Setelah itu, untuk perebutan perempat final, sistem yang dipakai adalah sistem gugur.

Aturan ini yang sama pernah dipakai dalam Olimpiade London lalu. Bisa jadi, sistem ini menjadi ajang pemanasan. Alasannya, tahun depan, Brasil menjadi tuan rumah Olimpiade dengan salah satu cabang yang dipertandingkan bulu tangkis. (*)

Perjumpaan Dini Dua Senior

ADA yang menarik dalam undian Indonesia Grand Prix Gold 2015, khususnya di nomor tunggal putra. Dua wakil tuan rumah, Alamsyah Yunus bakal berjumpa dengan Sony Dwi Kuncoro.

Meski sudah lama malang melintang di pentas bulu tangkis, namun kedua pebulu tangkis senior tersebut hanya empat kali berjumpa di lapangan internasional. Bahkan, kali terakhir, Sony dan Alamsyah adu kekuatan tiga tahun lalu.

Itu terjadi dalam Vietnam Grand Prix 2012.Saat itu, Sony, yang diunggulkan di posisi keempat, mengalahkan Alamsyah, unggulan kelima, dengan dua game langsung 21-11, 21-14.

Kemenangan itu membalas pil pahit yang ditelan Sony empat bulan sebelumnya di Australia Open. Skor sementara, Sony masih unggul 3-1.

Sebenarnya, kesempatan keduanya berjumpa sempat terbentang dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Jawa Timur 2015. Sony dan Simon sama-sama lolos ke babak semifinal

Sayang, real final urung terlaksana. Sony dipermalukan Wisnu Yuli Prasetyo dan Alamsyah ditumbangkan Shesar Hiren Rustavito.

Di atas kertas, dalam Indonesia Grand Prix Gold 2015, Sony lebih diunggulkan. Rankingnya yang ada di posisi 52 jauh di atas Alamsyah yang sekarang terdampar di posisi 242.

Selain itu, saat ke Kota Pelajar, julukan Malang, kondisi Sony lebih fresh. Sedangkan Alamsyah habis berjuang dalam Sirnas Seri Riau. (*)

Cedera, Absen di Malang

HARAPAN Dionysius Hayom Rumbaka mengulangi sukses dalam Indonesia Grand Prix Gold kandas. Bukan karena dia sudah tumbang di babak karena ajang tersebut belum bergulir.

Tapi, cedera memaksa Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, harus absen dalam event yang tahun ini dilaksanakan di Malang, Jawa Timur, pada 1-6 Desember tersebut. ''Nama Hayom sempat masuk dalam daftar unggulan. Bahkan, dalam undian, namanya masih ada,'' kata Ketua Bidang Pertandingan dan Perwasitan PP PBSI Eddyanto Sabarudin.

Dalam Indonesia Grand Prix Gold 2015, Hayom diunggulkan di posisi keempat. Di babak pertama, dia dijadwalkan bersua dengan sesama pebulu tangkis merah putih Panji Akbar.

''Dia sudah menunjukan surat dokter tentang sakitnya. Untuk posisinya akan diganti saat temu teknik di Malang sehari sebelum pertandingan,'' jelas Eddy, sapaan karib Eddyanto Sabarudin.

Turnamen Indonesia Grand Prix Gold punya kenangan manis bagi Hayom. Pada 2011, dia mampu menjadi juara tunggal putra.

Di final yang dilaksanakan di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 2 Oktober 2011, Hayom menang dua game langsung 21-16, 21-17 atas rekannya sendiri, Tommy Sugiarto.

Tahun lalu saat dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, dia sempat digadang-gadang bakal kembali juara. Apalagi, lelaki yang pernah digembleng di Pelatnas PBSI tersebut diunggulkan di posisi teratas.

Sayang, Hayom sudah terjungkal di babak ketiga. Pebulu tangkis yang bernaung di bawah bendera Djarum Kudus tersebut tumbang dua game langsung 20-22, 14-21 oleh Derek Wong dari Singapura.

Dengan absennya Hayom, asa terbesar meraih gelar di nomor bergengsi ditaruhkan di pundak Tommy. Putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut ditempatkan di posisi kedua. (*)

Anthony Gagal Ulangi Capaian di Hongkong

Rabu, 25 November 2015

ANTHONY Ginting kembali menginjak bumi. Wakil Pelatnas PBSI itu sudah menyerah di babak kedua Makau Grand Prix Gold 2015.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan pada Rabu waktu setempat (25/11/2015), Anthonya kalah tiga game 21-14, 15-21, 16-21 kepada unggulan kesebelas asal Hongkong Wong Wing Ki. Sebelumnya, dia sempat mencetak langkah yang sensasional.

Datang dengan status nonunggulan, Anthony mampu menembus semifinal turnamen super series, Hongkong Open 2015. Hanya, langkahnya ke babak final dijegal oleh Tian Houwei dari Tiongkok.

Sebenarnya, kansnya melaju ke babak pemungkas dianggap terbuka lebar. Itu dikarenakan Anthony pernah menang atas wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut dalam pertemuan perdana.

Dengan kekalahan ini seakan membuat Anthony tetap harus menyadari kemampuannya. Dengan usia yang masih muda, dia buruh jam terbang yang banyak guna mematangkan kemampuan dan pengalaman.

Selain Anthony, wakil Indonesia yang sudah rontok di babak kedua Makau Grand Prix Gold 2015 adalah Kaizar Bobby Alexander dan Firman Abdul Kholik. Kaizar takluk 8-21, 12-21 kepada wakil Jepang Kenta Nishimoto dan Firman tak berdaya menghadapi unggulan keempat Son Wan-ho (Korsel) dan menyerah 19-21, 11-21.

Sementara yang sudah menginjakkan kaki di babak ketiga adalah Jonatan Christie dan Ihsan Maulana Mustofa. (*)

Sudah Jalannya Bisa Juara

MALAYSIA baru saja mengukir sejarah dalam Kejuaraan  Dunia Junior. Negeri jiran ini mampu menempatkan dua wakilnya di babak final tunggal putri dalam ajang yang dilaksanakan di Lima, Peru, tersebut.

Goh Jin Wei mampu menundukkan kompatriot (rekan senegara) Lee Ying Ying dengan dua game langsung 21-15, 21-16. Namun, di balik sukses tersebut ada faktor Indonesia yang tak boleh dipandang sebelah mata. Pelatih Jin Wei dan Ying Ying adalah Rony Agustinus.

Lelaki ini pernah menjadi tunggal putra andalan merah putih di akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an. Rony juga pernah menjadi bagian pelatih di Pelatnas PBSI.Berikut petikan wawancara dengan Rony.

Selamat siang mas. Juara dunia junior dari Malaysia, yang latih Rony?
-Siang.Saya yang latih Goh Jin Wei. Saya juga yang mendampingi saat di Peru.

Sejarah ya Malaysia bisa melahirkan juara dunia tunggal putri?
-Saya awalnya nggak tahu. Saya malah baru tahu setelah keduanya bisa masuk final.

Metode latihan apa yang membuat Anda bisa mencetak All Malaysian Finals di nomor tunggal putri dalam Kejuaraan Dunia 2015?
-Gak ada metode apa-apa. Latihan normal seperti biasa. Hanya, keduanya memang kadang latihan bareng senior-seniornya.

Tapi, Anda termasuk hebat. Padahal, ada Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia juga di sektor tunggal putri. Semua turun dengan kekuatan terbaik.
-Ya mungkin sudah jalannya. Mereka juga sudah jumpa dengan Tiongkok dan Jepang di babak-babak awal.

Kok Indonesia nggak bisa?
-Wah kalau itu saya nggak bisa jawab.(*)

Harusnya Tak Perlu Rubber Jonatan

LANGKAH Jonatan Christie di Makau Grand Prix Gold 2015 terus melaju Kini, jejak pebulu tangkis tunggal putra masa depan Indonesia tersebut sudah ada di babak ketiga dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Itu setelah Jonatan Christie menang rubber game 11-21, 21-12, 21-12 atas Kuo Po Cheng dari Taiwan dalam pertandingan babak kedua yang dilaksanakan Rabu waktu setempat (25/11/2015). Di atas kertas, sebenarnya Jonatan tak perlu memeras keringat hingga tiga game.

Alasannya, ranking dunianya jauh di atas Po Cheng. Saat ini, Jonatan ada di posisi 40 sedangkan lawannya di 201.

Dalam Makau Grand Prix Gold 2015 ini, Jonatan langsung menyedot perhatian. Pada penampilan perdana di babak pertama, dia memulangkan unggulan teratas asal India Kidambi Srikanth dengan straight game 21-16, 23-21.

Kidambi diunggulkan teratas karena ranking dunia yang saat ini di posisi ketujuh paling tinggi dibandingkan semua peserta. Bahkan, dia sempat berada di posisi ketiga dunia.

Tentu,mengalahkan unggulan teratas tentu menjadi nilai plus bagi Jonatan. Sayang, dia masih sering labil.

Dia belum pernah menembus hingga babak semifinal turnamen bergengsi di level super series atau super series premier. Ini membuat Jonatan masih kalah dengan rekannya di Pelatnas PBSI Anthony Ginting yang pekan lalu menembus semifinal Hongkong Super Series 2015. Sedang Jonatan, yang diunggulkan di posisi keempat, malah sudah tumbang di babak kedua. (*)

Kido Ganti Pasangan Lagi

Selasa, 24 November 2015

PASANGAN Markis Kido berganti lagi. Di Makau Grand Prix Gold 2015, dia berpasangan dengan Hendra Aprida Gunawan

Kali terakhir, Kido berduet dengan Agripinna Prima. Hanya, dibandingkan dengan pasangan-pasangan sebelumnya, Kido/Agripinna kurang moncer.

Sebelumnya, kakak dari dua mantan pebulu tangkis nasional Bona Septano dan Pia Zebadiah tersebut berpartner dengan Hendra Setiawan dan Alvent Yulianto serta Markus 'Sinyo' Fernaldi. Bersama Hendra, Kido mencapai puncak prestasi.

Keduanya mampu menjadi juara dunia 2007 dan meraih emas Olimpiade Beijing 2008. Belum lagi seabrek gelar dari berbagai ajang bergengsi.

Namun, setelah Hendra kembali ke Pelatnas PBSI, Kido pun harus mencari pasangan baru. Pebulu tangkis senior yang juga sama-sama pernah digembleng di Cipayung, lokasi Pelatnas PBSI, Alvent Yulianto.

Bersama Alvent, Kido masih bisa menembus Kejuaraan Dunia. Namun, usai Kejuaraan Dunia 2013 di Tiongkok, keduanya pun berpisah.

Kido lebih sreg mempunyai pasangan yang lebih muda. Pilihan pun dijatuhkan kepada Sinyo.

Mereka masih sempat menjadi perbincangan. Itu terjadi ketika menjadu juara Prancis Super Series 2013.

Seperti halnya dengan Hendra, Kido sendiri lagi karena Sinyo menerima pinangan Pelatnas PBSI.

Bersama Agripinna, mereka hanya datar-datar saja capaian yang dilakukan. Bahkan, hasil buruk dipetik di Thailand Grand Prix 2015 pada Oktober lalu.

Kido/Agripinna tersingkir di babak kedua. Mereka menyerah dari wakil Jepang yang belum populer Takuto Inoue/Yuki Kaneko dengan 17-21, 9-21.

Setelah itu, keduanya tak tampil lagi. Dalam Tiongkok Super Series pada dua pekan lalu, Kido hanya berlaga di nomor ganda campuran bersama Pia.

Hendra sendiri bukan pebulu tangkis level bawah. Dia sempat menjadi harapan di pelatnas ketika berpasangan dengan Alvent. (*)

Ratu Sirnas Berjaya di Finlandia

TAK sia-sia Febby Angguni jauh-jauh ke Finlandia.Mantan tunggal putri penghuni Pelatnas PBSI tersebut mampu keluar sebagai juara Finlandia International Series 2015.

Dalam laga final yang dilaksanakan di Helsinki pada Minggu waktu setempat, Febby, yang diunggulkan di posisi kelima, menundukkan wakil Denmark Sofie Holmboe dengan rubber game 18-21, 21-10, 21-8. Tahun lalu, dalam ajang yang sama, Febby tak ikut ambil bagian.

Juara tahun lalu di sektor tunggal putri adalah Olga Golovanova. Pada 2015, perempuan asal Rusia tersebut absen.

Perjuangan Febby dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 5 ribu tersebut lumayan berat . Khususnya semifinal dan final

Tiket ke babak final diperoleh setelah menumbangkan unggulan teratas Kati Tolmoff (Estonia) dengan 22-20, 21-19. Gelar ini juga menjadi yang pertama bagi Febby yang kini bernaung di Tjakrindo Masters.  Selama ini, dia lebih sering berjaya di ajang sirkuit nasional (sirnas). (*)



Juara Finlandia International Series 2015

Tunggal putra:Steffen Rasmussen (Denmark x2) v Kasper Dinesen (Denmark) 21-14, 21-17

Tunggal putri:Febby Angguni (Indonesia x5) v Sofie Holmboe (Denmark) 18-21, 21-10, 21-8

Ganda putra:Nikita Khakimov/Vasily Kuznetsov (Rusia x1) v Nicklas Mathiasen/Lasse Moelhede (Denmark) 21-16, 9-21, 21-17

Ganda putri:Clara Nistad/Emma Wengberg (Swedia) v Alida Chen/Cheryl Seinen (Belanda x4) 21-16, 22-20

Ganda campuran: Filip Duwall/Emma Wengberg (Swedia x1) v Kristoffer Knudsen/Emilie Moller (Denmark) 13-21, 22-20, 21-15

x=unggulan

Hendrawan Tak Lagi Dampingi Chong Wei

Senin, 23 November 2015

PERFORMA Lee Chong Wei layak dapat jempol. Bukan hanya satu tapin dua.

Dia mampu menjadi juara dua kali beruntun Levelnya tak sembarangan, super series premier dan super series.

Itu diukir Chong Wei di Tiongkok Super Series Premier 2015 dan Hongkong Super Series 2015.Memang, lelaki 32 tahun tersebut pernah juga dua kali juara beruntun yakni di Amerika Serikat dan Kanada

Hanya, dua ajang tersebut levelnya bukan teratas Amerika Serikat berlabel grand prix gold dan Kanada bertitel grand prix.

Namun, ada yang beda saat Chong Wei juara di Tiongkok dan Hongkong. Ada apa? Sosok pelatih yang ada di belakangnya telah bergenti

Usai bebas saksi dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) Mei lalu terkait doping dalam Kejuaraan Dunia 2014, Chong Wei tak lagi didampingi pelatih lamanya, Tey Seu Bock Posisi digantikkan Hendrawan.

Awalnya, di tangan juara dunia 2001 asal Indonesia tersebut, Chong Wei bisa juara di Amerika Serikat dan Kanada. Tapi, belakangan prestasinya terus merosot.

Puncaknya, Chong Wei tersingkir di kualifikasi Korea Super Series 2015. Nah, saat di Negeri Panda, julukan Tiongkok, kursi di belakang finalis dua kali olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, kembali ditempati Seu Bock

''Lagi gantian,'' kata Hendrawan singkat.

Hanya, saat di tangan Seu Bock, Chong Wei malah moncer. Dia seperti kembali ke masa jayanya dengan menjuarai Tiongkok Super Series Premier dan Hongkong Super Series 2015.

Lawan yang dikalahkannya pun tak sembarangan Tunggal putra nomor satu dunia asal Tiongkok Chen Long dikalahkannya dua kali di kandangnya sendiri dan di Hongkong, Begitu juga dengan musuh bebuyutannya, Lin Dan, yang juga dari Negeri Panda, julukan Tiongkok.

Salah satu sumber di Malaysia menyebutkan posisi Hendrawan memang digantikan Seu Bock. Dia dikembalikan lagi memoles pebulu tangkis lapis II negeri jiran (*)

Inilah Chong Wei yang Sesungguhnya

ANCAMAN kembali ditebar Lee Chong Wei. Tak genap setahun Olimpiade Rio de Janeiro, lelaki Malaysia tersebut layak masuk kembali dalam daftar calon peraih emas dalam pesta olahraga empat tahunan tersebut.

Indikasinya, Chong Wei mampu dua kali beruntun menjadi juara dalam ajang yang diikuti semua pebulu tangkis tunggal putra dunia. Setelah Tiongkok Super Series Premier 2015 pekan lalu, kini bapak 32 tahun tersebut naik ke podium terhormat dalam Hongkong Super Series 2015.

Dalam final yang dilaksanakan di Kowloon pada Minggu waktu setempat (22/11/2015), Chong Wei menghentikan ambisi pebulu tangkis muda Tian Houwei dengan straigt game 21-16, 21-15. Sebenarnya, laga pemungkas turnamen berhadiah USD 375 ribu tersebut bukan yang menguras tenaga dan emosi.

Laga yang sarat emosi malah sudah dilakoni di babak perempat final Saat itu, dia mampu menjungkalkan unggulan teratas Chen Long asal Tiongkok.

Kemenangan itu mengulang suksesnya di Tiongkok Super Series 2015. Chong Wei mempermalukan tunggal nomor satu dunia saat ini  tersebut.

Tahun 2015 merupakan tahun yang terberat bagi Chong Wei. Dia mengakhiri hukuman delapan bulan dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Mei 2015. Saat itu, rankingnya terpuruk hingga terlempar dari 100 besar.

Tapi, berlahan tapi pasti, mantan tunggal putra nomor satu dunia tersebut mulai beranjak naik dan menembus posisi 100 besar. Hanya, kembali cobaan menerpa. Dia gagal beruntun di Jepang Super Series 2015 dan Korea Super Series.

Ironisnya, di Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, dia tersingkir di babak kualifikasi, ingat babak kualifikasi bukan di babak utama

Hanya, setelah sukses di Tiongkok, kini rankingnya sudah ada di enam besar. Bahkan, tak menutup kemungkinan bakal melesat lagi usai menjadi juara di Hongkong. (*)

Hasil Hongkong Super Series 2015
Tunggal putra:Lee Chong Wei (Malaysia) v Tian Houwei (Tiongkok) 21-16, 21-15

Tunggal putri:Carolina Marin (Spanyol x1) v Nozimi Okuhara (Jepang) 21-17, 18-21, 21-18

Ganda putra:Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark x3) 21-7, 18-21, 21-18

Ganda putri:Tiang Qing/Zhou Yunlei (Tiongkok x5) v Tang Yuanting/Yu Yang (Tiongkok) 21-15, 21-12

Ganda campuran: Zhang Nan/Zhou Yunlei (Tiongkok x1) v Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok) 21-17, 17-21, 21-17

x=unggulan

Hendra/Ahsan Mencari Kemenangan Kelima Beruntun

Sabtu, 21 November 2015

BEKAL penting dibawa Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Keduanya selalu menang dalam empat kali pertemuan dengan Mathoas Boe/Carsten Mogensen.

Nah, ini membuat Hendra/Ahsan berpeluang menembus final Hongkong Super Series 2015. Pasangan merah putih tersebut bakal berjumpa dengan Boe/Mogensen dalam babak semifinal yang dilaksanakan pada Sabtu waktu setempat (21/11/2015).

Di perempat final sehari sebelumnya, Hendra/Ahsan mampu melakuka revans atas pasangan Korea Selatan Kim Gi-jung/Kim Sa-rang dengan dua game yang menegangkan 20-22, 21-19. Dalam pertemuan terakhir di Korea Super Series pada September lalu, Hendra/Ahsan kalah 17-21, 15-21. Sementara, Boe/Mogensen menembus semifinal usai menghentikana wakil Indonesia lainnya, Angga Pratama/Ricky Karanda dengan tiga game 20-22, 21-12, 21-14.

Di Hongkong, Hendra/Ahsan diharapkan bisa mengembalikan pamor. Ya, usai menjadi juara dunia pada Agustus 2015, keduanya selalu terjegal di babak-babak awal.

Bahkan, pekan lalu di Tiongkokm Super Series Premier 2015, Hendra/Ahsan sudah menyerah di babak kedua. Mereka ditundukan wakil tuan rumah Wang Yilv/Zhang Wen.

Di babak semifinal lainnya, unggulan teratas Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong berjumpa dengan pasangan Tiongkok Chai Biao/Hong Wei. Yong-dae/Yeon-seong memupus asa Markus Gideon/Kevin Sanjaya dengan 21-15, 21-15. (*)

Saatnya Kini Melihat Anthony

DARI semua yang ada di Pelatnas PBSI, Anthony Ginting tak banyak disebut-sebut. Jonatan Christie lah yang digadang-gadang baal menjadi tunggal putra masa depan Indonesia.

Ini wajar karena dari postur, Jonatan lebih unggul. Selain itu, dia sudah memperoleh gelar internasional di saat tiga rekan-rekannya Firman Abdul Kholik, Ihsan Maulana Mustofa, dan Anthony.

Bahkan, saat Jonatan redup, giliran Ihsan yang melejit. Dia beberapa kali lewat dari jeratan babak kualifikasi di turnamen super series atau super series premier.

Tapi, kini semuanya harus berpaling kepada Anthony. Itu setelah dia mampu menembus sebuah turnamen super series, Hongkong Open 2015.

Tiket tersebut ditanganAnthony setelah menundukkan Kazumasa Sakai dari Jepang dengan straight game 21-14, 21-14. Ini merupakan pertemuan bagi keduanya.

Namun, sorotan tertuju kepadanya saat Anthony memulangkan unggulan keempat Kento Momota. Juara Indonesia Super Series Premier 2015 tersebut dipermalukannya dengan dua game yang mudah 21-7, 21-15.

Di semifinal, Anthony akan menjajal Tian Houwei dari Tiongkok. Secara ranking, dia kalah.

Saat ini, Anthony di posisi 54. Sementara, wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, itu sudah ada di posisi 10.

Tapi jangan lupa, pebulu tangkis merah putih tersebut pernah mengalahkan Houwei. Itu terjadi di babak pertama Taiwan Grand Prix Gold 2015. Saat itu, Anthony menang 21-13, 21-14 atas lawannya yang diunggulkan di posisi kedelapan tersebut. (*)

Tinggal Satu untuk Bisa Sama

LEE Chong Wei kembali on fire. Dua kali beruntun, dia mampu mempermalukan tunggal putra nomor satu dunia saat ini Chen Long dari Tiongkok.

Pekan lalu, lelaki asal Malaysia tersebut melibas pebulu tangkis jangkung tersebut di final Tiongkok Super Series Premier 2016. Nah, tak ada sepekan, Chong Wei kembali melakukan hal yang sama.

Bahkan, itu dilakukannya di babak perempat final Hongkong Super Series 2015. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Koowlon pada Jumat waktu setempat (20/11/2015), Chong Wei menang tiga game 13-21, 21-19, 21-15.

Kemenangan ini membuat lelaki 32 tahun tersebut kini hanya berselisih satu kekalahan dari Chen Long. Chong Wei menang 11 kali dengan satu kemenangan lagi bakal membuatnya imbang menjadi 12-12.

Kans menembus final dan kembali menjadi juara seperti di Negeri Panda, julukan Tiongkok. Di semifinal, Chong Wei akan berhadapan dengan Ng Ka Long.

Wakil tuan rumah tersebut menembus babak empat besar usai menundukkan unggulan kelima Chou Tien Chen (Taiwan) dengan rubber game 21-17, 15-21, 21-15. Dia menjadi sorotan setelah di babak kedua menjungkalkan unggulan ketiga Lin Dan.

Bagi Chong Wei, Ng Ka Long bukan wajah asing. Mereka sudah dua kali bertemu dan semuanya dimenangkan pebulu tangkis negeri jiran tersebut.

Salah satunya pekan lalu di Tiongkok Super Series Premier 2015. Di babak I, Chong Wei menang 21-10, 21-15. Satu lagi, keduanya berjumpa di final Kanada Grand Prix 2015 dan dimenangkan dengan 21-17, 21-13.

Satu laga semifinal lain mempertemukan wakil Indonesia Anthony Ginting melawan Tian Houwei (Tiongkok). (*)

Cheong Wei Terus Melompat

Jumat, 20 November 2015

POSISI Lee Chong Wei terus merangkak naik. Kini, mantan tunggal putra nomor satu dunia tersebut sudah ada di posisi kekenam.

Dalam ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 19 November 2015, lelaki asal Malaysia tersebut naik tiga setrip dari pekan sebelumnya. Ini menjadi posisi terbaik bagi Chong Wei setelah kembali ke lapangan hijau pada Mei lalu.

Tak bisa dipungkiri, berada di posisi keenam tersebut tak lepas dari hasil Tiongkok Super Series Premier 2015. Dalam event berhadiah total USD 700 ribu dan dilaksanakan di Fuzhou tersebut, Chong Wei memuat kejutan besar.

Dia mampu menjadi juara. Pada laga final (15/11/2015), lelaki yang kini berusia 33 tahun tersebut mengalahkan andalan Tiongkok Chen Long dengan straight game 21-15, 21-11.

Menariknya, selain Chen Long, sejak babak II, Chong Wei mampu membabat habis para unggulan. Setelah melibas Ng Ka Long dari Hongkong di babak pertama dengan 21-10, 21-15, di babak-babak berikutnya dua kali finalis olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut mempermalukan para calon juara.

 Di babak kedua, unggulan keenam asal Taiwan Chou Tien Chen dikalahkan 21-9, 15-21, 21-12. Kemudian, di perempat final, giliran Jan O Jorgensen, unggulan kedua dari Denmark, dengan 21-11, 11-21, 21-10.

Setelah itu, tiket ke final digenggamannya berkat kemenangan 17-21, 21-19, 21-19 atas musuh besarnya Lin Dan (Tiongkok). Ini menjadi kemenangan kesepuluh dari 35 kali pertemuan.

Sedangkan hasil atas Chen Long, membuat Chong Wei memperkecil defisit kekalahan. Dia menang 10 kali dari 22 kali pertemuan.

Dari Negeri Panda, julukan Tiongkok, Chong Wei berhak atas poin maksimal, 11.000. (*)

Ranking tunggal putra
1. Chen Long (Tiongkok)

2. Jan O Jorgensen (Denmark)

3. Lin Dan (Tiongkok)

4. Kento Momota (Jepang)

5. Viktor Axelsen (Denmark)

6. Lee Chong Wei (Malaysia)

7.K. Srikanth (India)

8.Chou Tien Chen (Taiwan)

9. Son Wan-ho (Korsel)

10.Tian Houwei (Tiongkok)

Bukannya Naik, Malah Melorot

NAIK ke podium juara di Hungaria Challenge 2015 belum memberi efek kepada Aprilia Yuswandari. Sebaliknya, ranking yang dimiliki malah turun.

Dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (19/11/2015), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut berada di posisi 131. Padahal, pekan lalu, Aprilia ada di ranking 122 atau sembilan setrip lebih bagus.

Ya, pekan lalu, pebulu tangkis yang dibesarkan PB Semen Gresik tersebut mampu menjadi juara Hungaria International Series 2015. Pada babak final, Aprilia, yang diunggulkan di posisi kelima, melibas Chloe Birch dari Inggris dengan 21-19, 21-9. Dari ajang tersebut, perempuan asal Jogjakarta tersebut memperoleh 2.500 poin.

Ini menjadi gelar perdana baginya usai memutuskan meninggalkan tanah air dan menjadi lawan tanding di Swiss. Sebelumnya, Aprilia sudah tampil dalam Swiss International  2015.

Sayang, dalam ajang tersebut, dia hanya mampu babak ketiga. Langkahnya dihentikan oleh pebulu tangkis Prancis Delphine Lansac.

''Habis juara di Hungaria, Aprilia mengontak saya. Saya hanya pesan agar dia tetap rajin berlatih dan mengejar prestasi di sana,'' ungkap Koko Pambudi, pelatih yang membesarkan Aprilia saat di PB Semen Gresik. (*)

Sudah Tak Lagi Menakutkan

HINGGA 2012, siapa yang bisa membayangkan Lin Dan kalah. Hampir semua turnamen yang diikuti selalu dimenangkan oleh tunggal putra andalan Tiongkok tersebut.

Bahkan, prestasi sensasional pun diukir lelaki yang kini berusia 32 tahun tersebut yakni lima kali juara dunia dan dua emas olimpiade. Tapi, kini, semua itu sudah tak ada artinya.

Kegagalan sudah banyak mengiringnya. Bahkan, di kandang sendiri pekan lalu dalam Tiongkok Super Series Premier 2012, dia hanya sampai semifinal karena kalah oleh sahabat sekaligus rival beratnya di luar lapangan Lee Chong Wei dari Malaysia.

Capaian lebih buruk pun dialaminya di Hongkong Super Series 2015. Lin Dan gagal menembus babak perempat final turnamen yang menyediakan hadiah total USD 350 ribu tersebut.

Suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang itu menyerah kepada wakil tuan rumah Ng Ka Long dengan dua game langsung 8-21, 18-21 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Kowloon pada Kamis waktu setempat.

Padahal, di atas kertas, Lin Dan jauh lebih unggul. Dia merupakan unggulan ketiga sedangkan lawannya nonunggulan karena hanya berada di ranking 22 dunia.

Pada babak perempat final yang dilakukan Jumat (20/11/2015) juga ditandai dengan de javu Kejuaraan Dunia 2015. Unggulan teratas Chen Long (Tiongkok) bakal berjumpa dengan Lee Chong Wei.

Indonesia masih punya wakil. Itu setelah Anthony Ginting memulangkan unggulan keempat Kento Momota dari Jepang dengan 21-7, 21-15. Dia akan kembali berjumpa dengan wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, Kazumasa Sakai. (*)

Saatnya Balas Malu

HENDRA Setiawan/Mohammad Ahsan mulai akrab dengan kegagalan. Pil pahit tersebut ditelan bukan lagi di babak final.

Di babak-babak awal pun, kini Hendra/Ahsan sering ditundukkan lawan-lawannya. Bukan lagi oleh Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dari Korea Selatan.

Bahkan, pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, Kim Gi-jung/Kim Sa-rang mampu mempermalukan Hendra/Ahsan pada Korea Super Series 2015 pada September lalu. Nah, kini, kedua pasangan kembali bertemu.

Seperti di Korea Super Series lalu, Hendra/Ahsan dan Gi-jung/Sa-rang adu kekuatan di babak perempat final Hongkong Super Series 2015. Itu setelah kedua pasangan mampu melibas lawan-lawannya di babak kedua turnamen berhadiah total USD 350 ribu tersebut.

Dalam laga yang dilaksanakan di Kowloon pada Kamis waktu setempat (19/11/2015) itu, Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di posisi kedua, menang dua game langsung 21-16, 21-19 atas pasangan Tiongkok Wang Yilv/Zhang Wen.Kemenangan ini membalas rasa malu pekan lalu. Dalam event Tiongkok Super Series Premier 2015, Hendra/Ahsan menyerah rubber game 21-15, 11-21, 14-21. Sedangkan Gi-jung/Sa-rang menghentikan pasangan tuan rumah yang tampil dari babak kualifikasi Or Chin Chung/Tang Chun Mang dengan 21-19, 21-7.

Di babak perempat final ganda putra ini, Indonesia masih punya dua wakil lain, Markus Fernaldi/Kevin Sanjaya dan Angga Pratama/Ricky Karanda. (*)

Quat-trick Kalah di Final

Senin, 09 November 2015

PUPUS sudah asa Indonesia menjadi juara dunia junior. Meski, peluang tersebut sudah ada di depan mata.

Dalam final nomor beregu yang dilaksanakan di Lima, Peru, pada Minggu malam waktu setempat (8/11/2015) atau Senin pagi WIB (9/11/2015), merah putih kalah 0-3 dari Tiongkok.  Dengan langsung kalah tiga partai, dua partai lain urung dilaksanakan.

Tiga wakil Indonesia yang kalah tersebut adalah dari nomor ganda campuran, tunggal putra, dan ganda putra. Ironisnya, semua kalah dengan dua game langsung

 Di ganda campuran, Marsheilla Gischa Islami/Andika Ramadiansyah menyerah 10-21, 14-21 kepada Chen Qingchen/Zheng Siwei. Di partai kedua yang mempertandingkan nomor tunggal putra, Panji Ahmad Maulana tak berdaya dan kalah 11-21, 16-21 dari juara tunggal putra tahun lalu Lin Guipu.

Negeri Panda, julukan Tiongkok, menentukan berada di posisi juara usai  He Jiting/Zheng menghentikan wakil Indonesia di nomor ganda putra Andika Ramadiansyah/Rinov Rivaldy dengan 21-13, 21-10.

Dengan leading 3-0, Gregoria Mariskan di tunggal putri dan Mychelle Crhytine Bandaso/Serena Kani di ganda putri tak jadi turun ke lapangan.

Kekalahan ini membuat Indonesia tak pernah menjadi juara beregu mulai Kejuaraan Dunia Junior dilaksanakan pada 2000. Sebuah hal yang tragis sebenarnya.

Alasannya, nama resmi Kejuaraan Dunia Junior adalah Suhandinata Cup. Nama tersebut diambil dari tokoh bulu tangkis dunia asal Indonesia Suhandinata

Selain itu, dalam tiga tahun terakhir, sebenarnya merah putih selalu menembus babak akhir. Pada 2014 dan 2012, Indonesia kalah oleh Tiongkok. Sedang dua tahun lalu, harapan Indonesia dikandaskan Korea Selatan. (*)

Penanasan Sony sebelum ke Malang

RANKING Sony Dwi Kuncoro telah menembus 100 besar dunia. Berdasar peringkat terakhir yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (29/11/2015), dia ada di posisi 58. Tapi, itu tak membuat dia gengsi berlaga di Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Timur.

Nama sony terdaftar sebagai peserta dalam event yang dilaksanakan 9-14 November tersebut. Bahkan, mantan tunggal putra terbaik indonesia tersebut ditempatkan sebagai unggulan pertama dalam ajang yang kelompok dewasanya dilaksanakan hanya di GOR Sudirman tersebut.

"Sony menjadi ikon Surabaya. Kehadirannya tetap kami butuhkan di Sirnas Jatim untuk menarik penonton," ungkap Ketua Panpel Sirnas Jatim Bayu Wira.

Dia mengingatkan saat Indonesia Challenge 2015 lalu. Dalam ajang berhadiah total USD 20 ribu tersebut, Sony turun dan jadi magnet kejuaraan.

Bahkan, peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut mampu keluar sebagai juara. Padahal, dia bukan sebagai unggulan teratas.

Sony sendiri mengaku turun di Sirnas Jatim sebagai ajang pemanasan sebelum berlaga di Indonesia Masters Grand Prix Gold di awal Desember di Malang, Jawa Timur. Meski begitu, bapak dua anak tersebut tetap akan tampil maksimal. (*)

Singapura-Filipina Takut Asap

HADIRNYA lima negara manca di ajang sirkuit nasional (sirnas) jatim memang layak dapat apresiasi. Negara-negara tersebut adalah Malaysia dengan lima pebulu tangkis, Jerman (1), Belanda (1), Slovakia (1), dan Syria (1).

"Sebenarnya masih ada dua negara lagi yang ikut. Tapi Singapura dan Filipina mengundurkan diri," terang Ferry Stewart, bidang luar negeri Sirnas Seri Surabaya.

Singapura dan Filipina,terangnya, urung berlaga karena takut bencana asap dan gunung meletus. Ini, tambah Ferry, membuat atlet kedua negara tersebut batal.

"Kami tak bisa berbuat apa apa. Itu hak mereka," jelas lelaki yang juga pembina klub Wima Surabaya tersebut.

Peserta dari luar negeri memang tak ada dalam setiap sirnas. Tercatat hanya di Seri Jakarta, ada wakil dari mancanegara.

''Kehadiran pebulu tangkis asing berapa pun jumlahnya tetap penting. Itu bisa mengangkat gengsi turnamen,'' tambah Ketua Panpel Seri Surabaya Bayu Wira.(*)

Luber Peserta, Tambah Gedung

JATIM  punya magnet kuat bagi pebulu tangkis. Setiap ajang olahraga berlabel nasional dan internasional yang dilaksanakan di provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut selalu luber peserta.

Ini kembali terbukti dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Jatim 2015. Dalam ajang yang dilaksanakan 9-14 November tersebut diikuti oleh 1.290 peserta.

"Jumlah ini paling banyak dibandingkan dengan sirnas seri lain. Tapi banyaknya peserta ini membuat kami harus menambah gedung," kata Ketua Panitia Sirnas Seri Jatim 2015 Bayu Wira.

Sebelumnya, gedung yang dipakai adalah Sudirman dan Suryanaga.Tapi dengan membeludaknya peserta, panitia memakai GOR STIESIA.

"Kalau memaksakan dua gedung, pertandingan bisa sampai subuh. Dengan tiga gedung, last call 21.30 WIB," tambah Lailatul Qomalia.

Selain itu, dari dalam negeri, Sirnas Seri Jatim juga diikuti oleh pebulu tangkis dari lima negara manca. Mereka berasal dari Malaysia,Jerman, Belanda, dan Slovakia. Yang menyusul Syria.

Sayang, Pelatnas PBSI tak bisa mengirimkan wakil. Alasannya, pada waktu bersamaan mereka berlaga di turnamen yang lain.

"Ada yang bermain di Kejuaraan Dunia Junior di Peru dan yang lainnya ke Malaysia Challenge," lanjut Bayu. (*)

Chong Wei Panaskan 10 Besar

Minggu, 08 November 2015

SATU babak penting sudah dilalui Lee Chong Wei. Mulai pekan lalu, dia sudah menembus posisi 10 besar dunia.

Bahkan, dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 5 November 2015, Chong Wei nak satu setrip di posisi sembilan. Capaian ini tak lepas dari kerja kerasnya sejak kembali ke pentas bulu tangkis pada 1 Mei lalu usai menjalani sanksi dari BWF.

Dia absen hingga delapan bulan karena terbukti mengkonsumsi doping pada Kejuaraan Dunia 2014 yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark. Imbasnya, ranking yang dimiliki di posisi teratas lambat laun turun hingga pernah terlempar di titik terendah 180 pada 26 Juni 2015.

Kembalinya ke posisi 10 besar tersebut digapai usai Chong Wei menjadi juara Prancis Super Series 2015 pada akhir Oktober lalu. Kemenangan tersebut membuat lelaki memperoleh gelar Datuk dari pemerintahan Malaysia tersebut berhak memperoleh 9.200 poin.

Itu cukup mengangkat hingga sembilan tangga ke posisi 10 besar. Hanya, untuk kembali ke puncak bakal butuh perjuanan ekstrakeras.

Chong Wei masih sering labil. Buktinya, dia pernah memetik hasil yang memalukan di Korea Super Series 2015.

Dua kali finalis olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut tumbang di babak kualifikasi. Tentu tugas bagi pelatihnya sekarang, Hendrawan, untuk mengembalikan keangkeran Chong Wei

Itu sudah mulai terlihat Gelar Prancis Super Series dan menembus 10 besar sebagai bukti. (*)

Saling Kejar Yang Ketiga

USIA Lee Hyun-il terus bertambah. Pada 2015 ini, pebulu tangkis spesialis tunggal putra tersebut sudah menginjak 35 tahun.

Namun, itu tak banyak menggerus kemampuannya. Buktinya, Hyun-il masih mampu menembus final Korea Masters 2015.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (7/11/2015) di Jaeju, lelaki yang diunggulkan di posisi kedua tersebut menghentikan ambisi juniornya, Jeon Hyeok-jin, dengan dua game langsung 21-12,24-22. Ini merupakan kemenangan keempat dalam empat kali pertemuan Hyun-il dengan finalis Indonesia Challenge 2015 tersebut.

Pada babak final yang dilaksanakan Minggu (8/11/2015), dia akan ditantang juniornya yang lain, Lee Dong-keun. Kompatriot (rekan senegaranya) tersebut di semifinal menumbangkan unggulan teratas Son Wan-ho dengan straight game 21-13, 21-16.

Pertandingan Hyun-il versus Dong-keun tersebut merupakan kali kedua.Dalam pertemuan pertama di Korea Grand Prix 2014, dia kalah 18-21, 22-24.

Itu terjadi di babak final. Sehingga, laga babak pemungkas Korea Mastes 2014 merupakan ulangan tahun lalu.

Selama Korea Masters digelar sejak 2007, Hyun-il dan Dong-keun sama-sama sudah mengoleksi dua gelar. Hyun-il naik podium terhormat pada 2011 dan 2013. Sedangkan Dong-keun melakukannya pada 2012 dan 2014. (*)

Agenda final Korea Masters 2015
Ganda putra: Kim Gi-jung/Kim Sa-rang (Korsel x3) v Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel (Korselx2)

Ganda putri: Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan (Korsel x6) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x5)

Tunggal putra: Lee Hyun-il (Korsel x3) v Lee Dong-keun (Korsel x1)

Tunggal putri: Sayaka Sato (Jepang x4) v Sun-yu (Tiongkok x2)

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x1) v Shin Baek-choel/Chae Yoo-jung (Korsel x5)

x=unggulan

Kekeringan Gelar Semakin Panjang

Sabtu, 07 November 2015

INDONESIA pulang tanpa gelar dari Korea Masters 2015. Tiga wakil merah putih yang masih tersisa, satu di tunggal putra dan dua di ganda putri, menyerah kepada lawan-lawannya

Ironisnya, pil pahit tersebut sudah ditelan di babak perempat final. Di tunggal putra, Jonatan Christie, yang diunggulkan di posisi kedelapan, menyerah 10-21, 21-18, 8-21 atas Lee Dong-keun dari Korea Selatan dalam pertandingan yang dilaksanakan di Jeonju pada Jumat waktu setempat (6/11/2015).

Bagi Jonatan, kekalaan ini membuatnya gagal mengulangi pertemuan pertama. Di Korea Super Series 2015 yang dilaksanakan September lalu, dia menang 23-21,16-21, 21-13.

Sementara di ganda putri, Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari kalah dua game langsung 19-21, 17-21 kepada wakil tuan rumah yang ditempatkan di unggulan keenam Jung Kyun-eun/Shin Seung-chan. Ini diikuti oleh Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi yang terhenti langkahnya oleh Fuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) dengan 22-20, 19-21, 9-21.

Korea Masters yang masuk kategori grand prix gold tahun ini merupakan ajang yang menjadi momok bagi wakil Indonesia. Sejak digelar 2007, belum ada satu pun wakil merah putih yang naik ke podium terhormat.

Tuan rumah masih menjadi kolektor terbanyak dengan 36 kali menempatkan wakilnya menjadi juara. Tiongkok hanya berhasil membawa pulang dua gelar dan Jepang hanya sekali. (*)

Berakhir Penantian selama 16 Bulan

Senin, 26 Oktober 2015

PENANTIAN Lee Chong Wei menjadi juara di ajang super series/super series premier berakhir. Wakil Malaysia tersebut mampu menjadi pemenang di nomor tunggal putra dalam Prancis Super Series 2015.

Lelaki yang diberi gelar Datuk oleh Pemerintah Malaysia tersebut menang 21-13, 21-18 atas Chou Tien Chen dalam laga final  yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat (25/10/2015).  Kali terakhir Chong Wei menjadi juara di Jepang Super Series 2014 yang dilaksanakan pada Juni. Saat itu, dia mampu mengalahkan Hu Yun (Hongkong).

Memang, pada 2015 ini, bapak dari bocah bernama Kingstone tersebut sudah dua kali menjadi juara di Amerika Serilat dan Kanada. Hanya, kedua turnamen tersebut levelnya 'hanya' grand prix gold dan grand prix.

Capaian di Paris diharapkan akan terus mengangkat kepercayaan diri Chong Wei. Ini dikarenakan dalam tiga turnamen terakhir, hasilnya sangat mengecewakan yakni di Jepang Super Series, Korea Super Series, dan Denmark Super Series Premier.

Bahkan, di Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, dia menyerah di babak kualifikasi. Dia tak bisa langsung ke babak utama karena rankingnya yang belum memadai untuk langsung lolos ke babak elite.

Hanya, kemenangannya dalam turnamen berhadiah total USD 275 ribu tersebut tak diikuti oleh tunggal putra terbaik diunia saat ini, Chen Long. Dia memuntuskan absen usai menjajdi pemenang di Denmark Super Series Premier 2015. (*)

Siapa Bisa Hadang Yong-dae/Yeon-seong

PASANGAN Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong kembali juara. Kali ini. Prancis Super Series 2015 yang dimenangani.

Dalam final yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat, pasangan Korea Selatan tersebut menang dua game langsung 21-14, 21-19 atas wakil Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding.Pertarungan kedua pasangan tersebut memakan waktu 1 jam kurang empat menit atau tepatnya 56 menit.

Kemengan di Kota Mode, julukan Paris, tersebut menambah koleksi gelar Yong-dae/Yeon-seong. Selama 2015, mereka sudah naik ke podium terhormat sebanyak enam kali. Menarik empat di antaranya dilaksanakan secara beruntun.

Sebelumnya, pada tiga turnamen sebelumnya yang dijuarai adalah Denmark Super Series Premier, Korea Super Series, dan Jepang Super Series. Sedangkan dua kalungan medali berharga dilakukan dalam Kejuaraan Asia 2015 dan Australia Super Series 2015.

Menariknya, semua lawan yang dikalahkan di babak final tersebut hanya pasangan Tiongkok Liu Cheng/Lu Kai yang pernah bertemu lebih dari sekali. Sementara lawan yang lain hanya sekali berjumpa.
Salah satu pasangan yang dikalahkan Yong-dae/Yeon-seong adalah wakil merah putih Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Kejuaraan Asia 2015.

Gelar Prancis Super Series ini semakin memantapkan posisinya di puncak ranking dunia. Susah digeser oleh para rival yang masih sering labil. (*)

Koleksi gelar Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong
Kejuaraan Asia 2015: v Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia) 18-21, 24-22, 21-19

Australia Super Series 2015: v Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok) 21-16, 21-17

Jepang Super Series 2015: v Fu Haifeng/Zhang Nan (Tiongkok) 21-19, 29-27

Korea Super Series 2015: v Kim Gi-jung/Kim Sa-rang (Korsel) 21-16, 21-12

Denmark Super Series Premier 2015: Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok) 21-8, 21-14

Lho, kok Tanpa Gelar Terus

INDONESIA gagal membawa pulang gelar dari Prancis Super Series 2015. Satu-satunya harapan wakil merah putih naik ke podium terhormat, Praveen Jordan/Debby Susanto, kalah di babak final nomor ganda campuran.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat (25/10/2015), keduanya menyerah kepada wakil Korea Selatan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dengan rubber game 10-21, 21-15, 19-21.Pertandingan kedua pasangan tersebut memakan waktu 1  jam 8 menit. Ini menjadi partai terlama dalam final turnamen yahg menyediakan hadiah total USD 275 ribu tersebut.

Sebenarnya,modal berharga dipunyai Praveen/Debby. Dalam pertemuan terakhir di Thailand Grand Prix Gold 2015, Praveen/Debby menang dengan dua game langsung 21-16, 21-16. Meski, sebelumnya, dalam dua pertemuan, mereka kalah.

Kekalahan ini membuat Indonesia tak bisa mengulangi capaian dalam dua tahun terakhir. Pada 2014, merah putih menempatkan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Markis Kido/Markus Fernaldi di ganda putra pada 2013.

Tahun ini, Tontowi/Liliyana sudah tersingkir di babak I. Unggulan kedua ini dipermalukan pasangan yang belum punya nama asal Jepang Keigo Sonoda/Naoko Fukuman. Sementara, Kido/Markus sudah bercerai sejak Markus dipanggil lagi ke Pelatnas Cipayung.

Harapan juga sempat diletakan pasangan juara dunia ganda campuran asal Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Hanya, langkahnya sudah terhenti di babak semifinal oleh Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding. (*)

Distribusi gelar Prancis Super Series 2015
Tunggal putra: Lee Chong Wei (Malaysia) v Chou Tien Chen (Taiwan x6) 21-13, 21-18

Tunggal putri: Carolina Marin (Spanyol x2) v Wang Shixian (Tiongkok x4) 21-18, 21-10

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark) 21-14, 21-19

Ganda putri: Huang Yaqiong/Tan Jinhua (Tiongkok) v Liu Ying/Luo Yi (Tiongkok x2) 21-13, 21-16

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia) 21-10, 15-21, 21-19

x=unggulan

Saatnya Chong Wei Rasakan Gelar Bergengsi

Minggu, 25 Oktober 2015

DUA gelar sudah dikoleksi Lee Chong Wei usai comeback ke lapangan. Hanya, raihan tersebut bukan di ajang turnamen super series ataupun super series.

Lelaki asal Malaysia itu 'hanya' menjuarai nomor tunggal putra di Kanada Grand Prix dan Amerika Grand Prix Gold. Lawan-lawan yang dihadapi pun bukan para pebulu tangkis papan atas dunia.

Sementara, di turnamen bergengsi, Chong Wei masih puasa gelar. Bahkan, hasil yang diraih bisa dikatakan tak memuaskan.

Hanya, dalam Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta pada Agustus lalu, dia mencapai puncak. Saat itu, langkahnya dihentikan oleh hen Long, unggulan teratas asal Tiongkok.

Di ajang lain, dia tumbang di babak awal. Bahkan yang paling tragis terjadi di Korea Super Series 2015.

Chong Wei sudah tersingkir di babak kualifikasi. Mantan tunggal putra nomor satu dunia itu dipermalukan wakil tuan rumah Heo Kwang-hee dengan 19-21, 19-21.

Sedang di Jepang Super Series 2015 , dia dikalahkan lawan beratnya, Lin Dan, di perempat final dengan 17-21, 10-21. Kemudian, pekan lalu, Chong Wei menyerah di babak kedua kepada Wei Nan dari Hongkong 18-21, 19-21.

Kali terakhir, tunggal putra andalan negeri jiran tersebut menjadi juara turnamen super series atau super series premier pada Jepang Open pada JUni 2014. Setelah itu, beberapa bulan kemudian, petaka menimpanya.

Chong Wei terbukti memakai doping. Ini membuatnya mendapat sanksi larangan tampil selama delapan bulan. Imbasnya, rankingnya pun turun drastis hingga terlempat ke luar 100 besar.

Dalam babak final Prancis Super Series 2015, Chong Wei menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Taiwan Chou Tien Chen, yang di semifinal menundukkan unggulan kedua Jan O Jorgensen dengan 21-11, 21-19. Ini menjadi pertemuan perdana Chong Wei dengan Tien Chen. (*)

Bukan Hendra/Ahsan yang Lolos

INDONESIA hanya bisa menempatkan wakil dalam final Prancis Super Series 2015. Tapi capaian tersebut bukan dibukukan oleh Hendra SetiawanMohammad Ahsan di ganda puyra maupun Greysia PoliiNitya Krishinda  di ganda putri. 


Dua pasangan yang sebenarnya lebih diharapkan tersebut gagal menembus babak pemungkas. Keduanya menuerah kepada lawan-lawannya dalam babak semifinal yang dilaksanakan di Paris pada Sabtu waktu setempat (24/10/2015).

Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di posisi kedua, secara mengejutkan ditundukkan wakil Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding dengan rubber game 18-21, 21-19, 15-21. Di atas kertas, sebenarnya pasangan merah putih tersebut lebih diunggulkan.

Secara ranking, Hendra/Ahsan ada di posisi kedua. Sedangkan lawannya tujuh setrip di bawahnya. Selain itu, dalam dua pertemuan sebelumnya di Indonesia Super Series Premier 2014 dan Hongkong Super Series 2014.

Kekalahan ini memperpanjang puasa gelar pasangan yang pernah duduk di posisi teratas dunia tersebut. Usai Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta pada Agustus lalu, Hendra/Ahsan belum pernah lagi naik di podium terhormat.

Sementra, di ganda putri, Greysia/Nitya menyerah dua game langsung 19-21, 14-21 kepada Luo Ying/Luo Yu, unggulan kedua dari Tiongkok.  Kekalahan ini termasuk juga diluar prediksi.

Alasannya, dalam lima kali pertemuan, pasangan Indonesia tersebut hanya sekali kalah.Bahkan, dalam tiga kali pertemuan terakhir, Greysia/Nitya selalu memetik kemenangan.

Nah, wakil yang lolos ke final adalah Praveen Jordan/Debby Susanto. Di babak semifinal, keduanya menenggelamkan unggulan kedelapan asal Tiongkok Lu Kai/Huang Yaqiong dengan dua game langsung 21-18, 21-19. Untuk bisa menjadi juara, wakil merah putih tersebut harus bisa menghentikan perlawanan Kim Sung-hyunKim Ha-na. Pasangan Korea Selatan itu menembus final usai melibas Chris AdcockGabrielle Adcock dengan 21-14, 21-11.

Praveen/Debby dan Sung-hyun/Ha-na sudah empat kali bertemu dengan skor 2-2 Hanya, dalam pertemuan terakhir di Thailand Grand Prix Gold 2015, pasangan Indonesia tersebut memetik hasil manis dengan 21-16, 21-16.(*)

Sang Ratu dari Spanyol Bakal Lebih Lama Bertahan

Sabtu, 24 Oktober 2015

POSISI nomor satu dunia berpindah tangan. Dalam daftar yang dirlis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (22/10/2015), Carolina Marin menjadi ratu baru.

Pebulu tangkis asal Spanyol tersebut menggeser Saina Nehwal dari India. Kudeta ini tak lepas dari hasil yang terjadi di Denmark Super Series 2015.

Dalam ajang yang dilaksanakan di Odense tersebut, Saina gagal menjadi juara. Meski, sebenarnya, dia diunggulkan di posisi kedua.

Secara mengkutkan, perempuan 25 tahun tersebut dihentkan oleh Minatsu Mitani dari Jepang di babak kedua dengan 18-21, 13-21.

Sebenarnya, Marin juga gagal menjadi pemenang di Denmark Super Series Premier. Hanya, langkahnya lebih jauh.

Juara dunia 2014 dan 2015 tersebut menyerah kepada pebulu tangkis India lainnya, PV Sindhu, dengan 15-21, 21-18, 17-21.

Marin pernah menduduki nomor satu dunia. Hanya, itu tak bertahan lama, hanya sepekan.

Namun, kali ini, singgasana tersebut bakal lebih lama. Ini mengacu dari Prancis Super Series 2015

Saina sudah terhenti di babak perempat final oleh Ratchanok Intanon dengan 9-21, 15-21 pada laga yang dilaksanakan di Paris pada Jumat watu setempat (23/10/2015). Sementara, Marin masih bertahan hingga semifinal usai membekal wakil Indonesia Maria Febe Kusumastuti dengan 21-16, 21-10. (*)

Praveen/Debby Memberi Harapan

PRANCIS Super Series 2014 terasa menyakitkan bagi Praveen Jordan/Debby Susanto. Langkah keduanya lansung terhenti di babak I dalam event yang dilaksanakan di Paris tersebut.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan 21 Oktober tersebut, Praveen/Debby dikalahkan pasangan suami istri asal Inggris 19-21, 17-21. Seiring perjalanan waktu, pasangan yang digembleng di Pelatnas PBSI tersebut pun semakin matang.

KIni, di Prancis Super Series 2015, mimpi buruh tahun lalu itu pun dibuang jauh. Bahkan, jalan menjadi juara pun terbuka.

Praveen/Debby sudah menembus babak semifinal. Lawan yang dikalahkannya di perempat final pada Jumat waktu setempat (23/10/2015) itu pun tak sembarangan, pasangan senior Tiongkok Xu Chen/Ma Jin.

Wakil merah putih tersebut unggul dengan rubber game yang ketat 21-9, 19-21, 23-21. Ini menjadi kemenangan kedua Praveen/Debby atas Chen/Jin. Sebelumnya, mereka unggul All England Super Series Premier 2015. Tapi, setelah itu, pasangan yang berasal dari klub yang sama, Djarum Kudus, tersebut menyerah di Singapura Super Series 13-21, 16-21.

Di babak semifinal. Praveen/Debby berjumpa dengan pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, lainnya Lu Kai/Huang Yaqiong. Bagi pasangan merah putih, Kai/Yaqiong bukan lawan yang asing.

Kedua pasangan saling mengalahkan. Hanya, Praveen/Debby punya bekal berharga.

Dalam pertemuan terakhir, mereka menang di India Super Series 2015 dengan 23-21, 21-12. Ini membalas kekalahan di Malaysia Grand Prix 2014. Saat itu, Praveen/Debby tunduk 14-21, 13-21.

Sebenarnya, di ganda campuran, Indonesia sangat berharap kepada Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir. Diunggulkan di posisi kedua, mereka malah tersungkur di babak I oleh pasangan Jepang Keigo Sonoda dengan tiga game 21-16, 17-21, 13-21. (*)

Lentingan Jauh Sony dari Taiwan

Kamis, 22 Oktober 2015



TAK sia-sia Sony Dwi Kuncoro menjuarai Taiwan Grand Prix. Pulang dari ajang yang menyediakan hadiah total USD 50 ribu tersebut, rankingnya melonjak 26 setrip.

Pekan lalu, Sony masih berada di posisi 83 dunia. Kini, dalam daftar yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (22/10/2015), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut ada di posisi 57 dunia.

Ya, dari Taiwan Grand Prix, Sonya memperoleh poin 5.500 poin. Ini dikarenakan Sony sukses menjadi juara.

Diharapkan, dengan penampilan yang terus membaik, dalam waktu dekat, bapak dua putri tersebut bisa menembus 50 besar dunia. Apalagi, pada awal September lalu, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut juga bisa menjadi pemenang di Indonesia Challenge 2015 yang digelar di Surabaya, Jawa Timur.

Karena cedera yang membekap, Sony sempat terpuruk. Dia pernah berada di posisi 154 dunia.

Dengan usia yang tak muda lagi, 31, capaian yang diraih Sony perlu mendapat apresiasi. Dia tetap ingin tampil di lapangan guna menginspirasi dan menggugah semangat pebulu tangkis muda usia.

Masa jaya Sony diukir saat mampu menembus semifinal Olimpiade Athena 2004 dan pulang membawa medali perunggu. Selain itu, di era itu, dia pun sukses meraih juara Asia hingga tiga kali.

Usai dari Taiwan, Sony mempunyai agenda untuk berlaga di Korea Grand Prix Gold 2015. Seperti biasa, dia tak mau banyak sesumbar. (*)

Tommy Kembali Huni 10 Besar Dunia



POSISI 10 besar kembali ditembus Tommy Sugiarto. Bahkan, dalam ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), dia sudah bertengger di posisi delapan.

Itu tak lepas dari capaian yang dilakukan di Denmark Super Series Premier 2015. Dalam ajang yang dilaksanakan di Odense tersebut, Tommy mampu menembus babak final.

Sayang, dalam pertandingan pemungkas yang dilaksanakan 18 Oktober 2015, dia menyerah kepada unggulan teratas Chen Long asal Tiongkok dengan dua game langsung 12-21, 12-21.  Namun, dari sisi poin, Tommy mendapat suntikan yang lumayan banyak, 9.350.

Donasi tersebut sudah membuat dia melonjak empat setrip. Pekan lalu, Tommy masih berada di posisi ke-12.

Memang, dibandingkan ranking terbaiknya, Tommy perlu latihan ekstrakeras. Dia pernah menempati posisi ketiga dunia.

Sayang, cedera membuat penampilannya labil. Akibatnya, rankingnya terus menurun.

Namun, perlahan tapi pasti, Tommy pun mampu bangkit. Apalagi, setelah dia memutuskan bergabung dengan Sport Affairs, Malaysia.

Tommy mendapat pelatih berkualitas, Rashid Sidek. Di tangan mantan pelatih nasional Malaysia tersebut, dia mampu menjadi juara di Vietnam Grand Prix.

Sayang, pekan ini, di Prancis Super Series 2015, Tommy tumbang di babak I. Secara mengejutkan, dia menyerah kepada pebulu tangkis yang merangkak dari babak kualifikasi Lee Dong-keun asal Korea Selatan. (*)

Menang Mudah karena Ganti Pasangan

LUI Kai menjadi mimpi buruk bagi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Berpasangan dengan Liu Cheng, ganda Tiongkok  tersebut mempermalukan juara dunia 2015 tersebut dengan dua game langsung 25-23, 23-21 di babak II Denmark Super Series Premier.

Sepekan kemudian, Hendra/Ahsan kembali bersua dengan Lu Kai di Prancis Super Series 2015. Hanya, dia tak lagi bersama dengan Liu Cheng.

Lu Kai dipasangkan dengan pebulu tangkis senior Cai Yun. Awalnya, bisa jadi, Hendra/Ahsan bakal memetik aib lagi. Alasannya, pengalaman dan skill Cai Yun masih di atas Liu Cheng.

Namun, di atas lapangan lain. Hendra/Ahsan menang mudah 21-13, 21-10 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Paris pada Rabu waktu setempat (21/10/2015).Ini merupakan kemenangan keempat dalam empat kali perjumpaan. Sebelumnya, wakil merah putih tersebut unggul di Kejuaraan Asia 2015, Malaysia Open 2015, dan Denmark Super Series 2015.

Pada babak II, Hendra/Ahsan akan ditantang Kenta Kazuno/Kazushi Yamada. Pasangan Jepang ini di babak perdana menghentikan perlawanan Lin Chia Yu/Wu Hsiao-Lin dengan 21-19, 20-22, 23-21.

Sudah tiga kali Hendra/Ahsan berjumpa dengan pasangan Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, itu Hasilnya, pasangan andalan Pelatnas PBSI tersebut selalu menang yakni di Jepang Open 2015, Kejuaraan Asia 2015, dan Hongkong Open 2015. (*)

Gagal Manaatkan Mundurnya Chen Long

SEMULA, banyak yang pesimistis Tommy Sugiarto bakal langsung tersingkir di Prancis Super Series 2015. Alasannya, di babak pertama turnamen berhadiah total USD 275 ribu tersebut, dia berjumpa dengan unggulan teratas Chen Long dari Tiongkok.

Fakta membuktikan bahwa Tommy selalu kesulitan melawan pebulu tangkis nomor satu dunia tersebut. Dia hanya menang sekali dalam sembilan kali pertemuan.

Termasuk dalam pertemuan terakhir di final Denmark Super Series Premier 2015. Saat itu, Tommy menyerah dengan straight game 12-21, 12-21.

Tapi, menjelang pertandingan, Chen Long mengundurkan diri dengan alasan sesuatu Tentu, ini membawa berkah bagi tunggal putra dengan ranking dunia terbaik dari Indonesia tersebut.

Tommy urung bertemu dengan Chen Long. Dia 'hanya' berjumpa dengan Lee Dong-keun dari Korea Selatan.  Sayang, kesempatan itu dibuang sia-sia oleh juara Vietnam Grand Prix 2015 tersebut.

Secara mengejutkan, Tommy kalah oleh lawan yang merangkak dari babak kualifikasi tersebut. Dia kalah 16-21, 21-14, 19-21.

Hasil tersebut di luar dugaan. Selain rankingnya lebih unggul, Tommy di posisi 12 dan Dong-keun 31, pertemuan keduanya memihak wakil merah putih. Tommy selalu menang di Singapura Open 2013 dan Korea Open 2011.

Hasil sama juga dialami wakil Indonesia lainnya, Dionysius Hayom Rumbaka. Di babak I, dia menyerah kepada unggulan keenam Chou Tien Chen (Taiwan) dengan 25-25, 14-21. Ini menjadi kekalahan ketiga mantan penghuni Pelatnas PBSI itu dari lawan yang sama. (*)

Duh, Tontowi/Liliyana Kalah di Babak I

Rabu, 21 Oktober 2015

HARAPAN tinggi diberikan ke pundak Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Prancis Super Series 2015 Keduanya diharapkan mampu mengakhiri krisis gelar di ajang level tertinggi BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

Apalagi, pekan lalu, ganda campuran nomor satu Indonesia tersebut nyaris menjadi pemenang di Denmark Super Series Premie. Sayang, secara mengejutkan Tontowi/Liliyana menyerah Ko Sung-hyun/Kim Ha-na.

Nah, kegagalan tersebut diharapkan dibalas tuntas di Paris, host Prancis Super Series 2015. Asa itu semakin dipertebal dengan absennya lawan beratnya asal Tiongkok Zhang Nan/Zhou Yunlei

Alih-alih lolos ke final, ternyata Tontowi/Liliyana harus memendam dalam-dalam asa tersebut.Keduanya langsung menyerah di babak pertama dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 275 ribu tersebut. Tontowi/Liliyana dipermalukan pasangan Jepang Keigo Sonoda/Naoko Fukuman dengan rubber game 21-16, 17-21, 13-21.

Padahal, secara ranking, pasangan Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, tersebut jauh di bawahnya. Tontowi/Liliyana ada di posisi kedua atau 66 setrip di atas lawannya.

Selain itu, dalam dua kali pertemuan sebelumnya, pasangan yang digembleng di Pelatnas PBSI tersebut selalu memetik kemenangan. Itu dicapai di Australia Super Series 2015 dengan 18-21, 21-17, 21-11. Kemudian di Malaysia Super Series 2015 dengan straight game 21-18, 21-11.

Kegagalan ini diikuti  pasangan ganda campuran lainnya Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja. Keduanya menyerah kepada unggulan ketiga Xu Chen/Ma Jin dengan 10-21, 15-21.

Sepanjang 2015, Tontowi/Liliyana hanya mampu menjadi pemenang di Kejuaraan Asia 2015. Sementara di ajang lain, keduanya gagal memenuhi ekspektasi

Termasuk di Kejuaraan Dunia 2015. Langkahnya terhenti di semifinal oleh Nan/Yunlei. Meski event bergengsi tersebut dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta. (*)

Langsung Ketemu Chen Long

Selasa, 20 Oktober 2015

Tommy (kanan) usai dikalahkan Chen Long di Denmark
TOMMY Sugiarto baru saja berjumpa dengan Chen Long. Keduanya adu kekuatan di final Denmark Super Series Premier 2015 yang dilaksanakan di Odense pada Minggu waktu setempat (18/10/2015).

Hasilnya, tunggal putra terbaik Indonesia tersebut menyerah dua game langsung 12-21, 12-21. Setelah itu, Tommy dan Chen Long sama-sama tampil di Prancis Super Series 2015.

Hanya, keduanya tak bisa berjumpa di babak pemungkas lagi. Ini disebabkan Tommy dan Chen Long langsung bentrok di babak I dalam ajang berhadiah total USD 275 ribu tersebut.

Tentu, posisi Tommy tak diunggulkan. Saat ini, Chen Long tengah on fire.

Apalagi, hasil dari Denmark membuktikan bahwa dia tak mengalami kesulitan berarti untuk menundukkan putra legenda bulu tangkis Icuk Sugiarto tersebut. Tommy juga hanya sekali menang dalam sembilan kali pertemuan.

Hasil tersebut dipetiknya dalam Indonesia Super Series Premier 2013 Ketika itu, dia menang 21-11, 21-18. (*)

Bisa Juara dengan Pasangan Baru

Senin, 19 Oktober 2015

KOMBINASI: Pia Zebadiah
PIA Zebadiah selalu identik dengan Markis Kido. Wajar sebagai dia merupakan adik dari peraih emas nomor ganda putra Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido.

Bahkan, sang kakak pula yang dijadikannya sebagai pasangan di nomor ganda campuran usai dia terdepak dari Pelatnas PBSI. Setelah sebelumnya, namanya di ganda campuran melekat bersama Fran Kurniawan.

Tapi, mulai Oktober ini, Pia punya pasangan baru. Jika di ganda putri ada Variella ''Lala'' Putri, di ganda campuran bukan lagi dengan pebulu tangkis Indonesia.

Ya, sejak Belanda Grand Prix, Pia bertandem dengan lelaki asal Skotlandia Robert Blair Sayang, debutnya tak terlalu bagus.

Blair/Pia terhenti di babak perempat final. Mereka dipaksa mengakui ketangguhan wakil Prancis Ronan Labar/Emilie Lefel dengan 12-21, 21-23.

Tapi, kegagalan di Negeri Tulip, julukan Belanda, menjadi pelajaran bagi keduanya. Buktinya, di Swiss Challenge 2015, keduanya mampu menjadi juara.

Dalam final yang dilaksanakan di Yverdon-les-Bains, Blair/Pia mampu menjadi juara. Mereka mengalahkan Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand) dengan pertarungan sengit selama tiga game dengan b18-21, 25-23, 21-18

Sayang, ranking Blair/Pia belum cukup untuk bisa menembus babak kualifikasi Prancis Super Series 2015 yang berlangsung 20-25 Oktober ini. Pia hanya berlaga di ganda putri dengan Lala dan merangkak dari kualifikasi. (*)



Distribusi Gelar Swiss Challenge 2015

Tunggal putra: Iskandar Zulkarnain (Malaysia x6) v Ville Lang (Finlandia x3) 21-19, 16-21, 21-11

Tunggal putri:Nitchaol Jindapol (Thailand x3) v Olga Konon (Jerman) 16-21,21-16, 21-14

Ganda putra:Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia x2) v Peter Briggs/Tom Wolfenden (Inggris x3) 21-16, 17-21, 21-16

Ganda putri:Samantha Barning/Iris Tabeling (Belanda x1) v Pia Zebadiah/Varielle Putri (Indonesia) 21-11, 21-10

Ganda campuran: Robert Blair/Pia Zebadiah (Skotlandia/Indonesia) v Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand) 18-21, 25-23, 21-18

x=unggulan

Quattrick Tontowi/Liliyana Kalah di Final

TUMBANG: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir belum bisa juara
PELUANG juara yang sudah ada di depan mata dibuang Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Keduanya menyerah dalam pertarungan tiga game 20-22, 18-21, 9-21 kepada wakil Korea Selatan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Odense pada Minggu waktu setempat (18/10/2015).

Kekalahan ini membuat Tontowi/Liliyana selalu gagal dalam empat kali (quattrick) penampilan di babak pemungkas di Negeri Skandinavia tersebut. Tahun lalu, keduanya dikalahkan Xu Chen/Ma Jin dari Tiongkok dengan 20-22, 15-21.

Sedangkan pada 2013, pasangan yang digembleng di Pelatnas PBSI tersebut menyerah 11-21, 20-22 kepada pasangan Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, lainnya Zhang Nan/Zhou Yunlei. Nah, pada 2012, Xu Chen/Ma Jin kembali menjadi penjegal. Tontowi/Liliyana tumbang dengan tiga game 21-23, 26-24, 11-21.

Sebenarnya, peluang terbesar menjadi pemenang memang kali in. Alasannya, dua lawan beratnya itu, Xu Chen/Ma Jin dan Zhang Nan/Zhou Yunlei, sudah tersingkir di babak awal.

Sang juara bertahan dihentikan Song-hyun/Ha-na di perempat final dengan 13-21, 21-13, 21-15. Sementara, Nan/Yunlei , yang diunggulkan di posisi teraras, secara mengejutkan dipermalukan ganda Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, Shin Baek-cheol/Chae Yoo-jung dengan 20-22, 18-21.

Di atas kertas, Tontowi/Liliyana diunggulkan bisa naik ke podium terhormat. Keduanya unggul head to head dengan Song-hyun/Ha-na. Pasangan merah putih tiga kali unggul dalam lima kali pertemuan.  Hanya, dalam perjumpaan terakhir, di Jepang Super Series 2015, Tontowi/Liliyana kalah 16-21, 21-23.

Kegagalan ini membuat nomor ganda campuran belum pernah lagi juara di Denmark Open, nama resmi Denmark Super Series Premier, sejak 2001-2002. Saat itu, Tri Kusharjanto/Emma Ermawati menundukkan Nathan Robertson/Gail Emms dari Inggris dengan 7-5, 7-1, 7-4.

Kegagalan serupa juga dialami Tommy Sugiarto. Dia menyerah 12-21, 12-21 kepada unggulan teratas tunggal putra yang sekaligus juara bertahan Chen Long (Tiongkok).

Distribusi gelar Denmark Super Series 2015
Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Tommy Sugiarto (Indonesia) 21-12, 21-12

Tunggal putri: Li Xuerui (Tiongkok x4) v PV Sindhu (India) 21-19, 21-12

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok) 21-8, 21-14

Ganda putri: Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan (Korsel) v Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5) WO

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x2) 20-22, 18-21, 9-21

x=unggulan

Ya Istri, Ya Pelatih, Juga Motivator

TERHORMAT: Sony Dwi Kuncoro di atas podium
SONY Dwi Kuncoro naik ke podium juara nomor tunggal putra dalam Taiwan Grand Prix 2015. Dalam final di Taipei pada Minggu waktu setempat (18/10/2015), dia mengalahkan asa tuan rumah yang juga unggulan kelima Tzu Wei Wang dengan dua game langsung 21-13, 21-15.

Ini menjadi gelar kedua bagi Sony pada 2015. Pada awal September lalu, bapak dua anak tersebut menjadi juara di Indonesia Challenge yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya.

Memang, level grand prix lebih tinggi satu setrip dibandingkan challenge. Sehingga perjuangan Sony pun lebih berat dibandingkan di Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Apalagi,  di Taiwan Grand Prix, Sony bukan kandidat utama juara. Dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut, dia hanya ditempatkan di posisi ke-16.

Lalu apa resep Sony bisa juara? Padahal, dia sudah tak punya pelatih tetap usai didepak dari Pelatnas Cipayung pada 2014?

''Istri saya. Dia yang mendampangi saya ke Taipei,'' kata Sony kepada smashyes.

Gading Savitri, nama sang istri, sangat membantu. Dia mampu menjadi ofisial dan motivator di lapangan.

''Dia punya ilmu bulu tangkis. Kecilnya kan pemain,'' ungkap lelaki 31 tahun tersebut.

Selain itu, saat berada di pelatnas, Gading hampir setiap hari mendampingi Sony. Sehingga, dengan melihat, dia pun memperoleh ilmu bulu tangkis.

''Jadi, istri tahu strategi apa yang dipakai untuk mengalahkan lawan Kehadirannya sangat membantu saya,'' ujar mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut.

Pada 2007, Sony pernah menjuarai turnamen yang sama.Di babak final, dia mengalahkan rekannya saat itu di pelatnas, Taufik Hidayat (*)

Empat Gelar setelah Menunggu 21 Tahun

KOMPAK: Kevin Sanjaya (kiri) dan Markus Fernaldi
INDONESIA pesta gelar di Taiwan Grand Prix 2015. Merah putih meraih empat posisi terhormat dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 50 ribu tersebut.

Dari lima nomor yang dipertandingkan, hanya di tunggal putri yang lepas dari cengkeraman pebulu tangkis Indonesia. Itu pun dikarenakan tak ada wakil dari negeri terpadat di Asia Tenggara tersebut.

Dari empat gelar itu, tiga di antaranya dicapai oleh wakil Pelatnas PBSI atau yang biasa disebut Pelatnas Cipayung. Yakni dari nomor ganda putra melalui Markus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (ganda putri), dan pasangan ganda campuran Ronald Alexander/Melati Daeva

Sementara, juara tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro bukan membawa bendera Pelatnas Cipayung. Ini setelah pada 2014, dia tak lagi tercantum namanya sebagai penghuni kawah candradimuka atlet olahraga tepok bulu tersebut

Capaian empat gelar ini mengulangi hasil pada 1994 Ketika itu, Haryanto Arbi menjadi juara tunggal putra, Susi Susanti (ganda putri), Rudy Gunawan/Bambang Supriyanto (ganda putra), dan Lili Tampi/Finarsih (ganda putri).

Sementara, tahun lalu, merah putih hanya mampu mengusung satu gelar melalui nomor ganda putri. Iu melalui pasangan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, yang pada 2013 juga mampu menjadi juara.

Pada 2015, keduanya gagal mencetak hat-trick atau tiga kali beruntun menjadi pemenang. Bukan karena kalah di babak awal. Tapi karena Greysia/Nitya bermain di turnamen yang levelnya lebih tinggi, Denmark Super Series Premier. Dengan berada di posisi 10 besar mewajibkan keduanya turun dalam ajang yang waktunya bersamaan dengan Taiwan Grand Prix tersebut. (*)



Distribusi gelar Taiwan Grand Prix 2015

Tunggal putra:Sony Dwi Kuncoro (Indonesia x16) v Tzu Wei Wang (Taiwan x5) 21-13, 21-15

Tunggal putri:Lee Jang-mi (Korsel) v Kim Hyo-min (Korsel x1) 21-16, 21-16

Ganda putra:Markus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya (Indonesia x1) v Thien How Hoon/Lim Khim Wah (Malaysia x4) 21-12, 21-18

Ganda putri:Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia x4) v Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang) 21-19, 21-14

Ganda campuran: Ronald Alexander/Melati Daeva (Indonesia x1) v Ko-Chi Chang/Hsin Tien Chang (Taiwan) 21-18, 25-27, 21-15

x=unggulan

Mantan Cipayung Belum Jaminan

Minggu, 18 Oktober 2015

JEGAL: Delphine Lansac (foto:twitter)
PERNAH menjadi andalan Indonesia bukan jaminan berjaya di turnamen level challenge. Ini dirasakan benar oleh Aprilia Yuswandari.

Dia sudah terhenti langkahnya oleh Delphine Lansac dari Prancis dengan rubber game 21-10, 16-21, 18-21 dalam pertandingan perempat final Swiss Challenge 2015 yang dilaksanakan di Yverdon-les-Bains pada Sabtu waktu setempat (17/10).Pertemuan Aprilia dengan pebulu tangkis berperingkat 76 tersebut baru kali pertama.

Hanya, di atas kertas, sebenarnya Aprilia bisa mengungguli lawannya. Pengalamannya semasa di Pelatnas PBSI jauh di atas lawannya.

Selain di turnamen-turnamen besar, gadis asal Jogjakarta tersebut pernah membela Indonesia di ajang Piala Uber dan Sudirman. Hanya, karena lama vakum di berbagai event internasional, kini ranking Aprilia meloror jauh. Dia ada di posisi 133 atau masih di bawah Lansac.

Aprilia bisa tampil di Eropa karena kini dia bakal menghabiskan banyak waktunya di Benua Putih, julukan Eropa. Itu setelah dia menerima tawaran bermain di salah satu klub di Swiss.

Aprilia sendiri cukup lama digembleng di Pelatnas Cipayung. Sayang, karena penampilannya yang dianggap mulai turun dia pun terpental pada 2014.

Di Swiss Challenge sendiri, selain Aprilia juga ada pasangan ganda putri Pia Zebadiah/Variella ''Lala'' Putri. Ayunan langkah keduanya masih bertahan hingga babak semifinal. (*)

Mengejar Sejarah di Negeri Dongeng

LAWAN: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (foto: victor)
PASANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akhirnya mencapai final Denmark Super Series Premier 2015.Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Odense pada Sabtu waktu setempat (17/10/2015), unggulan kedua tersebut memetik kemenangan straight game 21-18, 21-16 atas Liu Cheng/Bao Yixin, yang diunggulkan di posisi keempat.

Kemenangan tersebut membuat Tontowi/Liliyana unggul lima kali dalam tujuh kali pertemuan. Kali terakhir, kedua pasangan bersua dalam perempat final Indonesia Super Series Premier 2015.

Di babak pemungkas yang dilaksanakan Minggu waktu setempat (18/10/2015), andalan merah itu akan ditantang Ko Sung-Hyun-Kim Ha-na. Di babak semifinal, unggulan ketujuh tersebut melibas asa tuan rumah Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, unggulan kelima, dengan dua game 21-14, 21-16.

Tontowi/Liliyana tak boleh memandang sebelat mata wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, itu. Dalam pertemuan terakhir di Jepang Super Series 2015, pasangan yang sama-sama bernaung di bendera klub Djarum Kudus tersebut kalah straight game 16-21, 21-23.

Hanya, jika konsisten, jalan juara bagi Tontowi/Liliyana terbentang. Ini sekaligus membuat mereka akan mencatatkan namanya dalam daftar juara di Denmark Open, titel awal Denmark Super Series 2015.

Selama dipasangkan dan mampu menjuarai berbagai turnamen, termasuk Kejuaraan Dunia dan All England, Tontowi/Liliyana nihil gelar di Negeri Dongeng, julukan Denmark, itu. Selain Denmark Open, Indonesia Open juga masuk dalam daftar turnamen yang belum pernah dimenangi Tontowi/Liliyana.

Kali terakhir, pasangan ganda campuran merah putih yang menjadi juara di Denmark Open adalah Tri Kusharjanto/Emma Ermawati pada 2001-2002. Hanya, maksud 2001-2002 itu bukan berarti mereka juara dua tahun beruntun.Dulu, Denmark Open selalu dilaksanakan di pergantian tahun.  (*)

Kiprah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Denmark Open

2010:

2011: Babak I: kalah oleh Lee Yong-dae/Ha Jung-eun (Korsel) 15-21, 21-12, 17-21

2012: Final: kalah oleh Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) 21-23, 26-24, 11-21

2013: Final : kalah oleh Zhang Nan/Zhaou Yunlei (Tiongkok) 11-21, 20-22

2014: Final : kalah oleh Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok)20-22, 15-21

Selangkah Lagi ke Podium Terhormat

Tommy Sugiarto tembus final Denmark Open
NAMA Chen Long seperti tembok terjal bagi Tommy Sugiarto. Dia hanya mampu sekali memetik kemenangan dalam delapan kali pertemuan

Kemenangan tersebut pun dipetik setelah keduanya bertemu tujuh kali. Ini terjadi pada Indonesia Open 2013.

Saat itu, Tommy menang dengan dua game 21-11, 21-18. Namun, dalam duel terakhir di Kejuaraan Dunia 2014, putra juara dunia tunggal putra Icuk Sugiarto tersebut gagal mengulangi. Dia kalah 16-21, 20-22.

Nah, kini, Tommy bakal kembali bekerja keras untuk mengurangi selisih kekalahannya. Dia akan menantang Chen Long dalam final Denmark Super Series Premier 2015.

Lolosnya mantan penghuni Pelatnas PBSI atau yang biasa disebut Pelatnas Cipayung tersebut termasuk kejutan. Dia datang tanpa status unggulan dalam turnamen berhadiah total USD 650 ribu tersebut.

Namun, Tommy mampu menjungkalkan para unggulan. Mereka adalah Kidambi Srikant, unggulan kelima asal India, yang dipecandinginya di babak II dengan 21-15, 21-17. Setelah itu, di perempat final, jagoan tuan rumah yang ditempatkan sebagai unggulan kedua Jan O Jorgensen dipermalukannya dengan dua game langsung 21-19, 21-19.

Nah, kemudian di babak semifinal yang dilaksanakan di Odense pada Sabtu waktu setempat (17/10/2015), Tommy menjungkalkan unggulan ketujuh Chou Tien Chen dari Taiwan dengan straight game 21-8, 22-20. Namun, Chen Long beda dengan para unggulan yang sudah dihantamnya.

Pebulu tangkis nomor satu dunia itu termasuk stabil penampilannya. Butuh stamina yang kuat dan kecerdikan untuk bisa membuatnya takluk.

Hanya, Tommy sekarang sudah mengalami perbedaan. Di tangan Rashid Sidek yang menanganinya di Sport Affairs Malaysia, dia lebih sabar dan punya power ketika menyerang. (*)

Agenda final Denmark Super Series Premier

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x2)

Ganda putri: Jung Kyun-eun/Shin Seung-chan (Korsel) v Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5)

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Lu Kai/Liu Cheng (Tiongkok)

Tunggal putri:Li Xuerui (Tiongkok x4) v PV Sindhu (India)

Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Tommy Sugiarto (Indonesia)

x=unggulan

Ada Tiga Atlet Jatim di Final Taiwan Grand Prix

Ronald (belakang) (foto;PBSI)
TAK ada nama kontingen Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jatim di Taiwan Grand Prix 2015. Namun, ada hal yang membuat tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat tersebut menepuk dada.

Ini dikarenakan ada tiga atletnya yang mampu menembus babak final turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut. Meski, mereka membela panji-panji Pelatnas PBSI.

''Ada Kevin Sanjaya dan Ni Ketut Mahadewi serta Ronald Alexander. Mereka memang berlatih di Jakarta karena statusnya pebulu tangkis pelatnas,''kata Kabid Binpres Pengprov PBSI Jatim Koko Pambudi.

Memang, dengan status tersebut, mereka tak bisa bergabung dengan rekan-rekannya di Surabaya. Namun, banyak hal yang didapat Jatim dengan keberadaan ketiganya di Cipayung, markas Pelatnas PBSI.

Sparring yang berkualitas bisa didapat. Selain itu, mengikuti kejuaraan internasional akan ikut memupuk pengalaman bertanding.

Di Taiwan Grand Prix, Kevin yang turun berpasangan dengan Markus Fernaldi berlaga di ganda putra, Ni Ketut di ganda putri bertandem dengan Angia Shitta Awanda. Sedang Ronald berpasangan dengan Melati Daeva di ganda campuran.  Selain ketiganya, Jatim masih mempunyai Krisha Adi di tunggal putra. 

Sementara di Taiwan Grand Prix, selain Kevin, Ni Ketut, dan Ronald, sebenarnya masih ada wakil Jawa Timur lainnya yang berlaga di final. Dia adalah Sony Dwi Kuncoro.

Hanya, karena dia sudah tak masuk Puslatda Jatim karena usianya sudah di atas 25 tahun pada 2016 sebagai syarat untuk bisa berlaga dalam PON nanti. (*)

Ayo Sony, Kamu Bisa

RINTANGAN TERAKHIR: Tzu Wei Wang (foto:badzine)
AROMA juara sudah dicium Sony Dwi Kuncoro. Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut mampu menjejakkan kaki dalam final Taiwan Grand Prix 2015

Dalam babak final yang dilaksanakan Minggu (18/10/2015) di Taipei, Sony akan menantang unggulan kelima
Tzu Wei Wang dari Taiwan. Sony mampu menembus babak pemungkas usai menundukkan mantan rekannya di Pelatnas Cipayung Simon Santoso dengan dua game langsung 21-14, 21-16 dalam laga yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat.

Meski sudah hampir delapan tahun bersama di Pelatnas Cipayung, tapi Sony dan Simon hanya dua kali bertemu. Yakni di Indonesia Open 2008 dan Jepang Open 209.Hasilnya, mereka saling mengalahkan.

Menariknya, kini keduanya tampil lagi usai sama-sama pulih dari cedera. Kondisi itu pula yang membuat mereka terpental dari Cipayung.

Sementara, Wei Wang menggagalkan terjadinya final sesama pebulu tangkis Indonesia (all Indonesian Finals).Ini setelah dia memupus asa atlet muda Indonesia Ihsan Maulana Mustofa dengan rubber game 10-21, 21-8,15-21.Ihsan sendiri dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut ditempatkan sebagai unggulan kelima.

Sony punya memori buruk dengan Wei Wang. Tahun ini di Swiss Grand Prix Gold, dia dipermalukan dengan dua game langsung 11-21, 12-21.

Hanya, kondisi di Swiss pada Maret lalu dengan sekarang sudah berbeda. Ketika itu, trauma cedera masih menghantui Sony.

Sedangkan sekarang, kondisi peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut mulai mendekati penampilan terbaik. Awal September lalu, Sony mampu menjadi juara Indonesia Challenge dan dua pekan lalu menembus perempat final Thailand Grand Prix Gold 2015.

Hanya seperti biasanya, dalam setiap turnamen yang diikuti, dia tak pernah mau banyak sesumbar. Baginya, tampil baik dalam setiap pertandingan menjadi fokus perhatiannya. (*)

Agenda final Taiwan Grand Prix 2015

Ganda putra: Markus Fernaldi/Kevin Sanjaya (Indonesia x1) v Thien How Hoon/Lim Khim Wah (Malaysia x4)

Tunggal putri: Kim Hyo-min (Korea Selatax1) v Lee Jang-mi (Korea Selatan)

Tunggal putra: Sony Dwi Kuncoro (Indonesia x16) v Tzu Wei Wang (Taiwan x5)

Ganda putri: Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia x4) v Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang)

Ganda campuran: Ronald Alexander/Melati Daeva (Indonesia x1) v Ko-Chi Chang/Hsin-Tien Chang (Taiwan)

x=unggulan

Lapang Jalan Tontowi/Liliyana Raih Gelar Perdana

Sabtu, 17 Oktober 2015

TERSINGKIR: Zhang/Zhao Yunlei (foto;xinhua)
MUSIM 2015 sudah berlalu selama 10 bulan Tapi, belum ada gelar dari ajang super series/super series premier yang mampu disabet pasangan ganda campuran andalan Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Di ajang All England yang sudah jadi langganan juara, keduanya tersungkur di final. Tontowi/Liliyana dikalahkan musuh beratnya dari Tiongkok Zhang Nan/Zhou Yunlei. Pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut pula yang sering jadi penjegal langkah ganda yang sama-sama bernaung di klub Djarum Kudus tersebut.

Salah satunya dalam Kejuaraan Dunia 2015 Padahal, ajang itu dilaksanakan di kandang sendri, Jakarta Kali terakhir Nan/Yunlei menjegal Tontowi/Liliyana di final Korea Super Series 2015.

Memang, mereka pernah juara yakni dalam Kejuaraan Asia 2015. Tapi, ketika itu, musuh besarnya tersebut memilih absen.

Namun, kini, kans menjadi juara di ajang turnamen super series premier terbuka lebar. Langkah Tontowi/Liliyana sudah sampai di babak semifinal Denmark Super Series Premier 2015.Sedangkan Nan/Yunlei secara mengejutkan tumbang di babak kedua.Unggulan teratas dalam turnamen yang menyediakan hadiah USD 650 ribu tersebut takluk dua game langsung 20-22, 18-21 kepada wakil Korea Selatan Shin Baek-choel/Chae Yoo-jung.

Tiket semifinal ditangan Tontowi/Liliyana, yang diunggulkan di posisi kdedua, usai mengalahkan unggulan kedelapan Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok) dengan rubber game 21-15, 18-21, 21-15. Ini menjadi kemenangan kedelapan dalam delapan kali pertemuan pasangan merah putih tersebut dengan Kai/Yaqiong.

Di semifinal, Tontowi/Liliyana kembali berjumpa dengan pasangan Tiongkok lainnya. Kali ini, Liu Chen/Bao Yixin yang akan dihadapi

Ganda campuran nomor empat dunia tersebut tak boleh dianggap enteng. Tontowi/Liliyana pernah dua kali mengalami dua kali kekalahan beruntun yakni di Super Series Finals 2014 dan Swiss Grand Prix Gold 2015. Untung, dalam pertemuan terakhir di Indonesia Super Series 2015, Tontowi/Liliyana menang.

Semifinal ganda campuran lainnya di Denmark Super Series 2015 akan mempertemukan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dari Denmark dengan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korea Selatan). (*)

Tommy Permalukan Andalan Tuan Rumah

Jan O Jorgensen tumbang  (foto:yonex)
TOMMY Sugiarto semakin matang. Di bawah polesan mantan pelatih nasional Malaysia Rashid Sidek, dia mulai menyeruak di persaingan jajaran elite nomor tunggal putra dunia.

Buktinya, tunggal putra terbaik Indonesia saat ini tersebut mampu menembus babak semifinal Denmark Open. Padahal, ajang berhadiah total USD 650 ribu tersebut diikuti para atlet terbaik dunia

Hebatnya lagi, yang dikalahkannya adalah andalan tuan rumah Jan O Jorgensen. Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Odense pada Jumat waktu setempat (16/10/2015), Tommy menang dua game langsung 21-19, 21-19 atas unggulan kedua tersebut

Kemenangan ini juga membuatnya sukses melakukan revans. Dalam pertemuan pertama di Super Series Finals 2013, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut menyerah mudah 15-21, 9-21.

Namun, bukan hal yang mudah baginya untuk bisa menembus final. Tommy harus bisa menyingkirkan Chou Tien Chen dari Taiwan Dalam tiga pertemuan terakhir-Asian Games 2014, Prancis Super Series 2014, dan Tiongkok Super Series Premier 2014-, mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu kalah. Tien Chen sendiri lolos ke semifinal usai menumbangkan unggulan keempat Kento Momota (Jepang) dengan 21-19, 20-22.

Semifinal lainnya akan mempertemukan antara andalan Denmark lainnya Viktor Axelsen dengan unggulan teratas Chen Long (Tiongkok). Di perempat final, Viktor mempermalukan juara dunia lima kali Lin Dan (Tiongkok) dengan mudah 21-8, 21-7. Sedang Chen Long dipaksa tampil tiga game 13-21, 21-13, 21-16 untuk menghentikan perlawanan Wei Nan (Hongkong).

Sejak 2009, usai Simon Santoso menjadi juara, belum ada wakil merah putih yang naik ke podium terhormat. Tommy sendiri kini digembleng Rashid di klub barunya di Malaysia, Sport Affairs.

Tahun lalu, di Denmark Super Series Premier, Tommy langsung tersingkir di babak pertama. Diunggulkan di posisi ketujuh, kakak Jauzah Sugiarto tersebut dikalahkan Tian Houwei (Tiongkok) dengan 14-21, 14-21. (*)

Aprilia Mulai Jajal Turnamen Eropa

Jumat, 16 Oktober 2015

 APRILIA Yuswandari memulai debut di Eropa. Mantan  tunggal putri binaan Pelatnas Cipayung tersebut akan berlaga dalam Swiss Challenge 2015.

Pada babak pertama yang dilaksanakan di     Yverodn-les-Bains pada Jumat waktu setempat, dia akan dijajal pebulu tangkis tuan rumah yang lolos dari babak kualifikasi Cendrine Hantz.  Kedua pebulu tangkis belum pernah bertemu.

Hanya, dari ranking terakhir, Aprilia layak diunggulkan menang. Perempuan yang dibesarkan oleh klub Semen Gresik tersebut ada di posisi 133. Sementara lawannya di ranking 227.

Selain itu, secara pengalaman, Aprilia masih unggul. Dia punya bekal pernah menjadi tunggal putri merah putih di ajang Piala Uber dan Sudirman.

Sayang, setelah terpental dari Pelatnas Cipayung 2014, ranking Aprilia terus merosot. Gadis 25 tahun tersebut terlempar dari 100 besar dan belum pernah merasakan juara.

Padahal, tahun ini, Aprilia punya dua kali peluang naik ke podium terhormat yakni di Vietnam Challenge dan Indonesia International Series. Hanya, dia tumbang di babak final.

Kali terakhir, Aprilia berlaga di Eropa pada 2013. Saat itu, dia masih di Pelatnas Cipayung dan mendapat kepercayaan berlaga di All England. Hanya di babak pertama, Aprilia langsung takluk kepada Juliane Schenk dari Jerman.

Nah, kini, Aprilia bisa berlaga kembali di Benia Putih, julukan Eropa, karena dia bergabung dengan salah satu klub di Swiss. Dia tak hanya menjadi lawan tanding (sparring partner) tapi juga mendapat kesempatan berlaga di berbagai turnamen. (*)

Lho, kok Sekarang Chong Wei Kalahan

HONGKONG: Wei Nan, sang penakluk Chong Wei (foto:scmp)

LEE Chong Wei belum bisa kembali ke penampilan puncak. Usai Kejuaraan Dunia 2015, untuk kali ketiga, dia harus menerima hasil buruk.

Ini setelah lelaki asal Malaysia tersebut menyerah dua game langsung 18-21, 19-21 kepada Wei Nan dari Hongkong di Denmark Super Series 2015. Ironisnya, kekalahan tersebut baru terjadi di babak II.

Sebelumnya, mantan pebulu tangkis nomor satu dunia nomor tunggal putra tersebut juga menerima hasil pahit di Jepang Super Series 2015 dan Korea Super Series 2015.

Di Negeri Sakura, julukan Jepang, Chong Wei kalah oleh musuh bebuyutan sekaligus sahabat karibnya sendiri, Lin Dan asal Tiongkok, dengan 17-21, 10-21. Pertarungan tersebut terjadi di babak perempat final.

Sepekan kemudian, di Korea, hasil mengejutkan dialami dua kali peraih medali perak olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut kalah 19-21, 19-21 kepada atlet junior tuan rumah Heo Kwang-hee. Parahnya, kejadian tersebut berlangsung di babak kualifikasi.

Tentu, hasil dalam tiga turnamen tersebut membuat Chong Wei seakan sudah tak menakutkan bagi para atlet olahraga tepok bulu lainnya. Padahal, dalam tujuh tahun terakhir, dia merupakan momok yang menakutkan bagi para lawan-lawannya.

Selain itu, hasil dalam tiga turnamen ini bisa membuat Chong Wei harus bekerja lebih keras jika ingin memecahkan mitos gagal di olimpiade. Apalagi, dia masih ingin tampil di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Ya, Chong Wei sempat diprediksi bakal kembali berjaya. Puncaknya, dia mampu menembus babak pemungkas Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta.

Sayang, langkahnya dihentkkan oleh Chen Long asal Tiongkok. Chong Wei tumbang straight game 14-21, 17-21. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger