www.smashyes.com

www.smashyes.com

Ancaman Hendra/Ahsan Langsung Pulang

Senin, 30 Maret 2015

TANGGUH:Cai Yun/Lu Kai (foto:xinhua.net)

TANTANGAN berat sudah dihadapi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Di babak pertama nomor ganda putra Malaysia Super Series Premier 2015, mereka langsung bersua pasangan Tiongkok Cai Yun/Lu Kai.


Dari peringkat dan rekor pertemuan, Hendra/Ahsan memang lebih unggul. Dari rilis terakhir BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), pasangan terbaik merah putih tersebut ada di posisi keempat atau sembilan setrip di atas lawannya.

Hendra/Ahsan juga sekali mengalahkan Cau/Lu. Itu terjadi dalam Denmark Super Series Premier 2014. Dalam pertandingan yang dilaksanakan 16 Oktober itu, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut menang dua game langsung 24-22, 21-13.

Namun, ranking dan hasil pertemuan tersebut belum bisa menjadi patokan. Permainan dan kelemahan juara dunia 2013 itu sudah diketahui para lawan-lawannya, ternasuk dari Tiongkok.

Itu sudah terbukti di All England Super Series Premier 2014. Hendra/Ahsan menyerah 16-21, 21-19,18-21 kepada Fu Haifeng/Zhang Nan. Padahal, ketika itu, pasangan merah putih tersebut lebih diunggulkan menjadi juara dan unggul 2-1 dalam rekor pertemuan (head to head).

Sayang, semuanya itu terbantahkan di lapangan. Hendra/Ahsan dibuat tak berkutik dan harus tumbang lebih awal serta kehilangan gelar All England.

Dalam Malaysia Super Series Premier 2014, Hendra/Ahsan tersungkur di babak kedua. Di unggulkan di posisi teratas, mereka takluk 10-21, 21-19, 13-21 kepada wakil Taiwan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin.

Akhir-akhir ini, penampilan Hendra/Ahsan angin-anginan. Apalagi, Ahsan sempat mengalami cedera pinggang. Tentu, jika dalam kondisi tak prima, tak menutup kemungkinan, mereka pulang lebih awal di Malaysia Super Series Premier 2015.

Selain Hendra/Ahsan di ganda putra dalam turnamen yang dilaksanakan 31-Maret-4 April itu, Indonesia juga diwakili Ade Yusuf/Wahyu Nayaka,Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan, Angga Pratama/Ricky Karanda, dan Kevin Sanjaya/Markus Fernaldi. (*)

Langsung Dua sejak 2011

GEMILANG:Srikant menggigit medali juara (foto:indiaexpress).

INDIA Open menjadi super series sejak 2011. Sebelumnya, turnamen yang dilaksanakan di New Delhi tersebut masih di level grand prix gold.

Namun, sejak menjadi turnamen bergengsi, belum pernah satu pun wakil Indonesia yang menjadi juara. Tapi, pada 2015 ini, catatan kelam itu berakhir pada Minggu 929/3/2015).

DOBEL:Saina Nehwal dengan medali juara (foto:india.com)
Hebatnya, bukan satu, tuan rumah langsung meraih dua gelar dari nomor bergengsi tunggal putra dan tunggal putri.

Di nomor tunggal putra, Kidambi Srikanth mengubur ambisi Viktor Axelsen dari Denmark dalam pertarungan tiga game 18-21, 21-13,21-12.. Kemenangan ini menjadi ulangan kemenangan di final Swiss Grand Prix Gold pada 15 Maret lalu.

Dalam empat bulan terakhir, penampilan Srikant memang moncer. November lalu, dia menjadi juara dalam Tiongkok Super Series Premier 2014.

 Lawan yang dikalahkannya bukan tak main--main. Andalan tuan rumah yang juga lima kali juara dunia Lin Dan disikatnya. Sepekan kemudian, dia menembus babak semifinal.

Pada 2015 ini, Srikanth juga masuk final India Grand Prix Gold. Sayang, langkahnya dihentikan oleh rekannya sendiri Parupalli Kashyap. Hingga akhirnya, Swiss Grand Prix Gold menjadi pembuka gelarnya selama 2015 sekaligus obat kecewa dari hasil mengecewakan di All England Super Series sepekan sebelumnya. Di turnamen tertua di dunia itu, Srikant langsung tersingkir di babak pertama.

Sementara di tunggal putri, Saina Nehwal menjawab asa yang dibebankan kepadanya. Dalam laga pemungkas, dia menjinakkan Ratchanok Intanon dari Thailand dengan dua game langsung 21-16, 21-14.

Gelar ini juga melengkapi kebahagiaan Saina yang sudah hampir dipastikan menjadi pebulu tangkis nomor satu dunia. Dia menggeser posisi Li Xuerui asal Tiongkok.

Li terdepak karena banyak poinnya yang hilang karena absen dari India Super Series yang tahun lalu digapainya hingga babak semifinal. Tahun lalu, juara India Super Series diraih wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, lainnya, Wang Shixian.

Selain itu, gelar di super series ini juga menegaskan Saina tahun ini susah dikalahkan di kandangnya. Dalam India Grand Prix Gold, gadis 25 tahun tersebut juga menjadi juara. Dalam final 25 Januari 2015, Saina menang 19-21, 25-23, 21-16 atas musuh besarnya asal Spanyol Carolina Marin.

Sebenarnya, Marin punya peluang menjadi nomor satu. Syaratnya, juara dunia 2014 itu bisa meraih gelar di India Super Series 2015.

Tapi, dalam turnamen berhadiah total USD 250 ribu itu, dia dihentikan di babak semifinal oleh Ratchanok. (*)


Hasil Final India Super Series 2015

Tunggal putra: Srikanth K. (India x4) v Viktor Axelsen (Denmark x6) 18-21,21-13, 21-12

Tunggal putri: Saina Nehwal (India x1) v Ratchanok Intanon (Thailand x3) 21-16, 21-14

Ganda putra: Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok x3) v Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark x7) 21-18, 21-14

Ganda putri: Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang x1) v Luo Ying/Luo Yu (Tiongkok x2) 21-19, 21-19

Ganda campuran: Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x2) v Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark x1) 21-19, 21-19

x=unggulan

Dua Kali Bikin Andre Kalah

JUARA:Dmytro Zavadsky (foto:badmintonstory)

PELUANG berharga dibuang Andre Kurniawan Tedjono. Dia gagal meraih gelar perdananya tahun ini.

Padahal, peluang itu sudah ada di depannya dengan menembus babak final dalam turnamen Orleans Challenge 2015. Sayang, dalam pertandingan yang dilaksanakan pada Minggu waktu setempat (29/3/2015), Andre menyerah kepada Dmytro Zavadsky dari Ukraina dengan dua game langsung 24-22, 21-17.

Sebenarnya, dalam turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut, Andre lebih diunggulkan menjadi juara.Dengan ranking 41 yang dimiliki, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut menjadi unggulan pertama. Sedangkan Zavadsky tak menempati daftar kandidat juara dengan ranking 78-nya.

Hanya, Zavadsky punya bekal berharga sebelum bertemu Andre. Dia pernah mengalahkan  pebulu tangkis binaan Djarum Kudus tersebut dalam kualifikasi Prancis Super Series 2014 lalu.

Memang, dibandingkan tahun lalu, capaian Andre masih jauh lebih bagus. Pada 2014, dia sudah terhenti di perempat final.

Sedangkan bagi Zavadsy, tahun lalu, dia nyaris menembus final. Sayang,di semifinal, lelaki yang pernah menembus posisi 40 besar dunia tunggal putra tersebut menyerah kepada Vladimir Malkov dari Rusia 16-21,21-14, 13-21.

Hingga 2015 sudah hendak memasuki April, Andre belum mengantongi gelar. Dari beberapa turnamen yang diikuti, dia lebih banyak tumbang di babak-babak awal. (*)

Hasil Final Orleans Challenge 2015

Tunggal putra:Dmytro Zavadsky (Ukraina) v Andre Kurniawan Tedjono (Indonesia x1) 24-22, 21-17

Tunggal putri: Natalia Koch Rohde (Denmark) v Soraya De Visch Eijbergen (Belanda) 21-15, 11-7 (ret)

Ganda putra:Matthiew Nottingham/Harley Towler (Inggris) v Adam Cwalina/Przemslaw Wacha (Polandia x1) 21-12, 21-18

Ganda putri: Gabriela Stoefa/Stefani Stoeva (Bulgaria x1) v Heather Olver/Laurent Smith (Inggris x2) 22-20, 16-21, 21-9

Ganda campuran: Mathias Christiansen/Lena Grebak (Denmark) v Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) 11-21, 21-17, 21-19

x=unggulan

Lolos Final, Sania Nomor Satu Dunia

Minggu, 29 Maret 2015

RATU BARU: Saina Nehwal (topnews.in)


Sukses ganda digapai Saina Nehwal.  Keberhasilannya menembus final tunggal putri dalam India Super Series 2015 membawanya menduduki singgasana nomor satu dunia.

Pebulu tangkis tuan rumah itu menang dua game langsung 21-15, 21-11 atas Yui Hashimoto dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan  di New Delhi pada Sabtu waktu setempat (28/3/2015).

Dalam pertandingan sebelumnya, saingan Saina dalam perebutan posisi nomor satu dunia Carolina Marin asal Spanyol terhenti langkahnya di semifinal.Juara dunia 2014 itu menyerah 21-19, 21-23, 22-20 kepada juara dunia edisi sebelumnya Ratchanok Intanon dari Thailand.

Ini merupakan peristiwa besar dalam perjalanan Saina usai meraih perunggu dalam Olimpiade London 2012. ''Yang pasti, saya benar-benar gembira hari ini,'' ungkap Saina seperti dikutis situs BWF.

Hanya, dia masih merasa belum yakin. Alasannya, gadis 25 tahun itu belum melihat ranking terbaru dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) .

''Semua pemain ingin menjadi nomor satu dunia.Sekarang, saya punya peluang ke sana,'' ujar Saina.

Kini, dia hanya fokus menghadapi pertandingan final. Sayang, Saina tak bisa bertemu dengan Marin.

Hanya, dia tetap memberikan apresiasi kepada seterunya tersebut. Marin, menurutnya, mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Saat ini, posisi teratas masih diduduki oleh Li Xuerui asal Tiongkok. Hanya, absennya dia  di India Super Series 2015 membuat poinnya banyak yang hilang. (*)

Kans Andre Raih Gelar Pertama

LAWAN:Dmytro Zavadsky (foto:badmintonfotos.de)

LANGKAH ANdre Kurniawan Tedjono di Orleans Challenge 2015 sudah di final. Tiket itu di tangannya setelah mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu menang tiga game (rubber game) 21-12, 13-21, 21-11 atas Ville Lang dari Finlandia dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Orleans, Prancis,Sabtu waktu setempat (28/3/2015).

Hasil ini menjadi kemenangan keempat Andre, yang kini berperingkat 41, dalam empat kali pertemuan dengan pebulu tangkis beeposisi 59 dunia tersebut. Menariknya, kemenangan tiga game tersebut menjadikan dia belum pernah menang dua game langsung atas lawan-lawannya di turnamen yang sebelumnya bernama Prancis Challenge tersebut.

Di perempat final, Andre tampil tiga game 18-21, 21-18, 21-11 sebelum memaksa Flemming Quach dari Denmark menyerah.  Meski menempati unggulan teratas dalam turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut, namun Andre selalu dipaksa bekerja keras.

Di babak pertama, melawan pebulu tangkis dari kualifikasi Niluka Karunaratne (Sri Lanka), dia unggul 21-14, 14-21, 21-14. Di babak kedua, Andre unggul 19-21, 21-14, 21-16 atas Patrick Kaemnitz asal Jerman yang juga lolos dari kualifikasi.

''Iya. Saya sudah final,'' tulis Andre dalam pesan singkatnya.

Hanya, untuk menjadi juara bukan hal yang mudah bagi pebulu tangkis yang pernah duduk di posisi 18 dunia tersebut.l Di babak pemungkas, Andre sudah ditunggu Dmytro Zavadsky.Di semifinal dia melibas Christian Lind Thomsen dari Denmark 21-17, 21-18.

Lelaki asal Ukranina berperingkat 78 dunia tersebut pernah mempermalukannya di babak kualifikasi Prancis Super Series 2014. Saat itu, Andre takluk 21-17, 21-23, 10-21.

Lolos ke final merupakan capaian yang lebih bagus dibandingkan tahun lalu. Pada 2014, Andre sudah terjegal di perempat final oleh Brice Leverdez dari Prancis.

Selama 2015, Andre belum pernah menggondol juara. Dia lebih banyak tumbang di babak-babak awal. (*)

Gagal Loloskan Wakil ke Final

Sabtu, 28 Maret 2015

MENYERAH:Praveen Jordan/Debby Susanto (foto;PBSI)

GELAR juara dari India Super Series 2015 dipastikan melayang. Tak ada satu pun wakil Indonesia yang mampu menembus final kejuaraan berhadiah total USD 250 ribu tersebut.

Dua wakil di ganda campuran, pasangan Praveen Jordan/Debby Susanto dan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja, dan Tommy Sugiarto di tunggal putra menyerah kepada lawan-lawannya di babak semifinal yang dilaksanakan di New Delhi pada Sabtu waktu setempat (28/3/2015).

Praveen/Debby, yang diunggulkan ketujuh, takluk dengan dua game 16-21, 14-21 kepada unggulan teratas Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dari Denmark. Ini membuat pasangan didikan Pelatnas Cipayung tersebut belum pernah dalam lima kali pertemuan. Empat pil pahit ditelan Praveen/Debby di Malaysia Super Series 2014, Indonesia Super Series Premier 2014, Kejuaraan Dunia 2014, dan Malaysia Grand Prix Gold 2015.

Sedangkan Edi/Gloria menyerah kepada unggulan kedua Liu Cheng/Bao Yixin juga dengan dua game 13-21, 10-21.Pertemuan di India ini merupakan kali pertama bagi kedua pasangan.

Hanya, dari ranking, Edi/Gloria kalah. Mereka ada di posisi 24 dunia sedangkan lawannya di posisi kelima.

Kekalahan juga dialami Tommy Sugiarto. Dia gagal melanjutkan pertandingan di game kedua saat tertinggal 11-17. Namun, di game pertama, Tommy sudah unggul 22-24.

Sebenarnya, Tommy lebih diunggulkan memetik kemenangan. Ini dikarenakan di perempat final, dia menjungkalkan salah satu kandidat kuat juara asal Tiongkok Lin Dan.

Kegagalan menjadi juara di India Super Series ini mengulangi hasil buruk tahun lalu. Pada 2013, Indonesia mampu membawa pulang posisi terhormat dari nomor ganda campuran melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka juga juara dalam dua edisi sebelumnya. (*)

Pertemuan Perdana Juara Dunia

TERJAL:Carolina Marin (foto:badmintonphoto)

DUA tahun terakhir, gelar juara dunia tunggal putri sudah bukan menjadi milik Tiongkok. Pada 2014, Carolina Marin dari Spanyol naik ke podium terhormat saat Kejuaraan Dunia dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark.

Setahun sebelumnya di Guangzhou, Tiongkok, Ratchanok Intanon dari Thailand mengejutkan dunia dengan menjadi pemenang. Menariknya, kemenangan Marin dam Ratchanok dipetik atas lawan yang sama dan menempati unggulan teratas Li Xuerui dari Tiongkok.

Keduanya sudah tiga kali bertemu. Hasilnya, Ratchanok selalu memetik kemenangan yakni di Denmark Super Series 2011,Kejuaraan Dunia 2013, dan Korea Super Series 2014.

Hanya, kekalahan itu ditelan Marin sebelum dia menjadi juara dunia. Nah, kini, dia punya kans untuk membalas kekalahan tersebut.

Marin akan bersua dengan Ratchanok dalam semifinal India Super Series 2015. Itu setelah kedua mampu memetik kemenangan atas lawan-lawannya dalam babak perempat final yang dilaksanakan di New Delhi pada kamis waktu setempat (27/3/2015).

Marin, yang diungggulkan di posisi kedua, dipaksa bertarung tiga game 21-15, 17-21, 21-15 sebelum menyingkirkan wakil Jepang Nozomi Okuhara. kemenangan ini membalas pil pahit yang ditelan Marin di Hongkong Super Series 2014. Saat itu, gadis 22 tahun tersebut menyerah 13-21, 9-21.

Sedangkan Ratchanok, yang diunggulkan di posisi ketiga, lebih mudah menembus semifinal. Dia unggul dua game langsung 21-14, 21-8 atas Yao Xue dari Tiongkok.

Ini mengulangi dua kali kemenangan yang diraihnya pada Indonesia Grand Prix Gold 2010 dan Thailand Grand Prix 2012. (*)

Akhirnya, Tommy Bisa Kalahkan Lin Dan


YESS:Kegembiraan Tommy usai kalahkan Lin Dan

BERADA di luar Pelatnas Cipayung sudah menjadi pilihan Tommy Sugiarto. Dulu, itu pernah dilakukannya.

Hasilnya, penampilannya pun menjadi moncer. Sehingga, Tommy pun kembali mendapat panggilan masuk pelatnas.

Tapi, di tempat yang menjadi kawah candradimuka pebulu tangkis Indonesia itu, penampilan Tommy malah redup. Hingga akhirnya di awal 2015 ini, putra salah satu lagenda bulu tangkis Indonesia, Icuk Sugiarto, itu pun kembali memilih berada di luar cipayung.

Harapannya, Tommy ingin mengembalikan prestasinya yang pernah duduk di posisi ketiga dunia atau malah lebih. Tanda-tanda itu pun mulai terlihat dalam India Super Series 2015.

Kejutan besar mampu dilakukannya. Tommy mampu menjungkalkan pebulu tangkis tangguh Lin Dan asal Tiongkok. Juara dunia lima kali  yang jadi unggulan ketiga di India Super Series 2015 itu dipermalukannya dengan 21-17,15-21, 21-17 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di New Delhi pada Jumat waktu setempat (27/3/2015).

Hasil ini menjadi kemenangan perdana Tommy atas Lin Dan. Sebelumnya, dia tak pernah menang atas Super Dan, julukan Lin Dan, dalam tiga kali pertemuan yakni di Jerman Open 2007 dan 2012 serta Korea Open 2011.

Di babak semifinal India Super Series 2015, Tommy akan menantang Viktor Axelsen. Tunggal putra andalan Denmark tersebut mengentikan pembunuh raksasa HS Pranoy dari India dengan 16-21, 21-9, 21-18. Di babak pertama, Pranoy menggulingkan unggulan teratas Jan O Jorgensen yang juga dari Denmark.

Tommy sudah empat kali bersua dengan Axelsen. Hasilnya, dia dua kali menang dan dua kali kalah.

Hanya, dalam pertemuan terakhir di Indonesia Super Series Premier 2014, Tommy kalah. Padahal, saat itu, dia menduduki unggulan kelima.

Semifinal tunggal putra India Super Series 2015 lainnya akan mempertemukan Song Xue dari Tiongkok melawan jagoan tuan rumah Kinambi Srikanth. (*)

Edi/Gloria Lebih Punya Peluang

Jumat, 27 Maret 2015


GANDA campuran Indonesia masih menyimpan asa di India Super Series 2015. Dua wakil merah putih, Praveen Jordan/Debby Susanto dan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja,  masih bertahan hingga turnamen berhadiah total USD 250 ribu tersebut sudah sampai perempat final.

Dalam pertandingan babak kedua yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, Kamis waktu setempat (26/3/2015), Praveen/Debby tak mengalami kesulitan saat menundukkan Chan Alan/Tse Ying Suet dengan dua game langsung 21-11, 21-16. Sedangkan Edi/Gloria dipaksa bertarung tiga game sebelum melibas Tan Aik Quan/Lai Pei Jing dari Malaysia dengan 21-19, 14-21, 21-15.

Di antara kedua pasangan, Edi/Gloria punya kans besar untuk menembus semifinal. Di perempat final yang digelar Jumat waktu setempat (27/3/2015), pasangan muda Pelatnas Cipayung tersebut menjajal Chayut Triyachart/Shinta Mulia Sari dari Singapura, yang di babak sebelumnya menang 21-13,11-21, 21-15 dari Kim Duck-young/Won Yoo-hae.

Berdasar ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru, posisi Edi/Gloria jauh lebih unggul.Pasangan merah putih ada di posisi 24 sedangkan ganda negeri jiran di ranking 101.

Beda dengan Praveen/Debby. Pasangan unggulan ketujuh ini akan ketemu ganda Tiongkok Lu Kai/Huang Yaqiong, yang diunggulkan di posisi keempat. Ganda Negeri Panda, julukan Tiongkok, pernah mengubur ambisi pasangan Pelatnas Cipayung tersebut di final Malaysia Grand Prix Gold 2014.

Tahun lalu, gelar juara nomor ganda campuran jatuh ke tangan pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Tiga tahun sebelumnya (2011, 2012, dan 2013), nomor ini dikuasai ganda Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (*)

Hana Tentukan Posisi Saina

Kamis, 26 Maret 2015

LANGKAH terjauh dilalui Hana Ramadhani. Dia mampu menjejakkan kakinya hingga babak perempat final dalam turnamen level super series, India Open 2015.

Ini dicapai usai menjungkalkan unggulan kedelapan asal Taiwan Pai Yu Po dengan tiga game 21-18, 16-21, 21-15. Kemenangan ini membalas pil pahit yang ditelan Hana dalam Malaysia Challenge 2013. Saat itu, dia menyerah 21-15, 12-21, 7-21.

Secara ranking, Hana memang kalah jauh. Dari rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru (26/3/2015), dia ada di posisi 77. Sedangkan Yu Po di ranking 30.

Namun, itu tak membuat Hana minder. Sebaliknya, dia mampu mempermalukan Yu Po.

Namun, untuk bisa menembus babak semifinal bukan hal yang mudah baginya. Hana akan menantang unggulan teratas sekaligus pujaan tuan rumah Saina Nehwal.

Melawan Hana, Saina punya semangat lebih. Jika dia mampu menang, posisi ranking satu duni akan ditempatinya. Poinnya sampai babak semifinal sudah cukup untuk mendepak Li Xuerui dari Tiongkok, yang absen di India Super Series 2015. (*)

Kali Pertama Tembus 100 Besar

TURNAMEN Vietnam Challenge 2015 memberikan perubahan yang signifikan bagi Firman Abdul Kholiq.  Dengan gelar juara tunggal putra yang diraih, pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut kini posisinya menembus 100 besar.

Dari rilis yang keluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (26/3/2015), lelaki 18 tahun tersebut berada di ranking 93 dunia. Sebelum turun di Vietnam Challenge, Firman masih terjebak di posisi 129 dunia.

Kemenangan di Hanoi, host Vietnam Challenge 2015, membuat Firman membawa pulang poin 4000. Sehingga, total, pebulu tangkis didikan Mutiara Bandung tersebut mengoleksi poin 18.610.

Dalam final yang dilaksanakan pada Minggu (22/3/2015), Firman menundukkan unggulan ketiga asal Thailand Khosit Phetpradab dengan rubber game 20-22, 21-14, 21-18.

Berada  di posisi 93 juga menjadi capaian terbaik Firman. Apalagi, dari sisi usia, dia masih bisa turun di level junior.

Tahun lalu, Firman membuat mata insan bulu tangkis terbelakak. Dia mampu menjadi juara di Indonesia Junior Challenge di Surabaya. Sepekan kemudian, dia menembus babak final turnamen senior Indonesia Grand Prix Gold. Padahal, turnamen di Palembang, Sumatera Selatan, tersebut merupakan turnamen perdananya di ajang senior. (*)\

Ranking Pebulu Tangkis Indonesia di 100 besar (Rilis 26/3/2015)

10.Tommy Sugiarto

21.Dionysius Hayom Rumbaka

37.Simon Santoso

41. Andre Kurniawan Tedjono

65. Jonatan Christie

92. Ihsan Maulana Mustofa

93. Firman Abdul Kholiq

Ini Bukan Ratchanok yang Dulu


TIKET babak II nomor tunggal putri India Super Series 2015 sudah di tangan Andriyanti Firdasari. Mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut mampu mengalahkan mengalahkan wakil tuan rumah Shruti Mundada dengan dua game langsung 21-9, 26-24 dalam pertandingan babak I yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, pada Rabu waktu setempat (25/3).

Namun, tugas berat sudah menghadang Firda, sapaan karib Andriyanti Firdasari. Dia akan bertemu dengan juara dunia 2013 Ratchanok Intanon dari Thailand. Pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, sebelumnya tak mengalami kesulitan saat melibas Saili Rane yang juga berasal dari India dengan 21-9, 21-11.

Dari sisi peringkat, pebulu tangkis merah putih ini kalah jauh. Saat ini, Firda ada di posisi 32. Sedangkan Ratchanok ada ranking 8 dunia.  Selain itu, sekarang Ratchanok juga masuk dalam jajaran tunggal putri terbaik dunia.

Tapi, jika menengok ke belakang. Firda merupakan lawan yang menakutkan bagi Ratchanok.

Dia tak pernah dalam tiga kali pertemuan. Itu terjadi di kualifikasi Piala Uber 2010 dan 2012 serta Hongkong Super Series 2012.

Ketika itu, Ratchanok masih sangat muda dan Firda tengah berada di puncak penampilan. Hanya, kali ini, Ratchanok diperkirakan akan menang mudah atas mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut.

Lawan berat di babak II juga akan dilakoni wakil Indonesia yang lain, Hana Ramadhini. Dia akan bersua dengan unggulan kedelapan asal Taiwan Pai Yu Po.

Di laga perdana, Hana menghentikan perlawanan Jeanine Cicognini dari Italia dengan 14-21, 21-14, 21-19. Sementara, Yu Po juga bertarung tiga game 17-21, 21-7, 21-18 atas Sabrina Jaquet (Swiss).

Bagi Hana, Yu Po bukan lawan yang asing. Dia pernah bertemu dan kalah di Malaysia Challenge 2013.

Dalam India Super Series 2015, Firda dan Hana menjadi wakil Indonesia. Andalan tuan rumah Saina Nehwal menjadi kandidat utama menjadi juara. (*)

Indonesia Challenge Back To Home

Rabu, 25 Maret 2015

FINAL:Lee Hyun-il (kiri) dan Jonatan Christie (foto;PBSI)

DUA event bulu tangkis internasional digelar di Jawa Timur. Kali ini, Indonesia Challenge 2015 akan dilaksanakan di provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut.

''Indonesia Challenge 2015 akan dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada 1-6 September. Ini sudah pasti,'' kata Ketua Umum Pengprov PBSI Jatim Wijanarko Adi Mulya.

Ini, tambah dia, membuktikan kepercayaan yang tinggi PP PBSI dan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) dengan Jatim. Sebelumnya, turnamen dengan kasta yang lebih tinggi, Indonesia Grand Prix Gold, juga dilaksanakan di Jawa Timur, tepatnya di Kota Malang, pada Desember mendatang.

Hanya, saat ini, di kalender BWF, host Indonesia Challenge belum tertulis Surabaya. Di lama itu masih TBC (to be confirmed atau menunggu konfirmasi). Sementara Indonesia Grand Prix Gold 2015 sudah disebutkan Malang pada 1-6 Desember.

''Nanti saya urusnya agar Surabaya segera ditulis,'' ucap Wijanarko.

Dia juga menambahkan sebuah perusahaan aparel asal Korea Selatan (Korsel) akan menjadi sponsor resmi. Sehingga, tambah dia, nama lengkap turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut menjadi Victor Indonesia Challenge 2015.
Digelarnya Indonesia Challenge di Surabaya membuat kejuaraan tersebut seperti kembali ke rumahnya. Biasanya kejuaraan tersebut dilaksanakan di Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Hanya, ajang itu tahun lalu dilaksanakan di Jakarta. Mantan pebulu tangkis nomor satu dunia di nomor tunggal putra asal Korsel Lee Hyun-il ikut ambil bagian dan menjadi juara. Namun, dua tahun lalu di Surabaya, gelar jatuh ke tangan atlet muda Jonatan Christie. (*)

Temani Anggia/Ni Ketut di Babak Utama

TEMBUS:Gebby/Tiara (foto;PBSI)

INDONESIA menambah wakil di babak utama India Super Series 2015. Ini setelah pasangan ganda putri Gebby Ristiyani Imawan/Tiara Rosalia Nuraidah memetika dua kali kemenangan di babak kualifikasi yang dilaksanakan di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, pada Selasa waktu setempat (24/3).

Dalam pertandingan pertamanya, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut menang mudah 21-7, 21-5 atas wakil tuan rumah Parssa Naqvi/Saruni Sharma. Tiket ke babak bergengsi digenggaman usai menjungkalkan unggulan keempat yang juga dari India Pooja Antil/Vaddepally Pramada juga dengan straight game yang lebih mudah 21-2, 21-7.

Namun, di babak utama yang digeber Rabu (25/3), Gebby/Tiara langsung bertemu lawan berat. Mereka berhadapan dengan unggulan kedelapan asal Malaysia Vivian Kah/Woo Khe Wei.

Kedua pasangan belum pernah bertemu.Namun, dari ranking yang ada, Gebby/Tiara diprediksi bakal dilumat mudah.

Dari ranking terbaru BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru, Gebby/Tiara masih terjerembab di posisi 470. Sementara, pasangan negeri jiran di ranking 16 dunia.

Selain itu, pasangan merah putih sudah dua kali kalah oleh Vivian/Woo. Itu terjadi lima tahun lalu di Taiwan Grand Prix dan India Grand Prix Gold.

Ya, pasangan Gebby/Tiara sebenarnya pasangan lama. Mereka disatukan lagi setelah sempat berpisah.

Malaysia Grand Prix Gold Januari lalu menjadi debut keduanya. Sayang, saat itu, Gebby/Tiara menyerah kepada sesama pasangan Indonesia Komala Dewi/Jenna Gozali.

Sebelumnya, Gebby dikenal saat berpasangan dengan Della Destiara Haris. Sedangkan Tiara digandengkan dengan Suci Rizky Andini.

Di babak utama India Super Series 2015, selain Gebby/Tiara di nomor ganda putri ini Indonesia juga menurunkan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi. (*)

Hujan Bye dalam Babak I

Selasa, 24 Maret 2015

LAWAN SONY: Kai Guo (foto;bwf)
TIONGKOK masih menjadi momok bagi para pebulu tangkis negara lain. Bukan hanya bertanding dengan wakil negeri itu, datang ke Negeri Panda, julukan Tiongkok, pun harus berpikir seribu kali.

Buktinya, dalam turnamen Tiongkok Grand Prix Gold, minim peserta, khususnya di tunggal putra. Di nomor tersebut jumlah partai yang memperoleh bye sangat banyak, yakni 31.

Selain itu, tak adanya laga kualifikasi juga ikut menjadikan banyak peserta yang langsung lolos ke babak kedua dalam turnamen yang diadakan di Changzhou pada 14-19 April tersebut. Di Tiongkok Grand Prix Gold 2015, di nomor tunggal putra akan menggelar partai sebanyak 32 atau harusnya diikuti oleh 64 pebulu tangkis.

Dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 250 ribu tersebut, Indonesia hanya diwakili satu pebulu tangkis yakni Sony Dwi Kuncoro. Arek Suroboyo tersebut juga memperoleh bye di babak pertama.

Namun, lawan berat sudah menunggu Sony di babak kedua. Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut bersua dengan wakil tuan rumah Guo Kai.

Di atas kertas, bapak dua anak ini akan menang. Alasannya, ranking Sony yang ada di 147 jauh lebih baik dibandingkan lawannya yang ada di posisi 236.

Tahun lalu, gelar juara tunggal putra jatuh ke tangan Lin Dan. Di babak final, lelaki yang sudah mengoleksi dua emas olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut mengalahkan rekan senegara (kompatriot) Tian Houwei dengan 21-14, 21-19. Sayang, tahun ini, Super Dan, julukan Lin Dan, absen. Dia memilih berlaga di ajang super series dan super series premier.

Dua unggulan teratas menjadi milik wakil tuan rumah, Wang Zhengming di posisi pertama dan Tian Houwei di posisi kedua. (*)

Lin Dan Bisa Gagal Lagi

NIHIL:Lin Dan saat tampil di All England. (foto:china.org)
LIN Dan  mengejar gelar. Dia akan turun dalam India Super Series 2015 yang dilaksanakan di New Delhi pada 24-29 Maret.

Sebelumnya, dalam tahun ini, mantan tunggal putra nomor satu dunia asal Tiongkok tersebut baru turun di All England Super Series Premier 2015. Hasilnya, langkahnya hanya sampai babak final. Dia dihentikan oleh kompatriot (rekan satu negara) Chen Long dengan dua game langsung 13-21, 12-21.

Di India Super Series, Lin Dan diunggulkan di posisi ketiga. Dalam pertandingan perdana, dia bersua dengan wakil Taiwan Tzu Wei Wang.Kedua pebulu tangkis belum pernah bertemu.

Hanya, melihat posisi keduanya, Lin Dan tentu lebih diunggulkan. Kini, lawannya hanya berperingkat 40 dunia.

Jika menang, suami mantan pebulu tangkis putri nomor satu dunia Xie Xingfang tersebut sudah ditunggu pemenang duel Hu Yun (Tiongkok) melawan Ajay Jayaram (India).

Melawan Hu Yun, Lin Dan punya bekal bagus. Dia selalu menang dalam tujuh kali pertemuan. Sementara dengan Ajay, dia pernah sekali bertemu dan menang 21-18, 21-15 saat di All England 2012.

Selain itu, kans juara Lin Dan juga cukup berat untuk naik ke podium terhormat. Dua unggulan teratas, Jan O Jorgensen asal Denmark sebagai unggulan teratas dan unggulan kedua K. Srikanth asal India, pernah mengalahkannya.
Super Dan, julukan Lin Dan, dipermalukan Jorgensen.

Di Jepang Super Series 2014, Lin Dan menyerah 19-21, 21-13, 16-21 di perempat final. Namun, dia mampu membalasnya di Tiongkok Super Series Premier juga dengan rubber game 19-21, 21-18, 21-15. Sementara dengan Srikanth, kali terakhir bertemu di kandangnya sendiri, Tiongkok Super Series Premier 2014, juara dunia lima kali tersebut tumbang 19-21, 17-21.  

Di India Super Series Premier, di nomor tunggal putra, Indonesia hanya diwakili Tommy Sugiarto. Dengan penampilannya yang tengah menurun, susah baginya untuk bisa menjadi juara. (*)

Tiga Gelar dari Vietnam

Senin, 23 Maret 2015

KUAT:Anggia/Ketut, Firman, dan Fran/Komala

TIGA gelar dibawa wakil Indonesia dari Vietnam Challenge 2015. Posisi terhormat itu disumbangkan Firman Abdul Kholik dari tunggal putra, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (ganda putri), dan Fran Kurniawan/Komala Dewi (ganda campuran).

Dalam final yang dilaksanakan di Cau Giay Stadium, Hanoi, pada Minggu waktu setempat (22/3), Firman, yang bukan unggulan, mempermalukan unggulan ketiga Khosit Phetpradab dari Thailand dengan rubber game 20-22, 21-14, 21-18.

Dari sisi ranking, Firman kalah jauh. Dia di posisi 129 sedangkan sang lawan di posisi 87 dunia.

Kemenangan ini juga menjadi gelar pertama bagi lelaki 18 tahun tersebut pada 2015.Dalam dua turnamen sebelumnya, di Austria Challenge dan Jerman Grand Prix, Firman sudah tersingkir di babak awal.Di Austria, pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut menyerah kepada Iskandar Zulkarnain (Malaysia). Di Jerman, dia juga berhenti di babak ketiga oleh Wong Wing Ki.  Tahun lalu, Firman menjadi juara di Indonesia Junior Challenge yang diperuntukkan bagi pebulu tangkis di bawah usia 19.

Sedangkan Anggia/Ni Ketut menghentikan perlawanan Chaladchalam Chayanit/Phataimas Muenwong (Thailand) dengan dua game langsung 21-10, 21-18. Pasangan Indonesia ini merupakan pasangan anyar dan baru dibentuk tahun ini.

Vietnam Challenge menjadi turnamen kedua yang diikuti.Sebelumnya, mereka tampil di Malaysia Grand Prix Gold 2015 dan langsung tumbang di babak awal.
Satu juara lagi lahir setelah terjadinya final sesama wakil Indonesia (all Indonesian finals). Fran/Komala menang mudah atas Hafiz Faisal/Marsita Mahmudin straight game 21-14, 21-11.

Sayang, sukses ketiganya tak menular di tunggal putri. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung Aprillia Yuswandari takluk 21-14,18-21,11-18. (*)

Riky/Richi Mendadak Batal

Minggu, 22 Maret 2015

URUNG:Riky Widianto/Richi Puspita Dili


NAMA pasangan Riky Widianto/Richi Puspita Dili masih tercantum sebagai peserta India Super Series 2015. Bahkan, ganda campuran Pelatnas Cipayung tersebut diunggulkan di posisi ketiga dalam kejuaraann yang dilaksanakan di New Delhi pada 23-29 Maret ini.

Di babak pertama, Riky/Richi dijadwalkan bersua dengan pasangan Singapura Chayut Trinachat/Shinta Mulia Sari. Sayang, pertandingan tersebut urung terlaksana.

''Kami nggak jadi main di India. Kami mengundurkan diri,'' kata Riky kepada smashyes.

Sebenarnya, tahun ini, India bersahabat dengan Riky/Richi. Pada Januari lalu, mereka mampu menjadi juara India Grand Prix Gold. Di babak kedua, mereka menundukkan pasangan tuan rumah Manu Attri/K. Maneesha.

Selain itu,keikutsertaan di India Super Series 2015 juga diharapkan bisa mengobati kekecewaan tahun lalu. Saat itu, Riky/Richi tersingkir di babak kedua. Menempati unggulan ketujuh, mereka takluk dua game langsung 16-21, 12-21 kepada wakil Denmark Mads Kieler Kolding/Kamilla Rytter Juhl di babak kedua.

''Kami saja yang absen. Keputusannya juga mendadak,'' ungkap Richi.

Ya, di nomor ganda campuran di India Super Series 2015, selain Riky/Richi, Pelatnas Cipayung juga memberangkatkan Praveen Jordan/Debby Susanto dan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja.

Praveen/Debby diharapkan bisa tampil gemilang seperti di All England Super Series Premier 2015. Dalam turnamen paling bergengsi di dunia tersebut, mereka menembus babak semifinal. (*)

Wakil Indonesia di India Super Series 2015

Tunggal putra: Tommy Sugiarto

Tunggal putri: Hana Ramadhini, Lindaweni Fanetri, Adriyanti Firdasari, Bellaetrix Manuputty

Ganda putri: Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi;Praveen Jordan/Debby Susanto, Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja

Berebut Menjadi Ratu Baru

Sabtu, 21 Maret 2015

HARAPAN: Saina Nehwal 

RATU tunggal putri dunia bakal berpindah tangan. Dua pebulu tangkis, Saina Nehwal dari India dan Carolina Marin, berpeluang besar menduduki tambuk nomor wahid.

Jika terjadi, ini untuk kali pertama non-Tiongkok menjadi nomor satu sejak Desember 2010. Kali terakhir yang mampu melakukannya adalah Tine Baun dari Denmark.

Hanya, perpindahan posisi tersebut terjadi usai India Super Series Premier 2015 yang dilaksanakan pekan depan pada 24-29 Maret di New Delhi. Saat ini, Saina duduk di posisi kedua dengan total angka 74381. Dia di bawah Li Xuerui yang mengololeksi 79214.

Ini membuat Saina punya kans besar promosi satu setrip. Alasannya, Li, yang tahun lalu runner-up India Super Series, pada 2015 ini absen. Ini membuat dia kehilangan 7.800 poin. Sehingga total poin yang dikumpulkannya 71414.


Publik India pun berharap Saina juga bisa kembali menjadi juara di kandang sendiri. Seperti yang pernah dilakukannya pada 2010. Sejak India Open masuk super series pada 2011, belum ada wakil tuan rumah yang naik ke podium terhormat.

Sedangkan Marin, yang kini duduk di posisi keempat, bisa naik ke posisi teratas. Syaratnya, Saina sudah terjungkal di perempat final atau malah di babak-babak sebelumnya.

Jalan lainnya, Marin mampy menjadi juara dan Saina gagal menjadi juara. Kedua pebulu tangkis bisa bertemu di babak pemungkas India Super Series 2015 karena Saina menduduki unggulan teratas dan Marin di posisi kedua. (*)

Riyanto Gagal Hentikan Khosit

KANDAS:Riyanto Subagja (foto;djarum)

KEINGINAN menciptakan final sesama Indonesia (all Indonesian finals) di tunggal putra Vietnam Challenge 2015 kandas. Riyanto Subagja gagal mengkandakan perlawanan wakil Thailand Khosit Phetpradab dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Hanoi pada Sabtu waktu setempat (21/3).

Sebaliknya, dia harus mengakui ketangguhan lawannya dengan rubber game 21-13, 12-21, 6-21. Kekalahan ini juga membuat Riyanto gagal mengulangi hasil pertemuan dalam Indonesia Grand Prix 2013. Saat itu, dia menang 13-21, 21-10, 21-18.

Sebenarnya, satu tiket tunggal putra sudah ditangan pebulu tangkis merah putih. Ini disebabkan dua atlet Pelatnas Cipayung, Firman Abdul Kholik dan Muhammad Bayu Pangisthu, bentrok di semifinal.

Hasilnya, Firman, yang diunggulkan di posisi ke-16, menang straight game 21-14, 21-14. Bagi kedua finalis, pertemuan dalam turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut menjadi pertarungan perdana.

Hanya, dalam sisi ranking, Firman kalah jauh. Saat ini, Khosit ada di posisi 87. Sedangkan Firman masih terdampar di ranking 129.

Tahun lalu, pebulu tangkis binaan Mutiara Bandung tersebut sempat menyedot perhatian. Dia tampil gemilang di tiga turnamen beruntun, Indonesia Junior Challenge, Indonesia Grand Prix Gold, dan Bahrian Challenge.

Di Indonesia Challenge, yang diperuntukkan bagi pebulu tangkis di bawah usia 19 tahun, Firman mampu menjadi juara. Di final, dia mengalahkan rekan satu klubnya, Panji Ahmad Maulana.

Sepekan kemudian,tampil dari babak kualifikasi, Firman mampu menembus final turnamen senior Indonesia Grand Prix Gold 2014. Namun, di final, langkahnya dihentikan HS Prannoy dari India. Kemudian di Bahrain, Firman gantian mempermalukan Anand Pawar dari India.

Namun, setelah itu, penampilannya menurun. Dia tumbang di babak-babak awal dalam Malaysia Challenge 2014, Makau Grand Prix Gold.

Memula 2015, Firman masih nihil juara. Dalam dua turnamen di Eropa, Austria Challenge dan Jerman Grand Prix Gold, dia hanya sampai babak ketiga.

Kini, jalan pembuka gelar diharapkan dimulai dari Hanoi. Tahun lalu, juara tunggal putra di Vietnam Challenge direbut andalan tuan rumah Nguyen Tien Minh. (*)

Aprillia Belum Habis

Jumat, 20 Maret 2015

ASA: Aprillia Yuswandaru (foto;PBSI)
SUDAH empat bulan Aprillia Yuswandari tak mengayunkan raket di ajang internasional. Kali terakhir, gadis 27 tahun tersebut tampil dalam Malaysia Challenge 2014.

Hasilnya pun mengecewakan. Menempati unggulan teratas, Aprillia menyerah di babak kedua. Ironisnya lagi, dia dikalahkan juniornya Gregoria Mariska 21-13, 16-21, 19-21.

Ini mengulangi hasil buruk sepekan sebelumnya di Bahrain Challenge. Pebulu tangkis binanan Semen Gresik tersebut takluk di babak kedua kepada Riputana Das (India) 21-19, 16-21, 12-21.

Hasil tersebut membuka pintu Aprillia keluar dari Pelatnas Cipayung. Dia pun dikembalikan ke klub asalnya.

Namun, terpental dari Cipayung tak membuat Aprillia patah semangat. Buktinya, di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) Palembang, dia masih mampu menembus babak final. Sayang, dia dihentikan oleh Febby Angguni dari Tjakrindo Masters.

Kini, Aprillia pun kembali menyedot perhatian. Dia mampu melaju ke babak semifinal Vietnam Challenge 2015.Padahal, dia datang dalam turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut  dengan titel nonunggulan.

Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Hanoi pada Jumat waktu setempat (20/3), Aprillia melibas sesama pebulu tangkis Indonesia Ruselli Hartawan dengan 21-18, 15-21, 21-10. Di babak kedua atau babak sebelumnya, dia menjungkalkan unggulan teratas asal Singapura Chen Jiayuen 21-14, 21-9.Untuk bisa lolos ke final, perempuan yang kini menduduki posisi 109 dunia tersebut Yuka Kusunose dari Jepang, yang di babak ketiga menang 21-16, 18-21, 21-13 atas Supanida Katethong (Thailand).

Semifinal tunggal putri lainnya juga mempertemukan wakil Indonesia dengan Jepang yakni Hana Ramadhini, yang diunggulkan di posisi ketujuh, menantang Kana Ito, unggulan keempat. (*)

Satu Tiket Final Sudah di Tangan

M. Bayu Pangisthu (foto:PBSI)
BABAK semifinal tunggal Vietnam Challenge 2015 dikuasai Indonesia.Dari empat penghuni slotnya, tiga di antaranya merupakan pebulu tangkis merah putih.

Mereka adalah Muhammad Bayu Pangisthu, Firman Abdul Kholik, dan Riyanto Subagja. Bahkan, satu tempat final sudah menjadi milik Indonesia.

Ini disebabkan Bayu, sapaan karib Muhammad Bayu Pangisthu, bakal bentrok dengan Firman, di Hanoi pada Sabtu waktu setempat (21/3). Sedangkan Riyanto menjajal ketangguhan pebulu tangkis Thailand yang diunggulkan di posisi ketiga Khosit Phetpradab.

Sebelumnya, di babak perempat final (20/3), Bayu membuat kejutan dengan menjungkalkan unggulan teratas Suppanyu Avihingsanon dari Thailand dengan dua game yang mudah 21-14, 21-11. Dari sisi ranking, penghuni Pelatnas Cipayung tersebut jauh di bawah.

Dari ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terakhir, Bayu di posisi 303. Sedangkan lawannya di ranking 45 dunia.

Sementara, Firman menembus semifinal juga dengan kejutan. Juara Indonesia Junior Challenge 2014 tersebut mempermalukan seniornya yang lama menjadi penghuni Pelatnas Cipayung Sony Dwi Kuncoro dengan straight game 22-20, 21-8. Di pentas internasional, Bayu dan Firman belum pernah adu kekuatan.

Riyanto sendiri lolos empat besar berkat kemenangan ketat atas sesama pebulu tangkis Indonesia Ivanudin Rifan Fauzin dengan 9-21, 21-16, 27-25. Dia akan menantang Khosit yang menundukkan Lin Yu Hsien dari Taiwan dengan tiga game 16-21, 21-17, 21-9 Riyanto sudah dua kali bertemu dengan wakil Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut yakni di Kejuaraan Dunia Junior 2011 dan Indonesia Grand Prix Gold 2013.

Di Kejuaraan Dunia Junior 2011, Riyanto kalah 21-16, 19-21, 17-21. Namun, dua tahun kemudian, dia membalasnya 13-21, 21-10, 21-18. (*)

Ketemu Junior Lagi

Kamis, 19 Maret 2015

LAWAN:Anthony Ginting (foto:PBSI)
SATU demi satu lawan disikat Sony Dwi Kuncoro dalam Vietnam Challenge 2015. Kali ini giliran wakil Taiwan Kuo Po Cheng yang dikalahkannya dengan dua game langsung 24-22, 21-17 dalam pertandingan babak kedua yang dilaksanakan di Hanoi pada Kamis waktu setempat (19/3).

Memang, di atas kertas Sony lebih diunggulkan.Dia berada di ranking 147 dunia sedangkan Po Cheng di posisi 178.

Di babak kedua, ,mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut akan bertemu dengan pebulu tangkis merah putih lainnya, Anthony Ginting. Atlet muda penghuni Pelatnas Cipayung tersebut di babak kedua menjungkalkan wakil Taiwan lainnya, Cheng Po Wei dengan rubber game 16-21, 21-9, 21-19.

Di laga perdana, Sony juga bertemu dengan pebulu tangkis muda asal Surabaya Roy Danu. Dia menang straight game 21-15, 21-8.

Selain menang ranking, Antony di posisi 183, Sony juga jauh unggul pengalaman. Satu dekade lebih lelaki asal Surabaya, Jawa Timur, tersebut selalu menjadi andalan Indonesia di berbagai ajang internasional.

Sementara, Anthony baru dua tahun terakhir menembus kerasnya persaingan di Cipayung. Hanya, secara stamina dan kebugaran, dia lebih unggul.

Sayang, sukses Sony menembus babak ketiga gagal diikuti juniornya di Wima Surabaya, Febriyan Irvannaldy. Pebulu tangkis yang juga pernah ditempa di Cipayung itu takluk tiga game 21-17, 14-21, 16-21 kepada unggulan keenam asal Malaysia Tan Kian Memg.

Di tunggal putra ini, selain Sony dan Antony, Indonesia masih menempatkan Evert Sukamta, Muhammad Bayu Pangisthu, Firman Abdul Kholik. Ivanudin Rifan Fauzin, dan Riyanto Subagja di babak ketiga.

Tahun lalu, gelar juara tunggal putra jatuh ke tangan wakil Vitenma Nguyen Tien Minh. Sementara, Indonesia meraih dua posisi terhormat dari nomor ganda putra melalui Kevin Sanjaya/Selvanus Geh dan pasangan ganda campuran Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika. (*)

Seperti Latihan di GOR Sudirman

Rabu, 18 Maret 2015

LOLOS: Febryan Irvannaldy dan Sony Dwi Kuncoro
TIKET babak kedua Vietnam Challenge 2015 di tangan Sony Dwi Kuncoro. Unggulan kesembilan ini mampu mengalahkan lawannya dalam pertandingan perdana babak utama yang dilaksanakan di Hanoi pada Rabu waktu setempat (18/3).

Hanya, kemenangan ini didapatnya  dari rekannya sendiri kala berlatih di Surabaya. Sony melibas Roy Danu dengan dua game langsung 21-15, 21-8.

Mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut hampir setiap hari berjumpa dengan Roy Danu di GOR Sudirman. Ini disebabkan Sony sering mencari keringat dengan pebulu tangkis Jatim proyeksi PON 2016. Di mana, Roy Danu ikut di dalamnya.

''Iya, seperti latihan di GOR Sudirman. Tapi, mau bagaimana lagi, semua sudah diatur dalam undian,'' kata Sony.

Kemenangan ini membuat peraih perunggu Olimpiade Athena, Yunani, 2004 tersebut bersua dengan Kuo Po Cheng. Wakil Taiwan ini di babak pertama melibas Ikmal Hussain Jaffar (Malaysia) dengan 21-17, 21-19.

Dari ranking dunia, Sony lebih unggul. Meski jeblok, saat ini di posisi 154, posisinya lebih bagus dibandingkan Po Cheng yang ada di ranking 177.

Rekan Sony berlatih di GOR Sudirman, Febriyan Irvannaldy, juga menembus babak kedua. Lelaki asal klub Wima tersebut unggul 25-23, 21-14 atas Peranut Boontan (Thailand).

Namun, lawan berat sudah menunggunya. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut sudah ditunggu unggulan keenam Tan Kian Meng dari Malaysia.  Ranking Febri, sapaan Febriyan Irvannaldy, 418 jauh di bawah Kian Meng yang di tangga ke-106.

Ini merupakan penampilan perdana Sony di turnamen level challenge. Langkah itu dilakukan guna berburu poin guna mendongrak peringkatnya. (*)

Juara Bertahan Berjuang dari Kualifikasi

TANTANGAN: Simon Santoso saat di All England 2015.

KEJUTAN besar diukir Simon Santoso dalam Singapura Super Series 2014. Tampil dari babak kualifikasi, dia mampu menjadi juara dalam turnamen berhadiah total USD 300 ribu tersebut.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan 13 April 2014, Simon mempermalukan unggulan teratas Lee Chong Wei asal Malaysia dengan dua game langsung 21-15, 21-10. Saat itu, status lelaki yang baru mengakhisi masa lajang tersebut sudah terbuang dari Pelatnas Cipayung.

Gelar itu pun menjadi pijakan Simon kembali ke Cipayung. Apalagi, dua pekan sebelumnya,dia juga baru saja menjadi juara tunggal putra dalam Malaysia Grand Prix Gold.

Sayang, setelah kembali ke kawah candradimuka bulu tangkis Indonesia tersebut, Simon gagal tampil impresif.Kegagalan selalu mengiringi perjalananya dalam berbagai turnamen.

Bahkan, di kandang sendiri, Indonesia Super Series Premier 2014, dia sudah menyerah di babak ketiga. Simon dipermalukan Wei Nan asal Hongkong 18-21, 21-13, 20-22. Yang lebih ironis, dalam 2015, hasil jeblok ditelannya.

Dalam babak pertama Jerman Grand Prix Gold, Simon disikat pebulu tangkis Hongkong lainnya, Wong Wing Ki, dengan 17-21, 16-21.Sepekan kemudian, dia malah sudah angkat koper dari babak kualifikasi All England Super Series Premier 2015. Dia kalah oleh mantan rekannya di Pelatnas Cipayung Dionysius Hayom Rumbaka dengan 14-21, 17-21.

Kini, Simon pun bakal datang lagi ke Singapura Super Series Premier yang dilaksanakan 7-12 April. Namun, karena rankingnya yang jeblok, 34, dia pun harus melalui dari babak kualifikasi, seperti tahun lalu.

Di babak pertama, lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, tersebut akan berhadapan dengan Emil Holst dari Denmark. Di atas kertaas, Simon bakal memetik kemenangan. Saat ini, lawannya berada di posisi 57 dunia.

Namun, halangan besar bisa membuatnya menembus babak elite. Di final kualifikasi, calon lawannya adalah Hayom, Dionysius Hayom Rumbaka. Kegagalan seperti di All England Super Series Premier 2015 bisa terulang.

Penampilan Hayom tengah on fire. Di Jerman Grand Prix Gold 205, dia mampu menembus final dan di All England Super Series Premier melaju hingga babak kedua. (*)

Pilih-Pilih Turnamen yang Diikuti

Selasa, 17 Maret 2015

Christopher/Trikusuma saat di Sirnas Palembang. (foto:djarum)
DUA tahun terakhir, daftar turnamen yang diikuti Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana lumayan banyak. Dari  turnamen challenge hingga super series premier pun dilakoni.

Akibatnya, ranking Christopher/Trikusuma pun melesat. Pasangan asal klub yang sama, Suryanaga Surabaya, itu pun mampu menembus posisi 50 besar  dunia.

Namun, kini, hingga kalender memasuki Maret, baru satu turnamen yang diikuti keduanya. Memang, di dalam negeri, Christopher/Trikusuma sudah bermain di ajang Superliga Bulu Tangkis Indonesia (SBI) 2015 dan Sirkuit Nasional (SIrnas) Seri Palembang.

Di sirnas, mereka mampu menjadi juara. Dalam pertandingan pemungkas, Christopher/Trikusuma menundukkan Rizky Hidayat/Ardiansyah Putra.

Satu turnamen internasional yang diikuti oleh Christopher/Trikisuma adalah Malaysia Grand Prix Gold 2015. Dalam kejuaraan yang dilaksanakan di Kuching, Serawak, itu, mereka langsung tersingkir di babak pertama. Pasangan yang kini duduk di posisi 88 itu menyerah kepada Lin Chia Yu/Hsiao-Lin Wu (Taiwan) 13-21, 17-21.

Pekan ini, keduanya baru turun lagi. Bahkan, Christopher/Trikusuma langsung diunggulkan di posisi kedua dalam Vietnam Challenge 2015 yang dilaksanakan di Hanoi.

Namun, di babak pertama, keduanya langsung mendapat lawan berat. Christopher/Trikusuma dijajal ganda Malaysia Mohd Zakry Abdul Latif/Muhammad Hafizi Hashim.

''Kami sekarang pilih-pilih turnamen. Cari yang dekat dekat saja dulu,'' pungkas Christopher. (*)

Hanya Berharap Kalahkan Inggris

Senin, 16 Maret 2015

LAWAN: Chris Adcocc/Gabrielle Adcock (foto:guardian)
INDONESIA layak waspada di Piala Sudirman 2015. Jika tidak,merah putih akan menerima nasib tragis, turun ke Grup 2 dalam event bulu tangkis beregu campuran tersebut.

Dalam undian yang dilaksanakan pada Senin (16/3), Indonesia berada satu grup dengan Denmark dan Inggris. Bersua dengan Denmark, tentu menjadi tugas berat.

Dari lima nomor yang dipertandingkan, susah untuk memetik satu angka pun. Di nomor tunggal putra, negeri di Skandinavia tersebut mempunyai dua tunggal yang tengah on fire, Jan O Jorgensen dan Viktor Axelsen. Sebaliknya dengan Indonesia. Performa Tommy Sugiarto dan Simon Santoso saat ini tengah menurun.

Di tunggal putri pun tak jauh beda. Lindaweni dan Bellaetrix Manuputty tengah labil.

Di ganda putra, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bakal berpeluh keringat untuk bisa mencuri poin. Mathias Boe/Carsten Mogensen, yang kini di posisi kedua, bukan lawan yang enteng.

Begitu juga di ganda campuran. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir bisa teerguling jika dihadapkan dengan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.

Nah, bertemu Inggris menjadi satu-satunya kans besar untuk bisa lolos ke babak delapan besar, sekaligus menyelamatkan posisi Indonesia di grup elite.

Di ajang Piala Sudirman, Indonesia hanya sekali juara yakni pada 1989 saat ajang tersebut kali pertama dilaksanakan. Kebetulan, Jakarta menjadi host.

Tiongkok menjadi raja Piala Sudirman dengan 13 kali juara dan Korea Selatan juga baru tiga kali mengangkat trofi juara. (*)



The Vivo BWF Sudirman Cup for the World Mixed Team Championships features 35 teams divided into four groups. Of these, the top 12 ranked teams in Group 1 will vie for the trophy, while the other teams (Group 2, Group 3, Group 4) will fight for ranking spots. The tournament will be held from 10-17 May 2015 in Dongguan, China.




Grup 1:

Grup 1A: Tiongkok, Thailand, Germany

Group 1B: Jepang, Taiwan, Amerika Serikat

Group 1C: Denmark, Indonesia, Inggris

Group 1D: Korea Selatan, India, Malaysia



Grup 2:

Grup 2A: Rusia, Hongkong , Kanada, Spanyol

Grup 2B: Singapura, Belanda, Prancis, Brasil



Grup 3:

Grup 3A: Rep Ceko, Turki, Afrika Selatan, Austria

Group 3B: Vietnam, Australia, Italia, Swiss



Grup 4:

Grup 4A: Nigeria, Filipina, Islandia

Grup 4B: Israel, Sri Lanka, Seychelles, Kazakhstan

Rela Tampil di Ajang Challenge

POIN:Sony Dwi Kuncoro (foto:djarum)
TURNAMEN-turnamen level challenge bakal akrab dengan Sony Dwi Kuncoro. Ini dilakukan guna mendongkrak peringkatnya yang terus merosot.

Dalam rilis terakhir yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (12/3), Sony terpuruk di posisi 154. Ini jauh lebih jeblok dibandingan pekan sebelumnya yang berada di posisi 125.

Ranking itu tak lepas dari hasil buruk yang dialami mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut. Dalam dua turnamen awal pada 2015 ini, Sony selalu tersingkir di babak pertama.

Di Malaysia Grand Prix Gold (14/1), bapak dua putri ini menyerah kepada pebulu tangkis tuan rumah yang diunggulkan di posisi ke-13 Chong Wei Feng dengan 21-14, 15-21, 16-21. Kemudian, pekan lalu di Swiss Grand Prix Gold, Sony juga menelan pil pahit. Dia menyerah 11-21, 12-21 kepada Tzu Wei Wang dari Taiwan di babak pertama.

''Habis dari Swiss, saya main di Vietnam. Levelnya challenge,'' kata Sony.

Itu, tambah dia, dilakukan guna berburu poin sebanyak mungkin. Tahun lalu, Sony hanya turun di enam turnamen di level minimal grand prix gold.

''Kalau poin banyak, saya berharap bisa turun di super series lagi,'' ungkap lelaki yang hampir 12 tahun tinggal di Pelatnas Cipayung tersebut.

Di Vietnam Challenge, Sony tak mau memandang remeh lawan. Baginya, kemenangan demi kemenangan diharapkan ikut kembali mengangkat pamornya. (*)

Pelepas Dahaga dari Turnamen Internasional Series

Adi Pratama semasa di Jaya Raya

TITEL Rumania Open  internasional series. Total hadiah juaranya pun ''hanya' USD 5.000 atau sekitar Rp 50 juta.

Tapi, dari ajang tersebut, Indonesia boleh berbangga. Salah satu pebulu tangkisnya, Adi Pratama, tercatat sebagai juara. Hebatnya, dalam final yang dilaksanakan di Constantin Jude Sports Hall,Timisoara, tersebut, dia mengalahkan sesama pebulu tangkis yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung Indra Bagus Ade Chandra dengan 12-10,11-6, 11-9. Hanya, sekarang, Indra membela bendera Italia.

Kemenangan ini juga membalas kekalahan yang dialaminya dalam Spanyol Internasional Series 2014. Saat itu, Adi menyerah dua game langsung 14-21, 13-21.

Selain itu, bagi pebulu tangkis berperingkat 162 dunia tersebut, hasil di Rumania itu membuatnya meraih gelar perdana selama 2015. Dalam dua turnamen sebelumnya di Austria Challenge dan Portugal Internasional Series dia menelan kegagalan.

Di Wina, host Austria Challenge 2015, Adi kalah di babak ketiga oleh Niluka Karunaratne dari Sri Lanka dengan 21-19,11-21,3-6 (ret). Game ketiga, Adia kalah karena mengalami cedera. Kemudian, di Portugal, lelaki 21 tahun itu takluk kepada wakil Jepang Kazumasa Sakai dengan 13-21-13-21.

Adi sering tampil dalam berbagai karena statusnya saat ini sebagai sparring partner Timnas Austria. Hal yang sama juga dilakoni Indra Bagus di Italia.

Tahun lalu, di ajang yang sama, Adi terhenti langkahnya di babak semifinal. Lelaki binaan Jaya Raya ini menyerah dua game 12-21, 13-21 kepada Adrian Dziolko. (*)


Hasil Rumania Internasional Series 2015

Tunggal putra: Adi Pratama (Indonesia x7) v Indra Bagus Ade Chandra (Italia x1) 12-10, 11-6, 11-9

Tunggal putri: Lianne Tan (Belgia x1)  v Chloe Birch (Inggris) 11-7, 11-7, 12-10

Ganda putra: Zvonimir Durkinjak/Zvonimir Hoelbing (Kroasia x1) v Milosz Bochat/Pawel Pietryja (Polandia x2) 11-9, 11-8, 11-7

Ganda putri: Chloe Birch/Jenny Wallwork (Inggris) v Lea Palermo/Anne Tran (Prancis) 11-6, 14-12,8-11, 11-8

Ganda campuran: Kona Tarun/N. Sikki Reddy (India) v Jones Jansen/Cisita Jansen (Jerman x2) 11-7, 11-8,11-4

x=unggulan

Tiongkok Kuasai Empat Nomor

JUARA: Srikanth asal India.

TIONGKOK merajai turnamen Swiss Grand Prix Gold 015. Negeri terpadat penduduknya di muka bumi tersebut membawa pulang empat gelar dari turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut.

Satu-satunya gelar yang lepas, tunggal putra, karena Tiongkok gaga meloloskan wakil ke babak pemungkas. Gelar di nomor ini jatuh ke tangan K. Srikanth asal India yang menundukkan Viktor Axelsen (Denmark) dengan tiga game 21-15, 14-21, 21-14 pada pertandingan final yang dilaksanakan di St. Jakobshalle, Basel, pada Minggu waktu setempat (15/3).

Ini menjadi pertemuan bagi kedua pebulu tangkis. Bagi Srikanth, hasil di Basel ini juga menjadi pengobat kecewanya di kandang sendiri. Pada final India Grand Prix Gold di New Delhi pada 25 Januari lalu, dia kalah oleh rekannya sendiri Parupalli Kashyap 21-23, 21-23.

Pekan lalu, Srikant juga tampil mengecewakan dalam All England Super Series Premier. Datang sebagai unggulan keempat, dia langsung tersingkir di babak pertama usai dipermalukan Kenta Momota dari India dengan 18-21, 21-12, 15-21.

Dalam empat partai lainnya, pebulu tangkis Tiongkok tak terbendung. Bahkan, di nomor ganda campuran, terjadi final sesama wakil Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, antara Lu Kai/Huang Yaqiong, yang diunggulkan di posisi kelima, melawan unggulan ketiga Liu Cheng/Bao Yixin. Hasilnya, Lu Kai/Huang menang 17-21, 22-20, 21-13.

Di tunggal putri, Sun Yu, yang diunggulkan di posisi keenam, melibas Busanan Ongbumrungpan (Thailand) dua game langsung 21-16, 21-12.Pekan lalu, peringkat 15 dunia itu juga membuat kejutan di All England Super Series Premier. Sun menjungkalkan seniornya yang juga unggulan pertama dalam turnamen paling bergengsi itu Li Xuerui. O(*)

Hasil final Swiss Grand Prix Gold 2015

Tunggal putra: K. Srikanth (India x1) v Viktor Axelsen (Denmark x2) 1-15, 12-21, 21-14

Tunggal putri: Sun Yu (Tiongkok x6) v Busanan Ongbumrungpan (Thailand x8) 21-16, 21-12

Ganda putra: Cai Yun/Lu Kai (Tiongkok x3) v Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia x6) 21-19, 14-21, 21-17

Ganda putri: Bao Yixin/Tang Yuanting (Tiongkok x5) v Ayane Kurihara/Naru Shinoya (Jepang) 21-6, 17-21, 21-17

Ganda campuran: Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok x5) v Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x3) 17-21, 2-20, 21-13

x=unggulan

Duh, Pulang tanpa Gelar Lagi

Minggu, 15 Maret 2015

PENAKLUK: Liu Cheng/Bao Yixin

KEGAGALAN kembali mengiringi pebulu tangkis Indonesia. Usai gagal total di All England Super Series Premier 2015 pekan lalu, kini terulang di Swiss Grand Prix Gold.

Yang lebih parah, di Swiss, merah putih gagal meloloskan satu pun wakilnya ke babak final. Di All England yang levelnya lebih tinggi dua setrip, Indonesia masih bisa menempatkan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir ke babak final.

Meski akhirnya, mereka kalah di final oleh pasangan Tiongkok Zhang Nan/Zhaou Yunlei. Kekalahan tersebut juga membuat Tontowi/Liliyana gagal mencetak quat-trick (empat kali beruntun) menjadi juara.

Nah, di Swiss Grand Prix Gold 2015, asa yang tinggi sempat diamanatkan kepada mereka. Sayang, di babak semifinal ganda campuran, Tontowi/Liliyana sudah menyerah. Unggulan teratas turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut dipermalukan pasangan Tiongkok
Liu Cheng/Bao Yixin dengan dua game langsung 19-21, 19-21 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Basel pada Sabtu waktu setempat (14/3) atau Minggu dini hari (15/3).

Ini mengulangi kekalahan akhir tahun lalu. Dalam ajang Super Series Finals 2014, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut menyerah 10-21, 21-12, 15-21. Hasil dari Swiss Grand Prix Gold ini membuat Tontowi/Liliyana dua kali kalah beruntun dalam lima kali perjumpaan.

Sebelumnya, di nomor yang sama, juga di babak semifinal, wakil Indonesia lainnya Riky Widianto/Richi Dili, yang diunggulkan di posisi keempat, juga takluk kepada pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, Lu Kai/Huang Yaqiong dengan 16-21, 13-21.

Kekalahan juga dialami di sektor ganda putra. Pasangan anyar Kevin Sanjaya/Markus ''Sinyo'' Fernaldi menyerah 19-21, 19-21 kepada Goh V Shem/Tan Wee Kiong dari Malaysia. (*)

Jadwal Final Swiss Grand Prix Gold 2015

Tunggal putra: K Srikanth (India x1) v Viktor Axelsen (Denmark x2)

Tunggal putri: Sun Yu (Tiongkok x6) v Busanan Ongbumrungpan (Thailand x8)

Ganda putra: Cai Yun/Lu Kai(Tiongkok x3) v Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia x6)

Ganda putri: Bao Yixin/Tang Yuanting (Tiongkok x3) v Ayane Kurihara/Naru Shinoya (Jepang)

Ganda campuran: Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x3)  v Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok x5)

x=unggulan

Jalan Menembus 100 Besar Dunia

Sabtu, 14 Maret 2015

MASA DEPAN: evin Sanjaya/Markus Fernaldi

PASANGAN Kevin Sanjaya/Markus 'Sinyo' Fernaldi mulai dapat ranking.Poin yang dikumpulkan dari turnamen All England Super Series Premier langsung mendongkraknya ke posisi 182 dunia.

Menembus babak delapan besar, ganda Pelatnas Cipayung tersebut berhak mengantongi poin 6.050. Padahal, dalam turnamen berhadiah total USD 500 ribu tersebut, Kevin/Sinyo tampil perdana di ajang internasional.

Di babak pertama, mereka menang 21-16, 21-17 atas Max Schwenger/Josche Zurwonne asal Jerman. Kemudian, di babak kedua, Kevin/Sinyo bertarung tiga game 21-13, 19-21, 21-15 atas Manu Attri/B. Summeth Reddy (India).  Sayang, langkah menuju semifinal terganjal pasangan Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads PIeler Kolding dengan 21-11,10-21, 21-13.

Kini, Kevin/Sinyo pun sudah membuat kejutan lagi. Keduanya lolos ke semifinal Swiss Grand Prix Gold 2015. Mereka pun menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bertahan di nomor ganda putra.

Tiket semifinal dipetik berkat menjungkalkan unggulan keempat asal Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen dengan 22-20, 19-21, 21-17.Tiket final bisa diraih jika mampu melibas unggulan keempat asal Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong. Dengan menembus semifinal, pekan depan, Kevin/Sinyo bisa menembus posisi 100 besar dunia.

Kali terakhir, Kevin berpasangan dengan Selvanus Geh. Duet Djarum/Wima ini penampilannya tak mengecewakan. Bahkan, mereka mampu menjadi juara di Bulgaria Challenge 2014 dan menembus final Indonesia Grand Prix Gold 2014.

Sementara, Sinyo kali terakhir berduet dengan pebulu tangkis senior Markis Kido. Keduanya mampu menjuarai Prancis Super Series 2013 dan juga pernah masuk ranking 10 besar dunia. Kido/Sinyo juga mampu lolos dalam Kejuaraan Dunia 2014 di Kopenhagen, Denmark.

Penampilan Sinyo yang moncer ini membuat dia pun kembali dipanggil ke Pelatnas Cipayung. Dia dipasangkan dengan Kevin yang tengah tak punya pasangan karena Selvanus tengah sakit. (*)

Tontowi/Liliyana Nyaris Tersandung

Tontowi/Liliyana Natsir (foto:djarum)

AKHIRNYA, nomor ganda jadi harapan meraih gelar di Swiss Grand Prix Gold 2015. Bahkan, kans terjadinya final sesama pasanga Indonesia di babak final turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut.

Itu setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Riky Widianto/Richi Puspita Dili menembus babak semifinal. Dalam pertandingan yang dilaksanakan Jumat waktu setempat (13/3), keduanya menundukkan lawan-lawannya.

Tontowi/Liliyana, yang diunggulkan di posisi teratas, sempat dipaksa memeras keringa. Mereka bertarung tiga game 19-21, 21-13, 21-10 untuk menundukkan Jacco Arends/Selena Piek dari Belanda.

Sebelumnya, kedua pasangan sebelum pernah bertemu. Namun, dari ranking, Tontowi/Liliyana memang lebih unggul. Mereka ada di posisi keempat sedangkan Jacco/Selena di posisi 21.

Untuk bisa lolos ke final, Tontowi/Liliyana harus bisa mengalahkan Liu Cheng/Bao Yixing. Unggulan ketiga ini melibas wakil Indonesian Praveen Jordan/Debby Susanto 21-19,21-7.

Dari empat kali pertemuan, pasangan merah putih menang tiga kali. Namun, yang bisa waspada, dalam laga terakhir, Tontowi/Liliyana menyerah 10-21,21-12, 15-21 dalam Super Series Finals di Dubai, Uni Emirate Arab.

Duta Pelatnas Cipayung yang lain, Riky/Richi menembus empat besar berkat kemenangan 18-21, 21-17, 21-11 atas Gaetan Mittelheisser/Audrey Fontaine (Prancis). Tiket ke final bisa digapai jika unggulan keempat ini bisa menjinakkan wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, Lu Kai/Huang Yaqiong.

Namun, dari head to head, pasangan juara India Grand Prix Gold 2015 itu tak pernah menang dalam dua kali pertemuan yakni di Hongkong Super Series 2014 dan All England Super Series Premier 2014. (*)

Menguji Konsistensi Riky/Richi

Jumat, 13 Maret 2015

EKSTRAKERAS: Riky Widianto/Richi Dili (foto;PBSI)

INDIA Super Series 2014 menjadi mimpi buruk bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Datang dengan status tiga kali juara beruntun (2011, 2012, dan 2013) nomor ganda campuran, mereka langsung tersingkir di babak pertama.  Mereka kalah dua game langsung 20-22, 18-21 kepada Ko Sung-hyun/Kim Ha-na.

Sayang, kegagalan tersebut tak bisa dibalas tahun ini. Dari undian yang sudah dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Tontowi/Liliyana tak hadir dalam event yang dilaksanakan di New Delhi, India, pada 24-29 Maret tersebut.

Mantan penghuni nomor satu dunia tersebut memilih tampil di Malaysia Super Series Premier 2015 yang digelar sepekan sesudah India Super Series. Sebagai gantinya, di nomor ganda caampuran, Indonesia diwakili Praveen Jordan/Debby Susanto, Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja, dan Riky Widianto/Richi Puspita Dili.

Bagi Riky/Richi, India baru saja memberikan kenangan manis. Mereka mampu naik ke podium terhormat. Di babak final, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut menang 21-17, 21-17 atas ganda tuan rumah Manu Atttri/K.Maneesha.

Namun, tahun lalu, mereka jeblok di India Super Series. Menempati unggulan ketujuh, Riky/Richi menyerah di babak kedua kepada M. Pieler Kolding/Kamilla Rytter Juhl dari Denmark dengan 16-21, 12-21.

Ya, penampilan Riky/Richi memang sering naik turun. Buktinya, usai meraih gelar di India Grand Prix Gold, mereka tumbang di babak pertama All England Super Series Premier 2015 kepada pasangan non unggulan asal Jepang Kenichi Hayakawa/Misaki Matsutomo. (*)

Undian Tak Mengenakkan buat Tommy

PETAKA:Tommy Sugiarto (foto;PBSI)

ENTAH apa yang ada di benak Tommy Sugiarto sekarang. Di saat dia berjuang bangkit, bayangan tersingkir di babak pertama Malaysia Super Series Premier 2015 sudah di depan mata.

Dari drawing (undian) yang sudah dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Tommy langsung bertemu dengan Lin Dan asal Tionglkok.Dalam tiga kali pertemuan, putra salah satu legenda bulu tangkis Indonesia tersebut belum pernah memetik kemenangan.

Tommy takluk ditangan Super Dan, julukan Lin Dan, di Jerman Grand Open 2007, Korea Open 2011, dan Jerman Open 2012. Ironisnya, semua kekalahan itu ditelannya dengan dua game langsung (straight game).

Tentu, di atas kertas, kini Tommy juga bakal kalah lagi. Alasannya, Lin Dan sudah semakin mendekati penampilan puncaknya (top performance).

Sudah beberapa gelar yang dikoleksi oleh lelaki 32 tahun tersebut usai comeback pada April 2014. Imbasnya, Lin Dan pun kembali menembus posisi 10 besar dunia. Bahkan, dalam rilis peringkat terbaru yang dikeluarkan BWF Kamis lalu (12/3), suami dari mantan tunggal putri terbaik dunia Xie Xingfang itu sudah ada di posisi ketiga.

Sebaliknya dengan Tommy. Dalam beberapa turnamen, penampilannya tak sesuai harapan.

Dalam turnamen terakhir yang diikuti, All England Super Series Premier 2015 di Birmingham, Inggris, Tommy langsung tersingkir di babak pertama. Dia dipermalukan mantan rekannya di Pelatnas Cipayung Dionysius Hayom Rumbaka.

Tommy sendiri juga merupakan satu-satunya wakil Indonesia di Malaysia Super Series Premier 2015. Kali terakhir, tunggal putra Indonesia yang berjaya di negeri jiran adalah Taufik Hidayat pada 2000.

Sejak 2004 hingga 2014, hanya sekali gelar juara lepas dari wakil tuan rumah Lee Chong Wei yakni pada 2007. Saat itu, posisi terhormat disabet Peter Gade dari Denmak.

Tahun ini, Chong Wei masih absen karena masih menjalani sanksi dari BWF karena doping pada Kejuaraan Dunia 2014. (*)

Tumpuan di Saat Usia Belum 18 Tahun

ASA:Jonatan Christie (foto:PBSI)

USIA Jonatan Christie belum genap 18 tahun. Namun, di usia muda tersebut sudah menjadi tumpuan asa Indonesia di Swiss Grand Prix Gold 2015.

Jonatan menjadi satu-satunya wakil merah putih di nomor tunggal putra yang masih bertahan hingga babak perempat final dalam turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut. Itu setelah dia menang 16-21, 21-18, 21-13 atas wakil Malaysia Zulfadli Zulkifli dalam pertandingan babak ketiga yang dilaksanakan di Basel pada Kamis waktu setempat (12/3).

Ini menjadi kemenangan perdana Jonatan atas pebulu tangkis berperingkat 54 dunia tersebut.Namun, untuk lolos babak semifinal, dia bakal bekerja keras.

Pebulu tangkis Tiongkok Xue Song sudah menunggu. Dari ranking terbaru, posisinya 20 setrip di atas Jonatan yang kini bertengger di 84 dunia.

Swiss Grand Prix Gold merupakan turnamen kedua yang diikuti Jonatan pada 2015. Sebelumnya, dia juga unjuk kebolehan dalam Malaysia Grand Prix Gold pada Januari lalu.

Hasilnya, dia tersingkir di babak kedua. Jonatan harus mengakui ketangguhan pebulu tangkis India kashyap Paraupalli.

Sebenarnya, hingga babak ketiga, Indonesia masih mempunyai dua wakil. Sayang, satu wakil lainnya, Andre Kurniawan Tedjono, dikalahkan unggulan kedelapan asal Jepang Takuma Ueda 16-21, 19-21.

Sejak Marleve Mainaky menjadi juara pada 2002, belum ada lagi tunggal putra Indonesia yang menjadi juara di Swiss. (*)

Lin Dan Semakin Dekati Singgasana

Kamis, 12 Maret 2015

BANGKIT: Lin Dan saat tampil di All England

PELAN tapi pasti, Lin Dan mulai mendekati singgasananya. Dalam ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) Kamis (12/3), lelaki 32 tahun tersebut sudah duduk di posisi ketiga.

Lin Dan ada di bawah pebulu tangkis Denmark Jan O Jorgensen (Denmark) yang ada di posisi kedua dan kompatriot (rekan senegara) Chen Long di posisi teratas. Namun, tak menutup kemungkinan, dia akan mengkudeta keduanya.

Memang, dalam All England Super Series Premier 2015 pekan lalu, lelaki berjuluk Super Dan itu gagal menjadi juara. Langkahnya dihentikan Chen Long di babak semifinal.

Tapi, apa yang sudah dicapainya selama setahun ini cukup mengagumkan. Tahun lalu, suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang tersebut masih berada di luar 100 besar. Pada April 2014, Lin Dan terpaku di ranking 106.

Ini disebabkan dia lama absen usai meraih emas Olimpiade London pada Agustus 2012. Keping berharga itu kali kedua digapai setelah di kandang sendiri, Beijing, 2008, Lin Dan juga menjadi juara.

Memulainya dari Tiongkok Grand Prix Gold 2014, dia kemudian menjadi juara tunggal putra Asia. Sempat tersendat di Jepang Super Series, Lin Dan kembali juara di Australia Super Series dan Taiwan Grand Prix Gold.

Dia nyaris juara jika tak dihentikan K. Srikanth asal India di kandang sendiri dalam ajang bergengsi Tiongkok Super Series Premier. Donasi dari Tiongkok itulah yang membuat Lin Dan menembus 10 besar.

Kini, Lin Dan pun akan ikut berburu poin sebanyak mungkin. Tujuannya hanya satu, dia ingin meraih emas olimpiade untuk kali ketiga (hat-trick). (*)


Naik-naik ke posisi puncak


20 Maret 2014: Ranking 106

8 Mei 2014: Ranking 58

5 Juni 2014: Ranking 35

10 Juli 2014: Ranking 14

20 November 2014: 7

22 Januari 2015: 6

12 Maret 2015: 3

Gagal, Ranking pun Jeblok

MELOROT:Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan
HASIL All England Super Series Premier 2015 membawa dampak negative bagi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Posisinya turun lima setrip.

Dari ranking terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (12/3), Hendra/Ahsan kini ada di posisi kesembilan. Artinya, ini ranking terburuk keduanya sejak berjaya mulai 2013.

Ya, sebagai juara bertahan, capaian pasangan Pelatnas Cipayung ini termasuk jemblok. Mereka sudah tersingkir di babak kedua All England Super Series Premier 2015.

Mereka dipermalukan pasangan Tiongkok Fu Haifeng/Zhang Nan, yang akhirnya menembus babak final. Juara turnamen berhadiah total USD 500 ribu jatuh ke tangan ganda Denmark Mathoas Boe/Carsten Mogensen.

Sebenarnya, jika mampu mengatasi perlawanan ganda Negeri Panda, julukan Tiongkok, jalan Hendra/Ahsan bakal lapang. Apalagi, saingan terberatnya, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong sudah tersingkir di babak pertama.

Ya, All England Super Series Premier 2015 merupakan penampilan perdana Hendra/Ahsan di ajang internasional. Namun, tak menutup kemungkinan, usai All England, kalender keduanya bakal padat.

Alasannya, Hendra/Ahsan bakal berebut banyak poin untuk mengamankan posisinya merebut tiket ke Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Mereka diharapkan kembali meneruskan tradisi emas dalam pesta olahraga akbar sedunia itu setelah terputus pada Olimpiade London 2012.

Saat itu, Indonesia gagal total meraih emas. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang digadang-gadang meraih emas terhenti di babak semifinal. Kali terakhir, emas Indonesia disumbangkan dari nomor ganda putra melalui Hendra Setiawan yang pada 2008 masih berpasangan dengan Markis Kido. (*)

Posisi 10 besar ganda putra

1.Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korea Selatan)

2. Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark)

3. Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (Taiwan)

4. Liu Xialong/Qiu Zihan (Tiongkok)

5. Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang)

6. Ko Sung-hyun/Shin Baek-cheol (Korea Selatan)

7. Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok)

8.Fu Haifeng/Zhang Nan (Tiongkok)

9. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia)

10.Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark)

Budi Santoso Tangani Jaya Raya

KEMBALI KE JAKARTA: Budi Santoso bersama keluarga

BUDI Santoso tak lagi jobless. Dia masuk dalam daftar pelatih klub raksasa, Jaya Raya Jakarta.

''Mulai Maret ini, saya menjadi pelatih Jaya Raya. Namun, saya bukan menangani senior,'' kata Budi.

Di klub ibu kota tersebut, mantan pebulu tangkis nasional tersebut akan memoles kelompok remaja. Khususnya di sektor tunggal putra.

Ya, setelah dilepas Pelatnas Cipayung di akhir Desember, Budi belum ada job. Dia juga tak kembali ke klub terakhirnya, Mutiara Bandung.

Sebenarnya, pemutusan Budi dari Cipayung juga sempat membuatnya kaget. Dia belum lama memoles atlet di kawah candradimuka olahraga tepok bulu tersebut.

Tercatat, skuad Indonesia di Piala Thomas 2002 itu menangani pebulu tangkis muda Indonesia. Bahkan, beberapa kali Budi mendampingi tunggal putra terbaik Indonesia saat ini Tommy Sugiarto di beberapa turnamen. Sebelum keluar, Budi juga memoles sektor tunggal putri.

Di klub barunya, tentu ilmu dan pengalaman Budi diharapkan menular kepada anak asuhnya.Budi merupakan mantan tunggal putra terbaik yang perrnah dimiliki Indonesia. Hanya, di eranya dia masih di bawah Marleve Mainaky dan Hendrawan.

Di saat kedua era rekannya turun, Budi tetap gagal mencuat menjadi nomor satu. Ini dikarenakan pada awal dekade 2000-an muncul si Anak Ajaib Taufik Hidayat. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger