www.smashyes.com

www.smashyes.com

Bareng di Sorong, Berlanjut ke Manado

Kamis, 30 April 2015

Rizky Hidayat Ismail punya pasangan baru (foto:djarum)

DALAM Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri I , Rizky Hidayat mampu menembus final ganda putra. Saat event yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, tersebut,  lelaki yang membela Wima, Surabaya, itu  berpasangan dengan Ardiansyah Putra dari Berkat Abadi, Banjarmasin.

Namun, di laga final pada 28 Februari 2015 itu, Rizky/Ardiansyah harus mengakui ketangguhan unggulan teratas Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana (Suryanaga Surabaya) dengan rubber game 21-16, 21-23, 8-21. Mereka bisa berpasangan setelah pasangan lama Rizky yang juga dari Wima, Riyo Arief, lebih konsentrasi ke pekerjaannya sebagai pegawai bank.

Namun, di Seri II yang dilaksanalkan di Manado, Sulawesi Utara, 27 April-2 Mei 2015, Rizky punya pasangan baru. Lelaki asal Maluku tersebut tak lagi bersama dengan Ardianysah. Rizky bertandem dengan Meldrick Rurado Korban dari Candra Wijaya.

''Sebenarnya, saya tak turun di Manado. Namun, di menit-menit akhir, saya memutuskan tampil,'' ungkap Rizky.

Hanya, dia tak merinci soal rencananya yang sempat ingin absen di Manado. Rencana itu pula yang membuat Ardiansyah mencari pasangan lain, Didit Juang dari Djarum Kudus.

Lalu, apa alasan Rizky berpasangan dengan Meldrick? Ternyata sebelum di Manado, keduanya sama-sama tampil dalam sebuah kejuaraan di Sorong, Papua Barat.

''Kebetulan, kami satu tim.  Dia juga main di Sirnas Manado tapi nggak ada pasangan. Akhirnya, saya dan Meldrick pun berpartner,'' terang lelaki yang jadi pernah penyumbang emas terbanyak dalam Porprov bagi Surabaya, Jawa Timur, tersebut.

Mepetnya waktu dan keputusan tampil bareng pun diakui Rizky membuat mereka belum terlalu kompak. Sehingga, masih ada beberapa kesalahan.

''Kami masih saling adaptasi,'' terang Rizky.

Namun, kendala itu tak mengurangi penampilan di lapangan. Saat ini,langkah Rizky/Meldrick sudah sampai perempat final. Tiket itu diperoleh berkat kemenangan mudah 21-13, 21-4 atas pasangan Billionaires Gorontalo Andika Daud/Ronal.

Untuk bisa menembus semifinal, Rizky/Meldrick akan menjajal ketangguhan Jeka Wiratama/Rafiddias Akhdan Nugroho. Di babak kedua,pasangan Djarum Kudus tersebut membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan teratas Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana dengan 21-13, 15-21, 22-20. (*)

Nonunggulan Paksa Febri Pulang Awal

KEJUTAN: Viky Angga Saputra (foto:djarum)

AMBISI Febriyan Irvannaldy menjuarai nomor tunggal Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Manado kandas. Secara mengejutkan, pebulu tangkis asal Wima, Surabaya, tersebut menyerah dengan rubber game 17-21, 21-18, 13-21 kepada Viky Angga Saputra dari Tangkas Jakarta dalam pertandingan babak ketiga yang dilaksanakan di GOR Ari Lasut, Manado, pada Rabu waktu setempat (29/4/2015).

Sebenarnya, kans Febri, sapaan karib Febriyan Irannaldy, meraih gelar terbentang. Beberapa rivalnya tak ikut ambil bagian dalam event yang masuk seri II tersebut.

Salah satunya Alamsyah Yunus. Selama ini, pebulu tangkis dari JR Enkei itu  dikenal sebagai raja sirnas dengan banyaknya titel dari ajang yang diikuti oleh atlet dari berbagai klub di Indonesia tersebut.

Pada seri sebelumnya di Palembang, Sumatera Selatan, pada Februari lalu, Febri juga gagal juara. Dia tak bisa turun ke lapangan saat menghadapi Rifan Fauzin Ivanudin dari Pelatprov DKI Jakarta.

Rifan pun akhirnya menjadi juara dalam sirnas pembuka tersebut. Dalam laga final di GOR Jakabaring pada 28 Februari 2014, dia mengalahkan rekannya di Pelatprov DKI Jakarta Panji Akbar Sudrajat dengan 21-13, 21-23, 21-15.

Di Manado, langkah Rifan pun belum terhenti. Dia lolos ke babak ketiga usai menundukkan Indrue Tampi (Tangkas Jakarta) dengan 21-17, 21-9.  Di ibu kota Sulawesi Utara ini, Rifan mengusung bendera klubnya, Pelita Bakrie. (*)

Vito-Hayom Sudah di Babak III

KLUB:Shesar Hiren Rustavito saat di pelatnas (Foto:djarum)

SHESAR Hiren Rustavito memulai langkahnya di Selandia Baru Grand Prix Gold 2015 dari babak kualifikasi. Ranking yang dimiliki,628, membuat belum bisa langsung menembus babak utama turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut.

Namun, kini, Vito, sapaan karibnya, sudah ada di babak ketiga. Ini berkat dua kemenangan yang dipetiknya di hari pertama babak utama.

Dalam pertandingan perdana babak elite yang dilaksanakan di North Shore Events Centre,Auckland, pada Rabu waktu setempat (29/4/2015), Vito langsung menjungkalkan unggulan ke-13 Howard Shu dari Amerika Serikat  dalam tiga game yang ketat 15-21, 21-18, 22-20.

Beberapa  jam kemudian, pebulu tangkis yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut kembali turun ke lapangan. Di babak kedua, giliran Jacob Maliekal dilibasnya dengan mudah dalam dua game 21-14, 21-8.

Namun, untuk bisa menembus perempat final, lelaki kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 21 tahun lalu tersebut berhadapan dengan unggulan kelima Ng Ka Long dari Hongkong. Vito belum pernah berhadapan dengan lawannya yang ada di posisi 35 dunia tersebut.

Selain Vito, wakil Indonesia yang masih bertahan di babak ketiga adalah Dionysius Hayom Rumbaka. Pebulu tangkis yang juga binaan Djarum Kudus tersebut memetik dua kali kemenangan.

Di partai pertama, Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, menang dua game langsung 21-13, 21-14 atas wakil tuan rumah Abhinav Manota. Kemudian di babak kedua, unggulan keempat tersebut menghentikan perlawanan Hashiru Shimono (Jepang) 21-6, 21-15.

Goh Soon Huat dari Malaysia sudah menunggu di babak ketiga. Hayom pernah mengalahkannya di Thailand Open 2013 dengan 15-21, 21-13, 21-16. (*)

Langsung Kejar Juara Dunia

Selasa, 28 April 2015

Chong Wei bersama Hendrawan.(foto:utusan)

SEBUAH media Malaysia menyebut bakal habisnya hukuman Lee Chong Wei sebagai Hari Kejayaan (Glory Days). Itu dikarenakan setumpuk asa sudah dibebankan kepada lelaki 32 tahun tersebut.

Ya, Chong Wei dihukum BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) selama delapan bulan. Dia terbukti menelan obat yang dilarang dalam olahraga karena masuk dalam kategori doping saat mengikuti Kejuaraan Dunia 2014 di Kopenhagen, Demmark, pada Agustus.

Chong Wei sempat tampil di Asian Games Incheon, Korea Selatan, dengan menyumbangkan medali perunggu, pada September. Tapi, setelah itu, dia absen hingga akhirnya mulai November BWF melarangnya mengayunkan raket di semua ajang yang dinaungi.

Ya, tanpa Chong Wei, Malaysia pun puasa gelar. Apalagi, pada 2015 ini.

Sudah ada empat turnamen super series atau super series yang sudah digelar yakni All England Super Series Premier (3-8 Maret), India Super Series (24-29 Maret), Malaysia Super Series Premier (31 Maret-5 April), dan Singapura Super Series (7-12 April). Hasilnya, pada wakil Malaysia pun sudah bertumbangan di babak awal.

Padahal, saat masih belum tersangkut doping, pada 2013 dia menjuarai enam gelar dan empat kali naik podium terhormat pada 2014.

Kembalinya Chong Wei pun disambut gembira oleh pelatihnya, Hendrawan. Lelaki asal Indonesia tersebut optimistisnya anak asuhnya bisa kembali ke puncak.

''Chong Wei akan kembali segera meski kini lawan-lawannya rankingnya sudah melewatinya. Dia akan membuat negaranya berjaya lagi,'' ujar mantan pelatih Pelatnas Cipayung tersebut,

Salah satu juara dunia tunggal putra yang dimiliki Indonesia tersebut ditunjuk Direktur Teknik BAM (Asoasiasi Bulu Tangkis Malaysia) untuk menangani Chong Wei. Hendrawan juga menangani  Liew Daren, Chean June Wei, dan Iskandar Zulkarnain Zainuddin. Sebelumnya, Chong Wei ditangani Tey Seu Bock.

“Pebulu tangkis ganda Indonesia Sigit Budiarto pernah dihukum dua tahun karena doping pada Singapura Open 1998. Tapi, setelah itu, dia bertambah kuat dengan membawa Indonesia menjadi juara Piala Thomas 2002. Saya berharap Chong Wei pun kembali dengan kondisi yang kuat juga,'' ujar kakak ipar pebulu tangkis Indonesia spesialis ganda Hendra Setiawan tersebut.

Untuk itu, dia akan segera duduk satu meja dengan Chong Wei untuk merencanakan program bersama. Dengan usia yang tak muda lagi, tambah Hendrawan, dia akan selektif menurunkan lelaki yang diberi gelar Datuk oleh Pemerintah Malaysia itu di beberapa turnamen.

''Ketika Morten memberikan kepercayaan saya menjadi pelatih Chong Wei, ada dua target yang diberikan kepada saya. Menjadi juara dunia dan meraih emas Olimpiade 2016,'' ungkap Hendrawan.

Aksi perdana Chong Wei akan terjadi di Piala Sudirman yang dilaksanakan di Dongguan, Tiongkok, pada 10-17 Mei. Setelah itu, dia akan berlaga di SEA Games pada Juni. Tantangan besar pun menanti Chong Wei di Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta pada 10-16 Agustus. (*)

Hukuman Chong Wei Habis 1 Mei 2015

COMEBACK: Lee Chong Wei (Foto:malaysianinsider)

BWF telah menjatuhkan sanksi bagi Lee Chong Wei. Oleh induk organisasi bulu tangkis dunia tersebut, pebulu tangkis spesialis tunggal putra asal Malaysia tersebut divonis larangan bertanding selama delapan bulan.

Ini dijatuhkan setelah lelaki 32 tahun tersebut terbukti doping saat mengikuti Kejuaraan Dunia di Kopenhagen, Denmark, pada Agustus lalu. Dia positif minum obat yang masuk dalam kandungan doping.

Namun, hukuman lapangan bertanding selama delapan bulan tersebut sudah diberikan sejak November 2014. Artinya, pada 1 Mei 2015, Chong Wei sudah bisa turun lagi ke lapangan untuk membela Malaysia.

Dalam pernyataannya, BWF menyebutkan apa yang dilakukan Chong Wei itu bukan karena sebuah kesengajaan. Dia dianggap lalai.

Lelaki yang sudah mengoleksi 55 gelar tersebut sempat tampil di Asian Games di Incheon, Korea Selatan, pada September atau sebulan usai dia kalah di babak final Kejuaraan Dunia dari Chen Long.

Karena lama absen, ranking Chong Wei pun terus turun.Kali terakhir, dari peringkat yang dikeluarkan BWF, bapak satu anak tersebut terdampar di posisi ke-30.

Sebelumnya, BWF sempat mengancam Chong Wei dengan hukuman selama dua tahun larangan bertanding. Hanya, organisasi pimpinan Paul Erik-Hoyer tersebut menganggap apa yang dilakukan lelaki yang diberi gelar Datuk oleh pemerintahan Malaysia tersebut bukan sebuah kesengajaan dan tak menyadari obat yang ditelannya termasuk dalam daftar doping.

 Selain itu, medak perak yang diraihnya dalam Kejuaraan Dunia 2014 juga dibatalkan. Dari situs wikipedia, memang nama Chong Wei langsung dicoret. (*)

Sony Batal Tampil di Selandia Baru

Senin, 27 April 2015

AT HOME: Sony Swi Kuncoro (foto:djarum)

SONY Dwi Kuncoro tercatat namanya sebagai peserta Selandia Baru Grand Prix Gold 2015. Di babak pertama, arek Suroboyo tersebut akan menghadapi Jacob Maliekal dari Afrika Selatan dalam event yang dilaksanakan 28 April-3 Mei mendatang.

Namanya pun  sampai Senin siang WIB (27/4.2015) masih tercantum. Namun, sekitar pukul 14.00 WIB, nama Sony sudah menghilang.

Posisinya digantikan pebulu tangkis Selandia Baru yang harusnya berlaga lebih dulu di babak kualifikasi Dylan Henton. Ada apa dengan Sony?

''Saya mengundurkan diri. Ada acara yang berbarengan,'' kata Sony kepada smashyes.

Hanya, dia tak menyebutkan agenda yang membuatnya tak bisa berlaga dalam kejuaraan berhadiah USD 120 ribu yang dilaksanakan di Auckland tersebut. Selain itu, visa juga membuat Sony memilih tetap di Surabaya, tempat tinggalnya bersama istri dan kedua anaknya.

''Namun, saya tetap kena denda dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia),'' ucap mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut.

Ya, saat ini, Sony rajin mengikuti beberapa turnamen. Tentu, tujuannya untuk mendongkrak posisinya yang tengah jeblok.Dalam ranking terbaru BWF, lelaki 31 tahun tersebut ada di posisi 119. (*)


Wakil Indonesia di Selandia Baru Grand Prix Gold 2015

Tunggal putra:
Kualifikasi: Shesar Hiren Rhustavito, Juan Arbitama
Utama:Sony Dwi Kuncoro, Kaizar Bobby Alexander, Fikri Ihsandi, Simon Santoso (x6), Nathaniel Ernestan Sulistyo,Dionysius Hayom Rumbaka (x4), AndrewSusanto, Evert Sukamta, Wisnu Yuli Prasetyo

Tunggal putri:
Kualifikasi:-
Utama: Adriyanti Firdasari (x1), Ruselli Hartawan,Maria Febe Kusumastuti (x4), Rusydina Antardayu Riodigin

Ganda putra
Kualifikasi: Kaizar Bobby Alexander/Nathaniel Ernestan
Utama: Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto,Hardianto/Kenas Adi Haryanto,Markis Kido/Agripinna Prima Putra Rahmanto,Yohanes Rendy Sugiarto/Afiat Yuris Wirawan, Berry Anggriawan/Rian Agung Saputro (x8), Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan

Ganda putri:
Kualifikasi: -
Utama: Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta (x1), Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi, Melvira Oklamona/Merisa Cindy Sahputri, Komala Dewi/Vita Marissa

Ganda campuran:
Kualifikasi: Alfian Eko Prasetya/Shella Devi Aulia (x4)
Babak utama: Riky Widianto/Puspita Richi Dili, Agripinna Putra Rahmato/Rizki Amelia Pradipta,Hafiz Faisal/Masita Mahmudin, Ronald Alexander/Melati Daeva Oktaviani (x4), Fran Kurniawan/Komala Dewi (x7), Markis Kido/Pia Zebadiah (x3), Andrei Adistia/Vita Marissa

x=unggulan

Sudah Jalannya Lin Dan

CHAMPION: Lin Dan meraih gelar keempat. 

LIN Dan menjadi juara nomor tunggal putra Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2015. Dalam final yang dilaksanakan di negerinya sendiri, Wuhan, Tiongkok, pada Minggu (26/4/2015), lelaki 32 tahun tersebut melibas juniornya, Tian Houwei, dalam dua game 21-19, 21-8. Partai puncak ini membuat Lin Dan selalu memetik kemenangan atas Houwei dalam lima kali pertemuan.

Ini menjadi gelar Asia keempat bagi Lin Dan. Sebelumnya, lelaki berjuluk Super Dan, karena ketangguhannya di lapangan, sudah meraih posisi terhormat pada 2010, 2011, dan 2014.

Kemenangan di Wuhan juga membuat suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang tersebut akhirnya bisa juara pada 2015. Dia selalu gagal menjadi nomor satu dalam tiga turnamen, All England, India Super Series, dan Malaysia Super Series Premier.

Dalam All England dan Malaysia Super Series, Lin Dan dikalahkan kompatriot (rekan senegara) Chen Long. Sedangkan di India, juara dunia lima kali tersebut menyerah kepada wakil Indonesia Tommy Sugiarto.

Sebenarnya, jalan Lin Dan menjadi juara sudah terbuka lebar sejak semifinal. Itu terjadi karena Chen Long mengundurkan diri saat menghadapi Houwei.

Bisa jadi, strategi ini juga untuk mengangkat kembali mental Lin Dan yang belum bisa juara. Apalagi, dalam dua kali pertemuan terakhir dia selalu dipermalukan juniornya yang kini jadi pebulu tangkis nomor satu dunia tersebut.   (*)

Hasil final Kejuaraan Asia 2015

Tunggal putra: Lin Dan (Tiongkok x2) v Tian Houwei (Tiongkok) 21-19, 21-8

Tunggal putri: Ratchanok Intanon (Thailand x7) v Li Xuerui (Tiongkok x1) 20-22, 23-21, 21-12

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia x6) 18-21, 24-22, 21-19

Ganda putri: Ma Jin/Tang Yuanting (Tiongkok) v Wang Xiaoli/Yu Yang (Tiongkok x4) 21-12, 21-12

Ganda campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x2) v Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah (Hongkong) 21-16, 21-15

x=unggulan

Akhirnya, Tontowi/Liliyana Bisa Juara

CHAMPION:Tontowi/Liliyana di atas podium. (foto:xinhua)

KOLEKSI trofi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir bertambah. Untuk kali pertama, ganda campuran terbaik Indonesia tersebut mampu menjadi juara Asia.

Itu setelah Tontowi/Liliyana memetik kemenangan relaltif mudah 21-16, 21-15 atas Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah (Hongkong) dalam final Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2015 yang dilaksanakan di Wuhan Sports Center Gymnasium, Wuhan, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat. Gelar tersebut juga menuntaskan dahaga gelar Asia sejak enam tahun lalu.

Kali terakhir, Indonesia memenangi kejuaraan tahunan tersebut pada 2009. Saat itu, dalam event yang digelar di Suwon, Korea Selatan, pasangan ganda puta markis Kido/Hendra Setiawan menundukkan wakil tuan rumah Yoo Yeon-seong/Ko Sung-hyun.

Selain itu, sejak 2008, belum ada pasangan ganda campuran Indonesia yang menjadi juara Asia. Kali terakhir, Flandy Limpele/Vita Marissa yang melakukannya saat kejuaraan itu dilaksanaan di Johor Bahru, Malaysia.

Yang tak kalah pentingnya, gelar di Wuhan itu juga mengakhiri paceklik juara Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pada 2015. Pada tahun ini, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut selalu gagal dalam empat turnamen yang diikuti yakni All England Super Series, Swiss Grand Prix Gold, Malaysia Super Series Premier, dan Singapura Super Series. Di antara empat turnamen itu, di All England dan Singapura, Tontowi/Liliyana menyandang status juara bertahan.

Sayang, sukses pasangan yang sama-sama berasal dari satu klub, Djarum Kudus, tersebut dalam Kejuaraan Asia 2015 gagal diikuti oleh Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Pasangan ganda putra nomor wahid Indonesia tersebut menyerah tiga game 21-18, 22-24, 19-21 kepada rival utamanya, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dari Korea Selatan.

Kekalahan ini membuat catatan kekalahan Hendra/Ahsan dengan pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut kembali menjauh menjadi 3-6. Kekalahan ini juga cukup di luar dugaan.

Alasannya, dalam dua kali pertemuan terakhir yakni di Asian Games 2014 dan Malaysia Super Series Premier, Hendra/Ahsan mampu membuat Yong-dae/Yeon-seong, yang kini duduk di posisi nomor satu dunia, menyerah. (*)

Terpilih Presiden BAC, Anton Bisa Rangkap

Minggu, 26 April 2015

NO 1: Anton Subowo usai terpilih sebagai presiden.

ASOSIASI  Bulu Tangkis Asia (BAC) punya presiden baru. Dia adalah Anton Subowo, putra ketua KOI (Komite Olimpiade Indonesia) Rita Subowo.

Dalam pemilihan yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongko, Anton akan memegang tampuk pimpinan hingga lima tahun ke depan.Dia menggantikan  Mohd Nadzmi Bin Mohd Salleh dari Malaysia.

''Ya benar, Anton memang terpilih menjadi Presiden BAC,'' kata Wakil Sekjen PP PBSI Ahmad Budiarto.

Meski menjadi orang nomor satu di organisasi olahraga tepok bulu Asia, namun, jelas Budi, sapaan karib Ahmad Budiarto, bukan berarti dia akan naik pangkat. Menurutnya, Anton masih bisa merangkap dua jabatan.

''Jadi, saya ya tetap akan menjadi wakil sekjen. Nggak ada larangan,'' ujar Budi.

Salah satu rival yang dikalahkan Anton dalam perebutan kursi Presiden BAC adalah Ketua Bulu Tangkis Thailand Khunying Patama Leeswadtrakul. Meski kalah, dia dipercaya menjadi wakil presiden bersama lima orang lainnya.

 Wakil Korea Selatan Hong-Ki Kim dipilih menjadi Sekjen BAC. Pemilihan Presiden BAC diselenggarakan di sela-sela Kejuaraan Asia. (*)




Ulangan Guangzhou 2013


Ratchanok usai mengalahkan Li Xuerui (foto:bangkokpost)

 DUA tahun lalu, Ratchanok Intanon menjadi pusat perbincangan.Dia menjadi perempuan Thailand yang mampu menjadi juara dunia tunggal putri.

Dalam final yang dilaksanakan di Guangzhou, Tiongkok, pada 11 Agustus 2013, Ratchanok menghentikan langkan andalan tuan rumah Li Xuerui dengan rubber game 22-20, 18-21, 21-14. Hanya, setelah itu, kegagalan demi kegagalan menimpanya.

Bahkan, pada 2014, dia gagal mempertahankan gelar juara dunia. Langkahnya sudah terhenti di babak kedua usai dipermalukan Minatsu Mitani dari Jepang dengan rubber game 21-8, 12-21, 18-21.

Demikian juga dalam Kejuaraan Asia 2014. Perempuan 20 tahun itu langsung gugur di babak pertama. Secara mengejutkan, Ratchanok dilibas wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, lainnya Sayaka Takahashi 18-21, 21-16,l 14-21.

Nah, kini, Ratchanok punya kans mengembalikan pamor. Dia mampu lolos ke babak final Kejuaraan Asia 2015.

Tiket menembus babak pemungkas diterimanya usai menang 20-22, 21-9, 21-12 atas unggulan kelima Tai Tzu Ying dalam pertandingan semifinal tunggal putri yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Sabtu waktu setempat (24/5/2015).

Sebenarnya, Tzu Ying bukan lawan yang enteng bagi Ratchanok. Dia Sudah lima kali menang dalam sembilan kali perjumpaan sebelumnya.

Pada babak final, Ratchanok akan bertemu lawan berat, Li Xuerui. Dalam sembilan kali pertemuan, dia hanyang dua kali dengan salah satunya di Kejuaraan Dunia 2013.  (*)

Agenda final Kejuaraan Asia 2015

Tunggal putra: Lin Dan (Tiongkok x2) v Tian Houwei (Tiongkok)

Tunggal putri: Li Xuerui (Tiongkok x1) v Ratchanok Intanon (Thailand x7)

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korea Selatan x1) v Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia x6)

Ganda putri: Wang Xiaoli/Yu Yang (Tiongkok x4) v Ma Jin/Tang Yuanting (Tiongkok)

Ganda campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x2) v Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah (Hongkong)

x=unggulan

Bisa Pulang dengan Dua Titel

Sabtu, 25 April 2015



BELUM MENANG: Cai Yun/Lu Kai (foto:xinhua)
DUA tempat di final menjadi milik wakil Indonesia. Itu setelah pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di nomor ganda campuran mampu mengatasi lawan-lawannya di babak semifinal.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Wuhan Sports Center Gymnasium, Wuhan, Tiongkok, pada Sabtu waktu setempat (25/4/2015), Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di posisi keenam, mampu menghentikan asa pasangan tuan rumah Cai Yun/LuKai dengan rubber game 21-12, 18-21, 21-16.

Ini menjadi kemenangan ketiga dalam tiga kali pertemuan. Artinya, Cai Yun/Lu Kai belum bisa mengikuti jejak rekan-rekannya yang pernah mempermalukan Hendra/Ahsan seperti Cai Yun/Zhang Nan atau Liu Xiaolong/Qiu Zihan.

Pada babak final yang dilaksanakan Minggu waktu setempat (25/4/2015), Hendra/Ahsan berjumpa kembali dengan musuh bebuyatal asal Korea Selatan Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Unggulan teratas dalam Kejuaraan Asia 2015 itu unggul dua game langsung 21-18, 21-19 atas rekan senegaranya sendiri Kim Gi-jung/Kim Sa-rang.

Pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, ini pernah menjadi momok bagi Hendra/Ahsan. Dalam tiga kali pertemuan awal, pasangan merah putih tak pernah memetik kemenangan.

Namun, kini rekor head to head kedua pasangan tetap masih menjadi milik Yong-dae/Yoon-seong. Hanya, Hendra/Ahsan sudah bisa menang tiga kali dalam delapan kali perjumpaan.

Menariknya, dalam dua kali pertemuan terakhir, Hendra/Ahsan selalu memetik kemenangan yakni di Asian Games 2014 dan Malaysia Super Series Premier 2015.
Dalam Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, pada 28 September, mereka mempermalukan pasangan tuan rumah itu dengan 21-16, 16-21, 21-17. Kemudian di final Malaysia Super Series Premier, Hendra/Ahsan pada 5 April lalu, mereka melibas Yong-dae/Yeon-seong juga dengan tiga game 14-21, 21-15,23-21.

Ini membuat peluang juara Hendra/Ahsan sangat terbuka untuk menjadi juara. Jika itu terjadi, gelar dari Wuhan akan membuat mereka untuk kali pertama bisa menjadi juara Asia.

Sementara, Tontowi/Liliyana, yang diunggulkan di posisi kedua, menghentikan langkah unggulan ketiga yang juga andalan Tiongkok Xu Chen/Ma Jin dengan straight game 21-12, 21-15. Hasil manis ini menjadi kemenangan kedelapan dari 19 kali pertemuan.

Bagi Tontowi/Liliyana, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut pernah menjadi mimpi buruk. Mereka mempermalukan pasangan Pelatnas Cipayung tersebut di babak semifinal Olimpiade London 2012. Padahal, ketika itu, mereka diharapkan mampu menjadi penerus tradisi emas di olimpiade.

Di babak final, Tontowi/Liliyana akan berjumpa dengan Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah. Pasangan Hongkong ini di semifinal unggul 21-17, 21-19 atas Kenichi Hayakawa/Misaki Matsutomo.

Pasangan yang sama-sama berasal dari klub Djarum Kudus tersebut sudah dua kali berjumpa dengan Chun Hei/Hoi Wah.Hasilnya, Tontowi/Liliyana menang yakni di Kejuaraan Dunia 2013 dan Singapura Super Series 2015.

Kali terakhir pada 2004, Indonesia mampu mengantarkan wakilnya menjadi juara di dua nomor melalui Taufik Hidayat di tunggal putra dan Sigit Budiarto/Tri Kusharjanto (ganda putra). (*)

Menunggu Lin Dan di Podium Juara

Lin Dan saat berlaga di Malaysia Open.(foto:badzine)

PUASA dahaga selama sepuluh bulan bukan waktu yang singkat. Apalagi, itu dialami oleh pebulu tangkis tunggal putra sekelas Lin Dan. Lelaki ini sudah mengoleksi lima gelar juara dunia dan dua emas olimpiade.

Ya, sejak menjuarai Grand Prix Gold 2014, kegagalan demi kegagalan menimpa lelaki 33 tahun tersebut. Di Taipei, host Taiwan Grand Prix Gold, dia mengalahkan sesame pebulu tangkis Tiongkok Wang Zhengming dengan dua game langsung 21-19, 21-14.

Padahal, usai dari Taiwan, kans menjadi juara sangat terbuka. Dua kali, Lin Dan mampu menembus babak final yakni di kandangnya sendiri, Tiongkok Super Series Premier 2014 dan Malaysia Super Series Premier 2015.

Hanya di kandang sendri, suami mantan ratu bulu tangkis Xie Xingfang tersebut secara mengejutkan dipermalulan Kidambi Srikanth dari India dengan straight game 21-19, 21-17. Sementara di Malaysia Super Series 2015, dia disikat rekan senegaranya sendiri yang diunggulkan di posisi teratas Chen Long dengan rubber game 22-20, 13-21, 11-21.

Kini, harapan menembus final dan membuka jalan juara terbentang. Lin Dan, yang kini menduduki peringkat ketiga dunia, mampu menembus Kejuaraan Asia 2015. Tahun lalu, dia merupakan juara.

Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di kandangnya sendiri, Wuhan, dia menang dua game langsung 21-17, 21-13 atas Sho Sasaki dari Jepang. Di semifinal yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat, Lin Dan akan dijajal juniornya, Wang Zhengming. Dia lolos ke semifinal usai menumbangkan unggulan keempat Shon wan-ho dari Korea Selatan dengan straight game 21-14, 21-19.

Dalam lima kali pertemuan, Lin Dan tak pernah kalah oleh Zheng Ming yang kini  duduk di posisi sembilan dunia tersebut. Pertemuan di Taipe, merupakan duel kali terakhir mereka berjumpa.

Semifinal tunggal putra lainnya mempertemukan juga mempertemukan sesama jagoan tuan rumah. Unggulan teratas Chen Long berhadapan dengan Tian Houwei. (*)

Rekor Lebih Memihak Hendra/Ahsan

KEJAR: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

KAKI Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dalam Kejuaraan Asia sudah sampai babak semifinal. Itu setelah pasangan ganda putra terbaik Indonesia itu menghentikan perlawanan unggulan ketiga Liu Xiaolong/Qiu Zihan dari Tiongkok dengan rubber game 21-18, 11-21, 24-22 dalam pertandingan perempat  final yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Jumat waktu setempat (24/4/2015).

Kemenangan tersebut  juga membuat Hendra/Ahsan mampu menyamakan kedudukan 2-2. Sebelumnya, pasangan nomor satu dunia tersebut kalah di All England 2013 dan Super Series Finals 2013.

Sementara, dalam pertemuan terakhir Hongkong Super Series 2014, Hendra/Ahsan memperkecil kekalahan. Menariknya, semua partai melawan Xiaolong/Zihan  berlangsung dalam tiga game (rubber game).

Di babak semifinal, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, lainnya Cai Yun/Lu Kai sudah siap menghadap pasangan merah putih yang diunggulkan di posisi keenam tersebut. Dari rekor head to head, Hendra/Ahsan selalu memetik kemenangan dalam dua pertemuan yakni di Denmark Super Series Finals 2014 dan Malaysia Super Series Premier 2015.

Keduanya dimenangkan juara dunia 2013 itu dengan dua game langsung. Di Denmark, Hendra/Ahsan unggul 24-22, 21-13 dan di negeri jiran lawannya dilibas 20-22, 21-12.

Bagi Hendra/Ahsan, penampilannya di Kejuaraan Asia 2015 punya arti tersendiri. Ini untuk kali pertama mereka berusaha naik ke podium terhormat setelah tak pernah berlaga dalam kejuaraan tahunan tersebut.

Selain Hendra/Ahsan wakil Indonesia yang menembus semifinal adalah pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka mengalahkan wakil tuan rumah Lu Kai/Huang Yaqiong 21-19, 21-11.

Di semifinal, unggulan kedua tersebut dijajal salah satu lawan beratnya yang juga dari Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, Xu Chen/Ma Jin. Dari rekor pertemuan, pasangan yang sama-sama dari klub Djarum Kudus tersebut kalah.

Mereka hanya menang tujuh kali dari 17 kali pertemuan. Namun, dari pertemuan terakhir di Prancis Super Series 2015, Tontowi/Liliyana menang 21-17, 21-16. (*)

Bikin Wisnu Yuli Melompat 23 Peringkat

Jumat, 24 April 2015

RANKING: Wisnu Yuli Prasetyo

GELAR juara di Indonesia Challenge 2015 memberikan perubahan pada ranking Wisnu Yuli Prasetyo. Kini, mantan pebulu tangkis binaan Surya Baja, Surabaya, tersebut ada d posisi 164 dunia.

Ini membuat posisinya 23 setrip lebih bagus dibandingkan pekan sebelumnya. Dalam  final Indonesia Challenge 2015 yang dilaksanakan di Semaran, Jawa Tengah, Wisnu mengalahkan sesama pebulu tangkis Indonesia Reksy Aureza Megananda dengan dua game langsung 25-23, 21-14.

Dari Kota Lumpia, julukan Semarang, itu, mantan penghuni Pelatas Cipayung tersebut membawa pulang poin 2.500. Donasi ini paling besar yang diterimanya selama 2015.

Tahun ini, raupan poinnya termasuk kecil. Ini disebabkan Wisnu Yuli hanya turun di dua turnamen yakni Austria Challenge dan Jerman Grand Prix Gold.

Dengan ranking jeblok, Wisnu pun rela merangkak dari babak kualifikasi. Di Austria, dia harus tampi tiga kali sebelum melangkah ke babak utama.

Sayang, langkahnya di b abak elite dihentikan Adrian Dziolko dari Polandia dengan 21-16, 12-21, 22-24. Dari Wina, host Austria Challenge 2015, Wisnu mengantongi poin 920 poin.

Sepekan kemudian, lelaki yang kini tercatat sebagai anggota Djarum Kudus ini berlaga di Jerman Grand Prix Gold. Usai melewati babak kualifikasi, Wisnu kemudian menyerah 21-18, 19-21, 21-23 kepada Iskandar Zulkarnain Zainuddin dari Malaysia.  Dari negeri yang pernah dipisahkan oleh sebuah tembok itu, Wisnu Yuli poin 660.  (*)

Peluang Menyamakan Kedudukan

Kamis, 23 April 2015

BERAT:Liu Xialong/Qiu Zihan (foto:globaltime.cn)

BAGI pasangan ganda putra Tiongkok, bisa jadi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan jadi target utama. Hampir semua pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, pernah dikalahkan dan mengalahkan mereka.

Ada nama Cai Yun/Zhang Nan, Fu Haifeng/Lu Kai, dan juga . Nah, pasangan terakhir ini yang akan kembali mencoba mengganjal Hendra/Ahsan dalam Kejuaraan Asia 2015 di Wuhan, Tiongkok.
Liu Xialong/Qiu Zihan
Kedua pasangan akan bertemu di babak perempat final yang dilaksanakan Jumat waktu setempat (24/4/2015). Dari rekor pertemuan, Hendra/Ahsan kalah.

Pasangan asal Pelatnas Cipayung tersebut hanhya unggul sekali dari tiga kali pertemuan. Kekalahan perdana ditelan saat bersua di semifinal All England 2013. Saat itu, Hendra/Ahsan menyerah 12-21, 21-13, 17-21. Kemudian, di Super Series Finals di akhir tahun yang sama, Xiaolong/Zihan kembali memetik kemenanan 13-21, 21-11, 12-21.

Tapi, dua kekalahan tersebut membuat Hendra/Ahsan banyak belajar.Pada final Hongkong Super Series 2014, mereka melibas lawannya 21-16, 17-21, 21-15.

Dalam pertandingan nanti, tak menutup kemungkinan bakal berlangsung rubber game lagi. Hendra/Ahsan dan Xiaolong/Zihan sudah saling paham dan mengetahui titik lemah masing-masing.

Kejuaraan Asia 2015 ini sendiri menjadi penampilan pertama bagi pasangan mantan nomor satu dunia itu. (*)

Tunggal pun Sudah Kehilangan Wakil

PENAKLUK:Shon Wan-ho (foto:djarum)

LANGKAH Dionysius Hayom Rumbaka di Kejuaraan Asia 2015 terhenti. Dia harus mengakui ketangguhan Son Wan-ho dari Korea Selatan dengan rubber game 21-15,12-21, 14-21 dalam pertandingan babak ketiga yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Kamis waktu setempat (23/4/2015).

Sebenarnya, kans Hayom,sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, memetik kemenangan terbuka. Dalam pertemuan terakhir di semifinal Jerman Grand Prix Gold 2015 Februari lalu, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut menang dua game 21-17, 21-15. Kemenangan di Jerman itu juga menjadi kemenangan pertama Hayom atas Wan-ho setelah sempat kali pertemuan sebelumnya selalu kalah.

Kekalahan itu juga menutup harapan Indonesia membawa pulang gelar tunggal putra. Alasannya, Hayom merupakan satu-satunya wakil merah putih di nomor tunggal putra dalam Kejuaraan Asia 2015.

Sebenarnya, sempat ada nama Tommy Sugiarto.Namun, lelaki yang diunggulkan di posisi keenam tersebut mengundurkan diri.  Sejak 2007 setelah Taufik Hidayat juara, tak ada lagi wakil Indonesia yang naik ke podium terhormat nomor tunggal putra.

Kegagalan juga terjadi di tunggal putri. Satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan di babak ketiga, Maria Febe Kusumastuti, menyerah 14-21, 9-21 kepada unggulan keenam asal Tiongkok Wang Yihan.

Di tunggal putri, dahaga gelar lebih lama. Kali terakhir srikandi merah putih yang juara dalam Yuliani Sentosa pada 1991. (*)

Penampilan Pertama untuk Gelar Perdana

Rabu, 22 April 2015

PERDANA:Hendra/Ahsan belum pernah ke Kejuaraan  Asia

JUARA dunia ganda putra sudah di tangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Begitu pula dengan turnamen bergengsi di muka bumi ini, All England.

Namun, menjadi juara Asia belum pernah dilakukan. Ini disebabkan sejak dipasangkan 2012, Hendra/Ahsan tak pernah ikut ambil bagian.

Pada 2015 ini keduanya tampil karena sebuah keharusan. BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) mewajibkan top platers Asia ikut ambil bagian dalam event yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada 21-26 April 2015 tersebut.

Kini, langkahnya pun sudah sampai babak ketiga. Tiket perempat final pun juga sudah di depan mata.

Setelah memperoleh bye di babak pertama, Hendra/Ahsan menang mudah 21-12, 21-12 atas pasangan Maladewa Mohamed Ajfan Rasheed/Nasheeu Sharafudeen. Di babak ketiga, mantan pasangan nomor satu dunia tersebut ditantang Azat Annanazarov/Penaberdy Sopyyev dari Turkmenistan yang di babak pertama dan kedua selalu memperoleh bye karena lawannya tak hadir.

Namun, untuk bisa juara juga bukan hal yang mudah. Lawan-lawan berat Hendra/Ahsan turun dalam kejuaraan yang menyediakan hadiah total USD 200 ribu tersebut.

Semua lawan beratnya dari Asia ikut ambil bagian. Ada unggulan teratas Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dari Korea Selatan. Kemudian duo Tiongkok Fu Haifeng/Zhang Nan dan Liu Xiaolong/Qiu Zihan. Juga pasangan Taiwan yang diunggulkan di posisi kedua Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin. (*)

Hayom Bisa Pecah Telor

TERJANG: Hu Yun saat tampil di Singapura (foto:scmp)

MODAL kurang bagus dibawa Dionysius Hayom Rumbaka. Dia tak pernah dalam tiga kali pertemuan dengan pebulu tangkis Hongkong Hu Yun.

Padahal, lawannya itu harus dihadapi pada babak pertama Kejuaraan Asia 2015. Tentu, di atas kertas, Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, bakal dilibas.

Apalagi, dari sisi ranking dunia, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut kalah. Saat ini, Hayom ada di posisi 23 dunia sedangkan Hu Yun di posisi 11.

Namun, saat di atas lapangan berubah. Hayom menang dua game langsung 21-13, 21-11 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Wuhan Sports Center Gymnasium, Wuhan, Tiongkok, pada Selasa waktu setempat (21/4/2015).

Peluang menembus babak ketiga pun terbuka lebar. Mantan tunggal ketiga Piala Thomas Indonesia 2014 itu hanya menghadapi wakil dari Kazakhstan Artur Niyazov yang di babak pertama memperoleh bye.

Meski jarang terdengar, Artur pernah bersua dengan Hayom. Itu terjadi dalam Kejuaraan Asia 2012 di Qingdao, Tiongkok. Saat itu, Hayom menang mudah dua game langsung 21-10, 21-8.

Nah,besar kemungkinan lawan berat baru muncul di babak ketiga. Jika berjalan sesuain skenario, Hayom akan bersua dengan unggulan keempat Son Wan-ho asal Korea Selatan.

Memang, dalam lima kali pertemuan, lelaki binaan Djarum Kudus hanya sekali menang. Namun, hasil itu dipetik dalam pertemuan terakhir di Jerman Grand Prix Gold 2015. (*)

Hendra/Ahsan-Tontowi/Liliyana Tampil di Kejuaraan Asia

Senin, 20 April 2015

ASA JUARA: Hendra/Ahsan berlaga di Wuhan.

PARA pebulu tangkis papan atas Asia turun gunung. Namun, mereka bukan tampil di ajang super series premier atau super series.

Para pebulu tangkis itu akan unjuk kekuatan dalam Kejuaraan Asia 2015 yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada 21-26 April mendatang. Dua juara dunia 2013 yang dimiliki Indonesia, pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, pun ikut serta.

''Ini kejuaraan yang memang wajib diikuti Hedra/Ahsan dan Tontowi/Liliyana.Kalau enggak ikut, mereka bisa kena denda dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia),'' terang Wakil Sekjen PP PBSI Ahmad Budianto kepada smashyes.

Aturan itu pula yang membuat semua negara di Asia mengirimkan jagoannya. Di nomor tunggal putra, Tiongkok menampilkan pebulu tangkis nomor satu dunia Chen Long dan lima kali juara dunia Lin Dan.Begitu juga ditunggal putri dengan kehadiran Li Xuerui, Wang Yihan, dan Wang Shixian.

''Semua top players Asia hadir, tidak terkecuali,'' ungkap Budi, sapaan karib Ahmad Budiarto.

Hanya, di nomor tunggal putra, Pelatnas Cipayung tak mengirimkan wakil. Merah putih akan diperkuat duo mantan Cipayung yakni Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka.

''Kami berharap Indonesia bisa meraih juara. Itu target utama,'' jelas Budi. (*)



Wakil Indonesia di Kejuaraan Asia 2015

Tunggal putra: Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka

Tunggal putri:Maria Febe Kusumastuti

Ganda putra:Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Wahyu Nayaka/Ade Yusuf

Ganda putri: Nitya Krishinda/Greysia Polii

Ganda campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Praveen Jordan/Debby Susanto

Hendrawan Siap Tangani Chong Wei

KANDIDAT KUAT:Hendrawan di latihan BAM (foto:thestar)

TANGGUNG jawab besar diberikan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) kepada Hendrawan. Dia dipercaya menangani tunggal putra terbaik  negeri jiran, Lee Chong Wei.

Ini dikarenakan pelatih yang bisa menanganinya, Rashid Sidek, memutuskan mengundurkan diri karena tidak setuju dengan draft kontrak yang diberikan kepadanya. Direktur Teknik BAM Morten Frost-Hansen pun sudah menunjukan Hendrawan bakal mendampingi Chong Wei.

''Saya nunggu pengumuman resminya. Mungkin Senin (20.4./2015) akan dilakukannya,' kata Hendrawan kepada smashyes melalui pesan singkat.

Hanya, selama ini, mantan juara dunia tungggal putra 2001 asal Indonesia tersebut sudah bekerja memoles Chong Wei. Itu, tambahnya, dilakukan sambil menunggu keluarnya keputusan doping kepada lelaki yang mendapat gelar datuk dari Malaysia tersebut.

''Paling 2 minggu lagi keputusannya keluar,'' lanjut Hendrawan.

Dia pun belum berani memaparkan lebih jauh tentang tanggung jawab yang diembankan kepadanya. Kakak ipar pebulu tangkis spesialis ganda putra Hendra Setiawan tersebut memberi waktu 2-3 hari.

''Nanti hubungi saya lagi,'' urai Hendrawan.

Saat ini, Chong Wei masih belum bisa turun ke lapangan. Ini dikarenakan dia terbukti doping saat mengikuti Kejuaraan Dunia di Kopenhagen, Denmark, pada Agustus 2014.

Dia diharapkan segera turun membela Malaysia. Lama absen dari berbagai turnamen sejak akhir 2014 membuat rankingnya terpuruk.

Dari rilis terakhir yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 16 April lalu, Chong Wei ada di posisi 30 dunia. (*)

Persembahan Perdana Wisnu Yuli

MENANG:Wisnu Yuli Prasetyo (foto:djarum)

PENANTIAN gelar Wisnu Yuli Prasetyo berakhir. Dia akhirnya mampu menjadi juara nomor tunggal putra di Indonesia International Series 2015.

Dalam final yang dilaksanakan di Gelora Universitas Semarang (USM), Semarang, Jawa Tengah, Wisnu menghentikan perlawanan sesama pebulu tangkis Indonesia Reksy Aureza Megananda dengan dua game 25-23, 21-14.

Kali terakhir,lelaki asal Tulungagung, Jawa Timur, tersebut naik ke podium terhormat di Malaysia Challenge 2012. Saat itu(18/11/2012), dia mempermalukam wakil tuan rumah Muhammad Hafiz Hashim.

Pada masa itu, status Wisnu masih menjadi penghuni Pelatnas Cipayung. Namun, kini semua berubah.

Wisnu sudah meninggalkan Cipayung dan bukan anggota klub Surya Baja, Surabaya. Mulai tahun ini, lelaki yang juga akrab disapa Ucil tersebut masuk dalam skuad Djarum Kudus.

Hasil tersebut juga menjadi persembahahan perdana Wisnu bagi klub barunya. Selama berseragam Djarum, Wisnu baru dua kali membela klub yang disponsori perusahaan rokok tersebut yakni di Austria Challenge 2015 dan Jerman Grand Prix Gold 2015.

Di dua turnamen yang dilaksanakan di Eropa itu, hasilnya jeblok. Di Austria, dia tersingkir di babak kedua. Sepekan kemudian di Jerman, lelaki yang masih masuk dalam skuad PON Jawa Timur tersebut sudah tersingkir di babak kualifikasi. (*)

Hasil final Indonesia International Series 2015

Tunggal putra:Wisnu Yuli Prasetyo (Indonesia x7) v Reksy Aureza Megananda (Indonesia x8) 25-23, 21-14

Tunggal putri:Fitriani (Indonesia x7) v Aprillia Yuswandari (Indonesia x1) 13-21, 21-13, 21-13

Ganda putra:Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia x2) v Hantoro/Rian Sawstedian (Indonesia) 21-12, 17-21, 21-15

Ganda putri:Gebby Ristiyani Imawan/Tiara Rosalia Nuraidah (Indonesia) v Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia x2) 21-13, 21-11

Ganda campuran:Irfan Fadilah/Weni Anggraini (Indonesia x1) v Panji Akbar/Apriani (Indonesia x3) 21-16, 21-16

x=unggulan

Gagal Hadang Tiongkok Sapu Bersih

TAKLUK:Edi Subaktiar/Gloria  Widjaja (foto:badzine)

TUAN rumah tampil perkasa dalam Tiongkok Masters 2015. Mereka sapu bersih gelar dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 250 tersebut.

Sebenarnya, Negeri Panda, julukan Tiongkok, nyaris kehilangan satu posisi terhormat yakni di nomor ganda campuran. Sempat unggul 21-18, pasangan Indonesia Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja akhirnya tumbang di dua gama berikutnya, 15-21, dan 24-26 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di  Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium,Changzhou, pada Minggu waktu setempat (19/4/2015).

Kegagalan ini membuat pasangan Pelatnas Cipayung tersebut gagal mengoleksi satu gelar pun selama 2015.Sementara, tahun lalu, Edi/Gloria sekali juara di Makau Grand Prix Gold.

Hasil yang diraih pasangan yang sama-sama berasal dari Djarum Kudus tersebut membuat dahaga gelar Indonesia di Tiongkok Masters semakin panjang. Kali terakhir, wakil merah putih naik podium pada tujuh tahun lalu atau pada 2008. Saat itu, Sony Dwi Kuncoro menjadi juara tunggal putra dan Markis Kido/Hendra Setiawan di ganda putra.

Mulai 2014, Tiongkok Masters masuk turnamen di level grand prix gold. Ini dikarenakan aturan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) melarang satu negara mempunyai lebih dari satu turnamen di super series atau super series premier. (*)

Hasil final Tiongkok Masters

Tunggal putra:Wang Zhengming (Tiongkok x1) v Huang Yuxiang (Tiongkok) 22-20, 21-19

Tunggal putri:He Bingjiao (Tiongkok) v Hui Xirui (Tiongkok) 21-13, 21-9

Ganda putra:Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok x3) v Wang Yilv/Zhang Wen (Tiongkok x4) 21-15, 19-21, 21-12

Ganda putri:Tang Jinhua/Zhong Qianxin (Tiongkok) v Bao Yixin/Tang Yuanting (Tiongkok x3) 21-14, 11-21, 21-17

Ganda campuran: Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x1) v Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja (Indonesia x3) 18-21, 21-15, 26-24

x=unggulan

Kien Keat-Boon Heong Berpasangan Lagi

Minggu, 19 April 2015

SATU:Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (foto:newsbadminton)

KOO Kien Keat/Tan Boon Heong is back. Pasangan Malaysia ini kembali berpasangan dan akan tampil dalam Australia Super Series 2015 yang akan dilaksanakan di 26-31 Mei di Sydney.

Hanya, karena rankingnya yang jeblok, Kien Keat/Boon Heong pun harus merangkak dari babak kualifikasi. Dari rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 16 April lalu, mereka terpuruk di posisi 210.

Kali terakhir, mantan pasangan nomor satu dunia tersebut tampil di Kejuaraan Dunia 2014 di Kopenhagen, Denmark, pada Agustus lalu. Hanya, sebelumnya, mereka di event tersebut juga baru berpasangan kembali usai unjuk kebolehan di Malaysia Super Series Premier 2014.

Di kandang sendiri, Kien Keat/Boon Heong, yang diunggulkan di posisi ketujuh, langsung tersingkir. Mereka dipermalukan pasangan Tiongkok Chai Biao/Hong Wei 17-21, 14-21.

Sementara, di Kejuaraan Dunia 2014, ganda negeri jiran itu tersingkir di babak kedua usai dihentikan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dari Taiwan 21-14,10-21, 19-21.

Saat ini, Kien Keat/Boon Heong sudah tak berada di pelatnas atau di bawah BAM (Asosiasi bulu tangkis Malaysia). Kien Keat lebih dulu meninggalkan dan bergabung dengan sebuah klub di Thailand. Sedangkan Boon Heong baru Maret lalu mengundurkan diri.

Mereka pernah menjadi pasangan yang disegani di dunia. Gelar juara turnamen bergengsi, All England, pernah digapai pada 2007 dan emas Asian Games ganda putra juga pernah diraih setahun sebelumnya.

Pada 2010, Kien Keat/Boon Heong mampu menembus final Kejuaraan Dunia.Namun, mereka dihentikan pasangan Tiongkok Cai Yun/Fu Haifeng 21-18, 18-21, 14-21.

Namun, di 2010 juga, Kien Kean/Boon Heong mampu meraih emas Pesta Olahraga Persemakmuran(Commonwealth Games) dengan melibas Anthony Clark/Nathan Robertson dari Inggris.

Malaysia sendiri usai keduanya tak bermain bersama, tak lagi punya pasangan yang tangguh. Boon Heong pernah dipasangan dengan beberapa pebulu tangkis binaan BAM. Namun, semuanya jeblok hasilnya. (*)

Anggia/Ketut Mengejar Gelar Kedua


KEJUTAN besar pernah diukir Anggia Shita Awanda/Ni Ketut Mahadewi di Malaysia Super Series Premier 2015. Dala9-21m pertandingan babak pertama yang dilaksanakan di Putra Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, pada Rabu (1/4/2015), mereka memulangkan lebih cepat unggulan kedua Christinna Pedersen/Kamilla Rhytter Juhl dengan dua game langsung 21-18, 21-9.

Sayang, kejutan tersebut gagal berlanjut. Di babak kedua, Anggia/Ni Ketut menyerah kepada pasangan tuan rumah Vivian Kah Mun Hoo/Khe Wei Woon 9-21, 21-18, 18-21.


Sebelumnya, mereka juga sempat menarik perhatian di Vietnam Challenge 2015. Pasangan yang baru digabungkan November 2014 di Pelatnas Cipayung itu menjadi juara dengan menundukkan Chaladchalam Chayanit/Phataimas Muenwong (Thailand) 21-10, 21-18 di Hanoi pada 22 Maret.

Peluang mengukir prestasi pun kembali terbuka. Anggia/Ketut mampu menembus final Indonesia International 2015 yang tengah digelar di Semarang, Jawa Tengah.

Mereka menembus babak pemungkas usai menghentikan perlawanan pasangan senior asal Djarum Kudus  Jena Gozali/Shendy Puspa Irawati dengan dua game yang ketat 24-22, 22-20. Namun, untuk bisa juara, bukan hal yang mudah.

Anggia/Ketut bersua dengan sesama pasangan Pelatnas Cipayung Gebby Ristiyani Imawan/Tiara Rosalia Nuraidah, yang di babak semifinal melibas unggulan teratas ganda putri Ririn Amelia/Komala Dewi 21-12, 17-21, 21-14. Meski teman berlatih, namun kedua pasangan belum pernah bertemu di ajang resmi.

Hanya, dari ranking dunia, Anggia/Ketut masih lebih unggul. Saat ini, mereka ada di posisi 80 sedangkan lawannya 145.  (*)

Agenda final Indonesia International 2015

Ganda campuran: Irfan Fadhilah/Weni Anggraeni (Indonesia x1) v Panji Akbar/Apriani (Indonesia x3)

Tunggal putra: Reksy Aureza Megananda (Indonesia x8) v Wisnu Yuli Prasetyo (Indonesia x7)

Ganda putri: Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia x2) v Gebby Ristiyani Imawan/Tiara Rosalia Nuraidah (Indonesia)

Tunggal putri: Aprilia Yuswandari (Indonesia x1) v Fitriani Fitriani (Indonesia x2)

Ganda putra: Fajar Alfian/Muahammad Rian Ardianto (Indonesia x2) v Hantoro/Rian Swastedia (Indonesia)

x=unggulan

Satu-satunya Wakil Non-Tiongkok di Final


TUAN rumah meloloskan wakilnya di semua nomor dalam final Tiongkok Masters 2015. Namun, dari lima partai babak pemungkas yang dilaksanakan di Changzhou pada Minggu(19/4/2015),hanya di nomor ganda campuran gagal terjadi all China finals.

Itu disebabkan munculnya nama pasangan Indonesia Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja. Mereka mengalahkan wakil tuan rumah Wang Yilv/Tang Yuanting dengan dua game 21-17, 23-21 dalam pertandingan yang dilaksanakan Sabtu waktu (18/4/2015).

Dalam babak final, unggulan ketiga dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 250 ribu tersebut akan menantang unggulan teratas yang juga dari Tiongkok Liu Cheng/Bao Yixin. Mereka melibas wakil Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dengan rubber game 21-17, 17-21, 21-17.

Bagi Edi/Gloria, Cheng/Yixin merupakan lawan berat. Maret lalu, mereka menyerah di babak semifinal India Super Series 2015.

Langkah pasangan Pelatnas Cipayung tersebut menembus babak pemungkas juga termasuk kejutan. Edi/Gloria datang dengan status nonunggulan.

Sebenarnya, yang diharapkan bersinar di Tiongkok Masters 2015 adalah Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Sayang, juara Singapura Super Series 2015, yang dilaksanakan pekan lalu, langsung tersingkir di babak pertama. (*)

Agenda final Tiongkok Masters 2015

Ganda campuran: Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x1) v Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja (Indonesia)

Tunggal putri: Hui Xirui (Tiongkok) v He Bing Jiao (Tiongkok)

Tunggal putra: Wang Zhengming (Tiongkok x1) v Huang Yuxiang (Tiongkok)

Ganda putri: Tang Jinhua/Zhong Qianxin (Tiongkok) v Bao Yixin/Tang Yuanting (Tiongkok x3)

Ganda putra: Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok x3) v Wang Yilv/Zhang Wen (Tiongkok x4)

x=unggulan

Merajai di Kandang Sendiri

Sabtu, 18 April 2015

SENIOR:Wisnu Yuli Prasetyo masih bertahan. (foto: djarum)

LAMA tak terdengar kabar Wisnu Yuli Prasetyo. Namanya seolah lenyap ditelan bumi usai tak lagi menjadi penghuni Pelatnas Cipayung di akhir 2014.

Dia hanya sempat dua kali tampil selama 2015 yakni di Austria Challenge dan Jerman Grand Prix Gold. Hasilnya memang tak memuaskan.

Di Wina, host Austria Challenge 2015, Wisnu terhenti di babak kedua usai dijinakkan Adrian Dziolko dari Polandia 21-16,12-21, 22-24. Sepekan kemudian, lelaki 23 tahun tersebut ditumbangkan wakil Malaysia Iskandar Zulkarnain 21-18,19-21, 21-23 di kualifikasi Jerman.

Kini, lelaki yang tercatat sebagai pebulu tangkis Djarum Kudus tersebut pun kembali unjuk kebolehan di ajang internasional, USM International 2015. Bahkan, langkah Wisnu sudah sampai babak semifinal.

Kepastian itu diperoleh mantan pebulu tangkis Surya Baja, Surabaya, tersebut usai menundukkan Krishna Adi yang juga berasal dari Indonesia dengan rubber game 19-2l, 21-9,21-14 dalam pertandingan perempat final di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat WIB (17/4/2015).

Di semifinal, Wisnu, yang diunggulkan di posisi ketujuh, menantang unggulan keempat Thomi Azizan Mahbub. Wakil Pelatnas Cipayung itu di perempat final menundukkan Ivanudin Rifan Fauzin dengan 21-17, 21-16.

Partai semifinal tunggal putra lainnya mempertemukan Hermansyah dengan Reksy Aureza Megananda. Terjadinya all Indonesian finals itu dipastikan oleh Hermansyah yang menghentikan ambisi wakil Malaysia Tan Teck Han dalam pertandingan yang memakan waktu jam 1 jam 23 menit dengan 21-17, 14-21, 21-16.

Hebatnya lagi, kekalahan Teck Han juga membuat tak ada lagi pebulu tangkis mancanegara dalam turnamen berhadiah total USD 5 ribu tersebut. (*)

Wasit Tiga Olimpiade Berpulang

KENANGAN:Tulisan tentang Unang yang pernah muncul.

SEBUAH status di smartphone Ketua Umum Pengprov PBSI Jatim Wijanarko Adi Mulya cukup mengejutkan.Tulisanya, Selamat Jalan Pak Unang...Jasamu tak terlupakan terutama di perbulu tangkisan Indonesia. Dia juga memasang gambar Unang Sukardja.

Ini pun membuat penulis penasaran. Akhirnya terjawab bahwa Unang telah meninggal dunia pada Jumat (17/4/2015) pukul 20.50 WIB.

Dari info yang didapat, lelaki 56 tahun tersebut meninggal setelah tiga hari mengalami koma. Dia karena mengalami penyumbatan dalam pembuluh darah di otak.Almarhum akan dikebumikan besok (18/4) pukul 10.00 WIB di Ciledug, Tangerang, Banteng. Jenazah salah satu wasit papan atas dunia tersebut akan diberangkatkan dari rumah duka, Jl. Japos Raya, Pondok Jati RT 06/03 Kel. Jurang Mangu Barat, Kec. Pondok Aren.

Langsung terbayang sosok Unang yang begitu ramah. Setiap ada kejuaraan bulu tangkis berlabel nasional ataupun internasional, penulis selalu bertemu dengannya.

Lelaki berambut putih ini tak pernah bosan memberikan info dan membagi pengalaman. Dia pernah dengan bangganya menceritakan perjalanan karirnya sebagai wasit yang pernah tiga kali memimpin pertandingan di olimpiade, yakni Sydney 2000, Athena 2004, dan London 2012.

Partai yang dipimpinnya pun punya gengsi tinggi. Salah satunya pertandingan final tunggal putra antara Lin Dan (Tiongkok) melawan Lee Chong Wei dari Malaysia.

Dia juga sempat bercerita bahwa pada 2015 ini,dia mendapat tugas menjadi wasit di sebuah ajang bergengsi. Unang pun menuturkan bisa jadi, tugas tersebut menjadi tugas tTimur erakhirnya sebelum memasuki masa pensiun.

Namun,panggilan dari Allah SWT lebih mendahului. . Perjumpaan dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Surabaya di GOR Sudirman, Surabaya, pada November 2014 menjadi pertemuan terakhir penulis dengan Unang. Selamat jalan Pak Unang. (*)




Masih Diisi Penghuni Pelatnas Cipayung

DI LUAR: Simon Santoso (foto:straitstime)

KANS pebulu tangkis Pelatnas Cipayung menembus Tim Piala Sudirman 2015 bakal tipis. Hingga saat ini, PP PBSI masih mempercayakan atlet binaannya untuk menghadapi event beregu campuran yang akan dilaksanakan pada 10-17 Mei mendatang di Dongguan, Tiongkok.

''TimSudirman akan dijelaskan oleh Rexy pada konferensi pers pada 23 April di Jakarta.Dia akan menjelaskan,'' kata Wakil Sekjen PP PBSI Ahmad Budiarto kepada smashyes.

Sementara ini, tambah dia, Tim Bayangan Piala Sudirman diisi para pebulu tangkis Pelatnas Cipayung.Bisa jadi, merekalah yang akan menjadi pilar merah putih di ajang yang kali pertama dijuarai oleh Indonesia pada 1989 itu.

Di sektor tunggal putra, sebenarnya peran pebulu tangkis nonpelatnas masih dibutuhkan. Kualitas Tommy Sugiarto dan Simon Santoso masih di atas Jonatan Christie dkk.

Apalagi, penampilan terakhir keduanya layak dapat apresiasi. Tommy untuk kali pertama mampu mempermalukan juara dunia lima kali asal Tiongkok Lin Dan di India Super Series 2015 meski akhirnyha cedera.

Begitu juga dengan Simon. Dia mampu menembus semifinal Singapura Super Series 2015.

Hanya, hasil tersebut memang belum mampu menyamai tahun lalu. Pada 2014, Simon mampu menjadi juara dengan menundukkan tunggal putra terbaik dunia saat itu Lee Chong Wei asal Malaysia.

Di Piala Sudirman, Indonesia kuat di ganda putra dan ganda campuran. Namun, tim tersebut bakal lebih solid jika Tommy atau Simon bisa ikut ambil bagian.

''Semua akan dilihat perkembangan hingga batas akhir entry by name pada 27 April mendatang,'' ucap Budi, sapaan karib Wasekjen PP PBSI Ahmad Budiarto. (*)

Hasil Indonesia di Piala Sudirman

Juara;1989

Posisi II: 1991,1993,1995,2001,2005, 2007

Semifinalis :1997,  2003,2009,2011

Perempat finalis: 2013

Kalahkan Tiongkok, Ketemu Tiongkok Lagi

SISA: Edi Subaktiar/Gloria Emanuella Widjaja

TIONGKOK menjadi negara yang coba ditaklukkan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja.Pasangan ganda campuran Indonesia pun kini sudah sampai babak semifinal dalam turnamen di Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut.

Tiket itu diperoleh mereka usai mengalahkan wakil tuan rumah Huang Kaixiang/Huang Dongping dengan rubber game 21-14,9-21, 21-15 pada pertandingan perempat final Tiongkok Masters 2015 yang dilaksanakan di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium,Changzhou, pada Jumat waktu setempat (17/4/2015).

Ini untuk kali kedua Edi/Gloria menghadapi pasangan Tiongkok. Pada babak kedua, mereka juga menyingkirkan pasangan Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, Zheng Si Wei/Chen Qingchen,dengan 21-17, 21-19.

Nah, di semifinal, lagi-lagi pasangan Pelatnas Cipayung tersebut kembali dijajal duo Tiongkok Wang Yilv/Tan Yuanting, yang di perempat final menghentikan perlawanan Tan Chee Tean/Lai Shevon Jemie (Malaysia) 21-11, 21-13.

Edi/Gloria belum pernah berjumpa dengan Yilv/Yuan Ting. Itu disebabkan lawannya merupakan pasangan yang baru kali pertama kali ditandemkan.

Sebelumnya, di ganda campuran kali terakhir Yilv bermain bersama Huan Xia. Dia juga pernah berpasangan dengan Ou Dongni.

Di Tiongkok Masters yang berlevel grand prix gold ini, Edi/Gloria menjadi tumpuan terakhir Indonesia menjadi juara. Rekan-rekannya sudah tumbang dulu di babak pertama seperti Sony Dwi Kuncoro di tunggal putra dan dua pasangan ganda putra, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Kevin Sanjaya/Markus Fernaldi. (*)

Satu Wakil Asing di Perempat Final

Jumat, 17 April 2015

PENGGANJAL: Hermansyah (foto:djarum)

INDONESIA menguasai nomor tunggal putra USM International Series. Dari delapan wakil, tuan rumah hanya menyisakan satu slot bagi pebulu tangkis asing yakni Tan Teck Han dari Malaysia.

Ini menjadi tugas Hermansyah untuk menjegalnya dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat WIB (17/4/2015). Dari sisi ranking, Hermansyah ungguh jauh.Dia ada di posisi 459 sedangkan lawannya terpuruk di ranking 973.

Dalam perebutan tiket perempat final, kejutan besar terjadi. Unggulan teratas Chia Hung Lu dari Taiwan menyerah kepada wakil Indonesia Shesar Hiren Rustavito dengan 14-21, 21-19,24-22.
Menariknya, Shesar, yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung, tampil di USM International 2015, dari babak kualifikasi.

Di perempat final, dia akan bersua dengan sesama pebulu tangkis Djarum Kudus Rheksy Aureza Meganda yang di babak sebelumnya memaksa Bandar Sigit Pamungkas yang juga dari Indonesia 26-24, 11-3.

Partai lainnya yang tak kalah sengit tersaji antara dua unggulan. Ivanudin Rifan, yang diunggulkan di posisi kesembilan, menjajal rekannya sendiri Thomi Azizan Mahbub, unggulan keempat. Ivanudin menghentikan perlawanan Kean Yew Loh asal Singapura dengan 19-21, 21-16, 21-10 . Sedangkan Thomi tak banyak memeras keringat saat melibas Siswanto dengan 21-8, 21-8.

Tahun lalu, gelar juara tunggal putra jatuh ke tangan pebulu tangkis Inddonesia Setyaldi Putra Wibowo yang mengalahkan rekannya sendiri Fikri Ihsandi Hadmadi dengan 21-16, 18-21, 21-11. (*)

Saina Kembali Duduki Posisi Puncak

Saina Nehwal jadi nomor satu lagi. (foto:tecake.com)


PERGESERAN kembali di peringkat dunia nomor tunggal putri. Dalam ranking terbaru BWF(Federasi Bulu Tangkis Dunia) yang dikeluarkan Kamis (16/4/2015), Saina Nehwal kembali ke posisi puncak.

Pergeseran kembali ini tak lepas dari hilangnya poin saingan berat Saina, Li Xuerui asal Tiongkok, yang absen dari Singapura Super Series 2015. Padahal, tahun lalu, dia merupakan finalis sebelum ditundukkan oleh rekan senegaranya sendiri, Wang Yihan. Sementara, Saina tahun lalu sudah tersingkir dan tahun ini absen.

Pekan lalu, Li Xuerui merebut posisinya lagi. Namun kini, dia pun kembali terperosot dua setrip ke posisi ketiga dengan koleksi 72.964. Saina sendiri mengumpulkan 80.191. Sedangkan posisi kedua menjadi milik Carolina Marin dari Spanyol dengan koleksi 79.578.

Hasil dari Singapura Super Series 2015 pun mengatrol sang juara tunggal putri Sun Y asal Tiongkok menembus posisi 10 besar untuk kali pertama. Kini, dia ada di posisi kesembilan atau naik dua setrip dibandingkan pekan sebelumnya.  Dalam final yang dilaksanakan Minggu (12/4/2015), Sun Yu melibas Tai Tzu Ying asal Taiwan dengan rubber game 16-21, 21-19, 21-14.

Sementara wakil Indonesia yang mempunyai ranking terbaik menjadi milik mantan penghuni Pelatnas Cipayung Adriyanti Firdasari yang ada di posisi 28. Dia diikuti oleh Maria Febe Kusumastuti (34), dan Lindaweni Fanetri (38). Seperti halnya dengan Andriyanti, Febe,sapaan karib Maria Febe Kusumastuti, sudah bukan lagi penghuni pelatnas. (*)

Ranking 5 besar tunggal putri (per 16/4/2015)

1.Saina Nehwal (India) 80.191

2. Carolina Marin (Spanyol) 79.578

3. Li Xuerui (Tiongkok) 72.964

4. Wang Shixian (Tiongkok) 72.827

5. Tai Tzu Ying (Taiwan) 70.028

*sumber BWF

Habis Juara, Langsung Tersingkir

TAKLUK:Angga Pratama/Ricky Karanda (foto:PBSI)

KEGEMBIRAAN Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi hanya seumur jagung. Mereka langsung tersungkur di babak pertama Tiongkok Masters 2015.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan pada 15 April 2015, Angga/Ricky harus mengakui ketangguhan pasangan Taiwan Lu Ching Yao/Tien Tzu Chieh dengan rubber game 21-17, 18-21, 18-21 dalam pertandingan babak pertama ganda putra di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium,Changzhou.
Kekalahan ini cukup mengejutkan.

Dari sisi ranking, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut ungguh jauh. Dari ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Angga/Ricky kini ada di posisi 24. Sementara, Ching Yao/Tzu Chieh masih di ranking 204.

Selain itu, Angga/Ricky juga baru saja mengantongi gelar di turnamen bergengsi, Singapura Super Series 2015 yang baru berakhir Minggu (12/4/2015). Namun, entah kelelahan karena menganggap enteng lawan, mereka malah tumbang lebih awal.

Itu disebabkan sebelum berlaga di Negeri Singa, julukan Singapura, Angga/Ricky juga tampil di Malaysia Super Series Premier. Hasilnya, mereka tersingkir di babak perempat final oleh pasangan unggulan kedua asal Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.

Tumbangnya Angga/Ricky juga diikuti oleh pasangan ganda putra yang juga membela Pelatnas Cipayung dalam Tiongkok Masters 2015, Kevin Sanjaya/Markus Fernaldi. Mereka juga menyerah kepada pasangan Taiwan, Lin Chia Yu/Hsiao-Lin Wu,dengan 17-21, 21-14. 17-21.  Sama halnya dengan Sony Dwi Kuncoro. Tampil sendirian, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut takluk dua game langsung 12-21, 13-21 kepada wakil tuan rumah Guo Kai. Dengan tumbangnya ketiganya, Indonesia pun sudah tak punya wakil dalam event berlabel grand prix gold tersebut.

Tujuh tahun lalu, Sony pernah menjadi juara  saat turnamen itu masih berlabel super series.Ketika itu, arek Suroboyo tersebut menundukkan jagoan Negeri Panda, julukan Tiongkok, Chen Jin, dengan 21-19, 21-18.

Sejak 2014, Tiongkok Masters turun pangkat menjadi grand prix gold. Ini disebabkan BWF tak mengizinkan satu negara mempunyai turnamen super series/super series premier lebih dari satu.
(*)

Angga/Ricky Teruskan Tradisi Juara

Senin, 13 April 2015


TRADISI juara Indonesian di Singapura Open berlanjut. Tahun ini, giliran Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi yang naik ke podium juara.

Dalam final  ganda putra yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium pada Minggu waktu setempat (12/4/2015), pasangan yang masih tergolong muka baru ini menundukkan unggulan kelima asal Tiongkok Fu Haifeng/Zhang Nan dengan rubber game 21-15, 11-21, 21-14.  Dalam turnamen berhadiah USD 300 ribu tersebut, Angga/Rian tampil dengan status nonunggulan.

Sejak dipasangkan pada November 2014, kemenangan di Singapura Super Series 2015 merupakan gelar perdana. Meski, Angga/Rian juga pernah menembus final di Makau Grand Prix Gold 2014 dan Thailand Challenge 2015.

Di Makau, ganda yang kini duduk di posisi 41 dunia tersebut harus mengakui ketangguhan wakil Singapura Danny Bawa Chrisnanta/Chayut Triyachart dengan dua game langsung 19-21, 20-22. Sedang di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, Angga/Ricky menyerah 14-21, 21-13, 14-21 kepada Jun Bong-chan/Kim Young-duck.

Selain itu, podium terhormat di Singapura Super Series juga termasuk mengejutkan. Dalam tiga turnaman sebelumnya, Malaysia Super Series Premier 2015, Swiss Grand Prix Gold 2015, dan All England Super Series Premier, Angga/Ricky sudah tersungkur di babak-babak awal. Hanya di Malaysia Grand Prix Gold 2015, mereka masih bisa bertahan hingga babak semifinal.

Dari hasil-hasil tersebut, Angga/Ricky  pun tak diprediksi bisa menjadi juara. Pasangan senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan lebih dijagokan.

Apalagi, pekan sebelumnya, mereka baru saja menjuarai turnamen yang lebih bergengsi, Malaysia Super Series Premier 2015. Tapi, langkah keduanya dihentikan Fu/Zhang di babak semifinal.

Bahkan, untuk bisa menjadi juara, Tiongkok kembali memakai strategi lamanya. Zhang hanya dipersiapkan di final ganda putra.

Padahal, dia juga lolos ke babak final nomor ganda campuran berpasangan dengan sang kekasih, Zhou Yunlei. Namun, mereka urung tampil setelah lawannya yang sama-sama berasal dari Tiongkok Lu Kai/Huang Yaqiong mengundurkan diri.

Tahun lalu, Indonesia meraih dua gelar melalui Simon Santoso di tunggal putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ganda campuran. Pada 2013, Hendra/Ahsan menjadi pemenang ganda putra dan Tontowi/Liliyana juga naik podium juara. (*)



Hasil Final Singapura Super Series 2015

Tunggal putra: Kento Momota (Jepang)  v Hu Yun (Hongkong) 21-17, 16-21, 21-15

Tunggal putri: Sun Yu (Tiongkok) v Tai Tzu Ying (Taiwan x5) 21-13, 19-21, 22-20

Ganda putra: Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi (Indonesia) x Fu Haifeng/Zhang Nan (Tiongkok x5) 21-15, 11-21, 21-14

Ganda putri: Ou Dongni/Xiaohan Yu (Tiongkok x6) v Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang x1) 21-17, 21-16

Ganda campuran: Zhang Nan/Zhou Yunlei (Tiongkok x1) v Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok x6) WO

x=unggulan

Bukan Hendra/Ahsan tapi Angga/Ricky

Sabtu, 11 April 2015

KEJUTAN:Angga Pratama/Ricky Karanda (foto;PBSI)

KEINGINAN menciptakan all Indonesian finals di nomor tunggal putra kandas. Yang mengejutkan lagi, yang tumbang adalah ganda utama Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, bukannya Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi.

Dalam semifinal yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium pada Sabtu waktu setempat (11/4/2015), mereka menyerah kepada Fu Haifeng/Zhang Nan dengan rubber game 21-18, 8-21, 17-21. Ini merupakan kekalahan kedua beruntun Henda/Ahsan kepada pasangan Tiongkok tersebut. Sekaligus kekalahan ketiga dalam lima kali pertemuan.

Pada All England Super Series Premier Maret lalu, pasangan terbaik Indonesia tersebut juga kalah. Satu lagi pil pahit ditelan Hendra/Ahsan dari ganda sempatan itu saat di Denmark Super Series Premier 2014.

Sementara, dua kemenangan digapai di All England Super Series Premier 2014 dan Hongkong Super Series 2014.

Untung, kekalahan Hendra/Ahsan mampu diobati Angga Pratama/RickyKaranda Suwardi. Mereka menembus final usai menundukkan pasangan tangguh Jepang Kenichi Hayakawa/Hirosuki Endo, yang diunggulkan di posisi ketiga, dengan tiga game 21-17, 20-22, 21-17.

Ini kali kedua Angga/Ricky menjungkalkan kandidat juara. Pada babak perempat final, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut melibas unggulan teratas Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong.

Angga/Ricky, yang kini duduk di posisi 41 dunia, belum pernah bersua dengan Fu/Zhang. Hanya, dari sisi ranking, mereka kalah jauh karena lawannya kini 30 setrip di atasnya.

Selain itu, Angga/Ricky juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan.Dua wakil lainnya, Simon Santoso di tunggal putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ganda campuran, kalah.

Simon, yang merupakan juara bertahan, menyerah mudah kepada Kento Momota dari Jepang dengan straight game 21-10, 21-13. Sedang Tontowi/Liliyana tak berdaya di tangan musuh bebuyutannya Zhang Nan/Zhou Yunlei dari Tiongkok dengan dua game langsung 21-16, 24-22. (*)


Agenda final Singapura Super Series 2015

Ganda campuran: Zhang Nan/Zhou Yunlei (Tiongkok x1) v Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok x6)

Ganda putri: Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang x1) v Ou Dongni/Xiaohan Yu (Tiongkok x6)

Tunggal putra: Hu Yun (Hongkong) v Kento Momota (Jepang)

Ganda putri: Tai Tzu Ying (Taiwan x5) v Sun Yu (Tiongkok)

Ganda putra: Fu HaiengZhang Nan (Tiongkok x5) v Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi (Indonesia)

x=unggulan

Lompatan 51 Peringkat Febby

MELONJAK: Febby Angguni (foto:djarum)

TAK sia-sia Febby Angguni berpetualang ke Eropa. Dalam daftar  peringkat terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 9 April lalu, mantan tunggal putri penghuni Pelatnas Cipayung tersebut ada di posisi 185.

Artinya, Febby melonjak  51 peringkat dari pekan sebelumnya. Hasil tersebut tak lepas dari capaiannya dengan menembus babak final Finlandia Challenge.

Meski, dia harus melalui turnamen berhadiah USD 15 ribu tersebut dari babak kualifikasi. Sayang, dia gagal menjadi juara usai dikalahkan Beatriz Corrales dari Spanyol dalam pertandingan final pada 5 Apri lalu.

Dari tiga turnamen yang diikuti di Eropa, Finlandia Challenge 2015 merupakan turmamen terbaik yang dipetiknya. Sebelumnya, Febby tersingkir sebelum menembus babak final di Polandia Challenge dan Orleans Challenge.

Di Polandia, perempuan yang kini berkostum Tjakrindo Masters Surabaya itu menyerah kepada unggulan ketiga Petya Nedelceva dari Bulgaria pada babak kedua. Sepekan kemudian di Orleans, Prancis, Febby tersingkir di perempat final oleh Sashina Vignes Waran, unggulan kedua asal Prancis.

Setelah tak lagi di Pelatnas Cipayung, Febby memang jarak berlaga.Selama 2014, dia hanya tampil di lima turnamen. Hasilnya, Febby hanya juara di turnamen Indonesia International yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah.

Selebihnya, dia tumbang di partai pertama di Malaysia Grand Prix Gold, Indonesia Super Series Premier, dan Vietnam Grand Prix Gold. Di 2015 pun tak jauh beda. Dalam Malaysia Grand Prix Gold, dia dipaksa menyerah oleh wakil tuan rumah Yen Mei Ho. (*)


Naik turun ranking Febby  Angguni

11 Desember 2014: 178

29 Januari 2015: 355

26 Februari 2015: 351

26 Maret 2015: 269

2 April 2015: 236

9 April 2015:185

*Sumber:BWF

Saina hanya Bertahan Satu Pekan

KEMBALI: Li Xuerui menggeser posisi Saina Nehwal.

STATUS Saina Nehwal sebagai ratu bulu tangkis dunia hanya berumur seminggu. Gadis India ini harus rela menyerahkan posisinya kepada rivalnya, Li Xuerui, asal Tiongkok.

Dari ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 9 April lalu, Saina mengoleksi 80.191. Ini masih kalah oleh Li yang 571 poin lebih banyak.

Turunnya perempuan 25 tahun tersebut tak lepas dari hasil Malaysia Super Series Premier 2015. Dalam turnamen berhadiah total USD 500 ribu tersebut, Saina dihentikan Li di semifinal dengan 21-13, 17-21, 20-22.

Namun, Li pun gagal menjadi juara. Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Putra Stadion, Bukit Jalil, dia menyerah kepada juara dunia 2014 Carolina Marin (Spanyol). Tahun lalu, Saina hanya bertahan hingga babak kedua dan Li menjadi pemenang.

Marin sendiri, meski juara tetap belum beranjak dari posisi ketiga dunia. Dia mengoleksi 79.578 poin.
Saat ini, ketiga pebulu tangkis absen di Singapura Super Series.

Tensi persaingan bakal menurun usai dari Negeri Singa, julukan Singapura. Tak ada turnamen super series atau super series premier hingga Piala Sudirman.

Australia Super Series pada 26-31 Mei dan Indonesia Super Series Premier 2-7 Juni akan menjadi start kembali memperebutkan posisi ratu dunia. Itu juga sekaligus menjadi persaingan berebut tiket ke Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (*)



Posisi 5 besar tunggal putri (per 9 April 2015)

1. Li Xuerui (Tiongkok)  80.476 poin

2. Saina Nehwal (India) 80.191

3. Carolina Marin (Spanyol) 79.578

4. Wang Shixian (Tiongkok) 70.727

5.Sung Ji-hyun (Korsel) 70.704

*sumber: bwf

Dampingi Hendra/Ahsan ke Semifinal

PELAPIS: Angga Pratama/Ricky Karanda.

PP PBSI bisa sedikit bernafas lega. Keinginan merombak pasangan di nomor ganda putra guna mencari pelapis ideal bagi juara dunia 2013 Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mulai menampakkan hasil.

Pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi mampu menembus semifinal Singapura Super Series 2015. Untuk kali pertama mereka mampu menjejakkan kaki hingga empat besar di turnamen berlabel super series atau super series premier.

Memang, gelar juara pernah digapai di Thailand Challenge 2015. Namun, titel challenge merupakan turnamen kasta kelima di turnamen BWF setelah super series premier, super series, grand prix gold, dan grand prix.

Babak final juga pernah ditapaki. Tanpa meremehkan perjuangan Angga/Ricky, tiket babak pemungas itu dipetik di Makau Grand Prix Gold 2014 dan semifinal Malaysia Grand Prix Gold 2015.

Namun, saat berlaga di All England Super Series Premier 2015 dan Malaysia Super Series Premier 2015, keduanya sudah tersingkir sebelum semifinal. Menariknya, di kedua turnamen tersebut, Angga/Ricky takluk kepada Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark.

Nah, di Singapura Series 2015, Angga/Ricky semakin matang. Mereka mampu menyingkirkan unggulan teratas asal Korea Selatan (Korsel) Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dengan dua game langsung 21-19, 21-18.

Kemenangan ini membuat pasangan Pelatnas Cipayung tersebut sukses revans. Mereka pernah dikalahkan di Hongkong Super Series 2014 lalu.

Sebelumnya, Angga lebih dikenal saat berpasangan dengan Rian Agung Saputro. Keduanya sempat digadang-gadang bakal jadi pasangan menerus Hendra/Ahsan.Bahkan, Angga/Rian mampu menembus posisi 10 besar dunia dan menjadi ganda kedua di Piala Thomas 2014.

Sayang, dua tahun lalu, keduanya labil. Sehingga, Angga/Rian pun dipisah. Sedangkan Ricky sebelumnya bertandem dengan Berry Anggriawan. Namun, prestasinya tak lebih bagus dibandingkan Angga/Rian.

Di semifinal Singapura Series 2015, Angga/Ricky akan berhadapan dengan pasangan tangguh Jepang Kenichi Kayakawa/Hiroyuki Endo. Mereka lolos ke semifinal berkat kemenangan 17-21,21-13, 21-18 atas Mads Conrad-Petersen/Mads  Pieler Kolding (Denmark).

Angga/Ricky belum pernah menantang pasangan yang kini ada di posisi keenam dunia tersebut. Hanya, kemenangan tetap terbuka bagi ganda merah putih yang kini masih berkutat di ranking 41 dunia tersebut.

Jika menang, tak menutup kemungkinan akan terjadi all Indonesian finals (final sesama wakil Indonesia). Hendra/Ahsan di semifinal ditantang pasangan Tiongkok Fu Haifeng/Zhang Nan. Hendra/Ahsan lolos ke semifinal usai mengalahkan rekannya di Pelatnas Cipayung Wahyu Nayaka/Ade Yusuf 21-12, 21-16. Sedangkan Fu/Zhang menjungkalkan unggulan kedua Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin 21-16, 21-23, 21-15.

Maret lalu, Fu/Zhang mempermalukan Hendra/Ahsan di babak kedua All England Super Series 2015. Padahal, pasangan merah putih tersebut datang dengan status juara bertahan. Sementara, rekor pertemuan kedua pasangan masih imbang 2-2. (*)

Makin Dekat untuk Pertahankan Gelar

TERJAL: Simon Santoso di Singapura SS. 

SATU demi satu lawan disikat Simon Santoso di Singapura Super Series 2015. Bahkan, langkah mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut sudah sampai ke babak semifinal.

Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium pada Jumat waktu setempat, Simon tak mengalami kesulitan saat menundukkan Tanongsak Saensomboonsuk dari Thailand dengan dua game langsung 21-10, 21-19. Ini menjadi kemenangan ketiga mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut atas wakil Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut. Dua kemenangan sebelumnya digapai Simon di Taiwan Grand Prix Gold 2010 dan Jepang Super Series 2012.

Langkah menuju final pun terbuka lebar. Simon berjumpa dengan lawan yang juga bukan unggulan Kento Momota. Duta dari Jepang tersebut menembus semifinal tanpa memeras keringat karena HS Prannoy dari India mengundurkan diri.

Simon pernah mengalahkan Momota tiga tahun dalam Indonesia Grand Prix Gold. Ketika itu, dia menang straight game 21-10, 21-16.

Hanya, kini, Momota bakal tak mudah untuk dijinakkan. Dalam ranking terbaru BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru, lelaki Negeri Matahari Terbit itu sudah menembus 10 besar dunia. Kini,Momota pun menjadi tunggal putra terbaik negerinya melewati Sho Sasaki (16) dan Kenichi Tago (21).

Sebaliknya dengan Simon. Dalam setahun terakhir, penampilannya jeblok. Ini yang membuat rankingya masih terburuk dan berada di posisi 38 dunia.

Akibatnya dia harus mengikuti babak kualifikasi di Singapura Super Series 2015. Meski, statusnya adalah juara bertahan. Tahun lalu, Simon naik ke podium juara usai mempermalukan Lee Chong Wei asal Malaysia yang saat itu masih berstatus tunggal putra nomor satu dunia.

Semifinal lainnya di nomor tunggal putra dalam Singapura Super Series 2015 mempertemukan Hu Yun dari Hongkong dengan Kashyap Parupalli (India). (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger