www.smashyes.com

www.smashyes.com

Para Bintang Ikut Turun, Tanding hingga Dini Hari

Minggu, 31 Mei 2015


Bobby Ertanto dan Trikus menunggu kesempatan main

Di Piala Wali Kota Surabaya 2015 bukan hanya mempertandingkan pebulu tangkis usia muda. Ajang bagi senior pun ada dan tak kalah seru.
---
BEBERAPA mantan pebulu tangkis nasional hadir di GOR Sudirman, Surabaya, di sela-sela Piala Wali Kota 2015. Mereka pun pernah menjadi andalan Indonesia di ajang internasional dan mengharumkan nama merah putih.

Ada Bobby Ertanto, Tri Kusharjanto, maupun Flandy Limpele. Ketiganya merupakan spesialis ganda.

Bobby merupakan pilar Indonesia saat berjaya di era 1980-an dengan merebut Piala Thomas. Sedangkan Trikus, panggilan karib Tri Kusharjanto, menjadi bagian dari tim ketika Indonesia meraih Piala Thomas 2002 atau saat terakhir Indonesia mengangkat trofi lambang supremasi beregu putra dunia itu. Dia juga merah perak nomor beregu campuran di Olympiade Sydney 2000.

Sementara Flandy merupakan perunggu bagi Indonesia di nomor ganda putra di Olimpiade Athena 2004 berpasangan dengan Eng Hian.

Apakah mereka sedang reuni? Bukan. Menjadi pelatih? juga bukan.

Ketiganya sedang bertanding di ajang Piala Wali Kota Surabaya. Hanya, mereka bukan di kelompok dewasa tapi di senior atau lebih beken veteran.

Ya, di Piala Wali Kota Surabaya 2015 memang ada nomor khusus bagi senior. Hanya, itu diperuntukkan nomor ganda dengan dua kategori di kelompok umur  85 dan  95.

''Tidak semua kejuaraan mempertandingkan kelompok senior,'' kata M. Nasution, refree Piala Wali Kota Surabaya 2015.

Jam pertandingannya, lanjutnya, dilaksanakan usai nomor dewasa. Tak heran jika pada hari pertama kelompok senior digelar hingga pukul 01.30 WIB atau Jumat dini hari.

Selain diikuti para pahlawan bulu tangkis Indonesia, beberapa jagoan bulu tepok dari luar kota pun ikut hadir. Selain dari Jakarta, atlet dari Garut hingga Solo pun ikut mengadu kemampuan.

''Hadiah juga lumayan besar, Rp 48 juta untuk dua kelompok,'' ungkap Wijanarko Adi Mulya, salah satu peserta U95 yang juga ketua pengprov PBSI Jatim. (*)

Duel Sesama Mantan Penghuni Cipayung

Sony menyalam iJeffer 

SONY Dwi Kuncoro tak mengalami kesulitan berarti menembus final Piala Wali Kota 2015. Dia hanya butuh waktu 35 menit untuk mengalahkan seniornya, Jeffer Rosobin, dengan dua game langsung 21-12, 21-10 dalam pertandingan semifinal tunggak putra di GOR Sudirman, Surabaya, pada Sabtu sore WIB (30/5/2015).

Dalam kejuaraan yang menyediakan hadiah total Rp 250 juta tersebut, Sony memang diunggulkan di posisi teratas. Ranking dunia yang dimilikinya, 113, masih paling bagus dibandingkan para peserta lainnya.

Saat lolos ke semifinal, Sony pun tak perlu memaras keringat. Lawannya, Mohd Revindra Rayhaldi, tak turun ke lapangan karena mengejar jadwal pertandingan di mancanegara. Sedangkan Jeffer, yang tahun ini berusia 39 tahun, membuat kejutan di perempat final dengan menumbangkan Thomi Azizan Mahbub (Djarum) dengan 23-21, 21-18.

Di final, Sony akan berjumpa dengan rekannya saat di Pelatnas yang kembali ke klub asalnya Djarum, Shesar Hiren Rustavito. Tiket final Vito, sapaan karibnya, digapai berkat kemenangan 21-16, 21-12atas Eskan Riffan Jaya.  Eskan, yang diunggulkan di posisi kelima, di babak perempat final menumbangkan andalan tuan rumah Febriyan Irvannaldy dari Wima dengan straight game 21-17, 21-11.

Sony sendiri menjadikan Piala Wali Kota Surabaya 2015 sebagai ajang pemanasan sebelum berlaga di Indonesia Super Series Premier yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, 2-7 Juni mendatang. Dalam turnamen berhadiah total USD 800 ribu tersebut, dia harus melalui babak kualifikasi. (*)

Jadwal final Piala Wali Kota Surabaya (kelompok dewas)
1.Tunggal putra: Sony Dwi Kuncoro (Tjakrindo Masters Surabaya) v Shesar Hiren Rustavito (Djarum Kudus)

2. Tunggal putri: Nagahara Wakana (Hakuto Bank Jepang) v Hera Desi (Mutiara Bandung)

3. Ganda putra: Franky Wijaya/Sabar Karyawan (Exist Jakarta) v Qin Chenlin/Zhang Yuxiang (Tiongkok)

4. Ganda putri: Matsutomo Mayu/Nagahara Wakana (Hakuto Jepang) v Tanaka Shiho/Yonemoto Koharu (Hakuto Bank)

Menunggu Klimaks Viktor Axelsen

FINAL: Viktor Axelsen akan menantang Chen Long



VIKTOR Axelsen terus memakan korban di Australia Super Series 2015. Terakhir, rekannya sendiri dari Denmark Jan OJorgensen yang dipermalukannya dengan dua game langsung 21-17, 21-15 dalam pertandingan babak semifinal tunggal putra di Sydney pada Sabtu waktu setempat (30/5/2015).

Ini  kemenangan kedua dalam lima kali pertemuan dengan Jorgensen. Viktor pernah menundukkan juara Indonesia Super Series Premier 2014 tersebut Swiss Grand Prix Gold 2014. Sedangkan tiga kekalahan ditelan di Denmark Super Series 2010, Kejuaraan Eropa 2014, dan All England Super Series Premier  2015.

Di atas kertas, Viktor, yang masih berusia 21 tahun, masih kalah dibandingkan Jorgensen. Saat ini, dia berada di posisi sembilan, sedangkan lawannya enam setrip di atasnya.

Penampilan Viktor di Australia Super Series 2015 memang tengah on fire. Di babak pertama, dia juga menumbangkan unggulan kedua Lin Dan asal Tiongkok dengan 19-21, 21-12, 21-15. Selanjutnya, di babak kedua Xue Song, yang juga dari Tiongkok, disikatnya 21-19, 18-21, 21-12. Tiket semifinal digenggamannya berkat kemenangan 21-19, 21-15 atas Boonsak Ponsana.

Lolos ke final super series merupakan kali kedua tahun ini. Sebelumnya, Viktor juga lolos ke final India Super Series 2015. Sayang, di final, dia menyerah 21-18, 13-21, 12-21 kepada andalan tuan rumah K. Srikanth.  Di final Australia Super Series 2015, Viktor akan menantang unggulan pertama Chen Long asal Tiongkok yang menundukkan rekan senegaranya, Tian Houwei, 21-14, 21-19.

Dalam tiga kali pertemuan, Viktor belum pernah memetik kemenangan. Kekalahan itu dialaminya di Tiongkok Masters 2012, All England Super Series Premier 2014, dan Denmark Super Series 2014. (*)

Agenda final Australia Super Series 2015
Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Viktor Axelsen (Denmark)

Tunggal putri:Carolina Marin (Spanyol x3) v Wang Shixian (Tiongkok x5)

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok)

Ganda putri: Tan Jinhua/Tian Qing (Tiongkok x6) v Ma Jin/Tang Yuanting (Tiongkok x5)

Ganda campuran: Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x4) v Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah (Hongkong)

x=unggulan

Pulang dari Australia tanpa Kalungan Medali

Sabtu, 30 Mei 2015

Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah (foto:victor)

KEGAGALAN kembali mengiringi wakil Indonesia di ajang internasional. Merah putih dipastikan pulang dengan tangan hampa dari Australia Super Series 2015.

Ini setelah satu-satunya wakil yang masih bertahan, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, terhenti langkahnya di babak semifinal nomor ganda campuran. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Sydney pada Sabtu waktu setempat, unggulan kedua tersebut menyerah tiga game langsung 8-21, 21-19, 15-21 kepada pasangan Hongkong Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah.

Padahal, di atas kertas, Tontowi/Liliyana bisa melangkah mudah di babak final. Alasannya, juara dunia 2013 itu selalu menang dalam tiga pertemuan atas Chun Hei/Hoi Wah.

''Nggak apa-apa gagal. Semoga bisa bangkit dan mampu menjadi juara di Indonesia Open,'' kata Ahmad Budiharto, wakil sekjen PP PBSI, saat bertemu di GOR Sudirman, Surabaya.

Hanya, dilihat dalam perjalanannya hingga ke semifinal, pasangan negeri bekas koloni Inggris tersebut cukup bagus.Di babak kedua, Chun Hei/Hoi Wah menjungkalkan unggulan kedelapan asal Indonesia Praveen Jordan/Debby Susanto dengan rubber game 18-21, 21-18, 21-16.

Kemudian, di perempat final, pasangan ranking 13  dunia tersebut memulangkan lebih awal unggulan ketiga asal Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen juga dengan tiga game 21-16, 13-21, 21-19.

Di babak final, Chun Hei/Hoi Wah akan menantang unggulan keempat asal Tiongkok Liu Cheng/Bao Yixin. Di semifinal, mereka menundukkan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dari Korea Selatan dengan straight game 21-17, 21-16.

Dalam tiga kali pertemuan, Chun Hei/Hoi Wah juga tak pernah unggul atas pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut. Yakni di Hongkong Super Series 2013, Korea Super Series 2014, dan Hongkong Super Series 2014. (*)

Satu Tiket Final buat Denmark

Jumat, 29 Mei 2015

Jorgensen bersua dengan Viktor (foto:multimedia.dk)

KIBASAN raket Viktor Axelsen terus berlanjut. Datang sebagai nonunggulan, kini langkahnya sudah sampai di babak semifinal tunggal putra Australia Super Series 2015.

Itu setelah di babak perempat final yang dilaksanakan di Sydney pada Jumat waktu setempat (29/5), Vikto menang 21-19, 21-15 atas Boonsak Ponsana dari Thailand. Sebelumnya, lelaki 21 tahun tersebut membuat kejutan di babak pertama dengan menjungkalkan unggulan kedua Lin Dan asal Tiongkok dengan rubber game 19-21, 21-12, 21-15. Kemenanan ini membuat Viktor membalas kekalahan yang dialaminya di Malaysia Open 2012.

Selanjutnya, di babak kedua, lelaki yang kini menduduki posisi kesembilan dunia tersebut melibas wakil Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, lainnya Xue Song juga dengan tiga game 21-19, 18-21, 21-14. Hasil ini membuat untuk kali ketiga menang atas pebulu tangkis peringkat 21 dunia tersebut.

Di babak semifinal, Viktor berjumpa dengan kompatriot (rekan senegara) Jan O Jorgensen. Di babak ketiga atau perempat final, unggulan ketiga itu menang Wang Zhengming, unggulan keenam asal Tiongkok, dengan 21-18, 16-21, 21-8.

Sayang, dalam rekor pertemuan kurang berpihak kepada Viktor. Dia hanya sekali menang dalam empat kali pertemuan.

Pil pahit itu ditelannya di Denmark Super Series 2012, Kejuaraan Eropa 2014, dan All England Super Series Premier 2015. Satu-satunya kemenangan dipetik dalam Swiss Grand Prix Gold 2014 . (*)

Balas Kekalahan Tampai Setengah Jam

KALAH: Chris/Gabrielle Adcock (foto:zimbio)

PIALA Sudirman 2015 jadi event yang menyesakkan bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.Ganda campuran nomor satu Indonesia tersebut gagal membawa merah putih menjadi juara.

Bahkan, dalam ajang beregu campuran tersebut, Tontowi/Liliyana hanya sekali tampil. Yakni dalam laga perdana Grup IC melawan Inggris.

Indonesia memang mampu menang 3-2. Hanya, ironisnya, Tontowi/Liliyana gagal menyumbangkan kemenangan dalam kejuaraan yang berlangsung di Guangdong, Tiongkok, tersebut.

Secara mengejutkan, pada pertandingan yang dilaksanakan 11  Mei itu, Tontowi/Liliyana menyerah dua game langsung 17-21, 18-21 kepada Chris Adcock/Gabrielle Adcock. Ini menjadi kekalah kedua juara dunia 2013 tersebut kepada pasangan suami istri tersebut dalam tujuh kali perjumpaan.

Hasil itu juga membuat Tontowi/Liliyana berada di posisi underdog saat bersua kembali dengan Chris/Gabrielle di babak perempat final Australia Super Series 2015. Apalagi, di babak kedua, pasangan yang sama-sama berasal dari Djarum Kudus tersebut nyaris tergelincir oleh wakil Jepang Keigo Sonoda/Naoko ukuman 18-21, 21-17, 21-11.

Namun, di lapangan, ganda yang diunggulkan di posisi kedua tersebut tampil trengginas. Mereka berhasil memetik kemenangan mudah straight game 21-9, 21-12 dalam waktu tak sampai setengah jam atau tepatnya 28 menit di Sydney.

Tiket ke final pun kembali terbentang. Di babak empat besar, Tontowi/Liliyana berjumpa dengan pasangan Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah asal Hongkong yang di perempat final menjungkalkan unggulan ketiga Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen asal Denmark dengan 21-16, 13-21, 21-19.

Dalam tiga kali pertemuan, Tontowi/Liliyana selalu memetik kemenangan yakni di Kejuaraan Dunia 2013, Singapura Super Series 2015, dan Kejuaraan Asia 2015. (*)

Lin Dan Juga Ikut Tersingkir

Kamis, 28 Mei 2015

GAGAL: Lin Dan  di Malaysia Open 2015. (foto:thestar)

BABAK I Australia Super Series 2015 melahirkan kejutan besar. Bukan hanya tumbangnya Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di nomor ganda putra, tapi juga di tunggal putra.

Menariknya, keduanya sama-sama menempati unggulan kedua. Dalam penampilan perdana dalam turnamen berhadiah total USD 750 ribu tersebut, Hendra/Ahsan dipecundangi ganda Korea Selatan Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel dengan dua game langsung 19-21, 15-21.

Hal yang juga dialami unggulan kedua tunggal putra Lin Dan. Juara dunia lima kali sekaligus peraih dua emas olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut dipermalukan Viktor Axelsen dari Denmark dengan 21-19,12-21, 15-21.

Kedua pebulu tangkis hanya sekali bertemu yakni di Malaysia Open 2012. Ketika itu, Lin Dan, yang tengah berada di masa kejayaan, menang mudah 21-14, 21-13.

Sebenarnya, secara ranking, Super Dan, julukan Lin Dan, juga masih unggul. Dia di posisi kedua sedangkan Viktor tujuh setrip di bawahnya.

Lin Dan merupakan salah satu pebulu tangkis tangguh di muka bumi. Gelar juara dunia dan olimpiade sudah menjadi bukti.

Namun, seiring usia yang tak muda lagi, 32, kemampuannya pun sedikit demi sedikit mulai pudar. Apalagi, dia sempat lama vakum.

Imbasnya, ranking dunia pun sempat terlempar di luar 100 besar. Namun, dalam dua tahun terakhir, Lin Dan pun kembali ke lapangan.  Tujuannya tentu mengejar poin untuk bisa mencetak hat-trick (tiga kali beruntun) menjadi juara olimpiade.

Hanya, pada 2015 ini, capaiannya belum memuaskan.Dia hanya sekali menjadi juara dalam tiga turnamen yang diikuti.

Lin Dan naik ke podium terhormat di Kejuaraan Asia 2015. Sementara di Malaysia Super Series dan All England, dia gagal. (*)

Ancaman Awal Juara All England

REUNI: Kien Keat/Tan Boon Heong (foto:badmintonfreak)

LAMA tak berpasangan tak membuat Koo Kien Keat/Tan Boon Heong kehilanga chemistry. Kini, keduanya siap menggebrak kembali kerasnya persaingan nomor ganda putra dunia.

Ancaman tersebut mulai disebar di Australia Super Series 2015. Memulai penampilan dari babak kualiikasi, kini langlah mantan ganda terkuat Malaysia tersebut sudah menembus babak kedua.

Langkah Kien Keat/Boon Heong dimulai dengan menundukkan Chan Alan/LeeChun dari Hongkong dengan 21-12, 21-19 di babak pertama kualifikasi. Tiket ke babak elite ditangan usai menang mudah 21-17, 21-13 atas rekan senegaranya sendiri, Jagdish Singh/Tan Wee Long.  Nah, di babak utama, juara All England 2007 tersebut mengubur impian pasangan Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dengan rubber game 21-16, 20-22, 21-10.

Namun, di babak kedua, lawan berat sudah menanti. Kien Keat/Boon Heong berhadapan dengan unggulan ketiga Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dari Taiwan, yang di babak pertama harus bekerja keras untuk melibas pasangan Malaysia lainnya Mak Hee Chun/Teo Kok Siang 22-20, 19-21, 21-8.

Kien Keat/Boon Heong pernah mengalahkan ganda unggulan ketiga tiga  tersebut di Hongkong Super Series 2012. Namun, mereka ganti dikalahkan dalam Piala Sudirman 2013 dan Kejuaraan Dunia 2014.

Kini,posisi pasangan negeri jiran itu pun underdog. Alasannya, ranking kedua pasangan jauh berbeda.

Dalam daftar yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Kien Keat/Boon Heong terdampar di posisi 214. Sementara, Sheng Mu/Chia Hsin di posisi keempat.

Ya, Kien Keat/Boon Heong terpuruk setelah Kien Keat memutuskan keluar dari latihan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) dua tahun lalu. Dia memilih bergabung dengan sebuah klub di Malaysia.

Langkah ini pun diikuti oleh Boon Heong. Meski sempat berpisah lama, dalam Kejuaraan Dunia 2014, mereka kembali tampil bareng.

Ini disebabkan ranking keduanya masih lolos dalam ajang yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, tersebut. Sayang, langkah keduanya hanya sampai babak kedua setelah dihentikan Sheng Mu/Chia Hsin. (*)

Hendra/Ahsan Langsung Angkat Koper

PULANG AWAL: Hendra Setiawan/M. Ahsan 

BEKAL buruk dibawa Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan ke Indonesia Super Series Premier 2015. Keduanya hanya mampu bertahan di babak I Australia Super Series 2015.

Secara mengejutkan, Hendra/Ahsan kalah dua game langsung 19-21, 15-21 kepada wakil Korea Selatan Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel dalam pertandingan di Sydney pada Rabu waktu setempat (27/5). Selama ini, kedua pasangan belum pernah bertemu.

Hanya, pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut memang tak boleh dipandang sebelah mata. Mereka merupakan juara dunia 2014. Saat itu, di babak final yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, Sung-hyun/Baek-choel menundukkan rekan senegara yang diunggulkan di posisi teratas Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong.

Hanya, pada 2015, penampilan di Australia Super Series merupakan yang pertama bagi keduanya. Selama Baek-choel tak muncul, posisinya digantikan oleh Sol Kyu-choi. Namun, paduan Sung-hyun/Kyu-choi tak pernah memetik hasil yang memuaskan.

Bagi Hendra/Ahsan, kekalahan ini juga memperpanjang pil pahit selama mengikuti turnamen pada 2015. Juara dunia 2013 itu gagal di All England Super Series Premier, Singapura Super Series, dan Kejuaraan Asia. Hanya di Malaysia Super Series Premier, keduanya mampu menjadi juara.

Dengan tumbangnya Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di posisi kedua, di nomor ganda putra Australia Super Series 2015, Indonesia tinggal berharap kepada Ade Yusuf/Wahyu Nayaka dan Markis Kido/Agripinna Prima. Di babak pertama, Ade/Wahyu menundukkan pasangan Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding dengan 22-20, 21-19.

Namun, untuk menembus perempat final, butuh perjuangan ekstrakeras. Pasangan Pelatnas Cipayung tersebut berjumpa dengan unggulan teratas Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, yang di babak pertama menang mudah 21-7, 21-6 atas Michael Fuchs/Peter Kaesbauer.

Bagi Ade/Wahyu, pasangan nomor satu dunia itu bukan lawan yang asing. Mereka sudah dua kali dikalahkan ganda Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, itu di Malaysia Super Series Premoer 2014 dan Kejuaraan Asia 2015.

Sementara, Kido/Agripinna, di babak kedua juga bertemu lawan tangguh Fu Haifeng/Zhang Nan asal Tiongkok. Di babak pertama, pasangan nonpelatnas tersebut menang 21-13, 21-15 atas Phillip Chew/Sattawat Pongnairat (Amerika Serikat) dan Fu/Zhang unggul 21-13, 23-21 atas Marcus Ellis/Chris Langridge dari Inggris.(*)

Pilih Piala Wali Kota Surabaya Dibandingkan Turnamen Super Series

Rabu, 27 Mei 2015

GENGSI: Adrian Liu/Derrick Ng (foto: youtube)

PIALA Wali Kota Surabaya 2015 punya arti penting bagi Adrian Liu/Derrik Ng. Pasangan Kanada ini memilih berlaga dalam turnamen berhadiah total Rp 250 juta tersebut dibandingkan tampil di turnamen Australia Super Series yang waktunya bersamaan.

''Ini tentu menjadi kebanggan tersendiri. Ada pasangan peringkat 40 dunia tampil di sini,'' kata Wakil Ketua Panpel Piala Wali Kota Surabaya 2015 Bayu Waru.

Memang, di ajang super series atau super series premier, hasil yang diperik Adrian/Derrik belum ada yang memuaskan. Namun, di level bawah, kemampuan keduanya layak diperhitungkan.

Bahkan, dalam dua tahun terakhir, 2013 dan 2014, Adrian/Derrick menjadi juara ganda putra di Benua Amerika. Tahun lalu,keduanya mengalahkan unggulan teratas asal Amerika Serikat Phillip Chew/Sattawat Pongnairat 21-15, 21-12. Sedangkan pada 2013, Adrian/Derrick melibas rekan senegaranya sendiri Kevin Li/Nyl Yakura 21-14, 21-8.

Dengan peringkat 40 dunia, Adrian/Derrick pun diunggulkan di posisi teratas Piala Wali Kota Surabaya 2015. Di babak pertama, keduanya memperoleh bye. Di babak kedua, mereka berjumpa dengan pasangan asal Berkat Abadi Banjarmasin H. Rustam/Tri Kusharjanto.

Usai dari Piala Wali Kota Surabaya 2015, Adrian/Derrick langsung tampil di Indonesia Super Series Premier di Istora Senayan, Jakarta. Dalam event berhadiah total USD 800 ribu tersebut, Adrian/Derrick langsung berlaga di babak utama. (*)

Dulu Finalis, Sekarang Tumbang di Kualifikasi

Simon Santoso tersingkir dari Australia Open (foto:so)

EPISODE kelam Simon Santoso belum berlalu. Dia langsung tersungkur di babak pertama babak kualifikasi Australia Super Series 2015.

Simon dipermalukan pebulu tangkis Korea Selatan Lee Dong-keun dengan dua game langsung 21-15, 19-21, 13-21 di Sydney pada Selasa waktu setempat (26/5/2015). Sebenarnya, kekalahan ini cukup mengejutkan.

Dalam tiga pertemuan terakhir di Korea Grand Prix Gold 2013, Singapura Super Series 2014, dan Australia Super Series, Simon selalu memetik kemenangan. Hanya, saat ini, ranking lelaki asal klub Tangkas Jakarta tersebut lima setrip di bawah Dong-keun yang bertengger di 34 dunia.

Ironisnya lagi, tahun lalu, di Australia Super Series, Simon mampu menembus final. Sayang, langkahnya dihentikan oleh Lin Dan dari Tiongkok.

Akhir Aprl lalu, mantan tunggal putra terbaik Indonesia itu juga tersingkir di babak pertama Selandia Baru Grand Prix Gold. Dia menyerah kepada wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, Lin Gui Pu.

Di bulan yang sama, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut gagal mempertahankan gelar Singapura Super Series. Simon dijegal Kento Momota dari Jepang di semifinal.

Tumbangnya lelaki 30 tahun itu membuat Indonesia hanya mempunya satu wakil di babak utama tunggal putra melalui Tommy Sugiarto. Di babak pertama, dia berjumpa dengan Brice Leverdez.
Tiga kali bertemu, Tommy selalu memetik kemenangan. (*)

Jepang Kirim Peserta Terbanyak

Selasa, 26 Mei 2015

Refree M Nasution, Choidir, Wijanarko, dan Bayu

GEBYAR Piala Wali Kota 2015 tak seterang sebelumnya. Tahun ini,tak ada satu pun pebulu tangkis Pelatnas Cipayung yang ikut ambil bagian.

''Banyak agenda yang bersamaan. Ada yang ke Australia Super Series, tapi ada juga yang baru saja tampil di ajang sirnas (sirkuit nasional),'' kata Ketua Harian PBSI Surabaya Bayu Wira kepada wartawan di Aparteman Sahid Gunawangsa, Manyar, Surabaya, pada Senin (25/5/2015).

Biasanya, di ajang Piala Wali Kota Surabaya, Pelatnas Cipayung selalu mengirim wakilnya. Meski, itu hanya pebulu tangkis pelapis.

Hanya, gengsi Piala Wali Kota Surabaya 2015 tetap terjaga dengan kehadiran pebulu tangkis mancanegara.  Tercatat ada enam negara ikut ambil bagian dalam kejuaraan yang rutin digelar tiap tahun tersebut.

Dari daftar yang diberikan panitia, Tiongkok, India, Jepang, Malaysia, Prancis, dan Kanada ikut ambil bagian. Negeri Sakura, julukan Jepang, menjadi peserta terbanyak dengan 34 pebulu tangkis disusul Malaysia yang mengirimkan 32 atlet.

''Namun, ada hal lain yang bisa membedakan dalam arti positif. Hadiah total tahun ini naik menjadi Rp 250 juta,'' ujar Bayu.  Dia berharap kenaikan hadiah ini akan merangsang peserta untuk menampilan kemampuan terbaik.

Dalam acara jumpa pers itu dihadiri Refree M.Nasution, Ketua Pengkot PBSI Surabaya Abdul Chodir, dan Ketua Pengprov PBSI Jatim Wijanarko Adi Mulya.

Piala Wali Kota Surabaya sering menjadi penggemblengan pebulu tangkis muda Bukan hanya dari Indonesia tapi juga luar negeri.

Pebulu tangkis papan atas seperti Kenichi Tago (Jepang), Le Dong-keun (Korsel), dan PV Sindhu (India) pernah berlaga di GOR Sudirman di ajang Piala Wali Kota. Kini, ketiganya sudah menjadi andalan negerinya di kelompok senior. (*)

Sony pun Berani Berikan Sambutan

Sony (dua dari kanan) di acara Suryanaga.

STATUS Sony Dwi Kuncoro sudah bukan pebulu tangkis Suryanaga. Mulai 2015 ini, arek Suroboyo tersebut bergabung dengan klub yang juga berasal dari Kota Pahlawan, julukan Surabaya, Tjakrindo Masters.

Tapi, itu tak membuat hubungan Sony dengan klub lamanya pisah. Itu terlihat saat dia ikut hadir dalam acara penanda tanganan kerja sama antara Wismilak Foundation dengan Suryanaga di Rumah Makan Mutiara di kawasan Manyar, Surabaya, pada Senin siang (25/5/2015).

Bahkan, tak seperti biasanya, Sony pun ikut memerikan sambutan. Ini menjadi sebuah hal yang langka.

''Selama ini, Sony nggak pernah mau memberikan sambutan. Eh, sekarang di acara ini, Sony mau,'' jelas Ferry Stewart, pembaca acara yang juga pelatihnya di klubnya sebelum ke Suryanaga, Wima.

Dalam sambutannya, Sony berharap kehadiran Wismilak bisa membantu Suryanaga menelorkan kembali pebulu tangkis nasional yang bakal banyak berbicara di ajang internasional. Selain Sony, wakil Suryanaga yang menjadi atlet dunia adalah pebulu tangkis spesialis ganda, Alvent Yulianto.

Ya, setelah tak lagi dipanggil ke Pelatnas Cipayung, Sony pun dikembalikan ke klub asalnya, Suryanaga. Tapi, tak berselang lama, bapak dua putri itu pun mengenakan kaos Tjakrindo Masters. (*)

Wismilak Sponsori Suryanaga

Henry (kiri) dan Yacob saat diambil gambarnya oleh media

WISMILAK kembali ke olahraga. Dulu, nama yang identik dengan rokok tersebut pernah serius membantu tenis dengan menjadi sponsor kejuaraan di Lapangan Embong Sawo, yang kini tinggal kenangan.

Setelah itu, Wismilak terjun ke balap sepeda. Bahkan, mereka pernah mempunyai tim kontinental UCI (organisasi balap sepeda dunia). Wismilak pun menggelar kejuaraan kayuh angin itu di beberapa kota.

Namun, kini, Wismilak bakal kembali disebut-sebut dalam olahraga. Tapi, bukan lagi di tenis dan juga balap sepeda.

Mulai Senin (25/4/2015), Wismilak menjadi sponsor dari salah satu klu bulu tangkis besar di Indonesia, Suryanaga, Surabaya. Hanya, Wismilak yang akan mensponsori Suryanaga memakai nama Wismilak Foundation.
Penandatanganan tersebut dilakukan di Restoran Mutiara yang berada di kawasan Manyar, Surabaya. Wismilak Foundation diwakili langsung oleh ketuanya Henry Najoan dan Suryanaga melalui ketua umumnya, Yacob Rusdianto.

Sayang, Henry enggan mengungkapkan besaran guyuran rupiah yang diberikan Wismilak Foundation kepada klub yang telah melahirkan banyak pebulu tangkis dunia tersebut. Dia hanya menjelaskan bahwa dana tersebut berasal dari Corporate Social Responsibiliy (CSR).

''Kontrak berapa besarnya, kami dan Suryanaga kontraknya di dalam hati saja,'' ujar Henry.

Dia berharap kehadiran Wismilak Foundation di Suryanaga bisa melahirkan pebulu tangkis dunia lagi. Sebelumnya, dari Suryanaga pernah muncul Sony Dwi Kuncoro maupun Alvent Yulianto.

Selain Wismilak, Suryanaga juga didukung oleh Indocock dan perusahaan apparel Reinforce Speed.Sebelumnya, Suryanaga pernah lama menjalan kerja sama dengan Gudang Garam dan terakhir dengan Jaya Raya. (*)

Chong Wei Telat Daftar Indonesia Open

Senin, 25 Mei 2015

Lee Chong Wei di Piala Sudirman (foto:xinhua)

SUDAH lima kali Lee Chong Wei menjadi juara tunggal putra Indonesia Open. Dia meraihnya pada 2007, 2009, 2010, 2011, dan 2013.

Sekali lagi menjadi juara, dia akan menyamai rekor dari Ardy B. Wiranata dan Taufik Hidayat yang sudah enam kali naik ke podium terhormat. Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut juara pada edisi 1990, 1991, 1992, 1994, 1995, dan 1997. Sedangkan Taufik meraih gelar pada 1999, 2000, 2002, 2003, 2004,dan 2006.

Sebenarnya, tahun lalu, kesempatan tersebut terbuka bagi Chong Wei untuk menyamai Ardy dan Taufik. Namun,lelaki yang diberi gelar datuk oleh pemerintahan Malaysia tersebut terhenti langkahnya oleh Kenichi Tago di babak semifinal.

Sayang, tahun ini, Chong Wei tak bisa menambah koleksi juara Indonesia Open. Mantan tunggal putra nomor wahid dunia tersebut absen.

''Daftarnya telat karena tahu Chong Wei boleh main saat Indonesia Open sudah tutup. Jadi, dia nggak bisa tampil,'' kata Hendrawan, lelaki asal Indonesia yang kini menangani Chong Wei.

Absennya lelaki 32 tahun itu juga akan membuat publik Istora Senayan, Jakarta, venue Indonesia Open yang kini bertitel super series tersebut, gagal mendapatkan kesempatan menyaksikan duel klasiknya dengan duo Tiongkok Chen Long dan Lin Dan.

Chong Wei sendiri memang baru bebas dari sanksi BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 1 Mei lalu. Dia memperoleh hukuman karena kasus doping yang dialami pada Kejuaraan Dunia 2014 d Kopenhagen, Denmark.  Imbasnya, dia harus absen selama delapan bulan. (*)

Pertahankan Gelar, Batal Tampil di Australia

TERBANG: Gabriela/Stefani Stoeva (ebt-badminton)

GELAR kedua digapai pasangan kakak beradik asal Bulgaria Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva. Kali ini, posisi terhormat tersebut diraih mereka dalam Spanyol Challenge 2015.

Dalam final yang dilaksanakan di Madrid pada Minggu waktu setempat (24/5/2015), Gabriela/Stefani menang dua game langsung 21-16, 21-11 atas Anastasia Chervyakova/Olga Morozova dari Rusia. Dalam turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut, Stoeva bersaudara itu diunggulkan di posisi teratas. Sementara, pasangan Negeri Beruang Merah, julukan Rusia, tak masuk unggulan karena merupakan pasangan debutan.

Kemenangan ini juga membuat pasangan no 19 dunia tersebut bisa mempertahankan gelar. Tahun lalu, mereka menundukkan pasangan Skotlandia Imogen Bankier/Kirsty Gilmour dengan 21-14, 21-9.

Sebelumnya, gelar perdana Gabriela/Stefani diraih di Orleans, Prancis, pada Maret lalu.Ketika itu, di laga pemungkas, mereka melibas wakil Inggris Heather Olver/Lauren Smith 22-20, 16-21, 21-9.

Sayang, di Spanyol Challenge 2015, Stefani hanya unjuk kebolehan di nomor ganda. Biasanya, gadis 20 tahun tersebut juga tampil di nomor ganda.

Sebenarnya, usai dari Spanyol, Gabriela/Stefani akan tampil di Australia Super Series 2015 yang dilaksanakan pekan ini di Sydney. Nama mereka pun terdaftar sebagai peserta.

Namun, dari jadwal pertandingan, tak ada Gabriela/Stefani. Ini membuat keduanya besar kemungkinan hanya turun di Indonesia Super Series Premier 2015.

Buktinya, pasangan yang pernah ditempa di Jaya Raya tersebut akan menantang pasangan Korea Selatan Chang Ye-na/Jung Kyung-eun.



Distribusi gelar di Spanyol Challenge 2015

Tunggal putra: Pablo Abian (Spanyol x8) v Rasmus Fladberg (Denmark x5) 21-16, 13-21, 21-10

Tunggal putri: Iris Wang (Amerika Serikat) v Beatriz Corrales (Spanyol x1) 13-21, 21-14, 21-15

Ganda putra:Adam Cwalina/Przemyslaw Wacha (Polandia x1) v Kasper Antonsen/Oliver Babic (Denmark) 21-17, 21-14

Ganda putra: Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria x1) v Anastasia Chervykova/Olga Morozova (Rusia) 21-16, 21-11

Ganda campuran: Marvin Emil Seidel/Linda Efler (Jerman) v Gregory Mairs/Jenny Moore (Inggris) 21-16, 21-12

x=unggulan

Jonatan-Firman Langsung Bentrok

Minggu, 24 Mei 2015


DI Piala Sudirman 2015, Indonesia menurunkan dua pebulu tangkis muda, Jonatan Christie dan Firman Abdul Kholik. Hanya, keduanya masih belum bisa memberikan konstribusi berarti.

Namun, dari ajang kejuaraan bulu tangkis beregu campuran tersebut, PP PBSI menganggap Jonatan dan Firman memperoleh banyak pengalaman. Keduanya pun diproyeksikan kembali menempati posisi tunggal putra dalam ajang serupa dua tahun mendatang di Gold Coast, Australia.

Tentu, ini membuat PP PBSI pun mulai mengatur jadwal guna mendongkrak kemampuan dan ranking kedua pebulu tangkis yang masih berusia belasan tahun tersebut. Salah satunya menerjunkan Jonatan dan Firman dalam Indonesia Super Series Premier 2015 yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada 2-7 Juni 2015.
Sayang, keduanya pun harus saling bertemu di pertandingan pertama babak kualifikasi turnamen yang menyediakan hadiah total USD 800 ribu tersebut.

Meski hampir setiap hari bertemu dan berlatih bersama, namun Jonatan dan Firman hanya sekali berjumpa dalam pertandingan internasional. Itu terjadi dalam Indonesia Grand Prix Gold 2014.

Saat itu, dalam babak pertama yang dilaksanakan di GOR Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, pada 10 September 2014, Firman menang dalam pertarungan ketat tiga game 17-21, 21-18, 21-18. Hanya, sekarang, dari sisi ranking dunia, Jonatan lebih unggul. Dia ada di posisi 55 dunia sedangkan Firman sepuluh setrip di bawahnya.

Pemenang laga Jonatan versus Firman akan bertemu dengan pemenang partai unggulan pertama kualifikasi asal Thailand Boonsak Ponsana dengan wakil merah putih, Andre Marteen. (*)


Wakil tuan rumah di Indonesia Super Series Premier 2015

Tunggal putra:
Kualifikasi:Andre Marteen, Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, Riyanto Subagja, Wisnu Yuli, Sony Dwi Kuncoro, Andre Kurniawan Tedjono, Ihsan Maulana Mustofa, Thomi Azizan Mahbub
Babak utama:Dionysius Hayom Rumbaka, Tommy Sugiarto


Tunggal putri:
Kualifikasi: Maria Febe Kusumastuti (x1), Hana Ramadhini, Dinar Dyah Ayustine, Yosephine Susanto, Ruseli Hartawan,Bellaetrix Manuputty, Aprilia Yuswandari,Fitriani, Gregoria Mariska, Lindaweni Fanetri (x2)
Babak utama: Adriyanti Firdasari

Ganda putra:
Kualifikasi:Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto,Arya Maulana/Akbar Bintang, Yohanes Rendy Sugiarto/Alfiat Yuris Wirawan,Berry Anggriawan/Rian Agung Saputro, Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana, Hantoro/Adi Kenas
Utama: Markis Kido/Agripinna Prima, Ade Yusuf/Wahyu Nayaka, Markus Fernaldi/Kevin Sanjaya, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (x3), Angga Pratama/Ricky Karanda,Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan

Ganda putri:
Kualifikasi:Apriani/Jauza Sugiarto, Gebby Ristiyani/Tiara Rosalia, Melati Daeva/Gloria Emanuelle Widjaja (x4), Rika Rositawati/Annisa Saufika, Surya Della/Meiliana Jauhari, Ririn Amelia/Nugraheny Ristya Ayu, Nisak Puji Lestari/Merisa Cindy Sahputri, Komala Dewi/Vita Marissa, Suci Risky Andini/Mareta Dea Giovani, Weni Anggraini/Ruselli Hartawan,Della Destiara/Melvira Oklamona
Utama: Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi, Devi Tika/Keshya Nurvita, Dian Fitriani/Nadya Melati, Nitya Krishinda/Greysia Polii (x6),

Ganda campuran
Kualifikasi: Fran Kurniawan/Komala Dewi, Irfan Fadilah/Weni Anggraini,Panji Akbar/Apriani, Muhhamd Rijal/Shendy Puspa, Andrei Adistia/Vita Marissa, Hafiz Faizal/Shella Devi Aulia, Agripinna Prima/Rizki Amelia Pradipta
Utama:Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja, Riky Widianto/Richi Dili,Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (x3), Ronald Alexander/Melati Daeva Oktaviani, Markis Kido/Pia Zebadiah, Praveen Jordan/Debby Susanto, Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika

x=unggulan

Absen Sirnas demi Target Piala Wali Kota

Sabtu, 23 Mei 2015

TERATAS: Sony Dwi Kuncoro (foto:djarum)

DRAWING (undian) Piala Wali Kota 2015 sudah dirilis. Sony Dwi Kuncoro menjadi unggulan teratas tunggal putra.

Ranking yang dimiliki, 116, masih tertinggi di antara para peserta lain. Lelaki yang hampir 15 tahun menjadi penghuni Pelatnas Cipayung tersebut juga serius menatap event yang dilaksanakan 26-31 Mei itu.

Bahkan, untuk konsentrasi di Piala Wali Kota Surabaya 2015, Sony pun memilih absen dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Jawa Barat yang dilaksanakan di Bogor. Meski, akhirnya, turnamen itu dipindah ke Pelatnas Cipayung karena sebuah persoalan.

Padahal, sepekan sebelumnya, Sony turun dalam Seri Jakarta. Hanya, dia gagal menjadi juara karena langkahnya terhenti di perempat final.

''Saya absen di Seri Jabar buat persiapan ke Piala Wali Kota,'' terang Sony.

Sayangnya, karena tak masuk dalam kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), poin dari Piala Wali Kota Surabaya 2015 tak masuk hitungan. Artinya, ranking mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut tetap terjerembab di kisaran di bawah 100 dunia.

Hanya, Piala Wali Kota Surabaya 2015 juga punya sisi positif bagi Sony. Dia bisa menjadikannya sebagai ajang pemanasan sebelum tampil di turnamen bergengsi, Indonesia Super Series Premier 2015. Turnamen berhadiah total USD 800 ribu tersebut dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada 2-7 Juni mendatang.
Sony pun memperoleh kesempatan berlaga meski harus melalui dari babak kualifikasi.

Daftar unggulan di Piala Wali Kota Surabaya 2015 (4 besar)

Tunggal putra:
1. Sony Dwi Kuncoro (Tjakrindo Masters)
2.Rifan Fauzin (Pelita Bakrie)
3.Thomi Azizan Mahbub (Djarum)
4. Febriyan Irvannaldy

Tunggal putri:
1. Aprilia Yuswandari (Semen Gresik)
2. Ganis Nurrahmandani (Pertamina)
3.Febby Angguni (Tjakrindo Masters)
4. Ana Rovita (Djarum)

Ganda putra
1.Adrian Liu/Derrick Ng (Kanada)
2. Christopher Rusdianto/Trikusuma Wardhana (Suryanaga)
3. Franky Wijaya/Sabar Karyawan (Exist)
4.Qin Chenlin/Zhang Yuxiang (Tiongkok)

Ganda putri
1. Devi Tika/Keisya (Berkat Abadi)
2.Ririn Amelia/Shendy Puspa (Djarum)
3.Deariska Putri/Nurbeta Kwanrico (Djarum)
4. Matsumo Mayu/Nagahara Wakana (Hokuto Bank)

Ganda campuran
1.Ardiansyah/Devi Tika (Berkat Abadi)
2.Trikusuma Wardhana/Meiliana Jauhari (Suryanaga)
3.Rizky Hidayat/Kesya Nurvita (Wima/Berkat Abadi)
4.Akbar Bintang/Ristya Ayu (Djarum)

Dua Kali Berpasangan, Dua Kali Juara

SEMENTARA: Christopher/Trikusuma (foto:djarum)

FRAN Kurniawan bukan pasangan Trikusuma Wardhana. Namun, bersama lelaki yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut, dia dua kali merasakan menjadi juara nomor ganda putra dalam ajang sirkuit nasional (sirnas) 2015.

Dalam Seri Bogor yang finalnya dilaksanakan di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, tersebut, pasangan Trikusuma/Fran menundukkan Agripinna Prima/Andrei Adistia (Jaya Raya/Djarum) 21-18, 15-21, 21-19. Trikusuma dan Fran juga bukan berasal dari klub yang sama. Trikusuma dari Suryanaga sedang Fran binaan Djarum Kudus.

Sepekan sebelumnya, dalam final,  Sirnas Jakarta di GOR Asia-Afrika, Trikusuma/Fran menundukkan paangan Jaya Raya Markis Kido/Irfan Fadilah dengan dua game langsung 21-17, 21-17. Saat itu, keduanya baru menjalani debut.

Biasanya, Trikusuma berpasangan dengan Christopher Rusdianto. Bahkan, dalam Seri I atau Seri Palembang, pasangan yang sama-sama dari Suryanaga Surabaya tersebut menjadi juara. Dalam final di GOR Jakabaring pada 28 Februari 2015, mereka menundukkan Ardiansyah/Rizky Hidayat (Berkat Abadi Banjarmasin/Wima Surabaya) dengan 16-21,23-21, 21-8.

Namun, di seri berikutnya atau Seri Manado, Trikusuma/Christopher gagal menjadi juara. Mereka sudah tumbang di babak awal.

Di Seri Bogor, sebenarnya, Christopher juga turun ke lapangan. Putra mantan Sekjen PP PBSI Yacob Rusdianto tersebut berpasangan Ricky Alverino dari Djarum Kudus. Namun, di babak kedua, mereka menyerah kepada Agripinna/Andrei dengan straight game 21-13, 23-21.

Setelah Seri Bogor, seri V akan dilaksanakan di GOR Amongrogo dan Kridosono pada 18-22 Agustus. (*)


Distribusi juara Sirnas Jabar 2015

Tunggal putra: Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma Bandung) v Alamsyah Yunus (JR Enkei) 18-21, 21-18, 21-15

Tunggal putri: Hera Desiana (Mutiara Bandung) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik) 21-17, 21-18

Ganda putra:Fran Kurniawan/Trikusuma Wardhana (Djarum Kudus/Suryanaga)  v Agripinna Prima/Andrei Adistia (Jaya Raya/Djarum) 21-18, 15-21, 21-19

Ganda putri:Pia Zebadiah/Wenny Angraini (Jaya Raya) v Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina) 17-21, 21-12, 21-13

Ganda campuran: Irfan Fadilah/Pia Zebadiah (Jaya Raya Jakarta) v Fran Kurniawan/Komala Dewi (Djarum Kudus) 21-17, 21-9

Tampil Ragu-Ragu, Indra Bagus Gagal Revans

Indra Bagus Ade Chandra

CEDERA masih membuat penampilan Indra Bagus Ade Chandra belum kembali normal. Meski, dia mengaku sudah fit saat sebelum turun dalam Spanyol Challenge 2015.

Buktinya, Indra pun langsung tersingkir di babak pertama turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Madrid pada Jumat waktu setempat, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut menyerah dua game langsung 11-21, 12-21 kepada Rasmus Fladberg dari Denmark.

''Saya mainnya masih takut dan ragu-ragu. Selain itu, lawan juga bagus,'' ungkap Indra kepada Smashyes.

Ya, Fladber dalam Spanyol Challenge masuk dalam daftar kandidat juara. Dia ditempatkan sebagai unggulan kelima.

Kekalahan ini juga membuat Indra gagal membalas kekalahan (revans). Sebelumnya, pebulu tangkis binaan Tangkas Jakarta itu tahun lalu kalah di Belanda Internasional.

Di Spanyol Challenge, Indra membawa bendera Italia. Ini disebabkan dia menjadi rekan tanding di Negeri Pizza, julukan Italia, tersebut.

Cedera Indra dialami saat dia berlaga dalam Finlandia Challenge. Gara-gara itu, lelaki 27 tahun tersebut sempat menjalani perawatan di rumah sakit.

Rencananya, usai dari Negeri Matador, julukan Spanyol, Indra akan kembali di tanah air. Alasannya, kompetisi di Italia libur. (*)

Sekarang Sudah Bersertifikat BWF

Jumat, 22 Mei 2015

Qomarul Laila (foto:sidiq)

Wasit bulu tangkis bersertifikat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) dari Indonesia bertambah. Menariknya, kaum hawa yang memperolehnya.
--
WAJAH berseri terpancar dari Qomarul Lailia. Dia baru tiga hari  dinyatakan sebagai wasit dengan sertifikat dunia.

"Saya ujiannya di Piala sudirman di Guangdong, Tiongkok, pekan lalu. Di sana, saya di tes tulis juga," kata Lia,sapaan karib Qomarul Laila.

Di ajang event beregu campuran itu, dia juga dites memimpin pertandingan.Salah satunya laga di grup elite, IB, antara Jepang dan Taiwan pada 13 Mei 2015.

Laga yang dipimpinnya adalah nomor ganda campuran antara Kenta Kazuno/Ayane Kurihara dari Jepang melawan Lai Chia Wen/Tseng Min Hao. Pertandingan ini dimenangkan pasangan Negeri Sakura, julukan Jepang, dengan 19-21, 21-18, 21-16. Ini sekaligus mempertegas kemenangan Jepang menjadi 4-1 dan menempatkannya menjadi juara grup.

"Saya juga memimpin pertandingan Israel. Saya ingat karena pebulu tangkis tunggal putra (Misha Zilberman) berani sama pelatih," jelas Lia.

Selai Lia, di Piala Sudirman 2015, BWF juga mengetes Edi Susanto. Hanya, lelaki asal Jakarta itu dijajal kemampuannya sebagai refree.

Bagaimana hasil tes Lia? "Saya sudah dinyatakan lulus. Tapi sertifikatnya  belum saya terima, hanya surat keterangan dari BWF,'' ungkap perempuan 38 tahun yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ketintang 1 Surabaya itu.

Dia juga belum memperoleh kapan sertifikat itu akan di tangannya. Ini, ungkapnya, tergantung BWF.

Hanya, informasi yang diperoleh temannya, ijazah tersebut maksimal turun sebulan setelah tes. Meski belum di tangan, namun Lia sudah mendapat kepercayaan memimpin pertandingan turnamen bergengsi, Indonesia Super Series Premier 2015  yang dilaksanakan di Jakarta pada 2-7 Juni.

''Sebenarnya, pingin memenuhi undangan ke berbagai turnamen di luar negeri. Hanya, saya tidak enak dengan pihak sekolah kalau lama meninggalkan anak-anak,'' ucap Lia. (*)

Indocock Bantu Pelaksaan Porprov Jatim 2015

KOLABORASI: Wijanarko dan Sungkono

SUNTIKAN bagi pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2015 cabang bulu tangkis. Itu setelah Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (Pengprov PBSI) Jatim menggandeng Indocock sebagai sponsor.

''Indocock akan membantu dalam penyediaan shutllecock selama penyelenggaraan Porprov cabang bulu tangkis nanti di Banyuwangi. Kami dapat bantuan sekitar 400 slop,'' kata Ketua Pengprov PBSI Jatim Wijanarko Adi Mulya saat bertemu dengan pemilik Indocock Sungkono di Surabaya pada Kamis siang (21/5).

Jumlah shuttlecock itu, jelasnya, bila dinominalkan bisa mencapai Rp 35 juta. Selain itu, pihak Indocock juga membantu kaos bagi petugas pertandingan.

''Jadi, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Om Sung (sapaan karib Sungkono). Kepeduliannya kepada bulu tangkis memang layak diapresiasi,'' ujar Wijar, sapaan karib Wijanarko.

Semua daerah di Jatim bakal unjuk kebolehan di cabor bulu tangkis dalam porprov nanti. Bukan hanya i nomor perorangan tapi juga beregu.

Surabaya tetap diunggulkan menjadi juara umum di Banyuwangi nanti. (*)

Enam Negara Asing Ikut Piala Wali Kota Surabaya

Bayu Wira (foto:sidiq)

GELARAN Piala Wali Kota 2015 tetap punya gengsi tinggi. Enam negara asing memastikan ikut ambil bagian dalam kejuaraan bulu tangkis yang dilaksanakan di Surabaya pada 26-31 Mei tersebut.\

''Bahkan, ada negara Eropa dan Amerika yang ikut yakni Prancis dan Kanada. Sementara dari Asia ada Malaysia, Jepang, Tiongkok, dan India,'' kata Bayu Wira, ketua panitia pelaksana Piala Wali Kota Surabaya 2015.

Ini,tambah dia, akan membuat persaingan menjadi juara semakin ketat. Belum lagi kehadiran pebulu tangkis klub-klub besar seperti Djarum Kudus, Jaya Raya Jakarta, Tangkas Jakarta, Mutiara Bandung, maupun Suryanaga Surabaya.

''Jumlah peserta sekitar 1.300 peserta. Memang, jumlah ini masih kalah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,'' ungkap Bayu.

Alasannya, tambah dia, karena tahun ini pihak panitia tak mengadakan nomor anak-anak. Biasanya, lanjut Bayu, pesertanya sangat banyak.

''Kami memakai dua gedung. Satu GOR Soedirman dan satu GOR di Kenjeran,'' jelas lelaki yang merupakan ayah dari pebulu tangkis PON Jatim Roy Danu tersebut.

Piala Wali Kota Surabaya merupakan salah satu turnamen bergengsi. Banyak pebulu tangkis top yang memulai karirnya di ajang tahunan tersebut.

Pebulu tangkis papan atas dunia , PV Sindhu dari India, Lee Dong-keun dari Korea Selatan, dan  Kenichi Tago pernah tampil di Piala Wali Kota Surabaya. Kini, ketiganya menjadi andalan negaranya masing-masing. (*)


Juara kelompok dewasa Piala Wali Kota Surabaya 2014

Tunggal putra:Febriyan Irvannaldy (Wima Surabaya)

Tunggal putri: Aya Ohori (Jepang)

Ganda putra: Afiat Yuris Wirawan/Yohanes Rendy Sugiarto (Djarum Kudus)

Ganda putri: Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina)

Ganda campuran: Ardiansyah Putra/Devi Tika (Berkah Abadi Banjarmasin/SGS Bandung)

Turun karena Tak Ada Teman Berlatih

Kamis, 21 Mei 2015

KLUB:Kido/Irfan di Seri Jakarta (foto:djarum)

ADA yang berbeda dalam dua Sirkuit Nasional (Sirnas) terakhir. Di Jakarta dan Bogor, host Sirnas Jabar, ada nama Markis Kido.

Tak biasanya, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut turun ke ajang sirnas. Waktunya lebih banyak dihabiskan tampil di berbagai turnamen internasional dari satu negara ke negara lain.

Hanya, dalam Seri Jakarta, Kido gagal menjadi juara. Langkahnya hanya mampu menembus babak final nomor tunggal putra.

Berpasangan dengan Irfan Fadilah, mereka dihentikan oleh pasangan Fran Kurniawan/Trikusuma Wardhana dengan dua game 21-17, 21-17 di GOR Asia Afrika pada 16 Mei lalu. Kido/Irfan membawa bendera klubnya, Jaya Raya Jakarta.

Di Bogor, pasangan Kido/Irfan sudah menembus babak kedua. Di babak pertama yang dilaksanakan di GOR Pajajaran, mereka menundukkan pasangan Djarum Kudus Jeka Wiratama/Rafiddias Nugroho 21-10, 21-19.

''Semua pebulu tangkis Jaya Raya turun di Sirnas Jakarta dan Bogor. Kalau saya nggak main, nggak ada teman di Jaya Raya,'' ungkap Kido.

Akhirnya, dia pun memutuskan ikut ambil bagian. Hanya, dia tak bersama pasangannya sekarang, Agripinna Prima.  Meski, sebenarnya, Agripinna juga turun dalam Seri Jabar setelah di Jakarta absen.

Alasan lain Kido unjuk kebolehan di sirnas karena tak ada jadwal internasional yang harus diikuti. Hanya, usai dari Bogor, dia harus bersiap-siap berlaga dalam Australia Super Series 2015 yang dilaksanakan di Sydney pada 26-31 Mei mendatang. (*)

Pak Tua Tantang Wakil Pelatnas

Jeffer Rosobin (foto:djarum)

USIA Jeffer Rosobin sudah tak muda lagi. Tahun ini, dia sudah menginjak 39 tahun.

Namun, itu tak mengurangi semangatnya tampil dalam setiap Sirkuit Nasional (SIrnas) yang diikuti. Bahkan, tahun lalu, juara Asia 1996 itu mampu menjuarai salah satu seri.

Kini, dalam Sirnas Seri Jawa Barat (Jabar), Jeffer kembali ikut ambil bagian. Langkahnya pun sudah sampai babak ketiga.

Tiket itu ada di tangannya setelah memperoleh bye di babak kedua dalam pertandingan yang dilaksanakan di GOR Pajajaran, Bogor, pada Rabu waktu setempat (20/5/2015). Di babak pertama sehari sebelumnya, Jeffer dipaksa bertarung ketat selama tiga game 21-18, 18-21, 22-20 oleh Fahmi Mubarok dari PB Candra Wijaya.

Hanya, untuk bisa menembus perempat final, tentu butuh perjuangan berat. Jeffer akan berhadapan dengan unggulan ke-12 Enzi Safira. Wakil Pelatnas Cipayung itu lolos babak ketiga usai menundukkan Indrue Tampi dari Tangkas Jakarta dengan 21-12, 21-15.

Di nomor tunggal putra, Jeffer merupakan pebulu tangkis paling tua. Memang, di ganda putra, masih ada Tri Kusharjanto, yang usianya dua tahun di atasnya.

 Dalam Sirnas Jabar ini, Alamsyah Yunus dari JR Enkei tetap menjadi kandidat utama juara. Penampilannya pun tengah on fire.

Pekan lalu, dia menjadi juara Sirnas Jakarta. Gelar itu pun menjadi awal langkahnya untuk merebut posisi terhormat di seri-seri yang lain. (*)

Finalis Memulai dari Babak Kualifikasi

Rabu, 20 Mei 2015

Simon dan Lin Dan  2014 (foto:badzine)

TAMPIL dari babak kualifikasi sekarang sudah biasa bagi Simon Santoso. Khususnya dalam turnamen super series atau super series premier.

Kali ini, dia lakoni dalam Australia Super Series 2015. Bahkan, perjuangan Simon Santoso cukup berat.

Dalam penampilan perdananya, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut langsung bertemu dengan unggulan ketiga dari Korea Selatan Lee Dong-keun. Dalam sisi ranking, Simon lima setrip di bawah lawannya yang kini di posisi 34.

Hanya, dalam rekor pertemuan (head to head), mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut unggul 3-1. Salah satu kemenangan yang dipetik Simon terjadi tahun lalu di turnamen yang sama, Australia Super Series. Saat itu, dia menang dua game langsung 21-18, 21-16.

Hanya, saat ini, penampilan lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, tersebut tengan menurun. Akhir bulan lalu, Simon langsung tersingkir di Selandia Baru Grand Prix Gold usai ditundukkan Lin Gui Pu dari Tiongkok dengan dua game yanag mudah 12-21, 9-21. Jika menang dari Dong-keun, Simon sudah ditunggu pemenang Chong Wei Feng melawan Riichi Takeshita.

Pada Australia Super Series 2014, SimTunon mampu menembus babak final. Sayang, langkahnya dihentikan oleh Lin Dan dari Tiongkok dengan rubber game 24-22,16-21, 7-21.

Tahun ini, Super Dan, julukan Lin Dan, kembali ikut ambil bagian. Dia diunggulkan di posisi kedua setelah rekan senegaranya, Chen Long. (*)

Wakil Indonesia di Australia Super Series 2015
Tungal putra:
Kualifikasi: Simon Santoso
Utama: Tommy Sugiarto

 Tunggal putri:-

Ganda putra:
Kualifikasi:-
Utama: Ade Yusuf/Wahyu Nayaka, Markis Kido/Agripinna Prima, Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan (x2)

Ganda putri:
Kualifikasi: Suci Rizky Andini/Maretha Giovani (x4)
Utama: Pia Zebadiah/Amelia Pradipta, Greysia Polii/Nitya Krishinda x4), Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi

Ganda campuran
Kualifikasi: Agripinna Prima/Amelia Pradipta
Utama: Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja, Markis Kido/Pia Zebadiah,Praveen Jordan/Debby Susanto, Riky Widianto/Richi Dili Puspita, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

x=unggulan

Indra Bagus Kembali ke Lapangan

FIT: Indra Bagus Ade Candra
INDRA Bagus Ade Chanda kembali turun ke lapangan. Pebulu tangkis Indonesia yang membela bendera Italia tersebut turun dalam Spanyol Challenge 2015 yang dilaksanakan di Madrid, Spanyol, pada 21-24 Mei tersebut.

''Ya, saya akan turun. Sudah dua minggu ini,kondisi saya terus membaik,'' kata Indra melalui pesan singkat kepada smashyes.

Sebelumnya, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut mengalami cedera. Ketika itu, dia tampil dalam Finlandia Challenge yang digelar pada awal April. 

Dia sempat dipapah saat ke luar lapangan. Indra pun harus dibawa ke rumah sakit. 

Karena cedera itu pula, lelaki asal klub Tangkas tersebut absen dalam beberapa turnamen. Untung, itu tak membuat Indra peringkatnya turun drastis.

Dari ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Indra masih berada di 100 ebesar atau tepatnya posisi 74. 

Bahkan, tak menutup kemungkinan, rankingnya kembali naik. Syaratnya,Indra mampu berbicara banyak dalam Spanyol Challenge.

Hanya, lawan berat sudah menantinya di babak pertama. Indra langsung berteemu dengan unggulan kelima asal Denmark Rasmus Fladberg. Baginya, lawan berperingkat 56 dunia itu bukan seteru asing.

Dia pernah kalah saat berjumpa dalam Belanda Terbuka tahun lalu. Saat itu, Indra takluk dua game langsung 20-22 13-21. 

''Iya, langsung ketemu unggulan,'' ujar Indra. (*)

Masih Susah Bendung Alamsyah

Senin, 18 Mei 2015

RAJA:Alamsyah Yunus (foto:djarum)


PERBURUAN gelar Sirkuit Nasional (Sirnas) 2015 kembali dilakoni Alamsyah Yunus. Dia berusaha mengejar posisi terhormat lagi dalam Seri Jawa Barat yang dilaksanakan di GOR Padjajaran, Bogor, 18-23 Mei.

Pekan lalu, Alamsyah mampu menjadi juara dalam Sirnas Jakarta. Dalam final yang dilaksanakan di GOR Asia-Afrika pada 16 Mei, lelaki yang membela bendera JR Enkei mengalahkan wakil Guna Dharma Bandung Setyali Putra Wibowo dengan rubber game 19-21, 21-8, 21-18.

Kans mengulangi sukses pun terbuka lebar. Lawan-lawan yang dihadapi relatif sama. Bahkan, salah satu pebulu tangkis yang bisa menjadi pengganjal langkahnya, Sony Dwi Kuncoro, absen.

''Saya memang tak mendaftar Sirnas Jawa Barat,'' terang Sony kepada smashyes.

Ya, di ajang sirnas, Alamsyah hampir selalu mendominasi. Bahkan, pada 2013 dan 2014, dia mendapat julukan Raja Sirnas karena mampu mengoleksi banyak gelar.

Hanya, dalam dua seri awal 2015 di Palembang (Sumatera Selatan) dan Manado (Sulawesi Utara), Alamsyah tak ikut. Akibatnya, pebulu tangkis Pelita Bakrie Jakarta Rifan Fauzin mampu menjadi pemenang.

Tapi, di Seri Jakarta, Rifan tak berdaya. Bahkan, dia sudah tersingkir di babak kedua.

Kini, di Kota Hujan, julukan Bogor, Rifan kembali turun. Dia pun diunggullkan di posisi kedua.

Hanya, di atas lapangan, Rifan masih kalah dari Alamsyah baik dari skill maupun jam terbang. (*)


Juara kelompok dewasa di Sirnas Jakarta

Tunggal putra:Alamsyah Yunus v Setyaldi Putra Wibowo 19-21, 21-8, 21-18

Tunggal putri: Ganis Nurahmadani v Hera Desi 19-21,21-7 (ret)

Ganda putra: Fran Kurniawan/Trikusuma Wardhana v Irfan Fadilah/Markis Kido 21-17, 21-17

Ganda putri:Dian Fitriani/Nadya Melati v Meirisa Cindy/Nisak Puji Lestari 21-14, 21-10

Ganda campuran: Andrei Adistia/Vita Marissa v Fran Kurniawan/Komala Dewi 18-21, 21-19, 23-21

Jonatan-Firman Proyeksi Gold Coast

Jonatan Christie saat melawan Chen Long (foto:thestar).

PP PBSI sudah mengambil sikap tegas jelang Piala Sudirman 2015. Induk organisasi olahraga tepok bulu tersebut hanya memberangkatkan atlet yang bernaung di Pelatnas Cipayung.

Salah satu risikonya, Indonesia hanya mengandalkan pebulu tangkis minim pengalaman di nomor tunggal. Jam terbang Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, dan Ihsan Maulana masih sangat minim di ajang internasional.

Mereka masih kalah jauh dengan dua senior yang memutuskan cabut dari Cipayung yakni Tommy Sugiarto dan Simon Santoso. Imbasnya, nomor tunggal putra selalu dipandang sebelah mata.

Saat melawan Inggris dan Denmark di babak penyisihan Grup IC di Dongguan, Tiongkok, Jonatan dan Firman gagal menyumbangkan angka. Untung, Indonesia akhirnya bisa memenangkan pertandingan dan lolos dengan status juara grup.

Hanya, saat melawan Taiwan di babak perempat final, Jonatan mampu mendonasikan kemenangan. Hanya, dia pun tak berkutik saat berhadapan dengan tunggal putra nomor satu dunia saat ini Chen Long dari Tiongkok.

Kekalahan Jonatan juga membuat Indonesia kalah 1-3 dan terhenti langkahnya di babak semifinal. Ini sekaligus memperpanjang dahaga gelar ajang berebu campuran tersebut menjadi 26 tahun. Ya, sejak menjadi pemenang pada 1989 atau saat Piala Sudirman digelar, Indonesia tak bisa lagi memulangkan trofi sebagai pengharmatan kepada tokoh bulu tangkis dunia Dick Sudirman tersebut.

''Kami sudah berusaha maksimal di Piala Sudirman kali ini,'' terang Chief de Mission Tim Piala Sudirman Indonesia 2015 Ahmad Budiarto.

Hanya, dia mengakui penampilan Indonesia di Negeri Panda, julukan Tiongkok, membuat PBSI memperoleh banyak bekal berharga untuk berlaga dua tahun mendatang di Gold Coast, Australia. Salah satunya Jonatan dan Firman kembali diproyeksikan menjadi pilar.

''Jonatan dan Firman akan menjadi pemain masa depan kita,'' ungkap Budi, sapaan karib Ahmad Budiarto. (*)

Tiongkok 10 Kali Juara Piala Sudirman

Minggu, 17 Mei 2015

DOMINAN:Pesta juara Tiongkok

TIONGKOK mempertahankan gelar Piala Sudirman di kandang sendiri. Dalam final edisi 2015 yang dilaksanakan di Dongguan, Minggu waktu setempat (17/5/2015), Lin Dan dkk mengalahkan Jepang dengan skor 3-0.

Ini membuat Tiongkok menambah koleksi juara dalam event beregu campuran tersebut menjadi 10 kali. Capaian itu susah disamai oleh negara lain.

Selain Negeri Panda, julukan Tiongkok, negara yang pernah mengangkat trofi yang diambil dari nama tokoh bulu tangkis dunia asal Indonesia Dick Sudirman tersebut adalah Indonesa (1989) dan Korea Selatan (1991, 1993, 2003).  Sementara, Tiongkok juara pada edisi 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013, 2015).

Pertandingan final 2015 berlangsung tak sesuai harapan. Tiongkok langsung unggul dalam tiga partai awal dari pasangan ganda putra Fu Haifeng/Zhang Nan, Li Xueri (tunggal putri), dan Lin Dan (tunggal putra).

Bahkan, laga melawan Indonesia di babak semifinal sehari sebelumnya (16/5/2015) masih lebih berat
Saat itu, merah putih masih mampu mencuri satu kemenangan dari nomor ganda putra melalui pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Indonesia pula menjadi satu-satunya negara yang mampu mencuri partai dari Tiongkok di Piala Sudirman 2015. Di penyisihan Grup IA, Jerman dan Thailand disikat 5-0. Kemudian di perempat final, Jerman kembali ditundukkan dengan skor 3-0.

''Tiongkok memang mempunyai materi yang komplet. Hampir semua, bukan di satu nomor saja,'' ungkap Chief de Mission Tim Piala Sudirman Indonesia 2015 Ahmad Budiarto.

Dua tahun mendatang, Piala Sudirman akan dilaksanakan di Gold Coast, Australia.  (*)


Hasil final Piala Sudirman 2015

Ganda putra: Fu Haifeng/Zhang Nan v Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-17, 20-22, 21-17

Tunggal putri: Li Xuerui v Akane Yamaguchi 23-21, 21-14

Tunggal putra: Lin Dan v Takuma Ueda 21-15, 21-13

Akhirnya Hanya Sekali Tampil dan Kalah

Sabtu, 16 Mei 2015


TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir menjadi salah satu harapan Indonesia mendulang poin di Piala Sudirman 2015. Tapi, hingga langkah merah putih terhenti di semifinal oleh tuan rumah Tiongkok di Dongguan pada Sabtu waktu setempat (16/5/2015), keduanya hanya sekali turun ke lapangan.

Hasilnya pun cukup mengecewakan. Tontowi/Liliyana menyerah kepada pasangan ganda campuran Inggris Chris Adcock/Gabrielle Adcock di laga pembuka Grup IC.Dalam pertandingan yang dilaksanakan 11 Mei 2015, mereka kalah dua game langsung 17-21, 18-21.

Ini menjadi kekalahan kedua dalam tujuh kali pertemuan. Sebelumnya, Tontowi/Liliyana juga kalah dalam perjumpaan di babak perempat final Prancis Super Series 2013 dengan dua game 20-22, 17-21. Namun, setelah itu, juara dunia 2013 itu memetik empat kali kemenangan beruntun di Indonesia Super Series Premier 2014, Prancis Super Series 2014, All England Super Series Premier 2015, dan Malaysia Super Series Premier 2015. Satu lagi hasil manis dipetik dalam pertemuan perdana di Singapura Super Series 2013.

Kekalahan saat laga melawan Inggris pun membuat manajemen Tim Piala Sudirman Indonesia 2015 pun mengistirahatkan saat melawan Denmark pada 13 Mei 2015. Merah putih pun menurunkan pasangan lapis kedua Praveen Jordan/Debby Susanto.

Sayang, dalam laga itu, mereka kalah 21-9, 17-21, 11-21 kepada Mads Pieler Kolding/Sara Thygesen. Untung, kekalahan itu tak mempengaruhi posisi Indonesia sebagai juara grup karena tiga partai lain sudah dimenangkan.

Nah, saat partai perempat final melawan Taiwan di babak perempat final (15/5/2015), Tontowi/Lil.iyana juga urung tampil karena kedudukan sudah 3-1. Di agenda, mereka seharusnya berjumpa dengan Chen Hsiao Huan/Wang Chi-lin.

Ini kembali terulang saat melawan Tiongkok di semifinal. Tontowi/Liliyana batal berhadapan Zhang Nan/Zhou Yunlei karena posisi merah putih sudah menyerah 1-3. (*)

Gagal Pulangkan Piala Sudirman


AMBISI memulangkan kembali Piala Sudirman kembali kandas. Ini setelah perjuangan Hendra Setiawan dkk kandas di tangan Tiongkok dengan skor 1-3 pada babak semifinal Piala Sudirman 2015 di Dongguan, Tiongkok, pada Sabtu sore waktu setempat (16/5/2015).

Sebenarnya, Indonesia membuka harapan kemenangan. Pasangan ganda putra Hendra/Mohammad Ahsan menang dua game langsung 21-16, 21-17 atas Cai Yun/Fu Haifeng. Penampilan Yun/Haifeng cukup mengejutkan.

Alasannya, selama ini, keduanya sudah tak pernah tampil bersama karena sudah dipisah sejak Kejuaraan Dunia 2014 lalu. Tampaknya, tuan rumah sengaja melepas partai ini agar Zhang Nan, yang kini jadi pasangan Yun, bisa konsentrasi penuh di ganda campuran bersama kekasihnya, Zhou Yunlei.

Kemenangan Hendra/Ahsan ini membuat mereka selalu menang dalam empat pertemuan terarkhir dan skor berubah menjadi 4-2. Tiga hasil manis dipetik mantan pasangan nomor satu dunia itu di semifinal Kejuaraan Dunia 2013, semifinal Singapura Super Series 2013, dan perempat final Indonesia Super Series Premier 2013.
Sementara, dua pil pahit ditelan Hendra/Ahsan di Piala Sudirman 2009 dan Hongkong Super Series 2012.

Saat ajang Piala Sudirman 2009, Hendra dipasangkan dengan Ahsan sebagai tandem alternatif. Saat itu, dia masih berpasangan dengan Markis Kido.

Sayang, kemenangan Hendra/Ahsan di laga pembuka semifinal Piala Sudirman 2015, gagal diikuti oleh Bellaetrix Manuputty (tunggal putri), Jonatan Christie (tunggal putra), dan Greysia Polii/Nitya Krishinda (ganda putri).

Kegagalan ini membuat Indonesia tak pernah lagi menjadi juara Piala Sudirman sejak 1989 atau kali pertama ajang beregu campuran tersebut dilaksanakan di Jakarta. Saat itu, di final, Indonesia mengahkan Korea Selatan dengan skor tipis 3-2.



Hasil pertandingan Indonesia v Tiongkok 1-3

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Cai Yun/Fu Haifeng 21-16, 21-17

Tunggal putri: Bellaetrix Manuputty v Li Xerui  5-3 (ret)

Tunggal putra: Jonatan Christie v Chen Long 10-21, 15-21

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krishinda v Tang Yuanting/Yu Yang 21-17, 17-21, 15-21

Alamsyah Mengejar Gelar Pertama

FINAL: Alamsyah Yunus (foto:djarum)

ALAMSYAH Yunus kembali turun gunung. Dia pun langsung mampu menembus babak final nomor tunggal putra Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri III di Jakarta.

Pada pertandingan semifinal yang dilaksanakan di GOR Asia-Afrika pada Jumat WIB (15/5/2015), Alamsyah, yang diunggulkan di posisi teratas, menundukkan Fikri Ihsandi Hadmadi, unggulan kelima dari Tangkas Jakarta, dengan rubber game 21-9, 14-21, 21-18.

Di babak pemungkas, lelaki asal JR Enkei itu akan ditantang Setyaldi Putra Wibowo. Pebulu tangkis Guna Dharma Bandung itu menembus babak pemungkas usai menang 21-16, 21-13 atas Eska Riffan Jaya (Mutiara Bandung).

Dalam dua seri sebelumnya, Alamsyah tak ikut ambil bagian. Tanpa dia, juara didominasi oleh wakil Pelita Bakrie Rifan Fauzin yang sukses naik ke podium terhormat di Palembang dan Manado.

Ironisnya di Seri III di Jakarta, dia sudah tumbang di babak kedua. Rifan dipaksa menyerah oleh Vicky Angga Saputra (Tangkas) dengan dua game yang mudah 8-21, 16-21.

Kejutan lain di ibu kota adalah gagalnya mantan tunggal putra terbaik Indonesia Sony Dwi Kuncoro. Langkah arek Suroboyo ini dihentikan oleh Setyaldi di perempat final 21-16, 17-21, 15-21. (*)


Juara tunggal putra:
Seri I di Palembang (23-28 Februari): Rifan Fauzin (Pelatprov DKI)  v Panji Akbar (Pelatprov DKI) 21-13, 21-23, 21-15

Seri II di Manado (27 April-2 Mei) :Rifan Fauzin (Pelita Bakrie) v Alvindo (Tangkas ) 13-21, 21-11, 21-15

Akui Materi Korsel Lebih Bagus

TANGGUH: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (foto:tst)

LANGKAH Malaysia di Piala Sudirman 2015 sudah terhenti. Di babak kedua atau perempat final, negeri jiran dihentikan oleh Korea Selatan dengan skor 1-3.

Sebenarnya, Malaysia masih berharap menembus semifinal. Alasannya, Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, pernah dikalahkan di babak penyisihan Grup ID dengan skor tipis 3-2.

Sayang, di babak kedua, hanya Lee Chong Wei yang mampu mengulangi merebut poin. Mantan tunggal putra nomor satu dunia tersebut menundukkan Son Wan-ho 21-17, 21-12.

Sementara, pasangan ganda putra, Goh V Shem/Tan Wee Kiong gagal mempermalukan lagi pasangan nomor satu dunia Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Mereka kalah dua game langsung 18-21, 16-21.

Sementara, tunggal putri Malaysia Tee Jing Yi sudah menyerah kepada Sung Ji-hyun. Sehingga ganda putri Vivian Kah/Woo Khe Wei tak bisa menanggung beban sebagai penentu dan menyerah kepada Chang Ye-na/Jung Kyung-eun.

''Materi Korea Selatan lebih merata,'' kata Hendrawan, salah satu pelatih Tim Piala Sudirman Malaysia.

Terhenti di babak kedua ini sebenarnya merupakan peningkatan dibandingkan dua tahun lalu. Saat itu, negeri jiran sudah tumbang di babak penyisihan. Padahal, ketika itu, Malaysia menempati unggulan dan juga berstatus tuan rumah.

Sejak kali pertama Piala Sudirman digelar pada 1989, capaian terbaik Malaysia adalah menembus babak semifinal pada 2009 di Guangzhou. Langkah Chong Wei dkk dihentikan tuan rumah dengan skor telak 0-3.(*)

Liliyana Hanya Fokus Ganda Campuran

Greysia/Nitya bakal diturunkan lawan Tiongkok

INDONESIA tak bisa mengelak lagi. Di babak semifinal yang dilaksanakan di Dongguan, Tiongkok, Sabtu (16/5/2015), merah putih bertemu dengan Tiongkok.

Sebelumnya, pasukan Pelatnas Cipayung berusaha menghindari Negeri Panda, julukan Tiongkok, dengan menjadi juara grup IC. Ya, dalam aturan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), sesama juara grup tak akan bertemu di perempat final.

Nah, di perempat final, Indonesia mampu mengalahkan Taiwan dengan skor 3-1 dan tuan rumah melibas Denmark dengan tiga partai langsung tanpa balas. Nah, kemenangan itu pun membuat kedua negara berjumpa untuk berebut tiket final.

Dua tahun lalu di Kuala Lumpur, Malaysia, Indonesia dua kali kalah yakni di penyisihan grup dan perempat final. Di grup, Liliyana Natsir dkk kalah telak 0-5. Namun, di perempat final, merah putih kalah tipis 2-3.

Kecerdikan Indonesia membuat kekalahan dengan skor telak tak terjadi lagi.Liliyana dipaksa bermain di dua partai.

Ini membuat nomor ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana turun di partai pertama dan memetik kemenangan atas pasangan Tiongkok Xu Chen/Ma Jin 21-18, 14-21, 21-16. Satu poin lagi disumbangkan Angga Pratama/Rian Agung Saputro yang melibas juara dunia lima kali Cai Yun/Fu Haifeng 19-21, 21-18, 21-15.

Sayang, di tiga partai lainnya, tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putri, wakil Cipayung takluk. Khusus di ganda putri, Liliyana tampil dan berpasangan dengan Nitya Krishinda.

''Kami belum memutuskan komposisinya. Tapi, kemungkinan tak akan ada banyak perubahan,'' kata Chie de Mission Tim Piala Sudirman Indonesia Ahmad Budiarto.

Besar kemungkinan, strategi dua tahun lalu pun tak akan diulangi. Artinya, Liliyana tetap konsentrasi tampil di ganda campuran saja.

''Ganda putri kami, Greysia Polii/Nitya Krishinda sudah bisa diandalkan. Mereka kan juga juara Asian Games sebagai bukti kesolidan,'' ungkap Budi, sapaan karib Ahmad Budiarto. (*)


Perkiraan susunan partai Indonesia v Tiongkok
Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Cai Yun/Zhang Nan

Tunggal putra: Jonatan Christie v Lin Dan

Tunggal putri: Lindaweni Fanetri v Li Xuerui

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krishinda  v Tang Yuanting/Yu Yang

Ganda campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir v Zhang Nan/Zhou Yunlei

Kuncinya di Jonatan Christie

Jumat, 15 Mei 2015


LANGKAH Indonesia sudah sampai babak semifinal Piala Sudirman 2015. Hendra Setiawan dkk mampu mengalahkan Taiwan dengan skor 3-1 dalam laga perempat final yang dilaksanakan di Dongguan, Tiongkok, pada Jumat waktu setempat (15/5/2015).

Tiga kemenangan merah putih disumbangkan pasangan ganda putra Hendra/Mohammad Ahsan, Jonatan Christie (tunggal putra), dan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri). Satu-satunya partai yang lepas adalah di tunggal putri yang diwakili Bellaetrix Manuputty.

Kemenangan dengan skor 3-1 ini sebenarnya di luar dugaan. Prediksi awal, merah putih akan menembus babak empat besar dengan kemenangan tipis 3-2.

Selain tunggal putri, nomor tunggal putra juga diperkirakan bakal lepas.

Alasannya, Indonesia mengirimkan tunggal putra yang masih minim pengalaman. Selain Jonatan Christie, ada nama Firman Abdul Kholik.

Keduanya pebulu tangkis yang masih hijau. Usia keduanya pun belum genap 20 tahun.

Dari sisi ranking pun, Jonatan dan Firman belum terlalu bagus.Dari ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Jonatan ada di posisi 63. Sedangkan Firman 10 setrip di bawah Jonatan.

Sedangkan Taiwan mempunyai Chou Tien Chen yang sekarang berada di posisi ketujuh dunia. Tapi, entah mengapa, dia tak ditampilkan saat melawan Indonesia.

Padahal, dalam dua laga penyisihan, Tien Chen yang dipercaya. Hanya, saat melawan Indonesia, Taiwan lebih mempercayakan kepada Hsu Jen Hao yang rankingnya masih di bawah Tien Chen yakni 24.

Pemilihan ini membawa keuntungan bagi Indonesia. Meski, sebenarnya, beban berat juga di pundak Jonatan.

Di game pertama, juara Indonesia Challenge 2013 itu unggul mudah 21-12. Tapi, kondisi berbalik di game kedua dan Jonatan tumbang 13-21.

Nah, tanda-tanda Indonesia akan kehilangan poin terbentang saat Jonatan sempat tertinggal jauh. Tapi, semangat pantang menyerah pebulu tangkis Jaya Raya tersebut membuat Indonesia bisa unggul 2-1 dan dituntaskan Greysia/Nitya menjadi 2-1.

''Alhamdulillah, Indonesia bisa menembus babak semifinak,'' ujar Chief de Mission Tim Piala Sudirman Indonesia 2015 Ahmad Budiarto.

Dalam semifinal Sabtu (16/5/2015), Indonesia menantang juara bertahan Tiongkok. (*)


Hasil pertandingan Indonesia v Taiwan

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Lee Shen Mu/Tsai Chia Hsin 21-17, 21-18.

Tunggal putri: Bellaetrix  Manuputty v Tai Tzu Ying 17-21, 17-21

Tunggal putra: Jonatan Christie v Hsu Jen Hao 21-12, 13-21, 21-16

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krishinda v Hsieh Pei Chen/Wu Ji Tung 21-14, 21-9

Bukan Piala Sudirman, tapi Sirnas Jakarta

Kamis, 14 Mei 2015

LEVEL:Sony Dwi Kuncoro (foto:djarum)

SONY Dwi Kuncoro pernah menjadi andalan Indonesia di Piala Sudirman. Hanya, dalam edisi 2013, namanya sudah tak masuk daftar dalam kejuaraan beregu campuran tersebut.

Padahal, dua tahun sebelumnya, Sony merupakan satu-satunya pebulu tangkis Indonesia yang menyumbangkan kemenangan saat merah putih dipermalukan Korea Selatan dengan 1-3 di babak semifinal. Kini, pada Piala Sudirman 2015, Sony sudah terlempar.

Apalagi, statusnya bukan lagi sebagai penghuni Pelatnas Cipayung. Ya, sejak awal 2014, arek Suroboyo tersebut dipaksa meninggakkan Cipayung yang sudah hampir 14 tahun ditinggalnya.
Kini, saat rekan-rekannya di Pelatnas Cipayung berlaga di Piala Sudirman di Dongguan, Tiongkok, Sony juga turun ke lapangan. Hanya, level yang diikutinya jauh di bawah event yang hanya sekali dijuarai Indonesia pada edisi pertama 1989 tersebut.

Kini, Sony tengah turun dalam Sirkuit Nasional Seri Jakarta. Dia pun ditempatkan sebagai unggulan kedua.

Dalam ajang yang digeber di GOR Asia-Afrika itu, Sony sudah menembus babak perempat final.

Tiket itu digenggamnya usai menundukkan Hermansyah dari Jaya Raya dengan dua game yang mudah 21-8, 21-11. Di perempat final, Sony, yang kini membela bendera Tjakrindo Masters akan dijajal Setyaldi Putra Wibowo.

Pebulu tangkis Guna Dharma Bandung itu lolos usai menang tiga game 12-21, 21-12, 21-9 atas Panji Akbar (Pelita Bakrie). Di sirnas ini, Setyaldi tampil dari babak kualifikasi.  Jakarta merupakan penampilan perdana Sony dalam sirnas tahun ini. (*)

Nomor Tunggal Bisa Lepas

NO EMPAT: Tai Tzu Ying (foto:allengland)

UNDIAN babak perempat final sudah dirilis. Indonesia, selaku juara grup IC, dipastikan tak akan bertemu dengan para pemuncak penyisihan seperti Tiongkok (IA), Jepang (IB), dan Malaysia (ID).

Nah, para pesaingnya pun adalah Jerman (runner up IA), Taiwan (runner up IB), Denmark (runner-up IC), dan Korea Selatan (runner-up ID). Nah, saat diundi, Hendra Setiawan dkk berjumpa dengan Taiwan. Pertandingan akan dilaksanakan pada Jumat waktu Dongguan, Tiongkok (15/5/2015).

Meski hanya mampu menjadi runner-up di bawah Jepang, tapi kemampuan Taiwan tak boleh dianggap enteng. Negeri yang sering disebut sebagai Tiongkok Laut tersebut mempunyai pebulu tangkis papan atas dunia.

Bahkan, berdasar hitungan di atas kertas, Indonesia bisa tergelincir. Dua nomor, tunggal putra dan tunggal putri, Taiwan punya kans besar merampas kemenangan.

Di tunggal putra, mereka mempunyai Chou Tien Chen.Dalam ranking dunia terakhir, dia ada di posisi ketujuh.

Dibandingkan dengan dua tunggal putra merah putih, Jonatan Christie dan Firman Abdul Kholik, dia unggul jauh.  Jonatan ada di ranking 63 dan Firman di posisi 71.

Memang, Jonatan dan Firman belum pernah bertemu Tien Chen. Hanya, ranking sudah berbicara bahwa susah untuk menang di tunggal putra.

Begitu pula di tunggal putri. Andalan Taiwan Tai Tzu Ying tengah on fire.Bulan lalu, dia baru saja menjadi juara turnamen Singapura Super Series.

Gelar itu pula yang mendongkrak posisi Tzu Ying ke ranking keempat. Coba bandingkan dengan Lindaweni Fanetri dan Bellaetrix Manuputty.

Saat ini, Lindaweni berada di posisi 36. Dia juga pernah ditundukkan  Tzu Ying di final Taiwan Open 2012 dengan 19-21, 20-22, 20-22.

Sementara, Bella,sapaan karib Bellaetrix, terpuruk di posisi 51. Dia juga menelan tiga kali kekalahan dalam lima pertemuan. Ironisnya, pil pahit terakhir dari Tzu Ying ditelannya dalam Kejuaraan Dunia 2014 dengan dua game yang mudah 12-21, 14-21.

Satu lagi nomor yang bisa menjadi alarm bahaya dari ganda putra. Meski punya rekor kemenangan lebih banyak, tapi ganda putra terbaik Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pernah dipermalukan wakil Taiwan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin di Malaysia Open 2014 dengan 10-21, 21-19, 13-21. Untung, kekalahan itu dibalas di Asian Games Incheon, Korea Selatan, 2014 dengan 21-19, 21-18. Kemenangan tersebut sekaligus membuat Hendra/Ahsan menang lima kali atas lawannya tersebut. (*)

Perkiraan susunan partai Indonesia v Taiwan

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin
Head to head: 5-1

Tunggal putri: Lindaweni Fanetri v Tai Tzu Ying
Head to head : 0-1

Tunggal putra: Jonatan Christie v Chou Tien Chen
Head to head: 0-0

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krishinda v Hsieh Pei Chen/Wu Ji Tung
Head to head :0-0

Ganda campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir v Lai Chia Wen/Tseng Min Hao
Head to head: 1-0

Akhirnya Bisa Terhindar dari Tiongkok

LEPAS POIN: Praveen Jordan/Debby Susanto

AMBISI Indonesia menjadi juara Grup IC Piala Sudirman tercapai. Dalam pertandingan terakhir grup di Dongguan, Tiongkok, Rabu waktu setempat (13/5/015), Hendra Setiawan dkk menang 3-2 atas Denmark.

Tiga poin berharga merah putih didonasikan Hendra/Mohammad Ahsan di nomor ganda putra, Bellaetrix Manuputty (tunggal putri), dan pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Hanya,  kemenangan ini tak diraih dengan mudah.

Bahkan, jika lengah sedikit, Denmark akan menggagalkan ambisi Indonesia. Tanda-tanda itu sempat terlihat ketika Hendra/Ahsan kalah di game perdana.

Untung, juara dunia 2013 itu mampu membalikkan keadaan. Ini membuat semangat rekan-rekannya pun terangkat.

Saat melawan Denmark, Indonesia juga melakukan perubahan komposisi. Jonatan Christie di tunggal putra, Lindaweni (tunggal putri), dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir diparkir. Untung, Denmark di Piala Sudirman 2015 ini juga tak turun dengan kekuatan terbaik.

Lima pebulu tangkis andalannya memilih absen. Mereka adalah Mathias Boe, Carsten Mogensen, Joachim  Fischer Nielsen (putra) serta Christinna Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl (putri).

Dengan status juara grup pula membuat Indonesia terhindar bertemu dengan tiga juara grup lainnya yakni Tiongkok (IA), Jepang (IB), dan Malaysia (ID) di perempat final. Akhirnya, dalam perebutan tiket ke semifinal, merah putih berjumpa dengan Taiwan selaku runner-up Grup IB.  




Hasil pertandingan lawan Denmark

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan v Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen 21-23, 21-16, 21-12

Tunggal putri: Bellaetrix Manuputty v Line Kjaerseldt 21-15, 21-18

Tunggal putra: Firman Abdul Kholik v Jan O Jorgensen 8-21, 10-21

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krisndha v Maiken Fruergaard/Maria Helsbol 21-16, 21-13

Ganda campuran: Praveen Jordan/Debby Susanto v Mads Pieler Kolding/Sara Thygesen 21-9, 17-21, 11-21

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger