www.smashyes.com

www.smashyes.com

Bisa Gagal Meraih Gelar Keenam

Jumat, 31 Juli 2015

Lin Dan saat tampil di All England 2015 (badmintonphoto)
STATUS Lin Dan dalam Kejuaraan Dunia sangat menterang. Lelaki asa Tiongkok itu sudah lima kali menjadi juara yakni 2006 di Madrid (Spanyol), 2007 (Kuala Lumpur, Malaysia), 2009 (Hyderabad, India), 2011 (London),dan 2013(Guangzhou, Tiongkok).

Pada 2010, secara mengejutkan langkahnya dihentikan Park Sung-hwan dari Korea Selatan di babak perempat final. Sementara, dalam Kejuaraan Dunia tahun lalu di Kopenhagen, Denmark, Lin Dan tak lolos karena rankingnya tak memenuhi kualifikasi.

Namun, kegagalan pun kembali membayangi pada Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta pada 10-16 Agustus mendatang. Alasannya, pada tahun ini, Lin Dan tak terlalu superior.

Dari delapan turnamen yang diikuti, Super Dan, julukan Lin Dan, hanya sekali juara. Itu dilakukannya dalam Kejuaraan Asia yang dilaksanakan di kandangnya sendiri.

Selain itu, kegagalan demi kegagalan memayungi. Bahkan, dalam dua turnamen, Australia Super Series dan Indonesia Super Series Premier, Lin Dan sudah angkat koper dari babak I.

Lawan yang bisa mengalahkannya pun bukan lagi rival abadinya, Lee Chong Wei, dari Malaysia ataupun pebulu tangkis nomor satu yang juga rekan satu negara, Chen Long. Tercatat Tommy Sugiarto, Viktor Axelsen (Denmark), maupun Chou Tien Chen (Taiwan) mampu memaksa lelaki 32 tahun itu keluar lapangan dengan kepala tertunduk.

Dalam Kejuaraan Dunia 2015, Lin Dan hanya mendapat lawan ringan di babak pertama dan kedua. Dalam penampilan perdana, suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang tersebut berjumpa dengan Sattawat Pongnairat (Amerika Serikat).

Lin Dan pernah mengalahkannya dalam Kejuaraan Dunia 2013 dengan straight game 21-6, 21-9.Di babak kedua, lawannya pun antara David Paiola (Brasil) dengan Davis Obernosterer (Austria). (*)

Langkah juara Lin Dan dalam Kejuaraan Dunia
2006:v Bao Chunlai (Tiongkok) 18-21, 21-17, 21-12

2007: v Sony Dwi Kuncoro (Indonesia) 21-11, 22-20

2009: Chen Jin (Tiongkok)21-18, 21-16

2011: Lee Chong Wei (Malaysia) 20-22, 21-14, 21-13

2013:v Lee Chong Wei (Malaysia) 16-21, 21-13, 20-17 (ret)

Naik Tiga Setrip dari Rusia

NAIK: Tommy Sugiarto (foto:badzine)
POSISI Tommy Sugiarto naik. Dalam daftar ranking tunggal putra terbaru yang dliris BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 30 Juli 2015, dia ada di posisi ke-13.

Tempat ini tiga setrip lebih bagus dibandingkan pekan sebelumnya. Naiknya ranking putra juara dunia tunggal putra 1983 tersebut tak lepas dari hasil Rusia Grand Prix.

Dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut, Tommy mampu menjadi juara. Dalam final yang dilaksanakan di Vladivostok pada Minggu (26/7/2015), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut mengalahkan Raul Must dari Estonia dengan 21-16, 21-10.

Gelar itu menjadi pengobat dahaga baginya. Dua tahun lalu lebih, Tommy tak merasakan manisnya menjadi juara. Kali terakhir, dia meraih posisi terhormat dalam Singapura Super Series 2013 yang dilaksanakan Juni.

Selain itu, naiknya ranking itu juga bisa menjadi penambah semangat sebelum tampil dalam Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta pada 10-16 Agustus mendatang. Dari undian yang sudah dilaksanakan di Mesuem Bank Indonesia, Jakarta, pada 28 Juli lalu, Tommy memperoleh undian yang ringan di babak-babak awal.

Pada babak pertama, dia bersua dengan Pablo Abian. Pebulu tangkis Spanyol itu juga dikalahkan Tommy di Rusia Grand Prix Gold.

Dalam Kejuaraan Dunia 2014 yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, Tommy mampu menembus babak semifinal. Sayang, langkahnya dihentikan Chen Long dari Tiongkok dengan straigt game 16-21, 20-22. (*)

Mencari Kado buat Hari Kemerdekaan

KEJUT: Greysia Polii/Nitya Krishinda (foto:PBSI)
SETAHUN yang lalu di Kopenhagen, Denmark, Indonesia gagal membawa gelar dari Kejuaraan Dunia. Padahal, pada 2013 di Guanzhou, Tiongkok, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di ganda putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ganda campuran sukses naik podium terhormat.

''Kami ingin tahun ini, Indonesia bisa kembali meraih dua gelar seperti target sebelumnya. Apalagi, eventnya kan juga di Jakarta,'' kata Ahmad Budiharto, wakil Sekjen PP PBSI, kepada smashyes.

Ya, Hendra/Ahsan dan Tontowi/Liliyana tetap menjadi tumpuan. Meski pada 2015, perjalanan keduanya dalam berbagai turnamen tengah tertatih-tatih.

Hendra/Ahsan, yang dalam Kejuaraan Dunia 2015 diunggulkan di posisi ketiga, hanya mampu sekali juara yakni di Malaysia Super Series Premier. Namun, di turnamen lain, keduanya babak keluar. Termasuk juga di kandang sendiri dalam Indonesia Super Series Premier yang hanya sampai babak semifinal.

Sama halnya dengan Tontowi/Liliyana. Mereka hanya sekali menjadi juara yakni dalam Kejuaraan Asia.

Di turnamen super series/super series premier, kegagalan selalu mengiringi. Termasuk di kandang sendiri, Indonesia Super Series Premier yang juga sampai empat besar.

''Tapi, ganda putri juga punya peluang juara,'' lanjut Budi, sapaan karib Ahmad Budiharto.

Pasangan ganda putri yang diharapkan menjadi juara tentu Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Penampilannya tengah menanjak seiring hasil juara di Taiwan Grand Prix Gold 2015.

Gelar dalam Kejuaraan Dunia 2015, ungkap Budi, diharapkan menjadi kado ultah Republik Indonesia ke-70. Ini disebabkan finalnya akan dilaksanakan 16 Agustus atau sehari sebelum Indenpence Day.(*)

Ingin Tembus 8 Besar Dulu

Rabu, 29 Juli 2015


UNDERDOG: Riky Widianto/Richi Dili (foto:PBSI)
DI awal 2015, Riky Widianto/Richi Puspita Dili sempat memberikan harapan tinggi. Mereka mampu menjadi juara ganda campuran dalam turnamen India Grand Prix.

Dalam final, Riky/Richi menghentikan langkah wakil tuan rumah Manu Attri/M. Maneesha dengan dua game langsung 21-17, 21-17. Sayang, setelah itu, perjalanan keduanya tertatih-tatih.

Di berbagai turnamen super series dan super series premier, Riky/Richi sudah tumbang di babak-babak awal. di All England Super Series Premier, Malaysia Super Series Premier, Singapura Super Series, dan Australia Super Series, mereka tersingkir dalam penampilan perdana.

Hanya di Indonesia Super Series Premer, mereka tak tersingkir di babak pertama. Tapi, Riky/Richi menyerah di babak kedua.

Nah, kini kesempatan mereka untuk unjuk kekuatan terbuka. Ini setelah Riky/Richi mampu menembus Kejuaraan Dunia 2015. Bahkan, keduanya menduduki unggulan ke-10.

''Secara pribadi, target saya mau lolos hingga babak delapan besar dulu,'' kata Riky kepada smashyes.

Melihat hasil undian, langkah terberat bakal dilakoni di babak ketiga. Riky/Richi akan berjumpa dengan unggulan keempat Liu Cheng/Bao Yixin dari Tiongkok.

Kedua pasangan memang belum pernah berjumpa. Hanya, pasangan Pelatnas Cipayung itu sering mengalami kesulitan jika berjumpa denan wakil dari Negeri Panda, julukan Tiongkok.

Tahun lalu di Kopenhagen, Denmark, langkah Riky/Richi juga dihentikan pasangan Tiongkok yang merupakan unggulan teratas Zhan Nan/Zhou Yunlei di babak ketiga. Saat itu, mereka menyerah 15-21, 14-21.

Di nomor ganda campuran, kali terakhir Indonesia juara pada 2013 di Guangzhou, Tiongkok, melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (*)

Ketemu Lagi dengan Abian

PUBLIK: Tommy Sugiarto (foto:xinhua)
PADA 24 Juli 2015, Tommy Sugiarto baru saja mengalahkan Pablo Abian. Namun, pebulu tangkis Spanyol tersebut akan kembali dihadapinya dalam Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta 10-16 Agustus.

Ini setelah BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) menggelar drawing (undian) di Museum Bank Indonesia, Jakarta, pada Selasa WIB (28/7/2015). Tentu Tomny lebih diunggulkan untuk kembali memetik kemenangan.

Hasil di Negeri Beruang Merah, julukan Rusia, sudah menjadi bukti. Saat itu, Tommy unggul dua game langsung 21-17, 21-9. Ini juga membalas kekalahan yang ditelannya empat tahun lalu dalan Spanyol Open.

Selain itu, dari ranking dunia terakhir, putra juara dunia asal Indonesia Icuk Sugiarto tersebut jauh di atas Pablo. Tommy ada di posisi ke-16 sedangkan lawannya di posisi 42.

Jika lolos dari hadangan Pablo, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut akan menunggu pertandingan Howard Shu (Amerika Serikat) melawan Wei Nan (Hongkong).

Dari keduanya, Wei Nan bisa menjadi momok bagi Tommy. Dia dua kali dalam tiga pertemuan.

Pil pahit itu ditelannya di Asian Games 2014 dengan 17-21, 23-21, 16-21 dan Hongkong Super Series 2014 dengan 21-15, 15-21, 19-21.

Hanya, Tommy mampu membalasnya di India Super Series 2015. Dia menang dua game langsung 21-12, 21-13.

Selain Tommy, di nomor tunggal putra, Indonesia juga meloloskan Dionysius Hayom Rumbaka. Dalam penampilan perdananya, lelaki yang akrab disapa Hayom tersebut langsung bertemu dengan peraih emas Pan American Games 2015 Kevin Cordon asal Guatemala.

Selama ini, keduanya belum pernah berjumpa. Hanya, dari sisi ranking, Hayom lebih unggul.

Pebulu tangkis yang kini membali ke klub asalnya, Djarum Kudus, tersebut ada di posisi 21 sedangkan lawannya 28 setrip di bawahnya.

Namun, kalau menang, lawan berat sudah siap menghadang Hayom. Besar kemungkinan, dia akan menantang unggulan kesembilan asal Korea Selatan Son Wan-ho, yang di babak pertama berjumpa lawan enteng Ville Lang dari Finlandia.

Dalam enam kali pertemuan dengan Wan-ho, Hayom hanya sekali menang yakni di Jerman Grabd Prix 2015. Kali terakhir, mereka berjumpa dalam Kejuaraan Asia 2015. Hasilnya, Hayom kalah dengan tiga game. (*)

Hasil undian wakil Indonesia dalam Kejuaraan Dunia 2015
Babak I
Tunggal putra: Tommy Sugiarto v Pablo Abian (Spanyol), Dionysius Hayom Rumbaka v Kevin Cordon

Tunggal putri: Maria Febe Kusumastuti (x16) bye, Lindaweni Fanetri v Soraya Eijbergen (Belanda)

Ganda putra: Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan v Mathew Fogarty/Bjorn Seguin (AS), Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (x3) bye, Ade Yusuf/Wahyu Nayaka v Raphael Beck/Andreas Heinz (Jerman), Angga Pratama/Ricky Karanda bye

Ganda putri:Greysia Polii/Nitya Krishinda (x7) bye, Devi Tika/Keshya Nurvita v Johanna Goliszewski/Carla Nelte (Jerman), Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta v Samantha Barning/Iris Tabeling (Belanda), Shendy Puspa Irawati/Vita Marissa v Eva Lee/Paula Obanana (AS)

Ganda campuran: Praveen Jordan/Debby Susanto (x11) bye, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (x3) bye, Edi Subaktiar/Gloria Widjaja (x12) bye, Riky Widanto/Richi Puspita Dili (10) bye

Sumber: bwf

Berharap Undian Bagus dari Gedung 177 Tahun

Selasa, 28 Juli 2015

LOKASI: Museum Bank Indonesia Jakarta
INDONESIA mau tak hanya menyandang status sebagai host Kejuaraan Dunia 2015. PP PBSI ingin memerikan kesan yang beda dan mendalam kepada para peserta.

Itu pun dimulai dari undian (drawing). Agenda untuk menentukan pertandingan tersebut tak dilakukan di kantor pusat BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Juka bukan di Cipayung, Jakarta Timur, yang menjadi pusat kegiatan PP PBSI. Lalu di mana undian akan dilaksanakan.

Ternyata, undian Kejuaraan Dunia 2015 dilaksanakan di tempat yang tak ada hubungannya sama sekali dengan olahraga tepok bulu tersebut.Rencananya, drawing dilaksanakan di Museum Bank Indonesia yang berada di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat, pada Selasa (28/7/2015). Agenda tahunan itu sendiri digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 10-16Agustus 2015.

Dikutip dari situs Jakarta.go.id, Museum Bank Indonesia menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada  1953. Juga betisi tentang kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005.

Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.

Pada awalnya gedung BI Kota adalah gedung dari De Javasche Bank (DJB), yang didirikan pada 1828 atau 177 tahun yang lalu. Kini pemerintah telah menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. BI juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah untuk dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.

Dari gedung tersebut diharapkan undian Kejuaraan Dunia 2015 bisa memudahkan langah bagi pebulu tangkis Indonesia untuk kembali berjaya. (*)

Bersatu Kembali untuk Kejuaraan Dunia

SEMENTARA: Pia Zebadiah/Rizki Amelia (foto:PBSI)
SUDAH dua bulan pasangan Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta berpisah. Itu setelah Rizki Amelia Pradipta, memenuhi panggilan Pelatnas Cipayung.

Di kawah candradimuka bulu tangkis Indonesia tersebut, dia dipasangkan dengan Della Destiara Haris. Imbasnya, Pia pun harus mencari pasangan baru.

Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan tandem pengganti Amel. Nama Variella ''Lala'' Putri menjadi pilihan.

Kedua pasangan anyar itu pun sama-sama tampil dalam Taiwan Grand Prix Gold 2015. Tapi, hasilnya, Pia/Lala lebih bagus.

Mereka mampu menembus hingga babak perempat final. Upaya Pia/Lala lolos ke empat besar dihentikan unggulan kedua asal Tiongkok Huang Yaqiong/Ma Jin dengan dua game langsung 11-21, 6-21.

Hasil tersebut jauh lebih bagus dibandingkan Rizki/Della. Keduanya langsung tersingkir di babak pertama setelah dihentikan pasangan Korea Selatan Go Ah-ra/Yoo Hae-won dengan 12-21, 20-22.

Tapi, Pia/Rizki pun harus kembali bersatu. Bukan untuk selamanya.

Ini setelah pasangan yang sama-sama berasal dari Jaya Raya tersebut masuk daftar lolos ke Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta pada 10-16 Agustus mendatang. Dalam daftar peserta, Pia/Rizki ada di posisi ke-15.

Mereka menjadi pasangan ganda putri kedua Indonesia setelah Greysia Polii/Nitya Krishinda asal Pelatnas Cipayung. Selain kedua pasangan ini, merah putih juga menempatkan Shendy Puspa Irawati/Vita Marissa dan Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita.Hanya, Shendy/Vita berasal dari Djarum dan Devi/Keshya dari Berkah  Abadi Banjarmasin. (*)

Harapan Tertinggi di Pundak Hayom

Senin, 27 Juli 2015

SEMI: Dionysius Hayom Rumbaka (foto:PB Djarum)
INDONESIA meloloskan 34 pebulu tangkis dalam Kejuaraan Dunia 2015. Namun, sebenarnya, kekuatan tersebut terbagi menjadi dua, pelatnas dan nonpelatnas.

Salah satu pasukan nonpelatnas tersebut berasal dari Djarum Kudus. Klub raksasa itu mengirimkan wakilnya dalam ajang yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada 10-16 Agustus mendatang.

''Kami ingin semua wakil Djarum bisa tampil maksimal,'' kata Manajer Djarum Kudus Fung Permadi.

Hanya, di antara beberapa wakil tersebut, Dionysius Hayom Rumbaka diharapkan bisa melangkah jauh. Mantan tunggal putra andalan Pelatnas Cipayung tersebut diharapkan menembus babak semifinal.

Memang, untuk merealisasikannya butuh perjuangan ekstrakeras. Semua pebulu tangkis tangguh di atas bumi turun semua. Dari Tiongkok, ada si nomor satu Chen Long dan juara dunia lima kali Lin Dan.

Lee Chong Wei pun juga kembali turun setelah memulai debutnya pascasanksi dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 1 Mei lalu. Kejuaraan Dunia 2015 menjadi major turnamen perdana yang diikuti oleh lelaki yang memperoleh gelar kebangsaan Datuk dari Pemerintah Malaysia tersebut. Dari Eropa, Jan O Jorgensen tetap tak bisa dipandang sebelah mata.

Di nomor lainnya, pasangan ganda putra Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan pun juga dipasangi target. Mereka diharapkan mampu menembus babak delapan besar.

Meski pasang target tinggi, Djarum, lanjut Fung, tak menambah porsi latihan. Hanya, pelatih terus mengingatkan anak asuhnya untuk lebih fokus. (*)



Wakil Indonesia ke Kejuaraan Dunia 2015
Tunggal putra: Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka (*)

Tunggal putri: Maria Febe Kusumastuti (*), Lindaweni Fanetri

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan (*),Angga Pratama/Ricky Karanda, Wahyu Nayaka/Ade Yusuf

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Pia Zebadiah/Rizky Amelia Pradipta,Shendy Puspa Irawati/Vita Marissa (*),Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita

Ganda campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Praveen Jordan/Debby Susanto,Riky Widianto/Richi Puspita Dili, Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja

*=membela Djarum Kudus

Koleksi Kelima Andalan Tuan Rumah

Minggu, 26 Juli 2015

JUARA: Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (foto:badzine)
TAK sia-sia Vladimir Ivanov konsentrasi di satu nomor, ganda putra. Hasilnya, dia yang berpasangan dengan Ivan Sozonov mampu menjadi juara.

Pasangan yang menduduki unggulan teratas tersebut mengalahkan wakil Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong dalam pertarungan final yang ketat 22-20, 21-19 di Vladivostok pada Minggu waktu setempat (26/7/2015). Tahun lalu, Ivanoz/Sozonov gagal menjadi juara.

Saat itu, Ivanov turun di tunggal dan menjadi pemenang. Hanya, kansnya mengulangi sukses cukup berat.

Untuk tunggal, kondisinya tengah onfire. Rankingnya menurun jauh hingga sekarang di 157.

Selain itu, Ivanov punya rekor head to head yang kurang bagus jika bertemu dengan unggulan teratas Rusia Grand Prix 2015 Tommy Sugiarto. Dia pernah kalah saat berjumpa di Italia International 2011.

Di ganda, Rusia menjadi tumpuan asa bagi Ivanov/Sozonov mendongkrak ranking sekaligus pemanasan menjelang Kejuaraan Dunia 2015 yang segera digelar di Jakarta pada 10-16 Agustus mendatang.Apalagi, dalam beberapa turnamen terakhir yang diikuti, mereka memperoleh hasil yang jeblok.

Kemenangan di kandang sendiri juga membuat Ivanov/Sozonov sudah mengoleksi lima gelar di Rusia Open, nama resmi Rusia Grand Prix. Empat gelar sebelumnya diraih pada 2009-2010 dan 2012-2013.
Tahun lalu, gelar juara jatuh ke tangan wakil Jepang Kenta Kazuno/Kazuhi Mahada. (*)

Perjalanan Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov di 2015
1.India Grand Prix Gold: finalis

2. Jerman Grand Prix Gold: finalis

3. All England Super Series Premier: Babak II

4. India Super Series : semifinalis

5. Malaysia Super Series Premier: babak I

6. Singaura Super Series: babak I

7. Australia Super Series: babak I

8. Indonesia Super Series Premier: babak I

Penantian Dua Tahun Tommy Berakhir

KENANGAN: Tommy Sugiarto saat juara Singapura Open 2013
TOMMY Sugiarto akhirnya bisa menjadi juara. Ini setelah dia mampu mengalahlan Raul Must dari Estonia dengan straight game 21-16, 21-10 dalam pertandingan final nomor tunggal putra Rusia Grand Prix Gold 2015 di Vladivostok pada Minggu waktu setempat (27/7/2015).

Dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut, Tommy datang dengan status unggulan teratas. Sementara, lawannya tak masuk kandidat juara.

Hanya,Raul menarik perhatian pada penampilannya kali ini. Sejak babak ketiga, dia selalu memulangkan para unggulan.

Di babak ketiga, Raul mempermalukan unggulan kedua Brice Leverdez dari Prancis dengan 21-12,16-21, 21-111. Selanjutnya, di perempat final, juara 2011 asal Rusia Vladiir Malkov dibuatnya tak berdaya dan menyerah 21-18, 21-14. Tike ke final digenggamnya berkat kemenangan 21-12, 22-20 Zulfadli Zulkifli. Tapi, kemenangan itu belum cukup saat berada di hadapan Tommy.

Kemenangan di Negeri Beruang Merah, julukan Rusia, juga membuat mantan pebulu tangkis nomor tiga dunia tersebu mengakhiri paceklik gelarnya. Kali terakhir, Tommy menjadi juara di Singapura Super Series 2013.

Saat itu, dalam pertandingan yang dilaksanakan 23 Juni 2013, putra dari Icuk Sugiarto, juara dunia tunggal putra 1983, tersebut menang 20-22, 21-5, 21-17. Setelah itu, Tommy tak lagi pernah juara. (*)

Distribusi gelar di Rusia Grand Prix Gold 2015
Tunggal putra:Tommy Sugiarto (Indonesia x1) v Raul Must (Estonia) 21-16, 21-10

Tunggal putri:Kristina Gavnholt (Rep Ceko) v Mayu Matsutomo (Jepang) 21-10, 22-10

Ganda putra:Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia x1) v Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia) 22-20, 21-19

Ganda putri:Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria x1) v Johanna Goliszewski/Carla Nelte (Jerman x2) 21-15, 21-17

Ganda campuran:  Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) v Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang) 21-13, 23-21

x=unggulan

Ditantang Pembunuh Raksasa

Sabtu, 25 Juli 2015

MUSUH: Raul Must akan menjadi lawan Tommy di final
SELANGKAH lagi Tommy Sugiarto akan menjadi juara nomor tunggal putra dalam Rusia Grand Prix 2015. Itu setelah dia mampu menembus babak final turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut.

Dalam pertandingan semifinalyang dilaksanakan di Vladivostok pada Sabtu waktu setempat (25/7/2015), Tommy, yang diunggulkan di posisi teratas, menang dua game langsung 21-17, 21-7 atas ungulan ketiga asal India Ajay Jayaram. Hasil tersebut mengulangi dua pertemuan sebelumnya di Denmark Open 2011 dan Jerman Open 2013. Dua pertemuan itu kuga dimenangka Tommy dengan dua game.

Dalam babak terakhir yang digelar Minggu (26/7/2015), Tommy akan ditantang pembunuh raksasa asal Estonia Raul Must. Pebulu tangkos nonunggulan tersebut di semifinal menjungkalkan unggulan keempat asal Malaysia Zufadli Zulkifli dengan dua game langsung 21-12, 22-20.

Pada babak ketiga, Raul juga menumbangkan unggulan kedua asal Prancis, Brice Leverdez. Bagi Tommy, Brice dikhawatirkan bisa menjadi batu sandungan.

Alasannya, tahun ini di Australia Super Series, Brice memaksa Tommy pulang awal.Putra juara dunia tunggal putra asal Indonesia Icuk Sugiarto tersebut kalah rubber game 21-7, 18-21, 14-21.

Tommy sendiri belum pernah berjumpa dengan Raul. Hanya, di atas kertas, seharusnya mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut bakal menang.

Dari sisi ranking, Tommy ada di posisi 16. Sedangkan lawannya di posisi 71.

Tommy sendiri sudah dua tahun lebih puasa gelar. Kali terakhir, lelaki binaan Pelita Bakrie tersebut menjadi juara dalam Singapura Super Series 2013. (*)


Agenda final Rusia Grand Prix 2015

Ganda putri: Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria x1) v Johanna Goliszewski/Carla Nelte (Jerman x2)

Tunggal putra" Tommy Sugiarto (Indonesia x1) v Raul Must (Estonia)

Tunggal putri: Mayu Matsutomo (Jepang) v Kristina Gavnholt (Rep Ceko)

Ganda campuran: Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) v Yuta Watanabe/Arisa Haigashino (Jepang)

Ganda putra: Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia x1) v Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia x2)

x=unggulan

Sukses Balas Kekalahan

Jumat, 24 Juli 2015

REVANS: Tommy Sugiarto (foto:badminton)
LANGKAH Tommy Sugiarto di Rusia Grand Prix 2015 sudah menembus semifinal. Ini berkat kemenangan yang dipetiknya atas Pablo Abian dari Spanyol dengan dua game langsung 21-17, 21-9 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan Vladivostok pada Jumat waktu setempat (24/7/2015).

Kemenangan ini juga membuat Tommy mampu membalas kekalahan yang pernah dialaminya dari wakil Negeri Matador, julukan Spanyol, itu. Mantan tunggal putra nomor tiga dunia tersebut kalah dari Pablo di Spanyol Open 2011. Ketika itu, Tommy kalah rubber game 18-21, 21-8, 20-22.

Di babak semifinal yang dilaksanakan Sabtu (24/7/2015), Tommy, yang diunggulkan di posisi teratas, akan ditantang pebulu tangkis India Ajay Jayaram. Unggulan ketiga ini menembus empat besar usai mengalahkan Chong Wei Feng, unggulan kelima asal Malaysia, dengan straight game 21-15, 21-13.

Tommy punya rekor bagus bertemu Ajay. Dia selalu unggul dalam dua pertemuan yakni di Denmark Open 2011 dan Jerman Open 2013.

Rusia Grand Prix 2015 diharapkan menjadi ajang Tommy meraih gelar. Dia sudah dua tahun lebih puasa. Kali terakhir, pebulu tangkis 27 tahun tersebut naik ke podium terhormat pada Singapura Open 2013.

Semifinal tunggal putra lainnya mempertemukan Zulfadli Zukiflli dari Malaysia dengan Raul Must dari Estonia. Zulfadli merupakan unggulan keempat. Sedangkan Raul merupakan pembunuh rakasa.

Dia mempermalukan unggulan kedua dari Prancis Brice Leverdez di babak ketiga. Kemudian, di perempat final, giliran unggulan ke-11 Vladimir Malkov (Rusia) ditumbangkannya 21-18, 21-14. (*)







Lonjakan 15 Tingkat Sinyo/Kevin

ASA: Sinyo dan Kevin saat di SEA Games 2015 (foto;PBSI)
PASANGAN Markus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya mulai menyedot perhatian. Ini menyusul hasil yang dipetik dari Taiwan Grand Prix Gold 2015.

Keduanya mampu menembus babak final. Di semifinal, pasangan yang sama-sama mempunyai kecepatan tersebut membuat kejutan dengan mempermalukan seniornya, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Sayang, di babak pemungkas, Sinyo/Kevin tampil antiklimaks. Mereka kalah mudah dua game langsung 13-21, 8-21 kepada wakil Tiongkok Fu Haifeng/Zhang Nan.

Namun, dari Taiwan sudah memberikan perubahan yang signifikan. Dalam ranking terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 23 Juli 2015, Sinyo/Kevin ada di posisi 36 atau naik 15 setrip dari pekan sebelumnya.

Tapi, harus diakui, di level grand prix gold, capaian mereka cukup bagus.Di Swiss pada Maret lalu, pasangan beda klub tersebut juga masuk semifinal.

Hanya, saat berlaga di ajang super series atau super series, Sinyo/Kevin lebih banyak tak berdaya.Capaian terbaiknya hanya di All England Super Series Premier dengan masuk delapan besar. Selebihnya, mereka lebih sering terkubur di babak awal. (*)

Capaian Sinyo/Kevin sejak dipasangkan Maret 2015
1.All England -8 besar

2. Swiss Open: 4 besar

3.Malaysia Open: 32 besar

4. Singapura Open: 16 besar

5. Tiongkok Masters: 32 besar

6. Indonesia Open: 16 besar

8. Taiwan Open: finalis

*Sumber: BWF

Lawan Berat Tommy Sudah Tersingkir

PULANG: Brice Leverdez menyerah di babak ketiga
KEJUTAN terjadi sektor tunggal putra dalam Rusia Grand Prix 2015. Unggulan kedua Brice Leverdez sudah angkat koper di babak ketiga turnamen berhadiah USD 50 ribu tersebut.

Pada pertandingan yang dilaksanakan di Vladivostok pada Kamis waktu setempat (23/7/2016), Brice menyerah tiga game 12-21,21-16, 11-22 kepada pebulu tangkis nonunggulan dari Estonia Raul Must. Bagi Brice, Raul bukan lawan yang asing.

Keduanya sudah tiga kali bertemu. Hasilnya, Brice dua kali menang yakni di Uganda International 2009 dan Swedia International 2009.

Tapi, dalam pertemuan terakhir, dalam Kejuaraan Beregu Eropa,dia menyerah. Sehingga, kedua pebulu tangkis sudah saling mengenal gaya, kekuatan, dan kelemahan masing-masing.

Secara tidak langsung, kekalahan ini memberikan keuntungan bagi wakil Indonesia Tommy Sugiarto. Jika semua berjalan sesuai skenario, Tommy akan berhadapan dengan Brice di final.

Di Australia Super Series 2015, Brice menghadirkan mimpi buruk bagi Tommy. Mantan tunggal putra nomor tiga dunia tersebut dipermalukan dengan tiga game 21-7, 18-21, 14-21.

Ini juga menjadi kekalahan pertama anak juara dunia tunggal putra Icuk Sugiarto tersebut. Dalam tiga pertemuan sebelumnya, Tommy selalu menang yakni di Australia Open 2014, Tiongkok Open 2014, dan India Open 2015. Semuanya dimenangkan mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut dengan dua game.

Tommy sendiri langkahnya sudah sampai babak perempat final. Dia harus bisa menyingkirkan unggulan keenam asal Spanyol Pablo Abian.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Tommy melakukan revans. Dia pernah menyerah atas Pablo di Spanyol Open 2011. (*)

Ivanov/Sozonov Bisa Gagal Lagi

Kamis, 23 Juli 2015

LABIL: Ivanov/Ivan belum memuaskan selama 2015
RUSIA Grand Prix menjadi rumah bagi pasangan ganda putra Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov. Sejak 2009, mereka sudah juara empat kali. 

Hanya pada 2011 dan 2014, gelar lepas dari genggaman wakil tuan rumah tersebut. Menariknya, lepasnya selalu ke pasangan Jepang. Pada 2011, juara diraih Naoki Kawamae/Shoji Sato dan tahun lalu disabet Kenta Kazuno/Kazushi Yamada.

Tapi, pada 2015 ini, kans lepas atau gagal lagi menjadi juara tetap ada. Di babak perempat yang dilaksanakan Jumat (24/7/2015), Ivanov/Sozonov sudah bertemu pasangan tangguh asal Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Pasangan negeri jiran ini pernah menjadi pasangan nomor satu dunia. Selain itu, Kien Keat/Boon Heong pernah merasakan juara turnamen bergengsi All England pada 2007 dan finalis Kejuaraan Dunia 2010.

Dari rekor pertemuan, Ivanov/Sozonov  kalah 1-2. Hasil buruk diterima keduanya pada Piala Sudirman 2011 dan Prancis Super Series 2011.

Namun, dalam pertemuan terakhir, Ivanov/Sozonov menang. Keduanya melibas Kien Keat/Boon Heong di Tingkok Open 2013 dengan straight game 21-18, 21-18.

Penampilan Ivanov/Sozonov selama 2015 bisa dikatakan buruk. Keduanya sering tumbang di babak-babak awal.

Kali terakhir, di Indonesia Super Series Premier di Jakarta, pasangan yang pernah menembus 10 besar tersebut tersungkur di babak pertama. Mereka kalah 15-21, 21-11, 16-21 kepada wakil merah putih Ade Yusuf/Wahyu Nayaka. (*)

Pablo Pernah Permalukan Tommy

CALON: Pablo Albian pernah mempermalukan Tommy Sugiarto
PERJALANAN Tommy Sugiarto di Rusia Grand Prix Gold 2015 semakin lapang. Kini, jejak langkahnya dalam turnamen berhadiah total USD 50.000 tersebut sudah sampai perempat final.

Dalam pertandingan babak ketiga yang dilaksanakan di Vladivostok pada Kamis (23/7/2015), Tommy yang diunggulkan di posisi teratas tersebut tak mengalami kesulitan untuk menghentikan perlawanan Luka Wraber (Austria). Dia menang dua game langsung 21-13, 21-9.

Sebelumnya, di babak kedua, putra salah satu juara dunia tunggal putra yang dimiliki Indonesia, Icuk Sugiarto, itu juga menang straight game 21-7, 21-16 atas wakil tuan rumah Rodion Alimov. Sedang di babak pertama, Tommy menang WO atas Rhys Walker asal Inggris.

Di perempat final, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut menunggu pemenang pertandingan antara Pablo Abian, unggulan keenam asal Spanyol, dengan Eetu Heino, unggulan  ke-16 dari Finlandia.

Pablo pernah mempermalukan Tommy empat tahun lalu. Saat itu, di Spanyol Open, mantan tunggal nomor tiga dunia tersebut menyerah 18-21, 21-8, 20-22.

Tentu, kini, Tommy sudah jauh lebih matang. Dari sisi ranking, dia juga lebih unggul.

Dari ranking terbaru yang dikeluarkan BWF, Tommy ada di posisi 16. Sedangkan Pablo di tangga ke-42.

Tommy sendiri sudah dua tahun lebih puasa gelar. Kali terakhir, dia menjadi juara di Singapura Super Series 2013 pada bulan Juni.

Setelah itu, kegagalan selalu mengiringi. Akibatnya, rankingnya pun terus menlorot. Dari posisi ketiga, kini lelaki 25 tahun ini ada di posisi 16. (*)

Sebulan Dua Kali ke Negeri Beruang Merah

Rabu, 22 Juli 2015

Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (foto:thestar)
PASANGAN Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong tak kenal lelah. Dalam rentang tidak ada dua bulan, keduanya berkeliling dunia.

Empat turnamen di tiga benua sudah dijejalahi. Tujuannya hanya untuk berburu poin guna kembali mengangkat ranking.

Dimulai dari Australia dengan Australia Super Series (26-31 Mei), Sri Lanka Challenge (2-6 Juni), White Nights Challenge di Rusia (1-5 Juli), dan Taiwan Grand Prix Gold (14-19 Juli). Sebenarnya, Kien Keat/Boon Heong nyaris ke empat benua. Sayang, keduanya memlih mundur dari Amerika Grand Prix Gold yang dilaksanakan 16-21 Juni.

Hasilnya pun tak mengecewakan. Pasangan negeri jiran tersebut mampu juara di Sri Lanka Challenge dan White Nights. Sementara di Negeri Kanguru, julukan Australia, sampai perempat final dan di Taiwan langsung tumbang di babak pertama.

Namun, petualangan tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan. Sempat terlempar ke luar 100 besar, kini Kien Keat/Boon Heong sudah di posisi 73.

Hanya, itu belum membuat keduanya puas. Pekan ini, keduanya kembali ke Eropa tepatnya Negeri Beruang Merah, julukan Rusia.

Juara All England 2007 tersebut akan unjuk kemampuan dalam Rusia Grand Prix 2015. Di babak pertama dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut, Kien Keat/Boon Heong memperoleh bye. Keduanya akan menunggu pemenang partai Rodion Alimov/Pavel Kotsarenko (Rusia) melawan Kazuaki Oshima/Yuki Umino. (*)

Kans Tommy Akhiri Puasa

Selasa, 21 Juli 2015

TERATAS: Tommy Sugiarto (foto:PBSI)
PACEKLIK gelar Tommy Sugiarto cukup panjang. Kali terakhir,putra salah satu legenda bulu tangkis nomor tunggal putra dunia, Icuk Sugiarto, tersebut juara pada Singapura Super Series 2013.

Saat itu, pada 23 Juni, Tommy mengalahkan Bonsak Ponsana dari Thailand. Artinya, hampir dua tahun dia tak pernah lagi naik ke podium terhormat.

Cedera membuat penampilan Tommy angin-anginan. Itu pula yang membuat PP PBSI tak menggandolinya saat memutuskan keluar dari Pelatnas Cipayung.

Tiket ke final pernah ditangannya dalam Kejuaraan Dunia 2013 di Guangzhou, Tiongkok. Begitu pula dalam Malaysia Super Series Premier 2014.

Tapi, sering juga Tommy sudah angkat koper sejak babak awal. Seperti di Korea Super Series 2014 dan All England Super Series Premier 2014.

Hasil buruk juga terjadi tahun ini. Tommy kalah di babak pertama dalam dua  turnamen beruntun yang diikuti yakni Malaysia Super Series Premier 2015 dan Australia Superb Series 2015. Sedangkan dalam Kejuaraan Asia 2015, Tommy mengundurkan diri karena cedera.

Pil pahit juga ditelan di kandang sendiri, Indonesia Super Series Premier 2015. Setelah membuat kejutan dengan mempermalukan legenda aktif bulu tangkis Lin Dan dari Tiongkok di babak pertama, Tommy menyerah kepada Marc Zwiebler dari Jerman.

Pekan lalu,di Taiwan Grand Prix Gold 2015, hasil jeblok kembali menimpa Tommy.Datang sebagai unggulan ke-10,dia tumbang di babak kedua usai dijinakkan mantan tunggal putra nomor satu dunia asal Malaysia Lee Chong Wei dengan 12-21, 18-21.

Kini, Tommy mencoba mengakhiri dahaganya di Rusia Grand Prix. Kans juara pun terbuka dalam kejuaraan yang dilaksanakan di Vladivostok pada 21-16 Juli 2015.

Dalam ajang berhadiah total USD 50 ribu tersebut, Tommy diunggulkan di posisi teratas. Di babak pertama, mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut akan dijajal Rhys Walker dari Inggris.

Di atas kertas, Tommy yang kini duduk di posisi 16 besar dunia bakal menang mudah. Lawannya hanya berperingkat 135.

Di Rusia Grand Prix, Tommy juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia. (*)

Unggulan tunggal putra
1.Tommy Sugiarto (Indonesia)

2.Brice Leverdez (Prancis)

3. Ajay Jayaram (India)

4.Zulkifli Zulfadli (Malaysia)

Koleksi Empat Medali

Senin, 20 Juli 2015

Kevin Cordon (foto:zimbio)
DOMINASI Kevin Cordon di nomor tunggal putra dalam Pan American Games belum terpatahkan. Lelaki asal Guatemala tersebut untuk kali kedua mampu meraih emas dalam ajang empat tahunan tersebut.

Pada Pan American Games 2015 yang dilaksanakan di Toronto, Kanada, tersebut, dia mampu memupus ambisi pebulu tangkis tuan rumah Andrew D'Souza. Dalam final yang dilaksanakan pada Kamis (16/7/2015) waktu setempat atau Jumat dini hari (18/7/2015), Kevin hanya perlu 43 menit untuk mengalahkan lawannya dengan dua game langsung 21-13, 21-14.

Kemenangan ini membuatnya mampu mempertahankan emas yang disumbangkan kepada negaraanya pada 2011di Meksiko.Pada babak pemungkas, pebulu tangkis 28 tahun tersebut menghentikan ambisi O Guerrero dari Kuba dengan 23-21,21-19.

Selama ini, Kevin memang lebih banyak tampil di level bawah, sekelas international ataupun challenge. Sebelum tampil di ajang Pan American Games 2015, dia baru saja menjuarai Mauritius International. Di final, dia melibas unggulan teratas Luka Wraber dari Austria dengan 21-12, 21-18.

Dengan emas dari Kanada dan Mauritius, lelaki yang kini duduk di posisi 61 dunia tersebut telah mengoleksi empat gelar. Dua posisi teratas lainnya dipetiknya di Peru International Series dan Mercosul International.

Sebenarnya, Kevin tak terlalu diunggulkan di Pan American Games 2015. Alasannya,tahun lalu dalam Kejuaraan Perorangan di Benua Amerika Utara, dia sudah kalah di babak ketiga kepada musuh beratnya asal Kuba O Guerrero. (*)

Hasil Pan American Games 2015
Tunggal putra: Kevin Cordon (Guatemala)

Tunggal putri: Michelle Li (Kanada)

Ganda putra:Phillip Chew/Sattawat Pongnairat (AS)

Ganda putri: Eva Lee/Paula Lyn Obanana (AS)

Ganda campuran: Phillip Chew/Jamie Subandhi (AS)

Sudah Punya Ganda Putra Yang Diandalkan

BAHAYA:Cai Yun/Zhang Nan (foto:thestar)
TIONGKOK menatap Kejuaraan Dunia 2015 dengan penuh optimistis. Salah satu nomor yang dalam dua tahun terakhir dianggap pincang, yakni nomor ganda putra, sudah ditemukan solusinya.

Pasangan Fu Haifeng/Zhang Nan llayak menjadi ujung tombak dalam ajang yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada 10-16 Agustus mendatang. Hampir semua pasangan top dunia, pernah dikalahkan oleh mereka.

Bahkan, pasangan yang kini menduduki ranking enam dunia tersebut mampu mengakhiri paceklik gelarnya pada 2015. Ini setelah Haifeng/Nan mampu naik ke podium juara Taiwan Open. Dalam final yang dilaksanakan di Taipe pada Minggu (19/7/2015), pasangan yang baru disatukan setahun lalu tersebut melibas ganda muda Indonesia Markus Gideon Fernaldi/Kevin Sanjaya dengan dua game yang mudah 21-13, 21-8.

Meski titelnya hanya grand prix gold, tapi hampir semua pasangan terbaik dunia, khususnya Asia, ikut turun ke lapangan.

Mereka antara lain Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dari Korea Selatan, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia) maupun Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo dari Jepang.  Hebatnya, Yong-dae/Yeon-seong dan Hayakawa/Endo mampu ditumbangkan.

Pasangan Negeri Matahari Terbit, disikat di perempat final dengan dengan straight game 26-24, 21-14. Ini menjadi kemenangan kedua Haifeng/Nan. Sebelumnya, ganda yang kini duduk di posisi kelima tersebut unggul di Piala Sudirman 2015 setelah sebelumnya menyerah di Tiongkok Open 2014.

Kemudian, di babak semifinal, giliran Yong-dae/Yeon-seong, yang diunggulkan di posisi teratas, dipermalukan juga dengan straight game 21-16, 21-18. Kemenangan ini mengulangi hasil final Denmark Super Series Premier 2014.  Sekaligus membalas kekalahan di semifinal Indonesia Super Series Premier 2014.

Sementara, meski tak bertemu di Taiwan Open, Haifeng/Nan punya rekor bagus kalau berhadapan dengan Hendra/Ahsan. Mereka menang empat kali dan hanya dua kali kalah. Hebatnya, tiga dari empat kali kemenangan itu diraih dalam tiga pertemuan terakhir yakni di All England 2015, Singapura Open 2015, dan Indonesia Open 2015.

Jika mampu mempertahankan penampilannya, juara dunia nomor ganda putra bakal kembali ke Tiongkok. Dalam dua tahun terakhir, juara nomor wahid terbang dari Negeri Panda, julukan Tiongkok. Pada 2013 jatuh ke Hendra/Ahsan dan tahun lalu disabet Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel (Korea Selatan). Padahal, pada 2009, 2010, dan 2011, posisi tertinggi jatuh ke peluakan Cai Yun/Fu Haifeng. (*)

Perjalanan Fu Haifeng/Zhang Nan di 2015
All England Super Series Premier: Finalis
Malaysia Super Series Premier: Babak I
Singapura Super Series: Finalis
Kejuaraan Asia: Babak II
Australia Super Series: Perempat final
Indonesia Super Series Premier: Finalis

Greysia/Nitya Sukses Pertahankan Gelar

Minggu, 19 Juli 2015

Greysia Polii/Nitya Krishinda ulangi sukses (foto:CNN)
INDONESIA gagal membawa dua gelar dari Taiwan Open 2015. Dari dua wakil yang mampu menembus babak final turnamen kategori grand prix gold tersebut, hanya pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari yang bisa naik ke podium terhormat. Sementara, pasangan ganda putra Markus Gideon/Kevin Sanjaya harus memupus ambisinya meraih juara.

Dalam final yang dilaksanakan di Taipe pada Minggu waktu setempat (19/7/2015), Greysia/Nitya, yang diunggulkan di posisi keempat, melibas unggulan kedua Luo Ying/Luo Yu asal Tiongkok dengan dua game langsung 21-17, 21-17. Ini menjadi kemenangan ketiga dari pasangan merah putih atas wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut.

Dua hasil manis dipetik Greysia/Nitya di Swiss Open 2014 dan Indonesia Super Series Premier 2015. Sementara kekalahan dialami di Singapura Super Series 2015.

Kemenangan ini juga membuat Greysia/Nitya mampu mempertahankan gelar. Tahun lalu, pasangan yang kini duduk di ranking kelima dunia tersebut menghentikan perlawanan pasangan Tiongkok lainnya, Wang Xiaoli/Yu Yang, dengan 21-18, 21-11.

Sayang, capaian di ganda putri gagal diikuti oleh Markus Gideon/Kevin Sanjaya. Pasangan baru Pelatnas Cipayung itu menyerah mudah dua game 13-21, 8-21 atas Fu Haifeng/Zhang Nan. Meski gagal tapi langkah Markus/Kevin dalam turnamen berhadiah total USD 200 ribu tersebut sudah bagus karena mereka tak masuk daftar unggulan. (*)

Distribusi gelar Taiwan Grand Prix Gold 2015
Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Chou Tien Chen (Taiwan x5) 15-21, 21-9, 21-6

Tunggal putri: Wang Yihan (Tiongkok x6) v Li Xuerui (Tiongkok x2) 21-10, 21-9

Ganda putra: Fu Haifeng/Zhang Nan (Tiongkok x5) v Markus Gideon/Kevin Sanjaya (Indonesia) 21-13, 21-8

Ganda putri: Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (Indonesia x4) v Luo Ying/Luo Yu (Tiongkok x2) 21-17, 21-17

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Shin Baek-choel/Chae Yoo-jung (Korsel) 21-16, 21-18

x=unggulan

Lapang Jalan Kevin Cordon Pertahankan Gelar

Rabu, 15 Juli 2015

TIKET babak final cabang olahraga Pan American Games 2015 sudah ada di tangan Kevin Cordon. Itu setelah pebulu tangkis Guatemala tersebut mengalahkan Howard Shu (Amerika Serikat) dalam pertandingan tiga game 16-21, 21-14, 21-18 pada babak semifinal yang dilaksanakan di Toronto, Kanada, pada Selasa waktu setempat (14/7/2015).

Ini menjadi kemenangan keempat Kevin atas wakil dari Negeri Paman Sam, julukan Amerika Serikat, tersebut. Tiga hasil manis sebelumnya dipetik di Amerika Serikat Open 2008, Pan American Games 2012, dan Peru International 2013.

Secara ranking, sebenarnya ranking Howard lebih unggul. Dari rilis terakhir yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) 8 Juli 2015, Howard ada di posisi 54 sedangkan Kevin di ranking 61.

Di babak pemungkas yang dilaksanakan Rabu waktu setempat (15/7/2015), Kevin, yang diunggulkan di posisi ketiga, akan ditantang Andrew D'Souza. Di babak semifinal, wakil tuan rumah tersebut menghentikan pebulu tangkis Kuba Osleni Guerrero dengan tiga game 13-21, 21-14, 21-13.

Kevin, yang juga menyandang status juara bertahan, belum pernah berjumpa dengan Andrew. Hanya, dukungan penonton bisa menjadi penambah semangat Andrew untuk menyumbangkan emas bagi negaranya. Empat tahun lalu di Guadalajara, Meksiko, Kevin naik ke podium terhorma usai menekuk O Guerrero dari Kuba dengan 23-21, 21-19.

Emas tersebut menjadi satu-satunya keping berharga dari Guatemala dari bulu tangkis pada 2011. Kanada menjadi juara umum dengan menyabet tiga gelar (tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran). Satu emas lain lari ke Amerika Serikat. (*)

Agenda final Pan American Games 2015
Tunggal putra: Kevin Cordon (Guatemala) v Andrew D'Souza (Kanada)

Tunggal putri: Michelle Li (Kanada) v Rachael Honderich (Kanada)

Ganda putra: Phillip Chew/Sattawat Pongnairat (Amerika Serikat) v Hugo Arthuso/Daniel Paiola (Brasil)

Ganda putri: Eva Lee/Paula Lynn Obanana (Amerika Serikat) v Lohanny Vicente/Luana Vicente (Brasil)

Ganda campuran: Phillip Chew/Jamie Subandhi (Amerika Serikat) v Tobby Ng/Alexandra Bruce (Kanada)

Vito Temani Simon dan Sony

Shesar Hiren Rhustavito (foto;PBSI)
INDONESIA menambah slot di babak utama Taiwan Grand Prix Gold 2015. Itu setelah Shesar Hiren Rhustavito mampu mengalahkan sesama pebulu tangkis merah putih Reksy Aureza Meganda dengan rubber game 20-22, 21-13, 23-21 dalam pertandingan final babak kualifikasi yang dilaksanakan di Taipe pada Selasa waktu setempat (14/7/2015).

Tapi, sebelum menundukkan Reksy, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut  sudah dua kali tampil. Di laga perdana, Vito, sapaan karib Hiren Rhustavito, memperoleh bye dan di babak kedua, dia menang straight game 21-9, 21-16 atas wakil tuan rumah Chun Chung Hung.

Jalan Reksy menembus final kualifikasi lebih lapangan. Di babak pertama dan kedua, dia tak perlu memeras keringat karena lawan-lawannya mengundurkan diri.

Sebenarnya, Indonesia juga meloloskan wakil lain di babak final kualifikasi melalui Kho Henrikho Wibowo. Tapi, di laga terakhir, dia menyerah 21-9, 21-13 kepada Lu Chi Yuan dari Taiwan.

Pebulu tangkis merah putih lain yang gagal lolos ke babak elite adalah Wisnu Yuli Prasetyo. Pebulu tangkis yang kini membela Djarum Kudus tersebut kalah di babak kedua kepada unggulan kedelapan Chia -Hsin Wan 17-21, 18-21.

Di babak utama, Vito berjumpa dengan RM Gurusaidutt. Ini menjadi perjumpaan kedua bagi kedua pebulu tangkis.

Kali pertama, Vito bersua pebulu tangkis India itu di India Challenge 2011. Saat itu, dia menyerah mudah 12-21, 8-21.

Kini, bisa jadi kejadian serupa terulang. Ranking Vito yang ada di posisi 243 jauh di bawah Gurusaidutt yang bertengger di ranking 45 dunia.

Selain Vito, di babak elite, Indonesia menempatkan banyak wakil. Ada Simon Santoso dan Sony Dwi Kuncoro juga yang keduanya dulu merupakan tulang punggung nomor tunggal putra Indonesia. (*)

Sudah Sering Lebaran Jauh dari Keluarga

Selasa, 14 Juli 2015

KE TAIWAN: Sony Dwi Kuncoro
MOMENT Lebaran menjadi kesempatan umat muslim berkumpul dengan keluarga. Tapi, itu bisa tak dirasakan Sony Dwi Kuncoro.

Jika mampu melangkah jauh, arek Suroboyo tersebut akan merayakan Lebaran di Taipe. Ini disebabkan Sony tengah tampil dalam Taiwan Grand Prix Gold 2015 yang berlangsung 14-19 Juli.

"Sudah biasa nggak Lebaran dengan keluarga. Itu kan juga mencari rezeki,'' kata Sony sebelum berangkat ke Taiwan pada Minggu (12/7/2015).

Apalagi, saat dia masih berada di Pelatnas Cipayung. Selama 10 tahun lebih, beberapa kali mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut tak pulang ke Surabaya untuk mengejuk orang-orang yang cintainya.

Sony sendiri di Taiwan Grand Prix Gold 2015 langsung tampil di babak utama. Hanya, tugas berat sudah menanti.

Peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut berjumpa dengan unggulan kesembilan Hu Yun dari Hongkong. Sony pernah sekali bersua dengan pebulu tangkis yang pernah satu tim dengannya saat membela Suryanaga dalam ajang Superliga Bulu Tangkis Indonesia 2013.

Pertemuan itu terjadi dalam event yang sama, Taiwan Open, tapi pada 2011. Saat itu, Sony menang dua game langsung 21-16,21-10. Tapi, kondisinya sekarang berbeda.

Di atas kertas, Sony bakal kalah. Kini, Hu Yun ada di posisi 14 dunia sedangkan  Sony di ranking 123. (*)

Tuan Rumah Tak Sisakan Medali Emas

Senin, 13 Juli 2015

SAPU BERSIH: Sun Ji-hyun (foto:badmintonfreak)
CABANG olahraga (bulu tangkis) menjadi milik Korea Selatan.  Korea Selatan menyapu bersih enam emas yang dipertandingan.

Setelah satu emas beregu, Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, meraih lima emas dari nomor peorangan. Artinya, tidak ada emas yang diizinkan membawa pulang keping mulai tersebut.

Bahkan, satu emas sudah dipastikan diraih dari nomor bergengsi, tunggal putra. Ini disebabkan terjadi final sesama wakil Korea Selatan (all Korean finals) antara unggulan kedua Son Wan-ho dengan Jeon Hyeok-jin, unggulan ke-5/8.

Hasilnya, Hyeok-jin naik ke podium terhormat. Secara mengejutkan, dia menang 22-20, 13-21, 21-17. Meski satu negara, tapi Hyeok-jin dan Wan-ho belum pernah berjumpa di ajang internasional.

Hanya, secara ranking, Wan-ho unggul jauh. Dia di posisi kesembilan sedangkan Hyeok-jin di posisi 88.

Dalam partai lainnya, semua wakil tuan rumah menang dua game langsung (straight game) atas lawan-lawannya. Hasil 2015 ini membuat capaian Korea Selatan lebih bagus dibandingkan dua tahun lalu di Kazan, Rusia.

Saat itu, negeri beribukota Seoul tersebut meraih lima emas. Satu emas yang lepas dari nomor tunggal putra yang jatuh ke tangan Tanongsak Saensomboonsok dari Thailand.

Sementara, Indonesia sendiri gagal total. Tak ada satu pun keping emas yang dibawa pulang.

Raihan terbaik Indonesia hanya terjadi pada 2011 di Shenzhen, Tiongkok, dengan menjadi juara dari nomor beregu. (*)


Distribusi emas cabor bulu tangkis Universiade 2015
Tunggal putra: Jeon Hyeok-jin (Korsel x5/8) v Son Wan-ho (Korsel x2) 22-20, 13-21, 21-17

Tunggal putri: Sung Ji-hyun (Korsel x2) v Porntip Buranaprasertsuk (Thailand x3/4) 21-18, 21-19

Ganda putra: Kim Gi-jung/Kim sa-rang (Korsel x1) v Zhang Wen/Wang Yilyu (Tiongkok x2) 21-16 22-20

Ganda putri: Seung Chan-shin/Lee So-hee (Korsel x1) v Ou Dongni/Yu Xiaohan (Tiongkok x2) 21-16, 22-20

Ganda campuran: Kim Gi-jung/Seung Chan-shin (Korsel x1) v Ching-Yao Lu/Chiang Kai Hsin (Taiwan) 21-14, 21-11

x=unggulan

Sudah Jadi Nomor Dua Malaysia

MERANGKAK: Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (foto: thestar)
HASIL dari White Nights 2015 memberikan dampak bagi Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Ranking dunia yang dimiliki pasangan ganda putra Malaysia tersebut naik.

Dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 8 Juli, sekarang mereka ada di posisi 73 atau naik 20 setrip dari posisi pekan sebelumnya. Dalam White Nights 2015 yang dilaksanakan di Rusia, Kien Keat/Boon Heong mampu menjadi juara dan berhak membawa 4.000 poin.

Ranking ini merupakan yang terbaik setelah memutuskan bersatu kembali.Di Negeri Beruang Merah, julukan Rusia, Kien Keat/Boon Heong mengalahkan unggulan kedua Marcus Ellis/Chris Langridge dari Inggris dengan straight game 21-10,21-12.

Ini menjadi gelar kedua bagi mantan pasangan nomor satu dunia itu selama 2015. Gelar perdana dipetik di Srilanka Challenge. Ketika itu,Kien Keat/Boon Heong mengalahkan rekan senegaranya sendiri, Chooi Kah Ming/Ow Yao Han, dengan 21-19, 21-17. Ranking terbaru itu juga menempatkan mereka menjadi ganda nomor dua Malaysia. (*)



Ranking pasangan Malaysia di posisi 10 besar


19. Goh V Shem/Tan Wee Kiong

73. Koo Kien Keat/Tan Boon Heong

76.Jagdish Sing/Tan Wee Long

77.Hoon Thein How/Lim Khim Wah

88. Tan Wee Gieen/Teo Ee Yi

89.Chooi Kah Ming/Teo Kok Siang

91. Shen Low Juan/Ong Yew Sin


Sumber: BWF

Devi/Keshya Kalah, Indonesia Pulang tanpa Medali

Minggu, 12 Juli 2015

Devi Tika/Keshya Nurvita (foto:djarum)
KEGAGALAN kembali memayungi pebulu tangkis Indonesia. Kali ini terjadi di Universiade 2015.

Dalam ajang yang dilaksanakan di Gwangju, Korea Selatan, merah putih gagal menempatkan wakilnya hingga babak semifinal. Setelah dialami di nomor beregu, kali ini terjadi nomor perorangan.

Satu-satunya wakil yang tersisa, pasangan ganda putri Devi Tika Permatasari/Kehsya Nurvita Hanadia, kalah di babak perempat final. Mereka menyerah dua game langsung 14-21, 16-21 kepada Miki Kashihara/Miyuki Kato dari Jepang dalam pertandingan yang dilaksanakan pada Sabtu waktu setempat (11/7/2015).

Di atas kertas, sebenarnya pasangan merah putih bisa mengatasi lawannya. Dalam event yang diperuntukkan bagi para mahasiswa tersebut, Devi/Keshya diunggulan di posisi 3/4 atau minimal sampai ke semifinal. Sedangkan pasangan Negeri Sakura, julukan Jepang. bestatus nonunggulan.

Di nomor ganda putri ini,Indonesia juga punya wakil Aprillia Yuswandari/Febby Angguni. Tapi, pasangan dadakan ini sudah terhenti di babak ketiga usai dihentikan wakil Thailand Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai.

Sebenarnya, di nomor perongan ini, Indonesia turun di semua nomor. Sayang, dutanya sudah terhenti di babak awal.

Sementara, di nomor beregu, Indonesia kalah oleh Malaysia di perempat final dengan 2-3. Emas nomor beregu ini akhirnya jatuh ke tangan tuan rumah Korea Selatan usai melibas Tiongkok dengan skor telak 3-0.

Sejak bulu tangkis masuk cabor dalam Universiade pada 2011, hanya sekali Indonesia meraih emas yakni pada nomor beregu. Itu terjadi pada 2011 di Shengzhen, Tiongkok. (*)





















Pasangan Dadakan Tembus Babak III

Sabtu, 11 Juli 2015

Aprillia Yusswandari bisa bermain rangkap (foto:PBSI)
INDONESIA diwakili Aprilia Yuswandari dan Febby Angguni di nomor tunggal putri dalam Universiade 2015. Hanya, langkah Febby sudah lansung terhenti di babak pertama.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Gwangju, Korea Selatan, pada Jumat waktu setempat (10/7/2015), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut kalah dua game langsung 16-21, 14-21 atas wakil Jepang Shiho Tanaka.

Sebenarnya, secara ranking, Febby unggul jauh. Saat ini, Febby ada di posisi 165 sedangkan Shiho masih terdampar di posisi 846.

(Swedia) dengan 21-8, 21-10. Kemudian, di hari yang sama, tiket perempat final diraih Aprillia berkat kemenanan 21-9, 21-11 atas Melinda Sun (Australia).

Syarat menembus semifinal jika pebulu tangkis didikan Semen Gresik tersebut mampu menjungkalkan unggulan teratas asal Taiwan Tai Tzu Ying. Aprillia sudah dua kali bertemu dengan Tzu Ying yakni di Singapura Open 2012 dan Singapore Open 2013.

Aprillia juga mampu menembus babak ketiga di nomor ganda. Menariknya, pasangan yang dipilih adalah Febby Angguni.

Pada Jumat waktu setempat, kedua turun ke lapangan dua kali. Usai memperoleh menang bye, Aprillia/Febby melibas pasangan Rusia Elene Komendrovskaya/Irina Khlebko dengan straight game 21-14, 21-14.Di babak ketiga, pebulu tangkis yang sama-sama pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut akan menantang unggulan kelima Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai.

Di ganda putri ini, Indonesia mempunyai wakil yang punya kans memperoleh medali emas melalui pasanan Devi Tika/Keshya Nurvita hyang diunggulkan di posisi ketiga.  Langkahnya pun sudah sampai babak ketiga usai melibas Sanni Rautala/Sonja Pekkola dari Inggris dengan straight game 21-7, 21-12.

Sejak bulu tangkis masuk ke Universiade pada 2011 di Shenzhen, Tiongkok, Indonesia belum pernah meraih emas. Saat itu, keping mulai dipetik dari nomor beregu.

Sementara, pada 2015, di nomor beregu, merah putih terhenti di perempat final setelah dipermalukan Malaysia dengan 2-3. (*)

Korea Selatan Pertahankan Emas Beregu

Jumat, 10 Juli 2015

KOREA Selatan meraih emas di cabang olahraga (cabor) nomor beregu Universiade 2015. Dalam final yang dilaksanakan di Hwasun, Korea Selatan, pada 8 Juli 215, tuan rumah menang telak 3-0 atas Tiongkok.

Tiga kemenangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, disumbangkan pasangan ganda campuran Kim Gi-jung/Shin Seung-cha, Son Wan-ho (tunggal putra), dan Lee Yong-dae/Ko Sung-hyun (ganda putra). Kemengan tuan rumah dibuka Gi-jung/Seung-cha yang mengungguli Zhang Wen/Ou Dongni 15-21, 21-17, 21-7.
KUNCI: Lee Yong-dae/Ko Sung-hyun (foto:victor)

Tunggal putra nomor sembila dunia Wan-ho memperbesar kemenangan negerinya. Dia menang mudah dua game 21-12, 21-8 atas Gao Huan.Secara ranking, Wan-ho unggul jauh. Lawannya hanya di posisi 147 dunia.

Emas Korea Selatan ditentukan oleh Yong-dae/Sung-hyun. Mantan pasangan ganda putra nomor satu dunia tersebut sempat dibuat keropotan oleh Zhang Wen/Wang Yilvu. Hanya menang 21-19 di game pertama, mereka menang mudah di game kedua 21-8.

Donasi keping mula ini juga mengukuhkan Korea Selatan di puncak klasemen sementara di Universiade 2015.  Negeri beribu kota Seoul itu sudah mengumpulkan 30 emas. Jauh mengungguli rival terdekatnya, Tiongkok. yang baru meraih 22 emas.

Dua tahun lalu di Kazan, Rusia, Yong-dae dkk juga mengalahkan Tiongkok di final. Sementara, di nomor beregu ini, Indonesia gagal total.

Agripina Prima hanya mampu sampai babak perempat final karena dihentikan Malaysia dengan skor 3-2. Di Kazan, merah putih juga tak memperoleh medali. Sementara, pada 2011 di Shenzhen, Tiongkok, Indonesia meraih emas nomor beregu.Usai mempertandingkan nomor beregu, mulai 10 Juli nomor perorangan akan digelar. (*)

Distribusi emas nomor beregu
Emas: Korea Selatan
Perak: Tiongkok
Perunggu: Thailand, Malaysia

BAM Terancam Kehilangan Pelatih (Lagi)

Rabu, 08 Juli 2015

TAWARAN: Tan Kim Her  bisa ke India (foto:thestar)
BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) kembali bergolak. Salah satu pelatihnya,Tan Kim Her, dikabarkan bakal hengkang.

Sebuah media di India melaporkan, lelaki 44 tahun tersebut menjadi kandidat menjadi pelatih ganda di BAI (Asosiasi Bulu Tangkis India). Selain Kim Her, nominasi lainnya berasal dari Korea Selatan dan Inggris.

Jika menangani di India, Kim Her akan menerima bayaran antara USD 7.500 - USD 8.000 atau sekitar (Rp 75 juta hingga Rp 80 juta) per bulan. Dengan duras kontrak selama lima tahun.

Kim Her merupakan pelatih kepala nomor ganda 2011-2013. Pada 2013, dia juga turun langsung turun ke lapangan memoles ganda campuran.
.
BAM sendiri sudah ditinggal beberapa pelatihnya seperti  Rashid Sidek dan Rosman Razak. Keduanya bergabung  Sports Affairs. Begitu juga dengan He Guo Quan yang baru akhir bulan lalu bergabung dengan Ampang Jaya BC.

''Benar Kim Her menerima tawaran menanganin India. Tapi, dia belum mengundurkan diri dari BAM. Yang pasti, kami senang jika dia bertahan bersama kami,'' kata Direktur Teknik BAM Morten Frost asal Denmark. (*)

Indonesia Gagal Ulangi Capaian 2011

SIA-SIA: Aprilia sumbang kemenangan (foto:djarum)
TIM bulu tangkis Indonesia gagal di Universiade 2015. Ironisnya, kegagalan tersebut dialami sebelum babak semifinal. Ini praktis membuat merah putih tak memperoleh medali.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Gwangju, Korea Selatan, pada Selasa waktu setempat (7/7/2015), Indonesia menyerah 2-3 kepada Malaysia. Harapan menembus empat besar dibuka oleh kemenangan pasangan ganda campuran Agripinna Prima/Keshya Nurvita yang mengalahkan Mohd Arif Latif/Sannatasah.

Seperti dikutip media Malaysia, negeri jiran menyamakan kedudukan dari nomor tunggal putra. Mantan juara dunia junior Zulfadli Zulkiffli menang mudah dua game 21-9, 21-11 atas Siwanto.

Indonesia malah tertinggal saat pasangan Agrippina/Arya Maulana Aldiartama dipermalukan Mohd Arif Abdul Latif/Vountus Indra Mawan dengan rubber game 21-19, 15-21, 17-21.  Tapi, asa lolos disemburkan Aprilia Yuswandari. Perempuan yang pernah duduk di peringkat 21 dunia tersebut menang 21-17, 14-21, 21-15 atas Lydia Cheah.

Namun, di laga penentuan yang mempertandingkan nomor ganda putri, pasangan nomor 27 dunia Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita Hanadia menyerah rubber game 20-22,  21-13, 16-21 kepada Sannatasah Saniru/Ti Wei Chyi. Hasl ini membawa Malaysia bertemu dengan Korea Selatan di babak semifinal yang dilaksanakan Rabu (8/7/2015).

Dua tahun lalu di Kazan, Rusia, Indonesia juga gagal memperoleh medali di beregu dan perorangan. Sementara pada 2011 di Shenzhen, Tiongkok, Indonesia Raya berkumandang dari nomor beregu. (*)

Mantan Cipayung Tampil di Universiade

Selasa, 07 Juli 2015

BELA BANGSA: Devi Tika/Khesya Nurvita (foto:djarum)
TIM bulu tangkis Indonesia di pandang sebelah mata dalam Universiade 2015. Dalam ajang yang dlaksanakan di Gwangju, Korea Selatan, paa 6-11 Juli tersebut, merah putih hanya diunggulkan di posisi kesepuluh.

Dalam babak penyisihan, Indonesia menghuni Grup E bersama dengan Rusia, Hongkong, dan Estonia. Dalam ajang tahunan tersebut, merah putih membawa delapan pebulu tangkis, empat putra dan empat putri.

Meski tak ada pebulu tangkis nasional yang ikut. Tapi, mayoritas pernah digembleng di Cipayung, tempat pemusatan latihan PP PBSI.

Di kelompok putra ada Siswanto, Arya Maulana, Agripinna Prima, dan Hidayat Setiwan. Selain nama terakhir, ketiganya hasil gemblengan pelatnas.

Bahkan, Arya merupakan mantan juara junior Asia 2012 saat masih berpasangan dengan Edi Subaktiar. Sedangkan Agripinna saat ini masih berpasangan dengan mantan juara Olimpiade Beijing Markis Kido.

Sedang di kelompok putri, dua tunggal putri yang sama-sama pernah membela Indonesia di ajang Piala Uber, Febby Angguni dan Aprilia Yuswandari. Sedangkan di ganda pasangan langganan juara sirkuit nasional Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita jadi tumpuan.

Dua tahun lalu, di Kazan, Rusia, Indonesia gagal total. Tak ada satu pun medali yang berhasil di bawa pulang.Lima emas disabet Korea Selatan dan satu emas jatuh ke tangan Thailand melalui Tanongsak Saensombonsuk dari tunggal putra.

Hasil lebih bagus dipetik pada 2011. Dalam ajang yang dilaksanakan di Shenzhen, Tiongkok, lagu Indonesia Raya berkumandang di nomor beregu. Saat itu, Indonesia diperkuat antara lain Sentaria Agus di tunggal putra, Bellaetrix Manuputty di tunggal putri, Rian Agung/Angga Pratama (ganda putra), maupun Riky Widianto/Shendy Puspa di ganda campuran.(*)


Ranking Skuad Indonesia di Universiade 2015
Putra:
1.Siswanto
Tunggal:512
Ganda: -

2.Arya Maulana
Tunggal: -
Ganda putra: 282
Ganda campuran:553

3. Agripinna Prima
Tunggal:-
Ganda putra:47
Ganda campuran: 123

4.Hidayat Setiwan
Tunggal: -
Ganda putra:700
Ganda campuran: 1346

Putri:
5.Febby Angguni
Tunggal: 164
Ganda putri:-
Ganda campuran:-

 6.Aprilia Yuswandari
Tunggal: 116
Ganda putri:-
Ganda campuran: -

7.Devi Tika Permatasari
Tunggal:-
Ganda putri: 27
Ganda campuran: 222

8. Keshya Nurvita
Tunggal: -
Ganda putri: 27
Ganda campuran: 254

Sumber: BWF

Melompat tapi Tak Bisa Tinggi Sekali

JUARA: Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (foto:badzine)
GELAR nomor ganda putra White Nights 2015 jatuh ke tangan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Pasangan Malaysia tersebut menjungkalkan unggulan kedua Marcus Ellis/Chris Langridge dua game langsung 21-10, 21-12 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Gatchina, Rusia, pada Minggu waktu setempat (5/7/2015).

Sebelumnya, pada bulan lalu, mereka menang di turnamen challenge, yang merupakan turnamen level kelima, dalam kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) yakni Sri Lanka Open.Ketika itu, Kien Keat/Boon Heong menundukkan rekan senegaranya sendiri Chooi Kah Ming /Ow Yao Han dengan 21-19, 21-17.

Sebenarnya, dia jeda antara Sri Lanka Challenge dan White Nights, mantan penghuni pemusatan latihan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) tersebut turun di Mauritius Internationaln dan Amerika Serikat Grand Prix Gold. Namun, keduanya memilih memutuskan mundur.

Raihan di Negeri Beruang Merah, julukan Rusia, itu semakin sempurna karena Kien Keat/Boon Heong tak pernah kehilangan satu game pun. Bahkan, unggulan teratas Adam Cwalina/Przemyslaw Wacha asal Polandia ditaklukkan straight game 21-15, 21-17 di babak kedua. Begitu juga unggulan ketiga Peter Briggs/Tom Wolfenden yang juga dari Inggris disikat 21-18, 21-18.

Kemenangan ini bakal mengangkat kembali ranking pasangan negeri jiran tersebut. Memang tak akan terlalu tinggi karena turnamen yang diikutinya hanya level challenge.

Saat ini, Kien Keat/Boon Heong tengah menyusun kekuatan kembali. Mereka sempat terpisah beberapa bulan karena Kien Keat memilih kelur dari BAM dan pergi ke Thailand. Akibatnya, ranking yang dimiliki terus turun dan sempat terlempat ke 100 besar dunia. (*)


Distribusi gelar White Nights 2015
Tunggal putra: Vladimir Malkov (Rusia x7) v Nguyen Tien Minh (Vietnam x1) 21-16, 21-12

Tunggal putri:Vu Thi Trang (Vietnam x5) v Rong Schafer (Amerika Serikat) 21-14, 21-14

Ganda putra:Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia) v Marcus Ellis/Chris Langridge (Inggris x2) 21-10, 21-12

Ganda putri: Ekaterina Bolotova/Evgeniya Kosetskaya (Rusia x1) v Ozge Bayrak/Neslihan Yigit (Turki x2) 20-22, 21-13, 21-15

Ganda campuran:  Sam Magee/Chloe Magee (Irlandia x1) v Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba (Polandia) 21-18, 21-17

x=unggulan

Kien Keat/Boon Heong Mengejar Yang Kedua

Minggu, 05 Juli 2015

TERJAL:Marcus Ellis/Chris Langridge (foto:BWF)
KOO Kien Keat/Tan Boon Heong semakin panas. Pasangan Malaysia tersebut mampu menembus final White Nights 2015.

Pada pertandingan yang dilaksanakan di Gatchina, Rusia, pada Sabtu waktu setempat (4/7/2015), mantan pasangan nomor satu dunia tersebut memetik kemenangan. Di perempat final, Kien Keat/Boon Heong menjungkalkan unggulan pertama turnamen berhadiah total USD 15 ribu tersebut, Adam Cwalina/Przemyslaw Wacha dari Poladia dengan dua game langsung 21-15, 21-17.

Ini menjadi kemenangan kedua pasangan negeri jiran tersebut atas Cwalina/Wacha. Bulan lalu, Kien Keat/Boon Heong menang di Sri Lanka Challenge juga dengan dua game.

Beberapa jam kemudian, tiket ke final berhasil digenggam juara All England 2007 tersebut berkat kemenangan straight game 21-17, 21-19 atas unggulan ketiga asal Inggris Peter Briggs/Tom Wolfenden.  Kien Keat/Boon Heong belum pernah berjumpa lawannya tersebut.

Namun, babak pemungkas yang dilaksanakan Minggu waktu setempat (5/7/2015), urung mempertemukan sesama pasangan Malaysia. Kompatriot (rekan senegara) Hoon Thien How/Lim Khim Wah menyerah 11-21, 18-11 kepada wakil Inggris lainnya, Marcus Ellis/Chris Langridge. Pada game kedua, ganda Malaysia itu mengundurkan diri.

Kien Keat/Boon Heong belum pernah berjumpa dengan Ellis/Langridge. Kalau melihat ranking, pasangan yang sudah berada di bawah naungan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) kalah jauh. Kien Keat/Boon Heong ada di posisi 93 sedangkan lawannya di ranking 29.

Hanya, dari sisi pengalaman, pasangan yang sempat terpisah tersebut unggul pengalaman. Selain pernah duduk di posisi teratas dunia, Kien Keat/Boon Heong merupakan finalis Kejuaraan Dunia 2010. Selain itu, dalam ukiran sesama wakil dari negara anggota Persemakmuran (Commonwealth), Ellis/Langridge tak ada apa-apanya.  Kien Keat/Boon Heong dua kali meraih emas dalam Commonwealth Games yakni 2006 dan 2010.

Jika juara di Rusia, mereka akan mengoleksi dua gelar beruntun. Sebelumnya, Kien Keat/Boon Heong meraih gelar di Srilanka Challenge. (*)

Agenda final White Nights 2015
Tunggal putra:Nguyen Tien Minh (Vietnam x1) v Vladimir Malkov (Rusia x7)

Tunggal putri: Vu Thi Trang (Vietnam x5) v Rong Schafer (AS x2)

Ganda putra: Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia) v Marcus Ellis/Chris Langridge (Inggris x2)

Ganda putri:Ekaterina Bolotova/Evgeniya Kosetkaya (Rusia x1) v Ozge Bayrak/Neslihan Yigit (Turki x2)

Ganda campuran: Sam Magee/Chloe Magee (Irlandia x1) v Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba (Polandia x2)

x=unggulan

Tiongkok Bisa Ulangi Sukses Era Lin Dan

Di masa junior Lin Dan pernah membawa Tiongkok pesta gelar
TIONGKOK tampil perkasa dalam Kejuaraan Junior Asia 2015. Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut mampu meloloskan wakilnya dalam semua nomor.

Bahkan, dua gelar dari nomor ganda putri dan ganda putra, sudah pasti di tangan. Ini disebabkan terjadinya final sesama wakil Tiongkok (all Tiongkok finals).

Di ganda putri Chen Qingchen/Jia Yi Fan yang diunggulkan di posisi ketiga akan berhadapan dengan kompatriot (rekan satu negara) Du Yue/Li Yin Hui (Tiongkok). Sedangkan di ganda putra,  pasangan nonunggulan Han Chengkai/Zhou Haodongn menantang unggulan kedua He Jiting/Zheng Si Wei.

Sejak digelar 1997, Negeri Tembok Rakasasa, julukan Tiongkok lainnya, hanya sekali sapu bersih yakni pada 2000. Selain memenangi lima nomor perorangan, negeri beribu kota Beijing tersebut juga menyabet posisi terhormat di nomor beregu putra dan putri.

Saat itu, Kejuaraan Junior Asia masih memakai sistem beregu putra dan putri layaknya Piala Thomas-Uber. Namun, sejak 2006, sistem diubah ke Piala Sudirman dengan menggelar lima nomor di kelompok beregu yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Pada 2000, Tiongkok mengandalkan Lin Dan yang akhirnya menjadi legenda olahraga tepok bulu dunia dengan koleksi lima gelar juara dunia dan dua emas olimpiade (Beijing 2008 dan London 2012). Sampai kini, Super Dan, julukan Lin Dan, masih aktif bermain.

Tahun lalu, sukses itu nyaring terulang. Usai meraih gelar beregu dengan mengandaskan Korea Selatan di beregu, Tiongkok kehilangan satu posisi terhormat di nomor tunggal putri yang jatuh ke wakil Jepang Akana Yamaguchi.

Namun, mereka juga pernah gagal total pada 2012. Saat itu, tak ada satu pun wakil Tiongkok yang menjuarai nomor perorangan.Gelar beregu pun disabet Jepang. (*)







Agenda final Kejuaraan Junior Asia 2015
Tunggal putri: He Bing Jiao (x1) v Chocuwong Pornpawee (Thailand x8)

Ganda campuran: Zheng Si Wei/Chen Qingchen (Tiongkok x1)  v Choi Jong-woo/Kim Hye-jeong (Korea Selatan)

Tunggal putra: Lin Guipu (Tiongkok x6) v Seo Seung-jae (Korea Selatan x4)

Ganda putri: Chen Qingchen/Jia Yi Fan (Tiongkok x3) v Du Yue/Li Yin Hui (Tiongkok)

Ganda putra: Han Chengkai/Zhou Haodongn (Tiongkok) v He Jiting/Zheng Si Wei (Tiongkok x2)

x=unggulan

Gagal Total dari Bangkok

Sabtu, 04 Juli 2015

PASANGAN ganda campuran
TAKLUK: Fachriza Abimanyu/Apriani (foto:PBSI)
Fachriza Abimanyu/Apriani terhenti di semifinal Kejuaraan Junior Asia 2015. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, pada Sabtu waktu setempat (4/7/2015), mereka kalah dua game langsung 14-21, 14-21 kepada unggulan teratas Zheng Si Wei/Chen Qingchen.

Kekalahan ini membuat Indonesia tak bisa mengirim wakilnya di babak final yang dilaksanakan Mingu (5/7/2015). Ini disebabkan keduanya merupakan harapan terakhir merah putih dalam ajang bagi pebulu tangkis di bawah usia 19 tahun tersebut.

''Kami gagal total. Tak ada gelar yang bisa kami raih,'' kata Imam Tohari, salah satu pelatih Tim Junior Indonesia, kepada Smashyes.

Ya, sebelumnya, PP PBSI berharap mampu meraih juara. Bahkan, kans tersebut ada di beregu dan perorangan.

Sayang, di nomor beregu, merah putih dihentikan Korea Selatan dengan skor 2-3. Gelar beregu akhirnya dimenangkan Tiongkok yang melibas Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, dengan skor 3-0.

Sebenarnya, di nomor perorangan, harapan besar diletakkan di nomor tunggal putra melalui Firman Abdul Kholik. Alasannya, dia sudah pengalaman di level senior dan juga menduduki urutan teratas.

Tapi, siapa sangka, pebulu tangkis yang sudah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut sudah tersingkir di perempat final. Secara mengejutkan, Firman ditumbangkan Yuta Watanabe dari Jepang 21-23, 16-21.

''Lawan memang lebih bagus dan lebih siap,'' ungkap Imam.

Dia menegaskan akan menggembleng lebih keras. Apalagi, dalam dua tahun mendatang, mereka akan menjadi pesaing di level senior.

Pil pahit tahun ini membuat Indonesia puasa gelar selama tiga tahun terakhir.Kali terakhir pada 2012, Edi Subaktiar/Arya Maulana menjadi juara nomor ganda putra. (*)


Junior Indonesia yang juara di level Asia

2002:
Ganda campuran: Markis Kido/Liliyana Natsir

2007
Ganda putri:Richi Puspita Dili/Debby Susanto

2009:
Ganda putra: Angga Pratama/Yohanes Rendy Sugiarto

2011:
Ganda putri: Suci Riski Andini/Tiara Rosalia
Ganda campuran: Lukhi Apri Nugroho/Ririn Amelia

2012:
Ganda putra: Edi Subaktiar/Arya Maulana

Punya Kenangan Manis Empat Tahun Lalu

KE TAIWAN: Sony Dwi Kuncoro
RANKING Sony Dwi Kuncoro masih terpuruk. Dalam rilis terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 2 Juli 2015, arek Suroboyo tersebut berada di posisi 123 dunia.

Tentu, ini jauh dari ranking terbaik yang pernah didudukinya, yakni posisi keempat. Usaha untuk mendongkraknya pun sudah dilakukan Sony.

Tahun ini, dia sudah lima kali mengikuti turnamen internasional. Sayang, hasilnya belum ada yang memuaskan.Tiga kali Sony tumbang di laga pertama babak utama yakni di Malaysia Grand Prix Gold, Swiss Grand Prix Gold, dan Tiongkok Grand Prix Gold.

Bahkan, di Indonesia Super Series Premier 2015, bapak dua anak itu sudah tersingkir di babak kualifikasi. Sementara di Vietnam Challenge, Sony melaju hingga perempat final sebelum dihentikan pebulu tangkis junior Firman Abdul Kholik.

Namun, itu semua tak membuat mantan tunggal putra terbaik Indonesia itu menyerah. Kini, namanya terdaftar di Taiwan Grand Prix Gold yang dilaksanakan di Taipeh pada 14-19 Juli 2015.

''Ya, saya ikut di sana,'' jelas Sony kepada smashyes.

Hanya, seperti biasanya, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut tak banyak sesumbar. Dia hanya ingin tampil sebaik mungkin.

Di babak pertama Taiwan Grand Prix Gold 2015, di babak pertama, Sony berjumpa dengan Hu Yun. Seteru asal Hongkong tersebut bukan yang asing baginya.

Mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut pernah mengalahkannya pada 2011. Kebetulannya, eventnya sama dengan sekarang, Taiwan Open.

Selain itu, keduanya juga pernah bahu membahu membela Suryanaga, Surabaya, di ajang Superliga Bulu Tangkis Indonesia 2013.  Selain Sony, pebulu tangkis senior Indonesia, Simon Santoso, juga turun di Taiwan Grand Prix Gold 2015. (*)

Tien Minh Sekarang Punya Teman

TERATAS: Nguyen Tien Minh (foto: vietnamtalk)
LAJU Nguyen Tien Minh di White Nights 2015 belum menemui sandungan. Sebagai unggulan teratas nomor tunggal putra, lelaki asal Vietnam tersebut sudah menjejakan kaki ke babak semifinal.

Itu setelah Tien Minh mengalahkan wakil Amerika Serikat Howard Shu dengan straight game 21-13, 21-7 dalam pertandingan babak ketiga yang dilaksanakan di Gatchina, Rusia, pada Jumat waktu setempat (3/7/2015). Dia akan ditantang Mohamad Arif Abdul Latif.  Unggulan ke-13 asal Malaysia itu menembus empat besar usai menundukkan Anatoliy Yartsev asal Rusia 15-21, 21-16, 21-17.

Tien Minh punya rekor bagus dengan pebulu tangkis negeri jiran itu. Tiga tahun lalu, dia menang 21-14, 21-7 atas Arif di kandangnya sendiri, Vietnam Grand Prix.

Selain itu, dalam ranking dunia, Tien Minh unggul jauh. Dia ada di posisi 35 sedangkan lawannya di ranking 66.

Hampir setahun ini, lelaki 32 tahun tersebut belum pernah menjadi juara.Kali terakhir, Tien Minh naik ke podium terhormat pada Amerika Serikat Grand Prix Gold 2014 pada bulan Juli.

Dalam 2015 ini, hasil yang diraih Tien Minh sangat buruk. Dia selalu tumbang di babak pertama dalam setiap turnamen yang diikuti Malaysia Super Series Premier, Singapura Super Series, dan Kejuaraan Asia.

Akibatnya, rankingnya pun terus merosot. Dari posisi terbaik di ranking kelima, kini dia terlempar dari 10 besar.

Menariknya, di White Nights 2015, Tien Minh punya teman senegara di babak perempat final yakni Cao Cuong Pham. Tiket itu digenggam usai mengalahkan wakil Ukraina Vitaly Konov 18-21, 21-12, 21-16. Di perempat final, dia berjumpa dengan pebulu tangkis Ukraina lainnya, Artem Pochtarev. (*)

Hanya Sisakan Satu Wakil

SATU SAJA: Fachriza Abimanyu/Apriani
KEJUTAN terjadi di nomor tunggal putra Kejuaraan Junior Asia 2015. Unggulan teratas Firman Abdul Kholik asal Indonesia menyerah kepada pebulu tangkis nonunggulan Yuta Watanabe 21-23, 16-21 dalam pertandingan babak perempat final yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, pada Jumat waktu setempat (3/7/2015).

Padahal, di atas kertas, Firman lebih diunggulkan. Alasannya, dia menduduki posisi teratas dalam ranking dunia.

Kekalahan ini juga memupus asa Indonesia untuk bisa membawa gelar juara dalam nomor bergengsi tersebut. Ini disebabkan wakil merah putih lainnya sudah angkat koper.

Sebenarnya, selain Firman di babak keempat tunggal putra juga ada Vega Vio Nirwanda. Sayang, unggulan kesembilan ini menyerah mudah dua game 15-21, 11-21 kepada Lu Chia Hung, unggulan ketujuh asal Taiwan.

Wakil lainnya Panji Ahmad Maulana, sudah tersingkir di babak keempat. Unggulan keempat tersebut kalah 18-21, 23-21 kepada unggulan ketiga Kantawat Leelavechabutr dari  Thailand.

Hasil tersebut juga membuat Indonesia tinggal menyisakan satu wakil yakni di nomor ganda campuran. Fachriza Abimanyu/Apriani menembus semifinal berkat kemenangan 21-16, 19-21, 21-17 atas Goh Sze Fei/Teoh Mei Xing dari Malaysia. Tapi, bukan hal yang mudah untuk bisa menembus babak final.

Fachriza/Apriani berjumpa dengan Zheng Si Wei/Chen Qingchen. Pasangan Tiongkok ini merupakan unggulan teratas. (*)


Hasil wakil Indonesia di babak perempat final
Tunggal putra: Lu Chia Hung (Taiwan x7) v Vega Vio Nirwanda (Indonesia x9) 21-15, 21-11; Yuta Watanabe (Jepang) v Firman Abdul Kholik (Indonesia x1) 23-21, 21-16

Ganda putri: Kim Hye-jeong/Park Keun-hye (Korea Selatan x5) v Nisak Puji Lestari/Rika Rosilawati (Indonesia x4)  21-19, 21-13

Ganda campuran: He Jiting/Du Yue (Tiongkok x8) v Drajat Beno/Yulfira Barkah (Indonesia x4) 21-11, 21-15,
Fachriza Abimanyu/Apriani (Indonesia x7) v Goh Sze Fei/Teoh Mei Xing (Malaysia) 21-16, 19-21, 21-17

x=unggulan

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger