www.smashyes.com

www.smashyes.com

Krishna Manfaatkan Absennya Para Senior

Minggu, 30 Agustus 2015

Khrisna Adi Nugraha (foto:djarum)
ABSENNYA para pebulu tangkis senior tak mau dibuang oleh Krishna Adi Nugraha. Dia sukses menyabet gelar nomor tunggal putra kelompok dewasa dalam Sirkuir Nasional (Sirnas) Seri Jawa Tengah.

Dalam final yang dilaksanakan di Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu WIB (29/8/2015), pebulu tangkis yang kini digembleng di Pelatnas PBSI di Cipayung tersebut mengalahkan rekan sepelatihannya, Enzi Shafira dengan dua game langsung 21-12, 21-14.Pertandingan keduanya memakan waktu 40 menit.

Karena waktunya bersamaan, banyak pebulu tangkis nasional yang memilih tampil dalam Vietnam Grand Prix yang tengah berlangsung di Ho Chi Minh City. Salah satunya Alamsyah Yunus yang dikenal sebagai raja sirnas. Pekan lalu di Jogjakarta, atlet JR Enkei Jakarta itu baru saja menjadi juara.

Selama ini, Krishna, yang dibesarkan di Suryanaga Surabaya, belum pernah merasakan ,manisnya juara. Bahkan, lolos hingga semifinal pun belum pernh dirasakan.

Di Magelang, dia juga tertolong dengan tumbangnya para unggulan. Dari babak penyisihan, rival Firman Abdul Kholik semasa di junior tersebut belum pernah berhadapan dengan para unggulan.

Setelah memperoleh bye di laga perdana, Khrisna menang 21-7, 21-8 atas Indra Setiawan dari Pertamina di babak kedua.Tiket perempat final dipetik berkat keunggulan 21-17, 21-14 atas Teguh Hermelindo (Rosobon Academy).

Yoga Sidik (Pelita Bakrie) dijungkalkan Khrisna 21-16, 21-16 untuk bisa ke semifinal. Nah, jalan ke final dimasuki karena pebulu tangkis Mutiara Eskan Riffan Jaya ditundukkannya 23-25, 23-21, 21-14. (*)


Distribusi gelar Sirnas Seri Jawa Tengahn(kelompok dewasa)

Tunggal putra: Khrisna Adi Nugraha (Pelatnas PBSI) v Enzi Shafira (Pelatnas PBSI) 21-12, 21-14

Tunggal putri: Febby Angguni (Tjakrindo Masters x2) v Gregoria Mariska (Pelatnas PBSI) 21-17, 13-21, 21-16

Ganda putra: Afiat Yuris Wirawan/Yohanes Rendy Sugiarto (Pertamina x1) v Altof Baariq/Reinard Dhanriano (Mutiara Bandung x2) 21-18,21-18

Ganda putri: Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina x2) v Devi Tika/Kehsya Nurvita (Berkat Abadi) 21-14, 17-21, 21-17

Ganda campuran: Ardiansyah Putra/Devi Tika (Berkat Abadi x1) Tri Kusharjanto/Kehsya Nurvita (Tjakroindo Masters/Berkat Abadi) wo

x=unggulan

Mengejar Gelar GP Kedua

Sabtu, 29 Agustus 2015

Lee Hyun-il akan menantang Tommy Sugiarto (foto:badzine)
TAHUN ini, Tommy Sugiarto sudah mengoleksi satu gelar. Tunggal putra terbaik Indonesia itu menjadi juara di Rusia Open.

Levelnya memang di super series atau super series permier. Turnamen di Negeri Beruang Merah, julukan Rusia, itu masuk dalam kategori grand prix atau strata keempat.

Kini, Tommy pun berpeluang menambah trofinya. Kebetulan, dia kembali lolos ke final di Vietnam Open 2015. Levelnya juga grand prix.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan pada Sabtu waktu setempat (29/8/2015) di Ho Chi Minh, Tommy mengalahkan sesama wakil Indonesia, Anthony Ginting,dengan dua game langsung 21-14, 21-19. Menariknya,dalam menembus babak final, dua kali sebelumnya Tommy mengalahkan wakil merah putih.

Di babak pertama, Tommy, yang diunggulkan di posisi teratas, tak berjumpa dengan atlet Indonesia. Saat itu, dia melibas Jian Al Wei dengan 21-12, 21-13. Sedangkan di babak kedua, putra legenda tunggal putra dunia Icuk Sugiarto tersebut unggul 21-9, 21-10 atas Thammasin Sitthikom (Thailand).

Nah, di babak ketiga, barulah Tommy berjumpa dengan mantan rekannya berlatih di Pelatnas Cipayung yang kini membela panji klub Djarum Kudus Wisnu Yuli Prasetyo dengan 21-9,21-16. Setelah itu, di perempat final, lelaki binaan klub Pelita Bakrie itu menundukkan mantan penghuni Cipayung lainnya, Alamsyah Yunus, dengan 21-13, 21-19.

Di babak final, Tommy akan ditantang unggulan kedua asal Korea Selatan Lee Hyun-il. Lelaki 35 tahun tersebut di semifinal menghentikan perlawanan Chong Wei Feng asal Malaysia dengan 22-20, 21-15.

Dari rekor pertemuan, Tommy hanya sekali menang dan dua kali menelan kekalahan. Menariknya, sudah tiga tahun terakhir, dia juga tak bersua dengan Hyun-il.

Selain itu,kabarnya, Tommy dan Hyun-il menjadi rekan satu klub. Keduanya bergabung dengan Sport Affairs binaan mantan pelatih nasional Malaysia Rashid Sidek. (*)

Fitriani Bisa Tembus Final

KEJUTAN:Saena Kawakami (foto:youtube)
LAJU Fitriani di nomor tunggal putri Vietnam Grand Prix 2015 belum tertahan. Bahkan, kini langkah pebulu tangkis gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut sudah menembus babak final.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City pada Sabtu (29/8/2015) waktu setempat, dia menundukan Cheng Chi Ya dari Taiwan dengan dua game langsung 21-19, 21-19. Sebelumnya, sebelumnya (28/8/2015), atlet peringkat 112 dunia tersebut juga melibas wakil Taiwan  lainnya Lee Chia Hsin 21-11, 14-21, 21-11.

Fitriani menjadi sorotan ketika menumbangkan unggulan teratas Busanan Ongbumrungpan. Pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut dijungkalkannya di babak kedua dengan rubber game 21-9,14-21, 21-18.

Di babak final yang dilaksanakan Minggu (30/8/2015), Fitriani bersua dengan Saena Kawakami yang di semifinal unggul 21-14, 21-10 atas Supanida Katethong (Thailand). Wakil Jepang itu juga tak kalah mengejutkan. Dia lolos ke final dari babak kualifikasi.

Fitriani belum pernah berjumpa dengan atlet Negeri Sakura, julukan Jepang, itu. Hanya,dari ranking dunia, Fitriani lebih bagus posisinya.

Saat ini, dia ada di ranking 112. Sedangkan Saena di posisi 183.

Jika mampu menjadi juara di Negeri Paman Ho, julukan Vietnam, itu akan menjadi koleksi gelar keduanya. Pada April lalu, dia menjadi pemenang di Indonesia International Series yang dilaksanakan April di Semarang.  Saat itu, dia mengalahkan pebulu tangkis senior Aprilia Yuswandari dengan rubber game 13-21, 21-13, 21-13. (*)

Agenda final Vietnam Grand Prix 2015
Ganda putra: Li Junhui/Liu Chen (Tiongkok x1) v Huang Kaixiang/Wang Sijie (Tiongkok)

Tunggal putra: Tommy Sugiarto (Indonesia x1) v Lee Hyun-il (Korea Selatan x2)

Ganda putri: Suci Rizky Andini/Maretha Dea Giovani (Indonesia x8) v Jongkonphan Kittiharul /Rawinda Prajongjai (Thailand x4)

Tunggal putri: Fitriani (Indonesia) v Saena Kawakami (Jepang)

Ganda campuran: Choi Solgyu/Chae Yoo-jung (Korsel) v Huang Kaixiang/Huang Dongping (Tiongkok x5)

x=unggulan

Kali Terakhir Empat Tahun Lalu

Jumat, 28 Agustus 2015

Alamsyah Yunus akan menantang Tommy Sugiarto
SATU tiket ke babak semifinal tunggal putra di Vietnam Grand Prix sudah diamankan Indonesia.Dua wakil merah putih, Tommy Sugiarto dan Alamsyah Yunus, akan saling jegal dalam babak perempat final di Ho Chi Minh City pada Jumat waktu setempat.

Ini setelah kedua pebulu tangkis yang sama-sama pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut menundukkan lawan-lawannya di babak kedua pada Kamis (27/8/2015). Tommy, yang diunggulkan di posisi teratas, tak mengalami kesulitan saat menghentikan wakil Indonesia lainnya Wisnu Yuli Prasetyo dengan 21-9, 21-16.

Hasil tersebut membuat Tommy untuk kali kedua menundukkan mantan rekannya di Cipayung itu di ajang internasional. Sebelumnya, putra salah satu legenda olahraga tepok Indonesia, Icuk Sugiarto, tersebut menang di Indonesia Grand Prix Gold 2012 dengan 21-10, 21-16.

Sementara, Alamsyah menyingkirkan unggulan keenam asal Korea Selatan Lee Dong-keun dengan 21-19, 21-15. Dua tahun lalu, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut juga unggul atas Dong-keun di Australia Open.

Pertarungan Tommy dan Alamsyah di ajang internasional sudah berlangsung lima kali. Hasilnya, Tommy hanya menang tiga kali.

Kemenangan terakhir dipetiknya di Indonesia Challenge 2011. Saat itu, Tommy menang rubber game 21-15, 13-21, 21-15.

Wakil Indonesia lainnya yang menembus perempat final adalah Anthony Ginting. Dia menjadi satu-satunya binaan Cipayung yang masih bertahan.

Anthony lolos ke perempat final usai menang 15-21, 21-11, 21-14 atas pebulu tangkis Indonesia lainnya Muhammad Bayu Pangisthu. Dia akan berebut tiket empat besar melawan Jin Jeon-hyeok (Korea Selatan) yang di babak sebelumnya menundukkan mantan tunggal Cipayung Shesar Hiren Rustavito dengan 21-19, 21-11.

Anthony belum pernah berjumpa dengan wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, itu. (*)

Fitriani Pulangkan Unggulan Teratas

Fitriani mampu melaju ke babak kedua (foto:djarum)
KEJUTAN diukir Fitriani di nomor tunggal putri Vietnam Grand Prix 2015. Dia mampu menyingkirkan unggulan teratas Busanan Ongbumrungpan dari Thailand dengan rubber game 19-21, 21-19, 21-16 dalam pertandingan babak kedua yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City pada Kamis waktu setempat (27/8/2015).

Secara ranking, Busanan unggul jauh di atas Fitriani. Pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut ada di posisi 17 dunia. Sedangkan Fitriani hanya di ranking 112.

Selain itu, Busanan baru saja menuai sukses. Dalam SEA Games 2015 di Singapura pada Juni lalu, dia mampu meraih emas dengan menyingkirkan wakil Indonesia Hana Ramadhini.

Pada babak perempat final yang digelar pada Jumat waktu setempat (28/8/2015), Fitriani akan menjajal ketangguhan Lee Chia Hsin. Di babak perdana, atlet Taiwan tersebut juga menumbangkan wakil Thailand Nichaon Jindapol dengan 21-16, 13-21, 21-15.

Secara ranking, Fitrani, yang kini digembleng di Pelatnas Cipayung, masih unggul. Lawannya masih 17 setrip di bawahnya.

Sukses Fitriani juga diikuti Hana. Dia melibas Chochuwong Pornpawee (Thailand) dengan tiga game 22-20, 18-21, 21-16.

Untuk bisa melaju ke semifinal, dia kembali harus menyingkirkan wakil Negeri Gajah Putih Supanida Katethong. Dia melibas rekan berlatih Hana di Cipayung, Dinar Dyah Ayustine, lewat straight game 21-14, 21-17.

Hana lebih diunggulkan. Rankingnya di 59 dunia masih lebih bagus dibandingkan Supanida yang ada di posisi 83.

Sejak Fransisca Ratnasari juara pada 2009, belum ada wakil merah putih yang naik ke podium terhormat di tunggal putri. Tahun lalu, gelar jatuh ke tangan Nozomi Okuhara dari Jepang.

Nomor tunggal putra juga menjadi satu-satunya nomor yang lepas dari genggaman pebulu tangkis Indonesia. Sebab, empat nomor laiin mampu dijuarai atlet olahraga bulu tepok merah putih. (*)

India yang Datang Kali Pertama

Kamis, 27 Agustus 2015

JOINT: Khausa Dharmamer (foto:badmintonindia)
RATUSAN pebulu tangkis bakal tampil di Indonesia Challenge 2015. Bahkan, sudah ada yang seminggu datang ke Surabaya, host turnamen level lima BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut.

''Pebulu tangkis India Kaushal Dharmamer sudah datang. Bahkan, sejak Senin lalu (24/8/2015). Dia yang pertama datang dari luar negeri,'' kata Martinus Rudi, ketua bidang LO (Liaison Officer) Indonesia Challenge 2015.

Bahkan, dia udah ikut latihan dengan Puslatda Bulu Jatim yang berlatih rutin di GOR Sudirman, Surabaya, yang akan menjadi venue Indonesia Challenge 2015. Dia mengikuti program latihan dari pelatih Koko Pambudi.

''Benar, Kausha ikut dengan kami,'' ucap Koko.

Kaushal datang usai mengikuti kejuaraan Singapura International 2015. Dalam turnamen yang dilaksanakan pada 18-22 Agustus itu, dia melalui dari babak kualifikasi dan mampu menembus babak utama.

Tapi, dalam pertandingan perdana babak utama, dia menyerah tiga game 21-14, 10-21, 13-21 kepada unggulan ke-14 dari Malaysia Cheam June Wei. Dari ranking terakhir, Kausha masih berusia 19 tahun dan duduk di ranking 600 dunia.

Menurut Rudi, pada 30 Agustus, rombongan yang datang dari Thailand, Malaysia, dan sebagian Korea Selatan. (*)

Hanya Andrei/Hendra yang Bisa Tampil

SENDIRIAN: Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan
DI antara wakil Indonesia di Vietnam Grand Prix 2015, beban terberat ada di Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan. Kok bisa? Ini disebabkan keduanya menyandang status juara bertahan di ganda putra.

Memang, pada 2014, merah putih mampu menyabet empat gelar. Tapi, tahun ini, Andrei/Hendra yang bisa tampil lagi secara utuh.

Di tunggal putra, karena sesuatu hal, Dionysius Hayom Rumbaka tak bisa berlaga. Kemudian, di ganda putri, hanya Maretha Dea Geovani yang bisa  berlaga. Pasangannya saat juara tahun lalu, Rosyita Eka Putri tak bisa turun. Tahun ini, Maretha Dea berpartner dengan Suci Rizky Andini dan menempati unggulan kedelapan.

Satu lagi di ganda campuran. Pasangan Muhammad Rijal/Vita Marissa sudah berpisah. Vita masih unjuk kemampuan.Hanya pebulu tangkis putri spesialis ganda tersebut digandengkan dengan Andrei.

Andrei/Hendra diunggulkan di posisi kedua pada 2015. Langkah mereka pun sudah menembus babak II.

Dalam pertandingan perdana yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City pada Rabu waktu setempat, keduanya dipaksa tampil tiga game 15-21, 23-21, 21-8 atas Tan Wee Gieen/Teo Ee Yi dari Malaysia.

Di babak kedua,pasangan asal klub Djarum Kudus tersebut akan dijajal Philip Joper/Ronel Estanislao (Filipina). (*)

Berjumpa dengan Mantan Rekan Berlatih

MUDAH: Tommy Sugiarto (foto:themalayonline)
LANGKAH Tommy Sugiarto belum terbendung di Vietnam Grand Prix 2015. Unggulan teratas tersebut dua kali memetik kemenangan mudah.

Kali ini, tiket ke babak ketiga diperolehnya juga dengan dua game. Tommy hanya butuh setengah jam atau 30 menit untuk mengalahkan Thammasin Sitthikom dari Thailand dengan 21-9, 21-10 dalam pertandingan babak II yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City pada Rabu waktu setempat (26/8/2015). Di babak perdana, dia juga unggul mudah 21-12, 21-13 atas wakil Malaysia Al Wei Jian.

Namun, untuk bisa menembus perempat final, Tommy bakal butuh perjuangan ektras. Lawan yang dihadapi sudah paham dan hafal betul cara bermainnya.

Ini dilkarenakan putra juara dunia tunggal putra 1983 Icuk Sugiarto tersebut berjumpa dengan Wisnu Yuli Prasetyo. Pebulu tangkis asal Djarum Kudus yang dibesarkan Surya Baja Surabaya tersebut hampir dua tahun bersama Tommy di Pelatnas Cipayung.

Wisnu lolos ke babak ketiga usai menjungkalkan unggulan ke-13 asal India R.M. Gurusaidutt dengan rubber game 21-16, 15-21, 21-15.Di ajang resmi, Tommy dan Wisnu pernah berjumpa.

Yakni di Indonesia Grand Prix Gold 2012. Hasilnya, Tommy menang dua game langsung 21-10, 21-16.

Di atas kertas, Tommy tentu diunggulkan bisa menang kembali. Dari ranking dunia terakhir, dia ada di posisi 19, sedangkan Wisnu terperosok di ranking 220.

Duel sesama pebulu tangkis tunggal putra di babak ketiga juga terjadi antara Muhammad Bayu Pangisthu dengan Anthony Ginting.Keduanya lolos setelah menumbangkan para unggulan.

Bayu, sapaan Muhammad Bayu Pangisthu, mempermalukan unggulan kelima asal India b. Sai Praneeth dengan 21-19, 19-21, 21-16. Sementara Anthony memulangkan unggulan ke-11 Zuladli Zulkifli dengan dua game 21-16, 21-12.

Sayang, pebulu tangkis yang digadang-gadang bakal menjadi tunggal putra terbaik Indonesia, Jonatan Christie , secara mengejutkan tersungkur. Unggulan kedelapan itu menyerah 21-16, 19-21, 20-22 kepada Sameer Verma (India). (*)

Tien Minh Tetap Turun Lapangan

Rabu, 26 Agustus 2015

HARUS: Nguyen Tien Minh wajib berlaga di rumah sendiri
USIA Nguyen Tien Ming terus bertambah. Tahun ini, pebulu tangkis asal Vietnam tersebut sudah berusia 32 tahun.

Tentu,usia itu sudah tidak muda lagi. Namun, sampai sekarang, belum ada tanda-tanda dia akan pensiun.

Bahkan, lelaki kelahiran 12 Februari tersebut masih rajin mengikuti berbagai turnamen. Hanya, frekuensinya tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu, Tien Minh masih mampu menjadi juara di Amerika Serikat (AS) Open.

Namun, ada turnamen yang selalu wajib diikuti. Tien Minh harus selalu tampil jika berlaga di kandangnya sendiri, yakni Vietnam Open.

Dia sudah empat kali menjadi juara. Yakni pada 2008 dan 2009 serta 2011 dan 2012.

Pada 2015, dia kembali turun lagi. Dengan ranking sudah turun di posisi 36, Tien Mih ''hanya'' diunggulkan di posisi ketujuh.

Dia pun sudah turun dalam pertandingan turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut. Tien Minh dipaksa tampil tiga game 21-10, 13-21, 21-11 oleh wakil Malaysia Liew Daren. ni menjadi kemenangan keenamnya atas lawan yang kini berperingkat 84 dunia tersebut.

Di babak kedua, dia berhadapan dengan Kantawat Leelavechabutr. Di babak pertama, pebulu Thailand tersebut menang 21-19,24-22 atas Chen Chun-Wei (Taiwan).

Di atas kertas, Tien Minh bakal melaju mudah. Wakil Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut hanya berperingkat 198 dunia. (*)

Ihsan Gagal Ulangi Kenangan SEA Games 2015

Kegembiraan Ihsan dan duka Suppanyu di SEA Games 2015
DI SEA Games 2015, Indonesia mampu merebut emas beregu putra. Dalam ajang yang dilaksnakan di Singapura pada Juni itu, merah putih mengalahkan Thailand dengan skor tipis 3-2.

Ihsan Maulana Mustofa menjadi penentu kemenangan. Dalam partai kelima atau tunggal putra ketiga, dia menundukkan Suppanyu Avihingsanon dengan rubber game 20-22, 21-16, 21-9.

Nah, laga penentuan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut kembali terulang di Vietnam Grand Prix 2015. Tapi, itu bukan terjadi di babak final.

Ihsan menghadapi Suppanyu lagi di babak pertama turnamen berhadiah USD 50 ribu itu. Sayang, hasilnya berbeda dengan SEA Games 2015.

Kali ini, pebulu tangkis asal Pelatnas Cipayung tersebut menyerah. Ihsan kalah tiga game yang memakan waktu  1 jam 10 menit dengan 21-17, 15-21, 19-21 dalam pertandingan di Ho Chi Minh pada Selasa waktu setempat (25/8/2015).

Kekalahan juga dialami rekan berlatih Ihsan di Cipayung, Firman Abdul Kholik. Pebulu tangkis yang direkrut dari Mutiara Bandung tersebut menyerah 18-21, 21-14, 17-21 kepada unggulan keempat asal India Ajay Jayaram.

Sementara, dua rekanya yang lain, Jonatan Christie dan Anthony Ginting, bertahan dan lolos ke babak kedua.Jonatan, yang diunggulkan di posisi kedelapan, menghentikan perlawanan Chiang Jiann Shiarng dari Malaysia dengan 21-13, 21-14. Sedang Antony juga melibas wakil negeri jiran lainnya, Soong Joo Ven, dengan tiga game 16-21, 21-13, 21-14.

Hanya, dibandingkan Jonatan, Anthony bakal menemui lawan berat di babak kedua. Dia bersua dengan unggulan ke-11 yang juga dari Malaysia Zulfadli Zulkifli.  Jonatan sendiri akan dijajal pebulu tangkis India Sameer Verma. 

Wakil Indonesia lainnya, Tommy Sugiarto, belum menemui ganjalan berarti. Unggulan teratas ini hanya butuh waktu 32 menit untuk melibas Al Wei Jian (Malaysia) dengan 21-12, 21-13. (*)

Pernah Dapat Gelar Separo

Selasa, 25 Agustus 2015

Flandy  saat juara pada 2009 (foto:badzine)
TURNAMEN bulu tangkis Vietnam Open sudah digelar sejak 1996. Namun, pada 1998 hingga 2005, turnamen tersebut pernah berhenti berputar..

Selama 11 tahun ppula, Indonesia mendominasi gelar. Memang, tak pernah pebulu tangkis merah putih mendominasi.

Namun, pengoleksi gelar terbanyak, Indonesia mengalahkan Tiongkok, yang selama ini selalu berjaya di berbagai turnamen.

Wakil merah putih menggondol 22,5 gelar. Unggul dari Negeri Panda, julukan Tiongkok, yang memperoleh 9 dan Korea Selatan dengan 8 kali.

Tentu ada yang aneh. Kok ada 0,5? Ya, ini dikarenakan pada 2009, Indonesia menjadu juara ganda campuran. Hanya, saat itu Flandy Limpele menggandeng atlet yang bukan dari Indonesia. Dia berpasangan dengan

Saat itu, posisi Flandy sudah bukan lagi penghuni Pelatnas Cipayung. Sebelumnya, dia dikenal pebulu tangkis spesialis ganda.

Di ganda putra, dia mencuat namanya ketika berpasangan dengan Eng Hian, yang kini menjadi pelatih ganda putri di Pelatnas Cipayung. Keduanya pernah hengkang dengan membela bendera Inggris sebelum akhirnya kembali ke Cipayung.

Flandy/Eng Hian menjadi penyumbang medali perunggu pada Olimpiade Athena 2004 dan peraih perunggu nomor ganda campuran Kejuaraan Dunia 2007 berpasangan dengan Vita Marissa. (*)

Distribusi gelar di Vietnam Open
1.Indonesia                        22,5

2.Tiongkok                           9

3. Korea Selatan                  8

4. Vietnam                            4

5.Malaysia                            3

6. Thailand                           3

7.Singapura                          2

8.Inggris                               1

9. Rusia                                1

10. Jepang                            1

11. Taiwan                           0,5
Cheng Wen-hsing dari Taiwan.

Gagal Tambah Jatah di Babak Utama

KANDAS: Setyaldi Putra Wibowo (foto;PBSI)
WAKIL Indonesia di babak utama Vietnam Grand Prix 2015 gagal bertambah.Dua pebulu tangkis merah putih, Kho Henrikho Wibowo dan Setyaldi Putra Wibowo, menyerah kepada lawan-lawannya dalam pertandingan perebutan tiket ke babak utama turnamen berhadiah USD 50 ribu tersebut.

Henrikho dipaksa takluk  dua game langsung 9-21, 13-21 kepada Zulhaemi Zulkiflli dari Malaysia. Sementara,  Setyaldi kalah rubber game 21-7, 6-21, 21-23 kepada Chen Chun-Wei dari Taiwan.

Satu wakil lagi di babak kualifikasi, Andrew Susanto sudah tumbang di penampilan perdana. Putra peraih medali perunggu Olimpiade tunggal putra Hermawan Susanto tersebut tunduk 16-21, 15-21, 11-21 kepada pebulu tangkis senior Malaysia Muhammad Hafiz Hashim.

Di babak utama, Indonesia menempatkan wakil. Bahkan, unggulan teratas ditempati wakil merah putih, Tommy Sugiarto.

Selain itu, ada juga kuarter Pelatnas Cipayung Jonatan Christie, Firman Adul Kholik, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa.

Ada juga para mantan penghuni kawah cadradimuka pebulu tangkis Indonesia seperti Andre Kurniawan Tedjono, Dionysius Hayom Rumbaka, Wisnu Yuli Prasetyo, dan Shesar Hiren Rustavito, maupun Alamsyah Yunus.

Tahun lalu, gelar juara tunggal putra disabet Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka. Di final, pebulu tangkis asal klub Djarum Kudus tersebut menundukkan Prannoy Kumar dari India dengan 18-21, 21-15, 21-18.

Selain tunggal putra, tiga posisi terhormat lainnya juga disabet wakil Indonesia. Andrei Adistis/Hendra Aprida Gunawan (ganda putra), Maretha Dea Giovani/Rosyita Eka Putri (ganda putri), dan Muhammad Rijal/Vita Marissa (ganda campuran). Sementara, gelar tunggal putri disabet wakil Jepang Nozomi Okuhara. (*).

Dari Singapura, Langsung Main di Liga Junior Malaysia

Senin, 24 Agustus 2015

BERSAMBUNG: Jauza Sugiarto/Apriani
APRIANI dan Jauza Fadhila Sugiarto seperti tak kenal lelah. Kok bisa? Ya, sehari setelah juara di Singapura International, keduanya tampil di Junior Purple League di Malaysia.

Apriani dan Jauza membela Cheras dalam pertandingan yang dilaksanakan Minggu (24/8/2015). Sayang, kontribusi keduanya gagal membawa klubnya memetik kemenangan atas Klang United. Dengan lima partai yang digelar dan menghitung game menang-kalah, Cheras kalah 7-11.

Apriani turun di nomor ganda campuran. Sedangkan Jauza, yang merupakan adik kandung pebulu tangkis tunggal putra terbaik Indonesia saat ini Tommy Sugiarto, berlaga di nomor tunggal.

Pasangan Apriani/Ammer Amri menang 11-9, 11-7, 11-5  atas Leon Jun Hao/Lim Jing Ning. Sayang, Jauza menyerah 7-11, 4-11, 8-11.

Kekalahan Jauza tersebut membuat Cheras kehilangan tiga partai. Pil pahit juga ditelan di nomor tunggal putra dan ganda putra. Sementara di ganda putri, mereka memetik kemenangan.

Hanya, pasangan yang ditampilkan bukan Apriani/Jauza. Cheras mempercayakan kepada Ng Wan Win/Pearly Tan Koong.

Pada Sabtu (22/8/2015), Apriani/Jauza yang berasal dari Pelita Bakrie menjadi juara di Singapura International 2015. Dalam pertandingan final, mereka mengalahkan sesama pasangan Indonesia yang digembleng di Pelatnas Cipayung Melvira Oklamona/Rika Rositawati dengan 22-20, 16-21,21-10. 

Ini menjadi kekalahan pertama Cheras. Pekan sebelumnya (16/8/2015), mereka telah dua kali memetik kemenangan. Yakni melibaas Puchong United 10-8 (15/8/2015) dan mengalahkan Serdang dengan 11-7 (16/8/2015).  Saat itu, Apriani dan Jauza menyumbangkan poin berharga.

Dalam daftar peserta, banyak pebulu tangkis muda Indonesia yang ikut ambil bagian. Di antara Jonatan Christie dan Firman Abdul Kholik, dua atlet masa depan merah putih di tunggal putra. (*)

Akhirnya Yuhan Bisa Juga

Yuhan Tan (kanan) di atas podium (foto:twitter)
PENANTIAN juara Yuhan Tan berakhir. Ini setelah pebulu tangkis Belgia berdarah Indonesia tersebut mampu naik ke podium terhormar nomor tunggal putra dalam Turki International 2015. Dalam final yang dilaksanakan di Istanbul pada Minggu waktu setempat (23/8/2015), Yuhan, yang diunggulkan di posisi kedua, menang rubber game 12-21, 21-13, 21-18 atas Misha Zilberman.

''Iya ini gelar pertama saya di 2015. Semoga ada lagi di tahun ini,'' tulis Yuhan Tan saat dihubungu melalui jejaring sosial.

Kemenangan ini juga memperbesar rekor kemenangan Yuhan atas lawannya yang berperingkat 44 atau 30 setrip di atasnya tersebut. Dalam enam kali pertemuan, Yuhan hanya sekali kalah.

Sebenarnya, pada 2015, Yuhan nyaris menjadi juara. Dia mampu menembus babak final Belanda International.

Sayang, di laga terakhir, kakak kandung Lianne Tan itu takluk 21-11, 22-20 kepada Anders Antonsen. Padahal, saat itu, Yuhan diunggulkan di posisi kedua, sedangkan lawannya nonunggulan.

Dua tahun lalu dalam kejuaraan yang sama, dia juga juara. Ketika itu, lelaki 28 tahun itu menghentikan perlawanan Iztok Utrosa (Slovenia) unggul dua game 21-11, 21-12. (*)

Distribusi gelar Turki International 2015
Tunggal putra: Yuhan Tan (Belgia x2) v Misha Zilberman (Israel x1) 12-21, 21-13, 21-18

Tunggal putri: Kati Tolmoff (Estonia x2) v Laura Sarosi (Hungaria x3) 21-13, 21-11

Ganda putra: Gergely Krausz/Tovannakasem Samatcha (Hungaria/Thailand) v Ashkan Fesahati/Mohamad Reza (Iran) 21-6, 21-6

Ganda putri: Kader Inal/Fatma Nur (Turki x2) v Cemre Fere/Ebru Yazgan (Turki) 21-13, 21-15

Ganda campuran: Melih Turgut/Fatma Nur (Turki x2) v Serdar Koca/Emine Demirtas (Turki) 21-14, 20-22, 21-11

x=unggulan

Marin Hindari Aib Indonesia Open

Minggu, 23 Agustus 2015

Yui Hashimoto
YUI Hashimoto pernah jadi mimpi buruk bagi pebulu tangkis Spanyol Carolina Marin. Juara dunia tunggal putri edisi 2014 dan 2015 tersebut pernah dipermalukan wakil Jepang itu dalam Indonesia Super Series Premier 2015.

Saat itu, dalam pertandingan yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada 3 Juni 2015, Marin menyerah rubber game 21-10, 15-21, 17-21. Ironisnya, kekalahan tersebut terjadi di babak pertama turnamen berhadiah USD 800 ribu tersebut. Selain itu, sepekan sebelumnya, Marin juga baru saja menjadi juara Australia Super Series 2015.

Ini juga nyaris sama. Marin bertemu lagi dengan Yui dengan status baru saja menjadi juara dunia.

Secara ranking, pebulu tangkis Negeri Sakura, julukan Jepang, itu kalah jauh. Dia ada di posisi 20 dunia. Sementara, Marin ada di posisi kedua.

Di Jepang Super Series 2015, Marin yang berada di grup atas bakal menghadapi perjuangan berat. Jika menang ataas Yui, besar kemungkinan dia akan ditantang wakil tuan rumah lainnya, Sayaka Takahashi.

Tahun lalu di Jerman Grand Prix Gold, Marin pernah kalah. Dia menyerah 21-18, 13-21, 19-21.

Undian pun akan mempertemukan lawan terberatnya dalam Kejuaraan Dunia 2015 dengan Wang Shixian dari Tiongkok. Untuk sementara, Marin unggul tiga kali dalam lima kali pertemuan.

Kali terakhir, keduanya bersua dalam perempat final Kejuaraan Dunia 2015. Marin menang dua game langsung 21-17, 21-19.

Unggulan kedua di Jepang Super Series 2015 ditempati Saina Nehwal. (*)

Bukan karena Ada Perbedaan

Firman Abdul Kholik, unggulan teratas
PELATNAS Cipayung punya kuarter tunggal putra. Mereka adalah Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa.

Namun, dari drawing (undian) yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), hanya ada nama Firman dan Anthony yang ikut ambil bagian dalam Indonesia Challlenge 2015. Sementara, Jonatan dan Ihsan absen dalam ajang yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada 1-6 Juni 2015 tersebut.

''Jonatan dan Ihsan dipersiapkan ke Jepang dan Korea (Selatan). Jadi nggak bisa tampil di Surabaya karena waktunya mepet,'' kata Imam Tohari, salah satu pelatih nomor tunggal putra di Pelatnas Cipayung.

Namun, dia menolak jika keduanya levelnya dianggap di atas Firman dan Anthony. Alasannya, Jonatan dan Ihsan dianggap lebih siap.

Ya, turnamen di Jepang dan Korea Selatan levelnya jauh di atas Indonesia Challenge. Keduanya merupakan turnamen dengan level super series, yang merupakan turnnamen kasta kedua. Sementara Indonesia Challenge merupakan turnamen level kelima di kalender BWF.

''Semua kemampuannya sama nggak ada perbedaan. Hanya, Jonatan dan Ihsan kondisi siap main di super series,'' ungkap Imam.

Karena bermain di level challenge, lelaki yang pernah menjadi pelatih di Jepang tersebut pun memasang target tinggi kepada Firman dan Anthony. Apa itu? Keduanya harus bisa menjadi juara dalam turnamen berhadiah total USD 20.000 tersebut.

Apalagi, Firman merupakan unggulan teratas. Kans dia menjadi juara lebih terbuka. (*)

Kalah karena Kido Cedera

Sabtu, 22 Agustus 2015

BATAL TAMPIL: Markis Kido/Pia Zebadiah
PASANGAN Markis Kido/Pia Zebadiah gagal menjadi juara ganda campuran dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Jogjakarta. Pasangan kakak-adik tersebut kalah oleh rekan satu klubnya di Jaya Raya Jakarta Irfan Fadilah/Weni Anggraini dalam pertandingan final yang dilaksanakan di GOR Amongrogo pada Sabtu WIB (22/8/2015).

Hanya, Kido/Pia kalah dalam sebuah pertandingan. Keduanya dinyatakan kalah walkover (WO).

''Kido mengalami sakit sehingga tak bisa bertanding,'' kata Ketua Bidang Pertandingan dan Perwasitan PP PBSI Eddyanto Sabarudin.

Di atas kertas, sebenarnya Kido/Pia bisa memangkan pertandingan. Dari ranking sekarang, mereka masih unggul.Saat ini,Kido/Pia ada di posisi 24 sedangkan lawannya di posisi 37.

Di babak semifinal, pebulu tangkis yang sama-sama memulai karirnya dari nomor tunggal tersebut menundukkan raja sirnas nomor ganda campuran Ardiansyah/Devi Tika (Berkat Abadi Banjarmasin) dengan dua game langsung 21-13, 21-18. Sementara Irfan/Weni juga unggul dua game saat mematahkan perlawanan pasangan Pertamina Afiat Yuris Wirawan/Nadya Melati 21-19, 21-15.

Jika raja sirnas ganda campuran gagal, sebaliknya di nomor tunggal putra. Alamsyah Yunus kembali naik ke podium terhormat. Dia menundukkan rekan satu klubnya di JR Enkei Nugroho Andi Saputro dengan 14-21, 21-13, 21-15. (*)


Hasil kelompok dewasa Sirnas Seri Jogjakarta

Tunggal putra: Alamsyah Yunus (JR Enkei Jakarta x1) v Nugroho Andi Saputro (JR Enkei Jakarta x3) 14-21, 21-13, 21-15

Tunggal putri: Febby Angguni (Tjakrindo Masters Surabaya x2) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik x1) 21-14, 21-12

Ganda putra: Fernando Kurniawan/Fran Kurniawan (Djarum Kudus x8) v Christopher Rusdianto/Tri Kusumawardhana (Suryanaga x4) 21-14, 21014

Ganda putri: Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina x2) v Komala Dewi/Vita Marissa (Djarum Kudus) 21-8, 21-17

Ganda campuran: Irfan Fadilah/Weni Anggraini (Jaya Raya Jakarta x3) v Markis Kido/Pia Zebadiah (Jaya Raya Jakarta x2) wo

Pertama buat Gregoria Mariska

Gregoria Mariska memetik hasil gemilang di Singapura
TIGA gelar diraih pebulu tangkis Indonesia dari Singapura Internasional 2015. Posisi terhormat tersebut disumbangkan Gregoria Mariska di tunggal putri, Apriani/Jauza Fadhila Sugiarto (ganda putri), dan Hafiz Faizal/Shella Devi Aulia (ganda campuran).

Sayang, satu wakil lainnya di babak final, pasangan ganda putra Hardianto/Kenas Adi Haryanto menyerah dari Hee Yong Kai/Loh Kean Hean dari Singapura. Mereka kalah 21-13, 16-21, 19-21 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Singapura pada Sabtu waktu setempat (22/8/2015).

Khusus bagi Gregoria, kemenangan di Negeri Singa, julukan Singapura, ini menjadi catatan manis. Untuk kali pertama, pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut mampu menjadi juara di ajang internasional. Gregoria harus memeras keringat selama 31 menit untuk menghentikan perlawanan Yeo Jia Min dengan 22-20, 21-15.

Sebelumnya, capaian terbaiknya adalah menembus babak final di Malaysia Challenge 2014. Gregoria gagal menjadi juara usai ditundukkan Chen Jiayun dari Singapura dengan dua game 8-21, 19-21.

Dia juga menjadi satu-satunya pebulu tangkis tunggal putri Indonesia naik di podium terhormat di segala ajang. Hasil tersebut tetap layak dapat apresiasi, meski hanya di turnamen kasta kelima dari lima kasta yang masuk dalam kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

Di Singapura International 21015, hanya di nomor tunggal putra, merah putih gagal meloloskan wakil. Capain terbaik duta Indonesia adalah menembus babak perempat final melalui Fikri Ihsan Hadmadi.

Final tunggal putra terjadi antara sesama wakil Malaysia, Iskandar Zulkarnain Zainudin dengan Soo Teck Zhi. Laga ini dimenangkan Iskandar, yang juga unggulan teratas, dengan dua game langsung 21-11, 21-15. (*)

Distribusi juara Singapura Internasional 2015
Tunggal putra:  Iskandar Zulkarnain Zainudin (Malaysia x1) v Soo Teck Zhi (Malaysia x3) 21-11, 21-15

Tunggal putri: Gregoria Mariska (Indonesia) v Yeo Jia Min (Singapura) 22-20, 21-15

Ganda putra: Hee Yong Kai/Loh Kean Hean (Singapura) v Hardianto/Kenas Adi Haryanto (Indonesia x7) 13-21, 21-16, 21-19

Ganda putri: Apriani/Jauza Fadhila Sugiarto (Indonesia x2) v Melvira Oklamona/Rika Rositawati (Indonesia x7) 22-20, 16-21, 21-19

Ganda campuran:Hafiz Faisal/Shella Devi Aulia (Indonesia x2) v Tinn Isriyanate/Savitree Amitrapai (Thailand x5) 21-14, 21-17

Tunggal Putra Lepas dari Genggaman

Fikri Ihsandi (foto;PBSI)
INDONESIA gagal mendominasi Singapura International 2015.Dari lima nomor final yang dipertandingkan sabtu waktu setempat (22/8/2015), pebulu tangkis merah putih ''hanya'' menembus di empat nomor.

Ironisnya, nomor yang Indonesia gagal meloloskan wakilnya justru di nomor bergengsi, tunggal putra. Langkah wakil yang tersisa, Fikhri Ihsandi Hadmadi, hanya sampai babak perempat final. Unggulan keenam tersebut harus mengakui ketangguhan Iskandar Zulkarnain Zainudin, unggulan teratas dari Malaysia, dengan dua game langsung 14-21, 12-21.

Sementara, di empat nomor lainnya, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, Indonesia mampu menempatan wakil di laga pemungkas. Salah satu yang mengejutkan adalah loloskanya Gregoria Mariskan.

Datang dengan status nonunggulan, pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut akan menantang Yeo Jia Min dari Singapura pada pertandingan yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (22/8/2015). Dalam laga semifinal yang dilaksanakan Jumat (21/8/2015), dia mengalahkan Thamolwan Poopradubsil dari Thailand dengan 21-10,21-19.Sementara, Jia Min yang tampil dari babak kualifikasi,menghentikan wakil Taiwan Hsu Wen Chi dalam pertarungan tiga game 21-12, 18-21, 21-18.

Gregoria belum pernah berjumpa dengan Jia Min. Hanya, melihat ranking terakhir, dia layak memenangkan pertandingan.

Dari ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terakhir pada 20 Agustus lalu, Gregoria ada di posisi 125. Sedangkan wakil tuan rumah hanya di ranking 462.

Duel antara wakil Indonesia dengan pebulu tangkis Negeri Singa, julukan Singapura, juga terjadi di ganda putra. Hardianto/Kenas Adi Haryanto, yang ditempatkan sebagai unggulan ketujuh, dijajal Hee Yong Kai/Loh Kean Hean. (*)

Agenda final Singapura International 2015
Tunggal putra: Iskandar Zulkarnain Zainudin (Malaysia x1) v Teck Zhi Soo (Malaysia x3)

Ganda putri: Melvira Oklamona/Rika Rositawati (Indonesia x7) v Apriani/Jauza Sugiarto (Indonesia x2)

Tunggal putri: Yeo Jian Min (Singapura)v Gregoria Mariska (Indonesia)

Ganda campuran: Tinn Isriyanate/Savitree Amitrapai (Thailand x5) v Hafiz Faisal/Shella Devi Aulia (Indonesia x2)

Ganda putra: Hee Yong Kai/Lon Kean Hean (Singapura) v Hardianto/Kenas Adi Haryanto (Indonesia x7)

x=unggulan

Vietnam pun Mulai Ada yang Juara

Le Thu Huyen/Pham Nhu Thao (foto:thethao)
VIETNAM mulai serius di bulu tangkis. Kini, negeri di Asia Tenggara tersebut tak lagi hanya mengandalkan Nguyen Tien Minh.

Bahkan, Vietnam pun mulai rajin mengirim pebulu tangkis ke berbagai turnamen. Mereka pun bukan lagi sekadar sebagai penggembira.

Seperti di Bulgaria International 2015. Wakil Vietnam mampu membawa pulang dari turnamen yang menyediakan hadiah total USD 5000 tersebut.

Dua gelar tersebut dari nomor ganda putri dan ganda campuran. Di ganda putri, pasangan Le Thu Huyen/Pham Nhu Thao yang mengalahkan Marie Batomene/Anne Tran dengan dua game langsung 21-16, 21-9.

Secara ranking, Thu Huyen/Nhu Thao unggul di atas lawannya. Mereka ada di posisi 208 sedangkan Marie/Anne masih di 605.

Sedangkan di ganda campuran, pasangan Do Tuan Duc/Pham Nhu Thao tak perlu memeras keringat untuk naik ke podium terhormat. Lawannya di babak final, Alexander Bond/Ditte Soby Hansen mengundurkan diri.

Selama ini, Vietnam hanya identik dengan Tien Minh. Pebulu tangkis spesialis tunggal putra tersebut memang masih paling moncer.

Bahkan, dua tahun lalu di Guangzhou, Tiongkok, lelaki yang kini berusia 32 tahun tersebut mampu menembus babak semifinal. Dia juga sering menjuarai beberapa turnamen di level grand prix. (*)

Ranking tertingg Pebulu tangkis Vietnam (berdasar 20 Agustus 2015)
1. Tunggal putra: Nguyen Tien Ming (36)

2. Tunggal putri: Vu Thi Trang (48)

3. Ganda putra: Duong Bao Duc/Nguyen Hoang Nam (182)

4. Ganda putri: Nguyen Thi Sen/Vu Thi Trang (88)

5. Ganda campuran: Dao Man Thang/Pham Nhu Thao (119)

Ealah, Hanya Naik Empat Setrip

Jumat, 21 Agustus 2015

Lindaweni Fanetri tak banyak berubah rankingnya
LINDAWENI jadi sorotan dalam Kejuaraan Dunia 2015. Dia mampu menembus babak semifinal dalam ajang yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, itu.

Padahal, perempuan 26 tahun tersebut datang dengan status nonunggulan. Langkahnya dihentikan Saina Nehwal dari India dengan straight game 17-21, 17-21. Dia menjadi pebulu tangkis putri setelah Susi Susanti yang mampu melakukannya pada 1995.

Sayang, hasil dari Kejuaraan Dunia tersebut belum banyak mengantrol rankingnya. Dari rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 20 Agustus 2015, Lindaweni berada di posisi 24 dunia.

Ini artinya, dia hanya naik empat setrip dari ranking sebelumnya. Dari Kejuaraan Dunia 2015, Lindaweni mengantongi poin 8400.

Memang, pebulu tangkis asal klub Suryanaga Surabaya tersebut belum menjadi atlet tunggal putri dengan ranking tertinggi dari Indonesia. Dia masih kalah oleh Maria Febe Kusumastuti yang di posisi 21.

Sedangkan di bawah Lindaweni, ranking wakil merah putih terpaut jauh. Ada Ruselli Hartawan di posisi 52 dan Hana Ramadhini di 59.

Di posisi teratas tunggal putri, Carolina Marin ternyata juga tak di sana. Juara dunia 2015 ini malah tergusur lawan yang dikalahkannya di fina, Saina Nehwal. (*)

Hendra/Ahsan Masih di Bawah Yong-dae/Yeon-seon

NAIK: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (foto:PBSI)
PASANGAN Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan naik satu setrip. Kini, dari daftar ranking terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 20 Agustus 2015, kini keduanya ada di posisi kedua.

Ini tak lepas dari hasil dari Kejuaraan Dunia 2015. Dalam ajang tahunan yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada 10-16 Agustus 2015 tersebut, Hendra/Ahsan mampu menjadi juara. Dalam final, pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut mengalahkan wakil Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan dengan dua game langsung 21-17, 21-14.

Hasil tersebut membuat Hendra/Ahsan memperolahan bonus 12.000 poin.Itu cukup menggeser pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.

Hanya, donasi dari Kejuaraan Dunia 2015 belum mampu menggeser Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dari Korea Selatan. Di Jakarta, keduanya hanya sampai babak semifinal usai dipermalukan Hendra/Ahsan dua game langsung 21-17, 21-19. Kemenangan tersebut juga menjadi kemenangan perdana dengan dua game atas wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut.

Kenaikan ranking juga dialami pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kini, mereka ada di posisi kedua di bawah Zhang Nan/Zhao Yunlei dari Tiongkok.

Di Kejuaraan Dunia 2015, pasangan yang sama-sama berasal dari klub Djarum Kudus tersebut gagal menjadi juara. Langkahnya dihentikan Nan/Yunlei di babak semifinal.

Dalam ranking ganda campuran pula, sekarang merah putih menempatkan tiga wakilnya di 10 besar.Selain Tontowi/Liliyana, ada Riky Widianto/Richi Puspita Dili di posisi kesembilan dan Praveen Jordan/Debby Susanto satu setrip di bawahnya. (*)

Sudah Terhenti sebelum Semifinal

Kamis, 20 Agustus 2015

KALAH: Lianne Tan tersingkir di perempat final (foto:zimbio)
LANGKAH Lianne Tan di Bulgaria International 2015 terhenti. Dia gagal menembus babak semifinal turnamen yang menyediakan hadiah total USD 5.000 tersebut.

Lianne dipaksa harus mengakui ketangguhan Le Thu Huyen dari Vietnam dalam pertarungan perempat final selama tiga game 20-22, 21-13, 12-21 di Sofia Bulgaria pada Kamis waktu setempat (19/8/2015). Sebenarnya, di atas kertas, Lianne seharusnya bisa menang.

Dalam turnamen level terbawah dalam kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), pebulu tangkis yang mengalir darah Indonesia tersebut diunggulkan di posisi teratas. Dari sisi ranking, Lianne juga unggul jauh.

Dari ranking yang dikeluarkan BWF, dia ada di posisi 66. Sedangkan Thu Huyen di posisi 318.

Sebelumnya, di babak kedua, adik kandung tunggal putra andalan Belgia Yuhan Tan tersebut juga memeras keringat selama tiga game. Dia menang 21-19, 17-21, 21-13 atas atlet olahraga tepok bulu asal Prancis 21-19, 17-21, 21-13.

Kekalahan tersebut membuatnya gagal menambah koleksi juara selama 2015. Tahun ini, dia menjadi juara di dua ajang yakni Rumania International dan Belanda International.

Sementara itu, setelah menundukkan Lianne, Thu Huyen gagal melanjutkan kejutannya. Di hari yang sama, dia menyerah kepada Yvonne Li dari Jerman dengan tiga game 21-14, 25-27, 14-21.

Pertandingan final yang dilaksanakan Jumat waktu setempat (20/8/215), Yvonne berjumpa dengan Natalia Koch Rohde. Unggulan ketujuh asal Denmark tersebut melibas wakil Jerman lainnya Luise Heim dengan dua game langsung 21-11, 21-13. (*)


Agenda final Bulgaria International 2015
Tunggal putra:Lucas Claerbout (Prancis x4) v Raul Must (Estonia x2)

Ganda campuran: Do Tuan Duc/Pham Nhu Thao (Vietnam) v Alexander Bond/Ditte Soby Hansen (Denmark x3

Tunggal putri: Yvonne Li(Jerman) v Natalia Koch Rohde (Denmark x7)

Ganda putra: Daniel Nikolov/Ivan Rusev (Bulgaria) v Jordan Corvee/Julien Maio (Prancis)

Ganda putri: Le Thu Huyen/Pham Nhu Thao (Vietnam x1) v Marie Batomene/Anne Tran (Prancis)

x=unggulan

Ada Danny Bawa di Seri Jogja

PULANG: Danny Bawa dan Yu Yan di Kejuaraan Dunia 2015
ADA nama Danny Bawa Chrisnanta di Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Jogjakarta. Namun, dia tak membela bendera Singapura, negara yang selama ini di belanya.

Danny pun juga tak berpasangan dengan Chayut Triyachart di ganda putra maupun dengan Yu Yan di ganda campuran. Lelaki yang sebenarnya berasal dari Jogjakarta itu tampil dengan tandem yang berbeda. Dia pun berlaga dengan bendera klubnya, Chrisnanta.

Di ganda putra, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut berpartner dengan Ignatius Rudy (Hiqua Semarang). Sedangkan di ganda campuran, lelaki 27 tahun tersebut berpasangan dengan Delis Yuliana (Trunodjoyo). Hasilnya, dia memenangi semua pertandingan perdananya.

Di ganda putra, Danny/Ignatius menumbangkan unggulan keenam asal Djarum Angger Sudrajat/Jeka Wiratama dengan straight game 21-8, 24-22 dalam pertandingan yang dilaksanakan di GOR Amongrogo pada Rabu (19/8/2015).Di babak kedua, mereka menjajal ketangguhan Chrisna Adi Wijaya/Ridho Akbar (Halim Jakarta).

Di ganda campuran, Danny/Delis tak mengalami hambatan berarti. Mereka unggul mudah 21-14, 21-7 atas Christovel Karinda/Jesica Pertiwi(Mentari). Hanya, di babak kedua, mereka bakal menemui lawan berat.

Danny/Delis berjumpa dengan unggulan kedua Fran Kurniawan/Komala Dewi. Pasangan Djarum Kudus tersebut di babak pertama memperoleh bye.

Danny sendiri bersama Chayut termasuk pasangan yang disegani di kancah internasional. Saat ini, keduanya berada di posisi 25 dunia dan pernah di ranking 15 dunia. Di ganda campuran, dia pernah menembus posisi sembilan dunia pada 2013. (*)

Hana Naik Jadi Unggulan Teratas

KANDIDAT KUAT: Hana Ramadhini (foto:djarum)
KANS Indonesia merajai Victor Indonesia International Challenge 2015 terbuka. Dari daftar unggulan yang dliris BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), pebulu tangkis merah putih mendominasi.

Dari lima nomor yang dipertandingkan, semua unggulan teratas bukan dari Indonesia. Hanya, semula, kandidat kuat di nomor tunggal putri diduduki Thu Trang Vu dari Vietnam.Dengan ranking 39 dunia, dia mengungguli wakil Indonesia Hana Ramadhini, yang ''hanya'' berperingkat 52.

Namun, menjelang pengundian, dia mengundurkan diri. Ini membuat Hana pun naik ke posisi teratas.

''Peringkat unggulan didasarkan ranking per 13 Agustus,'' kata Ketua Panitia Victor Indonesia International Challenge 2015 Wijanarko Adi Mulya.

Sementara di empat nomor lainnya, tunggal putra, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, wakil tuan rumah, tambahnya, berada di posisi teratas. Di tunggal putra, dengan ranking 54 dunia, Firman Abdul Kholik menjadi kandidat kuat juara.

Dengan tampil di Victor Indonesia International Challenge 2015, dia diharapkan mampu menempa kemampuannya. Apalagi, pada SEA Games 2015 di Singapura pada Juni lalu, Firman menjadi salah satu pilar utama saat mempersembahkan emas di nomor beregu.

''Tapi, persaingan tetap bakal sengit. Hanya, harapan kami, pebulu tangkis Indonesia juga mampu memberikan prestasi di Surabaya,'' lanjut Wijar, sapaan karib Wijanarko Adi Mulya.

Victor Indonesia International Challenge 2015 akan dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada 1-6 September mendatang. Turnamen berhadiah total USD 20 ribu tersebut akan diikuti oleh pebulu tangkis dari 15 negara. (*)




Daftar unggulan Indonesia Challenge 2015 (4 besar)

Tunggal putra:
1.Firman Abdul Kholik (Indonesia)          Ranking     54
2.Jin Jeon-Hyeok (Korsel)                                        73
3. Tan Chun Seang (Malaysia)                                   76
4.Suppanyu Avihingsanon (Thailand)                          82

Tunggal putri:
1. Hana Ramadhini (Indonesia)                                   52
2. Cheah Lyddia Yi Yu  (Malaysia)                              56
3.Tee Jing Yi (Malaysia)                                              58
4. Supanida Katethong(Thailand)                                 80               

Ganda putra
1.Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia)     39
2. Markis Kido/Agripinna Prima (Indonesia)                  45
3.Yohanes Rendy/Afiat Yuris Wirawan (Indonesia)         62
4.Berry Anggriawan/Rian Agung Saputro (Indonesia)     68

Ganda putri
1.Keshya Nurvita/Devi Tika (Indonesia)                         26
2.Dian Fitriani/Nadya Melati (Indonesia)                         37
3.Anggia Shitta/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia)              49
4.Suci Rizky Andini/Maretha Dea Giovani (Indonesia)     59

Ganda campuran
1. Ronald Alexander/Melati Daeva Oktaviani (Indonesia) 21
2. Hee Yong Kai/Tan Wei Han (Singapura)                       39
3.Fran Kurniawan/Komala Dewi (Indonesia)                    44
4.Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika (Indonesia)            
49

Gabung Lagi usai dari Vietnam

Rabu, 19 Agustus 2015

Variella ''Lala'' Aprilsasi (foto:djarum)
PASANGAN Pia Zebadiah/Variella ''Lala'' Aprilsasi memulai debut dengan manis. Keduanya mampu menembus perempat final Taiwan Grand Prix Gold 215.

Pia/Lala gagal lolos ke semifinal usai dikalahkan pasangan Tiongkok Huang Yaqiong/Ma Jin dengan dua game langsung 11-21, 6-21. Tapi, poin yang dikumpulkan dari Taiwan sebanyak 3850 sudah cukup membuat mereka berada di posisi 226.

Tapi, sayang, pasangan tersebut tak bisa tampil bersama di Vietnam Grand Prix. Pia menggandeng pasangan yang berbeda.

Dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu itu, adik peraih emas Olimpiade 2008 Markis Kido tersebut menggandeng Weni Anggraini. Pisahkan Pia dengan Lala?

''Kami pisah hanya di Vietnam Grand Prix. Setelah itu, saya dan Pia main bareng lagi,'' ungkap Lala kepada smashyes.

Di Vietnam Grand Prix yang dilaksanakan 24-30 Agustus 2015, Pia tak bersamanya karena sudah didataftarkan oleh klubnya untuk bersama Weni.Kebetulan, keduanya berada di bawah naungan Jaya Raya.

''Sudah terlanjut didaftarkan. Di Taiwan lalu sebenarnya baru dicoba. Eh ternyata hasilnya lumayan bagus,jadi akan diteruskan,'' ucap Lala yang lama digembleng di Suryanaga Surabaya tersebut.

Di Jepang yang dimaksudnya adalah Jepang Super Series. Dengan ranking yang dimiliki, bisa jadi Pia/Lala akan merangkak dari babak kualifikasi.

Sebenarnya, kedua Pia dan Lala merupakan pebulu tangkis yang pernah sama-sama duduk di posisi 10 besar dunia. Itu ketika Pia berpasangan dengan Rizky Amelia Pradipta. Keduanya berpisah karena Rizky dipanggil masuk Pelatnas Cipayung.

Lala sendiri menanjak prestasinya ketika digandeng pebulu tangkis senior Vita Marissa. Hanya, keduanya pisah karena Vita dipasangkan dengan pebulu tangkis yang satu klub dengannya di Djarum. Lala kini berbendera Tjakrindo Masters. (*)

Laga Pia/Lala di Taiwan Grand Prix Gold 2015
Babak I: Chan Kaka/Yuen Sin Ying (Taiwan) 21-14, 21-18

Babak II: Savitree Amittrapai/Pacharapun Chochuwong (Thailand 22-20, 21-15

Perempat final: Huang Yaqiong/Ma Jin (Tiongkok) 11-21, 6-21

Semifinalis Junior Eropa Timba Ilmu di Surabaya

GABUNG: Arnaud (kanan) dan Maxim di GOR Sudirman
Indonesia tetap dianggap sebagai salah satu kiblat bulu tangkis dunia. Tak heran kalau beberapa pebulu tangkis asing pun banyak yang datang.

--
PEMUSATAN Latihan Daerah (Puslatda) Bulu Tangkis Jatim tengah berlatih di GOR Sudirman, Surabaya, pada pekan kedua Agustus. Belum banyak atlet yang bergabung karena mereka baru saja menjalani libur Lebaran.

Tapi, di lapangan pojok GOR Sudirman, pelatih Koko Pambudi serius menangani empat atlet olahraga bulu tepok tersebut. Hanya, dua di antaranya secara anatomi tubuh bukan orang Indonesia.

''Ya, mereka merupakan pebulu tangkis Prancis. Saat ini, keduanya ikut berlatih bersama kami,'' ungkap Koko.

Kedua pebulu tangkis asal Negeri Anggur tersebut adalah Arnaud  Merkle dan Maxim Ziegler. Mereka berasal dari Kota Mulhouse.

''Tahun lalu, saya sudah datang ke sini. Dulu, saya berlatih di Suryanaga,''ungkap Arnaud.

Dia mengakui mengalami perkembangan yang pesat sejak digembleng di Surabaya. Hasilnya, dia menjadi semifinalis Kejuaraan Eropa U-15.

''Saya berlatih di Surabaya selama dua bulan. Kali ini juga waktunya sama.'' terang lelaki jangkung dengan tinggi mencapai 180 sentimeter tersebut.

Sementara, Maxim merupakan pebulu tangkis peringkat empat nasional di kelompok umur U-17. Dia memilih Kota Pahlawan, julukan Surabaya, karena mendengar info bagusnya pembinaan.

''Kami memperoleh semuanya di sini. Skill dan stamina kami mengalami peningkatan,'' ujar Arnaud.

Bedanya dengan tahun lalu, kini keduanya juga akan menjajal kemampuan dalam ajang Sirkuit Nasional (Sirnas). Arnaud dan Maxim berlaga di Sirnas Jogjakarta yang dilaksanakan 18-23 Agustus.

Hanya sayang, mereka tak bisa turun dalam turnamen internasional, Indonesia Challenge. Alasannya, Arnaud dan Maxim belum mempunyai peringkat dunia karena usianya yang masih belia.

Koko pun berharap bukan hanya Arnaud dan Maxim yang akan digemblengnya. Tapi juga para pebulu tagkis yang ada belahan bumi lain.

''Biar bulu tangkis semakin berkembang,'' terang lelaki yang juga menjadi salah satu pengurus di Pengprov PBSI Jatim tersebut. (*)

Cari Pelampiasan di Negeri Paman Ho

Selasa, 18 Agustus 2015

Riky Widianto/Richi Dili di Kejuaraan Dunia 2015 (foto: PBSI)
TARGET Riky Widianto/Richi Puspita Dili meleset. Berharap mampu menembus perempat final, mereka terhenti langkahnya di babak III Kejuaraan Dunia 2015.

Pasangan ganda campuran nomor dua Indonesia tersebut harus mengakui ketangguhan wakil Tiongkok yang diunggulkan di posisi keempat Liu Cheng/Bao Yixin. Riky/Richi menyerah dalam pertarungan tiga game game 23-21, 20-22, 11-21.

''Kami kalah di game kedua yang ketat,'' kata Riky melalui pesan singkat.

Namun, dia tak mau larut kesedikan. Bersama Richi, mereka tengah ditempa untuk meraih hasil terbaik dalam Vietnam Grand Prix 2015 yang dilaksanakan di Ho Chi Minh pada 24-30 Agustus mendatang. Apalagi, keduanya diunggulkan di posisi teratas.

''Semoga bisa meraih hasil terbaik,'' harap Riky, yang berasal dari klub Wima Surabaya tersebut.

Di babak pertama, Riky/Richi ditantang pasangan Taiwan Tseng Min Hao/Jing Ya Ye. Pasangan Pelatnas Cipayung tersebut belum pernah bertemu karena lawannya merupakan ganda anyar.

Hanya, Riky/Richi harus bisa juara. Ini bisa mengobati kegagalan dalam berbagai turnamen yang sudah diikuti.

Sempat memberi harapan tinggi di turnamen pertama, India Grand Prix Gold, mereka babak belur di sepuluh ajang lainnya. Bahkan, di kandang sendiri, Indonesia Super Series Premier 2015, Riky/Richi tumbang di babak kedua. (*)

Kans Alamsyah Tambah Koleksi Gelar Sirnas

Alamsyah Yunus hanya juara di Jakarta
SIRKUIT Nasional (Sirnas) 2015 sudah digelar di empat kota. Hanya, dibandingkan, tahun-tahun sebelumnya, Alamsyah Yunus harus kerja ekstrakeras untuk bisa berjaya.

Dari lima seri yang sudah digelar,dia hanya tampil dalam empat seri. Hasilnya, pebulu tangkis yang bernaung dalam JR Enkei, Jakarta, tersebut baru menjadi juara di satu seri. Hasil manis itu dipetiknya di Jakarta.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di ibu kota pada Mei lalu itu, Alamsyah menang rubber game 19-21, 21-8, 21-18 atas Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma Bandung). Sementara, dalam tiga seri lainnya, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut berakhir dengan kegagalan.


Di seri I yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, dia terjegal di semifinal. Alamsyah kalah di semifinal. Dia menyerah 14-21, 7-21 kepada Panji Akbar Sudrajat. Sedangkan dalam Seri Manado, Sulawesi Utara, Alamsyah absen.

Nah, usai juara di Jakarta, sepekan kemudian, dalam Seri Bogor, lelaki 30 tahun tersebut gagal mengulangi capaian. Dia ganti disikat oleh Setyaldi.

Kini,di Seri Jogjakarta yang dilaksanakan 18-22 Agustus,Alamsyah punya kans menambah koleksi juara sirnas. Dia diunggulkan di psisi teratas.

Selain itu, beberapa lawan beratnya termasuk dua pebulu tangkis asal Surabaya, Sony Dwi Kuncoro (Tjarkrindo Masters) dan Febriyan Irvannaldy (Wima) absen. Sony tampaknya konsentrasi menghadapi Indonesia Challenge 2015 pada 1-6 Juni di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dan Febri, sapaan karib Febriyan Irvanaldy, tengah berada di Kanada untuk menjalani latih tanding. (*)


Hasil final tunggal putra Sirnas 215


Palembang 23-28 Februari:
Rifan Fauzin Ivanudin (Pelatprov DKI Jakarta) v Panji Akbar Sudrajat (Pelatprov DKI Jakarta)21-13, 23-21

Manado, 27 April- 2 Mei:
Rifan Fauzin Ivanudin (Pelita Bakrie Jakarta) v Alvindo Saputra (Tangkas Jakarta) 13-21, 21-11, 21-15

Jakarta, 9-16 Mei:
Alamsyah Yunus (JR Enkei Jakarta) v Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma Bandung) 19-21, 21-8, 21-18

Bogor,18-23 Mei
Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma Bandung) v Alamsyah Yunus (JR Enkei Jakarta)18-21, 21-18, 21-15

Ronald Masih Ingin Tampil

Ronald Susilo unjuk kebolehan di negerinya
USIA tak membuat Ronald Susilo menyerah. Dia tetap masih ingin mengayunkan raket meski tahun ini usianya sudah menginjak 36 tahun.

Bahkan, dalam Singapura International Series, Ronald masih tercatat sebagai peserta. Dia pun menjadi satu dari dua pebulu tangkis tuan rumah yang langsung lolos ke babak bergengsi.

Selain Ronald, dalam turnamen berhadiah total USD 5000 tersebut juga diwakili Kean Yew Loh. Dia diunggulkan di posisi ketujuh.

Di babak pertama, besar kemungkinan dia bertemu lawan ringan. Ini dikarenakan Ronald hanya berjumpa dengan pebulu tangkis yang lolos dari babak kualifikasi.

Hanya, melihat kemampuan dan pengalaman yang dimiliki arek Kediri tersebut layak masuk perhitungan. Hanya, kendalanya pada stamina karena usianya yang sudah tak muda lagi.

Ronald merupakan pilar dari imigrasi pebulu tangkis Indonesia ke negeri yang dekat dengan Batam, Kepulauan Riau, tersebut. Setelah Ronald ada nama Hendra dan Hendri serta Shinta Mulia Sari.

Ronald merupakan lelaki kelahiran Indonesia, tepatnya di Kediri, Jawa Timur, pada 6 Juni 1979. Pada usia 19 tahun, Ronald memutuskan berpindah kewarganegaraan.

Pada 2004, dia sudah tampil pada Olimpiade Athena, Yunani.Di babak awal, Ronald mampu mempermalukan wakil Tiongkok Lin Dan.

Sayang, langkahnya terhenti di perempat final. Ronald harus mengakui ketangguhan Bonsak Ponsana10-15, 1-15.

Empat tahun kemudian, Ronald kembali lolos ke olimpade. Namun, dia hanya sampai di babak awal karena kalah 13-21, 14-21 kepada Lee Chong Wei asal Malaysia, yang akhirnya meraih perak.

Karena cedera, Ronald sempat absen lama. Ini membuat ranking pun hilang.

Tahun lalu, dia sempat berlaga di lima turnamen. Namun, pada 2015, Singapura Internasional menjadi debutnya.

Singapura International merupakan salah satu turnamen yang dilaksanakan setelah Kejuaraan Dunia 2015 digelar di Jakarta. Indonesia juga mengirim wakil di semua nomor. (*)

Hendrawan pun Minta Maaf

Senin, 17 Agustus 2015

DUET: Hendrawan dan Lee Chong Wei (foto:bharian)
STATUS sebagai runner-up kembali diterima Lee Chong Wei. Di final Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (16/8/2015), tunggal putra andalan Malaysia tersebut menyerah dua game langsung 14-21, 17-21 kepada unggulan teratas Chen Long dari Tiongkok.

Ini menjadi kegagalan keempat beruntun. Sebelumnya, pada 2011 dan 2013, Chong Wei kalah oleh pebulu tangkis Negeri Panda, julukan Tiongkok, lainnya Lin Dan. Sementara, pada 2014, Chen Long sudah menggagalkannya.

Sebenarnya, usaha untuk mengantarkan Chong Wei sudah dilakukan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) yakni dengan mempercayakan Hendrawan sebagai pelatih. Itu dijalani lelaki asal Indonesia itu usai Chong Wei terbebas dari sanksi delapan bulan yang diberikan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) karena kasus doping pada Kejuaraan Dunia 2014 di Kopenhagen, Denmark. Sanksi tersebut bebas pada 1 Mei lalu.

Hendrawan pun ikut meminta maaf atas kegagalan Chong Wei di Jakarta. Juara dunia tunggal putra 2001 tersebut mengaku bertanggung jawab atas itu.

''Saya berjanji membawa Chong Wei menjadi juara dunia tapi ternyata gagal. Saya munta maaf,'' kata Hendrawan seperti dikutip media Malaysia, The Star.

Dia mengakui bukan hal yang mudah mempersiapkan Chong Wei ke Kejuaraan Dunia 2015. Apalagi, dia hanya punya waktu tiga bulan.

''Chong Wei sudah mempersiapkan dirinya dengan bagus. Tapi, Chen Long memang luar biasa, dia ada di mana-mana,'' ungkap Hendrawan.

Kini, tambahnya, dia akan memfokuskan Chong wei ke Olimpiade 2016 yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil. Sisi kepercayaan diri, ungkap Hendrawan, akan ikut dibenahi.

''Masalah usia yang jadi kendala,'' ujarnya.

Dengan usia 34 tahun pada 2016, tentu stamina akan mempengaruhi penampilan Chong Wei. (*)
.

Marin Masih Bisa Lebih

Marin dengan medali juara di Istora Senayan, Jakarta.
CAROLINA Marin tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Gadis Spanyol berusia 22 tahun tersebut langsung bergulung di lantai usai mengalahkan Saina Nehwal dengan straight game 21-16, 21-19 di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (16/8/2015).

Kemenangan tersebut membuatnya mempertahankan gelar. Tahun lalu di Kopenhagen, Denmark, Marin mengalahkan pebulu tangkis Tiongkok Li Xuerui 17-21, 21-17, 21-18.

Dia menjadi orang Eropa ketiga yang mampu naik ke podium terhormat. Sebelumnya, ada Lene Koppen pada 1977 dan Camilla Martin pada 1999. Keduanya berasal dari negara yang sama, Denmark.

Hanya, Marin mempunyai nilai plus. Dia meraihnya secara beruntun (back to back).

Bahkan, selama Kejuaraan Dunia dilaksanakan sejak 1977, hanya ada dua pebulu tangkis yang melakukannya. Selain Marin, ada Han Aiping.

Legenda tunggal putri asal Tiongkok itu melakukan pada 1985 dan 1987. Pebulu tangkis sekelas Susi Susanti asal Indonesia pun tak bisa melakukannya.

Istri peraih emas tunggal putra Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma, tersebut menjadi juara hanya pada 1993.Pada 1991, Susi sampai di semifinal. Pada 1995, peraih emas tunggal putri Olimpiade 1992 tunggal putri juga terjegal di semifinal.

Dengan usia yang masih muda, tak menutup kemungkinan Marin akan melewati Aiping. Namun, bukan pada 2016 karena Kejuaraan Dunia ditidakan dengan alasan bersamaan dengan Olimpiade di Rio de Janeiro.

Pada 2017, Kejuaraan Dunia akan kembali dilaksakan. Glasgow akan kembali dipercaya menjadi host. Ibu kota Skotlandia itu pernah menjadi tuan rumah pada 1997. (*)  



Hasil final Kejuaraan Dunia 2015

Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Lee Chong Wei (Malaysia) 21-14, 21-17

Tunggal putri: Carolina Marin (Spanyol x1) v Saina Nehwal (India x2) 21-16, 21-19

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia x3) v Liu Xialong/Qiu Zihan (Tiongkok x9) 21-17, 21-14

Ganda putri: Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5) v Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (Denmark x4) 23-25, 21-8, 21-15

Ganda campuran: Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok x1) v Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x4) 21-17, 21-11

x=unggulan

Kado Manis di HUT Kemerdekaan Ke-70

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (foto:themalaysianinsider)
LAGU Indonesia Raya kembali berkumandang dalam Kejuaraan Dunia 2015. Itu setelah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mampu menjadi juara di ganda putra.

Dalam final yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu malam WIB (16/8/2015), pasangan yang diunggulkan di posisi ketiga tersebut menang dua game langsung 21-17, 21-14 atas Liu Xialong/Qiu Zihan, pasangan Tiongkok yang diunggulkan di posisi kesembilan. Kemenangan ini membuat Hendra/Ahsan mengulangi capaian dalam Kejuaraan Dunia 2013.

Hanya, saat itu, dalam event yang dilaksanakan di Guangzhou, Tiongkok, tersebut, keduanya mengalahkan wakil Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen dengan 21-13, 23-21. Di Jakarta, pasangan senior tersebut hanya sampai semifinal.

Raihan positif Hendra/Ahsan itu menjadi kado yang manis bagi Indonesia. Sehari setelah final (17/8/2015) merupakan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-70.

''Alhamdulillah, akhirnya Hendra/Ahsan mampu menjadi juara,'' kata Wakil Sekjen PP PBSI Ahmad Budiarto.

Sayang, dari segi target, hasil dalam Kejuaraan Dunia 2015 tidak sesuai target. Sebelum ajang tahunan tersebut dilaksanakan, PP PBSI mematok asa dua gelar.

Satu posisi terhormat diharapkan lahir dari ganda campuran. Namun, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal merealisasikan.

Juara dunia 2013 tersebut terhenti langkahnya di babak semifinal. Keduanya dihentikan seteru beratnya, Zhang Nan/Zhao Yunlei, unggulan teraras dari Negeri Panda, julukan Tiongkok, dengan rubber game 22-20, 21-23, 12-21.

Hendra/Ahsan juga mempertegas ketangguhan Indonesia di ganda putra. Sejak Kejuaraan Dunia dilaksanakan 1977, merah putih sudah mengoleksi sembilan gelar. (*)


Koleksi gelar Indonesia di ganda putra
1977: Tjun Tjun/Johan Wahyudi

1980: Christian Hadinata/Ade Chandra

1993: Ricky Subagja/Rudy Gunawan

1995: Ricky Subagja/Rexy Mainaky

1997: Candra Wijaya/Sigit Budiarto

2001: Tony Gunawan/Halim Haryanto

2007: Markis Kido/Hendra Setiawan

2013: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

2015: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Bisa Jadi Final Terakhir Chong Wei

Minggu, 16 Agustus 2015

REVANS: Chong Wei (kanan) menyalami Jorgensen (foto: thestar)
UNTUK kali keempat, Lee Chong Wei menembus final Kejuaraan Dunia. Hanya, dalam tiga kali laga puncak sebelumnya, pebulu tangkis tunggal putra andalan Malaysia tersebut selalu menelan kegagalan.

Pada 2011 dan 2013, Chong Wei dipermalukan musuh bebuyutannya, Lin Dan, asal Tiongkok. Sedangkan tahun lalu, lelaki 33 tahun tersebut dihentikan wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, lainnya Chen Long.

Kali ini, dalam Kejuaraan Dunia 2015, Chong Wei kembali berjumpa dengan Chen Long. Di semifinal yang dilaksanakan Sabtu WIB (15/8/2015), dia mengalahkan unggulan kedua Jan O Jorgensen dengan dua game langsung 21-7, 21-19. Sedangkan Chen Long, yang menjadi unggulan teratas sekaligus juara bertahan, juga unggul straight game 21-9, 21-15 atas Kento Momota (Jepang).

''Ini kesempatanku untuk menjadikan mimpi menjadi kenyataan,'' kata Chong Wei.

Tahun lalu, dia dipaksa harus mengakui ketangguhan Chen Long. Dalam ajang yang dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark, tersebut, dia kalah 19-21, 19-21.

Ironisnya, dia pun mendapat sanksi selama delapan bulan usai Kejuaraan Dunia 2014. Ini disebabkab Chong Wei terbukti menggunakan doping.

''Ini sungguh luar bisa bisa menembus babak final setelah kena sanksi delapan bulan. Bisa jadi, ini menjadi peluang terakhirku di Kejuaraan Dunia,'' ungkap Chong Wei.

Dia pun pesimistis bisa menembus laga pemungkas pada 2017. Tahun depan tidak ada Kejuaraan Dunia karena berbarengan dengan olimpiade.

Chong Wei menganggap tahun lalu dia kalah oleh Chen Long karena dirinya dalam posisi tertekan. Selain itu, di Kopenhagen, dia lolos ke laga terakhir dengan melewatin pertandingan-pertandingan yang mudah.

''Beda dengan sekarang. Saya diuji dalam setiap pertandingan,'' ungkapnya. (*)


HEAD-TO-HEAD
Chong Wei vs Chen Long (9-11)

Menang
2009: Malaysia Open GP Gold (final)
2011: Malaysia Open (semifinal)
2011: All England (semifinal)
2011: Indonesian Open (semifinal)
2011: Prancis Open (semifinal)
2012: Malaysia Open (semifinal)
2012: Olimpiade (semifinal)
2014: All England (final)
2014: India Open (final)


Kalah
2009: India Open (Babak I)
2011: Jepang Open (final)
2011: Denmark Open (final)
2011: BWF World Superseries Finals (semifinal)
2012: Hongkong Open (final)
2013: All England (final)
2013: Denmark Open (final)
2014: Korea Open (final)
2014: Kejuaraan Dunia (final)
2014: Asian Games (semifinal)
2015: Taiwan Open (perempat final)

Kali Pertama Menang Straight Game

KANDAS: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (foto:xinhua.net)
KEMENANGAN atas pasangan Korea Selatan Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong telah membawa Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan ke babak final. Ini sekaligus menjadi satu-satunya wakil merah putih yang bakal berlaga di final.

Namun, sebenarnya, hasil pertandingan semifinal Kejuaraan Dunia 2015 tersebut diluar dugaan. Kok bisa?

Ya, dalam sembilan kali pertemuan sebelumnya, Hendra/Ahsan hanya menang tiga kali. Bahkan,dalam tiga kali pertemuan awal, pasangan yang baru terbentuk 2013 tersebut tak pernah nah.

Pecah telor baru terjadi dalam pertemuan keempat di pertandingan Piala Thomas 2014 dengan 21-15,17-21, 21-19. setelah itu, dua kekalahan beruntun kembali dialami Hendra Ahsan.

Hasil positif dipetik di final Asian Games 2014. Ketika itu, Hendra/Ahsan kembali menang, juga dengan rubber game 21-16, 16-21, 21-17.

Kemenangan dalam semifinal di Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu (15/8/2015) membuat Hendra/Ahsan untuk kali pertama merasakan kemenangan dua game langsung. Malam itu, mereka menang 21-17, 21-19.

Pertarungan dua pasangan papan atas dunia itu pun berlangsung ketat. Bahkan, di game kedua, sempat dua kali kejadian yang mengundang perhatian.

Ini terjadi ketika wasit serve menilai servis Ahsan masuk dan mem-foult servis Yeon-seong. Dua moment tersebut menjadi kunci Hendra/Ahsan menembus babak pemungkas. (*)

Masih Ada Jalan untuk Juara

SELANGKAH: Hendra/Ahsan siap berpelukan (foto:xinhua)
KANS pebulu tangkis Indonesia mempersembahkan kado juara dalam HUT Kemerdekaan (Independence Day) ke-70 belum tertutup. Masih ada Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang mampu menembus babak final Kejuaraan Dunia 2015.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Istora Senayan atau Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Sabtu malam WIB (15/8/2015), mereka menumbangkan unggulan teratas sekaligus musuh bebuyutan,Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong asal Korea Selatan, dengan dua game langsung 21-17, 21-19.

Sayang, sukses ini gagal diikuti oleh wakil Indonesia lainnya. Lindaweni Fanetri di tunggal putri, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri), dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran) bertumbangan. Lindaweni, yang sempat menjadi sorotan karena bukan berstatus unggulan, kalah kepada unggulan kedua Saina Nehwal dari India dengan straight game 17-21, 17-21.

Sementara, Greysia/Nitya tak berdaya di tangan wakil Tiongkok Tian Qing/Zhao Yunlei dalam pertarungan dua game 8-21, 16-21. Duel ini memakan waktu 45 menit.

Sedangkan pasangan yang digadang-gadang bakal menembus final dan juara di ganda campuran Tontowi/Liliyana takluk tiga game 22-20,21-23, 12-21. Pertandingan yang menguras tenaga dan konsentrasi ini berlangsung 1 jam 32 menit.

Dalam pertandingan babak final yang dilaksanakan pada Minggu (16/8/2015), Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di psisi ketiga, akan ditantang Liu Xialong/Qiu Zihan. Di babak semifinal, unggulan kesembilan asal Tiongkok itu melibas Horoyuki Endo/Kenichi Hayakawa, unggulan keenam dari Jepang, dengan 21-16, 13-21, 22-20.

Kemampuan pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut tak bisa dipandang sebelah mata. Xiaolong/Zihan sudah dua kali mengalahkan Hendra/Ahsan dalam empat kali pertemuan. Itu terjadi dalam All England 2013 dengan 21-12, 13-21, 21-17  dan di BWF Super Series Finals 2013 21-13,11-21, 21-12.

Namun, Hendra/Ahsan mampu membalasnya di Hongkong Open 2014. Saat itu, mereka unggul 21-16, 17-21, 21-15.

Kemenangan terakhir pasangan Pelatnas Cipayung tersebut dipetik dalam Kejuaraan Asia 2015. Lagi-lagi pertarungan diakhiri dengan tiga game 21-18, 11-21, 24-22. (*)

Agenda final Minggu (16/8/2015) mulai pukul 13.00 WIB

Ganda campuran:Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok x1) v Liu Cheng/Bao Yixin (Tiongkok x4)

Tunggal putri: Carolina Marin (Spanyol x1) v Saina Nehwal (India x2)

Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Lee Chong Wei (Malaysia)

Ganda putri: Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5) v Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (Denmarkx4)

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia x3)v Liu Xiaolong/Qiu Zihan (Tiongkok x9)

x=unggulan

(Tak Lagi) Super Dan

Sabtu, 15 Agustus 2015

Jan O Jorgensen penakluk Lin Dan
KETANGGUHAN Lin Dan benar-benar sudah luntur. Untuk kali pertama sejak 2005, dia gagal menembus babak final Kejuaraan Dunia. Tahun lalu, di Kopenhagen, Denmark, pebulu tangkis tersebut tak tampil karena rankingnya tak memenuhi untuk lolos setelah hampir setahun absen.

Tapi, pada 2006, 2007, 2009, 2010, 2011, dan 2013, Lin Dan selalu juara. Sedang pada 2008 dan 2012 tidak ada Kejuaraan Dunia.

Ini dikarenakan waktunya bersamaan dengan olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012. Di ajang tersebu, Lin Dan pun tetap juara.

Namun, dalam Kejuaraan Dunia 2015, suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang tersebut gagal. Jangankan menembus final, Lin sudah terjegal di babak perempat final.

Lin Dan menyerah dua game langsung 21-12, 21-15 kepada Jan  Jorgensen dari Denmark dalam pertandingan yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat waktu setempat (14/8/2015). Ini menjadi kekalahan ketiga dalam sepuluh kali pertemuan Lin Dan dengan Jorgensen.

Hanya, dalam pertemuan terakhir, Super Dan, julukan Lin Dan, juga kalah. Itu terjadi di Malaysia Super Series Premier 2015 dengan 14-21, 21-19, 21-17.

Kegagalan menembus semifinal ini juga membuat reuni dengan rekan karibnya, Lee Chong Wei, asal Malaysia urung terjadi. Di perempat final, lelaki yang memperoleh gelar Datuk dari negerinya tersebut menang 21-12, 21-18 atas Hu Yun (Hongkong).

Di babak semifinal, Chong Wei lebih diunggulkan. Dia sudah menang 12 kali dan hanya sekali kalah atas Jorgensen. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger