www.smashyes.com

www.smashyes.com

Berakhir Penantian selama 16 Bulan

Senin, 26 Oktober 2015

PENANTIAN Lee Chong Wei menjadi juara di ajang super series/super series premier berakhir. Wakil Malaysia tersebut mampu menjadi pemenang di nomor tunggal putra dalam Prancis Super Series 2015.

Lelaki yang diberi gelar Datuk oleh Pemerintah Malaysia tersebut menang 21-13, 21-18 atas Chou Tien Chen dalam laga final  yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat (25/10/2015).  Kali terakhir Chong Wei menjadi juara di Jepang Super Series 2014 yang dilaksanakan pada Juni. Saat itu, dia mampu mengalahkan Hu Yun (Hongkong).

Memang, pada 2015 ini, bapak dari bocah bernama Kingstone tersebut sudah dua kali menjadi juara di Amerika Serilat dan Kanada. Hanya, kedua turnamen tersebut levelnya 'hanya' grand prix gold dan grand prix.

Capaian di Paris diharapkan akan terus mengangkat kepercayaan diri Chong Wei. Ini dikarenakan dalam tiga turnamen terakhir, hasilnya sangat mengecewakan yakni di Jepang Super Series, Korea Super Series, dan Denmark Super Series Premier.

Bahkan, di Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, dia menyerah di babak kualifikasi. Dia tak bisa langsung ke babak utama karena rankingnya yang belum memadai untuk langsung lolos ke babak elite.

Hanya, kemenangannya dalam turnamen berhadiah total USD 275 ribu tersebut tak diikuti oleh tunggal putra terbaik diunia saat ini, Chen Long. Dia memuntuskan absen usai menjajdi pemenang di Denmark Super Series Premier 2015. (*)

Siapa Bisa Hadang Yong-dae/Yeon-seong

PASANGAN Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong kembali juara. Kali ini. Prancis Super Series 2015 yang dimenangani.

Dalam final yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat, pasangan Korea Selatan tersebut menang dua game langsung 21-14, 21-19 atas wakil Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding.Pertarungan kedua pasangan tersebut memakan waktu 1 jam kurang empat menit atau tepatnya 56 menit.

Kemengan di Kota Mode, julukan Paris, tersebut menambah koleksi gelar Yong-dae/Yeon-seong. Selama 2015, mereka sudah naik ke podium terhormat sebanyak enam kali. Menarik empat di antaranya dilaksanakan secara beruntun.

Sebelumnya, pada tiga turnamen sebelumnya yang dijuarai adalah Denmark Super Series Premier, Korea Super Series, dan Jepang Super Series. Sedangkan dua kalungan medali berharga dilakukan dalam Kejuaraan Asia 2015 dan Australia Super Series 2015.

Menariknya, semua lawan yang dikalahkan di babak final tersebut hanya pasangan Tiongkok Liu Cheng/Lu Kai yang pernah bertemu lebih dari sekali. Sementara lawan yang lain hanya sekali berjumpa.
Salah satu pasangan yang dikalahkan Yong-dae/Yeon-seong adalah wakil merah putih Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Kejuaraan Asia 2015.

Gelar Prancis Super Series ini semakin memantapkan posisinya di puncak ranking dunia. Susah digeser oleh para rival yang masih sering labil. (*)

Koleksi gelar Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong
Kejuaraan Asia 2015: v Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia) 18-21, 24-22, 21-19

Australia Super Series 2015: v Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok) 21-16, 21-17

Jepang Super Series 2015: v Fu Haifeng/Zhang Nan (Tiongkok) 21-19, 29-27

Korea Super Series 2015: v Kim Gi-jung/Kim Sa-rang (Korsel) 21-16, 21-12

Denmark Super Series Premier 2015: Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok) 21-8, 21-14

Lho, kok Tanpa Gelar Terus

INDONESIA gagal membawa pulang gelar dari Prancis Super Series 2015. Satu-satunya harapan wakil merah putih naik ke podium terhormat, Praveen Jordan/Debby Susanto, kalah di babak final nomor ganda campuran.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat (25/10/2015), keduanya menyerah kepada wakil Korea Selatan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dengan rubber game 10-21, 21-15, 19-21.Pertandingan kedua pasangan tersebut memakan waktu 1  jam 8 menit. Ini menjadi partai terlama dalam final turnamen yahg menyediakan hadiah total USD 275 ribu tersebut.

Sebenarnya,modal berharga dipunyai Praveen/Debby. Dalam pertemuan terakhir di Thailand Grand Prix Gold 2015, Praveen/Debby menang dengan dua game langsung 21-16, 21-16. Meski, sebelumnya, dalam dua pertemuan, mereka kalah.

Kekalahan ini membuat Indonesia tak bisa mengulangi capaian dalam dua tahun terakhir. Pada 2014, merah putih menempatkan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Markis Kido/Markus Fernaldi di ganda putra pada 2013.

Tahun ini, Tontowi/Liliyana sudah tersingkir di babak I. Unggulan kedua ini dipermalukan pasangan yang belum punya nama asal Jepang Keigo Sonoda/Naoko Fukuman. Sementara, Kido/Markus sudah bercerai sejak Markus dipanggil lagi ke Pelatnas Cipayung.

Harapan juga sempat diletakan pasangan juara dunia ganda campuran asal Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Hanya, langkahnya sudah terhenti di babak semifinal oleh Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding. (*)

Distribusi gelar Prancis Super Series 2015
Tunggal putra: Lee Chong Wei (Malaysia) v Chou Tien Chen (Taiwan x6) 21-13, 21-18

Tunggal putri: Carolina Marin (Spanyol x2) v Wang Shixian (Tiongkok x4) 21-18, 21-10

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark) 21-14, 21-19

Ganda putri: Huang Yaqiong/Tan Jinhua (Tiongkok) v Liu Ying/Luo Yi (Tiongkok x2) 21-13, 21-16

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia) 21-10, 15-21, 21-19

x=unggulan

Saatnya Chong Wei Rasakan Gelar Bergengsi

Minggu, 25 Oktober 2015

DUA gelar sudah dikoleksi Lee Chong Wei usai comeback ke lapangan. Hanya, raihan tersebut bukan di ajang turnamen super series ataupun super series.

Lelaki asal Malaysia itu 'hanya' menjuarai nomor tunggal putra di Kanada Grand Prix dan Amerika Grand Prix Gold. Lawan-lawan yang dihadapi pun bukan para pebulu tangkis papan atas dunia.

Sementara, di turnamen bergengsi, Chong Wei masih puasa gelar. Bahkan, hasil yang diraih bisa dikatakan tak memuaskan.

Hanya, dalam Kejuaraan Dunia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta pada Agustus lalu, dia mencapai puncak. Saat itu, langkahnya dihentikan oleh hen Long, unggulan teratas asal Tiongkok.

Di ajang lain, dia tumbang di babak awal. Bahkan yang paling tragis terjadi di Korea Super Series 2015.

Chong Wei sudah tersingkir di babak kualifikasi. Mantan tunggal putra nomor satu dunia itu dipermalukan wakil tuan rumah Heo Kwang-hee dengan 19-21, 19-21.

Sedang di Jepang Super Series 2015 , dia dikalahkan lawan beratnya, Lin Dan, di perempat final dengan 17-21, 10-21. Kemudian, pekan lalu, Chong Wei menyerah di babak kedua kepada Wei Nan dari Hongkong 18-21, 19-21.

Kali terakhir, tunggal putra andalan negeri jiran tersebut menjadi juara turnamen super series atau super series premier pada Jepang Open pada JUni 2014. Setelah itu, beberapa bulan kemudian, petaka menimpanya.

Chong Wei terbukti memakai doping. Ini membuatnya mendapat sanksi larangan tampil selama delapan bulan. Imbasnya, rankingnya pun turun drastis hingga terlempat ke luar 100 besar.

Dalam babak final Prancis Super Series 2015, Chong Wei menjajal ketangguhan unggulan keenam asal Taiwan Chou Tien Chen, yang di semifinal menundukkan unggulan kedua Jan O Jorgensen dengan 21-11, 21-19. Ini menjadi pertemuan perdana Chong Wei dengan Tien Chen. (*)

Bukan Hendra/Ahsan yang Lolos

INDONESIA hanya bisa menempatkan wakil dalam final Prancis Super Series 2015. Tapi capaian tersebut bukan dibukukan oleh Hendra SetiawanMohammad Ahsan di ganda puyra maupun Greysia PoliiNitya Krishinda  di ganda putri. 


Dua pasangan yang sebenarnya lebih diharapkan tersebut gagal menembus babak pemungkas. Keduanya menuerah kepada lawan-lawannya dalam babak semifinal yang dilaksanakan di Paris pada Sabtu waktu setempat (24/10/2015).

Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di posisi kedua, secara mengejutkan ditundukkan wakil Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding dengan rubber game 18-21, 21-19, 15-21. Di atas kertas, sebenarnya pasangan merah putih tersebut lebih diunggulkan.

Secara ranking, Hendra/Ahsan ada di posisi kedua. Sedangkan lawannya tujuh setrip di bawahnya. Selain itu, dalam dua pertemuan sebelumnya di Indonesia Super Series Premier 2014 dan Hongkong Super Series 2014.

Kekalahan ini memperpanjang puasa gelar pasangan yang pernah duduk di posisi teratas dunia tersebut. Usai Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta pada Agustus lalu, Hendra/Ahsan belum pernah lagi naik di podium terhormat.

Sementra, di ganda putri, Greysia/Nitya menyerah dua game langsung 19-21, 14-21 kepada Luo Ying/Luo Yu, unggulan kedua dari Tiongkok.  Kekalahan ini termasuk juga diluar prediksi.

Alasannya, dalam lima kali pertemuan, pasangan Indonesia tersebut hanya sekali kalah.Bahkan, dalam tiga kali pertemuan terakhir, Greysia/Nitya selalu memetik kemenangan.

Nah, wakil yang lolos ke final adalah Praveen Jordan/Debby Susanto. Di babak semifinal, keduanya menenggelamkan unggulan kedelapan asal Tiongkok Lu Kai/Huang Yaqiong dengan dua game langsung 21-18, 21-19. Untuk bisa menjadi juara, wakil merah putih tersebut harus bisa menghentikan perlawanan Kim Sung-hyunKim Ha-na. Pasangan Korea Selatan itu menembus final usai melibas Chris AdcockGabrielle Adcock dengan 21-14, 21-11.

Praveen/Debby dan Sung-hyun/Ha-na sudah empat kali bertemu dengan skor 2-2 Hanya, dalam pertemuan terakhir di Thailand Grand Prix Gold 2015, pasangan Indonesia tersebut memetik hasil manis dengan 21-16, 21-16.(*)

Sang Ratu dari Spanyol Bakal Lebih Lama Bertahan

Sabtu, 24 Oktober 2015

POSISI nomor satu dunia berpindah tangan. Dalam daftar yang dirlis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (22/10/2015), Carolina Marin menjadi ratu baru.

Pebulu tangkis asal Spanyol tersebut menggeser Saina Nehwal dari India. Kudeta ini tak lepas dari hasil yang terjadi di Denmark Super Series 2015.

Dalam ajang yang dilaksanakan di Odense tersebut, Saina gagal menjadi juara. Meski, sebenarnya, dia diunggulkan di posisi kedua.

Secara mengkutkan, perempuan 25 tahun tersebut dihentkan oleh Minatsu Mitani dari Jepang di babak kedua dengan 18-21, 13-21.

Sebenarnya, Marin juga gagal menjadi pemenang di Denmark Super Series Premier. Hanya, langkahnya lebih jauh.

Juara dunia 2014 dan 2015 tersebut menyerah kepada pebulu tangkis India lainnya, PV Sindhu, dengan 15-21, 21-18, 17-21.

Marin pernah menduduki nomor satu dunia. Hanya, itu tak bertahan lama, hanya sepekan.

Namun, kali ini, singgasana tersebut bakal lebih lama. Ini mengacu dari Prancis Super Series 2015

Saina sudah terhenti di babak perempat final oleh Ratchanok Intanon dengan 9-21, 15-21 pada laga yang dilaksanakan di Paris pada Jumat watu setempat (23/10/2015). Sementara, Marin masih bertahan hingga semifinal usai membekal wakil Indonesia Maria Febe Kusumastuti dengan 21-16, 21-10. (*)

Praveen/Debby Memberi Harapan

PRANCIS Super Series 2014 terasa menyakitkan bagi Praveen Jordan/Debby Susanto. Langkah keduanya lansung terhenti di babak I dalam event yang dilaksanakan di Paris tersebut.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan 21 Oktober tersebut, Praveen/Debby dikalahkan pasangan suami istri asal Inggris 19-21, 17-21. Seiring perjalanan waktu, pasangan yang digembleng di Pelatnas PBSI tersebut pun semakin matang.

KIni, di Prancis Super Series 2015, mimpi buruh tahun lalu itu pun dibuang jauh. Bahkan, jalan menjadi juara pun terbuka.

Praveen/Debby sudah menembus babak semifinal. Lawan yang dikalahkannya di perempat final pada Jumat waktu setempat (23/10/2015) itu pun tak sembarangan, pasangan senior Tiongkok Xu Chen/Ma Jin.

Wakil merah putih tersebut unggul dengan rubber game yang ketat 21-9, 19-21, 23-21. Ini menjadi kemenangan kedua Praveen/Debby atas Chen/Jin. Sebelumnya, mereka unggul All England Super Series Premier 2015. Tapi, setelah itu, pasangan yang berasal dari klub yang sama, Djarum Kudus, tersebut menyerah di Singapura Super Series 13-21, 16-21.

Di babak semifinal. Praveen/Debby berjumpa dengan pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, lainnya Lu Kai/Huang Yaqiong. Bagi pasangan merah putih, Kai/Yaqiong bukan lawan yang asing.

Kedua pasangan saling mengalahkan. Hanya, Praveen/Debby punya bekal berharga.

Dalam pertemuan terakhir, mereka menang di India Super Series 2015 dengan 23-21, 21-12. Ini membalas kekalahan di Malaysia Grand Prix 2014. Saat itu, Praveen/Debby tunduk 14-21, 13-21.

Sebenarnya, di ganda campuran, Indonesia sangat berharap kepada Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir. Diunggulkan di posisi kedua, mereka malah tersungkur di babak I oleh pasangan Jepang Keigo Sonoda dengan tiga game 21-16, 17-21, 13-21. (*)

Lentingan Jauh Sony dari Taiwan

Kamis, 22 Oktober 2015



TAK sia-sia Sony Dwi Kuncoro menjuarai Taiwan Grand Prix. Pulang dari ajang yang menyediakan hadiah total USD 50 ribu tersebut, rankingnya melonjak 26 setrip.

Pekan lalu, Sony masih berada di posisi 83 dunia. Kini, dalam daftar yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (22/10/2015), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut ada di posisi 57 dunia.

Ya, dari Taiwan Grand Prix, Sonya memperoleh poin 5.500 poin. Ini dikarenakan Sony sukses menjadi juara.

Diharapkan, dengan penampilan yang terus membaik, dalam waktu dekat, bapak dua putri tersebut bisa menembus 50 besar dunia. Apalagi, pada awal September lalu, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut juga bisa menjadi pemenang di Indonesia Challenge 2015 yang digelar di Surabaya, Jawa Timur.

Karena cedera yang membekap, Sony sempat terpuruk. Dia pernah berada di posisi 154 dunia.

Dengan usia yang tak muda lagi, 31, capaian yang diraih Sony perlu mendapat apresiasi. Dia tetap ingin tampil di lapangan guna menginspirasi dan menggugah semangat pebulu tangkis muda usia.

Masa jaya Sony diukir saat mampu menembus semifinal Olimpiade Athena 2004 dan pulang membawa medali perunggu. Selain itu, di era itu, dia pun sukses meraih juara Asia hingga tiga kali.

Usai dari Taiwan, Sony mempunyai agenda untuk berlaga di Korea Grand Prix Gold 2015. Seperti biasa, dia tak mau banyak sesumbar. (*)

Tommy Kembali Huni 10 Besar Dunia



POSISI 10 besar kembali ditembus Tommy Sugiarto. Bahkan, dalam ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), dia sudah bertengger di posisi delapan.

Itu tak lepas dari capaian yang dilakukan di Denmark Super Series Premier 2015. Dalam ajang yang dilaksanakan di Odense tersebut, Tommy mampu menembus babak final.

Sayang, dalam pertandingan pemungkas yang dilaksanakan 18 Oktober 2015, dia menyerah kepada unggulan teratas Chen Long asal Tiongkok dengan dua game langsung 12-21, 12-21.  Namun, dari sisi poin, Tommy mendapat suntikan yang lumayan banyak, 9.350.

Donasi tersebut sudah membuat dia melonjak empat setrip. Pekan lalu, Tommy masih berada di posisi ke-12.

Memang, dibandingkan ranking terbaiknya, Tommy perlu latihan ekstrakeras. Dia pernah menempati posisi ketiga dunia.

Sayang, cedera membuat penampilannya labil. Akibatnya, rankingnya terus menurun.

Namun, perlahan tapi pasti, Tommy pun mampu bangkit. Apalagi, setelah dia memutuskan bergabung dengan Sport Affairs, Malaysia.

Tommy mendapat pelatih berkualitas, Rashid Sidek. Di tangan mantan pelatih nasional Malaysia tersebut, dia mampu menjadi juara di Vietnam Grand Prix.

Sayang, pekan ini, di Prancis Super Series 2015, Tommy tumbang di babak I. Secara mengejutkan, dia menyerah kepada pebulu tangkis yang merangkak dari babak kualifikasi Lee Dong-keun asal Korea Selatan. (*)

Menang Mudah karena Ganti Pasangan

LUI Kai menjadi mimpi buruk bagi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Berpasangan dengan Liu Cheng, ganda Tiongkok  tersebut mempermalukan juara dunia 2015 tersebut dengan dua game langsung 25-23, 23-21 di babak II Denmark Super Series Premier.

Sepekan kemudian, Hendra/Ahsan kembali bersua dengan Lu Kai di Prancis Super Series 2015. Hanya, dia tak lagi bersama dengan Liu Cheng.

Lu Kai dipasangkan dengan pebulu tangkis senior Cai Yun. Awalnya, bisa jadi, Hendra/Ahsan bakal memetik aib lagi. Alasannya, pengalaman dan skill Cai Yun masih di atas Liu Cheng.

Namun, di atas lapangan lain. Hendra/Ahsan menang mudah 21-13, 21-10 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Paris pada Rabu waktu setempat (21/10/2015).Ini merupakan kemenangan keempat dalam empat kali perjumpaan. Sebelumnya, wakil merah putih tersebut unggul di Kejuaraan Asia 2015, Malaysia Open 2015, dan Denmark Super Series 2015.

Pada babak II, Hendra/Ahsan akan ditantang Kenta Kazuno/Kazushi Yamada. Pasangan Jepang ini di babak perdana menghentikan perlawanan Lin Chia Yu/Wu Hsiao-Lin dengan 21-19, 20-22, 23-21.

Sudah tiga kali Hendra/Ahsan berjumpa dengan pasangan Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, itu Hasilnya, pasangan andalan Pelatnas PBSI tersebut selalu menang yakni di Jepang Open 2015, Kejuaraan Asia 2015, dan Hongkong Open 2015. (*)

Gagal Manaatkan Mundurnya Chen Long

SEMULA, banyak yang pesimistis Tommy Sugiarto bakal langsung tersingkir di Prancis Super Series 2015. Alasannya, di babak pertama turnamen berhadiah total USD 275 ribu tersebut, dia berjumpa dengan unggulan teratas Chen Long dari Tiongkok.

Fakta membuktikan bahwa Tommy selalu kesulitan melawan pebulu tangkis nomor satu dunia tersebut. Dia hanya menang sekali dalam sembilan kali pertemuan.

Termasuk dalam pertemuan terakhir di final Denmark Super Series Premier 2015. Saat itu, Tommy menyerah dengan straight game 12-21, 12-21.

Tapi, menjelang pertandingan, Chen Long mengundurkan diri dengan alasan sesuatu Tentu, ini membawa berkah bagi tunggal putra dengan ranking dunia terbaik dari Indonesia tersebut.

Tommy urung bertemu dengan Chen Long. Dia 'hanya' berjumpa dengan Lee Dong-keun dari Korea Selatan.  Sayang, kesempatan itu dibuang sia-sia oleh juara Vietnam Grand Prix 2015 tersebut.

Secara mengejutkan, Tommy kalah oleh lawan yang merangkak dari babak kualifikasi tersebut. Dia kalah 16-21, 21-14, 19-21.

Hasil tersebut di luar dugaan. Selain rankingnya lebih unggul, Tommy di posisi 12 dan Dong-keun 31, pertemuan keduanya memihak wakil merah putih. Tommy selalu menang di Singapura Open 2013 dan Korea Open 2011.

Hasil sama juga dialami wakil Indonesia lainnya, Dionysius Hayom Rumbaka. Di babak I, dia menyerah kepada unggulan keenam Chou Tien Chen (Taiwan) dengan 25-25, 14-21. Ini menjadi kekalahan ketiga mantan penghuni Pelatnas PBSI itu dari lawan yang sama. (*)

Duh, Tontowi/Liliyana Kalah di Babak I

Rabu, 21 Oktober 2015

HARAPAN tinggi diberikan ke pundak Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Prancis Super Series 2015 Keduanya diharapkan mampu mengakhiri krisis gelar di ajang level tertinggi BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

Apalagi, pekan lalu, ganda campuran nomor satu Indonesia tersebut nyaris menjadi pemenang di Denmark Super Series Premie. Sayang, secara mengejutkan Tontowi/Liliyana menyerah Ko Sung-hyun/Kim Ha-na.

Nah, kegagalan tersebut diharapkan dibalas tuntas di Paris, host Prancis Super Series 2015. Asa itu semakin dipertebal dengan absennya lawan beratnya asal Tiongkok Zhang Nan/Zhou Yunlei

Alih-alih lolos ke final, ternyata Tontowi/Liliyana harus memendam dalam-dalam asa tersebut.Keduanya langsung menyerah di babak pertama dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 275 ribu tersebut. Tontowi/Liliyana dipermalukan pasangan Jepang Keigo Sonoda/Naoko Fukuman dengan rubber game 21-16, 17-21, 13-21.

Padahal, secara ranking, pasangan Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, tersebut jauh di bawahnya. Tontowi/Liliyana ada di posisi kedua atau 66 setrip di atas lawannya.

Selain itu, dalam dua kali pertemuan sebelumnya, pasangan yang digembleng di Pelatnas PBSI tersebut selalu memetik kemenangan. Itu dicapai di Australia Super Series 2015 dengan 18-21, 21-17, 21-11. Kemudian di Malaysia Super Series 2015 dengan straight game 21-18, 21-11.

Kegagalan ini diikuti  pasangan ganda campuran lainnya Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja. Keduanya menyerah kepada unggulan ketiga Xu Chen/Ma Jin dengan 10-21, 15-21.

Sepanjang 2015, Tontowi/Liliyana hanya mampu menjadi pemenang di Kejuaraan Asia 2015. Sementara di ajang lain, keduanya gagal memenuhi ekspektasi

Termasuk di Kejuaraan Dunia 2015. Langkahnya terhenti di semifinal oleh Nan/Yunlei. Meski event bergengsi tersebut dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta. (*)

Langsung Ketemu Chen Long

Selasa, 20 Oktober 2015

Tommy (kanan) usai dikalahkan Chen Long di Denmark
TOMMY Sugiarto baru saja berjumpa dengan Chen Long. Keduanya adu kekuatan di final Denmark Super Series Premier 2015 yang dilaksanakan di Odense pada Minggu waktu setempat (18/10/2015).

Hasilnya, tunggal putra terbaik Indonesia tersebut menyerah dua game langsung 12-21, 12-21. Setelah itu, Tommy dan Chen Long sama-sama tampil di Prancis Super Series 2015.

Hanya, keduanya tak bisa berjumpa di babak pemungkas lagi. Ini disebabkan Tommy dan Chen Long langsung bentrok di babak I dalam ajang berhadiah total USD 275 ribu tersebut.

Tentu, posisi Tommy tak diunggulkan. Saat ini, Chen Long tengah on fire.

Apalagi, hasil dari Denmark membuktikan bahwa dia tak mengalami kesulitan berarti untuk menundukkan putra legenda bulu tangkis Icuk Sugiarto tersebut. Tommy juga hanya sekali menang dalam sembilan kali pertemuan.

Hasil tersebut dipetiknya dalam Indonesia Super Series Premier 2013 Ketika itu, dia menang 21-11, 21-18. (*)

Bisa Juara dengan Pasangan Baru

Senin, 19 Oktober 2015

KOMBINASI: Pia Zebadiah
PIA Zebadiah selalu identik dengan Markis Kido. Wajar sebagai dia merupakan adik dari peraih emas nomor ganda putra Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido.

Bahkan, sang kakak pula yang dijadikannya sebagai pasangan di nomor ganda campuran usai dia terdepak dari Pelatnas PBSI. Setelah sebelumnya, namanya di ganda campuran melekat bersama Fran Kurniawan.

Tapi, mulai Oktober ini, Pia punya pasangan baru. Jika di ganda putri ada Variella ''Lala'' Putri, di ganda campuran bukan lagi dengan pebulu tangkis Indonesia.

Ya, sejak Belanda Grand Prix, Pia bertandem dengan lelaki asal Skotlandia Robert Blair Sayang, debutnya tak terlalu bagus.

Blair/Pia terhenti di babak perempat final. Mereka dipaksa mengakui ketangguhan wakil Prancis Ronan Labar/Emilie Lefel dengan 12-21, 21-23.

Tapi, kegagalan di Negeri Tulip, julukan Belanda, menjadi pelajaran bagi keduanya. Buktinya, di Swiss Challenge 2015, keduanya mampu menjadi juara.

Dalam final yang dilaksanakan di Yverdon-les-Bains, Blair/Pia mampu menjadi juara. Mereka mengalahkan Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand) dengan pertarungan sengit selama tiga game dengan b18-21, 25-23, 21-18

Sayang, ranking Blair/Pia belum cukup untuk bisa menembus babak kualifikasi Prancis Super Series 2015 yang berlangsung 20-25 Oktober ini. Pia hanya berlaga di ganda putri dengan Lala dan merangkak dari kualifikasi. (*)



Distribusi Gelar Swiss Challenge 2015

Tunggal putra: Iskandar Zulkarnain (Malaysia x6) v Ville Lang (Finlandia x3) 21-19, 16-21, 21-11

Tunggal putri:Nitchaol Jindapol (Thailand x3) v Olga Konon (Jerman) 16-21,21-16, 21-14

Ganda putra:Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia x2) v Peter Briggs/Tom Wolfenden (Inggris x3) 21-16, 17-21, 21-16

Ganda putri:Samantha Barning/Iris Tabeling (Belanda x1) v Pia Zebadiah/Varielle Putri (Indonesia) 21-11, 21-10

Ganda campuran: Robert Blair/Pia Zebadiah (Skotlandia/Indonesia) v Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand) 18-21, 25-23, 21-18

x=unggulan

Quattrick Tontowi/Liliyana Kalah di Final

TUMBANG: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir belum bisa juara
PELUANG juara yang sudah ada di depan mata dibuang Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Keduanya menyerah dalam pertarungan tiga game 20-22, 18-21, 9-21 kepada wakil Korea Selatan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Odense pada Minggu waktu setempat (18/10/2015).

Kekalahan ini membuat Tontowi/Liliyana selalu gagal dalam empat kali (quattrick) penampilan di babak pemungkas di Negeri Skandinavia tersebut. Tahun lalu, keduanya dikalahkan Xu Chen/Ma Jin dari Tiongkok dengan 20-22, 15-21.

Sedangkan pada 2013, pasangan yang digembleng di Pelatnas PBSI tersebut menyerah 11-21, 20-22 kepada pasangan Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, lainnya Zhang Nan/Zhou Yunlei. Nah, pada 2012, Xu Chen/Ma Jin kembali menjadi penjegal. Tontowi/Liliyana tumbang dengan tiga game 21-23, 26-24, 11-21.

Sebenarnya, peluang terbesar menjadi pemenang memang kali in. Alasannya, dua lawan beratnya itu, Xu Chen/Ma Jin dan Zhang Nan/Zhou Yunlei, sudah tersingkir di babak awal.

Sang juara bertahan dihentikan Song-hyun/Ha-na di perempat final dengan 13-21, 21-13, 21-15. Sementara, Nan/Yunlei , yang diunggulkan di posisi teraras, secara mengejutkan dipermalukan ganda Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, Shin Baek-cheol/Chae Yoo-jung dengan 20-22, 18-21.

Di atas kertas, Tontowi/Liliyana diunggulkan bisa naik ke podium terhormat. Keduanya unggul head to head dengan Song-hyun/Ha-na. Pasangan merah putih tiga kali unggul dalam lima kali pertemuan.  Hanya, dalam perjumpaan terakhir, di Jepang Super Series 2015, Tontowi/Liliyana kalah 16-21, 21-23.

Kegagalan ini membuat nomor ganda campuran belum pernah lagi juara di Denmark Open, nama resmi Denmark Super Series Premier, sejak 2001-2002. Saat itu, Tri Kusharjanto/Emma Ermawati menundukkan Nathan Robertson/Gail Emms dari Inggris dengan 7-5, 7-1, 7-4.

Kegagalan serupa juga dialami Tommy Sugiarto. Dia menyerah 12-21, 12-21 kepada unggulan teratas tunggal putra yang sekaligus juara bertahan Chen Long (Tiongkok).

Distribusi gelar Denmark Super Series 2015
Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Tommy Sugiarto (Indonesia) 21-12, 21-12

Tunggal putri: Li Xuerui (Tiongkok x4) v PV Sindhu (India) 21-19, 21-12

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Liu Cheng/Lu Kai (Tiongkok) 21-8, 21-14

Ganda putri: Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan (Korsel) v Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5) WO

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x2) 20-22, 18-21, 9-21

x=unggulan

Ya Istri, Ya Pelatih, Juga Motivator

TERHORMAT: Sony Dwi Kuncoro di atas podium
SONY Dwi Kuncoro naik ke podium juara nomor tunggal putra dalam Taiwan Grand Prix 2015. Dalam final di Taipei pada Minggu waktu setempat (18/10/2015), dia mengalahkan asa tuan rumah yang juga unggulan kelima Tzu Wei Wang dengan dua game langsung 21-13, 21-15.

Ini menjadi gelar kedua bagi Sony pada 2015. Pada awal September lalu, bapak dua anak tersebut menjadi juara di Indonesia Challenge yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya.

Memang, level grand prix lebih tinggi satu setrip dibandingkan challenge. Sehingga perjuangan Sony pun lebih berat dibandingkan di Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Apalagi,  di Taiwan Grand Prix, Sony bukan kandidat utama juara. Dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut, dia hanya ditempatkan di posisi ke-16.

Lalu apa resep Sony bisa juara? Padahal, dia sudah tak punya pelatih tetap usai didepak dari Pelatnas Cipayung pada 2014?

''Istri saya. Dia yang mendampangi saya ke Taipei,'' kata Sony kepada smashyes.

Gading Savitri, nama sang istri, sangat membantu. Dia mampu menjadi ofisial dan motivator di lapangan.

''Dia punya ilmu bulu tangkis. Kecilnya kan pemain,'' ungkap lelaki 31 tahun tersebut.

Selain itu, saat berada di pelatnas, Gading hampir setiap hari mendampingi Sony. Sehingga, dengan melihat, dia pun memperoleh ilmu bulu tangkis.

''Jadi, istri tahu strategi apa yang dipakai untuk mengalahkan lawan Kehadirannya sangat membantu saya,'' ujar mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut.

Pada 2007, Sony pernah menjuarai turnamen yang sama.Di babak final, dia mengalahkan rekannya saat itu di pelatnas, Taufik Hidayat (*)

Empat Gelar setelah Menunggu 21 Tahun

KOMPAK: Kevin Sanjaya (kiri) dan Markus Fernaldi
INDONESIA pesta gelar di Taiwan Grand Prix 2015. Merah putih meraih empat posisi terhormat dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 50 ribu tersebut.

Dari lima nomor yang dipertandingkan, hanya di tunggal putri yang lepas dari cengkeraman pebulu tangkis Indonesia. Itu pun dikarenakan tak ada wakil dari negeri terpadat di Asia Tenggara tersebut.

Dari empat gelar itu, tiga di antaranya dicapai oleh wakil Pelatnas PBSI atau yang biasa disebut Pelatnas Cipayung. Yakni dari nomor ganda putra melalui Markus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (ganda putri), dan pasangan ganda campuran Ronald Alexander/Melati Daeva

Sementara, juara tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro bukan membawa bendera Pelatnas Cipayung. Ini setelah pada 2014, dia tak lagi tercantum namanya sebagai penghuni kawah candradimuka atlet olahraga tepok bulu tersebut

Capaian empat gelar ini mengulangi hasil pada 1994 Ketika itu, Haryanto Arbi menjadi juara tunggal putra, Susi Susanti (ganda putri), Rudy Gunawan/Bambang Supriyanto (ganda putra), dan Lili Tampi/Finarsih (ganda putri).

Sementara, tahun lalu, merah putih hanya mampu mengusung satu gelar melalui nomor ganda putri. Iu melalui pasangan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, yang pada 2013 juga mampu menjadi juara.

Pada 2015, keduanya gagal mencetak hat-trick atau tiga kali beruntun menjadi pemenang. Bukan karena kalah di babak awal. Tapi karena Greysia/Nitya bermain di turnamen yang levelnya lebih tinggi, Denmark Super Series Premier. Dengan berada di posisi 10 besar mewajibkan keduanya turun dalam ajang yang waktunya bersamaan dengan Taiwan Grand Prix tersebut. (*)



Distribusi gelar Taiwan Grand Prix 2015

Tunggal putra:Sony Dwi Kuncoro (Indonesia x16) v Tzu Wei Wang (Taiwan x5) 21-13, 21-15

Tunggal putri:Lee Jang-mi (Korsel) v Kim Hyo-min (Korsel x1) 21-16, 21-16

Ganda putra:Markus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya (Indonesia x1) v Thien How Hoon/Lim Khim Wah (Malaysia x4) 21-12, 21-18

Ganda putri:Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia x4) v Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang) 21-19, 21-14

Ganda campuran: Ronald Alexander/Melati Daeva (Indonesia x1) v Ko-Chi Chang/Hsin Tien Chang (Taiwan) 21-18, 25-27, 21-15

x=unggulan

Mantan Cipayung Belum Jaminan

Minggu, 18 Oktober 2015

JEGAL: Delphine Lansac (foto:twitter)
PERNAH menjadi andalan Indonesia bukan jaminan berjaya di turnamen level challenge. Ini dirasakan benar oleh Aprilia Yuswandari.

Dia sudah terhenti langkahnya oleh Delphine Lansac dari Prancis dengan rubber game 21-10, 16-21, 18-21 dalam pertandingan perempat final Swiss Challenge 2015 yang dilaksanakan di Yverdon-les-Bains pada Sabtu waktu setempat (17/10).Pertemuan Aprilia dengan pebulu tangkis berperingkat 76 tersebut baru kali pertama.

Hanya, di atas kertas, sebenarnya Aprilia bisa mengungguli lawannya. Pengalamannya semasa di Pelatnas PBSI jauh di atas lawannya.

Selain di turnamen-turnamen besar, gadis asal Jogjakarta tersebut pernah membela Indonesia di ajang Piala Uber dan Sudirman. Hanya, karena lama vakum di berbagai event internasional, kini ranking Aprilia meloror jauh. Dia ada di posisi 133 atau masih di bawah Lansac.

Aprilia bisa tampil di Eropa karena kini dia bakal menghabiskan banyak waktunya di Benua Putih, julukan Eropa. Itu setelah dia menerima tawaran bermain di salah satu klub di Swiss.

Aprilia sendiri cukup lama digembleng di Pelatnas Cipayung. Sayang, karena penampilannya yang dianggap mulai turun dia pun terpental pada 2014.

Di Swiss Challenge sendiri, selain Aprilia juga ada pasangan ganda putri Pia Zebadiah/Variella ''Lala'' Putri. Ayunan langkah keduanya masih bertahan hingga babak semifinal. (*)

Mengejar Sejarah di Negeri Dongeng

LAWAN: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (foto: victor)
PASANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akhirnya mencapai final Denmark Super Series Premier 2015.Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Odense pada Sabtu waktu setempat (17/10/2015), unggulan kedua tersebut memetik kemenangan straight game 21-18, 21-16 atas Liu Cheng/Bao Yixin, yang diunggulkan di posisi keempat.

Kemenangan tersebut membuat Tontowi/Liliyana unggul lima kali dalam tujuh kali pertemuan. Kali terakhir, kedua pasangan bersua dalam perempat final Indonesia Super Series Premier 2015.

Di babak pemungkas yang dilaksanakan Minggu waktu setempat (18/10/2015), andalan merah itu akan ditantang Ko Sung-Hyun-Kim Ha-na. Di babak semifinal, unggulan ketujuh tersebut melibas asa tuan rumah Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, unggulan kelima, dengan dua game 21-14, 21-16.

Tontowi/Liliyana tak boleh memandang sebelat mata wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, itu. Dalam pertemuan terakhir di Jepang Super Series 2015, pasangan yang sama-sama bernaung di bendera klub Djarum Kudus tersebut kalah straight game 16-21, 21-23.

Hanya, jika konsisten, jalan juara bagi Tontowi/Liliyana terbentang. Ini sekaligus membuat mereka akan mencatatkan namanya dalam daftar juara di Denmark Open, titel awal Denmark Super Series 2015.

Selama dipasangkan dan mampu menjuarai berbagai turnamen, termasuk Kejuaraan Dunia dan All England, Tontowi/Liliyana nihil gelar di Negeri Dongeng, julukan Denmark, itu. Selain Denmark Open, Indonesia Open juga masuk dalam daftar turnamen yang belum pernah dimenangi Tontowi/Liliyana.

Kali terakhir, pasangan ganda campuran merah putih yang menjadi juara di Denmark Open adalah Tri Kusharjanto/Emma Ermawati pada 2001-2002. Hanya, maksud 2001-2002 itu bukan berarti mereka juara dua tahun beruntun.Dulu, Denmark Open selalu dilaksanakan di pergantian tahun.  (*)

Kiprah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Denmark Open

2010:

2011: Babak I: kalah oleh Lee Yong-dae/Ha Jung-eun (Korsel) 15-21, 21-12, 17-21

2012: Final: kalah oleh Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) 21-23, 26-24, 11-21

2013: Final : kalah oleh Zhang Nan/Zhaou Yunlei (Tiongkok) 11-21, 20-22

2014: Final : kalah oleh Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok)20-22, 15-21

Selangkah Lagi ke Podium Terhormat

Tommy Sugiarto tembus final Denmark Open
NAMA Chen Long seperti tembok terjal bagi Tommy Sugiarto. Dia hanya mampu sekali memetik kemenangan dalam delapan kali pertemuan

Kemenangan tersebut pun dipetik setelah keduanya bertemu tujuh kali. Ini terjadi pada Indonesia Open 2013.

Saat itu, Tommy menang dengan dua game 21-11, 21-18. Namun, dalam duel terakhir di Kejuaraan Dunia 2014, putra juara dunia tunggal putra Icuk Sugiarto tersebut gagal mengulangi. Dia kalah 16-21, 20-22.

Nah, kini, Tommy bakal kembali bekerja keras untuk mengurangi selisih kekalahannya. Dia akan menantang Chen Long dalam final Denmark Super Series Premier 2015.

Lolosnya mantan penghuni Pelatnas PBSI atau yang biasa disebut Pelatnas Cipayung tersebut termasuk kejutan. Dia datang tanpa status unggulan dalam turnamen berhadiah total USD 650 ribu tersebut.

Namun, Tommy mampu menjungkalkan para unggulan. Mereka adalah Kidambi Srikant, unggulan kelima asal India, yang dipecandinginya di babak II dengan 21-15, 21-17. Setelah itu, di perempat final, jagoan tuan rumah yang ditempatkan sebagai unggulan kedua Jan O Jorgensen dipermalukannya dengan dua game langsung 21-19, 21-19.

Nah, kemudian di babak semifinal yang dilaksanakan di Odense pada Sabtu waktu setempat (17/10/2015), Tommy menjungkalkan unggulan ketujuh Chou Tien Chen dari Taiwan dengan straight game 21-8, 22-20. Namun, Chen Long beda dengan para unggulan yang sudah dihantamnya.

Pebulu tangkis nomor satu dunia itu termasuk stabil penampilannya. Butuh stamina yang kuat dan kecerdikan untuk bisa membuatnya takluk.

Hanya, Tommy sekarang sudah mengalami perbedaan. Di tangan Rashid Sidek yang menanganinya di Sport Affairs Malaysia, dia lebih sabar dan punya power ketika menyerang. (*)

Agenda final Denmark Super Series Premier

Ganda campuran: Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korsel x7) v Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x2)

Ganda putri: Jung Kyun-eun/Shin Seung-chan (Korsel) v Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x5)

Ganda putra: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korsel x1) v Lu Kai/Liu Cheng (Tiongkok)

Tunggal putri:Li Xuerui (Tiongkok x4) v PV Sindhu (India)

Tunggal putra: Chen Long (Tiongkok x1) v Tommy Sugiarto (Indonesia)

x=unggulan

Ada Tiga Atlet Jatim di Final Taiwan Grand Prix

Ronald (belakang) (foto;PBSI)
TAK ada nama kontingen Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jatim di Taiwan Grand Prix 2015. Namun, ada hal yang membuat tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat tersebut menepuk dada.

Ini dikarenakan ada tiga atletnya yang mampu menembus babak final turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut. Meski, mereka membela panji-panji Pelatnas PBSI.

''Ada Kevin Sanjaya dan Ni Ketut Mahadewi serta Ronald Alexander. Mereka memang berlatih di Jakarta karena statusnya pebulu tangkis pelatnas,''kata Kabid Binpres Pengprov PBSI Jatim Koko Pambudi.

Memang, dengan status tersebut, mereka tak bisa bergabung dengan rekan-rekannya di Surabaya. Namun, banyak hal yang didapat Jatim dengan keberadaan ketiganya di Cipayung, markas Pelatnas PBSI.

Sparring yang berkualitas bisa didapat. Selain itu, mengikuti kejuaraan internasional akan ikut memupuk pengalaman bertanding.

Di Taiwan Grand Prix, Kevin yang turun berpasangan dengan Markus Fernaldi berlaga di ganda putra, Ni Ketut di ganda putri bertandem dengan Angia Shitta Awanda. Sedang Ronald berpasangan dengan Melati Daeva di ganda campuran.  Selain ketiganya, Jatim masih mempunyai Krisha Adi di tunggal putra. 

Sementara di Taiwan Grand Prix, selain Kevin, Ni Ketut, dan Ronald, sebenarnya masih ada wakil Jawa Timur lainnya yang berlaga di final. Dia adalah Sony Dwi Kuncoro.

Hanya, karena dia sudah tak masuk Puslatda Jatim karena usianya sudah di atas 25 tahun pada 2016 sebagai syarat untuk bisa berlaga dalam PON nanti. (*)

Ayo Sony, Kamu Bisa

RINTANGAN TERAKHIR: Tzu Wei Wang (foto:badzine)
AROMA juara sudah dicium Sony Dwi Kuncoro. Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut mampu menjejakkan kaki dalam final Taiwan Grand Prix 2015

Dalam babak final yang dilaksanakan Minggu (18/10/2015) di Taipei, Sony akan menantang unggulan kelima
Tzu Wei Wang dari Taiwan. Sony mampu menembus babak pemungkas usai menundukkan mantan rekannya di Pelatnas Cipayung Simon Santoso dengan dua game langsung 21-14, 21-16 dalam laga yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat.

Meski sudah hampir delapan tahun bersama di Pelatnas Cipayung, tapi Sony dan Simon hanya dua kali bertemu. Yakni di Indonesia Open 2008 dan Jepang Open 209.Hasilnya, mereka saling mengalahkan.

Menariknya, kini keduanya tampil lagi usai sama-sama pulih dari cedera. Kondisi itu pula yang membuat mereka terpental dari Cipayung.

Sementara, Wei Wang menggagalkan terjadinya final sesama pebulu tangkis Indonesia (all Indonesian Finals).Ini setelah dia memupus asa atlet muda Indonesia Ihsan Maulana Mustofa dengan rubber game 10-21, 21-8,15-21.Ihsan sendiri dalam turnamen berhadiah total USD 50 ribu tersebut ditempatkan sebagai unggulan kelima.

Sony punya memori buruk dengan Wei Wang. Tahun ini di Swiss Grand Prix Gold, dia dipermalukan dengan dua game langsung 11-21, 12-21.

Hanya, kondisi di Swiss pada Maret lalu dengan sekarang sudah berbeda. Ketika itu, trauma cedera masih menghantui Sony.

Sedangkan sekarang, kondisi peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut mulai mendekati penampilan terbaik. Awal September lalu, Sony mampu menjadi juara Indonesia Challenge dan dua pekan lalu menembus perempat final Thailand Grand Prix Gold 2015.

Hanya seperti biasanya, dalam setiap turnamen yang diikuti, dia tak pernah mau banyak sesumbar. Baginya, tampil baik dalam setiap pertandingan menjadi fokus perhatiannya. (*)

Agenda final Taiwan Grand Prix 2015

Ganda putra: Markus Fernaldi/Kevin Sanjaya (Indonesia x1) v Thien How Hoon/Lim Khim Wah (Malaysia x4)

Tunggal putri: Kim Hyo-min (Korea Selatax1) v Lee Jang-mi (Korea Selatan)

Tunggal putra: Sony Dwi Kuncoro (Indonesia x16) v Tzu Wei Wang (Taiwan x5)

Ganda putri: Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi (Indonesia x4) v Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang)

Ganda campuran: Ronald Alexander/Melati Daeva (Indonesia x1) v Ko-Chi Chang/Hsin-Tien Chang (Taiwan)

x=unggulan

Lapang Jalan Tontowi/Liliyana Raih Gelar Perdana

Sabtu, 17 Oktober 2015

TERSINGKIR: Zhang/Zhao Yunlei (foto;xinhua)
MUSIM 2015 sudah berlalu selama 10 bulan Tapi, belum ada gelar dari ajang super series/super series premier yang mampu disabet pasangan ganda campuran andalan Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Di ajang All England yang sudah jadi langganan juara, keduanya tersungkur di final. Tontowi/Liliyana dikalahkan musuh beratnya dari Tiongkok Zhang Nan/Zhou Yunlei. Pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut pula yang sering jadi penjegal langkah ganda yang sama-sama bernaung di klub Djarum Kudus tersebut.

Salah satunya dalam Kejuaraan Dunia 2015 Padahal, ajang itu dilaksanakan di kandang sendri, Jakarta Kali terakhir Nan/Yunlei menjegal Tontowi/Liliyana di final Korea Super Series 2015.

Memang, mereka pernah juara yakni dalam Kejuaraan Asia 2015. Tapi, ketika itu, musuh besarnya tersebut memilih absen.

Namun, kini, kans menjadi juara di ajang turnamen super series premier terbuka lebar. Langkah Tontowi/Liliyana sudah sampai di babak semifinal Denmark Super Series Premier 2015.Sedangkan Nan/Yunlei secara mengejutkan tumbang di babak kedua.Unggulan teratas dalam turnamen yang menyediakan hadiah USD 650 ribu tersebut takluk dua game langsung 20-22, 18-21 kepada wakil Korea Selatan Shin Baek-choel/Chae Yoo-jung.

Tiket semifinal ditangan Tontowi/Liliyana, yang diunggulkan di posisi kdedua, usai mengalahkan unggulan kedelapan Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok) dengan rubber game 21-15, 18-21, 21-15. Ini menjadi kemenangan kedelapan dalam delapan kali pertemuan pasangan merah putih tersebut dengan Kai/Yaqiong.

Di semifinal, Tontowi/Liliyana kembali berjumpa dengan pasangan Tiongkok lainnya. Kali ini, Liu Chen/Bao Yixin yang akan dihadapi

Ganda campuran nomor empat dunia tersebut tak boleh dianggap enteng. Tontowi/Liliyana pernah dua kali mengalami dua kali kekalahan beruntun yakni di Super Series Finals 2014 dan Swiss Grand Prix Gold 2015. Untung, dalam pertemuan terakhir di Indonesia Super Series 2015, Tontowi/Liliyana menang.

Semifinal ganda campuran lainnya di Denmark Super Series 2015 akan mempertemukan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dari Denmark dengan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na (Korea Selatan). (*)

Tommy Permalukan Andalan Tuan Rumah

Jan O Jorgensen tumbang  (foto:yonex)
TOMMY Sugiarto semakin matang. Di bawah polesan mantan pelatih nasional Malaysia Rashid Sidek, dia mulai menyeruak di persaingan jajaran elite nomor tunggal putra dunia.

Buktinya, tunggal putra terbaik Indonesia saat ini tersebut mampu menembus babak semifinal Denmark Open. Padahal, ajang berhadiah total USD 650 ribu tersebut diikuti para atlet terbaik dunia

Hebatnya lagi, yang dikalahkannya adalah andalan tuan rumah Jan O Jorgensen. Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Odense pada Jumat waktu setempat (16/10/2015), Tommy menang dua game langsung 21-19, 21-19 atas unggulan kedua tersebut

Kemenangan ini juga membuatnya sukses melakukan revans. Dalam pertemuan pertama di Super Series Finals 2013, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut menyerah mudah 15-21, 9-21.

Namun, bukan hal yang mudah baginya untuk bisa menembus final. Tommy harus bisa menyingkirkan Chou Tien Chen dari Taiwan Dalam tiga pertemuan terakhir-Asian Games 2014, Prancis Super Series 2014, dan Tiongkok Super Series Premier 2014-, mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu kalah. Tien Chen sendiri lolos ke semifinal usai menumbangkan unggulan keempat Kento Momota (Jepang) dengan 21-19, 20-22.

Semifinal lainnya akan mempertemukan antara andalan Denmark lainnya Viktor Axelsen dengan unggulan teratas Chen Long (Tiongkok). Di perempat final, Viktor mempermalukan juara dunia lima kali Lin Dan (Tiongkok) dengan mudah 21-8, 21-7. Sedang Chen Long dipaksa tampil tiga game 13-21, 21-13, 21-16 untuk menghentikan perlawanan Wei Nan (Hongkong).

Sejak 2009, usai Simon Santoso menjadi juara, belum ada wakil merah putih yang naik ke podium terhormat. Tommy sendiri kini digembleng Rashid di klub barunya di Malaysia, Sport Affairs.

Tahun lalu, di Denmark Super Series Premier, Tommy langsung tersingkir di babak pertama. Diunggulkan di posisi ketujuh, kakak Jauzah Sugiarto tersebut dikalahkan Tian Houwei (Tiongkok) dengan 14-21, 14-21. (*)

Aprilia Mulai Jajal Turnamen Eropa

Jumat, 16 Oktober 2015

 APRILIA Yuswandari memulai debut di Eropa. Mantan  tunggal putri binaan Pelatnas Cipayung tersebut akan berlaga dalam Swiss Challenge 2015.

Pada babak pertama yang dilaksanakan di     Yverodn-les-Bains pada Jumat waktu setempat, dia akan dijajal pebulu tangkis tuan rumah yang lolos dari babak kualifikasi Cendrine Hantz.  Kedua pebulu tangkis belum pernah bertemu.

Hanya, dari ranking terakhir, Aprilia layak diunggulkan menang. Perempuan yang dibesarkan oleh klub Semen Gresik tersebut ada di posisi 133. Sementara lawannya di ranking 227.

Selain itu, secara pengalaman, Aprilia masih unggul. Dia punya bekal pernah menjadi tunggal putri merah putih di ajang Piala Uber dan Sudirman.

Sayang, setelah terpental dari Pelatnas Cipayung 2014, ranking Aprilia terus merosot. Gadis 25 tahun tersebut terlempar dari 100 besar dan belum pernah merasakan juara.

Padahal, tahun ini, Aprilia punya dua kali peluang naik ke podium terhormat yakni di Vietnam Challenge dan Indonesia International Series. Hanya, dia tumbang di babak final.

Kali terakhir, Aprilia berlaga di Eropa pada 2013. Saat itu, dia masih di Pelatnas Cipayung dan mendapat kepercayaan berlaga di All England. Hanya di babak pertama, Aprilia langsung takluk kepada Juliane Schenk dari Jerman.

Nah, kini, Aprilia bisa berlaga kembali di Benia Putih, julukan Eropa, karena dia bergabung dengan salah satu klub di Swiss. Dia tak hanya menjadi lawan tanding (sparring partner) tapi juga mendapat kesempatan berlaga di berbagai turnamen. (*)

Lho, kok Sekarang Chong Wei Kalahan

HONGKONG: Wei Nan, sang penakluk Chong Wei (foto:scmp)

LEE Chong Wei belum bisa kembali ke penampilan puncak. Usai Kejuaraan Dunia 2015, untuk kali ketiga, dia harus menerima hasil buruk.

Ini setelah lelaki asal Malaysia tersebut menyerah dua game langsung 18-21, 19-21 kepada Wei Nan dari Hongkong di Denmark Super Series 2015. Ironisnya, kekalahan tersebut baru terjadi di babak II.

Sebelumnya, mantan pebulu tangkis nomor satu dunia nomor tunggal putra tersebut juga menerima hasil pahit di Jepang Super Series 2015 dan Korea Super Series 2015.

Di Negeri Sakura, julukan Jepang, Chong Wei kalah oleh musuh bebuyutan sekaligus sahabat karibnya sendiri, Lin Dan asal Tiongkok, dengan 17-21, 10-21. Pertarungan tersebut terjadi di babak perempat final.

Sepekan kemudian, di Korea, hasil mengejutkan dialami dua kali peraih medali perak olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut kalah 19-21, 19-21 kepada atlet junior tuan rumah Heo Kwang-hee. Parahnya, kejadian tersebut berlangsung di babak kualifikasi.

Tentu, hasil dalam tiga turnamen tersebut membuat Chong Wei seakan sudah tak menakutkan bagi para atlet olahraga tepok bulu lainnya. Padahal, dalam tujuh tahun terakhir, dia merupakan momok yang menakutkan bagi para lawan-lawannya.

Selain itu, hasil dalam tiga turnamen ini bisa membuat Chong Wei harus bekerja lebih keras jika ingin memecahkan mitos gagal di olimpiade. Apalagi, dia masih ingin tampil di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Ya, Chong Wei sempat diprediksi bakal kembali berjaya. Puncaknya, dia mampu menembus babak pemungkas Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta.

Sayang, langkahnya dihentkkan oleh Chen Long asal Tiongkok. Chong Wei tumbang straight game 14-21, 17-21. (*)

Berjumpa Lagi setelah Enam Tahun

Simon Santoso (foto:badzine)
SATU tiket final tunggal putra di Taiwan Grand Prix 2015 sudah di tangan. Dua wakil Indonesia, Simon Santoso dan Sony Dwi Kuncoro, akan saling bertemu dalam pertandingan babak semifinal yang dilaksanakan di Taipei pada Sabtu waktu setempat (17/10/2015).

Menariknya, keduanya merupakan mantan rekan berlatih di Pelatnas Cipayung dan kini sudah sama-sama terpental. Tiket ke empat besar tersebut usai Simon dan Sony mampu mengalahkan lawan-lawannya dalam lagga delapan besar yang dilaksanakan Jumat (16/19).

Simon, yang berstatus nonunggulan, memetik kemenangan dua game 21-12,21-19 atas wakil tuan rumah Lin Yu Hsien, yang juga diunggulkan di posisi ke-12.  Ini menjadi kemenangan kedua Simon atas lawan yang sama.

Sebelumnya, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut menang di Selandia Baru Super Series 2013. Saat itu, Simon juga unggul dua game 21-12, 21-19.

Pada babak II, Simon membuat kejutan besar. Dia menumbangkan unggulan teratas Nguyen Tien Minh asal Vietnam.

Sedangkan Sony lolos ke semifinal usai memupus perlawanan sengit Kwang Hee-heo (Korea Selatan) dalam pertarungan babak perempat final yang memakan waktu 48 menit dengan 22-20, 21-19. Dalam ajang berhadiah total USD 50 ribu tersebut, Sony diunggulkan di posisi ke-16.

Meski hampir delapan bersama, tapi Simon dan Sony hanya bertemu dua kali di ajang resmi. Hasilnya pun saling mengalahkan.

Sony menang di Indonesia Open 2008. Sedangkan dia menyerah di Jepang Open setahun kemudian. Artinya, sudah enam tahun, dua mantan andalan Indonesia tersebut belum pernah adu kekuatan lagi.

Di Taiwan Grand Prix 2015, kans menciptakan final sesama wakil Indonesia pun masih terbuka. Syaratnya, Ihsan Maulana Mustofa mampu menjinakkan andalan tuan rumah Tzu Wei Wang.

Di babak sebelumnya, Ihsan melibas rekannya sendiri Anthony Ginting dengan 21-18, 21-18. Wei Wang sendiri memupus asa Kean Yew Loh dari Singapura dengan 21-13, 17-21, 21-13. (*)

Sudah Biasa Langsung Kehilangan Wakil

Kamis, 15 Oktober 2015

Lindaweni Fanetri menyerah kepada Li Xuerui
TUNGGAL putri Indonesia masih belum bisa banyak bicara di level atas. Buktinya, baru babak pertama, wakil merah putih sudah bertumbangan dan habis.

Ini tersaji dalam turnamen Denmark Super Series Premier 2015. Lindaweni Fanetri dan Maria Febe Kusumastuti dipaksa menyerah di laga perdana turnamen berhadiah total USD 650 ribu tersebut.

Lindaweni sempat memberikan perlawanan sebelum akhirnya kalah 21-10, 19-21, 11-21 kepada unggulan keempat Li Xuerui dari Tiongkok dalam pertandingan yang dilaksanakan pada Rabu waktu setempat (14/10/2015). Ini menjadi kekalahan keempat penghuni Pelatnas Cipayung tersebut oleh Li Xuerui.

Sementara, Febe, sapaan karib Maria Febe Kusumastuti, menyerah mudah dengan straight game 13-21, 11-21 kepada andalan India PV Sindhu. Pil pahit ini menjadi kali ketiga yang ditelannya dari lawan yang sama.

Memang, Indonesia sudah lama tak pernah menjadi juara di kelas super series atau super series premier. Regenerasi dan kualitas pebulu tangkisnya membuat dahaga prestasi tersebut sangat panjang.

Di Denmark Open, titel Denmark Super Series Premier, sejak digelar 1935, hanya ada dua nama pebulu tangkis merah putih yang sukses menjadi juara. Mereka adalah Ivana Lie pada 1979-1980 dan Susi Susanti 1991-1992 dan 1992-1993.

Penulisan Ivana juara 1979-1980 bukan berarti dia dua kali naik ke podium terhormat. Sebelumnya, Denmark Open dilaksanakan di penghujung tahun atau pada saat pergantian tahun. Sama halnya dengan Susi.

Tahun lalu, gelar juara di Negeri Skandinavia tersebut jatuh ke tangan Li Xuerui. Hanya, tahun ini, kansnya mempertahankan gelar tak terlalu besar. Gaya permainannya sudah bisa diantisipasi dua lawan terberatnya saat ini, Saina Nehwal dari India dan Carolina Marin (Spanyol). (*)

Bellaetrix is Back

Bellaetrix saat cedera di Piala Sudirman 2015 (foto:xinhua)
SUDAH lima bulan lamanya nama Bellaetrix Manuputty menghilang. Ini akibat dari petaka yang dialami dalam Piala Sudirman 2015.

Saat itu, dalam babak semifinal kejuaraan beregu campuran dunia tersebut, Bella, sapaan karibnya, menantang tunggal putri terbaik tuan rumah Li Xuerui.

Dia sempat memberikan harapan dengan unggul 5-3 di game pertama. Namun, sebuah insiden salah jatuh membuatnya harus mengakhiri pertarungan lebih cepat.

Setelah itu, dia dipaksa menepi untuk menjalani penyembuhan. Akibatnya, ranking Bella pun menurun jauh hingga kini di posisi 79.

Tapi, dalam Taiwan Grand Prix 2015, namanya kembali  muncul. Dia pun memulai comeback nya dengan gemilang.

Bella menang dua game langsung 21-19, 21-11 atas Hsuan Yu Wendy dari Australia dengan 21-19, 21-11 dalam pertandingan babak I turnamen berhadiah USD 50 ribu tersebut di Taipei pada Rabu waktu setempat (14/10/2015).

Dari sisi ranking, Bella memang kalah dibandingkan Hsuan Yu. Wakil Negeri Kanguru, julukan Australia, tersebut ada di ranking 67.

Di babak II, mantan tunggal putri terbaik Indonesia itu menantang wakil tuan rumah Shuo Yun Sung, yang di babak I melibas kompatriot (rekan satu negara) Ying Chun Lin dengan 15-21, 21-9, 21-14.

Melihat ranking terakhir, Bella harusnya bisa menang lagi. Saat ini, Yun Sung ada di posisi 187.

Dia juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan di nomor tunggal putri. Ini menyusul kekalahan yang dialami Yulia Yosephine Susanto,Fitriani, dan Gregoria Mariska serta Lyanny Mainaky. (*)

Sony Sudah Ada di Taiwan

Sony Dwi Kuncoro masih bertahan (foto:badine)
SEMANGAT Sony Dwi Kuncoro mengangkat kembali nama terus dilakukan. Usai dari Thailand Grand Prix Gold, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut mengayunkan raket di Taiwan Grand Prix 2015.

Dalam ajang yang dilaksanakan di Taipe itu, Sony pun sudah menjejakkan kakinya di babak II. Ini setelah arek Suroboyo tersebut menang dua game langsung 21-5, 21-18 atas wakil Thailand Adulrach Namkul.

Dia akan berebut tiket babak III dengan Hsueh Hsuan Yi. Di babak II, pebulu tangkis Taiwan tersebut menundukkan Yugo Kobayashi (Jepang) dengan 21-14, 21-12.

Di atas kertas, Sony lebih diunggulkan. Peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut ada di posisi 82 sedangkan lawannya di posisi 193.

Pekan ini, ranking bapak dua putri tersebut mengalami lonjakan 17 setrip. Sony kembali menembus 100 besar usai mencapai babak perempat final di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand.

Selain Sony, di nomor tunggal putra, Indonesia menempatkan banyak wakil di babak II. Mereka antara lain Simon Santoso, Muhammad Bayu Pangistu, serta kuarter Pelatnas Cipayung-Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, Firman Abdul Kholik, dan Anthony Ginting.

Hanya, di antara wakil merah putih tersebut, beban terberat di pundak Simon Santoso. Mantan peringkat ketiga dunia itu berjumpa dengan unggulan teratas Nguyen Tien Minh.

Meski rankingnya kalah jauh, kini Simon di posisi 125 dan Tien Ming (35), namun Simon punya catatan apil. Dia tak pernah kalah dalam empat kali pertemuan dengan Tien Minh.

Kali terakhir, Simon menang di Singapore Open 2011.Namun setelah empat tahun berlalu, keduanya belum pernah lagi berjumpa. (*)

Gubernur Jatim Dukung Indonesia GPG

Sabtu, 10 Oktober 2015

PENYELENGGARAAN
Gubernur  Soekarwo (tengah) menerima pengurus PBSI Jatim
Indonesia Grand Prix Gold 2015 dapat angin segar. Ajang yang akan dilaksanakan di Malang tersebut mendapat sokongan dari Gubernur Jatim Soekarwo.

Bahkan, pengurus Pengprov PBSI Jatim yang dipimpin langsung ketua umumnya Wijanarko Adi Mulya diterima orang nomor satu di provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut. Selain Wijar, sapaan karib Wijanarko Adi Mulya, tampak pula beberapa pengurus inti Pengprov PBSI Jatim seperti ketua harian Bayu Wira maupun penasihat Bahrul Amik.

''Gubernur juga akan mendukung,'' kata Wijar.

Bagi Jatim, tahun ini merupakan kali pertama Indonesia Grand Prix Gold dilaksanakan di Jawa Timur. Sebelumnya, turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut dilaksanakan di Samarinda (Kalimantan Timur), Palembang (Sumatera Selatan), dan Jogja (DI Jogjakarta).

Selain itu, hadirnya Indonesia Grand Prix 2015 membuat Jatim dua kali menjadi host ajang internasional. Sebelumnya, pada 1-6 September lalu, Surabaya ditunjuk menjadi tempat pagelaran Indonesia Challenge 2015.

Indonesia Grand Prix Gold kali ini diperkirakan bakal diserbu para pebulu tangkis papan atas dunia. Meski ajang itu 'hanya' turnamen kasta ketiga di kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) setelah super series dan super series premier.

Alasannya, para peserta akan mengejar poin untuk bisa menembus Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Undian Indonesia Grand Prix Gold 2015 akan dilaksanakan pada 10 November mendatang. (*)

Destyan Resmi Persunting Atlet Andalan Singapura

Jumat, 09 Oktober 2015

SUAMI-ISTRI: Destyan dan Shinta Mulia Sari
DESTYAN Nanda Nobela akhirnya mengakhiri masa lajang. Lelaki yang dibina klub Surabaya Wima tersebut resmi menyunting Shinta Mulia Sari.

Acara akad nikah tersebut dilaksanakan di Singapura pada Jumat (9/10/2015). Acara dilaksanakan di Negeri Singa, julukan Singapura, karena saat ini sang istri merupakan warga negara Singapura.

Ya, Shinta memang sudah melepas statusnya warga negara Indonesia (WNI)-nya. Bahkan, dia menjadi salah satu pebulu tangkis andalan Singapura.

''Alhamdulillah. Sekarang, kami sudah resmi suami istri,'' tulis Destyan dalam pesan singkatnya.

Dalam acara sakral tersebut, terang dia, hadir juga Ferry Stewart. Sosok tersebut merupakan pelatih Destyan saat masih menimba ilmu di Wima.

Kisah kasih Destyan dengan Shinta sudah terjalin lama. Bahkan, mereka menjalin hubungan jarak jauh.

Ini dikarenakan Destyan di Surabaya dan Shinta di Singapura. Tapi, beberapa tahun terakhir, Destyan sudah melatih di Malaysia.

Namun, menjelang pernikahan, lelaki yang tinggal di kawasan Waru, Kabupaten Sidoarjo, tersebut hengkang ke Singapura. Dia menjadi pelatih private kepada anak-anak di negeri yang berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Riau itu.

Shinta sendiri, menjelang dipersunting Destyan absen di berbagai turnamen. (*)

Imbas Positif dari Thailand

Kamis, 08 Oktober 2015

Ihsan Maulana Mustofa (foto:badzine)
MENEMBUS final Thailand Grand Prix Gold 2015 membawa imbas bagi Ihsan Maulana Mustofa. Kini, rankingnya naik lima setrip di bandingkan pekan lalu.

Dari ranking terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), penghuni Pelatnas Cipayung tersebut sudah ada di posisi 37. Ini menjadi capaian terbaik dari Ihsan.

Bahkan, selama tiga bulan beruntun, rankingnya terus naik. Pada Agustus lalu, lelaki yang dibesarkan bersama klub Djarum Kudus tersebut di posisi 73 dunia. Kemudian, pada September, Ihsan ada 52 dan di awal Oktober sudah nangkring di 37.

Memang harus diakui, dibandingkan rekan-rekannya di Cipayung, capaian Ihsan paling impresif. Bahkan, dia pernah menembus perempat final dalam turnamen super series, Jepang Open.  Meski, dia harus melalui dari babak kualifikasi.

Di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, Ihsan sempat memberikan harapan bisa menjadi juara. Pada babak perempat final, pahlawan Indonesia meraih emas beregu dalam SEA Games 2015 tersebut memulangkan lebih awal unggulan teratas asal Korea Selatan Son Wan-ho dari Korea Selatan. Tapi, di babak final, Ihsan dipaksa harus mengakui ketangguhan pebulu tangkis senior asal Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, lainnya Lee Hyun-il.

Hanya, dibandingkan rekan-rekannya yang lain, kini Ihsan memiliki peringkat tertinggi. Sebelumnya, dia kalah kepada Jonatan Christie. (*)

Kembali Bersama di Belanda

Variella ''Lala'' Putri saat berada di Belanda
RANKING Pia Zebadiah/Variella ''Lala'' Putri masuk kategori jeblok. Keduanya terdampar di posisi 203 ganda putri dunia

Padahal, secara kualitas, kemampuan keduanya tak perlu diragukan. Apalagi, Pia dan Lala sama-sama pernah merasakan masuk 10 besar dunia.

Hanya, itu dilakukan saat keduanya berpasangan dengan partner sebelumnya. Pia dengan Rizky Amelia Pradipta dan Lala dengan Vita berpisah.

Sayang, keduanya harus rela berpisah. Ini dikarenakan Rizky dipanggil kembali masuk Pelatnas Cipayung dan Vita ditandemkan dengan pebulu yang gerasal dari klub yang sama, Djarum.

Dengan ranking yang masih jeblok itu pun membuat Pia/Lala harus rela mulai berkelana. Mulai dari turnamen Asia hingga Eropa pun dilakoni.

Di Asia, mereka berlaga di Taiwan Grand Prix Gold dan Jepang Super Series. Tapi, hasilnya pun belum sesuai harapan.

Kini, Pia/Lala berlaga di Eropa tepatnya, Belanda Grand Prix 2015. Di babak pertama, mereka memperoleh bye.

''Ya, kami berpasangan lagi setelah sempat beberapa waktu tak bersama,'' tulis Lala dalam pesan singkatnya.

Nah, baru di babak kedua, dalam ajang yang dilaksanakan di Almere tersebut, keduanya menjajal ketangguhan pasangan tuan rumah Alida Chen/Cheryl Seinen.

Menariknya, ranking kedua pasangan tak jauh beda. Wakil Belanda tersebut hanya tiga setrip di atas Pia/Lala atau tepatnya di posisi 200.

Di Belanda Grand Prix 2015, Pia/Lala menjadi satu-satunya pasangan ganda putri dari Indonesia. (*)

Meretas Jalan Sukses Sembilan Tahun Lalu

EROPA:Andriyanti Firdasari (foto:badzine)
TAK biasanya Andriyanti Firdasari ke Eropa.Apalagi, kini statusnya bukan lagi sebagai penghuni Pelatnas Cipayung.

Ya, sejak 2013, perempuan yang akrab disapa Firda tersebut dikembalikan ke klubnya, Jaya Raya. Ini imbas karena penampilannya yang dianggap mulai  menurun.

Saat ini, Firda berada di Eropa untuk tampil dalam Belanda Grand Prix 2015. Langkahnya pun sudah sampai ke babak kedua dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 50 ribu tersebut.

Pada pertandingan yang dilaksanakan di Almere pada Rabu waktu setempat, mantan tunggal putri terbaik Indonesia tersebut mengalahkan Akvile Stapusaityte dari Lithuania dengan dua game langsung 21-17, 22-20.

Sebenarnya, di atas kertas, Linda tak diunggulkan. Ini disebabkan ranking dunianya kalah.

Dia ada di posisi 116 sedangkan Akvile ada di ranking 99. Hanya, secara pengalaman, Linda memang lebih unggul.

Tapi, untuk bisa menembus babak perempat final, bukan hal yang mudah baginya. Linda akan berjumpa dengan unggulan kedelapan asal Bulgaria Linda Zetchiri, yang di babak pertama melibas Grace Gabriel dari Nigeria dengan 21-10, 21-9.


Bagi Linda, lawannya tersebut bukan wajah asing. Enam tahun lalu, keduanya pernah berjumpa di All England. Hasilnya, wakil merah putih tersebut menang dua game langsung 21-12,21-14.

Hanya, sekarang kondisinya bisa lain. Zetchiri rankingnya jauh lebih bagus yakni di posisi 34.

Sayang, sukses Linda menembus babak II gagal diikuti pebulu tangkis Indonesia lainnya, Ruselli Hartawan. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu menyerah straight game 9-21, 8-21 kepada Iris Wang, unggulan keempat asal Amerika Serikat.

Pada 2006, Firda pernah menjadi juara di Belanda Open. Ketika itu, dia mengalahkan Li Wenyan (Tiongkok) 21-16, 21-19. Sejak itu, belum ada srikandi merah putih yang mampu mengikuti jejaknya. (*)

Bicara di Turnamen Level Challenge

Senin, 05 Oktober 2015

STRATEGI:Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (foto:zimbio.com)
DI ajang super series atau super series premier, pasangan
Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva tak banyak dibicarakan. Ini wajar karena ganda putri asal Bulgaria jarang ikut ambil bagian.

Bahkan, tahun ini, Stoeva bersaudara tercatat hanya berlaga di All England di ajang super series premier. Selebihnya, mereka memilih mengumpulkan poin di turnamen di bawahnya.

Memang, ada hasilnya. Selama 2015, Gabriela/Stefani sudah tiga kali menjadi juara. Mereka naik podium terhormat dalam Orleans International, Spanyol International, dan Rusia Open. Dua turnamen awal masuk kategori challenge atau kasta kelima dalam daftar urutan turnamen yang masuk kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Internasional). Sedangkan Rusia Open masuk grand prix.

Itu sudah membuat ranking mereka terjaga di belasan. Kini, Stoeva bersaudara duduk di posisi 16 dunia.

Akhir pekan lalu, mereka kembali menjadi juara. Levelnya pun challenge yakni Bulgaria Open.

Dalam final yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (3/10/2015), Gabriela/Stefani, yang diunggulkan di posisi teratas, melibas pasangan Amerika Serikat Eva Lee/Paula Lynn Obanana dengan 21-14, 21-10. 

Hasil tersebut juga menjadi penyelamat tuan rumah dalam ajang berhadiah total USD 15 ribu tersebut.Gelar itu juga mengulangi sukses pada 2012.Ketika itu, mereka mengalahkan rekan senegaranya, Rumiana Ivanova/Dimitria Popstoikova.

Tahun lalu, tuan rumah memperoleh satu gelar. Hanya, ketika itu, capaian terbaik disumbangkan Petya Nedelcheva di tunggal putri. (*)

Tak Pernah Kehilangan Satu Game

Febby (foto:djarum)
LANGKAH Febby Angguni menjadi juara tunggal putra Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Kalimantan 2015 terasa ringan.Pebulu tangkis yang kini bernaung di bawah bendera Tjakrindo Masters Surabaya tersebut tak pernah kehilangan satu game pun untuk naik ke podium juara.

Bahkan, dalam babak final yang dilaksanakan di GOR PBSI Pontianak pada Sabtu waktu setempat (3/10/2015), Febby juga menang straight game 21-13, 21-7 atas Ganis Nurahmadani dari Pertamina Jakarta. Hanya, pertandingan tersebut merupakan laga terlama yang dilakoninya di Pontianak.

Laga Febby versus Ganis memakan waktu 39 menit. Sebelumnya, paling lama, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut tampil di lapangan selama 35 menit saat berjumpa Ana Rovita, yang juga dari Pertamina, di babak kedua. Saat itu, Febby menang 21-18, 21-6.

Sementara, di semifinal, Febby hanya perlu 20 menit guna menyingkirkan Erlina Kurniawati Jaya Raya Jakarta dengan 2108, 21-16. Untuk babak pertama, dia menang WO karena Vioni Florencya mengundurkan diri.

Gelar dari Pontianak ini pun membuatnya mengoleksi lima juara dari tujuh seri. capaian itu diperolehnya di Seri Sumatera, Seri Sulawesi, Seri Jogjakarta, dan Seri Jakarta. Sedangkan, gelar yang lolos dari genggaman adalah Seri Jakarta dan Jawa Barat. (*)


Distribusi gelar nomor dewasa Sirnas Seri Kalimantan 2015

Tunggal putra:Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma x5) v Fauzi Adnan (IPC) 21-18, 21-11

Tunggal putri: Febby Angguni (Tjakrindo Masters Surabaya x1) v Ganis Nurahmadani (Pertamina x2) 21-13, 21-7

Ganda putra:Fernando Kurniawan/Tedi Supriadi (Djarum Kudus) v  Arya Maulana/Rendra Wijaya (Djarum Kudus) 21-16, 21-16

Ganda putri:Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina x1) v Ririn Amelia/Ristya Ayu (Djarum Kudus x4) 21-15, 21-14

Ganda campuran:Fernando Kurniawan/Marshella Gisca (Djarum Kudus) v Tedi Supriadi/Ririn Amelia (Djarum Kudus x1) 21-18, 24-22

x=unggulan

Untung Ada Wahyu/Ade

Ade/Wahyu di podium (foto:badzine)
PASANGAN Wahyu Nayaka/Ade Yusuf menyelamatkan muka Indonesia di Thailand Grand Prix Gold 2015. Keduanya menjadi satu-satunya wakil merah putih yang berhasil membawa pulang gelar dari turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebu7t.

Dalam final nomor ganda putra yang dilaksanakan di Bangkok pada Minggu waktu setempat (4/10/2015), Wahyu/Ade menundukkan pasangan senior Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dengan rubber game 20-22, 23-21, 21-16.

Sejak dipasangkan pada 2012, capaian di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, ini merupakan gelar ketiga. Dua gelar sebelumnya diraih Wahyu/Ade di Iran Challenge 2013. Ketika itu, kedua mengalahkan rekannya berlatih di Pelatnas Cipayung Selvanus Geh/Ronald Alexander dengan 21-19, 13-21, 22-10.

Nah, posisi terhormat kedua dipetik dua yang lalu dalam Belanda Grand Prix.Di babak pemungkas, keduanya juga mengalahkan lawan dari Indonesia, Ricky Karanda/Berry Anggriawan dengan 14-21, 21-18, 21-17.

Sayang, sukses Wahyu/Ade ini gagal diikuti rekan-rekannya di nomor tunggal putra dan ganda campuran. Di tunggal putra, Ihsan Maulana Mustofa ditundukkan pebulu tangkis senior Korea Selatan Lee Hyun-il dengan rubber game 21-17, 24-22, 8-21. Sedangkan Praveen Jordan/Debby Susanto membuang peluang yang sudah di depan mata.

Menduduki unggulan ketiga, pasangan yang sama-sama berasal dari Djarum Kudus tersebut dipermalukan Solgyu Choi/Eom Hye-eon, wakil Korea Selatan, yang tak diunggulkan dengan 19-21, 21-17, 16-21.

Membawa pulang satu gelar ini menjadi penurunan dibandingkan sebelumnya. Pada 2013, Indonesia meraih juara di nomor ganda putri melalui Nitya Krishinda/Greysia Polii dan pasangan ganda campuran Markis Kido/Pia Zebadiah.

Tahun lalu, ajang Thailand Grand Prix Gold dibatalkan. Alasannya, saat ini kondisi keamanan dan politik Bangkok tak kondusif. (*)


Distribusi gelar Thailand Grand Prix Gold 2015

Tunggal putra: Lee Hyun-il (Korea Selatanx4) v Ihsan Maulana Mustofa (Indonesia) 21-17, 22-24, 21-8

Tunggal putri: Sung Ji-hyun (Korea Selatan x2) v Liang Xiaoyu (Singapura) 21-11, 21-14

Ganda putra: Wahyu Nayaka/Ade Yusuf (Indonesia x5) v Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia) 20-22, 23-21, 21-16

Ganda putri: Huang Dongping/Li Yinhui (Tiongkok) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korea Selatan) 20-22, 21-11, 21-15

Ganda campuran:  Solgyu Choi/Eom Hye-eon (Korea Selatan) v Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia x3) 21-19, 17-21, 21-16

x=unggulan

Pelapis pun Tak Mau Kalah

Minggu, 04 Oktober 2015

BERKEMBANG: Krisha Adi Nugraha
REGENERASI tunggal putra Indonesia mulai bergerak. Bukan hanya di level pertama dengan mencuatnya nama Ihsan Maulana Mustofa di ajang Thailand Grand Prix Gold 2015.

Pada waktu yang sama, tunggal putra pelapisnya juga unjuk gigi. Bahkan, terjadi final sesama pebulu tangkis Indonesia (All Indonesian Finals) yang sama-sama digembleng di Pelatnas Cipayung.

Ya, Krishna Adi Nugraha akan bertemu dengan Enzi Shafira dalam laga pemungkas Vietnam International Series 2015. Pada babak semifinal yang digeber di Da Nang pada Sabtu waktu setempat (3/10/2015), keduanya melibas lawan-lawannya.

Krishna, yang diunggulkan di posisi ketujuh, memupus asa wakil tuan rumah Pham Cao Cuong, yang diunggulkan di posisi ketiga, dengan 21-14, 17-21, 21-14. Sedangkan Enzi menundukkan wakil Indonesia lainnya, Panji Ahmad Maulana dengan straight game  21-15, 21-15.

''Ini membuktikan pebulu tangkis muda juga mulai unjuk gigi,'' puji Wijanarko Adi Mulya, ketua Pengprov PBSI Jatim.

Secara khusus, dia mengapresiasi capaian Krishna. Alasannya, pendatang baru di Pelatnas Cipayung tersebut merupakan atlet yang masuk dalam skuad Puslatda Jatim PON 2016.

Selain di tunggal putra, All Indonesian Finals juga terjadi di dua nomor lainnya, ganda putra dan ganda putri. Di ganda putra, Hardianto/Kenas Adi Haryanto akan bersua dengan Hantoro/Rian Swastedian.

Sementara, pasangan ganda putri Tiara Rosalia Nuraidah/Gebby Ristiyani Imawan berjumpa dengan Nisak Puji Lestari/Merisa Cindy Sahputri.

Kans menambah gelar masih terbuka diganda campuran. Pasangan Rian Swastedian/Masita Mahmudin akan menantang unggulan ketiga Tan Kian Meng/Peck Yen Wei dari Malaysia. (*)

Ihsan Kejar Gelar Kedua

SENIOR: Lee Hyun-il
LAJU Ihsan Maulana Mustofa di Thailand Grand Prix Gold 2015 mencapai babak final tunggal putra. Tiket itu diperolehnya setelah menundukkan Jeon Hyeok-jin dari Korea Selatan dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Bangkok pada sabtu waktu setempat (3/10/2015).

Sepanjang penampilannya di ajang internasional, ini merupakan final keduanya. Sebelumnya, pebulu tangkis yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut melakukannya di Belanda Grand Prix 2014. Sayang, dalam pertandingan yang dilaksanakan 12 Oktober 2014 tersebut, dia harus mengakui ketangguhan Ajay Jayaram dari India dengan 11-10, 6-11, 7-11, 11-1, 9-11.

Sayang, setelah itu, dia belum pernah mengulangi di ajang lain. Namanya sempat kembali mencuat ketika menjadi pahlawan Indonesia meraih emas beregu dalam ajang SEA Games 2015 yang dilaksanakan di Singapura pada Juni lalu.

Tapi Ihsan mendapat pujian saat mampu menembus dua turnamen level super series, Jepang Open dan  Korea Open. Padahal, dia merangkak dari babak kualifikasi.

Sayang, di Thailand Grand Prix 2015 nomor tunggal putra, gagal terjadi All Indonesian Finals. Ini disebabkan Dionysius Hayom Rumbaka harus mengakui ketangguhan pebulu tangkis senior Korea Selatan Lee Hyun-il dengan dua game langsung 21-17, 21-13.

Bagi Ihsan, Hyun-il bukan lawan asing. Dia pernah berjumpa di Malaysia Challenge 2014. Hasilnya, Ihsan menyerah dengan straight game 16-21, 14-21.

Meski tak muda lagi, 35, atlet Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut tak bisa dipandang enteng. Di level super series ke bawah, dia masih sering menjadi juara.

Pada 2015, Hyum-il sudah juara di tiga turnamen yakni Thailand Challenge, Malaysia Grand Prix Gold, dan Selandia Grand Prix. (*)



Agenda final Thailand Grand Prix Gold 2015

Ganda putri: Chang Ye-na/Lee So-hee (Korea Selatan) v Huang Dongping/Li Yunhui (Tiongkok)

Tunggal putri: Liang Xiaoyu (Singapura) v Sung Ji-hyun (Korsel x2)

Ganda putra: Wahyu Nayaka/Ade Yusuf (Indonesia x5) v Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia)

Ganda campuran: Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia x3) v Solgyu-choi/Eom Hye-won (Korsel)

Tunggal putra: Ihsan Maulana Mustofa (Indonesia) v Lee Hyun-il (Korsel x4)

x=unggulan

Andre Tak Cocok Gaya Gurusaidutt

Sabtu, 03 Oktober 2015

SEPANJANG 2015, Andre Kurniawan Tedjono belum pernah naik ke podium juara. Salah satu kans untuk mengakhirinya yakni di Bulgaria Challenge pun kandas.

Diunggulan di posisi teratas, Andre terjegal di semifinal. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Sofia pada Jumat waktu setempat (2/10/2015) atau Sabtu WIB (3/10/2015), mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu kalah 20-22, 16-21 kepada RMV Gurusaidutt dari India.

Bagi Andre, lawannya yang kini berperingkat 43 dunia atau satu setrip di atasnya tersebut merupakan momok. Dalam tiga kali perjumpaan sebelumnya, lelaki yang kini lebih banyak menghabiskan karirnya di Eropa itu selalu menelan kekalahan.  Pil pahit itu ditelannya di India Grand Prix 2009, Malaysia Open 2013, dan Indonesia Open 2013.

''Saya kurang cocok dengan gaya mainnya. Jadi saya tak pernah menang,'' tulis Andre dalam pesan singkatnya.

Tahun ini, sebenarnya Andre sempat menembus Orleans International. Sayang, di babak pemungkas, dia menyerah kepada Dmytro Zavadsky dari Ukraina.

Sementara, di turnamen-turnamen lainnya, dia lebih banyak tumbang di babak-babak awal.

Di nomor tunggal putra Bulgaria Challenge 2015, selain Andre ada juga wakil Indonesia lainnya yakni Andre Marteen. Sayang, dia sudah tersingkir di babak perempat final oleh Pablo Abian dari Spanyol dengan 19-21, 19-21. (*)

Lapangkan Jalan Menuju Final

Ihsan Maulana Mustofa (foto;PBSI)
PENAMPILAN Ihsan Maulana Mustofa terus mencuri perhatian. Kini, dia mampu menembus semifinal Thailand Grand Prix Gold 2015.

Tak main-main, lawan yang dikalahkannya di perempat final
adalah unggulan teratas Son Wan-ho asal Korea Selatan. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Bangkok pada Jumat waktu setempat, Ihsan menang tiga game 11-21, 21-17, 21-12.

Ini merupakan pertemuan perdana antara Ihsan dan Wan-ho. Hanya, melihat ranking terakhir, Ihsan kalah jauh dari lawannya.

Dia ada di posisi 42. Sedangkan Wan-ho ada di ranking 10.

Sebelumnya, Ihsan juga mencuri perhatian dalam turnamen super series, Jepang Open dan Korea Open. Di Negeri Sakura, julukan Jepang. dia mampu menembus hingga babak perempat final.

Padahal, dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 275 ribu tersebut, Ihsan merangkak dari babak kualifilkasi. Lawan-lawan yang dikalahkannya pun bukan sembarangan.

Di babak pertama utama, Ihsan mempermalukan mantan juara tunggal putra Eropa Marc Zweibler asal Jerman. Kemudian, tunggal terbaik Hongkong Hu Yun juga mengalami nasib yang sama. Hanya, langkahnya dihentikan oleh seniornya, Tommy Sugiarto.

Sepekan kemudian di Seoul, host Korea Open, dia menumbangkan mantan pebulu tangkis peringkat empat dunia asal Jepang Kenichi Tago. Zwiebler kembali dikalahkannya di partai pertama babak utama. Hanya, di babak kedua, pebulu tangkis Tiongkok Tian Houwei menjegalnya.

Kemenangan di perempat final Thailand Grand Prix Gold 2015 membuatnya bersua dengan wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, lainnya Jeon Hyeok-jin, yang di babak perempat final unggul 22-20, 21-18 atas Qiao Bin (Tiongkok). Hyeok-jin merupakan pebulu tangkis yang kini duduk di posisi 40 dunia.

Awal September lalu, dia mampu menembus final Indonesia Challenge 2015. Hanya, ketika itu, dia ditaklukkan mantan tunggal putra terbaik Indonesia Sony Dwi Kuncoro. (*)

Karena Hayom Sudah Paham

Dionysius Hayom Rumbaka lolos ke semifinal
LANGKAH Sony Dwi Kuncoro di Thailand Grand Prix Gold 2015 akhirnya terhenti. Dia dipaksa harus mengakui ketangguhan sesama pebulu tangkis Indonesia Dionysius Hayom Rumbaka dengan straight game 14-21, 11-21 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Bangkok pada Jumat waktu setempat (2/10/2015).

Kekalahan ini membuat arek Suroboyo tersebut mnembuatnya mengalami dua kekalahan dalam tiga kali pertemuan. Sebelumnya, pil pahit juga ditelan Sony di Prancis Super Series 2013.  Dia mengalahkan Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, dalam pertemuan pertama di Indonesia Grand Prix Gold 2012.

''Saya mesti harus ngoyo dan sabar lagi,'' tulis Sony dalam pesan singkatnya.

Sony dan Hayom sempat sama-sama digembleng di Pelatnas Cipayung. Tapi, pada awal 2014, keduanya dipaksa angkat koper.

Bagi Sony, capaian hingga perempat final sudah di luar dugaan. Dia datang tanpa status unggulan.

Tapi, di babak-babak sebelumnya, bapak dua putri tersebut menumbangkan lawan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Di babak kedua, juara dunia 2014, Lin Guipu dari Tiongkok, dipermalulkannya dengan dua game langsung 21-15, 21-5.

Setelah itu, di babak ketiga, Hu Yun asal Hongkong dihantamnya juga dengan straight game 21-15, 21-11. Hu Yun sendiri dalam turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut diunggulkan di posisi kedua.

Sayang, Sony gagal mengatasi perlawanan Hayom. Tampaknya, lelaki yang kini kembali membela Djarum Kudus tersebut paham dengan permainan dan kondisi Sony.

Usai dari Thailand Grand Prix Gold 2015, Sony akan turun lagi dala, Taiwan Grand Prix Gold yang dilaksanakan 13-18 Oktober.

''Sementara, saya balik ke Surabaya dulu,'' pungkasnya. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger