www.smashyes.com

www.smashyes.com

Ketua Umum Suryanaga Berganti

Minggu, 31 Januari 2016

Yacob Rusdianto menyerahkan tumpeng ke Davis (foto:sidiq)
KERETA regenerasi di Suryanaga berjalan. Kini, tampuk pimpinan orang nomor satu di klub bulu tangkis legendaris asal Surabaya,Jawa Timur, berganti.

David Suryanata menjadi ketua umum PB Suryanaga menggantikan Yacob Rusdianto. Dia akan memimpin klub itu selama lima tahun ke depan.

Yacob sendiri sudah 51 tahun menjadi nakhoda PB Suryanaga. Sejak 1975, dia memimpin klub yang juga tempatnya menimba ilmu bulu tangkis tersebut.

Di tangan Yacob, Suryanaga menjadi sebuah klub yang disegani. Banyak pebulu tangkisnya yang masuk pelatnas dan mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Di antaranya Tri Kusharjanto, Alvent Yulianto, dan Sony Dwi Kuncoro.

''Saya berharap Suryanaga di tangan David bisa terus menjadi klub yang besar dan disegani. Bahkan, harus bisa lebih baik dibandingkan era saya,'' kata Yacob.

David, tambahnya, dipilih karena mempunyai kegilaan yang tinggi kepada olahaga tepok bulu tersebut. Meski, dia tak punya latar belakang di bulu tangkis. (*)

Saatnya Obati Kegagalan

Kidambi Srikanth saat di Malang (foto:sidiq)
KIDAMBI Srikanth kembali menembus final India Grand Prix Gold. Dia akan ditantang Huang Yuxiang dari Tiongkok dalam pertandingan pemungkas tunggal putra yang dilaksanakan di Lucknow pada Minggu (31/1/2016).

Di semifinal, jagoan tuan rumah tersebut menghentikan perlawanan pebulu tangkis Thailand Boonsak Ponsana dengan dua game langsung 21-17 21-19. Sedangkan Huang melibas rekan senegaranya sendiri Shi Yuqi 17-21,22-20, 21-12.

Bagi Srikanth, ini menjadi kesempatan baginya mengobati kegagalan tahun lalu. Pada 2015, lelaki yang kini duduk di posisi sembilan dunia tersebut dipermalukan sesama wakil India Kashyap Parupalli
dengan 21-23, 21-23.

Selain itu,kemenangannya di final nanti bisas menambah kepercayan dirinya. Alasannya, dia baru saja memetik hasil kurang memuaskan di Malaysia Grand Prix Gold pekan lalu.Dia dikalahkan Iskandar Zainuddin dengan 25-27,9-21 di babak semifinal.(*)


Agenda Final India GPG 2016

Ganda campuran: Praveen Jordan/Debby Susannto (Indonesia x2) v Puavaranukroh Dechapol/Sapsiree Taerattanachai (Thailand)

Tunggal putri: Sung Ji-hyun (Korsel x2) v Sayaki Sato (Jepang x5)

Ganda putri: Eefje Muskens/Selena Piek (Belanda x3) v Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan (Korsel x2)

Ganda putra:Goh V Shem/Tan Wee King (Malaysia)v Pranaav Chopra/Akshay Dewalkar (India)

Tunggal putra: Kinambi Srikanth (India x1) v Huang Yuxiang (Tiongkok)

x=unggulan

Jangan Kalah dari Pasangan Kualifikasi

KANS BESAR: Praveen Jordan/Debby Susanto (foto;PBSI)
TAHUN lalu, Indonesia mampu membawa gelar dari India Grand Prix Gold. Riky Widianto/Richi Dili Puspita sukses naik ke podium terhormat.

Kini, peluang mengulangi hal yang sama kembali terbuka. Tapi, itu bukan oleh Riky/Richi yang kini malah sudah dipisah karena penampilannya yang terus menurun.

Asa menjadi juara ada di pundak Praveen Jordan/Debby Susanto. Keduanya mampu menembus babak final yang dilaksanakan Minggu (31/1/2016). Tiket tersebut di tangan usai Praveen/Debby, yang diunggulkan di posisi kedua, menang rubber game 18-21,21-11,21-16 atas Shin Baek-choel/Chae Yoo-jung dalam petandingan semifinal yang dilaksanakan di Lucknow pada Sabtu waktu setempat (30/1/2016).

Ini merupakan pertemuan perdana kedua pasangan. Hanya, kualitas pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut tak bisa diremehkan.

Dalam ranking terbaru BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Baek-choel/Yoo-jung ada di posisi kesebelas atau tiga setrip di bawah Praveen/Debby.

Di babak pemungkas, wakil merah putih tersebut ditantang Puavaranukroh Dechapol/Sapsiree Taerattanachai dari Thailand, yang di semifinal menundukkan wakil Jepang Kenta Kazuno/Ayane Kurihara 19-21,21-9,21-17.

Praveen/Debby juga belum pernah berjumpa dengan pasangan Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut. Meski rankingnya hanya 143, tapi penampilan Puavaranukroh/Sapsiree di India Grand Prix Gold 2016 termasuk luar biasa. Keduanya mengawali turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut dari babak kualifikasi. (*)

Tunggu Waktu Kembali Nomor Satu

Jumat, 29 Januari 2016

RANKING Lee Chong Wei terus meroket. Ini seiring semakin moncer penampikan tunggal putra andalan Malaysia tersebut.

Kini, Chong Wei sudah menduduki posisi kedua. Artinya, dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (28/1/2016), dia melonjak tiga setrip.

Posisinya hanya berada di bawah wakil Tiongkok Chen Long. Dia masih kukuh di posisi teratas.

Naiknya peringkat Chong Wei itu tak lepas dari hasil di Malaysia Grand Prix Gold 2016. Dalam ajang yang dilaksanakan di kampung kelahirannya, Penang, tersebut, dia mampu menjadi juara.

Hasil tersebut membuat lelaki yang dianugerahi gelar Datuk dari Pemerintah Malaysia tersebut memperoleh tambahan 7.000 poin. Donasi tersebut membuat melompati para saingannya seperti Lin Dan (Tiongkok), Kento Momota (Jepang), dan Jan O Jorgensen (Denmark).

Bahkan, bisa jadi, posisi puncak tinggal menunggu waktu untuk bisa kembali kepadanya. Alasannya, Chen Long sendiri pernah disikatnya di kandangnya sendiri dalam Tiongkok Super Series Premier.

Sebenarnya, posisi nomor wahid lama di tangan Chong Wei. Hampir lima tahun dia menduduki posisi bergengsi tersebut.

Sayang, sandungan doping saat Kejuaraan Dunia 2014 membuat dia kehilangan posisinya. Bahkan, Chong Wei dipaksa absen selama delapan bulan karena sanksi dari BWF. (*)

Ranking 10 besar tunggal putra
1.Chen Long (Tiongkok)

2.Lee Chong Wei (Malaysia)

3. Jan O Jorgensen (Denmark)

4. Kento Momota (Jepang)

5. Lin Dan (Tiongkok)

6.Viktor Axelsen (Denmark)

7.Chou Tien Chen (Taiwan)

8. Tian Houwei (Tiongkok)

9. K. Srikanth (India)

10. Tommy Sugiarto (Indonesia)

*Sumber BWF 

Tinggal Punya Satu Wakil

KANS juara Indonesia di India Grand Prix Gold 2016 semakin tipis. Kini, merah putih hanya menempatkan satu wakil dalam turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut.

Asa naik ke posisi terhormat tersebut diletakan di pundak Praveen Jordan/Debby Susanto di nomor ganda campuran. Unggulan kedua tersebut mampu menembus babak semifinal.

Tiket tersebut diperoleh usai Praveen/Debby menundukkan wakil Jerman yang juga unggulan ketujuh Michael Fuchs/Birgit Michels dengan dua game langsung 21-16, 21-18 di Lucknow pada Jumat waktu setempat (29/1/2016). Ini merupakan pertemuan perdana dari kedua pasangan.

Di babak semifinal, Praveen/Debby bakal dijajal unggulan ketiga asal Korea Selatan Shin Baek-choel/Chae Yoo-jung. Di perempat final, wakil Negeri Ginseng, julukan Korea selatan, tersebut harus memeras keringat selama tiga game 21-17, 15-21, 21-14 untuk menundukkan Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand).

Selama ini, wakil pelatnas Cipayung tersebut belum pernah bertemu dengan Baek-choel/Yoo-jung. Hanya, di atas kertas, seharusnya Praveen/Debby bisa melangkah ke final.

Dari ranking terakhir yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) Kamis (28/1/2016), pasangan Indonesia ada di posisi kedelapan atau tiga setrip di atas lawannya.

Hanya di Malaysia Grand Prix Gold 2016, pekan lalu, penampilan Praveen/Debby jemblok. Mereka langsung tersungkur di babak I. Sementara, Baek-choel/Yoo-jung baru terhenti di babak kedua.

Sebenarnya, hingga perempat final, Indonesia masih menempatkan wakil di tunggal putri dan ganda campuran. Sayang, Maria Febe di tunggal putri menyerah mudah 9-21, 3-21 kepada Sayaka Sato dari Jepang yang diunggulkan di posisi kelima.

Nasib serupa juga dialami Ronald Alexander/Melati Daeva. Diunggulkan di posisi kedelapan, keduanya menyerah kepada pasangan nonunggulan asal Thailand Puavaranukroh Dechapol/Sapsiree Taeratanachai 21-18, 19-21, 17-21.

Tahun lalu, Indonesia membawa pulang gelar dari nomor ganda campuran melalui Riky Widianto/Richi Dili Puspita.(*)

Imam Ingin Cetak Bintang dari Djarum

Rabu, 27 Januari 2016

Imam Tohari menjadi pelatih klub (foto:djarum)
SUDAH sepekan Imam Tohari meninggalkan Pelatnas Cipayung. Tawaran dari PB Djarum pun tak kuasa ditolak.

''Sudah sepekan saya melatih di Djarum. Ini tantangan bagi saya'' kata lelaki asal Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut.

Tantangan? Ya, Imam berharap dari tangan dinginnya akan kembali lahir pebulu tangkis-pebulu tangkis terbaik bagi Indonesia. Apalagi, saat ini, andalan klub asal Kudus, Jawa Tengah, tersebut Dionysius Hayom Rumbaka sudah terpental dari Cipayung.

Selain Hayom, sapaan karib Dionysius Hayom Rumbaka, Djarum masih mempunyai dua tunggal yang juga pernah menghuni pelatnas yakni Shesar Hiren Rustavito dan Wisnu Yuli Prasetyo.

Imam pun berharap ketiganya bisa kembali menemukan penampilan terbaik. Bahkan, dia ingin ketiganya bisa kembali menembus Cipayung.

''Ketiganya belum habis. Saya ingin membuat mereka bisa kembali optimal di lapangan,'' ujar Imam.

Lelaki binaan Wima, Surabaya, tersebut memang dikenal pelatih muda bertangan dingin. Semasa di Jepang, sentuhannya membawa Kento Momota menjadi juara dunia junior.Kini, Momota menjadi salah satu tunggal putra papan atas senior dunia.

Selain itu, meski belum lama di Cipayung, Imam mampu mengorbitkan Ihsan Maulana, Jonatan Christie, dan Anthony Sinisuka Ginting.

Kini ketiganya menjadi trio pebulu tangkis muda yang diharapkan mampu menjaga kehormatan Indonesia di pentas dunia.(*)

Jakarta-Surabaya Masuk Kategori Premier

Selasa, 26 Januari 2016

SIRKUIT Nasional (Sirnas) 2016 ada yang beda. Seri Jakarta dan Surabaya punya tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.

Itu disebabkan kedua seri tersebut masuk dalam kategori premier. ''Jakarta dan Surabaya punya nilai lebih dibandingkanb seri lainnya selama penilaian 2015. Khususnya untuk sponsor dan sarana,'' kata Ketua Bidang Perwasitan dan Turnamen PP PBSI Eddyanto Sabarudin.

Dengan masuk level premier, tak ada nomor usia dini dan pemula yang dipertandingan. Sehingga, jumlah pesertanya tidak sebanyak seri-seri yang lain.

''Hanya dewasa, taruna, dan remaja yang turun di ajang premier,'' ungkap Eddy, sapaan Eddyanto Sabarudin.

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sirnas 2016 jumlahnya lebih sedikit. Tahun ini, ajang yang disponsori perusahaan rokok tersebut hanya menggelar delapan seri.

Beberapa kota sudah tak masuk lagi. Di antaranya Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Pekanbaru (Riau), dan Manado. Begitu juga dengan Mataram di Nusa Tenggara Barat. (*)

Agenda Sirnas 2016
1. Banjarmasin (Kalsel) 22-27 Februari

2.Makassar (Sulsel) 14-19 Maret

3. Jakarta (DKI Jakarta) 2-7 Mei

4. Lampung (Lampung) 18-23 Juli

5. Bandung (Jawa Barat) 8-13 Agustus

6. Medan (Sumut) 22-27 Agustus

7. Semarang (Jateng) 24-29 Oktober

8. Surabaya (Jatim) 14-19 November

*sumber:djarum

Gelar Kelima Jagoan Tuan Rumah

Lee Chong Wei (kiri)  memeluk Zainuddin. (foto:thestar)
LEE Chong Wei masih bertaji. Untuk kali kelima, dia mampu menjadi juara dalam Malaysia Masters.

Koleksi kelima pun digapainya dengan tak perlu banyak memeras keringat. Dalam final turnmen yang masuk kategori grand prix gold itu, Chong Wei hanya butuh waktu 42 menit untuk menundukkan sesama pebulu tangkis Malaysia Iskandar Zulkarnain dengan 21-18, 21-11. Final turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut dilaksanakan di Penang pada Minggu (24/1/2016).

Sebelumnya, Chong Wei menjadi pemenang pada 2009, 2010, 2011, dan 2012. Sementara, selama ini, dia belum pernah berjumpa dengan Zainuddin dalam pertandingan resmi.

Kemenangan atas kompatriotnya tersebut juga membuat lelaki 33 tahun tersebut selalu menang dua game atas lawan-lawannya.Hanya, pertandingan melawan Zainuddin bukan yang terlama dilakoninya.

Laga versus wakil Indonesia Tommy Sugiarto yang paling banyak memakan waktu. Chong Wei harus tampil selama 58 menit sebelum menundukkan putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto itu di babak semifinal dengan 21-19, 21-15.

Hasil Malaysia Masters 2016 punya arti penting bagi Chong Wei. Selain gelar pertama tahun ini, capaian manis tersebut diraihnya di kampung halamannya, Penang.

Naiknya Chong Wei di podium terhormat membuat dia juga empat kali beruntun menjadi juara. Sahabat karib mantan tunggal putra terbaik Indonesia Taufik Hidayat tersebut menjadi pemenang di Hongkong Super Series 2015, Tiongkok Super Series Premier, dan Prancis Super Series 2015. (*)

Sinyo/Kevin Pembuka 2016

TERHORMAT: Sinyo (kanan)/Kevin di podium juara
INDONESIA membuka gelar di 2016. Pasangan Marcus  ''Sinyo'' Gideon/Kevin Sanjaya mampu naik ke podium terhormat dalam Malaysia Grand Prix Gold 2016.

Dalam final yang dilaksanakan di Penang pada Minggu (24/1/2016), pasangan binaan Pelatnas Cipayung tersebut mempermalukan wakil tuan rumah Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dengan rubber game 18-21, 21-16, 21-18.

Ini menjadi kemenangan kedua dalam dua kali perjumpaan pasangan muda merah putih tersebuta atas mantan ganda nomor satu dunia tersebut. Sebelumnya, Sinyo/Kevin menang atas Kien Keat/Boon Heong di Vietnam Grand Prix 2015. Kala itu, mereka menang dua game langsung 21-15, 21-19.

Kemenangan di Penang ini menjadi gelar kedua bagi Sinyo/Kevin. Keduanya pernah merasakan manisnya posisi terhormat dalam Taiwan Grand Prix 2015.

Menariknya, di negeri yang juga sering disebut China Taipeh tersebut, pasangan yang baru digandengkan trahun lalu tersebut juga melibas wakil Malaysia. Hanya, dalam babak pemungkas yang dilaksanakan 18 Oktober tersebut, Sinyo/Kevin melibas Hoon Tien How/Lim Khim Wah dengan straight game 21-12, 21-8.

Hasil manis tersebut membuat Indonesia bisa bernafas lega. Alasannya, sebenarnya bukan Sinyo/Kevin yang digadang-gadang bakal juara. Tapi, posisi bergengsi seharusnya bisa dipetik dari nomor ganda campuran melalui Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Datang sebagai unggulan teratas turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut, keduanya malah sudah tumbang di babak I. (*)

Kido Pilih Menghindari Adik

Senin, 11 Januari 2016

BEDA KLUB: Markis Kido/Pia Zebadiah
MARKIS Kido dan Pia Zebadiah merupakan sosok kakak beradik. Keduanya sama-sama pernah digembleng di Pelatnas Cipayung.

Kini, Kido dan Pia pun menjadi pasangan di nomor ganda campuran. Ranking 10 besar dunia pernah dihuni keduanya lama.

Tentu tak terbayangkan kalau keduanya sama-sama berada di lapangan dengan status sebagai lawan. Tapi, kejadian tersebut nyaris terjadi dalam Premier Badminton League yang dilaksanakan di India.

Ini disebabkan sang kakak dan adik membela klub yang berbeda. Kido memperkuat Hyderabad Hunters sedangkan Pia berkostum Chennai Smashers.

Tapi tampaknya Kido memilih menghindar. Dia memilih hanya berlaga di ganda putra berpasangan dengan Carsten Mogensen.

Padahal, biasanya, peraih emas nomor ganda putra bersama Hendra Setiawan tersebut juga tampil di ganda campuran bertandem dengan Jwala Gutta. B ahkan, sehari sebelumnya, Kido/Jwala menyumbangkan poin dengan menundukkan wakil Awade Warriors Bodin Issara/Christina Pedersen dengan 12-15,15-14, 15-10.

Tanpa Kido, Jwala dipasangkan dengan Mogensen. Hasilnya, keduanya kalah oleh Pia yang digandengkan dengan Chris Adcock, yang biasanya berpasangan dengan istrinya, Gabrielle.
Pia/Chris unggul 15-7, 15-7 dan membawa Chennai unggul 3-2. (*)

Mantan Cipayung Berburu Rupee

Sony Dwi Kuncoro diwawancarai media (foto: sidiq)
PEBULU tangkis Indonesia masih laris manis di ajang kompetisi internal di manca negara. Beberapa atlet olahraga tepok bulu merah putih berlaga di ajang Premier Badminton League.

Ajang tersebut merupakan kompetisi yang dilaksanakan di India. Tercatat ada enam wakil merah berlaga dalam ajang yang mulai dilaksanakan 2 Januari tersebut.

Menariknya, dari semua nama yang ikut tersebut semuanya merupakan mantan penghuni Pelatnas Cipayung. Tak adanya nama penghuni kawah candradimuka pebulu tangkis Indonesia tersebut dikarenakan mereka tak boleh ke luar selain di ajang turnamen. Apalagi, mereka juga tengah difokuskan untuk bisa membawa Indonesia berjaya di Piala Thomas-Uber serta Olimpiade yang semuanya dilaksanakan pada 2016.

Para atlet Indonesia tersebut adalah Hendra Gunawan, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Pia Zebadiah, Tommy Sugiarto, dan Markis Kido. Hanya Sony, Simon, dan Pia yang berada satu klub. Sementara ketiga lainnya berbeda klub.

Semua pebulu tangkis tersebut semuanya menjadi pilar bagi klubnya. Dengan kemampuan yang segudang, keenamnya diharapkan mampu memberikan sumbangan kemenangan serta pengalaman kepada atlet tuan rumah.

Premier Badminton League juga punya konsep yang berbeda dengan kompetisi-kompetisi yang ada di negara lain. Mereka tak memakai tunggal putra dan digantikan dengan dua laga tunggal putra.

Sistem angkanya pun bukan 21 sebagai match point tapi 15. Meski berakhir di skor 15 tapi tetap menggunakan reli poin. (*)

Awadhe Warriors; Hendra Gunawan

Bengaluru Topguns: -

Chennai Smashers: Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Pia Zebadiah

Delhi Acers: Tommy Sugiarto

Hyderabad Hunters: Markis Kido

Mumbai Rocekts: -

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger