www.smashyes.com

www.smashyes.com

Andre Sudah Tak Balik ke Jerman

Senin, 29 Februari 2016

PETUALANGAN Andre Kurniawan Tedjono di Eropa segera berakhir. Dia memutuskan tak akan kembali ke Benua Putih, julukan Eropa, tepatnya di Jerman.

''Saya sudah nggak balik lagi. Badan sudah tak bisa diajak kompromi karena sudah sering cedera,'' kata Andre kepada smashyes pada Senin (29/2/2016).

Meski, dia mengakui, usianya belum tergolong uzur. Tahun ini, Andre baru genap 29 tahun.

Hanya, cedera yang sering mendera membuat dia terpaksa meninggalkan olahraga yang telah membesarkan namanya itu. Rencananya, setelah pensiun, Andre akan menekuni bisnis.

''Sesekali jadi pelatih. Itu untuk menularkan ilmu,'' ungkap lelaki binaan Djarum Kudus yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut.

Tentu, pilihan Andre ini beda dengan rekan-rekannya yang lain. Mayoritas mereka usai gantung raket memilih menjadi pela

Lelaki asal Mageleng Jawa Tengah, ini telah empat musim berada di Jerman. Dua tahun pertama dihabiskan di Bonn Beuel.

Setelah itu, Andre membela Ludinghausen. Tahun 2013, dia sukses membawa klubnya menjadi juara Bundesliga.

Di Ludinghausen, Andre bergabung dengan pebulu tangkis Belgia yang punya darah Indonesia Yuhan Tan. Selain itu, ada juga Karin Schnasse, Heather Over,dan Matthew Notttingham. (*)

Lin Dan Butuh Pemanasan Juga

UZUR: Lin Dan jadi unggulan kedua di Jerman (foto:ndtv)
ALL England 2016 punya arti penting bagi seorang Lin Dan. Tak seperti biasanya, tunggal putra asal Tiongkok tersebut butuh turnamen pemanasan.

Namanya masuk dalam daftar peserta Jerman Grand Prix Gold 2016. Bahkan,dalam turnamen yang diadakan di Mulheim an der Ruhr pada 1-6 Maret tersebut, Lin diunggulkan di posisi kedua.

Tahun lalu, mantan tunggal nomor satu dunia tersebut langsung berlaga ke All England. Langkahnya terhenti di babak semifinal usai dikalahkan rekan senegaranya sendiri, Chen Long.

Di ajang All England, Lin Dan sudah lima kali mengukirkan namanya di deretan juara. Itu dilakukan pebulu tangkis berjuluk Super Dan tersebut pada 2004,2006, 2007,2009, dan 2012.

Pada babak I Jerman Grand Prix Gold 2016, Lin Dan dijajal Rasmus Fladberg dari Denmark.Ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua pebulu tangkis.

Meski rankingnya hanya 79 tapi Lin Dan tak boleh lengah. Baginya, sekarang wakil Negeri Skandinavia tersebut selalu menghadirkan mimpi buruk baginya.

Dua wakil Denmark, Jan O Jorgensen dan Viktor Axelsen, pada 2015 mampu mempermalukannya. Padahal, sebelumnya, hanya Lee Chong Wei maupun rekan senegaranya sendiri yang bisa membuat Lin Dan keok dan jatuh bangun. (*)

Cara Obati Luka Musim Lalu

UNGGULAN:Greysia Polii/Nitya Krishinda (foto:PBSI)
JERMAN Grand Prix Gold 2015 bukan turnamen yang memuaskan bagi Greysia Polii/Nitya Krishinda. Diharapkan mampu menyumbangkan  hasil maksimal, keduanya sudah tersingkir di babak kedua nomor ganda putri.

Pil pahit tersebut coba ditebus tahun ini. Kans tersebut terbuka lebar.

Dalam ajang yang dilaksanakan pekan ini tersebut, Greysia/Nitya diunggulkan di posisi teratas. Tentu, ini menjadi keuntungan dalam ajang yang berhadiah total USD 120 ribu tersebut.

Di babak pertama, pasangan peringkat dua dunia tersebut akan dijajal wakil Amerika Serikat Eva Lee/Paula Lyn Obanana. Di atas kertas, pasangan dari klub yang sama, Jaya Raya, tersebut bakal menang mudah.

Dari ranking, wakil Indonesia tersebut unggul jauh. Eva/Paula hanya ada di posisi ke-28.

Selain itu, dalam tiga laga sebelumnya, Greysia/Nitya selalu memetik kemenangan. Yakni di Tiongkok Open 2013, Indonesia Super Series Premier 2015, dan Korea Super Series 2015.

Greysia/Nitya menjadi satu-satunya wakil merah putih di ganda putri. Sebenarnya sempat tercatat Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi. Namun masalah administrasi membuat keduanya urung berlaga.

Turnamen Jerman Grand Prix Gold 2015 juga menjadi ajang pemanasan bagi Greysia/Nitya sebelum berlaga di turnamen paling bergengsi di dunia, All England 2016 di Inggris pekan depan. (*)

Ada yang Sengaja Tak Diundang Mukerprov Jatim

Minggu, 28 Februari 2016

DI SURABAYA:Jajaran pimpinan Musprov PBSI Jatim
MUYAWARAH Kerja Pengurus Provinsi  (Mukerprov) PBSI Jatim cetak rekor. Pada agenda yang dilaksanakan di Hotel Royal Regal, Surabaya, pada Sabtu (27/2/2016) tersebut dihadiri oleh 34 Pengkab/Pemkot yang ada di provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut.

‘’Biasanya tak sampai 30 daerah. Ini cukup membanggakan karena ada 34 daerah,’’ kata Sekum Pengprov PBSI Jatim Edy Prayitno.

Empat daerah yang tak datang itu, ungkapnya, karena alasan yang  berbeda. Ada yang karena ketuanya tengah tugas luar kota, demisioner, hingga sengaja tak diundang.

‘’Yang sengaja tak diundang adalah Kabupaten Kediri. Ada alasan tertentu yang membuat kami tak mengundang Kabupaten Kediri,’’ ujar Edy.

Dalam kegiatan yang mulai dilaksanakan pukul 10.00 WIB tersebut, tambahnya, dipimpin oleh M. Ilyas. Lelaki tersebut merupakan monitoring dan evaluasi (Monev) cabor Bulu Tangkis KONI Jatim.

Dia mampu memimpin sidang Mukerprov PBSI Jatimm2015 itu tanpa banyak mengalami hambatan. Ini, tambah Edy, membuat acara berlangsung sukses.

Memang, ada beberapa wilayah yang sempat memberikan catatan kepada PBSI Jatim yang kini dikendalikan oleh Wijanarko Adi Mulya tersebut. Tapi, semuanya dijawab dengan tuntas oleh lelaki yang akrab disapa Wijar tersebut. (*)

Wisnu Gantikan Posisi Alamsyah

JUARA: Wisnu Yuli bertarung tiga game di final (foto:djarum)
RAJA sirkuit nasional (sirnas) telah muncul. Bukan lagi Alamsyah Yunus.

Pebulu tangkis JR Enkei tersebut pamornya telah pudar. Ini seiring dengan semakin bertambah usia yang membuat kelebihannya banyak yang sudah menurun.

Lalu siapa? Dia adalah Wisnu Yuli Prasetyo. Sejak kembali terjun di sirnas, dia selalu juara.

Kali ini, prestasi tersebut dibuatnya dalam Sirnas Seri Kalimantan 2016. Dalam final yang dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dia menang rubber game 21-19, 18-21, 21-13 atas unggulan kedua Rifan Fauzin dari  ISTC Sukabumi.

Wisnu sendiri dalam sirnas pembuka tersbut ditempatkan sebagai unggulan teratas. Dia pun membela bendera Djarum Kudus, bukan lagi Surya Baja, Surabaya.

Sebelumnya, di seri pemungkas 2015 di Surabaya, Wisnu juga naik ke podium terhormat. Lawan yang dikalahkannya adalah rekannya sesama wakil Djarum Shesar Hiren Rustavito.

Sebenarnya, Alamsyah dan Shesar pun ikut ambil bagian di Seri Kalimantan 2016. Sayang, langkah keduanya sudah tersungkur sebelum menapak babak final. (*)

Distribusi gelar Sirnas Seri Kalimantan (kelompok dewas)

Tunggal putra: Wisnu Yuli Prasetyo (Djarum Kudus) v Rifan Fauzin (SITC Sukabumi) 21-19, 18-1, 21-13

Tunggal putri: Hera Desi (Mutiara Bandung) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik) 21-10, 23-21

Ganda putra: Hendra Aprida Gunawan/Markis Kido (Djarum/Jaya Raya) v Fran Kurniawan/Trikusuma Wardhana (Djarum/Exist) WO

Ganda putri: Suci Rizki Andini/Zulfira Barkah (Mutiara Bandung) v Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina) 21-19, 21-14

Ganda campuran: Ardiansyah/Devi Tika (Berkat Abadi Banjarmasin) v Irfan Fadilah/Weni Anggraeini (Jaya Raya Jakarta) 21-18, 21-16

PPLP Jatim Mulai Buahkan Hasil

Jumat, 26 Februari 2016

BERLATIH: utra, salah satu skuad PPLP Jatim
JATIM sudah pumya wadah untuk regenerasi. Ini disebabkan sejak empat tahun terakhir, provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut wadah Pusat Pendidikan dan Pelatihan  Pelajar (PPLP).

Kali pertama berdiri, wadah tersebut berada di Gresik. Setelah itu, PPLP sempat berpindah ke Sidoarjo.

Nah, mulai 2016, PPLP khusus olahraga bulu tepok tersebut ditempatkan di Surabaya, khususnya di GOR Sudirman. Meski berpindah-pindah tempat, tapi nakhodanya tak berubah, Koko Pambudi.

Hanya, kini, tak ada lagi nama M. Nadib. Posisinya diganti oleh Edy Junaedi bersama Ariel.

‘’Kami punya 12 atlet dari berbagai daerah. Mereka kami pantau dari Junior Masters lalu,’’ terang Ariel.

Meski belum lama digembleng, tapi hasilnya pun sudah terasa. Dalam Piala Gubernur di Kediri pada awal Februari lalu, PPLP mampu meraih  tiga emas.

‘’Bahkan, di sektor tunggal putri, PPLP Jatim mampu menempatkan tiga wakil. Kami akhirnya juara di tunggal putri itu dan juga tunggal putra,’’ ungkap Ariel yang juga menjadi pelatih di Puslatda Senior Jatim tersebut.

Dia berharap para pebulu tangkis yang ada di PPLP bisa menjadi penerus kejayaan olahraga tepok bulu Jatim. Alasannya, selama ini, Jatim dikenal sebagai salah satu kiblat bulu tangkis Indonesia. (*)

Balik karena Kontrak Habis

Aprilia (foto:djarum)
SEBENARNYA, penampilan Aprilia Yuswandari di Sirnas Seri Kalimantan termasuk mengejutkan. Alasannya, hingga akhir tahun, dia masih berada di Eropa.

Ya, usai dari Indonesia Challenge 2015 yang dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur, pada September lalu, Aprilia terbang ke Eropa. Dia diikat untuk menjadi lawan tanding klub di Swiss.

Bahkan, Aprilia sudah mengikuti beberapa kejuaraan di Benua Putih, julukan Eropa. Hasilnya, pebulu tangkis yang dibesarkan oleh PB Semen Gresik tersebut sempat menjadi juara di Hungaria International 2015.

Selain itu, di Eropa, Aprilia bukan hanya berlaga di tunggal. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut juga berlaga di ganda. Sebuah pertandingan yang tak pernah dilakoni selama dia di Indonesia.

Sayang, ketika coba dikonfirmasi perihal kembalinya ke tanah air, tak ada respon dari Aprilia. Hanya tanda satu centang di sosial media yang dimilikinya.

Hanya, pelatih yang mendidiknya di Semen Gresik, Koko Pambudi mau angkat bicara. ‘’Aprilia memang sudah balik. Kontraknya kalau gak salah sudah habis,’’ ungkap lelaki yang kini jadi Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengprov PBSI Jatim tersebut. (*)

Aprilia Tantang Unggulan I

CALON:Hera Desi (foto:PBSI)
APRILIA Yuswandari hanya diunggulkan di posisi ketiga nomor tunggal dewasa putri dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Kalimantan 2016. Artinya, diskenario, dia hanya mampu bertahan hingga babak semifinal.

Tapi, fakta di lapangan berkata lain. Aprilia mampu menembus babak final yang dilaksanakan Sabtu (27/2/2016).

Pada babak semifinal yang dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Sabtu (26/2/2016), perempuan yang membela bendera Semen Gresik tersebut hanya butuh 35 menit untuik mengalahkan Yosephine Sutanto dengan dua game langsung 21-11, 21-11. Yosephine sendiri juga bukan unggulan.

Di perempat final, dia membuat kejutan.Pebulu tangkis Shamrock tersebut menumbangkan unggulan kedua Febby Angguni (Tjakrindo Masters Surabaya) dengan 21-15, 21-12. Sebelumnya, Febby dikenal sebagai ratu sirnas karena sudah menjalani langganan ajang yang disponsori perusahaan rokok raksasa tersebut.

Di babak final, Aprilia akan menantang unggulan teratas Hera Desi. Di semifinal, wakil Mutiara Cardinal, Bandung, tersebut menghentikan laju wakil Shamrock lainnya, Jesica Muljati, dengan straight game 21-12, 21-8.

Seri Kalimantan merupakan seri perdana dari delapan seri yang rencananya dilaksanakan selama 2016. Usai dari Banjarmasin, sirnas berikutnya dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 14-19 Maret mendatang. (*)

Mantan 10 Besar Dunia Turun di Sirnas

Rabu, 24 Februari 2016

TERJAL: Ardiansyah/Devi Tika calon lawan Kido/Pia
POSISI 10 besar dunia pernah ditempati pasangan ganda campuran Markis Kido/Pia Zebadiah. Sayang, capaian tersebut urung dipertahankan.

Kini, dalam rilis terakhir yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), pasangan kakak beradik tersebut terlempar hingga ke posisi 37 dunia. Ini imbas dari capaian yang kurang memuaskan Kido/Pia dalam beberapa turnamen.

Tapi, dengan ranking tersebut, keduanya masih menjadi pasangan ganda campuran terbaik Indonesia di luar wakil Pelatnas Cipayung. Tapi, semua itu tak membuat Kido/Pia gengsi.

Keduanya pun kini mau terjun di turnamen dengan level nasional yakni Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Kalimantan yang dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 22-27 Februari ini.

Di babak kedua, Kido/Pia pun tak menemui hambatan berarti. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di GOR Hasanuddin pada Rabu (24/2/2016), mereka menang dua game langsung 21-10, 21-15 atas wakil Semen Gresik Ragawa Tamasuta/Aprilia Yuswandari dari Semen Gresik. Di babak pertama, unggulan pertama tersebut memperoleh bye. Kido/Pia di babak pertama memperoleh bye.

Di perempat final, Kido/Pia akan ditantang juniornya dari klub yang sama Eka Fajar Kusuma/Ery Oktaviani. Mereka di babak kedua bertarung tiga game 21-16, 20-22, 21-15 untuk mengatasi perlawanan unggulan kelima Akbar Bintang/Ristya Ayu (Djarum Kudus).

Jika menang, diperkirakan Kido/Pia akan melawan pasangan tangguh yang membela klub tuan rumah Berkat Abadi, Ardiansyah/Devo Tika. Selama ini, keduanya dikenal sebagai raja sirnas. (*)

Tommy Diare, Simpan Hendra/Ahsan

Senin, 22 Februari 2016

STRATEGI: Hendra/Ahsan absen di laga final
POSISI Indonesia jadi underdog saat menghadapi Jepang. Banyak yang memperkirakan Negeri Sakura, julukan Jepang, akan mampu menyandingkan gelar Piala Thomas dan Asia.

Jepang merupakan unggulan teratas dalam Kejuaraan Beregu Asia 2016 yang dilaksanakan di Hyderabad, India, tersebut. Kumpulan ranking pebulu tangkisnya lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Ini semakin diperkuat dengan komposisi yang diturunkan di babak final yang dilaksanakan Minggu (212/2016).Jepang turun dengan kekuatan terbaik.

Di tunggal ada Kento Momota dan Sho Sasaki. Selain itu, pasangan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa menjadi ganda pertama.

Indonesia? Sebaliknya, tak ada Tommy Sugiarto dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Kemana mereka? ''Tommy mendadak sakit diare menjelang turun ke lapangan,'' ungkap Chief de Mission Tim Thomas-Uber Indonesia Ahmad Budiarto.

Imbasnya, Ihsan Maulana Mustofa yang rankingnya terbaik kedua di bawah Tommy pun naik menjadi tunggal pertama. Dia pun tak berdaya menghadapi Momota.

''Kalau Hendra/Ahsan memang kami simpan. Ini untuk memberikan kesempatan kepada ganda muda lainnya untuk turun,'' lanjut Budi, sapaan karib Ahmad Budiarto.

Posisi Hendra/Ahsan digantikan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Ternyata, pasangan nomor 10 dunia tersebut menjawabnya dengan menyumbangkan satu poin sekaligus membuat Indonesia bangkit dan menyamakan kedudukan.

Budi menolak kalau perubahan komposisi itu disebabkan Indonesia sudah pesimitis bakal menang. Dasarnya, sang lawan menurunkan skuad terkuat.

''Kami selalu optimistis dalam setiap pertandingab. Termasuk final menghadapi Jepang,'' pungkas Budi. (*)

Denmark Belum Tergoyahkan

SANDING: Denmark juara beregu putra dan putri Eropa
DOMINASI Denmark dalam Kejuaraan Beregu Eropa belum terpatahkan. Negara di kawasan Skandinaviaa tersebut mampu mengawinkan gelar putra dan putri di musim 2016.

Dalam final yang dilaksanakan di Kazan, Rusia, pada Minggu (21/2/2016) waktu setempat, di sektor putra, Denmark mengalahkan Prancis dengan skor 3-1. Sedangkan di kelompok hawa, mereka menang dengan skor yang sama, 3-1, atas  Bulgaria.

Prancis sempat menyengat Denmark di final putra. Brice Leverdez mempermalukan tunggal terbaik negeri beribukota Kopenhagen itu, Jan O Jorgensen, dengan rubber game 19-21, 21-16, 21-16. Kemenangan ini termasuk mengejutkan.

Dalam tiga pertemuan sebelumnya, Brice tak pernah memetik kemenangan. Dari sisi ranking, dia pun kalah jauh.

Saat ini, Brice ada di posisi 35. Sedangkan Jorgensen di rangking ketiga dunia di bawah Chen Long dan Lee Chong Wei.

Sayang, kemenangan Brice ini tak mampu diikuti oleh rekan-rekannya. Tiga partai berikutnya disapu bersih oleh wakil Denmark.

Bagi Denmark, khususnya di sektor putra, sejak 2006 atau kali pertama dilaksanakan Kejuaraan Beregu Eropa, mereka selalu naik ke podium juara. Sedangkan di putri, pada 2004 juara jatuh ke tangan Belanda dan 2012 di tangan Belanda.Selebihnya, Denmark selalu menjadi pemenang.(*)

Final Beregu Putra Denmark v Prancis

1. Jan O Jorgensen v Brice Leverdez 21-19, 16-21, 16-21

2.Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding v Bastian Kersaudy/Gaetan Mittelheisser 17-21, 21-11, 21-8

3.Viktor Axelsen v Thomas Rouxel 21-13 21-12

4. Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen v Ronan Labar/Julien Maio 21-10, 21-5

Kalahkan Juara Piala Thomas dengan Keberanian Strategi

Jonatan Christie dipeluk rekan-rekannya di lapangan
KEBERANIAN strategi tim putra membawa Indonesia membuahkan hasil dalam Kejuaraan Beregu Asia 2016. Angga Pratama dkk mampu mengalahkan Jepang dengan skor 3-2 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Hyderabad, India, pada Minggu waktu setempat (21/2/2016).

Sebenarnya, dalam pertandingan tersebut, posisi Indonesia tak diunggulkan. Alasannya, Jepang merupakan unggulan teratas.

Selain itu, Negeri Matahari Terbit, julukan Jepang, turun dengan kekuatan penuh. Dua tunggal putra terbaiknya, Kento Momota dan Sho Sasaki turun ke lapangan. Begitu juga dengan pasangan Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo.

Sebaliknya dengan Indonesia. Pasukan merah putih tampil pincang.

Tunggal putra dan ganda putra terbaiknya, Tommy Sugiarto dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, tak diturunkan. Di atas kertas, kekalahan langsung tiga partai sudah di depan mata.

Prediksi ini nyaris menjadi kenyataan. Di partai pertama, Ihsan Maulana Mustofa tak berdaya saat menghadapi Momota.

Pebulu tangkis muda Pelatnas Cipayung tersebut menyerah mudah dua game 17-21, 7-21.Ini merupakan pertemuan pertama Ihsan dengan lawannya yang duduk di posisi keempat dunia tersebut.

Namun, pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, yang menggantikan tempat Hendra/Ahsan, kembali menghidupkan peluang. Mereka melibas Hayakawa/Endo dengan 22-20,14-21, 21-17. Sebelumnya, dalam dua pertemuan, kedua pasangan saling mengalahkan dan selalu berakhir dengan rubber game.

Kemenangan ini menambah semangat Anthony Ginting yang dipercaya sebagai tunggal kedua. Perbedaaan ranking yang lumayan jauh tak membuatnya keder kepada pebulu tangkis Jepang Sho Sasaki.Anthony, yang kini ada di posisi 34, menang mudah straight game 21-7, 21-6 atas Sasaki, yang menduduki ranking 22 dunia.

Sayang, pasangan Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan membuat kubu Indonesia menahan nafas. Mereka menyerah 16-21, 15-21 kepada Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.Skor imbang ini membuat partai kelima yang mempertandingkan tunggal ketiga menjadi penentu.

Beban itu ada di pundak Jonatan Christie. Pemuda 18 tahun tersebut menantang Kenta Nishimoto.

Sebenarnya bagi Jonathan, Nishimoto, yang kini duduk di posisi 46, bukan lawan yang asing. Keduanya sudah saling mengalahkan dalam dua pertemuan sebelumnya.

Hanya, saat bersua terakhir di Hongkong Super Series pada November 2015, Jonatan menyerah. Peluang Indonesia juara pun sempat menipis.

Di game pertama, Jonatan menyerah mudah 14-21. Di game kedua, dia nyaris kembali kalah dan menyerahkan mahkota juara Asia kepada Jepang.

Hanya, semangatnya yang tak kenal menyerah membuat dia bangkit dan unggul tipis 19-21. Kemenangan ini pun menambah kepercayaan diri di game ketiga. Hasilnya, Jonatan unggul 21-13 yang membuat merah putih berhak menyandang status sebagai juara Asia.

Di sektor putri, Tiongkok menang tipis 3-2 atas Jepang meski sempat tertinggal lebih dulu di dua partai awal. (*)

Prancis Rasakan Final

Minggu, 21 Februari 2016

Brice Leverdez buka kemenangan negaranya (foto:20minute)
PUTARAN final Piala Thomas kedatangan peserta baru dari Eropa. Ini setelah Prancis merebut tiket final Kejuaraan Beregu Eropa 2016.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Kazan, Rusia, pada Sabtu waktu setempat (20/2/2016), negeri dengan ibu kota Paris tersebut menundukkan Inggris dengan skor tipis 3-2. Prancis membuka kemenangan melalui Brice Leverdez yang menundukkan Rajiv Ouseph dengan 10-21, 22-20, 21-8.

Tapi, Inggris mampu membalikkan keadaan menjadi 2-1. Pasangan Marcus Ellis/Chris Langridge menang mudah 21-9 21-11  atas Bastian Kersaudy/Gaetan Mittelheisser. Setelah itu, tunggal kedua Inggris Toby Penty menang rubber game 21-9,14-21, 21-16 atas Lucas Corvee.

Sayang, kesempatan untuk butuh satu kemenangan lagi gagal dilaksanakan. Sebaliknya, ganda kedua dan tunggal ketiga disabet Prancis.

Ronan Labar/Julen Maio menghentikan perlawanan Peter Mills/Tom Wolfenden 21-19, 21-17. Lucas Claerbout menjadi pahlawan Prancis berkat kemenangan 21-12,25-23 atas Sam Persons.

Dua tahun lalu di Basel, Swiss, Inggris mampu menembus final. Tapi, ketika itu, mereka dikalahkan Denmark.

Denmark sendiri kembali menembus babak pemungkas.Tanpa kesulitan berarti, Jan O Jorgensen dkk melumat Jerman dengan 3-0.

Sejak dilaksanakan 2006, Denmark selalu menjadi pemenang. (*)


Jalan ke Tiongkok Belum Tertutup

TUNGGU: Hana Ramadhini (foto:djarum)
INDONESIA pernah merasakan pahitnya gagal berlaga di putaran final Piala Uber. Itu terjadi pada 2006.

Dalam babak kualifikasi yang dilaksanakan di India, merah putih gagal menembus final. Imbasnya, setelah 47 tahun, Indonesia gagal berlaga di ajang Piala Uber.

Kini, ajang kualifikasi untuk Piala Uber 2016 dilaksanakan di India.Lagi-lagi petaka menimpa para srikandi Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia.

Jatah lima tempat yang disediakan gagal digapai. Langkah Maria Febe Kusumastuti dkk hanhya mampu sampai perempat final.

Mereka kalah telak 0-3 dari Tiongkok. Regulasi satu tempat pun juga tak bisa di tangan. Ranking pebulu tangkis Indonesia kalah dari India.

Tapi, itu bukan berarti 100 persen Indonesia sudah gagal berlaga dalam putaran final yang dilaksanakan di Tiongkok pada Mei 2016. Lho kok bisa?

Dari negara yang gagal di perempat final, ranking Indonesia paling tertinggi. Meski itu masih diadu dengan ranking negara Eropa.

Pengumuman nama-nama negara yang dinyatakan lolos ke putaran final Piala Uber setelah 3 Maret nanti. Sedangkan penentuan unggulan untuk putaran final Piala Thomas dan Uber akan diumumkan tanggal di bulan April.(*)

Regulasi Lolos ke Putaran Final Piala Uber 2016


- Empat negara yang lolos ke semifinal Zona Asia: Tiongkok, Jepang, Korea dan Thailand. Serta rangking tertinggi dari negara yang tidak lolos ke semifinal yaitu India. Total 5 negara.

- Empat negara yang lolos semifinal dari Zona Eropa: Denmark, Jerman, Spanyol, Bulgaria

- Juara Kualifikasi Piala Uber dari Pan Am, Ocenia, dan Afrika.

- Empat negara peserta kualifikasi Piala Uber Asia dan Eropa dengan ranking tertinggi

Anthony Ginting Mengejar Kesempurnaan

GEMILANG: Anthony Ginting (foto:PBSI)
AWALNYA, menjelang Kejuaraan Beregu Asia 2016, status Anthony Ginting hanya sebagai tunggal ketiga. Ranking yang dimiliki masih kalah oleh Tommy Sugiarto dan Ihsan Maulana Mustofa.

Ya, dalam ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Anthony masih berada di posisi 34 dunia. Sementara, tunggal pertama menjadi milik Tommy Sugiarto yang ada di posisi 10 dunia. Sementara,Ihsan di posisi 33.

Dia hanya unggul atas Jonatan Christie. Rekannya di Pelatnas Cipayung tersebut empat setrip di bawahnya.

Saat Indonesia menghadapi Maladewa di Hyderabad, India, dalam penempilan perdana penyisihan Grup C, Anthony turun sebagai tunggal ketiga.Dia hanya butuh 15 menit untuk menundukkan Rifau Hussain 21-4, 21-2.

Begitu juga sehari setelah itu. Pemuda 20 tahun tersebut tetap di bawah Tommy dan Ihsan.

Namun, laga melawan Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, ini mengubah statusnya. Ihsan tampil tak sesuai harapan.

Dia menjadi satu-satunya pebulu tangkis Indonesia yang gagal menyumbangkan poin. Ihsan kalah 10-21,21-13, 11-21 kepada Tanongsak Saensomboonsuk.

PBSI pun melakukan evaluasi. Hasilnya, Anthony dijajal sebagai tunggal kedua saat berhadapan dengan Taiwan pada 17 Februari.

Hasilnya, dia menjawabnya dengan tuntas. Anthony menyumbangkan satu poin saat merah putih menang 3-2.

Dia melibas Hsu Jen Hao dengan 21-9,17-21,21-14.Padahal, secara ranking, Anthony kalah. Dalam rilis terakhirnya 18 Februari, Anthony di posisi 34 atau 11 setrip di bawah lawannya. 

Padahal, saat itu, Tommy gagal memetik kemenangan. PBSI pun semakin mantap menempatkan Anthony di tunggal kedua.

Kerja kerasnya di lapangan kembali berbuah manis. Sumbangan kemenangannya atas Ng Ka Long dari Hongkong pada 19 Februari membuat Indonesia unggul 3-0 dan menembus semifinal untuk menantang India.

Pebulu tangkis peringkat 16 dunia tersebut dibuatnya menyerah 25-23,21-14. Padahal, dalam dua kali pertemuan sebelumnya, Anthony belum pernah menang.

Hingga akhirnya, saat melawan India, Ajay Jayaram pun dibuat tak berdaya. Hanya, Anthony tetap tak boleh puas.

Masih ada lawan yang harus ditumbangkan yakni Jepang. Di tunggal kedua, Negeri Sakura, julukan Jepang, mempunyai Sho Sasaki. Kedua pebulu tangkis belum pernah bertemu.

Hanya, dari sisi pengalaman, Anthony kalah. Tapi, dengan semangat yang dimiliki, tak menutup kemungkinan, dia akan menyempurnakan penampilannya dengan tak pernah kalah selama Kejuaraan Beregu Asia 2016. (*)

Selangkah Lagi ke Podium Terhormat

PENENTU:Angga Pratama/Ricky Karanda (foto:PBSI)
SATU tempat di final Kejuaraan Beregu Asia 2016 di sektor putra menjadi milik Indonesia. Merah putih mampu mempermalukan tuan rumah India dengan skor 3-1 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Hyderabad pada Sabtu waktu setempat (20/2/2016).

Sebenarnya, degub jantung kubu Indonesia sempat berdetak keras. Tommy Sugiarto yang dipercaya turun sebagai tunggal pertama menyerah.

Mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut tumbang dengan rubber game 14-21,25-23,9-21. Di atas kertas, seharusnya Tommy bisa memangkan pertandingan. Dalam empat kali pertemuan sebelumnya, Tommy selalu memetik kemenangan.

Untung, ganda nomor dua dunia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan kembali membangkitkan asa Indonesia. Tanpa mengalami kesulitan, mereka menang straight game 21-11,21-10 atas Attri Manu/Reddy Sumeeth.

Di partai ketiga, Anthony Ginting kembali mampu menjawab kepercayaan yang diberikan. Dia hanya butuh 40 menit guna melibas Ajay Jayaram dengan 21-15 22-20.

Nah, kepastian merah putih menembus babak pemungkas ditentukan oleh pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Ganda peringkat sembilan dunia tersebut dipaksa bertarung tiga game 21-13, 18-21,21-15 sebelum menuntaskan perlawanan Chopra Pranaav/Dewalkar Akshay.

Di babak final yang dilaksanakan Minggu (21/2/2016), Indonesia, yang diunggulkan di posisi kedua, akan menantang Jepang. Di semifinal, unggulan ketiga tersebut mengalahkan Korea Selatan (Korsel) dengan skor telak 3-0.

Kejuaraan Asia ini juga menjadi ajang kualifikasi Piala Thomas -Uber. Dengan menembus final, jatah ke putaran final yang dilaksanakan di Tiongkok sudah mampu diraih. (*)

Hadapi India di Semifinal

Jumat, 19 Februari 2016

TIKET ke semifinal jadi milik tim putra Indonesia dalam Kejuaraan Asia 2016.  Bahkan, kali ini, kemenangan yang diraih dilakui tanpa kehilangan satu partai.

Merah putih mampu menundukkan Hongkong dengan skor 3-0 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Hyderabad, India, pada Jumat waktu setempat (19/2/2016).  Tommy Sugiarto membuka kemenangan usai membekap Hu Yun dengan dua game langsung 21-8, 21-13.  Ini membuat putra legenda  bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut memperbesar kemenangannya menjadi 4-1 atas atlet peringkat 12 atau dua setrip di bawah Tommy tersebut.

Namun, kubu Indonesia sempat dibuat sport jantung di partai kedua. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan harus berjuang tiga game 264-26,21-17, 21-19 atas Or Chin Chung/Tang Chun Mang. Sebenarnya, secara ranking pasangan Hongkong tersebut rankingnya jauh di bawah Hendra/Ahsan.

Dari rilis terakhir BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) 18 Februari 2016, meraka ada di posisi 57. Sementara, Hendra/Ahsan di posisi kedua.

Di partai ketiga yang mempertandingkan tunggal putra kedua, Anthony Ginting kembali menunjukkan mentalnya. Dia hanya butuh dua game 25-23, 21-14 guna menghentikan perlawanan Ng Ka Long.

Sebenarnya, Anthony kurang diunggulkan untuk bisa menang. Alasannya, dari segi posisi, pebulu tangkis muda gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut kalah.

Ng Ka Long di ranking 16. Sementara Anthony di posisi 34.Selain itu, dalam dua kali pertemuan sebelumnya yakni di Indonesia Grand Prix Gold 2013 dan Thailand Grand Prix Gold 2015, Anthony selalu kalah.

Hasil tersebut membuat dua partai lainnya, ganda putra kedua dan tunggal ketiga urung turun ke lapangan. Ini disebabkan sistem yang dipakai sudah memakai knock down. Mereka yang memandam keinginnya turun adalah pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Jonatan Christie.

Di babak semifinal, Indonesia akan menantang tuan rumah India. Kidambi Srikanth dkk menembus empat besar berkat kemenangan 3-2 atas Malaysia (*)

India Bikin Sejarah

Kamis, 18 Februari 2016

NOMOR tunggal menjadi senjata utama India dalam Kejuaraan Beregu Asia 2016. Tiga poin penting mampu disumbangkan dari nonor tersebut yang membawa mereka memetik kemenangan 3-2.

Padahal, lawan yang dihadapi bukan negara sembarangan, Tiongkok. Memang, Negeri  Panda, julukan Tiongkok, tak turun dengan kekuatan terbaik.

Dua tunggal terkuatnya, Chen Long dan Lin Dan, disimpan. Begitu juga pasanganb tangguh Zhang Nan/Zhaou Yunlei.

Meski demikian, Tiongkok juga tak sembarangan mengirim wakilnya. Ada Tian Houwei dan Wang Zheng Ming.

Tapi, saat bersua dengan tuan rumah yang dilaksanakan di Hyderabad, India, pada Kamis waktu setempat (18/2/2016), mereka mati kutu. Semua poin tunggal disapu bersih Kidambi Srikanth dkk.

Di partai pertama, India membuka kemenangan melalui Srikant. Dia menang dua game langsung 11-21, 17-21 atas Tian Houwei.

Namun, Tiongkok mampu menyamakan kedudukan dari ganda pertama. Li Junhui/Qiu Zihan unggul 22-20, 21-11 atas Attri Manu/Reddy Summeth.

Tapi, Ajay Jayaram secara mengejutkan melibas Wang Zhengming dengan 22-20, 15-21, 21-18. Secara ranking, Ajay kalah jauh.Dia ada di posisi ke-25 sedangkan Zhengming di ranking ke-11.

Partai semakin panas usai Tiongkok menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Pasangan Wang Yilv/Zhang Wen tak mengalami kesulitan berarti guna menundukkan Chopra Prannav/Dewalkar Akshay dengan 21-10, 21-18.

Nah, India memastikan kemenangan melalui tunggal ketiga Prannoy H.S yang menekuk Shi Yuqi dengan 21-14, 21-10. Hasil tersebut melambungkan India ke puncak klasemen grup A. Sekaligus membuat sejarah untuk kali pertama menang atas Tiongkok di pentas Piala Thomas.

India tak pernah terkalahkan dalam dua pertandingan. Sebelumnya, mereka menang telak atas Singapura dengan 5-0. (*)

Lebih Fokus Hadapi Korsel

Rabu, 17 Februari 2016

KEKUATAN Maladewa di kancah bulu tangkis masih di level bawah. Wajar kalau Indonesia punya strategi tersendiri.

Tim putri pilih menyimpan ganda terkuatnya Greysia Polii/Nitya Krishinda dalam pertandingan Kejuaraan Beregu Asia 2016 yang dilaksanakan di Hyderabad, India, Rabu waktu setempat (17/2/2016). Meski tanpa ganda nomor dua dunia tersebut, Indonesia tetap bisa menyapu bersih lima kemenangan.

Posisi sebagai ganda pertama diberikan kepada Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi. Tampaknya, pelartih di sektor putri lebih fokus menghadapi Korea Selatan yang dilaksanakan pada Kamis waktu setempat (18/2/2016).

Apalagi, di tunggal dan ganda, Korea Selatan mempunyai kekuatan yang berimbang. Bahkan, di ganda, mereka mempunyai dua pasangan yang sama-sama berada di posisi sepuluh besar.Mereka adalah Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan di ranking kelima dan Chang Ye-na/Lee So-hee satu setrip di bawahnya.

Partai tersebut punya arti penting. Kemenangan akan membuat Indonesia bisa menjadi juara grup C.  Sebab, di atas kertas, Maladewa juga akan dilumat oleh Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan.

Dengan menjadi juara grup akan melapangkan Indonesia ke babak berikut. Sekaligus mengamankan  tiket lolos ke putaran final Piala Uber yang dilaksanakan Mei mendatang di Tiongkok.

Ya, Kejuaraan Beregu Asia 2016 juga menjadi ajang perebutan slot ke putaran final Piala Uber dan Thomas. Satu tempat sudah pasti menjadi milik Tiongkok yang menyandang status juara bertahan sekaligus host. (*)


Hasil Indonesia v Maladewa 5-0

-Maria Febe Kusmastuti v Moosa Aminath 21-3, 21-4

-Lindaweni Fanetri v Aishath Afnaan 21-12, 21-6

-Hana Ramadhini v Fathimath Nabaaha 21-11, 21-9

-Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi v Aminath Ahmed/Maisa Ismail 21-7, 21-5

-Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri v Aminath Nabeeha/ Fathimath Nabaaha 21-5, 21-4

Anthony Ginting Kembali Sumbang Poin

Tommy Sugiarto gagal memetik kemenangan (foto;PBSI)
INDONESIA kembali lepas dari kekalahan.  Hendra Setiawan dkk menang 3-2 atas Taiwan dalam pertandingan penyisihan Grup C Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu Asia 2016 di Hyderabad, India, pada Rabu waktu setempat (17/2/2016).

Merah putih sempat tertinggal lebih dulu. Tommy Sugiarto yang dipercaya turun sebagai tunggal putra pertama menyerah dua game langsung 23-25, 16-21 kepada Chou Tien Chen.

Tien Chen memang jadi momok bagi mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut. Dari lima kali pertemuan sebelumnya, Tommy hanya menang dua kali.

Untung, di partai kedua, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mampu menyamakan kedudukan. Juara dunia 2015 itu  menang 23-21, 21-15 atas Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin. Di game pertama, pasangan nomor dua dunia tersebut harus jatuh bangun.

Ini disebabkan, pasangan Taiwan itu pernah sekali mempermalukan Hendra/Ahsan. Yakni di Malaysia Super Series 2014.

Kemenangan tersebut mengangkat semangat Anthony Ginting. Naik pangkat menjadi tunggal kedua, dia menjawabnya dengan keunggulan 21-9, 17-21, 21-14 atas Hsu Jen Hao.

Di partai keempat, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwadi memastikan Indonesia menjadi juara grup. Pasangan yang kini berada di posisi sepuluh besar dunia tersebut melibas Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin dengan 21-19, 21-18.

Sayang, di laga pemungkas, Jonatan Christie menyerah 16-21, 18-21 kepada Wang Tzu Wei.  Sehingga, Indonesia gagal  mengulangi skor kemenangan menjadi 4-1 seperti saat melawan Thailand sehari sebelumnya.

Meski kalah, Taiwan  tetap berhak lolos. Pertimbangannya, sang rival,  Thailand sudah dikalahkan di laga sebelumnya. (*)

Denmark Tak Mau Lengah

IKUT:Mathias Boe/Carsten Mogensen (badmintonbladet.dk)
LAIN Asia lain Eropa. Di Benua Putih pada saat yang bersamaan juga dilaksanakan Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu 2016.

Tujuannya pun sama. Selain menjadi juara di level benua, tiket lolos ke putaran final Piala Thomas dan Uber jajdi bidikan. Di level putra, Denmark turun dengan kekuatan terbaik.

Bukan hanya di tunggal tapi juga ganda. Di tunggal, trio tangguhnya ikut membela dalam ajang yang tahun ini dilaksanakan Kazan, Rusia,16-21 Februari tersebut.

Ada nama Jan O Jorgensen, Viktor Axelsen, dan Hans-Kristian Vittinghus. Di ganda juga ada Mathias Boe/Carsten Mogensen, dan Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding.

Wajar jika Denmark turun dengan kekuatan penuh. Sejak Kejuaraan Beregu Eropa dilaksanakan 2006, di sektor putra mereka sejak juara.

Dua tahun lalu di Basel, Swiss, Denmark naik ke podium juara. Negeri Skandinavia tersebut menundukkan Inggris dengan skor 3-1.

Langkah awal pun dilalui Denmark dengan mulus. Dalam penampilan perdana di Grup 1 Selasa waktu setempat (16/2/2016), Jorgensen dkk melumat Turki dengan skor telak 5-0.

Meski tangguh di Eropa, tapi di ajang Piala Thomas, Denmark tak banyak bicara. Dua tahun lalu di New Delhi, India, mereka hanya sampai perempat final.

Kali terakhir, Denmark menembus final pada 2006 di Tokyo, Jepang. Sayang, ketika itu, mereka takluk 0-3 dari Tiongkok. (*)

Pilih Konsentrasi di Ajang Lain

PERTAMA: Kento Momota tak membela Jepang (foto:zimbio)
AJANG Kejuaraan Beregu Bulu Tangkis Asia 2016 gengsinya turun. Indikasinya, banyak pebulu tangkis papan atas memilih absen.

Selain Tiongkok, Malaysia dan Jepang memilih menyimpan kekuatan. Di Malaysia, tak ada nama Lee Chong Wei di tunggal dan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

''Lee Chong Wei di fokuskan untuk tampil di All England Maret mendatang,'' kata Hendrawan, pelatih tunggal putra Malaysia, kepada smashyes.

Sebagai gantinya, negeri jiran mempercayakan nomo tunggal kepada pebulu tangkis mudanya.Zulfadli Zulkifli di percaya sebagai tunggal pertama. Dia diikuti oleh Iskandar Zulkarnain dan Soo Teck Zhi.

Meski turun tanpa pilar tapi, tambah Hendrawan, Malaysia tetap optimistis bisa banyak berbicara dalam Kejuaraan Asia tersebut. Itu sekaligus bisa menembus putaran final Piala Thomas yang akan dilaksanakan di Tiongkok pada Mei mendatang.

 Ya, Kejuaraan Asia yang tengah berlangsung di Hyderabad, India, tersebut memang menjadi tempat untuk berebut tiket ke ajang beregu putra itu.

 Lain halnya dengan Jepang. Dengan status juara bertahan, mereka memilih menyimpan pebulu tangkis papan atasnya. Tak ada nama Kento Momota yang kini ada di posisi keempat dunia. Di ganda juga absen Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo.

 Tiongkok pun tak menempatkan kekuatan terbaik. Mereka sudah pasti lolos karena menyandang status tuan rumah.

Di tunggal, Chen Long dan Lin Dan tak ikut ambil bagian. Begitu juga dengan Zhang Nan/Fu Haifeng. (*)

Taiwan Geser Posisi Indonesia

HILANG: Ihsan Maulana kalah di tunggal kedua (foto:PBSI)
TIM putra Indonesia kembali memetik kemenangan dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2016. Usai membekap Maladewa dengan skor telak paxda Senin (15/2/2016),kini giliran Thailand yang disikat dalam laga Grup C tersebut.

Hanya, kemenangan tersebut harus melalui perjuangan ekstrakeras. Kok bisa? Ya, dari lima partai yang digelar,hanya laga tunggal ketiga yang bisa berlangsng dalam dua game.

Bahkan, di partai ketiga yang mempertandingkan tunggal kedua, wakil Indonesia Ihsan Maulana Mustofa kalah. Dia menyerah 10-21,21-13, 11-21 kepada Tanongsak Saensomboonsuk.

 Tommmy Sugiarto membuka kemenangan usai melibas pebulu tangkis senior Thailand Boonsak Ponsana dengan 21-17,14-21, 21-14.Ini menjadi kemenangan keempat dalam enam kali pertemuan dengan Boonsak.

 Kemenangan ini juga mengangkat kembali Tommy. Alasannya, dalam pertemuan terakhir dengan Boonsak di ajang putaran final Piala Thomas 2014, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto kalah.
Kemenangan Tommy ini pun memberikan motivasi kepada Angga Pratama/Ricky Karanda. Pasangan peringkat sembilan dunia tersebut unggul 21-18,18-21 21-16 atas Bodin Issara/Nipitphon Puangpuapech. Hasil tersebut mengulangi pertemuan di Taiwan Grand Prix Gold 2015.

Sayang, Ihsan gagal menjadi penentu Indonesia dengan langsung memastikan kemenangan menjadi 3-0. Meski sebenarnya, kans memetik kemenangan bagi Ihsan terbuka.

Dia pernah mempermalukan Tanongsak di depan publiknya sendiri dalam Thailand Grand Prix Gold 2015. Saat itu, 30 September 2015, Ihsan menang dua game langsung 21-16, 21-18.

Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan sempat membuat jantung kubu Indonesia berdegup kencang. Mereka sempat kalah di game kedua 14-21. Untung, di game ketiga, Rian/Berry unggul 21-16 setelah di game pertama juga menang 21-11. Antony menutup laga dengan kemenangan 22-20,21-15 atas Khosit Phetpradab.

Sayang, kemenangan ini gagal membawa Indonesia memimpin Grup C. Posisinya diambil alih Taiwan yang di hari yang sama mengalahkan Maladewa dengan skor 5-0. (*)

Tiongkok Pilih Simpan Kekuatan

Senin, 15 Februari 2016

ABSEN: Zhang Nan/Fu Haifeng
TIONGKOK sudah pasti lolos ke putaran final Piala Thomas 2016. Ini disebabkan statusnya sebagai tuan rumah.

Ya, ajang beregu putra tersebut bakal digelar 15-22 Mei mendatang di Kunshan, Jiangshu. Tiongkok menggenapi slot bersama juara bertahan Jepang yang sudah pasti lolos.

Sehingga, dalam Kejuaraan Beregu Asia 2016 yang juga menjadi ajang perebutan tiket putaran final, Tiongkok menurunkan lapis kedua. Tidak ada nama Chen Long dan Lin Dan di tunggal. Begitu juga di ganda tak terselip Zhan Nan/Fu Haifeng.

Sebagai gantinya, di tunggal hanya diperkuat Tian Houwei dan Wang Zhengming sebagai andalan. Sementara di ganda, Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, itu menempatkan Liu Xiaolong/Qiu Zihan sebagai ujung tombak di ganda.

Komposisi ini nyaris membuat blunder. Di laga perdana grup A pada Senin (15/2.2016) di Hyderabad, India, mereka tertinggal 1-2 sebelum akhirnya menutupi dengan kemenangan 3-2.

Para pilar Tiongkok lebih difokuskan berlaga di All England serta putaran final Piala Thomas. Selain itu, ajang Olimpiade Rio de Janeiro pada Agustus mendatang menjadi sasaran utama.

Kali terakhir Kejuaraan Beregu Senior Asia dilaksanakan 1993 atau 23 tahun lalu. Saat itu, juara jatuh ke tangan Indonesia. (*)

Hendra/Ahsan Paling Lama di Lapangan

KEDUA: Angga Pratama/Ricky Karanda (foto: PBSI)

INDONESIA tetap menurunkan skuad terkuat di ajang penyisihan. Meski, lawan yang dihadapi hanya sekelas Maldewa.

Hasilnya, merah putih pun menang telak 5-0 dalam pertandingan perdana babak penyisihan Kejuaraan Beregu Asia Grup C  di Hyderabad, India, pada Senin waktu setempat (15/2/2016). Ambisi memburu kemenangan mutlak sekaligus pemanasan untuk laga berikut menjadi pertimbangan utama.

Sebab, setelah ini, Indonesia akan berjumpa dengan Thailand (16/2) dan Taiwan (17/2). Kekuatan kedua negara tersebut tak bisa diremehkan.

Kemenangan Indonesia atas Maladewa dibuka oleh Tommy Sugiarto. Turun sebagai tunggal pertama, dia hanya butuh 18 menit untuk membungkam Mohamed Ajfan dengan 21-2, 21-6. Setelah itu, Ihsan Maulana Mustofa perlu 17 menit guna menghentikan Hussein Zayan dengan 21-2, 21-8.

Kemenangan Indonesia ditentukan oleh Anthony Ginting. Bahkan selama 15 menit dia sudah bisa menang 21-4, 21-2 atas Rifau Hussain.

Yang mengejutkan, juara dunia 2015, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bertarung paling lama di lapangan yakni 20 menit. Mereka menang 21-8, 21-15 atas Thoif Ahmed/Hussein Ayan. Di laga kelima atau pemungkas, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi butuh 15 menit guna menundukkan Waseem Ahmed/Rifau dengan 21-4, 21-5.

Di grup C, Maldewa sudah diprediksi bakal menjadi lumbung poin. Sebab, Taiwan dan Thailand kualitasnya tak beda jauh dengan Indonesia.

Kedua negara tersebut mempunyai wakil yang tangguh di tunggal dan ganda. Hanya, dalam pertemuan pada Senin (15/2/2015), Thailand harus menyerah 1-4. Ini membuat posisi Taiwan di bawah Indonesia dalam klasemen sementara. 

Pertandingan Kejuaraan Beregu Asia 2016 ini juga menjadi ajang perebutan tiket ke putaran final Piala Thomas yang dilaksanakan di Tiongkok pada Mei mendatang. Sejak 2002, Indonesia belum bisa kembali menjadi juara di ajang beregu putra tersebut. (*)

Negeri Panda Nyaris Tumbang

POIN: Tian Houwei (foto:zimbio)
TIM putra Tiongkok nyaris malu. Mereka hanya mampu menang tipis 3-2 saat ditantang Singapura dalam pertandingan Kejuaraan Beregu Asia 2016 Grup A di Hyderabad, India, pada Senin waktu setempat (15/2/2016).

Bahkan, Negeri Panda, julukan Tiongkok, sempat tertinggal 1-2. Itu dikarenakan dua partainya, ganda pertama dan tunggal kedua, menyerah. Tiongkok unggul lebih dulu melalui tunggal pertamanya Tian Houwei yang menang 21-11, 21-12.

Namun, pasangan Negeri Singa, julukan Singapura Terry Hee/Hean Loh melibas juara All England 2013 Liu Xiaolong/Qiu Zihan dengan 16-21, 21-13, 21-11. Singapura leading usai tunggal keduanya Yew Loh melibas Wang Zhengming dengan 21-15, 21-16.

Untung, di dua partai tersisa, ganda kedua dan tunggal ketiga, Tiongkok merebut kemenangan. Pasangan Li Jinhui/Liu Yuchen menundukkan Danny Bawa Chrisnanta/Hendra Wijaya 21-18, 21-14.

Kepastian negeri terpadat penduduknya di dunia itu menang dipastikan melalui Bin Qiao yang harus bertarung tiga game 21-15, 19-21, 21-13 atas Ryan Ng.

Kehilangan dua partai tentu merupakan di luar dugaan. Meski bukan tampil dengan kekuatan terbaik, tapi skuad mereka masih jauh lebih tangguh dibandingkan dengan Singapura.

Jika tak melakukan pembenahan, tak menutup kemungkinan, Tiongkok bakal ditekuk India. Materi tunggal dan ganda negeri beribukota New Delhi tersebut tak boleh dipandang sebelah mata.

Mereka menurunkan semua skuad terbaiknya. Semisal Kidambi Srikanth di tunggal. (*)

Sukses Ikuti Jejak Junior

Sabtu, 13 Februari 2016

GELAR juara Thailand Masters 2015 jatuh ke tangan pasangan Indonesia Ade Yusuf/Wahyu Nayaka. Tapi, tahun ini,keduanya kehilangan gelar karena absen dalam ajang yang masuk level grand prix gold tersebut.

Untung, gelar di nomor tersebut tetap menjadi milik pasangan merah putih. Ini dikarenakan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses naik ke podium terhormat.

Dalam final yang dilaksanakan di Bangkok pada Sabtu waktu setempat (13/2/2016), unggulan teratas tersebut menang rubber game 12-21,21-15, 21-12 atas Kim Gi-jung/Kim Sa-rang dari Korea Selatan.

Ini menjadi kemenangan keenam dalam delapan kali pertemuan. Kali terakhir, Hendra/Ahsan menundukkan pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut dalam Hongkong Super Series 2015. Ketika itu, mereka unggul tipis 22-20, 21-19.

Selain itu, kemenangan ini menjadi pembuka tahun yang manis bagi pasangan peringkat kedua dunia tersebut. Usai dari Thailand, Hendra/Ahsan langsung menuju Hyderabad, India, untuk membela Indonesia dalam Kejuaraan Beregu Asia yang juga menjadi kualifikasi menuju final Piala Thomas. (*)

Masih Tangguh di Level Grand Prix Gold

TETAP TANGGUH: Lee Hyun-il usianya sudah 36 tahun
JANGAN pernah menganggap remeh Lee Hyun-il. Meski, kini usia pebulu tangkis asal Korea Selatan tersebut sudah menginjak 36 tahun.

Buktinya, dia masih bisa menjadi juara dalam turnamen di level grand prix, yakni Thailand Masters 2016. Dalam final yang dilaksanakan di Bangkok pada Sabtu waktu setempat (13/2/2015), dia mengalahkan Hu Yun dari Hongkong dengan dua game langsung 21-18 21-19.

Ini menjadi kemenangan kedua Hyun-il atas wakil negeri bekas koloni Inggris tersebut. Sebelumnya di Malaysia Masters 2015, dia menang di 21-15 21-7.

Hasil ini juga mengulangi sukses tahun lalu di ajang yang sama. Hanya, pada 2015, Hyun-il menundukkan wakil Indonesia Ihsan Maulana Mustofa dengan 21-17,24-22,21-8.

Selama ini, Hyun-il memang lebih banyak merajai ajang di level grand prix atau grand prix gold. Tahun lalu saja, dua kali semifinalis olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut naik podium terhormat di Kanada Grand Prix, Malaysia Grand Prix Gold,dan Selandia Baru Grand Prix Gold. Selain itu, dua kali menembus final di Vietnam Grand Prix dan Korea Grand Prix Gold.

Untuk di level super series atau super series premier, Hyun-il tak bisa bicara banyak. Dia lebih banyak tumbang di babak-babak awal. (*)

Pejalanan Hyun-il juara di Thailand Masters
Babak I: Syreyansh Jaiswal (India) 21-16, 21-13

Babak II: Zulhelmi Zulkifli (Malaysia) 21-13, 21-16

Babak III: Kantaphon W. (Thailand) 21-11, 21-15

Semifinal: Tanongsak S. (Thailand) 21-11, 21-11

Final: Hu Yun (Hongkong) 21-18, 211-19

Ratchanok Tumpuan Selamatkan Muka

SENDIRIAN: Ratchanok Intanon jadi asa tuan rumah juara
THAILAND Grand Prix Gold 2015 jadi memori buruk bagi Rachanok Intanon. Diharapkan menjadi juara di kandang sendiri, gadis 21 tahun tersebut dipermalukan Liang Xiaoyu dari Singapura dengan tiga game 20-22,21-13 17-21.

Tentu, moment kegagalan tesebut diharapkan tak kembali terjadi. Apalagi, kini, langkah Ratchanok sudah sampai babak final.

Tiket tersebut diperoleh Ratchanok usai menang straight game 21-15,22-20 atas Sung Ji-hyun dari Korea Selatan dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Bangkok pada Jumat waktu setempat (12/2/2016).Kemenangan ini membuat Ratchanok mampu menyamakan kedudukan menjadi 6-6 selama bertemu dengan tunggal putri terbaik Negeri Ginseng,julukan Korea Selatan, tersebut.

Sayang, keinginan menampilkan finaln sesama pebulu tangkis Thailand (all Thailand finals) urung terjadi. Duta tuan rumah lainnya, Busanan Ongbumrungphan, menyerah kepada Sun Yu dari Tiongkok dengan 16-21, 11-21.

Ratchanok tentu tak boleh lengah dengan Sun Yu. Dia pernah takluk di All England 2015.

Hanya, dalam dua kali pertemuan lain, Ratchanok, yang kini duduk di posisi keenam, mampu dimenangkannya. Yakni di Indonesia Super Series Premier 2014 dan All England Super Series Premier 2016.

Ratchanok pernah menjadi juara di Thailand Grand Prix Gold pada 2013.Saat itu, dia menundukkan Busanan dengan tiga game 22-20,19-21 21-13. (*)

Hendra/Ahsan Tembus Final

PERDANA: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (foto:PBSI)
INDONESIA menempatkan satu wakil dalam Thailand Grand Prix Gold 2016. Pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bakal berebut juara dalam turnamen yang memyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Hendra/Ahsan akan berjumpa dengan pasangan Korea Selatan Kim Gi-jung/Kim Sa-rang dalam laga yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (13/2/2016).Itu setelah pasangan merah putih yang diunggulkan di posisi teratas tersebut menundukkan wakil Negeri Ginseng, jululkan Korea Selatan, lainnya Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel, yang juga unggulan ketiga,dengan rubber game 21-15,13-21,21-18.

Ini menjadi kemenangan kedua Hendra/Ahsan atas Sung-hyun/Baek-choel. Hasil positif lain dipetik di Taiwan Grand Prix Gold 2015. Sementara di Australia Super Series 2015, wakil merah putih tersebut takluk.

Sementara, Gi-jung/Sa-rang menembus babak pemungkas usai menundukkan Huang Kaixiang/Zheng Siwei (Tiongkok) dengan straight game 21-19,21-15. Bagi Hendra/Ahsan, mereka bukan lawan yang asing.

Kedua pasangan sudah tujuh kali bertemu. Hasilnya, Hendra/Ahsan unggul lima kali. Dalam pertemuan terakhir di Hongkong Super Series 2015, pasangan didikan Pelatnas Cipayung tersebut menang tipis dalam pertarungan dua game 22-20, 21-19. (*)

Agenda final Thailand Grand Prix Gold 2016
Ganda campuran: Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok) v Chen Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia x7)

Ganda putri: Tan Yuanting/Yu Yang (Tiongkok x5) v Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok x3)

Tunggal putra: Lee Hyun-il (Korsel x1) v Hu Yun (Hongkong x3)

Ganda putra: Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia x1) v Kim Gi-jung/Kim Sa-rang (Korsel x2)

Tunggal putri: Sun Yu (Tiongkok x4) v Ratchanok Intanon (Thailand x2)

x=unggulan

Kejutan sesaat Sony

Kamis, 11 Februari 2016

BERTAHAP: Sony Dwi Kuncoro menembus babak II
SONY Dwi Kuncoro membuat kejutan di Thailand Grand Prix Gold 2016. Dia mempermalukan unggulan kedelapan asal Korea Selatan Lee Dong-keun dengan rubber game 16-21,21-15,21-17 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Bangkok pada Senin (8/2/2016).

Sayang, penampilan yang membaik itu gagal dipertahankan Sony. Dia secara mengejutkan malah kalah oleh wakil India Harsheel Dani dengan tiga game juga 21-18, 14-21, 14-21.

Secara ranking, seharusnya arek Suroboyo tersebut bisa memang. Dia ada di posisi 66 dunia sedangkan Dani di 148.

Selain itu, dari segi pengalaman, Sony ungguh jauh. Lawannya baru saja berlaga di level senior.

Hasil ini memang sedikit lebih bagus dibandingkan debutnya di 2016. Saat di Malaysia Grand Prix Gold, Sony langsung tersingkir di babak I.

Sebenarnya, penampilan bapak dua anak tersebut sudah  banyak memudar. Usai cedera yang lama membekap, ranking Sony terus turun.

Hanya, itu tak membuatnya ingin segera gantung raket. Sony masih ingin turun di berbagai turnamen. Tujuannya untuk memberikan semangat kepada atlet muda. (*)

Eh, Dinar Bisa Sampai Perempat Final

KEJUTAN: Dinar Dinah Ayustine (foto:PBSI)
SEMULA,dia hanya hadir sebagai pebulu tangkis kualifikasi. Tapi, siapa sangka, langkah Dinar Dyah Ayustine sudah sampai perempat final dalam Thailand Grand Prix Gold 2016.

Di babak kedua yang dilaksanakan di Bangkok pada Rabu waktu setempat (10/2/2016),Dinar menundukkan Karin Schnaase dari Jerman dengan rubber game 21-14, 16-21, 21-17. Hasil ini termasuk mengejutkan.

Alasannya, dari sisi ranking, Dinar kalah jauh. Saat ini, Karin di posisi 26. Sedangkan perempuan binaan Djarum Kudus yang kini bernaung di Pelatnas Cipayung tersebut terdampar di posisi 100.

Untuk melaju ke semifinal, bukan pekerjaan mudah bagi Dinar. Andalan tuan rumah Busanan Ongbumrungphan merupakan unggulan keenam.

Rankingnya pun jauh lebih baik. Busanan ada di posisi 19 dunia. Hanya, selama ini, keduanya belum pernah bertemu.

Bagi Dinar, penampilannya di Thailand Grand Prix Gold merupakan debutnya di 2016.Pada turnamen yang sama tahun lalu, dia sudah tersingkir di babak I.

Pulang di babak awal di ajang grand prix atau grand prixd gold sudah menjadi langganan baginya. (*)

Hongkong Jadi Pengganjal

TUMPAS sudah wakil Indonesia di nomor tunggal putra dalam Thailand Grand Prix Gold 2016. Itu setelah Simon Santoso dan Firman Abdul Kholik menyerah kepada lawan-lawannya dalam laga babak ketiga yang dilaksanakan di Bangkok pada Rabu waktu setempat (10/2/2016).

Simon harus menyerah kepada unggulan kelima Wei Nan daru Hongkong dengan tiga game 21-17, 14-21, 14-21.Ini menjadi kekalahan keduanya atas lawan yang sama.

Sebelumnya, Simon kalah dari Wei Nan di Taiwan Grand Prix Gold 2014. Saat itu, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut juga kalah rubber game 21-18, 21-23,20-22.

Hasil ini membuat Simon belum membuat start yang bagus selama 2016. Bulan lalu di Malaysia Grand Prix Gold, dia pun tumbang di babak I.

Ironisnya, yang mengalahkannya juga dari Hongkong. Simon dipermalukan pebulu tangkis berdarah Indonesia Wong Wing Ki dengan straight game 18-21, 13-21.

Sementara dalam laga lain, Firman ikut menyerah dari Ng Ka Long dengan 15-21, 14-21. Mau tahu dari mana Ng Ka Long? Lagi-lagi Hongkong.

Tahun lalu, Indonesia juga gagal di nomor tunggal putra. Ihsan Maulana Mustofa melaju hingga babak final sebelum ditundukkan Lee Hyun-il dari Korea Selatan. (*)

Simon Ternyata Masih Ada

Rabu, 10 Februari 2016

KEMAMPUAN Simon Santoso masih layak diperhitungkan. Dia mampu menembus babak ketiga Thailand Grand Prix Gold 2016.

Tiket itu didapat Simon usai menundukkan Guo Kai dari Tiongkok dengan dua game langsung 21-18,21-15 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Bangkok pada Selasa waktu setempat (9/2/2016). Ini merupakan pertemuan perdana dari kedua pebulu tangkis.

Hanya, secara ranking, Simon malah dari atlet Negeri Panda,julukan Tiongkok, tersebut. Saat ini, lawannya ada di posisi 99 sedangkan Simon empat setrip di bawahnya.

Hanya, untuk menembus babak ketiga, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut butuh perjuangan ekstrakeras. Dia bersua dengan Wei Nan dari Hongkong.

Dalam turnamen yang menyediakan hadiah USD 120 ribu tersebut, Wei Nan juga diunggulkan di posisi kelima.Selain itu,Simon punya rekor pertemuan jelek dengan lawan yang kini ada di posisi 14 dunia tersebut.

Mantan peringkat ketiga dunia tersebut kalah di Taiwan Grand Prix Gold 2014. Saat itu,Simon kalah tiga game.

Di Thailand Grand Prix Gold 2016, Simon menjadi satu di antara dua wakil di tunggal putra yang masih bertahan. Selain dia, ada pebulu tangkis muda Firman Abdul Kholik. (*)

Simon Bisa Lebih Baik

Rabu, 03 Februari 2016

MANTAN: Simon Santoso kembali turun di lapangan
SIMON Santoso belum menemukan penampilan terbaik. Langkahnya masih tertatih-tatih untuk kembali menapak kembali ke puncak.

Itu terlihat dalam debutnya di 2016. Simon tersingkir di babak kedua Malaysia Grand Prix Gold 2016.

Usai menundukkan Wong Wing Ki dari Hongkong, mantan tunggal putra terbaik Indonesia itu kalah dua game langsung 18-21, 13-21 kepada pebulu tangkis Tiongkok yang belum ngetop Qiao Bin.

Setelah itu, Simon memilih absen dari India Grand Prix Gold. Jeda waktu dia manfaatkan untuk persiapan menghadapi Thailand Grand Prix Gold yang dilaksanakan di Bangkok pada 8-13 Februari ini.

Capaian lebih bagus dibandingkan di Malaysia terbuka lebar. Dari undian yang sudah dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia),Simon hanya menghadapi pebulu tangkis dari kualifikasi.

Nah, di babak kedua, Wing Ki bisa jadi lawan yang dihadapi. Tentu, bukan hal yang susah bagi Simon untuk kembali diatasi.

Selain Simon, mantan rekan Simon di Pelatnas Cipayung Sony Dwi Kuncoro juga ikut ambil bagian. Hanya, undian kurang memihaknya.

Arek Suroboyo tersebutlangsung bertemu unggulan kedelapan asal Korea Selatan Lee Dong-keun. (*)

Reuni Riky/Richi di Bangkok

Selasa, 02 Februari 2016

SINGKAT: Riky Widianto/Annisa Saufika (foto:PBSI)
REUNI terjadi antara Riky Widianto dan Richi Dili Puspita. Mereka kembali digabungkan setelah sempat dipisahkan.

Riky/Richi mendapat kesempatan berlaga dalam Thailand Grand Prix Gold yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, medio Februari ini. Untung, ranking keduanya masih cukup untuk bisa berlaga dalam babak utama turnamen berhadiah USD 120 ribu tersebut.

Kini, keduanya masih ada di posisi ke-17. Meski, Riky/Richi sudah dipisahkan sejak November lalu.
Riky sempat dipasangkan dengan Anisa Saufika. Keduanya berdalam dalam Indonesia Grand Prix Gold 2016 di Malang, Jawa Timur. Hasilnya jeblok. Keduanya hanya bertahan di babak I.

Sedangkan Richi digandengkan dengan Rizky Amelia Pradipta di ganda putri. Setali tiga uang dengan Riky, mereka pun langsung tumbang dalam ajang yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

‘’Ya, kami dipasangkan lagi dan diberi kesempatan tampil di Thailand,’’ terang Riky melalui pesan singkat.
 Dia ingin memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Hanya, jalan terjal sudah menghadang di babak I.

Riky/Richi langsung bertemu dengan pasangan senior Thailand Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam. Hanya, ini menjadi pertemuan kedua pasangan.

PBSI memisahkan Riky/Richi setelah jemblok di berbagai turnamen. Padahal, keduanya sempat memberikan harapan tinggi dengan menjadi juara dalam India Grand Prix Gold 2015. (*)

Tommy Pegang Peranan Penting

UTAMA: Tommy Sugiarto
INDONESIA tak boleh lengah. Itu jika tak ingin gagal menembus putaran final Piala Thomas dan Uber 2016.
Alasannya, dari undian yang sudah keluar pada Selasa (2/2/2016), tim putra maupun putri rentan terjegal. Dalam ajang kualifikasi yang dilaksanakan 15-21 Februari 2016 di Hyderabad, India, Tim Piala Thomas Indonesia menempati grup MC bersama Taiwan, Thailand, dan Maladewa.
Maladewa bakal menjadi bulanan-bulanan merah putih.Tapi, Taiwan dan Thailand kekuatannya tak jauh beda dengan merah putih, khususnya di tunggal.
Indonesia hanya mempunyai Tommy Sugiarto yang masuk kategori senior dan kenyang pengalaman. Dia didampingi para pebulu tangkis yang masih hijau seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, maupun Ihsan Maulana Mustofa.
Sebagai tunggal pertama, Tommy bakal jatuh bangun menghadapi Chou Tien Chen dari Taiwan dan Boonsak Ponsana (Thailand). Melawan Tien Chen, Tommy kalah tiga kali dalam lima kali pertemuan.
Hanya, dia punya bekal berharga. Dalam pertemuan terakhir di Denmark Super Series Premier 2015, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut unggul.
Sedangkan lawan Boonsak, Tommy belum pernah. Hanya, Negeri Gajah Putih memiliki tunggal putra yang tak kalah bagus yakni Tanongsak S.
Di sini, peranan Tommy sangat besar. Kemenangan akan mengangkat mental rekan-rekannya yang lain.
Sementara itu, Tim Uber Indonesia berada satu grup dengan Korea Selatan yang merupakan runner-up 2014. Peluang Linda Wenifanetri dkk memang terbilang cukup berat untuk menekuk Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan. Mereka memiliki kekuatan yang merata baik di sektor tunggal putri maupun ganda putri. (*)
Undian grup Kualifikasi Piala Thomas dan Uber 2016:

Piala Thomas
Grup MA: Tiongkok, India, Singapura
Grup MB: Jepang, Malaysia, Sri Lanka, Nepal
Grup MC: Indonesia, Taiwan, Thailand, Maladewa
Grup MD: Korea Selatan, Hongkong, Filipina

Piala Uber
WA: Tiongkok, Malaysia, Hongkong

WB: Thailand, Taiwan, Sri Lanka
WC: Korea Selatan, Indonesia, Maladewa
WD: Jepang, India, Singapura

Sumber: BWF

Belum Izinkan Riky Pindah Klub

Senin, 01 Februari 2016

Riky Widianto (foto;PBSI)
SEBUAH kertas tergeletak di tempat tidur Ferry Stewart. Sebuah nama tertulis di dalamnya yakni Riky Widianto.

Riky? Ya, nama tersebut adalah susunan kata dari pebulu tangkis spesialis ganda campuran yang pernah menembus posisi 10 besar dunia. Kini, dia masih berada di Pelatnas Cipayung.

Dalam surat tersebut berisi keinginan Riky untuk pindah klub. Di dalam kertas ukuran A4 itu, juara India Grand Prix Gold 2015 tersebut ingin pindah dari klub lamanya, Wima, Surabaya. Yang jadi tujuan adalah Tjakrindo Masters yang sama-sama berada di Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Hanya, keinginan tersebut tak bisa langsung diluluskan. Dalam surat itu ditulis masih ada masalah administrasi yang harus dibicarakan.

‘’Masih ada yang perlu pembicaraan serius,’’ kata Ferry.

Hanya, dia enggan menyebutkan detailnya. Soal uang, Ferry pun hanya tersenyum.

‘’Harus profesional,’’ ucap Ferry. (*)

Suara Merdu Pencetak Atlet Top

Ferry Stewart (foto:sidiq)
KERINGAT membahasi Ferry Stewart. Dia tengah berada di GOR Suryanaga, Surabaya.

Hanya, dia bukan tengah berlatih. Bukan juga sedang melatih anak asuhnya.

Lelaki 61 tahun tersebut berkeringat saat membawakan sebuah lagu dalam acara pergantian ketua umum PB Suryanaga yang dilaksanakan pada Minggu (31/1/2016). Dia didaulat untuk menyumbangkan lagu.

Suara merdunya pun mampu membius para tamu yang duduk di kursi undangan seperti mantan Sekjen PP PBSI Yacob Rusdianto, Ketua Pengprov PBSI Jawa Timur Wijanarko Adi Mulya, maupun tokoh bulu tangkis Surabaya Abdul Chodir.

Sebenarnya, antara bulu tangkis dan menyanyi tak bisa lepas dari sosok lelaki yang banyak melahirkan pebulu tangkis top tersebut. Seperti Sony Dwi Kuncoro, Riky Widianto, Selvanus Geh, maupun Ade Yusuf.

Tak kurang dua kali sepekan, Ferry berlatih suara di sebuah tempat di Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Sehingga, wajar suaranya pun tak kalah dengan penyanyi profesional.

Lagu berbahasa Indonesia maupun Inggris pun dengan mudah dilantunkan di atas panggung. Bahkan, anak asuhny di Wima pun mengakui akan itu. (*)

Praveen/Debby Ikuti Jejak

INDONESIA kembali bisa meraih gelar dari India Grand Prix Gold. Nomor yang disabet pun sama, yakni nomor ganda campuran.

Hanya, pasangan yang naik ke podium terhormat berbeda. Jika tahun lalu, Riky Widianto/Richi Dili Puspita, maka pada 2016 jejak itu diikuti oleh Praveen Jordan/Debby Susanto.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Lucknow pada Minggu waktu setempat (31/1/2016), pasangan asal pelatnas Cipayung tersebut mengalahkan wakil Thailand Puavaranukroh Dechapol/Sapsiree Teranattachai dengan tiga game 23-25, 21-9, 21-16.Pertandingan kedua pasangan ini memakan waktu 1 jam lebih 1 menit.

Gelar ini menjadi raihan kedua wakil Indonesia selama 2016. Sebelumnya, pekan lalu di Malaysia Grand Prix Gold, merah putih membawa satu juara.

Gelar itu disumbangkan dari nomor ganda putra melalui pasangan Gideon Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya. Sayang, sukses ini gagal diulangi di India Grand Prix Gold. Jangankan menembus babak final, mereka sudah tersingkir di babak awal.

Sebaliknya dengan Praveen/Debby. Di negeri jiran, pasangan yang sama-sama berasal dari klub Djarum Kudus tersebut sudah angkat koper di babak awal. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger