www.smashyes.com

www.smashyes.com

Dua Legenda Sambangi FIFA Sidoarjo

Kamis, 31 Maret 2016

MITRA: Hariyanto Arbi (kanan) dan Thoriq
PB FIFA membuat gebrakan. Mereka kedatangan dua pahlawan Piala Thomas Indonesia.
--
GOR FIFA di Rangkah, Sidoarjo, Jawa Timur, beda dengan biasa. Memang, aktivitas tepok bulu berlangsung di gedung milik M. Thoriq tersebut.

Namun, di tengah lapangan, ada dua sosok pebulu tangkis yang masuk kategori legenda di Indonesia, bahkan dunia. Ya, pada Rabu petang itu (30/3/2016), ada Hariyanto Arbi dan Tri Kusharjanto.

Mereka tengah melakukan pertandingan ekshibisi. Hariyanto berpasangan dengan Thoriq dan Trikus, sapaan karib Tri Kusharjanto, bertandem dengan ketua PB Suryanaga David Suryanata.

Pertandingan ini pun berlangsung seru. Hariyanto dan Trikus beberapa kali mengeluarkan kemampuan yang sempat membuat keduanya disegani di pentas bulu tangkis dunia.

Hariyanto dengan jumping smashnya yang membuat lelaki 44 tahun itu dijuluki Smash 100 Watt dan Trikus dengan kecerdikan yang membuat lelaki asal Jogjakarta tersebut mendapat sebutan Tricky.

''Mereka saya undang ke sini, khususnya Hariyanto Arbi. Dia memberikan coaching clinic kepada pebulu tangkis FIFA,'' terang Thoriq.

Dia berharap ilmu dan pengalaman yang dimiliki bisa mengangkat semangat anak asuhnya di FIFA. Apalagi, Thoriq punya semangat dan tekad untuk bisa melahirkan pebulu tangkis yang bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

Selain Hariyanto dan Trikus, hadir pula jajaran pengurus Pengprov PBSI Jatim. Tampak Ketua Umum Wijanarko Adi Mulya, Bendahara Andre Yung, Wakil Sekretaris Martinus Rudi, dan Ketua Bidang Pertandingan Nanang Rofik Hidayat. (*)

Mantan Presiden RI Hadiri Syukuran Praveen/Debby

Megawati diapit Praveen/Debby (foto;PBSI)
ACARA demi acara merayakan gelar All England 2016 untuk Praveen Jordan/Debby Susanto belum juga berakhir. Seteah Djarum Kudus, asal klub keduanya, dan Pemprov Sumatera Selatan, asa daerah Debby, kini Hamid Awaluddin, salah satu pemerhati bulutangkis Indonesia, mengadakan sebuah acara syukuran sekaligus silaturahmi insan-insan bulu tangkis Indonesia lintas generasi.

 Seperti dikutip dari situas PBSI, selain Praveen/Debby dan para atlet yang berlaga di All England 2016 seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, hadir pula para pelatih, perwakilan pengurus PP PBSI, serta mantan atlet mulai dari Tan Joe Hok, Lim Swie King, Christian Hadinata, Eddy Hartono, Susi Susanti, Ivana Lie, Rosiana Tendean, Hermawan Susanto, dan Sarwendah Kusumawardhani.

Dalam acara ini juga hadir beberapa tamu istimewa seperti mantan presiden RI Megawati Soekarno Putri, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, penguasaha Erick Thohir maupun presenter kondang Rosiana Silalahi.

Acara yang bersifat kekeluargaan ini dibuka dengan makan siang dan ramah tamah. Praveen/Debby sang juara, mendapat keistimewaan untuk duduk satu meja bersama Megawati, mantan orang nomor satu di Indonesia. Usai makan siang, Praveen/Debby diberi cendera mata sebagai bentuk ucapan selamat atas prestasi di All England yang berhasil mereka ukir.

 “Kami senang banget ya sampai ada syukuran atas kemenangan kami, apalagi dengan hadirnya Ibu Megawati, mantan presiden RI. Terima kasih kepada Pak Hamid atas terselenggaranya acara ini dan dukungannya selama ini kepada kami dan bulutangkis Indonesia,” tutur Praveen yang ditemui di restoran Sedap Aroma, Menteng.

Mengenai kedatangan Megawati, dituturkan Hamid bahwa dirinya memang senang membuat kejutan dalam acara yang digagasnya. Termasuk mendatangkan mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

“Tan Joe Hok waktu juara dulu kan bertemu dengan ayahnya Megawati yaitu Soekarno. Nah saya pikir sekarang saatnya anaknya Soekarno yaitu Ibu Megawati yang hadir di tengah-tengah bulu tangkis masa kini,” ucap Hamid yang memang pecinta olahraga bulu tangkis sejak kecil. (*)

Hanya Beri 6 Poin buat Lawan

LAWAN RINGAN: Greysia Polii/Nitya Krishinda (foto;PBSI)
PASANGAN Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari ditempatkan di posisi teratas nomor ganda putri India Super Series 2016. Pada Rabu waktu setempat (30/3/2016), keduanya mampu memetik kemenangan yang membuat lolos ke babak II.

Menariknya, angka yang diambi oleh lawannya hanya enam. Ya, Greysia/Nitya menang 21-3, 21-3 atas pasangan Mesir Nadine Ashraf/Mena Eltanany.

Meski menang mudah, tapi kemampuan lawan tak bisa diremehkan.Ranking Nadine/Mena masih di kisaran 100 besar tepatnya di 63.

Kans memetik kemenangan mudah kembali terbentang di  babak II. Greysia/Nitya akan berjumpa dengan pasangan tuan rumah Gauri Asaji/Karishma Wadkar, yang di babak sebelumnya melibas rekan senegaranya sendiri Nimmi Patel/Saruni Sharma 27-25,21-18.

Ranking Gauri/Karishma jauh di bawah. Mereka ada di 425.

India Super Series 2016 menjadi bidikan Greysia/Nitya untuk bisa mengkahiri dahaga gelar selama 2016. Sudah dua turnamen yang dijalani, Jerman Grand Prix Gold dan All Engand Super Series Premier 2016.

Tapi, hasilnya tak sesuai harapan. Di Jerman, mereka kalah di semifinal dan sepekan kemudian di All England, pasangan peraih emas Asian Games 2014 tersebut langsung tersungkur di babak I. (*)

Empat Tahun Sony Tak Bertemu Axelsen

NANJAK: Viktor Axelsen (foto;twitter)
LANGKAH Sony Dwi Kuncoro di India Super Series 2016 sudah sampai babak II. Dia mampu mengalahkan pebulu tangkis tuan rumah Sai Pranneth dalam pertarungan dua game 22-20, 21-13 di New Delhi pada Rabu waktu setempat (30/3/2016).

Ini menjadi kemenangan kedua yang diraih Sony atas Pranneth. Sebelumnya, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut unggul di Makau Grand Prix Gold 2014.

Di atas kertas, sebenarnya, Sony tak diunggulkan untuk menang. Rankingnya di posisi 63 dunia masih di bawah lawannya yang 34.

Selain itu, Praneeth tengah on fire. Dalam All England Super Series Premier 2016, dia menjungkalkan pebulu tangkis top dunia Lee Chong Wei asal Malaysia.

Di babak II, Sony akan menantang Viktor Axelsen. Di babak I, unggulan kelima asal Denmark tersebut menang tiga game 21-23, 21-14, 21-5.

Sony sudah lama tak berjumpa dengan Axelsen. Pada 2012 dalam Singapura Super Series, dia kalah dua game 17-21,24-26.

Saat itu, Sony masih digembleng di Pelatnas Cipayung. Selain itu, kini Axelsen termasuk pebulu tangkis yang menanjak pesat yang membuat rankingnya sekarang di posisi keenam.

Sukses Sony ini juga diikuti oleh Tommy Sugiarto. Menempati unggulan kedelapan, dia dipaksa bertarung ketat rubber game 21-18, 18-21, 21-18 atas Lee Dong-keun dari Korea Selatan.

Di babak kedua, Tommy ditantang Tanongsak Saensomboonsuk dari Thailand. (*)

Pantang Terbebani dengan Status

Rabu, 30 Maret 2016

BERLATIH: Greysia Polii (kanan)/Nitya Krishinda (foto;PBSI)
SUDAH dua turnamen sudah dilakoni Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari sepanjang 2016. Sayang, hasil yang diraih belum sesuai harapan.

Di Jerman Grand Prix Gold, duduk sebagai unggulan teratas, keduanya tersandung di babak semifinal. Lawan yang dikalahkan pun hanya pasangan Thailand Puttita Supajirakul/Sapsiree.

Sepekan kemudian, di ajang bergengsi All England Super Series 2016, Greysia/Nitya menui malu. Duduk sebagai unggulan kedua, pasangan gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut langsung tersingkir di babak I oleh Naoko Fukuman/Kurumi Yonao.

Nah, kini, kesempatan untuk bangkit kembali terbenteng. Greysia/Nitya akan tampil dalam India Super Series 2016 yang dilaksanakan di New Delhi pada 29 Maret-3 April.

Keduanya pun ditempatkan sebagai unggulan teratas. Tapi, Greysia/Nitya tak ingin posisi tersebut sebagai beban yang bisa merusak performanya di lapangan. Meski begitu keduanya mengatakan tetap waspada dalam menghadapi lawan-lawan yang akan menghadang.

 “Kami ingin lebih konsisten lagi dibanding pertandingan sebelumnya. Karena di pertandingan sebelumnya juga kami menjadi unggulan tetapi hasil tidak memenuhi target. Kami sekarang ingin main lebih enjoy dan tidak menjadikan beban. Karena kalau kami bawa beban, jadinya kami malah banyak kepikiran,” jelas Nitya seperti dikutip situs PBSI.

 Di India Super Series 2016, padda babak pertama mereka akan melawan pemain Mesir, Nadine Ashraf/Menna Eltanany. Jika menang, Greysia/Nitya akan berhadapan dengan duel antarwakil India, Gauri Asaji/Karishma Wadkar dan Nimmi Patel/Saruni Sharma.

 Selain Greysia/Nitya, ganda putri Indonesia juga diwakili oleh Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi. Di babak pertama, Anggia/Ketut akan berhadapan dengan Komal Antil/Lalita Dahiya, India. (*)

Tak Siap, Tontowi/Liliyana-Praveen/Debby Mundur

KONDISI: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (foto:PBSI)
PELUANG Indonesia membawa pulang gelar dari India Super Series 2016 menipis. Dua andalan di nomor ganda campuran,  Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto, batal turun dalam ajang yang dilaksanakan 29 Maret-3 April tersebut.

“Saya lihat kondisi fisik Owi  (sapaan karib Tontowi)  belum maksimal. Minggu kemarin program harusnya lima ronde, dia hanya sampai di ronde ketiga. Jadi saya harus mundurin lagi persiapannya. Mudah-mudahan sudah bisa maksimal minggu ini,” kata Richard Mainaky, pelatih ganda campuran Pelatnas PP PBSI seperti dikutip media PBSI.

Sementara itu, kondisi duet Praveen/Debby juga dinilai Richard belum normal. Padatnya kegiatan Praveen/Debby usai menjadi kampiun di All England 2016cukup menyita energi. Praveen/Debby pun kini dipersiapkan untuk turnamen berikutnya di Malaysia Open Super Series Premier 2016 pekan depan.

“Kalau Praveen/Debby, kondisinya belum normal karena terlalu banyak acara yang tidak bisa kami tolak. Jadi mulai normal baru minggu kemarin. Menurut saya, mereka lebih baik melakukan persiapan untuk turnamen di Malaysia dan Singapura saja,” ucap Richard.

Dengan batal turun Tontowi/Liliyana dan Praveen/Debby di India Super Series 2016 membuat sektor ganda campuran hanya diwakili oleh pasangan Riky Widianto/Richi Puspita Dili.

Richard berharap mereka bisa tembus delapan besar hingga semifinal.Di babak pertama, Riky/Richi akan berhadapan dengan pasangan Jerman, Michael Fuchs/Birgit Michels.

 Di atas kertas, Riky/Richi memiliki catatan pertemuan yang baik atas pasangan Jerman tersebut. Ini akan menjadi pertemuan ketiga bagi mereka, dimana dua pertemua sebelumnya, Riky/Richi selalu bisa menang dua game langsung. (*)

Sony Tembus Babak Utama

Selasa, 29 Maret 2016

Sai Praneeth yang akan dihadapi Sony (foto:thehindu)
TOMMY Sugiarto tak sendirian di babak utama India Super Series 2016. Ini setelah Sony Dwi Kuncoro memetik dua kali kemenangan dalam pertandingan kualifikasi yang dilaksanakan di New Delhi pada Selasa waktu setempat (28/3/2016).

Menariknya, dua lawan yang dikalahkannya merupakan wakil tuan rumah. Dalam pertandingan pertama, Sony menundukkan Subhankar Dey dengan dua game langsung 21-9, 21-19. Hasil ini membawanya bertemu dengan Anand Pawar pada siangnya.

Bagi keduanya pertemuan ini sudah bukan yang pertama. Sony sudah tiga kali menang dan kali menang. Tapi, kekalahan tersebut dialami Arek Suroboyo tersebut dalam perjumpaan terakhir di Jepang Super Series 2013. Saat itu, Sony kalah 17-21, 21-7, 18-21.

Sehingga, kekalahan pun sempat membayangi lelaki yang dibesarkan oleh klub Wima Surabaya tersebut. Untung, di lapangan, Sony tampil percaya diri.  Dia akhirnya mampu menang meski melalui tiga game 21-15, 18-21, 21-12.

Di babak kedua, Sony akan berjumpa dengan wakil India lagi yakni Sai Praneeth.  Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut pernah berjumpa dengan Praneeth di Makau Grand Prix Gold 2014.

Hasilnya, Sony menang 21-16 19-21, 21-17.Hanya, kini, kondisinya lain.

Rankingnya yang di 63 kalah oleh Pranneth yang melonjak di 34. Apalagi, di All England 2016 lalu, Pranneth menjadi sorotan.  Dia mempermalukan unggulan kedua Lee Chong Wei asal Malaysia dengan dua game langsung 24-22, 22-20. Sementara, di babak I, Tommy Sugiarto berjumpa dengan Lee Dong-keun dari Korea Selatan. (*)

Ketemu Penakluk Juara All England 2013

BAHAYA: Mark Lamsfuss/Marvin Emil Seidel (foto:BWF)
SUKSES baru saja diraih Hardianto/Kenas Adi Haryanto. Mereka mampu menjadi juara dalam Polandia Challenge 2016.

Ini menjadi capaian juara perdana bagi pasangan Pelatnas Cipayung yang sudah digandengkan sejak 2014 tersebut. Hanya, gelar tersebut tak boleh membuat Hardianto/Kenas terlena.

Mereka masih butuh perjuangan ekstra untuk bisa masuk dalam jajaran pasangan ganda putra papan atas Indonesia.Apalagi, ranking Hardianto/Kenas masih terpuruk di 66 dunia.

Itu masih jauh dibandingkan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Angga Pratama/Ricky Karanda, Markus Ferlandi Gideon/Kevin Sanjaya, dan Rian Agung/Berry Anggriawan.

Terdekat, Hardianto/Kenas berburu poin lagi. Kedua akan tampil di Orleans International 2016 yang dilaksanakan 31 Maret hingga 3 April.

Mereka menjadi satu-satunya pasangan ganda putra yang unjuk kebolehan dalam event di delat Kota Paris, ibu kota Prancis, tersebut. Di babak I, Hardianto/Kenas akan berhadapan dengan Mark Lamsfuss/Marvin Emil Seidel dari Jerman.Ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua pasangan.

Di atas kertas, bukan tugas mudah bagi Hardianto/Kenas untuk bisa menembus babak II. Ranking Mark/Marvin lebih bagus yakni 48.

Di All England 2016, keduanya mampu menembus babak utama sebelum dihentikan oleh pasangan Jepang yang akhirnya menembus babak final Kenichi Hayakwa/Hiroyuki Endo dengan 10-21, 20-22. Bahkan, di Swiss Grand Prix Gold 2016, Mark/Marvin melaju ke babak perempat final.

Di babak II, keduanya mempermalukan pasangan tangguh Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan dengan 21-18, 16-21, 21-16.Liu/Qiu merupakan juara All England 2013.  Sehingga ini bisa menjadi gambaran kekuatan Mark/Marvin. (*)

Kejar Poin di Level International

UNGGULAN: Hana Ramadhini akan berlaga di Orleans, Prancis
SEKTOR tunggal putri Indonesia masih belum bisa dibanggakan. Mereka belum bisa menyamai era Susi Susanto dan Mia Audina yang disegani di pertengahana dekade 1990-an.

Tapi, itu tak membuat PP PBSI patah semangat. Kini, segala upaya terus dilakukan guna mendongkrak prestasi tersebut.

Salah satunya mengirim para tunggal putri pelapis ke berbagai turnamen. Hanya, ajang yang diikuti itu bukan level atas sekelas super series ataupun super series premier.

Pekan lalu, Hana Ramadhini, Gregoria Mariska, Fitriani dan Dinar Dyah Ayustine unjuk kebolehan dalam Polandia Challenge 2016. Sayang, dalam ajang yang dilaksanakan di Warsawa tersebut, hasil yang dirah belum memuaskan. Mereka sudah bertumbangan di turnamen yang menyediakan hadiah total USD 17.500 tersebut.

Pekan ini Hana, Gregoria, dan Dinar kembali tampil di Eropa. Turnamen yang jadi bidikan kelasnya masih di bawah challenge yakni Orleans International.

Hanya Hana yang menduduki unggulan. Dia ditempatkan di posisi keempat.

Tapi, berkaca dari hasil di Polandia, para srikandi Pelatnas Cipayung tersebut tak boleh jumawa. Kekuatan tunggal putri Eropa sudah setara dengan Indonesia. (*)

Ranking wakil Indonesia di Orleans International 2016

48-Hana Ramadhini

61-Fitriani

88-Dinar Dyah Ayustine

97-Gregoria Mariska

*Sumber: Ranking BWF 24 Maret 2016

Fokus Pertandingan I Kualifikasi Dulu

Senin, 28 Maret 2016

POIN: Sony Dwi Kuncoro tak bisa langsung ke babak utama
TAMPIL di babak kualifikasi sebuah turnamen sudah menjadi hal kini biasa bagi Sony Dwi Kuncoro. Dia sadar posisinya sudah bukan lagi seperti dulu.

Dalam satu dekade, Sony selalu duduk sebagai unggulan dan langsung berlaga di babak utama. Tapi, mulai tiga tahun terakhir, dia harus memulai sebuah turnamen dari babak kualifikasi, khususnya di ajang super series maupun super series premier.

Begitu juga di India Super Series 2016. Sony harus memulai turnamen berhadiah total USD 300 ribu tersebut dari kualifikasi karena rankingnya di posisi 63 dunia.

''Ya, saya tak bisa langsung ke babak utama. Saya jalani saja,'' kata Sony kepada smashyes.

Di laga pertama kualifikasi, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut akan ditantang Subhankar Dey dari India.Sony belum pernah berjumpa dengan lawannya yang hanya berperingkat 140 dunia tersebut.

Hanya, arek Suroboyo tersebut tak boleh lengah. Sekarang, India mempunyai stok pebulu tangkis muda yang bagus.

Sony pernah merasakannya dalam Thailand Grand Prix 2016 Februari lalu. Peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut dipermalukan wakil India yang belum ternama Dani Harsheel dengan 21-18, 14-21, 14-21.  Padahal, di babak I, lelaki yang dibesarkan di klub Wima, Surabaya, itu menumbangkan unggulan ketujuh Lee Dong Keun dari Korea Selatan dengan 16-21, 21-15, 21-17.

Jika menang atas Dey, Sony menunggu pemenang laga antara Anand Pawar (India) dan unggulan keempat kualifikasi Pablo Abian dari Spanyol. ''Saya pelan-pelan saja. Lewati pertandingan pertama baru memikirkan pertandingan berikut,'' ujar Sony.

Di India Super Series 2016, selain Sony, Indonesia juga diwakili Tommy Sugiarto. Hanya, dia sudah langsung berlaga di babak utama dan menempati unggulan kedelapan. (*)

Kembali dengan Tangan Hampa

Minggu, 27 Maret 2016

GAGAL: Angga/Ricky (kanan) harus puas di posisi II
GELAR melayang dari Selandia Baru Grand Prix Gold 2016. Satu-satunya wakil Indonesia yang masih tersisa di babak final ajang berhadiah total USD 120 ribu tersebut, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, menyerah.

Dalam babak pemungkas yang dilaksanakan di Auckland pada Minggu waktu setempat (27/3/2016), pasangan gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut kalah dua game langsung 18-21, 14-21 kepada unggulan kedua asal Korea Selatan Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel. Di Selandia Baru Grand Prix Gold 2016, Angga/Ricky menempati unggulan ketiga.

Kekalahan ini bisa menjadi sinyal peringatan Indonesia di ajang Piala Thomas 2016 nanti. Alasannya, besar kemungkinan, kedua pasangan bisa kembali bertemu dalam ajang beregu antarnegara yang dilaksanakan di Tiongkok pada 15-22 Mei mendatang.

Di ganda pertama, Indonesia dan Korea Selatan sudah mempunyai andalan. Merah putih akan mempercayai Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan berhadapan dengan jagoan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong.

Tentunya, waktu yang ada harus mampu dimanfaatkan tim pelatih Tim Thomas Indonesia untuk berbenah. Apalagi, satu pasangan Piala Thomas Indonesia lainnya, Markus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya juga dikalahkan Sung-hyun/Baek-choel di semifinal sehari sebelum babak terakhir.

Dari Selandia Baru sendiri, pulang tanpa gelar mengulang pil pahit tahun lalu.Pada 2015, Indonesia juga menempatkan wakilnya di babak final.

Sayang, di nomoe ganda putra, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menyerah 21-16, 17-21, 9-21 kepada wakil Tiongkok Huang Kaixiang/Zheng Siwei. (*)


Distribusi gelar Selandia Baru Grand Prix Gold 2016
Tunggal putri: Sung Ji-hyun (Korsel x1)v Aya Ohori (Jepang) 21-15, 21-17

Ganda campuran: Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia x3) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x2) 21-19, 22-20

Tunggal putra: Huang Yuxiang (Tiongkok x13)  v Riichi Takeshita (Jepang) 21-12, 21-17

Ganda putri: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x2) 21-13, 21-16

Ganda putra: Ko Sung-hyun/Shin Baek-cheol (Korsel x2) v Angga Pratama/Ricky Karanda (Indonesia x3) 21-18, 21-14

x=unggulan

Dua Tahun Baru Bisa Juara

PODIUM: Hardianto/Kenas Adi Haryanto
LEVEL turnamen Hardianto/Kenas Adi Haryanto di kasta bawah. Turnamen international series dan challenge sering menjadi ajang keduanya berburu poin.

Tapi, dari tier V dan VI tersebut, Hardianto/Kenas mampu mengibarkan merah putih. Ini setelah pasangan Pelatnas Cipayung tersebut mampu menjadi juara Polandia Challenge 2016.

Dalam final yang dilaksanakan di Warsawa pada Sabtu waktu setempat (26/3/2016), Hardianto/Kenas mampu menjungkalkan unggulan ketuga asal Thailand Puavanukroh Dechapol/Kedren Kittinupong dengan rubber game 21-5, 18-21, 21-15. Pertarungan kedua pasangan memakan waktu 42 menit.

Hasil ini cukup di luar dugaan. Dalam Polandia Challenge 2016 yang menyediakan hadiah total USD 17.500 tersebut, Hardianto/Kenas tak menempati unggulan.

Ini disebabkan ranking keduanya masih jeblok. Saat ini, Hardianto/Kenas masih ada di posisi 66 dunia.

Selain itu, kemenangan di negeri di Eropa Timur tersebut merupakan gelar perdana keduanya sejak berpasangan pada Agustus 2014. Sebelumnya, dia bertandem dengan Agripinna Prima Rahmanto.  Di 2016, Polandia Challenge juga menjadi debut. (*)

Distribusi gelar Polandia Challenge 2015
Tunggal putra: Thomas Rouxel (Prancis x6) v Eetu Heino (Finlandia) 21-11, 21-16

Tunggal putri: Delphine Lansac (Prancis) v Neslihan Yigit (Turki) 21-19, 21-11

Ganda putra: Hardianto/Kenas Adi Haryanto (Indonesia) v   Puavanukroh Dechapol/Kedren Kittinupong  (Thailand x3) 21-5, 18-21, 21-15

Ganda putri: Puttita Suparijakul/Sapsiree Taerattanachai  (Thailand x1) v Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean (Malaysia) 21-7, 21-17

Ganda campuran: Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba (Polandia x1) v Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia) 21-18, 21-14

x=unggulan

Hanya Angga/Ricky yang Lolos

Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel (foto;BWF)
KEINGINAN menciptakan final sesama wakil Indonesia (all Indonesian finals) di nomor ganda putra Selandia aru Grand Prix Gold 2016 kandas. Merah putih hanya mampu menempatkan satu pasangan yakni Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi ke babak pemungkas turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Pasangan yang diunggulkan di posisi ketiga tersebut bertarung ketat dua game 21-19, 24-21 untuk menyingkirkan Huang Kaixiang/Zheng Siwei dari Tiongkok yang juga unggulan kedelapan.

Sementara, satu wakil lain, Markus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya, terhenti di babak semifinal. Unggulan keempat tersebut menyerah kepada Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel dari Korea Selatan yang ditempatkan sebagai unggulan kedua dengan 16-21, 16-21.

Pertemuan Angga/Ricky dengan Sung-hyun/Baek-choel merupakan kali pertama. Hanya, secara ranking, pasangan merah putih kalah.

Saat ini, Angga/Ricky berada di posisi ke-12. Sedangkan pasangan Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut ada di posisi delapan besar.

Sebenarnya, Indonesia mengirimkan wakilnya di semua nomor. Hanya, mereka bukan pebulu tangkis papan atas.  (*)


Agenda final Selandia Baru Grand Prix Gold 2015

Tunggal putri: Sung Ji-hyun (Korsel x1)v Aya Ohori (Jepang)

Ganda campuran: Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia x3) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x2)

Tunggal putra: Huang Yuxiang (Tiongkok x13)  v Riichi Takeshita (Jepang)

Ganda putri: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x2)

Ganda putra: Angga Pratama/Ricky Karanda (Indonesia x3) v Ko Sung-hyun/Shin Baek-cheol (Korsel x2)

x=unggulan

Duh, Lawan Turki Saja Kalah

Sabtu, 26 Maret 2016

KEJUTAN: Neslihan Yigit (foto:zimbo)
TURKI hanya negeri kecil di pentas bulu tangkis dunia. Tapi, siapa sangka, wakil Indonesia bisa dipermalukannya.

Itu terjadi dalam ajang Polandia Challenge 2016. Tunggal putri gemblengen Pelatnas Cipayung Hana Ramadhini kalah dua game langsung 11-21, 18-21 kepada Neslihan Yigit dalam pertandingan babak perempat final yang dilaksanakan di Warsawa pada Jumat waktu setempat (25/3/2016).

Kekalahan Hana ini membuat Indonesia sudah tak punya wakil lagi di nomor tunggal putri. Sebenarnya, selain Hana, Cipayung juga memberangkatkan Dinar Dyah Ayustine dan Fitriani.

Dinar langsung kalah di babak I. Pebulu tangkis asal Djarum Kudus tersebut dipermalukan Moe Araki, wakil Jepang dari babak kualifikasi, dengan 18-21, 18-21.

Sementara, Fitriani tersingkir di babak II. Dia harus mengakui ketangguhan unggulan kedua Olga Konon dari Jerman dengan 21-9, 14-21, 21-17.

Babak final tunggal putri akan mempertemukan Yigit dengan Delphine Lansac, yang di semifinal menumbangkan Konon 21-18, 21-16. (*)

Balikpapan Jadi Host Indonesia Masters

PELUANG: Dome Balikpapan yang jadi kandidat venue
INDONESIA Masters kembali ke kandang. Kejuaraan bulu tangkis yang masuk kategori grand prix gold tersebut akan dilaksanakan di Balikpapan, Kalimantan Timur,pada 6-11 September 2016.

Sebelumnya, turnamen tersebut memang dimulai dari Kalimantan Timur pada Samarinda pada 2010. Setahun kemudian, ibu kota provinsi tersebut kembali ditunjuk menjadi host.

Namun, pada 2012, ajang itu terbang ke Palembang, Sumatera Selatan. Kota Empek-Empek, julukan Palembang, dua tahun kemudian menjadi tuan rumah ajang turnamen level III dalam kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut. Setelah pada 2013, Indonesia Masters singgah di Jogjakarta.

Tahun lalu, event berhadiah total USD 120 ribu tersebut digelar di Malang, Jawa Timur. Saat itu, penyelenggaraan tergolong sukses.  Penonton memadati venue yang berada di lingkungan Universitas Negeri Malang.

Pada setiap tahunnya, Indonesia selalu turun dengan kekuatan penuh. Tahun lalu, merah putih memperoleh gelar dari tunggal putra melalui Tommy Sugiarto dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Di Indonesia, selain Indonesia Masters yang berlevel grand prix gold juga mempunyai tiga tier lainnya. Di posisi teratas ada Indonesia Super Series Premier yang dilaksanakan di Jakarta pada 30 Mei-5 Juni dengan menyediakan hadiah total USD 900.000. Kemudian, Indonesia Challenge pada November yang belum ditentukan tempatnya serta Wali Kota Surabaya International Series pada Mei. (*)

Menunggu All Indonesian Finals Ganda Putra

UNGGULAN: Angga Pratama/Ricky Karanda (foto;PBSI)
JALAN meraih gelar dari Selandia Baru Grand Prix Gold 2016 semakin dekat. Bahkan, tak menutup kemungkinan bakal terjadi final sesama wakil Indonesia (all Indonesian finals) dalam ajang yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Alasannya, dua wakil di nomor ganda putra, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya. sama-sama melangkah ke babak semifinal. Angga/Ricky, yang diunggulkan di posisi ketiga, menundukkan Chen Huang Ling/Chin-Lin Wang dari Taiwan dengan dua game langsung 23-21, 21-17 dalam pertandingan perempat final di Auckland pada Jumat waktu setempat (25/3/2015).

Di babak semifinal, pasangan gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut bakal berhadapan dengan Huang Kaixiang/Zheng Siwie. Di perempat final, wakil Tiongkok tersebut menumbangkan unggulan teratas Kim Gi-jung/Kim Sa-rang (Korea Selatan) dalam pertarungan tiga game 17-21, 21-19, 21-16.

Ini menjadi pertemuan pertama untuk kedua pasangan. Hanya, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tak bisa dipandang sebelah mata. Di Thailand Grand Prix Gold 2016, Kaixiang/Siwie mampu menembus semifinal.

Sementara, Gideon/Kevin lolos ke empat besar berkat kemenangan tiga game 21-16, 19-21, 21-14 atas Wei Chen Liu/Yang Po Han (Taiwan). Untuk bisa menembus final, mereka harus bisa menumbangkan unggulan kedua Ko Sung-hyun/Shin Baek-choel yang sebelumnya menang straight game 21-10, 22-20 atas Manu Attri/Sumeeth Reddy (India).

Gideon/Kevin pernah sekali bertemu dengan Sung-hyun/Baek-choel di Malaysia Grand Prix Gold 2016. Ketika itu, ganda ranking 20 dunia tersebut menang 21-17, 21-18.

Sebenarnya, di Selandia Baru Grand Prix Gold ini, Indonesia mengirim tiga tunggal masa depannya. Sayang, Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Ginting, dan Jonatan Christie sudah angkat koper dari babak awal. (*)

Untung Masih Ada Tiga Pasangan

Kamis, 24 Maret 2016

PASANGAN Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon berhasil lolos ke babak perempat final Selandia Baru Grand Prix Gold 2016. Dalam pertandingan yang berlangsung di Auckland pada Kamis waktu setempat (24/3/2016), mereka berhasil  menghentikan ambisi pasangan Jepang, Hiroyuki Saeki/Ryota Taohata dengan skor 21-12, 21-19.

 “Kami bisa tampil tenang dan tidak terburu-buru, itu kuncinya. Kami juga terus mengontrol permainan. Selain itu, pasangan Jepang ini juga tidak terlalu ulet seperti pemain-pemain Jepang pada umumnya,” ujar Kevin kepada media PBSI .

Kevin/Marcus kini tengah mempersiapkan diri menuju laga perebutan tiket semifinal yang akan dilangsungkan Jumat (25/3.Pasangan peringkat 16 dunia itu akal menantang wakil Taiwan, Wei Chen Liu/Yang Po Han. Kedua pasangan tercatat belum pernah berjumpa satu sama lain.

“Kita lihat saja besok di lapangan. Kami berharap bisa kembali mengalahkan pasangan Taiwan. Tipe permainan mereka hampir sama dengan pasangan-pasangan dari negara lain, tetapi yang membedakan adalah power mereka yang lebih kuat,” ucap Kevin.

JEJAK: Hafiz Faisal/Shela Devi Aulia (foto; PBSI)
Sukses ini diikuti  unggulan ketiga asal Indonesia Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Mereka menekuk pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi 11-21, 21-16, 21-12. Angga/Ricky yang merupakan Singapura Super Series 2015 berhadapan dengan pasangan Taiwan di babak delapan besar, Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin.

Selain dua pasangan ganda putra, Indonesia juga menempatkan satu wakil ganda campuran di perempat final lewat kemenangan
Hafiz Faisal/Shela Devi Aulia atas unggulan ketujuh dari Perancis, Ronan Labar/Emilie Lefel, 17-21, 21-16, 21-15.  (*)

Lampu Kuning Tim Thomas Indonesia

TUMPAS sudah perjuangan pebulu tangkis muda Indonesia di Selandia Baru Grand Prix Gold 2016. Tak ada satu wakil pun yang tersisa.

Padahal, turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut baru memasuki babak III. Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Ginting, dan Jonatan Christie ditaklukan lawan-lawannya dalam pertandingan yang dilaksanakan di Auckland pada Kamis waktu setempat.

Ihsan, yang jadi ujung tombak karena rankingnya tertinggi, 31, dipaksa harus mengakui ketangguhan Shi Yuqi dari Tiongkok dengan dua game langsung 21-19, 21-16. Secara ranking, Ihsan unggul jauh.

Lawannya hanya berada di posisi 66. Sayang, itu tak berpengaruh saat kedua pebulu tangkis bersua di lapangan.

Sama halnya dengan Anthony. Dia dipermalukan wakil Jepang Riichi Takeshita dengan rubber game 21-12, 15-21, 16-21.

Ranking pahlawan Indonesia di Kejuaraan Beregu Asia 2016 tersebut jauh di atas lawannya. Anthony  yang duduk di posisi 33 dan lawannya masih terpuruk di 143 atau 110 setrip di bawahnya. Hanya, dalam tiga kali pertemuan sebelumnya, Anthony hanya menang sekali.

Pil pahit juga ditelan Jonatan Christie. Unggulan ketujuh ini tumbang tiga game 24-22, 15-21, 15-21 kepada Qiao Bin.

Tentu, ini bisa menjadi lampu kuning bagi Tim Thomas Indonesia. Alasannya, ketiganya merupakan pilar merah putih dalam ajang beregu putra yang akan dilaksanakan di Tiongkok pada 15-22 Mei  tersebut. (*)

Sang Tricky Optimistis Beri Emas

Rabu, 23 Maret 2016

Tri Kusharjanto (foto:djarum)
JAWA Timur sudah menunjuk Tri Kusharjanto sebagai pelatih. Dia dipercaya memoles nomor ganda.

Pilihan ini sangat tepat karena Trikus, begitu dia disapa, merupakan salah satu legenda hidup nomor ganda Indonesia. Hanya, menjadi pelatih di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan pertama baginya. Berikut petikan wawancara dengan lelaki yang mendapat julukan tricky (cerdik) saat masih berkarir sebagai atlet tersebut.

Siang?
-Sore (Trikus telat jawab pesan yang dikirim kepadanya)

Jadi pelatih Jatim sekarang
-Iya. Tapi, saya khusus menangani yang di Jakarta

Kenapa?
-Ini karena para pemain ganda Jatim kan banyak yang di Pelatnas Cipayung. Mereka lah yang akan turun di PON

Kalau latihan di mana?
-Cibitung.(sebuah daerah yang masuk dalam wilayah Bekasi, Jawa Barat)

Seminggu latihan berapa kali?
-Kalau atlet kan setiap hari di Cipayung (Jakarta Timur).Cuma Rabu dan Sabtu sore mereka libur.  Pokoknya latihannya di luar pelatnas

Optimis Jatim bisa meraih emas?
-Insya Allah bisa emas


Pebulu tangkis Jatim khusus ganda memang ada di Pelatnas Cipayung. Mereka antara lain Ade Yusuf, Riky Widianto, dan Kevin Sanjaya. (*)

Saatnya Anthony Ginting Samakan Kedudukan

BABAK II: Anthony Ginting (foto;PBSI)
ANTHONY Ginting ketemu lawan tangguh di babak III Selandia Baru Grand Prix Gold 2016. Penghuni Pelatnas Cipayung tersebut bakal berhadapan dengan Riichi Takeshita asal Jepang.

Keduanya berjumpa usai melibas lawan-lawannya di babak II turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut. Anthony, yang diunggulkan di posisi keenam, menang dua game langsung 21-14, 21-9 atas Lin Yu Hsien dari Taiwan dalam pertandingan yang dilaksanakan di Auckland pada Rabu waktu setempat (23/3/2016).. Sedangkan Takeshita juga menang straight game 21-10, 21-14 atas pebulu tangkis tuan rumah Tang Huaidong.

Selama ini, Anthony sudah tiga kali bertemu dengan Takeshita. Hasilnya, dia baru sekali memenangkan pertandingan.

Hanya, hasil positif tersebut dipetiknya dalam pertandingan terakhir yakni di Hongkong Super Series 17 November 2015. Ketika itu, Anthony menang rubber game 14-21, 21-9, 21-12.

Dua kekalahan ditelannya di Taiwan Grand Prix Gold 2014 dengan 17-21, 21-23 dan di Korea Super Series 2015 dengan 15-21, 21-17, 16-21.

Di atas kertas, sebenarnya Anthonya bisa menyamakan kedudukan. Saat ini, ranking yang dimiliki jauh di atas wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, tersebut.

Dalam rilis terakhirnya 17 Maret 2016, tunggal ketiga Piala Thomas 2016 itu ada di posisi 32. Sedangkan Takeshita terpuruk di 135.

Sukses menembus babak III tunggal putra juga dilakukan oleh dua rekannya Anthony di Pelatnas Cipayung, Ihsan Maulana Mustofa dan Jonatan Christie. (*)

Ubah Komposisi Sektor Ganda

MASUK: Gideon Markus/Kevin Sanjaya (foto:BWF)
TIM Thomas Indonesia mulai menata kekuatan. Tujuannya agar merah putih bisa kembali berkibar dalam ajang yang tahun ini dilaksanakan di Kunshan, Tiongko, pada 15-22 Mei 2016 tersebut.

Salah satunya dengan membongkar komposisi di nomor ganda. Kini, ada pasangan Gideon Markus ''Sinyo'' Fernaldi/Kevin Sanjaya.

''Keduanya sudah dipersiapkan ke putaran final. Mereka akan mendampingi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Angga Pratama/Ricky Karanda,'' terang Wakil Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto.

Dengan masuknya pasangan yang kini menempati 16 dunia tersebut, otomatis pasangan Rian Agung/Berry Anggriawan terpental.

''Berdasar beberapa kali penampilan terakhir, kami melihat Gideon/Kevin lebih konsisten,'' ungkap Budi, sapaan karib Achmad Budiharto.

Kali terakhir, dalam All England Super Series Premier 2016, keduanya nyaris mempermalukan pasanan tangguh Tiongkok Fu Haifeng/Zhang Nan. Sayang, Gideon/Kevin menyerah 14-21, 21-19, 17-21.

Di Piala Thomas 2016, nomor ganda dianggap sebagai kunci untuk merealisasikan Indonesia menjadi juara. Di tunggal, merah putih mayoritas diperkuat pebulu tangkis muda usia yang masih minim pengalaman.

Di sektor ini, hanya Tommy Sugiarto yang dianggap senior. Sayang, penampilannya masih sering angin-anginan.

Di Piala Thomas 2016,Indonesia menghuni Grup B bersama dengan India, Thailand, dan Hongkong. Menariknya, ketiga negara tersebut semua pernah dikalahkan dalam Kejuaraan Beregu Asia 2016 yang juga menjadi babak kualifikasi Piala Thomas. (*)

Lindaweni Sendirian di Negeri Kiwi

Selasa, 22 Maret 2016

Lindaweni saat di All England 2016 (foto;PBSI)
SUDAH empat turnamen diikuti Lindaweni Fanetri. Hasilnya, tak ada yang memuaskan.

Capaian tertinggi hanya sampai menembus babak perempat final Malaysia Grand Prix Gold 2016. Sementara lainnya, di India Grand Prix Gold,Jerman Grand Prix Gold, dan All England Super Series Premier. Lindaweni sudah rontok di babak awal.

Di India, dia langsung tersingkir di babak I oleh Nichaon Jindapol dari Thailand dengan 16-21,18-21. Kemudian, di Jerman, atlet Suryanaga Surabaya tersebut takluk dua game langsung 10-21, 17-21 kepada Wang Shixian (Tiongkok). Terakhir, Lindaweni  menyerah di babak kedua dengan 11-21, 10-21 kepada wakil Jepang Nozomi Okuhara.

Kans untuk melangkah lebih jauh terbuka di Selandia Baru Grand Prix Gold 2016. Dia ditempatkan sebagai unggulan keempat dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Di babak I, tunggal putri gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut hanya berjumpa dengan Airi Mikkela dari Finlandia. Kedua pebulu tangkis belum pernah berjumpa.

Nah, di babak kedua, Lindaweni harus mulai waspada. Dia akan menunggu pemenang antara Chen Yufei dari Tiongkok dengan Joy lai.

Diperkirakan Chen akan memenangi pertandingan. Bisa jadi, dia jadi pengganjal Lindaweni. Selama ini, wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, selalu menjadi pengganjal.

Di Negeri Kiwi, julukan Selandia Baru, di sektor tunggal putri, Lindaweni menjadi satu-satunya wakil. (*)

Trio Muda Cipayung Berjuang di Selandia Baru

CARI POIN: Ihsan Maulana Mustofa (foto:PBSI)
TRIO masa depan Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Ginting, dan Jonatan Christie, ditempa kemampuan. Ini sebagai salah satu langkah mempersiapkan diri menghadapi putaran final Piala Thomas 2016 di Tiongkok pada Mei mendatang.

Saat ini, ketiganya tengah bertarung dalam Selandia Baru Grand Prix. Hasilnya, sementara, mereka mampu melewati jeratan babak I.

Ihsan, yang diunggulkan di posisi kelima, menang WO atas Zulhelmi Zulkifli dari Malaysia. Di babak II, dia ditantang wakil Shih Kuei Chun dari Taiwan, yang di babak pertama menang 21-11, 21-13 atas Oscar Guo (Selandia Baru).

Kemudian, Anthony, unggulan keenam, unggul atas Kuo Ching-Hung (Taiwan) dengan 21-17, 21-14. Di babak berikut, dia kembali berjumpa dengan wakil Taiwan lainnya, Lin Yu Hsien, yang di babak I menang mudah atas pebulu tangkis tuan rumah Cham Chen.

Sedangkan, Jonatan, yang unggulan ketujuh, menang mudah 21-4, 21-5 atas Niklas Borg-Sigg (Swedia). Dia sudah ditunggu wakil Filipina Mark Shelly yang di babak I melibas Nicollo Tagle (Selandia Baru) 21-14, 21-14.

Di atas kertas, seharusnya langkah ke babak III bakal mudah. Ketiga lawannya secara kualitas masih di bawah Ihsan, Anthony, dan Jonatan.

Pada 2015, Ihsan, Anthony, dan Jonatan tak ikut ambil bagian. Tahun lalu, gelar juara tunggal putra Selandia Baru Grand Prix jatuh ke tangan pebulu tangkis gaek asal Korea Selatan Lee Hyun-il. (*)

Waspadai Tunggal India

SATU: K. Srikanth jadi tunggal pertama (foto:indiaexpress)
TUGAS berat sudah menghadang Tim Piala Thomas Indonesia 2016. Di babakpenyisihan, merah putih berada satu grup dengan India, Thailand, dan Hongkong.

Keempat negara akan menjadi penghuni Grup B. Di atas kertas, India punya kekuatan yang menakutkan di sektor tunggal.

Mereka mempunyai Kidambi Srilkanth yang terakhir di posisi 10 dunia, Parupalli Kashyap (17), dan Ajay Jayaram (20). Selain itu,  India masih mempunyai HS Prannoy (27), dan Sai Praneeth (34).

“India memang kuat di sektor tunggal, namun kami pernah mengalahkan India waktu di penyisihan Kualifikasi Piala Thomas 2016,” kata Rexy Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, menanggapi kekuatan India seperti dikutip situs PBSI

Ya, dalam Kejuaraan Asia 2016 yang dilaksanakan di Hyederabad, India, yang sekaligus perebutan tiket putaran final Piala Thomas-Uber, Hendra Setiawan dkk menyikat tuan rumah 1-3. Saat itu, Indonesia kehilangan satu angka dari Tommy Sugiarto yang dipercaya turun sebagai tunggal pertama.

Thailand pun juga dihadapi Indonesia di Kejuaraan Beregu Asia 2016. Hanya, ketika itu, kedua negara bertemu di babak penyisihan.

Sama-sama menghuni Grup C, merah putih unggul 4-1. Satu angka yang lepas dari tunggal kedua saat Ihsan Maulana Mustofa menyerah kepada Tanongsak Saensomboonsuk.Sedangkan Hongkong dilibas Indonesia 3-0 di babak perempat final.

Undian Piala Thomas dan Uber 2016 berlangsung di Tonino Lamborghini Hotel, Kunshan, Tiongkok, pada Senin waktu setempat (21/3/2016) pagi.
Ajang perebutan trofi beregu putra dan putri paling bergengsi di dunia ini akan dilangsungkan di Kunshan pada 15-22 Mei 2016.


Pembagian Grup Piala Thomas dan Piala Uber 2016:



Piala Thomas

Grup A: Tiongkok, Jepang, Perancis, Meksiko

Grup B: Indonesia, India, Thailand, Hongkong

Grup C: Korea, Malaysia, Inggris, Jerman

Grup D: Denmark, Taiwan, Selandia Baru, Afrika Selatan



Piala Uber

Grup A: Tiongkok, Denmark, Spanyol, Malaysia

Grup B: Korea Selatan, Taiwan, Mauritius, Amerika Serikat

Grup C: Thailand, Indonesia, Bulgaria, Hongkong

Grup D: Jepang, India, Australia, Jerman

Turnamen Perdana usai Juara

Senin, 21 Maret 2016

Praveen/Debby di All England 2016 (foto:PBSI)
PASANGAN Praveen Jordan/Debby Susanto kembali ke luar dari sarang. Setelah mengundurkan diri dari Swiss Grand Prix Gold 2016, keduanya kembali turun ke lapangan di India Super Series.

Bahkan, dalam turnamen yang dilaksanakan di New Delhi pada 29 Maret-3 April tersebut, Praveen/Debby diunggulkan di posisi kelima. Hanya, dibandingkan sebelumnya, kini pasangan yang sama-sama berasal dari Djarum Kudus tersebut tantangannya lebih berat.

Kok bisa? Ini disebabkan Praveen/Debby sudah menyandang status juara turname paling bergengsi di muka bumi, All England. Semua lawan pasti ingin melibas mereka.

Dari undian yang sudah dirilis, di babak I India Super Series 2016, Praveen/Debby langsung bertemu pasangan Korea Selatan Kim Gi Jung/Shin Seung-chan. Praveen/Debby sudah sekali bertemu dengan wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut.

Hasilnya, mereka menang dua game langsung 21-14, 21-18. Tapi, wakil Korea Selatan biasanya tak mudah di kalahkan

Jika menang, langkah di babak II lebih ringan. Praveen/Debby menunggu pemenang partai antara pasangan tuan rumah Kapil Chaudhary/Smriti Nagarkoti melawan ganda yang lolos dari babak kualifikasi.

Selain Praveen/Debby, di nomor ganda campuran, Indonesia diwakili Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Riky Widianto/Richi Dili. Tontowi/Liliyana menjadi kandidat juara karena menempati unggulan teratas. (*)




Wakil Indonesia di India Super Series 2016
Tunggal putra
kualifikasi: Sony Dwi Kuncoro
utama: Tommy Sugiarto (x8)

Tunggal putri
kualifikasi:-
utama: Lindaweni Fanetri,Maria Febe Kusumastuti

Ganda putra
kualifikasi: -
utama: Angga Pratama/Ricky Karanda (x7), Markus Fernaldi/Kevin Sanjaya

Ganda putri:
kualifikasi: -
utama:Greysia Polii/Nitya Krishinda (x1),Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi

Ganda campuran: -
utama: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (x1), Praveen Jordan/Debby Susanto (x5),Riky Widianto/Richi Dili

x-unggulan

Mantan Penghuni Cipayung Akhiri Lajang

PELAMINAN: Febri dan Lili
STATUS Febriyand Irvannaldy sudah berganti. Dia sudah bukan lagi sebagai lelaki single.

Itu dikarenakan lelaki yang akrab disapa Febri tersebut mempersunting Liliana Cindy Arikia dalam resepsi yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kogartap, Surabaya, pada Minggu (20/3/2016). Acara yang dilaksanakan mulai pukul 09.30 hingga 12.00 tersebut berlangsung meriah.

Rekan-rekan Febri di klub Wima, Surabaya, mayoritas hadir, termasuk juga pelatih yang memolesnya sejak kecil Ferry Stewart. Bahkan, mantan tunggal putra terbaik Indonesia sekaligus peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 Sony Dwi Kuncoro juga hadir.

Keduanya memang punya ikatan kuat. Sony merupakan senior Febri di Wima.

Menariknya, acara pernikahan tersebut dilaksanakan di saat jeda kompetisi Kanada . Ya, sejak akhir 2015, lelaki 25 tahun tersebut dikontrak klub di negara Amerika Utara itu, Oriental.

''Awal April, saya balik lagi ke Kanada. Tapi, kini baliknya tak sendiri. Istri saya ajak ke sana,'' ungkap Febri.

Febri merupakan salah satu atlet Surabaya yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung. Sayang, kerasnya persaingan di kawah candradimuka olahraga bulu tepok tersebut membuat dia harus dikembalikan ke klub.

Sebelum di Cipayung, sejak usia 13, dia sudah berada di Singapura. Saat memasuki usia remaja, dia memilih balik ke Indonesia karena menolak menjadi warga negara Negeri Singa tersebut.

Selamat menempuh hidup baru Feb. (*)

Bekal Menuju India Super Series

Prannoy naik ke podium juara di Swiss (foto: sportskeeda)
HS Prannoy sempat menarik perhatian dalam Indonesia Masters 2014. Dalam ajang yang masuk kategori grand prix gold tersebut, pebulu tangkis India tersebut mampu menjadi juara.

Dalam final yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, pada 14 September tersebut, Prannoy melibas wakil Indonesia Firman Abdul Kholik dengan straight game 21-11, 22-20. Sayang, setahun kemudian, saat digelar di Malang, Jawa Timur, lelaki yang kini berusia 24 tahun tersebut gagal mempertahankan gelar.

Dia sudah tersingkir di babak kedua. Prannoy menyerah rubber game 12-21,22-20, 13-21 kepada Shi Yuqi dari Tiongkok. Hasil itu sekaligus membuat dia gagal total selama setahun tanpa gelar.

Namun, dalam 2016, Prannoy tak perlu menunggu lama untuk naik ke podium terhormat. Pebulu tangkis yang kini duduk di peringkat 27 dunia tersebut menjadi pemenang nomor tunggal putra dalam Swiss Grand Prix Gold.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Basel pada Minggu waktu setempat (20/3/2016), Prannoy, yang diunggulkan di posisi ke-13, itu menghentikan perlawanan Marc Zwiebler, unggulan ketujuh asal Jerman, dengan 21-18, 21-15.

Kemenangan tersebut juga bisa menjadi bekal baginya untuk tampil di kandang sendiri dalam India Super Series yang dilaksanakan dua pekan lagi. Ajang berhadiah total USD 300 ribu tersebut bergulir pada 29 Maret-3 April. (*)

Distribusi gelar Swiss Grand Prix Gold 2016

Tunggal putra: HS Prannoy (India x13) v Marc Zwiebler (Jerman x7) 21-18, 21-15

Tunggal putri: He Bingjiao (Tiongkok) v Wang Yihan (Tiongkok x3) 21-16, 21-10

Ganda putra: KIm Astrup/Anders Skaarup (Denmark) v Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (Taiwan x4) 21-8, 21-15

Ganda putri: Shizuka Matsuo/Mai Naito (Jepang x5) v Naoko Fukuman/Kurumi Yonao (Jepang x3) 21-16, 12-21, 21-12

Ganda campuran: Wang Yilyu/Chen Qingchen (Tiongkok) v Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand) 19-21,21-16, 21-15

x=unggulan

Kegagalan Kembali Hampiri Saina

Minggu, 20 Maret 2016

Saina Nehwal jeblok di Swiss (foto: indiaexpress)
KEGAGALAN kembali menghampiri Saina Nehwal. Tunggal putri andalan India tersebut tak bisa meraih juara dalam Swiss Grand Prix Gold 2016.

Langkahnya sudah terhenti di babak semifinal turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut. Saina harus mengakui ketangguhan Wang Yihan (Tiongkok)dengan 21-11, 21-19 dalam laga yang dilaksanakan di Basel pada Sabtu waktu setempat (19/3/2016)

Pil pahit itu merupakan kali kedua secara beruntun pada pembuka 2016. Pekan lalu, Saina juga menyerah di babak perempat final All England di Birmingham, Inggris.

Sebenarnya, Swiss Grand Prix Gold 2016 diharapkan menjadi obat penawar luka. Apalagi, Saina ditempatkan sebagai unggulan teratas.

Kekalahan dari Wang Yihan membuat perempuan 26 tahun tersebut gagal menambah rekor kemenangannya. Kini, dari 13 kali pertemuan, dia sembilan kali keluar lapangan dengan kepala tertunduk.

Meski, dalam tiga laga terakhir, Saina selalu menundukkan wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut yakni di Thailand Grand Prix Gold 2015, Kejuaraan Dunia 2015, dan All England Super Series Premier 2015.

Penampilan Saina sendiri memang tengah redup. Selama 2015, dia hanya mengantongi satu gelar yakni India Grand Prix Gold di awal musim

Imbasnya, rankingnya pun terus merosot. Sempat berada di posisi puncak, kini Saina ada di ranking keenam (*)

Dominasi Ardiansyah/Devi Patah

NOMOR ganda campuran di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) selalu menjadi milik Ardiansyah/Devi Tika. Hampir semua seri selalu menjadi milik duet yang membela bendera Berkah Abadi Banjarmasin tersebut.

Kehadiran mantan pasangan nomor delapan dunia Markis Kido/Pia Zebadiah pun tak banyak memberi pengaruh. Pasangan asal Jaya Raya Jakarta tersebut dibuatnya tak berdaya.

Ardiansyah/Devi pun memulai 2016 kembali dengan menjadi raja di Sirnas Seri Kalimantan yang dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Wajar kalau di Seri Sulawesi yang dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan,keduanya kembali menjadi kandidat kuat. Meski, sebenarnya, Ardiansyah/Devi hanya menempati unggulan ketiga.

Kans mengulangi sukses itu pun sudah di depan mata. Pasangan yang sama-sama pernah merasakan gemblengan di Pelatnas Cipayung tersebut masuk ke babak final.

Sayang, hasil di babak pemungkas tak sesuai harapan. Ardiansyah/Devi menyerah kepada Irfan Fadilah/Weni Anggraeni, yang diunggulkan di posisi teratas.

Dalam babak final yang dilaksanakan Sabtu Wita (19/3/2016) tersebut, pasangan asal Jaya Raya itu menang rubber game 21-12,20-22, 21-17. (*)




Hasil Final Sirnas Seri Sulawesi 2016 (kelompok dewasa)

Tunggal putra: Rifan Fauzin Ivanudin (ISTC x1) v Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma x4) 21-9, 21-19

Tunggal putri:Hera Desi (Mutiara x1) v Febby Angguni (Tjakrindo Masters x2) 8-21, 21-13, 21-7

Ganda putra:Agripina Primarahmanto/Andrei Adistia (Jaya Raya/Djarum) v Fran Kurniawan/Fernando Kurniawan (Djarum x3) 21-19, 26-24

Ganda putri: Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina x2) v Aris Budiharti/Ery Octaviani (Jaya Raya) 21-12, 21-17

Ganda campuran:Irfan Fadilah/Weni Anggraeni (Jaya Raya x1) v Ardiansyah/Devi Tika (Berkat Abadi x3) 21-12, 20-22, 21-17

x=unggulan 

Trikus Masuk Jajaran Pelatih Jatim

Sabtu, 19 Maret 2016

LEGENDA: Tri Kusharjanto (foto;djarum)
TIM bulu tangkis Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jatim dalam suntikan. Bukan dalam bentuk dana segar tapi ilmu.

Salah satu pebulu tangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia Tri Kusharjanto bergabung dalam jajaran pelatih. Bahkan, dia sudah melaksanakan tugasnya.

''Trikus (sapaan karib Tri Kusharjanto) menangani dan mengawasi anak-anak Jatim yang ada di Jakarta, khususnya di Pelatnas,'' kata Ketua Umum Pengprov PBSI Jatim Wijanarjo Adi Mulya.

Tapi, tambahnya, bukan berarti Trikus tak mengunjungi latihan yang ada di Surabaya. Kehadirannya, tambah Wijar, sapaan karib Wijanarko, tetap dibutuhkan bagi skuad Jatim yang ada di Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Ya, Tim Jatim sendiri memang terbagi menjadi dua. Selain di Surabaya juga ada yang berstatus berlatih di ibu kota. Ini disebabkan mereka berada di Pelatnas Cipayung seperti Ade Yusuf, Ronald Alexander, Kevin Sanjaya, maupun Riky Widianto.

Selain itu, sebelumnya, di jajaran pelatih di Surabaya ada nama Koko Pambudi dan Aril. Masuknya Trikus diharapkan mampu memompa teknik dan semangat pebulu tangkis Jatim.

Tujuannya tentu Jatim bisa meraih emas dalam PON 2016 yang dilaksakan di Bandung, Jawa Barat. Selama ini, emas seperti menjadi hal yang susah dibawa pulang ke provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut Padahal, kesempatan tersebut sudah beberapa kali ada di depan mata

Trikus sendiri merupakan legenda hidup olahraga bulu tepok tersebut. Dia merupakan finalis nomor ganda campuran Olimpiade Sydney 2000 bersama Minarti Timur.

Lelaki 42 tahun itu pun merupakan anggota Tim Piala Thomas Indonesia yang kali terakhir menjadi juara pada 2002. (*)

Kali Pertama Rasakan Semifinal GPG

WO: Henri Hurskainen (foto:badzine)
USIANYA sudah 30 tahun Tapi, selama itu, Henri Hurskainen belum pernah merasakan menembus babak-babak akhir turnamen bergengsi

Level international series dan challenge menjadi sarapan setiap tahun yang diikuti. Untuk level grand prix atau grand prix gold, lelaki asal Swedia tersebut hanya sebagai penggembira.

Tapi, lain halnya dalam Jerman Grand Prix Gold 2016. Henri mampu menembus babak semifinal turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut

Bahkan, tiket tersebut diperoleh tanpa memeras keringat. Henri menang WO karena lawannya Xue Song asal Tiongkok tak turun ke lapangan

Tapi, melaju terus hingga ke babak final bukan tugas yang mudah. Henri akan berjumpa dengan mantan juara tunggal putra Eropa Marc Zwiebler dari Jerman yang di perempat final menumbangkan unggulan kedua Chou Tien Chen dari Taiwan dalam pertarungan ketat tiga game 21-23,21-14, 21-19.

Dari segi ranking, Henri kalah jauh. Saat ini, Zwiebler bertengger di 19 dunia sedangkan dia di posisi 67.

Ironisnya lagi, dalam tujuh kali pertemuan sebelumnya, dia juga tak pernah menang. Kekalahan terakhir ditelannya di Praha Open 2015 dengan 15-21, 18-21.

Semifinal tunggal putra lainnya dalam Swiss Grand Prix Gold 2016 mempertemukan HS Prannoy dari India melawan Wang Tzu Wei (Taiwan).

Di nomor tunggal putra ini, Indonesia mengirimkan dua pebulu tangkis mudanya, Fiman Abdul Kholik dan Muhammad Bayu Pangisthu Tapi, keduanya sudah tumbang di babak awal. (*)

Final Ideal Gagal Terjadi

Jumat, 18 Maret 2016

PENAKLUK: Setyaldi Putra Wibowo (foto:PBSI)
DOMINASI Wisnu Yuli Prasetyo di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) berakhir. Langkahnya terhenti di babak semifinal Seri Sulawesi.

Mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut menyerah dua game langsung 13-21, 12-21 kepada Setyaldi Putra Wibowo dari Guna Dharma dalam pertandingan yang dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat waktu setempat (18/3/2016). Sebenarnya, di atas kertas, Wisnu lebih punya kans menjadi juara

Lelaki yang kini bernaung di bawah bendera Djarum Kudus tersebut merupakan unggulan teratas. Selain itu, dalam sirnas sebelumnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Wisnu juga mampu menjadi juara.

Dengan tumbangnya pebulu tangkis yang sebelumnya dibesarkan di Surya Baja, Surabaya, tersebut, maka peluang menjadi pemenang ada di pundak Rifan Fauzin Ivanudin. Unggulan kedua asal ISTC Sukabumi tersebut menghentikan rekan klub Wisnu yang juga unggulan ketiga Shesar Hiren Rustavito dengan straight game 22-20, 21-11.

Sebelum Wisnu dominan dalam tiga sirnas terakhir, Rifan sempat menguasai dua seri awal pada 2015. Sayang, itu gagal dipertahankannya. (*)

Agenda final Sirnas Seri Sulawesi (kelompok dewasa)

Tunggal putra:Setyaldi Putra Wibowo (Guna Dharma) v Rifan Fauzin (ISTC Sukabumi)

Tunggal putri: Hera Desi (Mutiara Bandung) v Feby Angguni (Tjakrindo Masters Surabaya)

Ganda putra:Agripina Putra Rahmanto/Andrei Adistia (Jaya Raya/Djarum) v Fran Kurniawan/Fernando Kurniawan (Djarum)

Ganda putri: Aris Budiharti/Ery Oktaviani (Jaya Raya) v Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina)

Ganda campuran: Ardiansyah/Devi Tika (Berkat Abadi Banjarmasin) v Irfan Fadilah/Weni Anggraeni (Jaya Raya)

Sampai Perempat Final tanpa Keringat


Devi Tika/Keke tak punya lawan di dua laga awal (foto;PBSI)
ENAK benar Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita Hanadia. Tanpa mengeluarkan keringkat, keduanyaa sudah sampai babak perempat final Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Sulawesi 2016.

Di babak I, Devi/Keke, sapaan karib Keshya Nurvita, melenggang karena memperoleh bye. Nah, kali ini, di babak II yang dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, lawannya yang berasal dari PB Sinjai Asriaty/Suparmi tak hadir di lapangan.

Namun, untuk bisa lolos tanpa bertanding lagi sudah tak bisa. Di perempat final, unggulan teratas tersebut sudah dinanti pasangan Mutiara Bandung Suci Rizky Andini/Yulfira Barkah. Di babak II, keduanya menundukkan Liska Ayu Ningsih/Nurul Azisah (Pelatprov Sulsel) dengan 21-5, 21-13.

Di ajang sirnas, Devi/Keke nyaris tak terbendung. Pasangan yang mengibarkan bendera PB Berkat Abadi Banjarmasin tersebut hampir selalu juara.

Bahkan, tahun lalu, keduanya mencatat prestasi fenomenal. Devi/Keke mampu menembus Kejuaraan Dunia dengan membawa nama Indonesia.

Ini disebabkan keduanya rutin mengikuti ajang internasional. Tahun ini, keduanya baru berlaga di dua ajang internasional Malaysia Grand Prix Gold dan Thailand Grand Prix Gold.

Hasilnya, Devi/Keke hanya sampai di babak kedua. Ini membuat ranking keduanya melorot dan berada di posisi 48 dunia. (*)

Lin Dan Geser Rival

Lin Dan  di All England 2016 (foto;dailymail)
KEBERHASILAN menjadi juara All England 2016 membawa perubahan signifikan bagi Lin Dan. Juara nomor tunggal putra turnamen berhadiah total USD 550 ribu tersebut melonjak dua setrip ranking dunianya.

KIni, dalam daftar peringkat yang diliris BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut, Lin Dan sudah ada di posisi kedua. Dia menggusur posisi sahabat sekaligus rivalnya di lapangan, Lee Chong Wei, asal Malaysia.

Memang, untuk menggeser peringkat pertama yang ditempati sesama pebulu tangkis Tiongkok Chen Long masih berat. Poinnya masih berbeda jauh.

Chen Long, yang gagal di babak kedua All England 2016, memiliki poin 92.351. Sementara, Lin Dan baru mengoleksi 79.537.

Tapi, bukan berarti tempat Chen Long tak bisa digantikan. Saat ini, Super Dan, julukan Lin Dan, tengah on fire.

Suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang tersebut mampu menjadi juara dalam dua turnamen beruntun di awal 2016. Sebelum di All England, Lin Dan naik ke podium terhormat di Jerman Grand Prix Gold yang dilaksanakan sepekan sebelumnya.

Di posisi 10 besar, Indonesia masih menempatkan Tommy Sugiarto. Meski, di All England, dia tampil jeblok dan hanya mampu bertahan hingga babak II. (*)

Daftar 10 besar dunia tunggal putra

1. Chen Long (Tiongkok)

2. Lin Dan (Tiongkok)

3. Lee Chong Wei (Malaysia)

4. Kento Momota (Jepang)

5. Viktor Axelsen (Denmark)

6. Jan O Jorgensen (Denmark)

7. Tian Houwei (Tiongkok)

8. Chou Tien Chen (Taiwan)

9. Tommy Sugiarto (Indonesia)

10. Kidambi Srikanth (India)

*Sumber: BWF

Tamat Wakil Indonesia

PULANG: Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja (foto:djarum)
TUNTAS sudah langkah wakil Indonesia di Swiss Grand Prix Gold 2016. Dua wakil yang masih bertahan, Muhammad Bayu Pangisthu di tunggal putra dan pasangan ganda campuran Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja tersungkur dalam pertandingan yang dilaksanakan di Basel pada Kamis waktu setempat (17/3/2016).

Bayu,sapaan karib Muhammad Bayu Pangisthu, menyerah dua game langsung kepada Xue Song dengan dua game langsung 16-21, 11-21 di babak III. Sebelumnya, rekan latihan Bayu di Pelatnas Cipayung Firman Abdul Kholik sudah tersungkur di babak II. Dia dipermalukan wakil Thailand Tanongsak Saensomboonsuk dengan 21-17, 16-21, 4-21.

Sementara Edi/Gloria, yang diunggulkan di posisi kedelapan, harus mengakui ketangguhan wakil Taiwan Liao Min Chun/Chen Hsiao Huan dengan 24-26,21-14 19-21. Di babak perdana, pasangan Pelatnas Cipayung Ronald Alexander/Melati Daeva sudah angkat koper.

Di Swiss Grand Prix Gold 2016 ini, Indonesia urung menampilkan kekuatan terbaik, khususnya di ganda campuran. Dua wakil terkuat, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto, batal berlaga dalam turnamen yang menyediakan hadiah USD 120 ribu.

Keduanya langsung ditarik kembali ke Indonesia usai berlaga di All England 2016. Dalam ajang tersebut, Praveen/Debby mampu keluar sebagai juara.

Kini, keduanya langsung dipersiapkan menghadapi India Super Series yang dilaksanakan akhir Maret mendatang. (*)

Saina Cari Pelampiasan Kegagalan

Kamis, 17 Maret 2016

TERATAS: Saina Nehwal
PARA pebulu tangkis top dunia banyak yang memilih mundur dari Swiss Grand Prix Gold 2016. Tapi, beda dengan Saina Nehwal.

Tunggal putra andalan India tersebut memilih berlaga dalam ajang yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut. Tujuannya tentu mencari poin guna mengamankan posisinya di ranking kedua.

Apalagi, dalam All England 2016, Sania tampil jeblok. Gadis 26 tahun tersebut tak bisa meraih juara.

Sebagai unggulan kedua, Saina sudah tersingkir di babak ketiga. Dia dipermakukan wakil Taiwan Tai Tzu Ying dengan dua game langsung 15-21, 16-21.

Kini,Saina mencari pelampiasan. Sebagai unggulan teratas tentu berambisi menjadi juara di Swiss Grand Prix Gold 2016.

Langkah awal dilaluinya dengan mulus. Dalam pertandingan babak I yang dilaksanakan di Basel pada Rabu waktu setempat (16/3/2016), Sina menundukkan Karin Schanaase dari Jerman dengan dua game langsung 21-7, 21-15.

Ini menjadi kemenangan kedua Saina atas lawannya yang berperingkat 26 dunia. Sebelumnya, peraih perunggu Olimpiade London 2012 tersebut unggul di Denmark Super Series 2014.

Di babak kedua, Saina akan ditantang Kristina Gavnholt.Wakil Rep Ceko tersebut menyingkirkan mantan ratu Eropa Petya Nedelcheva (Bulgaria) dengan 12-21, 21-9, 21-8. Laga tersebut merupakan pertemuan perdana kedua pebulu tangkis beda benua itu. (*)

Sudah Langsung Persiapan India Super Series

Rabu, 16 Maret 2016

GANTI BIDIKAN: Praveen Jordan/Debby Susanto
SAMBUTAN diberikan kepada Praveen Jordan/Debby Susanto. Begitu mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, keduanya sudah ditunggu Kemenporam pengurus PP PBSI, serta awak media.

Apresiasi itu menyusul sukses Praveen/Debby menjadi juara di turnamen paling bergengsi di dunia, All England. Mereka menjadi pemenang nomor ganda campuran usai menundukkan wakil Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dengan dua game langsung 21-12, 21-17 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Birmingham,Inggris, pada Minggu waktu setempat (13/3/2016).

"Kami bangga sekali bisa jadi juara di All England, apalagi ini kejuaraan tertua di bulutangkis. Siapa. Kami mengucap syukur atas gelar ini," tutur Praveen seperti dikutip media PBSI.

Dia tak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Lelaki yang juga biasa disapa Ucok tersebut hasil tersebut seperti mimpi yang jadi kenyataan.

Apalagi, awalnya,Praveen/Debby tak masuk hitungan juara. Meski, keduanya ada dalam daftar unggulan kedelapan.

Pasangan seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang lebih digadang-gadang menjadi pemenang. Sekaligus akan menjadi gelar keempatnya setelah meraih hasil manis pada 2012, 2013, dan 2014.

Sayang, langkah Tantowi/Liliyana jeblok. Keduanya tersandung di babak perempat final oleh wakil tuan rumah, pasangan suami istri Chris Adcock/Gabrielle Adcock.

Praveen/Debby tak bisa lama-lama merayakan euforia kemenangan di All England 2016. Rencana,
Praveen/Debby rencananya bakal langsung kembali ke Pelatnas Cipayung untuk mengikuti latihan. Mereka akan kembali bersiap menuju turnamen selanjutnya yaitu India Open Super Series 2016. (*)

Dua Unggulan Teratas Kehilangan Satu Game

UNGGULAN II: Rifan Fauzin Ivanudin (foto:djarum)
TAHUN lalu, Rifan Fauzin Ivanudin pesta gelar. Dalam dua seri awal sirkuit nasional (Sirnas) 2015, dia mampu menjadi juara.

Sayang, konsistensi tersebut gagal dipertahankan. Setelah itu, dia gagal dari berbagai sirnas yang diikuti.

Apalagi, semakin lama persaingan semakin ketat. Para mantan penghuni Pelatnas Cipayung ikut turun ke lapangan.

Dimulai dari Sony Dwi Kuncoro yang kemudian diikuti oleh Wisnu Yuli Prasetyo. Belum lagi kehadiran raja sirnas Alamsyah Yunus yang juga pernah menjadi digembleng di Pelatnas Cipayung.

Di akhir Sirnas 2015, Wisnu menjadi sosok yang merajai. Itu kembali diulangi pada tahun ini.

Dengan bendera klub Djarum Kudus, tunggal putra asal Tulungagung tersebut sudah menjuarai Sirnas Seri Kalimantan.

Kini, Wisnu kembali hadir. Dengan ranking dunia 125, pebulu tangkis yang dibesarkan di PB Surya Baja Surabaya tersebut menempati unggulan teratas.

Rifan dan Wisnu diskenario bakal berjumpa di babak final. Langkah keduanya pun belum menemui hambatan berarti hingga babak III Sirnas Seri Sulawesi yang kini tengah berlangsung.

Hanya,di babak kedua yang dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa WIT (15/3/2016), Rifan dan Wisnu sama-sama harus bertarung tiga game. Rifan, yang kini bendendara ISTC Sukabumi, Jawa Barat, menundukkan Rahmad Kurniawan (SGS Bandung) dengan 16-21, 21-13, 21-12. Sementara. Wisnu menundukkan rekan klub Rifan,Rajid Patriawan, 21-13, 19-21, 21-12. (*)

Firman Jajal Peraih Emas SEA Games

Tanongsak sering jadi momok wakil Indonesia (foto:badzine)
DUA pebulu tangkis muda Indonesia mengawali Swiss Grand Prix Gold 2016 dengan mulus. Firman Abdul Kholik dan Muhammad Bayu Pangisthu mampu mengalahkan lawan-lawannya dalam pertandingan babak I yang dilaksanakan di Basel pada Selasa waktu setempat (15/3/2015).

Firman menang dua game 21-15, 21-9 atas Artem Pochtarev. Sedangkan Bayu, sapaan karib Muhammad Bayu Pangisthu, harus bertarung ketat selama dua game 21-18, 21-16 sebelum menyingkirkan Robert Mann dari Luksemburg.

Di babak kedua, tugas Firman bakal lebih berat. Dia akan menantang unggulan kedelapan asal Thailand Tanongsak Saensomboonsuk yang di babak I menang mudah 21-12, 21-10 atas Kim Bruun (ODenmark).

Selama ini, kedua pebulu tangkis tersebut belum pernah bertemu. Hanya, kemampuan Tanongsak tak bisa dipandang sebelah mata.

Dia merupakan juara tunggal putra SEA Games 2013. Tanongsak juga sering mengalahkan para senior Firman.

Secara ranking, dia masih kalah dibandingkan Tanongsak. Saat ini, Firman ada di posisi 84 dan wakil Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut di ranking ke-34.

Langkah Bayu di babak II akan coba dihadang atlet Asia Tenggara lainnya, Iskandar Zulkarnain. Lelaki asal Malaysia tersebut menang tiga game 18-21, 23-21,21-11 atas Scott Evans (Irlandia)

Bayu pun belum pernah bersua dengan wakil negeri jiran tersebut. Bayu yang masih terdampar di posisi 131 masih jauh rankingnya dibanding Zainudiin yang sudah di 40 besar dunia.

Dibandingkan tiga rekannya yang lain, Firman dan Bayu masih tercecer rankingnya. Ihsan Maulana Mustofa, Jonatan Christie, dan Anthony Sinisuka Ginting  sudah mampu berada di 30-an besar dunia. (*)

Masih Yakin Berbicara di Rio

Selasa, 15 Maret 2016

PAMOR Lin Dan kembali naik. Semua itu tak lepas dari keberhasilannya menjadi juara turnamen beruntun, Jerman Grand Prix Gold 2016 dan All England Super Series Premier 2016.

Hasil tersebut kembali menempatkan Lin Dan menjadi favorit meraih emas di Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, yang tinggal lima bulan lagi. Padahal, sebelumnya, lelaki 34 tahun tersebut sempat menuai hasil buruk di penghujung 2016.

Chong Wei fokus ke olimpiade (foto:xinhua)
Lin Dan kalah oleh Lee Chong Wei dari Malaysia di kandangnya sendiri dalam babak semifinal Tiongkok Super Series Premier 2015. Sepekan kemudian, dia malah tumbang di babak kedua Hongkong Super Series 2015 oleh wakil tuan rumah Ng Ka Long.

Sebenarnya, Chong Wei menjadi favorit menjegal Lin Dan meraih gelar keenamnya di All England. Tapi, dia malah terpuruk kalah di babak I dari Sai Praneeth.

Kegagalan tersebut juga membuat Chong Wei bergegas pulang ke Malaysia. Dia melewatkan kesempatan berlaga di Swiss Grand Prix Gold yang tengah bergulir.

Lelaki 33 tahun tersebut mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pada Selasa (15/3/2016). ''Lin Dan bermain bagus dalam dua turnamen terakhir. Ini berbeda dengan tahun lalu ketika itu dia tak berada di kondisi terbaik,'' ujar Chong Wei.

Ini, tambah dia, membuktikan bahwa para pebulu tangkis tak ada yang konsisten. Sehingga, semua punya kans yang sama di Rio nanti.

''Lima bulan bisa buat mempersiapkan diri ke olimpiade,'' pungkasnya. (*)

Recovery, Absen di Swiss

Praveen/Debby punya waktu mempersiapkan diri (fotoi;PBSI)
TAK ada nama Praveen Jordan/Debby Susanto di Swiss Grand Prix Gold 2016. Padahal, semula, keduanya akan ikut ambil bagian dalam kejuaraan yang dilaksanakan di Basel pada 15-20 Maret tersebut.

Ya, Swiss Grand Prix Gold memang masuk dalam kalender yang akan diikuti oleh pasangan ganda campuran nomor dua Indonesia tersebut. Turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut masuk satu rangkaian dengan ajang bergengsi All England 2016. Tapi, semua berubah. Usai menjuarai All England 2016, keduanya batal ikut ambil bagian.

‘’Praveen/Debby langsung ditarik balik ke Jakarta usai dari Inggris. Kami memberikan kesempatan recovery,’’ terang Wakil Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto.

Hal serupa juga diberikan kepada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Meski, di All England 2016, pasangan tersebut menuai hasil buruk.

Dalam event yang masuk kategori super series premier itu, Tontowi/Liliyana terhenti langkahnya di perempat final. Unggulan kedua tersebut dipermalukan pasangan tuan rumah Chris Adcock/Gabrielle Adcock. Di Swiss, keduanya juga ditempatkan sebagai unggulan teratas.

‘’Biar mereka fresh untuk turnamen super series berikutnya. Besar kemungkinan, kedua pasangan akan berlaga di India,’’ tambah Budi, sapaan karib Achmad Budiharto.

Dengan absennya dua pasangan tersebut, di nomor ganda campuran, Indonesia tinggal menyisakan Ronald Alexander/Melati Daeva dan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja. (*)

Beda dengan Kehadiran Herry IP

Senin, 14 Maret 2016

Herry IP memberi masukan Liliyana Natsir
TAK biasanya Herry Iman Pierngadi duduk di pojok saat Praveen Jordan/Debby Susanto bertanding. Biasanya, dia akan berada di tempat tersebut kalau Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan turun ke lapangan.

Itu wajar karena statusnya memang sebagai pelatih ganda putra. Tapi mengapa kini HerryIP, begitu dia disapa, menunggui nomor ganda campuran? Sudah pindahkah dia?

Padahal, di awal-awal pertandingan All England 2016, wakil Indonesia di nomor ganda campuran selalu didampingi Richard Mainaky. Bahkan, hingga pertandingan perempat final, dia masih memberikan intruksi dan arahan ketika Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, juara tiga kali nomor ganda campuran All England, turun ke lapangan menghadapi wakil Inggris Chris Adcock/Gabrielle Adcock.

''Richard pulang awal karena anaknya sakit. Jadi bukan Herry kini pindah ke nomor ganda campuran,'' ungkap Wakil Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto.

Tapi dengan pengalaman yang dimiliki, Herry mampu memberi masukan dan arahan yang tepat kepada Praveen/Debby. Saat melawan Zhang Nan/Zhou Yunlei, unggulan teratas sekaligus juara bertahan All England, dia mengingatkan agar Praveen tak boleh emosi dan main sikat. Sementara Debby disarankan agar bisa mengubah aliran shuttlecock agar tak mudah dipatahkan lawan.

Hasilnya, untuk kali pertama, Praveen/Debby bisa mengalahkan Zhang/Zhao yang juga merupakan pasangan nomor satu dunia. Padahal, sebelumnya, mereka tak pernah menang dalam tujuh kali pertemuan.

Herry memang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin di ganda putra. Dia mampu mencetak Hendra Setiawan/Markis Kido menjadi juara dunia 2007 dan peraih emas Olimpiade Beijing 2008.

Setelah itu, Hendra/Mohammad Ahsan pun dipolesnya menjadi juara All England 2014 dan juara dunia 2015. (*)

Langsung Dijamu Kedubes di Inggris

Tim Indonesia makan malam bersama kedutaan dan suporter
KEBERHASILAN Praveen Jordan/Debby Susanto mendapat apresiasi. Bahkan, itu diterima sebelum juara nomor ganda campuran All England 2016 tersebut menginjakkan kaki di Indonesia.

Usai podium All England 2016, tim Indonesia dijamu malam malam bersama oleh Kedutaan Besar Indonesia di Inggris. Acara itu juga diikuti oleh para suporter.

Para suporter ikut diundang karena peranannya yang tak kecil. Teriakan mereka menjadi semangat Praveen/Debby untuk mengukir sejarah.

Ini pun diakui Praveen/Debby tak lepas dari doa dan dukungan masyarakat Indonesia.“Rasanya senang sekali bisa juara di All England. Ini merupakan bagian dari sejarah perjalanan kami sebagai pasangan. Dan hasil ini pun tentu salah satunya karena doa dan dukungan masyarakat Indonesia,” ungkap Debby seperti dikutip situs PBSI.

Barclaycard Arena, Birmingham, menjadi saksi sejarah kemenangan mereka. Melawan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, Denmark, Praveen/Debby menang dua game langsung dengan 21-12, 21-17 pada Minggu waktu setempat (13/3/2016).

Selain dukungan jauh dari tanah air, Barclaycard Arena, rupanya tak kehilangan ruh supporter Indonesia. Ratusan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Birmingham, serempak ramaikan arena pertandingan. Yel-yel serta teriakan semangat pun tak henti di suarakan sepanjang laga.

“Pas main rasanya semangat sekali karena penonton di sini juga luar biasa, seperti di rumah sendiri rasanya,” ungkao Debby.

Tak hanya dari Birmingham, mahasiwa dan masyarakat Indonesia pun berdatangan dari kota lain, seperti London, Manchester, Bristol, Liverpool, Notthingham dan kota-kota lainnya.

“Aku datang dari London, sama temen-temen mahasiswa di sana juga, banyakan. Kami sudah beli tiket dari dua bulan yang lalu, udah ngerencanain buat nonton. Awalnya deg-degan juga sih pas beberapa wakil Indonesia pada kalah. Takut nggak ada pas di final. Tapi ternyata ada wakil dan menang. Alhamdulillah, seneng banget rasanya,” kata Hana Hanifah, mahasiswa London School of Economics and Political Science.

“Nonton All England itu selalu kita tunggu-tunggu. Pokoknya kalau lihat Indonesia bertanding, kalau kita bisa dukung, pasti dibela-belain. Walaupun lumayan jaraknya dari London, lagi banyak tugas juga, tapi demi dukung Indonesia kita tetep semangat,” lanjut Hana. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger