www.smashyes.com

www.smashyes.com

Sony Gagal Berjumpa Chen Long

Selasa, 31 Mei 2016

KEBERUNTUNGAN tengah memayungi Sony Dwi Kuncoro. Lawan yang akan dihadapinya di babak I Indonesia Open Super Series Premier 2016, Chen Long, mengundurkan diri.

Unggulan pertama tunggal putra asal Tiongkok tersebut cedera punggung yang membuatnya tidak dapat bertanding di Istora Senayan, Jakarta, venue Indonesia Open Super Series Premier 2016. Sony pun otomatis mengamankan tempat di babak kedua tanpa harus bersusah payah.


“Chen Long mengundurkan diri karena cedera,'' terang Rony De Voz, Referee yang memimpin jalannya turnamen Indonesia Open Super Series Premier 2016


Chen Long pun gagal menorehkan prestasi di Indonesia Open Super Series Premier 2016. Tunggal putra Tiongkok terakhir kali mencetak gelar di Indonesia Open pada tahun 1989 lewat kemenangan Xiong Gua Bao.


Di babak II, Sony menunggu pemenang pertandingan antara Hu Yun (Hongkong) dengan Tanongsak Saensomboonsok dari Thailand. Baginya, keduanya sudah bukan lawan yang asing.


Sony sudah saling mengalahkan dengan Hu Yun dalam empat pertandingan. Sedangkan dengan Tanongsak, dia menang empat kali dalam enam kali perjumpaan.


Harapannya, di Indonesia Open 2016, Sony masih bisa kembali bersinar. Apalagi, dalam ajang yang kali terakhir diikutinya, Singapura Open 2016, dia mampu menjadi juara.

Sony sendiri pernah menjadi juara di Indonesia Open pada 2008. (*)

Pikirkan Step by Step

INDONESIA Open menjadi turnamen yang belum pernah dijuarai pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Tahun ini, keduanya pun berusaha mengakhiri paceklik tersebut.

Langkahnya terasa mudah. Di babak I turnamen yang masuk kategori super series premier tersebut, Tontowi/Liliyana  mengalahkan Sawan Serasinghe/Setyana Mapasa dari Thailand dengan dua game yang mudag 21-10, 21-6. Pertandingan dilaksanakan di GOR Istora Senayan, Jakarta, pada Selasa WIB (31/5/2016).


“Lawan kami memang rangkingnya di bawah kami. Tetapi kami tidak mau anggap remeh, ” kata Liliyana usai pertandingan seperti dikutip media PBSI


Tontowi/Liliyana menyusul tiga rekannya yang sudah lebih dulu lolos ke babak kedua, Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika, Riky Widianto/Richi Puspita Dili dan Ronald Alexander/Melati Daeva Octavianti.

Di babak kedua, Tontowi/Liliyana akan berjumpa dengan pasangan Denmark jebolan kualifikasi, Kim Astrup/Line Kjaersfeldt.“Kami mau fokus step by step. Pastinya kami mau juara di sini, tetapi kami harus bisa mengontrol ambisi sehingga tidak menjadi bumerang,'' ucap Liliyana. (*)

Duh, Juara All England Kalah di Babak I

PENAMPILAN Praveen Jordan/Debby Susanto tak kunjung membaik. Itu terjadi usai keduanya menjadi juara ganda campuran All England 2016.

Bahkan, kalah di babak-babak awal sudah menjadi biasa bagi pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut. Seperti yang terjadi dalam Indonesia Open Super Series Premier 2016.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, pada Selasa WIB (31/5/2016), Praveen/Debby ditaklukkan Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok), dengan skor 15-21, 10-21. Pertemuan kedua pasangan memang selalu ramai, dari empat pertemuan, skor masing-masing kini imbang 2-2.


“Setelah All England, permainan kami sudah dipelajari oleh lawan-lawan Mereka jadi lebih waspada dan tahu pola permainan kami seperti apa. Sebetulnya kami harus keluar dari pola itu. Saat ini kami hanya berpikir menuju olimpiade Rio de Janeiro, ini adalah pembelajaran luar biasa buat kami,” kata Debby seperti dikutip media PBSI.

 Sementara itu Praveen mengaku menyesal atas penampilannya yang kurang maksimal. Tampil di kandang sendiri, Praveen/Debby sebetulnya berharap bisa menampilkan yang terbaik.


“Kami menyesal karena sudah disupport malah kami tampil begini. Tetapi ya apa boleh buat. Dari awal kami sudah dibawah tekanan, sampai akhir pertandingan juga tidak bisa keluar dari tekanan, permainan kami sudah diatur,” ucap Praveen.



Kekalahan ini akan dijadikan bahan pembelajaran buat Praveen/Debby yang kini berada di peringkat delapan dunia. Keduanya akan mendampingi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di event akbar Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (*)

Ke Babak Utama Langsung Ketemu Chen Long

Senin, 30 Mei 2016

SEMULA, Sony Dwi Kuncoro bakal berlaga di babak kualifikasi Indonesia Open Super Series Premier 2016. Dia harus bisa menang dua kali untuk bisa menembus babak utama turnamen yang menyediakan hadiah total USD 900 ribu tersebut.

Tapi, di saat akhir kejuaraan dimulai, posisi Sony menghilang dari babak kualifikasi. Sony batal tampil?Tidak. Ternyata, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut langsung berlaga di babak elite.

''Saya  langsung ke babak utama.'' jelas Sony dalam pesan singkatnya.

Hanya, lawan yang dihadapinya tak ringan. Di babak pertama di Istora Senayan, Jakarta, pada 31 Mei 2016, Sony berjumpa dengan Chen Long.

''Bondo nekat saja. Saya nggak mundur dan takut,'' ujar Sony.

Pebulu tangkis Tiongkok tersebut merupakan unggulan teratas. Keduanya sudah dua kali bertemu. Hasilnya, Sony dan Chen Long pernah saling mengalahkan.

Bapak dua putri ini menang atas Chen Long di Jepang Open 2009. Tapi, tiga tahun kemudian, Sony menyerah di Denmark Open.

Sony sendiri tengah on fire. Dia baru saja menjadi juara di Singapura Super Series 2016. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu memulai langkah juga dari babak kualifikasi. (*)

Firman Makin Tercecer

FIRMAN  Abdul Kholik sempat memberikan harapan bakal menjadi tunggal putra terbaik Indonesia. Di mampu  menjadi juara Indonesia Challenge 2013 dan dilanjutkan dengan masuk final Indonesia Grand Prix Gold 2013.

Langkah itu melebihi capaian rekan-rekannya seperti Jonatan Christie, Anthony Ginting, serta Ihsan Maualan Mustofa masih merangkak. Tapi, dua tahun lalu berlalu, yang terjadi malah sebaliknya.

Tiga rekannya melompat tinggi dan menjadi tunggal andalan Indonesia di Piala Thomas 2016. Bagaimana dengan Firman? Dia malah jalan di tempat kalau tidak mau dikatakan mundur.

Kini, sorotan miring pun kembali menimpa lelaki asal  Jawa Barat tersebut. Firman langsung tersingkir di babak I kualifikasi Indonesia Open Super Series Premier 2106. Dia ditaklukkan Zi Liang Derek Wong  dari Singapura dengan dua game  17-21, 24-26.

Sedang Jonatan, Anthony, dan Ihsan tak perlu memeras keringat di babak kualifikasi. Dengan ranking yang dimiliki, ketiganya langsung tampil di babak utama.

“Ini adalah kegagalan kedua saya di Indonesia Open. Saya merasa masih banyak kekurangan,” kata Firman usai pertandingan seperti dikutip media PBSI. (*)

Greysia Polii Kalah di Kualifikasi

GREYSIA Polii tumbang di babak kualifikasi Indonesia Open Super Series Premier 2016. Tapi, jangan kager dulu.

Dia bukan kalah di ganda putri yang menjadi nomor spesialisnya. Greysia kalah di nomor ganda campuran.

Berpasangan dengan Rian Agung Saputro, mereka harus mengakui keunggulan sesama wakil Indonesia, Ardiansyah/Devi Tika Permatasari dengan 17-21, 17-21 dalam pertandingan di Istora Senayan, Jakarta, pada Senin waktu setempat (30/5/2016).

Bermain di nomor ganda campuran adalah pengalaman baru buat Rian/Greysia. Rian adalah pemain spesialis ganda putra yang kini berpasangan dengan Berry Angriawan, sedangkan Greysia merupakan salah satu pemain andalan Indonesia di ganda putri bersama Nitya Krishinda Maheswari.

“Tujuan awalnya kami dipasangkan adalah supaya kami bisa punya kesempatan menjajal lapangan. Ini arahan dari pelatih kami,'' ungkap Greysia seperti dikutip media PBSI.

Tiap tahun, tambahnya, dia memang sudah mencoba Istora. Tetapi, ungkap Greysia, tiap waktu itu beda-beda situasinya, angin, cahaya dan lain-lain.

''Namun prioritas saya tetap di ganda putri, apalagi menjelang olimpiade,” ujar Greysia .

Lawan mereka, lanjut dia, adalah pasangan yang sering juara Sirkuit Nasional (sirnas). Jadi, paparnya, kualitas Ardiansyah/Devi juga bagus.

“Untuk ke depannya, kami belum tahu apakah akan berpasangan lagi, yang pasti saya mau fokus dulu ke olimpiade. Kalau diminta berpasangan lagi sih saya siap, demi Indonesia,” tutur Greysia.

Pada laga yang berlangsung siang ini, permainan Rian/Greysia memang belum solid seperti pasangan ganda campuran lainnya. Pertahanan Rian/Greysia seringkali dibobol oleh Ardiansyah/Devi. Serangan-serangan Rian pun tak setajam biasanya, Ardiansyah/Devi sudah dapat mengantisipasi pukulan-pukulan yang dihujankan Rian.
 
Ardiansyah/Devi akan berhadapan dengan unggulan pertama kualifikasi asal Australia, Matthew Chau/Gronya Somerville. Hasil sementara babak kualifikasi Indonesia Open Super Series Premier 2016. (*)

Menunggu Penantian Tontowi/Liliyana Berakhir

Rabu, 25 Mei 2016

PASANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir boleh menepuk dada. Keduanya sudah merasakan menjadi juara dunia serta beberapa turnamen  bergengsi termasul All England.

Tapi, semua belum lengkap. Tontowi/Liliyana belum merasakan medali emas olimpiade. Empat tahun lalu di London, Inggris. Juga ada satu ajang yang rutin diikuti dan belum pernah naik ke podium juara.

Ironisnya, turnamen tersebut adalah Indonesia Open. Memulai kiprahnya pada 2011, Tontowi/Liliyana langsung menembus babak final.

Sayang, langkahnya dihentikan pasangan Tiongkok yang kelak juga akan menjadi rival terberatnya, Zhang Nan/Zhou Yunlei dengan 22-20, 14-21, 9-21.

Setelah itu, kegagalan selalu mendatangi kedua jika bermain di kandangnya sendiri. Nah, kesempatan menjadi juara itu kembali datang tahun ini.

Tontowi/Liliyana ditempatkan sebagai unggulan kedua. Di babak pertama, keduanya hanya menghadapi babak kualifikasi.

Jalan terjal baru terasa di perempat final. Besar kemungkinan, Tontowi/Liliyana akan berjumpa dengan rekannya sendiri Praveen Jordan/Debby Susanto atau Lu Kai/Huang Yaqiong dari Tiongkok.

Melawan Praveen/Debby, Tontowi/Liliyana sudah dua kali berjumpa dan selalu memenangkan pertandingan. Sedangkan Lu Kai/Huang sudah tujuh kali dipermalukan selama tujuh kali pertemuan.

Hanya, Zhang Nan/Zhaou Yunlei yang tetap menjadi momok. Selama 19 kali pertemuan, Tontowi/Liliyana hanya enam kali memetik kemenangan.

Kemenangan terakhir digapai di Super Series Finals di Dubai pada Desember 2015 dengan 16-21, 15-21. Hanya, dalam perjumpaan terakhir di Kejuaraan Asia 2016, pasangan merah putih itu menyerah 21-17, 9-21, 16-21. (*)




Langkah Tontowi/Liliyana di Indonesia Open

2011: Final: v Zhang Nan/Zhou Yunlei (Tiongkok) 22-20, 14-21, 9-21

2012: Final: v Sudket Prakamol/Saralee Thoungthongkam (Thailand) 17-21, 21-17, 13-21

2013:Semifinal: v Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark) 15-21, 14-21

2014:Semifinal: v Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) 21-18,12-21, 154-21

2015: Semifinal: v Zhang Nan/Zhaou Yunlei (TIongkok) 21-16, 15-21, 18-21

Sony Kembali Berjuang dari Kualifikasi

SONY Dwi Kuncoro kembali turun ke lapangan. Dia akan tampil dalam Indonesia Open Super Series Premier 2016.

Hanya, dalam ajang yang berhadiah total USD 900 ribu tersebut, lelaki 31 tahun tersebut harus merangkak dulu dari babak kualifikasi. Ini disebabkan ranking yang dipakai saat mendaftar belum bisa menembus babak utama.

Di laga perdananya, Sony berjumpa dengan Gurusaidutt dari India.Selama ini, kedua pebulu tangkis belum pernah bertemu.

Hanya, di atas kertas, seharusnya mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut bisa memetik kemenangan. Saat ini, ranking Sony jauh lebih baik dibandingkan Gurusaidutt.

Sony ada di posisi 37 sedangkan lawannya di 89 dunia.Selain itu, penampilan Gurusaidutt tengah jeblok pada 2016.

Beda dengan Sony. Bapak dua putri tersebut tengah berada di puncak penampilan.

Dalam turnamen terakhir yang diikuti yakni Singapura Open Super Series 2015, Sony mampu menjadi juara. Padahal, seperti di Indonesia Open 2016, dia memulai dari babak kualifikasi.

Jika mengalahkan Gurusaidutt, Sony sudah ditunggu pemenang partai Brice Leverdez dari Prancis melawan Takuma Ueda dati Jepang.

Brice pernah dikalahkannya di Indonesia Open 2012 dan 2010. Saat itu, Sony masih menjadi penghuni Pelatnas Cipayung.

Sementara, peraih perunggu Olimpoiade Athena 2004 itu punya rekor bagus bersua Takuma. Dia menang tiga kali dalam empat kali pertemuan.

Hanya, dalam pertemuan terakhir di Hongkong Open Super Series 2014, Sony menyerah tiga game 21-17, 15-21, 14-21. (*)

Jangan Lupa, Krishna Adi Juga Ada

Senin, 23 Mei 2016

KRISHNA Adi Nugraha tak malah dari rekan-rekannya yang berlaga di Piala Thomas 2016. Dia memberikan bukti dengan prestasi.

Itu setelah Krishina mampu menjadi juara dalam Thailand Challenge 2016. Dalam final yang dilaksanakan di A.Muang, Trang, Minggu waktu setempat (22/5/2016), pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut menghentikan asa wakil tuan rumah Suppanyu Avihingsanon dengan dua game langsung 21-18, 21-9.

Ini merupakan pertemuan perdana dengan Suppanyu. Hanya, kemenangan ini bisa menjadi momentum Krishna menyodok ke persaingan tunggal putra di Cipayung.Gelar di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut merupakan yang pertama bagi Krishna di ajang internasional.

Pekan lalu, mantan pebulu tangkis Suryanaga, Surabaya, tersebut mampu menembus babak final Wali Kota Surabaya International Series 2016. Sayang, langkahnya dihentikan Giap Chin Goh dari Malaysia dengan 22-24, 19-21.

Krisha merupakan pebulu tangkis yang posisinya di bawah trio Piala Thomas 2016. Mereka adalah Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa.

Ketiganya dianggap sukses usai membawa Indonesia menembus babak final ajang supremasi bulu tangkis beregu putra tersebut. Meski di babak  pemungkas, Indonesia harus mengakui ketangguhan Denmark dengan skor 2-3. (*)

Hasil final Thailand Challenge 2016

Tunggal putra:Krishna Adi Nugraha (Indonesia) v Suppanyu Aihingsanon (Thailand) 21-18, 21-9

Ganda campuran:Yong Kai Terry/Wei Han Tan (Singapura x1) v Wong Fai Yin/Shevon Jemie (Malaysia x2) 21-16, 21-17

Tunggal putri: Dinar Dyah Ayustine (Indonesia x2) v Ruselli Hartawan (Indonesia x3) 21-10, 21-14

Ganda putri: Suci Rizky Andini/Yulfira Barkah (Indonesia x6) v Ramadhani Hastiyanti/Rika Rositawati (Indonesia x7) 21-18, 21-18

Ganda putra: Danny Bawa Chrisnanta/Hendra Wijaya (Singapura)  v Nur Mohd Azryn/Jagdish Singh (Malaysia) 14-21, 21-14, 21-14

x=unggulan 

Yakin Lebih Tangguh di 2018

INDONESIA gagal menjadi juara Piala Thomas 2016. Denmark mengandaskan perjuangan para pebulu tangkis merah putih dengan skor 3-2 dalam final yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (22/5/2016).

Punggawa Thomas Indonesia patut diacungi jempol. Indonesia sudah berjuang hingga titik darah penghabisan sampai partai kelima.

 “Hasil yang diperoleh hari ini tidak sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia. Saya selaku CDM meminta maaf karena kami belum bisa merebut Piala Thomas. Saya ucapkan terima kasih kepada pemain, saya salut atas perjuangan anak-anak yang sudah habis-habisan,” ujar Achmad Budiharto, Chef de Mission Tim Thomas dan Uber Indonesia.

 Dia mengakui masih banyak kekurangan. Khususnya, tambah Budi, sapaan karib Achmad Budiharto, di nomor tunggal.

 ''Para pebulu tangkis muda masih kurang jam terbang, kami yakin mereka akan menjadi pemain handal dan nantinya memenangkan Piala Thomas,” ucap Budi.

Kekalahan dari Denmark, jelas dia, adalah pengalaman yang bisa membuat pebulu tangkis muda maju dan lebih kuat menghadapi turnamen-turnamen berikutnya.Pemain-pemain muda seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa diyakini akan bisa menjadi andalan Indonesia di gelaran Piala Thomas 2018.

 “Terima kasih atas perjuangan tim Thomas. Dari Tommy (Sugiarto) sampai Ihsan (Maulana Mustofa) semua sudah memberikan yang terbaik. Saya yakin dua tahun lagi para pebulu tangkis muda akan lebih siap dan kita bisa merebut Piala Thomas,” tambah Hendra Setiawan, kapten tim Thomas Indonesia.
]
Manajer Tim Thomas dan Uber Indonesia, Rexy Mainaky, meyakini para pebulu tangkis muda Indonesia akan lebih matang di tahun-tahun mendatang. Pengalaman bertanding di Piala Thomas 2016 adalah modal bagi mereka.

 “Di penyisihan grup, pebulu tangkis  muda kita bisa mengalahkan lawan yang kelasnya di atas mereka. Saya yakin para pebulu tangkis muda kami punya kapabilitas masuk ke peringkat top 10. Pada akhir tahun ini, ketiga pemain ini bisa bicara , setidaknya di peringkat top 15 dunia. We will comeback stronger in next Thomas Cup,” pungkas Rexy. (*)

Denmark Ukir Sejarah

PIALA Thomas gagal pulang ke pangkuan Indonesia. Hendra Setiawan dkk harus mengakui ketangguhan Denmak dengan skor 2-3 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (22/5/2016).

Ini menjadi sejarah bagi Denmark. Sebab, untuk kali pertama, negeri dari kawasan Skandinavia Eropa tersebut mengangkat trofi lambang supremas bulu tangkis beregu putra tersebut.

Selama ini, Denmark sudah delapan kali menembus babak final. Sayang, semuanya berujung kegagalan.

Ihsan Maulana Mustofa yang turun di partai kelima, harus mengakui ketangguhan wakil Denmmark Hans-Kristian Vittinghus dengan 15-21, 7-21. Sebelumnya, kedua negara berbagi skor imbang 2-2.

Di partai pertama, Tommy Sugiarto menyerah 17-21, 18-21 kepada tunggal putra terbaik Denmark saat ini Viktor Axelsen. Ini menjadi kekalahan keempat atau ketiga secara beruntun Tommy kepada pebulu tangkis jangkung tersebut.

Tapi, di partai kedua, pasangan ganda putra nomor dua dunia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membangkitkan semangat rekan-rekannya. Juara dunia 2015 tersebut melibas Mads Pieler Kolding/Mads Conrad-Petersen 21-18, 21-13.

Indonesia pun kembali tertinggal 1-2 saat tunggal Anthony Ginting menyerah 17-21, 12-21 kepada mantan juara Eropa Jan O Jorgensen 17-21, 12-21. Tapi, lagi-lagi, nomor ganda menjadi penyelamat. Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi menundukkan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen 21-16, 21-14.

''Saya sangat bahagia sekali akhirnya Denmark bisa menang Piala Thomas setelah delapan kali gagal di final. Sebuah kehormatan untuk saya diturunkan di laga final dan saya bisa menjadi penentu kemenangan,” kata Vittinghus usai pertandingan. (*)

Juara Piala Thomas (5 edisi terakhir)

2016: Denmark

2014: Jepang

2012: Tiongkok

2010: Tiongkok

2008: Tiongkok

Yang Muda Layak Kembali Dipercaya

Minggu, 22 Mei 2016

POSISI Tommy sebagai tunggal pertama bisa tergeser. Penggantinya, tiga pebulu tangkis muda, telah memberikan bukti.

Kehadirannya mampu mengantarkan Indonesia menembus babak final Piala Thomas 2016. Jonatan Christie dkk mampu mengandaskan Korea Selatan dengan skor 3-1 dalam babak semifinal di Kunshan, Tiongkok, pada Jumat waktu setempat (20/5/2016).

Memang, Jonatan gagal menyumbang angka. Tapi, penampilan di lapangan membuat dia layak kembali diberi kepercayaan.

Jonatan merupakan pemain termuda di skuad tim Thomas Indonesia. Pemain kelahiran Jakarta, 15 September 1997 itu, kali pertama memperkuat Tim Thomas Indonesia tahun ini.

Sebelum menjadi bagian tim Thomas, Jonatan sudah pernah merasakan aura bertanding di kejuaraan beregu di antaranya Kejuaraan Asia Junior, Kejuaraan Dunia Junior, SEA Games 2015 dan Kejuaraan Beregu Asia 2016.

Nama lainnya adalah Anthony. Namanya mulai mencuat saat ia meraih medali perunggu di Kejuaran Junior Asia 2014.. Tak lama, Anthony kembali menorehkan prestasi di ajang Youth Olympic 2014 dengan meraih medali perunggu.

 Anthony kembali menyita perhatian  pecinta bulu tangkis Indonesia saat ia berhasil melaju ke babak perempat final Indonesia Open Super Series Premier 2016.

Padahal sehari sebelum turnamen dimulai, Anthony bahkan tak masuk babak kualifikasi dan terpaksa mengantri di daftar tunggu. Anthony juga mampu menembus babak empat besar turnamen Hong Kong Open Super Series 2015.

 Prestasi Anthony di pertandingan beregu juga tak bisa dianggap remeh. Sepanjang Kejuaraan Beregu Asia 2016, Anthony tercatat tak pernah kalah dan selalu menyumbang poin untuk tim Indonesia. Begitu juga di kejuaraan ini, di Piala Thomas 2016, pebulu tangkis asal klub SGS PLN Bandung, Jawa Barat, ini belum terkalahkan.

 Sedangkan kiprah Ihsan Maulana Mustofa di kancah bulu tangkis dunia tak kalah dengan dua rekannya. Peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia Junior 2013 ini mulai menjajaki turnamen kelas super series pada tahun lalu. Lelaki kelahiran Tasikmalaya,Jawa Barat, 18 November 1995 ini juga menjadi runner up di Thailand Open Grand Prix Gold 2015.

 Ihsan menjadi penentu kemenangan tim beregu putra Indonesia pada SEA Games Singapura 2015 melawan Thailand.

 “Tidak ada formula khusus dalam membina ketiga pemain tunggal putra ini. Kami hanya membuat standard latihan yang bagus dari segi teknik, fisik dan mental. Kami memang memfokuskan tiga pemain ini. dengan beberapa kejuaraan sebelumnya kami ikutkan mereka ke kejuaraan level super series, ternyata hasilnya cukup baik, meski belum matang,” kata Hendry Saputra, Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI,seperti dikutip media PBSI. (*)

Trio Masa Depan Indonesia

1,Jonatan Christie

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 15 September 1997

Tinggi/Berat : 179 cm/ 73 kg

Ranking Nasional/Dunia : 2/19

Klub : Tangkas Jakarta

Pegangan Raket : Kanan

Prestasi : Juara Swiss International Challenge 2014, Finalis Indonesia International Challenge 2014, Medali Emas Beregu Putra SEA Games 2015, Juara Kejurnas 2015


2.Anthony Sinisuka Ginting

Tempat/Tanggal Lahir : Cimahi, 20 Oktober 1996

Ranking Nasional/Dunia : 3/23

Klub : SGS PLN Bandung

Pegangan Raket : Kanan

Prestasi : Medali Perunggu Youth Olympic Games 2014, Medali Emas Beregu Putra SEA Games 2015,Semifinalis Hongkong Super Series 2015


3.Ihsan Maulana Mustofa

Tempat/Tanggal Lahir : Tasikmalaya, 18 November 1995

Tinggi/Berat : 174 cm/62 kg

Ranking Nasional/Dunia : 4/31

Klub : Djarum Kudus


Pegangan Raket : Kanan

Prestasi : Finalis Thailand Open Grand Prix Gold 2015, Medali Emas Beregu Putra SEA Games 2015, Finalis Dutch Open Grand Prix 2014,  Medali Perunggu BWF World Junior Championships 2013

Sejarah Lebih Memihak Kita

INDONESIA akan bertemu dengan Denmark di final Piala Thomas 2016. Kemenangan atas Malaysia 3-2 membuat negeri asal Benua Eropa tersebut merasakan babak pemungkas lagi setelah 10 tahun.

Kali terakhir, Denmark menembus babak final pada 2006 di Jepang. Tapi, saat itu, mereka kalah oleh Tiongkok dengan 0-3.

Indonesia dan Denmark sudah bertemu selama lima kali. Kedua negara terakhir kali bertemu di final Piala Thomas 1996 di Hongkong. Tiga pertemuan sebelumnya berlangsung di Tokyo 1964, serta di Jakarta  1973 dan 1979.

 Indonesia kali pertama menekuk Denmark di final Piala Thomas pada 1964 dengan skor 5-4. Saat itu, partai final memainkan sembilan nomor yang terdiri dari lima nomor tunggal dan empat nomor ganda. Final berlangsung dua hari pada 21-22 Mei 1964.

 Skuad Thomas Indonesia 1964 diisi oleh Ferry Sonneville (playing captain), Tan Joe Hok, Eddy Jusuf, Ang Tjing Siang, Tan King Gwan, Unang, Tutang, Wok Pek Shen dan Liem Tjeng Kiang. Tim Indonesia sudah melakukan persiapan ke Piala Thomas sejak Desember 1963. Tim berangkat menuju Tokyo 15 hari sebelum pertandingan dimulai karena mesti menempuh perjalanan dengan kapal laut.

 Sekitar 2.500 supporter memadati Municipal Stadium, stadion tempat dilangsungkannya Piala Thomas 1964. Supporter terdiri dari pelajar Indonesia di Jepang dan banyak juga yang datang dari Indonesia khusus mendukung tim Thomas di Tokyo.

 Di hari pertama, Indonesia dan Denmark sama kuat 2-2. Tim Indonesia pulang ke tempat menginap saat itu di Wisma Indonesia, diselimuti ketegangan akan hasil besok.

Pada hari kedua, Kops kali ini menantang Ferry Soneville. Sebuah kisah mengharukan terjadi pada laga ini. Ferry saat itu ketinggalan 6-14, satu angka lagi, Indonesia ketinggalan 2-3. Tetapi Ferry tak putus asa.

 Di partai kedelapan, terjadi sebuah insiden kala pasangan Unang/King Gwan berhadapan dengan Henning Borch/Erland Kops. Di awal game kedua, pasangan Denmark mengajukan protes karena merasa terganggu dengan bisingnya supporter Indonesia.

 Kops meminta rekannya untuk protes dan panitia menegur supporter Indonesia. Pertandingan pun dilanjutkan. Baru kedudukan 1-0, Kops ternyata masih tidak puas, ia lalu mendatangi sendiri meja panitia, akhirnya petugas kepolisian setempat dikerahkan untuk menenangkan supporter Indonesia.

 Hal ini dimanfaatkan Unang/King untuk ‘ambil nafas’. Pasangan Indonesia merebut game kedua dengan skor 15-12.

Supporter Indonesia makin mengganas, mereka bernyanyi, mengibarkan bendera Merah-Putih, menggedor-gedorkan kaki ke lantai, bahkan kedatangan polisi tidak berpengaruh.

Permainan sempat dihentikan selama 20 menit, ketika dimainkan lagi, pemain Denmark seperti sudah kehilangan konsentrasi, mereka menyerah di game kedua dan ketiga. Indonesia kembali merebut Piala Thomas untuk ketiga kalinya. (*)



Berikut hasil pertandingan final Piala Thomas 1964 antara Indonesia melawan Denmark (5-4):

 Tan Joe Hok v Erland Kops 5-15, 15-1, 15-9

Ferry Sonneville v Knud Aage Nielsen 12-15, 15-6, 15-6

Tan King Gwan/Unang v Finn Kobbero/Jorgen Hammergaard Hansen 5-15, 6-15

Ferry Sonneville/Tutang Djamaludin v Erland Kops/Henning Borch 12-15, 2-15

Ang Tjin Siang v Henning Borch 15-10, 15-5

Tan Joe Hok v Knud Aage Nielsen 15-11, 14-17, 9-15

Ferry Sonneville v Erland Kops 13-18, 17-14, 17-14

Tan King Gwan/Unang v Erland Kops/Henning Borch 12-15, 15-12, 15-6

Ferry Sonneville/Tutang Djamaludin v Finn Kobbero/Jorgen Hammergaard Hansen 14-17, 5-15

Tiongkok Sabet Gelar Ke-14 di Ajang Uber

Sabtu, 21 Mei 2016

DOMINASI Tiongkok di ajang Piala Uber belum tergoyahkan. Untuk kali ke-14, Negeri Panda, julukan Tiongkok, menjadi juara di ajang berebu bulu tangkis putri tersebut.

Dalam final yang dilaksanakan di kandangnya sendiri, Kunshan, pada Sabtu waktu setempat (21/6/2016), Tiongkok menghentikan perlawanan Korea Selatan dengan skor 3-1. Li Xuerui membuat tuan rumah unggul dari sektor tunggal.

Mantan pebulu tangkis nomor satu dunia tersebut mengalahkan Sung Ji-hyun dengan tiga game 14-21, 21-13, 21-10. Korea menyamakan kedudukan saat partai kedua dicuri pasangan Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan dari pasangan emas Olimpiade London 2012 Tian Qing/Zhao Yunlei, lewat permainan rubber game dengan skor 16-21, 21-17, 25-23.

 Absennya tunggal kedua Korea Selatan, Bae Yeon-ju, memang disayangkan. Dia mengalami cedera saat berhadapan dengan Akane Yamaguchi (Jepang), di babak semifinal. Kim Hyo-min yang menggantikan posisi Yeon-ju, masih kurang berpengalaman. Ia dikalahkan dua game langsung oleh Wang Shixian, 13-21, 12-21.

 Penentu kemenangan tim Tiongkok adalah pasangan Chen Qingchen/Tang Yuanting. Pasangan muda ini mengalahkan Chang Ye Na/Lee So Hee, dalam dua game langsung, 21-14, 21-16.

 “Kami senang dengan kemenangan hari ini karena pemain muda bisa jadi penentu kemenangan. Kami mengharapkan menang 3-0, namun Korea memang lawan terberat kami,” ujar Li Yongbo, Kepala Pelatih Tim Tiongkok.

 Jepang dan India masing-masing mendapat medali perunggu. Tim Uber Indonesia dihentikan Korea di babak perempat final dengan skor 3-0.Sejak 1998, Tiongkok hanya lepas gelarnya pada 2010 karena direbut Korea Selatan. (*)


Langkah Tiongkok menjadi juara :



Penyisihan Grup A

Tiongkok v Malaysia 5-0

Tiongkok v Spanyol 5-0

Tiongkok v Denmark 5-0



Perempat final
Tiongkok vs Taiwan 3-0


Semifinal
Tiongkok vs India 3-0

 Final
Tiongkok vs Korea 3-1

Hendra/Ahsan Memberi Bukti

PASANGAN Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi menjadi penentu lolosnya Indonesia ke babak final Piala Thomas 2016. Bahkan, banyak yang menyebut keduanya menjadi pahlawan merah putih di babak semifinal atas Korea Selatan yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Jumat (20/6/2016).

Tapi, sebenarnya, bintang layak disandangkan kepada pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Di tengah sorotan negatif, keduanya mampu mengangkat moril rekan-rekannyaa setelah tunggal pertama Jonatan Christie kalah oleh Son Wan-ho 10-21, 16-21.

Dengan beban tertinggal, Hendra/Ahsan menunjukkan mental juaranya. Mereka menundukkan Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dengan dua game langsung 21-15, 21-12.

Penampilan Hendra/Ahsan disebut tengah menurun. Mereka yang pada tahun-tahun sebelumnya mengoleksi berbagai titel bergengsi seperti Juara Dunia 2015 dan 2013, All England 2014, titel super series premier di Indonesia, Malaysia serta super series finals di Malaysia tahun 2013 dan di Dubai tahun 2015, tahun ini baru mengumpulkan satu gelar dari ajang Thailand Open Grand Prix Gold 2016. Performa mereka juga kurang memuaskan di sejumlah turnamen terakhir dengan terhenti di babak-babak awal.

 Sebelum laga semifinal, penampilan Hendra/Ahsan pun bisa dibilang belum 100 persen. Mereka bahkan gagal menyumbang angka untuk tim Indonesia di perempat final melawan Hong Kong, usai dikalahkan Or Chin Chung/Tang Chun Man, dua game langsung, 17-21, 19-21.

Ternyata peran tim ofisial juga sangat besar. Sudah menjadi tugas tim untuk saling menyemangati satu sama lain. Sebelum bertanding, tim ofisial ternyata membisikan hal yang membakar semangat Hendra/Ahsan.

“Sederhana saja, kami mengingatkan kalau mereka adalah juara dunia, mereka punya mental juara. Melihat usia dan pengalaman mereka, kami yakin Hendra/Ahsan bisa mengatasi masalah asal mereka yakin dengan diri mereka sendiri. kita semua tahu lah mereka itu juara, jadi tidak perlu banyak instruksi, tapi yakinkan, You Are the Champion!” ujar Chef de Mission Tim Thomas dan Uber Indonesia, Achmad Budiharto, seperti dikutip media PBSI.

 “Kalau dibilang hari ini Korea kelelahan akibat bermain melawan Tiongkok, bisa saja, mungkin Korea full fokus ke Tiongkok. Tapi kami juga harus memberi kredit buat pemain kita, pemain muda sudah bisa diandalkan, Hendra/Ahsan dari drop bisa comeback begitu super!” ujar Rexy Mainaky, Manajer Tim Indonesia yang juga memuji penampilan Hendra/Ahsan. (*)

Rasakan Final Lagi

INDONESIA kembali merasakan final Piala Thomas. Ini setelah Hendra Setiawan dkk memetik kemenanan 3-1 atas Korea Selatan dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Jumat waktu setempat (20/5/2016).

Kali terakhir, Indonesia menembus final pada 2010 di Kuala Lumpur. Sayang, merah putih kalah telak 0-3 dari juara bertahan Tiongkok.

 Kepastian Indonesia ke babak final ditentukan oleh Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Keduanya menghentikan perlawanan Kim Gi-jung/Kim Sa-rang dengan skor 21-15, 21-18.

Sebelumnya, Indonesia tertinggal lebih dulu  0-1. Di tunggal pertama, Jonatan Christie harus mengakui ketangguhan Son Wan Ho dengan dua game langsung 10-21, 16-21.Ini merupakan pertemuan perdana kedua pebulu tangkis.

Untung, di laga kedua, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mampu membalikan prediksi. Juara dunia 2015 tersebut membungkam musuh besarnya Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dengan straight game 21-15, 21-12. Kemenangan ini membuat Hendra/Ahsan mampu dua kali terakhir melibas wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut atau menjadi kemenangan keenam dari 14 kali pertemuan.

Hasil di ganda pertama membuat Anthony Ginting percaya diri. Pebulu tangkis 23 tahun tersebut memembuat Indonesia leading 2-1 usai memupus asa Lee Dong Keun 21-18, 21-18

Keunggulan tim Thomas 2-1 membuat Angga/Ricky tampil begitu bersemangat di partai keempat. Bermain tenang, dua kemenangan sebelumnya atas Kim/Kim, membuat Angga/Ricky tampil percaya diri. Angga/Ricky menerapkan pola permainan yang hampir serupa dengan senior mereka, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, dengan tak mau mengikuti ritme permainan Kim/Kim yang keras dan cepat.

 “Kami senang sekali bisa menjadi penentu kemenangan Indonesia. Kami tidak memikirkan soal menang atau kalah, yang penting konsentrasi dan jaga fokus. Dari tiga pertemuan sebelumnya dengan Kim/Kim, kami sudah tahu kekurangan dan kelebihan mereka, kami juga hari ini lebih siap dari lawan,” jelas Angga.

Dalam tiga kali pertemuan itu, Angga/Ricky unggul dua kali yakni di Malaysia Open 2015 dan India Open 2016. Kekalahan ditelan di Korea Open 2015.

“Kami bermain lebih baik dibanding dua pertandingan sebelumnya, kami bersyukur bisa menang dan menyumbang angka,” tambah Angga.


Hasil Indonesia vs Korea Selatan 3-1

 Jonatan Christie vs Son Wan Ho 10-21, 16-21

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan vs Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong 21-15, 21-12

Anthony Sinisuka Ginting vs Lee Dong Keun 21-18, 21-18

Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi vs Kim Gi Jung/Kim Sa Rang 21-15, 21-18

Ihsan Maulana Mustofa vs Jeon Hyeok Jin – tidak dimainkan

Piala Thomas pun Terbang Lagi dari Jepang

Jumat, 20 Mei 2016

DUA tahun lalu, Jepang mengukir sejarah. Untuk kali pertama, negeri dengan ibu kota Tokyo tersebut menjadi juara Piala Thomas.

Dalam final yang dilaksanakan di New Delhi, India, Kenichi Tago dkk mengalahkan Malaysia dengan skor tipis 3-2.

Saat itu, posisi Jepang kurang diunggulkan. Tapi, kemenangan atas Tiongkok di semifinal dengan 3-0 membuat Kenichi Tago dkk langsung mendapat perhatian.

Mereka pun kembali menjadi favorit juara. Tapi, siapa sangka, dua bulan menjelang Piala Thomas digelar cobaan menghantam internal mereka.

Dua pebulu tangkisnya yang menjadi pahlawan pada 2014, Tago dan Kento Momota, tersandung masalah.

Keduanya terlibat dalam judi ilegal. Tago dan Momota disanksi berlarang di berbagai turnamen.

Akibatnya, kekuatan Jepang di Piala Thomas pincang. Itu sudah terlihat di penyisihan.

Menghuni Grup A, mereka gagal menjadi juara grup. Negeri Sakura, julukan Jepang, dihancurkan Tiongkok dengan 0-5.

Hasil ini membuat Jepang harus puas sebagai runner-up grup dan harus menerima nasib berjumpa dengan juara grup.

Dalam undiannya, akhirnya Jepang berjumpa dengan Denmark selaku penguasa Grup D. Keduanya bertemu di babak perempat final yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Kamis waktu setempat (19/5/2016).

Jepang sudah tertinggal 0-2 di dua partai awal. Di tunggal pertama, Sho Sasaki kalah 13-21, 16-21 kepada Viktor Axelsen. Kemudian pasangan Hiroyuki Endo.Kenichi Hayakawa menyerah 16-21, 17-21 kepada Mathias Boe/Mads Conrad-Petersen.

Tapi, Jepang mampu menyamakan kedudukan. Tunggal keduanya Takuma Ueda melibas Jan O Jorgensen dengan 21-13, 13-21, 21-10 dan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda menghentikan perlawanan Kim Astrup/Anders Rasmussen 21-15, 21-17.

Nah, partai kelima yang mempertemukan Riichi Takeshita dari Jepang dan Hans-Kristian Vittinghus menjadi penentu. Partai ini dimenangkan wakil Negeri Dongeng, julukan Denmark, dengan 21-23, 17-21.

Jepang pun harus merelakan PialaThomas terbang lagi ke negara lain. (*)

Aib Besar Tiongkok

DI Piala Thomas 2016, Tiongkok jadi kandidat utama. Negeri Panda, julukan Tiongkok, ditempatkan sebagai unggulan teratas untuk menjadi juara dalam ajang supremasi bulu tangkis beregu putra tersebut.

Tiongkok turun dengan kekuatan terbaik. Dua tunggalnya, Chen Long dan Lin Dan, serta ganda tangguh Zhang Nan/Fu Haifeng menjadi pilar utama. Apalagi, pada 2016, mereka tampil dengan status tuan rumah karena dilaksanakan di Kunshan pada 15-22 Mei.

Tanda-tanda menjadi juara sangat terang. Menempati Grup A di babak penyisihan, Tiongkok selalu menang sempurna 5-0. Meksiko menjadi lawan yang dibantai Lin Dan dkk pada 15 Mei 2016.

Sehari setelah itu, giliran Prancis dipermalukan tanpa kemenangan. Pada 18 Mei 2016, juara bertahan Piala Thomas Jepang ditumbangkan.

Nah, di perempat final, Tiongkok tetap diungguolkan. Meski yang dihadapi Korea Selatan.

Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, harus langsung berjumpa dengan tuan rumah karena hanya mampu menjadi runner-up Grup C.

Perhitungannya, Tiongkok bakal mengalahkan Lee Yong-dae dkk Tiga tunggal bakal menjadi lumbung poin.

Tapi, siapa sangka, Negeri Tembok Raksasa, sudah dikejutan dengan kekalahan tunggal pertamanya Chen Long. Pebulu tangkis nomor satu dunia tersebut dipermalukan Son Wan-ho 12-21, 21-16, 15-21.

Sebelumnya,dalam 12 kali pertemuan, Chen Long delapan kali memetik kemenangan. Bahkan, dalam dua pertemuan terakhir di Korea Open 2015 dan Tiongkok Open 2015, Chen Long yang menang.

Harapan menang tuan rumah semakin menipis ketika di ganda kedua, Zhang Nan/Fu Haifeng menyerah kepada ganda nomor satu dunia Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong dengan 25-23, 21-23, 12-21.

Kemenanan Lin Dan 21-10, 21-15 atas Lee Dong-keun hanya menjadi angin penyegar. Sebab, di ganda kedua, posisi pasangan Korea Selatan Kim Gi-jung/Kim Sa-rang lebih diunggulkan dibandingkan Li Junhui/Zheng Siwei..Hasilnya, ganda tim tamu menang mudah 15-21, 18-21.

Kekalahan ini pun menjadi aib bagi Tiongkok.Sejak ikut Piala Thomas 1982, mereka tak pernah terlempar dari semifinal.

Tiongkok sudah sembilan kali mengukir gelar Piala Thomas. Negeri terpadat pendududuknya itu hanya kalah dari Indonesia yang sudah 13 kali mengangkat trophy. (*)

Angga/Ricky Pastikan Indonesia Lolos Semifinal

Kamis, 19 Mei 2016

LANGKAH Tim Thomas Indonesia sudah sampai babak semifinal. Artinya, dua jejakan lagi, pasukan merah putih akan menjadi juara.

Lolosnya Indonesia di semifinal Piala Thomas 2016 setelah mengalahkan Hongkong dengan skor 3-1 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Kamis waktu setempat (19/5/2016). Kepastian lolos ditentukan oleh ganda kedua Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Mereka mengalahkan pasangan Law Cheuk Him/Yeung Shing Choi 21-16, 21-14

Pemenang laga peremapat  final antara Tiongkok dan Korea Selatan akan menjadi calon lawan Indonesia di semifinal. Poin pertama Indonesia datang dari Tommy Sugiarto yang tampil luar biasa.

Kehilangan game pertama dengan skor telak 11-21 tak membuatnya lantas menyerah. Putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut menjalankan perannya sebagai ujung tombak tim dan membuka jalan kemenangan.

Kehilangan poin di partai kedua dari Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sempat membuat semangat tim Indonesia menurun. Pasalnya, nomor ini adalah nomor andalan Indonesia, ditambah lagi, Hendra/Ahsan punya kualitas dan pengalaman yang jauh lebih baik dibanding lawan  Or Chin Chung/Tang Chun Man. Juara dunia 2015 itu kalah dua game langsung  17-21, 19-21 .

Tunggal kedua Jonatan Christie menjadi kunci kemenangan  Indonesia. Pebulu tangkis muda ini berhasil mengembalikan keunggulan Indonesia menjadi 2-1 setelah menaklukkan Hu Yun 21-14, 18-21, 21-16. Poin ini sangatlah penting untuk tim Indonesia, terutama bagi pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi yang turun di partai keempat.

“Setelah Jonatan menang, kami semakin percaya diri. Tapi, kami ingat pesan-pesan kapten (Hendra Setiawan), tidak boleh overconfident. Mengenai kekalahan ganda pertama, menurut saya ini adalah pertandingan beregu dimana kalau satu kalah, masih ada empat partai lagi. Kami harus saling mengisi,” kata Angga yang ditemui setelah pertandingan. (*)


Indonesia v Hongkong 3-1:

Tommy Sugiarto vs Ng Ka Long Angus 11-21, 21-19, 21-15

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan vs Or Chin Chung/Tang Chun Man 17-21, 19-21

Jonatan Christie vs Hu Yun 21-14, 18-21, 21-16

Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi vs Law Cheuk Him/Yeung Shing Choi 21-16, 21-14

Ihsan Maulana Mustofa vs Wei Nan – tidak dimainkan

20 Tahun Piala Uber Tak Kembali



PIALA Uber belum mau kembali ke Indonesia. Ini setelah perjuangan srikandi-srikandi merah putih pada 2016 terhenti di babak perempat final.

Maria Febe Kusumastuti dkk harus mengakui keunggulan Korea Selatan dengan tiga partai langsung dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Kamis waktu setempat (19/5/2016).

Poin pertama diraih Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, lewat kemenangan Sung Ji-hyun atas Febe, sapaan karib Maria Febe Kusumastuti, dengan 21-13, 21-12. Nomor ganda yang awalnya menjadi andalan Indonesia untuk mencuri poin juga lepas dari genggaman. Pasangan Greysia Polii/Anggia Shitta Awanda gagal menahan laju Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan ditaklukkan dengan skor 13-21,19-21.

Meskipun belum berhasil memperpanjang nafas , namun perjuangan Fitriani patut diapresiasi. Pebulu tangkis muda Indonesia yang kini ada di peringkat 53 dunia itu mampu memberi perlawanan terhadap Bae Yeon-ju  yang lebih berpengalaman dan peringkatnya lebih tinggi yaitu 14 dunia.

Tak kenal lelah, permainan reli Fitriani begitu menyulitkan  Yeon-ju. Sayang, Fitriani masih sering melakukan kesalahan sendiri yang akhirnya menguntungkan untuk lawan.

“Alhamdulillah, saya bisa mengimbangi permainan lawan yang rankingnya jauh diatas saya. Namun dia lebih matang dang lebih berpengalaman,” tutur Fitriani seperti dikutip media PBSI.

Tim Uber Korea masih menanti calon lawan di semifinal, pemenang antara Jepang dan Denmark. Kali terakhir Indonesia menjadi juara Piala Uber pada 1996 atau 20 tahun lalu. Saat itu, merah putih masih mengandalkan Susi Susanti di nomor tunggal.

Indonesia v Korea Selatan 0-3

Maria Febe Kusumastuti vs Sung Ji Hyun 13-21, 12-21

Greysia Polii/Anggia Shitta Awanda vs Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan 13-21, 19-21

Fitriani vs Bae Yeon Ju 13-21, 21-14, 15-21

Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari vs Chang Ye Na/Lee So Hee – tidak dimainkan

Gregoria Mariska vs Kim Hyo Min – tidak dimainkan

Hanya Sinyo yang Bisa

Rabu, 18 Mei 2016

TAK ada pebulu tangkis Indonesia seberuntung Marcus Fernaldi Gideon. Dia bisa berpasangan di ajang internasional dengan pasangan emas Olimpiade Beijing 2008, Hendra Setiawan dan Markis Kido.

Dua tahun lalu, Sinyo, sapaan karib Marcus Fernaldi Gideon, berpasangan dengan Markis Kido. Bersama pebulu tangkis senior tersebut, kemampuannya meningkat tajam. Bahkan, Kido/Sinyo mampu menjadi juara di sebuah turnamen super series, Prancis Open 2013.

Ini membuat Sinyo pun bisa kembali ke Pelatnas Cipayung. Setelah sebelumnya, dia terpental.

Kini, Sinyo berpasangan dengan Hendra Setiawan. Itu terjadi ketika keduanya dipasangkan dalam pertandingan penyisihan Piala Thomas Grup B di Kunshan, Tiongkok, pada 18 Mei 2016.

Hendra/Sinyo menundukkan ganda kedua India Summeth Reddy B/Satwiksairaj Rankireddy dengan 21-9, 21-18. Bermain di pola sendiri, adalah kunci kemenangan pasangan dadakan ini, seperti dituturkan Hendra yang juga merupakan Kapten Tim Thomas Indonesia.

“Kami hanya menerapkan pola permainan kami sendiri. Kami kan sudah sering latihan bersama di Cipayung, sering berganti-ganti partner juga, pasangan muter itu-itu saja,” kata Hendra  seperti dikutip media PBSI.

Sebagai senior, Hendra ternyata tak memaksakan kehendak. Bahkan, lelaki 32 tahun tersebut mengikuti gaya main Sinyo.

''Penampilan Sinyo hari ini cukup bagus. Dia kan powernya memang kencang,” tambah Hendra.

Sementara itu, Sinyo mengaku sempat grogi berpasangan dengan Hendra. Ia berusaha bermain sebaik mungkin supaya tak mengecewakan seniornya tersebut.

“Tentunya senang sekali bisa berpasangan dengan Hendra. Dulu saya suka nonton dia di TV, sekarang bisa main bareng. Rasanya lebih semangat berpartner dengan Hendra,'' ungkap Sinyo. (*)

Tim Thomas Indonesia Rajai Penyisihan

INDONESIA menemar ancaman di Piala Thomas 2016. Hendra Setiawan dkk sukses menjadi juara Grup B.

Posisi tersebut diperoleh setelah merah putih mengalahkan India dengan skor telak 5-0 atas India dalam pertandingan di Kushan, Tiongkok, pada Rabu waktu setempat (18/6/2016). Ihsan Maulana Mustofa menjadi penentu kemenangan sempurna.

Memetik kemenangan relatif mudah di game pertama membuat Ihsan lengah saat kedudukan unggul 14-10. Varma yang menyadari keadaan ini, terus menekan balik hingga keadaan menjadi imbang 20-20. Dua kesalahan yang dilakukan Ihsan di bibir net membuatnya terpaksa bermain rubber game.

“Sebelum masuk lapangan alhamdulilah sudah percaya diri, di game pertama enak mainnya. Kemenangan di game pertama membuat saya overconfident di game kedua, terlalu buru-buru mematikan bola, maunya smash, padahal lawan pertahanannya lumayan,” jelas Ihsan soal pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Penampilan Ihsan sepanjang penyisihan grup di Piala Thomas cukup baik. Dua kali diturunkan, dua kali pula ia menyumbang angka kemenangan untuk timnya. Pada laga melawan Hong Kong, Ihsan juga menjadi penyempurna kemenangan tim Indonesia usai mengalahkan Wong Wing Ki Vincent, dengan skor 21-15, 22-20.

Kemenangan atas India juga membuat Indonesia belum terkalahkan. Sebelumnya, Hongkong disikat 5-0 dan Thailand dibantai 4-1.


Tim Thomas dan Uber Indonesia masih menunggu calon lawan di babak perempat final pada undian yang akan dilangsungkan malam ini setelah laga penyisihan grup selesai. Masih ada satu sesi penyisihan grup Piala Thomas dan Uber lagi yang akan berlangsung malam ini mulai pukul 19.00 waktu Kunshan.

Berikut hasil pertandingan Tim Thomas Indonesia melawan India (5-0):

Jonatan Christie v Ajay Jayaram 21-14, 21-12

Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi v Manu Attri/Akshay Dewalkar 21-18, 21-17

Anthony Sinisuka Ginting v Sai Praneeth B. 18-21, 21-11, 21-15

Hendra Setiawan/Marcus Fernaldi Gideon v Summeth Reddy B/Satwiksairaj Rankireddy 21-9, 21-18

Ihsan Maulana Mustofa vs Sourabh Varma 21-10, 20-22, 21-13

Bambang Jadi Pelatih Kepala Tunggal Putri (Lagi)

Selasa, 17 Mei 2016

Kepala Pelatih Tunggal Putri PBSI berpindah tangan.  Edwin Iriawan, secara resmi mengundurkan diri terhitung Juni mendatang.

Pelatih yang juga pernah menangani tim ganda campuran pelatnas ini memutuskan untuk mundur karena alasan keluarga. Edwin berniat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya yang kini menetap di Batam, Kepulauan Riau.

Melalui SK PBSI nomor SKEP/031/0.5/V/2016, Pengurus Pusat PBSI resmi memberhentikan Edwin sebagai kepala pelatih tunggal putri dan sekaligus mengangkat Bambang Supriyanto sebagai kepala pelatih tunggal putri mengantikan Edwin Iriawan terhitung mulai tanggal 15 Mei 2016.

“Walaupun Edwin resmi diberhentikan pada Juni 2016, tetapi semua tugas dan tanggung jawab sudah diberikan kepada Bambang sejak pertengahan Mei. Hal ini dikarenakan kami ingin memberikan kesempatan kepada Edwin untuk bisa mengurus semua keperluan untuk kepindahannya,” tutur Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI Achmad Budiharto.

Dengan demikian tim tunggal putri pelatnas kini kembali dipimpin oleh Bambang yang sebelumnya pernah menduduki posisi kepala pelatih tunggal putri. Bambang saat ini juga tengah mendampingi tim tunggal putri di Uber 2016 yang berlangsung di Kunshan, Tiongkok.

“Kami sangat memahami dan menghargai keputusan Edwin yang lebih memilih keluarga. Semoga ke depannya, Edwin bisa lebih sukses, walaupun sudah tidak bersama PBSI,” ujar Budi, sapaan karib Achmad Budiharto.

Pihak PBSI, lanjutnya, mengucapkan terima kasih  atas jerih payah Edwin dalam mendukung tim bulu tangkis Indonesia selama ini.  Edwin yang pernah melatih tim nasional India ini bergabung di Pelatnas PBSI pada 2014.

Awalnya Edwin diminta untuk membantu Richard Mainaky, Kepala Pelatih Ganda Campuran PBSI untuk melatih pemain ganda campuran. Namun pada awal 2015, Edwin mulai menangani tim tunggal putri yang saat itu masih di bawah kepemimpinan Bambang Supriyanto, Sejak awal 2016, Edwin dipercaya untuk menjadi kepala pelatih tunggal putri. (*)

Tim Uber Indonesia Gagal Juara Grup

TIM Uber Indonesia gagal menjadi juara Grup C. Ini setelah srikandi merah putih kalah 2-3 dari Thailand dalam pertandingan pemungkas grup yang dilaksanakan di Kushan, Tiongkok, pada Selasa waktu setempat (17/5/2016).

Ini membuat Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, menduduki puncak klasemen grup C Piala Uber 2016.Poin kemenangan Thailand ditentukan pasangan ganda putri Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai yang mengalahkan Tiara Rosalia Nuraidah/Anggia Shitta Awanda dengan skor 14-21, 21-17, 24-22 lewat laga dramatis berdurasi 75 menit.

Dua poin sebelumnya dicuri Thailand dari sektor tunggal lewat kemenangan Ratchanok Intanon atas Maria Febe Kusumastuti serta Busanan Ongbumrungphan yang mengalahkan Hanna Ramadini. Dua poin yang dimiliki Indonesia datang dari pasangan ganda putri Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari usai menekuk Sapsiree Taerattanachai/Puttita Supajirakul serta Gregoria Mariska.

Strategi Indonesia sedikit meleset dengan lepasnya kemenangan di ganda putri kedua yaitu Tiara/Anggia. Dua nomor ganda sudah dibidik skuat putri Indonesia dan Gregoria memang sudah diperkirakan bakal mampu mencuri kemenangan.

“Memang hasil ini tidak seperti yang diperkirakan, pertaruhannya di tunggal ketiga. Kami memasang debutan dan bisa berhasil. Hasil ini membuat langkah tim Uber lebih berat, karena di perempat final kami akan bertemu para juara grup,” kata Achmad Budiharto, Chef de Mission tim Thomas dan Uber Indonesia 2016.

Dia tak mau gentar dengan menghadapi siapa pun. Budi, sapaan karibnya, berharap pebulu tangkis Indonesia bisa tampil lepas.

“Tim Uber Indonesia ada kesempatan ketemu Thailand lagi di perempat final dan peluang kami terbuka. Sebetulnya tadi Tiara/Anggia punya kesempatan di game kedua dan ketiga tetapi Tuhan berkata lain,” tutur lelaki yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI ini.

Dengan hasil ini, maka Indonesia menjadi runner up grup C. Peringkat ketiga dan keempat masing-masing ditempati Hongkong dan Bulgaria. (*)

Tim Uber Indonesia vs Thailand (2-3) :

Maria Febe Kusumastuti vs Ratchanok Intanon 21-14, 21-14

Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari vs Sapsiree Taerattanachai/Puttita Supajirakul 21-14, 21-14

Hanna Ramadini vs Busanan Ongbumrungphan 8-21, 11-21

Tiara Rosalia Nuraidah/Anggia Shitta Awanda vs Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai 21-14, 17-21, 22-24

Gregoria Mariska vs Nitchaon Jindapol 13-21, 21-14, 22-20

Modal Hadapi Hongkong

Senin, 16 Mei 2016

MODAL berharga dikantongi Tim Uber Indonesia. Mereka menang telak 5-0 atas Bulgaria dalam pertandigan perdana Grup C yang dilaksanakan di Kunshan, Tiongkok,pada Minggu waktu setempat (15/5/2016).  Pasangan ganda putri Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari menyempurnakan kemenangan dengan menang straight game atas Mariya Mitsova/Petya Nedelcheva dengan skor 21-9, 21-11.

 “Alhamdulillah kami bisa menang dan membuat tim Uber Indonesia bisa sapu bersih 5-0, mudah-mudahan kami bisa lebih baik kedepannya dan kami makin yakin dengan kemampuan kami,” ucap Della soal kemenangan tim Uber Indonesia.

 Entah karena kemenangan mereka tak berpengaruh lagi atau karena kelelahan bertanding di partai sebelumnya, Mitsova/Nedelcheva tak dapat mengimbangi permainan Della/Rosyita. Ketinggalan jauh 9-17, Mitsova/Nedelcheva akhirnya menyerah 9-21 di game pertama.

 Mitsova juga turun di partai keempat melawan Hanna Ramadini, sementara Nedelcheva bermain di partai ketiga dan kalah dari Fitriani.

 Hal yang sama juga terjadi di game kedua, dimana Della/Rosyita begitu menguasai jalannya pertandingan. Smash keras Della/Rosyita seringkali gagal dikembalikan oleh Mitsova/Nedelcheva.

 “Lawan banyak melakukan kesalahan sendiri, kalau sudah mulai sengit, mereka mati-mati sendiri. Kami mendapat banyak poin dari kesalahan lawan,” kata Della.

 “Pertandingan ini kami manfaatkan untuk adaptasi lapangan, setidaknya kami jadi tahu kondisi angin seperti apa, jadi untuk pertandingan selanjutnya, kami lebih siap,” tutur Rosyita.

“Soal lawan hari ini, Mitsova sepertinya tidak bisa bermain di nomor ganda, tetapi Nedelcheva masih lebih baik,” ungkap Rosyita.

Sementara itu di grup C, laga antara tim Uber Thailand melawan Hongkong dimenangkan oleh Thailand dengan skor 4-1. Indonesia sementara berada di pucak klasemen grup C, dilanjutkan dengan Thailand, Hongkong dan Bulgaria.(*)


Hasil Tim Uber Indonesia vs Bulgaria (5-0) :

 Maria Febe Kusumastuti vs Linda Zetchiri 21-12, 24-22

Fitriani vs Petya Nedelcheva 21-9, 21-15

Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani vs Stefani Stoefa/Gabriella Stoefa 21-16, 15-21, 21-18

Hanna Ramadini vs Mariya Mistova 21-17, 21-16

Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari vs Mariya Mistova/Petya Nedelcheva 21-9, 21-11

Awal Sempurna Tim Thomas Indonesia

 INDONESIA memulai perjalanan di Piala Thomas 2016 dengan awal meyakinkan. Hendra Setiawan dkk menang 5-0 atas Hongkong dalam pertandingan yang dlaksanakan di Kunshan, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (15/5/2016).

Kemenangan Ihsan Maulana Mustofa di partai kelima atas Wong Wing Ki Vincent membuat Indonesia tak kehilangan satu game pun. Merasa termotivasi akan kemenangan rekan-rekannya, Ihsan menang straight game dengan skor 21-15, 22-20.

“Alhamdulillah saya bisa memenangkan pertandingan ini, saya memang sudah mempelajari permainan Wong, jadi sudah tahu karakternya seperti apa. Saya termotivasi akan kemenangan rekan-rekan saya sebelumnya, jadi saya merasa harus menang juga,” kata Ihsan soal pertandingan seperti dikutip media PBSI

Sebelumnya, pasangan ganda putra Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi juga menyumbangkan kemenangan di partai keempat. Angga/Ricky sukses menaklukkan Law Cheuk Him/Lee Chun Hei Reginald dengan skor 21-16, 21-17

"Kami sudah merasa sedikit lega karena tim Indonesia sudah menang 3-0. Pertandingan tadi kami manfaatkan untuk adaptasi lapangan. Semoga kami lebih siap lagi di pertandingan selanjutnya," ujar Ricky.

Manajer Tim Thomas Indonesia Rexy Manukay mengaku cukup puas dengan penampilan anak asuhnya. Hanya, dia tetap mengakui Hongkong Kong mempunyai kekuatan tunggal yang cukup merata.

"Tadi kalau Tommy lengah sedikit di game kedua, bisa berbahaya,” ungkap Rexy.

Ya, Tommy Sugiarto saat dipercaya di tunggal pertama sempat mengalami kesulitan di game kedua. Unggul di game awal dengan 21-17, dia sempat kerepotan di game kedua dan nyaris kalah. Untung, Tommy akhirnya bisa menang lagi 22-20.

Tim Thomas Indonesia punya waktu istirahat satu hari, pertandingan penyisihan kedua baru akan dilangsungkan Selasa (17/5). Tim Uber akan bertanding Senin ( 16/5) melawan tim Hongkong.


Hasil Indonesia v Hongkong di Grup C Piala Thomas 2016


Tommy Sugiarto vs Ng Ka Long Angus 21-17, 22-20

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan vs Or Chin Chung/Tang Chun Man 22-20, 22-20

Jonatan Christie vs Hu Yun 22-20, 21-18

Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi vs Law Cheuk Him/Lee Chun Hei Reginald 21-16, 21-17

Ihsan Maulana Mustofa vs Wong Wing Ki Vincent 21-15, 22-20

Dua Gelar Bergengsi Lepas

INDONESIA gagal sapu bersih gelar dalam Wali Kota Surabaya 2016. Bahkan, dua gelar langsung melayang dalam ajang yang baru tahun ini masuk kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut.

Ironisnya lagi, posisi terhormat yang lepas itu ada di nomor bergengsi, tunggal putra dan tunggal putri. Dua wakil merah putih, Krishna Adi Nugraha di tunggal putra dan Siahaya Priskilia (tunggal putri) menyerah dalam pertandingan final yang dilaksanakan di GOR Sudirman pada Minggu malam WIB (15/5/2016).

Krisha, yang sekarang digembleng di Pelatnas Cipayung, menyerah dua game yang ketat 22-24, 19-21 kepada wakil Malaysia Giap Chin Goh. Pertarungan keduanya memakan waktu 43 menit.

Sebenarnya, di atas kertas, Krisha, yang lama membela Suryanaga Surabaya, diunggulkan bisa memetik kemenangan. Alasannya, rankingnya jauh di atas Chin Goh.

Dia ada di posisi 199 sedangkan wakil negeri jiran tersebut ada 242. Tapi, permainannya yang ulet membuat dia mampu membuat Krishna menyerah.Sedangkan di tunggal putri, Siahaya tumbang dengan straight game 17-21, 13-21 kepada pebulu tangkis Jepang Moe Araki.

Untung, di tiga nomor lainnya, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, gelar diraih wakil Indonesia. Bahkan, di ganda putri dan ganda campuran terjadi final sesama pebulu tangkis Indonesia (all Indonesian finals). (*)

Distribusi gelar Wali Kota Surabaya International Series 2016

Ganda campuran: Agripinna Prima/Apriani Rahayu (Indonesia) v Yantoni Edy/Marsheilla Gischa (Indonesia) 21-12, 21-12

Tunggal putra: Giap Chin Goh (Malaysia x13) v Krishna Adi (Indonesia x6) 24-22, 21-19

Tunggal putri: Moe Araki (Jepang) v Siahaya Priskilia (Indonesia) 21-17, 21-13

Ganda putri: Apriani Rahayu/Jauza Fadilah Sugiarto (Indonesia x1) v Dian Fitriani/Nadya Melati (Indonesia x3) 12-21, 21-18, 22-20

Ganda putra: Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia x2) v Yoshiki Tsukamoto/Shunsuke Yamamura (Jepang) 21-12, 21-19

x=unggulan

Krishna Kejar Gelar Pertama

Minggu, 15 Mei 2016

WISNU Yuli Prasetyo tertunduk. Sebuah pukulan yang gagal melewati net membuat dia gagal menembus babak final nomor tunggal putra dalam Wali Kota Surabaya International Series 2016.

Wisnu secara mengejutkan tumbang dua game langsung 14-21, 19-21 kepada Krishna Adi Nugraha dalam pertandingan semifinal di GOR Sudirman pada Sabtu malam WIB (14/6/2016). Dalam turnamen yang baru masuk kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut, sebenarnya Wisnu merupakan kandidat kuat juara.

Lelaki yang kini membela Djarum Kudus setelah sebelumnya di Surya Baja Surabaya tersebut diunggulkan di posisi teratas. Sementara, Krishna hanya diunggulkan di posisi keenam.

''Krisha bermain lebih bagus tadi.Dia layak menang,'' kata Wisnu usai pertandingan.

Krishna sendiri mengaku sudah paham cara bermain Wisnu. Sehingga, dia paham cara mematikan mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut.

Di final, Krishna akan ditantang wakil Malaysia Giap Chin Goh. Unggulan ke-13 tersebut menembus babak akhir usai menang 21-9, 21-14 atas Ryotaro Maruo dari Jepang.

''Saya baru kali pertama bertemu. Semoga bisa menang dan jadi juara,'' pungkas lelaki yang berperingkat 199 dunia tersebut.

Jika menang, ini akan menjadi gelar pertama mantan pebulu tangkis Suryanaga Surabaya tersebut di ajang internasional. (*)

Agenda final Wali Kota Surabaya International Series 2016
Ganda campuran:Agripinna Putra/Apriani Rahayu (Indonesia) v Yantoni Edi/Marsheila Gischa (Indonesia)

Tunggal putra: Krishna Adi (Indonesia x6) v Giap Chin Goh (Malaysia x13)

Tunggal putri: Siahaya Priskilia (Indonesia) v Moe Araki (Jepang)

Ganda putri: Apriani Rahayu/Jauza Fadilah Sugiarto (Indonesia x1) v Dian Fitriani/Nadya Melati (x3)

Ganda putra: Yoshiki Tsukamoto/Shunsuke Yakamura (Jepang) v Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia x2)

x=unggulan

Pantang Terlalu Percaya Diri

Sabtu, 14 Mei 2016

TIM Thomas Indonesia tak ingin mengulangi kesalahan 2014. Dua tahun lalu, merah putih datang ke New Delhi, India, host Piala Thomas 2014, dengan keyakinan dapat membawa pulang lambang supremasi bulu tangkis beregu putra tersebut..

 Alasannya, Indonesia diperkuat pebulu tangkis top dunia yang tengah menanjak prestasinya seperti Tommy Sugiarto, Simon Santoso, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Angga Pratama/Rian Agung Saputro. Sehingga, layak Tim Thomas Indonesia memang layak untuk diperhitungkan.

 Namun kenyataan pahit harus diterima Indonesia. Hendra Setiawan dkk keok dari Malaysia yang tak dijagokan pada di babak semifinal dengan skor 0-3.

Poin pertama direbut Lee Chong Wei dari Tommy Sugiarto dengan skor 21-19, 21-13. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang menjadi andalan untuk menyumbang angka, juga tak kuasa menahan laju pasangan Hoon Tien How/Tan Boon Heong, 19-21, 21-8, 21-23. Bermain dalam tekanan karena tim Indonesia sudah tertinggal 0-2, Dionysius Hayom Rumbaka akhirnya menyerah dari Chong Wei Feng, 10-21, 17-21.

 “Percaya diri itu boleh, tetapi tidak boleh berlebihan, karena bisa menjadi bumerang untuk kami,” ujar Hendra Setiawan, Kapten Tim Thomas 2014 dan 2016, seperti dikutip media PBSI.

 Dia mengaku kecewa dan sedih jika mengingat kekalahan di Piala Thomas 2014. Tetapi, dia dan rekan-rekannya banyak belajar dari sana. ''Sehingga, kami bisa sukses di Kualifikasi Piala Thomas 2016 kemarin,” tambah Ihsan Maulana Mustofa, pemain tunggal putra.

 Apa yang disebutkan Ihsan memang benar adanya. Tim Thomas telah berkaca dari kesalahan sebelumnya dan membuktikan bahwa mereka mampu mengatasi lawan-lawan hingga akhirnya dinobatkan menjadi tim putra terkuat di Asia dengan menggondol gelar juara beregu Asia  yang juga berlaku sebagai babak kualifikasi Piala Thomas zona Asia di Hyderabad, India, Februari lalu.(*)

Berat di Tunggal Putri

INDONESIA diharapkan bisa berjaya di semua nomor dalam Wali Kota Surabaya International Series 2016. Namun, ada satu nomor yang tampaknya sulit direalisasikan.

Itu ada di nomor tunggal putri. Nomor yang selama ini memang menjadi titik lemah Indonesia.

Di Wali Kota Surabaya 2016, merah putih hanya mampu menempatkan satu wakil yakni Siahaya Priskila. Sebenarnya, lolosnya dia bisa dikatakan mengejutkan.

Dia tak masuk dalam daftar unggulan juara. Apalagi, beberapa pebulu tangkis putri senior ikut ambil bagian di Wali Kota Surabaya International Series 2016. Sebut saja Febby Angguni dan Ana Rovita.Sayang, langkah keduanya sudah terjegal di babak awal.

Siahaya yang berperingkat 302 menembus semifinal berkat kemenangan 21-15, 21-19 atas Su Yu Chen dari Taiwan dalam pertandingan yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada Jumat malam WIB (13/5/2016).

Untuk bisa menembus babak pemungkas, Siahaya harus bisa menyingkirkan unggulan kelima asal Taiwan Shuo Yun Sung. Di perempat final, pebulu tangkis dengan ranking 125 tersebut menghentikan perlawanan Shiori Saito (Jepang) dengan 21-19, 18-21, 21-13. Wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, itu merupakan penakluk unggulan teratas Dinar Dyah Ayustine dari Pelatnas Cipayung.

Semifinal tunggal putra lainnya akan saling berjumpa Moe Araki (Jepang) dengan Lim Chiew Sien (Malaysia). Keduanya menang atas wakil Indonesia.

Araki unggul 21-8, 21-16 atas Hera Desi dan Chiew Sien melibas Febby dengan straight game 21-19, 21-15. (*)

Ada Tontontonan dari Wakil Puslatda Jatim

STATUS Wisnu Yuli Prasetyo dan Krishna Adi beda. Wisnu sudah bukan anggota Pelatnas Cipayung tapi Krishna masih.

Klubnya pun tak sama. Wisnu sekarang membela Djarum Kudus setelah sebelumnya lama di Surya Baja Surabaya. Begitu juga Krishna yang kini tercatat sebagai anggota Jaya Raya setelah sebelumnya lama di Suryanaga Surabaya.

Namun, ada satu hal yang mengikat kedua. Wisnu dan Krishna merupakan anggota Puslatda Jatim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON) pada September mendatang di Jawa Barat. Nah, ini tentunya membuat PBSI Jatim pun layak menepuk dada karena kedua akan saling bertemu di babak semifinal Wali Kota Surabaya International Series 2016.

Duel tersebut terjadi usai Wisnu dan Krishna melibas lawan-lawannya di babak perempat final tunggal putra yang dilaksanakan di GOR Sudirman pada Jumat malam WIB (13/5/2016). Wisnu, yang diunggulkan di posisi pertama, menang straight game 21-18, 21-16 atas unggulan kesepuluh Vega Vio Nirwanda. Sementara, Khrisna yang diunggulkan di posisi keenam mengalahkan Panji Ahmad Maulana dengan 21-14, 21-15.

Di atas kertas, Wisnu tentu lebih diunggulkan. Selain lebih banyak pengalaman, rankingnya pun jauh di atas Krishna.

Saat ini, Wisnu di posisi 124 sedangkan Krishna di 199 dunia. Hanya, tak menutup kemungkinan bakal terjadi kejutan.

Di semifinal lain, Giap Chin Goh dari Malaysia bakal berjumpa dengan Ryotaro Maruo dari Jepang. (*)

Satu Tiket Final Milik Indonesia

Jumat, 13 Mei 2016

KRISHNA Adi Nugraha bukan kandidat kuat juara di Wali Kota Surabaya International Series 2016. Tapi, langkahnya sudah lumayan jauh dalam ajang yang masuk dalam kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut.

Krishna menembus perempat final usai menang dua game langsung 21-16, 21-18  atas sesama pebulu tangkis Indonesia Chico Aura dalam pertandingan babak III yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, pada Kamis waktu setempat. Untuk menembus babak semifinal, mantan atlet Suryanaga Surabaya tersebut akan berjumpa dengan rekannya di Pelatnas Cipayung Panji Ahmad Maulana, yang di babak III unggul 21-16, 12-21, 21-17 atas rekannya sendiri Enzi Shafira.

Di skema pertandingan, pemenang laga Krishna dan Panji akan berjumpa dengan wakil Indonesia lainnya. Sehingga, bisa dipastikan satu tiket ke final tunggal putra sudah pasti di tangan.

Di duel lainnya, unggulan teratas Wisnu Yuli Prasetyo dijajal Vega Vio. Di babak III, keduanya mampu menjinakkan lawan-lawannya.

Wisnu, yang kini berbaju Djarum Kudus menghentikan perlawanan pebulu tangkis India Abhisek Yelegar dengan 21-16, 21-9. Sementara, Vega melibas lelaki Taiwan Chen Chi Ting 21-16, 15-21, 21-18. (*)

Cuaca sama dengan Jakarta

Kamis, 12 Mei 2016

PASUKAN Piala Thomas dan Uber Indonesia tiba di Kunshan, Tiongkok. Kini, para pejuang merah putih tersebut tengah mempersiapkan diri di tempat penyelenggaraan ajang perebutan supremasi beregu putra dan putri  itu.

Tim yang berjumlah 20 orang atlet ini tiba sekitar pukul 10.30 waktu Kunshan setelah menempuh penerbangan selama lima jam dari Jakarta menuju Shanghai, dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 90 menit menuju Kunshan.

Kondisi cuaca di Kunshan cukup bersahabat dengan suhu udara sekitar 26 derajat Celcius. Setibanya di Swissotel Hotel Kunshan yang merupakan hotel ofisial peserta Piala Thomas dan Uber, Tim Indonesia makan siang bersama dan istirahat sejenak usai perjalanan yang cukup panjang.

Pukul 15.00, mereka akan kembali berkumpul untuk melangsungkan sesi latihan perdana di Kunshan. Sesi latihan pertama ini akan dilangsungkan di gedung yang sudah disewa khusus oleh tim ofisial Indonesia. Tim Indonesia dijadwalkan untuk menjajal arena pertandingan di Kunshan Sport Center Stadium pada esok hari (13/5/2016) pagi.

"Hari ini kami akan mulai latihan pertama di Kunshan, sesi latihan ini lebih ditujukan untuk recovery setelah perjalanan jauh, jadi intensitasnya tidak akan terlalu berat," kata Achmad Budiharto, Chef de Mission tim Piala Thomas dan Uber Indonesia.

"Kondisi cuaca di Kunshan tak jauh beda dengan di Jakarta, jadi sejauh ini sih tidak ada masalah," tambah lelaki yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI ini.

Tim Indonesia mulai bertanding Sabtu (15/5). Tim Uber akan berhadapan dengan Bulgaria pada penyisihan grup C pukul 08.30. Sedangkan tim Thomas melawan Hongkong pada malam harinya pukul 19.00. (*)

Ada Aroma Pelatnas Cipayung

INDONESIA sudah kehilangan satu andalan di tunggal putra. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung Shesar Hiren Rustavito harus angkat koper dari babak II Wali Kota Surabaya International Series 2016.

Namun, yang mengalahkannya bukan wakil dari luar negeri. Vito, sapaan karib Shesar Hiren Rustavito, dihentikan oleh sesama mantan Cipayung Riyanto Subagja.

Vito kalah dua game langsung 15-21, 18-21 di GOR Sudirman, Surabaya, pada Rabu waktu setempat (11/5/2016). Sebenarnya, baik Vito maupun Riyanto diharapkan menjadi salah satu wakil tuan rumah yang bisa berjaya di Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Alasannya, pengalaman dan kemampuan keduanya masih lebih baik dibandingkan wakil Indonesia lainnya. Apalagi, Vito dan Riyanto saat di Cipayung sudah sering membawa nama negara di ajang internasional.

Meski berada satu klub, Djarum Kudus, pertarungan Vito dan Riyanto berlangsung sengit. Keduanya ingin menunjukkan sebagai tunggal terbaik klubnya saat Dionysius Hayom Rumbaka mengalami cedera.

Di game pertama, Vito tak kuasa menghadapi serangan Riyanto. Begitu juga di game kedua.

Vito yang sempat tertinggal jauh 0-9, mampu menyamakan kedudukan menjadi 12-12. Bahkan, skor sempat sengitu di 18-20.

Sayang, kesalahan Vito sendiri membuat Riyanto bisa melenggang ke babak III. Di babak III, dia akan berjumpa dengan wakil Taiwan Chiao Hao Lee yang di babak sebelumnya menang 22-20, 15-21, 21-8 atas wakil Indonesia Hermansyah.

Selain Vito dan Riyanto, ajang Wali Kota Surabaya International Series 2016 juga menjadi reuni para mantan penghuni Pelatnas Cipayung. Di tunggal putra ada Wisnu Yuli Prasetyo, Febby Angguni, Aprilia Yuswandari (tunggal putri), maupun Gebby Ristiati Imawan(ganda putri). (*)

Bisa Menang Lebih Mudah

NYARIS terjegal di babak I membuat Wisnu Yuli Prasetyo makin waspada. Dia pun tak mau main-main lagi di lapangan.

Buktinya, dia menang dua game yang mudah 21-13, 21-13 atas Vicky Angga Saputra yang juga berasal dari Indonesia dalam pertandingan babak II Wali Kota Surabaya International Series 2016 yang dilaksanakan di GOR Sudirman pada Rabu WIB (11/5/2016). Kemenangan ini jauh lebih enteng dibandingkan sebelumnya.

Pada penampilan perdananya, Wisnu dipaksa memeras keringat selama tiga game 19-21, 21-10, 21-8 atas wakil Malaysia Muhammad Aiman. Padahal, pebulu tangkis negeri jiran tersebut merangkak dari babak kualifikasi.

Namun, di babak III, Wisnu tak boleh lengah. Unggulan teratas tersebut akan ditantang Abhisek Yelegar dari India. Di babak II, unggulan ke-14 tersebut menggentikan wakil Indonesia Yoga Sidik dengan 17-21, 21-19, 21-18.

Dari sisi ranking, Wisnu unggul jauh. Dia ada di posisi 124 sedangkan lawannya 244. Tapi, semangat tak kenal menyerah Abhisek bisa menjadi nilai plus.

Seperti saat melawan Yoga. Kalah di game pertana, dia bangkit di game kedua dan memaksa Yoga keluar lapangan dengan kepala tertunduk.

Di tunggal putra ini nyaris terjadi kejutan. Unggulan kedua, Reksy Aureza Meganda sempat dipermalukan 11-21 oleh M. Rehan Diaz. Tapi, di  game II, penghuni Pelatnas Cipayung tersebut membalikkan keadaan dengan unggul 21-11, 21-14. (*)

Unggulan Teratas Langsung Tersingkir

Rabu, 11 Mei 2016

RANKING Dinar Diyah Ayustine paling tinggi di antara peserta tunggal putri dalam Wali Kota Surabaya International Series 2016. Dia datang dalam turnamen berhadiah USD 5 rbu tersebut dengan ranking dunia 83.

Ini membuat Dinar pun diunggulkan menjadi juara. Apalagi, GOR Sudirman, Surabaya, venue Wali Kota International Series 2016, tak asing baginya.

Bahkan, perempuan yang kini digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut pernah menjadi juara di tempat tersebut. Dua tahun lalu, Dinar naik ke podium juara dalam Indonesia Challenge, turnamen yang levelnya lebih tinggi dibandingkan Wali Kota Surabaya.

Sayang, asa tersebut langsung padam. Dinar sudah angkat koper di babak I Wali Kota Surabaya International Series 2016.

Secara mengejutkan, pebulu tangkis asal Karanganyar, Jawa Tengah, tersebut kalah rubber game 21-18, 15-21, 15-21 kepada Shiori Saito. Wakil Jepang ini tampil dari babak kualifikasi.

Kekalahan ini membuatnya tiga kali beruntun kalah di babak I. Sebelum nya, Dinar terseok di Polandia Challenge 2016 dan Orleans Challenge 2016. (*)

Mengejar Dua Pekan Dua Gelar

TENAGA Wisnu Yuli Prasetyo tengah dikuras. Dia langsung turun dalam Piala Wali Kota International Series 2016.

Padahal, akhir pekan lalu, Wisnu baru saja tampil di Sirkuit Nasional (Sirnas) Jakarta Premier 2016. Bahkan, sampai Sabtu (7/6/2016), pebulu tangkis yang kini membela bendera Djarum Kudus tersebut mampu menjadi juara.

Tentu, dengan capek yang belum hilang, Wisnu pun langsung meluncur ke Surabaya, host Wali Kota International Series 2016. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung ini pun dipasang target bisa menjadi juara.

Alasannya, dalam ajang yang dilaksanakan di GOR Sudirman pada 9-15 Juni itu, Wisnu ditempatkan sebagai unggulan teratas. Namun, dia sedikit mengalami ganjalan.

Dalam penampilan perdana di nomor tunggal putra pada Selasa (10/6/2016), lelaki yang pernah digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut harus bertarung tiga game. Sempat kalah di game pertama 19-21, Wisnu bangkit di dua game berikut dengan memetik kemenangan 21-10, 21-13 atas pebulu tangkis Malaysia Muhammad Aiman Abdul Malek.

Di babak kedua, dia akan berjumpa dengan wakil Indonesia lainnya Vicky Angga Saputra. Dia babak I, Vicky juga mengalahkan wakil negeri jiran lainnya, Eizlan Shah, dengan 21-14, 21-5.

Di tunggal putra ini, diharapkan gelar tak lari ke negara lain. Unggulan kedua juga menjadi milik wakil Indonesia yakni Reksy Aureza Meganandda. (*)

Jokowi:Feeling Saya Thomas Bisa Menang

Selasa, 10 Mei 2016

TIM Piala Thomas dan Uber Indonesia 2016 dapat suntikan moril. Mereka diterima Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (10/5).

Pertemuan kali ini diadakan untuk melepas punggawa-punggawa Indonesia yang akan bertanding di Kunshan, Tiongkok, pada 15-21 Mei mendatang. Pada pertemuan tersebut, Jokowi menyatakan dukungan sekaligus optimismenya kepada tim Indonesia.

Jokowi juga berharap para atlet bisa berjuang dengan maksimal dan membawa pulang Piala Thomas."Semoga  Tim Thomas dan Uber bisa memberikan penampilan maksimalnya. Feeling saya tim Thomas bisa menang," kata Jokowi.

Sebanyak dua puluh atlet yang turun, datang ke istana didampingi para pelatih. Selain itu, Ketua Umum Gita Wirjawan, Wakil Ketu, Fuad Basya dan Nusron Wahid, CDM Tim Thomas dan Uber Achmad Budiharto, Manajer Tim Rexy Mainaky, beserta beberapa pengurus pusat PBSI, juga hadir menghadap Presiden.

"Persiapan tim baik Thomas maupun Uber sejauh ini sudah oke. Targetnya untuk tim Thomas bisa juara, sementara Uber bisa lolos penyisihan,” kata Gita.

Dalam kesempatan tersebut, Gita juga memperkenalkan para atlet yang akan turun bertanding di perebutan Piala Thomas dan Uber 2016 kepada Presiden, yang didampingi oleh Menpora, Imam Nahrawi dan Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki. Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia akan bertolak ke Kunshan, Tiongkok pada Rabu (11/5) pukul 23.50 WIB, menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia, GA 894. (*)

Mantan Ketua dan Legenda Hadiri HUT PBSI

Senin, 09 Mei 2016




SUDAH 65 tahun sudah PBSI berdiri kokoh sebagai induk organisasi bulu tangkis. Wadah tersebut telah menelurkan pebulu tangkis-pebulu tangkis terbaik dunia.

Bah, pada Senin (9/5) PBSI merayakan hari jadinya. Sebetulnya, HUT PBSI jatuh pada 5 Mei lalu, namun perayaan baru dilangsungkan hari ini bertepatan dengan acara Pelepasan Tim Piala Thomas dan Uber 2016.

Pada acara yang berlangsung di Pelatnas Cipayung ini hadir beberapa mantan ketua umum PBSI diantaranya Subagyo HS dan Djoko Santoso serta segenap pengurus besar PBSI yang dipimpin oleh Gita Wirjawan. Tampak hadir para mantan atlet yang tergabung dalam KBI (Komunitas Bulu Tangkis Indonesia) seperti Tan Joe Hok, Susi Susanti, Alan Budikusuma, maupun Hariyanto Arbi.

Dalam kesempatan ini, hadir Gatot S Dewabroto selaku Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora RI, Wakil Ketua KONI Suwarno dan Taufik Hidayat, Wakil Ketua III Satlak Prima Bidang Permainan.Acara dibuka dengan penayangan kilas balik perjalanan PBSI dari tahun 1951 hingga saat ini.

 “Hari ini kami bukan cuma merayakan hari ulang tahun PBSI tetapi juga merayakan momen untuk melimpahkan kesempatan dan peluang teman-teman yang akan bertanding di Piala Thomas dan Uber. Moment ini menjadi salah satu perjalanan hidup PBSI yang diwarnai dengan kesulitan dan kebahagiaan,” kata Gita seperti dikutip media PBSI.

Salah satu tradisi perayaan HUT PBSI adalah pemotongan tumpeng yang diberikan kepada atlet tersenior dan termuda. Kali ini predikat atlet paling senior jatuh pada Hendra Setiawan, sedangkan atlet termuda diwakili Gregoria Mariska.

Acara kemudian dilanjutkan dengan seremoni Pelepasan Tim Thomas dan Uber yang ditandai dengan penciuman bendera Merah-Putih secara bergantian oleh para anggota tim inti. Seremoni ini juga merupakan tradisi yang sudah mendarah daging di tim Indonesia, diharapkan mampu memompa semangat nasionalisme atlet sebelum bertanding. (*)

Tim Thomas Pantang Over Confidence

GENDERANG perang Piala Thomas-Uber 2016 sudah ditabuh. Sebanyak 20 pebulu tangkis putra dan putri terbaik Indonesia bakal bertanding di Kunshan Sports Center Stadium untuk memperebutkan lambang supremasi beregu putra dan putri tersebut pada 15-22 Mei 2016.

Hanya, di ajang Piala Thomas, kans merah putih menjadi juara lebih terbuka. Alasannya, Hendra Setiawan dkk mampu menjadi juara Kejuaraan Beregu Asia 2016 yang juga menjadi ajang kualifikasi Piala Thomas 2016.

Padahal, dalam ajang yang digelar Februari lalu di India tersebut, ikut tim-tim tangguh seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan juga juara bertahan Piala Thomas, Jepang,“Melihat history di kualifikasi Piala Thomas 2016, Indonesia bisa mengalahkan Jepang yang merupakan juara bertahan yang turun dengan kekuatan penuh,'' ungkap Rexy Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, dalam konferensi pers Pelepasan Tim Thomas dan Uber 2016 di Pelatnas Cipayung, Senin (9/5). .

Padahal, tambahnya, ketika itu, Indonesia  menurunkan pemain-pemain muda. Nah, inilah yang membuat PBSI  optimistis Tim Thomas bisa menjadi juara di putaran final.

''Hanya, kali ini, kami tidak mau over-confidence,” kata Rexy

'Tim Indonesia akan berangkat menuju Kunshan via Shanghai pada Rabu, 11 Mei 2016 dengan menumpang maskapai penerbangan Garuda Indonesia (GA 894), pada pukul 23.50 WIB.
“Tahun ini kami memang tidak punya banyak waktu untuk membentuk training camp atau simulasi seperti dua tahun lalu. Kali ini persiapannya beriringan dengan persiapan ke Olimpiade Rio de Janeiro, karena kali ini masih banyak pemain kita yang hingga last minute masih berjuang untuk mendapat tiket ke olimpiade,” ungkap Rexy .

Tim Uber akan bertanding lebih dulu pada Minggu 15 Mei 2016 melawan Bulgaria di grup C pada pukul 08.30 waktu Kunshan. Tim Thomas baru akan bertanding malam harinya pada pukul 19.00, melawan Hongkong.

Putri-putri Indonesia yang dimotori oleh Greysia Polii sebagai kapten tim, berada di grup C bersama tim Thailand, Bulgaria dan Hong Kong. Sementara tim Thomas yang menjadi unggulan di grup B, tergabung bersama India, Thailand dan Hong Kong.

Di sektor tunggal, Tommy Sugiarto menjadi andalan dan diperkuat deretan pemain muda yang mulai unjuk gigi seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa. Kapten tim Thomas, Hendra Setiawan yang berpasangan dengan Mohammad Ahsan, menjadi tumpuan di ganda putra.

Pasangan yang namanya tengah naik daun, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon siap untuk menambah kekuatan ganda putra, begitupun pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi.

Meskipun tak sekuat tim Thomas, tim Uber Indonesia mengaku tetap akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Tak diperkuat dua pemain senior, Nitya Krishinda Maheswari dan Linda Wenifanetri, kekuatan tim Uber memang otomatis berkurang.

“Bukannya mengecilkan Tim Uber, namun menjadi juara grup dan menang dari Thailand memang agak berat, karena Thailand punya pemain tunggal yang bagus-bagus. Setidaknya kami bisa menjadi runner-up grup dan lolos ke babak delapan besar,” tutur Rexy.

Sektor tunggal putri akan diisi oleh Maria Febe Kusumastuti serta pemain-pemain muda seperti Hanna Ramadini, Fitriani dan Gregoria Mariska. Sedangkan di sektor ganda, nama Tiara Rosalia Nuraidah akan masuk menggantikan Nitya. Dua pasangan ganda putri muda, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani dan Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari siap mengemban tugas. (*)

Loloskan 10 Atlet ke Olimpiade Rio



Hal lain yang mendasari terpilihnya Linda adalah penghitungan hasil head to head melawan pemain-pemain top dunia seperti Carolina Marin (Spanyol), Ratchanok Intanon (Thailand), Wang Yihan (Tiongkok) dan sebagainya. Hasilnya, Linda tercatat memiliki skor lebih tinggi dari Febe.



“BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia ) sudah merilis daftar-daftar pemain yang berhak untuk berlaga di olimpiade dan nama Linda ada di urutan ke-15. Dari segi peringkat dunia juga Linda berada diatas Febe. Selain itu, kami juga sudah menganalisa performance Linda dan Febe, secara hasil penghitungan head to head dengan pemain-pemain dunia, Linda lebih unggul,” ujar Rexy Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, dalam konferensi pers di Pelatnas Cipayung Senin (9/5) seperti dikutip media PBSI.



Dua medali emas menjadi target tim bulu tangkis di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Dua sektor yang paling berpeluang untuk memenuhi target ini adalah sektor ganda putra dan ganda campuran. Namun tak menutup kemungkinan sektor tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putri membuat kejutan dan menyumbangkan medali.



Enpat tahun lalu di London, Inggris, tradisi emas Indonesia patah. Tak ada sumbangan medali dari bulu tangkis.



Padahal, sejak 1992 di Barcelona, Spanyol, kali pertama bulu tangkis dipertandingkan di olimpiade, olahraga tepok bulu tersebut selalu menyumbang medali emas. (*)



Tradisi emas di olimpiade

Barcelona 1992; Susi Susanto (tunggal putri), Alan Budikusuma (tunggal putra)



Atlanta 1996: Ricky Subagdja/Rexy Mainaky (ganda putra)

Sydney 2000: Tony Gunawan/Candra Wijaya (ganda putra)



Athena 2004: Taufik Hidayat (tunggal putra)



Beijing 2008: Hendra Setiawan/Markis Kido (ganda putra)

Wisnu Masih Dapat Lawan Ringan

Kamis, 05 Mei 2016

LANGKAH Wisnu Yuli Prasetyo berjaya di Sirnas Jakarta Super Series 2016 masih terbuka. Kini,langkahnya sudah menembus babak perempat final.

Tiket tersebut diperoleh usai pebulu tangkis yang kini membela Djarum Kudus tersebut menang mudah 21-10,21-17 atas Yoga Sidik Anggoro dari ISTC Sukabumi di GOR Asia-Afrika, Jakarta,pada Rabu WIB (4/4/2015).

Di perempat final, Wisnu, yang diunggulkan di posisi teratas, akan dijajal unggulan kedeelapan Vicky Anggara Saputra. Di babak sebelumnya, wakil Tangkas ini unggul dua game langsung 21-8, 21-12 atasa Raditya Darhaya (ISTC Sukabumi).

Di atas kertas, Wisnu lebih diunggulkan. Selain menempati seeded pertama, pengalaman mantan pebulu tangkis Surya Baja, Surabaya, tersebut jauh di atas lawannya.

Saat ini, Wisnu dikenal sebagai raja sirnas. Hampir di setiap ajang tersebut, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut selalu naik ke podium terhormat.

Sebelumya, status raja sirnas menjadi milik Alamsyah Yunus. Namun, seiring usia yang terus bertambah, pamor atlet JR Enkei itu pun pudar. (*)

Putuskan Masa Depan usai Piala Thomas

Selasa, 03 Mei 2016

MALAYSIA tetap butuh Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Meski, kini, keduanya sudah tak ada di pemusatan latihan BAM.

Buktinya, Kien Keat/Boon Heong masuk dalam pasukan Piala Thomas Malaysia 2016. Mantan ganda nomor satu dunia tersebut menjadi pasangan ketiga setelah Goh V Shem/Tan Wee Kiong dan Ong Yew Sin/Teo Ee Yi.

''Sponsor kami (pengembang properti Seri Mutiara Development Sdn Bhd) mempunyai keinginan melanjutkan kerjasama jika kami terus bermain,'' kata Boon Heong seperti dikutip media Malaysia.

Sebenarnya, pasangan yang sempat bercerai ini berambisi menembus Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil. pada Agustus mendatang. Kans itu sempat terbuka.

Sayang, di ajang Kejuaraan Asia 2016 di Wuhan akhir April lalu keduanya tampil buruk. Pasangan gaek itu tersingkir di babak I.

“Sekarang, kami fokus di Piala Thomas. Kami ingin memberikan kebanggaan kepada negara,'' ucap Kien Keat.Untuk itu, mereka, tambah dia, tak berpikir tentang masa depannya.


Boon Heong/Kien Keat sempat berada di luar ranking 200 dunia saat memutuskan kembali berpasangan. Namun, berkat kerja keras di berbagai turnamen, kini mereka sudah berada di 20 besar dunia tepatnya di possi 17.

Keduanya dilatih mantan pebulu tangkis ganda andalan Malaysia Lee Wan Wah. Dia percaya anak asuhnya tersebut masih mampu bermain hingga beberapa tahun ke depan.(*)

Tim Uber Kehilangan sang Kapten

PERJUANGAN Tim Uber Indonesia 2016 semakin berat. Mereka ditinggal sang kapten, Nitya Krishinda Maheswari, yang absen di perebutan supremasi beregu putri paling bergengsi ini.

Nitya menyatakan untuk mundur karena mengalami cedera pada lututnya usai melakoni laga fantastis berdurasi 161 menit dalam Kejuaraan Asia 2016 di Wuhan, Tiongkok, pekan lalu. Posisi Nitya sebagai kapten akan digantikan oleh pasangan mainnya, Greysia Polii, yang rencananya tetap akan berangkat ke Kunshan, Tiongkok, venue putaran final Piala Thomas-Uber 2016.

Sedangkan satu slot ganda putri bakal diisi oleh pemain playmaker Tiara Rosalia Nuraidah.Absennya Nitya tentunya sangat disayangkan, mengingat ia dan Greysia merupakan ujung tombak tim Uber. Greysia/Nitya yang kini menduduki peringkat dua dunia ini merupakan salah satu andalan di tim Uber yang diharapkan mampu menyumbang angka kemenangan.

“Nitya mengalami sedikit cedera pada lututsetelah bermain di long match melawan pasangan Jepang, Naoko Fukuman/Kurumi Yanao, di semifinal BAC. Lututnya agak bengkak, jadi disarankan untuk beristirahat dan memulihkan kondisi,” ujar Rexy Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI yang juga Manajer Tim Piala Thomas dan Uber 2016.

Dia mengakui perubahan kekuatan dengan absennya Nitya. Paling tidak, ungkap Rexy, kekuatan berkurang 30 persen. Final Piala Thomas dan Uber 2016 akan berlangsung di Kunshan, Tiongkok, pada 15-22 Mei 2016. (*)

Komposisi Tim Uber Indonesia
Tunggal

Maria Febe Kusumastuti

Hanna Ramadini

Fitriani

Gregoria Mariska 


Ganda
Greysia Polii

Ni Ketut Mahadewi Istarani

Anggia Shitta Awanda

 Della Destiara Haris

Rosyita Eka Putri Sari

Tiara Rosalia Nuraidah.

Emas buat Malaysia kalau Olimpiade Digelar Sekarang

Senin, 02 Mei 2016

Lee Chong Wei usai menjadi juara Asia 2016 (foto:thestar)
MALAYSIA mengukir sejarah di olimpiade. Ini kalau tentu ingin Olimpiade Rio de Janerio dilaksanakan saat ini. Bukan pada Agustus mendatang.

Alasannya, saat ini, tunggal putra andalannya Lee Chong Wei tengah berada di puncak penampilan. Buktinya, semua pebulu tangkis terbaik dunia mampu disikatnya.

Dalam satu bulan, lelaki 33 tahun tersebut mampu meraih gelar bergengsi. Yakni Malaysia Super Series Premier dan Kejuaraan Asia 2016.

Menariknya, dalam dua ajang tersebut, Chong Wei sama -sama mengalahkan pebulu tangkis nomor satu dunia asaat ini Chen Long dari Tiongkok.

Di kandangnya sendiri pada 3 April, dia menang 21-13, 21-8. Kemudian dalam Kejuaraan Asia  yang berlangsung di Wuhan, Tiongkok, pada Minggu (1/4/2016), Chong Wei unggul rubber game 21-17, 15-21, 21-13. Kemenangan tersebut mengulangi kesuksesannya menjadi juara pada 2006 atau sepuluh tahun lalu.

Selain itu, gelar di Wuhan tersebut menambah koleksi rak medali emasnya dengan 63 kali menjadi juara di berbagai ajang.  Namun, yang utama, hasil tersebut menambah kepercayaan diri untuk berlaga di Olimpiade Rio de Janeiro.

Apalagi, sebelum mengalahkan Chen Long, di semifinal, Chong Wei meluluh lantakan andalan tuan rumah lainnya, Lin Dan. Jalan ini sama seperti dia menjadi juara Tiongkok Super Series 2015 pada November lalu.

''Tidak pernah mudah untuk bisa menang di Tiongkok dengan menundukkan Lin Dan dan Chen Long,'' jelas Chong Wei seperti dikutip media lokal Malaysia.

Dia berharap kondisinya ini bisa bertahan di dua ajang bergengsi. Selain olimpiade, Chong Wei juga jadi tumpuan Malaysia di Piala Thomas yang dilaksanakan di Tiongkok pada 15-22 Mei mendatang.(*)

Skor Kekalahan Semakin Menganga

Tontowi/Liliyana di final Kejuaraan Asia 2016 (foto:PBSI)
INDONESIA gagal membawa pulang satu gelar pun dari Kejuaraan Asia 2016. Satu-satunya wakil yang lolos, pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir kandas di babak final.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (2/4/2016), keduanya kalah rubber game 21-16, 9-21, 7-21 kepada andalan tuan rumah Zhang Nan/Zhou Yunlei.

“Apapun hasilnya kami tetap bersyukur. Ke depannya, ini menjadi evaluasi kami untuk bisa lebih baik. Banyak yang dipelajari dan akan diperbaiki lagi,” ujar Tontowi seperti dikutip media PBSI

Di awal pertandingan, Tontowi/Liliyana berhasil menekan permainan dan unggul 6-2, 11-6, 17-9 hingga akhirnya menang 21-16. Namun secara berkebalikan, Tontowi/Liliyana malah tak banyak bergerak di game kedua. Zhang/Zhao berhasil mengasai permainan, sementara Tontowi/Liliyana terus membuat kesalahan sendiri.

“Game kedua banyak tertekan  dan pada saat tertekan kami kurang tenang. Padahal saat tertekan harusnya kami bisa bertahan dan keluar dari itu,'' ungkap Tontowi.

 Tapi, tempo mereka, lanjut dia, tetap seperti itu. Zhang/Zhou mampu mengontrol permainan ganda merah putih.

''Masuk ke game ketiga, poinnya sempat dekat, tapi kami banyak mati sendiri. Jadi kami kurang bisa mengontrol poin,” ucap Liliyana.

Kekalahan ini membuat Tontowi/Liliyana gagal mempertahankan gelarnya di tahun lalu. Tahun lalu di kejuaraan yang sama, Tontowi/Liliyana berhasil mengamankan podium juara. Mereka jadi yang terbaik, usai mengalahkan Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah dari  Hongkong dengan skor 21-16 dan 21-15.

“Turnamen ini sebenarnya tidak masuk dalam target utama kami. Jadi apapun hasilnya tidak akan mempengaruhi persiapan kami menuju Olimpiade. Kami sudah berusaha yang terbaik. Selanjutnya kami akan terus bersiap lagi, latihan lagi,” ujar Liliyana.

Ini merupakan pertemuan ke-18 buat Tontowi/Liliyana dan Zhang/Zhao. Sejauh ini, Tontowi/Liliyana masih tertinggal 5-12 dari hasil pertemuannya. terakhir di Korea Open 2015, Tontowi/Liliyana kalah dengan 16-21, 15-21. (*)

Greysia/Nitya Ukir Rekor Dunia

Greysia Polii harus jatuh saat berlaga di semifinal (foto;PBSI)
PASANGAN Greysia Polii/Nitya Krishinda sudah tersingkir di semifinal Kejuaraan Asia 2016. Ini membuat ambisi menjadi juara untuk kali pertama dalam ajang di benuanya sendiri tersebut gagal.

Greysia/Nitya dipaksa harus mengakui ketangguhan pasangan Jepang Naoko Fukuman/Kurumi Yonao dengan 21-13, 19-21, 22-24 dalam duel yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Sabtu waktu setempat (30/4/2016).

Laga ini pun mencetak sejarah baru. Pertandingan tersebut dinobatkan sebagai pertandingan bulu tangkis terpanjang yang pernah terjadi di dunia, yaitu selama dua jam empat puluh satu menit atau 161 menit.

Duel pasangan Indonesia dan Jepang tersebut memang patut diacungi jempol. Untuk memperebutkan satu poin saja, mereka harus terlibat laga panjang dan diwarnai jatuh bangun di lapangan.

“Udah nggak kepikiran lagi pas di lapangan, kami sudah main berapa lama. Fokus kami tetap ke bagaimana kami bisa dapet point aja. Kami hanya mikirin, gimana caranya biar bisa tahan dan saling support di lapangan,” kata Nitya seperti dikutip media PBSI.

Greysia menambahkan dia tak berpikir bakal memeras keringat dua jam lebih. Apalagi, dia sempat merakan gram di game kedua saat point 14.

'' Sempat kepikiran ingin menyerah karena mikirnya masih banyak pertandingan penting seperti olimpiade dan lain-lain. Saya nggak mau mencederai diri sendiri dan ingin berhenti saja,'' ungkapnya.

Dia ingin berhenti bukan karena capek.  Tapi, jelas dia, karena kaki memang sudah sakit sekali.

''Tapi pas di lapangan nggak tahu kenapa kok rasanya nggak mau menyerah.Sepertinya nanggung jadi inginnya dipaksain main,'' jelas Greysia.

Kram itu, lanjut dia,  berasa sakit dari telapak kaki sampai pinggang. Paling kerasa di paha.

Greysia/Nitya yang sempat merasa lelah, mencoba terus melancarkan serangan kepada lawan. Tapi pasangan Jepang tersebut pun tak mudah dimatikan. Laga alot terjadi sepanjang pertandingan.

Untuk menutupi rasa lelah di lapangan, beberapa kali Greysia bahkan meneriakkan kalimat-kalimat penyemangat di saat shuttlecock masih mengudara.

“Semangat. Ayo. Masih bisa. Jangan mudah menyerah,” papar Greysia.

Laga panjang memang kerap diidentikkan pada pertandingan sektor ganda putri. Apalagi dengan gaya pemain Jepang yang adu tahan di lapangan, pertandingan bisa terjadi sangat alot. (*)

Saatnya Marin Naik Podium Terhormat

Minggu, 01 Mei 2016

Carolina Marin belum meraih gelar pada 2016 (foto:epimg)
TAHUN lalu, Carolina Marin tampil impresif. Gadis Spanyol tersebut mampu menjuarai lima turnamen bergengsi yakni All England Super Series Premier, Australia Super Series, Kejuaraan Dunia, Prancis Super Series, dan Hongkong Super Series.

Ini membuat rankingnya pun terdongkrak. Marin pun menjadi ratu tunggal putri dunia.

Namun, posisinya mulai goyah. Pada 2016 yang sudah memasuki Mei atau bulan kelima, Marin belum meraih satu gelar pun

Padahal, sudah banyak turnamen yang diikuti. Bahkan, di All England yang dijuarainya tahun lalu, gadis 22 tahun tersebut terhenti di babak semifinal.

Setelah itu, di Malaysia Super Series dan Singapura Super Series, langkah Marin sama-sama terhenti di perempat final.Imbasnya, rankingnya turun satu setrip di posisi kedua.

Kini, kesempatan mengakhiri dahaga gelar sudah di depan mata. Marin sudah menembus babak final Kejuaraan Eropa 2016.

Di semifinal yang dilaksanakan di  La Roche sur Yon, Prancis, pada Sabtu waktu setempat (30/4/2016), Marin mengalahkan Line Kjaersfeldt dari Denmark dengan 23-21, 21-15. Ini menjadi kemenangan ketiga atas lawannya yang berperingkat 27 dunia.

Di babak final, Marin, yang diunggulkan di posisi pertama, akan berhadapan dengan unggulan kedua Kirsty Gilmour dari Skotlandia. Di semifinal, dia menghentikan asa Anna Thea Madsen dari Denmark dengan 17-21, 21-18, 21-19.

Dalam lima kali pertemuan, Marin hanya sekali kalah. Pertemuan terakhir dimenangkannya di Prancis Super Series 2015 dengan 21-15, 7-21, 21-16. (*)

Menanti Puasa Gelar selama 10 Tahun

RIVAL: Chong Wei usai mengalahkan Lin Dan (foto:xinhua)
DI arena bulu tangkis, Lee Chong Wei dan Lin Dan sudah masuk kategori senior Kiprahnya di olahraga bulu tepok tersebut sudah lebih 15 tahun.

Wajar kalau pertemuan keduanya di lapangan paling banyak dibandingkan yang lain. Chong Wei, yang asal Malaysia, dengan Lin Dan dari Tiongkok sudah 36 kali bertemu.

Hasilnya, Lin Dan unggul 26 kali. Tapi, pada Sabtu (30/4/2016), keduanya kembali bertemu dalam semifinal Kejuaraaan Asia 2016 di Wuhan, Tiongkok.

Ternyata, kali ini Chong Wei mampu memperkecil kekalahanya. Dia unggul rubber game 22-20, 15-21, 21-4.

Hasil ini pun membawa lelaki yang diberi gelar Datuk oleh Pemerintah Malaysia tersebut menembus final. Chong Wei akan menantang wakil tuan rumah lainnya, Chen Long. Unggulan teratas tersebut mengalahkan rekan senegaranya sendiri Tian Houwei dengan 21-14, 21-16.

Partai ini juga bakal menarik. Chong Wei dan Chen Long sudah saling mengalahkan dengan skor 12-12.

Hanya, Chong Wei punya modal bagus. Dalam tiga pertemuan terakhir, dia selalu memetik kemenangan yakni di Tiongkok Open 2015, Hongkong Open 2015, dan Malaysia Open 2016.

Selain itu, dalam Kejuaraan Asia,Chong Wei sudah puasa gelar selama 10 tahun. Kali terakhir, lelaki 33 tahun tersebut naik ke podium terhormat pada 2006. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger