www.smashyes.com

www.smashyes.com

Hendra/Ahsan Tergelincir Tiga Peringkat

Minggu, 28 Agustus 2016

HASIL Olimpiade Rio 2016 memberi dampak negatif kepada pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Ranking keduanya di nomor ganda putra dunia melorot tiga setrip.

Dari ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Hendra/Ahsan ada di posisi kelima. Posisinya tergusur oleh pasangan Tiongkok yang baru saja meraih emas di Olimpiade Rio 2016, Fu Haifeng/Zhang Nan.

Bahkan, Hendra/Ahsan masih didepak oleh Kim Gi-jung/Kim Sa -rang dari Korea Selatan di posisi ketiga dan Chai Biao/Hong Wei dari Negeri Panda, julukan Tiongko, di peringkat keempat. Di Rio 2016, langkah pasangan terbaik Indonesia tersebut hanya sampai di babak penyisihan.

Hendra/Ahsan hanya mampu memetik satu kemenangan dalam tiga kali turun ke lapangan. Mereka menundukkan pasangan India Manu Attri/Reddy Sumeteh dengan 21-18, 21-13.

Tapi, di dua laga berikut, juara dunia 2015 itu tak berdaya. Hendra/Ahsan dipermalukan pasangan Jepang Kenichi Hayakawa/Hiroyuki Endo 17-21, 21-16, 14-21. Setelah itu, giliran Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok) yang menjegalnya dengan  15-21, 17-21.

Sebenarnya, di Rio 2016, pasangan merah putih tersebut diunggulkan di posisi teatas. Sayang, labilnya penampilan membuat Hendra/Ahsan gagal memenuhi ambisi membawa pulang gelar. Kegagalan ini membuat beredar rumor, keduanya bakal dipisahkan.

Ranking satu dunia masih ditempat ganda Korea Selatan Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Pasangan ini juga gagal meraih emas karena terhenti di babak kedua. (*)

Ratu Baru Tunggu Panggilan

SIRKUIT Nasional (Sirnas) 2016 sudah memasuki seri VI. Deretan pebulu tangkis pun berjejer naik ke podium juara.

Hanya, selama itu, pemenang di tunggal putri yang tak pernah berganti. Hera Desi selalu menjadi langganan pengaluangan medali juara.

Kali terakhir, dia menjadi pemenang di Medan dalam Seri Sumatera. Dalam final yang dilaksanakan pada Sabtu (27/8/2016), Hera,yang diunggulkan di posisi pertama, menghentikkan perlawanan unggulan kedua Febby Angguni (Tjaktindo Masters Surabaya) dengan 21-14, 21-12.

Pertemuan di final ini menjadi ulangan Seri Sulawesi di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu, Hera menang tiga game 8-21, 2-13, 21-7.

Sebelumnya dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Febby sempat mendapat sebutan ratu sirnas. Ini dikarenakan mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut selalu menjadi juara.

Dengan sekarang mengganti status Febby menjadi ratu sirnas, Hera layak dapat kesempatan memanaskan persaingan di Pelatnas Cipayung. Tapi, semua keputusan ada di tangan PP PBSI. (*)


Seri Kalimantan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (22-27 Februari)
Tungga putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik) 21-10, 23-21

Seri Sulawesi  di Makassar, Sulawesi Selatan (14-19 Maret 2016)
Tungga putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Febby Angguni (Tjakrindo Masters) 8-21, 21-13, 21-7

Seri Jakarta di Jakarta Pusat (2-7 Mei 2016)
Tunggal putri: Hera Desi (Mutiara Bandung) v Aprilia Yuswandari (Semen Gresik) 21-15, 11-21, 21-19

Seri Lampung di Bandar Lampung (18-23 Juli 2016)
Tungga putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Devi Yunita (Djarum Kudus) 21-11,21-14

Seri Jawa Barat di Cirebon (8-13 Agustus 2016)
Tunggal putri: Hera Desi (Mutiara Bandung)  v Priskilia Siahaya (Exists Jakarta) 16-21, 21-16, 22-15

Seri Sumatera di Medan, Sumatera Utara (22-27 Agustus 2016)
Tunggal putra:Fikri Hadmadi (Tangkas Jakarta) v Viky Angga (Tangkas Jakarta) 21-15,21-19
Tunggal putri:Hera Desi (Mutiara Bandung) v Febby Angguni (Tjakrindo Masters) 21-14, 21-12
Ganda putra:Agripinna Prima/Rian Swastedian (Jaya Raya Jakarta) v Hantoro/Tedi Supriadi (Djarum Kudus) 21-11, 21-15
Ganda putri:Dian Fitriani/Nadya Melati (Pertamina) v Suci Rizki0Zulfira Barkah (Mutiara Bandung) 19-21, 21-19, 21-19
Ganda campuran: Trikusuma Wardhana/Suci Rizki (Exists Jakarta/Mutiara Bandung) v Tedi Supriadi/Kesya Nurvita (Djarum/Berkah Abadi) 21-14, 21-19

Karena Sudah Paham Gaya Kido

Sabtu, 27 Agustus 2016

SAAT MASIH BERSAMA: Agripinna/Markis Kido

PASANGAN Agripinna Prima Putra/Rian Sawstedian membuat kejutan di Sirkuit Nasional (SIrnas) Seri Sumatera 2016. Datang dengan status nonunggulan, wakil Jaya Raya Jakarta tersebut mampu menembus babak final.

Di babak semifinal yang dilaksanakan di Medan pada Jumat waktu setempat (26/8/2016), Angripinna/Rian menang dua game langsung 21-18,21-13 atas Danang Dwi Setyadi/Muhammad Rydo Akbar (Jaya Raya Jakarta/Halim Jakarta). Tapi, kemenangan spesial dibukukan mereka sehari sebelumnya.

Agripinna/Rian menjungkalkan unggulan teratas, Markis Kido/Hendra Aprida Gunawan (Jaya Raya/Djarum) dengan straight game 21-17, 21-14. Di seri sebelumnya, Jawa Barat, yang dilaksanakan di Cirebon, Kido/Hendra mampu menjadi juara.

Bagi Agripinna, pertandingan tersebut menjadi reuni dengan Kido. Keduanyan sempat berpasangan hampir setahun.

Kido/Agripinna mampu menembus posisi 50 besar dunia. Sayang, dibandingkan pasangan-pasangan sebelumnya, mereka tak terlalu moncer dengan menjadi juara di ajang international.

Kido sendiri sempat menjadi juara dunia dan Olimpiade Beijing 2008 bersama Hendra Setiawan. Kemudian menembus Kejuaraan Dunia dengan Alvent Yulianto, serta menjadi juara France Open Super Series 2014 dengan Gideon Markus Fernaldi.

Agripinna sendiri dengan lama berpasangan dengan Kido membuatnya paham dengan gaya bermain kakak dari mantan ganda putri terbaik Pia Zebadiah tersebut.

Di babak final Seri Sumatera Utara, Agripinna/Rian dengan wakil Djarum Kudus, Hantoro/Tedi Supriadi yang di semifinal menghentikan lanju Ade Yusuf/Nugroho Andi Saputra (Wima Surabaya/Halim Jakarta) dengan 21-13, 22-24, 21-15. (*)

Masih Ingin Kejar Juara Dunia

Kamis, 25 Agustus 2016

LEE Chong Wei tak mau larut dalam kesedihan.  Meski, dia baru saja gagal meraih emas dalam Olimpiade Rio 2016.

Kegalan tersebut menjadi kali ketiga sepanjang karirnya berlaga dalam event olahraga empat tahunan itu. Chong Wei juga hanya menjadi finalis tunggal putra di Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012.

Hanya bedanya, jika di Beijing dan London dia kalah oleh Lin Dan, di Rio lelaki yang kini berusia 33 tahun tersebut dihentikan wakil Tiongkok lainnya Chen Long.

And the Penangite is adamant that if his body and mind allow he will certainly go for the World Championships title in Glasgow, Scotland next year.

“Saya sudah memberikan yang terbaik di Rio dan bohong kalau saya mengatakan tidak kecewa meraih emas,'' kata Chong Wei kepada awak media pada Rabu waktu Malaysia (24/8/2016).

Dia sangat kecewa dengan hasil yang diraih. Tapi, tambah Chong Wei, dia tak mau berpikir soal itu.

''Saya hanya ingin istirahat yang lama,'' ucap pebulu tangkis yang sebenarnya diunggulkan di posisi pertama di Rio 2016 itu.

Jika, ujarnya,  masih mampu berjalan, melompat, dan berlari, dia akan mencari perburuan gelar lain yang bergengsi. Pada 2017, Kejuaraan Dunia menjadi bidikan.

Pada tahun depan,ajang bergengsi tersebut digelar di Glasgow, Skotlandia, pada 21-27 Agustus. Pada 2015 di Jakarta, Chong Wei juga hanya menjadi runner-up. Lagi-lagi, Chen Long yang menghentikan ambisinya. (*)

Terharu dengan Sambutan yang Diberikan

Rabu, 24 Agustus 2016

Tontowi dan Liliyana saat diarak di Jakarta
TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir kembali ke tanah air. Sambutan pun diberikan atas prestasinya meraih emas semata wayang Indonesia di ajang Olimpiade Rio 2016.

 Usai mendarat di terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (23/8/2016), Tontowi/Liliyana beserta ti bulu tangkis langsung menuju terminal Ultimate untuk menghadiri acara penyambutan dan konferensi pers. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan dan segenap tim penyambutan memberikan kalungan bunga kepada Tontowi/Liliyana, tim bulu tangkis serta Chief de Mission Kontingen Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari.

 Usai sesi pengalungan bunga, Tontowi/Liliyana dipertemukan dengan kedua orangtua yang rela datang jauh-jauh untuk menyambut kedatangan mereka usai berjuang di Rio de Janeiro. Orangtua Tontowi, Muhammad Husni Muzaitun dan Masruroh, datang dari Desa Selandaka, Banyumas, Jawa Tengah. Sedangkan kedua orang Liliyana, Beno Natsir dan Auw Jin Chen, terbang dari Manado, Sulawesi Utara.

 “Selamat atas prestasi yang diraih para pahlawan olahraga di Olimpiade Rio 2106. Mereka betul-betul tampil luar biasa. Pemerintah akan terus mendukung olahraga, bukan hanya untuk kesenangan tetapi juga demi martabat bangsa. Kami betul-betul ingin menghargai pahlawan olahraga, pensiun sudah disiapkan, bonus-bonus olimpiade kali ini betul-betul spektakuler,” kata Imam dalam acara konferensi pers usai penyambutan seperti dikutip media PBSI.

Lilliyana mengaku terharu dengan penyambutan yang diberikan. Tak lupa, dia mengucapkan terimakasih atas apresiasi yang diberikan.

Setelah acara konferensi pers, acara dilanjutkan dengan Parade Pahlawan Olahraga. Tontowi/Liliyana serta kedua peraih medali perak dari cabang angkat besi, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan diarak menggunakan bus bandros dengan rute bandara, kantor Kemenpora, hingga sepanjang jalan Asia Afrika, Semanggi dan jalan Sudirman.

 Puncaknya, Tontowi/Liliyana bersama menuju kantor kemenpora untuk menghadiri acara syukuran dengan pemotongan tumpeng berwarna Merah-Putih. Di gedung Kemenpora telah berkumpul ribuan masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kedatangan para pahlawan olahraga. Letupan kembang api yang meriah di sekitar Gedung Kemenpora seolah menggambarkan kebahagiaan masyarakat atas kehadiran pahlawan olahraga.

 Keempat pahlawan olahraga ini dielu-elukan dan disanjung oleh masyarkat yang bersuka cita akan prestasi gemilang di Olimpiade Rio 2016. Rabu (24/8/2016), Tontowi/Liliyana dan tim diundang ke Istana Negara untuk bertemu Presiden Widodo. (*)

Yakin Bakal Kuat usai Olimpiade

Selasa, 23 Agustus 2016

Tangis Chen Long usai meraih emas Olimpiade 2016
TIONGKOK gagal di Rio 2016. Mereka hanya mampu meraih dua emas dalam pesta olaraga empat tahunan yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil, tersebut.

Negeri terpadat penduduknya di dunia tersebut meraih posisi terhormat dari Chen Long di nomor tunggal putra dan pasangan ganda putra Zhang Nan/Fu Haifeng. Capaian ini menjadi terburuk bagi Tiongkok di ajang olimpiade dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Tragisnya, di nomor putri, tunggal dan ganda, Tiongkok gagal menyabet medali. Jangankan emas, perunggu pun terbang ke negara lain.

Kritikan tajam pun diarahkan ke pelatih kepala Li Yongbo. Namun, lelaki 53 tahun tersebut menanggapi dingin.

''Kadang kamu uat. Tapi, kadang juga lemah,'' kata Li menerangkan kekuatan Tiongkok kepada media asing.

Dia menilai Indonesia dan Denmark sebagai negara kuat di bulu tangkis. Negaranya akan menyiapkan generasi baru yang bakal membuat mereka kembali disegani.

''Kami mempunyai banyak pebulu tangkis muda yang akan menembus papan atas. Mereka bakal tangguh usai olimpiade'' ujar Li.  (*)

Selamatkan Muka di Tengah Dahaga

Sabtu, 20 Agustus 2016

Zhang Nan/Fu Haifeng meraih emas ganda putra
s sudah disumbangkan dari nomor ganda putra melalui Zhang Nan/Fu Haifeng. Sementara satu emas masih ditunggu dari Chen Long yang akan menantang unggulan teratas Lee Chong Wei dari Malaysia.

Zhang/Fu mengalahkan Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia) dengan tiga game 16-21, 21-11,23-21 dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Rio de Janeiro Brasil pada Jumat waktu setempat (19/8/2016). Meski diunggulkan di posisi keempat, tapi sebenarnya peluang ganda Tiongkok menang diragukan. Alasannya,di babak penyisihan, Zhang/Fu menyerah dengan 21-16, 15-21, 18-21.

Sebenarnya, emas olimpiade bagi keduanya bukan hal yang asing. Di London 2012, Zhang dan Fu sudah meraihnya.

Hanya, ketika itu, mereka bukan sebagai pasangan. Zhang menjadi juara ganda campuran bersama Zhao Yunlei. Sementara Fu menjadi ganda putra bersama Cai Yun.

Bagi Malaysia,kekalaha ini membuat negeri jiran sudah dua kali kehilangan meraih emas di Rio 2016. Sebelumnya, di ganda campuran, pasangan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dihentikan oleh wakil Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kini, negeri serumpun tersebut tinggal berharap dari Chong Wei. (*)

Marin Sudah Komplet

Carolina Marin menggigit medali emas
CAROLINA Marin,23, masih susah dibendung. Sebarek gelar bergengsi sudah digenggam.

Mulai dari juara Eropa hingga dunia. Bahkan, gelar juara dunia disabetnya dua kali yakni pada 2014 dan 2015.

Kini,rak juaranya bertambah. Marin menjadi pebulu tangkis pertama di luar Asia yang mampu meraih emasdi nomor tunggal putri diluar wakil Asia dalam ajang Olimpiade. Hasil tersebut diraih usai mengalahkan PV Sindhu,21, dari India dengan tiga game 19-21, 21-12,21-15 di final Rio 2016.

Ini menjadi kemenangan kelima Marin atas Sindhu dalam delapan kali perjumpaan. Kali terakhir, sebelum olimpiade,keduanya berjumpa di Hongkong Open pada November 2015. Hasilnya, Marin menang dua game 21-17, 21-9.

Kekalahan Sindhu juga membuat India belum bisa meraih emas dari cabang olahraga tepok bulu tersebut. Hanya, capaian ini lebih bagus dibandingkan London 2012. Ketika itu, negeri dengan ibu kota New Delhi tersebut meraih perunggu melalui Saina Nehwal. (*)

Jepang pun Bisa Raih Medali

SEJARAH terus lahir dari cabang olahraga (cabor) bulu tangkis di Olimpiade Rio 2016. Setelah Indonesia yang kali pertama memperoleh emas dari nomor ganda campuran, kali ini giliran Jepang yang melakukan.


HARU: Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi
Negeri Sakura, julukan Jepang, bisa meraih emas dalam pesta olahraga empat tahunan tersebut. Keping mulia itu disumbangkan dari nomor ganda putri. Dalam final yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil,pada Kamis waktu setempat (18/8/2016), pasangan
Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi,yang diunggulkan di posisi teratas, mengalahkan ganda Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl dalam pertarungan tiga game  yang ketat 18-21,21-9, 21-19.

Sebelumnya, dalam sejarah bulu tangkis di olimpiade, Jepang belum pernah meraih medali. Meski,itu hanya kepingan perunggu.

Bahkan, pada Rio 2016 ini, Jepang juga memperoleh medali perunggu. Itu disumbangkan oleh Nozomi Okuhara yang menang WO karena lawannya Li Xuerui dari Tiongkok memilih tak berlaga.

Sebenarnya, Jepang punya kans juga di nomor tunggal putra. Tapi, absennya Kento Momota membuyarkan harapan tersebut.

Dia tak bisa berlaga di pesta olahraga empat tahunan tersebut karena tengah menjalani sanksi. Momota kedapatan melakukan judi ilegal. (*)

Masih Belum Percaya kalau Juara

Kamis, 18 Agustus 2016

SUJUD: Kegembiraan Tontowi/Liliyana usai juara (foto;PBSI)
TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir sukses menyumbangkan emas bagi Indonesia.Keduanya pun menjadi pahlawan bagi merah putih di Olimpiade Rio 2016.

“Saya dan Owi (sapaan karib Tontowi Ahmad) kaya belum percaya bisa juara. Tapi kami sangat bersyukur. Kami berterima kasih buat keluarga, pelatih dan seluruh masyarakat Indonesia yang mendoakan. Akhirnya kami bisa mempersembahkan emas untuk Indonesia,” kata Liliyana seperti dikutip media PBSI.

“Ini kado terindah dari Tuhan. Kado ini saya persembahkan untuk Indonesia bertepatan dengan hari kemerdekaan. Kami bersyukur kepada Tuhan. Terima kasih untuk istri, anak, keluarga, pelatih dan semuanya yang mendukung selama ini,” kata Tontowi menimpali.

Tontowi/Liliyana tampil luar biasa di partai puncak Olimpiade Rio 2016 ini. Keduanya terus menyerang sejak awal pertandingan dimulai. Tontowi/Liliyana tak memberikan kesempatan kepada Chan/Goh untuk mengembangkan permainan.

“Kami sudah lega banget mendapat hasil ini. Setelah ini mau istriahat dulu, refreshing. Karena selama ini bebannya cukup berat menuju Olimpiade,” ungkap Liliyana.

Tontowi/Liliyana dan Chan/Goh sebelumnya sudah sembilan kali berhadapan. Skor pertemuan mereka 8-1 untuk pasangan Indonesia. Pertemuan terakhir mereka terjadi di babak penyisihan grup C Olimpiade Rio 2016. Tontowi/Liliyana menang dua game langsung dengan 21-15 dan 21-11.


Ini merupakan emas pertama untuk sektor ganda campuran. Terakhir di Olimpiade Beijing 2008, Nova Widianto/Liliyana Natsir meraih medali perak. (*)

Rantai Emas Kembali Tersambung

BISA..: Tontowi/Liliyana di atas podium (foto;PBSI)
MIMPI buruk London 2012 tak terjadi lagi.Indonesia pun akhirnya mampu meraih emas di Olimpiade Rio 2016.

Cabang olahraga bulu tangkis membuat Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, bisa berdiri sejajar sebagai negara peraih emas dalam pesta olahraga terakbar di muka bumi tersebut.Emas itu disumbangkan dari nomor ganda campuran melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Di final yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada Rabu waktu setempat (17/8/2016) tersebut, mereka mengalahkan Chan Peng Soon/Goh LIu Ying dari Malaysia dengah dua game langsung 21-14, 21-12. Donasi ini pun ikut mengangkat posisi Indonesia di Rio 2016.
Sebelumnya, di Negeri Samba, julukan Brasil, merah putih baru bisa meraih dua perak dari cabang olahraga angkat besi.

Sebenarnya, sejak 1992, lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan Indonesia, selalu berkumandang di olimpiade. Bulu tangkis pun selalu menjadi penyumbang emas.

Sayang, tradisi tersebut patah pada London 2012. Hanya Tontowi/Liliyana yang mampu menembus semifinal. Tapi, mereka dihentikan pasangan Tiongkok Xu Chen/Ma Jin di semifinal dengan tiga game 23-21, 18-21,13-21.

Di perebutan perunggu pun, Tontowi/Liliyana gagal. Pasangan yang sama-sama bernaung di klub yang sama, Djarum Kudus, itu menyerah kepada pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dengan 12-21, 12-21.

Tapi, pada saat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Ke-71, rantai emas tersebut kembali tersambung. (*)

Tradisi Emas Indonesia di Olimpiade

Barcelona 1992:
Alan Budikusuma (tunggal putra)
Susi Susanti (tunggal putri)

Atlanta 1996
Rexy Mainaky/Ricky Soebagdja (ganda putra)

Sydney 2000
Candra Wijaya /Tony Gunawan (ganda putra)

Athena 2004
Taufik Hidayat (tunggal putra)

Beijing 2008
Markis Kido/Hendra Setiawan (ganda putra)]

London 2012
-

Rio 2016
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran)

Kejar Sejarah Lewat Marin

Rabu, 17 Agustus 2016

SPANYOL:  Carolina Marin (foto;indiaexpress)
SPANYOL terus mengejar sejarah di bulu tangkis. Juara dunia pertama sudah melalui tunggal putri andalannya, Carolina Marin.

Kini, gadis 23 tahun tersebut kembali menjadi tumpuan di Olimpiade Rio 2016. Langkah itu pun semakin dekat.

Perjalanan Marin sudah sampai babak semifinal. Tiket tersebut diperolehnya usai menghentikan Sung Ji-hyun dari Korea Selatan dengan straight game 21-12, 21-16 dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada Selasa waktu setempat (16/8/2016).
Ini menjadi kemenangan keenam dalam tujuh kali pertemuan Marin dengan wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut. 

Di semifinal, Marin akan berjumpa dengan Li Xueri. Di semifinal, wakil Tiongkok tersebut menghentikan perlawanan Porntip Buranaprasertsuk (Thailand) dengan 21-12, 21-17.

Li Xuerui merupakan juara bertahan. Empat tahun lalu di London, dia mengalahkan rekannya sendiri, Wang Yihan.

Dari lima kali pertemuan, Marin hanya menang dua kali. Tapi, dua kemenangan tersebut dipetiknya dalam dua pertemuan terakhir yakni di Kejuaraan Dunia 2014 dan Malaysia Open 2015.  Semifinal lain di tunggal putri mempertemukan PV Sindhu dari India melawan Nozomi Okuhara dari Jepang. (*)

Jalan Emas dengan Pasangan Beda

Fu saat berpasangan dengan Cai Yun (foto:xinhua)
KEINGINAN Tiongkok memastikan emas ganda putra sebelum laga final urung terlaksana. Negeri terpadat penduduknya ini hanya mampu meloloskaan watu wakil di final Rio 2016.

Satu tiket tersebut ada di tangan Fu Haifeng/Zhang Nan yang mengalahkan Marcus Ellis/Chris Langridge dari Inggris dengan 21-14, 21-18 pada babak semifinal yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada Selasa waktu setempat (16/8/2016).  Ini menjadi kemenangan ketiga bagi pasangan peringkat keempat dunia itu selama tiga kali bertemu dengan lawan yang sama.Sebelumnya, Fu/Zhang unggul di Japan Open 2015 dan Australia Open 2015.

Sayang, satu wakil Tiongkok lainnya, Chai Biao/Hong Wei menyerah dengan rubber game 18-21, 21-12, 17-21 kepada Goh V Shem/Tan Wee Kiong dari Malaysia. Di babak penyisihan lalu, Fu/Zhang juga berjumpa dengan V Shem/Wee Kiong.

Hanya, ketika itu, secara mengejutkan, ganda Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut kalah dengan tiga game 21-16, 15-21, 18-21. Hasil tersebut membuat  Fu/Zhang tertinggal 1-2 dalam rekor pertemuannya.

Kemenangan digapai mereka di BCA Open 2015. Sedangkan di perjumpaan perdana, Fu/Zhang menyerah tiga game di France Open di Paris.

Bagi keduanya, emas olimpiade bukan kali pertama. Hanya, mereka memperolehnya dengan pasangan berbeda. Fu meraih emas di ganda putra bersama Cai Yun di London 2012 dan Zhan melakukannya di waktu yang sama tapi di ganda campuran bersama Zhau Yunlei.

Di Rio 2016, Zhang/Zhao nyaris mempertahankan emas. Tapi, perjalanan keduanya dihentikan wakil Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (*)

Sampai Lupa Skor

Selasa, 16 Agustus 2016

Zhan dihibur Zhou Yunlei usai kalah di semifinal (foto: BWF)
Pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut merupakan lawan terberat bagi Tontowi/Liliyana. Dari rekor pertemuan, pasangan binaan PBSI tersebut hanya menang lima kali dan kalah 13 kali. Bahkan, dalam pertemuan terakhir, Tontowi/Liliyana kalah di Kejuaraan Asia 2016. 

Tapi, semua rekor dan catatan itu seakan tak berarti saat Tontowi/Liliyana berjumpa dengan Zhang/Zhao di semifinal Rio 2016 di Rio de Janeiro pada Senin malam waktu setempat (15/8/2016) atau Selasa pagi WIB (16/8/2016). Pasangan yang kini bernaung di klub yang sama, Djarum Kudus, itu  menumbangkan Zhang/Zhao, 21-16 dan 21-15.

“Kuncinya ketenangan, fokus dan kekompakan dari kami,” kata Liliyana seperti dikutip media PBSI.

Tontowi/Liliyana tampil baik dan penuh percaya diri.Susul menyusul angka terjadi sejak game pertama dimulai.

Tontowi/Liliyana unggul 7-4 dari Zhang/Zhao. Kedudukan sempat imbang 14-14, namun kemudian pasangan Indonesia tersebut terus melaju 18-15 hingga menang 21-16.

Masuk ke game dua, Tontowi/Liliyana terus menekan dengan unggul 5-0 di awal. Tontowi/Liliyana kemudian unggul lagi hingga interval dengan 11-8.

Pertandingan sempat menegang ketika Zhang/Zhao mencoba menyusul perolehan angka jadi 12-12. Namun perlahan tapi pasti, Tontowi/Liliyana pun membuat jarak poin, mereka unggul 17-14. Tontowi/Liliyana menang 21-15 setelah pengembalian Zhao yang melebar meninggalkan lapangan.

“Saat sudah unggul, saya nggak berpikir tentang menang. Poin 20 juga saya berpikir masih banyak poin. Saya cuma berpikir poin poin poin aja. Pas liat angka 20 juga saya nggak tau siapa yang 20. Pokoknya fokus aja dulu. Bola masuk aja dulu, kami bikin poin,” ungkap Tontowi.

Di final Tontowi/Liliyana akan berhadapan dengan pasangan Malaysia, Chan Peng Soo/Goh Liu Ying. Chan/Goh melaju ke final usai mengalahkan pasangan Tiongkok, Xu Chen/Ma Jin, 21-12, 21-19. (*)

Fokus untuk Terus Tradisi Emas

TRADISI emas di olimpiade bakal bersambung lagi.  Hanya syaratnya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir tak boleh terlalu percaya diri.

Ini disebabkan keduanya akan kembali bertemu dengan pasangan Malaysia Chan Peng Soo/Goh Liu Ying. Dari sembilan kali pertemuan, Tontowi/Liliyana menang delapan kali atau hanya sekali kalah.

Bahkan, tiga hari yang lalu di ajang yang sama, Olimpiade Rio 2016, pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut unggul dua game langsung 21-15, 21-11 di babak penyisihan.

Tontowi/Liliyana dan Peng Soon/Liu Ying bertemu di final Olimpiade Rio 2016 setelah mempermalukan lawan-lawannya yang kebetulan sama-sama dari Tiongkok. Tontowi /Liliyana  menundukkan unggulan teratas  Zhang Nan/Zhao Yunlei, 21-16,21-15 dalam pertandingan semifinal di Rio de Janeiro pada Senin waktu setempat (15/8/2016) atau Selasa pagi (16/8/2016). Sementara Peng Soon/Liu Ying mempermalukanXu Chen/Ma Jin, 21-12, 21-19.

Kemenangan Tontowi/Liliyana nanti akan menjadi pengakhiri dahaga emas di Rio 2016. Sekaligus akan menjadi kado manis bagi HUT Kemerdekaan RI ke-71 yang dirayakan pada 17 Agustus 2016.

Hingga Selasa siang WIB, Indonesia masih berkutat dengan dua medali perak yang semuanya disumbangkan dari caang olahraga angkat besi. Tradisi emas dari bulu tangkis putus pada Olimpiade London 2012.

Ketika itu, capaian terbaik diraih Tontowi/Liliyana. Mereka mampu menembus babak semifinal.

Tapi, di empat besar, pasangan yang kini sama-sama bernaung di klub Djarum Kudus tersebut kalah oleh Xu Chen/Ma Jin dengan 23-21, 18-21, 13-21. Kemudian di perebutan medali perunggu, Tontowi/Liliyana dipermalukan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark) 21-12 21-12. (*)

Dokter Nyatakan Ade Sembuh

Senin, 15 Agustus 2016

Ade (kanan) bersama Nugroho Andi  (foto:djarum)
NAMA Ade Yusuf tak ada lagi dalam daftar penghuni Pelatnas Cipayung. Dia dikembalikan ke klub asalnya, Wima Surabaya, dengan alasan sakit.

Padahal, saat itu, dua bulan lalu, penampilan Ade tengah menanjak. Berpasangan pasangannya, Wahyu Nayakan, keduanya disebut-sebut bakal menjadi pasangan penerus Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Tentunya, setelah Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Bahkan, Ade/Wahyu punya kans bersaing dengan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon.

Bahkan, saat ini, Ade/Wahyu masih bertengger di posisi ke-40 dunia. Pada Oktober 2015, mereka menduduki ranking terbaik dengan duduk di posisi 16.

Gelar juara pun mampu disabet dalam Thailand Open Grand Prix Gold 2016. Di final, Ade/Wahyu menumbangkan pasangan senior Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Sayang, sakit membuat keduanya absen lama. Hingga akhirnya, Wahyu pun dipasangkan dengan Hardianto dan juga dengan Hafiz Faisal. Tapi,capaian yang diraih belum sebagus jika berpasangan dengan Ade.

Ade sendiri pun kembali aktif mengayunkan raket. Dia sudah tampil lagi di ajang sirkuit nasional. Dia memilih bertandem dengan Nugroho Andi Saputro.

''Memang, dulu Ade sakit tapi sekarang dia sembuh. Dia juga sudah latihan terus di sini,'' kata pelatih Wima Surabaya Ferry Stewart.

Hanya, dia masih berharap PP PBSI kembali membuka pintu bagi Ade. Apalagi, tambah dia, dokter sudah menyatakan anak asuhnya tersebut tidak menderita sakit apa pun. (*)

Menanti Kemenangan Ketujuh

BAGI Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, ada satu pasangan yang selalu melahirkan mimpi buruk. Mereka adalah ganda campuran Tiongkok Zhang Nan/Zhou Yunlei.

Dari 19 kali pertemuan, pasangan Indonesia itu hanya menang enam kali. Bahkan, Tontowi/LIliyana pernah mengalami tujuh kali kekalahan beruntun.

Rantai itu putus saat di Super Series Finals di Dubai pada 11 Desember 2015. Sayang, dalam pertemuan terakhir di Kejuaraan Asia 2016, Tontowi/Liliyana kembali ke luar lapangan dengan muka tertunduk.
Saat itu, 1 Mei 2016, mereka menyerah 21-16, 9-21, 17-21.

Nah, kini kedua pasangan bakal bertemu di laga penting, semifinal Olimpiade Rio 2016. Ini setelah Tontowi/Liliyana dan Zhang/Zhou mampu mengalahkan lawannya.

Pasangan Pelatnas Cipayung tersebut mengalahkan rekannya sendiri, Praveen Jordan/Debby Susanto, dengan dua game langsung 21-16, 21-11. Ini menjadi kemenangan ketiga dalam tiga kali pertemuan.  Dua kali kemenangan sebelumnya dipetik di Indonesia Open Grand Prix Gold 2015 dan Korea Open 2015.

Kedua pasangan merah putih tersebut bisa bertemu karena Tontowi/Liliyana merupakan juara grup C. Sedangkan Praveen/Debby merupakan runner-up grup A.

Zhang/Zhou, yang merupakan juara grup A, di perempat final menghentikan perlawanan Kenta Kazuno/Ayane Kurihara dari Jepang dengan 21-14, 21-12.

Semifinal ganda campuran lainnya bakal mempertemukan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) dengan Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok). (*)

Harus Bentrok di Perempat Final

INDONESIA sudah dipastikan mempunyai wakil di semifinal dari cabang olahraga bulu tangkis. Dua wakil merah putih di nomor ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto, terpaksa bertemu di babak semifinal Olimpiade Rio 2016.

Ini dikarenakan Praveen/Debby gagal menjadi juara grup. Dalam pertandingan terakhir grup A yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil,pada Sabtu waktu setempat, keduanya menyerah dua game langsung 11-21, 18-21 dari unggulan teratas asal Tiongkok Zhan Nan/Zhou Yunlei.

Kekalahan ini menjadi pil pahit pertama bagi Praveen/Debby. Sebelumnya, dalam dua laga yang sudah dilakoni, mereka mampu mengalahkan Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah dari Hongkong dan Michael Fuchs/Birgit Michales (Jerman).

Sedangkan Tontowi/Liliyana menembus perempat final dengan status juara grup C. Di laga pemungkas Sabtu waktu setempat, mereka menang 21-15, 21-11 atas Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Dua pertandingan lain juga mampu dimenangkan atas Bodin Issara/Savitree Amitrapai (Thailand) dan Robin Midleton/Leanne Choo (Australia).

Di atas kertas, Tontowi/Liliyana akan menembus babak  empat besar. Unggulan ketiga di Rio 2016 ini sudah dua kali menang atas Praveen/Debby yakni di Indonesia Grand Prix Gold 2015 dan Korea Open 2015.

Jika mampu menembus semifinal, Tontowi/Liliyana akan mengulangi capaian Olimpiade London 2012. Sayang, keduanya gagal ke final karena dikalahkan Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) dengan 23-21, 18-21, 13-21.

Di perebutan perunggu, Tontowi/Liliyana dipermalukan wakil Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dengan 12-21, 12-21. (*)

Perempat Final di Depan Mata

TIKET ke babak 16 besar Olimpiade Rio 2016 sudah di tangan Tommy Sugiarto. Dua kali kemenangan di Grup J membuat dia lolos dengan status pemuncak.

Kemenangan pertama dibukukan Tommy atas Howard Shu (Amerika Serikat), 21-14, 21-10. Pada pertandingan hari ini, Minggu (14/8), Tommy kembali memetik kemenangan dari Osleni Guerrero (Kuba), dengan skor 21-12, 21-14.

Bahkan, tiket ke perempat final juga sudah berada di genggaman Tommy. Kok bisa ? Ini karena lawan yang dihadapi adalah Rajiv Ouseph.

Pebulu tangkis Inggris Raya ini sudah tak asing baginya. Tommy selalu memetik kemenangan dalam lima kali perjumpaan. Hebatnya, semua kemenangan dipetik tunggal putra terbaik Indonesia tersebut dengan dua game langsung (straight game).

Kali terakhir, Tommy menang di Japan Open Super Series 2014 dengan 21-10,21-15. Hanya, dua tahun setelah itu,keduanya tak pernah lagi bertemu. Putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut diharapkan tak menganggap remeh  Rajiv.

Keduanya bertemu dengan status berbeda di perempat final Rio 2016. Tommy lolos sebagai juara grup J dan Rajiv penguasa grup I. (*)

Modal Dua Pertemuan Terakhir

JALAN terjal bagi pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Mereka  akan berjumpa dengan Yu Yang/Tang Yuanting, unggulan kedua dari Tiongkok, pada babak perempat final Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Dengan status Greysia/Nitya yang merupakan unggulan ketiga, semestinya tidak bertemu unggulan kedua di perempat final. Namun kenyataan berkata lain.

Yu/Tang gagal menjadi juara grup D. Hal ini membuat Yu/Tang berjumpa dengan Greysia/Nitya yang merupakan juara grup C.

Yu/Tang unggul 5-2 dalam catatan pertemuan dengan Greysia/Nitya. Hanya, dua kemenangan terakhir bisa diraih Greysia/Nitya pada kejuaraan Australia Open Super Series 2016 dengan skor 21-18, 21-17, serta di India Open Super Series 2016 dengan skor 21-19, 21-12.

“Greysia/Nitya sebaiknya tidak terbebani dengan dua kemenangan yang mereka raih dari pertemuan terakhir dengan Yu/Tang. Pasangan Tiongkok ini adalah ganda bagus, kami harus hadapi, yang penting Greysia/Nitya harus siap capek dan berjuang di setiap angka,” ujar Eng Hian, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI.


Sementara itu, unggulan pertama Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi bakal bertemu dengan Vivian Kah Mun Hoo/Woon Khe Wei (Malaysia). Masih di grup atas, unggulan keempat dari Korea Selatan, Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan, dihadapkan dengan Eefje Muskens/Selena Piek (Belanda). Di grup bawah, selain Greysia/Nitya dan Yu/Tang, Chang Ye Na/Lee So Hee (Korea), akan memperebutkan tiket semifinal melawan Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen (Denmark). (*)

Mantan Juara Olimpiade Juarai Sirnas

Minggu, 14 Agustus 2016

STATUSNYA peraih emas olimpiade. Itu dilakukan Markis Kido di Beijing, Tiongkok, pada 2008.

Bahkan, saat ini, pasangannya saat meraih emas ganda putra Hendra Setiawan berlaga kembali di Rio 2016. Meski, akhinya Hendra, yang berpasangan dengan Mohammad Ahsan, terhenti di penyisihan grup.

Di saat yang bersamaan, Kido pun juga tampil. Hanya, levelnya jauh di bawah olimpiade.

Kakak dua mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung, Pia Zebadiah dan Bona Septano, tersebut unjuk kemampuan dalam ajang Sirkuit Nasional (SIrnas) Seri Jawa Barat yang dilaksanakan di Cirebon. Dia berpasangan dengan Hendra Aprida Gunawan.

Keduanya berasal dari klub yang berbeda. Kido dari Jaya Raya Jakarta dan pasangannya dari Djarum Kudus. Kido/Hendra pun menempati unggulan teratas.

Ranking dunia yang dimiliki jauh di atas lawan-lawannya. Kini, Kido/Hendra AG sudah di posisi 41 dunia.

Di Kota Udang, julukan Cirebon, pasangan senior ini pun keluar sebagai juara. Dalam babak final yang dilaksanakan Sabtu (13/8/2016), Kido/Hendra AG mengalahkan Davin Pradwissa/Muhammad Alfian (Bank Sumsel-Babel/JR Enkei) dengan straight game 21-13, 25-23.

Sirnas bisa menjadi ajang pemanasan bagi keduanya di saat ajang internasional libur karena Olimpiade Rio 2016. Sasaran terdekatnya adalah Indonesia Grand Prix Gold 2016 yang dilaksanakan di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada September mendatang. (*)


Hasil Sirnas Cirebon 2016 (kelompok dewasa)

Tunggal putra: Vicky Angga Saputra (Tangkas, x7) v Setyaldi Putra Wibowo ( Guna Dharma Bandung x2) 12-21, 21-18, 22-20 

Tunggal putri: Hera Desi ( Mutiara Bandung x1) v Priskilia Siahaya (Exist Jakarta x8) 16-21, 21-16, 21-15

Ganda putra: Markis Kido/Hendra Aprida Gunawan (x1) v Davin Pradwissa/Muhammad Alfian (Bank Sumsel-Babel/JR Enkei) 21-13, 25-23

Ganda putri: Suci Rizki Andini/Yulfira Barkah (Mutiara Bandung x4) v Gebby Ristiyani/Weni Anggraeni (Mutiara Bandung/Jaya Raya Jakarta)  21-13, 21-15

Ganda campuran: Tedi Supriadi/Ririn Amelia (Djarum Kudus x5) v Ardiansyah Putra/Devi Tika (Berkah Abadi Banjarmasin x3) 21-16, 21-16

x=unggulan

Seandainya Olimpiade Dilaksanakan 2015

 HENDRA Setiawan/Mohammad Ahsan harus melupakan mimpinya menyumbangkan emas bai Indonesia di Olimpiade Rio 2016.  Jangankan menembus final, di babak penyisihan, keduanya sudah angkat koper.

Hendra/Ahsan dipaksa harus mengakui ketangguhan wakil Tiongkok Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok) dengan straight game 15-21, 17-21 dalam pertandingan Grup D yang dilaksanakan di Rio de Janeiro pada Sabtu waktu setempat (13/8/2016). Ini menjadi kekalahan kedua setelah sehari sebelumnya dipecundangi Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang). Tiket perempat final pun akhirnya jatuh ke tangan Endo/Hayakawa dan Chai/Hong. Hendra/Ahsan berada di posisi ketiga, diikuti oleh Manu Attri/Sumeeth Reddy asal India di posisi keempat.

“Tadi permainan kami tidak keluar, serangan dari pasangan Tiongkok juga berbahaya. Di game pertama, kami terlalu gampang mengangkat bola, jadi kami diserang terus. Saat game kedua sebetulnya sudah lebih enak, tetapi kami melakukan kesalahan di poin-poin kritis,” tutur Hendra usai laga seperti dikutip media PBSI.

Hasil ini membuat PP PBSI khususnya tim pelatih ganda putra harus memutar strategi. Hendra/Ahsan bisa jadi harus diceraikan.

Alasannya, puncak penampilan keduanya sudah lewat. Seandainya Olimpiade Rio maju setahun, besar kemungkinan emas akan diraih Indonesia.

Tahun lalu, Hendra/Ahsan mampu meraih juara di ajang bergengsi, All England dan Kejuaraan Dunia. Tapi, setelah itu, performa keduanya terus menurun dengan endingnya jeblok di Rio 2016.

Padahal, keduanya diharapkan mampu menjadi penerus tradisi emas di pekan olahraga empat tahunan tersebut. Pada 2012 di London, Indonesia gagal meraih emas di cabang olahraga tepok bulu itu.

Hendra sendiri pernah menjadi juara pada 2008 di Beijing, Tiongkok. Ketika itu, dia berpasangan dengan Markis Kido. (*)

Bukan Lawan Sepadan bagi Tommy

Jumat, 12 Agustus 2016

LANGKAH mudah bagi Tommy Sugiarto di Rio 2016. Dia memetik kemenangan cukup telak atas Howard Shu (Amerika Serikat) dengan dua game langsung 21-14, 21-10 pada babak penyisihan grup J Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

 Kekuatan di atas kertas memang menunjukkan bahwa Tommy jauh lebih unggul dari Shu. Kenyataan di lapangan pun demikian, Tommy membuat Shu tak dapat berkutik. Dengan permainan reli yang memang menjadi andalan Tommy, ia membuat Shu sulit mengembangkan permainan.

Menang mudah di game pertama, Tommy kian tak terbendung di game kedua. Ia unggul jauh hingga 7-3 dan Shu semakin dibawah tekanan.

Meskipun beberapa kali meraih angka dengan mendaratkan dropshot tajam di sisi kanan Tommy, namun Shu belum berhasil menahan laju lawannya tersebut.

Satu pukulan tajam yang diarahkan Tommy di sisi kanan Shu yang gagal dikembalikan dan menyangkut di net, membuat Tommy akhirnya menang straight game.

“Di game pertama setelah interval game, saya merasa lebih percaya diri, saya bisa mengembangkan permainan, jadi lawan tidak mudah menyerang. Faktor angin cukup berpengaruh, shuttlecock agak lambat, tetapi tidak terlalu jadi masalah,” kata Tommy usai laga seperti dikutip media PBSI.

 “Tommy masih berdaptasi dengan situasi lapangan, penampilan tadi masih 70 persen dari seluruh kemampuan Tommy. Stamina kedua pemain masih sama-sama bagus, dan mereka jaga permainan, pola main mereka sebetulnya sama. Menurut saya Tommy sudah cukup baik, tapi masih ada yang bisa ditingkatkan, misalnya kecepatannya,” kata Toto Sunarto, pelatih Tommy.

Laga selanjutnya, Tommy akan berhadapan dengan sesama penghuni grup J yaitu Osleni Guerrero (Kuba). Pertandingan antara Tommy melawan Guerrero akan dilangsungkan Minggu, (14/8), pukul 18.55 WIB.

Jeda satu hari tanpa pertandingan akan dimanfaatkan Tommy untuk latihan. Diungkapkan Toto, Tommy akan tetap latihan untuk recovery dengan tensi latihan sekitar 60-70 persen.

“Soal lawan selanjutnya, kami akan melihat permainan lawan dan menganalisa, kira-kira strategi apa yang tepat. Guerrero sepertinya hanya mengandalkan power saja, Maunya lawan diajak lari-lari, supaya dia tidak mudah mengeluarkan serangannya,” tambah Toto. (*)

Hendra/Ahsan Kantongi Modal Awal

Kamis, 11 Agustus 2016

AWAL manis Pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Olimpiade Rio 2016. Keduanya berhasil melewati rintangan pertama di babak penyisihan grup D dengan mengalahkan  wakil India Manu Attri/Sumeeth Reddy dengan straight game 21-18, 21-13.

Tampil di pertandingan pertama, Henda/Ahsan masih terlihat berupaya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang memang berangin. Meskipun kelas Hendra/Ahsan masih berada di atas Attri/Reddy, namun pertandingan berlangsung cukup ramai.

 Pada kedudukan game point 20-15 untuk keunggulan Hendra/Ahsan, mereka harus kehilangan tiga angka berturut-turut dan pasangan India mendekat jadi 18-20.

“Saat itu kami terlalu memaksa terima servis, jadi nanggung. Lapangan memang ada angin sedikit, tetapi tidak terlalu masalah. Tadi kami menerapkan strategi permainan no lob. Di game pertama kami kalah angin, jadi lawan enak untuk menyerang,” ujar Hendra seperti dikutip media PBSI

Dia mengakui pukulan belum banyak yang pas di pertandingan pertama.  Hendra mengakui smashnya juga banyak yang nggak pas.

''Selanjutnya, kami harus lebih sabar, apalagi lawan-lawan selanjutnya nggak mudah dimatikan,” lanjutnya.

Hendra/Ahsan masih harus melakoni dua laga lagi melawan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang) dan Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok).

Pada laga kedua di penyisihan grup yang akan berlangsung besok, Jumat (12/8), Hendra/Ahsan akan menantang Endo/Hayakawa. Skor pertemuan diungguli Hendra/Ahsan dengan kedudukan 9-0.

“Hendra/Ahsan sudah lama tidak bertemu Endo/Hayakawa, jadi rekor pertemuan ini tidak bisa dijadikan patokan. Bisa saja lawan ada perkembangan. Semua pemain dunia pasti sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menghadapi olimpiade,” ujar Herry Iman Pierngadi, pelatih Hendra/Ahsan.

Menilai penampilan anak didiknya malam ini, Herry menuturkan Hendra/Ahsan masih belum tampil seratus persen di pertandingan pertama. Masih banyak pukulan-pukulan yang kurang akurat seperti tanggung, menyangkut di net dan sebagainya. (*)

Ganda Putri pun Bisa

PERJUANGAN Indonesia merebut emas di Olimpiade Rio 2016 dimulai hari ini. Cabang olahraga bulu tangkis menjadi salah satu asa terbesar Indonesia raya bisa berkumandang di Brasil.

Hanya, prestasi Indonesia di berbagai ajang internasional tengah di grafik menurun. Bagaimana komentar legenda dunia Christian Hadinata tentang itu. Berikut sekilas petikan wawancara dengan sang maestro itu saat berada di Surabaya, Jawa Timur, pada akhir Juli lalu.

Selamat siang ?
-Siang juga.

Bicara Olimpiade Rio yang segera dilaksanakan, bagaimana peluang Indonesia?
-Peluang itu tetap ada. Karena bulu tangkis kan cabor andalan Indonesia di sana

Berapa emas prediksi Anda?
-Saya memprediksi emas bisa disumbangkan dari ganda putra dan ganda campuran Ganda putra tentunya Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Keduanya sudah pengalaman.

Ada peluang di nomor lain?
Ada. Ganda putri. Grafik permainan Greysia Polii/Nitya Krishinda lagi naik.

Christian juga menyebutkan adaptasi dengan cuaca Brasil dengan berangkat awal ikut membantu usaha bulu tangkis menjadi penyumbang emas dalam ajang empat tahunan tersebut. Sayang, pada Olimpiade Rio 2016, dia sudah tak mendampingi.

Kini, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menunggu pembinaan di klub yang membesarkannya, Djarum. Untuk nomor ganda, Djarum menempa latihannya di Jakarta. Sementara tunggal di Kudus.(*)

Selasa, 09 Agustus 2016

Sudah Sering Jadi Juara


MARAKNYA turnamen kelompok umur senior tak membuat Christian Hadinata kepincut. Lelaki yang kini berusia 66 tahun tersebut lebih memilih berlatih sendiri untuk menyalurkan kegemarannya pada bulu tangkis.

Meski, dia tak menampik tawaran bertanding di berbagai turnamen masih sering singgah. Padahal, jika mau, dia bisa bertanding sekalian jalan-jalan ke luar negeri bisa dia dapat.

''Saya pilih berlatih sekalian bisa mengawasi anak-anak berlatih,'' terangnya.

Tapi, sebenarnya, ada alasan yang membuat Christian menolak mengikuti turnamen kelompok umur. Usia yang sudah uzur bukan jawaban yang tepat.

''Turnamen itu kan buat mereka yang jarang atau belum pernah juara. Kalau saya kan sudah biasa juara,'' kata Christian sambil tertawa.

Memang harus diakui, Christian bergelimang prestasi semasa aktif menjadi atlet. Semua gelar sudah pernah dirasakan pelaki yang dikenal bertangan dingin dalam menangani nomor ganda putra tersebut.

Juara Asia, juara dunia, dan All England sudah menjadi langganan bagi Christian yang berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut. Christian juga menjadi bagian dari Tim Indonesia ketika berjaya di ajang Piala Thomas di era 1070-an hingga pertengahan 1980-an. (*)

Lapangan Pertandingan Agak Berangin

TIM Bulu Tangkis Indonesia adaptasi dengan arena pertandingan Olimpiade 2016. Pada Selasa waktu setempat (9/8/2016), Hendra Setiawan dkk menjajal lapangan di stadion Riocentro – Pavillion 4.

Jajal lapangan kali ini bertujuan untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan, arah angin, cahaya lampu, dan sebagainya.Ini adalah kali kedua duta merah putih hadir di lapangan pertandingan.

Sebelumnya, tim juga melakukan jajal lapangan Senin (8/8). Rencananya Tim Indonesia akan berlatih selama tiga hari di stadion Riocentro.

Besok, Rabu (10/8), skuad yang didampingi oleh Rexy Mainaky, selaku manajer tim, akan mencoba lapangan untuk kali terakhir sebelum pertandingan dimulai pada Kamis (11/8).

“Lapangan agak berangin, soal penerangan sepertinya oke, tidak ada masalah. Para atlet pun kondisinya fresh, mereka mulai menempati perkampungan atlet yang yang menurut saya cukup bagus,” ujar Rexy seperti dikutip media PBSI.

Sementara itu, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI Eng Hian menerangkan bahwa kondisi lapangan di stadion Riocentro cukup berangin. Oleh karenanya, ungkap dia, anak didiknya, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, diminta untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ini.

 “Memang agak berangin lapangannya, lantai lapangan juga agak bergelombang, tetapi kata panitia akan ada perbaikan hari ini,” ujar Eng soal lapangan.

Anginnya, tambah dia, tidak begitu kencang. Arah anginnya hanya ke satu sisi saja.

''Memang agak tricky untuk pemain karena faktor kebiasaan. Jadi kami akan coba maksimalkan untuk adaptasi lapangan di sisa waktu latihan sebelum hari pertandingan nanti,” jelasnya.

 Ditambahkan lelaki asal Solo, Jawa Tengah, ini adaptasi yang paling jitu adalah jika pemain sudah merasakan seperti di tempat latihan mereka sehari-hari.

Pertandingan bulu tangkis di Olimpiade 2016 akan dimulai pada Kamis ( 11/8/2016) . Pasangan ganda putra Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan akan menjadi wakil Indonesia pertama yang akan bertanding pada pukul 19.00 WIB, melawan Manu Attri/Reddy B. Sumeeth dari India. (*)

Bukti Komitmen Alan-Susi

Setiap olimpiade dilaksanakan, nama Alan Budikusuma dan Susi Susanti, selalu disebut. Keduanya merupakan wakil Indonesia yang meraih emas dalam event akbar empat tahunan tersebut.
--
SEBUAH main dealer mobil di kawasan Aloha, Waru, Sidoarjo, padat oleh tamu. Mereka tengah duduk dan mendengarkan musik yang dilantunkan dari peralatan organ tunggal.

Tapi, mereka datang bukan untuk membeli mobil. Juga bukan untuk mendengarkan alunan suara penyanyi lokal tersebut.

Mereka hadir untuk mengikuti bisa berjumpa Alan Budikusuma dan Susi Susanti. Pasangan suami istri tersebut tengah dalam perjalanan dari Bandata Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo yang jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari lokasi.

Tapi, acara yang seharusnya dilaksanakan pukul 10.00 WIB pada akhir Juli tersebut molor setengah jam atau 30 menit. Akhirnya, Alan dan Susi pun turun dari mobil jemputan.

Keduanya pun berbegas diarahkan ke ruang ganti. Keduanya harus berganti kaos yang ada tulisan sponsor utama kejuaraan yang digagas Alan dan Susi.

''Kami sangat bersyukur akhirnya kejuaraan kami ada sponsor. Kami banyak mengucapkan terima kasih banyak atas kerja samanya,'' kata Susi.

Ya, sebelumnya, kejuaraan yang digagas mantan andalan Indonesia di pentas bulu tangkis internasional tersebut belum punya sponsor utama. Sehingga titel kejuaraannya pun hanya memakai produk mereka, Astec. Nama Astec sendiri merupakan paduan keduanya, Alan-Susi Technology.

Kejuaraan pun hanya sekali dalam setahun. Tapi, dengan adanya spondor dari perusahaan otomotif tersebut, kini pada 2016, Astec Cup bisa dilaksanakan di beberapa kota.

 Ditambahkan Susi, turnamen itu akan digelar di Medan, Sumatera Utara, (20-23 April), Makassar, Sulawesi Selatan, (27-30 April), Surabaya, Jawa Timur (27-30 Juli), Solo, Jawa Tengah (24-27 Agustus), Semarang, Jawa Tengah (7-10 September), Palembang, Sumatera Selatan (14-17 September), dan terakhir turnamen sekaligus babak grand final digelar di Jakarta (9-15 Oktober). Pihak penyelenggara memberikan hadiah total sekitar Rp 580 juta.

Tentunya, ini membuat Alan dan Susi punya komitmen yang tinggi kepada olahraga yang telah mengharumkan namanya tersebut. Ya, hingga saat ini belum ada pasangan kekasih yang bisa meraih emas di ajang olimpiade.

Tapi, Alan dan Susi mampu melakukannya pada Olimpiade Barcelona 1992. Saat itu, Alan mengalahkan rekannya sendiri dari Indonesia, Ardy B. Wiranata. Sementara Susi menghentikan Bang Soo-hyun dari Korea Selatan.

Sebenarnya, pasangan Lin Dan dan Xie Xingfan nyaris melakukannya pada Olimpiade Beijing 2008. Lin Dan mampu meraih emas di tunggal putra. Namun, kekasih yang kini menjadi istrinya, Xie Xingfang, ditundukkan rekan senegaranya, Zhang Ning. (*)

Dari Sao Paulo Menuju Medan Pertempuran

Senin, 08 Agustus 2016

TIM Bulu Tangkis Indonesia siap tempur di Olimpiade Rio 2016. Setelah menyelesaikan karantina di Sao Paulo, Brasil, Hendra Setiawan dkk bertolak ke Rio de Jeneiro untuk segera memasuki perkampungan atlet di Olimpiade Rio 2016 pada Minggu (7/8/2016) waktu setempat.

 Dipimpin manajer tim Rexy Mainaky, Tim Bulu Tangkis Indonesia berangkat dari Jakarta menuju Sao Paulo pada 27 Juli 2016. Ini untuk melangsungkan persiapan sekaligus adaptasi dengan cuaca dan kondisi di Brasil.

Program latihan di Sao Paulo kurang lebih sama dengan di Pelatnas. Para atlet menjalani latihan teknik diselingi dengan latihan fisik yang bertujuan menjaga kondisi dan stamina selama bertanding di olimpiade.Tak hanya itu, para pebulu tangkis juga mengikuti sesi analisis video pertandingan mereka sendiri atau calon-calon lawan di pertandingan nanti.

“Semua latihan berjalan dengan baik, para pebulu tangkis juga sangat kompak. Selama di Sao Paulo, kegiatan kami sehari-hari selain latihan adalah melakukan analisa video permainan atlet dan lawan, serta memaksimalkan program fisik seperti recovery,” kata Rexy ketika dihubungi situs PBSI. (*)

Reuni di GOR Sudirman

SONY Dwi Kuncoro tak akan lupa dengan sosok Wong Choong Hann. Pebulu tangkis Malaysia tersebut pernah menjadi batu sandungannya di awal  era 2000-an.

Tak bisa dipungkiri, Sony yang tengah membangun karir internasional, harus berhadapan dengan wakil negeri jiran yang sudah berusia matang. ''Awalnya, saya sering kalah. Tapi, lama kelamaan, gantian saya yang sering mengalahkan dia,'' kata Sony.

Ya, di akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an, Chong Hann memang menakutkan. Dia mampu mengharumkan nama Malaysia di berbagai ajang internasional.

Pada 1998, Chong Hann mampu meraih emas di Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) di nomor tunggal putra dan beregu putra. Pada tahun yang sama, lelaki kelahiran 17 Februari 1977 tersebut membawa Malaysia menembus final Piala Thomas sebelum ditaklukan Tiongkok.

Puncaknya pada 2003, dia menjadi pebulu tangkis Malaysia yang mampu menduduki peringkat satu dunia. Bahkan, pada Kejuaraan Dunia 2003, Chong Hann mampu menembus babak final. Sayang, langkahnya dihentikan andalan Tiongkok ketika itu, Xia Xuanze.

''Di Olimpiade Athena 2004, saya tak bertemu dia. Chong Hann dikalahkan Taufik (Hidayat, yang akhirnya meraih emas),'' kenang Sony.

Tapi kini, Chong Hann sudah memutuskan pensiun. Tapi, Sony masih kuat di atas lapangan dan berlaga di berbagai ajang internasional.

Reuni keduanya pun terjadi di GOR Sudirman, Surabaya, akhie Juli 2016. Ini disebabkan keduanya sama-sama menjadi pemandu pencarian bakat bulu tangkis, KEM Badminton.

''Sekarang, kami sama-sama mempunyai tugas yang sama. Memilih atlet untuk bisa masuk camp di Kuala Lumpur,'' ucap Sony sampai memegang bahu Choong Hann. (*)

Tak Sungkan Bagikan Ilmu

Sebelum era Lee Chong Wei, Malaysia punya Wong Choong Han. Dia juga pernah menjadi pebulu tangkis tunggal putra nomor satu dunia. Tapi, mengapa dia ada di Surabaya pada Juli lalu?
--
POSTURNYA tak banyak berubah. Padahal, sudah 12 tahun tak bertemu.

Saat di lapangan, pukulannya tetap keras. Begitu juga dengan penempatan shuttlecocknya.

Bedanya, kecepatannya sudah jauh menurun. Itu wajar karena usianya sudah tak muda lagi.

''Saya sekarang sudah 39 tahun. Usia yang sudah tak muda lagi,'' kata Choong Hann saat ditemui di GOR Sudirman, Surabaya, pada akhir Juli 2016.

Hanya, dia tetap tak bisa meninggalkan bulu tangkis. Baginya, olahraga tepok bulu tersebut sudah menjadi bagian hidup.

Sehingga, dia tak menolak saat dipercaya menjadi salah satu pemandu bakat dalam program KEM Badminton. Meski, dia harus rela terbang ke Surabaya, Indonesia.

''Sekarang, bulu tangkis sudah tak ada batas. Yang penting, olahraga ini bisa berkembang di dunia,'' ujar mantan finalis Kejuaraan Dunia 2003 tersebut.

Bahkan, dia mengaku kaget dengan talenta-talenta yang ditemukannya di Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Pebulu tangkis yang usianya 10-12 tahun, yang masuk kategori KEM Badminton, sudah mempunyai skill di atas rata-rata.

''Dari beberapa tempat saya melakukan pemantauan di KEM Badminton, Surabaya paling baik. Susah untuk menilai siapa yang layak masuk camp karena kualitasnya berimbang,'' ujar Chong Hann.

Ya, selain di Surabaya, KEM Badminton juga melakukan audisi di empat tempat di Malaysia. Ini membuat Choong Hann bisa menilai kualitas peserta.

Setelah dari lima wilayah,pebulu tangkis yang lolos akan digembleng di Kuala Lumpur,Malaysia. Rencananya akan dipilih 20 dari Indonesia dan 20 dari Malaysia.

Peraih medali emas nomor tunggal di Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) 1998 tersebut juga akan menularkan ilmu. Tentu menjadi sebuah moment berharga, khususnya bagi wakil dari wilayah Surabaya.

''Tak masalah membagi ilmu dengan atlet Indonesia. Apalagi, ini sudah menjadi tugas saya,'' ujar Chong Hann.

Dia berharap dari ilmu yang diberikan akan sangat berguna bagi masa depan para penghuni camp. Paling tidak, di bulan November,gabungan wakil Indonesia dan Malaysia mampu mengatasi duta Jepang di Tokyo. (*)

Perombakan Kecil sebelum ke Bilbao

Senin, 01 Agustus 2016

TIGA kali beruntun Indonesia gagal menjadi juara dunia junior beregu. Padahal, kesempatan tersebut sudah di depan mata.

Pada 2013, merah putih oleh Korea Selatan. Sementara, dalam dua ajang 2014 dan 2015, Tiongkok yang menjadi juara.

Nah, pada 2016, Indonesia kembali berusaha menjadi pemenang. Apalagi, sejak 2000 atau kali pertama event tersebut dilaksanakan, Indonesia belum pernah mendapat pengalungan medali juara.

Tahun ini, PBSI mengirim skuad terkuat. PP PBSI telah merilis daftar nama atlet junior yang akan turun di beregu campuran Kejuaraan Dunia.
Sebanyak 16 atlet junior dipersiapkan.

“Tidak ada catatan khusus untuk atlet yang akan diturunkan di Kejuaraan Dunia Junior 2016.Tapi secara umum yang akan ditingkatkan adalah fighting spiritnya,” ujar Fung Permadi, manajer Tim Junior Indonesia.

Sebagian besar tim yang diturunkan merupakan atlet yang sudah main di Kejuaraan Junior Asia 2016. Perubahan hanya terjadi di sektor tunggal putri dan ganda putri. Aurum Oktavia Winata masuk tim beregu menggantikan Desandha Vegarani Putri. Sedangkan Yulfira Barkah menggantikan Jauza Fadhilah Sugiarto.
“Pertimbangannya Yulfira juga bisa bermain sama baiknya di ganda putri dan ganda campuran. Jadi kami bisa punya opsi lebih dalam beregu campuran. Jauza akan tetap kami daftarkan di individual,” ungkap Fung.

Kejuaraan Dunior Junior 2016 akan berlangsung di Bilbao, Spanyol, pada 2-13 November 2016. Rencananya, paling lambat, tim akan melakukan pemusatan latihan di Pelatnas Cipayung, mulai awal September.

Skuad Indonesia

PUTRA

- Chico Aura Dwi Wardoyo

- Ramadhani Muhammad Zulkifli

- Rinov Rivaldy

- Andika Ramadiansyah

- Bagas Maulana

- Calvin Kristanto

- Muhammad Fachrikar

- Amri Syahnawi


PUTRI

- Gregoria Mariska

- Aurum Oktavia Winata

- Apriani Rahayu

- Serena Kani

- Mychelle Chrystine Bandaso

- Tania Oktaviani Kusumah

- Vania Arianti Sukoco

- Yulfira Barkah (*)

Marcus/Kevin Pisah Sementara

INDONESIA kehilangan pebulu tangkis spesialis ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon. Dia terpaksa absen dari sengitnya kompetisi dalam beberapa waktu mendatang.

Pebulu tangkos dari klub Tangkas Jakarta ini mengalami cedera lutut kiri ketika mengikuti karantina tim Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di Kudus, Jawa Tengah. Saat menjalani latihan, Marcus terpeleset dan mengalami cedera lutut sehingga terjadi robekan di urat dalam.

Keesokan harinya, Marcus segera dipulangkan ke Jakarta dan menjalani pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) dibawah pengawasan dr. Michael Triangto (dokter PBSI) dan konsultan PBSI, dr. Nicolaas Budhiparama SpOT, FICS.

“Hasil MRI menunjukkan ada sobekan urat dalam serta ada bantalan tulang yang sobek. Saat itu Marcus datang dengan keluhan rasa sakit yang luar biasa di kakinya, dia juga tidak bisa berjalan sempurna,” jelas dr. Nicolaas kepada situs PBSI

Dia merekomendasikan tindakan konservatif dulu dalam beberapa minggu. Penerapan terapi ini, ungkap Niclaas, dimaksudkan untuk mengurangi pembengkakannya.

''Sekarang sakitnya sudah hilang, tetapi tidak boleh lepas penyangga dulu, karena sobekannya harus menyambung sempurna. Tetapi Marcus sudah boleh latihan upper body,” ujarnya.

Kondisi Marcus yang harus diistirahatkan sementara membuat pasangan mainnya, Kevin Sanjaya Sukamuljo, akan berganti partner untuk sementara waktu. Sehubungan akan dilangsungkannya kejuaraan Indonesian Masters 2016, Kevin akan dipasangkan dengan Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira.

“Berdasarkan rekomendasi dari dokter, Marcus diminta istirahat sebulan. Kaki yang mengalami cedera tidak boleh dilatih dulu, jadi belum bisa bermain full dalam rentang waktu tersebut,” ungkap Herry Iman Pierngadi, Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI.

Marcus/Kevin merupakan pasangan rangking 11 dunia. Keduanya pernah menjuarai India Open Super Series 2016. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger