www.smashyes.com

www.smashyes.com

Tommy Makin Jauh dari 10 Besar

Jumat, 30 September 2016

Tommy Sugiarto turun ranking dunianya
INDONESIA tak punya waki tunggal putra di ranking 10 besar dunia. Tommy Sugiarto yang semula lama berada di kisaran tersebut harus terlempar.

Dalam ranking terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru pada 29 September, putra legenda bulu tangkis Icuk Sugiarto tersebut berada di posisi 14. Pekan lalu, dia ada di posisi 11.

Melorotnya ranking Tommy tak lepas dari hasil beberapa ajang yang diilkuti. Kali terakhir, mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut sudah langsung tersingkir di babak I Japan Open 2016.

Datang dengan status unggulan, Tommy dipermalukan wakil Tiongkok Shi Yuqi dengan dua game langsung 15-21, 7-21. Begitu pula di Olimpiade Rio 2016.

Langkah kakak pebulu tangkis putri Jauza Fadilah tersebut secara mengejutkan dihentikan Rajiv Ouseph dari Inggris. Padahal, seharusnya tiket minimal perempat final bisa di tangannya. Yang lebih tragis di Indonesia Open 2016. Bermain di kandang sendiri, Tommy kalah di babak I oleh Wei Nan dari Hongkong.

Rentetan kegagalan tersebut memberikan dampak, poin yang dikumpulkannya sedikit. Sehingga tak mengherankan jika Tommy sudah tergusur dari 10 besar dunia.

Di ranking terbaru BWF, posisi teratas tetap ditempati Lee Chong Wei dari Malaysia. Apalagi, dia baru saja menjuarai Japan Open 2016 dengan melibas Jan O Jorgensen dari Denmark. (*)

Duh, Tak Bisa Menang Lagi

Li Junhui/Liu Yuchen kembali mengalahkan Hendra/Ahsan
KEGAGALAN kembali mengiringi perjalanan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Kali ini, mantan pasangan ganda putra nomor satu dunia tersebut terhenti langkahnya di babak perempat final Korea Open 2016.

Lagi-lagi pasangan Li Junhui/Liu Yuchen mengandaskan Hendra/Ahsan. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Seoul pada Jumat waktu setempat, juara dunia 2015 tersebut menyerah dua game langsung 11-21, 16-21.

Ini membuat untuk kali keempat secara beruntun, Hendra/Ahsan kalah dari lawan yang sama. Pekan lalu, mereka juga dipermalukan dalam Japan Open 2016.

Pada 2016, Hendra/Ahsan hanya sekali menjadi juara. Mereka naik podium terhormat dalam Thailand Masters yang menjadi turnamen pembuka 2016.

Sayang, setelah itu, kesuksesan seolah menjauh dari keduanya. Bahkan, di kandang sendiri dalam Indonesia Open 2016, Hendra/Ahsan sudah tersingkir di babak kedua.

Lebih ironis lagi dalam Olimpiade Rio 2016. Digadang-gadang bakal meraih emas, Hendra/Ahsan tak mampu lolos dari babak penyisihan grup.

Sehingga, PP PBSI pun sementara akan menceraikan keduanya di Eropa bulan depan. Hendra akan dipasangkan dengan Rian Agung Saputro dan Ahsan dengan Berry Anggriawan. (*)

Rekor Kekalahan Bisa Semakin Lebar

Kamis, 29 September 2016

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan punya tugas berat
TIGA kali kekalahan beruntun dialami Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan atas pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen.  Kali terakhir, pil pahit tersebut ditelan pasangan ganda putra terbaik Indonesia tersebut dalam Japan Open 2016 pekan lalu. Sementara, dua kekalah lain dialami Hendra/Ahsan di Singapore Open 2016 dan Kejuaraan Asia 2016.

Total, kini, mereka kalah 2-4 dalam rekor pertemuan dengan Li/Liu. Kekalahan perdana dialami Hendra/Ahsan di Malaysia Open 2014. Meski sebenarnya, pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut menang dalam perjumpaan pertama di Tiongkok Open 2014. Bahkan, Hendra/Ahsan sempat leading usai mempermalukan Li/Liu di Malaysia Open tahun ini.

Kini, ancaman semakin tertinggal terbentang. Hendra/Ahsan kembali bertemu dengan pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, pada babak perempat final Korea Open 2016.

Hendra /Ahsan melaju ke babak perempat final  setelah melewati laga tiga game. Kemenangan diraih Hendra/Ahsan atas Lee Jhe-Huei/Lee Yang (Taiwan), dengan skor 18-21, 21-14, 21-15.

Di game pertama, Hendra/Ahsan memang sudah kecolongan start saat tertinggal 0-4 dari Lee/Lee. Pasangan Taiwan yang tak diunggulkan ini semakin percaya diri ketika mampu terus mengungguli Hendra/Ahsan hingga 12-6 dan akhirnya mengamankan game pertama.

 Pada game kedua, Hendra/Ahsan mulai bermain lebih agresif dengan unggul di permainan depan. Perubahan strategi ini membuahkan hasil, Hendra/Ahsan unggul 17-11. Di game penentuan, Hendra/Ahsan yang sudah unggul 7-4, malah balik tertinggal 10-12. Saat kedudukan imbang 15-15, Hendra/Ahsan tak memberi kesempatan pada Lee/Lee dan mereka meraih enam poin berturut-turut menuju kemenangan.

“Pasangan Taiwan ini punya kecepatan dan kekuatan, di game pertama kami memang tertekan duluan. Di game selanjutnya, kami coba atur penempatan bola dan banyak bermain di depan net,” kata Hendra yang dihubungi di Seoul seperti dikutip media PBSI.

Sementara, di babak II, pasangan Li/Liu melibas rekan senegara Liu Cheng/Zheng Siwei dengan tuga game 22-20, 14-21, 24-22. (*)

Praveen/Melati Gagalkan DKI Sapu Bersih

Praveen/Melati meraih emas ganda campuran
DKI Jakarta gagal memborong medali emas dari cabang olahraga bulu tangkis nomor perorangan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat.  Penggawa ibu kota hanya mampu meraih empat gelar.

Meski, sebenarnya, kans untuk membawa pulang semua emas terbentang. Mereka meloloskan wakilnya di lima nomor yang dipertandingkan.

Sayang, di final yang dilaksanakan di Cirebon pada Selasa waktu setempat (28/9/2016), pasangan Hafiz Fauizal/Shela Devi Aulia menyerah dua game langsung 14-21, 18-21 kepada unggulan teratas asal Jawa Tengah Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani.

Sementara, di empat nomor lainnya, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda putri, ibu kota merajai. Di tunggal putra, wakil DKI Jakarta Jonatan Christie tak mengalami kesulitan untuk menundukkan Wisnu Yuli Prasetyo (Jawa Timur) dengan 21-16, 21-5. Sukses ini diilkuti oleh Fitriani. Dia memupus asa wakil tuan rumah Hana Ramadhini dengan 24-22, 21-12.

Di ganda putri, pasangan Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris unggul 21-13, 21-11 atas Suci Rizki Andini/Tiara Rosalia Nuraidah. Pesta ditutup pasangan ganda putra Markus ''Sinyo'' Gideon Fernaldi/Angga Pratama dengan memupus asa Kenas Adi Haryanto/Praveen Jordan (Jawa Tengah) dengan 21-17, 21-15.

Di nomor beregu sendiri, emas disabet semuanya oleh Jawa Barat. Di putra,mereka mengalahkan Jawa Tengah dan di putri menghentikan DKI Jakarta. (*)

Hanya Ulangi Hasil 2012

Jonatan Christie kalahkan Wisnu Yuli
HARAPAN Jawa Timur membawa pulang emas dari cabang olahraga bulu tangkis dari Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 pudar. Satu-satunya wakil yang tersisa, Wisnu Yuli Prasetyo, menyerah di babak final.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Cirebon, Jawa Barat, pada Rabu WIB (28/9/2016), mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut kalah oleh Jonatan Christie dari DKI Jakarta dengan dua game yang mudah 16-21, 5-21. Laga tersebut berlangsung selama 55 menit.

Sebenarnya, di atas lapangan, Wisnu lebih diunggulkan. Alasannya, di babak penyisihan grup beregu Grup B, dia menghentikan perlawanan Jonatan dengan 14-21, 21-19, 21-14.

Sayang, penampilan tersebut gagal dipertahankan di babak final perorangan. Meski sebelumnya, di semifinal, Wisnu, yang asli Tulungagung, melibas unggulan kedua Ihsan Maulana Mustofa (Jawa Tengah).

''DI PON 2016 ini, sebenarnya Wisnu bermain gemilang. Semua pebulu tangkis pelatnas dikalahkannya di beregu. Selain Jonatan, Ihsan dan Anthony Ginting (Jawa Barat) disikat Wisnu,'' ungkap Ketua Pengprov PBSI Jawa Timur Wijanarjko Adi Mulya.

Kekalahan Wisnu ini membuat Jatim harus puas dengan capaian tertinggi perak. Hal yang sama juga dilakukan pada PON 2012 di Pekanbaru, Riau.

Bedanya, kala itu, medali perak bukan dari tunggal putra. Aprilia Yuswandari mampu menembus final tunggal putri. Sayang, langkahnya dihentikan oleh Bellaetrix Manuputty yang membela DKI Jakarta. (*)

Modal Nekat Hadapi Jorgensen

Selasa, 27 September 2016

Jan O Jorgensen diunggulkan di posisi ketiga (foto:yonex)
SONY Dwi Kuncoro bakal berjuang sendirian di Korea Open 2016. Dia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tampil dalam turnamen berhadiah total USD 600 riu tersebut.

Tommy Sugiarto yang pekan lalu bersama Sony berjuang di Japan Open, di Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, memilih absen. Dalam Japan Open, Tommy dan Sony meraih hasil buruk. Kedua mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut tumbang di babak I.

Di Korea Open, Sony juga mendapat tugas yang tak mudah. Arek Surooyo tersebut langsung berhadapan dengan unggulan ketiga Jan O Jorgensen dari Denmark.

Selama ini, Sony baru sekali berjumpa dengan Jorgensen. Itu terjadi di All England 2013.

Saat itu, Sony kalah 7-11. Pertandingan tak dilanjutkan karena bapak dua anak tersebut mengalami cedera.

''Saya bondo nekat aja melawan Jorgensen,'' kata Sony melalui pesan singkat.

Hanya, dia tetap mengaku tak minde. Meski, saat ini, Jorgensen tengah on fire.

Di Japan Open, dia mampu menembus babak final. Sayang, langkahnya dihentikan unggulan teratas dari Malaysia Lee Chong Wei.

Di Korea Open 2016, wakil Indonesia lainnya adalah pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Keduanya diharapkan menjadi pemenang di ajang yang dilaksanakan di Seoul tersebut. (*)

Tinggal Bertumpu pada Wisnu


Wisnu Yuli saat berlaga di Indonesian Masters
HARAPAN JAwa Timur meraih emas di Pekan Olahraga Nasional  (PON) 2016 dari cabang olahraga bulu tangkis semakin berat.  Kini, provinsi dengan ibu kota Surabaya tersebut hanya menyisakan satu wakil di semifinal nomor perorangan.

Wakil semata wayang tersebut adalah Wisnu Yuli Prasetyo di nomor tunggal putra. Tiket empat besar diperoleh usai mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung yang kini bernaung di klub Djarum Kudus tersebut mengalahkan Fikri Ihsandi Hadmadi dari DKI Jakarta dengan straight game 21-19, 21-17 di Cirebon, Jawa Barat, pada Senin WIB (26/9/'2016).

Hanya, untuk menembus babak final cukup berat. Wisnu akan menantang unggulan kedua asal Jawa Tengah Ihsan Maulana Mustofa. Pebulu tangkis masa depan Indonesia itu di perempat final melibas rekannya di pelatnas, Firman Abdul Kholik, dengan 21-18, 21-10.

Jika Wisnu kalah, ini menjadi hasil yang mengecewakan bagi Jawa Timur. Bahkan bisa dikatakan gagal total.

Meski, sebenarnya, di PON 2016, mereka diperkuat oleh pebulu tangkis papan atas. Selain Wisnu di tunggal, di ganda ada para barisan andalan Indonesia di ajang internasional. Sebut saja Kevin Sanjaya, Riky Widianto, Ronald Alexander, dan Edi Subaktiar.

Tapi, mereka hanya mengantarkan Jawa Timur hingga babak semifinal nomor beregu putra. Begitu juga di beregu putri yang juga terhenti langkahnya di empat besar.

Empat tahun lalu di Pekanbaru, Riau, Jawa Timur juga memperoleh perunggu dari beregu. Sedang di perorangan, Aprilia Yuswandari mempersembahkan perak di perorangan tunggal putri. (*)

Semakin Dekat untuk Dipisah

Senin, 26 September 2016

Hendra/Ahsan gagal bersinar di Japan Open 2016
KEGAGALAN kembali mengiring penampilan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Langkah pasangan ganda putra terbaik Indonesia saat ini tersebut hanya sampai babak semifinal Japan Open 2016.

Hendra/Ahsan dikalahkan Li Jinhui/Liu Yuchen dari Tiongkok dengan rubber game 13-21, 21-18, 15-21 di Tokyo pada Sabtu (24/9/2016). Ini menjadi kekalahan keempat juara dunia 2015 tersebut atas lawan yang sama.  Ironisnya, tiga kali kekalahan tersebut ditelan secara beruntun.

Hasil di Jepang Open 2016 bisa semakin mempertegas bahwa Hendra/Ahsan bakal diceraikan secara permainan. Apalagi, di Eropa dalam Denmark Open 206 dan France 2016, keduanya tak lagi berpasangan.

Rencananya,  mereka akan dimix dengan pasangan Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan. Hendra dengan Agung dan Ahsan bersama Berry.

Usai menjadi juara dunia 2015, Hendra/Ahsan seperti sudah kehilangan kekuatan. Sempat memberi harapan dengan di awal tahun dengan menjadi juara di Thailand Masters 2016, keduanya terus layu.

Di semua turnamen yang diikuti, pasangan yang dibentuk pada 2013 tersebut selalu tumbang di kandang sendiri. Ironisnya, mereka sudah kalah dengan pasangan-pasangan yang secara kualitas dan ranking jauh di bawah.

Bahkan, dalam Indonesia Open Super Series Premier, Hendra/Ahsan sudah menyerah di babak II. Puncaknya di Olimpiade Rio 2016. Digadang-gadang membawa pulang emas, keduanya sudah tersingkir di penyisihan.

''Usai dari Eropa nanti, kami akan mengevaluasi penampilan Hendra/Ahsan. Tetap atau akan dipisah akan dilihat nanti,'' kata Ahmad Budiharto, Wasekjen PP PBSI. (*)

Tak Ingin Rekornya Pecah

Lee Chong Wei (kanan) dan Jan O Jorgensen (foto:channelasia)
LEE Chong Wei meraih gelar nomor tunggal Japan Open 2016. Ini merupakan juara keenam dalam turnamen yang kini masuk dalam level super series tersebut.

Sebelumnya, lelaki asal Malaysia tersebut naik ke podium terhormat pada 2007, 2010, 2012, 2013,dan 2014. Capaian tersebut membuat Chong Wei meraih rekor dengan capaian terbanyak. Bahkan, jauh dari wakil Indonesia Ardy B. Wiranata dan Lin Dan yang hanya tiga kali.

Gelar keenam Chong Wei digapai usai mengalahkan Jan O Jorgensen dari Denmark dengan rubber game 21-18, 15-21, 21-16 dalam pertandingan final Japan Open 2016 di Tokyo pada Minggu waktu setempat (25/9/2016).

Hasil tersebut membuat dia menang 17 kali dalam 18 kali pertemuan dengan Jorgsensen. Satu-satunya pil pahit ditelan lelaki bergelar Datuk tersebut di babak I Tiongkok Open 2009.

''Saya bangga dengan gelar keenam ini. Saya berharap tak ada yang bisa memecahkan rekor ini,'' kata Chong Wei usai pertandingan seperti dikutip media Malaysia.

Kunci kemenangan atas Jorgensen, ungkapnya, karena dia sudah melihat cara bermain lawannya itu saat di semifinal melawan On Wan-ho dari Korea Selatan. Saat itu, Jorgensen, ujarnya, tampil sangat bagus.

''Hanya, saya sudah sering menghadapinya dan selalu menang dalam tujuh tahun terakhir,'' ucap Chong Wei.

Dia sengaja memperlambat tempo permainan di awal pertandingan. Namun, di game kedua, lawannya tersebut mampu bangkit.

Semangat pantang menyerah tersebut terus dipertahankan Jorgensen di game ketiga. Dia sempat leading 6-2.

Chong Wei baru bisa leading saat skor 17-16. Apalagi, Jorgensen melakukan kesalahan yang membuat Chong Wei, yang akan berulang tahun ke-34 bulan depan, meraih gelar ke-44 di ajang super series.

Usai dari Negeri Sakura, julukan Jepang, Chong Wei akan tampil di Korea Open yang dimulai Rabu (28/9/2016) dilanjut ke Eropa untuk mengikut Denmark Open dan France Open pada Oktober. (*)

'' Banyak pebulu tangkis istirahat usai Olimpiade Rio 2016. Tapi saya harus tampil di Jepang karena permintaan spondor,'' ungkap Chong Wei.Dia baru istirahat usai berlaga nanti di Eropa. (*)

Hindari Hat-trick Kalah

Sabtu, 24 September 2016

Li Junhui/Liu Yuchen yang bisa jadi penjegal Hendra/Ahsan
SETELAH lama menanti, rasanya berada di semifinal kembali dirasakan pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.Kini, keduanya melakukannya di Japan Open 2016.

Kemenangan atas Huang Kaixiang/Wang Yilyu dari Tiongkok dengan dua game langsung 21-18,21-15 membuat mereka mempunyai kans menambah rak gelarnya. Hanya, itu bukan tugas yang mudah.

Di semifinal yang dilaksanakan di Tokyo pada Sabtu (24/9/2016), Hendra/Ahsan, yang diunggulkan di posisi kedua, berhadapan dengan Li Junhui/Liu Yuchen. Pasangan Tiongkok ini di perempat final  menghentikan langkah unggulan ketiga Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark dengan 21-17,21-18.

Bagi Hendra/Ahsan, Li/Liu merupakan lawan yang perlu diwaspadai. Dalam lima kali pertemuan, pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut hanya menang dua kali.

Bahkan, dalam dua kali pertemuan terakhir, Hendra/Ahsan menelan kekalahan yakni Singapore Open 2016 dan Kejuaraan Asia 2016.

Selama tahun ini, pasangan yang tengah menjadi sorotan tersebut baru sekali menjadi juara. Itu pun bukan di level atas karen hanya di grand prix gold. Gelar itu disabet Hendra/Ahsan dalam Thailand Masters. Sementara, di ajang super series atau super series premier, keduanya sudah menyerah sebelum ke empat besar. (*)

Tuan Rumah Kawinkan Gelar

JAWA BARAT sukses menggandengkan emas beregu di cabang bulu tangkis dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Ini setelah tim tuan rumah menyapu kemenangan dalam final yang dilaksanakan di Cirebon pada Jumat waktu setempat (23/9/2016).

Pebulu tangkis putra Jabar di atas podium juara
Di putra, Jabar menundukkan Jawa Tengah dengan 3-2. Skor yang sama juga terjadi ketika para mojang priangan menghentikan perlawanan DKI Jakarta.


Pada kelompok kaum hawa,Jawa Barat sempat tertinggal ketika di nomor tunggal pertama Anthony Ginting menyerah mudah 16-21, 13-21 kepada Ihsan Maulana Mustofa. Tapi, di partai kedua yang mempertandingkan ganda, Fajar Alfian/Ricky Karanda Suwardi membuka harapan dengan keunggulan rubber game 10-21, 21-13, 24-22 atas Kenas Adi Haryanto/Praveen Jordan.

Tapi, lagi-lagi di nomor tunggal, wakil Jawa Barat Firman Abdul Kholik tak bisa memberikan kemenangan. Dia menyerah 21-23, 7-21 atas Shesar Hiren Rustavito.

Nomor ganda memang menjadi penyambung nyawa tuan rumah. Berry Anggriawan/Hardianto menghentikan perlawanan Lukhi Apri Nugroho/Tedi Supriadi dengan straight game 21-19, 21-14.Dengan skor imbang 2-2, partai kelima yang mempertandingan tunggal putra jadi penentu.

Setyaldi Wibowo jadi pahlawan kemenangan bagi Jawa Barat. Dia melibas penghuni Pelatnas Cipayung Reksy Aureza Megananda dengan dua game langsung 17-21, 16-21.

Untuk kelompok putri, Febby Angguni menjadi penentu Jawa Barat bisa mempertahankan emas. Dia tak mengalami kesulitan saat menghadapi tunggal ketiga DKI Jakarta Aurum Oktavia Winata dengan 21-12, 21-17.

Empat tahun lalu di Pekanbaru, Riau, beregu putra jatuh ke tangan Jawa Tengah. (*)

Jangan Hanya Sampai Perempat Final

Jumat, 23 September 2016

Hendra/Ahsan diunggulkan di posisi kdua.
LANGKAH Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Japan Open 2016 sudah sampai perempat final. Tiket tersebut diperoleh setelah mereka mengalahkan pasangan Taiwan Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin dengan rubber game 21-11, 16-21, 21-17 di Tokyo pada Kamis waktu setempat (22/9/2016).

Ini menjadi kemenangan kedua Hendra/Ahsan atas wakil negeri yang sering disebut Tiongkok daratan tersebut. Sebelumnya, pasangan yang pernah duduk di nomor satu dunia tersebut menang di France Open 2015 dengan dua game langsung 21-12, 21-19.

Di babak semifinal, Hendra/Ahsan, yang ditempatkan sebagai unggulan kedua, akan dijajal Huang Kaixiang/Wang Yilyu. Ganda Tiongkok ini menembus perempat final usai menghentikan perlawanan Goh V Shem/Tan Wee Kiong, unggulan kelima asal Malaysia, dengan dua game 23-21, 21-12.

Hendra/Ahsan belum pernah bertemu dengan lawannya kali ini. Hanya, kemampuan Huang/Wang tak boleh dipandang sebelah mata.  Pasangan Malaysia yang dikalahkannya merupakan finalis Olimpiade Rio 2016.

Saat ini, Hendra/Ahsan tengah dalam sorotan. Semua tak lepas dari penampilan angin-anginan kedua.

Terakhir, mereka jeblok di Olimpiade Rio 2016. Diharapkan mampu meneruskan tradisi emas yang terputus di London 2012, Hendra/Ahsan sudah tersingkir di penyisihan.

Ini yang membuat keduanya bakal dipisahkan di Eropa bulan depan. Keduanya akan dipadukan dengan pasangan Rian Agung/Berry Anggriawan. (*)

Beregu Gagal Sumbang Emas

Poin yang disumbangkan Wisnu Yuli jadi sia-sia
KANDAS sudah harapan Jawa Timur membawa emas dari cabang olahraga (cabor) bulu tangkis nomor beregu PON 2016. Langkah mereka terhenti di babak semifinal, baik kelompok putra maupu kelompok putri.

Di beregu putra, Kevin Sanjaya dkk menyerah 1-3 dari tuan rumah Jawa Barat dalam pertandingan yang dilaksanakan di Cirebon pada Kamis waktu setempat (22/9/2016). Sedangkan di kelompok hawa, Jatim kalah telak 0-3 juga dari Jawa Barat.

Sebenarnya, di beregu putra, Wisnu Yuli Prasetyo membuka asa daerahnya lolos ke babak pemungkas. Pebulu tangkis asal Tulungagung yang kini bernaung di Djarum Kudus tersebut menundukkan Anthony Ginting dengan dua game langsung 21-14, 21-16.

Sayang, di partai kedua yang mempertandingkan ganda putra, pasangan yang sama-sama digembleng di Pelatnas Cipayung Kevin Sanjaya/Riky Widianto menyerah rubber game 21-18, 18-21, 15-21 dari Fajar Alfian/Ricky Karanda Suwandi.

Peluang nyaris kembali terbuka. Di tunggal kedua, Khrisna Adi Nugraha memenangi game pertama 21-16 atas Firman Abdul Kholik. Tapi, di game kedua, lelaki yang banyak menghabiskan waktunya di klub Suryanaga, Surabaya, tersebut takluk 14-21.

Di game penentuan, pertarungan semakin sengit. Sayang, ketidak beruntungan membuat Khrisna takluk 19-21.

Di partai keempat yang menjadi penentuan lolos tidaknya Jatim, pasangan Ronald Alexander/Edi Subaktiar, yang sama-sama spesialisa ganda campuran, menyerah straight game 13-21, 21-23 atas Berry Anggriawan/Hardianto.
Ini membuat partai kelima antara wakil Jatim Thomi Azizan Mahbub dengan Setyaldi Putra Wibowo urung dilaksanakan.

Sedang di kelompok putra, dua tunggal, Sri Fatmawati dan Dewi Yunita, serta pasangan Meirisa Cindy/Ni Ketut Mahadewi, tak berdaya di tangan wakil tuan rumah. (*).

Sudah Tertatih dalam Penampilan Pertama

Rabu, 21 September 2016

Hendra/Ahsan melaju ke babak II Japan Open 2016
JALAN terjal sudah dihadapi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Japan Open 2016. Unggulan kedua nomor ganda putra tersebut dipaksa bertarung tiga game yang ketat 25-27, 21-13, 24-22 melawan Peter Briggs/Tom Wolfenden dari Inggris dalam pertandingan babak I di Tokyo pada Rabu waktu setempat (21/9/2016).

Ini merupakan pertemuan perdana kedua pasangan.Hanya, melihat ranking, Hendra/Ahsan memang layak menang.

Bahkan, tak perlu memeras banyak keringat. Pasangan andalan merah putih tersebut ada di posisi kelima. Sedang lawannya di ranking 53.

Saat ini, Hendra/Ahsan tengah mendapat sororan.Itu tak lepas dari hasil jeblok yang diraih.Selama 2016, keduanya hanya mampu menjadi juara di ajang grand prix gold, Thailand Masters.

Di ajang super series atau super series, juara dunia 2015 tersebut tumbang sebelum mencapai babak akhir. Bahkan di kandang sendiri, Indonesia Open Super Series Premier, Hendra/Ahsan terhenti di babak II.

Puncaknya di Olimpiade Rio 2016.  Ditargetkan membawa pulang emas sekaligus menghidupkan tradisi, Hendra/Ahsan sudah terjegal di penyisihan grup.

Dari tiga kali penampilan, keduanya hanya sekali memetik kemenangan. Imbasnya, Hendra/Ahsan gagal menembus babak selanjutnya.

Tiga tahun lalu,Hendra/Ahsan mampu menjadi juara di Japan Open. Di final, mereka menghentikan laju pasangan Tiongkok Chai Biao/Hong Wei 22-20,21-16. (*)

Tommy-Sony Langsung Tumbang

Tommy Sugiarto tersingkir di babak I Japan Open (foto:PBSI)
 INDONESIA sudah langsung kehilangan peluang juara di nomor tunggal putra dalam Japan Open 2016. Dua wakil yang ikut ambil bagian dalam ajang berhadiah total USD 300 ribu tersebut, Tommy Sugiarto dan Sony Dwi Kuncoro, menyerah dari lawan-lawannya.

Tommy, yang diunggulkan di posisi ketujuh, secara mengejutkan kalah mudah 15-21, 7-21 kepada pebulu tangkis nonunggulan dari Tiongkok Shi Yuqi  dalam pertandingan yang dilaksanakan di Tokyo pada Rabu waktu setempat (20/9/2016).

Di atas kertas, sebenarnya, Tommy diunggulkan mememetik kemenangan. Saat ini, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut berada di posisi kesembilan. Sementara, lawannya hanya peringkat 32.

Namun, di atas lapangan, ranking seakan tak berguna. Tommy tak berdaya di tangan Shi.

Sedangkan Sony menyerah dalam pertarungan dua game yang ketat 19-21, 21-21 kepada Ajay Jayaram dari India.Pertarungan keduanya memakan waktu 46 menit. Secara ranking, Sony memang kalah. Saat ini, arek Suroboyo tersebut ada di posisi 31 dan Ajay di posisi ke-19.

Bagi Sony, Japan Open merupakan turnamen yang pernah memberikan kenangan manis. Suami Gading Safitri ini menjadi juara pada 2008.

Usai meraih juara di Singapore Open 2016 pada April lalu, Sony belum lagi meraih hasil yang memuaskan. Semua turnamen yang diikuti selalu tumbang di babak-babak awal.

Sebelum ke Jepang, bapak dua ini juga hanya mampu bertahan di babak II Indonesian Masters 2016. Padahal, ajang tersebut dilaksanakan di kandang sendiri, Balikpapan, Kalimantan Timur. (*)

Sinyo Sudah Tampil Lagi

Selasa, 20 September 2016

JADI LAWAN: Sinyo (kanan) dan Kevin Sanjaya
MARCUS Fernaldi Gideon turun lapangan lagi. Tapi, itu dilakukannya bukan di sebuah turnamen internasional.

Putra mantan pelatih nasional Kurnia Hu tersebut berlaga dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 yang tengah dilaksanakan di Jawa Barat. Cabang olahraga (cabor) bulu tangkis sendiri dilaksanakan di Cirebon.

Marcus turun dengan membela bendera DKI Jakarta. Seperti biasanya, lelaki yang akrab disapa Sinyo tersebut berlaga di nomor spesialisnya, ganda putra.

Dalam pertandingan Grup B, DKI berhadapan dengan Sulawesi Selatan. Dalam laga yang dilaksanakan pada Senin WIB (19/9/2016) tersebut, ibu kota unggul telak 5-0.  Berpasangan dengan sesama penghuni Pelatnas Cipayung, Sinyo/Angga Pratama menang mudah dua game langsung 21-13, 21-16 atas Alvin Musaddiq/Zulfikar Setiawan.

Menariknya, dalam laga PON 2016, Sinyo bakal berhadapan dengan pasangannya selama ini, Kevin Sanjaya. Dia membela bendera Jatim. Itu karena DKI dan Jatim satu grup di babak penyisihan.

Hanya, Sinyo dan Kevin sempat berpisah. Gara-garanya, dia mengalami cedera yang membuat Sinyo istirahat.

Sehingga, pada Indonesian Masters 2016 dua pekan lalu di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kevin berpasangan dengan Wahyu Nayaka, yang di PON 2016 membela DKI Jakarta.

Meski baru dipasangkan, Kevin/Wahyu mampu menjadi juara dalam ajang berhadiah total USD 120 ribui tersebut. Kini, keduanya sudah mempunyai ranking sendiri, yakni 144. (*)

Kehilangan Satu Partai dari Banten

TIM bulu tangkis Jawa Timur memulai langkah di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dengan mulus. Mereka mampu menundukkan lawan-lawannya dalam penampilan perdana yang dilaksanakan di Cirebon, Jawa Barat, pada Senin waktu setempat (19/9/2016).

Di sektor putri, Jatim yang menghuni grup D kehilangan satu partai saat mengalahkan Banten dengan 4-1.Sementara, Kevin Sanjaya dkk di kelompok putra tanpa ampun melumat daerah yang sama, Banten, dengan 5-0.

Kemenangan tim putri dibuka oleh Sri Fatmawati. Dia dipaksa bekerja keras untuk menundukkan Lyanny Alessandra Mainaky dengan 27-25, 21-19. Pasangan Meirisa Cindy Sahputri/Ni Ketut Mahadewi memperbesar kemenangan usai menghentikan perlawanan Gebby Ristiyani Imawan/Mayrina Lukmanda dengan straight game 21-13, 21-10.

Dengan sistem the best of five, Jatim unggul 3-0 langsung. Itu berkat Devi Yunita yang bermain rubber game 21-16, 11-21,21-18 atas Vioni Florencya.

Satu partai yang lepas adalah di ganda kedua. Pasangan dadakan Marshella Gischa Islami/Winda Puji Astuti menyerah 13-21, 21-18, 16-21 kepada Della Augustia Surya/Ririn Amelia.

Untung di partai kelima, tunggal ketiga Marsa Indah Salsabila melibas Jesica Mulyadi dengan 18-21, 21-18, 16-21.

Pada pertandingan kedua yang dilaksanakan Selasa (20/9/2016), Jatim akan ditantang tim tangguh DKI Jakarta. Dalam pertandingan perdana Grup D, ibu kota menang sempurna 5-0 atas Sulawesi Selatan.

Dalam pesta olahraga empat tahunan kali ini, Jakarta diperkuat tiga tunggal tangguh yang merupakan penghuni Pelatnas Cipayung. Mereka adalah Fitriani di tunggal pertama diikuti oleh Ruselli Hartawan, dan Gabriel Meilani Moningka. (*)

Berjumpa setelah Pertarungan Tiga Tahun Lalu

Minggu, 18 September 2016

SONY Dwi Kuncoro belum mau menyerah. Dia kembali berpetualang untuk mencari gelar dalam perjalanan karirnya.

Kali ini, arek Suroboyo tersebut terbang ke Jepang untuk tampil dalam Japan Open 2016.Hanya, bukan tugas mudah baginya untuk bisa berbicara banyak di Negeri Matahari Terbit, julukan Sony.

''Saya main di Jepang. Semoga bisa membuahkan hasil baik,'' kata Sony saat ditemui di GOR Sudirman, Surabaya.

Rintangan terjal sudah menanti di babak I. Sony berjumpa dengan wakil India Ajay Jayaram.

Dari rekor pertemuan, keduanya saling mengalahkan. Hanya, kali terakhir mereka beradu kekuatan tiga tahun lalu.

Sony kalah di Indonesia Open 2013 dengan 20-22, 12-21. Tapi, di Hongkong Open di tahun yang sama, gantian bapak dua anak tersebut unggul 21-18, 21-12.

Hanya, kali ini, posisi Sony underdog. Ranking dunia yang dimilikinya kalah dari Ajay.

Dari ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Sony ada di posisi 31. Sementara, Ajay di ranking 19.

Penampilan Sony sendiri tengah naik turun. Dia membuat kejutan dengan menjadi juara di Singapore Open 2016, turnamen yang masuk level super series. 

Tapi, baru saja dia sudah tersingkir di babak kedua ajang grand prix, Indonesian Masters. Sony dipermalukan wakil Hongkong Lee Cheuk Yiu.

Di Japan Open 2016, di nomor tunggal, selain Sony, Indonesia hanya diwakili oleh Tommy Sugiarto.Di babak I, unggulan ketujuh dalam turnamen berhadiah total USD 300 ribu tersebut menunggu pebulu tangkis dari babak kualiikasi. (*)

Langsung Dapat Ranking 144

PASANGAN Kevin Sanjaya/Wahyu Nayaka usianya baru seumur jagung. Keduanya pun baru sekali berpasangan.

Tapi, hasilnya sungguh luar biasa. Kevin/Wahyu mampu menjadi juara turnamen grand prix gold atau level III dalam turnamen BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Indonesian Masters 2016.

Di babak final, keduanya menghentikan langkah pasangan Tiongkok Han Chengkai/Zhou Haodong dengan dua game langsung 21-16,21-18. Bahkan, sebelumnya, Kevin/Wahyu sukses menjungkalkan para kandidat juara.

Di perempat final,keduanya melibas juara bertahan yang sama-sama berasal dari Pelatnas Cipayung Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan dan pasangan nomor dua Indonesia saat ini Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi.

Otomatis, poin yang dikumpulkan Kevin/Wahyu melonjak. Dalam ranking terbaru yang dikeluarkan BWF pada 15 September lalu, mereka menempati posisi 144 dunia.

Hanya, gelar juara di Indonesian Masters 2016 belum menjadi jaminan Kevin/Wahyu bakal bertahan lama. Alasannya, Kevin sudah dianggap klop dengan Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon.

Saat ini,keduanya tak bisa dipasangkan karena Sinyo tengah cedera. Penampilan keduanya pun tengah on fire.

Tahun ini, Kevin/Sinyo sudah meraih dua gelar yakni di India Grand Prix Gold dan Singapura Super Series. Sementara, Wahyu tak punya pasangan tetap usai dikembalikannya pasangan lamanya, Ade Yusuf,ke klub asalnya, Wima. (*)

Tontowi/Liliyana Dapat Apartemen

Jumat, 16 September 2016

Gita (kanan) bersama Liliyana dan Tontowi
APRESIASI kepada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir belum berhenti. Ini menyusul keberhasilan keduanya meraih emas Olimpiade Rio 2016 dari cabang olahraga bulu tangkis nomor ganda campuran pada 17 Agustus lalu.

Kali ini, apresiasi diberikan Pengurus Pusat PBSI. Induk organisasi olahraga bulu tangkis di Indonesia tersebut menyerahkan hadiah berupa satu unit apartemen senilai Rp. 1,452 Miliar.  Ini diserahkan langsung oleh Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan, di Pelatnas Cipayung, Kamis (15/9).

Satu unit apartemen dengan satu kamar tidur dari The MAJ Collections Hotel & Residence yang berlokasi di Dago Peak, Bandung, Jawa Barat, itu masing-masing diberikan kepada Tontowi, Liliyana, serta Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Rexy Mainaky.

Persiapan atlet dan tim menuju olimpiade memang tak ringan. Sejak setahun lalu, para atlet berjuang untuk meraih poin pertandingan sebanyak mungkin demi merebut tiket olimpiade. Rentetan turnamen yang padat terkadang membuat atlet harus mampu menjaga kondisi fisik dan fokus mereka. Sebelum berlaga di olimpiade, tim mengikuti dua karantina, yang pertama di Kudus (Jawa Tengah), kemudian di Sao Paulo (Brasil).

Buah dari kerja keras ini akhirnya membuahkan hasil manis. Tim Indonesia mampu menyambung tradisi medali emas olimpiade yang sempat terputus di Olimpiade London 2012 . Satu medali emas dipersembahkan tim bulutangkis lewat kemenangan Tontowi/Liliyana atas Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), dengan skor 21-14, 21-12.

“Bonus ini merupakan sebuah apresiasi atas kerja keras dan komitmen Tontowi/Liliyana dari mulai persiapan menuju olimpiade, hingga keberhasilan meraih medali emas. Tentunya apa yang diraih Tontowi/Liliyana tak lepas dari dukungan pelatih dan tim support, kami juga memberi penghargaan tinggi kepada mereka yang tak kenal lelah memberikan dukungan kepada Tontowi/Liliyana,” kata Gita.

Liliyana mengaku sangat berterima kasih atas bonus dari PBSI. Apalagi, ungkap dia, bonusnya luar biasa, masing-masing sebuah unit 1 bedroom apartemen yang punya nilai investasi yang bagus.

''Semoga ini menjadi penyemangat untuk adik-adik pebulu tangkis muda, bahwa jika berprestasi, maka kesejahteraan akan mengikuti,” ujar Liliyana.

 Penghargaan atas kerja keras menuju olimpiade tak hanya diberikan kepada atlet, tetapi juga kepada tim pendukung seperti pelatih teknik, pelatih fisik, sampai ahli pijat. Sebagai orang paling berpengaruh di balik sukses Tontowi/Liliyana, Richard Mainaky diguyur bonus sebesar Rp. 500 juta, begitu juga untuk Kasubid Pelatnas Ricky Soebagdja.

Tim pelatih ganda campuran, Nova Widianto dan Enroe Suryanto, juga diapresiasi dengan diberi bonus sebesar masing-masing Rp. 250 juta. Nilai yang sama juga diserahkan kepada Felix Ary Bayu Marta, pelatih fisik yang menangani tim ganda campuran. Selain atlet dan jajaran pelatih, ahli pijat, fisioterapis dan ahli gizi juga masing-masing menerima bonus sebesar 200 juta. (*)

Jaya Raya Punya GOR Baru

DEMI OLAHRAGA: Nahrawi, Ciputra, dan Gita Wirjawan
PB Jaya Raya punya gedung baru. Gedung itu berlokasi di kawasan Bintaro, Tangerang Selatanm Banten.

Peresmian gedung olahraga yang berdiri diatas lahan seluas 1,3 ha ini dilakukan langsung oleh Ir. Ciputra selaku pemilik PB Jaya Raya serta Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Itu juga bertepatan dengan peringatan 40 tahun lahirnya PB Jaya Raya  yang jatuh pada 15 September lalu.

Turut hadir Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan, Ketua Umum PB Jaya Raya yang juga dijuluki sang maestro Rudy Hartono. GOR PB Jaya Raya memiliki fasilitas 16 lapangan, tribun berkapasitas 500 penonton, serta jogging track sepanjang 200 meter. Tak cuma itu, terdapat juga asrama atlet putra dan putri seluas 1700 meter persegi, dengan 50 kamar tidur yang dapat menampung 132 atlet.

“Imajinasilah yang mendukung saya untuk membangun PB Jaya Raya 40 tahun lalu. Kala itu saya diminta Gubernur DKI Ali Sadikin untuk mengembangkan sepakbola dan atletik, namun saya terinspirasi dari Rudy Hartono, Liem Swie King dan Ferry Sonnevile, saya pikir bulutangkis adalah olahraga yang paling cocok untuk orang Indonesia,” kata Ciputra, bos besar Jaya Raya, seperti dikutip media PBSI.

Dia berharap pembangunan GOR PB Jaya Raya diiringi dengan prestasi atlet-atletnya. Meski, itu sudah terbukti  pada dua olimpiade terakhir.

 “PBSI berterima kasih kepada Jaya Raya yang sudah melahirkan atlet-atlet yang mengharumkan nama Indonesia. Prestasi ini tak lepas dari sosok Rudy Hartono, Imelda Wiguna, Susy Susanti, dan atlet-atlet seperti Hendra Setiawan, Markis Kido, dan Angga Pratama . Saya juga banyak belajar dari Om Ciputra saya melihat kedisiplinan dalam upaya membuahkan sesuatu yang bersinar, PB Jaya Raya punya endurance dan durability selama 40 tahun, ” ujar Gita dalam sambutannya. 

PB Jaya Raya juga menekankan pentingnya pendidikan bagi atlet untuk menunjang masa depan mereka setelah pensiun kelak. Untuk itu para atlet PB Jaya Raya juga dibekali pendidikan lewat sekolah dengan kurikulum khusus atlet setara SMP dan SMA Proses belajar mengajar dilakukan di ruang-ruang kelas yang tersedia di GOR PB Jaya Raya. Terdapat juga lab komputer serta perpustakaan yang diharapkan mendukung proses belajar.

GOR PB Jaya Raya baru pun telah digunakan untuk penyelenggaraan kejuaraan Pembangunan Jaya Raya Yonex-Sunrise Junior Grand Prix 2016 yang diikuti 700 atlet dan 100 atlet asing dari enam negara. (*)

Menyaksikan Aksi Menpora Imam Nahrawi di Lapangan Bulu Tangkis (2-Tamat)

Kamis, 15 September 2016

Cedera Bahu dan Langsung Dipijat Pengurus Jatim

Menteri Pemuda Olahraga Imam Nahwari piawai di lapangan. Smash-smashnya cukup menukik.
---

PERTANDINGAN pasangan Menpora Nahrawi/Sony Dwi Kuncoro versus Kadispora Jatim Supratomo/Andre Yung usai. Nahrawi/Sony jadi pemenang dengan unggul 21-18, 21-14.

Ekspresi kegembiraan pun ditunjukkan Nahrawi, sapaan Imam Nahrawi. Dia melakukan tos dengan pasangannya yang pernah lama menghuni Pelatnas Cipayung tersebut.

Tapi, setelah pertandingan tersebut, Nahrawi memegangi bahu kanan. Ada rasa nyeri.

''Saya sudah 20 hari gak bermain bulu tangkis.Ini tadi terlalu bersemangat jadi agak ketarik,'' ungkap Nahrawi.

Kesibukannya yang padat termasuk mendampingi kontingen Indonesia di Olimpiade Rio 2016, Brasil, membuat lelaki 43 tahun tersebut tak memegang raket. Hanya, cedera saat di GOR Sudirman, Surabaya, membuatnya tak berani memaksa.

Dengan siap Andre Yung, mantan pebulu tangkis Jatim yang sekarang jadi pengurus PBSI Jatim, dengan sigap memijit cedera Nahrawi. Selain dipijat, bahu yang cedera pun dikompres dengan es.

''Sebentar saja nanti sembuh. Saya masih mau main lagi,'' terang politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Dia memanfaatkan jeda waktu dengan menyaksikan laga ekshibisi antara sesama anggota tim putra Jatim.Kesempaan tersebut, Nahrawi juga berdiskusi dengan para pengurus PBSI Jatim. Juga dengan Sony Dwi Kuncoro.

 Nahrawi mengaku senang bermain di GOR Sudirman karena menjadi pengalaman pertama baginya. Meski banyak melakukan aktivitas di Surabaya, dia mengaku belum pernah tampil di gedung yang jadi venue Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut.

''Sebelumnya, saya kalau bermain di Gedung NU dekat Masjid Al-Akbar. Enak main di sini (GOR Sudirman,'' ungkap dia.

Dia partai keduanya, Nahrawi tetap berpasangan dengan Sony. Hanya, kali ini,lawannya berganti.

Mereka ditantang pasangan Bayu Wira dan Ferry Gunawan. Bayu merupakan Wakil Ketua Umum PBSI Jatim dan Ferry adalah pelatih Jatim yang juga kakak peraih emas Olimpiade 2000 Tony Gunawan. (*)





Menyaksikan Aksi Menpora Imam Nahrawi di Lapangan Bulu Tangkis (1)

Senin, 12 September 2016

Kaget Lihat Sony di Rombongan Atlet PON Jatim







Sebagai menteri yang mengurusi olahraha, sudah sepantasnya Imam Nahrawi juga harus bisa praktik di bidang yang diurusi. Ternyata, itu terbukti saat dia datang ke GOR Sudirman, Surabaya.
--
SEORANG lelaki masuk GOR Sudirman, Surabaya, dari depan, pada Minggu (11/9/2016). Tak lama kemudian disusul lelaki tegap berbaju safari melakukan hal yang sama.

Ternyata, keduanya adalah pengawal dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang akan berkunjung ke GOR Sudirman, Surabaya. Tak lama berselang, lelaki dengan kaos putih dengan paduan warna merah muda masuk.

Ternyata, Nahrawi, sapaan karib Menpora Imam Nahrawi, tak memakai baju formal layaknya pejabat negara. Dia sepertinya ingin bermain juga di GOR Sudirman. Bukan hanya melakukan kunjungan.

Sejurus kemudian, lelaki 43 tahun tersebut menyalami pebulu tangkis Jatim proyeksi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 yang sebentar lagi digelar di Jawa Barat. Dia sedikit kaget di antara atlet Jatim ada Sony Dwi Kuncoro.

''Ada Sony juga,'' katanya sambil menyalami mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut. Nama peraih medali perunggu dan juara di berbagai ajang tersebut masih melekat di benah Nahrawi.

Sedikit seremoni dilakukan di GOR Sudirman. Nahrawi kemudian siap bermain bulu tangkis.

Dia dipilihkan Sony sebagai pasangan. Lawannya adalah Kadispora Jatim Supratomo yang berpasangan dengan Andre Yong, mantan pebulu tangkis PON Jatim yang kini jadi bendahara PBSI Jatim.

Sebelum melakukan pertandingan, Nahrawi serius melakukan pemanasan. Hanya, itu tak lama.

Di atas lapangan, di game pertama, dia beberapa kali melakukan smash yang menghasilkan poin. Ada pula pukulan silangnya yang membuat penonton yang mayoritas atlet PON memberikan aplaus.

Di game pertama, Nahrawi/Sony menang dengan 21-18. Di game kedua, Nahrawi semakin panas.

''Game kedua, pasangan menteri dan Sony menang 21-14. Masih ketat yang pertama,'' ujar Suparman, wasit PBSI yang memimpin pertandinga. (*)

Aksi Nahrawi mendapat pujian dari Sony. Tapi, dia sempat cedera. Baca selanjutnya di seri 2






Dapat Kunjungan Menpora

TIM bulu tangkis Jatim Proyeksi PON 2016 dapat suntikan semangat. Mereka kedatangan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi saat menjalani latihan di GOR Sudirman, Surabaya, pada Minggu siang (11/9/2016).

''Saya hanya melakukan silaturahmi dengan pengurus Jatim. Sekalian mau lihat tim Jawa Timur,'' kata Nahwari, sapaan karibnya.

Dia sempat menyalami para pebulu tangkis andalan provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut. Kedatangan Nahrawi pun disambuay gembira pengurus.

Mereka berharap para atlet bisa terpacu semangatnya dengan kedatangan Nahrawi. Apalagi, pelaksaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 semakin dekat.

''Kami sangat bangga dikunjungi Menpora. Anak-anak harus bisa menjadikan moment ini sebagai pemacu semangat,'' ujar Wakil Ketua Pengprov Jatim Bayu Wira.

Hanya, saat dapat kunjungi Nahrowi, skuad Jatim belum komplet. Beberapa atletnya masih belum bergabung karena masih bertanding di Indonesian Masters 2016. Mereka antara lain Kevin Sanjaya dan Ronald Alexander.

Di Balikpapan, yang jadi host Indonesian Masters 2016, keduanya mampu keluar sebagai juara. Kevin yang berpasangan dengan Wahyu Nayaka, mampu menjadi juara ganda putra dan Ronald yang berpasangan dengan Melati Daeva keluar sebagai pemenang di ganda campuran. (*)

Naik Podium Pertama di 2016

Ronald/Melati juara di ganda campuran
GELAR  itu akhirnya datang ke Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti. Keduanya sukses menjadi juara
di Indonesia Masters 2016. Keduanya mengalahkan Kian Meng Tan/Pei Jing Lai dari Malaysia dengan 21-16, 21-17 dalam pertandingan final.Kali terakhir, Ronald/Melati. Terakhir mereka naik podium utama di Taiwan Grand Prix 2015.

“Yang pasti bangga dan senang. Latihan tiap hari nggak sia-sia. Kami memenuhi target, karena datang juga sebagai unggulan dua. Yang pasti tidak dijadikan beban buat kami,” ujar Ronald seperti dikutip media PBSI.

Sejak awal game pertama, Ronald/Melati tak memberikan kesempatan buat Kian/Pei untuk menyamakan kedudukan. Mereka terus menekan lawan dan merebut kemenangan. Di game kedua pun, Ronald/Melati tak membiarkan lawan untuk menyusul poin. Keduanya tampil meyakinkan hingga akhir pertandingan.

“Kami tetap fokus di lapangan, tetap tenang, rileks dan enjoy sama mainnya. Di tiap poin kami tetap fokus dan jangan sampai lengah,” kata Ronald.

Berhadapan dengan pasangan Malaysia, Ronald/Melati mengatakan sudah mempelajari pola permainan lawan. Kian/Pei sendiri sebelumnya membabat habis wakil Indonesia sejak babak pertama.

“Kami sudah lihat permainan mereka kemarin saat lawan Edi (Subaktiar)/Richi (Dili). Mereka banyak poin dari bola atas. Jadi pelatih juga ngasih tahu untuk turunin bola terus jangan sampai defense. Soalnya smash cowoknya juga kencang,” kata Ronald.

Hasil Ronald/Melati kali ini lebih baik dibanding capaian mereka di Indonesian Masters tahun lalu. Tahun 2015 di Malang, Ronald Melati terhenti di babak dua dari Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Setelah ini Ronald/Melati akan bertanding di PON XIX/2016 Jawa Barat. Ronald akan memperkuat tim Jawa Timur sementara Melati membela Jawa Tengah. (*)

Pertegas Dominasi Ganda Putra

Kevin (kiri)/Wahyu dengam medali Indonesian Masters
SEPAK terjang pasangan anyar Kevin Sanjaya/Wahyu Nayaka tak tebendung di Indonesian Masters. Pasangan yang baru kali pertama tersebut mampu keluar sebagai juara nomor ganda putra dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Dome, Balikpapan, Kalimantan Tmur, pada Minggu waktu setempat, Kevin/Wahyu mengalahkan wakil Tiongkok Han Chengkai/Zhou Handong dengan dua game langsung 21-16, 21-18.

Sebenarnya, Kevin dan Wahyu bukan pasangan permanen. Keduanya digandengkan karena pasangan Kevin, Gideon Marcus Fernaldi tengah cedera.

Sehingga, PP PBSI pun berpikir untuk mencari pasangan bagi Kevin untuk bisa tampil di Indonesia Masters 2016. Akhirnya didapatkan Wahyu yang tengah kosong usai pasangan lamanya Ade Wahyu dipulangkan dari Pelatnas Cipayung.

Hanya, ranking Kevin yang berpasangan dengan Gideon yang membuat Kevin/Wahyu masih masuk dalam daftar unggulan. Keduanya ditempatkan sebagai kandidat juara di posisi kelima.

Saat ini, Kevin/Gideon ada di posisi 11 dunia. Bahkan, dalam putaran final ke Dubai, mereka ada di posisi teratas. Sementara, Wahyu terpuruk di posisi 48 dunia.

Jalan ke final bagi Kevin/Wahyu cukup mengagumkan.Di perempat final,keduanya menumbangkan juara bertahan yang juga rekannya di Pelatnas Cipayung Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan dengan tiga game 18-21, 21-16, 23-21. Di perebutan tiket final, Kevin/Wahyu mempermalukan ganda nomor dua Indonesia Angga Pratama/Ricky Karanda dengan 21-14,18-21, 21-19.

Gelar yang diraih Kevin/Wahyu juga mempertegas dominasi merah putih di nomor ganda dalam Indonesian Masters. Sejak dilaksanakan 2010,Indonesia hanya kehilangan gelar pada 2012 di Palembang. Saat itu, posisi terhormat disabet wakil Korea Selatan Kim Gi-jung/Kim Sa-rang . (*)

Gelar juara ganda putra Indonesian Masters
2016: Kevin Sanjaya/Wahyu Nayaka (Indonesia

2015: Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan

2014:Marcus Fernaldi/Markis Kido (Indonesia)

2013: Angga Pratama/Rian Agung Saputro (Indonesia)

2012: Mohamad Ahsan/Bona Septano (Indonesia)

2011: Mohammad Ahsan/Bona Septano (Indonesia)

Harapan Juara dari Pasangan Dadakan

Minggu, 11 September 2016

DI INDONESIA Masters 2016, Kevin Sanjaya tak tampil dengan pasangannya, Macus Gideon. Sinyo, sapaan karib Marcus, absen karena mengalami cedera.

PP PBSI mengambil keputusan memasangkan Kevin dengan Wahyu Nayaka. Kebetulan, Wahyu juga tengah menjomblo karena pasangan lamanya, Ade Yusuf, dikembalikan ke klub asalnya, Wima Surabaya, karena sakit.

Pasangan Kevin/Wahyu diberi kepercayaan berlaga di Indonesian Masters 2016. Tentu, sebagai pasangan baru, keduanya tak ditarget juara dan mampu berbicara banyak dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Tapi, siapa sangka, langkah keduanya kebablasan. Kevin/Wahyu mampu menembus babak final.


Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Sabtu waktu setempat, Kevin/Wahyu menundukkan unggulan kedua Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dengan tiga game 21-14, 18-21, 21-19.

“Di game pertama, kami bisa menekan dari awal, sementara mereka belum in. Di game kedua baru mereka  udah dapet banget feelingnya. Di game ketiga awal juga kan kami ketinggalan terus. Pas ngejar sih saya berusaha menenangkan diri,” kata Kevin usai bertanding seperti dikutip media PBSI.

Di babak final, Kevin/Wahyu akan menantang pasangan Tiongkok, Han Chengkai/Zhou Haodong.
“Besok final kami mempersiapkan diri, karena belum pernah ketemu kan sama pasangan Tiongkoknya. Khusus buat saya mungkin harus lebih menyeimbangkan Kevin ya. Kakinya harus lebih cepat lagi,” kata Wahyu. (*)

Agenda final Indonesian Masters 2016
Tunggal putra: Huang Yuxiang (Tiongkok x12) v Shi Yuqi (Tiongkok x11)

Ganda putri: Jongkolphon Kititharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand x3) v Chae Yoo Jung/Kim So-yeong (Korsel x4)

Ganda campuran: Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia x3) v Ronald Alexander/Melati Daeva (Indonesia x2)

Tunggl putri: Busanan Onbamrungphan (Thailand x1) v Goh Jin Wei (Malaysia x8)

Ganda putra: Kevin Sanjaya/Wahyu Nayaka (Indonesia x5) v Han Chengkai/Zhou Haodong (Tiongkok)

x=unggulan

Mencari Puncak di Debut

Sabtu, 10 September 2016

INDONESIAN Masters 2016 jadi debut bagi Richi Dili. Untuk kali pertama, dia berpasangan dengan Edi Subaktiar.

Tapi, hasil yang diraih cukup di luar dugaan. Keduanya mampu menembus semifinal turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Tiket tersebut diperolehu usai Edi/Richi menundukkan rekannya sendiri Irfan Fadilah/Weni Anggraini dengan tiga game 18-21, 27-25, 21-16 dalam babak perempat final di Dome, Balikpapan,Kalimantan Timur, pada Jumat waktu setempat (9/9/2016).

Untuk bisa menembus babak akhir, keduanya harus bisa mengalahkan Tan Kian Meng/Lai Pei Jing. Di perempat final, wakil Malaysia tersebut menang mudah 21-8, 21-14 atas wakil Indonesia Lukhi Apri Nugroho/Ririn Amelia.

Sebelumnya, Richi dan Edi punya pasangan yang sudah lama  bersama. Richi dengan Riky Widianto dan Edi dengan Gloria Emanuelle Widjaja.

Menariknya, kini Riky dan Gloria menjadi pasangan baru. Keduanya sempat menembus babak semifinal dalam Taiwan Open Grand Prix Gold 2016 pada bulan Juli.

Sayang, di Indonesian Masters 2016, keduanya langsung tersingkir di babak I. Riky/Gloria menyerah di tangan Tan Kian Meng/Lai Pei Jing.

Dibandingkan Edi/Gloria, Riky/Richi sempat menjadi harapan masa depan nomor ganda campuran Indonesia. Mereka pernah menembus posisi delapan besar dunia.

Sayang, penampilan angin-anginan keduanya membuat prestasi puncak gagal dipetik. Hingga akhirnya, PP PBSI menceraikan keduanya. (*)

Aib dari Tunggal Putra

KEHORMATAN tunggal putra tuan rumah di Indonesian Masters 2016 tercoreng. Untuk kali pertama sejak kali pertama digelar 2010, merah putih gagal menempatkan wakilnya di babak final.

Bahkan, pada 2016 ini, Indonesia tak mampu meloloskan dutanya ke empat besar. Ini setelah dia wakil yang masih tersisa, Ihsan Maulana Mustofa dan Muhammad Bayu Pangistu, tersingkir di babak perempat final.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur, Ihsan menyerah kalah rubber game 24-22, 16-21, 15-21 kepada Zhao Jun Peng dari Tiongkok. Di atas kertas, sebenarnya, Ihsan lebih diunggulkan.

Dalam Indonesian Masters yang berhadiah total USD 120 ribu tersebut, Ihsan ditempatkan sebagai unggulan kedua karena ranking 17 yang dimiliki.Sedangkan Jun Peng baru mempunyai ranking 233.

Setelah dua kali membuat kejutan, langkah Muhammad Bayu Pangisthu akhirnya harus terhenti di perempat final Yonex-Sunrise Indonesian Masters 2016. Bayu kalah usai menghadapi Huang Yuxiang, Tiongkok, 6-21 dan 19-21.

Sedang Bayu,sapaan karib Muhammad Bayu Pangisthu, dihentikan unggulan ke-12 Huang Yuxiang dengan straight game 6-21, 19-21.

“Kemarin setelah lawan Xue Song, saya belum benar-benar pulih. Jadi di pertandingan ini saya nggak percaya sama keadaan saya sendiri, dengan keadaan yang sakit-sakit badannya. Makanya pas pertama saya kurang greget dan takut-takut,” kata Bayu seperti dikutip media PBSI.

Baru di game kedua, Bayu menunjukkan kebolehannya. Ia memimpin perolehan angka dengan 10-6, 17-13 dan 19-16. Tapi setelah itu, langkah Bayu seolah terkunci. Huang bangkit mengejar dan membalikkan posisi dengan lima poin berturut-turut. Bayu kalah 19-21.


“Kemarin setelah lawan Xue Song, saya belum benar-benar pulih. Jadi di pertandingan ini saya nggak percaya sama keadaan saya sendiri, dengan keadaan yang sakit-sakit badannya. Makanya pas pertama saya kurang greget dan takut-takut,” kata Bayu.

Sejak dilaksanakan 2010, pada 2014, gelar lepas ke wakil India HS Pranoy yang di final menundukkan wakil Indonesia Firman Abdul Kholik. Tahun lalu, juara disabet Tommy Sugiarto. (*)


Daftar juara tunggal putra Indonesian Mastes

2015: Tommy Sugiarto (Indonesia)

2014: HS Prannoy (India)

2013; Simon Santoso (Indonesia)

2012: Sony Dwi Kuncoro (Indonesia)

2011: Dionysius Hayom Rumbaka (Indonesia)

2010: Taufik Hidayat (Indonesia)

Tunggal Putri hanya Sisakan Hana

Kamis, 08 September 2016

Hana Ramadhini tinggal sendirian (foto;PBSI)
PELUANG tunggal putri berjaya di kandang sendiri dalam Indonesian Masters 2016 tipis. Di babak perempat final, tuan rumah hanya mempunyai satu wakil atas nama Hana Ramadhini.

Tiket itu diperoleh setelah Hana menang Ji Min Yeo dari Singapura dengan 21-16, 21-15 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis waktu setempat (8/9/2016). Hanya, untuk menembus semifinal bukan hal yang mudah.

Hana bersua dengan unggulan ketujuh asal Thailand Pornpawee Chochuwong. Di babak sebelumnya, pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut menundukkan anggota Pelatnas Cipayung Dinar Dyah Ayustine dengan 21-18, 21-17.

Selain Hana dan Dinar, sebenarnya di babak kedua, Indonesia masih mempunyai dua wakil lain yakni Desandha Vegarani dan Ruselli Hartawan. Sayang, keduanya terjegal.

Desandha dihentikan unggulan kedelapan asal Malaysia Goh Jin Wei dengan 23-25, 12-21. Sedang Ruselli menyerah 17-21, 17-21 kepada Ayumi Mine, unggulan keenam dari Jepang.

Sejak dilaksanakan 2010, Indonesia hanya mampu sekali menjadi juara di Indonesian Masters. Prestasi tersebut diukir oleh Adriyanti Firdasari pada 2014. (*)

Langkah Sony-Simon Terhenti

Simon Santoso gagal menembus perempat final
PERJALANAN Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso terhenti. Keduanya pebulu tangkis senior tersebut terhenti di babak II Indonesian Masters 2016.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis waktu setempat (8/9/2016), Sony, yang diunggulkan di posisi keenam, dipaksa harus mengakui ketangguhan Lee Cheuk Yiu dari Hongkong dengan rubber game 21-17, 14-21, 19-21.

Di atas kertas, sebenarnya Sony diunggulkan memenangkan pertandingan. Selain bermain di kandang sendiri, arek Suroboyo tersebut tengah mendekati permainan terbaik.

''Saya lengah, jadi mainnya kurang lepas,'' ungkap Sony melalui pesan singkat.

Dia juga memberi catatan khusus di game ketiga. Di gama pemungkas tersebut, Sony kembali lambat panas.

''Saya sempat tertinggal 2-10. Jadi ngejarnya jauh juga,'' ujar bapak dua anak itu.

Kekalahan Sony juga diikuti mantan rekannya di Pelatnas Cipayung, Simon Santoso. Mantan tunggal putra terbaik Indonesia itu tak berdaya di tangan unggulan ke-12 asal Tiongkok Huang Yuxiang dengan 14-21, 16-21. Penampilan di Balikpapan ini menjadi debut bagi Simon setelah lama absen karena cedera.

Sony dan Simon pernah menahbiskan namanya di daftar juara Indonesian Masters. Sony naik podium terhormat pada 2012 dan Simon setahun kemudian. (*)

Mantan Juara Lepas dari Jeratan Pertama

Rabu, 07 September 2016

LOLOS: Sony Dwi Kuncoro janji fight di babak II
DUA pendekar senior bulu tangkis Indonesia, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso, masih bertaji. Keduanya mampu melewati jeratan babak I Indonesian Masters 2016.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Rabu waktu setempat (7/9/2016), keduanya mengalahkan lawan-lawannya. Sony, yang diunggulkan di posisi keenam, menghentikan perlawanan Abdulrach Namkul dari Thailand dengan tiga game 17-21, 21-14, 21-17.

''Di game pertama, saya kurang fokus. Sehingga, lawan bisa berkembang,'' ujar Sony melalui pesan singkat.

Dia mengakui lamanya vakum dari turnamen internasional bisa menjadi penyebab. Atmosfer pertandingan pun yang ketat hampir sebulan tak dirasakan.

''Tapi, saya tak akan mengulangi di babak II. Saya harus langsung tampil greget,'' ujar Sony.

Di babak II, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut akan dijajal Lee Cheuk Yiu. Tunggal putra asal Hongkong itu di babak I menang mudah 21-10, 21-8 atas wakil Indonesia Bobby Kaizar Alexander.

Sementara, di penampilan perdana, Simon unggul 21-18, 21-16 atas Harsheel Dani dari India. Di babak kedua, mantan pebulu tangkis nomor tiga dunia tersebut menantang unggulan ke-12 Huang Yuxiang dari Tiongkok.

Bagi Sony dan Simon, Indonesian Masters bukan turnamen asing. Keduanya pernah menjadi juara dalam ajang yang masuk level grand prix gold tersebut.Sony menjadi pemenang pada 2012 sedang Simon setahun kemudian. (*)

Tunggal Thomas Indonesia Langsung Tersingkir

Anthony Sinisuka Ginting (foto;PBSI)
INDONESIA sudah kehilangan andalan di tunggal putra. Anthony Sinisuka Ginting harus mengakui keunggulan wakil Tiongkok, Zhao Jun Peng di babak pertama  Indonesian Masters 2016. Anthony kalah dua game langsung dengan 18-21, 20-22 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Rabu waktu setempat (7/9/2016).

Sejak game pertama dimulai, Anthony terus berada di bawah dominasi Zhao. Ia tertinggal jauh 5-1, 7-13 dan 9-16. Anthony sempat mengejar menjadi 18 sama, namun sayang akhirnya tetap kalah 18-21.

Masuk di game kedua, Anthony berusaha membuka peluang dengan unggul tipis 9-7. Tapi Zhao lagi-lagi menyusul dan membalikkan angka, menjadi unggul 14-9. Unggulan sembilan Indonesia tersebut akhirnya kalah setelah mencoba menyusul lawan.

“Saya banyak mati sendiri. Itu yang bikin poin yang terbuang. Di game pertama dan kedua, saya sempat ketinggalan jauh, terus hampir nyamain. Mungkin kalau dari awal bisa dijaga ketat poinnya, mungkin bisa,” kata Anthony seperti dikutip media PBSI.

Terhenti di babak pertama diakui Anthony masih jauh dari targetnya di Balikpapan ini. Sebelumnya Anthony mematok target tembus babak final.

“Saya bersyukur bisa dikasih kesempatan bisa cari kesempatan cari pengalaman di sini. Walaupun hasil ini tidak sesuai target awal saya. Di awal saya ingin bisa melampaui hasil tahun lalu. Tahun lalu saya kalah di semifinal. Berarti kan paling nggak saya bisa ke final,” ujar atlet besutan klub SGS PLN Bandung tersebut.

Antony sendiri merupakan salah satu pebulu tangkis yang digadang-gadang bakal menjadi andalan Indonesia di masa depan. Dia pun sudah masuk dalam Tim Piala Thomas 2016 lalu. Selepas   Indonesian Masters 2016, Anthony akan langsung bersiap untuk pertandingannya di PON XIX/2016 Jawa Barat. (*)

Hendra/Ahsan Mulai Pisah di Eropa

Selasa, 06 September 2016

BERAKHIR sudah kiprah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Keduanya bakal tak lagi berpasangan.

Ini setelah PP PBSI menceraikan keduanya. Langkah ini sebagai buntut dari mulai menurunnya penampilan Hendra/Ahsan sejak 2016.

Dengan puncaknya pada Olimpiade Rio 2016. Diharapkan mampu menjadi penyambung tradisi emas, Hendra/Ahsan malah tampil mengecewakan.

Keduanya hanya mampu memetik satu kemenangan dalam tiga laga. Imbasnya, Hendra/Ahsan gagal menembus babak II. Meski sebenarnya, juara dunia 2015 tersebut diunggulkan di posisi kedua.

Selain itu, puncak penampilan keduanya sudah dianggap lewat. Sebelum ke Brasil, negara penyelenggaraan Rio 2016, mereka belum meraih juara di 2016. Sebaliknya, kegagalan demi kegagalan terus mengiringi.Bahkan, di kandang sendiri, dalam Indonesia Open Super Series Premier 2016, Hendra/Ahsan sudah tumbang di babak II.

Lalu, siapa pasangan barunya nanti? ''Hendra akan berpasangan dengan Rian Agung dan Ahsan dengan Berry Anggriawan. Mereka akan mulai tampil di Eropa,'' ujar Ahmad Budiarto, Wasekjen PP PBSI.

Melihat kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), kejuaraan yang Eropa baru dilaksanakan pada Oktober mendatang. Kejuaraan tersebut adalah Denmark Super Series Premier pada 18-23 Oktober dan Prancis Super Series pada 25-30 Oktober.

Sedangkan di Jepang Super Series pada 20-25 September, Hendra/Ahsan masih berpasangan; Begitu juga di Korea Super Series.

Sebenarnya, di awal pembentukan, Hendra/Ahsan sangat ditakuti. Rentetan gelar mampu diraih termasuk dua kali menjadi juara dunia yakni pada 2013 dan 2015. Serta All England di tahun yang sama.Sayang, gaya permainan keduanya mulai dibaca oleh lawan-lawannya. (*)

Dua Unggulan Teratas Mundur

KANS merajai Indonesia Masters 2016 berkurang. Dua unggulan dari Indonesia di nomor ganda putra dan ganda campuran urung tampil dalam ajang yang dilaksanakan di Balikpapan, Kalimantan Timur, 6-11 September tersebut.

Di ganda putra, sebenarnya unggulan pertama diduduki oleh pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Sedangkan Praveen Jordan/Debby Susanto memilih absen di turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

''Kedua pasangan mundur dengan alasan sakit. Jadi, posisinya digantikan pasangan lain dari babak kualifikasi,'' kata Kabid Pertandingan, Turnamen, dan Perwasitan PP PBSI Eddyanto Sabarudin.

Di ganda putra, tempat slot teratas di ganda putra ganti ditempati pasangan kakak beradik Fran/Fernando Kurniawan.  Untuk ganda campuran jarah Praveen/Debby diisi oleh Reinard Dhanriano/Yulfira Barkah.

Kedua pasangan yang memilih mundur tersebut baru saja berlaga di Olimpiade Rio 2016. Sayang, hasil yang diraih tersebut kurang memuaskan.

Hendra/Ahsan, yang di Rio 2016 ditempatkan sebagai unggulan kedua, langsung tersingkir di babak penyisihan. Meski oleh PP PBSI, sebenarnya keduanya diharapkan meraih emas.

Praveen/Debby sendiri di Rio 2016 sempat menembus perempat final. Hanya, langkahnya dijegal rekannya sendiri, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang akhirnya keluar sebagai juara. (*)

Tiga Gelar dari Singapura

INDONESIA masih bisa berpesta. Di turnamen kecil Singapore International, pebulu tangkis merah putih mampu membawa pulang tiga gelar.

Tiga tempat bergengsi tersebut disumbangkan Asty Dwi Widyaningrum di tunggal putri, Suci Rizky Andini/Yulira Barkah (ganda putri), dan Yantoni Edy Saputra/Marcheila Geicha (ganda campuran).

Asty  mengalahkan Lee Ying Ying dari Malaysia dengan 21-19, 21-12 dalam pertandingan final tunggal putri yang dilaksanakan di Singapura pada Sabtu waktu setempat (3/9/2016). Dalam ajang ini,wakil merah putih tersebut tak menempati daftar unggulan.

Sama halnya dengan pasangan ganda campuran, Yantoni/Marsheilla juga bukan kandidat juara. Namun, di babak pemungkas, keduanya mempermalukan andalan tuan rumah yang ditempatkan sebagai unggulan keenam Danny Bawa Chrisnanta/Citra Sari Dewi dengan dua game langsung 21-9, 21-18.

Sementara di ganda putra, Suci/Yulfira memang sudah diprediksi bakal naik ke podium terhormat. Sebagai unggulan pertama, keduanya menundukkan sesama wakil Indonesia Mychelle Bandaso/Serena Kani dengan 21-14, 21-12.

Dua gelar lainnya, tunggal putra dan ganda putra, yang lepas dari genggaman wakil Indonesia jatuh ke Malaysia. Di tunggal putra, Satheistharan menghentikan perlawanan unggulan kesembilan dari Hongkong Lee Cheuk Yiu dengan rubber game 21-19, 19-21, 21-13.

Di ganda putra, wakil Malaysia Goh Sze Fei/Mohd Rumsani melibas wakil tuan rumah yang keduanya berdarah Indonesia Danny Bawa Chrisnanta/Hendra Wijaya 21-13, 21-14. (*)

Dapat Rumah Seharga Rp 1,5 M

Kamis, 01 September 2016

MASA DEPAN: Tontowi dan Liliyana dapat rumah
APRESIASI atas raihan emas Olimpiade Rio 2016 kepada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir terus mengalir. Kali ini, juara nomor beregu campuran itu dapat penghargaan dari Djarum Foundation. Seperti diketahui, pasangan yang biasa disapa Owi/Butet ini merupakan atlet binaan PB Djarum.

Rangkaian apresiasi emas olimpiade dimulai dari penyerahan hadiah rumah dari Graha Padma. Rumah senilai Rp. 1,5 M ini berlokasi di Semarang, Jawa Tengah, dengan tipe Edelweis, luas tanah 162 m2, dan luas bangunan 98m2 dengan 3 kamar tidur.

Tak cuma itu, Owi/Butet yang merupakan pasangan Juara Dunia 2013 ini juga bakal diguyur bonus senilai Rp. 1 M dari Djarum Foundation dan Blibli.com, serta hadiah TV 65" yang merupakan televisi terbesar di dunia, persembahan dari Polytron.

"Senang banget, terima kasih Djarum Foundation yang sudah sangat menggapresiasi kemenangan kami. Jujur kami tidak melihat nilainya, tetapi perhatiannya yang luar biasa. Semoga ini menjadi motivasi untuk kami dan atlet-atlet muda supaya lebih berprestasi," ujar Tontowi seperti dikutip media PBSI .

Hadiah rumah nomor 53 untuk Butet dan nomor 55 untuk Owi letaknya berdekatan dan bakal dilengkapi ornamen logo olimpiade. Menanggapi hal ini, Liliyana merasa terharu akan perhatian yang diberikan.

"Nggak nyangka sudah dipikirin pakai logo olimpiade, saya saja belum kepikirian bikin logo olimpiade di rumah saya yang sekarang saya tempati. Ini akan menjadi rumah kenang-kenangan di masa tua nanti, ini adalah rumah olimpiade," kata Liliyana.

Sementara itu, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin mengatakan bahwa pemberian hadiah kepada Tontowi/Liliyana merupakan apresiasi atas keberhasilan keduanya membawa kembali medali emas olimpiade, juga bentuk syukur Djarum Foundation setelah menjalankan pembinaan olahraga bulu tangkis sejak 1969. (*)

Tontowi/Liliyana Diarak Keliling Kudus

SELFIE: Tontowi/Liliyana disambut masyarakat
SAMBUTAN kepada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir belum berakhir. Kini, pasangan peraih medali emas cabang olahraga bulu tangkis nomor beregu campuran Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tersebut menikmati keberhasilan mereka bersama masyarakat kota Kudus, Jawa Tengah.

Kamis WIB (1/9/2016), Tontowi/Liliyana diarak keliling Kudus yang merupakan tempat berdirinya klub asal mereka, PB Djarum. Arak-arakan dimulai dari jalan raya Demak-Kudus, menuju pabrik Brak SKT BL 53 milik PT. Djarum.

Tempat ini merupakan tempat bersejarah. Ini karena di sinilah awal mula berdirinya lapangan latihan bulu tangkis pertama milik PB Djarum. Di tempat ini pula, salah satu sang legenda bulu tangkis yang dijuluki King Smash, Liem Swie King, berlatih.

"Inilah Tontowi/Liliyana, mereka lah yg telah mengharumkan nama indonesia, mereka sudah hadir ditengah-tengah kita semua untuk merayakan kemenangan medali emas di Olimpiade Rio 2016. Perlu diketahui juga bahwa PB Djarum telah melahirkan para pahlawan bulu tangkis, kita seharusnya bangga dan tersanjung sudah dikunjungi pahlawan olahraga kita," ujar Musthofa, Bupati Kudus, seperti dikutip media PBSI.

Tontowi pun mengucapkan  terima kasih kepada bupati, karyawan PT. Djarum, dan masyarakat Kudus. Dia berharap prestasi yang diraihnya bisa membanggakan Indonesia dan memotivasi teman-teman untuk berprestasi.

"Terima kasih semua karyawan di PT. Djarum yang sudah mendoakan kami, sehingga kami bisa meraih medali emas olimpiade. Mudah-mudahan, ini  bisa menginspirasi masyarakat Indonesia untuk berprestasi di segala bidang," tambah Liliyana yang disambut riuh tepuk tangan.

Kedatangan Tontowi/Liliyana disambut begitu meriah oleh warga Kudus yang sudah ramai menanti kedatangan pahlawan bulutangkis di kota Kretek tersebut.
Sekitar tiga ribu siswa-siswi sekolah telah berdiri di sepanjang jalan utama di kota Kudus.

Tontowi/Liliyana terlihat sangat menikmati arak-arakan. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah mereka. Sejak pertama menaiki VW Combi Double Deck, Tontowi/Liliyana langsung ber-selfie ria untuk mengabadikan momen bersejarah ini.

Setelah mengunjungi pabrik Brak SKT BL 53, rombongan arak-arakan bertolak menuju Pendopo Kabupaten. Sepanjang jalan menuju pendopo, penyambutan kian meriah. Ada pasukan marching band, barongsai, dan masih banyak lagi. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger