www.smashyes.com

www.smashyes.com

Hanya Gita dan Wiranto yang Bersaing

Jumat, 28 Oktober 2016

PENDAFTARAN calon ketua umum PP PBSI 2016-2020 sudah ditutup Jumat (28/10/2016) pukul 17.00 WIB.
Posisi orang nomor satu di induk olahraga bulu tangkis di Indonesia tersebut akan diperebutkan dua calon yaitu Gita Wirjawan dan Wiranto.

Gita merupakan Ketua Umum PP PBSI periode masa bakti 2012-2016. Sementara Wiranto yang pernah memimpin induk organisasi bridge dan karate ini kini menjabat sebagai Menteri Koordinasi Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam).

 Gita lebih dulu mengembalikan formulir pendaftaran pada 17 Oktober 2016 lalu. Disusul Wiranto pada 26 Oktober 2016.

Dalam persyaratan dokumen pendaftar, keduanya menyertakan surat dukungan yang sama kuat dari 18 Pengurus Provinsi PBSI. Sementara jumlah suara pemilih dalam Musyawarah Nasional adalah 34 pengurus provinsi + 1 suara Pengurus Pusat PBSI.

Setelah pendaftaran ditutup, berkas pendaftaran kedua calon akan mulai diverifikasi oleh Tim Penjaringan yang diketuai oleh Fuad Basya. Dituturkan Fuad, proses verifikasi akan berlangsung pada 28-30 Oktober 2016.

“Kami baru akan memulai verifikasi besok (28/10), sementara ini kedua calon memiliki jumlah dukungan yang sama yaitu 18 suara pengurus provinsi. Berarti ada yang dobel? Iya memang ada yang dobel karena jumlah pengrov hanya ada 34,” tutur Fuad kepada situs PBSI.

Dalam verifikasi awal, ungkapnya, sudah akan ada hal-hal yang perlu disampaikan kepada pendaftar. Misalnya ada persyaratan yang kurang.

''Contohnya surat dukungan pengurus provinsi yang hanya ditandatangani sekretaris umum, bukan ketua umum pengprov yang bersangkutan. Kemudian akan kami tanyakan apakah ini bisa diperbaiki, istilahnya administrasinya harus disempurnakan lagi,” tambah Fuad.

Usai verifikasi awal, tim penjaringan akan menentukan berapa jumlah suara yang valid, berapa yang tidak valid. Hal ini bakal ditentukan tim penjaringan pada 30 atau 31 Oktober 2016.

Hasil laporan tim penjaringan kemudian secara resmi akan dipaparkan di hadapan forum peserta Musyawarah Nasional 2016 yang akan berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada 30-31 Oktober 2016.

“Tim penjaringan tidak berhak menentukan siapa yang lolos dan siapa yang tidak lolos. Kami hanya melihat administrasinya, apakah ada yang kurang dari pendaftar. Nanti keputusan akan diambil oleh ketua sidang Munas,” ucap Fuad. (*)

Jonatan Hadapi Lawan di Masa Junior

DI level junior, Shi Yuqi bukan andalan Tiongkok. Tapi, seiring waktu, penampilannya semakin matang saat masuk senior.

Hanya, bagi dia, Jonatan Christie asal Indonesia menjadi lawan yang menakutkan. Dia pernah kalah oleh Jonatan saat bertemu di Kejuaraan Dunia Junior nomor beregu.

Dalam ajang 2013, Jonatan unggul dua game langsung 21-14, 21-18. Lama tak bertemu, tiga tahun kemudian, keduanya  berjumpa di Malaysia Masters 2016.

Bedanya, kali ini, Jonatan dan Shi sudah berlaga di kategori senior. Hasilnya, wakil merah kembali memetik kemenangan. Juga dengan dua game 21-17, 21-12.

Nah, pertemuan ketiga bagi keduanya berlangsung di Paris dalam France Open 2016. Jonatan dan Shi bakal berebut tiket perempat final turnamen berhadiah total USD 300 ribu tersebut.

Ini setelah keduanya mengalahkan lawan-lawannya di babak kedua. Dalam pertandingan yang digelar Kamis waktu setempat (27/10/2016), Jonatan mengalahkan wakil Inggris Rajiv Ouseph dengan dua game yang mudah 21-12, 21-12.

Kemenangan ini membuat pebulu tangkis 19 tahun tersebut unggul dua kali dalam tiga kali pertemuan. Sedangkan Shi mengalahkan seniornya yang diunggulkan di posisi keempat Tian Houwei dengan rubber game 21-13, 10-21, 21-10. 

Di nomor tunggal putra, Jonatan menjadi satu-satunya wakil yang masih bertahan. Langkahnya gagal diikuti oleh Anthony Ginting yang dipaksa mengakui ketangguhan unggulan ketiga Jan O Jorgensen dari Denmark dengan dua game 20-22, 15-21.

Sejak 2010, Indonesia tak pernah lagi mengantarkan wakilnya juara di tunggal putra. Saat itu, gelar juara disabet oleh Taufik Hidayat. (*)

Cedera Bikin Chong Wei Mundur

Kamis, 27 Oktober 2016

LEE Chong Wei gagal menjadi juara France Open 2016. Ini mengulangi hasil sepekan sebelumnya dalam Denmark Open 2016.

Bedanya, di Negeri Mode, julukan Prancis, dia gagal bukan karena dikalahkan lawan. Chong Wei memilih mundur dari cedera kaki. Di Denmark, tunggal putra nomor satu dunia tersebut secara mengejutkan dikalajkan Brice Leverdez dari Prancis di perempat final.

''Ini mungkin otot yang tegang di pinggul. Tapi, cedera masih dalam penyelidikan,'' ungkap lelaki 33 tahun
tersebut seperti dikutip media Malaysia. 

Untuk itu, ucap Chong Wei, dia segera ke rumah sakit. Seberapa serius cedera yang saya alami,'' lanjutnya. 

Cedera itu membuat tiga kali finalis olimpiade, Beijing 2008, London 2012, dam Rio 2016, tersebut diragukan bisa berlaga di Tiongkok Open dan Hongkong Open.

Usai dari Olimpiade Rio 2016, Chong Wei sempat menyabet juara di Jepang Open 2016. Di final, dia menundukkan Jon O Jorgensen dari Denmark.


Rindu Menanti Tandem Baru



PERPISAHAN dengan Koo Kien Keat, bukal kali pertama bagi Tan Boon Heong. Keduanya sempat tak bersama selama dua tahun.

Ini disebabkan Kien Keat meninggalkan tim nasional Malaysia. Hanya, keduanya bersatu lagi setelah Boon Heong melakukan langkah yang sama.

Sebelumnya, Boon Heong/Kien Keat sempat digadang-gadang bakal menjadi penerus ketangguhan nomor ganda Malaysia di pentas internasional. Apalagi, pada 2006, saat usia keduanya masih sama-sama  muda, emas Asian Games 2006 mampu diraih.

Juara dunia juga nyaris dalam genggaman. Pada 2010 di Paris, Prancis, Boon Heong/Kien Keat mampu menembus final. Sayang, langkah mereka dihentikan Cai Yun/Fu Haifeng asal Tiongkok.

Terakhir, Boon Heong/Kien Keat berlaga di Denmark Open 2016. Mereka tersingkir di babak I usai ditaklukan wakil Indonesia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya dengan 11-21, 18-21.

“Menjadi atlet mandiri bersama Kien Keat, saya memenangi Belanda Terbuka,'' kenang Boon Heon seperti dikutip media Malaysia.

Meski hendak berpisah, Boon Heong/Kien Keat masih bersama dalam Tiongkok Open dan Hongkong Open bulan depan. (*)

Tan Boon Heong Pasangan Hendra?

HENDRA Setiawan hampir pasti meninggalkan Pelatnas Cipayung. Langkah itu dilakukan pebulu tangkis 32 tahun tersebut pada penghujung 2016.

Hendra memilih menjadi atlet mandiri atau profesional. Satu nama yang disebut-sebut bakal menjadi pasangannya adalah Tan Boon Heong.

Saat ini, Hendra masih dipasangkan dengan Rian Agung. Mereka berlaga dalam dua turnamen di Eropa, Denmark Open 2016 dan France 2016.

Sebelumnya, Hendra berpasangan dengan Mohammad Ahsan. Keduanya pernah dua kali menjadi juara dunia yakni pada 2013 dan 2015.

Sayang, Hendra/Ahsan mendapat gagal total. Diharapkan meraih emas, keduanya malah sudah tersungkur di babak penyisihan. 

Sebenarnya, Hendra pernah meraih emas. Itu terjadi saat dia berpasangan dengan Markis Kido pada Olimpiade Beijing 2008.

Boon Heong, yang kini berusia 29 tahun, menyambut gembira rencana tersebut. Baginya, berpasangan dengan atlet peraih emas dan juara dunia menjadi kebangaan tersendiri.

“Menjadi sebuah hal yang indah berpasangan dengan peraih emas dan juara olimpiade. Saya belum pernah memenangi keduanya. Mungkin saya bisa melakukan dengan pasangan baru nanti,'' terang Boon Heong seperti dikutip media Malaysia.

Hanya, baginya, Hendra bukan hanya satu-satunya. Dia dirumorkan juga akan dipasangkan dengan Lee Yong-dae.

Alasannya, pebulu tangkis 28 tahun tersebut meninggalkan Timnas Nasional Korea Selatan.

“Saya tahu Yong-dae pergi dari tim nasional negaranya. Hendra juga ingin kembali menjadi profesional. Keputusan segera akan diambil,'' ucap Boon-heon.

Hanya, bagi dia , keduanya bukan orang asing. Boon Heong pernah berpasangan dengan Yong-dae dalam Malaysia Purple League, liga bulu tangkis Malaysia. Bersama Hendra, mantan pasangan Koo Kien Keat tersebut unjuk kebolehan dalam sebuah pertandingan undangan di Tiongkok. (*)

Sudah Lewati Hasil Denmark Open

Rabu, 26 Oktober 2016

HASIL lebih bagus dipetik Mohammad Ahsan/Berry Angriawan.  Di turnamen kedua mereka sebagai pasangan, Ahsan/Berry mampu menembus babak II France Open 2016.

Pekan lalu, pasangan anyar tersebut langsung tersingkir di babak I Denmark Open 2016.   Ahsan/Berry kalah di babak pertama dari pasangan Choi Solgyu/Kim Gi-jung dari Korea Selatan dengan 21-23, 12-21.

Tapi, di babak pertama French Open 2016 di Paris pada Rabu waktu setempat (25/10/2016), Ahsan/Berry berhasil menaklukkan lawan dari Malaysia Yew Sin Ong/Ee Yi Teo dengan  straught 21-17, 21-17.

“Kami sudah lebih baik mainnya dari kemarin. Sudah tahu bagaimana mencari solusi untuk mendapatkan poin,” kata Berry seperti dikutip media PBSI.

Perbaikan, ungkap Ahsan, sudah dilakukan.Ini membuat mereka bisa main lebih tenang dan mengatur irama.

''Tidak terlalu terburu-buru, belajar dari pengalaman kemarin,” ungkap Ahsan.

Sayangkemenangan Ahsan/Berry tak bisa diraih oleh dua wakil Indonesia lainnya. Ganda campuran Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika dihentikan pemain campuran Skotlandia dan Inggris, Adam Hall/Lauren Smith, 20-22, 16-21. Sedangkan pasangan ganda putri, Tiara Rosalia Nuridah/Rizki Amelia Pradipta, ditaklukkan unggulan kelima asal Tiongkok Luo Ying/Luo Yu 13-21 dan 11-21.

“Lawan mereka sebenarnya nggak bisa mengandalkan teknik saja. Tetapi juga kekuatan dan ketahanan di lapangan. Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi ternyata belum berhasil. Kebanyakan bola-bola lawan nggak cocok dengan tipe kami. Jadinya cukup susah buat diatasi,” jelas Tiara.. (*)

18 Daerah Dukung Wiranto

PERSAINGAN menjadi Ketua Umum PP PBSI periode 2016-2020 memanas. Calon orang nomor satu di induk organisasi olahraga bulu tangkis Indonesia tersebut tak lagi hanya Gita Wirjawan yang berstatus incumbent.

Ini setelah Wiranto resmi mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PP PBSI kemarin atau sehari sebelum penutupan pencalonan ketua umum. Wiranto yang diwakili timnya Rabu (26/10/2016), hadir di PBSI untuk mengembalikan formulir pendaftaran. Wiranto sendiri berhalangan hadir karena harus menghadap Presiden Joko Widodo.

Pengurus provinsi PBSI Lampung yang dipimpin oleh Abdullah Fadri menyatakan dukungannya kepada Wiranto dalam konferensi pers yang berlangsung Rabu pagi di Pelatnas Cipayung.

“Wiranto punya track record yang baik. Beliau juga punya pengalaman memimpin cabang olahraga, salah satunya bridge. Sampai bridge bisa menghasilkan juara dunia, begitu juga cabang karate. Bulu tangkis adalah kebanggaan Indonesia, kami rindu akan kejayaan bulu tangkis. Mudah-mudahan, dibawah pimpinan Wiranto, PBSI bisa mengembalikan masa kejayaan tersebut,” ujar Abdullah.

Bahkan, sebanyak 18 pengurus provinsi PBSI mengusung Wiranto dalam pencalonan ketua umum. di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Riau, Kepulauan Riau, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua dan Papua Barat.

 Selain Wiranto, nama Gita Wirjawan juga masuk dalam bursa calon ketua umum PBSI periode 2016-2020. Gita yang kini memimpin PBSI telah menegaskan pencalonannya dengan mengembalikan formulir pendaftaran calon ketua umum pada 17 Oktober 2016 lalu.

Pendaftaran calon ketua umum dibuka pada 15-27 Oktober 2016. Setelahnya akan diadakan proses verifikasi yang berlangsung pada 27-30 Oktober 2016. Ketua Umum PP PBSI periode 2016-2020 akan dipilih melalui Musyawarah Nasional (Munas), yang rencananya digelar di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 Oktober – 1 November 2016. (*)

Temani Ihsan dan Jonathan

INDONESIA menambah wakil di nomor tunggal putra France Open 2016.Ini setelah Anthony Ginting mampu lepas dari jeratan babak kualifikasi ajang berhadiah total USD 300 ribu tersebut.

Di babak kedua kualifikasi yang dilaksanakan di Paris pada Selasa waktu setempat (25/10/2016), Anthony mengalahkan Ygor Coelho De Oliveira dari Basil 21-14, 17-21, 14-11. Oliveira memutuskan mundur setelah mengalami kram kaki di tengah pertandingan.

“Di game pertama saya main normal aja. Bisa diatasi. Tapi masuk ke game dua, saya mulai nggak percaya diri. Sebaliknya lawan justru banyak ngasih bola-bola yang aneh-aneh. Saya makin banyak bikin salah juga. Game kedua saya jelek banget mainnya,” kata Anthony seperti dikutip media PBSI.

Pelatih tunggal putra Pelatnas Cipayung Hendry Saputra mengaku tidak puas dengan penampilan Anthony. Dia berharap Anthony bisa banyak mengambil pelajaran di pertandingannya kali ini, untuk menghadapi babak utama French Open 2016.

“Anthony belum stabil mentalnya. Kalau ketemu pemain-pemain top dia bisa menghadapi, tapi terkadang ketika ketemu pemain-pemain yang di bawahnya, ada banyak pikiran-pikiran yang mengganggu dia di lapangan. Dia harus bisa mengatasi ini. Kedepannya hal seperti ini tidak boleh lagi terjadi,” ucap Hendry.

Dengan kemenangan ini, Anthony berhasil menyusul dua pemain tunggal putra lainnya, yaitu Ihsan Maulana Mustofa dan Jonatan Christie.

Hanya, di  babak utama, ketiganya bakal berjuang keras untuk menembus babak II. Anthony akan menjajal Ajay Jayaram (India), Ihsan menantang unggulan unggulan keempat Tian Houwei (Tiongkok). Sedang Jonatan berhadapan dengan Xue Song dari Tiongkok. (*)

Kesempatan Praveen/Debby Balas Kekalahan

HAMPIR enam bulan lebih Praveen Jordan/Debby Susanto puasa gelar. Kali terakhir, keduanya mampu meraih posisi terhormat dalam All England 2016.

Dalam final, mereka mengalahkan pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen  dengan 21-12, 21-17. Sayang, setelah itu, kegagalan selalu mengiringi Praveen/Debby.

Bahkan, di kandang sendiri dalam Indonesia Open 2016, pasangan yang sama-sama berasal dari Djarum Kudus tersebut sudah tersingkir di babak I. Praveen/Debby dipermalukan wakil Tiongkok Lu Kai/Huang Yaqiong dengan 15-21, 10-21.

Pekan lalu, dalam Denmark Open 2016, lagi-lagi pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, menjadi pengganjal langkah mereka. Keduanya dihentikan Zheng Siwei/Chen Qingchen dengan rubber game 19-21, 21-15, 14-21 di babak perempat.

Kini, dahaga gelar tersebut coba diobati di France Open 2016. Dalam ajang berhadiah total USD 300 ribu tersebut, Praveen/Debby ditempatkan sebagai ungggulan kedua.

Di babak I yang dilaksanakan di Paris pada Selasa waktu setempat (25/10/2016), Praveen/Debby menang dua game langsung 25-23, 21-13 atas Sam Magee/Chloe Magee dari Irlandia. Pertemuan di Kota Anggur, julukan Paris, ini menjadi sua perdana kedua pasangan.

Di babak kedua, lawan berat sudah menanti Praveen/Debby. Pasangan yang kini duduk di peringkat enam dunia tersebut akan ditantang Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia), yang di babak I menundukkan Ben Lane/Jessica Pugh (Inggris) 21-9,21-16.

Praveen/Debby pernah dipulangkan lebih awal dari Malaysia Masters 2016. Saat itu, pada Januari 2016, mereka kalah dua game langsung 10-21, 16-21. (*)

Hendra Segera Tinggalkan Cipayung

Senin, 24 Oktober 2016

PELATNAS Cipayung bakal kehilangan pebulu tangkis senior. Hendra Setiawa akan memilih menjadi pebulu tangkis profesional atau mandiri.

''Akhir 2016, Hendra akan meninggalkan Cipayung. Dia sudah memutuskan itu,'' kata Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI Rexy Mainaky di GOR Sudirman, Surabaya, pada akhir pekan lalu.

Pihak PP PBSI, ungkapnya, tak bisa menghalangi. Meski, saat ini, dia bersama pasangannya, Mohammad Ahsan, masih menjadi ganda putra terkuat Indonesia.

''Tentu bakal ada pasangan baru di Cipayung. Kita lihat saja nanti,'' ujar Rexy.

Sedangkan Ahsan, tambah dia, masih ingin bertahan lebih dulu. Paling tidak, ujar Rexy, berada di Cipayung hingga 2017.

Saat ini, Hendra dan Ahsan dipisah. Hendra dipasangkan dengan Rian Agung Saputro dan Ahsan dengan Berry Anggriawan. Sebelumnya, Rian dan Berry merupakan pasangan.

Sebelum dipisah, Rian/Berry mampu mengukir prestasi. Keduanya menjadi juara di Thailand Masters.

Hendra/Ahsan berpasangan sejak 2013. Di awal karir pasangan ini, mereka merajai berbagai turnamen. Turnamen-turnamen bergengsi sekelas Indonesia Open dan All England pernah dijuarai. Bahkan, juara dunia pun mampu disabet.

Sayang, menjelang 2015, penampilan Hendra/Ahsan merosot. Puncaknya pada Olimpiade Rio 2016.

Diharapkan menjadi juara sekaligus meneruskan tradisi emas, keduanya sudah angkat koper lebih dulu. Hendra/Ahsan langsung tersingkir di babak penyisihan. (*)

Gelar Beruntun si Kecil

AKANE Yamaguchi kembali unjuk kekuatan. Pebulu tangkis asal Jepang tersebut mampu menjadi juara beruntun dalam ajang super series/super series premier.

Dua pekan lalu, gadis 19 tahun tersebut mampu menjadi juara di Korea Open. Dalam ajang super series tersebut, Akane mengalahkan andalan tuan rumah Sung Ji-hyun dengan 20-22, 21-15, 21-18.

Kini, yang terakhir, perempuan yang tingginya 156 sentimeter tersebut naik ke podium terhormat dalam Denmark Open Super Series Premier 2016. Dalam final yang dilaksanakan di Odsense pada Minggu waktu setempat, Akane menundukkan Tai Tzu Ying dari Taiwan juga dengan rubber game 19-21, 21-14, 21-12.

Sebelumnya, di semifinal, Akane mempermalukan juara dunia sekaligus unggulan teratas asal Spanyol Carolia Marin. Peraih emas Olimpiade Rio 2016 terebut menyerah 21-15, 19-21, 21-18.

Gelar juara masih bisa bertambah. Pekan ini, Akane, yang sudah berada di posisi 10 besar, akan berlaga di France Open 2016. Di babak pertama, dia ditantang wakil Thailand Porntip Buranapraseritsuk.

Keduanya baru sekali bertemu yakni di Korea Open 2014. Hasilnya, Akena memetik kemenangan.
Di Denmark Open Super Series Premier 2016, selain Akane, nomor ganda putra juga dimenangi wakil Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.

Distribusi gelar Denmark Open 2016

Ganda putri: Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang x1) v Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan (Korsel x2) 19-21, 21-11, 21-16

Tunggal putra: Tanongsak S. (Thailand) v Son Wan-ho (Korsel x6) 21-13, 23-21

Ganda campuran: Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark x5) v  Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok x8) 21-16, 22-20

Ganda putra: Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia x4) v Bodin Issara/Nipitphon P. (Thailand) 14-21, 22-20, 21-19

Tunggal putri: Akane Yamaguchi (Jepang x8) v Tai Tzu Ying (Taiwan x5) 19-21, 21-14, 21-12

x=unggulan

Tanpa Gelar dari Denmark Open

Sabtu, 22 Oktober 2016

Greysia dan Nitya jatuh bangun di semifinal
INDONESIA gagal total di Denmark Open Super Series Premier 2016. Hasil maksimal wakil merah putih dalam ajang berhadiah total USD 700 ribu tersebut adalah menembus semifinal.

Dua wakil yang tersisa, pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari dan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi di ganda putra, harus menyerah kepada lawan-lawannya dalam pertandingan perebutan tiket final yang dilaksanakan di Odensen pada Sabtu waktu setempat.

Greysia/Nitya,yang diunggulkan di posisi ketiga, dihentikan duet Korea Selatan Jung Kyung-eun/Shin Seung-chan dengan dua game langsung 13-21, 24-26. Sedangkan Angga/Ricky menyerah di tangan wakil Thailand Bodin Issara/Nipitphon Phuangphuapet dengan 21-11, 21-18.

Tertinggal 5-9 di awal game pertama, Greysia/Nitya kemudian sempat menyusul dengan 12-9. Namun Greysia/Nitya justru banyak melakukan kesalahan di poin-poin berikutnya. Jung/Shin balik melesat dengan 18-12. Greysia/Nitya akhirnya kalah 13-21.

“Dari game pertama, waktu kami sempat unggul, kami banyak mati-mati sendiri. Jadi pas mereka menyusul kami malah nggak tenang dan terburu-buru,” kata Nitya seperti dikutip media PBSI.

Game kedua berlangsung lebih menegangkan. Greysia/Nitya berusaha menyelamatkan posisinya di babak semifinal ini. Greysia/Nitya merebut poin 20 lebih dulu dengan 20-19. Setting point terjadi sebanyak lima kali, sebelum akhirnya skor 26-24 direbut Jung/Shin.

“Kami pas lagi poin-poin ketat mencoba membangkitkan semangat untuk merebut game kedua. Kami cuma berusaha untuk menjalankan semua strategi di lapangan. Kami berusaha untuk merebut game kedua. Tapi ternyata kami harus kalah. Saat main di poin-poin kritis, lawan juga lebih menguasai pertandingan,” ujar Greysia.

“Mereka main lebih safe, dan serangan-serangan yang mereka kasih ke kami juga jarang yang mati sendiri,” ujar Nitya. (*)

Ricky Soebagja-Rexy Mainaky Kembali Duet

Rexy (kiri) dan Ricky di GOR Sudirman
Dikontrak Produk Susu, Keliling Berbagai Kota

Pasangan Rexy Mainaky dan Ricky Soebagdja pernah disegani di pentas internasional. Berkat keduanya, lagu Indonesia Raya berkumandang. Kemarin, keduanya kembali bertandem.
--
GOR Sudirman, Surabaya, berubah menjadi hijau. Dinding dan lantai gedung yang berada di kawasan Kertajaya, Surabaya, tersebut dibranding sedemikian rupa seperti warnas khas yang menjadi sponsor utama kejuaraan yang tengah berlangsung.

Peserta pun demikian. Selain tentunya, panitia dan petugas pertandingan.

Namun, di antara orang yang hadir di GOR Sudirman pada Sabtu (22/10/2016), ada dua sosok yang bisa menyedot perhatian. Mereka adalah Rexy Mainaky dan Ricky Soebagja.

Nama keduanya melambung tinggi di era 1990-an. Seabrek gelar mampu diraih Ricky/Rexy di pentas internasional. Bahkan, juara dunia disabet pada 1995 saat ajang bergengsi itu dilaksanakan di Lausanne.

Puncaknya pada Olimpiade Atlanta, Amerika Serikat, 1996. Ricky/Rexy sukses menyumbangkan emas bagi Indonesia. Dalam laga final, keduanya menyudahi perlawanan Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock dari Malaysia dengan 5-15, 15-13, 15-12.

Kemenangan tersebut membuat  cabang olahraga bulu tangkis meneruskan tradisi emas di pesta olahraga empat tahunan tersebut. Setelah pada 1992,  Alan Budikusuma menjadi juara tunggal putra dan Susi Susanti naik terhormat di tunggal putri.

Tapi, setelah berpisah, Ricky dan Rexy sudah lama tak terdengar bersama. Ini disebabkan Rexy banyak menyebarkan ilmu sebagai pelatih di berbagai negara. Inggris, Malaysia, dan Filipina merupakan negara yang pernah ditinggal lelaki dari keluarga bulu tangkis tersebut.

 Hingga empat tahun lalu, Rexy pun ditarik pulang. Kebetulan, Ricky juga dipercaya masuk dalam kabinet PP PBSI di bawah pimpinan Gita Wirjawan.

Keduanya mulai sering terlihat bersama. Bahkan, pada Sabtu (22/10/2016), mereka hadir di GOR Sudirman, Surabaya. Hanya, Ricky dan Rexy bukan lagi tampil di lapangan untuk memenangi pertandingan.

''Dua tahun terakhir ini, saya dan Ricky jadi duta susu. Selama masih berhubungan dengan bulu tangkis, tentu dengan senang hati saya terima,'' kata Rexy.

Tugas yang diemban keduanya juga tak berat. Mereka diharapkan menularkan ilmu kepada anak-anak usia belasan.

''Hanya, kami harus sering keliling ke berbagai kota. Ini karena ada beberapa seri yang dilaksanakan tak di satu tempat,'' ungkap lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut.

Rexy pun ingin apa yang dilakukannya bersama Ricky bisa melahirkan pebulu tangkis hebat. Dengan tujuannya, mereka tetap bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. (*)

Brice Gagal Lanjutkan Kejutan

KEJUTAN Brice Laverdez di Denmark Open Super Series Premier 2016 terhenti. Pebulu tangkis harus mengakui ketangguhan Tanongsak Saensomboonsuk(Thailand) dengan dua game mudah 21-9, 21-13 dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Odense pada Sabtu waktu setempat (22/10/2016).

Ini menjadi kekalahan ketiga Brice dari lawannya tersebut. Sebenarnya, kesempatan menang terus terbuka. Dalam pertemuan terakhir di All England 2016 Maret lalu, pebulu tangkis peringkat 38 dunia tersebut mengalahkan Tanongsak dengan straight game 21-15, 21-17.

Apalagi, di babak perempat final, lelaki 32 tahun tersebut membuat kejutan besar. Brice mempermalukan unggulan teratas Lee Chong Wei asal Malaysia dengan rubber game 21-17, 20-22, 21-19. Kemenangan tersebut menjadi yang pertama dalam tujuh kali pertemuan.

Sebelumnya, unggulan kedua yang juga andalan tuan rumah Viktor Axelsen sudah angkat koper lebih awal. Dia menyerah dari wakil gaek Korea Selatan Lee Hyun-il di babak kedua.

Di Denmark Open Super Series Premier 2016, Indonesia tak mengirimkan wakil. Begitu juga Tiongkok yang menyimpan para bintang tunggal prianya. Dua andalannya, Chen Long dan Lin Dan, belum diterjunkan dalam sebuah ajang usai gagal di Olimpiade Rio 2016. (*)

Kalahkan Thailand, Ketemu Thailand

Kamis, 20 Oktober 2016

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon(foto;PBSI)
KEVIN  Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon semakin matang. Keduanya sukses melaju ke perempat final Denmark Open Super Series Premier 2016. Dalam 29 menit, mereka mengalahkan pasangan Thailand Kittinupang Kedren/Dechapol Puavaranukroh dengan straight game 21-17, 21-11.

Kevin/Marcus tak memperoleh kesulitan khusus dalam menghadapi lawannya tersebut. Setelah menang di game pertama, mereka terus melenggang hingga memenangkan game keduanya.

“Game pertama masih agak cari-cari permainan, tapi di game kedua kami sudah sangat nyaman main. Mau main kaya apa juga bisa. Terus lawan jadi ketekan juga,” kata Kevin ditemui di Odense Sports Park usai bertanding seperti dikutip media PBSI.

Di perempat final, Kevin/Marcus kembali akan menghadapi pasangan Thailand. Kali ini, mereka menantang pasangan senior, Bodin Issara/Nipitphon Phuangphuapet.

“Yang pasti lebih siap dari hari ini. Bodin sudah cukup berpengalaman. Tapi kami sudah pernah ketemu sebelumnya, jadi kurang lebih sudah tau permainan mereka seperti apa,” ujar Kevin.

Kevin/Marcus merupakan salah satu pasangan ganda putra yang diproyeksikan akan memperkuat Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Menanggapi hal tersebut, Kevin/Marcus mengaku kian termotivasi untuk berprestasi. Mereka berharap bisa menunjukkan penampilan terbaik di setiap pertandingan.

“Jadi motivasi pastinya. Kalau dijadikan beban malah nggak enak mainnya. Jadiin motivasi aja, sama jangan memikirkan menang atau kalah. Yang penting melakukan yang terbaik,” ungkap Marcus. (*)

Akhirnya Wahyu Nayaka Punya Pasangan

PELATNAS Cipayung kedatangan penghuni baru. Giovani Dicky Oktavan, pebulu tangkis binaan klub Exist Jakarta, menjadi bagian tim nasional terhitung sejak 1 September 2016.

Ini tertera dalam Surat Keputusan (SK) Nomor SKEP/055/0.5/X/2016 mengenai pemanggilan atlet bulutangkis masuk Pelatnas PBSI. Dicky rencananya dipasangkan dengan Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira.

Sebelumnya, Wahyu berpasangan dengan Ade Yusuf, namun Ade harus kembali ke klub karena sakit. Wahyu sempat berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo di Yonex-Sunrise Indonesian Masters 2016 dan menjadi juara.

“Wahyu itu butuh partner pemain depan. Setelah tim pelatih ganda putra menyaring beberapa pilihan, akhirnya kami memutuskan Dicky paling sesuai,” kata Herry Iman Pierngadi, Kepala Pelatih Ganda Putra PP PBSI.

Dicky, tambahnya, sudah mengikuti uji coba di pelatnas selama tiga bulan. Berdasarkan penilaian tim pelatih yaitu Herry, Aryono (Miranat), dan Chafidz (Yusuf), Dicky memang bagus di teknik, disiplin dan motivasi.

''Kamipun sepakat untu mengajukan nama Dicky ke Binpres,” ujar Herry kepada media PBSI

 Dicky dan Wahyu akan menjalani debut di Macau Open Grand Prix Gold 2016. Karena uji coba pertama bagi pebulu tangkis pemain tersebut, maka Wahyu/Dicky belum dibebani target di turnamen level grand prix gold tersebut.

“Belum ada target, akan kami uji coba bertanding dulu di Macau Open Grand Prix Gold 2016,” pungkas Herry.

Sementara itu, sebanyak tujuh pemain resmi menjalani magang di pelatnas terhitung 10 Oktober 2016 hingga akhir Desember 2016. (*)


Nama atlet magang di Pelatnas Cipayung

Abimanyu, PB Jaya Raya, Pengprov PBSI DKI Jakarta

Bunga Fitriani Romadhini, PB Mutiara Cardinal Bandung, Pengprov PBSI Jawa Barat

Ni Made Pranita Sulistya Dewi, PB Batur Bangli, Pengprov PBSI Bali

Silvi Wulandari, PB Djarum, Pengprov PBSI Jawa Tengah

Zachariah Josiahni Sumanti, PB Tangkas, Pengprov DKI Jakarta

Akbar Bintang Cahyono, PB Djarum, Pengprov PBSI Jawa Tengah

Angger Sudrajad, PB Djarum, Pengprov PBSI Jawa Tengah

Ingin Maksimal di Ajang Perdana

Selasa, 18 Oktober 2016

Greysia/Nitya unjuk kebolehan di Denmark Open 2016
GREYSIA Polii/Nitya Krishinda Maheswari kembali turun lapangan. Denmark Open Super Series Premier 2016 menjadi debut setelah . Ini akan menjadi pertandingan pertama mereka setelah Olimpiade Rio 2016, Agustus lalu.

Usai pesta olahraga empat tahunan itu , Greysia/Nitya absen di dua turnamen super series, Japan Open dan Korea Open. Di Olimpiade 2016 yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada Agustus lalu, mereka gagal menyumbangkan medali karena langkahnya terhenti di perempat final.

“Kondisi kami sudah lebih oke dan lebih siap. Karena kami punya waktu selama kurang lebih satu bulan untuk latihan setelah Olimpiade. Kami mau mencapai hasil terbaik di Denmark, tetapi kami juga ingin tetap menikmati jalannya pertandingan,” kata Greysia seperti dikutip media PBSI

Di babak pertama Denmark Open, Greysia/Nitya berhadapan dengan pasangan Taiwan, Chiang Mei Hui/Hsu Ya Ching. Keduanya tercatat belum pernah saling berhadapan sebelumnya.

“Kami harus lebih beradaptasi dari babak pertama. Karena habis Olimpiade kami sempat istirahat dulu, baru latihan lagi. Jadi kami harus mempersiapkan diri untuk mencari hawa pertandingan,” ujar Nitya.

Mereka, tambah ya, ingin memaksimalkan apa yang dipunya. Sasarannya,  supaya bisa ke super series final di Dubai

. ''Sekarang tinggal empat pertandingan super series lagi, semoga kami paling tidak bisa mendapat satu gelar,” tambah Greysia mengenai targetnya.

Selain Greysia/Nitya, dua pasangan ganda putri juga akan turun bermain di Denmark Open, yaitu Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari dan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani.

Della/Rosyita akan berhadapan dengan Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva, Bulgaria. Sementara Anggia/Ketut masih menunggu lawan dari babak kualifikasi. (*)

Gita Maju Lagi sebagai Ketum

Para pendukung Gita Wirjawan
GITA Wirjawan masih ingin memimpin PP PBSI. Buktinya, dia maju lagi sebagai bakal calon ketua umum PBSI periode 2016-2020.

Dia pun sudah mengembalikan formulir pendaftaran ke sekretariat tim penjaringan dan penyaringan bakal calon ketua umum  PBSI di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, pada Senin (16/10/2016). Pengembalian formulir diwakili oleh Ketua Umum Pengprov PBSI Kalimantan Tengah Barlen yang didampingi oleh juru bicara tim Pendukung Gita Wirjawan, Sofyan Masykur, yang juga merupakan Sekretaris Umum Pengprov PBSI Kalimantan Timur serta sejumlah perwakilan Pengprov pendukung lainnya.

“Gita sudah terbukti kinerjanya dengan pembinaan atlet yang baik serta prestasi yang mendunia. Di samping itu karena kemampuan manajerialnya yang bagus maka Gita mendapatkan dukungan dari pengprov-pengprov dan para pelaku olahraga bulu tangkis, yaitu atlet, pelatih dan elemen bulutangkis lain,” papar Sofyan.

Dia mengklaim, Gita didukung oleh 20 pengprov dan dukungan tersebut membuat Gita kembali mencalonkan dirinya menjadi ketua umum PBSI periode 2016-2020.
“ Saya sangat berterima kasih dengan dukungan dari 20 pengprov tersebut. Jika dipercaya kembali menjadi ketua, saya ingin menjalankan program-program yang kemarin belum terlaksana seperti program desentralisasi yang efektif dan efisien dan juga peningkatan pengembangan para atlet di klub.," papar Gita.

Dalam kepemimpinan Gita sebagai Ketum PBSI periode 2013-2016, sejumlah prestasi gemilang sudah ditorehkan. Di antaranya 27 gelar superseries, 5 medali emas di SEA  Games, 2 medali emas di Asian Games, 3 gelar juara dunia. Puncaknya adalah medali emas di sektor ganda campuran Olimpiade 2016, yang dipersembahkan oleh Tontowi Ahmad/Liliana Natsir di Rio De Janeiro, Brazil.

“Kemenangan Owi/Butet (sapaan Tontowi dan Liliyana) ini adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Semua gelar-gelar penting ini bisa tercapai dikarenakan sudah adanya pondasi yang baik dari kepengurusan sebelumnya dibawah kepemimpinan Pak Joko, dan kami berupaya untuk memaksimalkan para pemain yang ada untuk merebut gelar juara yang sudah ditargetkan,” ucap Gita. (*)

Langsung Dipersiapkan ke Olimpiade 2020

Senin, 17 Oktober 2016

Rian Ardianto/Fajar Alfian mengapit pelatih Aryono Miranat
OLIMPIADE Tokyo, Jepang, masih empat tahun lalu. Tapi, nomor ganda putra Indonesia sudah mengasah jagonya.

Pasangan Muhammad Rian Ardianto/Fajar Alfian menjadi salah satu kandidat. Salah satu pertimbangannya, Rian/Fajar, baru saja menjadi juara di ajang Chinese Taipei Masters 2016 ini. Mereka  akan bersaing dengan tiga pasangan lainnya untuk memperebutkan tiket ke olimpiade.

“Sekarang ada empat pasangan yang kami persiapkan yaitu Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, Rian Agung Saputro/Berry Angriawan, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Rian/Fajar. Ada satu lagi, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira, pasangannya dengan siapa? Inilah yang sedang kami persiapkan,” kata  Kepala Pelatih Ganda Putra PP PBSI Herry Iman Pierngadi seperti dikutip media PBSI. 

Perjuangan Rian/Fajar menuju olimpiade memang bukanlah perkara mudah. Mereka mesti bersaing dengan senior-senior mereka yang lebih berpengalaman. Tiap negara berhak untuk mengirim dua wakil ganda putra ke olimpiade, jika kedua pasangan berada di jajaran rangking delapan besar dunia.

“Rian/Fajar harus banyak belajar lagi, penampilan mereka masih belum konsisten di tiap game. Namun mereka masih muda, jam terbang juga belum banyak. Saya berharap Rian/Fajar diberi kesempatan bertanding lebih banyak karena mereka punya potensi untuk menjadi generasi penerus ganda putra,” ujar Herry.

 Herry juga optimistis tanpa dua pemain senior di ganda putra, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, sektor ini masih bisa bicara di kancah internasional.
Pasangan Rian/Fajar keluar sebagai juara Chinese Taipei Masters 2016 setelah mengalahkan unggulan pertama dari Taiwan, Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin, dengan pertarungan lima game, 11-6, 11-6, 11-13, 9-11, 12-10. (*)


Hasil final Chinese Taipei Masters 2016:

Ganda Putri: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (x1/Jepang) vs Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (x4/Jepang) 12-10, 11-5, 11-7

Tunggal Putri: Ayumi Mine (x3/Jepang) vs Saena Kawakami (Jepang) 12-10, 7-11, 11-9, 12-10

 Tunggal Putra: Sourabh Varma (India) vs Daren Liew (Malaysia) 12-10, 12-10, 3-3 mundur

Ganda Campuran: Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hongkong) vs Ryota Taohata/Koharu Yonemoto (Jepang) 11-3, 11-7, 14-12

Ganda Putra: Muhammad Rian Ardianto/Fajar Alfian (Indonesia) v Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin (x1/Taiwan) 11-6, 11-6, 11-13, 9-11, 12-10

x=unggulan

Gelar Pertama di Ajang Grand Prix

Muhammad Rian Ardianto/Fajar Alfian.
INDONESIA membawa pulang satu gelar dari Chinese Taipei Masters 2016. Posisi terhormat tersebut diraih  pasangan ganda putra Muhammad Rian Ardianto/Fajar Alfian. Pasangan nonunggulan ini menundukkan unggulan pertama yang juga wakil tuan rumah, Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin dengan dengan 11-6, 11-6, 11-13, 9-11, 12-10 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Taipei pada Minggu waktu setempat (16/10/2016).

“Kami senang bisa dapat gelar pertama di level grand prix. Semoga selanjutnya bisa naik terus levelnya dan bisa main di level super series seperti senior-senior kami,” kata Fajar yang ditemui usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Rian/Fajar membuka pertandingan dengan kemenangan di dua game pertama. Mereka tampil begitu percaya diri menghadapi unggulan pertama yang didukung penuh oleh penonton di stadion Hsing Chuang Gymnasium. Chen/Wang tak bisa mengembangkan permainan mereka dan hanya mengikuti irama permainan Rian/Fajar.

Tapi, Chen/Wang tak mau menyerah begitu saja. Mereka bangkit dan memimpin pertandingan hingga 7-2. Rian/Fajar sempat menyamakan kedudukan menjadi 10-10, namun Chen/Wang menutup game ketiga dengan kemenangan.

Pada game penentuan, pasangan Taiwan kembali menerapkan permainan menyerang, namun kali ini pertahanan Rian/Fajar lebih kokoh. Mereka jarang membuat kesalahan sendiri.

Unggul 10-6, Rian/Fajar belum bisa menutup game, setting pun kembali terjadi. Sukses menerapkan pola main no lob, dua poin krusial akhirnya menjadi milik Rian/Fajar.

 “Di game pertama dan kedua kami sudah langsung in ke permainan, lawan kurang siap. Namun di game selanjutnya, mereka lebih sabar, mereka juga sudah berpengalaman, jadi bisa mengatur tempo,” jelas Rian.

Kunci kemenangan, ungkapnya, adalah kemauan yang kuat. Mereka harus menang dan menang.

''Kami harus siap capek karena shuttlecock yang digunakan berat, tidak boleh lengah dan fokus dijaga terus. Di game terakhir, kami terlalu santai karena unggul jauh, dan lawan nothing to lose juga, jadi sempat kesusul,” beber Fajar.

Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan memberi apresiasi atas raihan prestasi kedua pasangan muda ini. Ini adalah gelar kedua Rian/Fajar di 2016. Sebelumnya, pasangan rangking 41 dunia ini juga menjadi jawara di Wali Kota Surabaya Cup International Series 2016. (*)

Singkirkan Unggulan Teratas

Jumat, 14 Oktober 2016

Riky/Gloria membuat kejutan di Taipei 
WAKIL Indonesia masih menjaga asa juara di Chinese Taipei Masters 2016. Ini setelah pasangan ganda campuran Riky Widianto/Gloria Emanuelle Widjaja berhasil melaju ke babak semifinal.

 Mereka menekuk unggulan pertama Yong Kai Terry Hee/Tan Wei Han dari Singapura dengan 11-5. 11-6, 3-11, 11-5.  Riky/Gloria memegang kendali permainan dan mampu mengatur arah bola.

Mereka dengan mudah mengatasi serangan-serangan Hee/Tan. Pasangan Singapura ini juga kerap membuat kesalahan sendiri, terutama Tan yang sering membuang bola terlalu jauh ke luar lapangan.

Akan tetapi di game ketiga, Riky/Gloria sempat kewalahan menghadapi serangan-serangan Hee/Tan. Tertinggal 1-8, Riky/Gloria akhirnya merelakan game ketiga.

Namun mereka tak ingin game kelima dimainkan, Riky/Gloria langsung tancap gas di game keempat dan memimpin hingga 7-0. Terlalu jauh untuk mengejar, Hee/Tan akhirnya menyerah.


“Kami bisa menang hari ini. Komunikasi kami memang lebih baik di pertandingan hari ini, jadi pikiran dan hati lebih tenang, mainnya enak. Kami juga punya komitmen lebih, untuk tampil lebih baik dari sebelumnya,” kata Gloria seperti dikutip media PBSI

Di babak semifinal, Riky/Gloria akan berhadapan dengan Tang Chun Man/Tse Ying Suet, finalis Thailand Open Grand Prix Gold 2016 asal Hongkong. (*)

Hanya di Bawah Jonatan dan Tommy

Kamis, 13 Oktober 2016

Sony Dwi Kuncoro kini di posisi 24 dunia
LOMPATAN berarti dilakukan Sony Dwi Kuncoro. Kini, dia sudah berada di posisi 24 besar dunia.

Capaian ini merupakan yang tertinggi setelah dia keluar dari Pelatnas Cipayung. Pekan lalu, Sony masih berada di posisi 32 besar dunia.

Naiknya ranking arek Suroboyo tersebut tak lepas dari hasil di Thailand Masters 2016. Dalam ajang yang dilaksanakan di Bangkok itu, Sony mampu menembus babak final.

Sayang, dalam laga pemungkas turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut, bapak dua putri tersebut dikalahkan wakil tuan rumah Tanongsak Saensonboonsuk dengan dua game langsung 15-21, 16-21.

Namun, hasil tersebut sudah cukup bagi Sony untuk terdongrak peringkatnya. Ini sekaligus menjadi capaian terbaik kedua bagi peraih medali perunggu dalam Olimpiade Athena 2004 tersebut.

Sebelumnya, pada April 2016, Sony membuat kejutan. Dia sukses meraih juara di ajang super series, Singapore Open.

Dengan posisi ke-24 dunia, kini Sony menjadi pebulu tangkis terbaik ketiga Indonesia. Dia kalah oleh Jonatan Christie yang berada di ranking 21 dan Tommy Sugiarto di posisi 13. (*)

Tantang Unggulan Teratas


BERTAHAN: Riky/Gloria saat tampil di babak II (foto;PBSI)
TANTANGAN berat menghadang Riky Widianto/Gloria Emanuelle Widjaja di Taipei Masters 2016.
Mereka berhadangan denngan unggulan pertama, Yong Kai Terry Hee/Tan Wei Han (Singapura).

Riky/Gloria lolos ke perempat final setelah menaklukkan Ho Wai Lun/Yuen Sin Ying (Hongkong), dengan skor 7-11, 11-7, 11-7, 11-4. Yong/Tan juga melewati pertandingan empat game dalam perjalanan menuju perempat final melawan Hung Ying Yuan/Hsieh Pei Shan (Taiwan), dengan skor 11-6, 11-5, 4-11, 11-7.

“Waktu awal game pertama, kami merasa mainnya sudah enak. Tetapi ketika lawan menyamakan kedudukan 7-7, kami panik sendiri dan fokusnya jadi hilang,” kata Riky seperti dikutip media PBSI.

Pasangan Hongkong yang dihadapi, ungkap Riky, cukup kuat. Mereka dibuat capek di game kedua dengan permainan reli. ''Mereka punya modal tangan yang kuat dan banyak mendorong bola ke belakang,” tambah Gloria.

Hanya, Riky/Gloria mengaku tak gentar melawan unggulan teratas dalam event berhadiah total USD 55 ribu terebut. Mereka, ujar Gloria,  pernah bertemu.

Hanya, ketika itu, pasangan mereka berbeda. Riky dengan Richi Dili dan Gloria dengan Edi Subaktiar.

'' Yong pemain yang ulet dan rajin mengambil bola, penempatan bola di belakang juga kencang, berbeda dengan Tan yang pukulannya lebih halus,” jelas Gloria.


Riky/Gloria merupakan satu-satunya wakil ganda campuran yang lolos ke perempat final. Sebelumnya pasangan Edi Subaktiar/Richi Puspita Dili terhenti di babak 16 besar dari Danny Bawa Chrisnanta/Citra Putri Sari Dewi (Singapura), dengan skor 11-13, 9-11, 7-11.

Sementara sudah empat wakil Indonesia yang lolos ke perempat final. Selain Riky/Gloria, ada pasangan ganda putri Nisak Puji Lestari/Meirisa Cindy Sahputri yang melaju. Dua pemain tunggal yaitu Hanna Ramadini dan Shesar Hiren Rhustavito juga berhasil merebut tiket perempat final. (*)

Vito Kembali Sikat Wakil Tuan Rumah

Shesar Hiren Rhustavito melaju ke perempat final
LAJU Sehesar Hiren Rhustavito belum terbendung. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut mampu menembus babak perempat final Taipei Masters 2016.

Dalam pertadingan babak III yang dilaksanakan di Taipe pada Kamis waktu setempat (13/10/2016), Vito, sapaan karib Shesar Hiren Rhustavito, menundukkan wakil tuan rumah Lu Chia Hung dengan 11-7, 11-8, 14-12. Di Taiwan Masters 2016 ini, sistem yang dipakai adalah game 11 dengan the best of five. Di babak II, pebulu tangkis yang kini membela PB Djarum Kudus tersebut juga mengalahkan atlet Taiwan lainnya, Lo Chi Yu.

Di perempat final, Vito akan menantang Liew Daren. Di babak II, atlet Malaysia tersebut menghentikan perlawanan Abdulrach Namkul dari Thailand dengan 11-9, 9-11, 11-9, 11-7.

Sebenarnya, dalam Taipei Masters 2016, Indonesia diwakili beberapa pebulu tangkis handa. Memang, mereka mayoritas bukan atlet top.

Tapi, PP PBSI mengirimkan atlet masa depannya. Ada nama Firman Abdul Kholik, Muhammad Bayu Pangisthu, dan Khrisna Adi. Di luar itu ada juga nama Wisnu Yuli Prasetyo.

Hanya, sistem point yang baru masih membuat wakil merah putih kaget. Biasanya, mereka lebih sering bertandingan dengan game 21. (*)

Masih Ada Duta di Ganda Campuran

Rabu, 12 Oktober 2016

Edi Subaktiar/Richi Dili (foto:djarum)
GANDA campuran Indonesia masih bisa bernafas lega. Mereka masih menempatkan wakil di babak II Taiwan Masters 2016.

Pasangan Riky Widianto/Gloria Emanuelle Widjaja menang WO setelah lawan mereka, Tinn Isriyanet/Pacharapun Chochuwong (Thailand), mengundurkan diri dari turnamen berhadiah total USD 55 ribu tersebut.
Langkah ini diikuti pasangan Edi Subaktiar/Richi Puspita Dili yang menang atas wakil tuan rumah, Hsu Jen Hao/Yu Chien Hui, dengan 11-9, 11-3, 11-6.

 Sayang, dua wakil harus terhenti di babak pertama. Rafiddias Akhdan Nugroho/Masita Mahmudin dikalahkan Tang Chun man/Tse Ying Suet (Hongkong), dengan 8-11, 4-11, 6-11. Pasangan muda Yantoni Edy Saputra/Marsheilla Gischa Islami menyerah  atas wakil tuan rumah Tseng Min Hao/Lin Jhih Yun dengan skor 11-5, 10-12, 8-11, 7-11.

“Hari ini kami mainnya kurang enak, di awal-awal bisa fokus, tetapi di akhir malah kehilangan fokus. Kadang-kadang bisa blank dan susah menghadapi serangan-serangan lawan,” ujar Gischa seperti dikutip media PBSI.

Mungkin. tambahnya, ada pengaruhnya juga dengan sistem poin 11. Permainan, jelas Gischa, jadi lebih cepat.

''Rasanya cepat sekali poin hilang, tahu-tahu sudah mau selesai. Mungkin karena kami terbiasa dengan sistem skor 21,” jelas Gischa.(*)

Jatim Pilih Bersikap Netral

Selasa, 11 Oktober 2016

PP PBSI terus mematangkan skuad tunggal putri. Induk organisasi bulu tangkis di tanah air tersebut rutin  mengirim para srikandi ke berbagai turnamen.

Hanya, ajang yang diikuti bukan turnamen level tinggi sekelas super series atau super series premier. Dinar Diah Ayustine diterjunkan ke berbagai event grand prix.

Setelah pekan lalu berlaga di Thailand Open di Bangkok, pekan ini merema unjuk kebolehan dalam Taiwan Masters. Levelnya pun lebih di bawah yakni grand prix.

Di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, capaian tertinggi di raih Dinar. Pebulu tangkis  yang direkrut dari Djarum Kudus tersebut mampu menembus babak perempat final. Dia lolos usai mengalahkan rekannya sendiri, Ruselli Hartawan.

Di Taiwan Masters, Dinar dan Ruselli kembali turun ke lapangan. Ikut berlaga juga Hana Ramadhini. Satu tunggal putri lainnya, Gregoria Mariska tak bisa ikut ambil bagian. Dia tengah dipersiapkan ke Kejuaraan Dunia Junior 2016.

Di Taiwan, Dinar diunggulkan di posisi kedelapan. Dalam laga perdana, perempuan asal Karanganyar, Jawa Tengah, tersebut bakal ditantang Chua Hui dari Singapura.  Sementara, Ruselli berjumpa dengan Tsang Wing Chiu (Hongkong) dan Hana, yang ditempatkan sebagai unggulan keenam, ditantang wakil tuan rumah Ling Fang Hu.

Di antara empat nomor lainnya, tunggal putra, ganda putra,  ganda putri, dan ganda campuran, nomor tunggal putri selalu dapat sorotan. Kegagalan selalu mengiringi dalam setiap ajang.

Ini jauh di era 1990-an. Saat itu, kekuatan merah putih disegani. Dengan Susi Susanti dan Mia Audina sebagai motor, Indonesia sukses meraih juara di Piala Uber yang merupakan lambang supremasi beregu putri. (*)

Terus Asah Kemampuan Srikandi Cipayung

PENGALAMAN MINIM: Dinar Dyah Ayustine (foto;BWF)
PP PBSI terus mematangkan skuad tunggal putri. Induk organisasi bulu tangkis di tanah air tersebut rutin  mengirim para srikandi ke berbagai turnamen.

Hanya, ajang yang diikuti bukan turnamen level tinggi sekelas super series atau super series premier. Dinar Diah Ayustine diterjunkan ke berbagai event grand prix.

Setelah pekan lalu berlaga di Thailand Open di Bangkok, pekan ini merema unjuk kebolehan dalam Taiwan Masters. Levelnya pun lebih di bawah yakni grand prix.

Di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, capaian tertinggi di raih Dinar. Pebulu tangkis  yang direkrut dari Djarum Kudus tersebut mampu menembus babak perempat final. Dia lolos usai mengalahkan rekannya sendiri, Ruselli Hartawan.

Di Taiwan Masters, Dinar dan Ruselli kembali turun ke lapangan. Ikut berlaga juga Hana Ramadhini. Satu tunggal putri lainnya, Gregoria Mariska tak bisa ikut ambil bagian. Dia tengah dipersiapkan ke Kejuaraan Dunia Junior 2016.

Di Taiwan, Dinar diunggulkan di posisi kedelapan. Dalam laga perdana, perempuan asal Karanganyar, Jawa Tengah, tersebut bakal ditantang Chua Hui dari Singapura.  Sementara, Ruselli berjumpa dengan Tsang Wing Chiu (Hongkong) dan Hana, yang ditempatkan sebagai unggulan keenam, ditantang wakil tuan rumah Ling Fang Hu.

Di antara empat nomor lainnya, tunggal putra, ganda putra,  ganda putri, dan ganda campuran, nomor tunggal putri selalu dapat sorotan. Kegagalan selalu mengiringi dalam setiap ajang.

Ini jauh di era 1990-an. Saat itu, kekuatan merah putih disegani. Dengan Susi Susanti dan Mia Audina sebagai motor, Indonesia sukses meraih juara di Piala Uber yang merupakan lambang supremasi beregu putri. (*)

Hentikan Euforia, Fokus Prestasi

Senin, 10 Oktober 2016

EUFORIA Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sudah diakhiri. Kini, prestasinya keduanya kembali dituntut di Denmark Open 2016.

Ya, usai meraih emas Olimpiade Rio 2016 pada 17 Agustus lalu, Tontowi/Ahmad seakan tak pernah berhenti meraih apresiasi. Mulai dari uang hingga rumah dilakoni dari sponsor maupun pemerintah.

PERDANA: Tontowi/Liliyana ke Denmark Open 2016
Itu wajar karena emas yang diraih keduanya merupakan emas semata wayang bagi Indonesia dalam ajang empat tahunan tersebut. Sekaligus penyambung tradisi emas dari cabang olahraga bulu tangkis yang sempat terputus di London 2012.

Hanya, sekarang, konsentrasi keduanya fokus ke pertandingan. Ujian terdekat adalah di Denmark Open 2016.

Dalam ajang yang dilaksanakan di Odense pada 18-23 Oktober mendatang, keduanya ditempatkan sebagai unggulan kedua. Hanya, bukan tugas ringan untuk Tontowi/Liliyana bisa naik ke podium juara.

Di babak I ajang berhadiah USD 700 ribu, keduanya sudah berjumpa lawan berat. Tontowi/Liliyana berjumpa dengan pasangan Tiongkok Huang Kaixiang/Li Yinhui.

Keduanya belum pernah berjumpa. Hanya, biasanya, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, sering memberikan mimpi buruk bagi Tontowi/Liliyana.

Bagi pasangan yang berasal dari klub yang sama, Djarum Kudus, Denmark Open menjadi salah satu ajang yang belum pernah dijuarai. Tahun lalu, keduanya kalah di final oleh pasangan Korea Selatan Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dengan tiga game 22-20, 18-21, 9-21.

Pada 2014, mereka juga menembus babak pemungkas. Sayang, langkah Tontowi/Liliyana dihentikan Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) dengan 20-22, 15-21. (*)

Gelar buat Ibu yang Mau Operasi

AKHIRNYA: Rian/Berry juara di Thailand Open (foto: PBSI)
DAHAGA gelar Rian Agung Saputro/Berry Angriawan selama 2016 berakhir. Keduanya mampu menjadi juara nomor ganda putra dalam Thailand Open.

Dalam final yang dilaksanakan di Bangkok pada Minggu waktu setempat (9/10/2016), Rian/Berry mengalahkan Takuto Inoue/Yuki Kaneko dari Jepang dengan rubber game 17-21, 21-14, 21-18. .

 Tak seperti laga-laga sebelumnya, Rian/Berry kali ini harus memeras keringat untuk memenangkan pertandingan. Game pertama lepas dari pasangan juara Indonesian Masters 2015 ini setelah berusaha terus mengejar ketertinggalan.

 “Pertandingan final ini lawannya lebih ulet, lebih capek juga game-nya. Stamina dan pertahanan lawan juga bagus. Mungkin karena sebelumnya lawan kami tidak terlalu berat, jadi di final agak kaget, terutama di game pertama,” kata Rian seperti dikutip media PBSI

 Kalah di game perdana, ujarnya, membuat mereka tersengat.  Di game kedua, Rian/Berry mulai mengerti bagaimana caranya untuk meredam permainan pasangan Jepang tersebut. Mereka mengambil alih game kedua dan banyak mendapat poin dari smash keras yang menukik ke arah pertahanan Inoue/Kaneko.

 Di game ketiga atau penentuan berlangsung sangat menegangkan. Meskipun Rian/Berry lebih dominan, namun Inoue/Kaneko sempat menyalip perilolehan angka dan memimpin 11-10.

Namun Rian/Berry yang lebih berpengalaman, menunjukkan kelasnya di saat-saat genting. Pasangan nomor tetap tampil konsisten. Sedangkan Inoue/Kaneko justru sering melakukan kesalahan sendiri.

 Kemenangan ini sangat berarti buat Rian/Berry. Ini adalah turnamen terakhir mereka sebelum dipisahkan.

Rencananya, Rian akan dipasangkan dengan Hendra Setiawan, sedangkan Berry dengan Mohammad Ahsan. Pasangan anyar ini langsung dijajal di Eropa dalam Denmark Open dan France Open.

 “Berpisah sama Berry nggak sedih kok.  Mau pasangan sama siapapun, yang penting saya dan Berry sama-sama bisa maksimal prestasinya,” ujar Rian.

 Dia mempersembahkan kemenangan ini untuk ibunya yang akan kembali mejalani operasi tumor. Rian berharap kedua orangtua tambah semangat melihat dia menjadi juara anaknya juara.

 “Kalau saya, kemenangan ini untuk saya sendiri, ha ha ha. Soalnya 3 Oktober lalu, saya ulang tahun. Jadi ini kado buat saya,” tambah Berry. (*)

Kalah Cepat, Kalah Strategi

Sony Dwi Kuncoro (kiri) (foto;PBSI)
ASA Sony Dwi Kuncoro mengulangi sukses Thailand Open 2012 kandas. Dia dipaksa harus mengakui ketangguhan wakil tuan rumah Tanongsak Saensomboonsuk dengan straight game 15-21, 16-21 dalam babak final tunggal putra yang dilaksanakan di Bangkok pada Minggu waktu setempat (9/10/2016).

Ini menjadi kekalahan ketiga bagi Sony atas pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut dalam tujuh kali pertemuan. Kali terakhir, keduanya berjumpa di Hongkong Open 2013 dengan klemenangan Sony 21-14, 12-21, 21-14.

“Saya kalah cepat dari lawan, kalah strategi juga. Memang, saya akui permainan dia lebih bagus dari saya,” ujar Sony usai pertandingannya seperti dikutip media PBSI.


Sebenarya, Sony sudah mencoba untuk mengubah strategi. Tetapi, ungkapnya, Tanongsak bermain lebih taktis.

Di awal game kedua, Sony tampak bangkit dan mampu menahan serangan-serangan Saensomboonsuk yang menyulitkannya di game pertama. Sony memimpin 9-7.

 Namun, lagi-lagi pergerakan cepat Tanongsak tak dapat diimbangi Sony. Lelaki berusia 32 tahun tersebut kembali bermain dibawah tekanan.

 “Saya bersyukur saya bisa sampai ke babak final. Selanjutnya, saya harus bisa menjaga konsistensi penampilan saya,” tutur ayah dua orang putri ini.

 Pada 2012, Sony meraih juara dengan mengalahkan Chen Yueken dari Tiongkok dengan 21-17, 21-14. Tapi, sebelumnya di perempat final, dia mempermalukan andalan Negeri Panda, julukan Tiongkok, Lin Dan dengan 21-17, 21-16. Dua bulan setelah dari Thailand Open, Super Dan, julukan Lin Dan, meraih emas keduanya di olimpiade di London. (*)


Hasil Final Thailand Open 2016

Ganda Putri: Putitta Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai (x1, Thailand) v Mayu Matsutomo/Wakana Nagahara (x5/Jepang) 21-12, 21-17

Tunggal Putri: Aya Ohori (Jepang) v Busanan Ongbumrungphan (x3/Thailand) 25-23, 21-8

Ganda Putra:  Rian Agung Saputro/Berry Angriawan (x2/Indonesia) v Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang) 17-21, 21-14, 21-18

Ganda Campuran: Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (x3/Malaysia) v Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hongkong) 21-16, 22-20

Tunggal Putra: Tanongsak Saensomboonsuk (x5/Thailand) v Sony Dwi Kuncoro (x2/Indonesia) 21-15, 21-16

x=unggulan

Pemilihan Ketum PBSI di Surabaya

Minggu, 09 Oktober 2016

Gita Wirjawan yang akan maju ketum PBSI lagi
RODA organisasi PP PBSI terus berputar. Salah satu agenda pentingnya adalah menggelar Musyawarah Nasional (Munas) yang dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 Oktober-1 November 2016.

Kegiatannya nanti terdiri dari laporan pertanggungjawaban PBSI periode 2012-2016, penyusunan rancangan program kepengurusan PBSI periode berikutnya, serta pemilihan ketua umum PP PBSI untuk masa jabatan tahun 2016-2020.

Susunan kepanitiaan Munas akan dibagi menjadi dua bagian yaitu, Steering Committee dan Organizing Committee. Untuk steering committee akan diketuai oleh Sekjen PP PBSI Anton Subowo  sementara itu Achmad Budiharto ditunjuk sebagai ketua Organizing Committee Munas PBSI 2016.

Pendaftaran bakal calon ketua umum sendiri akan dibuka pada 15-27 Oktober 2016. Sementara proses verifikasi diadakan pada 27-30 Oktober 2016. Proses ini akan dilakukan oleh tim penjaringan bakal calon Ketua Umum PP PBSI yang akan dipimpin oleh Fuad Basya.

Sementara itu, Ketua Umum incumbent Gita Wirjawan yang berencana mencalonkan diri untuk kepengurusan periode mendatang berharap proses penyelenggaraan munas dapat berjalan dengan demokratis dan terbuka.

“Untuk memastikan proses penyelenggaraan Munas berlangsung  dengan terbuka, adil dan demokratis, maka saya sudah memberikan mandat kepada Sekjen PP PBSI, Anton Subowo, untuk bertanggung jawab dan memastikan Munas bisa berjalan dengan lancar dan terpilih ketua umum yang bisa menjalankan roda organisasi dengan baik dan memajukan perbulutangkisan di Indonesia,” kata Gita seperti dikutip media PP PSI.

Anton menyambut baik para bakal calon yang ingin menjadi ketua umum PP PBSI periode 2016-2020 yang terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia sesuai dengan ketetapan AD/ART PBSI. Pihaknya ingin proses Munas bisa berjalan sesuai amanat ketum.

''Untuk itu ,kami akan berusaha dan bekerja sebaik mungkin mewujudkan hal tersebut,” ujar Anton. (*)

Menghapus Catatan Buruk selama Setahun

GO WINNER: Berry Angriawan/Rian Agung Saputra
DALAM perjalanan selama 2016, Rian Agung Saputro/Berry Angriawan belum pernah mencicipi manisnya final. Capaian terbaiknya adalah perempat final Indonesia Masters.

Meski, sebenarnya hal itu adalah sebuah penurunan. Alasannya, tahun lalu, di ajang yang sama, Rian/Berry mampu menjadi juara dalam turnamen yang masuk kategori grand prix gold tesebut.

Tapi, pada Minggu (9/10/2016), menghabus catatan buruk tersebut terbuka. Rian/Berry mampu menembus babak final Thailand Open 2016.

Di babak semifinal yang dilaksanakan sehari sebelumnya (8/10/2016), unggulan kedua tersebut menghentikan langkah Lim Khim Wah/Ong Jian Guo dari Malaysia dengan dua game langsung 21-17, 21-18. Ini merupakan pertemuan perdana kedua pasangan.

Dalam perebutan posisi terhormat, Rian/Berry bakal ditantang Takuto Inoue/Yuki Kaneko. Di semifinal, pasangan Jepang tersebut menundukkan wakil Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan 21-19, 24-22.

Di atas kertas, Rian/Berry seharusnya bisa memenangkan pertandingan. Pasangan Negeri Sakura, julukan Jepang, hanya menempati posisi 44 dunia. Sementara, Rian/Berry duduk di ranking 17.

Tahun lalu, gelar juara Thailand Open jatuh ke pasangan merah putih, Ade Yusuf/Wahyu Nayaka. Sayang, pasangan ini sudah berpisah. Alasannya, Ade sakit dan harus dikembalikan ke klub asalnya, Wima Surabaya. (*)


Agenda Final Thailand Open 2016

Ganda putri: Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai (Thailand x1) v Mayu Matsutomo/Wakana Nagahara (Jepang x5)

Tunggal putri: Aya Ohori (Jepang) v Busanan Ombamrungphan (Thailand x3)

Ganda putra: Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang) v Rian Agung Saputro/Berry  Angriawan (Indonesia x2)

Ganda campuran: Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hongkong) v Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia)

Tunggal putra: Tanongsak Saensomboonsuk (Thailand) v Sony Dwi Kuncoro (Indonesia x2)

x=unggulan

Ingin Ulangi Memori Manis 2012

Tanongsak sudah empat kali kalah oleh Sony
DI Thailand Open 2012, kala itu, Sony Dwi Kuncoro sangat didgaya. Di semifinal, dia dikeroyok tiga pebulu tangkis Tiongkok.

Lawan yang dihadapi pertama pun bukan sembarang, Lin Dan, yang di tahun yang sama bisa meraih emas Olimpiade London 2012. Namun, Sony mampu mengalahkannya dengan dua game langsung 17-21, 16-21.

Padahal, Super Dan, julukan Tiongkok, datang dengan status unggulan teratas. Jauh dengan arek Suroboyo tersebut yang tak diunggulkan sama sekali.

Kemenangan itu membuat Sony menantang Chen Yueken. Di babak sebelumnya, dia melibas kompatriot (rekan senegara) Gao Huan dengan 21-14, 21-15. Di partai pemungkas, Sony memetik kemenangan 21-17, 21-14.

Kini, kesempatan merasakan gelar di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut datang kembali. Sony mampu menembus babak final Thailand Open 2016.

Dalam semifinal yang dilaksanakan di Bangkok pada Sabtu waktu setempat (8/10/2016), arek Suroboyo berusia 32 tahun tersebut mengalahkan Lee Cheuk Yiu dari Hongkong dengan tiga game 19-21, 21-16, 21-17. Pertandingan ini memakan waktu 1 jam 1 menit.

Untuk bisa juara, bapak dua putri tersebut harus bisa menyingkirkan Tanongsak Saensomboonsuk. Andalan tuan rumah itu meraih tiket final usai menundukkan wakil Jepang Kenta Nishimoto dengan straight game 21-19, 21-16.

Selama ini, Sony sudah enam kali berjumpa dengan Tanongsak. Hasilnya, dia unggul empat kali.

Pertemuan terakhor terjadi di Hongkong Open 2013. Sony menang tiga game 21-14. 12-21, 21-14.

''Moga bisa mengulangi hasil Thailand Open 2012,'' tulis Sony dalam pesan singkatnya. (*)

Sedikit Turnamen tapi Efektif

Sabtu, 08 Oktober 2016

Lee Hyun-il sekarang berada di posisi ke-16
USIA Lee Hyun-il terus merambah senja. Pada 2016, dia berumur 36 tahun.

Sebuah jenjang yang seharusnya sudah pensiun bagi pebulu tangkis yang mengejar prestasi. Tapi, itu tak belaku bagi lelaki asal Korea Selatan tersebut.

Bahkan, rankingnya malah menanjak. Dalam rilis yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 6 Oktober 2016, Hyun-il ada di posisi ke-16.

Tempat ini jauh lebih bagu dibandingkan pekan lalu. Sebelumnya, dua kali semifinalis olimpiade, Beijing 2004 dan London 2012, tersebut berada di ranking 20 dunia.

Naiknya ini tak lepas dari hasil yang diraih dalam Korea Open 2016. Dalam ajang berhadiah total USD 600 ribu tersebut, Hyuil melangkah hingga babak semifinal.

Dia dihentikan kompatriot (rekan satu negara) yang juga juniornya, Son Wan-ho, dengan tiga game 13-21, 21-14, 10-21.Pertandinga ini sangat menguras tenaga dan berlangsung selama 1 jam 03 menit.

Wan-ho pula yang menjegalnya di pekan sebelumnya pada Japan Open 2016. Hanya, ketika itu, laga terjadi di perempat final.

Sebenarnya, tahun ini, Hyun-il tak banyak mengikuti turnamen. Tercatat hanya lima event yang dia turun lapangan.

Hasilnya cukup efektit. Hyun-il menjadi juara di US Open dan Thailand Masters, serta finalis di Canada Open. Ketiganya merupakan ajang grand prix dan grand prix gold. (*)

Harusnya Bisa ke Final Dulu

Lee Cheuk Yiu akan dihadapi Sony di semifinal
LANGKAH Sony Dwi Kuncoro menjuarai Thailand Open 2016 semakin dekat. Kini, perjalanannya dalam turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut sudah menembus semifinal.

Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di Bangkok pada Jumat malam waktu setempat (7/10/2016), Sony menang dua game langsung 21-12, 21-15 atas Hsueh Hsuan Yi dari Taiwan. Ini menjadi kemenangan kedua arek Suroboyo tersebut atas lawan yang sama.

Sebelumnya, keduanya berjumpa di Taiwan Open 2015. Hasilnya, Sony memetik kemenangan dengan dua game 21-17, 27-25.

Dibandingkan dua pertandingan di Thailand Open 2016 lalu, kemenangan di perempat final ini lebih mudah. Saat di babak I dan II, Sony harus memeras keringat selama tiga game.

''Di perempat final tadi, main saya lebih taktis,'' ungkap Sony melalui layanan pesang singkat.

Langkah ke final pun terbentang luas. Mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut ditantang wakil Hongkong yang berstatus nonunggulan Lee Cheuk Yiu.

Secara ranking, Sony unggul jauh. Pebulu tangkis yang kini bernaung di Tjkarindo Masters tersebut ada di posisi 31. Sementara, Cheuk Yiu di 123. (*)

Hendra/Ahsan Sudah Beda Pasangan

Kamis, 06 Oktober 2016

Hendra Setiawan tak bersama Ahsan di Denmark
KABAR bakal bercerainya Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan akhirnya terealisasi. Keduanya sudah pasti berpisah dalam ajang Denmark Open 2016.

Dari undian yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Hendra dan Ahsan sudah punya pasangan baru. Seperti tersiar sebelumnya, Hendra dipasangkan dengan Rian Agung Saputro dan Ahsan dengan pasangan Rian sebelumnya, Berry Anggriawan.

Untung, di babak I Denmark Open 2016, kedua pasangan tak berjumpa unggulan.Hendra/Rian berjumpa dengan Jonas Raly Jansen/Josche Zurwone dari Jerman yang hanya berperingkat 76 dunia.

Sedangkan Ahsan/Berry menantang pasangan Korea Selatan Choi Solgyu/Kim Gi-jung. Menariknya, lawannya juga merupakan pasangan anyar.

PP PBSI memutuskan memisahkan Hendra/Ahsan meski ranking dunianya masih bagus. Di rilis BWF terakhir, mereka masih ada di posisi kelima dunia.

Sayang, di 2016 ini, penampilan Hendra/Ahsan tak sesuai ekspektasi. Mereka hanya mampu sekali juara dan itu pun hanya di level grand prix gold.

Di ajang super series atau super series, juara dunia 2015 tersebut nihil gelar. Bahkan, saat diharapkan berada di puncak penampilan dalam Olimpiade Rio 2016, Hendra/Ahsan tampil mengecewakan. Mereka sudah tersingkir di babak penyisihan grup dengan hanya sekali memetik kemenangan dalam tiga penampilan.

Di Denmark Open 2016, selain Hendra/Rian dan Ahsan/Berrry, pasangan Indonesia yang ikut ambil bagian dalam turnamen berhadiah total USD 700 ribu tersebut adalah Kevin Sanjaya/Marcus ''Sinyo'' Gideon dan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. (*) 

Tiket Perempat Final di Tangan

Ruselli Hartawan akan berjumpa rekan sendiri (foto:BWF)
TUNGGAL putri sudah punya wakil di perempat final Thailand Open 2016. Meski, ajang berhadiah total USD120 ribu tersebut baru memasuki babak II.

Ini dikarenakan dua wakil merah putih, Dinar Dyah Ayustine dan Ruselli Hartawan, saling bertemu. Di laga perdana yang dilaksanakan di Bangkok pada Rabu waktu setempat (5/10/2016), keduanya memetik kemenangan.

Dinar membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan kedelapan Kaori Imabeppu dari Jepang dengan straight game 22-20, 21-12. Sedangkan Ruselli menghentikan perlawanan wakil tuan rumah Supanida Katethong dengan 21-23, 21-14, 21-15.

Bagi keduanya, Dinar dan Ruselli, pertemuan di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, itu menjadi duel perdana di ajang internasional. Hanya, di atas kertas, Dinar lebih diunggulkan untuk melaju.

Alasannya, ranking yang dimiliki  pebulu tangkis yang direkrut dari Djarum Kudus tersebut rankingnya lebih bagus.Saat ini, dia ada di posisi 51 atau 26 setrip lebih tinggi dibandingkan Ruselli.

Tahun lalu, keduanya sama-sama berlaga di Thailand Open. Langkah Dinar dan Ruselli pun sama, langsung tumbang di babak I.

Dinar dikalahkan unggulan kedua Sung Ji-hyun dari Korea Selatan dengan dua game langsung 11-21, 10-21. Sementara, Ruselli dihentikan unggulan ketiga Sun Yu (Tiongkok) 16-21, 15-21. Sejak 1994, setelah Susi Susanti juara, belum ada lagi tunggal putri Indonesia yang naik podium terhormat. (*)

Ketemu Musuh Tahun Lalu

Pannawit Thongnuam akan menjajal Sony (foto:twitter)
KEJUTAN nyaris kembali terjadi di nomor tunggal putra dalam Thailand Open 2016. Kali ini, unggulan kedua Sony Dwi Kuncoro hampir saja pulang leih awal dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 120 ribu tersebut.

Mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut kalah mudah 13-21 di game pertama oleh rekannya sendiri, Vicky Angga Saputra. Di game kedua, Sony juga menang susah payah untuk bisa menang dengan 22-20.

Kemenangan di game kedua membuat kepercayaan diri bapak dua putri tersebut bangkit. Di game ketiga atau game penentuan, Sony unggul relatid mudah 21-12 dalam pertandingan babak kedua Thailand Open 2016 yang dilaksanakan di Nimibutr Stadium, Bangkok, pada Rabu malam waktu setempat (5/10/2016).

Secara ranking, secara ranking Sony tak perlu memeras keringat selama tiga game. Saat ini, dia ada di posisi 30 dunia. Sedangkan Vicky masih terdampar di 362.

Di perempat final, Sony akan dijajal pebulu tangkis tuan rumah Pannawit Thongnuam. Di babak kedua, dia menghentikan wakil merah putih Firman Abdul Kholik dengan rubber game 21-12, 15-21, 21-18.

Pertemuan ini merupakan ulangan tahun lalu. Ketika itu, pada laga yang dilaksanakan 29 September, Sony dipaksa bertarung tiga game 21-15, 14-21, 21-13.

Pada 2015, langkah peraih medali perunggu di Olimpiade Athena 2004 tersebut hanya sampai perempat final. Dia dikalahkan mantan rekannya di Pelatnas Cipayung Dionysius Hayom Rumbaka dengan 14-21, 11-21.

Namun, pada 2012, Sony pernah menjadi juara dalam ajang yang kini masuk kategori grand prix gold tersebut. Selain Sony, di babak perempat final Thailand Open 2016, Indonesia hanya menyisakan Panji Ahmad Maulana. (*)

Unggulan Teratas Langsung Tersingkir

Rabu, 05 Oktober 2016

Ihsan gagal mengatasi Suppanyu (foto:PBSI)
KEJUTAN langsung tersaji di hari I Thailand Open 2016. Unggulan teratas di tunggal putra, Ihsan Maulana Mustofa dipaksa langsung angkat koper.

Pebulu tangkis binaan Pelatnas Cipayung tersebut menyerah tiga game Suppanyu Avihingsanon dari Thailand dengan 17-21, 21-17, 18-21 di Bangkok pada Selasa waktu setempat (4/10/2016). Sebenarnya, di atas kertas, Ihsan jauh unggul dibandingkan lawan.

Saat ini, dia ada di ranking 23 dunia. Sedangkan Suppanyu di 174.

Ihsan pernah membuat lawannya tersebut menyerah di laga pemungkas nomor beregu SEA Games 2015. Saat itu, dia unggul 20-22, 21-16, 21-9. Sayang, di Vietnam Open di tahun yang sama, giliran wakil merah putih tersebut dihentikan dengan 21-17, 15-21, 19-21.

“Saya tidak bermain di penampilan terbaik saya hari ini. Banyak sekali pukulan-pukulan yang tidak pas, dan permainan saya cenderung monoton, kurang variasi,” kata Ihsan seperti dikutip media PBSI

Dia mengakui sebenarnya Suppanyu tidak banyak berubah dibanding pertemuan sebelumnya. Hanya, Ihsan bermain kurang bermain maksimal. ''Seharusnya saya bisa bermain lebih baik dari hari ini. Kecepatan kaki saya berkurang, rasanya pergerakan saya lambat sekali,” tambah Ihsan.

Kegagalan ini menjadi pil pahit beruntun. Pekan lalu, Ihsan juga gagal menjadi juara di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat. Ihsan dipermalukan mantan penghuni Pelatnas Cipayung yang membela Jawa Timur Wisnu Yuli. (*)

Bukan Lawan Sepadan bagi Sony

Sony Dwi KUncoro menembus babak II Thailand Open 2016
LANGKAH ringan dilalui Sony Dwi Kuncoro di Thailand Open 2016. Unggulan kedua tersebut hanya butuh 25 menit untuk mengalahkan wakil tuan rumah Pollakorn Jarasjindawong dengan dua game langsung 21-6, 21-10 dalam pertandingan babak I yang dilaksanakan di Bangkok pada Selasa waktu setempat (4/10/2016).

Di atas kertas, Sony memang jauh unggul dibandingkan lawannya. Saat ini, ranking arek Suroboyo tersebut ada di 30 dunia. Sedangkan Pollakorn masih di 357.

Di babak kedua, bapak dua putri tersebut akan menghadapi sesama pebulu tangkis Indonesia Viky Angga Saputra. Di babak I, dia menghentikan asa Karnphop Attaviroj (Thailand) dengan 21-12, 21-15.

Seharusnya, Sony juga tak akan mengalami kesulitan menghadapi juniornya tersebut. Vicky merupakan pebulu tangkis yang rankingnya masih di jauh di bawah, 362.

Thailand Open menjadi turnamen ketiga yang diikuti secara beruntun oleh Sony. Sebelumnya, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut berlaga di Japan Open dan Korea Open.

Sayang, dalam ajang yang masuk kategori super series dalam kalender BWF(Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut, dia tumbang di babak-babak awal. Di Negeri Sakura, Sony kalah di babak II dan di Korea Open langsung tersisih dalam penampilan perdana.

Sony sempat mencuri perhatian saat menjadi turnamen super series, Singapore Open. Hanya, setelah itu, dia gagal mempertahankan perormance. (*)

Unjuk Kemampuan sebelum Berpisah

Senin, 03 Oktober 2016

Rian Agung/Berry Anggriawan
KEMAMPUAN Rian Agung Saputro/Berry Anggriawan belum maksimal. Keduanya belum pernah menjadi juara dalam ajang super series atau super series premier.

Bahkan, tahun ini, tak ada satu pun gelar yang diraih. Beda dengan tahun lalu yang sempat menjadi pemenang di Indonesian Masters.

Tak heran, jika PBSI bakal memisahkan keduanya untuk sementara. Rian/Berry akan dikocok dengan pasangan senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Rian dengan Hendra dan Berry dengan Ahsan.

Pasangan anyar ini akan mengawali debutnya di Eropa. Ada dua ajang bergengsi yang diikuti yakni Denmark Open Super Series Premier dan France Open Super Series.

Tapi, sebelum dipisahkan, Rian/Berry akan unjuk kebolehan dalam Thailand Open. Turnamen ini masuk kategori grand prix gold karena berhadiah total USD 120 ribu.

Dalam ajang tersebut, Rian/Berry diharapkan bisa melangkah jauh. Ini disebabkan keduanya ditempatkan sebagai unggulan kedua. Unggulan teratas ditempati pasangan senior Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Di babak I, mereka bakal berjumpa pasangan gado-gado Indonesia Thailand Lukhi Apri Nugroho/Bowornwatanuwong Phutthaporn. Di atas kertas, Rian/Berry bakal melaju mulus.

Tahun lalu, Rian/Berry hanya sampai babak kedua. Mereka dikalahkan mantan pasangannya masing-masing, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. (*)

Ada Pelatih Indonesia di Belakang Son Wan-ho

Agus saat menangani Dionysius Hayom Rumbaka
DALAM dua ajang terakhir, Son Wan-ho memetik sukses. Di Japan Open 2016, pebulu tangkis tunggal putra Korea Selatan tersebut menembus semifinal.  Langkahnya dihentikan oleh Jan O Jorgensen dari Denmark dengan dua game langsung 14-21, 19-21.

Sepekan kemudian (2/10/2016), Wan-ho melangkah lebih jauh. Di kandang sendiri, dia mampu menembus babak final.

Sayang, ambisi menjadi juara kandas. Lelaki 28 tahun tersebut dihentikan Qiao Bin dari Tiongkok dalam pertarungan rubber game 11-21, 23-21, 7-21.

Capaian ini cukup mengejutkan. Alasannya, selama ini, Wan-ho jarang bisa stabil.  Bahkan, dia lebih sering kandas di babak-babak awal.

Ternyata, ada yang menjadi pembeda dibandingkan sebelumnya. Apa itu? Di belakang Wan-ho ada sosok baru.

Dia adalah Agus Dwi Santoso. Pelatih tersebut sudah tak asing bagi insan bulu tangkis Indonesia.

Agus merupakan pelatih yang sudah lama berada di Pelatnas Cipayung. Polesannya di tunggal putra sudah tak diragukan lagi.

Di tangannya, Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santoso pernah merajai pentas internasional. Tentu kehadiran Agus di Negeri Ginseng,julukan Korea Selatan, diharapkan mengangkat prestasi nomor tunggal putranya.

''Ya benar, Agus memang melatih Korea Selatan. Hanya, sampai kapan, saya tidak tahu,'' kata Fung Permadi, manajer PB Djarum Kudus.

Ya, Agus memang berasal dari klub raksasa tersebut. Bahkan, saat tak lagi dipakai Pelatnas Cipayung, dia kembali ke Kota Kretek, julukan Kudus, tempat para tunggal putra digembleng. (*)

Tuan Rumah Gagal Sapu Bersih

Minggu, 02 Oktober 2016

Akane Yamaguchi naik podium juara di Korea Open 2016
KOREA Selatan gagal cetak sejarah. Pebulu tangkis tuan rumah gagal melakukan sapu bersih dalam Korea Open 2016.

Dari lima gelar yang berpeluang disabet, wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, hanya mampu meraih tiga gelar yakni dari ganda putra melalui Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, Jung Kyun-eun/Shin Seung-chan( ganda putri), dan pasangan ganda campuran Ko Sung-hyun/KIm Ha-na.  Di final yang dilaksanakan di Seoul pada Minggu waktu setempat (2/10/2016), mereka mengalahkan lawan-lawannya.

Di ganda putra, Yong-dae/Yeon-seong, yang diunggulkan di posisi pertama, dipaksa tampil tiga game 16-21, 22-20, 21-18 untuk menghentikan ambisi wakil Tiongkok yang diunggulkan di posisi ketujuh, Li Junhui/Liu Yucheng. Kemenangan ini membuat mereka sukses mempertahankan gelar yang disabet tahun lalu.

Sedang di ganda putri, unggulan teratas Jung Kyun-eun/Shin Seung-chan hanya butuh dua game 21-13, 21-11 guna melibas pasangan Negeri Panda, julukan Tiongko, Luo Ying/Luo Yu. Sementara di ganda campuran yang dipilih sebagai partai pertama, Ko Sung-hyun/KIm Ha-na, yang menempati unggulan pertama, hanya butuh 38 menit untuk menjadi juara. Mereka memupus asa Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok) dengan 21-14, 21-19.

Sayang, di dua nomor lain, tunggal putra dan tunggal putri, duta Korea Selatan menyerah. Di tunggal putra, Son Wan-ho tak berdaya di tangan Qiao Bin. Dia menyerah 11-21, 23-21, 7-21 dari wakil Tiongkok tersebut. Di tunggal putri, Sung Ji-hyun menyerah tiga game 22-20, 15-21, 18-21 kepada Akane Yamaguchi, unggulan ketujuh dari Jepang.

Sebenarnya, jika tunggal putra dan tunggal putri bisa diraih, Korea Selatan akan menjadi negara pertama yang mampu menyapu bersih gelar. Meraih tiga gelar pernah dilakukan wakil tuan rumah.Itu terjadi pada 1991dan 2001.

Indonesia sendiri juga ikut ambil bagian di Korea Open 2016. Sayang, Sony Dwi Kuncoro di tunggal putra dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di ganda putra yang diharapkan bisa berprestasi sudah tersingkir sebelum melangkah jauh. Sony tumbang di babak I dan Hendra/Ahsan di perempat final.  (*) 

Mungkin Sudah Lupa Gaya Lawan

LABIL: Simon Santoso bakal turun di Thailand
 SIMON Santoso belum bisa bangkit dari keterpurukan. Kegagalan demi kegagalan selalu mengiringi dalam setiap penampilan di ajang internasional.

Akibatnya, ranking yang dimiliki Simon masih belum memuaskan. Dari ranking terakhir yang dirilis BW (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada 29 September lalu, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut tercecer di 116.

Selama 2016, tercatat Simon hanya tampil di lima turnamen. Di Thailand Challenge saja dia mampu melangkah hingga perempat final.

Sedangkan di ajang yang levelnya lebih tinggi, maksimal mantan peringkat ketiga dunia tersebut hanya sampai babak II. Itu terjadi dalam Indonesian Masters.

Kini, Simon pun kembali unjuk kebolehan. Lelaki yang pernah menjadi tunggal putra terbaik Indonesia tersebut berlaga dalam Thailand Open 2016.

Hanya, tumbang di laga perdana bisa terjadi. Di babak I turnamen level grand prix gold tersebut, Simon langsung bertemu dengan andalan tuan rumah yang juga diunggulkan di posisi keempat Boonsak Ponsana.

Sebagai sesama pebulu tangkis senior, keduanya sudah delapan kali bertemu. Hasilnya, Simon hanya menang tiga kali.

Tapi, kedua pebulu tangkis kali terakhir bertemu sudah lima, tepatnya lima tahun lalu. Saat itu, di All England 2011, Boonsak menang 19-21, 15-21. Tak menutup kemungkinan, keduanya sudah lupa gaya bermain lawannya.

Kini, andalan Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut lebih diunggulkan. Rankingnya di posisi 29 menjadi modal baginya untuk menghentikan Simon. (*)

Moncer usai Istirahat

Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong
KEGAGALAN di Olimpiade Rio 2016 memukul Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Diharapkan menyumbang emas bagi Korea Selatan di ajang empat tahunan tersebut, keduanya harus pulang lebih awal.

Yong-dae/Yeon-seong tersingkir di babak kedua.Pasangan nomor satu dunia tersebut menyerah kepada wakil Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong dalam pertarungan tiga game 21-17, 19-21, 16-21. Kekalahan ini cukup mengejutkan.Dalam lima kali pertemuan sebelumnya, mereka hanya sekali sekali. Bahkan, tiga perjumpaan terakhir, Yong-dae/Yeon-seong selalu unggul.

Kekalahan tersebut membuat mereka beristirahat. Buktinya, di Japan Open 2016, Yong-dae/Yeon-seong memilih absen.

Hasilnya, kini, kekuatan keduanya mulai pulih. Di kandang sendiri, keduanya mampu menembus final Korea Open 2016.Hanya, langkah menembus final dalam ajang berhadiah total USD 600 ribu tersebut tak mudah.

Usai mendapat bye di babak I, Yong -dae/Yeon-seong dipaksa bertarung ketat dua game 21-19, 21-19 atas Liu Xialong/Lu Kai dari Tiongkok. Di perempat final, keduanya juga harus memeras keringat selama tiga game 21-15, 18-21,
21-18 oleh Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dari Jepang.

Kemenangan ini membuat Yong-dae/Yeon-seong semakin panas. Tak mengalami kesulitan, keduanya melangkah ke final berkat kemenangan dua game 21-11, 21-16 atas Huang Kaixiang/Wang Yilyu (Tiongkok).

Lawan yang akan dihadapi di Seoul pada Minggu (2/10/2016) adalah Li Junhui/Liu Yuchen dari Tiongkok. Kemampuan pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut tak boleh dipandang sebelah mata.

Meski, secara ranking, Yong-dae/Yeon-seong jauh lebih unggul. Saat ini, mereka ada di posisi teratas. Sementara, lawannya ada di posisi ke-12.

Li/Liu pernah mempermalukan Yong-dae/Yeon-seong di Tiongkok Open 2015. Untung, dalam Kejuaraan Asia yang juga dilaksanakan di Negeri Tembok Raksasa, julukan Tiongkok, Yong-dae/Yeon-seong mampu melakukan revans. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger