www.smashyes.com

www.smashyes.com

Samai Rekor Pasangan Korsel

Senin, 27 November 2017


Hasil membanggakan kembali diraih oleh pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon di Hongkong Open Super Series 2017. mereka sukses merebut gelar super series keenamnya, dengan mengalahkan Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark) dengan dua game langsung 21-12, 21-18.Sebelumnya Kevin/Sinyo sudah menjadi juara di All England Open, India Open, Malaysia Open, Japan Open, dan China Open 2017.


Kemenangan Kevin/Marcus ini sekaligus berhasil menyamai rekor Lee Yong- dae/Yoo Yeon-seong yang merebut enam gelar super series dalam satu tahun.''Kami cukup puas dengan hasil di dua turnamen ini (China Open dan Hongkong Open). Dua-duanya bisa maksimal dan dua-duanya bisa juara. Senang pastinya,” kata Sinyo usai bertanding di Hongkong Coliseum, Kowloon, Hongkong, Minggu (26/11).


Pada game pertama, Kevin/Sinyo berhasil menguasai jalannya pertandingan dengan memimpin jauh 15-5 dan 19-8. Unggulan satu turnamen ini kemudian menutup game satu pada skor 21-12.


Memasuki game kedua, Unggulan teratas ini sempat mendapatkan kendala di lapangan. Mereka tidak tampil sengotot game pertama.

Akibatnya, perolehan skor mereka pun sempat ketat 3-4 dan 8-9. Namun serangan demi serangan dari Kevin/Sinyo kembali hadir di akhir game kedua.

Smash kencang Kevin ke tengah lapangan lawan menjadi poin kemenangan Kevin/Sinyo 21-18 atas Petersen/Kolding.


''Tadi game kedua, saya sempat ada kendala, bola atasnya masih suka goyang. Untung Kevin depannya masih dapet, jadi saya cuma nurun-nurunin shuttlecocknya saja,'' ungkap Sinyo.


Pertandingan ini merupakan yang kelima kali bagi Kevin/Sinyo dan Petersen/Kolding. Rekor pertemuan mereka sejauh ini imbang 2-2, dengan dua kemenangan terakhir berhasil diamankan oleh Kevin/Sinyo, yaitu pada All England 2017 dan India Open 2017.(*)

Sudah Tanggung Sampai Semifinal

Sabtu, 25 November 2017

Li Junhui/Liu Yuchen
RAK trofi juara Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon bisa semakin penuh. Kini, Hongkong Open Super Series 2017 yang jadi bidikan.

Langkah Kevin/Sinyo pun sudah semakin dekat dengan juara. Mereka mampu menembus babak semifinal. Tiket itu diperoleh setelah unggulan teratas tersebut mengalahkan pasangan baru Malaysia Ong Yew Sin/Tan Wee Kiong skor 21-14, 21-17.

“Hari ini lebih mendingan. Kami juga lebih siap dan langsung in, kami sudah lebih mengerti menang dan kalah anginnya,” kata Sinyo usai bertanding di Hong Kong Coliseum, Kowloon, Hongkong, seperti dikutip dari media PBSI.

Game pertama dimainkan, Kevin/Sinyo berhasil unggul jauh dari Ong/Tan, dengan 11-5, 18-13 dan menang 21-14. Memasuki game kedua, posisi sempat berbalik, Kevin/Marcus tertinggal 1-6 dan 8-11. Tak lantas menyerah, pasangan Indonesia ini kemudian terus menyusul ketertinggalan hingga bukukan kemenangan 21-17.

“Awal-awal game kedua raket saya putus terus, harusnya poin, putus. Pas mau poin lagi, putus lagi, jadi malah sana yang unggul,” terang Kevin.

Di semifinal, Kevin/Sinyo ditantang pasangan Tiongkok unggulan empat, Li Junhui/Liu Yuchen, yang di perempat final mengalahkan Vladimir Ivanoz/Ivan Sozonov (Rusia). Bagi pasangan gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut, wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut bukan wajah asing.

Mereka sudah empat kali bertemu. Hasilnya, Kevin/Sinyo hasil sekali kalah. Itu terjadi di pertemuan pertama. (*)

Selalu Kalah di Game Pertama

Kamis, 23 November 2017

Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (foto: BWF)
DUA pertandingan sudah dijalani Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Gideon'' Fernaldi Gideon. Kemenangan pun mampu diraih.

 Ini membuat tiket perempat ganda putra di Hongkong Open Super Series 2017 di tangan. Sayang, dalam dua laga itu, Kevin/Sinyo, yang diunggulkan di posisi teratas, harus kehilangan satu game.

Pada partai pertama, Kevin/Sinyo mengalahkan Goh V Shem/Teo Ee Yi dari Malaysia dengan 17-21, 21-10, 21-12. Di babak kedua yang dilaksanakan di Kowloon Kamis (23/11/2017), pasangan nomor satu dunia saat ini juga ''hanya'' unggul 18-21, 21-13 dan 21-14 atas
Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang).

“Lawannya memang bagus. Mereka lebih siap mainnya, nggak gampang mati. Terus di sini lapangan agak angin dan bolanya goyang-goyang. Mungkin belum pas aja di kaminya,” kata Sinyo ditemui usai bertanding seperti dikutip dari situs PBSI.

Sebelumnya dengan Hoki/Kobayashi, Kevin/Marcus sudah enam kali berhadapan dan selalu memetik kemenangan. Terakhir di Denmark Open Super Series Premier 2017. Kevin/Sinyo menang 21-16, 19-21, 21-10.

“Kami masih belum pas main di sini dan belum dapat feelnya. Jadi masih penyesuaian,” ujar Marcus.

Di babak perempat final Kevin/Sinyo akan berhadapan dengan pasangan baru Malaysia, Ong Yew Sin/Tan Wee Kiong. “Peluangnya fifty-fifty karena mereka kan pasangan baru, mereka pasti main lebih nothing to lose juga. Nggak ada beban,” ucap Kevin.

Sayang langkah kemenangan tak bisa dicapai oleh Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Hendra Setiawan/Tan Boon Heong. Angga/Ricky kalah dari Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov, Rusia dengan 9-21, 12-21. Sedangkan Hendra/Tan terhenti dari Ong Yew Sin/Tan Wee Kiong 21-17, 20-22, 12-21. (*)

Kembali Rasakan Super Series

Rabu, 22 November 2017

PERJUANGAN: Nitya/Yulfira (foto: PBSI)
Pemain ganda putri, Nitya Krishinda Maheswari akhirnya kembali turun ke panggung turnamen level super series, setelah menjalani operasi lutut kanan pada Desember 2016 lalu. Kini, Nitya menyatakan siap kembali bersaing di lapangan, bersama pasangan barunya, Yulfira Barkah.

“I’m happy dan rasanya enjoy sekali bisa comeback. Tekanan pasti ada, cuma karena saya lebih enjoy, jadi lebih enak aja di lapangan,” kata Nitya ditemui usai pertandingannya di Hongkong Coliseum, Kowloon, Hongkong, Rabu (22/11) seperti dikutip media PBSI.

Bersama Yulfira, Nitya resmi kembali bertanding pada USM Flypower Indonesia International Challenge 2017 Oktober lalu. Setelah itu ia juga bertanding di Macau Open Grand Prix Gold 2017. Dan kini keduanya turun bermain di Hongkong Open Super Series 2017.

Meski belum memperoleh hasil maksimal, Nitya/Yulfira mengatakan mulai bisa saling beradaptasi di lapangan.“Namanya pasangan baru, pastilah ada yang belum klik. Saya juga masih mencoba kembali ke permainan saya, ditambah harus penyesuaian dengan pasangan baru. Dua hal yang harus saya hadapi secara bersamaan. Saya rasa ini tantangannya lebih besar dibanding yang sebelumnya,” ungkap Nitya.

Yulfira pun mengaku senang bisa berduet dengan seniornya tersebut. Sayang, perjalanan mereka di Hongkong Open Super Series 2017 harus berkahir lebih awal.

Nitya/Yulfira dihentikan oleh runner up China Open Super Series Premier 2017, Kim Hye Rin/Lee So Hee, Korea. Nitya/Yulfira kalah dalam waktu 57 menit, dengan skor akhir 21-14, 18-21, 18-21.

“Di game pertama kami nggak coba main cepat, karena dengan begitu mereka senang. Kami lebih main satu-satu dulu. Di game kedua mereka mengubah pola permainan dan kami kebawa pola mereka. Kami baru bisa membalikkan keadaan pas sudah poin-poin akhir,” ungkap Nitya. (*)

Ada Apa Praveen/Debby

Selasa, 21 November 2017

Praveen Jordan/Debby Susanto (foto;PBSI)
HASIL buruk kembali ditelan Praveen Jordan/Debby Susanto. Mereka langsung tersingkir dalam Hongkong Open Super Series 2017. Unggulan kedua ini kalah dari Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich dari Jerman dengan 15-21, 19-21.

Padahal di dua pertemuan sebelumnya, Jordan/Debby selalu bisa mengatasi lawannya tersebut dalam dua game langsung. Laga perdana mereka terjadi di BCA Indonesia Open 2015, lalu kemudian bertemu lagi di French Open 2015.

Setelah tertinggal di game pertama, Jordan/Debby sempat memimpin jauh di game kedua dengan 11-2, 14-4 dan 18-7. Namun di luar dugaan, Lamsfuss/Herttrich mampu mengejar ketertinggalan, hingga akhirnya Jordan/Debby kalah 19-21.

“Kami mainnya kurang tahan. Tadi ada sempat unggul jauh, tapi terkejar. Lebih ke faktor kurang tahannya saja,” kata Jordan ditemui usai bertanding di Hong Kong Coliseum, Kowloon, Hongkong.

Hasil ini pun jauh dari pencapaian Jordan/Debby di turnamen yang sama, tahun lalu. saat itu, keduanya, merupakan runner up Hongkong Open Super Series 2016, setelah kalah dari Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Terhenti di babak satu pada Hongkong Open Super Series 2017 dan China Open Super Series Premier 2017, pekan lalu, Jordan/Debby mengatakan akan mengevaluasi penampilan mereka.

Kehilangan Jordan/Debby di babak pertama, Indonesia masih mempunyai harapan dari dua wakil ganda campuran lainnya. Mereka adalah Alfian Eko Prasetya/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja. (*)

Ratu di Level Bawah

Minggu, 19 November 2017

Ruselli Hartawan (foto;BWF)
MERAIH juara di sektor tunggal putri bukan hal yang mudah. Meski, itu hanya di level bawah.

Namun, Ruselli Hartawan bisa melakukan. Bahkan, dia mampu melakukannya dua kali.

Yang pertama, tunggal putri yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut mengukirnya di Singapore International Series. Kedua, Ruselli naik ke podium terhormat di Malaysia International Challenge 2017 yang berakhir Minggu (19/11/2017).

 Di final yang digelar di Johor, Ruselli menang tiga game 21-13, 10-21, 21-19 atas wakil tuan rumah Goh Jin Wei. Ini menjadi kemenangan kedua baginya. Pertemuan perdana terjadi di Negeri Singa, julukan Singapura.

 Sayang, saat tampil di level yang lebih atas, Ruselli kurang bertaji. Dia sering tumbang di babak-babak awal. (*)

Lima Gelar Sudah di Tangan

Kevin (kanan)/Sinyo meraih juara di Tiongkok (foto:PBSI)
KOLEKSI gelar pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Gideon'' Fernaldi Gideon bertambah. Keduanya mampu naik ke podium terhormat di China Open Super Series Premier 2017.

Dalam final yang dilaksanakan Minggu (19/11), unggulan pertama ini mengalahkan lawan terberatnya saat ini, Mathias Boe/Carsten Mogensen ( Denmark) dengan 21-19, 21-11. Partai final kali ini merupakan pertandingan ulangan final China Open Super Series Premier 2016. Saat itu Kevin/Sinyo merebut podium utama setelah menang 21-18, 22-20, juga dari Boe/Mogensen.

Game pertama dimulai perolehan angka kedua pasangan ini terus terpaut tipis. Kevin/Sinyo tertinggal 10-11 di interval game pertama. Setelah akhirnya unggul 20-19, Kevin/Sinto memastikan kemenangan melalui sambaran keras Kevin ke kanan lapangan lawan usai menerima servis.

Berbeda dengan game pertama, game kedua Kevin/sinyo kontra Boe/Mogensen bisa dikatakan relatif tanpa perlawanan besar. Mudah saja bagi Kevin/Sinyo untuk menyelesaikan game kedua mereka dan memastikan kemenangannya.

“Game pertama cukup ketat. Tapi kami berusaha untuk tetap fokus. Perolehan poin juga cukup dekat sampai 20-19, tapi kami masih bisa mengatasi hal tersebut,” kata Sinyo dalam konferensi pers usai pertandingannya di Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou, Tiongkok, seperti dikutip media PBSI.

Dua pasangan ini juga sudah sering kali berhadapan di lapangan pertandingan. Rekor pertemuan keduanya sejauh ini mencatat, Kevin/Marcus tertinggal 2-4 dari Boe/Mogensen. Sebelumnya, Kevin/Snyo memenangi gelar di All England, India, Open, Malaysia Open,  dan Japan Open

Tentu, kemenangan di Negeri Panda, julukan Tiongkok, semakin memperkukuh posisi Kevin/Sinyo di posisi teratas nomor ganda putra dunia. (*)

Koleksi Gelar Kevin/Sinyo selama 2017

.All England : Final v Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok) 21-19, 21-14

2. India Open: Final v Ricky Karanda/Angga Pratama (Indonesia) 21-11, 21-15

3.Malaysia Open: Final v Fu Haifeng/Zheng Siwei (Tiongkok) 21-14, 14-21, 21-12

4. Denmark Open: Final v Liu ChengZhang Nan (Tiongkok) 16-21, 24-22

5. China Open: Final v Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark) 21-19, 21-11

Masih Tampil di Level Bawah

Jumat, 17 November 2017

Firman Abdul Kholik
NAMA Firman Abdul Kholik sempat melejit. Dia digadang-gadang bakal menjadi The Next Taufik Hidayat.

Pertimbangannya, di debutnya yang masih usia 18 tahun, Firman sudah menembus final Indonesia Challenge  dan Indonesia Grand Prix Gold.  Sayang, dia gagal mempertahankan penampilannya.

Hingga akhirnya, dia dilewati rekan-rekan seangkatannya seperti Ihsan Maulana Mustofa, Jonatan Christie, dan Anthony Ginting. Ketiganya pun sudah merasakan ajang bergengsi super series maupun super series premier.

Bagaimana dengan Firman? Dia masih bermain di kelas internasional series dan challenge. Seperti yang dilakoni sekarang di Malaysia.

Di negeri jiran, Firman menjadi andalan Indonesia. Langkahnya sudah menembus babak semifinal.

Pada babak perempat final yang dilaksanakan di Johor pada Jumat waktu setempat (17/11/2017), dia menghentikan wakil tuan rumah Chong Ye Han dengan tiga game 21-17, 18-21, 21-17. Untuk bisa menembus babak pemungkas, Firman harus menyingkirkan wakil tuan rumah lainnya, Leong Jun Hao.

Dia lolos ke empat besar berkat kemenangan atas rekan Firman, Krisna Adi Nugraha, dengan 24-22, 21-19. (*)

Jaga Asa untuk Bisa Juara

LIMA gelar sudah diraih Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon. Tak menutup kemungkimam koleksi tersebut bakal bertambah.

Ini setelah keduanya menembus babak semifinal China Open Super Series Premier 2017. Dalam pertandingan yang berlangsung di Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou, Jumat waktu setempat (17/11/2017) tersebut, Kevin/Sinyo mengalahkan Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov dari Rusia dengan dua game langsung 21-19, 21-13. Pertandingan ini mmakan waktu 31 menit.

Game pertama di mulai, Kevin/Sinyo berhasil menguasai jalannya pertandingan dengan keunggulan. Namun, mereka sempat tersusul sebelum akhirnya menang tipis 21-19. Namun hal berbeda terjadi di game kedua. Kevin/Marcus berhasil terus unggul jauh dengan 7-1, 11-4 hingga merebut kemenangan 21-13.

“Game pertama cukup ramai, karena lawannya juga lumayan bagus. Servisnya juga bagus. Tapi kami lebih tenang aja. Mungkin awal-awal saya belum pas mainnya, tapi pas pertengahan sudah mulai mendingan,” kata Sinyo usai pertandingan.

Sebelumnya, Kevin/Sinyo sudah dua kali berhadapan dengan Ivanov/Sozonov dan selalu menang. Pertemuan terakhir mereka terjadi di BWF World Championships 2017 dengan kemenangan 21-19, 21-16 untuk Kevin/Marcus.

Selanjutnya di semifinal, Kevin/Sinyo, yang diunggulkan di posisi teratas, akan ditantang lawan beratnya yang juga andalan tuan rumah,  Li Junhui/Liu Yuchen. Di perempat final, mereka menghentikan laju rekannya  sendiri, Liu Cheng/Zhang Nan. (*)

Tumbang dari Wakil Kualifikasi

Kamis, 16 November 2017

STATUS Gregoria Mariska Tunjung cukup mentereng. Dia merupakan juara dunia junior di nomor tunggal putri.

Tapi, ketika main di jenjeng  senior, status tersebut seakan tidak berarti. Buktinya, Gregoria langsung tersingkir di Malaysia Internatiobal Series 2017.

 Padahal, lawan yang dihadapi juga bukan pebulu tangkis. Gadis asal Wonogiri, Jawa Tengah, tersebut kalah tiga game 21-19, 19-21,20-22 oleh Lin Ying Chun, pebulu tangkis kualifikasi asal Taiwan di Johor pada Kamis waktu setempat (16/11/2017). Padahal, dalam ajang itu, Gregoria ditempatkan sebagai unggulan kedua. 

 Di level senior, prestasinya memang belum mentereng. Gregoria lebih banyak kalah di babak-babak awal.

 Tapi, itu tak mengurangi keinginan PP PBSI untuk memberikan Gregoria banyak pengalaman. Usai dari negeri jiran, dia bakal berlaga di Korea Masters yang dimulai pada 28 November mendatang. (*)

Dibikin Repot Wakil Taiwan

KANS Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon juara di China Open Super Series Premier 2017 masih terjaga. Kini, langkah keduanya sudah menembus babak perempat final.

Namun, untuk mendapatkan tiket itu bukan pekerjaan mudah. Kevin/Sinyo harus kerja keras. Mereka menang dua game 29-27, 21-18 atas pasangan Taiwan Lee Jhe Huei/Lee Yang, Taiwan pada Kamis waktu setempat (16/11/2017).

Game pertama dimulai, poin Kevin/Marcus kerap tertinggal dari lawan hingga interval 6-11. Mereka kemudian menyamakan kedudukan menjadi 17-17 hingga balik memimpin 20-19.

Tak mudah begitu saja, meski sudah meraih game point lebih dulu, pertandingan terus berjalan menegangkan. Kevin/Marcus dan Lee/Lee harus terlibat delapan kali setting point lebih dulu, untuk akhirnya menang 29-27.

“Saat poin ketat, kami mikirnya satu-satu saja, poin satu demi satu, nggak mau mikirin menang kalah. Karena lawannya nggak gampang mati. Defend dan drivenya bagus. Kami nggak boleh bikin salah,” kata Marcus usai pertandingannya di Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou, Tiongkok, seperti dikutip media PBSI.

Masuk ke game dua, pertandingan tetap berjalan sengit. Beberapa kali Kevin/Marcus melakukan kesalahan yang menguntungkan lawan.

Sementara Lee/Lee juga tak mudah untuk dimatikan langkahnya. Perolehan angka kedua pasangan ini pun tak jarang hanya terpaut tipis. Namun akhirnya Kevin/Marcus berhasil menunjukkan kualitasnya dengan unggul 20-18 dan menang 21-18.

“Lawan cukup bagus, nggak gampang mati. Punya drive yang kencang, power yang kuat dan serangannya juga bagus. Susah melawannya,” kata Kevin mengenai penampilan Lee/Lee.

Head to head dengan Lee/Lee sendiri sejauh ini tercatat ketat 3-2, untuk keunggulan Kevin/Marcus. Di pertemuan terakhir pun pada Singapore Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-16 dan 21-14.

Di perempat final, Kevin/Sinyo akan menghadapi Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov. Dengan pasangan Rusia, dua kali berhadapan, dua kali pula Kevin/Marcus memetik kemenangan. Terakhir di BWF World Championships 2017 lalu Kevin/Marcus menang 21-19 dan 21-16.

“Yang pasti kami akan melakukan yang terbaik. Karena kami kan sudah pernah bertemu. Nanti dipelajari lagi. Nggak boleh lengah biarpun di pertemuan terakhir menang, tapi tetap harus fokus,” ungkap Sinyo. (*)

Menang setelah Lihat Lin Dan Tegang

Rabu, 15 November 2017

Jonatan Christie menjungkalkan legenda
TAK mudah mengalahkan Lin Dan di kandangnya sendiri. Tapi, itu bisa dilakukan pebulu tangkis muda Indonesia, Jonatan Christie, di babak I China Open 2017.

Hebatnya, Superdan, julukan Lin Dan, dipermalukan di babak I turnamen yang masuk kategori super series premier tersebut. Dia menyerah kepada Jonatan dengan dua game langsung 19-21, 16-21 pada Rabu waktu setempat (15/11/2017).

“Poin paling penting ada di game pertama. Karena poinnya kan mepet terus. Saya nggak mau kecolongan di game pertama, karena bisa jadi di game kedua dia lebih percaya diri dan saya jadi ngedrop. Jadi sebisa mungkin poin-poin penting saya paksa. Apalagi pas 17 sama, saya banyakin smash dan cepetin di lapangan,” kata Jonatan usai bertanding seperti dikutip media PBSI.

Menang di game pertama, Jonatan meneruskan tren positif penampilannya di game kedua. Ia terus memimpin jalannya pertandingan hingga 20-9.

Suasana sempat menegang manakala Jonatan tak bisa mengalahkan Lin Dan begitu saja. Jonatan harus bersabar ketika Lin Dan mencoba menyusul hingga 20-16. Beruntung akhirnya tunggal putra Pelatnas PBSI tersebut bisa memenangkan game kedua dengan 21-16.

“Tadi saya sudah unggul 20-9, dari situ dia juga jadinya all out aja. Karena di game kedua awal dia agak tegang. Berasa dari game pertama kami salaman aja tangannya sudah dingin. Sebagai pemain kita bisa merasakan kalau  lawan lagi nervous. Saya juga kalau tegang tangannya suka dingin. Ternyata walaupun dia sudah juara Olimpiade dua kali, dia tetap ada tegangnya. Itu yang membuat saya percaya diri,” ujar Jonatan saat diwawancarai di Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou, Tiongkok.

Hasil ini sekaligus memperkecil jarak rekor pertemuan Jonatan dengan Lin Dan menjadi 2-3. Sebelumnya, Jonatan tertinggal 1-3 dari Lin Dan, dengan pertemuan terakhir yang terjadi di Autralian Open 2017 lalu. Saat itu Jonatan kalah dua game langsung dengan 14-21 dan 19-21.

Selanjutnya di babak dua, Jonatan bertemu dengan wakil Hongkong Ng Ka Long Angus yang menundukkan rekan Jonatan di Pelatnas PBSI, Anthony Sinisuka Ginting. (*)

Sangat Berat Jonatan

Senin, 13 November 2017

Lin Dan yang tampil di kandang sendiri (foto:badzine)
USIANYA sudah mulai uzur, 34. Tapi, kemampuan Lin Dan tetap menakutkan.

Bahkan, kini, rankingnya masih di papan atas. Tepatnya di posisi ketiga nomor tunggal putra.

Jadi, tak banyak penurunan dari pebulu tangkis yang dua kali meraih emas olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut.  Tentunya, kondisi ini membuat Jonatan Christie mengemban tugas berat.

Dia akan menantang Superdan, julukan Lin Dan, di babak I China Open 2017. Tugas ini semakin berat karena dukungan publik pasti akan mendukung Lin Dan.

Yang membuat Jonatan dalam posisi tak diunggulkan lainnya adalah rekor pertemuannya dengan Lin Dan. Dalam empat kali pertemuan, Jonatan hanya sekali menang. (*)

Cedera, Kido/Irfan Kalah WO

PENONTON di GOR Sudirman, Surabaya, masih enggan beranjak. Meski, jam di tempat tersebut sudah lebih dari pukul 17.00 pada Sabtu (11/11/2017).

Partai pemungkas yakni final ganda putra sangat ditunggu-tunggu. Ini karena laga pemungkas mempertandingkan dua pasangan yang mempunyai nama besar di pentas dunia.

 Mereka adalah Markis Kido dan Hendra Aprida Gunawan. Hanya, di Sirkuit Nasional (Sirnas) Jatim Premier 2017 ini, keduanya bukan satu pasangan.Kido berduet dengan rekan satu klubnya di Jaya Raya, Irfan Fadilah. Sedang Hendra yang berasal dari Djarum Kudus bertandem dengan Rizko Azuro (Pertamina).

 Sayang, sebuah pengumuman mengabarkan bahwa Hendra/Rizko sudah dinobatkan menjadi juara. Lho apa apa? ''Irfan cedera. Dia tak bisa tampil di final,'' ujar Wasekjen PP PBSI Wijanarko Adi Mulya.

 Cedera itu, ungkap Wijar, sapaan karib Wijanarko Adi Mulya, dialami usai bertanding di final nomor ganda campuran. Berpasangan dengan Kesya Nurvita (Berkat Abadi Banjarmasin), mereka harus bertarung rubber game 15-21, 21-17, 15-21 dari pasangan mantan nomor delapan dunia Riky Widianto/Richi Dili (Tjakrindo Masters/SGS Bandung). Total waktu kedua pasangan bertarung selama satu jam. Karena batal tampil, Kido pun tak terlihat dalam acara penyerahan hadiah. (*)

Enam Kali Main, Lima Kali Juara

ACUNGAN jempol layak diberikan kepada Kento Momota. Mantan tunggal putra nomor satu dunia asal Jepang tersebut selalu menembus babak final dalam setiap turnamen yang diikuti. Hebatnya lagi, hanya sekali dia gagal menjadi juara dalam enam event.

Kegagalan tersebut hanya terjadi saat dia mulai turun di awal ini yakni Canada Open Juli lalu. Selebihnya, di Graphics International Series, Belgian International, Czech Open, Dutch Open, dan Macau Open, Kento selalu juara.

 Di Macau Open yang berakhir Minggu (12/11/2017), Kento mengalahkan tunggal Indonesia Ihsan Maulana Mustofa dengan dua game mudah 21-16, 21-10. Ini menjadi kemenangan keduanya atas wakil merah putih tersebut.

 Sebelumnya, Kento menang dalam Kejuaraan Beregu Asia 2016 di India. Ketika itu, dia menang 21-17, 21-7.

Peringkat Kento sempat merosot hingga 200-an. Masalah hukum yang menjerat membuat dia harus absen lama.

Tapi, setelah bebas, rankingnya berlahan naik. Kini, dia sudah berada di posisi 77 dunia. Tak menutup kemungkinan, posisi Kento akan terus naik. (*)

Ade/Wahyu Bukukan yang Pertama

GELAR juara kembali disabet Ade Yusuf/Wahyu Nayaka. Itu setelah keduanya memenangi Macau Open 2017.

 Dalam turnamen yang masuk kategori grand prix gold tersebut, Ade/Wahyu, yang tak masuk unggulan, menang dua game 21-13, 21-14 atas pasangan Korea Selatan Kim Won-ho/Seung Jae-seo. Pertandingan dilaksanakan Minggu (12/11/2017) waktu setempat.

“Perasaannya senang pasti bisa juara di sini. Kami kan mulai dari nol lagi sebagai pasangan. Sebenarnya berat. Tapi tadi kami main yakin saja, nggak mau mikir jauh. Tapi fokus poin terus,” kata Wahyu seperti dikutip media PBSI.

 Sebelumnya, pada tahun ini, pasangan yang sempat berpisah tersebut sudah naik ke podium terhormat di Victor International Series dan Vietnam Grand Prix.

Sejak dilaksanakan kali pertama pada 2006, baru 2017 wakil merah putih mampu menjadi juara di nomor ganda putra. Sayang, sukses Ade/Wahyu gagal diikuti oleh Ihsan Maulana Mustofa di nomor tunggal. Pebulu tangkis yang juga digembleng di Pelatnas Cipayung harus mengakui mantan tunggal nomor satu dunia Kento Momota dari Jepang dengan straight game 21-16, 21-10.

Hasil ini menjadi capaian terbaik bagi Ihsan. Pebulu tangkis yang sempay dibekap cedera ini di berbagai turnamen yang diikuti lebih banyak tumbang di babak-babak awal. (*)

Tangguh di Bukan Kelasnya

Jumat, 10 November 2017

LANGKAH unggulan teratas nomor ganda campuran kelompok dewasa Tri Kusuma Wardhana/Suci Rizki Andini terhenti. Keduanya gagal menembus babak final Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Timur Premier 2017.

Pada pertandingan yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, Jumat (10/11/2017), Tri Kusuma Suci menyerah kepada pasangan nonunggulan Riky Widianto/Richi Dili dengan rubber game 16-21, 21-10, 21-19. Meski bukan unggulan, tapi kualitas pasangan beda klub, Riky dari Tjakrindo Masters Surabaya dan Richi (SGS Bandung) tak bisa dipandang sebelah mata.

Riky/Richi pernah menjadi ganda campuran nomor dua Indonesia setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Bahkan, mereka pernah menduduki peringkat delapan dunia pada 2015. Di tahun yang sama, Riky/Dili juga pernah menjadi juara India Grand Prix Gold. Tahun lalu, mereka menembus final India Super Series. Sayang, penampilan keduanya yang labil membuat mereka terpental dari Pelatnas PBSI.

Pada ajang Sirnas 2017, Riky/Richi pernah merasakan menjadi juara. Mereka mengukirnya di Seri Indonesia Timur yang dilaksanakan di Manado, Sulawesi Utara, pada Maret lalu.

Pada babak final Sirnas Jatim Premier 2017, Riky/Richi akan menantang Irfan Fadilah/Keshya Nurvita (Jaya Raya Jakarta/Berkat Abadi Banjarmasin). Di semifinal, mereka menundukkan unggulan kedua Tedi Supriyadi/Devi Tika Permatasari (Djarum Kudus/Berkat Abadi Banjarmasin) dengan 13-21, 21-17, 21-7.

Sebelumnya, Devi selalu merajai nomor ganda campuran di ajang sirnas. Hanya, pasangannya bukan Tedi tapi Ardiansyah. (*)

Babel Tuan Rumah Kejurnas 2017

Kamis, 09 November 2017

PROVINSI Bangka Belitung dapat amanah dari PP PBSI. Daerah yang pernah menjadi bagian dari Sumetara Selatan (Sumsel) tersebut ditunjuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bulu Tangkis 2017.

Ajang bergengsi itu dilaksanakan di Pangkalpinang pada 28 November hingga 2 Desember mendatang. Kepastian ini menyusul kesepakatan antara Ketua Harian PP PBSI, Alex Tirta dengan Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan hari ini (9/11).

"Ada dua hall yang akan dipakai yaitu GOR Sahabudin dan GOR Kacang Pedang", kata Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto.

Kejurnas 2017 akan memainkan kategori perorangan dan dibagi ke dalam dua divisi, yaitu divisi I dan divisi  II. Setiap divisi kemudian akan dibagi menjadi dua kelompok usia, dewasa dan taruna.

Setiap tahunnya, Kejurnas secara berseling mempertandingkan nomor perorangan dan beregu.

Tahun lalu, Kejurnas PBSI 2016 mempertandingkan nomor beregu. Pada laga yang berlangsung di GOR Sritex, Solo, Jawa Tengah, tersebut Djarum Kudus tampil sebagai juara. (*)

Hasil Kejurnas 2015

Tunggal Putra : Jonatan Christie

Tunggal Putri : Fitriani

Ganda Putra : Berry Angriawan/Rian Agung Saputro

Ganda Putri : Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari

Ganda Campuran : Rafiddias Akhdan Nugroho/Vita Marissa.

Eks Pelatnas Dominasi Tunggal Putra

PENAMPILAN para tunggal putra mantan penghuni Pelatnas PBSI cukup mendominasi di Sirkuit Nasional (Sirnas) Jatim Premier 2017. Dari empat semifinalis kelompok dewasa, tiga di antaranya pernah menyandang status pebulu tangkis nasional.
Mereka adalah Alamsyah Yunus, Wisnu Yuli, dan Riyanto Subagja. Satu semifinalis lagi adalah Vicky Angga Saputra.
 Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan di GOR Sudirman, Surabaya, Kamis (9/11/2017), keempatnya mengalahkan lawan-lawannya. Alamsyah, yang kini membela Asep Suharno Badminton Academy Jakarta dan diunggulkan di posisi teratas, menang dua game 21-16, 23-21 atas Fahmi Mubarok (CWIBC Tangsel). Di semifinal, Alamsyah akan ditantang Wisnu Yuli, unggulan keempat yang kini membela Djarum Kudus. Wisnu lolos usai melibas pebulu tangkis Fastron Pertamina Setyaldi Putra Wibowo dengan straight game 21-4, 21-14.
 Sementara,Riyanto (Djarum Kudus) dipaksa bertarung tiga game 18-21, 22-20, 21-16 oleh Christofel Patricia (Mentari RBT). Unggulan keenam ini bersua dengan Vicky (Tangkas Jaksel), yang menempati unggulan kedua, yang di perempat final unggul 21-13, 21-14 atas Nugroho Andi Saputro.
 Pekan lalu di Sirnas Seri Nusa Tenggara Barat, Vicky mampu menjadi juara. Hasil tersebut membuatnya mengoleksi dua gelar setelah sebelumnya juga merajai Sirnas Wilayah Timur di Manado, Sulawesi Utara.
 Semifinalis lainnya yang pernah menjadi juara Sirnas 2017 adalah Wisnu. Mantan pebulu tangkis Surya Baja, Surabaya, ini menjadi pemenang di Sirnas Seri Jawa Barat. (*)


Juara Dunia Junior Pulang Awal

Juara Dunia Junior Angkat Koper

MEREKA datang ke Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Timur Premier 2017 dengan status mentereng. Rinov Rivaldy/Pitha Hayuningtyas merupakan juara dunia junior tahun ini yang dilaksanakan di Jogjakarta bulan lalu.

Gelar yang disumbangkan Rinov/Pitha mengobati kerinduan Indonesia yang gagal menempatkan wakilnya naik ke podium terhormat di nomor ganda campuran dalam empat tahun terakhir. Apalagi, dalam final, Rinov/Pitha mengalahkan rekannya sendiri, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia dengan tiga game 21-23, 21-16, 21-18.

 Tapi, gelar tersebut seakan tak berarti ketiak Rinov/Pitha naik ke jenjang senior. Bahkan, sungguh ironis.

 Rinov/Pitha langsung tersingkir di babak II nomor ganda campuran Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Timur Premier 2017. Keduanya dipermalukan pasangan anyar Jaya Raya Reza Dwi Cahya/Bellaetrix Manuputty dengan rubber game 15-21, 21-19, 16-21 di GOR Sudirman, Surabaya, Rabu (8/11). Di babak I, kedua pasangan sama-sama memperoleh bye.

 Nasib yang sama juga dialami Rehan. Runner-up juara dunia ini Hanya, di Sirnas Jawa Timur Premier 2017 ini bukan berpasangan dengan Siti. Putra salah satu legenda hidup bulu tangkis Indonesia Tri Kusharjanto tersebut diduetkan dengan Angelica Wiratama. Pasangan ini kalah dua game langsung 20-22, 11-21 dari unggulan kedua Tedi Supriyadi/Devi Tika.

 Khusus bagi Bellaetrix, kemenangan di nomor ganda campuran ini jadi pengobat duka sehari sebelumnya. Turun di nomor yang sebenarnya menjadi spesialisnya, tunggal putri.

 Bella, sapaan karib Bellaetrix, kalah dari Isra Fadillah dari Pelatnas PBSI dengan rubber game 16-21, 24-22, 21-23. ''Saya latihannya banyak di ganda campuran, '' ungkap pebulu tangkis yang sudah dua tahun absen tersebut. (*)

Debut Buruk Mantan Tunggal Terbaik Indonesia

Selasa, 07 November 2017

DEBUT mengecewakan Bellatrix Manuputty. Dia langsung tersingkir di babak I tunggal putri Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Timur Premier 2017.

Mantan andalan Indonesia tersebut menyerah tiga game 16-21, 24-22, 21-23 dari wakil Pelatnas PBSI Isra Faradila di GOR Sudirman, Surabaya, pada Selasa (7/11/2017). Penampilan di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tersebut merupakan yang pertama di  nomor tunggal.

Sebelumnya, Bella, sapaan karib Bellaetrix, sudah berlaga di ajang internasional yakni di Vietnam Open 2017 September dan Indonesia International Challenge 2017 pekan lalu. Hanya, dalam dua event tersebut, dia turun di nomor ganda berpasangan dengan Brigita Marcelia Rumambi.

Di Vietnam Open, mereka kalah di babak kedua kualifikasi dan di Indonesia International Series tersingkir di babak 16 besar babak utama. Untuk tunggal, Bella belum sekali pun turun.

Dia absen lama dari pentas bulu tangkis.Bahkan, pada 2016, tak sekali pun Bella mengayunkan raket.

Ini setelah dia mengalami cedera saat membela Indonesia di pentas Piala Sudirman 2015 di Tiongkok. Petaka itu terjadi ketika Bella menantang andalan tuan rumah Li Xuerui dan unggul 5-3 di game pertama. (*)

Belum Berhasil Jadi Juara

Senin, 06 November 2017

PASANGAN Fajar Alfian/M. Rian Ardianto gagal menjadi juara di Bitburger Open 2017. Di final yang dilaksanakan di Saarbrucken pada Minggu waktu setempat (5/.11/2017), keduanya dikalahkan unggulan kedua asal Denmark Kim Astrup/Anders Rasmussen dengan tiga game yang ketat 19-21, 21-19, 18-21.

Kegagalan ini membuat Fajar/Rian belum pernah naik podium terhormat selama 2017. Capaian terbaik  sebelumnya hanya sampai babak semifinal.

 Ini merupakan pertemuan perdana dari kedua pasangan. Hanya, dari sisi peringkat, Fajar/Rian memang kalah. Dari ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru, Kim/Anders yang ada di posisi ke-18 atau tiga setrip di atas wakil merah putih.

 Usai dari Jerman, Fajar/Rian akan dikirim lagi oleh PBSI. Terdekat, mereka turun di Hongkong Open 2017 yang dilaksanakan 21-26 November. Ajang dengan hadiah total USD 400 ribu ini masuk kategori super series. (*)

Rindu Menanti Bella Tampil

Minggu, 05 November 2017

SUDAH hampir dua tahun Bellaetrix Manuputty menghilang. Cedera membuat mantan tunggal putri nomor satu Indonesia tersebut absen lama.

Namun, kini aksinya bisa disaksikan lagi. Nama Bella,sapaan karib Bellaetrix Manuputty, ada dalam daftar peserta Sirkuit Nasional Jawa Timur Premier 2017 yang dilaksanakan di Surabaya pada 6-11 November .

Tapi, tugas berat langsung menghadang pebulu tangkis yang berasal dari Jaya Raya Jakarta tersebut. Bella ditantang penghuni Pelatnas Cipayung Isra Faradilla.

Di atas kertas, Bella akan menang. Hanya jika kondisinya belum pulih 100 persen, dia bisa langsung angkat koper.

Bella sendiri mengalami cedera ketika membela Indonesia di Piala Sudirman 2015. Dia sempat naik ke meja operasi. (*)

Juara Olimpiade dan Dunia Junior Ambil Bagian

GENGSI Sirkuit Nasional Jawa Timur Premier 2017 terjaga. Beberapa pebulu tangkis top akan ikut ambil bagian dalam ajang yang dilaksanakan di Surabaya pada 6-11 November tersebut.

Peraih emas Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido akan ikut ambil bagian. Dia berpasangan dengan dengan rekannya di klub Jaya Raya yang juga pernah dilatih di Pelatnas PBSI Irfan Fadilah.
Mereka diunggulkan di posisi kelima.

Selain itu, di nomor ganda campuran, mantan pasangan yang pernah menembus ranking 10 dunia Riky Widianto/Richi Dili Puspita juga ikut ambil bagian. Persaingan di nomor ganda campuran kelompok dewasa semakin ketat.

Ini seiring dengan turunnya juara dunia junior 2017 Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas. Keduanya membela bendera Pelatnas PBSI.

"Peserta juga akan terangsang dengan jumlah hadiah yang naik. Kalau tahun lalu Rp 260 juta sekarang menjadi Rp 300 juta," kata Ketua Panpel Sirnas Jawa Timur Premier 2017 Bayu Wira pada Minggu (5/11/2017).

Jumlah peserta, jelasnya, untuk tahun ini 706. Pelatnas PBSI sendiri mengirimkan 10 pebulu tangkis.

Hanya, mereka bukan lapis utama. Mayoritas adalah para pebulu tangkis yang baru aja berlaga dalam Kejuaraan Dunia Junior di Jogjakarta bulan lalu. (*)

Semoga Cocok buat Gloria

Sabtu, 04 November 2017

GLORIA Emanuelle Widjaja sempat memberikan harapan besar di kancah bulu tangkis. Pada 2011, dia mampu menjadi juara dunia junior.

Kala itu, Gloria berpasangan dengan Alfian Eka Prasetyo. Di babak final, mereka mengalahkan sesama wakil Indonesia Ronald Alexander/Tiara Rosalia dengan 12-21, 21-17, 25-23.

Posturnya yang tinggi menjulang,182 centimeter, juga menjadi nilai plus bagi gadis yang kini berusia 23 tahun tersebut. Sayang, sampai saat ini, harapan tersebut belum bisa terealisasi.

 Bahkan, PBSI harus beberapa kali mencarikan pasangan yang pas bagi Gloria. Mulai dari Alfian, Edi Subaktiar, hingga pebulu tangkis senior Tontowi Ahmad.

 Kini, atlet binaan PB Djarum Kudus tersebut punya gandengan baru. Di Bitburger Open 2017, Gloria dipasangkan dengan Hafiz Faizal.

 Hasilnya tak mengecewakan. Langkah Gloria/Hafiz sudah sampai babak semifinal. Padahal, keduanya bukan masuk unggulan. (*)

Tumpas Sudah Tunggal Putri

Jumat, 03 November 2017

LANGKAH Dinar Dyah Ayustine di Bitburger Open 2017 terhenti. Penghuni Pelatnas Cipayung tersebut tersandung di babak perempat final.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan Jumat waktu setempat, Dinar kalah mudah dua game 8-21, 16-21 kepada unggulan keempat asal Tiongkok Chen Xiaoxin. Hasil ini membuat Indonesia sudah tak menempatkan wakil di nomor tunggal putri.

Sebelumnya, rekan Dinar di Pelatnas Cipayung, Hanna Ramadini, sudah tersingkir di babak II. Dia harus mengakui ketangguhan wakil Taiwan Pai Yu Po dengan tiga game 21-17, 19-21., 16-21.

Pertemuan Dinar dengan wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut merupakan yang pertama. Hanya, secara ranking, wakil merah putih tersebut kalah.

Saat ini, Chen ada di posisi 16. Sedangkan Dinar di ranking 40.

Sejak dilaksanakan 1988, hanya sekali Indonesia mampu menjadi juara. Posisi terhormat tersebut disabet Maria Febe Kusumastuti pada 2008. Ketika itu, dia mengalahkan Aditi  Mutatkar (India) dengan 22-24, 21-8, 23-21.(*)

Junior Peraih Medali Dapat Apresiasi

Kamis, 02 November 2017

LIMA pebulu tangkis muda Indonesia dapat apresiasi. Ini imbas dari hasil BWF World Junior Championshis 2017 yang digelar di GOR Among Rogo, Yogyakarta pada 9-22 Oktober.

Mereka yang mendapat adalah yang berhasil mempersembahkan medali emas dan medali perak. Selain penghargaan, para atlet masa depan Indonesia itu memperoleh bonus senilai lebih dari Rp 150 juta.

Bertempat di Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Kamis (2/11) siang, PB Djarum bersama PB Mutiara Cardinal memberikan bonus tersebut kepada peraih medali emas ganda campuran Rinov Rivaldy (PB Djarum) dan medali emas tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung (PB Mutiara). Juga peraih medali perak ganda campuran Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti (PB Djarum) serta medali perak ganda putri Ribka Sugiarto (PB Djarum).

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada pelatih ganda campuran pelatnas pratama Nova Widianto yang mampu mengantarkan Indonesia menciptakan all Indonesian final di ajang tersebut.

Sebagai juara dunia ganda campuran, Rinov Rivaldy diguyur bonus uang tunai sebesar Rp 40 juta ditambah TV LED Polytron 43” dan home theatre dari PB Djarum. Bonus serupa diberikan PB Mutiara untuk juara dunia tunggal putri, Gregoria Mariska Tunjung. Sedangkan para peraih medali perak dan Nova Widianto mendapatkan TV LED Polytron 43” dan home theatre.

“Kita mencatatkan hasil luar biasa di nomor perorangan Kejuaraan Dunia Junior 2017. Ini adalah hasil yang fenomenal karena biasanya kita hanya mampu meraih satu emas tapi tahun ini bisa dua,” kata Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation seperti dikutip media PBSI.

Pihaknya menggandeng Mutiara Cardinal karena sama-sama memberikan bonus kepada para juara dan runner up ini sebagai apresiasi. Diharapkan, ujar Yoppi, ini menjadi pelecut semangat mereka untuk terus berlatih, tetap konsisten dalam bertanding dan meraih prestasi yang lebih banyak lagi.

Ditambahkan Yoppy, sedianya PB Jaya Raya juga diajak untuk bersama-sama memberikan apresiasi kepada atletnya yaitu Pitha Haningtyas Mentari (medali emas ganda campuran berpasangan dengan Rinov) dan Jauza Fadhila Sugiarto (medali perak ganda putri berpasangan dengan Ribka). Namun, PB Jaya Raya akhirnya memutuskan untuk membuat acara tersendiri pada turnamen Pembangunan Jaya 18 November nanti.

Sementara PB Mutiara yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan, Umar Jaidi mensyukuri hasil yang didapat Indonesia baik di level junior maupun senior dan berharap bisa terus konsisten hingga Asian Games 2018 yang dihelat di Jakarta dan Palembang.

“Terima kasih PB Djarum yang telah menggandeng PB Mutiara untuk menggelar acara syukuran bersama,” ucap Umar saat membuka sambutan di Galeri Indonesia Kaya.

Indonesia sukses menjadi juara umum di ajang BWF World Junior Championshis 2017 dengan torehan dua emas, dua perak dan satu perunggu. Ini melebihi target yang dicanangkan yaitu satu emas. Selain itu, Indonesia juga dibilang sangat sukses dalam hal penyelenggaraan, terlihat dari jumlah penonton laga final yang membludak hingga 6000-an lebih hingga semaraknya gala dinner di pelataran candi Prambanan. (*)

Lonjakan 17 Peringkat

LONJAKAN berarti dilalukan Gresyia Polii/Apriyani Rahayu. Dalam ranking BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) terbaru per 2 November, keduanya berada di peringkat 22 dunia.

Artinya, Greysia/Apriyani naik 17 setrip dibandingkan pekan lalu. Ini tak lepas dari hasil yang diraih pasangan anyar tersebut di turnamen super series, France Open 2017 pekan lalu.

Dalam ajang yang dilaksanakan di Paris tersebut, ganda yang memadukan atlet senior dan junior tersebut sukses menjadi juara. Di babak final, Greysia/Apriyani menumbangkan ganda Korea Selatan Lee Sho-hee/Shin Seung-chan dengan dua game langsung 21-17, 21-15.

Kemenangan tersebut sekaligus menjadi gelar kedua bagi pasangan yang ditandemkan usai Piala Sudirman 2017 tersebut. Sebelumnya, mereka memenangi Thailand Grand Prix Gold 2017.

Usai juara di Negeri Mode, julukan Prancis, Greysia/Apriyani akan ditantang dalam dua ajang bergengsi, China Open Super Series Premier dan Hongkong Super Series. Seperti sebelumnya, mereka datang dengan status nonunggulan. (*)

Tak Menduga Cepat Meraih Gelar

Rabu, 01 November 2017

KEPALA Pelatih Ganda Putri PBSI Eng Hian mengekspresikan apresiasinya atas raihan Greysia/Apriyani. Pasangan senior-junior ini merupakan hasil racikannya yang baru dipasangkan pada Piala Sudirman 2017, Mei lalu.

“Waktu melihat hasil pertandingan mereka di Korea dan Jepang Open, saya bilang sama Chafidz (Yusuf – Asisten Pelatih Ganda Putri PBSI). Kalau melihat performa Greysia/Apriyani begini, tinggal nunggu waktu saja, kapan pecah telor (dapat gelar). Melihat kualitas mereka, memang sudah bisa bersaing di kelas atas. Namun cukup surprise juga mereka menangnya di Perancis, tidak menduga secepat ini,” ujar Didi, sapaan karib Eng Hian, seperti dikutip media PBSI.

Menurutnya, setelah meraih gelar ini, tugas Greysia/Apriyani tentu belum selesai. Keduanya bahkan harus mampu mengontrol ekspektasi berbagai pihak yang dibebankan kepada mereka ke depannya.

“Harus bisa menjaga ekspektasi diri sendiri, pengurus PBSI dan masyarakat. Pokoknya sekarang fokus dulu ke diri sendiri,” ungkap mantan pebulu tangkis yang pernah membela Inggris tersebut.

Usai dua tur Eropa, para pebulu tangkis akan bersiap mengikuti kejuaraan China Open Super Series Premier 2017 dan Hongkong Open Super Series 2017. Para pebulu tangkis elite juga tengah berburu poin untuk dapat tampil di kejuaraan bergengsi BWF Final Super Series 2017 di Dubai.

Di France Open Greysia /Apriyani menumbangkan Lee So Hee/Shin Seung Chan (Korea Selatan) dengan skor 21-17, 21-15.  (*)

Hanna Punya Modal Kuat

AWAL yang mudah bagi Hanna Ramadini dan Dinar Dyah di Bitburger Open 2017. Keduanya mampu mengalahkan lawan-lawannya di babak I dalam ajang yang dilaksanakan di Jerman tersebut.

Hanna menang dua game 21-16, 21-13 atas Delphine Lansac dari Prancis pada Rabu waktu setempat (1/11/2017). Sementara, Dinar juga unggul straight game 21-11, 21-15 atas pebulu tangkis Swiss yang lolos dari babak kualifikasi Sofie Dahl.

Di babak kedua, Hanna menjajal ketangguhan Pai Yu Po. Wakil Taiwan ini lolos usai menumbangkan unggulan ketiga Busanan Ongbamrungphan (Thailand) dengan 21-19, 12-10. Game kedua tak dilanjutkan karena Busanan mengundurkan diri.

Hasil ini membuat kans Hanna menembus perempat final lebih terbuka. Busanan merupakan momok bagi pebulu tangkis peringkat 35 dunia tersebut. Dalam tiga kali pertemuan, Hanna tak pernah menang.

 Sebaliknya dengan Pai, yang punya ranking 51 dunia. Hanna menang tiga kali dan hanya sekali kalah. Kemenangan terakhir dipetiknya di  New Zealand Open 2017 dengan 21-12, 21-19.  (*)

Wakil Sakura Jajal Pebulu Tangkis Pelatnas

Selasa, 31 Oktober 2017




PB Sakura Surabaya sejajar dengan klub-klub elite di Indonesia. Itu setelah salah satu pebulu tangkisnya, Aldo Purnomo, bisa berlaga di ajang Sirnas Jawa Timur Premier 2017 yang dilaksanakan di Surabaya pada 6-11 November.

''Aldo sudah mempunyai ID PBSI. Sehingga, dia sudah bisa turun dan bermain di kelompok tunggal putra dewasa,'' kata pemilik PB Sakura Ade Darma.

Dia mengaku mengucapkan banyak terima kasih kepada beberapa pihak yang membantu Aldo memiliki ID PBSI. Sehingga, atlet asal Tuban tersebut sudah bisa turun ke pertandingan resmi di bawah kalender PBSI.

''Hanya, sekarang, kondisi Aldo belum fit 100 persen. Engkelnya masih sakit,'' ujar Ade.

Dia berharap pada saat sirnas, Aldo sudah pulih. Di babak I Sirnas Jatim Premier, pebulu tangkis yang mirip dengan mantan tunggal terbaik Jepang Kenichi Tago tersebut memperoleh bye.

Nah, baru di babak II, dia mendapat lawan yang tak boleh di pandang sebelah mata. Aldo, yang lama berada di Singapura, bersua dengan wakil Pelatnas PBSI, Ramadhani M. Zulkifli.

''Semoga Aldo bisa berada dalam penampilan terbaiknya,'' tandas Ade. (*)

Nitya Kembali Tampil

PENANTIAN Nitya Krishinda Maheswari bisa tampil berakhir. Namanya terdaftar turun dalam Macau Open Grand Prix Gold 2017 yang dilaksanakan pekan depan.

Hanya, kini, dia tak lagi berpasangan dengan tandem lamanya, Greysia Polii. Pebulu tangkis asal Blitar tersebut dipasangkan dengan Yulfira Barkah. Di babak I, Nitya/Yulfira berjumpa dengan pasangan yang lolos dari babak kualifikasi.

Sebelumnya, Nitya lama absen karena cedera yang dialami. Ini membuat PBSI khususnya pelatih Eng Hian pun melakukan bongkar pasang. Greysia yang sudah senior dipasangkan dengan Apriyani.

Racikan Didik, sapaan Eng Hian, ternyata ampuh. Greysia/Apriyani sudah meraih dua gelar. Yang lebih spektakuler, Minggu lalu (29/10/2017), keduanya mampu naik ke podium terhormat turnamen super series, France Open 2017. Padahal, Greysia/Apriyani bukan masuk daftar unggulan.

Ini semakin membuat PBSI bakal tak memisahkan mereka. Artinya, pasangan Greysia/Nitya susah untuk disatukan lagi. Meski, keduanya pernah menyelamatkan muka Indonesia dalam Asian Games 2016. Ketika itu, mereka meraih emas ganda putri. (*)

Ke Cipayung untuk Persiapan

KONSENTRASI Sony Dwi Kuncoro tengah tercurah ke dua ajang bergengsi. Dia bersiap berlaga di China Open Super Series Premier dan Hongkong Super Series 2017.

Keduanya dilaksanakan November ini. China Open, yang menyediakan hadiah total USD 700 ribu, dilaksanakan di Fuzhou pada 14-19 November. Sementara Hongkong Open yang berhadiah USD 400 ribu dilaksanakan sepekan kemudian (21-26 November).

''Saya harus memulai dari babak kualifikasi. Ranking saya belum bisa untuk langsung ke babak utama,'' kata Sony.

Saat ini, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut terdampar di posisi 67. Ranking itu masih jauhg dari jalan ke babak utama.

Namun, itu tak membuat Sony patah semangat. Dia tetap berangkat ke kedua ajang tersebut.

Bahkan, sebagai persiapannya, juara tiga kali Asia dan peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut kembali berlatih di Pelatnas Cipayung.Hanya durasinya tak lama.

''Saya hanya empat hari di sana. Biar nggak kaget ,'' ujar bapak dua putri ini. (*)

Baru Berat di Babak II

TUNGGAL putri Indonesia terus diberi kesempatan berkembang. Memang, ajang yang diikuti bukan level tinggi, super series atau super series premier.

PBSI mengirim srikandi-srikandi Cipayung di turnamen di bawahnya. Seperti yang dilakukan pekan ini di Bitburger Open. Dalam ajang level grand prix yang dilaksanakan di Jerman itu, induk organisasi bulu tangkis Indonesia tersebut mengirim dua wakil, Hana Ramadini dan Dinar Dyah.

Untuk bicara juara memang termasuk mustahil. Hanya, menembus babak kedua bukan hal yang susah.

Di babak I, Hana ditantang wakil Prancis Delphine Lansac. Sedangkan Dinar berhadapan dengan wakil dari kualifikasi.

Nah, baru di babak kedua, kemampuan dan kualitas Hana dan Dinar. Besar kemungkinan, Hana akan bersua dengan unggulan ketiga asal Thailand Busanan Ongbamrungphan dan Dinar juga menantang pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, Pornpawee Chochuwong, yang merupakan unggulan ketujuh. (*) 

Paris Bersahabat bagi Tontowi/Liliyana

Senin, 30 Oktober 2017

FRANCE Open bersahabat bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Setelah pada 2014, kali ini keduanya kembali mampu naik ke podium juara dalam turnamen yang masuk level super series tersebut.

Dalam final yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat (29/10/2017), Tontowi/Liliyana menghentikan perlawanan Zheng Siwei/Chen Qingchen, unggulan teratas dari Tiongkok, dengan dua game langsung 22-20, 21-15.

Kemenangan ini juga membuat Siwei/Qingchen, yang juga pasangan nomor satu dunia tersebut, membayar kekalahan di final World Championships 2017.

Penampilan Tontowi/Liliyana di final memang luar biasa. Ketinggalan 3-9 tak membuat semangat mereka padam.

Ketenangan dan kesabaran di lapangan membuat pasangan peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 ini justru membuat Zheng/Chen kerepotan. Penempatan bola Liliyana dan smash Tontowi seringkali gagal dikembalikan dengan baik.

“Kunci kemenangan kami memang bermain tenang dan bisa menikmati permainan dan merasa rileks. Kami tidak mau memikirkan menang atau kalah, coba yang terbaik saja dulu. Kami tahu mereka mau balas kekalahan, jadi kami tetap fokus terus. Zheng/Chen adalah pasangan yang bagus, kami tidak mau memberi kesempatan kepada mereka,” ujar Tontowi usai laga seperti dikutip media PBSI.

Dia mengakui sudah sering bertemu Zheng/Chen. Apalagi, dalam dua pertemuan terakhir, Tontowi/LIliyana bisa menang.

''Ini menjadi modal buat kami, membuat kami percaya diri. Gelar-gelar penting sudah kami dapatkan, seharusnya kami tampil rileks di turnamen level super series,” tambah Liliyana.

BWF Super Series Finals 2017 menjadi target selanjutnya bagi Tontowi/Liliyana pada penutup tahun. Mereka juga tercatat bakal mengikuti China Open Super Series Premier 2017 serta Hongkong Open Super Series 2017.

“Kami sudah enam kali tanding di super series finals dan belum pernah tembus semifinal. Dengan bekal gelar di tahun 2017 ini serta penerapan strategi yang benar, komunikasi terus sama Owi, saya yakin kami bisa juara di sana, mudah-mudahan kami bisa,” ujar Liliyana. (*)

Super Series pun Diraih

KEJUTAN ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu mencapai klimaks. Mereka mampu membawa pulang gelar dari turnamen super series, French Open 2017.

Dalam final yang dilaksanakan Minggu waktu setempat (29/10/2017), Greysia/Apriyani mengalahkan waki; Korea Selatan (Korsel) Lee So- hee/Shin Seung-chan dengan straight game 21-17, 21-15. Pasangan senior-junior ini merupakan racikan baru Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI, Eng Hian yang diduetkan pada Mei 2017 lalu. Sebelumnya, Greysia/Apriyani juga menjadi juara di Thailand Open Grand Prix Gold 2017.

Dalam partai final, Lee/Shin, yang akhir-akhir ini tampil baik di sejumlah turnamen, tak dapat meredam strategi permainan yang diterapkan Greysia/Apriyani. Juara Denmark Open Super Series Premier 2017 ini terlihat tak dapat mengembangkan permainan mereka seperti biasanya. Sebaliknya, Greysia/Apriyani tampil memukau dengan kontrol penuh dalam pertandingan.

“Kami sudah mempelajari permainan lawan, tadi pagi diskusi lagi sama pelatih, bagaimana sih pola main Lee/Shin? Kami well prepared banget, dan kami bisa mengaplikasikan di lapangan. Yang bisa bantu kami aplikasikan strategi adalah kekuatan mental,” kata Greysia seperti dikutip dari media PBSI

Dia mengaku senang dengan penampilan di babak pemungkas. Apri, sapaan karib Apriyani, bia kontrol semua.

''Apalagi final, bukan pertandingan yang mudah. Namun dia bisa stabil, percaya diri dan ini membantu saya di lapangan,'' puji Greysia.

Greysia yang lebih senior, sudah sering mencicipi podium juara. Berbeda dengan Apriyani yang merupakan pemain muda, ini adalah pengalaman pertama baginya.

“Rasanya masih tidak percaya, karena saya senang banget. Dari awal memang saya diminta untuk percaya diri, awalnya sempat ragu, tapi saya dibimbing senior dan pelatih saya. Saya bingung mau berkata apa lagi, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” sebut Apriyani sambil mengusap air mata haru.

Perjalanan Greysia/Apriyani Menuju Podium Juara
Babak I: vs Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark) 21-17, 21-8

Babak II: vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (x4/Jepang) 21-19, 21-18

Perempat Final: Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (x7/Jepang) 19-21, 21-13, 21-19

Semifinal: vs Chen Qingchen/Jia Yifan (x2/China) 21-5, 21-10

Final: vs Lee So-hee/Shin Seung-chan (Korsel) 21-17, 21-15

Kembali Bisa Ungguli Ganda Malaysia

Sabtu, 28 Oktober 2017

KEKALAHAN atas Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia) di Australia Open 2017 cukup menyiksa Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka pun siap membalasnya jika kembali bersua.

Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Tontowi/Liliyana berjumpa dengan pasangan negeri jiran tersebut di perempat final French Open Super Series 2017.  Hasilnya, pasangan Indonesia menang 19-21, 21-14, 21-12 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Paris pada Jumat waktu setempat (27/10/2017). Skor pertemuan kini kembali diungguli Tontowi/Liliyana dengan kedudukan 2-1.

“Permainan kami di game pertama tadi dibilang jelek juga enggak, karena poinnya mepet. Tetapi kami kurang tenang di akhir. Lalu kami tidak mau memikirkan kekalahan di game pertama dan coba lagi di game kedua, kalau berusaha pasti ada jalan,” Liliyana seperti dikutip dari media PBSI.

 Namun, di game kedua dan ketiga, Liliyana menjelaskan, dia dan Tontowi melakukan tugas masing-masing dengan baik. Mereka bisa mengontrol permainan dan tampil lebih tenang.

“Lawan bermain cukup baik, tidak mudah dimatikan. Kalau tadi kami lengah, bisa berbahaya,” ungkap Tontowi.

Di babak semifinal, Tontowi akan berhadapan dengan wakil dari Tiongkok Zhang Nan/Li Yinhui.“Kami sudah sering bertemu. Kami harus lebih tenang di lapangan, karena kalau main tenang, aura juara kami keluar. Kalau sudah begini, lawan jadi ragu-ragu,” pungkas Liliyana. (*)

Rasakan Semifinal Pertama Super Series

KEJUTAN diukir Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Datang dengan status nonunggulan, keduanya berhasil menapaki babak semifinal French Open Super Series 2017. Bagi Apriyani yang lebih muda, ini adalah laga semifinal super series pertama dalam kariernya. Tiket semifinal direbut Greysia/Apriyani dengan menumbangkan ganda putri Jepang, Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto, dengan 19-21, 21-13, 21-19 dalam tempo permainan 76 menit.

Greysia/Apriyani sempat dibayangi kekalahan atas Tanaka/Yonemoto saat ditaklukkan pekan lalu di Denmark Open Super Series Premier 2017. Saat itu, Greysia/Apriyani kalah di saat poin-poin kritis.

“Waktu memimpin 20-18 itu memang sempat teringat kejadian di Denmark, lalu saya membuat kesalahan dan kedudukan menjadi 19-20. Saat itu saya berdoa dan berusaha untuk positif. Dari evaluasi kemarin kan memang Apri harus lebih tenang di saat-saat seperti ini. Dari segi permainan, kami terus memaksa untuk terus di pola kami, tidak mau lagi terbawa pola lawan seperti di pertemuan sebelumnya,” kata Apriyani seperti dikutip dari media PBSI.

Ketika kedudukan genting 20-19 setelah Apriyani gagal menyeberangkan shuttlecock, Greysia tampak menenangkan pasangannya yang lebih muda tersebut. Dia bilang ke Apriyaji, menang atau kalah, pasti dapat pelajaran dari pertandingan ini.

''Yang penting kami jangan sampai kehilangan aura kalau ingin menang. Tenang tapi tetap aktif. Ini yang sepanjang pertandingan saya katakan ke Apri,” ungkap Greysia ketika .

Greysia/Apriyani menjadi wakil Indonesia kedua yang lolos ke babak semifinal. Di ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sudah lebih dulu melaju. (*)

Felix Anthonius, Pelatih Junior Berbakat asal Hi-Qua Wima

Kamis, 12 Oktober 2017

Felix (dua dari kiri) di podium SBI 2014 di Surabaya
Pensiun Muda, Pernah Berpasangan dengan Juara Dunia



Berhenti di usia muda sebagai atlet tak membuatnya patah semangat. Sebaliknya, Felix Anthonius tertantang mencetak pebulu tangkis berprestasi.

--
SEORANG lelaki tengah duduk di sebuah pojok restoran cepat saji. Dengan memakai jaket warna merah, dia tampak memenangi telepon seluler.

Penulis kemudian datang menghampiri. Tak lama kemudian, lelaki bernama Felix Anthonius tersebut mengajak penulis masuk dan memesan makanan.

Empat buah ayam dan dua bungkus nasi dipesannya. Dua piring pun dibawa ke meja di bagian luar.

Rupanya, Felix usai menangani anak asuhnya di Hi-Qua Wima Surabaya. Dia pun juga bakal segera kembali melatih anak asuhnya di klub yang sama.

''Istirahat sebentar.Habis ini melatih lagi,'' jelas Felix.

Karena kerja kerasnya itu nama lelaki kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 15 November 1974 tersebut masuk dalam jajaran pelatih yang sukses mencetak pebulu tangkis muda . Bukan hanya sebagai pelatih, sebenarnya saat menjadi pebulu tangkis, Felix sempat memberikan harapan besar.

Dia pernah direkrut klub besar, Djarum Kudus. Sebelumnya, Felix mengenal bulu tangkis di klub asal Surabaya, Wima, kini menjadi Hi-Qua Wima.

''Sejak usia 11 tahun saya mulai berlatih dan bergabung Wima. Ini karena keinginan saya untuk bisa menjadi pebulu tangkis,'' kenang Felix.

Hanya dalam waktu dua tahun, kemampuannya tercium Djarum. Pada 1988, Felix ditempa di Kudus yang menjadi markas klub yang disponsori perusahaan rokok tersebut.

Di Djarum, Felix mampu mempersembahkan prestasi. Felix ikut berkontribusi ketika Djarum menjadi juara Ardath Trophy and Masters 1990 di Bandung, Jawa Barat.

''Saya turun di nomor ganda. Ketika itu, saya dipasangkan dengan Sigit Budiarto,'' terang Felix.

Kelak di saat senior, Sigit menjadi salah satu andalan Indonesia di nomor ganda. Dengan capaiannya antara lain juara dunia 1997, All England 2001 dan 2003. Felix menganggap dia belum rezeki dan nasibnya tak bisa mengikuti jejak pasangannya tersebut.

''Cedera lutut yang membuat saya kemudian memilih keluar dari Djarum dan kembali ke Wima pada 1992. Saya cedera saat salah tumpuan dalam latihan,'' ujar Felix.

Wima, ujarnya, menjadi pilihan karena dia ingin membagi ilmu kepada pebulu tangkis muda yang dilatihnya. Apalagi, di klub tersebut ada sosok Ferry Stewart yang menjadi panutan Felix.

Ferry merupakan sosok pelatih yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencetak pebulu tangkis. Belajar dari Ferry, dia sukses melahirkan para atlet yang levelnya mendunia.

Tercatat ada nama Sony Dwi Kuncoro, Febriyand Irvanaldy, Ricky Widianto, Selvanus Geh, hingga Ade Yusuf. Nama-nama itu mampu menembus kerasnya persaingan di Pelatnas Cipayung.

Bahkan, Sony mampu meraih medali perunggu di Olimpiade Athena 2004. Sony juga pernah tiga kali menjadi juara Asia yakni pada 2002, 2003, dan 2005. Sedangkan Febriyand, yang juga turun di tunggal, pernah menjadi juara di ajang Sirkuit Nasional.

Sementara, Ricky, Selvanus, dan Yusuf merupakan pebulu tangkis spesialis nomor ganda. Ketiganya pernah menjadi penghuni Pelatnas PBSI. Namun, dari mereka, kini tinggal Ade yang masih bertahan.

Berkat polesan Felix dari junior, Ricky, Selvanus, dan Ade pernah mengharumkan Indonesia dengan menjadi juara di turnamen internasional.

Ricky pernah juara di India Grand Prix Gold 2015, Selvanus di New Zealand 2015 berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang kini menjadi ganda papan atas dunia dengan Marcus Gideon. Sedang Ade baru saja menjadi juara dengan Wahyu Nayaka di Vietnam Open 2017.

Karena itu, Felix sempat menjadi pelatih di Thailand. Itu dilakukannya pada 2005-2010 atau dia usai menangani Tim Jawa Timur dalam Kejurnas. Atlet yang ditangani  salah satunya Tontowi Ahmad, yang kelak menjadi peraih emas Olimpiade Rio 2016 di nomor ganda campuran dengan Liliyana Natsir. Saat itu, dalam Kejurnas di Bali 2002, Tontowi menembus semifinal ganda putra berpasangan dengan Teguh Siswanto.

Pada 2005–2009, Felix menjadi pelatih di Trillert Udohthani.Salah satu anak asuhnya yang kini menjadi pebulu tangkis andalan Thailand adalah Saapshiree Taerattanachai. Kini, dia masuk peringkat 10 besar dunia di nomor ganda putri. Kemampuan Felix juga memikat Tananon Bangkok. ''Setahun saya di Tananon,'' ungkapnya.

Tapi, semua itu belum menghentikan keinginan Felix terus mencetak pebulu tangkis berbakat. Saat kembali ke Hi-Qua Wima pada 2010,  ada beberapa anak asuhnya yang ditangani mulai menunjukan potensi besar.

Sebut saja Tabita Kristian/Jannatul A'la dan Lisa Anjeli. Tabita/Jannatul merupakan juara ganda putri kelompok pemula putri dalam Sirnas Li-Ning Jogjakarta 2013dan Kalimantan Open 2013. Tahun lalu, mereka juga naik ke podium terhormat ganda taruna putri di Sirnas Li-Ning Jatim.

Sedangkan Lisa merupakan juara Kejurkot Piala KONI Surabaya 2017 di nomor tunggal remaja putri.

Dari semua yang sudah dicapai, hasil dalam Djarum Superliga Badminton Indonesia 2014 yang paling berkesan. Dengan materi yang tak diunggulkan, Hi-Qua Wima mampu diantarkannya menembus babak semifinal dan akhirnya menduduki posisi ketiga dalam ajang yang dilaksanakan di DBL Arena, Surabaya, tersebut. (*)


Biodata
Nama: Felix Anthonius
Lahir: Surabaya,15 November 1974
Alamat: Kupang Panjaan IIIA/29 Surabaya
Pengalaman:
1984-1987: Wima
1988-1992: Djarum Kudus
Prestasi:
-Juara tunggal di Sinar Mutiara Tegal
-Posisi III Suryanaga Open Surabaya
-Posisi II Elang Open Jogjakarta
-Posisi III Bimantara Jakarta Open
-Juara Beregu Ardath Trophy XI, Bandung (berpasangan dengan Sigit Budiarto
-Juara Beregu Ardath Trophy XII, Jember (berpasangan dengan Sigit Budiarto)
-Juara Ardath Master I, Jakarta (berpasangan dengan Sigit Budiarto)

1993– 2000    :   Pelatih PB Hi-Qua Wima Surabaya
Menangani  Sony Dwi Kuncoro, Febriyan Irvanaldi , Ade Yusuf , Selvanus Geh, Ricky Widianto, Imam Tohari

2001 – 2004    :  Tim Kejurnas Jawa Timur
Atlet yang ditangani  Tontowi Ahmad

 2005 – 2009    :   Pelatih di Trillert Udohthani, Thailand
Atlet yang ditangani Saapshiree Taerattanachai

 2009 – 2010    : Pelatih di Tananon Bangkok, Thailand

2010 – sekarang   : Pelatih di P.B HI – Qua Wima, Surabaya

2014        :   1. Membawa Hi-Qua Wima di Posisi III Djarum Superliga Badminton Indonesia Beregu Putra
2015        : 1. Ofisial Hi-Qua Wima di Djarum Superliga Badminton Indonesia di Bali

Bisa Rasakan Lagi Podium Terhormat

Minggu, 24 September 2017

KEGAGALAN Marcus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya menjadi juara berakhir. Keduanya pun bisa kembali merasakan naik ke podium terhormat.

Itu dilakukan Sinyo/Kevin di Japan Open 2017. Dalam final yang dilaksanakan di Tokyo pada Minggu waktu setempat (24/9/2017), mereka mengalahkan wakil tuan rumah Takuto Inoue/Yuki Kaneko dengan skor 21-12, 21-15.

Gelar ini sekaligus menjadi yang keempat buat Kevin/Marcus sepanjang tahun 2017. Sebelumnya mereka sudah mengoleksi titel juara dari All England, India Open Super Series dan Malaysia Open Super Series Premier 2017.

“Secara keseluruhan kami main cukup bagus. Mungkin awal-awal sempat kurang menguasai lapangan. Karena shuttlecocknya juga beda dari Korea Open kemarin. Tapi setelah itu sudah enak mainnya dan lebih menguasai lapangan,” kata Sinyo seperti dikutip media PBSI.

Gelar ini, ungkapnya, sangat berarti. Alasanya, bisa membangkitkan kepercayaan diri setelah kemarin-kemarin sempat kalah terus.

''Kami bisa bangkit lagi. Jadi bagus buat menambah kepercayaan diri kami juga, ini sangat penting buat kami berdua,” sambung Kevin.

Laga final kali ini merupakan pertemuan ketiga Kevin/Marcus dengan Inoue/Kaneko. Pada dua pertemuan sebelumnya, Kevin/Marcus selalu berhasil memetik kemenangan. Terakhir di India Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-16 dan 21-18.

 “Saya tidak menyangka akan menang mudah. Saya pikir akan ramai. Karena kemarin-kemarin mereka mainnya bagus dan safe, defendnya juga nggak gampang mati. Mungkin mereka juga agak nervous, jadi agak terburu-buru,” ucap Sinyo.

Game pertama berlangsung dalam 12 menit saja. Kevin/Marcus dengan baik dan cepat berhasil merebut poin demi poin. Tak banyak reli yang terjadi pada game pertama ini. (*)

Kali Ini hanya Sampai Semifinal

Sabtu, 23 September 2017

PASANGAN ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto tak bisa mengulang sukses pekan lalu. Mereka menyerah kepada pasangan Tiongkok Wang Yilyu/Huang Dongping 14-21, 19-21 di babak semifinal Japan Open Super Series Premier 2017.

Padahal, pekan lalu, di final Korea Open Super Series 2017, Praveen/Debby menang atas lawan yang sama dengan 21-17, 21-18. “Tadi kami kalah tenaganya dari lawan. Sama tadi juga ada reli yang kami turun fokusnya,” kata Jordan usia laga semifinal Japan Open 2017 di Tokyo (23/9/2017) seperti dikutip media PBSI.

Sebenarnya, tambah Debby, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok,  tampil tak berubah. Hanya,kali ini, mereka jauh lebih berani buat mengangkat bola.

''Mereka berani membuka dulu, berani defend dan balik serang. Di sini juga bolanya berat dan mereka cukup solid. Mereka nggak takut-takut out. Kalau kemarin di Korea kan ada angin, jadi mereka nggak bisa angkat bola seleluasa hari ini,” ungkap Debby.

Meski tak berhasil mencapai partai puncak, Jordan/Debby mengaku tetap bersyukur dengan pencapaian mereka di Jepang kali ini. Kekalahan ini juga membuat Indonesia sejak 2008 tak pernah lagi menjadi juara di Japan Open.Ketika itu, pasangan M. Rijal/Vita Marissa naik ke podium juara.  (*)

Lin Dan Gagal Ulangi 2015

KEPERKASAA N Lin Dan terus tergerus. Gelar juara sudah bukan menjadi hal yang mudah bagi pebulu tangkis asal Tiongkok tersebut.

Sejak April lalu, Lin Dan gagal naik ke podium terhormat. Terakhir, pebulu tangkis yang dijuluki Super Dan tersebut hanya sampai babak perempat final Japan Open 2017.

Langkahnya dihentikan Son Wan-ho dari Korea Selatan dengan dua game langsung 15-21, 15-21 di Tokyo pada Jumat waktu setempat (23/9/2017). Ini menjadi kekalahan ketiganya dari Wan-ho selama 16 kali pertemuan.

Sebenarnya, Japan Open bukan ajang yang asing bagi Lin Dan. Lelaki berjuluk Super Dan itu pernah menjadi pemenang pada 2015. Ketika itu, dia mengalahkan wakil Denmark Viktor Axelsen dengan tiga game yang ketat 21-19, 16-21, 21-19.

Tahun ini, Lin Dan sebenarnya sudah dua kali menjadi juara yakni di Swiss Open dan Malaysia Open. (*)

Astrup/Rasmussen Bisa Jadi Mimpi Buruk

Kamis, 21 September 2017

PASANGAN Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Sinyo' Fernaldi Gideon harus mulai memikirkan variasi permainan. Alasannya, lawan-lawan yang dihadapi mulai hapal dengan gaya bermain pasangan ganda putra terbaik Indonesia tersebut.

Usai dipaksa ketat di babak I, kali ini Kevin/Sinyo harus tampil tiga game 21-13, 11-21, 21-18 saat menghadapi pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, di babak kedua Japan Open Super Series 2017 di Tokyo pada  Kamis waktu setempat (21/9/2017).

 Sebelumnya, rekor pertemuan mencatat, dalam empat kali pertandingan, Kevin/Marcus selalu bisa mendapat kemenangan. Terakhir di Singapore Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-12, 21-15.

Bahkan, jika masih bermain monoton, mantan pasangan nomor satu dunia itu bisa pulang lebih awal. Alasannya, di babak perempat final, Kevin/Sinyo akan berjumpa lawan tangguh, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.

Pasangan Denmark itu menang dalam pertemuan terakhir. Ironisnya itu terjadi di Indonesia Open Super Series Premier 2017 lalu. Kevin/Sinyo kalah  dua game langsung 16-21, 16-21. (*)

Lolos tapi Kembali Bertemu Unggulan I

Rabu, 20 September 2017

JALAN terjal menghadang Greysia Polii/Apriani Rahayu di Japan Open 2017. Meski, kini, pasangan ganda putri andalan Indonesia tersebut mamu melewati hadangan lawan di babak pertama dalam ajang yang masuk level super series premier tersebut.

Sebelumnya di babak pertama, Greysia/Apriani sukses memulangkan pasangan Thailand Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong, dengan rubber game 21-14, 17-21, 21-13 di Tokyo pada Rabu waktu setempat (20/9/2017). Ini merupakan pertemuan kedua Greysia/Apriani dengan pasangan tersebut. Sebelumnya di Thailand Open 2017, Greysia/Apriani menang dengan 21-12 dan 21-12.

Namun, di babak kedua, mereka  kembali akan menghadapi pasangan nomor satu dunia, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang).

Pekan lalu di Korea Open Super Series 2017, kedua pasangan ini baru saja bertemu di lapangan. Saat itu, Greysia/Apriani kalah dua game langsung dengan 15-21, 13-21.

“Kami mau coba lagi, apa yang belum kami terapkan kemarin. Seperti pola main yang nggak monoton. Kami coba untuk tidak tertekan lawan. Kami harus siap menghadapi mereka, dan yang penting pikirannya aja dulu jangan mau kalah,” kata Greysia seperti dikutip dari media PBSI.

Sayang, jejak keberhasilan Greysia/Apriani tak dapat diikuti oleh pasangan ganda putra, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Angga/Ricky mundur bertanding dan menyerahkan kemenangannya kepada unggulan empat asal Negeri Sakura, julukan Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Hal ini terjadi menyusul cedera otot paha kanan yang dialami Ricky dalam sesi latihan sebelum bertanding di Tokyo Metropolitan Gymnasium.(*)

Emas Semata Wayang dari Yahya

NUR Yahya Ady Velani kembali mengukir prestasi. Dia menjadi satu-satunya pebulu tangkis Jatim yang menjadi juara dalam Pekan Olahraga Nasional (Popnas) 2017 yang diselanggarakan di Semarang, Jawa Tengah.

Dalam final yang dilaksanakan pada Rabu waktu setempat (20/9/2017), Yahya, sapaan karib Nur Yahya Ady Velani, menghentikan ambisi pebulu tangkis tuan rumah Aldo dengan rubber game 21-17,16-21,21-12. ''Satu-satunya emas dari Jatim ya dari tunggal putra ini,'' kata Yahya.

Dia mengakui keberhasilan ini tak lepas dari persiapan matang yang dilakukannya. Apalagi, secara khusus, selama dua minggu, Jatim melakukan pemusatan latihan.

Selain itu, Yahya juga berlatih sendiri bersama pelatihnya di klub Pratama, Irwansyah. Sering cah Solo ini terlihat menambah latihan di GOR Sakura, Ketintang. Ini karena Yahya tergabung dalam Sakura Sport Management milik Ade Dharma.

Dua bulan lalu, Yahya mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia Tenggara. Siswa SMA Atma Widya Surabaya tersebut menjadi peraih emas semata wayang dalam ASEAN School Games di Singapura. (*)

Gregoria Gagal Susul Fitriani

Selasa, 19 September 2017

INDONESIA gagal menambah wakil di babak utama tunggal putri. Gregoria Mariska harus langsung terhenti di babak pertama kualifikasi Japan Open Super Series 2017. Ia gagal mengatasi permainan lawan, Pai Yu Po dari Taiwan, dalam pertandingan tiga game 17-21, 21-17, 19-21.

“Saya kebanyakan salah buang. Kan dia tinggi, saya maunya lob yang dalam, dengan postur tinggi sebenarnya jadi menguntungkan buat dia. Dari game pertama saya juga nggak berani melambatkan dan menaikkan bola,” kata Gregoria seperti dikutip media PBSI

Kehilangan game pertama, Gregoria sempat menunjukkan perlawanannya di game kedua. Ia berhasil merebut kemenangan dan memperpanjang napas ke game tiga. Sayang setelah sempat unggul 17-14, Gregoria tak berhasil mengamankan kemenangannya.

“Game kedua dia banyak mati sendiri. Dia kalah angin jadi saya ada kesempatan buat menyerang,” kata atlet besutan klub Mutiara Bandung tersebut.


Belum berhasil memberikan hasil cemerlang dari dua turnamen, Korea Open dan Japan Open, Gregoria pun mengevaluasi penampilannya. Soal fokusnya di lapangan menjadi salah satu hal yang ingin ia perbaiki kedepannya.

“Kedepannya saya harus lebih fokus lagi. Misalnya saya fokus di 11 poin pertama, tapi ketika lawan merubah pola, saya nggak bisa cepat beradptasi. Saya harus lebih cepat menangkap perubahan lawan,” ucap Gregoria.

Selain Gregoria, tunggal putri Indonesia, Lyanny Alessandra Mainaky juga harus terhenti lebih awal. Lyanny kalah 23-21, 18-21, 17-21 dari wakil tuan rumah, Shiori Saito.

 Dengan demikian, Indonesia tinggal menyisakan satu wakil dari sektor ini. Fitriani yang sudah aman di babak utama akan berhadapan dengan Ratchanok Intanon, Thailand. Keduanya tercatat belum pernah saling berhadapan di lapangan pertandingan. (*)

Urung karena Owi/Butet Belum Optimal

DENGAN level super series premier, BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) mewajibkan pebulu tangkis 10 besar dunia turun. Begitu juga dengan Japan Open 2017.

Namun, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir memilih absen. Resikonya, denda akan diberikan kepada pasangan ganda campuran terbaik Indonesia tersebut.

''Owi /Butet (sapaan karib Tontowi/Liliyana) mundur dari Japan Open 2017,'' kata Sekjen PP PBSI Ahmad Budiharto.

Ini karena kondisi Liliyana, terang Budi, sapaan karib Ahmad Budiharto, belum optimal. Sehinga riskan untuk dipaksanakan tampil.

Apalagi, mereka, lanjut Budi, bakal diterjunkan dalam turnamen di Eropa selama Oktober-November. Yakni di Swiss dan Denmark.

Saat ini, Tontowi/Liliyana masih jadi andalan Indonesia meraih juara. Kali terakhir, mereka mengibarkan bendera merah putih dalam Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia. (*)

Batal karena Terganjal Visa

Senin, 18 September 2017

NAMA Sony Dwi Kuncoro sempat disebut di Japan Open 2017. Namun, saat undian muncul, ternyata nama mantan tunggal putra terbaik Indonesia tak ada.

''Saya telat urus visa. Gak keburu visanya,'' kata Sony.

Padahal, dia mengaku ingin bisa turun dalam turnamen yang masuk kategori super series premier tersebut. Harapannya, poin yang diraihnya bisa bertambah.

Imbasnya, ranking dimiliki pun bisa terdongkrak. Saat ini, Sonya berada di ranking 55 dunia.

Sejak juara di Singapore Open Super Series 2015, bapak dua putri ini belum pernah lagi naik ke podium terhormat. Sebenarnya, ajang Japan Open 2017 bisa menjadi lompatan baginya.

Hanya, pada tahun ini, dia mendapat kesempatan berharga. Sony bisa kembali merasakan Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia.

Tapi, dia tak bisa melangkah jauh. Di babak II,peraih perunggu Olimpiade Athena 2014 tersebut dikalahkan Chen Long asal Tiongkok.

Pekan lalu di Korea Open Super Series 2017, Sony hanya sampai babak II kualifikasi besar. Dia dikalahkan andalan tuan rumah Lee Dong-keun.  (*)

Lebih Berat Dibandingkan Korea Open

TANTANGAN sudah menghadang Anthony Ginting dan Jonatan Christie. Kemampuan keduanya akan dijajal dalam Japan Open Super Series Premier 2017 yang mulai berlangsung 19 Oktober.

Harapannya, keduanya pebulu tangkis muda Pelatnas Cipayung tersebut bisa mengulangi capaian di Korea Open. Dalam ajang yang masuk kategori super series tersebut, Anthony dan Jonatan mampu menembus babak final.

Yang jadi pemenang adalah Anthony. Hanya, untuk meraih hal yang sama di Japan Open bukan hal yang mudah.

Dengan level super series premier, para pebulu tangkis papan atas dunia akan turun. Misalnya Lin Dan dari Tiongkok dan Lee Chong Wei asal Malaysia. Meski sudah uzur,  tapi kemampuan keduanya tak boleh di pandang sebelah mata.

Di Negeri Sakura, julukan Jepang, pada babak I, Jonatan akan menghadapi lawan dari babak kualifikasi. Sedangkan Anthony akan berjumpa dengan wakil Hongkong Hu Yun.

Bagi Anthony, dia belum pernah berjumpa dengan wakil negeri bekas koloni Inggris tersebut. Hanya, kesenioran membuat dia tak boleh lengah. (*)

Belum Bisa Redam si Gaek

Minggu, 17 September 2017

Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamujo punya momok. Siapa lagi kalau bukan pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.

Tiga kali beruntun, pasangan nomor satu Indonesia tersebut menyerah kepada tandem gaek tersebut. Terakhir, Kevin/Marcus kalah 19-21, 21-19, 15-21 dalam final Korea Open Super Series 2017 di Seoul pada Minggu waktu setempat (17/9/2017). Laga kedua pasangan ini berlangsung selama 68 menit.

Ketatnya pertandingan babak final kedua pasangan ini sudah terasa sejak game pertama dimulai. Baik Kevin/Marcus maupun Boe/Mogensen saling beradu kebolehan mengolah shuttlecock di lapangan demi mencetak angka.

Kevin/Marcus terlebih dulu harus kehilangan game pertamanya. Mereka kemudian mencoba bangkit dan membalas kekalahan tersebut di game kedua.

Sayang ketika memasuki game penentu, Kevin/Marcus beberapa kali melakukan kesalahan sendiri yang menguntungkan lawan. Keduanya gagal mengatasi lawan dan harus merelakan podium utama kepada unggulan satu turnamen tersebut.

“Hari kami banyak melakukan kesalahan sendiri. Lawan jarang mematikan kami. Mungkin karena panik dan kurang tenang. Sementara mereka mainnya safe dan nggak gampang mati,” kata Kevin.

Usai menyelesaikan misinya di Korea Open Super Series 2017, Kevin/Marcus akan melanjutkan perjalanannya ke Japan Open Super Series. Mereka berharap bisa meningkatkan performanya dan tampil lebih baik dari pertandingan kali ini.

“Ke depannya harus lebih berani, harus lebih melawan ngadu pukulan. Harus lebih baik lagi,” pungkas Kevin. (*)

Juara, Langsung di Level Super Series





LUAR biasa Anthony Sinisuka Ginting. Dia sukses menjadi juara tunggal putra di Korea Open Super Series 2017.

Menariknya, gelar ini untuk kali pertama Anthony meraih di turnamen internasional dan langsung merebutnya di level super series. ntuk menduduki podium utama, Anthony sebelumnya harus terlibat “perang saudara” dengan Jonatan Christie. Kemenangan akhirnya berhasil diraih Anthony, setelah bertanding selama 68 menit.

 “Rasanya senang akhirnya bisa menjadi juara. Selama ini saya juga sempat mengalahkan pemain unggulan, artinya capaian saya kali ini bukanlah sebuah hal yang karena keberuntungan saja. Ini merupakan hasil kerja keras saya bersama pelatih dan teman-teman di tunggal putra,” kata Anthony seperti dikutip dari media PBSI.

Bukan hal yang mudah bagi pemain besutan SGS PLN Bandung tersebut. untuk merebut kemenangannya. Anthony harus bertarung tiga game 21-13, 19-21, 22-20.

Anthony tampil percaya diri dengan dominasinya di game pertama. Dia unggul 4-0 di awal dan merebut poin 11-4 pada interval game pertama. Anthony terus melesat hingga akhirnya menang 21-13. Tak banyak kesulitan yang ditemui Anthony di game pertama ini.

“Game pertama saya membaca sepertinya Jonatan belum dapet tempo mainnya. Dia kayanya masih ragu-ragu dan banyak mati sendiri. Saya coba tekan terus dari awal, jadi dia nggak berkutik,” ujar atlet kelahiran Cimahi, Jawa Barat, tersebut.

 Beranjak ke game dua, Anthony sempat memimpin 7-3 atas Jonatan. Namun beberapa kali kesalahan yang dilakukan Anthony, berbuah poin bagi Jonatan.

Anthony balik tertinggal 12-16. Anthony yang tertinggal 16-20 sempat berusaha menekan Jonatan dengan merebut tiga poin berturut menjadi 19-20. Sayang setelahnya, Anthony malah gagal melakukan servis dan memberikan kemenangan untuk Jonatan, 19-21. Game ketiga pun harus dimainkan.

“Di game kedua, dia sudah dapet feeling-nya. Di sisi lain, sayanya jadi kurang sabar. Saya sempat mau menyusul juga di poin-poin kritis, tapi terakhirnya sayang belum bisa,” lanjut Anthony.

Pada game penentu, Anthony secara konsisten memimpin jalannya pertandingan. Namun menyentuh poin 18-14, Jonatan terus berupaya merebut kemenangan dengan merebut lima poin berurutan. Anthony kembali tertinggal 18-19. Di poin kritis Anthony berani tampil agresif untuk merebut poin. Ia akhirnya menang 22-20

“Game ketiga lebih nggak mau buru-buru, coba placing dulu. Baru begitu ada kesempatan baru saya ambil. Saya banyakin doa aja di lapangan dan meyakinkan diri sendiri, sudah nggak mikirin poin lagi,” tutup Anthony.

Indonesia dipastikan membawa pulang dua gelar dari Seoul, Korea. Sebelumnya, pasangan ganda campuran Praveen Jorda/Debby Susanto juga berhasil menduduki podium tertinggi. (*)

Awas, Hat-trick Kalah Bisa Terjadi

Sabtu, 16 September 2017

TIGA kali berjumpa dan hanya sekali menang. Tentu, itu bukan hasil yang menggembirkan bagi pasangan Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya.

Apalagi, dua kekalahan dialami dalam dua perjumpaan terakhir. Lawan yang dihadapi pun ''cuma'' pasangan uzur Mathias Boe/Carsten Mogensen asal Denmark. Namun, Sinyo/Kevin seolah kehilangan kegarangannya jika berjumpa mereka.

Tapi kini, keinginan memperkecil kekalahan kembali terbuka. Ini setelah Sinyo/Kevin akan menantang Boe/Mogensen dalam partai final Korea Open Super Series 2017.

Tiket ke babak pemungkas diraih setelah kedua pasangan melibas lawan-lawannya di babak semifinal yang dilaksanakan di Seoul Sabtu waktu setempat. Sinyo/Kevin, yang diunggulkan di posisi kedua, dipaksa tampil tiga game 21-18,17-21, 21-16 oleh Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, unggulan ketiga asal Jepang. Sedang Boe/Mogensen menghentikan perlawanan wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, lainnya Takuro Hoki/Yugo Kabayashi, dengan 17-21, 21-16, 21-17.

Dua kekalahan terakhir Sinyo/Kevin dari unggulan pertama di Korea Open Super Series 2017 itu terjadi di Singapore Open Super Series 2017 dan Sudirman Cup 2017.

Dua kekalahan tersebut termasuk mengejutkan. Alasannya, ketika itu, Sinyo/Kevin tengah onfire usai merajai empat turnaman secara beruntun.

Gaya permainan menyerang keduanya sudah dipahami oleh Boe/Mogensen. Jika tak ada perubahan, tak menutup kemungkinan, kekalahan ketiga akan kembali dialami pasangan yang dikenal dengan julukan Minion itu. (*)

Akhirnya Bisa Juara setelah 22 Tahun Menanti

PEBULU tangkis muda nomor tunggal putra Indonesia terus memberikan harapan. Kini, mereka bukan lagi berjaya di level bawah.

Dalam ajang super series pun, penerus Taufik Hidayat tersebut bisa bersuara lantang. Ini terjadi dalam Korea Open Super Series 2017.

Tak tanggung-tanggung, gelar juara sudah pasti di tangan. Kok bisa? Dua wakil Indonesia bakal saling adu kekuatan di babak final (all Indonesian Finals).

Anthony Sinisuka Ginting akan dijajal rekannya di Pelatnas Cipayung Jonatan Christie. Anthony, yang posisinya nonunggulan, mempermalukan unggulan teratas sekaligus andalan tuan rumah Son Wan-ho dengan tiga game 16-21, 21-18, 21-13 di Seoul pada Sabtu waktu setempat (16/9/2017). Ini merupakan pertemuan perdana dari kedua pebulu tangkis.

Hanya, di atas kertas, sebenarnya Wan-ho jauh diunggulkan. Posisinya sebagai pebulu tangkis nomor satu dunia jauh di atas Anthony yang hanya di posisi 24.

Sementara, Jonatan, yang juga tak diunggulkan, menembus final usai membekap unggulan ketujuh asal Taiwan Wang Tzu Wei dengan straight game 21-13, 21-17.  Bagi Anthony dan Jonatan, meski sering berlatih bersama tapi di ajang internasional, mereka hanya sekali bertemu yakni di Malaysia Open Super Series Premier 2017. Hasilnya, Jonatan yang menang dengan 17-21, 12-21.

Dengan kepastian juara di tunggal putra ini membuat dahaga gelar selama 22 tahun terobati. Kali terakhir, bendera Merah Putih berkibar di  Korea Open pada 1995 saat Haryanto Arbi naik ke podium terhormat. (*)

Harusnya Praveen/Debby Bisa Final

Jumat, 15 September 2017

PASANGAN Praveen Jordan/Debby Susanto seolah mau pamer kekuatan. Keduanya menunjukan belum habis, khususnya di Korea Open Super Series 2017.

Buktinya, Praveen/Debby mampu menembus babak semifinal. Tiket itu diperoleh setelah mengalahkan Takuro Hoki/Sayaka Hirota dari Jepang dengan dua game langsung  21-17, 21-17 di Seoul pada Jumat waktu setempat (15/9/2017).

“Dibilang mudah juga enggak sebenarnya. Cuma kami keuntungannya sudah pegang permainan dari awal, jadi mereka nggak enak duluan. Kalau dibilang gampang sih enggak,” kata Debby seperti dikutip dari media PBSI.

Bisa mencapai hingga babak semifinal, Jordan/Debby mengatakan mulai bisa menguasai kondisi lapangan. Sebelumnya mereka mengatakan cukup terpengaruh oleh angin yang terasa di lapangan pertandingan.

“Sejauh ini mainnya sudah enak. Dan saya juga tadi banyak cari pukulan, dengan kondisi seperti ini harus seperti apa,” ujar Jordan.

Di semifinal, Jordan/Debby akan berhadapan dengan pasangan Jerman, Marvin Emil Seidel/Linda Efler. Melawan pemain non unggulan, dikatakan Jordan/Debby, mereka harus tetap fokus dan tak anggap enteng lawan.

''Kalau melihat kans sih ada peluangnya. Tapi ya kami jadi nggak boleh santai juga, karena mereka kan bukan pemain unggulan tapi bisa mengalahkan pemain yang bisa dibilang bagus-bagus juga. Jadi kami harus bisa menjaga kondisi buat besok dan tidak menganggap enteng lawan,” jelas Debby.

Sebelumnya, Indonesia sudah menempatkan wakilnya di semifinal. Mereka adalah Anthony Sinisuka Ginting dan  Jonatan Christie di tunggal putra serta Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon  di ganda putra. (*)

Jogja Punya Sisi Edukasi

Rabu, 13 September 2017

JOGJA punya gawe besar. Daerah yang mendapat status istimewa tersebut akan menjadi host BWF World Junior Championships 2017 akan berlangsung di GOR Among Rogo 9-22 Oktober .


Kota Pelajar, julukan Jogja, dipilih sebagai tuan rumah melalui pertimbangan yang matang. Kota ini dinilai memiliki nilai khusus terkait masalah pendidikan, kebudayaan dan pariwisata.


“Selain memiliki sarana pertandingan yang memadai dan pernah menyelenggarakan turnamen bulu tangkis berskala internasional, Jogja juga juga memenuhi persyaratan edukasi bagi para peserta,” kata Ketua Panitia Penyelenggara, Achmad Budiharto.


Koordinasi dengan pihak pengurus provinsi PBSI Jogjakarta menjadi hal yang sangat penting. Ini mengingat turnamen ini akan diikuti oleh para pebulu tangkis yang datang lebih dari 60 negara.


Sementara itu, Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation Budi Darmawan menambahkan, komitmen PT Djarum untuk memajukan olahraga bulu tangkis Indonesia memang tak perlu diragukan lagi.


“Kini tinggal kesungguhan dari para pebulu tangkis Indonesia untuk mencapai prestasi yang tertinggi di pentas dunia. Seluruh dukungan untuk mencapai tujuan tersebut telah disiapkan. Semoga kelak akan hadir pemain-pemain bagus seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dari para pemain junior Indonesia,” ujar Budi.


World Junior Championships 2017 ini akan mempertandingkan dua kategori, yaitu beregu campuran dengan format Piala Sudirman dan nomor perorangan. PP PBSI terus mempersiapkan pemain terbaik Indonesia untuk turun di turnamen ini. Sejumlah nama seperti Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (tunggal putra), Gregoria Mariska (tunggal putri), serta Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda campuran) akan turut memperkuat skuad junior Indonesia. (*)

Bisa Balas Kekalahan di SEA Games

TERBALAS sudah dendam Greysia Polii/Apriani Rahayu. Mereka mampu mengalahkan pasangan Thailand Thailand Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai dengan dua game langsung 21-15, 24-22 pada babak I nomor ganda putri Korea Open Super Series 2017 Selasa waktu setempat (13/9/2017).


Dilangsungkan di SK Handball Stadium di kota Seoul siang tadi (13/9), Greysia/Apriani memulai laga dengan sangat baik. Mereka langsung  mengungguli lawannya di interval 11-5 sebelum menutup game pertama dengan 21-15. Di game kedua, giliran Greysia/Apriani yang berada di dalam tekanan. Terus tertinggal hingga posisi 17-20, akhirnya pasangan senior-junior ini berhasil mengejar angka menjadi 20-20 lalu membalikkan keadaan dan menang 24-22. Bagi Greysia/Apriani, kemenangan ini sekaligus membalaskan dendam saat kalah di perempat final SEA Games beberapa minggu lalu.


"Setelah kalah di SEA Games , kami memang pelajari permainan mereka lagi dan hari ini lebih siap untuk lawan mereka", kata Greysia seperti dikutip media PBSI


Dia menganggap kunci kemenangannya adalah bermain tenang dan tidak buru-buru. Mereka, jelas Greysia, belajar dari  SEA Games itu.


 ''Kami main buru-buru dan terlalu nafsu jadi akhirnya boomerang buat kami sendiri. Sekarang main tenang sehingga strateginya bisa lebih berjalan", ungkap Greysia .

Di babak kedua besok, Greysia/Apriani ditantang runner up Kejuaraan Dunia 2017 Yuki Fukushima/Sayaka Hirota asal Jepang. Ini akan menjadi pertemuan pertama keduanya.

Sayang, sukses ini gagal diikuti pasangan ganda putra Berry Angriawan/Hardianto. Mereka dihentikan unggulan pertama asal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen dengan dua game langsung 17-21, 17-21.

"Tadi sebenarnya game pertama itu bisa mengimbangi permainan dan sempat unggul 16-14, tapi mereka pintar langsung minta break. Setelah break mereka mengubah permainan dan kami kaget dan kurang cermat," ucap Berry usai laga.

Berry/Hardi juga pernah kalah dari lawan yang sama. Itu terjadi saat di BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017 dengan skor 18-21, 23-21, 15-21.


Selain Greysia/Apriani, Indonesia juga meloloskan Gregoria Mariska Tunjung dan Anthony Sinisuka Ginting ke babak kedua. Selain itu, dua pasangan gado-gado, Muhammad Arif Abdul Latif/Rusyidina Antardayu Riodingin (Malaysia/Indonesia) dan Hendra Setiawan/Tan Boon Heong juga mampu melaju ke babak berikut. (*)

Duh, Langsung Ketemu Unggulan Teratas

Senin, 11 September 2017

TUGAS berat langsung dipikul Berry Angriawan/Hardianto di Korea Open Super Series 2017. Keduanya langsung menantang unggulan teratas ganda putra, Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark.

“Berry/Hardi sudah harus bertemu unggulan pertama, (Mathias) Boe/(Carsten) Mogensen di babak pertama. Target pertama untuk Berry/Hardi ya bisa melewati pasangan Denmark ini dulu,” kata Herry Iman Piengardi, pelatih ganda putra Pelatnas Cipayung, seperti dikutip media PBSI.

Jika mampu lolos, langkah keduanya bakal lebih ringan. Apalagi, Herry ingin anak asuhnya mampu membawa pulang gelar dari Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan.

“Ganda putra pasang target final untuk kejuaraan Korea dan Japan Open 2017,” ungkap Herry

Ya, dua kejuaraan super series akan berlangsung di Korea dan Jepang dalam dua pekan berturut-turut. Korea Open Super Series 2017 akan dilangsungkan lebih dulu di Seoul pada 12-17 September. Ini dilanjutkan dengan Japan Open Super Series 2017 di Tokyo pada 19-24 September .

Pada ajang Korea Open Super Series 2017, para pebulu tangkis elite turun untuk berburu gelar. Nomor ganda putra mengirim tiga wakilnya yaitu Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Berry Angriawan/Hardianto, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Hendra Setiawan yang berpasangan dengan pemain Malaysia, Tan Boon Heong, juga tampil di kejuaraan ini

Partai final menjadi target tim ganda putra dalam turnamen berhadiah total USD 600 ribu itu.

Sementara itu, di tunggal putra, Indonesia mengirim Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Tommy Sugiarto, dan Sony Dwi Kuncoro. Di tunggal putri, Fitriani dan Gregoria Mariska akan mewakili pelatnas, sedangkan dua pebulu tangkis profesional, Lyanny Alessandra Mainaky dan Rusydina Antardayu Riodingin, juga tercatat akan bertanding.

 Nomor ganda putri yang sedianya mengirimkan dua wakil, akhirnya hanya bertumpu pada Greysia Polii/Apriani Rahayu. Sedangkan Ni Ketut Mahadewi Istarani/Rosyita Eka Putri Sari batal berangkat karena Rosyita mengalami cedera lutut kiri.

 Begitupun pasangan ganda campuran Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja yang harus absen di kejuaraan ini karena Edi mengalami cedera lutut kiri saat bertanding di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Nomor ganda campuran tinggal menyisakan dua wakilnya, Praveen Jordan/Debby Susanto dan pasangan baru, Ronald Alexander/Annisa Saufika dan pasangan gado-gado Muhammad Arif Abdul Latif/Rusyidina Antardayu Riodingin (Malaysia/Indonesia).

Korea Open akan dibuka dengan babak kualifikasi pada Selasa (12/9) pagi, disusul babak utama ganda campuran pada sore harinya. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger