www.smashyes.com

www.smashyes.com

Punya Harapan Ketemu Teman di Final

Jumat, 31 Maret 2017

LAWAN: Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (badminton.dk)
KANS menjadi juara di India Open 2017 masih terjaga. Dua wakil ganda putra Indonesia berhasil lolos ke babak semifinal event yang masuk kategori super series tersebut.

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi wakil pertama yang lolos dengan mengalahkan Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia), dengan dua game langsung, 21-18, 22-20 dalam pertandingan yang dilaksanakan di New Delhi pada Jumat waktu setempat (31/3/2017).

Ini adalah pertemuan perdana Marcus/Kevin melawan Ivanov/Sozonov. Di atas kertas, Marcus/Kevin, yang merupakan unggulan keempat, memang lebih dijagokan, sedangkan ganda Rusia ini menempati posisi kedelapan dalam daftar unggulan.

''Shuttlecock yang dipakai lajunya kencang, jadi harus bermain menyerang duluan. Postur tubuh lawan yang tinggi-tinggi juga membuat kami harus menerapkan permainan serang, karena kalau diserang duluan sama mereka, smash nya kencang,” kata Kevin seperti dikutip media PBSI
Marcus/Kevin menang di bola-bola depan net.Mereka punya kesempatan untuk menyerang.

''Mereka harus banyak main bola-bola datar karena lawan postur tubuhnya tinggi, jadi harus main menyerang dan temponya cepat,” ujar Aryono Miranat, Asisten Pelatih Ganda Putra PP PBSI.

Pada babak semifinal, Marcus/Kevin akan berjumpa dengan Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding asal Denmark. Partai ini merupakan laga ulangan semifinal All England 2017. Saat itu, pertandingan berlangsung sangat ketat.

''Kami siap mau lawan siapa saja, sudah sampai semifinal pasti semua lawan itu bagus,'' ucap Kevin.

Lawan Duo Mads, Marcus/Kevin harus benar-benar fokus dan mengurangi kesalahan sendiri. ''Bisa dilihat di All England kemarin, lawan sangat kuat dan ulet,” tambah Aryono.

Pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi mengikuti langkah Marcus/Kevin ke semifinal  setelah berhasil menghadang wakil Taiwan, Lee Jhe-Huei/Lee Yang, dengan skor tipis 22-20, 25-23.(*)

Turunkan Kekuatan Penuh

TUMPUAN: Tontowi/Liliyana

Indonesia bakal menurunkan skuad terbaik di Malaysia Open Super Series Premier 2017. Turnamen yang akan dilangsungkan di Kuching 4-9 April 2017 ini merupakan salah satu gelaran turnamen premier bergengsi, atlet dengan rangking 10 besar dunia diwajibkan untuk hadir.

Sektor ganda campuran menjadi sektor andalan pada ajang berhadiah total USD 600 ribu ini. Pasangan peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dijadwalkan berlaga .

''Target memang masih di nomor ganda campuran dan ganda putra, karena dua nomor ini yang prestasinya paling stabil. Di ganda campuran ada Tontowi/Liliyana dan Praveen (Jordan)/Debby (Susanto). Memang hasil diAll England 2017 kurang maksimal, mudah-mudahan di Malaysia ada perbaikan, baik dari segi penampilan maupun kondisi,” ujar Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI.

Baginya, kans Tontowi/Liliyana tetap terbuka. Alasannya, mereka pebulu tangkis senior dan berpengalaman.

''Tontowi/Liliyana sudah dalam puncak karir mereka. Jadi saya percaya mereka punya komitmen dan sikap profesional,” tambahnya.

 Mengenai penampilan mereka di All England 2017 , kondisi mereka memang belum maksimal. Liliyana belum sembuh total dari cedera (lutut kanan).

''Waktu kalah, Tontowi/Liliyana say sorry belum bisa meraih hasil maksimal. Mereka bilang akan persiapkan diri lagi untuk kejuaraan berikutnya,” ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 ini.

Sementara itu, pasangan ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang juga menjadi andalan, tengah berada di New Delhi untuk mengikuti kejuaraan India Open Super Series 2017. Pasangan rangking satu dunia ini bertekad untuk mempertahankan gelar juara di India yang mereka raih tahun lalu.

Tugas Marcus/Kevin memang tak mudah. Usai India Open, keduanya langsung terbang ke Kuching.
 Belum usai rentetan turnamen yang harus diikuti Marcus/Kevin, mereka juga terdaftar di ajang Singapore Open Super Series 2017 yang bakal dilangsungkan usai Malaysia Open.

''Tentunya harapan kami adalah Marcus/Kevin bisa juara, tetapi kan tidak bisa seperti robot yang juara terus. Manusia kan ada batasnya. Apalagi mereka harus mengikuti turnamen beruntun yang sifatnya wajib. Namun, Marcus/Kevin pasti sudah tahu standard mereka, minimal harus semifinal, jangan sampai dibawah itu,'' ucap Susy.

 Sementara itu di tunggal putra, pelatnas menurunkan empat wakil yaitu Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Sinisuka Ginting dan Muhammad Bayu Pangisthu. Dua pebulu tangkis senior, Sony Dwi Kuncoro dan Tommy Sugiarto juga turun.

 Di sisi lain, satu pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Rizki Amelia Pradipta, terpaksa batal tampil karena Rizki mengalami cedera lutut kiri. (*)

Wisnu Yuli Masih Ada

Kamis, 30 Maret 2017

Wisnu Yuli akan menantang unggulan keenam
STATUSNYA sudah bukan lagi penghuni Pelatnas Cipayung. Tapi, penampilan Wisnu Yuli tetap menjanjikan.

Khususnya, di ajang turnamen level bawah. Dia masih menjadi tumpuan untuk mengukir prestasi.

 Seperti yang terlihat di Osaka International Challenge 2017. Dalam ajang di Jepang tersebut, Wisnu mampu menembus babak II.

 Dalam penampilan perdana, mantan pebulu tangkis Surya Baja Surabaya tersebut mengalahkan Kanthapon Wangcharoen dari Thailand dengan 13-21, 21-10, 21-15. Di babak berikutnya, lelaki yang juga sering dipanggil Ucil itu akan menantang unggulan keenam asal Taiwan Hsueh Hsuan Yi.
 Selama ini, keduanya belum pernah adu kekuatan di lapangan.

 Di Osaka yang menyediakan hadiah total USD 20 ribu tersebut, Wisnu tak sendirian. Hanya beberapa rekan-rekannya sudah beberapa tumbang di babak I.

 Mereka antara lain duo Pelatnas Cipayung Chico Aura dan Krishna Adi Nugroho. (*)

Berharap Tommy Bisa Lebih

Tommy Sugiarto menembus perempat final
PENAMPILAN Tommy Sugiarto mendekati puncak. Setelah sering angin-anginan, kini dia sudah mulai menunjukkan siapa dirinya.

Itu setelah Tommy mampu menembus babak perempat final ajang super series, India Open 2017. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di New Delhi pada Kamis waktu setempat, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut mengalahkan Huang Yuxiang dari Tiongkok dengan tiga game 21-11, 11-21, 21-15.

 Ini menjadi capaian terbaiknya di turnamen super series. Sebelumnya, Tommy tumbang di babak I All England 2017. Mantan penghuni Pelatnas Cipayung tersebut harus mengakui ketangguhan Tian Houwei (Tiongkok) dengan dua game langsung 19-21, 18-21.

 Di babak perempat final, Tommy akan menjajal Ng Ka Long. Pebulu tangkis Hongkong ini merupakan unggulan keenam. Selama ini, Tommy belum pernah berjumpa dengan lawannya tersebut.

 Sebenarnya, di 2017, Tommy sempat memberikan harapan. Dia memulai debutnya dengan menjadi juara di ajang grand prix gold, Thailand Masters.

 Tahun lalu, penampilannya bisa dikatakan jeblok. Tommy selalu tumbang di babak-babak awal.
  Di India Open 2016, dia terhenti di babak perempat final. Kakak Jauza Sugiarto tersebut menyerah di tangan Son Wan-ho dari Korea Selatan. (*)

Reuni di India Open

Rabu, 29 Maret 2017

Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja
SUDAH hampir setahun pasangan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja berpisah. Kali terakhir, keduanya unjuk kemampuan dalam Indonesia Open Super Series Premier 2017.

 Sayang, dalam turnamen yang menyediakan hadiah total USD 900 ribu tersebut, Edi/Gloria langsung tersingkir. Pasangan yang sama-sama berasal dari klub Djarum Kudus tersebut menyerah dua game langsung 18-21, 15-21 kepada Ko Sung-hyun/Kim Ha-na dari Korea Selatan.

 Setelah itu, Edi dan Gloria diceraikan. Mereka tukar pasangan dengan Riky Widianto dan Richi Puspita

Namun, hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan. Bahkan, Riky dan Richi harus angkat koper dari Pelatnas Cipayung.

Gloria sempat mencuat di media karena dipasangan dengan Tontowi Ahmad. Hanya, seperti sebelumnya, mereka juga belum bisa banyak diharapkan.

 Hingga akhirnya, Edi dan Gloria pun kembali disatukan. India Open menjadi laga reuni perdana pebulu tangkis yang sama-sama pernah merasakan menjadi juara dunia junior.

 Di babak I turnamen berhadiah total USD 325 ribu tersebut, Edi/Gloria mampu mengalahkan pasangan gado-gado Malaysia/India Yogendran Krishnan/Prajakta Sawant dengan rubber game 21-16, 16-21, 21-16. Hanya, lawan berat sudah menunggu di babak II.

Edi/Gloria menantang unggulan keempat asal Malaysia Chen Peng Soon/Goh Liu Ying. Selama ini, kedua pasangan belum pernah saling berjumpa.(*)

Pelapis Cari Jam Terbang di Osaka

Selasa, 28 Maret 2017

N|EGERI SAKURA: Krisna Adhi Nugroho
PEBULU tangkis tunggal putra Indonesia menyerbu Jepang. Mereka memanaskan persaingan alam Osaka International Challenge 2017.

Tercatat tiga single di babak kualifikasi dan tujuh di babak utama. Mereka yang berusaha menembus babak utama adalah Thomi Azizan Mahbub, Fahmi Mubarok, dan Chico Aura Dwi Wardoyo.

Sedangkan Enzi Shafira,Rekzy Megananda, Panji Ahmad Maulana, Shesar Hiren Rustavito, Krisna Adhi Nugroho, Wisnu Yuli, dan Vega Vio berjuang di babak elite.

 Tentunya, kehadiran mereka di Negeri Sakura, julukan Jepang, untuk menambah pengalaman. Khususnya bagi Chico, Enzi, Rekzy, Panji, Krisna, dan Vega. Jam terbang yang didapat bisa menjadi bekal untuk menembus ke jajaran yang lebih atas.

  Saat ini, dengan poin dan ranking yang dimiliki, mereka belum bisa berlaga langsung di ajang super series atau super series premier. Bahkan, untuk grand prix pun harus melalui babak kualifikasi.

 Sejak dilaksanakan 2007, belum ada wakil Indonesia yang menjadi juara di nomor tunggal. Hanya di ganda campuran, merah putih pernah berjaya.

 Pasangan Riky Widianto/Richi Puspita Dili juara di 2012, Lukhi Apri Nugroho/Anisa Saufika (2013), dan M. Rizal/Vita Marissa pada 2014. (*)

Sudah Layak ke Babak Utama

POIN: Hendra/Boon Heong di Thailand Masters
TEMPAT di babak utama India Open akhirnya bisa diisi oleh Hendra Setiawan/Tan Boon Heong. Di babak final kualifikasi yang dilaksanakan di New Delhi pada Selasa waktu setempat (28/3/2017), pasangan ganda putra beda negara ini menumbangkan unggulan kedua asal Inggris Ben Lane/Sean Vendy dengan dua game langsung 21-14, 1-10.

Sebelumnya, di babak pertama kualifikasi, Hendra/Boon Heong menghentikan perlawanan wakil tuan rumah Rohit Raturi/Mohit Tiwari dengan 21-13, 21-11.  Pasangan Indonesia/Malaysia ini harus memulai langkahnya di India dari babak kualifikasi karena ranking yang jeblok.

 Memulai berpasangan dari ranking 256, kini  Hendra/Boon Heong sudah ada di kisaran 100 besar, tepatnya 93 dunia. Seharusnya, posisi tersebut bisa lebih baik lagi. Sayang, dalam beberapa turnamen yang diikuti, pasangan yang sama-sama pernah menduduki ranking satu dunia bersama rekan sebelumnya tersebut banyak tumbang di babak awal.

 Di babak utama, Hendra/Boon Heong berjumpa lawan ringan. Mereka dijajal pasangan India lainnya, Ketan Chahal/Tanveer Gill.

 Hanya, di babak kedua, pasangan senior ini bisa menemui lawan berat. Di atas kertas, pasangan unggulan teratas Goh V Shem/Tan Wee Kiong dari Malaysia sudah menunggu. Jika terjadi, ini akan menjadi pertemuan perdana. (*)

Di India Menjajal Kekompakan (Terus)

Senin, 27 Maret 2017

MULAI DARI BAWAH: Hendra/Tan Boon Heong
PENAMPILAN pasangan senior Hendra Setiawan/Tan Boon Heong belum seseuai ekpektasi. Keduanya sering tumbang di babak awal dalam ajang yang diikuti.

Hanya dalam debutnya di Syed Modi di India, Hendra/Boon Heong melangkah jauh hingga perempat final. Setelah itu, pasangan Indonesia/Malaysia tersebut sudah menyerah di 32 besar.

Ironisnya, kadang keduanya kalah oleh pasangan yang secara kualitas di bawah mereka. Seperti di Thailans Masters dan German Open 2017.

Hanya, kedua mantan pebulu tangkis yang pernah sama-sama duduk di ranking 1 dunia bersama pasangan sebelumnya itu menyadari. Mereka butuh waktu untuk bisa kompak dan saling memahami.

''Di atas kertas, kami adalah pasangan yang kuat,'' kata Boon Heong seperti dikutip dari situs BWF.

Hanya, tambahnya, di nomor ganda, perpaduan yang baik sangat penting. Mereka berdua, jelas Boon Heong, khawatir dengan pasangannya dan level yang diikuti.

''Di India, kami bisa mengukur standar permainan,'' ucap lelaki yang dulu berpasangan dengan Koo Kien Keat tersebut.

Di India Open yang berlangsung pekan ini, Hendra/Boon Heong memulai langkahnya dari babak kualifikasi.Keduanya dijajal pasangan tuan rumah Rohit Raturi/Mohit Tiwari.

Di atas kertas, mereka aka menang mudah. Hanya, untuk bisa menembus babak utama, Hendra/Boon Heong harus bisa menyingkirkan pasangan Inggris yang ditempatkan sebagai unggulan kedua babak kualifiasi Ben Lane/Sean Vendy dari Inggris.

Tanpa Gelar dari Negeri Paman Ho

Minggu, 26 Maret 2017

KANDAS: Irfan/Weni saat membela Pelatnas Cipayung
BEDA Polandia, beda Vietnam. Di Polandia Open, Indonesia bisa membawa satu gelar dari ganda putri.

Namun, di Vietnam sebaliknya. Merah putih harus pulang dengan tangan hampa.

Satu-satunya wakil yang tersisa di babak final, Irfan Fadilah/Weni Anggraini harus menyerah kepada lawannya. Dalam laga yang dilaksanakan di Hanio pada Minggu waktu setempat (26/3/2017), unggulan kedua ini menyerah tiga game 16-21, 21-19, 15-21 kepada pasangan ganda campuran nonunggulan asal Tiongkok Shi Longfei/Tang Pingyang.

Di antara lima partai yang dilaksanakan, pertandingan Irfan/Weni versus ganda Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut paling lama. Mereka harus memeras keringat selama 57 menit atau tiga menit menjelang satu jam.

Bagi Irfan/Weni penampilan di Negeri Paman Ho, julukan Vietnam, merupakan debut di ajang internasional selama 2017. Kali terakhir, mereka berlaga di Macau Open dan tersingkir di babak awal.

Beberapa tahun lalu, keduanya sempat memberikan harapan. Saat berada di Pelatnas Cipayung, Irfan/Weni mampu menjadi juara di Australia Open 2013. (*)

Debut, Langsung Bisa Juara

PERTAMA: Yulfira Barkah/Meirisa Cindy di podium
PASANGAN Yulfira Barkah/Meirisa Cindy Sahputri memulai debutnya di Polandia Open 2017. Namun, dari negara di Eropa Timur tersebut, keduanya memberi bukti.

Yulfira /Meirisa mampu menjadi juara. Pasangan gemblengan Pelatnas Cipayung tersebut mengalahkan menekuk wakil Taiwan Chang Hsin Tien/Yu Chien Hui dengan rubber game 21-12, 14-21, 21-14 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Warsawa pada Minggu waktu setempat (26/3/2017).

“Memang,mereka pasangan baru, tetapi sudah bisa tampil kompak. Kami tim pelatih bisa melihat secara teknisnya Cindy bisa mengatur serangan di depan dan Yulfira jadi tukang gebuk di belakang. Selain itu, mereka berdua juga atlet yang disiplin, dalam latihan ,” ujar Chafidz Yusuf, Asisten Pelatih Ganda Putri PBSI yang mendampingi Yulfira/Cindy bertanding, seperti dikutip media PP PBSI.

 Pasangan Indonesia ini juga mampu menerapkan strategi permainan yang benar. Menurut Chafidz, lawan memiliki kualitas permainan di tas Yulfira/Cindy.

“Yulfira/Cindy bisa menjalankan instruksi pelatih, alhamdulillah bisa juara. Secara nonteknis main lebih yakin dan percaya diri. Kalau bicara teknisnya, tadi kami banyak mengincar salah satu yang agak lemah dengan menghabiskan tenaganya dulu, baru serang balik,” jelas Chafidz.

Dia  mengucapkan terima kasih atas dukungan WNI di Polandia. Mereka, ungkap Chafidz, mendukung total pebulu tangkis

''Begitu juga support dari KBRI di sini,” tambahnya.

Chafidz menuturkan, tim ganda putri pelatnas ditargetkan untuk meraih gelar di ajang Orleans International Challenge 2017 di Prancis dan Finnish Open International Challenge 2017 di Finlandia. (*)

Hasil Final Polandia Open 2017

Tunggal Putra: Tan Jia Wei (Malaysia) v Ygor Coelho (Brasil) 21-13, 20-22, 21-10

Ganda Putri: Yulfira Barkah/Meirisa Cindy Sahputri (Indonesia) v Chang Hsin Tien/Yu Chien Hui (Taiwan)  21-12, 14-21, 21-14


Ganda Campuran: Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba (Polandia) v Tseng Min Hao/Hu Ling Fang (Taiwan) 20-22, 22-20, 21-13

Ganda Putra: Lukasz Moren/Wojciech Szkudlarczyk (Polandia ) v Alexander Dunn/Adam Hall (Skotlandia) 21-11, 21-18

Tunggal Putri: Yui Hashimoto (Jepang) v Lee Ying Ying (Malaysia) 13-21, 21-19, 21-10

Tien Minh Masih Jadi Harapan

Sabtu, 25 Maret 2017

UZUR: Nguyen Tien Minh (foto"vietnamnet.vn)
REGENERASI tunggal putra di Vietnam tersendat. Selama ini, publik hanya mengenal Nguyen Tien Minh.

Paahal, kini, usianya sudah tak muda lagi, 34 tahun. Namun, dia tetap diharapkan mampu mengharumkan nama negaranya.

Termasuk bila ada turnamen di kandangnya sendiri. Padahal, ada dua event di Vietnam yakni international dan open. Satunya masuk kategori challenge karena berhadiah USD 20 ribu dan satunya grand prix.

Di ajang open yang sudah dilaksanakan sejak 1996, Tien Minh sudah empat kali menjadi juara yakni pada 2008-2009 dan 2011-2012. Dengan usia yang  sudah masuk uzur, susah baginya menembus persaingan yang semakin ketat.

Beda dengan di level challenge. Pengalamannya masih bisa diandalkan untuk bisa menjadi juara. Buktinya, tahun lalu, pebulu tangkis yang pernah duduk di posisi kelima dunia tersebut menundukan Lim Chi Wing dari Malaysia dengan 21-14, 23-21.

2017 ini, Tien Minh punya kesempatan kembali naik podium terhormat. Dia mampu menembus babak final dan akan berhadapan dengan Khosit Phetpradab (Thailand). Vietnam International Challenge menjadi ajang perdana yang diikuti Tien Minh tahun ini. (*)

Hanya Tersisa Irfan/Weni

WAKIL Indonesia bertumbangan menjelang final Vietnam International Challenge 2017. Empat pasangan dan satu tunggal putri merah putih terjegal di babak semifinal yang dilaksanakan di Hanoi pada Sabtu waktu setempat (25/3/2017).

Satu-satunya ganda yang menembus babak akhir adalah Irfan Fadilah/Weni Anggraini. Unggulan kedua ini menundukkan pasangan Tiongkok Wang Sijie/Ni Bowen dengan straight game 21-19, 21-16.

Sebenarnya, kesempatan final sesama wakil Indonesia (All Indonesian Finals)  di nomor ganda campuran ini terbuka. Sayang,Andika Ramadiansyah/Mychelle Bandaso harus mengakui ketangguhan Shi Longfei/Tang Pingyang (Tiongkok) dengan 17-21, 23-21, 21-17.

Yang mengejutkan adalah tumbangnya pasangan senior Markis Kido/Hendra Aprida Gunawan. Unggulan kedua ini dipermalukan unggulan keenam asal Thailand Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty dengan ruber game 21-16, 11-21, 18-21.

Di nomor ganda putri, Rahmadhani Putri/Vania Sukoco menyerah di tangan Erina Honda/Nozomi Shimitzu dari Jepang dengan 23-21, 23-21. Wakil Indonesia Ririn Amelia yang menggandeng pebulu tangkis Malaysia Cheong Anna menyerah 13-21, 15-21 dari duta Malaysia Joyce Choong/Tee Jing Yi.

Sedang di tunggal putri, Rusydina Riodingin kalah dari unggulan teratas yang juga andalan tuan rumah Vu Thi  Trang dengan straight game 21-16, 21-16. (*)

Hanna Menuju Babak Akhir

Hanna Ramadini jadi unggulan teratas
LANGKAH Hanna Ramadini di Polandia Open 2017 terus berlanjut. Tunggal putri yang kini digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut sudah menembus babak semifinal.

Tiket tersebut diperolehnya usai mengalahkan Mariya Mitsova dari Bulgaria dengan dua game langsung 21-17,21-13 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Warsawa pada Jumat waktu setempat (25/3/2017). Pertemuan ini merupakan yang pertama bagi kedua pebulu tangkis.

Bagi Hanna, menembus babak semifinal memang sudah dipredksi sejak awal. Alasannya, pebulu tangkis 22 tahun tersebut diunggulkan di posisi teratas.

Turnamen yang masuk kategori challenge di Eropa Timur itu merupakan ajang ketiga baginya selama tahun ini. Dua event sebelmnya yang diikuti oleh Hanna adalah Malaysia Masters dan India Grand Prix Gold.

Di negeri jiran, Hanna terhenti di babak kedua usai dikalahkan Sania Nehwal dari India dengan straight game 17-21, 12-21. Kemudian bulan lalu, Hanna harus mengakui ketangguhan rekannya sendiri di Pelatnas Cipayung Gregoria Mariska dengan 19-21, 14-21 di India Grand Prix Gold.

Di babak semifinal Polandia Open 2017, Hanna menunggu pemenang antara Yui Hashimoto, unggulan ketiga dari Jepang, dan Natalia Perminova, unggulan kelima dari Bulgaria. (*)

Host Event Junior Asia dan Dunia

Rabu, 22 Maret 2017

Indra Leonard/ Violita dapat panggilan seleksi (foto:djarum)
INDONESIA dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan dua turnamen paling bergengsi di level junior (U-19). Kedua ajang tersebut adalah Asia Junior Championships (AJC) dan World Junior Championships (WJC). Dua kejuaraan ini memainkan nomor beregu campuran dan perorangan.

Rencananyam AJC dilangsungkan di GOR Jaya Raya Bintaro pada 22 – 30 Juli 2017, mundur beberapa pekan dari jadwal awal karena berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan penyelenggaraan WJC telah diumumkan sejak tahun lalu. Daerah Istimewa Jogjakarta akan menjadi provinsi penyelenggara kejuaraan ini, pada 9-22 Oktober 2017.

“Keputusan ini baru diumumkan pekan lalu. Indonesia akhirnya dipercaya untuk menjadi tuan rumah AJC 2017. Soal waktu persiapan yang cukup singkat, kami rasa tidak ada masalah, masih ada waktu empat bulan kedepan, kami sudah mulai mengerjakan persiapan yang sudah bisa dikerjakan,” ujar Kasubid Hubungan Internasional PP PBSI Bambang Roedyanto seperti dikutip media PP PBSI yang dikirim via email.

Tentunya, tambah dia, sebuah kehormatan bagi Indonesia dalam setahun bisa dipercaya menjadi tuan rumah AJC dan WJC sekaligus. Ini, terang lelaki yang akrab disapa Rudi, membuktikan bahwa reputasi Indonesia sebagai penyelenggara kejuaraan bulutangkis sudah diakui.

 Tak hanya mengangkat nama Indonesia sebagai penyelenggara kejuaraan bulu tangkis level dunia, kesempatan menjadi tuan rumah juga menguntungkan Indonesia dari segi jumlah kuota atlet yang bertanding di AJC dan WJC 2017. Selain itu, klub dan pembina bulu tangkis juga dapat menyaksikan langsung sejauh mana kekuatan pemain-pemain asing dan nantinya dapat memberikan masukan bagi pembinaan atlet di klubnya.

Selain itu, AJC dan WJC 2017 merupakan ajang bagi pebulu tangkis U-19 untuk berlomba-lomba merebut poin menuju Youth Olympic 2018 yang akan berlangsung di Buenos Aires, Argentina. Hampir dipastikan, mereka yang akan turun di AJC dan WJC 2017 adalah atlet-atlet junior terbaik di dunia.

 Indonesia telah memulai persiapan jelang dua kejuaraan ini dengan memanggil 26 atlet untuk latihan bersama di Pelatnas Cipayung. Atlet tunggal putra dan tunggal putri sudah bergabung pada 13 Maret 2017, sedangkan ganda putra dan ganda campuran pada 17 April 2017.

Nominator atlet Asia Junior Championships 2017 :

Tunggal Putra

1.     Mochammad Rehan Diaz (Mutiara Cardinal Bandung)

2.     Gatjra Piliang Fiqihillahi Cupu (Exist Jakarta)

3.     Ikhsan Leonardo Emanuel Rumbay (SKO Ragunan)

4.     Fathurrachman Fauzi (Exist Jakarta)

5.     Alberto Alvin Yulianto (Djarum Kudus)

Tunggal Putri
1.     Sri Fatmawati (Jaya Raya Jakarta)

2.     Asty Dwi Widyaningrum (Jaya Raya Jakarta)

3.     Putri Ayu Desiderianti (Exist Jakarta)

Ganda Putra
1.     Abyyu Fauzan Majid (SGS PLN)

2.     Muhammad Shohibul Fikri (SGS PLN)

3.     Ade Bagus Sapta Ramadhani (Exist Jakarta)

4.     Alam Muhammad Afwani H (Exist Jakarta)

5.     Alfandy Rizki Putra Kasturo  (Jaya Raya Jakarta)

6.     Emanuel Randy Febrito (Jaya Raya Jakarta)

7.     Ferdian Mahardika Ranialdy (Jaya Raya Jakarta)

8.     Ghifari Anandaffa Prihardika (Jaya Raya Jakarta)

9.     Fenta Age Prasetyo (Exist Jakarta)

10.  Jonanes Aldy Djunaedi (Exist Jakarta)

11.  Adnan Maulana (Jaya Raya Jakarta)

12.  Rizki Adam (Candra Wijaya International Badminton Club)

Ganda Campuran

1.     Renaldi Samosir (Exist Jakarta)

2.     Herdiana Yuli Marbela (Exist Jakarta)

3.     Indra Leonard Prasetya (Bayu Kencana Pasuruan)

4.     Violita Dewi (Bayu Kencana Pasuruan)

5.     Pramudya Kusuma (Djarum Kudus)

6.     Lisa Ayu Kusumawati (Djarum Kudus)

Bakat Tercium sejak Masuk Audisi

Kevin Sanjaya bersama kedua orang tua (foto: PBSI)
BAKAL melejitnya Kevin Sanjaya ternyata sudah terendus lama. Tepatnya saat dia diterima Kevin di tahun 2007 ketika Kevin lolos audisi PB Djarum.

“Saat itu Fung (Permadi) bercerita kepada saya kalau Kevin ini permainanya bagus, walaupun posturnya tidak tinggi tetapi tidak kesulitan kontrol bola, berarti bakatnya bagus,” puji Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Hartono.

Kevin, ujarnya, adalah atlet yang fokus dengan tugasnya. Kalau tidak ada cedera atau masalah non teknis, masa depan Kevin cerah.

''Mari kita doakan Kevin makin jaya dan akan membawa Indonesia makin jaya,” ucap Victor.

Salah satu senjata utama Kevin yang tak dimiliki pemain lain adalah pukulan-pukulannya yang terbilang aneh dan sulit untuk dikembalikan lawan. Ini banyak dipelajarinya dari Sigit Budiarto, mantan pemain ganda putra Indonesia era 90-an yang juga pernah melatih Kevin di PB Djarum.
 
“Satu kata untuk Kevin : Pintar! Dia punya talenta yang lain daripada yang lain, attitude-nya baik dan latihannya selalu all out. Mau dikasih program latihan apapun ayo. Skill yang dia miliki itu di atas rata-rata teman-temannya yang lain,” komentar Sigit.

Kevin dan Marcus sudah dihadapkan dengan tantangan selanjutnya di ajang India Open Super Series 2017. Keduanya punya target mempertahankan gelar juara di turnamen ini yang mereka raih tahun lalu. (*)

Rp 250 Juta buat Kevin

Kevin (tiga dari kanan) bersama bos Djarum Victor Hartono
KEVIN Sanjaya Sukamuljo jadi perbincangan usai All England 2017 . Dalam turnamen bulu tangkis tertua di dunia tersebut, dia mampu keluar sebagai juara.  Berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon, mereka mengalahkan  Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok), dengan 21-19, 21-14 di final nomor ganda putra.

 Atas prestasi ini, Kevin diberi apresiasi oleh klubnya, PB Djarum, yang telah membina Kevin sejak ia berusia 11 tahun. Bentuk apresiasi tersebut bernilai total Rp 250 juta, terdiri dari deposito BCA senilai Rp 200 juta, persembahan dari Djarum Foundation serta Rp. 50 juta dari Blibli.com yang merupakan sponsor tim nasional bulu tangkis Indonesia.
 
Pemberian penghargaan berlangsung siang ini di Galeri Indonesia Kaya, Rabu (22/3). Dalam kesempatan ini turut hadir Sekretaris Jenderal PP PBSI Achmad Budiharto serta wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI Oei Wijanarko.
 
“Menjadi juara All England memang sudah impian saya sejak kecil, tetapi jadi juara olimpiade, juara dunia dan juara Asian Games sih juga ingin. Perasaannya waktu menang sempat nggak percaya, ini beneran menang nggak sih?” ungkap Kevin seperti dikutip media PP PBSI.
 
Pebulu tangkis asal Banyuwangi ini menyampaikan terima kasih kepada Djarum Foundation dan PB Djarum atas dukungan yang diberikan . Kevin merasa semua itu mungkin tidak bisa tercapai kalau tidak bergabung dengan PB Djarum.

'' Banyak sekali ilmu dan lesem[atan yang diberikan kepada saya,” terang Kevin.

Kevin memang sosok atlet yang istimewa, ia merupakan jebolan audisi yang diselenggarakan PB Djarum setiap tahunnya. Tak terpilih dalam audisi 2006, Kevin kecil tak menyerah, ia kembali mencoba di tahun berikutnya dan akhirnya berhasil lolos.
 
“Kevin ini skill-nya bagus, berani dan pantang menyerah. Sudah kelihatan sejak masih remaja. Kevin dilahirkan untuk menjadi juara,” kata Ade Lukas, salah satu pelatih Kevin di PB Djarum. (*)

Tiga Wakil Berjuang di Kualifikasi

Senin, 20 Maret 2017

Anthony Ginting punya kans lolos babak utama
 PEBULU tangkis muda Indonesia terus mengejar poin. Meski, mereka harus melalui babak kualifikasi, khususnya di turnamen super series atau super series.

Di Malaysia Open misalnya. Tiga andalan merah putih, M. Bayu Pangisthu, Ihsan Maulana Mustofa, dan Anthony Ginting memulai langkahnya dari babak kualifikasi.

 Ini dikarenakan ranking ketiganya belum bisa untuk menembus babak utama. Di antara ketiganya, Ginting, sapaan karib Anthony Ginting, mempunyai ranking tertinggi yakni 30. Disusul Ihsan di posisi 38 dan Bayu di peringkat 58.

 Kans ketiganya menembus babak utama Malaysia Open terbuka. Ini disebabkan Ginting, Ihsan, dan Bayu berada di grup yang berbeda. Biasanya, sesama pebulu tangkis Indonesia harus saling mengalahkan untuk bisa menembus babak utama.

 Di  babak utama sendiri, merah putih sudah menempatkan tiga duta. Mereka adalah Tommy Sugiarto, Jonatan Christie, dan Sony Dwi Kuncoro. Selain Jonatan, Tommy dan Sony bukan lagi penghuni Pelatnas Cipayung. (*)

Awas, Lin Dan Sudah Bangkit

Lin Dan juara di ajang grand prix gold
LIN Dan mulai panas. Setelah gagal di dua turnamen, German Open 2017 dan All England 2017, kali ini Super Dan, julukan Lin Dan, mampu naik podium juara di Swiss Open.

Dalam final yang dilaksanakan di Basel pada Minggu waktu setempat (19/3/2017), pebulu tangkis 34 tahun tersebut mengalahkan rekannya sendiri, Shi Yuqi, dengan dua game mudah 21-12, 21-11.Pertandingan keduanya hanya memakan waktu 31 menit. Ini jadi final tercepat dari lima nomor yang dipertandingkan.

Kemenangan ini juga membalas kekalahan pekan lalu di All England 2017. Dalam turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu, Lin Dan menyerah dua game 22-24, 11-21.

Usai dari Basel, ajang berikutnya yang diikuti oleh Lin Dan adalah Malaysia Open 2017. Di turnamen yang dilaksanakan 4-9 April itu, di babak I, Lin Dan bersua dengan H.S. Pranoy dari India.

Selama ini, keduanya belum pernah berjumpa. Hanya, dengan kemenangan di Swiss Open, Lin Dan punya modal berharga. (*)

Jalan Menuju Juara

 Babak

I. Arnaud Merkle (Prancis) 21-14, 21-5

II. Koki Watanabe (Jepang) 21-13, 21-13

III.Brice Leverdez (Prancis) 21-7, 21-11

Perempat final: Ihsan Maulana Mustofa (Indonesia) 21-17, 21-14

Semifinal: Anthony Ginting (Indonesia) 21-17, 21-17

Final:Shi Yuqi (Tiongkok) 21-12, 21-11

Indonesia Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Level Dua BWF

Minggu, 19 Maret 2017

RENOVASI: Istora Senayan, Jakarta
BWF mengumumkan struktur baru dalam penyelenggaraan turnamen internasional. Indonesia mendapat kehormatan dari federasi bulu tangkis dunia itu untuk menjadi tuan rumah turnamen level dua yang diperebutkan banyak negara seperti Denmark dan Malaysia.

Kejuaraan level dua merupakan kejuaraan terbuka paling bergengsi yang levelnya hanya satu tingkat dibawah olimpiade, kejuaraan dunia, dan super series finals. Hanya tiga negara yang dinobatkan sebagai tuan rumah kejuaraan level dua untuk periode 2018-2021 ini. Selain Indonesia, Tiongkok, yang juga salah satu negara raksasa bulu tangkis dunia, berhak atas kejuaraan level dua. Begitu pun Inggris dengan kejuaraan All England yang punya prestise tersendiri.

Keputusan ini diumumkan BWF lewat hasil rapat bersama Council Member Minggu (19/3/2017) di Hilton Garden, Kuala Lumpur, Malaysia.“BWF telah memutuskan Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan level 2 karena dinilai dari penyelenggaraan BCA Indonesia Open sebelumnya yang dijadikan sebagai barometer bagi negara-negara lain,” tutur Bambang Roedyanto, Kasubid Hubungan Internasional PP PBSI.

Indonesia, ungkapnya, dinilai kreatif dalam mengemas BCA Indonesia Open. hospitality-nya juga bagus, tambah Rudi, sapaan karibnya, juga antusiasme penontonnya luar biasa. Ditambah lagi pertimbangan ada renovasi Istora.

''Semakin menambah nilai kejuaraan ini untuk kedepannya. Rencananya total hadiah kejuaraan senilai USD 1,25 juta ,” sambungnya.

Kalau All England, ucap Rudi, dinilai BWF layak masuk level dua karena selain turnamen tertua, penontonnya juga makin ramai. Sedangkan Tiongkok punya sponsor yang banyak.

Ditambahkan Rudi, ketentuan poin kejuaraan dan persyaratan peserta kejuaraan masih didiskusikan BWF bersama Council Member. (*)

Daftar Negara Penyelenggara Kejuaraan Internasional BWF 2018 – 2021:
Level 1 (Prize money minimal USD 1,5 juta – khusus super series final)
Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Super Series Finals

Level 2 (Prize money minimal USD 1 juta )
Indonesia, Tiongkok, Inggris (All England)

Level 3 (Prize money minimal USD 700 ribu )
Tiongkok, Denmark, Perancis, Jepang dan Malaysia

Level 4 (Prize money minimal USD 350 ribu )
Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, India

 Level 5
Thailand, Taiwan, India, Korea Selatan, Makau, Australia, Selandia Baru, Jerman, Spanyol, Swiss dan Amerika Serikat

Duh, Gagal di Basel

TAKLUK: Praveen Jordan/Debby Susanto
INDONESIA gagal di Swiss Open 2017. Satu-satunya wakil yang tersisa hingga babak final, Praveen Jordan/Debby Susanto, tumbang di babak final.

 Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Basel pada Minggu waktu setempat (19/3/2017), mereka ditaklukkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand) dengan dua game langsung 18-21, 15-21.

Penampilan Praveen/Debby memang antiklimaks dibanding laga semifinal.  Sehari sebelumnya, pasangan yang kini digembleng di Pelatnas Cipayung itu mampu menghempaskan pasangan Zhang Nan/Li Yinhui asal Tiongkok, dengan 17-21, 21-19, 21-16.

Asisten Pelatih Ganda Campuran PBSI Vita Marissa yang berada di Basel, mengakui penampilan lawan memang cukup impresif di babak final.“Praveen/Debby sudah bermain maksimal di final, tetapi lawan tampil lebih sabar. Permainannya rapi dan tidak mudah untuk dimatikan,” kata Vita seperti dikutip media PBSI.

Dia mengakui anak asuhnya harus lebih fokus lagi dan menekan dari awal.Namun, lanjut Vita, penampilan Praveen/Debby sudah ada kemajuan dibanding di All England 2017.

''Praveen bisa lebih bisa konsentrasi dan tidak lengah,” ujarnya.
Indonesia hanya mengirim satu wakil ke laga final Swiss Open Grand Prix Gold 2017. Dua pebulu tangkis tunggal ditaklukkan wakil Tiongkok di babak semifinal.

Di tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting dikalahkan Lin Dan  dengan 17-21, 17-21. Sedangkan Fitriani tak dapat mengatasi permainan Chen Xiaoxin 17-21, 19-21 di tunggal putri. (*)

Akhirnya Aprilia Bisa Juara

Aprilia Yuswandari saat tampil di final (foto:djarum)
DUA tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula, Aprilia Yuswandari gagal menjadi juara di ajang sirkuit nasional (sirnas).

Tapi, dahaga tersebut terobati. Mantan pebulu tangkis Pelatnas Cipayung tersebut menjadi juara di Seri Manado 2017. Dalam final yang dilaksanakan di GOR Ari Lasut pada Sabtu (18/3/217), Aprilia mengalahan sesama penghuni pelatnas Yulia Yosephine Susanto dari Shamrock Medan dengan dua game 21-17, 22-20. Pertandingan keduanya memakan waktu 54 menit.

Hasil ini ikut dipengaruhi tak tampilnya Hana Ramadini. Unggulan teratas asal klub Mutiara Bandung tersebut gagal berlaga.

Tahun lalu, Hana tak menyisakan gelar bagi rivalnya. Semua seri disapu bersih oleh mantan tunggal putri penghuni Pelatnas Cipayung itu.

Selain itu, tumbangnya lawan beratnya, Febby Angguni, juga menjadi keuntungan bagi Aprilia. Selama ini, mantan rekannya di Cipayung tersebut juga selalu menjadi batu sandungan. (*)

Hasil Final Nomor Dewasa

Tunggal putra:Viky Angga Saputra v Christofel Karinda 18-21,21-14, 21-17

Tunggal putri:Aprilia Yuswandari v Yulia Yosephine 21-7, 22-20

Ganda putra:Lukhi Apri Nugroho/Tedi Supriadi v Riky Widiantio/Tri Kusuma 21-13, 24-22

Ganda putri:Dian Fitriani/Nadya Melati v Maretha Dea Giovani/Suci Rizki Andini 21-18, 22-20

Ganda campuran: Riky Widianto/Richi Puspita Dili v Lukhi Apri Nugroho/Ririn Amelia 21-16, 21-12

Tiongkok Gagal Tempatkan Wakil di Semua Nomor

KALAH: Zhang Nan/Li Yinhui (foto:bestchinanews.com)
TIONGKOK meloloskan semua wakil di babak semifinal Swiss Open 2017. Tak menutup kemungkinan, Negeri Panda, julukan Tiongkok, akan sapu bersih dalam ajang yang masuk kategori grand prix gold tersebut.

Namun, di luar dugaan, ada satu nomor yang ternyata Tiongkok tak mampu menempatkan wakil di babak puncak yakni ganda putra. Dua wakilnya di semifina,Zheng Siwei/Chen Qingchen dan Zhang Nan/Li Yinhui, tumbang.

Zheng/Chen,yang ditempatan sebagai unggulan teratas, menyerah kepada unggulan ketiga asal Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, dengan tiga game 19-21, 21-13, 19-21dalam pertandingan yang dilaksanakan di Basel pada Sabtu waktu setempat (18/3/2017). Ini menjadi kekalahan pertama dalam empat kali perjumpaan.

Sedangkan Zhang Nan/Li Yinhui, yang diunggulkan di posisi kelima, takluk kepada duta Indonesia, Praveen Jordan/Debby Susanto, unggulan kedua, dengan rubber game 21-17,19-21,16-21. Bagi kedua pasangan, perjumpaan tersebut merupakan yang pertama.

Sebelumnya, saat Zhang Nan masih bersama Zhao Yunlei, keduanya menjadi momok bagi Praveen/Debby. Bagaimana tidak, dalam sembilan kali perjumpaan, pasangan merah putih tersebut hanya sekali menang yakni di final All England 216.Bahkan, kali terakhir bertemu, di Olimpiade Rio 2016,Praveen/Debby, menyerah dua game langsung 11-21, 18-21.

Di final ini, pasangan Negeri Gajah Putih, juluan Thailand, tersebut bukan lawan yang asing bagi Praveen/Debby. Kedua pasangan sudah tiga kali bertemu. Hasilnya, ganda binaan Pelatnas Cipayung tersebut menang 2-1.

Gelar di Swiss Open diharapkan bisa menjadi ajang pembuktiaan bagi Praveen/Debby. Pekan lalu di All England 2017, mereka langsung tumbang di babak I. Padahal, status keduanya adalah juara bertahan. (*)

Satu Grup dengan Denmark dan India

Jumat, 17 Maret 2017

PV Sindhu jadi ganjalan di tunggal putri (foto:india.com)
KEHORMATAN Indonesia di Piala Sudirman kembali dipertaruhkan. Bahkan untuk 2017 ini bakal lebih berat.

 Dalam pengundian grup yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (17/3), Indonesia masuk di grup 1D bersama Denmark dan India. Event itu akan dihelat di Gold Coast, Australia, pada 21-28 Mei 2017. Kejuaraan beregu campuran yang memainkan nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri serta ganda campuran.

“Saya melihat kekuatan negara peserta cukup berimbang ya. Untuk di grup tentu kami harus lolos dulu supaya bisa ke babak delapan besar. Kans tetap terbuka baik lawan Denmark atau India, peluangnya 50-50,” kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti seperti dikutip media PP PBSI.

Untuk lawan India, ucapnya, Indonesia akan mencoba mencuri poin di ganda campuran, ganda putra, dan ganda putri serta tunggal putra. Sedangkan saat melawan Denmark, nomor-nomor andalan adalah ganda putra, ganda campuran, ganda putri serta tunggal putri.

Ditambahkan Susy, berkaca pada catatan prestasi terakhir para penggawa merah putih, semifinal menjadi target realistis yang dipatok PBSI. Tetapi, pihaknya tetap optimistis dan positif thinking.

''Untuk hasil maksimal dan berusaha siapa tahu bisa juara. Tim butuh semangat yang lebih, kerja keras, serta dukungan dan doa dari semua pihak,” ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 ini.

Soal komposisi , Susy meneramgkan, PBSI bakan menurunkan tim terbaik di perebutan supremasi bergengsi ini. Tim Piala Sudirman Indonesia tahun ini bakal diisi pebulu tangkis senior dan muda.

“Sepulang dari Swiss Open, kami akan mengadakan pertemuan untuk membahas persiapan ke Piala Sudirman 2017, termasuk menentukan tim bayangan, komposisi tim bisa saja perpaduan pemain senior dan muda,” pungkas Susy yang tengah berada di Basel, Swiss mendampingi tim Indonesia di ajang Swiss Open Grand Prix Gold 2017. (*)

Undian Piala Sudirman 2017:
Grup 1
Grup 1A : Tiongkok, Thailand, Hong Kong
Group 1B : Korea, Taiwan, Rusia
Grup 1C : Jepang, Malaysia, Inggris
Grup 1D : Denmark, Indonesia, India

Grup 2
Grup 2A : Jerman, Vietnam, Skotlandia, Kanada
Grup 2B : Singapura, Australia, Amerika Serikat, Austria

Grup 3
Grup 3A : Selandia Baru, Kaledonia Baru, Makau, Guam
Grup 3B : Sri Lanka, Slowakia, Polinesia Perancis, Fiji

Bersatu Kembali di Level Sirnas

REUNI:Riky Widianto/Richi Dili
PASANGAN Riky Widianto/Richi Puspita Dili pernah disegani di ajang internasional. Keduanya mampu menembus posisi 10 dunia tepatnya di ranking kedelapan.

 Juara India Grand Prix Gold dan finalis Singapore Open Super Series juga pernah dibukukan Riky/Richi. Sayang, penampilan keduanya labil.

 Akibatnya, keduanya dipisah. Riky dipasangkan dengan Gloria Emanuelle Widjaja dan Richi dengan Edi Subaktiar. Meski dipisah, tapi keduanya tak bisa bersinar.

 Puncaknya, pada awal 2017, Riky dan Richi terpental dari Pelatnas Cipayung. Keduanya dikembalikan ke klubnya masing-masing. Riky ke Wima, Surabaya, dan Richi ke SGS, Bandung.
Tapi, di perjalanannya, Riky pindah ke Tjakrindo Masters.

  Kini, Riky kembali berpasangan dengan Richi. Hanya, ajang yang diikuti bukan ajang internasional lagi.

 Mereka turun kasta dengan tampil di ajang sirkuit nasional (sirnas). Saat ini, Riky/Richi tengah berlaga di Sirnas Manado, Sulawesi Utara. Langkah mereka sudah sampai babak semifinal. (*)

Quat-trick Kegagalan di Depan Mata

JEBLOK: Greysia/Rizky Amelia
OTAK-atik komposisi di nomor ganda putri belum membuahkan hasil. Greysia Polii contohnya.

Sempat moncer bersama Nitya Krishinda Maheswari, kini sinarnya serasa redup. Dipasangkan dengan Rizky Amelia Pradipta, dia gagal total.

Tiga turnamen terakhir yang diikuti membuat Greysia/Rizky pulang dengan kecewa. Tiga ajang tersebut adalah German Open, All England, dan Swiss Open.

Ironisnya, dalam tiga turnamen yang dilaksanakan di Benua Eropa tersebut, Gresyia/Rizky selalu tumbang di babak II. Di German Open, mereka kalah tiga game 21-19, 18-21, 12-21 oleh pasangan Jepang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota. Sepekan kemudian, di All England, yang merupakan turnamen tertua di dunia, pasangan yang sama-sama dari klub Jaya Raya tersebut kalah kembali dari wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, Naoko Fukuman/Kurumi Yonao, dengan 22-24, 8-21.

  Yang terakhir, Greysia/Rizky secara mengejutkan kalah oleh Isabel Herttrich/Olga Konon dari Jerman. Mereka kalah 18-21, 21-19, 20-22 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Basel pada Kamis waktu setempat (16/3/2017).

 Meski mengalami tiga kali gagal beruntun, tapi PP PBSI tetap mempercayai Greysia/Rizky.Keduanya diberi kesempatan turun di Malaysia Open 2017. Kegagalan bisa kembali menimpa.

 Di babak turnamen yang masuk kategori super series tersebut, pasangan yang dilatih oleh Eng Hian tersebut bersua dengan Chen Qingchen/Jia Yifan. (*)

Harus Hadapi Kandidat Juara

Kamis, 16 Maret 2017

PISAH: Tontowi saat masih bersama Liliyana Natsir
TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir masih duduk di posisi ketiga. Namun, bukan jaminan keduanya selalu dipasangkan.

Kali ini, PP PBSI memisahkan kembali keduanya. Tontowi dipasangkan dengan Gloria Emanuelle Widjaja. Keduanya diberi kesempatan berlaga di Swiss Open 2017. Sedangkan Liliyana diistirahatkan.

 Sebenarnya, keputusan ini cukup mengejutkan. Kok bisa? Ini karena pekan lalu Tontowi/Liliyana masih dipasangkan di All England 2017.

 Hasilnya memang tak sesuai harapan. Ditarget menjadi juara, keduanya hanya sampai babak perempat final.

 Tontowi/Liliyana dihentikan oleh pasangan Inggris Chris Adcock/Gabrielle Adcock dalam pertarungan tiga game 21-16, 19-21, 12-21.

 Bagi pasangan merah putih tersebut, All England bukan ajang yang asing. Tontowi/Liliyana sudah pernah tiga kali menjadi juara beruntun (2012, 2013,dan 2014).  Tahun lalu, keduanya juga membuat prestasi spektakuler dengan membawa pulang emas dari ajang Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil.

 Di Swiss Open 2017, Tontowi/Gloria harus memulai langkahnya dari babak kualifikasi. Untung, rintangan awal bisa dilalui dan mampu berlaga di babak utama.

 Hanya di babak kedua, keduanya menemui lawan berat. Pasangan yang sama-sama berasal dari klub Djarum Kudus tersebut menantang unggulan teratas Zheng Siwei/Chen Qingchen (*)

Sinyo/Kevin Naik Posisi Teratas

Sinyo/Kevin usai memastikan juara All England 2017
POSISI nomor satu ganda putra menjadi milik Marcus 'Sinyo'Fernaldi Gideon/Kevin Sanaja. Dalam ranking terbaru yang dikeluarkan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) Kamis (16/3/2017), keduanya naik empat setrip dan kini mengoleksi 73.051 poin.

Capaian tersebut tak lepas dari podium terhormat All England 2017. Dalam final yang dilaksanakan di Birmingham, Inggris, pada Minggu (12/3/2017), keduanya menang mudah dua game 21-19, 21-14 atas wakil Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen.

  Sinyo/Kevin menggeser tempat yang sebelumnya diduduki oleh Goh V Shem/Tan Wee Kiong dari Malaysia. Di All England, pasangan negeri jiran tersebut hanya sampai babak semifinal.

 Goh/Tan menyerah dari Li/Liu di perempat final. Kekalahan ini membuat poin keduanya mengalami pengurangan karena tahun lalu mereka masih bisa sampai babak semifinal.

  Keberhasilan Sinyo/Kevin ini membuat dahaga Indonesia juara di ganda putra hanya berlangsung selama tiga tahun. Kali terakhir, pada 2014, merah putih menempatkan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjadi pemenang dalam turnamen perorangan tertua di dunia tersebut.

 Sebelum Hendra/Ahsan, Indonesia puasa gelar ganda putra selama 11 tahun. Sigit Budiarto/Candra Wijaya menjadi juara pada 2003.

 Gelar Sinyo/Kevin juga melanjutkan keberhasilan merah putih membawa gelar dari All England dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, pasangan Praveen Jordan/Debby Susanto menjadi juara di nomor ganda campuran. (*)

Lima Besar Peringkat Ganda Putra

1. Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya (Indonesia)

2. Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia)

3.Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang)

4. Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok)

5. Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark)

Debut Manis Tontowi/Liliyana

Rabu, 08 Maret 2017

PASANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akhirnya jalani debut di 2017. Mereka pun menjawabnya dengan kemenangan.

Dalam pertandingan babak I All England 2017 di Birmingham, Inggris, pada Rabu waktu setempat (8/3/2017), Tontowi/Liliyana mengalahkan Wang Chi Lin/Lee Chia Hsin asal Taiwan dengan straight game 21-8, 21-18. Pertandingan tersebut memakan waktu 25 menit.

Game pertama dimulai, pasangan andalan Indonesia itu tampil tanpa hambatan sama sekali dengan terus unggul di lapangan. Memasuki game kedua, Tontowi/Liliyana sempat tertinggal 5-8 di awal, sebelum akhirnya balik menyusul menjadi 18-9.

Namun Tontowi/Liliyana tak mulus begitu saja. Mereka masih disusul Wang/Lee menjadi 19-16. Beruntung akhirnya skor 21-18 bisa dikantongi Tontowi/Liliyana. Mereka pun melaju ke babak dua.

“Penampilan perdana kami hari ini cukup baik. Walaupun lawan bukan pemain unggulan. Tapi kami harus tetap fokus dan tidak boleh lengah. Karena kalau lengah, bisa seperti tadi di game kedua, yang hampir lewat. Persaingan di lapangan sudah lebih merata, semua lawan perlu diwaspadai,” ujar Liliyana ditemui usai pertandingannya di Barclaycard Arena, Birmingham, seperti dikutip media PBSI.

Tontowi/Liliyana mengaku tampil tanpa beban dan lebih enjoy di All England kali ini. Usai perhelatan Olimpiade tahun lalu, target besar yang dipikul keduanya, sudah berhasil dipecahkan. Mereka pun kini bisa tampil lebih lepas di lapangan. Meski begitu Tontowi/Liliyana tetap mewaspadai semua lawan yang akan dihadapinya nanti.

 “Kami lebih fresh dan bergairah untuk tampil di All England kali ini,” ungkap Tontowi.

“Setelah melewati Olimpiade, pertandingan yang selama ini kami impi-impikan, kami bisa lebih enjoy dan menikmati pertandingan. Beban berat itu (Olimpiade Rio 2016) sudah kami lewati,” ucap Liliyana.

Sayang langkah Tontowi/Liliyana tak diikuti oleh dua rekannya di ganda campuran. Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti kalah 14-21, 5-21 dari unggulan ketiga Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark). Sebelumnya, Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika juga harus angkat koper, setelah kalah dari Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok) 9-21, 17-21. (*)

Tinggal Berharap kepada Veteran

Sony Dwi Kuncoro masih bertahan di All England 2017
KEJUTAN besar diukir Sony Dwi Kuncoro. Arek Suroboyo tersebut memulangkah lebih awal unggulan keempat All England 2017, Son Wan-ho asal Korea Selatan.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Birmingham, Inggris, Rabu waktu setempat (8/3/2017), Sony menang 4-1. Lawan tak bisa melanjutkan pertandingan karena cedera.

Cedera itu dialaminya saat membela Djarum Kudus dalam dalam ajang Superliga Badminton Indonesia (SBI) 2017 di DBL Arena, Surabaya, 26 Maret lalu. Ketika itu, dia menghadapi Chou Tien Chen asal Taiwan yang membela Musica.

Tien Chen juga yang menjadi lawan Sony di babak kedua. Namun, dalam dua kali pertemuan, bapak dua putri tersebut selalu menelan kekalahan. Pil pahit tersebut ditelan Sony di Indonesia Open 2011 dan Asian Games 2010.

Sebenarnya, di babak I, Indonesia menempatkan tiga wakil. Selain Sony, ada juga Tommy Sugiarto d
Tommy kalah dua game langsung 19-21, 18-21 kepada unggulan ketujuh asal Tiongkok Tian Houwei. Sedangkan Anthony harus mengakui ketangguhan Tien Chen. Menariknya di SBI 2017, keduanya sama-sama membela Musica menjadi juara. Di final, mereka menyumbangkan angka kemenangan. (*)

Targetkan Praveen/Debby Pertahankan Gelar

Selasa, 07 Maret 2017

Praveen Jordan/Debby Susanto
BEBAN berat di pundak Praveen Jordan/Debby Susanto.Keduanya ditargetkan menjadi juara nomor ganda campuran dalam ajang All England 2017.

Ini artinya, Praveen/Debby harus bisa mengulangi capaian tahun lalu. Pada 2016, pasangan yang sama-sama berasal dari klub yang sama, Djarum Kudus, tersebut menjadi juara usai mengalahkan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, Denmark, dengan 21-12 dan 21-17.

Latihan intensif pun sudah dijalani keduanya. Praveen/Debby terus digembleng dari sisi fisik dan teknik agar bisa tampil gemilang di Barclaycard Arena, Birmingham.

Dari sektor ganda campuran, Praveen/Debby datang tak sendiri ke turnamen bulu tangkis tertua di dunia ini. Ada juga sang juara Olimpiade Rio 2016, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, serta Hafiz Faisal/Shela Devi Aulia dan Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti.

“Untuk target saya lebih menekankan kepada Jordan/Debby.  Sementara Tontowi/Liliyana, setelah Olimpiade kemarin, saya tidak memberikan terlalu banyak tekanan. Target Tontowi/Liliyana saat ini adalah Kejuaraan Dunia dan Asian Games,” kata Richard Mainaky, pelatih nomor ganda campuran.

 Tontowi sempat kena gejala tipus dan Liliyana dalam masa pemulihan usai cedera. Tapi secara umum Tontowi/Liliyana, ungkap Richard, sudah cukup siap untuk bertanding.

“Sementara untuk Hafiz/Shela dan Ronald/Melati, saya ingin melihat sejauh mana mereka bisa mengatasi pertandingan di lapangan dengan pemain-pemain bagus. Daya juangnya seperti apa. Mereka harus bisa menunjukkan kemampuan terbaik,” tambah Richardi.

All England Open 2016 akan berlangsung pada 7-12 Maret 2017 di Barclaycard Arena, Birmingham.(*)

Sinyal Bahaya Duo Tunggal Tiongkok

Senin, 06 Maret 2017

Lin Dan babak belur di German Open 2017
DUO Lin Dan serta Chen Long pernah begitu menakutkan. Dalam satu dekade, keduanya hampir mendominasi juara dalam berbagai turnamen bergengsi.

Bahkan, Lin Dan mampu meraih emas dalam tiga olimpiade terakhir, Beijing 2008, London 2012, dan Rio de Janeiro 2016. Begitu juga Chen Long yang puncaknya menjadi juara dunia 2015.

Tapi, kekuatan keduanya seakan mulai goyah. Itu terlihat dalam German Open 2017.

Dalam turnamen yang hanya levelnya grand prix gold, Lin Dan-Chen Long gagal menjadi juara. Bahkan, untuk menembus final pun tak mampu.

Lin Dan, yang kini mulai uzur, 34, secara mengejutkan menyerah di tangan wakil Denmark Emil Holst dengan dua game yang mudah 10-21, 16-21. Kemudian, Chen Long di semifinal dihentikan Wang Tzu Wei dari Taiwan dengan tiga game 18-21, 21-8, 18-21.

Kekalahan ini menjadi sinyal bahaya bagi Tiongkok. Apalagi, pekan ini, Lin Dan-Chen Long diharapkan meneruskan kejayaan Negeri Panda, julukan Tiongkok, di All England. selama ini, mereka berganti menjadi pemenang dalam turnamen perorangan paling bergengsi di muka bumi tersebut.

Di All England 2017, keduanya juga harus kerja keras. Lawan lumayan berat langsung menghadang di babak awal.

Lin Dan yang ditempatkan sebagai unggulan keenam akan ditantang Zulkifli Zulfadli dari Malaysia dan Chen Long,sebagai unggulan ketiga, dijajal Marc Zwiebler dari Jerman. (*)

Barisan Juara All England 2016

Tunggal putra:Lin Dan (Tiongkok)

Tunggal putri:Nozomi Okuhara (Jepang)

Ganda putra:Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia)

Ganda putri:Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang)

Ganda campuran: Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia)

Tuah Chou Tien Chen Masih Berlanjut

Chou Tien Chen jadi juara di German Open 2017
KEBAHAGIAN Choun Tien Chen berlanjut. Minggu pekan lalu (26/2/2017), dia mampu membawa Musica Champions menjadi juara Superliga Badminton Indonesia (SBI) 2017.

Minggu kemarin (5/3/2017), dia kembali naik ke podium terhornat. Kali ini, pebulu tangkis Taiwan tersebut mengukirnya di nomor perorangan dalam German Open 2017.

Dalam final, dia mengalahkan kompatriot (rekan senegara) Wang Tzu Wei dengan dua game langsung 21-16, 21-14. Baginya, kemenangan di Kota  Mülheim an der Ruhr tersebut menjadi bekal penting untuk berlaga dalam kejuaraan bergengsi All England 2017 yang berlangsung pekan ini.

Sebenarnya, kesempatan menjadi juara di German Open sudah terbuka tahun lalu. Saat itu, dia menembus babak final.

Sayang, langkahnya di hentikan Lin Dan asal Tiongkok dengan tiga game 21-15, 17-21, 17-21. Tahun ini, Lin Dan gagal mempertahankan gelar karena terhenti di babak awal. German Open juga menjadi debutnya pada 2017. (*)

Ganda putri:  Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) v HUANG Dongping/Li Yinhui (Tiongkok) 15-21 21-17 21-15   
   
Tunggal putra: Chou Tien Chen (Taiwan) v Wang Tzu Wei (Taiwan) 21-16 21-14   
   
Ganda putra: Kim Astrup/Anders Skaarup Ramussen (Denmark) v Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark) 21-17 21-13   

Tunggal putri: Akane Yamaguchi (Jepang) v Carolina Marin (Spanyol) Walkover       
   
Ganda campuran: Zhang Nan/Li Yinhui (Tiongkok) v Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok) 22-20 21-11   

Pertama Berpasangan, Langsung Dijadikan Unggulan

Kamis, 02 Maret 2017

Greysia Rizky saat membela Berkat Abadi (foto;PBSI)
PENAMPILAN Greysia Polii/Rizky Amelia Pradipta tak terlalu bagus. Buktinya, di Superliga Badminton Indonesia 2017 di Surabaya, Jawa Timur, keduanya bisa dikalahkan pasangan lokal.

Namun, itu tak membuat PP PBSI gamang mempercayai keduanya. Greysia/Rizky tetap berlaga di Eropa.

Bahkan, keduanya ikut ambil bagian dalam turnamen bergengsi, All England. Hanya, sebelum itu, pebulu tangkis yang sama-sama berasal dari klub Jaya Raya tersebut bakal diuji dalam German Open 2017. Di turnamen yang menyediakan hadiah USD 120 ribu tersebut, Greysia/Rizky menempati unggulan ketujuh.

Saat ini, keduanya sudah menembus babak kedua. Di babak pertama, pasangan yang di SBI 2017 membela Berkat Abadi tersebut menang mudah dengan dua game langsung 21-3, 21-8 atas wakil tuan rumah Lisa Kaminski/Hannah Pohl.

Di babak kedua, keduanya akan berhadapan lawan yang lebih berat. Greysia/Rizky dijajal wakil Jepang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota.

Selain Greysia/Rizky, Indonesia juga diwakili Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri. Mereka ditempatkan sebagai unggulan keempat.

Sebenarnya, Greysia bersinar saat berpasangan dengan Nitya Krisinda Maheswari. Tahun lalu, mereka menjuarai ajang super series, Singapore Open. (*)

Dua Peserta Superliga Tumbang Awal

Hendra/Boon Heong saat membela Berkat Abadi
PERJALANAN jauh Surabaya ke Jerman memakan korban. Tiga pebulu tangkis yang habis berlaga di Superliga Badminton Indonesia (SBI) 2017, memetik hasil buruk dalam German Open.

Ketiganya adalah Marc Zwiebler dan pasangan Hendra Setiawan/Tan Boon Heong. Zwiebler, yang sebenarnya menjadi andalan tuan rumah meraih gelar, menyerah dua game langsung 10-21, 6-11 kepada Kim Brunn (Denmark). Di game kedua, unggulan ketujuh tersebut tak bisa melanjutkan pertandingan.

Nasib serupa juga menimpa pasangan ganda putra, Hendra Setiawan/Tan Boon Heong. Keduaya harus mengakui ketangguhan unggulan kedua asal Denmark Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding dengan tiga game 21-14,17-21, 15-21.

Di ajang SBI, Zwiebler membela Musica, yang akhirnya menjadi juara. Sedangkan Hendra/Boon Heong memperkuat Berkat Abadi Banjarmasin, Kalimantan, yang menembus babak semifinal.

Kekalahan juga hampir saja menimpa tunggal Musica Chou Tien Chen. Tunggal putra asal Taiwan tersebut harus kehilangan game pertama 19-21 sebelum menang melibas Brice Leverdez di game kedua dan ketiga dengan 21-14, 21-11. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger