www.smashyes.com

www.smashyes.com

Tai Tzu Ying Belum Terbendung

Minggu, 30 April 2017

Tai Tzu Ying (dua dari kiri) di podium
SUDAH empat turnamen diikuti Tai Tzu Ying. Empat gelar pula diraih tunggal putri asal Taiwan tersebut.

Terakhir, gadis 23 tahun tersebut menjadi juara dalam Kejuaraan Asia 2017. Dalam final yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (30/4/2017), Tzu Ying mengalahkan Akane Yamaguhi (Jepang) dengan tiga game 18-21, 21-11, 21-18.

 Sebelumnya, dia naik podium terhormat di All England Super Series Premier 2017, Malaysia Open Super Series Premier 2017, dan Singapore Open Super Super Series 2017.

 Juara Asia ini juga menjadi kali pertama baginya. Tahun lalu, perjalanan Tzu Ying hanya sampai perempat final. Ketika itu, dia dikalahkan Li Xerui (Tiongkok) dengan 21-17, 21-19. 

  Baginya, Yamaguchi lawan yang  masih baru. Keduanya baru sekali bertemu di Wuhan ini.

 Selain itu, hasil di Negeri Panda, julukan Tiongkok, semakin memantapkan posisinya di ranking nomor wahid dunia. Poinnya jauh di atas Carolina Marin asal Spanyol, yang dua kali dikalahkannya tahun ini di final Malaysia Open dan Singapore Open. (*) 

Hasil Final Kejuaraan Asia 2017
Ganda Campuran: Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok) v Dechapol P/Sapsiree T. (Thailand) 21-18, 21-11   
   
Ganda Putri: Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang)v Kim Hye Rin/Yoo Hae Won (Korsel) 21-19,16-21,21-10   
   
Tunggal Putra: Chen Long (Tiongkok) v Lin Dan [Tiongkok] 21-23, 21-11,21-10   
   
Tunggal Putri: Tai Tzu Ying [Taiwan) v Akane Yamaguchi [Jepang]
18-21, 21-11, 21-18   
   
Ganda Putra: Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok) v Huang Kaixiang/Wang Yilyu (Tiongkok) 21-14, 21-12

Chen Long Akhiri Paceklik

Chen Long usai mengalahkan Lin Dan
SEJAK Agustus 2012, Chen Long belum pernah naik ke podium juara. Kali terakhir, tunggal putra andalan Tiongkok tersebut menjadi pemenang di Olimpiade Rio 2016 di Brasil.

Setelah itu, Chen Long selalu gagal. Akibatnya, rankingnya turun drastis.

 Dari peringkat terbaru yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) per 27 April lalu, lelaki 28 tahun tersebut ada di posisi kesembilan. Capaian terburuknya selama empat tahun terakhir.

 Tapi, kini, Chen Long mulai patut diwaspadai. Itu setelah dia mampu mengakhiri paceklik gelar.
 Chen Long sukses menjadi juara dalam Kejuaraan Asia 2017. Dalam final yang dilaksanakan di kandangnya sendiri, Wuhan, dia mengalahkan seniornya, Lin Dan, dengan rubber game 21-23, 21-11, 21-10.

 Raihan ini menjadi kemenangannya keenam dalam 14 kali pertemuan.Kali terakhir, keduanya bertemu di Tiongkok Masters tahun lalu. Hasilnya, Lin Dan yang memetik kemenangan.

 Selain itu, kemenangan atas Lin Dan membuat Chen Long untuk kali pertama menjadi juara Asia. Tahun lalu gelar juara disabet Lee Chong Wei dari Malaysia, yang tahun ini dikalahkan Lin Dan di semifinal. (*)

Payah, Semifinal pun Tak Ada

Jumat, 28 April 2017

Wang Yilyu/Huang Dongping(foto: BWF)
INDONESIA gagal total di Kejuaraan Asia 2017. Satu-satunya wakil yang tersisa, Praveen Jordan/Debby Susanto, tersingkir di perempat final ganda campuran.

 Di Wuhan Sports Center Gymnasium Jumat waktu setempat (28/4/2017), Praveen/Debby terhenti di tangan Wang Yilyu/Huang Dongping (Tiongkok), dengan 22-24,19-21. Sebenanya, penampilan Praveen/Debby cukup baik.

 Di awal permainan mereka bisa menjalankan strategi dengan baik. Bahkan rotasi mereka juga cukup berjalan saat Debby terus dipaksa bermain di sisi belakang lapangan.

 Di game kedua, Praveen/Debby sempat unggul jauh 11-5 pada interval game. Perlahan tapi pasti, Wang/Huang terus mengejar.

 Smash keras pasangan Tiongkok ini seringkali membelah pertahanan Praveen/Debby, beberapa kali bola pengembalian Praveen juga terlalu melebar ke sisi samping lapangan.

 ''Sebetulnya, kami sudah menerapkan pola permainan yang benar, mainnya sudah seperti yang seharusnya. Tetapi kami tampil kurang konsisten di saat-saat akhir. Hal ini terjadi di game pertama maupun game kedua,” kata Praveen usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

 Dia menambahkan, pertemuan di Wuhan ini merupakan kali pertama bagi kedua pasangan. Praveen mengakui lawanya adalah pasangan yang kuat.

''Saat bermain reli pun pertahanan mereka kuat dan rapat,'' ujar Debby menambahkan. (*)

Dua Sahabat Bisa Bertarung Kembali

Kamis, 27 April 2017

Chong Wei (kiri) berpelukan dengan Lin Dan (foto:thestar)
BAKAL kembali bertemunya dua legenda, Lee Chong Wei (Malaysia) dan Lin Dan (Tiongkok), terbuka. Langkah keduanya sudah sampai perempat final Kejuaraan Asia 2017.

 Artinya, tinggal selangkah lagi, dua rival yang juga dua sahabat tersebut adu kemampuan di lapangan. Syaratnya, Chong Wei dan Lin Dan harus bisa mengalahkan lawan-lawannya.

 Di perempat final, Chong Wei, yang diunggulkan di posisi teratas, akan ditantang Hsu Jen Hao dari Taiwan. Meski tak terkenal, tapi Hao bisa mengirimkan trauma kedua bagi Chong Wei.

 Kok bisa? Ya, selama empat kali pertemuan, Chong Wei memang menang tiga kali. Tapi ironisnya, dalam pertemuan terakkhir di France Open 2016, dia menelan kekalahan. Saat itu, lelaki yang mendapat gelar Datuk tersebut kalah WO.

 Sedangkan Lin Dan akan bersua dengan lawan yang bukan kelas sayur. Super Dan dijajal Chou Tien Chen yang juga dari Taiwan.Dalam lima kali pertemuan, Lin Dan pernah kalah.

  Sementara, jika nanti bertemu, mereka akan semakin memperpanjang daftar duel ,meet. Chong Wei sudah 38 kali berjumpa dengan Lin Dan.Hasilnya, Lin Dan masih unggul 26 kali.

 Bahkan, dalam pertemuan terakhir, Chong Wei menelan malu. Di kandang sendiri dalam Malaysia Open Super Series Premier 2017, dia kalah dua game langsung 19-21, 14-21. (*)

Hanya Tinggal Praveen/Debby

Praveen/Debby saat berlaga di babak II (foto;PBSI)
PELUANG Indonesia menempatkan juara di Kejuaraan Asia 2017 semakin tipis. Kini, hingga babak perempat final, merah putih hanya menempatkan satu wakil.

Duta semata wayang yang bertahan adalah pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto.  Ini setelah pasangan unggulan kelima ini memulangkan wakil Korea Selatan , Choi Solgyu/Chae Yoo-jung, dengan dua game langsung 21-12, 21-13 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok, pada Kamis waktu setempat (27/4/2017).

Berbeda dengan sejumlah pertemuan sebelumnya, kali ini Praveen/Debby betul-betul tak memberi kesempatan kepada Choi/Chae untuk mengembangkan permainan. Dari game pertama pun perolehan angka selalu terpaut jauh.Praveen/Debby kini unggul dengan skor 3-2 dalam catatan rekor pertemuan dengan wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut.

''Pertandingan tadi tidak terlalu rumit. Kami selalu menekan lawan dari awal game. Choi kelihatan sekali tidak enak mainnya, kali ini lebih mudah dibanding pertemuan sebelumnya,” kata Praveen kepada media PBSI.

 Pada babak perempat final, Praveen/Debby akan bertemu antara Wang Yilyu/Huang Dongping (Tiongkok).  Keduanya menang 21-11, 21-18 atas Lin Chia Yu/Wu Ti Jung (Taiwan). Praveen/Debby tercatat sudah dua kali menang dari Yu/Jung.

 Sayang, wakil-wakil Indonesia lainnya langsung angkat koper dan gagal menembus perempat final. (*)

Sakit, Jonatan Ikut Absen

Selasa, 25 April 2017

Jonatan Christie gagal berlaga di Kejuaraan Asia 2017
KEKUATAN Indonesia di Kejuaraan Asia 2017 kembali tereduksi.Salah satu andalan di nomor tunggal putra, Jonatan Christie, absen dalam Kejuaraan yang dilaksanakan di Wuhan, Tiongkok,25-30 April 2017 ini.

 Sebelumnya, tiga ganda andalan juga dipastikan mundur. Pasangan ganda putra Marcus Fernaldi 'Sinyo'' Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo mundur karena Sinyo mengalami back injury. Sedangkan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juga batal berlaga di Wuhan karena Liliyana masih dalam tahap pemulihan cedera lutut kanan. Di ganda putri, ada pasangan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani yang mundur karena Anggia cedera hamstring paha kanan.

"Jonatan sedang tidak fit dan ada infeksi virus, jadi dokter menyarankan untuk tidak bertanding dulu," ujar Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI seperti dikutip media PBSI.

Dia mengakui absennya Jonatan memberikan berpengaruh kekuatan Indonesia. Bukan cuma Jonatan, tambah Susy, tiga pasangan lainnya juga.

Jonatan sendiri mengaku  dia sudah merasa tak enak badan beberapa hari belakangan. Ternyata, ungkapnya, setelah kemarin memeriksakan diri ke dokter, dinyatakan tidak boleh bertanding.

''Saya memang pasti batal ke Kejuaraan Asia karena sakit. Sudah tidak enak badannya beberapa hari yang lalu. Setelah cek ke dokter, ternyata tidak diperbolehkan tanding ," ujar Jonatan.

Dengan absennya Jonatan, maka sektor tunggal putra Indonesia diwakili tiga pebulu tangkis yaitu Tommy Sugiarto, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa. (*)

Marin Kejar Hat-trick Juara Eropa

Senin, 24 April 2017

Carolina Marina masih terbaik di Eropa (foto:gulf.com)
SELAMA 2017, hanya satu gelar yang diraih Carolina Marin. Gadis Spanyol berusia 24 tahun tersebut hanya mampu membawa pulang dari ajang German Open.

Sayang, ajang tersebut hanya berlabel grand prix gold. Di ajang yang lebih atas, super series atau super series premier, Marin selalu terjegal.


Menariknya, dalam tiga ajang terakhir, peraih emas tunggal putri Olimpiade Rio 2016 Brasil tersebut selalu menembus final.Hanya, Marin gagal menjadi juara.

Di India Open Super Series, dia dihentikan oleh wakil tuan rumah PV Sindhu. Sedangkan di Malaysia Open Super Series Premier dan Singapore Super Series, dia dikalahkan lawan yang sama, Tai Tzu Ying dari Taiwan.

Kali ini, kans Marin menjadi juara terbuka lagi. Pekan ini, dia ambil bagian dalam Kejuaraan Perorangan Eropa yang dilaksanakan di Denmark.

Di event tersebut, Marin ditempatkan sebagai unggulan teratas. Dalam dua Kejuaraan Eropa, selalu menjadi juara yakni di  Kazan, Rusia, 2014 dan La Roche-sur-Yon, Prancis, 2016.

Di babak I, Marin memperoleh bye. Dari skenario yang ada, lawan yang dihadapi di final adalah rekannya sendiri dari Negeri Matador, julukan Spanyol, Beatriz Corrales. (*)

Lin Dan Cari Pelampiasan

Lin Dan ketika berlaga di All England 2017 (foto:chinadaily)
DI Tiongkok Masters 2017 pekan lalu terjadi kejutan besar.Lin Dan, yang digadang-gadang bakal menjadi juara di kandang sendiri, terjegal di semifinal.

Dia dipermalukan oleh juniornya,Qiao Bin, dengan tiga game 16-21,21-15, 14-21. Padahal,Lin Dan semula susah dibendung.

Bagi Super Dan, julukan Lin Dan, di sudah enam kali menjadi juara di Tiongkok Masters. Apalagi, pekan sebelumnya, dia baru saja menjadi juara di Malaysia Open yang masuk kategori super series premier.

Tentu, kekalahan ini membuat Lin Dan mencari pelampiasan. Kebetulan, ajang yang diikuti Lin Dan ada di Tiongkok, yakni Kejuaraan Asia 2017.

Namun, bukan hal yang mudah bagi suami mantan ratu bulu tangkis dunia Xie Xingfang tersebut menjadi pemenang. Tantang berat sudah dilakoninya di babak I.

Lin Dan ditantang wakil Korea Selatan Lee Dong-keun. Hanya selama ini, dia selalu menang atas lawannya yang kini berperingkat 30 dunia tersebut. Enam kali bertemu, Super Dan, julukan Lin Dan, selalu unggul.

Di babak kedua, peraih dua emas olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut besar kemungkinan berjumpa dengan Wong Wing Ki. Pebulu tangkis Hongkong ini pernah sekali mengalahkan Lin Dan dalam empat kali pertemuan.

Lin Dan kembali tak boleh lengah. Jika tidak,hasil pahit di Tiongkok Masters 2017 pekan lalu bisa terulang. (*)

Tiga Pasangan Terbaik Absen Kejuaraan Asia

Jumat, 21 April 2017

Sinyo/Kevin absen dalam Kejuaraan Asia 2017
INDONESIA batal turun dengan kekuatan terbaik di Kejuaraan Asia 2017.  Tiga pasangan ganda terpaksa absen.

Pasangan ganda putra ranking satu dunia Marcus 'Sinypo' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo tak dapat ambil bagian. Sinyo mengalami back injury sejak tiga hari yang lalu.

Sektor ganda campuran juga harus tanding tanpa Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 ini batal tanding karena Liliyana masih dalam pemulihan cedera lutut kanan.

Sementara itu, pasangan ganda putri Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani juga tak dapat berlaga di kejuaraan yang bakal digelar di Wuhan, Tiongkok, 25-30 April 2017. Anggia mengalami cedera hamstring paha kanan. Dia dinyatakan tak siap untuk menghadapi kejuaraan ini dan akhirnya memutuskan untuk mundur.

''Banyak pemain yang kondisinya tidak seratus persen. Tontowi/Liliyana, harus absen karena Liliyana masih mengalami cedera. Kalau Marcus/Kevin, mereka masih sakit. Sedangkan Anggia/Ketut, di Anggia ada masalah cedera hamstring,' jelas Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI.

Nomor ganda putra dan ganda campuran, ungkap Susy, tetap menjadi dua nomor andalan Indonesia. Hanya, Kejuaraan Asia bukan target utama. Para penghuni Pelatnas Cipayung lebih difokuskan ke Piala Sudirman 2017 yang akan berlangsung Mei mendatang.

''Sebetulnya Kejuaraan Asia ini turnamen perantara.Kami kan tidak bisa menuntut atlet untuk juara terus di tiap pertandingan,'' ujarnya.

Tetapi, tambah istri peraih emas tunggal putra Alan Budikusuma itu menjelaskan, sebaiknya di setiap turnamen ada gelar untuk Indonesia. (*)

Wakil Indonesia ke Kejuaraan Asia 2017

Tunggal Putra: Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Sinisuka Ginting, Tommy Sugiarto

Tunggal Putri: Dinar Dyah Ayustine, Fitriani, Hanna Ramadini

Ganda Putra: Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro

Ganda Putri: Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari, Tiara Rosalia Nuraidah/Rizki Amelia Pradipta, Nisak Puji Lestari/Meirisa Cindy Sahputri

Ganda Campuran: Praveen Jordan/Debby Susanto, Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti, Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika (*)

Lewati Rintangan Berat Babak II

Kamis, 20 April 2017

Berry/Hardianto menembus perempat final
INDONESIA masih punya nyawa di Tiongkok Masters 2017. Salah satunya dari pasangan ganda putra Berry Angriawan/Hardianto.

Mereka berhasil melewati rintangan di babak kedua. Berry/Hardi, yang merupakan unggulan keenam, lolos ke perempat final setelah mengalahkan Liao Min Chun/Su Cheng Heng (Taiwan), dengan skor 21-18, 18-21, 21-19, dengan durasi permainan selama 50 menit di Changzhou Kamis waktu setempat (20/4/2017).

 “Hari ini kami mainnya kurang enak, banyak melakukan kesalahan sendiri. Tetapi tadi kami berusaha membalikkan permainan,''kata Hardi seperti dikutip media PBSI.

 Hanya, mereka, ucapnya, tidak mau kalah sama keadaan. Keduanya memperbanyak komunikasi dan lebih tenang di lapangan.

 “Lawan banyak memberikan tekanan dan kami merasa kurang siap dengan hal ini. Sehingga, kami malah banyak membuat kesalahan sendiri,”  tambah Hardi.

 Sementara itu, pasangan ganda putri Tiara Rosalia Nuraidah/Rizki Amelia Pradipta melenggang ke babak delapan besar, juga dengan menundukkan wakil Taiwan, Chen Hsiao Huan/Liang Ting Yu, dengan dua game langsung, 21-10, 21-17.

“Pada pertandingan tadi, kami masih menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan, karena angin di lapangan cukup kencang. Namun lawan kami sepertinya masih belum terlalu kuat, kami masih mencoba-coba strategi yang tepat di lapangan,” ujar Tiara.

Tiara/Rizki, yang merupakan unggulan kedua, akan berhadapan dengan wakil tuan rumah di babak perempat final yaitu Du Yue/Xu Ya.“Untuk pertandingan perempat final, kami harus lebih siap dari segi kecepatan kaki dan pukulan, yang penting persiapkan dari diri kami sendiri. Besok menang atau kalah, kalau sudah maksimal, kami puas,” pungkasnya.(*)

Sony Turun 17 Peringkat

Sony dan istri, Gading Safitri.
KEGAGALAN di Singapore Open 2017 memberi dampak besar kepada Sony Dwi Kuncoro. Kini, rankingnya turun dratis ke 39 atau 17 setrip dibandingkan sebelumnya.

Dalam ajang turnamen yang masuk kalender super series tersebut, Sony datang dengan status juara bertahan. Namun, nasib tragis dialami tahun ini.

 Arek Suroboyo tersebut langsung tersingkir di babak I. Secara mengejutkan, Sony dipermalukan Lee Dong-keun dari Korea Selatan dengan rubber game 21-19, 15-21, 18-21.

 ''Ranking saya pasti akan turun jauh,'' kata Sony usai gagal mempertahankan gelar Singapore Open.

 Selain itu, selama 2017, bapak dua putri tersebut juga tampil jeblok. Sony banyak tumbang di babak-babak awal.

 Pekan sebelumnya, di Malaysia Open 2017, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut juga kalah di babak I. Dia menyerah kepada Huang Yuxiang dari Tiongkok dengan 17-21, 9-21.

 Sebaliknya, hasil Singapore Open 2017 melambungkan Anthony Sinisuka Ginting. Kini, dia menjadi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia dengan ranking kedua tertinggi.

 Ginting, sapaan karibnya, di peringkat 23 atau naik tiga tangga. Penghuni Pelatnas Cipayung ini hanya kalah oleh seniornya, Tommy Sugiarto, yang masih di posisi 18. Meski artinya itu turun lima peringkat.

 Di Negeri Singa, julukan Singapura, Ginting menembus semifinal. Sayang, langkahnya dihentikan Kidambi Srikanth dari India dengan 13-21, 14-21.(*)

Malaysia Harapkan Zulfadli-Wei Feng

Zulfadli bakal jadi andalan di SEA Games 2017
MALAYSIA tak mau main-main di SEA Games 2017, khususnya cabang olahraga (cabor) bulu tangkis. Mereka tetap akan menampilkan skuad terbaik dalam ajang yang dilaksanakan di kandang sendiri, Kuala Lumpur, pada Agustus mendatang.

Negeri jiran telah mendaftarkan 36 pebulu tangkis dalam ajang dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut. Mereka nantinya akan dipilih 10 putra dan 10 putri.

 Mantan juara dunia junior Zulfadli, yang sekarang menduduki peringkat dua nasional, dan juara bertahan Wei Feng, yang kini di posisi keempat, masuk dalam daftar itu. Seperti dikutip media Malaysia, dalam daftar BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) ada juga  peringkat satu dunia Lee Chong Wei, Iskandar Iskandar Zulkarnain (No 34), Lee Zii Jia (No 117), R. Satheishtharan (No 123), Lim Chi Wing (No 134), dan  Tan Jia Wei (No 139).

 Hanya, Chong Wei (tungal putra), Goh V Shem/Tan Wee Kiong (ganda putra), dan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (ganda campuran) tampaknya tak bisa tampil. Mereka lebih dipersiapkan ke Kejuaraan Dunia di Glasgow, Skotlandia.

 Ini disebabkan waktu kedua ajang tersebut bertubrukan.SEA Games dilaksanakan 19-30 Agustus. Sedangkan Kejuaraan Dunia digelar 21-27 Agustus.

 Mantan pelatih nasional Malaysia yang kini menangani Sports Affair mengharapkan agar pebulu tangkis yang tampil nanti adalah yang terbaik. Baginya,Zulfadli dan Wei Feng masih layak masuk karena dianggap terbaik.

“Pengurus memang yang akan memilih. Tapi, sekarang, Zulfadli dan Wei Feng sekarang motivasinya lagi tinggi,'' ujarnya. (*)

Pensiun karena Gagal ke Jakarta

Rabu, 19 April 2017

Bambang Setyo
NAMANYA memang tak setenar Rudy Hartono. Bahkan, sama mantan anak asuhnya saja, seperti Taufiq Akbar Hidayat, saja dia kalah.

Namun, sebenarnya, seorang Bambang Setyo, pernah berusaha mengejar karir menjadi pebulu tangkis nasional. Sayang, kekecewaan membuat dia memilih gantung raket.

 Kecewa karena cinta? ''Saya kecewa karena tak bisa masuk Jaya Raya. Padahal, banyak teman-teman saya bisa ke sana,'' ungkap lelaki 58 tahun tersebut saat ditemui di sebuah GOR di Sedati Agung, Sidoarjo, Selasa (18/4/2017).

 Padahal, saat itu, kenangnya, usianya masih muda, 27, tahun. Baginya, ambisinya menembus skuad nasional akan terbuka jika hengkang ke ibu kota.

 Apalagi, status sebagai pebulu tangkis Jawa Timur sudah di tangan. Capaian tertinggi baginya adalah masuk ke final Kejuaraan Daerah.

 Lawan yang diadalah Kurnia Hu. Yang kelak pernah menjadi pelatih di Pelatnas Cipayung. Dia juga  ayah dari pebulu tangkis andalan Indonesia sekarang Marcus Fernaldi Gideon.

''Pertandingannya memakan waktu 2 jam lebih. Mungkin pertandingan terlama di Jawa Timur,'' kenang Bambang.

 Namun, semangatnya padam. Dia menyadari memilih berkarir di kampung halaman.

 ''Saya terus jadi pelatih di klub Suryanaga. Hingga akhirnya, pindah ke Surya Baja pada 2004,'' ujar Bambang.

 Kepindahannya karena ajakan sahabatnya, Abdul Chodir. Dia tak kuasa menolak.

 ''Saya menjadi pelatih di sana saat Surya Baja kali pertama berdiri. Saya melatih di sana selama hampir empat tahun,'' jelas Bambang.

 Pengalaman di Suryanaga dan Surya Baja membuat dia tetap berkecimpung di bulu tangkis. Meski, awalnya dia sempat kesulitan mendapatkan anggota.

 ''Alhamdulillah. Sekarang klub saya, Galaxy, bisa hidup meski memulainya dari nol,'' pungkasnya. (*)

Sambang Klub: Galaxy Sidoarjo

GOR tempat latihan Galaxy di Sedati, Sidoarjo
Cari Atlet dengan Sebar Brosur Keliling Kota

Bukan perkara mudah membangun sebuah klub. Galaxy Sidoarjo memulainya dari meyebar brosur.
--
DUA orang tengah duduk di depan sebuah Gedung Olahraga di kawasan Sedati, Sidoarjo, Selasa siang (18/4/207). Hanya, jarak keduanya tak terlalu berdekatan.

Ternyata, keduanya adalah Bambang Setyo dan Doni, dua pelatih klub Galaxy Sidoarjo, yang baru saja menunggu anak asuhnya berlatih. Kedatangan penulis sempat membuat keduanya saling memandang.

''Saya kira nggak jadi. Ayo duduk di sini aja,'' kata Bambang.

Ternyata, selama hampir 12 tahun tak bertemu tak membuat lelaki yang kini berusia 57 tahun tersebut lupa dengan penulis. Kali terakhir, Bambang ditemui masih menjadi pelatih di klub Surya Baja, Surabaya, milik mantan Ketua Harian Pengprov PBSI Jatim Abdul Chodir.

''Usai keluar dari Surya Baja pada 2007, saya sempat menganggur. Namun, karena saya bisanya di bulu tangkis, saya berniat mendirikan klub,'' ungkap Bambang.

Dia mengaku tak mudah melakukannya. Dia tak punya banyak modal.

Beda dengan sewaktu ikut di Surya Baja. Dia bisa memilih dan mendatangkan pebulu tangkis ke klub yang dulunya bermarkas di Kutisari Utara, Surabaya, tersebut.

''Saya keliling Sidoarjo membagikan brosur di awal 2008,'' kenang Bambang.

Hasilnya, dia mampu menarik minat orang tua untuk mengikutkan anaknya di PB Galaxy. Hanya, mereka yang datang kali pertama jumlahnya cukup mencengangkan. Banyak?

''Ada empat pebulu tangkis muda yang ikut di latihan di hari pertama. Ini bertahan hingga selama sebulan,'' ujar Bambang.

Di bulan kedua, jumlahnya bertambah menjadi delapan orang. Tapi, seiring capaian prestasi yang diraih, terang Bambang, jumlahnya terus meningkat.

''Kini, jumlah anggota PB Galaxy sudah mencapai 70 atlet. Dari kelompok anak-anak hingga dewasa,'' ujar Bambang.

Jumlah tersebut terbagi menjadi dua jalur, prestasi dan pembinaan. Untuk prestasi, pebulu tangkis diinapkan di mess yang berada di GOR di Sedati.

''Untuk anak-anak latihannya di Tropodo. Kami harapkan prestasi PB Galaxy akan terus meningkat,'' ujar Bambang.

Apalagi, kini, tambahnya, sudah mempunyai sponsor yakni Yanyang. Apparel dari Malaysia tersebut mendukung untuk perlengkapan PB Galaxy. (*)

Siapa Bisa Hadang Lin Dan

Minggu, 16 April 2017

Lin Dan tengah berada di puncak penampilan
CHINA Masters punya kesan mendalam bagi Lin Dan. Legenda hidup nomor tunggal putra tersebut menjadi juara saat ajang tersebut kali pertama dilaksanakan pada 2005.

Bahkan, tahun lalu, dia kembali turun. Hasilnya, Lin Dan tetap menjadi juara.

 Dalam turnamen yang kini masuk dalam level grand prix gold tersebut, suami dari mantan ratu nomor tunggal Xie Xingfang tersebut sudah enam kali naik ke podium terhormat.

 Pada 2016, Lin Dan mengalahkan kompatriot (rekan senegara) Chen Long.Di Jiangsu, Super Dan, julukan Lin Dan, menang dua game langsung 21-17, 23-21.

 Tahun ini, Lin Dan kembali turun. Dengan ranking yang dimiliki, dua kali peraih emas olimpiade, Beijing 2008 dan London 2012, tersebut ditempatkan sebagai unggulan teratas.

 Dari undian yang ada, dia tak akan mengalami banyak kesulitan untuk menembus final. Bahkan, pintu juara pun terbuka bagi lelaki 34 tahun tersebut.

 Selain itu, konfidensi Lin Dan tengah tinggi. Alasannya, dia baru saja menjadi juara di turnamen super series premier, Malaysia Open 2017.

 Ini menjadi gelar pertamanya di turnamen tersebut. Lawan yang dikalahkannya pun bukan sembarangan, Lee Chong Wei, asal Malaysia. (*)

Kalah untuk Kali Keempat Beruntun

Marin dan Tzu Ying usai final Singapore Open 2017
BAGI Carolina Marin, Tai Tzu Ying bisa jadi momok yang ditakuti. Khususnya sejak 2016.

 Kok bisa? Ini disebabkan dia tak pernah bisa mengalahkan tunggal putri asal Taiwan tersebut.
 Padahal, sebelumnya, Tzu Ying lawan yang enteng bagi Marin.Dalam lima kali perjumpaan, Marin hanya sekali kalah.

 Tapi, semuanya menjadi berbalik sejak 2016. Pebulu tangkis Spanyol tersebut tak pernah menang dalam empat kali pertemuan terakhir.

 Kekalahan pemungkas dialaminya di Singapore Open 2017. Dalam laga final yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium pada Minggu waltu setempat (16/4/2017), Marin menyerah dua game langsung 15-21, 15-21.

 ''Kecewa dengan pertandingan tadi. Tapi,saya banyak belajar selama tiga pekan bertanding,'' tulis Marin di media sosialnya.

 Pekan lalu, gadis 23 tahun tersebut juga kalah dari Tzu Ying. Imbasnya, ranking pertama yang pernah diduduki sulit diambil lagi dari rivalnya tersebut. (*)

Tak Percaya Bisa Juara

Mathis Boe/Carsten Mogensen di podium (foto:twitter)
USIANYA sudah tak muda lagi. Tahun ini, Mathias Boe sudah 37 tahun.

 Tapi, itu tak mengurangi penampilannya di lapangan. Bahkan, berpasangan dengan Carsten Mogensen, mereka keluar juara di turnamen super series, Singapore Open 2017.

Dalam final yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium pada Minggu waktu setempat, Boe/Mogensen menang dua game langsung 21-13, 21-14 atas unggulan kedua asal Tiongkok Liu Yuchen/Li Junhui.

 ''Saya masih tak percaya bisa naik podium juara,'' tulis Boe dalam media sosialnya.

 Kemenangan ini juga menjadi ledakan akhir dari pasangan asal Denmark tersebut. Sebelumnya, di babak semifinak, Boe/Mogesen mempermalukan unggulan teratas asal Indonesia Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya dengan tiga game.

 Di Negeri Singa, julukan Singapura, Boe/Mogensen juga tak diunggulkan menjadi juara. Pertimbangannya, dalam  dua turnamen super series dan super series premier sebelumnya, All England dan India Open. Di All England, mereka terhenti babak I oleh pasangan Tiongkok Lu Kai/Zheng Siwei. Sedang di India, Boe/Mogensen menyerah di babak II dari wakil Taiwan Lee Jhe Huei/Lee Yang.

 Gelar di Singapura juga menjadi yang kedua bagi Boe/Mogensen. Mereka menjadi juara di awal tahun dalam Syed Modi International di India. (*)

Hasil Malaysia Open 2017

Ganda Campuran: Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok) v     Dechapol P/    Sapsiree (Thailand) 19-21 21-16 21-11

Ganda Putri: Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen (    Denmark) v     Misaki Matsutumo/Ayaka Takahashi (Jepang)     21-18 14-21 21-15

Tunggal putra:  Sai Praneeth (    India) v Kidambi Srikanth (India)     17-21 21-17 21-12

Tunggal putri: Tai Tzu Ying [Taiwan) v     Carolina Marin (Spanyol)     21-15 21-15   

Ganda Putra: Mathias Boe/Carsten Mogensen (    Denmark) v Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok) 21-13 21-14

Pasangan Gaek Hentikan Langkah Quat-trick

Sabtu, 15 April 2017

Sinyo/Kevin terhenti di semifinal Singapore Open (foto:PBSI)
RENTETAN kemenangan Marcus 'Sinyo' Gideon Fernaldi/Kevin Sanjaya terhenti. Mereka harus menyerah kepada pasangan gaek asal Denmark, Mathias Boe/Cartsen Mogensen.

Sinyo/Kevin kalah dengan rubber game 21-11, 11-21, 14-21 di babak semifinal Singapore Open 2017 pada Sabtu waktu setempat (15/4/2017). Sebelumnya mereka selalu menang. Bahkan, pasangan yang dijuluki Minion itu melakukan hat-trick atau tiga gelar berurut pada All England Open, India Open dan, Malaysia Open 2017.

''Namanya permainan. kadang menang, kadang kalah. Tapi kami puas aja dengan penampilan kami selama tahun ini,'' kata Kevin seperti dikutip media PBSI.

 Sinyo menambahkan, faktor stamina menjadi masalah. Ini, ujarnya, karena mereka sudah bertanding belasan kali tanpa henti.

''Tenaga kami juga sudah agak habis. Tadi juga berasa capek pas  game kedua diangkatin gitu, kaya kurang powernya,'' ungkapnya.

 Sinyo/Kevin membuka pertandingan semifinal ini dengan kemenangan. Penerapan bola-bola pendek dikatakan keduanya, menjadi strategi mereka untuk memperoleh poin.

 Namun memasuki game kedua dan ketiga, Sinyo/Kevin mulai dibuat kesulitan dengan rapatnya pertahanan lawan. Ditambah lagi tenaga mereka sudah mulai menurun. Ganda nomor satu dunia ini pun harus mengakui keunggulan Boe/Mogensen.

''Lawan hari ini mainnya rapat, nggak gampang mati. Tenaga kami sudah jauh lebih menurun dari sebelum-sebelumnya. Tiap hari kerjaannya cuma main terus, nggak pernah latihan yang lain. Jadi menurun banget tenaganya, jelas Kevin.(*)

Kembali Jadi Penguasa Ganda Putra

Sinyo/Kevin naik posisi satu setrip (foto;PBSI)
POSISI nomor satu dunia kembali ke pangkuan Marcus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya. Keberhasilan keduanya di Malaysia Open Super Series Premier 2017 menjadi kunci utama.

 Dalam daftar yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), keduanya naik satu setrip. Sinyo/Kevin menggeser rival terberatnya dari Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen.

 Poin yang dikumpulkan keduanya jauh. Sinyo/Kevin mengoleksi 79.151 sedangan Junhui/Yuchen 'hanya' 72.718.

 Setelah era Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan memudar, pasangan yang dapat julukan Minion tersebut menjadi tumpuan. Apalagi, di awal 2017 ini, Sinyo/Kevin tengah berada di top performance.

  Hingga saat ini, keduanya belum terkalahkan. Hasilnya, tiga kejuaraan bergengsi telah dimenangi penghuni Pelatnas Cipayung tersebut.

  Sinyo/Kevin berjaya di All England, India Open, dan Malaysia Open. Bahkan, tak menutup kemungkinan, mereka meraih gelar keempat. Saat ini, langkah mereka sudah sampai semifinal Singapore Open 2017. (*)

Posisi 5 besar ganda putra dunia
1. Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya (Indonesia)

2.Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok)

3.Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang)

4.Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia)

5.Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok)

Yong Bo Mundur dari Timnas

Kamis, 13 April 2017

Li Yong  Bo (kanan) mendampingi Chen Long di Rio 2016
KEKUASAAN di kubu Tiongkok bakal berganti. Li Yongbo memutuskan mengundurkan diri sebagai pelatih kepala bulu tangkis di Negeri Panda tersebut.

Ini cukup mengejutkan. Alasannya, di tangannya selama 24 tahun, Tiongkok mampu menjadi raksasa di olahraga bulu tangkis. Bahkan, dalam enam olimpiade, negara tersebut selalu menyumbangkan emas.

Namun, pada Olimpiade Rio 2016 di Brasil, Tiongkok hanya mampu meraih dua emas. Ini capaian terburuk sejak Olimpiade 2000.

''Setelah melayani beberapa tahun, saya lelah.. dan saya harus menyerahkan kepada yang muda,'' kata Yong Bo seperti dikutip media lokal, Tengxun Sport.

 Regenerasi itu, ungkapnya, butuh pemikiran baru untuk memimpin Tiongkok. Langkah ini, terang media tersebut, diikuti oleh jajaran pelatih lain.

 Sayang, timnas Tiongkok tak mengeluarkan keterangan tentang kabar mundurnya Yong Bo. Saat hendak dikonfirmasi juga tidak ada balasan.

 Bersama Yong Bo, Tiongkok menjadi negara tersukses di cabang bulu tangkis di olimpiade. Total, negara terpadat di dunia tersebut mengoleksi 18 emas.

 Usai dari Rio, Yong Bo menjadi sorotan di All England. Dalam turnamen tertua di dunia tersebut, mereka pulang dengan hanya memperoleh satu gelar. Posisi terhormat tersebut disumbangkan dari nomor ganda campuran melalui Lu Kai/Juang Yaqiong. (*)

Kalahkan Korsel, Ketemu Wakil Negeri Ginseng

Jonatan Christie menembus perempat final Singapore Open
DI babak I, Jonatan Christie mengalahkan Son Wan-ho. Unggulan keempat dari Korea Selatan tersebut dikalahkan dengan dua game langsung 21-15, 21-18 di Singapore International Stadium Kamis waktu setempat (13/4/2017).

Namun, Jonatan kembali berjumpa duta Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan. Kali ini, dia menantang Lee Dong-keun. Di babak II, dia menumbangkan unggulan ketujuh asal Hongkong Ng Ka Long dengan 14-21, 21-12, 21-18.

Bagi Jonatan, bertemu dengan Wan-ho merupakan pertemuan pertama.Begitu juga dengan Dong-keun.

 Meski bukan unggulan, Dong-keun tak bisa dianggap remeh. Dia menjadi pembuat kejutan di babak I.

 Don-keun memaksa juara bertahan sekaligus mantan tunggal pertama Indonesia Sony Dwi Kuncoro pulang lebih dini.

 Pekan lalu di Malaysia Open 2017, Jonatan juga menemebus perempat final. Sayang,di turnamen level super series premier tersebut, dia menyerah di tangan legenda hidup asal Tiongkok Lin Dan.

 Di Negeri Singa, julukan Singapura, Jonatan menjadi tumpuan harapan. Itu setelah dua seniornya, Sony dan Tommy Sugiarto, tumbang di babak I. (*)

Sepekan Bertemu Lawan yang Sama

Rabu, 12 April 2017

Selebrasi Sinyo/Kevin usai memastikan lolos babak II (foto:PBSI)
LANGKAH Marcus 'Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya di Singapore Open 2017 masih aman. Dengan kondisi kecapeken, keduanya masih bisa menembus babak II turnamen yang masuk kategori super series tersebut.

 Itu setelah Sinyo/Kevin menang straight game 21-11, 21-18 atas pasangan Korea Selatan Choi Solgyu/Kim Gi-jung di Singapore Indoor Stadium Rabu waktu setempat (12/4/2017). Wakil Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan, tersebut tampil dari babak kualifikasi.

 Di babak kedua, Sinyo/Kevin, yang ditempatkan sebagai unggulan teratas, berjumpa dengan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Di babak I, wakil Jepang tersebut membuat kejutan dengan menundukkan pasangan tangguh Hongkong Or Chin Chung/Tang Chun Man dengan 21-12, 17-21, 21-15.

 Kans memetik kemenangan sangat terbuka. Pertimbangannya, dalam tiga kali perjumpaan, Sinyo/Kevin selalu menang.

 Kali terakhir, kedua pasangan bertemu di Malaysia Open 2017 pekan lalu. Saat itu, Sinyo/Kevin unggul dua game langsung 21-9, 21-19.

 Sebelum berlaga di Singapore Open, pasangan yang kini duduk di posisi kedua tersebut meraih tiga kali juara beruntun. Yakni di All England, India Open, dan Malaysia Open. (*)

Dua Juara Bertahan Langsung Tumbang

Sony kehilangan gelar di Singapura
NOMOR tunggal putra Singapore Open 2017 bakal punya juara baru. Pemenang tahun lalu, Sony Dwi Kuncoro, terjegal di babak I turnamen yang menyediakan hadiah total USD 350 ribu tersebut.

 Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium, Sony kalah tiga game 21-19, 15-21,18-21 dari Lee Dong-keun dari Korea Selatan. Pertandingan keduanya memakan waktu 76 menit yang menguras tenaga. Kekalahan ini membuat dia selalu kalah di babak awal usai naik ke podium juara di Negeri Singa, julukan Singapura.

 Seperti dikutip situs BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), laga Sony versus Dong-keun berjalanan ketat. Setelah menang di game pertama, arek Suroboyo itu sempat berpeluang unggul straight game.

 Bahkan, di game ketiga, sempat terjadi skor imbang 18-18. Sayang,Dong-keun mampu menyapu bersih tiga angka terakhir. 

''Saya percaya diri bisa mengalahkan Sony. Strateginya adalah mempunyai pertahanan yang baik dan mengajak dia bermain reli yang lama,'' ungkap pebulu tangkis berusia 26 tahun tersebut.

 Sony sendiri mengakui Dong-keun tampil kuat. Dia juga bermain baik.

 ''Ranking saya pasti akan turun. Meski kalah sebenarnya penampilan saya baik,'' ujar Sony.

 Namun yang sama menimpa juara bertahan tunggal putri. Ratchanok Intanon dari Thailand menyerah kepada wakil Jepang Sayaka Sato 8-21, 18-21. (*)

Tontowi/Liliyana Pulang Terlalu Dini

Selasa, 11 April 2017

Tontowi/Liliyana usai kalah di babak I (foto;PBSI)
KEJUTAN langsung tersaji di hari perdana Singapore Open 2017. Unggulan kedua nomor ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, harus angkat koper lebih dini.

 Pasangan andalan Indonesia dalam turnamen berhadiah total USD 350 ribu tersebut dipermalukan wakil Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai 14-21 dan 16-21 dalam pertandingan yang dilaksanakan di National Indoor Singapore pada Selasa waktu setempat (11/4/2017)..

''Kami tampil under perform hari ini,'' kata Liliyana singkat usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

 Penampilan Tontowi/Liliyana sejak awal memang tak begitu baik. Mereka kerap melakukan kesalahan sendiri dan terus tertinggal dari lawan.  Keduanya bahkan tercatat tak pernah mendekati poin lawan pada game pertama.

Di game dua, Tontowi/Liliyana sempat membuka peluang dengan unggul tipis di poin-poin awal, 4-2. Namun setelah itu, mereka kerap beradu angka dengan ketat, hingga akhirnya balik tertinggal dari Puavaranukroh/Taerattanachai.

''Saya mainnya terasa kurang in di lapangan. Terus saya banyak melakukan kesalahan sendiri. Selain itu juga kami telat panas dari awal. Dari komunikasi juga kami hari ini agak kurang,'' ungkap Tontowi.

Hasil ini pun memupuskan harapan Tontowi/Liliyana untuk bisa melampaui capaiannya dari tahun lalu. Di Singapore Open Super Series 2016, Tontowi/Liliyana finis sebagai semifinalis. Mereka juga pernah juara pada 2011, 2013, dan 2014. (*)

Sudah Sepantasnya Lolos dari Kualifikasi

Hendra/Boon Heong (foto:thestar.my)
LOLOS dari babak kualifikasi bukan hal yang mudah bagi Hendra Setiawan/Tan Boon Heong. Semua ajang yang diikuti, mereka mampu melewati dan mampu menembus babak utama.

Begitu juga di Singapore Open 2017. Hendra/Boon Heong mampu memetik dua kali kemenangan di babak kualifikasi turnamen berhadiah total USD 350 ribu tersebut.

 Dalam penampilan perdana di Singapura pada Selasa waktu setempat (11/4/2017), pasangan beda negara, Indonesia/Malaysia, tersebut menang tiga game 22-24, 21-11, 21-13 atas wakil Malaysia Tan Chee Tean/Tan Wee Gieen. Selang beberapa jam kemudian, Hendra/Boon Heong melibas Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (India) dengan 21-8, 21-15.

 Hanya, di babak utam, mereka bersua dengan wakil Thailand Kiitinupong/Dechapol. Di atas kertas, Hendra/Boon Heong  menang. Hanya, waktunya berkumpul masih membuat faktor kekompakan menjadi biang kekalahan. Mayoritas kekalahan dialami keduanya dari pasangan yang sudah matang. (*)

Pasangan Baru Korsel Bisa Menghadang

Senin, 10 April 2017

Sinyo/Kevin jadi unggulan I di Singapore Open
SELAMA karirnya, Kevin Sanjaya dan Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon belum pernah jadi unggulan teratas. Bahkan, itu saat mereka masih berpasangan dengan tandem lamanya.

Dulu, Kevin dipasangkan dengan Selvanus Geh dan Sinyo dengan Markis Kido. Namun, sekarang, mereka menjadi kandidat kuat di Singapore Open 2017.

 Ini tak lepas dari capaian Sinyo/Kevin. Saat drawing dilakukan, keduanya menempati posisi nomor satu dunia di nomor ganda putra. Juara di All England 2017 dan India 2017 melesatkan pasangan muda ini menduduki posisi teratas.

 Bahkan, posisi itu akan ditempati lagi pekan ini. Alasannya, Sinyo/Kevin baru saja menjadi juara di ajang super series premier, turnamen tertinggi di level BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

 Dengan posisi unggulan teratas, di babak awal, keduanya menemui lawan yang ringan di Negeri Singa, julukan Singapura. Pada penampilan perdana turnamen berhadiah total USD 350 ribu tersebut, mereka  akan dijajal pasangan yang lolos dari babak kualifikasi.

 Besar kemungkinan, Sinyo/Kevin berjumpa dengan pasangan Korea Selatan. Di grup atas kualifikasi ada Kim Jae-hwan/Yoo Yeon-seong dan Choi Solgyu/Kim Gi-jung.

 Nama Yoo Yeon-seong dan Kim Gi-jung tak bisa dipandang sebelah mata. Yeon-seong pernah ditakuti di nomor ganda putra saat berpasangan dengan Lee Yong-dae. Sementara Gi-jung sering jadi penjegal pasangan kuat saat dengan Kim Sa-rang.

 Meski diunggulkan di posisi pertama, tapi Sinyo/Kevin tak berharap banyak bisa menjadi juara. Kelelahan yang mendera bisa menjadi sandungan untuk bisa menciptakan empat gelar secara beruntun (quat-trick). (*)

Tugas Superberat Sony

Lee Dong-keun akan jadi lawan Sony di babak I (foto:BWF)
DARI lima juara bertahan Singapore Open, hanya Sony Dwi Kuncoro dan Ratchanok Inthanon yang turun. Sisanya absen dengan berbagai alasan.

 Namun, kans keduanya untuk bisa kembali back to back pun sangat berat. Khususnya, Sony Dwi Kuncoro di tunggal putra.

 Banyak hal yang mendasari. Salah satunya belum stabilnya mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut.

 Usai dari Singapura 2016, Sony tak pernah naik ke podium juara. Bahkan, terjegal di babak-babak awal sudah menjadi langganan.

 Kali terakhir, Sony tumbang di babak I Malaysia Open oleh pebulu tangkis yang belum terkenal dari Tiongkok Huang Yuxiang. Arek Suroboyo tersut menyerah dua game langsung 17-21, 9-21.

 Di Singapore Open 2017, Sony berjumpa dengan Lee Dong-keun dari Korea Selatan. Selama ini, bapak dua putri tersebut belum pernah bersua dengan Dong-keun.

 Dari sisi ranking Sony lebih unggul. Sekarang, dia di posisi 23 sedangkan lawannya di 34.

 Di nomor tunggal putra, di babak utama, selain Sony, Indonesia juga menempatkan Tommy Sugiarto dan Jonatan Christie. (*)

Yang Pertama bagi Lin Dan

Minggu, 09 April 2017

Lin Dan (kiri) bertukar kaos dengan Chong Wei (foto:thestar)
RASA penasaran Lin Dan di Malaysia Open terobati. Pebulu tangkis Tiongkok tersebut akhirnya mampu menjadi pemenang dalam ajang yang tahun ini masuk kategori super series premier tersebut.

 Gelar itu diraihnya usai menundukkan andalan tuan rumah yang juga diunggulkan di posisi teratas Lee Chong Wei dengan dua game langsung 21-19, 21-14. Duel dua legenda tersebut berlangsuyng di Stadium Perpaduan Jaya, Kuching, Sarawak, pada Minggu waktu setempat (9/4/2017).

Kemenangan ini juga menggalkan Chong Wei untuk menggapai gelar ke-12 nya. Sebenarnya, Lin Dan sudah tiga kali menembus babak pemungkas.Namun, dia gagal pada 2005, 2006, dan 2015.

 Bagi Lin Dan, keberhasilan di Malaysia Open membuatnya mengoleksi gelar bergengsi di semua turnamen besar. Selain itu, ini juga menjadi kemenangan ke-26 dari 38 kali pertemuan.

 ''Sungguh luar bisa dapat mengalahkan Chong Wei di kandangnya sendiri. Ini gelar pertama saya di Malaysia,'' kata Lin Dan seperti dikutip media Malaysia.

 Dia mengaku selalu memberikan yang terbaik jika bersua dengan Chong Wei. Pada 2017, ungkapnya, merupakan salah satu partai terbaik yang dijalaninya bersama lawannya yang diberi gelar Datuk oleh Pemerintah Malaysia tersebut.

 Chong Wei mengakui game pertama sangat menentukan. Apalagi, dia sempat memimpin.

 ''Tapi, saya melakukan banyak kesalahan sehingga dia kehilangan fokus,'' ujar lelaki yang kini berusia 35 tahun tersebut. (*)

Berikutnya, Incar Titel World Champions

Ekspresi Sinyo/Kevin usai menjadi juara (foto: PBSI)
KONDISI kurang fit tak membuat Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya manja.Mereka tetap memutuskan ikut dalam Singapira Open 2017 yang bergulir mulai Selasa (11/4/2017).

''Kami sudah berdiskusi dan Marcus/Kevin tetap mau tanding di Singapura. Namun saya tidak membebani mereka target apa-apa di Singapura, mengingat kondisi mereka sudah habis-habisan. Saya rasa dengan tiga gelar berturut-turut adalah capaian yang bagus,” tambah Herry Iman Pierngadi, pelatih nomor ganda putra Pelatnas Cipayung .

 Tiga gelar berturut-turut itu adalah All England Super Series Premier 2017, India Open Super Series, dan Malaysia Open Super Series Premier 2017.

Apalagi, setelah dari Negeri Singa, julukan Singapura, tiga kejuaraan penting sudah menanti di hadapan Sinyo/Kevin yaitu Badminton Asia Championships, Piala Sudirman, dan Kejuaraan Dunia 2017.

 ''Selanjutnya kami mau jadi juara dunia. Saat ini kami masih belum ada apa-apanya kalau dibandingkan senior-senior kami yang gelarnya sudah lengkap,” ungkap Kevin.

 Kejuraan Dunia 2017 akan dilangsungkan di Glasgow, Skotlandia, pada 21-27 Agustus 2017. (*)

Kurang Fit Saja Bisa Juara

HAT-TRICK: Sinyo/Kevin di podium (foto: PBSI)
POSISI Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya tengah di puncak. Mereka mampu menjadi pemenang dalam tiga turnamen secara beruntun (hat-trick).

Dimulai dari All England 2017, kemudian India Open 2017, kini Malaysia Open berada dalam genggaman. Dalam final yang dilaksanakan di Kuching, Sarawak, mereka mengalahkan Fu Haifeng/Zheng Siwei (Tiongkok) dengan rubber game 21-14, 14-21, 21-12.

Pertandingan berlangsung sangat seru. Meski, Haifeng/Siwei bukan termasuk pasangan yang diunggulkan menjadi juara di Malaysia Open 2017.

''Tentu senang bisa dapat gelar super series lagi, berturut-turut dari All England, India dan Malaysia. Awalnya tidak menyangka kami bisa menang di sini (Malaysia), karena tenaga kami sudah terkuras, ungkap Sinyo usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Dia mengakui lawannya tampil bagus. Walaupun, ujar Sinyo, mereka pasangan baru.

''Di game kedua kami tidak antisipasi kalau mereka mau main bertahan, karena kami tidak siap untuk serang habis-habisan. Energi kami lumayan terkuras. Kemudian kami berdiskusi bersama dan mencari strategi lain,” tambahnya.

 Kevin menuturkan ia dan Sinyo tak punya rahasia khusus dalam mencetak hat-trick kali ini. Bahkan, dirinya dan Sinyo sedang dalam kondisi tidak fit karena kelelahan usai mengikuti tiga kejuaraan beruntun, mereka juga diserang flu dan batuk sejak di India.

''Tidak ada rahasia apa-apa  di balik keberhasilan kami hat-trick. Kami hanya melakukan yang terbaik, nggak terlalu mikirin menang atau kalah, pokoknya berjuang terus,'' jelas Kevin.(*)

Hasil Malaysia Open 2017 :
Ganda Campuran: Zheng Siwei/Chen Qingchen (1/Tiongkok) v Lu Kai/Huang Yaqiong (4/Tiongkok) 21-15, 21-18

Tunggal Putri: Tai Tzu Ying (1/Taiwan) v Carolina Marin (2/Spanyol) 23-25, 22-20, 21-13

Tunggal Putra: Lin Dan (7/Tiongkok) v Lee Chong Wei (1/Malaysia) 21-19, 21-14

Ganda Putri: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) v Tang Jinhua/Huang Yaqiong (Tiongkok) 21-17, 18-21, 21-12

Ganda Putra: Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (4/Indonesia) v Fu Haifeng/Zheng Siwei (Tiongkok) 21-14, 14-21, 21-12

Menunggu Pemenang Partai Ke-38

DI nomor tunggal putra, Lee Chong Wei dari Malaysia dan Lin Dan (Tiongkok) sudah termasuk kategori senior. Kini, usia keduanya sudah menginjak kepala 3.

Chong Wei sudah 35 tahun dan Lin Dan setahun di bawahnya. Meski sudah uzur, tapi keduanya tetap susah dikalahkan.

Bahkan, kini, di Malaysia Open 2017, Chong Wei dan Lin Dan kembali bertemu. Itu setelah keduanya mengalahkan lawan-lawannya di babak semifinal yang dilaksanakan di Kuching, Sarawak, pada Sabtu waktu setempat (8/4/2017).

Chong Wei, yang diunggulkan di posisi teratas, menang mudah dua game 21-12, 21-9 atas Wong Wing Ki (Hongkong) dan Lin Dan memupus asa pebulu tangkis Korea Selatan Son Wan-ho dengan tiga game 27-25,19-21, 21-16.

Sepanjang karir, pertemuan nanti menjadi duel ke-38 kali.Hanya pertarungan kedua sahabat ini di lapangan masih dimenangkan LIn Dan.

Super Dan, julukan Lin Dan, menang 25. Hanya, dalam dua kali pertemuan terakhir, Chong Wei lebih beruntung. Dia menang di Kejuaraan Asia 2016 dan Olimpiade Rio 2016.

Sayang, kemenangan di Rio tersebut bukan di final. Chong Wei melakukannya di semifinal.

Di perebutan emas, dia kalah oleh wakil Tiongkok lainnya yakni Chen Long. Sehingga, dia tiga kali beruntun hanya memperoleh perak setelah sebelumnya ditundukkan Lin Dan di Beijing 2008 dan London 2012.(*)

Menanti Har-trick Gelar

Sabtu, 08 April 2017

DUA gelar beruntun digapai Marrcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya. Meeka naik ke podium terhormat di All England Super Series Premier 2017 dan India Open Super Series 2017.

Kesempatan mencetak tiga gelar beruntun (hat-trick) pun sudah di depan mata. Sinyo/Kevin mampu menembus babak final Malaysia Open 2017.

Tiket tersebut ada di tangan pasangan binaan Pelatnas Cipayung tersebut setelah mengalahkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang) dengan 21-16, 21-13 dalam pertandingan semifinal di Kuching, Sarawak, pada Sabtu waktu setempat (8/4/2017).

Kemenangan ini juga membuat Sinyo/Kevin mampu membalas dua kekalahan sebelumnya. Mereka pernah dikalahkan Kamura/Sonoda secara beruntun di Kejuaraan Asia 2016 dan Super Series Finals 2016.

Hanya, dua kekalahan tersebut tak membuat pasangan nomor dua dunia tersebut gentar. Keduanya justru begitu percaya diri.

Mereka langsung menemukan irama permainan sejak game pertama. Sempat ketinggalan 5-10, Marcus/Kevin tak mau ambil pusing, mereka terus berburu poin.

Pada game kedua, Kamura/Sonoda semakin kesulitan untuk mengembangkan permainan. Pasangan unggulan kedua ini hanya mampu meladeni permainan Sinyo/Kevin dan akhirnya terus bertahan di tengah hujan serangan yang dilancarkan Marcus/Kevin.

Diakui Sinyo/Kevin, pertandingan di perempat final melawan Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok) Jumat malam memang lebih berat.

“Lawan hari ini memang tidak sesulit kemarin. Tetapi hari ini badan saya lemas sekali, masih belum fit. Untungnya kami hari ini lagi enak mainnya,” ujar Sinyo seperti dikuti media PBSI.

Di babak final yang dilaksanakan Minggu (9/4/2017), Sinyo/Kevin ditantang pasangan anyar Tiongkok Fu Haifeng/Zheng Siwei yang di semifinal melibas rekan sendiri Chai Biao/Hong Wei, yang juga unggulan ketiga,17-21, 21-14, 21-19.(*)

Kalah, Tontowi/Liliyana Salahkan Jadwal

TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir gagal mempertahankan gelar di Malaysia Open 2017. Langkah pasangan ganda campuran terbaik Indonesia tersebut hanya sampai babak semifinal.

Dalam semifinal yang dilaksanakan di Kuching, Sarawak, Sabtu waktu setempat (8/7/2017), Tontowi/Liliyana, yang diunggulkan di posisi kedua, menyerah di tangan wakil Tiongkok Lu Kai/Huang Yaqiong, dengan 8-21, 16-21.

Ini adalah kali pertama Tontowi/Liliyana ditaklukkan Kai/Yaqiong. Sebelumnya mereka memenangkan enam pertarungan.

 Tontowi/Liliyana pun mengakui kalau mereka tampil dibawah permainan normal mereka biasanya.Pasangan peraih emas Olimpiade Rio 2016 Brasil itu menyayangkan susunan jadwal pertandingan yang kurang menguntungkan.

Di laga perempat final Jumat malam, Tontowi/Liliyana bertarung sengit melawan Choi Solgyu/Chae Yoo-jung dari Korea Selatan. Laga yang berakhir dengan skor 16-21, 23-21, 22-20 ini berlangsung dalam durasi 82 menit.

 “Penampilan kami hari ini memang bisa dibilang underperformed. Dari segi tenaga, pertandingan di perempat final sangat menguras energi, kami berharap dapat recovery dan istirahat lebih lama, tetapi kami kaget saat melihat jadwal pertandingan. Semalam kami sampai hotel jam 12 malam, dan hari ini dari pagi sudah harus bersiap tanding lagi,” kata Liliyana seperti dikutip media PBSI.

 Selain itu, pasangan Tiongkok, ungkapnya, tampil lebih baik dan mereka sedang percaya diri setelah juara di All England dan India Open 2017. Liliyana tak ingin hal tersebut jadi kambing hitam.

''Pasti mengganggu di lapangan, tetapi saya nggak pikirin, yang penting fokus ke pertandingan saja,” tambah Liliyana.(*)

Kuncinya, Tak Mau Menyerah Dulu

Jumat, 07 April 2017

Sinyo/Kevin usai memastikan ke semifinal (foto|; PBSI)
REAL final tersaji di babak perempat final ganda putra Malaysia Open 2017. Itu saat Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menghadapi pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen.

Kok bisa real final? Pertimbangannya, saat ini Junhui/Yuchen duduk di ranking satu dunia. Sedangkan Sinyo/Kevin ada di posisi kedua. Bahkan, pekan lalu, ganda merah putih tersebutlah yang menjadi nomor wahid.

 Di lapangan, tak salah kalau keduanya menduduki dua posisi teratas. Namun, Sinyo/Kevin akhirnya yang keluar sebagai pemenang dengan rubber game 7-21, 21-17, 21-17.Hasil tersebut membawa mereka menembus babak semifinal.

 Marcus/Kevin awalnya tampil kurang meyakinkan saat harus kalah telak di game pertama. Namun, di game kedua, mereka mulai menunjukkan perlawanan pada Junhui/Yuchen. Di game kedua ini, Marcus/Kevin juga seringkali tertinggal, pada akhir game pun Junhui/Yuchen masih memimpin 17-14.

 Tak mau menyerah begitu saja, Sinyo/Kevin langsung bangkit dan merebut tujuh poin berturut-turut. Mereka mengunci angka Junhui/Yuchen di poin 17.

 Di game ketiga, Sinyo/Kevin kembali tertinggal. Meskipun pertahanan Marcus/Kevin tak sekokoh biasanya, mereka mencoba untuk terus meraih angka demi angka dengan mengungguli bola-bola depan net.

 Lagi-lagi Sinyo/Kevin memenangkan adu mental dengan keluar dari tekanan dan balik unggul 17-16. Kala itu Marcus/Kevin sudah tak dapat dihentikan, mereka pun merebut game ketiga.

 ''Kami merasa lucky. Tidak bisa dipungkiri faktor keberuntungan dalam pertandingan itu penting. Sebetulnya kami tidak mengubah strategi di game pertama, tetapi kami lebih siap dengan serangan lawan di game kedua dan ketiga,'' kata Sinyo.

Permainan yang diterapkan, ungkapnya, sama saja, main no lob dan tidak angkat bola. Alasannya, lawan punya postur lebih tinggi.

 ''Permainan depan Liu (Yuchen) sedang bagus, tadi ngadu terus sama Kevin,” tambahnya.

 “Di game pertama,Sinyo mengakui mereka tidak menemukan ritme permainan. Shuttlecock yang dipakai, ujarnya, lajunya kencang.

''Jadi kami main net dan shuttlecock keangkat langsung diserang lawan. Kunci kemenangannya tadi adalah bertahan tak mau menyerah, mau ketinggalan berapapun pokoknya coba terus,'' jelas putra pelatih Kurnia Hu ini.

 Di semifinal, Sinyo/Kevin akan berjumpa dengan unggulan kedua asal Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.(*)

Ulangi All England di Perempat Final Malaysia

Kamis, 06 April 2017


Sinyo/Kevin pulangkan ganda Tiongkok (foto;PBSI)
SEPAK terjang Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya belum ternbendung. Kali ini, langkah keduanya sudah menembus perempat final Malaysia Open 2017.

Sinyo/Kevin meraih tiket berkat kemenangan atas Liu Cheng/Zhang Nan (Tiongkok) dengan dua game langsung, 23-21, 21-16. Mereka menjadi wakil Indonesia ketiga yang lolos setelah Jonatan Christie di tunggal putra dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

''Saya merasa pukulan saya biasa saja, tidak ada yang aneh. Saya bermain dengan style saya, memang saya suka main-mainin pukulan. Saya menikmati saja dan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan,'' kata Kevin seperti dikutip dari media PBSI

 Dia dan Sinyo bermain terlalu hati-hati di game pertama. Padahal, ungkap Kevin, lawan cuma main safe dan menurunkan bola saja.

'' Tetapi pada pertengahan pertandingan sudah mulai dapat feel-nya,'' ucap Kevin.

 Dia mengakui Che ng/Nan adalah pasangan yang bagus. Defense mereka, ujar Kevin, rapat dan tenaganya kuat.

 ''Namun kadang pukulannya terlalu kencang ke belakang. Jadi kami sering memanfaatkan hal ini,'' tambah Sinyo.

 Laga perempat final kembali mempertemukan Sinyo /Kevin dengan Li Junhui/Liu Yuchen, pasangan Tiongkok yang mereka kalahkan di final All England 2017 lalu. Skor pertemuan sementara imbang 1-1 untuk kedua pasangan.

''Tidak ada persiapan khusus bertemu Li/Liu, bagaimana nanti keadaan di lapangan saja,”'' ujar Kevin.

 Sementara itu, pasangan Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro terhenti di babak kedua usai dihentikan Or Chin Chung/Tang Chun Man (Hongkong), dengan 18-21, 21-16, 18-21. (*)

Menang tanpa Keluar Keringat

GAGAL: Praveen/Debby tersingkir di babak II (foto; PBSI)
TIKET perempat final ganda campuran Malaysia Open 2017 dipastikan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Bahkan, mereka mendapatkannya tanpa memeras keringat.Kok bisa? Ini karena lawannya, Kim Astrup/Line Kjaersfeldt (Denmark) mengundurkan diri

 Hasil tersebut melapangkan jalan bagi kkeduanya untuk bisa mempertahan gelar. Tahun lalu, Tontowi/Liliyana menang atas wakil tuan rumah Chan Pen Soon/Goh Liu Ying dengan tiga game 23-21, 12-21, 21-16.

 Pen Soon/Liu Ying sendiri sudah terhenti di babak I di Malaysia Open 2017. Mereka dikalahkan wakil Indonesia Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja.

 Sayang, kejutan Edi/Gloria juga terhenti.Di babak II, pasangan Pelatnas Cipayung tersebut ditaklukkan wakil Hongkong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, dengan skor 21-16, 17-21, 14-21. Kekalahan juga dialami pasangan ganda campuran Cipayung lainnya, Praveen Jordan/Debby Susanto. Mereka tak dapat mengatasi permainan pasangan Korea Selatan, Choi Solgyu/Chae Yoo-jung12-21, 21-14, 19-21.

Penampilan Praveen/Debby memang tak seperti biasanya, kali ini mereka kalah unggul di permainan depan net Choi/Chae. Hal ini menjadikan pasangan Korea ini mendapat banyak kesempatan untuk menyerang. Pertahanan Praveen/Debby pun kerap dibobol oleh Choi/Chae.

''Tidak ada yang menyulitkan sekali sih dari lawan. Tetapi beberapa kali kami terbawa tempo permainan mereka,''ujar Debby.

Saat game ketiga, ungkapnya, posisi lapangan searah dengan angin. Jadi, tambah Debby, banyak pukulan yang kurang pas.

''Kami harus lebih siap lagi di pertandingan selanjutnya, dan bermain lebih konsisten,'' ungkap Debby.(*)

Unggul Kalah, Tertinggal Malah Menang

Jonatan Christie akan menantang Lin Dan (foto: PBSI)
TUMBANG di babak kedua sudah ada di benak Jonatan Christie.bagaimana tidak, di game ketiga, tunggal putra terbaik Pelatnas Cipayung tersebut ketinggalan 15-19 dalam pertandingan Malayia Open 2017 di Kuching, Sarawak, [ada Kamis waktu setempat (6/4/2017).

 ''Saya merasa terberkati sekali, rasanya tadi saya tidak sekuat itu. Saya bukan Lee Chong Wei yang ketinggalan jauh bisa nyusul. Saya bukan Lin Dan yang ketinggalan 19-20 bisa balikin keadaan. Suatu hari nanti saya berharap seperti mereka, mungkin saja pencapaiannya sama, tetapi karakternya pasti berbeda,'' ujar Jonatan usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

 Trauma di game pertama, ungkapnya, masih membayangi. Saat itu, dia kalah dari Cho Tien Chen dari Taiwan dengan 21-23. Padahal, Jonatan sudah leading jauh 19-13.

 Meskipun kekalahan di game pertama, diakui Jonatan, sangat menyakitkan, namun pebulu tangkis asal klub Tangkas ini tak mau terpengaruh di game kedua. Usahanya berhasil, Chou tak dapat berbuat banyak.

''Jujur saja saya sempat down karena 19-13 dan kesusul. Dia bisa begitu karena dia berani, main di depan net, tembak, begitu terus. Jadi tadi saya mengatasinya dengan lebih berani dari dia. Saya anggap ini laga final, mati-matian saja,'' tambah Jonatan.

 Tien Chen, ungkapnya, merupakan pebulu tangkis dengan tipe menyerang. Jonatan melihatnya saat pertandingannya final India Open 2017 melawan Viktor Axelsen. '

'Mainnya cepat sekali. Walaupun saya sudah dua kali menang dari dia, namun dari awal saya sudah mewaspadai dia karena grafik penampilannya sedang bagus,'' jelas Jonatan.

 Di perempat final, pebulu tangkis ranking 22 dunia tersebut akan menantang legenda hidup asal Tiongkok Lin Dan. Dia menembus perempat final usai memetik kemenangan mudah 21-18, 21-13 atas Tanongak Saensomboonsok.  Sepanjang karirnya, Jonatan belum pernah bertemu dengan Lin Dan. (*)

Sony Belum Temukan Performa Terbaik

Rabu, 05 April 2017

Sony terhenti di babak I Malaysia Open 2017
HASIL mengecewakan ditelan Sony Dwi Kuncoro. Dia tersingkir dalam penampilan perdana di Malaysia Open 2017.

Pada pertandingan yang dilaksanakan di Kuching, Sarawak, Rabu (5/4/2016), Sony menyerah di tangan pebulu tangkis nonunggulan dari Tiongkok Huang Yuxiang dengan dua game langsung 21-17, 21-9.

''Saya belum menemukan performa yang bagus,'' kata Sony melalui pesan singkat.

Padahal, dia mengakui Yuxiang bukan lawan yang bagus. Sony mengaangap lawannya biasa aja .

'' Yang penting, saya bisa ngeluarin permainan udah enak. Nggak tahu kenapa?' tambah mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut.

 Imbasnya, permainannya seperti hilang sama  sekali. Sehingga, apa yang dikeluarkanya tak sesuai harapan.

 ''Akhir-akhir ini saya sering kehilangan konsentrasi.Jadi mainnya ngawur, tidak terarah, dan banyak mati sendiri,'' ujar Sony.(*)

Unggulan Pertama Langsung Tumbang

Ahsan/Rian saat berlaga di babak I Malaysia Open (foto:PBSI)
KEJUTAN mewarnai hari pertama babak utama Malaysia Open 2017. Unggukan teratas di nomor ganda putra, Tan Wee Kiong/Goh V Shem, harus angkat koper.

Mereka menyerah dari pasangan yang kolos dari babak kualifikasi Chung Or Chin/Tang Chun Man. Wakil Hongkong tersebut menang dua game langsung 17-21, 21-23.

 Kemenangan ini juga bisa menjadi berkah bagi Indonesia. Kok bisa? Ya, di babak kedua, Or Chin/Chun Man bersua dengan Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro.

Di babak I, pasangan anyar ini mengalahkan pasangan beda negara Hendra Setiawan/Tan Boon Heong dengan ruber game yang ketat 21-10, 15-21, 21-19. Partai ini menguras emosi. Sebab, sebelumnya, Hendra dan Ahsan merupakan pasangan.

Bagi Hendra/Boon Heong, kekalahan ini membuat keduanya lebih sering tumbang di babak  awal. Imbasnya, ranking pasangan senior tersebut belum bisa melojak cepat.

 Di babak II nomor ganda putra, merah putih juga menempatkan Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya dan M. Rian Ardianto/Fajar Alfian. (*)

Jonatan Kalahkan Rekan Satu Kamar

LANGKAH Anthony Ginting di Malaysia Open 2017 terhenti. Sayang, yang mengalahannya adalah rekannya sendiri, Jonatan Christie, dengan dua game langsung 21-17, 21-12 di Kuching, Sarawak,pada Rabu waktu setempat (5/4/2017).

Jonatan Christie menundukkan Anthong Ginting (foto; PBSI)

Meskipun sudah mengamankan tempat di babak kedua, namun Jonatan sempat menyayangkan hasil undian yang mempertemukan dirinya dan Anthony di babak awal. “Kenapa dari semua pemain, saya harus bertemu Ginting? Pertama, kami sudah sering latihan bersama di pelatnas, kami sudah sama-sama tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing. Kedua, pemain pelatnas di sini kan cuma bertiga, saya, Ginting dan Firman (Abdul Kholik). Kenapa saya harus ketemu teman sendiri?” kata Jonatan usai laga seperti dikutip media PBSI.

 Yang menyedihkan lagi, tambahnya, Anthony adalah rekan satu kamarnya di Pelatnas Cipayung. Bahkan, di negeri jiran, keduanya pun satu

'' Jadi malam sebelum tanding, sempat diam-diaman, ya profesional saja. Tadi di lapangan juga agak canggung kalau mau teriak saat dapat poin, ha ha ha,” ucap ungkapnya.

Di babak kedua, Jonatan berjumpa dengan wakil Taiwan Chou Tien Chen. Rekan Jonatan di Musica dalam Superliga 2017 tersebut mengalahkan Hans-Kristian Vittinghus dengan 22-20, 21-12.

Jonatan belum pernah berjumpa dengan Tien Chen. Hanya, dalam pertandingan nanti, posisi tak diunggulkan.

Selain itu, wakil Indonesia lainnya, Tommy Sugiarto juga memetik kemenangan. Mantan penghuni pelatnas tersebut mengalahkan dua Marc Zwiebler dari Jerman dengan dua game langsung 21-13, 21-9.(*)

Harus Ada yang Pulang Duluan

Selasa, 04 April 2017

Anthony Sinisuka Ginting
KEBERUNTUNGAN memayungi Anthony Ginting. Pebulu tangkis muda Indonesia tersebut tak perlu memeras keringat untuk menembus babak utama Malaysia Open 2017.

Ini karena Jan O Jorgensen dari Denmark urung berlaga dalam turnamen berhadiah total USD 600 ribu tersebut. Imbasnya, Anthony terdongkrak.

 Hanya, di babak utama, dia harus berjumpa rekannya sendiri dalam setiap latihan di Pelatnas Cipayung, Jonatan Christie. Dalam daftar BWF (Federasi Bulu Tangkis Internasional), ini akan menjadi pertemuan di ajang internasional.

 Susah untuk memprediksi pemenang partai ini. Alasannya, Ginting sering kali tampil mengejutkan. Meski, rangkingnya sekarang, 24, masih kalah dari Jonatan yang dua setrip di atasnya.

 Di tunggal putra Malaysia Open 2017, selain Ginting dan Jonatan, Indonesia juga diwakili Tommy Sugiarto dan Sony Dwi Kuncoro. Status keduanya sekarang bukan lagi penghuni Cipayung.

Duel dengan Mantan Pasangan

Ahsan/Rian Agung akan berjumpa Hendra/Boon Heong
BABAK utama kembali bisa ditembus Hendra Setiawan/Tan Boon Heong. Kali ini giliran Malaysia Open.

 Ini setelah pasangan beda negara tersebut memetik dua kali kemenangan di babak kualifikasi yang dilaksanakan di Kuching, Sarawak, kemarin. Di pertandingan pertama, Hendra/Boon Heong menang dua game 21-14, 21-17 atas Kim Jae-hwan/Yoo Yeon-seong. Kemudian, selang beberapa jam, pasangan yang sama-sama pernah menduduki nomor satu dunia bersama tandem lamanya itu kembali meraih hasil positif.

 Hendra/Boon Heong menundukkan wakil tuan rumah Lee Jian-Yi/Lim Zhen Ting dengan 21-15, 21-17. Di babak utama, pasangan yang memilih mundurnya dari timnas Indonesia dan Malaysia tersebut akan menantang wakil Indonesia yang digembleng di Pelatnas Cipayung, Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro.

 Ahsan merupakan pasangan Hendra sebelum bertandem dengan Boon Heong. Saat bersama, Hendra/Ahsan cukup disegani.

 Selain pernah duduk di ranking pertama dunia, keduanya pernah menjadi juara dunia 2013 dan 2015. Sayang, Hendra/Ahsan harus berpisah setelah gagal total di Olimpiade Rio 2016 di Brasil.

 Di level super series atau super series premier, Hendra/Boon Heong harus merangkak dari kualifikasi. Ini disebbakan ranking keduanya belum untuk merebut tiket ke babak utama.

 Di Malaysia Open yang menyediakan hadiah total USD 600 ribu tersebut, Indonesia bertumpu kepada pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya. Pertimbangannya, keduanya baru saja meraih gelar beruntun di All England 2017 dan India Open 2017. (*)

Pencarian Bibit Serbu Empat Pulau

Senin, 03 April 2017

(Dari kiri) Sekjen PBSI Ahmad Budiharto, Alan, dan Susi
DAIHATSU Astec Open bergulir lagi. Dengan ketentuan yang sedikit berbeda, penyelenggaraan tahun ini diyakini akan memberikan kesempatan lebih besar kepada pemain-pemain daerah muncul ke permukaan.

Sama seperti penyelenggaraan tahun lalu, pentas Daihatsu Astec Open 2017 juga akan menyapa para pebulu tangkis yang berada di enam kota di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta Jawa. Puncak dari rangkaian kegiatan tersebut akan berakhir di Jakarta.

 Agenda pertama Daihatsu Astec Open 2017 akan dimulai dari Seri I di Pekanbaru (Riau) pada 4-8 April, berlanjut Seri II di Bandarlampung (Lampung) pada 24-28 April. Memasuki Seri III bergeser ke wilayah Kalimantan di Balikpapan (Kaltim) pada 16-20 Mei.

 Istirahat sejenak terkait dengan bulan Ramadhan, pentas Daihatsu Astec Open 2017 bergulir lagi selepas libur Idul Fitri dengan memasuki wilayah Sulawesi. Makassar, Sulawesi Selatan, akan menjadi tuan rumah Seri IV pada 12-15 Juli.

 Dari Sulawesi, pentas berikutnya memasuki Pulau Jawa yang dimulai dari kota sejuk Malang (Jatim) sebagai tuan rumah Seri V pada 25-29 Juli. Berikutnya bergeser ke Semarang, Jawa Tengah, sebagai tuan rumah Seri VI yang merupakan babak penyisihan terakhir pada 16-19 Agustus. Puncak kegiatan Daihatsu Astec Open 2017 akan mencapai klimaksnya di babak grand final di Jakarta pada 18-24 September.Turnamen ini merupakan kolaborasi antara apparel bulu tangkis Astec milik pengantin Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma dan Susy Susanti, dan Daihatsu.

"Hal itu bisa dimaklumi karena memang masih minimnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan di daerah. Tidak heran, event ini selalu disambut antusias oleh para pemain di daerah," ujar Alan .

 Demi meratakan pembinaan, ungkapnya, pihaknya mengubah beberapa kota yang dipercaya sebagai tuan rumah walau tidak seluruhnya. Misalnya, di wilayah Sumatera, jika tahun lalu digelar di Medan dan Palembang, untuk tahun ini bergeser ke Pekanbaru dan Bandarlampung.

 "Kami melihat di Riau dan Lampung juga memiliki sentra-sentra pembinaan bulu tangkis yang cukup baik. Karena itu demi pemerataan kami memberikan kesempatan kepada Riau dan Lampung," jelas Alan.

 Begitu pula untuk kawasan Jawa Timur, jika tahun lalu dimainkan di Surabaya, kini bergeser sedikit ke Malang. Sementara untuk kota-kota lainnya tetap dipertahankan dengan berbagai pertimbangan.

 Sama seperti penyelenggaraan tahun lalu, Alan pun menargetkan di masing-masing seri akan mampu menyedot rata-rata 500 peserta. Sedangkan untuk di seri terakhir di Jakarta bisa dua kali lipatnya.

  "Kalau di daerah memang masih minim sarana pertandingannya. Jadi kalau dipaksakan lebih dari 500 peserta risikonya pertandingan akan berlangsung hingga tengah malam. Hal ini tentu tidak bagus juga bagi para peserta," ucap Alan .

 Di sisi lain, pada penyelenggaraan tahun ini panitia juga memberikan ketentuan baru yakni para peserta di masing-masing seri hanya boleh bermain sesuai wilayahnya masing-masing. Dengan kata lain, pebulu tangkis yang berdomisili di Sumatera hanya boleh bermain di seri Pekanbaru dan Bandarlampung.

Begitu pula di Balikpapan khusus bagi pemain di wilayah Kalimantan ditambah Bali dan NTB. Di Makassar khusus untuk pemain di wilayah Sulawesi ditambah dari Papua, Ambon, NTT. Begitu pun di seri Malang dan Semarang hanya untuk pemain-pemain di wilayah Jawa. Sementara di seri grand final tidak dibatasi asal daerahnya.

 Tak hanya itu, mulai pergelaran tahun ini pun para peserta yang tampil akan memperoleh poin rangking PBSI. Seperti dijelaskan Kepala Bidang Pemasalan dan Komunitas PBSI Eddy Prayitno, untuk para peserta turnamen seri yang digelar di luar Jakarta akan mendapatkan poin daerah. Sedangkan untuk putaran grand final di Jakarta mendapatkan poin nasional yang nilainya lebih besar.

 "Setiap peserta Daihatsu Astec Open nantinya akan mendapatkan poin yang akan diakumulasi di akhir tahun. Jika mampu masuk di peringkat 8 besar maka mereka berhak diundang untuk mengikuti Master Junior 2017 yang digelar di Surabaya pada Desember mendatang," jelas Eddy Prayitno.

 Sementara Marketing Director PT.Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra dalam kesempatan beberapa waktu lalu juga mengungkapkan kebanggaannya dengan pergelaran Daihatsu Astec Open yang kini sudah memasuki penyelenggaraan tahun kedua.

 "Antara Daihatsu dan Astec memang memiliki visi dan misi yang sama dengan penyelenggaraan event ini. Apalagi, kita sama-sama tahu bahwa bulutangkis adalah olahraga kedua yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia setelah sepakbola," jelas Amelia Tjandra. (*)

Jesica Akhiri dengan Klimaks

KEJUTAN: Jesica Moeljati

  KEJUTAN Jesica Moeljati mencapai klimaks. Pebulu tangkis asal klub Shamrock Medan tersebut keluar sebagai juara tunggal putri dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Seri Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam final yang dilakanakan Sabtu (2/4/2017), Jesica menundukkan Ni Made Pranita (Exist) dengan dua game langsung 21-17, 21-11. Sebenarnya, keduanya bukan diunggulkan untuk bisa naik ke podium terhormat.

 Ini disebabkan turunnya dua ratu sirnas,Hera Desi (Mutiara) dan Febby Angguni (Pertamina).Namun, Jesica dan Ni Made mampu melibasnya.

 Hera dikalahkan Jesica di babak semifinal dengan 14-21, 15-21. Sedang Ni Made mempermalukan Febby di babak perempat final dengan 21-10, 22-20.

 Kejutan lain juga merembet di tunggal putra.Nugroho Andi Saputra mampu menjadi pemenang.
 Pebulu tangkis yang akrab disapan Gepeng dan kini membela klub Halim tersebut menundukkan wakil Djarum Kudus Riyanto Subagja dengan dua game yang mudah 21-13, 21-10. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger