www.smashyes.com

www.smashyes.com

Pelajari Lawan dari Rekaman

Jumat, 23 Juni 2017

Praveen/Debby harapan terakhir Indonesia (foto:PBSI)
LAWAN Praveen Jordan/Debby Susanto di semifinal Australia Open 2017 sudah ada. Mereka adalah pasangan ganda campuran Korea Selatan Kim Dukyoung/Kim Ha-na .

Pertemuan ini adalah yang pertama bagi kedua pasangan.Duo Kim ini merupakan pasangan ganda campuran kombinasi baru .

Sebelumnya, Ha-na berpasangan dengan Ko Sung-hyun dan sempat menduduki peringkat satu dunia. Turnamen Australia Open 2017 merupakan turnamen kedua bagi Kim/Kim. Pekan lalu, Kim/Kim dihentikan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di babak pertama Indonesia Open Super Series Premier 2017 dengan skor ketat, 21-19, 19-21, 18-21.

“Kim/Kim ini pasangan baru, kami sudah sering bertemu Kim Ha Na bersama partner yang berbeda. Tetapi kami belum pernah bertemu Kim Ha Na saat berpasangan dengan Kim Dukyoung. Kami akan mempelajari video pertandingan mereka di Indonesia Open,” kata Debby.

Pemain-pemain Korea, ungkapnya, ulet dan fighting spiritnya bagus. Jadi, dia dan Praveen tidak boleh kalah ulet.

''Kami harus lebih ulet lagi, harus siap capek menghadapi mereka,” tambah Praveen.

Meskipun tak diunggulkan, di babak perempat final Kim/Kim mampu mengalahkan unggulan kedelapan dari Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, dengan skor 21-12, 21-17. (*)

Hanya Sisakan Praveen/Debby

Praveen/Debby masih berjuang meraih gelar
HARAPAN meneruskan tradisi juara di Australia Open masih terjaga. Indonesia mampu menempatkan wakilnya di babak semifinal ganda campuran.

Itu setelah Praveen Jordan/Debby Susanto yang ditempatkan sebagai unggulan ketujuh mengalahkan Chan Peng Soon/Cheah Yee See (Malaysia) dengan dua game langsung, 21-8, 21-17. Game pertama begitu didominasi oleh Praveen/Debby.

Bermain menekan lawan, Praveen/Debby sulit untuk diredam. Chan/Cheah, yang baru saja berpasangan, belum tampil solid. Begitu banyak kesalahan-kesalahan sendiri yang mereka lakukan sehingga poin pasangan Indonesia terus melaju.

Di game kedua, arah angin ternyata membawa pengaruh bagi Praveen/Debby. Beberapa pukulan menjadi tak akurat.

Ini pun dimanfaatkan oleh Chan/Cheah. Berbeda dengan game pertama, di game kedua perolehan skor berlangsung ketat, bahkan Chan/Cheah memimpin 11-10 di interval game kedua.

Skor terus imbang hingga 16-16. Praveen/Debby bermain lebih agresif. Dua kali pukulan tipuan dari Praveen membuat Cheah mati langkah.

“Pada pertandingan ini, kami hanya mencoba untuk main bersih, tidak membuat kesalahan-kesalahan sendiri. Chan/Cheah adalah pasangan baru. Cheah masih kurang berani di lapangan,” ungkap Debby seperti dikutip media PBSI.

“Meskipun kemarin kami menang dua game juga dari lawan, tetapi hari ini lebih enak mainnya. Karena sekarang kami dapat tempo permainannya, mudah-mudahan besok bisa lebih baik lagi,” tambah Praveen. (*)

Masih Belum Bisa Lewati Tunggal Tiongkok

Kamis, 22 Juni 2017

Lin Dan masih susah dikalahkan wakil Indonesia 
TUNGGAL putra Indonesia harus kerja keras. Kelas mereka masih kalah dibandingkan seteru beratnya, Tiongkok.

Buktinya, dua andalan merah putih tumbang di hari yang sama dalam Australia Open 2017. Jonatan Christie harus mengakui keunggulan Lin Dan dan Anthony Sinisuka tak berdaya di tangan Chen Long.

Kali ini Jonatan ditaklukkan Super Dan, julukan Lin Dan,  di babak II dengan skor 14-21,19-21 pada pertandingan yang dilaksanakan Kamis (22/6/2017). Sedangkan Anthony juga kalah straight game 10-21, 13-21.

Meskipun kalah, Jonatan mengaku cukup puas dengan penampilannya, terutama di game kedua. Sempat memimpin 7-1 di awal game kedua, perolehan skor Jonatan perlahan mulai disusul Lin Dan. Saat kedudukan imbang 18-18, Jonatan melakukan kesalahan beruntun hingga akhirnya Lin Dan merebut tiket perempat final.

“Di game kedua, saya cukup puas dengan penampilan saya. Lin Dan kelihatan benar-benar mengejar shuttlecock. Sayangnya saya melakukan kesalahan di akhir game kedua. Saat itu senar raket saya bergeser, jadi tensinya berubah, ini mempengaruhi arah pukulan saya,” beber Jonatan seperti dikutip media PBSI.

Jonatan juga telah mempelajari pertandingan Lin Dan di babak sebelumnya kala ia melawan Lee Dong-keun (Korea). Namun permainan Lin Dan ternyata berbeda saat bertemu Jonatan, sehingga Jonatan perlu beradaptasi dengan pola yang diterapkan Lin Dan di game pertama.

“Tiap pemain pasti begitu, kadang di video dan di lapangan berbeda mainnya. Ya pokoknya kalau ketemu lagi harus dicoba terus sampai bisa (menang). Dilatih lagi teknik dan mentalnya. Saya juga harus lebih yakin di setiap pukulan, jangan ragu-ragu,” tuturnya.

Dengan kekalahan Jonatan dan Anthony, maka Indonesia hanya mengirim satu wakil ke laga perempat final Australia Open Super Series 2017 lewat pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto.

Pasangan ganda putra ‘gado-gado’ Hendra Setiawan/Tan Boon Heong (Malaysia), juga lolos ke perempat final setelah menang atas Lee Yang/Lee Jhe-Huei (Taiwan), dengan skor 21-17, 21-11.
(*)

Srikant Lampaui Dua Legenda India

Senin, 19 Juni 2017

KIDAMBI Srikanth dapat apresiasi. Asosiasi Bulu Tangkis India bakal menggyurnya dengan bonus.

Ini setelah Srikanth mampu menjadi juara nomor tunggal putra dalam ajang Indonesia Open Super Series Premier 2017. Dia menjadi pebulu tangkis India yang berhasil menjadi juara di Indonesia Open.Srikant mampu melebihi para legenda negeri tersebut seperti Prakash Padukono dan Gopichand.

Dalam final Indonesia Open Super Series Premier 2017 di JCC Jakarta pada Minggu (18/6/2017), Srikanth menang dua game langsung 21-11, 21-19 atas Kazumasa Sakai dari Jepang dengan 21-11, 21-19.

Presiden BAI  Himanta Biswa Sarma merayakan kemenangan atletnya yang masih berusia 23 tahun itu. Menurutnya, Srikant mampu menjadi kebanggaan bagi negaranya.

''Saya memanggilnya usai pertandingan dan mengucapkan selama atas kemenangannya,'' ujar Himanta.

Sebenarnya, pada 2017 ini, Srikanth mengawali dengan keraguan. Dia berkutat dengan cedera.

''Tapi, dia menunjukkan kebangkitan usai mengalahkan pebulu tangkis nomor satu dunia  Son Wan-ho di semifinal dan mendominasi di pertandingan final,'' ujar Himanta.

Tunggal putra India menjadi sorotan di Indonesia Open Super Series Premier 2017.  Rekan Srikanth,  HS Prannoy,  mampu  memulangkan dua kandidat juara yakni Lee Chong Wei dari Malaysia dan Chen Long (Tiongkok). (*)

Kutukan Itu Akhirnya Berakhir

PERJUANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir membuahkan hasil. Keduanya mampu menjadi juara di kandang sendiri dalam Indonesia Open Super Series Premier 2017.

Sebelumnta, Tontowi/Liliyana harus menanti selama tujuh tahun. Ini sekaligus melengkapi koleksi gelar bagi keduanya menjadi komplet.
 Semua ajang bergengsi di muka bumi sudah mampu disabet. Mulai dari All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade.

“Terbukti Istora itu yang angker buat kami. Kalau JCC ternyata tidak. Saya bersyukur dengan keterbatasan saya, lutut saya belum seratus persen pulih, saya masih bisa,” kata Liliyana usai pertandingan.

 Lawan mereka di babak final, Zheng Siwei/Chen Qingchen dari Tiongkok yang ditempatkan sebagai unggulan teratas dikalahkan dua game langsung  22-20, 21-15 di JCC Jakarta pada Minggu (18/6/2017).

''Ini tidak mudah, mereka adalah pasangan muda yang sedang on fire dan andalan Tiongkok. Kami pernah satu kali bertemu dan kalah, '' ucap Liliyana.

Mereka, lanjutnya, banyak mempelajari video pertandingan lawan. Apalagi, di final, dia bersama Tontowi bisa menerapkan permainan yang benar.

''Karena poin ketat tetapi kami bisa bermain fokus,” jelas Liliyana.

Raihan gelar ini sekaligus mengakhiri ‘kutukan’ gelar di Indonesia Open. Sejak pertama kali berpartisipasi di Indonesia Open tahun 2011, Tontowi/Liliyana belum pernah menaklukkan ketatnya persaingan di kejuaraan ini. Keduanya tercatat pernah masuk final pada tahun 2011, namun kala itu mereka dikalahkan Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok).

Setahun kemudian, Tontowi/Liliyana kembali mencoba peruntungan di laga final. Namun mereka masih belum beruntung dan dihentikan oleh pasangan ganda campuran terbaik Thailand, Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam.

Sempat diragukan karena cedera lutut yang diderita Liliyana pada akhir tahun lalu, penampilan pasangan ini begitu luar biasa di laga final. Kedua pasangan selalu berkejaran angka hingga saat-saat kritis. Satu sambaran bola tanggung oleh Liliyana memastikan pasangan ini mempersembahkan gelar untuk Indonesia.

Hasil Final:

Ganda Putri: Chen Qingchen/Jia Yifan (Tiongkok x5) v Chang Ye-na/Lee So-hee (Korsel x3) 21-19, 15-21, 21-10

Tunggal Putra: Kidambi Srikanth (India) v Kazumasa Sakai (Jepang) 21-11, 21-19

Tunggal Putri: Sayaka Sato (Jepang) v Sung Ji-hyun (Korsel x5) 21-13, 17-21, 21-14

Ganda Putra: Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok x3) v Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark x2) 21-19, 19-21, 21-18

Ganda Campuran: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia x6) v Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok x1) 22-20, 21-15

Kini hanya Fokus Kejar Prestasi

Minggu, 18 Juni 2017

LIMA tahun berada di Singapura sudah cukup bagi seorang Aldo Oktaviano. Kini, fokusnya adalah mengejar karir. Sakura Badminton Management menjadi jalan baginya untuk meraih impiannya itu.

''Sejak SMP saya di Singapura. Saya di sana melatih private dan juga membela bendera sana,'' kata Aldo yang berasal dari Tuban, Jawa Timur, tersebut.

Di Negeri Singa, julukan Singapura, konsentrasi lelaki 17 tahun tersebut memang terbagi.Selain bermain bulu tangkis, Aldo juga sekolah. Sehingga tak banyak ajang yang diikuti.

''Karena saya harus menangani private juga. Jadi gak bisa ke mana-mana dengan bebas,'' ungkap Aldo.

Kini, setelah lulus, lelaki yang dipanggil Tago karena mirip dengan pebulu tangkis Jepang Kenichi Tago tersebut ingin mengembangkan karir bulu tangkisnya.

 ''Semoga di Sakura prestasi saya bisa lebih baik,'' harap Aldo.

Di situs BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), namanya ada. Hanya, Aldo tak punya ranking dan tak ada nama turnamen yang diikuti.

''Kami ingin menjadikan Aldo pebulu tangkis dengan prestasi dunia. Namun, semuanya tergantung dari prestasi yang diraihnya,'' tegas Direktur Sakura Badminton Management Ade Dharma. (*)

Tinggalkan Singapura demi Sakura

SAKURA Badminton punya daya pikat tinggi. Pebulu tangkis Indonesia yang tengah bergabung dengan klub Singapura, Aldo Oktaviano, pun sampai datang untuk mengikuti seleksi.

''Kami masih melihat kemampuannya. Jadi, belum diputuskan bisa bergabung atau tidak dengan Sakura,'' ujar Direktur Sakura Badminton Management Ade Dharma.

 Hanya, dia mengakui kemampuan atlet 17 tahun tersebut di atas rata-rata. Namun, Ade melihat masih ada sisi kelemahan dari Aldo.

''Pertimbangan itu pula yang membuat saya bisa langsung memutuskan segara status Aldo. Dia harus membenahi itu kalau ingin bergabung dengan Sakura,'' ujar Ade.

Rencananya, nanti akan turun di kelompok taruna atau U-19. Hanya, lanjut lelaki yang juga menantu mantan pesepak bola termahal Indonesia Parlian Siagian tersebut, kelompok tersebut hanya jadi transisi bagi Aldo.

 ''Dia nantinya bermain di kelompok senior. Aldo harus bisa menembus  kelompok elite dunia,'' tegas Ade.

Di kelompok dengan Aldo juga nama Nur Yahya Velanie. Pebulu tangkis ini menunjukkan kualitasnya. Saat ini, Yahya, panggilan merupkan tunggal taruna nomor satu Indonesia. (*)

Bukan karena Terlalu Percaya Diri

Rabu, 14 Juni 2017

KEKALAHAN Marcus ''Sinyo'' Fernaldi/Kevin Sanjaya termasuk kejutan besar. Sebagai unggulan teratas, keduanya diharapkan mampu menjadi penyelamat muka tuan rumah.

Lalu mengapa bisa kalah? Sinyo/Kevin mengakui bahwa mereka tidak dalam kondisi seratus persen fit. Kevin tengah menderita cedera bahu sejak Rabu pekan lalu. Otot bahunya sobek dan hingga saat ini ia masih dalam tahap pengobatan oleh tim dokter PBSI.

Keduanya memang terlihat underperformed di pertandingan, Kevin tak selihai biasanya di depan net, ia juga sangat berhati-hati melayangkan smash di area belakang lapangan. Sementara Marcus terlihat kesulitan mengcover lapangan, smash nya juga kurang akurat.

“Saya pribadi memang agak hati-hati mainnya, sebelumnya saya pernah bilang kalau saya ada masalah, saya mengalami cedera bahu, ada otot yang sobek sedikit,” ungkap Kevin seperti dikutip media PBSI.

“Soal beban sebagai tumpuan sih nggak ada, sepanjang permainan saya memang hati-hati di bola-bola belakang, tiap smash saya merasa sakit di bahu, tetapi ini tidak bisa dijadikan alasan kekalahan kami,” ujar Kevin.

Dokter, ujarnya, tidak memberi estimasi kapan cederanya bisa sembuh. Sekarang, dia hanya disuruh maintain dan minum obat.

''Soal partisipasi di Australia Open minggu depan, masih kami diskusikan dengan pelatih,” tambahnya.

Sementara itu, Sinyo merasa tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam laga hari ini. Ketika disinggung soal overconfidence, dia menampiknya dan mengatakan mereka tak berpikir seratus persen bisa memenangkan pertandingan, apalagi lawan yang dihadapi adalah pasangan yang cukup bagus.

“Saya mainnya lagi nggak enak hari ini, memang ada kendala di angin, tetapi ini tidak bisa dijadikan alasan, karena lawan juga merasakan hal yang sama. Bermain di lapangan berangin, sebaiknya tidak boleh banyak mengangkat bola dan menyerang terus,” kata Sinyo. (*)

Momok Itu Selalu dari Denmark

KEJUTAN besar terjadi di ganda putra dalam Indonesia Open Super Series Premier 2017. Unggulan teraras Marcus ''Sinyo'' Fernaldi/Kevin Sanjaya langsung tersingkir di babak pertama dalam turnamen berhadiah total USD 1 juta tersebut.

Andalan tuan rumah tersebut dipermalukan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen (Denmark), dengan straight game 16-21, 16-21 di Jakarta pada Rabu (14/6/2017). Kekalahan ini mempertegas bahwa Sinyo/Kevin kesulitan menghadapi ganda dari Negeri Dongeng, julukan Denmark.

 Sebelumnya, mereka kalah dua kali beruntun dari pasangan gaek Mathias Boe/Carsten Mogensen. Yakni di Singapore Open 2017 dan Sudirman Cup 2017.

 Padahal, sebelumnya, Sinyo/Kevin tak terkalahkan selama 2017. Ini membuat pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut memperoleh tiga gelar bergengsi yakni All England, India Open, dan Malaysia Open.

 Hampir semua pasangan tangguh dunia disikat. Bahkan, saat bertemu di final Singapore Open, Sinyo/Kevin diunggulkan bisa meraih gelar keempatnya di 2017.

 Mathias Boe/Carsten Mogensen sudah dianggap lambat dan tak akan bisa mengatasi pasangan yang melejit di ranking teratas dunia tersebut. Ternyata, di lapangan hasilnya lain. Bahkan, Boe/Mogensen bisa mengalahkan Sinyo/Kevin dua kali beruntun. (*)

Menanti Amukan Tzu Ying

Selasa, 13 Juni 2017

BUKAN Lin Dan dari Tiongkok, juga bukan Lee Chong Wei dari Malaysia. Di antara peserta Indonesia Open Super Series Premier 2017, ada yang belum pernah merasakan pahitnya kekalahan.

Siapa? Dia adalah Tai Tzu Ying. Selama 2017 ini, pebulu tangkis tunggal putri asal Taiwan tersebut belum pernah sekali pun menelan kekalahan.

Dengan itu, dipun diganjar dengan empat gelar.  Tzu Ying naik podium juara di All England Super Series Premier, Malaysia Super Series Premier, Singapore Open Super Series, dan Kejuaraan Asia.

Kini, gadis 23 tahun menginjar titel di ajang super series lainnya, Indonesia Open. Jika bisa menjaga penampilan, hal tersebut bukal hal yang mudah bagi Tzu Ying.

Tanda-tandanya pun sudah terlihat. Di babak pertama  event berhadiah total USD 1 juta tersebut, Tzu Ying tak mengalami kesulitan mengalahkan Minatsu Mitani dari Jepang dengan 21-8, 21-12.

Di babak II, dia bakal tak mengalami kesulitan berarti. Tzu Ying berjumpa dengan wakil Indonesia yang lolos dari babak kualifikasi Gregoria Mariska, yang di babak I unggul 17-21, 21-19, 21-19 atas Chen Yufei dari Tiongkok. (*)


Praveen/Debby Langsung Tersingkir

DATANG dengan optimistme tinggi, Praveen Jordan/Debby Susanto harus menelan malu di Indonesia Open Super Series Premier 2017. Pasangan yang diunggulkan di posisi ketujuh  langsung tersingkir di babak I.

Secara mengejutkan Praveen/Debby menyerah kepada pasangan Denmark Mathias Christiansen/Sara Thygesen dengan tiga game 21-15, 19-21, 11-21. Ini menjadi pertemuan perdana bagi kedua pasangan.

 Sebenarnya di Indonesia Open 2017 ini, harapan tinggi diberikan kepada Praveen/Debby. Apalagi, keduanya tampil menjanjikan di Piala Sudirman 2017 lalu di Australia.

 Sayang, di atas lapangan, hasilnya berbeda. Sempat unggul mudah di game pertama, juara All England 2016 itu melempem di dua game berikutnya.

 Untung, kekalahan ini merembet ke pasangan ganda campuran andalan Indonesia lainnya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka mampu melewati hadangan di babak I.

 Unggulan keenam itu menghentikan perlawanan sengit Kim Dukyoung/Kim Ha-na dengan rubber game 19-21, 21-19, 21-18. Di babak kedua, mereka akan dijajal sesama pasangan Indonesia Hafiz Faizal/Shela Devi Aulia, yang di babak I menang 21-14, 21-16 atas Wang Chi-lin/Lee Chia Hsin dari Taiwan.

 Bagi Tontowi/LIliyana, Indonesia Open merupakan turnamen yang belum pernah mereka juarai. Meski sebelumnya, keduanya sudah meraih  semua event bergengsi mulai All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade. (*)

Sinyo/Kevin Bisa Jadi Jawaban

Minggu, 11 Juni 2017

Kevin (kiri) dan Sinyo (foto:PBSI)
DALAM empat tahun terakhir Indonesia gagal berjaya di Indonesia Open. Kali terakhir, Simon Santoso wakil Indonesia yang bisa naik ke podium juara di nomor tunggal putra.

Harapannya, tahun ini, bendera Merah Putih bisa berkibar di hari terakhir. Nah, salah satu yang jadi tumpuan adalah nomor ganda putra. Pasangan yang punya kans mengakhiri paceklik juara tuan rumah adalah  Marcus '"Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Keduanya sudah punya modal berharga. Sinyo/Kevin meraih gelar hat-trick di awal 2017 dengan menjadi juara All England, India Open Super Series, serta Malaysia Open Super Series Premier.

Tiga gelar beruntun ini pula yang membawa Marcus/Kevin merajai daftar peringkat dunia. Di Indonesia Open 2017 yang masuk kategori super series premier, mereka menjadi unggulan pertama. Namun, target juara yang ditetapkan PBSI tampaknya tak mau dijadikan beban bagi pasangan ini, keduanya memilih fokus untuk menghadapi satu demi satu lawan sejak babak pertama.

“Tidak terlalu dipikirin (target), malah bangga bisa menjadi tumpuan PBSI. Kami siap untuk melakukan yang terbaik di Indonesia Open,” kata Marcus dalam konferensi pers yang berlangsung siang ini di Hotel Sultan, Jakarta, pada Minggu (11/6/2017).

Di laga perdana, Marcus/Kevin akan berhadapan dengan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen (Denmark). Jika lolos, keduanya kemungkinan akan bertemu dengan wakil Tiongkok, Liu Cheng/Zhang Nan. Marcus/Kevin juga berpeluang untuk jumpa musuh bebuyutan mereka, Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok) di babak semifinal.

“Semua lawan itu berat, mau lawan siapa saja, semua peluangnya 50-50, kami pernah menang-kalah menghadapi lawan-lawan di kejuaraan ini. Siapa yang lebih siap, dia yang akan menang,” jelas Kevin. (*)

Sudah Ancang-Ancang Kirim Atlet

Pengurus PBSI Surabaya dan anggota PB Sakura 
PENGESAHAN dari PBSI Kota Surabaya belum turun. Tapi, PB Sakura sudah serius mempersiapkan para pebulu tangkisnya.

''Ada beberapa anggota kami yang akan berangkat ke Malang Juli nanti. Mereka akan tampil di Astec Cup,'' ungkap Manajer PB Sakura Ade Dharma pada Sabtu malam (10/6/2017).

Salah satu yang dipersiapkan adalah David. Bocah 12 tahun ini akan tampil dalam kategori anak.

''Sekalian dia cari pengalaman. Jadi, kami berharap pengesahan tersebut bisa segera dikeluarkan, sehingga bisa buat pendaftaran,'' ujar Ade.

Dia ingin ke depannya, Sakura selalu bisa mengirimkan atletnya ke berbagai turnamen. Itu, lanjut Ade, bukan hanya di dalam negeri tapi luar negeri.

''Sementara memang atlet dari klub lain dulu tapi masih di bawah Sakura Sport Management. Nanti-nantinya akan ada atlet dari PB Sakura ,'' ujar lelaki yang juga menantu mantan pesepak bola termahal di Indonesia Parlin Siagian tersebut.(*)

Sakura Ingin Berkonstribusi Nyata

Ketua PBSI Surabaya Bayu Wira (tengah) di PB Sakura
KLUB bulu tangkis di Surabaya, Jawa Timur, bakal bertambah. Ini setelah PB Sakura mendapat kunjungan dari pengurus PBSI Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

''Kunjungan ini untuk melihat bagaimana kesiapan Sakura untuk bisa kami terima,'' kata Ketua Pengkot PBSI Surabaya yang memimpin kunjungan tersebut.

Selain Bayu, pengurus teras PBSI Surabaya yang adalah Nanang Hidayat, Subandi, dan I Wayan Parna Setiawan. Bayu menambahkan, dia mengaku sangat senang dengan rencana bergabung dalam organisasi yang dipimpinnya tersebut.

''Kami selalu mendukung jika ada klub baru. Ini membuktikan bahwa bulu tangkis tetap bisa berkembang,'' lanjutnya.

Dia berharap Sakura bisa memberikan konstribusi dalam kemajuan bulu tangkis, khususnya di Surabata dan Jatim serta nasional pada umumnya. 

Sejalan dengan Bayu, Ade Dharma, manajer PB Sakura, mengakui senang dengan kedatangan pengurus PBSI Surabaya. Dia berharap pengakuan klubnya bisa memberikan dampak positif.

''Saya ingin PB Sakura bisa menyumbangkan atletnya ke Surabaya dan juga nasional. Tujuan panjang kami adalah ada atlet Sakura yang bisa mengangkat nama Indonesia,'' ungkap lelaki yang juga Direktur Sakura Sport Management tersebut.

Hadirnya Sakura ini membuat Surabaya akan mempunyai 27 klub. (*)

Misbun Kembali Tangani Malaysia

Jumat, 09 Juni 2017

MASA LALU: Misbun memeluk Lee Chong Wei 
PERGANTIAN komposisi pelatih terjadi di Malaysia. Asosiasi bulu tangkis negeri tersebut menunjuk Misbun Sidek sebagai pelatih kepala tunggal putra.

Lelaki 57 tahun itu menggantikan Tey Seu Bock yang beralih menangani tunggal putri. Dalam menjalanlan tugasnya, Misbun akan dibantu oleh dua pelatih asal Indonesia Hendrawan dan Indra Wijaya. Satu lagi asistennya adalah dari Malaysia Sairol Amar Ayob.

Meski melakukan perubahan, namun posisi direktur pelatih tak berganti. Jabatan tersebut dipegang oleh pria asal Denmark Morten Frost-Hansen.

Presiden BAM Datuk Seri Norza Zakaria mengatakan Misbun akan memulai kerja pada awal Juli mendatang. Masuknya lelaki tertua dari keluarga bulu tangkis Sidek tersebut menjadi reuni dirinya dengan Lee Chong Wei.  Dia merupakan pelatih yang kali pertama mengorbitkan Chong Wei.

Misbun merupakan legenda bulu tangkis dunia asal Malaysia. Di masa jayanya di era 1980-an, Misbun sering mengharumkan nama Malaysia. (*)

Susunan Pelatih BAM
Tunggal Putra: Misbun Sidek
Asisten:  Hendrawan, Indra Wijaya, Sairol Amar Ayob.
Tunggal Putri: Tey Seu Bock
Ganda Putra: Cheah Soon Kit
Ganda Putri: Wong Pei Tty
Ganda Campuran: Chin Eei Hui

Mengejar Gelar yang Tak Pernah Digapai

Tontowi/Liliyana di All England 2017
SEGUDANG prestasi sudah diukir pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. All England, Kejuaraan Dunia, bahkan Olimpiade mampu dimenangi.

Belum lagi turnamen-turnamen perorangan lain. Namun, ada satu turnamen yang selalu gagal diraih Tontowi/Liliyana.

Ironisnya, turnamen tersebut justru di kandang sendiri, Indonesia Open. Sejak dipasangkan pada 2011, Tontowi/Liliyana tidak pernah naik ke podium terhormat.

Padahal, keduanya pernah dua kali mampu menembus babak final. Tapi, keduanya berujung dengan kekalahan.

Hasil terburuk ditelan tahun lalu. Datang sebagai unggulan kedua, Tontowi/Liliyana menyerah dua  game 19-21, 17-21 dari  Kim Astrup/Line Kjaersfeldt.

Pada 2017 ini, jalan menuju prestasi tak kalah berat. Kondisi Liliyana belum pulih dari cedera yang membekap.

Selama tahun ini, Tontowi/Liliyana meraih hasil mengecewakan. Peraih emas Olimpiade Rio 2016 itu belum pernah juara.

Di babak I Indonesia Open Super Series Premier 2017, Tontowi/Liliyana, yang diunggulkan di posisi keenam, ditantang Kim Dukyoung/Kim Ha-na asal Korea Selatan. Jika masih belum fit, tak menutup kemungkinan, mereka langsung angkat koper. (*)

Perjalanan Tontowi/Liliyana di Indonesia Open
2011: Final: Zhang Nan/ Zhou Yunlei (Tiongkok)         22-20,14-21,9-21
2012: Final: Sudket Prapakamol/Saralee T. (Thailand)     17-21, 21-17, 13-21
2013: Semifinal: JoachimNielsen/Pedersen (Denmark)     15-21, 14-21
2014: Semifinal: Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok)                21-18, 12-21,15-21
2015: Semifinal: Zhang Nan/ Zhou Yunlei (Tiongkok)     21-16,15-21, 18-21
2016: Babak II: Kim Astrup/Line Kjaersfeldt (Denmark)      19-21, 17-21

Dugaan Korupsi di Peru, Wapres BWF Mundur

Rabu, 07 Juni 2017

Gustavo Salazar dari Peru (foto: BWF)
BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) kehilangan pengurus teras. Wakil Presiden
Gustavo Salazar asal Peru mengundurkan diri.

Lelaki 52 tahun tersebut di negerinya diduga terlibat dalam skandal besar korupsi dan pencucian uang dalam bidang konstruksi. Delgado merupakan 19 kali juara tunggal dan ganda di Peru.

Dia bergabung di BWF sejak 2007. Dia kalah dalam pemilihan presiden BWF dari Poul Erik Hoyer pada 2013. Delgado juga baru saja terpilih sebagai wakil presiden dalam pertemuan di Gold Coast, Australia, bulan lalu.

''Dalam komunikasinya dengan BWF, Salazar mundur karena tak mau reputasi BWF rusak selama proses  kasusnya,'' kata BWF dalam pernyataan yang dikeluarkan di Kuala Lumpur, Malaysia, seperti dikutip media lokal.(*)

Berharap Tuah dari Pasangan Baru

PEDE: Greysia Polii/Apriani Rahayu
PASANGAN Greysia Polii/Apriani Rahayu tengah jadi buah bibir. Keduanya mampu mengharumkan nama Indonesia dalam Thailand Masters 2017.

Greysia/Apriani mampu menjadi juara di nomor ganda putri. Padahal, ajang berhadiah USD 120 ribu tersebut merupakan debut keduanya di ajang perorangan.

Atau penampilan resmi pasangan binaan Pelatnas Cipayung tersebut di pentas internasional. Sebelumnya, Greysia/Apriani tampil di Piala Sudirman 2017 yang dilaksanakan di Gold Coast Australia.

Terdekar, tantangan berat sudah di depan mata. Greysia/Apriani tampil di kandang sendiri, dalam Indonesia Open Super Series Premier 2017. Di event berhadiah total USD 1 juta tersebut, mereka langsung berlaga di babak utama.

Dalam penampilan perdananya, Greysia/Apriani akan menjajal ketangguhan ganda Korea Selatan Chae Yoo-jung/Kim So-yeong.Di babak utama nomor ganda putri, Greysia/Apriani ditemani oleh Keshya Nurvita/Devi Tika, Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri, Tiara Rosalia/Rizki Amelia Pradipta, dan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi.

Ganda putri Indonesia yang kali terakhir menjadi juara di Indonesia Open adalah Liliyana Natsir/Vita Marissa. Artinya, sudah sembilan tahun, tuan rumah kering prestasi di nomor ini. (*)

Bayangan Tumbang di Babak Kualifikasi

Sony Dwi Kuncoro di Malaysia Masters 2017
INDONESIA  Open bukan ajang yang asing bagi Sony Dwi Kuncoro. Bahkan, event tersebut pernah dimenanginya pada 2008 di nomor tunggal putra.

Namun, seiring perjalanan waktu dan usia yang terus bertambah, jalan untuk mengulangi capaian itu semakin terjal. Bahkan, untuk bisa berlaga di salah satu turnamen bergengsi di dunia tersebut, pebulu tangkis yang sudah menginjak usia 33 tahun tersebut harus melalui babak kualifikasi.

Ini dikarenakan ranking dunia yang dimiliki Sony belum bisa untuk langsung mendapat tiket ke babak utama. Saat ini, posisi babak dua putri ini ada di 33 dunia.

Di kualifikasi yang dilaksanakan 12 Juni 2017, Sony bersua dengan wakil Jepang Kazumasa Sakai.  Secara ranking, mantan penghuni Pelatnas Cipayung itu masih unggul. Sakai ada di posisi 48 dunia.

Hanya, penampilan yang sering labil bisa membuat Sony pulang lebih awal. Apalagi, catatan hasilnya selama 2017 cukup mengecewakan.

Dari semua ajang yang diikuti, Sony selalu kalah di babak awal. Ironisnya,hampir semua di babak I.

Selain Sony, di babak kualifikasi, Indonesia juga diwakili Ihsan Maulana Mustofa. Dia akan berjumpa dengan Wei Nan dari Hongkong. Jika sama-sama menang, Ihsan dan Sony akan saling berjumpa untuk bisa menembus babak utama. (*)

Lumayan, Bisa Dapat Dua Gelar

Minggu, 04 Juni 2017

HARAPAN membawa pulang tiga gelar dari Thailand Masters 2017 melayang. Jonatan Christie yang digadang-gadang bisa menjadi juara harus menyerah dari lawannya.

Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Bangkok pada Minggu waktu setempat (4/6/2017), dia menyerah tiga game 21-17, 18-21, 19-21 kepada Sai Praneeth dari India. Kekalahan ini membuat wakil merah putih hanya naik podium di nomor ganda putra dan ganda putri.

Di ganda putra, Berry Anggriawan/Hardianto menang dua game langsung 21-16, 21-16 atas Germany Raphael Beck/Peter Kaesbauer. Ini menjadi gelar kedua bagi pasangan yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut.

Sebelumnya, Berry/Hardianto naik podium terhormat di Malaysia Masters 2017. Pasangan ini baru 2017 dipasangkan bersama.

Sedangkan di nomor ganda putri, hasil yang diraih Greysia Polii/Apriani Rahayu cukup mengejutkan.Sebab, Thailand Masters 2017 merupakan turnamen yang kali pertama diikuti.

Mereka baru sekali dipasangkan yakni di Piala Sudirman 2017. Ketika itu, keduanya tampil cukup impresif. (*)

Peluang Akhiri Dahaga Empat Tahun

SEBENARNYA, pundak harapan Indonesia bisa kembali banyak berbicara di tunggal putra ada di Jonatan Christie.Dengan postur ideal dan teknik lumayan komplet, dia pun digadang-gadang menjadi penerus terbaik Taufik Hidayat.

Sempat memberikan harapan, tapi Jonatan kadang tampil jauh di bawah perform terbaik. Seperti di Piala Sudirman 2017 lalu. Dipercaya turun, atlet yang pernah bermain di layar lebar dalam film King tersebut gagal menyumbang angka.

 Kekalahan Jonatan menjadi andil besar bagi kegagalan merah putih menembus babak kedua. Aib besar dalam ajang yang memakai nama tokoh bulu tangkis dunia asal Indonesia tersebut.

Sebagai ganti, Jonatan pun diharapkan bersinar di Thailand Masters yang dilaksanakan berdekatan dengan Piala Sudirman 2017. Dalam ajang berhadiah USD 120 ribu tersebut, atlet yang digembleng di Pelatnas Cipayung itu diunggulkan di posisi keempat.

Ternyata, langkah Jonatan lebih jauh. Dia mampu menembus final di event yang dilaksanakan di Bangkok itu.

Di semifinal pada Sabtu waktu setempat, Jonatan menundukkan wakil Malaysia Joo Ven Soong dengan dua game 21-9, 21-18. Di babak final, dia bersua dengan unggulan ketiga asal India Sai Praneeth.

Sejak 2013 atau empat tahun lalu, Jonatan belum pernah lagi juara. Dia naik ke podium juara dalam Indonesia Challenge di Surabaya, Jawa Timur. (*)

Ada Tiga Wakil di Final Thailand Masters

INDONESIA menempatkan tiga wakil di babak final Thailand Masters 2017. Ketiganya di nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda putri.

Di tunggal putra, Jonatan Christie mampu mengatasi perlawanan wakil Malaysia Joo Ven Soong dengan straight game 21-9,21-18 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Bangkok pada Sabtu waktu setempat (2/6/2017). Ini merupakan pertemuan pertama bagi Jonatan dengan pebulu tangkis negeri jiran tersebut.

Di babak final, tunggal terbaik kedua di Pelatnas Cipayung tersebut akan berjumpa dengan Sai Praneeth. Di semifinal, tunggal India itu melibas wakil tuan rumah Pannawit Thongnuam dengan 21-11, 21-15.

Di ganda putra,Berry Anggriawan/Hardianto, yang diunggulkan di posisi kelima, menundukkan unggulan keempat Marcus Ellis/Chris Langridge dari Inggris dengan 22-20, 19-21, 21-9. Di babak pemungkas, wakil merah putih tersebut bersua dengan Raphael Beck/Peter Kaesbauer yang menghentikan ambisi rekan senegaranya, Mark Lamsfuss/Marvin Emil,dengan 21-18, 14-21, 21-19/

Satu wakil lagi adalah pasangan anyar Greysia Polii/Apriani Rahayu di ganda putri. Tiket final turnamen berhadiah total USD 120 ribu tersebut diraih usai menjungkalkan andalan Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, Savitree Amitrapai/Pacharapun C., dengan 24-26, 21-16, 21-13.

Pasangan yang kali pertama mengikuti turnamen itu dijajal pasangan tuan rumah lainnya, Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong, yang di semifinal mempermalukan Du Yue/Xu Ya dari Tiongkok dengan 21-19, 21-9. (*)

Pertama, Langsung Masuk Semifinal

Jumat, 02 Juni 2017

PENAMPILAN impresif Greysia Polii/Apriani Rahayu berlanjut. Setelah pamer aksi di Piala Sudirman 2017, kini keduanya diberi kesempatan tampil di Thailand Masters 2017.

Ternyata, kepercayaan itu mampu dijawab. Langkah Greysia/Apriani sudah sampai semifinal.

Itu setelah mereka mengalahkan Setyana Mapasa/Gronya Somervile dari Australia dengan dua game langsung 22-20, 21-11 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Bangkok pada Jumat waktu setempat (2/6/2017). Pasangan Negeri Kanguru, julukan Australia, tersebut menduduki unggulan keempat.

Untuk bisa menembus babak final bukan hal yang mudah. Greysia/Apriani harus bisa mengalahkan pasangan Thailand Savitree Amitrapai/Pacharapun Chochuwong.

 Sebelumnya, Greysia dipasangkan dengan Nitya Krishinda. Mereka mampu menjadi pasangan yang disegani. Medali emas Asian Games 2016 pun mampu diraih.

Sayang, setelah itu, Nitya mengalami cedera. Greysia dipasangkan dengan Rizky Amelia Pradipta.

Namun, pasangan ini gagal berbicara banyak. Hingga akhirnya, PBSI memasangkan dia dengan Apriani. (*)


BAM Akan Panggil Peraih Perak Rio 2016

Kamis, 01 Juni 2017

SOROTAN: Goh V Shem/Tan Wee Kiong
PASANGAN Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong pernah menjadi perbincangan hangat. Ini ketika mereka mampu menjadi nomor satu di ganda putra.

Sayang, prestasi tersebut gagal dipertahankan. Sebaliknya, ranking Shem/Kiong terus menurun. Kini, mereka malah berada di posisi keenam.

Penampilan Shen/Kiong dinilai belum kembali ke puncak. Imbasnya, mereka dinilai sebagai salah satu kegagalan Malaysia juara di Piala Sudirman 2017 di Gold Coast, Australia, pekan lalu.

Jangankan menembus final, negeri jiran hanya mampu sampai ke babak kedua. Lee Chong Wei dkk dijegal Jepang dengan skor 1-3.

Satu-satunya angka disumbangkan Chong Wei di nomor tungal putra. Shem/Kiong yang diharapkan mengikuti jejak Chong Wei tampil buruk.Pasangan peraih medali perak Olimpiade Rio 2016 itu kalah oleh lawan yang seharusnya levelnya di bawah mereka, 5 Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.

Kondisi ini membuat Presiden BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) Datuk Seri Norza Zakaria memanggil mereka untuk ditinjau usai Kejuaraan Dunia di Glasgow, Skotlandia, pada Agustus mendatang.

''Itu benar mereka tidak bermain bagus di Piala Sudirman. Mereka juga berjuang dengan konsistensi,'' kata Pelatih Ganda Putra Malaysia Jeremy Gan.

Menurutnya, banyak alasan yang membuat anak asuhnya menurun. Shem misalnya. Dia disibukan dengan rencana pernikahan.

''Sedang Kiong berjuang dengan cedera lutut kanan. Lututnya membengkak ketika dipaksa latihan keras,'' ungkap Jeremy.(*)

Langkah Terjauh Ronald/Annisa

Ronald/Annisa di Singapore Open 2017
PENAMPILAN Ronald/Annisa Saufika pada 2017 cukup mengecewakan. Pasangan ganda campuran binaan Pelatnas Cipayung tersebut lebih banyak tumbang di babak I dalam setiap turnamen yang diikuti.

Tercatat, hanya di Thailand Masters 2017 dan Malaysia Masters 2017, Ronald/Annisa bisa bertahan hingga babak II. Selebihnya, di All England, Swiss Open, Kejuaraan Asia, dan Singapore Open, mereka langsung angkat koper sejak babak I.

 Namun, kini, di Thailand Open 2017, langkah Ronald/Annisa bisa lumayan jauh. Keduanya mampu bertahan di babak perempat final.

 Bahkan, tak menutup kemungkinan, tiket semifinal bisa diraih. Meski, pasangan yang kini duduk di posisi 24 dunia tersebut harus menantang unggulan kedua asal Singapura Yong Kai Terry/Tan Wei Han.

 Di nomor ganda campuran, Ronald/Annisa menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan di ganda campuran. Beberapa rekannya sudah tersingkir.

 Bisa jadi, Thailand menjadi negara yang bersahabat bagi Ronald/Annisa. Mereka adalah pasangan pelapis bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger