www.smashyes.com

www.smashyes.com

Bisa Rasakan Lagi Podium Terhormat

Minggu, 24 September 2017

KEGAGALAN Marcus 'Sinyo' Fernaldi/Kevin Sanjaya menjadi juara berakhir. Keduanya pun bisa kembali merasakan naik ke podium terhormat.

Itu dilakukan Sinyo/Kevin di Japan Open 2017. Dalam final yang dilaksanakan di Tokyo pada Minggu waktu setempat (24/9/2017), mereka mengalahkan wakil tuan rumah Takuto Inoue/Yuki Kaneko dengan skor 21-12, 21-15.

Gelar ini sekaligus menjadi yang keempat buat Kevin/Marcus sepanjang tahun 2017. Sebelumnya mereka sudah mengoleksi titel juara dari All England, India Open Super Series dan Malaysia Open Super Series Premier 2017.

“Secara keseluruhan kami main cukup bagus. Mungkin awal-awal sempat kurang menguasai lapangan. Karena shuttlecocknya juga beda dari Korea Open kemarin. Tapi setelah itu sudah enak mainnya dan lebih menguasai lapangan,” kata Sinyo seperti dikutip media PBSI.

Gelar ini, ungkapnya, sangat berarti. Alasanya, bisa membangkitkan kepercayaan diri setelah kemarin-kemarin sempat kalah terus.

''Kami bisa bangkit lagi. Jadi bagus buat menambah kepercayaan diri kami juga, ini sangat penting buat kami berdua,” sambung Kevin.

Laga final kali ini merupakan pertemuan ketiga Kevin/Marcus dengan Inoue/Kaneko. Pada dua pertemuan sebelumnya, Kevin/Marcus selalu berhasil memetik kemenangan. Terakhir di India Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-16 dan 21-18.

 “Saya tidak menyangka akan menang mudah. Saya pikir akan ramai. Karena kemarin-kemarin mereka mainnya bagus dan safe, defendnya juga nggak gampang mati. Mungkin mereka juga agak nervous, jadi agak terburu-buru,” ucap Sinyo.

Game pertama berlangsung dalam 12 menit saja. Kevin/Marcus dengan baik dan cepat berhasil merebut poin demi poin. Tak banyak reli yang terjadi pada game pertama ini. (*)

Kali Ini hanya Sampai Semifinal

Sabtu, 23 September 2017

PASANGAN ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto tak bisa mengulang sukses pekan lalu. Mereka menyerah kepada pasangan Tiongkok Wang Yilyu/Huang Dongping 14-21, 19-21 di babak semifinal Japan Open Super Series Premier 2017.

Padahal, pekan lalu, di final Korea Open Super Series 2017, Praveen/Debby menang atas lawan yang sama dengan 21-17, 21-18. “Tadi kami kalah tenaganya dari lawan. Sama tadi juga ada reli yang kami turun fokusnya,” kata Jordan usia laga semifinal Japan Open 2017 di Tokyo (23/9/2017) seperti dikutip media PBSI.

Sebenarnya, tambah Debby, pasangan Negeri Panda, julukan Tiongkok,  tampil tak berubah. Hanya,kali ini, mereka jauh lebih berani buat mengangkat bola.

''Mereka berani membuka dulu, berani defend dan balik serang. Di sini juga bolanya berat dan mereka cukup solid. Mereka nggak takut-takut out. Kalau kemarin di Korea kan ada angin, jadi mereka nggak bisa angkat bola seleluasa hari ini,” ungkap Debby.

Meski tak berhasil mencapai partai puncak, Jordan/Debby mengaku tetap bersyukur dengan pencapaian mereka di Jepang kali ini. Kekalahan ini juga membuat Indonesia sejak 2008 tak pernah lagi menjadi juara di Japan Open.Ketika itu, pasangan M. Rijal/Vita Marissa naik ke podium juara.  (*)

Lin Dan Gagal Ulangi 2015

KEPERKASAA N Lin Dan terus tergerus. Gelar juara sudah bukan menjadi hal yang mudah bagi pebulu tangkis asal Tiongkok tersebut.

Sejak April lalu, Lin Dan gagal naik ke podium terhormat. Terakhir, pebulu tangkis yang dijuluki Super Dan tersebut hanya sampai babak perempat final Japan Open 2017.

Langkahnya dihentikan Son Wan-ho dari Korea Selatan dengan dua game langsung 15-21, 15-21 di Tokyo pada Jumat waktu setempat (23/9/2017). Ini menjadi kekalahan ketiganya dari Wan-ho selama 16 kali pertemuan.

Sebenarnya, Japan Open bukan ajang yang asing bagi Lin Dan. Lelaki berjuluk Super Dan itu pernah menjadi pemenang pada 2015. Ketika itu, dia mengalahkan wakil Denmark Viktor Axelsen dengan tiga game yang ketat 21-19, 16-21, 21-19.

Tahun ini, Lin Dan sebenarnya sudah dua kali menjadi juara yakni di Swiss Open dan Malaysia Open. (*)

Astrup/Rasmussen Bisa Jadi Mimpi Buruk

Kamis, 21 September 2017

PASANGAN Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus ''Sinyo' Fernaldi Gideon harus mulai memikirkan variasi permainan. Alasannya, lawan-lawan yang dihadapi mulai hapal dengan gaya bermain pasangan ganda putra terbaik Indonesia tersebut.

Usai dipaksa ketat di babak I, kali ini Kevin/Sinyo harus tampil tiga game 21-13, 11-21, 21-18 saat menghadapi pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, di babak kedua Japan Open Super Series 2017 di Tokyo pada  Kamis waktu setempat (21/9/2017).

 Sebelumnya, rekor pertemuan mencatat, dalam empat kali pertandingan, Kevin/Marcus selalu bisa mendapat kemenangan. Terakhir di Singapore Open 2017, Kevin/Marcus menang 21-12, 21-15.

Bahkan, jika masih bermain monoton, mantan pasangan nomor satu dunia itu bisa pulang lebih awal. Alasannya, di babak perempat final, Kevin/Sinyo akan berjumpa lawan tangguh, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.

Pasangan Denmark itu menang dalam pertemuan terakhir. Ironisnya itu terjadi di Indonesia Open Super Series Premier 2017 lalu. Kevin/Sinyo kalah  dua game langsung 16-21, 16-21. (*)

Lolos tapi Kembali Bertemu Unggulan I

Rabu, 20 September 2017

JALAN terjal menghadang Greysia Polii/Apriani Rahayu di Japan Open 2017. Meski, kini, pasangan ganda putri andalan Indonesia tersebut mamu melewati hadangan lawan di babak pertama dalam ajang yang masuk level super series premier tersebut.

Sebelumnya di babak pertama, Greysia/Apriani sukses memulangkan pasangan Thailand Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong, dengan rubber game 21-14, 17-21, 21-13 di Tokyo pada Rabu waktu setempat (20/9/2017). Ini merupakan pertemuan kedua Greysia/Apriani dengan pasangan tersebut. Sebelumnya di Thailand Open 2017, Greysia/Apriani menang dengan 21-12 dan 21-12.

Namun, di babak kedua, mereka  kembali akan menghadapi pasangan nomor satu dunia, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang).

Pekan lalu di Korea Open Super Series 2017, kedua pasangan ini baru saja bertemu di lapangan. Saat itu, Greysia/Apriani kalah dua game langsung dengan 15-21, 13-21.

“Kami mau coba lagi, apa yang belum kami terapkan kemarin. Seperti pola main yang nggak monoton. Kami coba untuk tidak tertekan lawan. Kami harus siap menghadapi mereka, dan yang penting pikirannya aja dulu jangan mau kalah,” kata Greysia seperti dikutip dari media PBSI.

Sayang, jejak keberhasilan Greysia/Apriani tak dapat diikuti oleh pasangan ganda putra, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Angga/Ricky mundur bertanding dan menyerahkan kemenangannya kepada unggulan empat asal Negeri Sakura, julukan Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Hal ini terjadi menyusul cedera otot paha kanan yang dialami Ricky dalam sesi latihan sebelum bertanding di Tokyo Metropolitan Gymnasium.(*)

Emas Semata Wayang dari Yahya

NUR Yahya Ady Velani kembali mengukir prestasi. Dia menjadi satu-satunya pebulu tangkis Jatim yang menjadi juara dalam Pekan Olahraga Nasional (Popnas) 2017 yang diselanggarakan di Semarang, Jawa Tengah.

Dalam final yang dilaksanakan pada Rabu waktu setempat (20/9/2017), Yahya, sapaan karib Nur Yahya Ady Velani, menghentikan ambisi pebulu tangkis tuan rumah Aldo dengan rubber game 21-17,16-21,21-12. ''Satu-satunya emas dari Jatim ya dari tunggal putra ini,'' kata Yahya.

Dia mengakui keberhasilan ini tak lepas dari persiapan matang yang dilakukannya. Apalagi, secara khusus, selama dua minggu, Jatim melakukan pemusatan latihan.

Selain itu, Yahya juga berlatih sendiri bersama pelatihnya di klub Pratama, Irwansyah. Sering cah Solo ini terlihat menambah latihan di GOR Sakura, Ketintang. Ini karena Yahya tergabung dalam Sakura Sport Management milik Ade Dharma.

Dua bulan lalu, Yahya mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia Tenggara. Siswa SMA Atma Widya Surabaya tersebut menjadi peraih emas semata wayang dalam ASEAN School Games di Singapura. (*)

Gregoria Gagal Susul Fitriani

Selasa, 19 September 2017

INDONESIA gagal menambah wakil di babak utama tunggal putri. Gregoria Mariska harus langsung terhenti di babak pertama kualifikasi Japan Open Super Series 2017. Ia gagal mengatasi permainan lawan, Pai Yu Po dari Taiwan, dalam pertandingan tiga game 17-21, 21-17, 19-21.

“Saya kebanyakan salah buang. Kan dia tinggi, saya maunya lob yang dalam, dengan postur tinggi sebenarnya jadi menguntungkan buat dia. Dari game pertama saya juga nggak berani melambatkan dan menaikkan bola,” kata Gregoria seperti dikutip media PBSI

Kehilangan game pertama, Gregoria sempat menunjukkan perlawanannya di game kedua. Ia berhasil merebut kemenangan dan memperpanjang napas ke game tiga. Sayang setelah sempat unggul 17-14, Gregoria tak berhasil mengamankan kemenangannya.

“Game kedua dia banyak mati sendiri. Dia kalah angin jadi saya ada kesempatan buat menyerang,” kata atlet besutan klub Mutiara Bandung tersebut.


Belum berhasil memberikan hasil cemerlang dari dua turnamen, Korea Open dan Japan Open, Gregoria pun mengevaluasi penampilannya. Soal fokusnya di lapangan menjadi salah satu hal yang ingin ia perbaiki kedepannya.

“Kedepannya saya harus lebih fokus lagi. Misalnya saya fokus di 11 poin pertama, tapi ketika lawan merubah pola, saya nggak bisa cepat beradptasi. Saya harus lebih cepat menangkap perubahan lawan,” ucap Gregoria.

Selain Gregoria, tunggal putri Indonesia, Lyanny Alessandra Mainaky juga harus terhenti lebih awal. Lyanny kalah 23-21, 18-21, 17-21 dari wakil tuan rumah, Shiori Saito.

 Dengan demikian, Indonesia tinggal menyisakan satu wakil dari sektor ini. Fitriani yang sudah aman di babak utama akan berhadapan dengan Ratchanok Intanon, Thailand. Keduanya tercatat belum pernah saling berhadapan di lapangan pertandingan. (*)

Urung karena Owi/Butet Belum Optimal

DENGAN level super series premier, BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) mewajibkan pebulu tangkis 10 besar dunia turun. Begitu juga dengan Japan Open 2017.

Namun, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir memilih absen. Resikonya, denda akan diberikan kepada pasangan ganda campuran terbaik Indonesia tersebut.

''Owi /Butet (sapaan karib Tontowi/Liliyana) mundur dari Japan Open 2017,'' kata Sekjen PP PBSI Ahmad Budiharto.

Ini karena kondisi Liliyana, terang Budi, sapaan karib Ahmad Budiharto, belum optimal. Sehinga riskan untuk dipaksanakan tampil.

Apalagi, mereka, lanjut Budi, bakal diterjunkan dalam turnamen di Eropa selama Oktober-November. Yakni di Swiss dan Denmark.

Saat ini, Tontowi/Liliyana masih jadi andalan Indonesia meraih juara. Kali terakhir, mereka mengibarkan bendera merah putih dalam Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia. (*)

Batal karena Terganjal Visa

Senin, 18 September 2017

NAMA Sony Dwi Kuncoro sempat disebut di Japan Open 2017. Namun, saat undian muncul, ternyata nama mantan tunggal putra terbaik Indonesia tak ada.

''Saya telat urus visa. Gak keburu visanya,'' kata Sony.

Padahal, dia mengaku ingin bisa turun dalam turnamen yang masuk kategori super series premier tersebut. Harapannya, poin yang diraihnya bisa bertambah.

Imbasnya, ranking dimiliki pun bisa terdongkrak. Saat ini, Sonya berada di ranking 55 dunia.

Sejak juara di Singapore Open Super Series 2015, bapak dua putri ini belum pernah lagi naik ke podium terhormat. Sebenarnya, ajang Japan Open 2017 bisa menjadi lompatan baginya.

Hanya, pada tahun ini, dia mendapat kesempatan berharga. Sony bisa kembali merasakan Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia.

Tapi, dia tak bisa melangkah jauh. Di babak II,peraih perunggu Olimpiade Athena 2014 tersebut dikalahkan Chen Long asal Tiongkok.

Pekan lalu di Korea Open Super Series 2017, Sony hanya sampai babak II kualifikasi besar. Dia dikalahkan andalan tuan rumah Lee Dong-keun.  (*)

Lebih Berat Dibandingkan Korea Open

TANTANGAN sudah menghadang Anthony Ginting dan Jonatan Christie. Kemampuan keduanya akan dijajal dalam Japan Open Super Series Premier 2017 yang mulai berlangsung 19 Oktober.

Harapannya, keduanya pebulu tangkis muda Pelatnas Cipayung tersebut bisa mengulangi capaian di Korea Open. Dalam ajang yang masuk kategori super series tersebut, Anthony dan Jonatan mampu menembus babak final.

Yang jadi pemenang adalah Anthony. Hanya, untuk meraih hal yang sama di Japan Open bukan hal yang mudah.

Dengan level super series premier, para pebulu tangkis papan atas dunia akan turun. Misalnya Lin Dan dari Tiongkok dan Lee Chong Wei asal Malaysia. Meski sudah uzur,  tapi kemampuan keduanya tak boleh di pandang sebelah mata.

Di Negeri Sakura, julukan Jepang, pada babak I, Jonatan akan menghadapi lawan dari babak kualifikasi. Sedangkan Anthony akan berjumpa dengan wakil Hongkong Hu Yun.

Bagi Anthony, dia belum pernah berjumpa dengan wakil negeri bekas koloni Inggris tersebut. Hanya, kesenioran membuat dia tak boleh lengah. (*)

Belum Bisa Redam si Gaek

Minggu, 17 September 2017

Marcus ''Sinyo'' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamujo punya momok. Siapa lagi kalau bukan pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.

Tiga kali beruntun, pasangan nomor satu Indonesia tersebut menyerah kepada tandem gaek tersebut. Terakhir, Kevin/Marcus kalah 19-21, 21-19, 15-21 dalam final Korea Open Super Series 2017 di Seoul pada Minggu waktu setempat (17/9/2017). Laga kedua pasangan ini berlangsung selama 68 menit.

Ketatnya pertandingan babak final kedua pasangan ini sudah terasa sejak game pertama dimulai. Baik Kevin/Marcus maupun Boe/Mogensen saling beradu kebolehan mengolah shuttlecock di lapangan demi mencetak angka.

Kevin/Marcus terlebih dulu harus kehilangan game pertamanya. Mereka kemudian mencoba bangkit dan membalas kekalahan tersebut di game kedua.

Sayang ketika memasuki game penentu, Kevin/Marcus beberapa kali melakukan kesalahan sendiri yang menguntungkan lawan. Keduanya gagal mengatasi lawan dan harus merelakan podium utama kepada unggulan satu turnamen tersebut.

“Hari kami banyak melakukan kesalahan sendiri. Lawan jarang mematikan kami. Mungkin karena panik dan kurang tenang. Sementara mereka mainnya safe dan nggak gampang mati,” kata Kevin.

Usai menyelesaikan misinya di Korea Open Super Series 2017, Kevin/Marcus akan melanjutkan perjalanannya ke Japan Open Super Series. Mereka berharap bisa meningkatkan performanya dan tampil lebih baik dari pertandingan kali ini.

“Ke depannya harus lebih berani, harus lebih melawan ngadu pukulan. Harus lebih baik lagi,” pungkas Kevin. (*)

Juara, Langsung di Level Super Series





LUAR biasa Anthony Sinisuka Ginting. Dia sukses menjadi juara tunggal putra di Korea Open Super Series 2017.

Menariknya, gelar ini untuk kali pertama Anthony meraih di turnamen internasional dan langsung merebutnya di level super series. ntuk menduduki podium utama, Anthony sebelumnya harus terlibat “perang saudara” dengan Jonatan Christie. Kemenangan akhirnya berhasil diraih Anthony, setelah bertanding selama 68 menit.

 “Rasanya senang akhirnya bisa menjadi juara. Selama ini saya juga sempat mengalahkan pemain unggulan, artinya capaian saya kali ini bukanlah sebuah hal yang karena keberuntungan saja. Ini merupakan hasil kerja keras saya bersama pelatih dan teman-teman di tunggal putra,” kata Anthony seperti dikutip dari media PBSI.

Bukan hal yang mudah bagi pemain besutan SGS PLN Bandung tersebut. untuk merebut kemenangannya. Anthony harus bertarung tiga game 21-13, 19-21, 22-20.

Anthony tampil percaya diri dengan dominasinya di game pertama. Dia unggul 4-0 di awal dan merebut poin 11-4 pada interval game pertama. Anthony terus melesat hingga akhirnya menang 21-13. Tak banyak kesulitan yang ditemui Anthony di game pertama ini.

“Game pertama saya membaca sepertinya Jonatan belum dapet tempo mainnya. Dia kayanya masih ragu-ragu dan banyak mati sendiri. Saya coba tekan terus dari awal, jadi dia nggak berkutik,” ujar atlet kelahiran Cimahi, Jawa Barat, tersebut.

 Beranjak ke game dua, Anthony sempat memimpin 7-3 atas Jonatan. Namun beberapa kali kesalahan yang dilakukan Anthony, berbuah poin bagi Jonatan.

Anthony balik tertinggal 12-16. Anthony yang tertinggal 16-20 sempat berusaha menekan Jonatan dengan merebut tiga poin berturut menjadi 19-20. Sayang setelahnya, Anthony malah gagal melakukan servis dan memberikan kemenangan untuk Jonatan, 19-21. Game ketiga pun harus dimainkan.

“Di game kedua, dia sudah dapet feeling-nya. Di sisi lain, sayanya jadi kurang sabar. Saya sempat mau menyusul juga di poin-poin kritis, tapi terakhirnya sayang belum bisa,” lanjut Anthony.

Pada game penentu, Anthony secara konsisten memimpin jalannya pertandingan. Namun menyentuh poin 18-14, Jonatan terus berupaya merebut kemenangan dengan merebut lima poin berurutan. Anthony kembali tertinggal 18-19. Di poin kritis Anthony berani tampil agresif untuk merebut poin. Ia akhirnya menang 22-20

“Game ketiga lebih nggak mau buru-buru, coba placing dulu. Baru begitu ada kesempatan baru saya ambil. Saya banyakin doa aja di lapangan dan meyakinkan diri sendiri, sudah nggak mikirin poin lagi,” tutup Anthony.

Indonesia dipastikan membawa pulang dua gelar dari Seoul, Korea. Sebelumnya, pasangan ganda campuran Praveen Jorda/Debby Susanto juga berhasil menduduki podium tertinggi. (*)

Awas, Hat-trick Kalah Bisa Terjadi

Sabtu, 16 September 2017

TIGA kali berjumpa dan hanya sekali menang. Tentu, itu bukan hasil yang menggembirkan bagi pasangan Marcus 'Sinyo' Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya.

Apalagi, dua kekalahan dialami dalam dua perjumpaan terakhir. Lawan yang dihadapi pun ''cuma'' pasangan uzur Mathias Boe/Carsten Mogensen asal Denmark. Namun, Sinyo/Kevin seolah kehilangan kegarangannya jika berjumpa mereka.

Tapi kini, keinginan memperkecil kekalahan kembali terbuka. Ini setelah Sinyo/Kevin akan menantang Boe/Mogensen dalam partai final Korea Open Super Series 2017.

Tiket ke babak pemungkas diraih setelah kedua pasangan melibas lawan-lawannya di babak semifinal yang dilaksanakan di Seoul Sabtu waktu setempat. Sinyo/Kevin, yang diunggulkan di posisi kedua, dipaksa tampil tiga game 21-18,17-21, 21-16 oleh Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, unggulan ketiga asal Jepang. Sedang Boe/Mogensen menghentikan perlawanan wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, lainnya Takuro Hoki/Yugo Kabayashi, dengan 17-21, 21-16, 21-17.

Dua kekalahan terakhir Sinyo/Kevin dari unggulan pertama di Korea Open Super Series 2017 itu terjadi di Singapore Open Super Series 2017 dan Sudirman Cup 2017.

Dua kekalahan tersebut termasuk mengejutkan. Alasannya, ketika itu, Sinyo/Kevin tengah onfire usai merajai empat turnaman secara beruntun.

Gaya permainan menyerang keduanya sudah dipahami oleh Boe/Mogensen. Jika tak ada perubahan, tak menutup kemungkinan, kekalahan ketiga akan kembali dialami pasangan yang dikenal dengan julukan Minion itu. (*)

Akhirnya Bisa Juara setelah 22 Tahun Menanti

PEBULU tangkis muda nomor tunggal putra Indonesia terus memberikan harapan. Kini, mereka bukan lagi berjaya di level bawah.

Dalam ajang super series pun, penerus Taufik Hidayat tersebut bisa bersuara lantang. Ini terjadi dalam Korea Open Super Series 2017.

Tak tanggung-tanggung, gelar juara sudah pasti di tangan. Kok bisa? Dua wakil Indonesia bakal saling adu kekuatan di babak final (all Indonesian Finals).

Anthony Sinisuka Ginting akan dijajal rekannya di Pelatnas Cipayung Jonatan Christie. Anthony, yang posisinya nonunggulan, mempermalukan unggulan teratas sekaligus andalan tuan rumah Son Wan-ho dengan tiga game 16-21, 21-18, 21-13 di Seoul pada Sabtu waktu setempat (16/9/2017). Ini merupakan pertemuan perdana dari kedua pebulu tangkis.

Hanya, di atas kertas, sebenarnya Wan-ho jauh diunggulkan. Posisinya sebagai pebulu tangkis nomor satu dunia jauh di atas Anthony yang hanya di posisi 24.

Sementara, Jonatan, yang juga tak diunggulkan, menembus final usai membekap unggulan ketujuh asal Taiwan Wang Tzu Wei dengan straight game 21-13, 21-17.  Bagi Anthony dan Jonatan, meski sering berlatih bersama tapi di ajang internasional, mereka hanya sekali bertemu yakni di Malaysia Open Super Series Premier 2017. Hasilnya, Jonatan yang menang dengan 17-21, 12-21.

Dengan kepastian juara di tunggal putra ini membuat dahaga gelar selama 22 tahun terobati. Kali terakhir, bendera Merah Putih berkibar di  Korea Open pada 1995 saat Haryanto Arbi naik ke podium terhormat. (*)

Harusnya Praveen/Debby Bisa Final

Jumat, 15 September 2017

PASANGAN Praveen Jordan/Debby Susanto seolah mau pamer kekuatan. Keduanya menunjukan belum habis, khususnya di Korea Open Super Series 2017.

Buktinya, Praveen/Debby mampu menembus babak semifinal. Tiket itu diperoleh setelah mengalahkan Takuro Hoki/Sayaka Hirota dari Jepang dengan dua game langsung  21-17, 21-17 di Seoul pada Jumat waktu setempat (15/9/2017).

“Dibilang mudah juga enggak sebenarnya. Cuma kami keuntungannya sudah pegang permainan dari awal, jadi mereka nggak enak duluan. Kalau dibilang gampang sih enggak,” kata Debby seperti dikutip dari media PBSI.

Bisa mencapai hingga babak semifinal, Jordan/Debby mengatakan mulai bisa menguasai kondisi lapangan. Sebelumnya mereka mengatakan cukup terpengaruh oleh angin yang terasa di lapangan pertandingan.

“Sejauh ini mainnya sudah enak. Dan saya juga tadi banyak cari pukulan, dengan kondisi seperti ini harus seperti apa,” ujar Jordan.

Di semifinal, Jordan/Debby akan berhadapan dengan pasangan Jerman, Marvin Emil Seidel/Linda Efler. Melawan pemain non unggulan, dikatakan Jordan/Debby, mereka harus tetap fokus dan tak anggap enteng lawan.

''Kalau melihat kans sih ada peluangnya. Tapi ya kami jadi nggak boleh santai juga, karena mereka kan bukan pemain unggulan tapi bisa mengalahkan pemain yang bisa dibilang bagus-bagus juga. Jadi kami harus bisa menjaga kondisi buat besok dan tidak menganggap enteng lawan,” jelas Debby.

Sebelumnya, Indonesia sudah menempatkan wakilnya di semifinal. Mereka adalah Anthony Sinisuka Ginting dan  Jonatan Christie di tunggal putra serta Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon  di ganda putra. (*)

Jogja Punya Sisi Edukasi

Rabu, 13 September 2017

JOGJA punya gawe besar. Daerah yang mendapat status istimewa tersebut akan menjadi host BWF World Junior Championships 2017 akan berlangsung di GOR Among Rogo 9-22 Oktober .


Kota Pelajar, julukan Jogja, dipilih sebagai tuan rumah melalui pertimbangan yang matang. Kota ini dinilai memiliki nilai khusus terkait masalah pendidikan, kebudayaan dan pariwisata.


“Selain memiliki sarana pertandingan yang memadai dan pernah menyelenggarakan turnamen bulu tangkis berskala internasional, Jogja juga juga memenuhi persyaratan edukasi bagi para peserta,” kata Ketua Panitia Penyelenggara, Achmad Budiharto.


Koordinasi dengan pihak pengurus provinsi PBSI Jogjakarta menjadi hal yang sangat penting. Ini mengingat turnamen ini akan diikuti oleh para pebulu tangkis yang datang lebih dari 60 negara.


Sementara itu, Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation Budi Darmawan menambahkan, komitmen PT Djarum untuk memajukan olahraga bulu tangkis Indonesia memang tak perlu diragukan lagi.


“Kini tinggal kesungguhan dari para pebulu tangkis Indonesia untuk mencapai prestasi yang tertinggi di pentas dunia. Seluruh dukungan untuk mencapai tujuan tersebut telah disiapkan. Semoga kelak akan hadir pemain-pemain bagus seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dari para pemain junior Indonesia,” ujar Budi.


World Junior Championships 2017 ini akan mempertandingkan dua kategori, yaitu beregu campuran dengan format Piala Sudirman dan nomor perorangan. PP PBSI terus mempersiapkan pemain terbaik Indonesia untuk turun di turnamen ini. Sejumlah nama seperti Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (tunggal putra), Gregoria Mariska (tunggal putri), serta Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda campuran) akan turut memperkuat skuad junior Indonesia. (*)

Bisa Balas Kekalahan di SEA Games

TERBALAS sudah dendam Greysia Polii/Apriani Rahayu. Mereka mampu mengalahkan pasangan Thailand Thailand Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai dengan dua game langsung 21-15, 24-22 pada babak I nomor ganda putri Korea Open Super Series 2017 Selasa waktu setempat (13/9/2017).


Dilangsungkan di SK Handball Stadium di kota Seoul siang tadi (13/9), Greysia/Apriani memulai laga dengan sangat baik. Mereka langsung  mengungguli lawannya di interval 11-5 sebelum menutup game pertama dengan 21-15. Di game kedua, giliran Greysia/Apriani yang berada di dalam tekanan. Terus tertinggal hingga posisi 17-20, akhirnya pasangan senior-junior ini berhasil mengejar angka menjadi 20-20 lalu membalikkan keadaan dan menang 24-22. Bagi Greysia/Apriani, kemenangan ini sekaligus membalaskan dendam saat kalah di perempat final SEA Games beberapa minggu lalu.


"Setelah kalah di SEA Games , kami memang pelajari permainan mereka lagi dan hari ini lebih siap untuk lawan mereka", kata Greysia seperti dikutip media PBSI


Dia menganggap kunci kemenangannya adalah bermain tenang dan tidak buru-buru. Mereka, jelas Greysia, belajar dari  SEA Games itu.


 ''Kami main buru-buru dan terlalu nafsu jadi akhirnya boomerang buat kami sendiri. Sekarang main tenang sehingga strateginya bisa lebih berjalan", ungkap Greysia .

Di babak kedua besok, Greysia/Apriani ditantang runner up Kejuaraan Dunia 2017 Yuki Fukushima/Sayaka Hirota asal Jepang. Ini akan menjadi pertemuan pertama keduanya.

Sayang, sukses ini gagal diikuti pasangan ganda putra Berry Angriawan/Hardianto. Mereka dihentikan unggulan pertama asal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen dengan dua game langsung 17-21, 17-21.

"Tadi sebenarnya game pertama itu bisa mengimbangi permainan dan sempat unggul 16-14, tapi mereka pintar langsung minta break. Setelah break mereka mengubah permainan dan kami kaget dan kurang cermat," ucap Berry usai laga.

Berry/Hardi juga pernah kalah dari lawan yang sama. Itu terjadi saat di BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017 dengan skor 18-21, 23-21, 15-21.


Selain Greysia/Apriani, Indonesia juga meloloskan Gregoria Mariska Tunjung dan Anthony Sinisuka Ginting ke babak kedua. Selain itu, dua pasangan gado-gado, Muhammad Arif Abdul Latif/Rusyidina Antardayu Riodingin (Malaysia/Indonesia) dan Hendra Setiawan/Tan Boon Heong juga mampu melaju ke babak berikut. (*)

Duh, Langsung Ketemu Unggulan Teratas

Senin, 11 September 2017

TUGAS berat langsung dipikul Berry Angriawan/Hardianto di Korea Open Super Series 2017. Keduanya langsung menantang unggulan teratas ganda putra, Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark.

“Berry/Hardi sudah harus bertemu unggulan pertama, (Mathias) Boe/(Carsten) Mogensen di babak pertama. Target pertama untuk Berry/Hardi ya bisa melewati pasangan Denmark ini dulu,” kata Herry Iman Piengardi, pelatih ganda putra Pelatnas Cipayung, seperti dikutip media PBSI.

Jika mampu lolos, langkah keduanya bakal lebih ringan. Apalagi, Herry ingin anak asuhnya mampu membawa pulang gelar dari Negeri Ginseng, julukan Korea Selatan.

“Ganda putra pasang target final untuk kejuaraan Korea dan Japan Open 2017,” ungkap Herry

Ya, dua kejuaraan super series akan berlangsung di Korea dan Jepang dalam dua pekan berturut-turut. Korea Open Super Series 2017 akan dilangsungkan lebih dulu di Seoul pada 12-17 September. Ini dilanjutkan dengan Japan Open Super Series 2017 di Tokyo pada 19-24 September .

Pada ajang Korea Open Super Series 2017, para pebulu tangkis elite turun untuk berburu gelar. Nomor ganda putra mengirim tiga wakilnya yaitu Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Berry Angriawan/Hardianto, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Hendra Setiawan yang berpasangan dengan pemain Malaysia, Tan Boon Heong, juga tampil di kejuaraan ini

Partai final menjadi target tim ganda putra dalam turnamen berhadiah total USD 600 ribu itu.

Sementara itu, di tunggal putra, Indonesia mengirim Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Tommy Sugiarto, dan Sony Dwi Kuncoro. Di tunggal putri, Fitriani dan Gregoria Mariska akan mewakili pelatnas, sedangkan dua pebulu tangkis profesional, Lyanny Alessandra Mainaky dan Rusydina Antardayu Riodingin, juga tercatat akan bertanding.

 Nomor ganda putri yang sedianya mengirimkan dua wakil, akhirnya hanya bertumpu pada Greysia Polii/Apriani Rahayu. Sedangkan Ni Ketut Mahadewi Istarani/Rosyita Eka Putri Sari batal berangkat karena Rosyita mengalami cedera lutut kiri.

 Begitupun pasangan ganda campuran Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja yang harus absen di kejuaraan ini karena Edi mengalami cedera lutut kiri saat bertanding di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Nomor ganda campuran tinggal menyisakan dua wakilnya, Praveen Jordan/Debby Susanto dan pasangan baru, Ronald Alexander/Annisa Saufika dan pasangan gado-gado Muhammad Arif Abdul Latif/Rusyidina Antardayu Riodingin (Malaysia/Indonesia).

Korea Open akan dibuka dengan babak kualifikasi pada Selasa (12/9) pagi, disusul babak utama ganda campuran pada sore harinya. (*)

Yes, Dua Gelar dari Vietnam

NAMA Indonesia di pentas internasional masih terjaga. Dua gelar dibawa pulang pebulu tangkis merah putih dari Vietnam Open Grand Prix 2017.

Gelar dipersembahkan pasangan ganda campuran Alfian Eko Prasetya/Melati Daeva Oktavianti dan pasangan ganda putra Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf.Alfian/Melati berhasil memenangkan gelar pertama mereka setelah di final menghentikan perlawanan rekan senegara, Riky Widianto/Masita Mahmudin, dengan straight game 21-14, 21-14 pada laga yang dilaksanakan di Ho Chi Minh City pada Minggu waktu setempat (10/9/2017).

. Kemenangan ini menjadi modal bagi Alfian/Melati yang baru saja dipasangkan. Sedangkan Wahyu/Ade, yang merupakan unggulan ketujuh, menundukkan wakil Taiwan Liao Min Chun/Su Cheng Heng, dengan rubber game yang menegangkan 12-12, 21-16, 23-21.

 “Kami bersyukur mendapat rezeki jadi juara di Vietnam Open. Ini gelar pertama saya bersama Mely (Melati),” kata Alfian seperti dikutip media PBSI.

Dia dan Melati di lapangan bisa enjoy dan menikmati permainan. Mereka, jelas Alfian, juga tidak terlalu memikirkan hasil.

''Jadi nggak grasak-grusuk dan nggak tegang. Tetapi tetap fokus dan konsentrasi,” ujar Melati .

 Sementara itu, tuan rumah Vietnam gagal meraih gelar di negeri sendiri, setelah satu-satunya wakil yang lolos ke final, Vu Thi Trang, ditaklukkan tunggal putri Jepang, Sayaka Takahashi.

Thailand mengamankan gelar di tunggal putra dengan terjadinya All Thailand Finals yang akhirnya dimenangkan oleh Khosit Phetpradab. Satu gelar lagi diraih Thailand di nomor ganda putri lewat kemenangan Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong atas wakil Indonesia, Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta. (*)

Final Vietnam Open Grand Prix 2017 :

Tunggal Putra:  Khosit Phetpradab (Thailandx3) v Suppanyu Avihingsanon (Thailand x10) 21-15, 21-19

 Tunggal Putri:  Sayaka Takahashi (Jepangx1) v Vu Thi Trang (Vietnam x4) 21-9, 21-14

Ganda Putra: Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso (Indonesia x7) v Liao Min Chun/Su Cheng Heng (Taiwan x3) 12-21, 21-16, 23-21

Ganda Putri: Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong (Thailandx5) vs Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta (Indonesia x7) 21-16, 21-19

Ganda Campuran: Alfian Eko Prasetya/Melati Daeva Oktavianti (Indonesiax6) v Riky Widianto/Masita Mahmudin (Indonesia) 21-14, 21-14

x=unggulan

Sayang, Tunggal Putri Lepas

Sabtu, 09 September 2017

INDONESIA gagal sapu bersih gelar dalam Malaysia Junior Open 2017. Nomor tunggal putri yang sempat meloloskan wakilnya harus menyerah kepada lawannya.

Di nomor ini, merah putih menempatkan Aurum Oktavia. Sayang, dalam pertandingan yang dilaksanakan di Perlis pada Sabtu (9/9/2017) waktu setempat, dia menyerah tiga game 21-8, 12-21, 15-21 kepada wakil Tiongkok Chen Nianzu.

 Sementara, di empat nomor lainnya, tunggal putra, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, wakil Indonesia mampu melibas lawan-lawannya. Bahkan, di tiga nomor--tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran,  terjadi final sesama wakil Indonesia (all Indonesian Finals).

Di tunggal putra, Ikhsan Leonardo menghentikan rekannya sendiri Handoko Yusuf Wijayanto dengan 18-21, 21-18, 21-14. Di ganda putra, Emanuel Rhandy/Alfandy Rizki menang 21-17, 21-15 atas Ghifari Anandaffa/Ferdian Mahardika.

 Pasangan ganda campuran Yeremia Erich/Angelica Wiratama menjunglkan unggulan teratas Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia dengan 21-11, 21-16.
Sedang pasangan ganda putri, Jauza Fadila Sugiarto/Ribka Sugiarto memupus harapan andalan tuan rumah Pearly Koong/Ee Wei Toh dengan dua game langsung 21-17, 21-18. (*)

Pasrah Jika Nanti Dipisah

Jumat, 08 September 2017

PERPISAHAN Goh V Shem/Tan Wee Kiong tinggal menunggu waktu. Apalagi, V Shem sudah menyerah untuk melanjutkan kerjasama dengan rekannya itu.

“Kami tidak punya hasil yang bisa ditunjukan pada tahun ini. Jadi tidak mengherankan saya dapat berkata bahwa BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) menyerahkan kepada pelatih untuk masa depan kami,'' kata V Shem saat hadir dalam MoU dengan Malaysia Purple League seperti dikutip media negeri jiran.

Dia akan mengiyakan jika BAM memutuskan mereka berpisah. V Shem/Wee Kiong dipasangkan sejak 2014.

Mereka sempat menjadi pasangan ganda putra nomor satu dunia. Bahkan, di Olimpiade Rio 2016, V Shem/Wee Kiong mampu menyumbangkan medali perak.

Sukses itu dilanjutkan dengan membawa pulang juara Denmark Open Super Series Premier 2016. Serta menutupnya dengan naik podium terhormat di Super Series Finals di Dubai pada Desember.

Namun, memasuki 2017, capaian berbanding terbalik. Jangankan berbicara juara, menembus semifinal pun tak bisa dilakukan. (*)

Tunggal Putra Paling Merana

DI ajang Vietnam Open 2017, hanya di tunggal putra Indonesia tak punya wakil. Satu-satunya duta yang tersisa,Shesar Hiren Rostavito, menyerah.

Dalam pertandingan perempat final yang dilaksanakan Jumat waktu setempat (8/9/2017), Vito, sapaan karibnya, kalah tiga game 21-19, 13-21, 7-21 kepada Khosit Phetpradab, unggulan ketiga dari Thailand.

Pil pahit ini membuat Indonesia kembali melanjutkan dominasi. Tahun lalu, bendera Merah Putih juga gagal berkibar di tunggal putra.

Padahal, dua tahun  lalu, Tommy Sugiarto menjadi juara. Kemenangan itu melanjutkan keperkasaan Indonesia yang pada 2014 juga menjadi juara melalui Dionysius Hayom Rumbaka.

Tahun ini, Hayom, sapaan karibnya, sebenarnya juga turun ke lapangan. Hanya, cedera yang lama membekap membuat pebulu tangkis yang kini membela klubnya, Djarum Kudus, tersebut langsung tersingkir. (*)

Bisa All Indonesian Finals

SATU tempat di final ganda campuran di Vietnam Open 2017 menjadi milik Indonesia. Dua pasangan merah putih akan bertemu dalam babak semifinal yang dilaksanakan Sabtu waktu setempat (9/9/2017).

Mereka adalah Alfian Eka Prasetyo/Melati Daeva dan Ronald/Annisa Saufika. Menariknya, kedua pasangan ini bertukar tandem. Sebelumnya, Alfian berpasangan dengan Annisa dan Ronald dengan Melati.

Keduanya menembus babak semifinal usai membekap lawan-lawannya di babak perempat final  di Ho Chi Minh City pada Jumat (8/9/2017). Alfian/Melati, yang diunggulkan di posisi keenam, menang tiga game 21-9, 14-21, 21-18 atas wakil Taiwan Lin Chia Yu/Kuo Yu Wen.

 Sedang Ronald/Anisa, yang diunggulkan di posisi kedelapan, juga melibas wakil Taiwan lainnya, Liao Min Chun/Chen Hsiao Huan, yang juga unggulan keempat, dengan 15-21, 23-21, 21-13.

Bahkan, tak menutup kemungkinan akan terjadi final sesama Indonesia (all Indonesian Finals). Ini terjadi jika Riky Widianto/Masita Mahmudin bisa menundukkan Chan Peng Soon/Cheah Yee See dari Malaysia. (*) 

Peraih Perak Olimpiade Rio Terancam Dipisah

Senin, 04 September 2017

MASA depan pasangan medallists Goh V Shem/Tan Wee Kiong terancam. Bahkan, tak menutup, peraih perunggu Olimpiade Rio 2016 tersebut berpisah.

Direktur Teknik Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM)  Morten Frost mengatakan bahwa akan ada perubahan besar-besaran di ganda putra. Jika pasangan nomor satu itu dipisahkan.

Hanya, untuk melakukan itu, Frost akan berdiskusi dengan pelatih kepala ganda putra Cheah Soon Kit. Ini karena juga menyangkut masa depan pasangan lainnya, Teo Ee Yi/Ong Yew Sin, Low Juan Shen/Chooi Kah Ming, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani, dan Tan Wee Gieen/Tan Chee Tean.

“Itu akan menjadi reaksi berantai jika V Shem dan Wee Kiong diputuskan dipisah dan saya perlu melihat itu,'' terang Frost seperti dikutip media Malaysia.

Dia dan Kit mempunyai ide untuk menciptakan pasangan baru jika  perubahan itu memang perlu. Selain itu, waktu untuk melakukan itu juga dianggap tepat.

“Kualifikasi Olimpiade Tokyo dimulai 2019.Jika kami mempunyai pasangan baru sekarang, ada waktu setahun bagi mereka untuk stabil,'' lanjut lelaki asal Denmark tersebut.

Sementara ini, Frost menerangkan bahwa V Shem/Wee Kiong sementara dipertahankan. Keduanya masih diberi waktu untuk memikirkan masa depan setelah pertemuan 30 Agustus lalu.

Jika dipisah V Shem/Wee Kiong  berarti mereka bakal absen di decide to Korean Open (12-17 Sept ) dan Japan Open (19-24 Sept ). (*)

Satu Gelar dari India Junior

SATU gelar dibawa pulang punggawa Indonesia dari India Junior International Grand Prix 2017. Adalah pasangan ganda putra Rehan Naufal Kusharjanto/Rinov Rivaldy yang berhasil merebut podium terhormat setelah mengalahkan wakil Thailand, Pacharapol Nipornram/Kunlavut Vitidsarn, dengan dua game mudah 21-9, 21-13.

“Dari pertama main, kami sudah menekan duluan. Ini supaya lawan tidak berkembang dan kami tidak memberi peluang sedikit pun karena partai final,” kata Rinov.

Selain satu gelar juara, Indonesia juga berhasil menempatkan dua wakilnya sebagai runner up turnamen, masing-masing dari sektor ganda putri dan ganda campuran. Di sektor ganda putri, Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti kalah dari pasangan Korea unggulan pertama, Kim Min Ji/Ah Yeong Seong, 15-21, 19-21.

Sementara pasangan ganda campuran, Rinov/Angelica Wiratama, kalah dari Takuma Obayashi/Natsu Naito, Jepang, dengan skor 21-18, 16-21 dan 17-21. Rinov/Angel yang menjadi unggulan pertama, belum berhasil mengatasi lawan dengan kemenangan.

“Di ganda campuran tadi game pertama saya menerapkan pola saya. Tapi di game kedua lawan lebih berani mengadu dari saya sendirinya, saya kurang berani buat mengadu dan rasanya ketekan lawan terus,” ujar Rinov mengomentari permainannya. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger