www.smashyes.com

www.smashyes.com

Wakil Sakura Jajal Pebulu Tangkis Pelatnas

Selasa, 31 Oktober 2017




PB Sakura Surabaya sejajar dengan klub-klub elite di Indonesia. Itu setelah salah satu pebulu tangkisnya, Aldo Purnomo, bisa berlaga di ajang Sirnas Jawa Timur Premier 2017 yang dilaksanakan di Surabaya pada 6-11 November.

''Aldo sudah mempunyai ID PBSI. Sehingga, dia sudah bisa turun dan bermain di kelompok tunggal putra dewasa,'' kata pemilik PB Sakura Ade Darma.

Dia mengaku mengucapkan banyak terima kasih kepada beberapa pihak yang membantu Aldo memiliki ID PBSI. Sehingga, atlet asal Tuban tersebut sudah bisa turun ke pertandingan resmi di bawah kalender PBSI.

''Hanya, sekarang, kondisi Aldo belum fit 100 persen. Engkelnya masih sakit,'' ujar Ade.

Dia berharap pada saat sirnas, Aldo sudah pulih. Di babak I Sirnas Jatim Premier, pebulu tangkis yang mirip dengan mantan tunggal terbaik Jepang Kenichi Tago tersebut memperoleh bye.

Nah, baru di babak II, dia mendapat lawan yang tak boleh di pandang sebelah mata. Aldo, yang lama berada di Singapura, bersua dengan wakil Pelatnas PBSI, Ramadhani M. Zulkifli.

''Semoga Aldo bisa berada dalam penampilan terbaiknya,'' tandas Ade. (*)

Nitya Kembali Tampil

PENANTIAN Nitya Krishinda Maheswari bisa tampil berakhir. Namanya terdaftar turun dalam Macau Open Grand Prix Gold 2017 yang dilaksanakan pekan depan.

Hanya, kini, dia tak lagi berpasangan dengan tandem lamanya, Greysia Polii. Pebulu tangkis asal Blitar tersebut dipasangkan dengan Yulfira Barkah. Di babak I, Nitya/Yulfira berjumpa dengan pasangan yang lolos dari babak kualifikasi.

Sebelumnya, Nitya lama absen karena cedera yang dialami. Ini membuat PBSI khususnya pelatih Eng Hian pun melakukan bongkar pasang. Greysia yang sudah senior dipasangkan dengan Apriyani.

Racikan Didik, sapaan Eng Hian, ternyata ampuh. Greysia/Apriyani sudah meraih dua gelar. Yang lebih spektakuler, Minggu lalu (29/10/2017), keduanya mampu naik ke podium terhormat turnamen super series, France Open 2017. Padahal, Greysia/Apriyani bukan masuk daftar unggulan.

Ini semakin membuat PBSI bakal tak memisahkan mereka. Artinya, pasangan Greysia/Nitya susah untuk disatukan lagi. Meski, keduanya pernah menyelamatkan muka Indonesia dalam Asian Games 2016. Ketika itu, mereka meraih emas ganda putri. (*)

Ke Cipayung untuk Persiapan

KONSENTRASI Sony Dwi Kuncoro tengah tercurah ke dua ajang bergengsi. Dia bersiap berlaga di China Open Super Series Premier dan Hongkong Super Series 2017.

Keduanya dilaksanakan November ini. China Open, yang menyediakan hadiah total USD 700 ribu, dilaksanakan di Fuzhou pada 14-19 November. Sementara Hongkong Open yang berhadiah USD 400 ribu dilaksanakan sepekan kemudian (21-26 November).

''Saya harus memulai dari babak kualifikasi. Ranking saya belum bisa untuk langsung ke babak utama,'' kata Sony.

Saat ini, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut terdampar di posisi 67. Ranking itu masih jauhg dari jalan ke babak utama.

Namun, itu tak membuat Sony patah semangat. Dia tetap berangkat ke kedua ajang tersebut.

Bahkan, sebagai persiapannya, juara tiga kali Asia dan peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut kembali berlatih di Pelatnas Cipayung.Hanya durasinya tak lama.

''Saya hanya empat hari di sana. Biar nggak kaget ,'' ujar bapak dua putri ini. (*)

Baru Berat di Babak II

TUNGGAL putri Indonesia terus diberi kesempatan berkembang. Memang, ajang yang diikuti bukan level tinggi, super series atau super series premier.

PBSI mengirim srikandi-srikandi Cipayung di turnamen di bawahnya. Seperti yang dilakukan pekan ini di Bitburger Open. Dalam ajang level grand prix yang dilaksanakan di Jerman itu, induk organisasi bulu tangkis Indonesia tersebut mengirim dua wakil, Hana Ramadini dan Dinar Dyah.

Untuk bicara juara memang termasuk mustahil. Hanya, menembus babak kedua bukan hal yang susah.

Di babak I, Hana ditantang wakil Prancis Delphine Lansac. Sedangkan Dinar berhadapan dengan wakil dari kualifikasi.

Nah, baru di babak kedua, kemampuan dan kualitas Hana dan Dinar. Besar kemungkinan, Hana akan bersua dengan unggulan ketiga asal Thailand Busanan Ongbamrungphan dan Dinar juga menantang pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, Pornpawee Chochuwong, yang merupakan unggulan ketujuh. (*) 

Paris Bersahabat bagi Tontowi/Liliyana

Senin, 30 Oktober 2017

FRANCE Open bersahabat bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Setelah pada 2014, kali ini keduanya kembali mampu naik ke podium juara dalam turnamen yang masuk level super series tersebut.

Dalam final yang dilaksanakan di Paris pada Minggu waktu setempat (29/10/2017), Tontowi/Liliyana menghentikan perlawanan Zheng Siwei/Chen Qingchen, unggulan teratas dari Tiongkok, dengan dua game langsung 22-20, 21-15.

Kemenangan ini juga membuat Siwei/Qingchen, yang juga pasangan nomor satu dunia tersebut, membayar kekalahan di final World Championships 2017.

Penampilan Tontowi/Liliyana di final memang luar biasa. Ketinggalan 3-9 tak membuat semangat mereka padam.

Ketenangan dan kesabaran di lapangan membuat pasangan peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 ini justru membuat Zheng/Chen kerepotan. Penempatan bola Liliyana dan smash Tontowi seringkali gagal dikembalikan dengan baik.

“Kunci kemenangan kami memang bermain tenang dan bisa menikmati permainan dan merasa rileks. Kami tidak mau memikirkan menang atau kalah, coba yang terbaik saja dulu. Kami tahu mereka mau balas kekalahan, jadi kami tetap fokus terus. Zheng/Chen adalah pasangan yang bagus, kami tidak mau memberi kesempatan kepada mereka,” ujar Tontowi usai laga seperti dikutip media PBSI.

Dia mengakui sudah sering bertemu Zheng/Chen. Apalagi, dalam dua pertemuan terakhir, Tontowi/LIliyana bisa menang.

''Ini menjadi modal buat kami, membuat kami percaya diri. Gelar-gelar penting sudah kami dapatkan, seharusnya kami tampil rileks di turnamen level super series,” tambah Liliyana.

BWF Super Series Finals 2017 menjadi target selanjutnya bagi Tontowi/Liliyana pada penutup tahun. Mereka juga tercatat bakal mengikuti China Open Super Series Premier 2017 serta Hongkong Open Super Series 2017.

“Kami sudah enam kali tanding di super series finals dan belum pernah tembus semifinal. Dengan bekal gelar di tahun 2017 ini serta penerapan strategi yang benar, komunikasi terus sama Owi, saya yakin kami bisa juara di sana, mudah-mudahan kami bisa,” ujar Liliyana. (*)

Super Series pun Diraih

KEJUTAN ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu mencapai klimaks. Mereka mampu membawa pulang gelar dari turnamen super series, French Open 2017.

Dalam final yang dilaksanakan Minggu waktu setempat (29/10/2017), Greysia/Apriyani mengalahkan waki; Korea Selatan (Korsel) Lee So- hee/Shin Seung-chan dengan straight game 21-17, 21-15. Pasangan senior-junior ini merupakan racikan baru Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI, Eng Hian yang diduetkan pada Mei 2017 lalu. Sebelumnya, Greysia/Apriyani juga menjadi juara di Thailand Open Grand Prix Gold 2017.

Dalam partai final, Lee/Shin, yang akhir-akhir ini tampil baik di sejumlah turnamen, tak dapat meredam strategi permainan yang diterapkan Greysia/Apriyani. Juara Denmark Open Super Series Premier 2017 ini terlihat tak dapat mengembangkan permainan mereka seperti biasanya. Sebaliknya, Greysia/Apriyani tampil memukau dengan kontrol penuh dalam pertandingan.

“Kami sudah mempelajari permainan lawan, tadi pagi diskusi lagi sama pelatih, bagaimana sih pola main Lee/Shin? Kami well prepared banget, dan kami bisa mengaplikasikan di lapangan. Yang bisa bantu kami aplikasikan strategi adalah kekuatan mental,” kata Greysia seperti dikutip dari media PBSI

Dia mengaku senang dengan penampilan di babak pemungkas. Apri, sapaan karib Apriyani, bia kontrol semua.

''Apalagi final, bukan pertandingan yang mudah. Namun dia bisa stabil, percaya diri dan ini membantu saya di lapangan,'' puji Greysia.

Greysia yang lebih senior, sudah sering mencicipi podium juara. Berbeda dengan Apriyani yang merupakan pemain muda, ini adalah pengalaman pertama baginya.

“Rasanya masih tidak percaya, karena saya senang banget. Dari awal memang saya diminta untuk percaya diri, awalnya sempat ragu, tapi saya dibimbing senior dan pelatih saya. Saya bingung mau berkata apa lagi, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” sebut Apriyani sambil mengusap air mata haru.

Perjalanan Greysia/Apriyani Menuju Podium Juara
Babak I: vs Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark) 21-17, 21-8

Babak II: vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (x4/Jepang) 21-19, 21-18

Perempat Final: Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (x7/Jepang) 19-21, 21-13, 21-19

Semifinal: vs Chen Qingchen/Jia Yifan (x2/China) 21-5, 21-10

Final: vs Lee So-hee/Shin Seung-chan (Korsel) 21-17, 21-15

Kembali Bisa Ungguli Ganda Malaysia

Sabtu, 28 Oktober 2017

KEKALAHAN atas Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia) di Australia Open 2017 cukup menyiksa Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka pun siap membalasnya jika kembali bersua.

Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Tontowi/Liliyana berjumpa dengan pasangan negeri jiran tersebut di perempat final French Open Super Series 2017.  Hasilnya, pasangan Indonesia menang 19-21, 21-14, 21-12 dalam pertandingan yang dilaksanakan di Paris pada Jumat waktu setempat (27/10/2017). Skor pertemuan kini kembali diungguli Tontowi/Liliyana dengan kedudukan 2-1.

“Permainan kami di game pertama tadi dibilang jelek juga enggak, karena poinnya mepet. Tetapi kami kurang tenang di akhir. Lalu kami tidak mau memikirkan kekalahan di game pertama dan coba lagi di game kedua, kalau berusaha pasti ada jalan,” Liliyana seperti dikutip dari media PBSI.

 Namun, di game kedua dan ketiga, Liliyana menjelaskan, dia dan Tontowi melakukan tugas masing-masing dengan baik. Mereka bisa mengontrol permainan dan tampil lebih tenang.

“Lawan bermain cukup baik, tidak mudah dimatikan. Kalau tadi kami lengah, bisa berbahaya,” ungkap Tontowi.

Di babak semifinal, Tontowi akan berhadapan dengan wakil dari Tiongkok Zhang Nan/Li Yinhui.“Kami sudah sering bertemu. Kami harus lebih tenang di lapangan, karena kalau main tenang, aura juara kami keluar. Kalau sudah begini, lawan jadi ragu-ragu,” pungkas Liliyana. (*)

Rasakan Semifinal Pertama Super Series

KEJUTAN diukir Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Datang dengan status nonunggulan, keduanya berhasil menapaki babak semifinal French Open Super Series 2017. Bagi Apriyani yang lebih muda, ini adalah laga semifinal super series pertama dalam kariernya. Tiket semifinal direbut Greysia/Apriyani dengan menumbangkan ganda putri Jepang, Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto, dengan 19-21, 21-13, 21-19 dalam tempo permainan 76 menit.

Greysia/Apriyani sempat dibayangi kekalahan atas Tanaka/Yonemoto saat ditaklukkan pekan lalu di Denmark Open Super Series Premier 2017. Saat itu, Greysia/Apriyani kalah di saat poin-poin kritis.

“Waktu memimpin 20-18 itu memang sempat teringat kejadian di Denmark, lalu saya membuat kesalahan dan kedudukan menjadi 19-20. Saat itu saya berdoa dan berusaha untuk positif. Dari evaluasi kemarin kan memang Apri harus lebih tenang di saat-saat seperti ini. Dari segi permainan, kami terus memaksa untuk terus di pola kami, tidak mau lagi terbawa pola lawan seperti di pertemuan sebelumnya,” kata Apriyani seperti dikutip dari media PBSI.

Ketika kedudukan genting 20-19 setelah Apriyani gagal menyeberangkan shuttlecock, Greysia tampak menenangkan pasangannya yang lebih muda tersebut. Dia bilang ke Apriyaji, menang atau kalah, pasti dapat pelajaran dari pertandingan ini.

''Yang penting kami jangan sampai kehilangan aura kalau ingin menang. Tenang tapi tetap aktif. Ini yang sepanjang pertandingan saya katakan ke Apri,” ungkap Greysia ketika .

Greysia/Apriyani menjadi wakil Indonesia kedua yang lolos ke babak semifinal. Di ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sudah lebih dulu melaju. (*)

Felix Anthonius, Pelatih Junior Berbakat asal Hi-Qua Wima

Kamis, 12 Oktober 2017

Felix (dua dari kiri) di podium SBI 2014 di Surabaya
Pensiun Muda, Pernah Berpasangan dengan Juara Dunia



Berhenti di usia muda sebagai atlet tak membuatnya patah semangat. Sebaliknya, Felix Anthonius tertantang mencetak pebulu tangkis berprestasi.

--
SEORANG lelaki tengah duduk di sebuah pojok restoran cepat saji. Dengan memakai jaket warna merah, dia tampak memenangi telepon seluler.

Penulis kemudian datang menghampiri. Tak lama kemudian, lelaki bernama Felix Anthonius tersebut mengajak penulis masuk dan memesan makanan.

Empat buah ayam dan dua bungkus nasi dipesannya. Dua piring pun dibawa ke meja di bagian luar.

Rupanya, Felix usai menangani anak asuhnya di Hi-Qua Wima Surabaya. Dia pun juga bakal segera kembali melatih anak asuhnya di klub yang sama.

''Istirahat sebentar.Habis ini melatih lagi,'' jelas Felix.

Karena kerja kerasnya itu nama lelaki kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 15 November 1974 tersebut masuk dalam jajaran pelatih yang sukses mencetak pebulu tangkis muda . Bukan hanya sebagai pelatih, sebenarnya saat menjadi pebulu tangkis, Felix sempat memberikan harapan besar.

Dia pernah direkrut klub besar, Djarum Kudus. Sebelumnya, Felix mengenal bulu tangkis di klub asal Surabaya, Wima, kini menjadi Hi-Qua Wima.

''Sejak usia 11 tahun saya mulai berlatih dan bergabung Wima. Ini karena keinginan saya untuk bisa menjadi pebulu tangkis,'' kenang Felix.

Hanya dalam waktu dua tahun, kemampuannya tercium Djarum. Pada 1988, Felix ditempa di Kudus yang menjadi markas klub yang disponsori perusahaan rokok tersebut.

Di Djarum, Felix mampu mempersembahkan prestasi. Felix ikut berkontribusi ketika Djarum menjadi juara Ardath Trophy and Masters 1990 di Bandung, Jawa Barat.

''Saya turun di nomor ganda. Ketika itu, saya dipasangkan dengan Sigit Budiarto,'' terang Felix.

Kelak di saat senior, Sigit menjadi salah satu andalan Indonesia di nomor ganda. Dengan capaiannya antara lain juara dunia 1997, All England 2001 dan 2003. Felix menganggap dia belum rezeki dan nasibnya tak bisa mengikuti jejak pasangannya tersebut.

''Cedera lutut yang membuat saya kemudian memilih keluar dari Djarum dan kembali ke Wima pada 1992. Saya cedera saat salah tumpuan dalam latihan,'' ujar Felix.

Wima, ujarnya, menjadi pilihan karena dia ingin membagi ilmu kepada pebulu tangkis muda yang dilatihnya. Apalagi, di klub tersebut ada sosok Ferry Stewart yang menjadi panutan Felix.

Ferry merupakan sosok pelatih yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencetak pebulu tangkis. Belajar dari Ferry, dia sukses melahirkan para atlet yang levelnya mendunia.

Tercatat ada nama Sony Dwi Kuncoro, Febriyand Irvanaldy, Ricky Widianto, Selvanus Geh, hingga Ade Yusuf. Nama-nama itu mampu menembus kerasnya persaingan di Pelatnas Cipayung.

Bahkan, Sony mampu meraih medali perunggu di Olimpiade Athena 2004. Sony juga pernah tiga kali menjadi juara Asia yakni pada 2002, 2003, dan 2005. Sedangkan Febriyand, yang juga turun di tunggal, pernah menjadi juara di ajang Sirkuit Nasional.

Sementara, Ricky, Selvanus, dan Yusuf merupakan pebulu tangkis spesialis nomor ganda. Ketiganya pernah menjadi penghuni Pelatnas PBSI. Namun, dari mereka, kini tinggal Ade yang masih bertahan.

Berkat polesan Felix dari junior, Ricky, Selvanus, dan Ade pernah mengharumkan Indonesia dengan menjadi juara di turnamen internasional.

Ricky pernah juara di India Grand Prix Gold 2015, Selvanus di New Zealand 2015 berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang kini menjadi ganda papan atas dunia dengan Marcus Gideon. Sedang Ade baru saja menjadi juara dengan Wahyu Nayaka di Vietnam Open 2017.

Karena itu, Felix sempat menjadi pelatih di Thailand. Itu dilakukannya pada 2005-2010 atau dia usai menangani Tim Jawa Timur dalam Kejurnas. Atlet yang ditangani  salah satunya Tontowi Ahmad, yang kelak menjadi peraih emas Olimpiade Rio 2016 di nomor ganda campuran dengan Liliyana Natsir. Saat itu, dalam Kejurnas di Bali 2002, Tontowi menembus semifinal ganda putra berpasangan dengan Teguh Siswanto.

Pada 2005–2009, Felix menjadi pelatih di Trillert Udohthani.Salah satu anak asuhnya yang kini menjadi pebulu tangkis andalan Thailand adalah Saapshiree Taerattanachai. Kini, dia masuk peringkat 10 besar dunia di nomor ganda putri. Kemampuan Felix juga memikat Tananon Bangkok. ''Setahun saya di Tananon,'' ungkapnya.

Tapi, semua itu belum menghentikan keinginan Felix terus mencetak pebulu tangkis berbakat. Saat kembali ke Hi-Qua Wima pada 2010,  ada beberapa anak asuhnya yang ditangani mulai menunjukan potensi besar.

Sebut saja Tabita Kristian/Jannatul A'la dan Lisa Anjeli. Tabita/Jannatul merupakan juara ganda putri kelompok pemula putri dalam Sirnas Li-Ning Jogjakarta 2013dan Kalimantan Open 2013. Tahun lalu, mereka juga naik ke podium terhormat ganda taruna putri di Sirnas Li-Ning Jatim.

Sedangkan Lisa merupakan juara Kejurkot Piala KONI Surabaya 2017 di nomor tunggal remaja putri.

Dari semua yang sudah dicapai, hasil dalam Djarum Superliga Badminton Indonesia 2014 yang paling berkesan. Dengan materi yang tak diunggulkan, Hi-Qua Wima mampu diantarkannya menembus babak semifinal dan akhirnya menduduki posisi ketiga dalam ajang yang dilaksanakan di DBL Arena, Surabaya, tersebut. (*)


Biodata
Nama: Felix Anthonius
Lahir: Surabaya,15 November 1974
Alamat: Kupang Panjaan IIIA/29 Surabaya
Pengalaman:
1984-1987: Wima
1988-1992: Djarum Kudus
Prestasi:
-Juara tunggal di Sinar Mutiara Tegal
-Posisi III Suryanaga Open Surabaya
-Posisi II Elang Open Jogjakarta
-Posisi III Bimantara Jakarta Open
-Juara Beregu Ardath Trophy XI, Bandung (berpasangan dengan Sigit Budiarto
-Juara Beregu Ardath Trophy XII, Jember (berpasangan dengan Sigit Budiarto)
-Juara Ardath Master I, Jakarta (berpasangan dengan Sigit Budiarto)

1993– 2000    :   Pelatih PB Hi-Qua Wima Surabaya
Menangani  Sony Dwi Kuncoro, Febriyan Irvanaldi , Ade Yusuf , Selvanus Geh, Ricky Widianto, Imam Tohari

2001 – 2004    :  Tim Kejurnas Jawa Timur
Atlet yang ditangani  Tontowi Ahmad

 2005 – 2009    :   Pelatih di Trillert Udohthani, Thailand
Atlet yang ditangani Saapshiree Taerattanachai

 2009 – 2010    : Pelatih di Tananon Bangkok, Thailand

2010 – sekarang   : Pelatih di P.B HI – Qua Wima, Surabaya

2014        :   1. Membawa Hi-Qua Wima di Posisi III Djarum Superliga Badminton Indonesia Beregu Putra
2015        : 1. Ofisial Hi-Qua Wima di Djarum Superliga Badminton Indonesia di Bali

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger