www.smashyes.com

www.smashyes.com

Keenam bagi Kevin/Marcus

Senin, 17 September 2018

GELAR keenam diraih Pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Ini setelah mereka sukses mempertahankan gelar juara  Japan Open 2018.

Dalam ajang yang masuk BWF World Tour Super 750, Kevin/Marcus mengalahkan Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok), dengan 21-11, 21-13 dalam final yang dilaksanakan di Tokyo Minggu (16/9/2018). Di di Musashino Forest Sport Plaza, Kevin/Marcus tampil solid.
Pasangan ranking satu dunia itu memberikan kesempatan kepada Li/Liu untuk mengembangkan permainan. Namun dituturkan Kevin/Marcus, Li/Liu mengubah taktik permainan mereka dari biasanya.

"Kami senang bisa mempertahankan gelar kami. Apalagi ini turnamennya di Jepang, kami bisa memberikan hasil yang terbaik untuk sponsor kami," kata Kevin usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Li/Liu, ujar lelaki asal Banyuwangi itu, lebih banyak main bertahan. Tapi, dia dan Marcus  sudah siap dengan semua strategi mereka, jadi kami lebih yakin.

Marcus juga mengiyakan pernyataan Kevin. Meskipun lawan mengubah strategi, mereka sudah mengantisipasi hal ini. Terbukti perolehan skor cukup jauh di penutup game pertama maupun game kedua.

"Mereka banyak mengarahkan bola ke atas, mungkin karena bolanya berat. Tapi kami sudah mempersiapkan tenaga, kami tahu ini pasti akan terjadi. Kami sudah mempelajari penampilan mereka waktu melawan Fajar (Alfian)/Rian (Ardianto). Model mainnya mirip, jadi kami sudah bisa memprediksi," beber Marcus.

Stadion yang digunakan di Japan Open 2018 merupakan stadion yang akan digunakan untuk Olimpiade Tokyo 2020. Untuk itu, Kevin/Marcus mengaku optimis dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan di stadion ini.

"Suasananya enak, kami cukup nyaman bermain di sini. Walaupun bolanya berat. Tapi kami bisa mengatasi," ujar Kevin.

Hasil Final Japan Open 2018:
Tunggal Putra: Kento Momota (Jepang/x3) s Khosit Phetpradab (Thailand) 21-14, 21-11

Ganda Putri: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang x11) v Chen Qingchen/Jia Yifan (3/CHN) 21-15, 21-12

Ganda Campuran: Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Tiongkok x1) v Wang Yilyu/Huang Dongping (Tiongkok x2) 21-19, 21-8

Tunggal Putri
Carolina Marin (Spanyol x 6) v Nozomi Okuhara (Jepang x8) 21-19, 17-21, 21-11

Ganda Putra
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia x1) v Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok x2) 21-11, 21-13

Gintin Ketemu Unggulan Teratas

Kamis, 13 September 2018

DENDAM Anthony Ginting kepada Prannoy H.S. terbalas tuntas. Dia mampu mengalahkan wakil India itu di babak kedua Japan Open dengan dua game langsung 21-14, 21-17.

 Sebelumnya, Prannoy mempermalukan Ginting di Indonesia Open 2018. Ketika itu, dia menang 21-13, 21-18. Selain itu, di babak I, Prannoy menang atas peraih emas Asian Games 2018 asal Indonesia Jonatan Christie.

"Pertama memang dari pikiran, sejak Asian Games kemarin, saya mainnya lebih rileks, saya bisa menikmati permainan. Kedua dari fokusnya, ini yang paling penting. Ketiga adalah dari segi fisik dan kekuatan tubuh secara keseluruhan," ujar Anthony seperti dikutip dari media PBSI.
 
Salah satu kunci kemenangannya adalah menonton video pertandingannya, dan menghafal kebiasaan lawan. Ini membuat Ginting berhasil menerapkan strategi yang sudah dirancang.

''Apalagi shuttlecock nya berat, saya harus lebih tenang, kalau buru-buru bisa jadi bumerang," tambah peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini.
 
Anthony akan berjumpa dengan Viktor Axelsen. Pebulu tangkis Denmark ini melewati hadangan Kenta Nishimoto (Jepang) di babak pertama. Anthony sementara unggul 1-0 atas Axelsen.
 
"Viktor adalah pemain dengan tipe main reli balik serang. Dengan postur tubuhnya yang tinggi, saya harus wasapada dengan serangan-serangannya. Strateginya kurang lebih sama dengan pertandingan hari ini, yang penting fokusnya dan bisa merasa enjoy di lapangan," ujar Anthony. (*)
 

Cedera, Gagal Hadapi Pasangan Tiongkok

LANGKAH pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Japan Open 2018.  Hanya,  mereka bukan kalah dua game langsung atau tiga game.
 Hendra/Ahsan tak bisa turun ke lapangan saat harus menghadapi Li Junhui/Liu Yuchen dari Tiongkok. Ahsan mengalami cedera pinggang.

Hendra/Ahsan melaju ke babak kedua Japan Open 2018 setelah melewati laga sengit melawan Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe dengan 21-17, 20-22, 21-17. "Tadi pagi setelah sarapan terasa sakit di pinggang dan menjalar ke perut. Saya sudah minum obat tetapi masih terasa sakit sampai sekarang. Sepertinya ini cedera yang lama, tapi rasa sakitnya beda," kata Ahsan seperti dikutip media PBSI.

Sementara itu, Asisten Pelatih Ganda Putra PBSI Aryono Miranat mengatakan bahwa Hendra/Ahsan sejauh ini belum memastikan mundur dari Tiongkok Open 2018 yang akan berlangsung pekan depan.

"Sejauh ini keputusannya akan tetap berangkat, biasanya Ahsan kalau sakit seperti ini dan istirahat beberapa hari bisa pulih lagi. Mudah-mudahan saja kondisinya membaik dan bisa tanding di Tiongkok Open," ujar Aryono.

Indonesia mengirim dua wakil ganda putra ke babak perempat final Japan Open 2018 lewat pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Dengan mundurnya Hendra/Ahsan, maka Li/Liu akan langsung ke perempat final dan berjumpa dengan Fajar/Rian. (*)

Perombakan Bisa Semakin Cepat

Rabu, 12 September 2018

TAK salah kalau pelatih ganda putri Pelatnas Cipayung Eng Hian akan melakukan perombakan. Parameternya tentu hasil yang diraih anak asuhnya.

Seperti yang terlihat di Japan Open 2018. Meski baru memasuki babak II, tetapi Indonesia hanya bisa menempatkan satu pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Sedang dua pasang lain, Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta dan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi, langsung tersingkir.

Greysia/Apriyani lolos tanpa memeras keringat. Di babak I mereka memperoleh bye.

Della/Rizki dihentikan pasangan tuan rumah Ayako Sakuramoto/Yukiko Takahata 13-21, 21-15, 11-21. Anggia/Ketut juga kalah oleh wakil Jepang Misato Aratama/Akane Watanabe 16-21, 18-21.

Di Japan Open, sejak dilaksanakan 1977, Indonesia tak pernah menempatkan wakilnya menjadi juara. (*) 

Satu Pasangan Harus Pulang Dulu

INDONESIA sudah dipastikan kehilangan satu wakil di nomor ganda putra dalam Japan Open 2018. Dua wakil merah putih, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon dan Ade Yusuf/Wahyu Nayaka, harus saling bertemu di babak II.

Ini setelah kedua pasangan mampu menundukkan lawan-lawannya dalam pertandingan yang dilaksanakan di Tokyo pada Rabu waktu setempat (12/9/2018). Kevin/Marcus, yang diunggulkan di posisi teratas, menang dua game langsung 21-15, 21-15 atas Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov. Ini menjadi kemenangan kelima dalam lima kali pertemuan bagi Kevin/Marcus atas wakil Rusia tersebut.Sementara, Ade/Wahyu menghentikan perlawanan Jason Anthony/Nyl Yakura (Kanada) dengan 21-17, 15-21, 21-18. 

Kevin/Marcus dan Ade/Wahyu sudah dua kali bertemu. Hasilnya, saling mengalahkan.

Tentu, jika tak waspada bisa jadi The Minons, julukan Kevin/Marcus, pulang awal. Hanya melihat  perkembangan permaian, mereka layak melaju ke perempat final.

Di Japan Open, Kevin/Marcus menyandang status juara bertahan. Di final 2017, mereka mengalahkan wakil tuan rumah Takuto Inoue/Yuki Kaneko 21-12, 21-15. (*)

Gregoria Tak Gentar

Selasa, 11 September 2018

DI pentas bulu tangkis dunia, Gregoria Mariska dan Ratchanok Intanon dari Thailand punya status sama. Keduanya pernah sama-sama menjadi juara dunia junior.

Hanya, Gregoria baru sekali merasakan (2017). Sedangkan Ratchanok sudah tiga kali (2009, 2010, dan 2011).

Namun, ketika memasuki level senior, Gregoria jauh capaiannya dengan wakil Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut. Selepas dari junior, Ratchanok sukses menjadi juara dunia senior pada 2013.

Tapi, perbedaan itu tak membuat Gregoria keder. Dia siap menantang lawannya itu di babak kedua Japan Open 2018.

Itu setelah Gregoria dan Ratchanok sama-sama memetik kemenangan di babak I pada Selasa waktu setempat (11/9/2018) di Tokyo. Gregoria yang kini ada di ranking 23 dunia menang dua game langsung 21-18, 21-17 atas wakil Rusia Evgeniya Kosetkaya dan Ratchanok dipaksa bertarung tiga game 17-21, 21-9, 21-15 oleh Minatsu Mitani (Jepang) .

Selama ini, Gregoria baru sekali berjumpa dengan Ratchanok. Itu terjadi pada Indonesia Open 2018. Hasilnya, dia kalah 11-21, 21-17, 14-21.

Di babak kedua, Gregoria ingin membalas kekalahan dan berusaha mengeluarkan yang terbaik di pertandingan ."Kalau target, saya maunya bisa melewati Ratchanok dulu dan menembus babak delapan besar," tuturnya. (*)

Habis Juara AG, Langsung Tersingkir

Jonatan Christie saat tampil di babak I Japan Open 2018. (foto;PBSI)
PERJALANAN Jonatan Christie seperti rolling coster. Kok bisa? Setelah membuat kejutan dengan meraih emas di Asian Games 2018, dia langsung tersungkur di babak I Japan Open 2018.

Padahal, peserta yang ikut dalam ajang di Negeri Sakura, julukan Jepang, tak banyak berubah. Ironisnya, Jojo, sapaan karib Jonatan Christie, kalah oleh pebulu tangkis nonunggulan H.S. Pranoy dari India dengan dua game langsung 18-21, 17-21 di Tokyo pada Selasa waktu setempat (11/9/2018).

 Ini menjadi kekalahan kedua beruntun bagi Jojo. Di Asian Games pada nomor beregu, dia juga kalah oleh lawannya yang berperingkat 13 atau satu setrip di bawah Jojo.

"Sebenarnya di awal game, mainnya cukup enak, saya bisa keluarkan stroke nya dengan baik. Di akhir game, saya dua-tiga kali buang kesempatan di saat krusial. Harusnya berani adu di depan net. Di game kedua, saya masih terpikir soal game pertama. Sayang sekali di game pertama sudah unggul tapi tidak bisa menyelesaikan, " ujar Jonatan yang ditemui usai pertandingan.

"Kecewa itu pasti, saya belum bisa menunjukkan yang terbaik di turnamen BWF Tour dalam beberapa turnamen terakhir. Apalagi di Jepang ini saya kurang beruntung,'' kata Jojo seperti dikutip dari media PBSI.

Dia mengakui persiapan yang mepet, hanya seminggu, memberikan pengaruh. Ini, ucap dia, dijadikan pelajaran harus lebih mempersiapkan diri lebih matang.

Sementara itu, Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI Hendry Saputra menjelaskan bahwa anak asuhnya itu memang tak tampil semaksimal di Asian Games 2018. Terutama dari segi fokus di pertandingan.

"Kalau saya lihat dari tingkat kesegaran ototnya, ini terlihat di pertandingan. Selain itu fokus pikirannnya pun nggak seperti kemarin (di Asian Games). Jonatan juga kalah dari Prannoy di Asian Games tapi menurut saya penampilan Jonatan kali ini lebih baik, sudah ketemu formulanya. Tapi di sini serangannya tidak bisa tembus. Saya optimis dia bisa atasi di pertandingan selanjutnya," jelas Hendry. (*)

Bongkar meski Peringkat 11 Dunia

Minggu, 09 September 2018

PISAH:Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris (foto;PBSI)
PEROMBAKAN pasangan kembali terjadi di sektor putri. Della Destiara Haris yang biasa berpasangan dengan Rizki Amelia Pradipta, kali ini akan dimainkan bersama Anggia Shitta Awanda. Sementara Rizki bersama Ni Ketut Mahadewi Istarani yang merupakan pasangan main Anggia.

Ini dilakukan Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI Eng Hian untuk mencari kombinasi ganda kedua Olimpiade Tokyo 2020. Kandidat terkuat sebagai ganda pertama masih ditempati pasangan rangking empat dunia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Pasangan anyar inu akan diturunkan di turnamen Denmark Open 2018 BWF World Tour Super 750. "Pasangan utama ke olimpiade tetap Greysia/Apriyani, selama ini penampilan mereka cukup baik. Greysia sudah komitmen sama saya untuk bertahan, dia mau cari medali di olimpiade terakhirnya sebelum pensiun," ungkap Eng kepada situs PBSI.

Sementara itu, pasangan rangking 11 dunia, Rizki/Della yang selama ini menjadi ganda kedua di sejumlah event penting seperti Piala Uber 2018 dan Asian Games 2018, dinilainya masih belum memberikan hasil yang menggembirakan. "Memang sengaja dibongkar pasang karena hasil di beberapa turnamen selama ini tidak sesuai harapan, saya coba formula baru. Kenapa mereka? Karena untuk level yang di atas memang yang ada cuma mereka," ujar Didi, sapaan karib Eng Hian.

Baginya, ranking yang bagus bukan menjadi jaminan kalau belum pernah merasakan menjadi juara. Sehingga, wajar kalau dibongkar.

Ia juga tak khawatir soal sempitnya waktu jelang kualifikasi olimpiade yang akan dimulai pada awal tahun depan. Dituturkan Didi, di sektor ganda putri persaingannya tak seberat sektor tunggal putra, jika penampilan ganda racikan baru ini memang punya kualitas, peluang untuk masuk top delapan dunia dan lolos ke olimpiade cukup terbuka.

"Saya lebih mementingkan kualitas, kalau pasangan baru tapi bisa menembus, masih ada kesempatan untuk mengejar ke olimpiade. Kalau kualitas penampilannya bagus, ikut 12-14 turnamen setahun misalnya masuk semifinal atau bahkan juara setidaknya dapat tiga gelar, saya tetap optimis bisa tembus delapan besar, peluangnya cukup terbuka," tutur  pelatih  asal Solo ini.

Didi memberikan kesempatan kepada para pasangan ganda putri baru ini untuk unjuk gigi di sisa turnamen yang akan mereka ikuti hingga akhir tahun. Ia berharap anak-anak didiknya dapat menunjukkan perjuangan maksimal di lapangan, diikuti dengan catatan prestasi yang baik.

 "Saya mau lihat progres mereka di tiga turnamen ini (Jepang, Tiongkok dan Korea), nanti ditambah lagi tiga turnamen sampai akhir tahun dengan pasangan yang berbeda. Kalau masih tidak ada gelar juga ya lebih baik saya naikkan yang junior. Bisa dengan dipasangkan dengan pemain senior, atau benar-benar junior semua yang akan main di level lebih tinggi," ucap Didi. (*)

Mundur tapi Datang ke Tokyo

Tontowi/Liliyana saat berlaga di Asian Games 2018 (foto PBSI)


TONTOWI Ahmad/Liliyana Natsir batal tampil di Japan Open 2018. kondisi Liliyana tak memungkinkan untuk bertanding  ajang yang masuk Tour Super 750 tersebut.

"Butet (Liliyana) saat ini tidak dalam kondisi fit untuk bertanding. Tapi bukan cedera kok, kondisi lututnya tidak apa-apa. Dia sedang tidak enak badan, badannya panas," kata Kepala Pelatih Ganda Campuran PBSI Richard Mainaky seperti dikutip dari media PBSI. 

Japan Open 2018 BWF World Tour Super 750 akan dilangsungkan pada 11-16 September 2018 di Musashino Forest Sport Plaza. Namun, Richard memperkirakan kondisi Tontowi/Liliyana akan pulih sebelum gelaran China Open 2018 BWF World Tour Super 1000 yang akan dilangsungkan setelah Japan Open 2018. Hingga saat ini, Richard masih optimis keduanya tetap bisa berlaga di China Open.

"Saya rasa mereka bisa bertanding di China Open 2018, mudah-mudahan recovery dan persiapannya bisa kami maksimalkan," tambah Richard.

Tontowi rencananya tetap bertolak ke Tokyo pada Jumat (14/9) untuk hadir memenuhi peryaratan dari BWF (Badminton World Federation) guna menghindari denda. Berdasarkan regulasi federasi bulutangkis dunia, pemain ranking 10 besar dunia wajib untuk bertanding di turnamen level Super 750 dan level Super 1000. Kecuali jika sedang cedera atau sakit. Oleh karenanya, Tontowi tetap harus hadir.

"Iya, Tontowi akan ke Tokyo , kalau tidak kan bisa kena denda. Memang sudah peraturan dari BWF. Dari Jepang, dia akan langsung terbang ke Tiongkok," sebut Richard.

 Dengan mundurnya Tontowi/Liliyana, maka sektor ganda campuran Indonesia di Japan Open 2018 akan diwakilkan oleh tiga pasangan. Mereka adalah Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, dan Ricky Karanda Suwardi/Debby Susanto. (*)


Jadi Unggulan I, Tumbang di Babak II

Kamis, 06 September 2018

TERSINGKIR: Dinar Dyah Ayustine (foto;PBSI)
KANS Indonesia meraih gelar tunggal putri dalam Hyderabad Open 2018 sebenarnya terbuka. Wakil merah putih Dinar Dyah Ayustine ditempatkan sebagai unggulan teratas dalam ajang yang menyediakan hadiah total USD 75 ribu tersebut.

Sayang, langkah Dinar sudah terhenti. Bukannya di babak final tapi baru di babak II. Secara mengejutkan gadis asal Karanganyar, Jawa Tengah, tersebut menyerah dua game langsung 15-21, 15-21 kepada Yeo Jia Min dari Singapura pada Kamis waktu setempat (6/9/2018).

Ini menjadi pertemuan perdana bagi Dinar dan Yeo. Hanya, di atas kertas, sebenarnya, wakil Indonesia bisa memetik kemenangan.

Alasannya, ranking Dinar lebih baik dibandingkan lawan. Saat ini, Dinar ada di posisi 45 sementara lawannya 74.

Kekalahan ini juga menular kepada rekan-rekannya. Choirunnisa dan Ruseli Hartawan menyerah kepada lawan-lawannya. Hyderabad Open baru kali pertama dilaksanakan. (*)

Chong Wei Come Back Akhir Tahun

TERAPI : Lee Chong Wei (foto:indianexpress)
KABAR gembira bagi publik bulu tangkis Malaysia. Atlet andalannya di sektor tunggal putra Lee Chong Wei bakal kembali ke latihan sebelum akhir tahun. Legenda berusia 35 tahun itu menunjukan perkembangan bagus selama menjalani terapi masalah pernafasan di Taiwan.

Ketua Komite Kepelatihan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) Datuk Ng Chin Chai menerangkan bahwa Chong Wei selalu melaporkan perkembangan terapi. Peraih tiga kali medali perunggu itu, ucap dia, juga merasa senang.

''Chong Wei mengabarkan perkembangan terakhir terapinya akan dilanjutkan hingga bulan depan,'' ujar Chin Chai seperti dikutip dari media Malaysia.

Pihak BAM, lanjut dia, mendukung langkah yang dilakukan Chong Wei. Mereka berharap Chong Wei segera melewati masa perawatan dan kembali berlatih serta turun di kompetisi.

“Kita tahu Chong Wei seorang petarung. Dia tengah turun tapi biasanya segera kembali fit tanpa gagal,'' ucap Chin Chai.

Chong Wei sakit bulan lalu. Ini mengakibatkan mantan pebulu tangkis nomor satu dunia itu kehilangan kesempatan bertanding di Kejuaraan Dunia 2018 di Nanjing, Tiongkok, dan Asian Games 2018 di Indonesia.

Terakhir sebelum sakit, Chong Wei mampu menjadi juara Malaysia Open 2018 dengan mengalahkan juara dunia asal Jepang Kento Momota. Gelar itu menjadi kali ke-12 baginya. (*)

Malaysia Mencari Direktur Kepelatihan

Morten Frost Hansen dan Lee Chong Wei (foto:badmintonplanet)
BAM mulai menatap Olimpiade Tokyo 2020. Salah satu pokok utamanya adalah mencari sosok untuk posisi direktur teknik.

Direktur Kepelatihan BAM sekarang Morten Frost Hansen bakal mengakhiri masa jabatannya akhir September. Saat ini ada lima nama yang jadi pelatih  kepala di timnas Malaysia.

Mereka adalah Datuk Misbun Sidek (tunggal putra), Datuk Tey Seu Bock (tunggal putri), Paulus Firman (ganda putra), Rosman Razak (ganda putri), dan Pang Cheh Chang (ganda campuran).

Ketua Komisi Kepelatihan BAM Datuk Ng Chin Chai besar kemungkinan jabatan direktur kepelatihan akan diisi muka baru. ''

''Direktur kepelatihan yang kami butuhkan harus membawa tim nasional lebih maju,'' kata Chin Chai seperti dikutip media Malaysia Kamis (6/9/2018).

Direktur kepelatihan nanti harus bisa menangani skuad tim nasional dari pelatih senior hingga pemain-pemain junior dan punya waktu penuh.

''Tugasnya beda dengan Morten,'' pungkasnya. (*)

Raja-Ratu Tetap Bertakhta

Kamis, 09 Agustus 2018

KEJUARAAN Dunia 2018 memberikan dampak.  Banyak perubahan yang terjadi dalam ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (9/8/2018).

Di tunggal putra, posisi teratas masih ditempati oleh Viktor Axelsen dari Denmark. Ini masih wajar karena dia mampu menembus babaj final sebelum ditundukkan oleh Kento Momota, yang kini naik tiga setrip di posisi keempat.

Lee Chong Wei turun satu setrip ke posisi ketiga. Ini dampak dari absennya lelaki asal Malaysia tersebut pada kejuaraan yang dilaksnakan di Nanjing, Tiongkok, pekan lalu itu. Posisinya diduduki Shi Yuqi (Tiongkok).

Begitu juga di tunggal putri. Meski gagal juara, Tai Tzu Ying (Taiwan) tetap sebagai ratu. Hanya, Carolina Marin  yang mengalami lonjakan dua setrip ke posisi keenam.

Kegagalan juara ganda putra juga tak mempengaruhi Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon di tempat pertama. Namun, posisinya dibayangi rival asal Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen, yang mampu menjadi juara dalam event papan atas dunia tersebut. (*)

Baru Marin Yang Bisa

Rabu, 08 Agustus 2018

INDONESIA pernah punya Susy Susanti. Tiongkok juga banyak melahirkan juara dunia tunggal putri. Bahkan, Negeri Panda, julukan Tiongkok, sudah 15 kali melahirkan pemenang dalam kejuaraan bergengsi tersebut.

Hanya, Susy dan pebulu tangkis Tiongkok belum bisa menyaingi Carolina Marin. Kok bisa? Ini karena atlet Spanyol tersebut mampu tiga kali menjadi juara.

Gelar pertama diraih pada 2014, kemudian 2015, dan terakhir tahun ini. Kejuaraan Dunia 2016 tidak dilaksanakan karena bersamaan dengan Olimpiade di Rio de Janeiro, Brasil. Pada 2017, Marin terhenti di babak perempat final.

Pada 2018 atau gelar ketiga diraih setelah mengalahkan P.V. Sindhu dengan dua game langsung 21-19, 21-10 dalam final yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (5/8).

''Saya tidak bisa mendiskripsikan emosi saya sekarang. Saya sangat emosional,'' kata Marin seperti dikutip dari media BWF.

Baginya, juara kali ini diraih dengan tidak mudah. Andalan Negeri Matador, julukan Spanyol, tersebut mempersiapkan diri cukup lama.

''Yang pasti, tanpa kerja tim itu semua akan menjadi tidak mungkin. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka,'' lanjut Marin. (*)

Kento, Jepang yang Pertama

KEJUARAAN Dunia 2018 punya arti penting bagi Jepang. Untuk kali pertama wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, mampu menjadi juara di nomo bergengsi,tunggal putra.
Pahlawan bagi Jepang tersebut adalah Kento Momota.Dalam final yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, Minggu (5/8/2018), dia menundukkan wakil Tiongkok Shi Yuqi dengan dua game yang mudah 21-11, 21-13.

Sebelumnya, nomor tunggal putra selalu didominasi tiga negara, Tiongkok, Indonesia, dan Denmark. Bahkan, Malaysia yang selama satu dekade mempunyai Lee Chong Wei pun tak pernah juara.

Gelar juara ini seakan menjadi penebus masa kelamnya. Pada 2016, lelaki yang diunggulkan di posisi keenam dalam Kejuaraan Dunia 2018 tersebut tersandung masalah kriminal. Dia terlibat dalam judi gelap di sebuah kasino.

Dia pun dilarang tampil dalam semua kejuaraan dalam waktu tertentu. Imbasnya, ranking dunia yang dimiliki turun drastis.

Saat comeback, Kento harus tampil di babak kualifikasi atau di kejuaraan-kejuaraan kecil. Tujuannya untuk mendongkrak kembali ranking. Hingga akhirnya, dia sudah menempati ranking tujuh dunia sekarang.

Shi sendiri merupakan bintang baru bulu tangkis Tiongkok. Dengan usia masih 22 tahun, dia diharapkan mampu meneruskan kejayaam Lin Dan dan Chen Long yang sudah dimakan usia dan performanya tak stabil lagi. (*)


Sekilas Tentang
Nama: Kento Momota
Lahir: Kagawa, 1 September 1994
Ranking Terbaik: 2 (7 April 2016)
Ranking Sekarang: 7


Prestasi:
Juara Junior Asia 2012
Juara Dunia Junior 2012
Semifinalis Kejuaraan Dunia 2015
Juara Dunia 2018

Lin Dan yang Tak Lagi Super

Kamis, 02 Agustus 2018

Shi Yuqi singkirkan Lin Dan (foto: xinhua)
NAMA Lin Dan sempat membuat gentar semua lawan. Lima kali juara dunia dan dua kali emas olimpiade nomo tunggal putra sudah menjadi garansi.

Tapi, beberapa tahun terakir seiring umur yang terus bertambah, tahun ini 35, prestasinya mulai labil. Banyak gelar yang lepas dari genggaman dari setiap turnamen yang diikuti.

Salah satunya adalah Kejuaraan Dunia 2018. Di babak III, Lin Dan dipermalukan juniornya, Shi Yuqi, dengan dua game langsung 15-21, 9-21.

Ironisnya, ini menjadi kekalahan kelima dalam enam kali pertemuan. Empat perjumpaan terakhir, Super Dan, julukan Lin Dan, tak pernah memetik kemenangan.

Lin Dan menjadi juara dunia pada 2006, 2007, 2009, 2011, dan 2013. Pada 2008 dan 2012 tidak dilaksanakan karena ada ajang olimpiade, Beijing dan London. Keduanya juga dimenangi suami dari mantan ratu bulu tangkis dunia, Xie Xinfang tersebut. (*)

Buru Juara untuk Kado Ultah

Kevin dan Marcus mampu tembus perempat final (foto;PBSI)
 LANGKAH Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di Kejuaraan Dunia 2018 sudah sampai perempat final. Ini setelah keduanya menang dua game 21-19, 21-12 atas Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia) di Nanjing, Tiongkok,  pada Kamis waktu setempat (2/8/2018).

Kevin/Marcus merasa tampil lebih baik dari laga perdana mereka kemarin. Keduanya memang tampil lebih solid dan jarang membuat kesalahan sendiri.

"Hari ini kami mainnya lebih enak, kami sudah coba lapangan, jadi lebih mengerti situasi lapangannya seperti apa," kata Marcus seperti dikutip dari media PBSI.

 Di awal permainan, dia memang banyak mati-mati sendiri. Tetapi, dia dan Kevin, lanjutnya, bermain jauh lebih. baik dari kemarin.

''Lawan kemarin kan juga tidak jelek, bagus juga. Hari ini kami sudah menemukan ritme permainan kami, pertahanan kami lebih rapat," sebut Kevin.

Hari ini menjadi hari yang spesial bagi Kevin, ia tengah merayakan hari ulang tahunnya yang ke-23. Ia pun berharap mendapat kado manis yaitu gelar juara dunia yang tentu didambakannya dan Marcus.

"Semoga dapat kado ulang tahun di turnamen ini," ucap Kevin sambil melempar senyum. (*)

Kevin/Marcus Harus Tampil Tiga Game

Rabu, 01 Agustus 2018

Kevin/Marcus saat tampil di babak II (foto;PBSI)
 JALAN terjal menghadang pasangan nomor satu dunia asal Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Mereka dipaksa kerja keras di babak kedua Kejuaraan Dunia 2018.

Kevin/Marcus dipaksa memeras keringat lebih banyak oleh Han Chengkai/Zhou Haodong (Tiongkok) sebelum menang 18-21, 21-14, 21-18 di Nanjing, Tiongkok, pada Rabu waktu setempat (1/8/2018).

Laga ini merupakan pertemuan pertama bagi kedua pasangan. Di game pertama, Kevin/Marcus bermain di bawah tekanan karena masih mencari formula terbaik untuk mengatasi kecepatan dan serangan tajam bertubi-tubi yang dihujankan Han/Zhou.

"Lawannya tidak mudah dimatikan. Mereka fight-nya luar biasa. Selain itu mereka mainnya nothing to lose banget, jadi tadi dapat speed nya dan jarang membuat kesalahan sendiri," kata Marcus usai pertandingan seperti dikutip dari media PBSI.

Dia dan Kevin merasa tidak tampil maksimal. Sehingga, mereka, lanjut dia, belum bisa mengeluarkan seratus persen kemampuan .

''Tapi seharusnya besok kami main lebih baik karena hari ini sudah tanding cukup sengit," jelas Kevin.

 Kevin/Marcus, yang merupakan unggulan pertama, adalah ujung tombak Indonesia untuk meraih gelar. Kevin/Marcus tentunya juga mendambakan gelar juara dunia yang merupakan gelar bergengsi selain olimpiade.

"Tekanan pasti ada, namanya kan kejuaraan besar. Tetapi kami nggak mau memikirkan itu, jalani saja, nikmati permainan," tutur Marcus.

 Sementara itu, pasangan Tiongkok mengaku cukup kaget mereka bisa memberikan perlawanan sengit kepada pasangan ranking satu dunia. Hanya,  di saat-saat kritis, mereka tegang.

''Jadi banyak membuat kesalahan. Jika kami bertemu lagi dengan mereka, kami yakin bisa tampil lebih baik," ujar Zhou. (*)

Gregoria Ikut Terhenti

 LANGKAH Gregoria Mariska Tunjung di Kejuaraan Dunia 2018 terhenti. Dia harus mengakui keunggulan Chen Yufei (Tiongkok) dengan skor 17-21, 20-22 di babak kedua Kejuaraan Dunia 2018 di Nanjing, Tiongkok, Rabu waktu setempat (1/8).

Di game kedua, Gregoria punya peluang besar saat unggul jauh 17-10. Sayang, dia belum mampu memanfaatkan keunggulan tersebut.

Enam poin berturut-turut diraih Chen. Dia pun balik memberikan tekanan pada Gregoria saat berhasil menyamakan kedudukan 18-18.

 Peluang kembali terbuka saat Gregoria menyamakan kedudukan 20-20 dan memaksakan terjadinya setting. Sayangnya saat tertinggal 20-21, pengembalian Gregoria yang gagal melewati net, membuat pertandingan berakhir.

 "Waktu unggul 17-10, saya berpikir bahwa saya punya kesempatan karena Chen fisiknya kurang bagus kalau main sampai tiga game. Saat tersusul dan saya membuat kesalahan, saya nggak mikir poinnya masih jauh, justru saya mikir jangan sampai terkejar," jawab Gregoria seperti dikutip dari media PBSI.

Dia mengaku banyak ragu-ragu dan terlalu memikirkan jaga keunggulan. Bukannya mikir pola main.

''Lawan mengubah pola main, awalnya dia menyerang dan ini lebih enak buat saya mengatur permainan. Tapi dia ubah jadi reli dan saya terlalu lama beradaptasi, dia berkembang, saya masih di situ-situ saja," ujarnya.

Ini membuat  Gregoria kalah dua kali dalam tiga pertemuan. Menariknya, keduanya merupakan mantan juara dunia junior. Gregoria menjadi pemenang pada 2017 sedang Chen setahun sebelumnya alias 2016. (*)

Sudah Tak Ada Wakil Tunggal Putra

KEJUARAAN Dunia 2018 baru memasuki babak II. Tapi, Indonesia sudah dipastikan gagal menjadi juara di tunggal putra.

Kok bisa? Ini karena semua wakilnya sudah bertumbangan. Setelah Jonatan Christie di babak I, kali ini Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto yang kalah di babak II.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, Rabu waktu setempat (1/8), Anthony, yang diunggulkan di posisi ke-12, secara mengejutkan takluk dua game langsung 17-21, 13-21 kepada Kanta Tsuneyama dari Jepang.

Ini menjadi kekalahan kedua dari Anthonya dari lawan yang sama. Hanya, di atas kertas, seharusnya dia bisa memetik kemenangan. Rankingnya, 12, jauh di atas lawannya yang hanya 27.

Pil pahit juga ditelan Tommy. Putra mantan juara dunia Icuk Sugiarto tersebut dihentikan wakil Denmark Hans Kristian Vittinghus dengan straight game 14-21, 15-21. Sebenarnya, posisi Tommy lebih diunggulkan. Dalam tiga kali pertemuan sebelumnya, dia selalu memetik kemenangan.

Kegagalan ini membuat puasa gelar Indonesia di sektor tunggal putra semakin panjang. Kali terakhir wakil merah putih yang menjadi juara adalah Taufik Hidayat pada 2005 di Amerika Serikat (AS). (*)

Minta Maaf Lewat Video Durasi 51 Detik

Selasa, 31 Juli 2018

KEPUTUSAN mengejutkan sudah diambil Lee Chong Wei. Tunggal putra terbaik Malaysia tersebut sudah memutuskan mundur dari Kejuaraan Dunia 2018 dan Asian Games 2018.

Alasannya, pebulu tangkis 35 tahun tersebut mengalami masalah kesehatan, khususnya pernafasan. Namun, itu tak membuat Chong Wei segera gantung raket.

Melalui tayangan video, dia memastikan akan segera kembali dalam keadaan sehat. Saat ini, atlet nomor dunia dunia tersebut tengah menjalani terapi di Taiwan.

Penampilannya di video tersebut merupakan yang pertama setelah ada kabar kondisi kesehatannya terbanggu dan itu akan sangat mempengaruhi perjalanan karirnya ke depan. ''Saya akan kembali ke lapangan bulu tangkis segera,'' ucap Chong Wei. 

Dalam video berdurasi 15 menit tersebut, yang diperkirakan diambil di sebuah ruamhan di hotel, Chong Wei juga minta maaf kepada publik bulu tangkis Tiongkok karena tidak bisa bertemu dengan mereka yang akan mendukung dalam Kejuaraan Dunia 2018.Permintaan maaf juga disampikan Chong Wei kepada musuh dan yang juga sahabat baiknya, Lin Dan, yang akan meluncurkan produk baru di sela-sela Kejuaraan Dunia 2018.

Dua Juara Dunia Junior Bertemu di Babak II

GREGORIA Mariska Tunjung dan Chen Yu Fei tak jauh beda usianya. Keduanya sama-sama menyandang status juara dunia junior.

Hanya, tahun saat memenangi berbeda. Gregoria naik ke podium terhormat pada 2017 di Jakarta. Sementara Chen yang berasal dari Tiongkok dinobatkan sebagai pemenang setahun sebelumnya di Bibao, Spanyol.

Keduanya pun saling bertemu dua kali. Dalam Kejuarana Dunia Junior 2016, Chen yang menang dengan dua game 23-25,14-21. Tapi, kekalahan itu mampu dibales Gregoria di Indonesia Open 2017 dengan kemenangan 17-21, 21-19, 21-19.

Kini, dua juara dunia junior tersebut kembali bertemu. Ajang pun lebih bergengsi, Kejuaraan Dunia 2018. Gregoria dan Chen akan adu kecerdikan di babak II.

Ini setelah di babak I, keduanya mampu mengalahkan lawan-lawannya di Nanjing, Tiongkok, pada Senin waktu setempat (30/7/2018). Gregoria menang 21-18, 18-21, 21-14 atas pebulu tangkis tangguh Eropa asal Skotlandia Kirsty Gilmour dan Chen memperoleh bye.

Dilihat dari ranking, Gregoria di atas kertas kalah. Saat ini, dia ada di posisi 22 dan Chen di posisi kelima. Hanya melihat grafik permainan, tak menutup kemungkinan wakil merah putih yang akan memetik kemenangan. (*)

Hanya Jojo yang Harus Pulang

Anthony Ginting saat melawan Suppanyu (foto;PBSI)
PENAMPILAN mengecewakan ditunjukan Jonatan Christie. Ditempatkan sebagai unggulan ke-13, pebulu tangkis spesialis tunggal tersebut kalah dua game langsung mudah 12-21, 16-21 dari Daren Liew di Babak I Kejuaraan Dunia 20198 di Nanjing, Tiongkok, pada Selasa waktu setempat (31/7/2018).

Pil pahit itu membuat tunggal putra nomor dunia Indonesia tersebut saling mengalahkan. Pada pertemuan sebelumnya yang juga terjadi pada tahun ini yakni di Malaysia Open, Jojo, sapaan karib Jonatan Christie, unggul straight game 21-18, 21-17.

 Ini membuat lelaki yang pernah membintangi film layar kaca itu menjadi satu-satunya tunggal putra merah putih yang langsung kalah di penampilan perdana. Dua rekannya, Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto, sama-sama memetik kemenangan dan lolos ke babak II.

Anthony, yang diunggulkan di posisi 12, menang 21-19, 21-14 atas wakil Thailand Suppanyu Avihingsanon. Pertemuan di Nanjing ini menjadi yang pertama bagi kedua.

Sedangkan Tommy menghentikan perlawanna Kalle Koljonen (Finlandia) dengan 21-16, 21-14. Putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang bukan berasal dari Pelatnas PBSI Cipayung. (*)

Mantan Pelatnas Dobrak Dominasi Sirnas

Minggu, 29 Juli 2018

JUARA: Pia (kanan) dan Tiara Rosalia (foto: djarum)
DOMINASI pasangan Nadiya Melati/Dian Fitriani di ajang sirkuit nasional (sirnas) mulai goyah. Setelah hampir selalu menjadi juara, kali ini langkah keduanya tersandung dalam Seri Jabar

Dalam final yang dilaksanakan di Sukabumi pada Sabtu (28/7/2018), Nadiya/Fitriani menyerah dua game langsung 16-21. 10-21 kepada Pia Zebadiah/Tiara Rosalia. Nadiya/Fitriani membela bendera Pertamina. Sementara Pia dan Tiara beda bendera. Pia tetap setia dengan Jaya Raya dan Tiara dengan panji-panji Mutiara Bandung.

Sebelumnya, di semifinal, Pia/Tiara juga menghentikan laju pasangan ratu sirnas lainnya, Devi Tika/Keshya Nurvita Hanadia (Berkat Abadi Banjarmasin) dengan 21-12, 21-15.

Pia dan Tiara merupakan pebulu tangkis yang juga sama-sama pernah digembleng di Pelatnas Cipayung.Hanya, Pia lebih senior dibandingkan pasangannya.

Adik juara Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido tersebut pernah menjadi ganda campyran 10 besar dunia saat berpasangan dengan Fran Kurniawan.

Sementara Tiara merupakan pebulu tangkis 25 tahun yang  pada 2018 ini baru terpental dari Pelatnas Cipayung. (*)

Duh, Ihsan Kalah Lagi dari Wakil Thailand

Sitthikom Thammasin tak alami kesulitan kalahkan Ihsan
PEBULU tangkis Thailand benar-benat jadi momok bagi Ihsan Maulana Mustofa. Tahun ini, dia tiga kali bertemu dengan tunggal Negeri Gajah Putih,julukan Thailand, tiga kali pemuda 22 tahun tersebut menelan kekalahan.

Terakhir yang mengalahkan Ihsan adalah Sitthikom Thammasin dengan dua game yang mudah 10-21, 13-21. Ironisnya, pil pahit tersebut ditelannya di babak final Akita Masters 2018 yang dilaksanakan di Akita, Jepang, pada Minggu (29/7/2018).

Pertemuan Ihsan dengan Sittihom ini merupakan kali ketiga. Sebelumnya, mereka saling mengalahkan. Kegagalan ini membuat Ihsan masih nihil gelar selama 2018.

Hasil yang sama juga dialami pasangan ganda campuran Alfian Eka Prasetyo/Angelica Wiratama. Di final, mereka dihentikan oleh wakil tuan rumah Kohei Gondo/Ayane Kurihara dengan 9-21, 23-21, 17-21.

Untung, dari tiga wakil  yang menembus babak pemungkas masih ada Akbar Bintang Cahyono/Moh Reza Pahlevi. Mereka membawa pulang nomor ganda putra usai melibas ganda Jepang Hirokatsu Hashimoto/Hiroyuki Saeki dengan dua game langsung 21-16, 21-6. (*)

Ranking Sony Kembali Naik

Sony sudah duduk di peringkat 50-an dunia
SONY Dwi Kuncoro memang sudah tak sehebat dulu. Tapi, dia belum pernah mau menyerah untuk tampil di ajang internasional.

 Bahkan, pebulu tangkis yang kini sudah berusia 34 tahun tersebut baru saja menembus semifinal Thailand Open serta lolos ke babak utama Singapore Open 2018.

 Imbasnya, poin yang dikumpulkan dari ajang tersebut cukup mendongkrak ranking bapak dua anak tersebut. Setelah sempat lama berkutat di kisaran 80-an dunia, Sony naik 25 peringkat usai dari Negeri Gajah Putih, julukan Thailand.

 Kemudian, pekan ini, dari rilis yang diluncurkan Kamis (26/7/2018), arek Suroboyo tersebut kembali mengalami lonjakan peringkat. Hanhya, itu tak banyak.

 Sony naik dua setrip ke posisi 53. Ranking terbaik yang diduduki selama 2018.

 Pada 2000-an, Sony merupakan salah satu tunggal putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dia mampu menembus semifinal Olimpiade Athena 2004 dan akhirnya memberikan sumbangan medali perunggu. Juara Asia juga pernah dirasakannya tiga kali di era tersebut.

 Sayang, usia yang terus bertambah dan cedera yang susah diajak kompromi membuat Sony harus meninggalkan Pelatnas Cipayung pada 2013. (*)

Ihsan Melawan Kutukan

Ihsan Maulana Mustofa menembus final
KANS Ihsan Maulana Mustofa mengakhiri paceklik gelar sudah di depan mata. Pebulu tangkis masa depan Indonesia tersebut mampu menembus babak final Akita Masters 2018.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Akita, Jepang, pada Sabtu waktu setempat, Ihsan menang rubber game 14-21, 21-14, 21-15 atas Yu Igarashi dari Jepang. Di babak final, tunggal ketiga Indonesia di ajang Piala Thomas 2018 tersebut akan menghadapi tantangan wakil Thailand Sitthikom Thammasin. Sebelumnya, dia menghentikan laju mantan peringkat kedua dunia asal Denmark Jan O Jorgensen dengan straight game 21-19, 21-16.

 Bagi Ihsan, pertemuan dengan Sitthikom di Negeri Sakura, julukan Jepang, kali ini akan menjadi kali ketiga. Dalam dua kali pertemuan lalu, keduanya saling berbagi kemenangan.

 Pada 2013, saat masih sama-sama di junior, Sitthikom menang dengan dua game langsung 21-15, 21-12. Kemudian tiga tahun lalu, giliran Ihsan yang unggul di Malaysia Masters dengan 21-19, 21-5.

 Hanya, pada 2018 ini, Ihsan kurang beruntung jika bertemu dengan wakil Thailand. Dua kali dia menelan kekalahan dari wakil Negeri Gajah Putih, yakni oleh Kanthapon Wangchaoren di Thailand Open dengan 14-21, 13-21 dan di Malaysia Masters oleh Suppanyu Avihinhgsanon dengan 21-7, 19-21, 19-21. (*)

Chong Wei Mundur dari Kejuaraan Dunia dan Asian Games

Jumat, 27 Juli 2018

KEPUTUSAN mengejutkan diambil Lee Chong Wei. Tunggal putra terbaik Malaysia tersebut memutuskan mundur dari dua kejuaraan besar, Kejuaraan Dunia di Nanjing, Tiongkok, dan Asian Games di Indonesia.

Padahal, dua ajang tersebut sudah ada di depan mata. Kejuaraan Dunia dilaksanakan 27 Juli-5 Agustus dan Asian Games dimulai 18 Agustus.

Chong mundur dengan alasan kesehatan. Dia mengalami masalah dengan pernafasan.

''Dengan menyesal, Datuk Lee telah memberikan informasi kepada BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) kondisinya lagi tidak bagus karena mengalami masalah dengan pernafasan,'' tulis BAM dalam pernyataan seperti dikutip dari media Malaysia.

Dokter, ujar BAM, menganjutkan kepada atlet 34 tahun itu untuk istirahat dan menjalani perawatan. Akibatnya, Chong Wei tak boleh menjalani aktivitas fisik yang berat mininalk dalam jangka waktu satu bulan.

BAM juga meminta kepada publik untuk menghormati keputusan Chong Wei usai menjalani penyembuhan.

 ''Kita berdoa agar proses penyembuhannya bisa berjalan cepat,'' tulis BAM. (*)

Kaki Ihsan Sudah di Semifinal

Ihsan Maulana Mustofa semakin dekat ke tangga juara (foto:djarum)


SUDAH banyak turnamen yang diikuti oleh Ihsan Maulana Mustofa. Tapi, langkah di Akita Masters 2018 bisa jadi yang terjauh.

Dalam ajang yang menyediakan hadiah total YSD 75 ribu tersebut, Ihsan sudah sampai babak semifinal. Artinya, tinggal dua langkah lagi, Ihsan akan menjadi juara.

Tiket semifinal berhasil diraih Ihsan usai menang 21-16, 24-22 atas pebulu tangkis Taiwan Yang Chih Chieh di Akita, Jepang, pada Jumat watu setempat (27/7/2018). Untuk bisa menembus babak final, dia harus bisa menyingkirkan Yu Igarashi dari Jepang.

Di atas kertas, Ihsan bisa menang. Rankingnya, 40, masih  lebih bagus 14 setrip dibandingkan lawan. Hanya, tipe pebulu tangkis Jepang yang terkenal tak mudah menyerah bisa merepotkan Ihsan.

Sukses Ihsan menembus semifinal gagal diikuti wakil Indonesia lainnya, Chico Aura. Dia dihentikan mantan tunggal terbaik Denmark yang pernah menempati ranking dua dunia, Jan O Jorgensen, dengan tiga game 21-19, 19-21, 21-8. (*)

Tantang Mantan Ranking 2 Dunia

Kamis, 26 Juli 2018

Chico Aura Dwi (foto;PBSI)
MUNGKIN ini tak pernah terbayang di benak Chico Aura Dwi. Dia akan berjumpa dengan seorang mantan pebulu tangkis ranking dua dunia Jan O Jorgensen dalam sebuah ajang yang bukan level atas.

Itu setelah Chico memetik kemenangan di babak III Akita Masters 2018. Dalam pertandingan yang digelar di Akita pada Kamis (26/7/2018), pebulu tangkis Pelatnas Cipayung ini menang dua game 21-19, 21-17 atas Seong Hyun-son dari Korea Selatan.

Sementara, Jorgensen dipaksa bertarung tiga game 16-21, 21-14, 21-14 untuk menundukan wakil Jepang Riichi Takeshita.

Dari sisi ranking dan pengalaman, Chico tak ada apa-apanya. Saat ini, dia ada di ranking 240 dunia. Sedang Jorgensen di ranking 49 dunia.

Hanya, dari sisi stamina bisa menjadi nilai lebih Chico.Dengan usia 10 tahun lebih muda, atlet asal PB Exist tersebut bisa menerapkan permainan yang bisa menguras tenaga Jorgensen.

Selain Chico, di babak perempat final tunggal putra, Indonesia juga meloloskan Ihsan Maulana Mustofa. Di babak III, unggulan kedua ini menghentikan perlawanan Takuma Ueda dari Jepang dengan 21-13, 21-18. (*) 

Tetap Ingin Ada Yang Juara Dunia

Para atlet bersama Susu Susanti (foto: PBSI)
INDONESIA memang tak tampil dengan kekuatan penuh dalam Kejuaraan Dunia 2018. Tapi, bagi merah putih ajang yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, pada 30 Juli - 5 Agustus 2018 tetap dipandang penting.

Indonesia mengirim 29 pebulu tangkis di turnamen yang akan dihelat di Nanjing Youth Olympic Games Sports Park Arena. Beberapa diantaranya adalah pemain-pemain muda seperti pasangan ganda campuran Yantoni Edi Saputra/Marsheilla Gischa Islami dan pasangan ganda putri junior, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela.Bagi sejumlah pemain seperti Yantoni/Gischa, Fadia/Agatha, ini merupakan kejuaraan dunia pertama bagi mereka.

"Ikut kejuaraan dunia pertama kalinya, tentunya senang dan saya harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan. Persiapan jelang kejuaraan dunia pasti beda dengan kejuaraan lain, latihannya lebih intens dan ada program khusus," kata Gischa kepada situs PBSI.

 Nomor ganda putra masih menjadi andalan, pasangan ranking satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, mengincar gelar di kejuaraan dunia tahun ini. Sayang, pasangan ganda campuran juara bertahan, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, tidak ambil bagian di kejuaraan dunia tahun ini karena tengah fokus mempersiapkan diri menuju Asian Games 2018.

"Para atlet sudah menunjukkan siap bertanding. Kami berharap mereka bisa memberikan yang terbaik. Kali ini memang pasukan-pasukan muda yang turun, tetapi kami tetap berharap dan punya keyakinan," kata Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI.

 Target PBSI, ungkanya, satu gelar. Harapannya bisa lebih dari satu.

''Kami tidak memfokuskan pasti dari ganda putra, bisa dari sektor mana saja. Tapi kalau peluang memang paling besar dari ganda putra, ganda campuran juga berpeluang, begitu juga ganda putri. Tanpa bermaksud mengecilkan tunggal putra dan tunggal putri, justru ini jadi penyemangat dan harus bisa membuktikan kalau mereka juga mampu," ucap Susy.

Para pemain menjalani program persiapan selama kurang lebih tiga pekan, usai mereka ikut turnamen Indonesia Open 2018. Namun, ada beberapa pebulu tangkis yang mengikuti sejumlah turnamen seperti Thailand Open 2018 dan Asia Junior Championships 2018.

 Tim Indonesia akan bertolak ke Nanjing pada Sabtu (28/7)  menggunakan maskapai Cathay Pacific, nomor penerbangan CX 718 pada pukul 08.15. WIB.(*)

Daftar Wakil Indonesia di Kejuaraan Dunia 2018:
Tunggal Putra: Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Tommy Sugiarto

Tunggal Putri: Fitriani, Gregoria Mariska Tunjung

Ganda Putra: Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso

 Ganda Putri: Greysia Polii/Apriyani Rahayu, Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela

 Ganda Campuran: Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Ronald Alexander/Annisa Saufika, Yantoni Edi Saputra/Marsheilla Gischa Islami


Yahya Pertahankan Emas ASG 2018

Rabu, 25 Juli 2018

Yahya (atas dua dari kiri) di podium (foto:luluk hadiyanto)
BACK To Back. Itulah yang dilakukan Nur Yahya Ady Velani dalam ASEAN Schoo Games 2018.

Untuk kali kedua, pebulu tangkis asal Surabaya tersebut mampu meraih emas di nomor tunggal putra. Dalam final yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (25/7/2018), Yahya, sapaan karib Nur Yahya Ady Velani, menghentikan ambisi wakil tuan rumah Jacky Kok dengan tiga game yang ketat 21-12,20-22, 21-19.

 ''Perjuangan Nur Yahya cukup berat. Dengan kaki berdarah, dia bisa mempertahankan emas ASG 2018,'' ungkap Pelatih Bulu Tangkis Asian School Games 2018.

Di game pertama, ungkap dia, Yahya bermain sangat baik. Dia bisa mengendalikan permainan.

''Mainnya tadi sudah mampu mengontrol dengan baik di game pertama.  Namun di game kedua, Yahya terlalu santai, tidak mempercepat tempo permainan di saat unggul 19-15,'' ujar Luluk.

Akibatnya, terang dia, lawannya mampu mengejar. Di game ketiga,saling kejar mengejar angka.

 ''Namun, keberuntungan masih berpihak pada Yahya,'' ucap Luluk yang pernah menjadi ganda nomor satu dunia bersama Alvent Yulianto tersebut. (*)

Bukan Lagi di Turnamen Level Atas

Jan O Jorgensen (foto:badminton photo)

POSISI nomor dua dunia pernah diduduki Jan O Jorgensen. Juara Piala Thomas dan Eropa juga disabet.

Tapi, kini pebulu tangkis 30 tahun tersebut harus rela bermain di turnamen level bawah. Buktinya, Jorgensen tampil dalam Akita Masters 2018.

Ini dilakukan untuk mencari poin guna mendongkrak rankingnya. Saat ini, Jorgensen terpuruk di posisi 46 dunia.

Laju lelaki asal Denmark tersebut sudah sampai babak III. Sebelumnya, Jorgensen, yang diunggulkan di posisi kelima, dipaksa bertarung tiga game 21-19, 18-21, 21-17 oleh wakil Taiwan Hsueh Hsuan Yi. 

Di babak ketiga, juara Eropa 2014 tersebut akan ditantang wakil tuan rumah Riichi Takeshita. Ini menjadi pertemuan pertama bagi keduanya.

Dari sisi ranking, Jorgensen masih unggul. Rankingnya jauh di atas wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, yang terpuruk di posisi 139.

Di tunggal putra ini, Indonesia sudah meloloskan Firman Abdul Kholik, Chico Aura Dwi, Panji Ahmad Maulana, dan Ihsan Maulana Mustafa. (*)

Masih Bisa Juara meski hanya Satu

Minggu, 22 Juli 2018

SATU gelar juara berhasil dimiliki Indonesia pada Asia Junior Championships 2018. Ini dipastikan melalui kemenangan pasangan ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiartousai mengalahkan Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, Malaysia, dengan 21-12, 21-16 di Jaya Raya Hall di Ciputat, Tangerangm Banten, Minggu (22/7/2018).

“Alhamdulillah, senang dan bersyukur. Tapi nggak boleh cepat puas,” kata Febriana ditemui usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Dari pelatih, ujarnya, tidak ada target. Tapi, tambah Febriana,m dari diri sendiri yang memasang target.

''Alhamdulillah bisa menang, tapi masih banyak turnamen kedepannya, nggak boleh langsung puas,” ujar Ribka menambahkan.

 Febriana/Ribka tampil percaya diri dalam merebut poin demi poin. Dalam waktu 20 menit, keduanya membungkus kemenangan untuk merah putih.

“Di lapangan perasaan tegang pasti ada, tapi harus bisa diatasi. Kami tadi main lepas aja, nggak mikir menang kalah, hasil sudah ada yang menentukan,” ujar Ribka.

Dengan demikian, Indonesia berhasil memperoleh empat medali, dengan satu emas dan tiga perunggu. Sebelumnya tiga perunggu diraih oleh Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, Pramudya Kusumawardana/Ghifari Anandaffa Prihardika dan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti. (*)

Untung Masih Ada Hendra/Ahsan

INDONESIA batal malu di Singapore Open 2018. Pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan naik ke podium juara.
Di babak final, Minggu (22/7/2018) di Singapore Indoor Stadium, mereka menundukan pasangan muda Tiongkok Ou Xuanyi/Xiangyu Ren 21-13, 21-19. Bagi Ahsan/Hendra ini gelar pertama kalinya sejak dipasangkan kembali awal tahun 2018 ini.

“Pastinya kita senang dengan hasil ini bisa juara lagi, sejak tahun beberapa tahun lalu dan kali ini juara lagi. Untuk pertandingan tadi walau kita mendominasi tapi tak mudah, karena kita harus tetap terus fokus dan berusaha agar lawan tidak berkembang mainnya.” Ujar Ahsan.

 Sebelumnya, pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir harus puas hanya meraih posisi runner-up. Unggulan teratas  ini ditaklukan pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai dalam pertarungan dua game langsung 19-21, 18-21.

Bagi Tontowi/Liliyana ini kekalahan pertama mereka dari pasangan Malaysia itu. Diakui Liliyana, meski penampilan hari ini cukup baik tapi fokus dilapangannya kurang di jaga.

“Hasil ini menjadi bahan koreksi buat kita. Saya pribadi juga sudah bersyukur juga bisa sampai final juga. Tapi tetap namanya sudah di final, kita pastinya berusaha ingin menang juga. Memang tinggal sedikit lagi, kita tadi bisa menang hanya fokusnya aja. Mungkin ini faktor kelelahan, karena minggu lalu ikut di Indonesia Open dan persiapan hanya seminggu kurang.”sahut Liliyana.

Dengan hasil ini, dia tetap bersyukur bisa sampai final dan menatap ke depannya sebagai persiapan untuk Asian Games.(*)

Dari Ciputat Langsung ke Nanjing

Sabtu, 21 Juli 2018

Agatha Imanuela/Siti Fadiah (foto: PBSI)
AGATHA Imanuela/Siti Fadiah gagal mengantarkan Indonesia meraih juara dalam Asian Junior Championship 2018. Tapi, mereka tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan.

 Ini karena pengalaman besar segara didapat keduanya. Ya, Agatha/Siti harus segera pergi ke Nanjing, Tiongkok.

 Mereka akan tampil dalam Kejuaraan Dunia Senior yang dilaksanakan 30 Juli-5 Agustus tersebut. Tapi, Agatha/Siti tentu tak ditargetkan bisa melangkah jauh.

 Di babak kedua, mereka sudah dihadang unggulan keempat Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto. Itu pun kalau di babak I Agatha/Siti bisa menundukkan Selena Piek/Cheryl Seinen dari Belanda.

 Di nomor ganda putri ini, Agatha/Siti hanya menjadi pendamping bagi para seniornya. Tumpuanakan diberikan kepada Greysia Polii/Apriyani Rahayu. (*)

Tinggal Berharap di Ganda Putri

ASA: Febriana Dwi Puji/Ribka Sugiarto (foto:PBSI)
ASA Indonesia di Asian Junior Championship 2018 tinggal bergantung kepada pasangan ganda putri Febriana Dwi Puji/Ribka Sugiarto. Ini setelah rekan-rekannya yang lain bertumbangan di babak semifinal dalam pertandingan yang dilaksanakan di Jaya Raya Hall Sport di Ciputat, Tangerang, Banten, pada Sabtu (21/7/2018).

Febriana/Ribka, yang ditempatkan sebagai unggulan keempat, mempermalukan unggulan teratas Liu Xuanxuan/Yuting Xia dari Tiongkok dengan rubber game 25-23, 14-21, 21-15. Pertandingan kedua pasangan ini memakan waktu 1 jam lima menit.

Di babak pemungkas, mereka akan dijajal ganda Malaysia Pearly Koong Eei Wei Toh yang di semifinal menunduan wakil Indonesia lainnya yang juga unggulan kedua Agatha Imanuela/Siti Fadia dengan 21-15, 23-21.

Kekalahan juga terjadi di tunggal putra. Andalan Indonesia di nomor ini, Ikhsan Leonardo, menyerah mudah dalam dua game 7-21, 14-21 kepada Lakshya Sen. Hal sama juga  menimpa pasangan ganda putra Ghifari Anandaffa/Pramudya Kusumawardhana yang dihentikan unggulan teratas Di Zijian/Wang Chang (Tiongkok) 21-15, 22-20.

Jika menang di ganda putri, gelar itu juga mampu menjadi pengobat kegagalan di beregu. Di  kelompok itu, langkah Indonesia dihentikan Tiongkok di semifinal. (*)

Mengejar Sejarah Lima Tahun Lalu

Hendra/Ahsan (kanan) menyalami Angga/Rian (foto;PBSI)
SENIORITAS memegang peran besar. Buktinya, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mampu mengalahkan juniornya dalam babak semifinal Singapore Open 2018.

Di ganda putra, Hendra/Ahsan menghentikan perlawanan Angga Pratama/Rian Agung Saputra dengan dua game 21-16, 21-13 pada Sabtu waktu setempat (21/7/2018). Ini menjadi kemenangan kedua dalam tiga pertemuan. Dalam pertemuan sebelumnya, Hendra/Ahsan kalah 20-22, 19-21 dari Angga/Rian di Australia Open 2013.

Di babak final, mantan juara dunia itu akan berjumpa dengan wakil Tiongkok Ou Xuanyi/Xiangyu Ren yang menundukkan rekannya sendiri Han Chengkai/Zhou Haodong 21-17, 26-24.Bagi Hendra/Ahsan pertandingan tersebut bakal menjadi pertemuan perdana.

Sementara, Tontowi/Liliyana menang 26-24, 21-17 atas Bintang Akbar Cahyono/Winny Oktavina. Di babak final, pasangan yang baru saja menjadi juara Indonesia Open 2018 tersebut dijajal wakil Malaysia Goh Soon Huat/Shevon Jemie. Unggulan kedua ini melibas Dechapol/Sapsiree (Thailand) dengan 21-18, 21-14.

Kans bagi Indonesia meraih juara tetap terbuka. Menariknya, Hendra/Ahsan dan Tontowi/Liliyana pernah sama-sama naik ke podium terhormat di Negeri Singa, julukan Singapura. Itu terjadi pada 2013. (*)


Juara Bertahan Sudah Pulang Duluan

Jumat, 20 Juli 2018

Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti (foto:PBSI)

JUARA bertahan ganda campuranAsia Junior Championships tersingkir.
Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti terhenti di babak perempat final Asia Junior Championships 2018. Rehan/Fadia tak berhasil mengulangi kesuksesannya di tahun lalu, setelah kalah dari wakil Korea, Chan Wang/Na Eun Jeong 21-16, 16-21, 18-21 di Jaya Raya Sport Hall, Jakarta, Kamis (20/7/2018).

“Tahun lalu Rehan/Fadia masih baru di junior, jadi mereka bisa main lepas, nothing to lose. Tahun ini mungkin karena mereka menjadi tumpuan. Tapi tetap harus dilawan. Game kedua, game ketiga sudah kelihatan sekali mentalnya tertekan, terutama Fadia tadi paniknya kelihatan,” ujar Nova Widianto, pelatih ganda campuran yang mendampingi.

Tapi hasil itu, jelas dia, bagus juga untuk mengukur kemampuan mereka di Kejuaraan Dunia Junior nanti. Awalnya, prediksi Nova, Tiongkok dan Jepang yang cukup kuat.

''Tapi ternyata di delapan besar ini juga kekuatan sudah merata. Sebelum AJC ini kan Tiongkok dan Jepang yang kelihatan menguasai, Koreanya tidak terlalu kelihatan,” tambah Nova.

Hasil itu menyisakan catatan penampilan Rehan/Fadia yang harus diperbaiki. Namun Nova yakin, anak didiknya ini mampu bersaing dan memberikan penampilan terbaiknya di Kejuaraan Dunia Junior mendatang.

''Penampilan mereka akan terus diperbaiki. Secara teknik, Rehan powernya masih kurang, harus ditingkatkan lagi. Harus siap untuk menghadapi lawan yang nggak gampang mati. Tapi di Kejuaraan Dunia Junior nanti kami optimis. Mereka akan dipersiapkan lagi,” kata Nova.

Selain Rehan/Fadia, pasangan ganda campuran lainnya, Pramudya Kusumawardana Riyanto/Ribka Sugiarto juga harus menelan kekalahan. Pramudya/Ribka kalah dari Guo Xinwa/Liu Xuanxuan (Tiongkok) 14-21, 20-22.

Dengan demikian, babak semifinal Asia Junior Championships 2018 harus berjalan tanpa wakil ganda campuran Indonesia. (*)

Ladeni Tantangan Junior

Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandouw
SATU tiket final nomor ganda campuran di Singapore Open 2018 menjadi milik Indonesia. Dua wakil merah putih akan saling bertemu di babak semifinal.

Satunya pasti adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Ini karena mereka merupakan unggulan teratas.

Hanya, lawan yang dihadapi di babak semifinal masih asing di telinga publik bulu tangkis. Siapa? Mereka adalah Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandouw.

Di babak perempat final yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium, pasangan yang kini berada di ranking 64 dunia tersebut menundukkan Liao Min Chun/Chen Hsiao Huan dari Taiwan dengan straight game 21-10, 21-13.

Sementara Tontowi/Liliyana tak mengalami kesulitan menundukkan wakil Hongkong Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah dengan dua game mudah 21-16, 21-15. Kemenangan ini memperlebar kemenangan mereka. Dalam delapan kali perjumpaan, Tontowi/Liliyana menang enam kali dan pernah dua kali mengalami kekalahan.

Sayang, sukses dua pasangan ini tak bisa iikuti Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Juara dunia junior 2017 tersebut dihentikan pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai dengan 17-21, 13-21.

Tontowi/Liliyana sudah dua kali menjuarai Singapore Open yakni pada 2011dan 2013. (*)

Mimpi Buruk Chong Wei Bisa Terulang

Kamis, 19 Juli 2018


Brice Laverdez dua kali mengalahkan Lee Chong Wei
PADA 2017, Lee Chong Wei datang dengan ambisi besar. Pebulu tangkis tunggal putra andalan Malaysia ini diunggulkan di tempat kedua dalam ajang yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, tersebut.

Tapi, kenyataan berkata lain. Jangankan menembus final, Chong Wei sudah tersungkur di babak I. Lawan yang mengalahkannya adalah Brice Laverdez asal Pancis dengan 19-21, 24-22, 17-21.

Pada 2018, mimpi tersebut bisa kembali terulang. Chong Wei, yang kini sudah berusia 35 tahun, kembali berjumpa dengan Brice dalam Kejuaraan Dunia yang dilaksanakan di Nanjing, TIongkok, 30 Juli-5 Agustus tersebut.

Sekretaria BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) Datuk Ng Chin Chai percaya bahwa Chong Wei akan tetap di treknya. Apalagi, dia tak bertemu dengan Lin Dan dkk dari Tiongkok.

''Memang tak mudah mengalahkan atlet Tiongkok di turnamen-turnamen besar,'' jelas lelaki yang hadir dalam undian Kejuaraan Dunia 2018 yang dilaksnakan Rabu (18/7/2018).

Sebelumnya, Chong Wei belum pernah menjadi juara dunia. Hanya, dia sudah tiga kali menembus babak final, 2011, 2013, dan 2015.

Dalam Kejuarana Dunia 2018 nomor tunggal putra ini, Indonesia diwakili Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Tommy Sugiarto. (*)

Kembali ke Pangkuan Tiongkok

KEANGKERAN Tiongkok di nomor beregu junior belum tergoyahkan. Negeri Panda ini kali kesekian mampu menjadi juara Asia.

Dalam final yang dilaksanakan di Jaya Raya Sport Hall, Jakarta, Sabtu (17/7/2018), Tiongkok menghentikan perlawanan Jepang dengan skor 3-0. Kemenangan  negeri terpadat penduduknya di dunia tersebut dimulai dari pasangan ganda campuran Guo Xinwa/Liu Xuanxuan yang menang dua game langsung 21-19, 21-14 atas Hiroyuki Midorikawa/Natsu Saito.

Kemudian, tunggal putra andalan mereka, Li Shifeng juga unggul straight game 21-16, 21-15 atas Taiki Kato. Tiongkok menutup perlawanan Negeri Sakura, julukan Tiongko,, melalui pasangan ganda putra Di Zijian/Wang Chang yang menghentikan perlawanan Hiroyuki Midorikawa/Hiroyuki Nakayama dengan rubber game 20-22, 21-9, 21-12.

Dua partai lainnya, Zhiyi Wang melawan Hirari Mizui (tunggal putri) dan  Liu Xuanxuan/Yuting Xia dengan Natsu Saito/Rumi Yoshida (ganda putri) tak jadi dilaksanakan.

Tahun lalu, Tiongkok gagal meraih gelar setelah empat tahun beruntun menjadi juara. Pada 2017, posisi terhormat jatuh ke tangan Korea Selatan yang mengalahkan Indonesia. Merah Puth sendiri tahun ini dihentikan Tiongkok di babak semifinal. (*)

Juara Dunia Junior Pulangkan Unggulan Kelima

Rinov Rivaldy /Pitha Haningtyas Mentari (foto;PBSI)
CAPAIAN besar dibukukan Rinov Rivaldy /Pitha Haningtyas Mentari pada 2017. Mereka mampu keluar sebagai juara dunia junior nomor ganda campuran.

Sayang, titel itu seakan kurang berarti di level senior. Keduanya belum bisa meraih prestasi.

 Rinov/Mentari selalu tersungkur sebelum menembus babak final. Capaian terbaik adalah menembus babak semifinal Vietnam International Challenge 2018.

Kini, keduanya kembali menempa kemampuan di Singapore Open. Langkah Rinov/Mentari dalam ajang berhadiah total USD 355.000 tersebut sudah sampai perempat final.

Pada babak II yang dilaksanakan di Singura pada Kamis waktu setempat (19/7/2017), pasangan yang  memulai langkahnya dari babak kualifikasi tersebut menumbangkan unggulan kelima asal Jerman Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich dengan 13-21, 21-14, 21-15..

 “Hari ini mainnya masih di bawah performance, masih 60% lah belum setabil. Lepas game pertama, pikiran masih kosong dan menang angin jadi cangung. Game dua dan game tiga, lebih nekat lagi mainnya dan lebih cari poin banyak. Kuncinya kemenangan tadi, yakin aja sih dengan kemampuan kita sendiri, pasti bisa,” kata Rinov seperti dikutip dari media PBSI.

Rinov/Mentari kembali akan menantang pasangan unggulan ke dua Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai (Malaysia) di babak perempat final nanti. Keduanya tetap optmistis bisa kembali memetik kemenangan.

Selain pasangan Rinov/Mentari yang lolos ke babak perempat final, ada juga pasangan unggulan teratas Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka mengalahkan pasangan tuan rumah Danny Bawa Chrisnanta/Wong Jia Ying Crystal. (*)

Hanya sampai Semifinal

Selasa, 17 Juli 2018

Ikhsan Rumbay merayakan kemenangan (foto;PBSI)
AMBISI Indonesia menembus final Asia Junior Championships 2018 kandas. Langkah penerus Taufik Hidayat tersebut dihentikan Tiongkok dengan 1-3 pada Senin (16/7). di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta.

Junior merah putih kehilangan poin pertamanya usai Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti kalah 21-17, 17-21, 23-25 dari Guo Xinwa/Liu Xuanxuan. Ghifari/Fadia sebenarnya sempat membuka peluang, dengan merebut game pertama mereka. Sayang setelahnya, Ghifari/Fadia kalah di game dua dan tiga.

Tertinggal 0-1 tak membuat Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay patah semangat. Ikhsan berhasil membawa Indonesia untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1, setelah menang 21-18, 21-14 dari Bai Yupeng.

Namun akhirnya, kemenangan rupanya bukan milik Indonesia untuk kali ini. Indonesia harus menerima kekalahan setelah dua wakil berikutnya gagal merebut merebut poin. Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana dan Putri Kusuma Wardani sama-sama kalah dua game langsung dari lawan.

“Tadi pagi lawan Thailand dia mendapatkan lawan yang berat, dan bisa mengatasi. Di pertandingan kedua ini dia juga dapat lawan berat lagi dan menjadi salah satu poin penentu Indonesia. Tapi saya lihat dia belum bisa lebih tenang. Moment pembukaannya sebenarnya sudah bagus, tapi belum bisa mempertahankan tempo dan fokus. Sehingga begitu dapat bola yang nggak enak, dia masih gampang goyang. Tapi kalau saya lihat dia sudah cukup maksimal,” kata Jeffer Rosobin, pelatih tunggal putri, mengenai penampilan Putri Kusuma Wardani.

Dengan demikian Tiongkok lah yang berhasil maju ke babak final. Mereka kemudian akan menghadapi Jepang di laga puncak tersebut.

Hasil Lengkap Pertandingan Indonesia v Tiongkok:

Ganda Campuran: Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Guo Xinwa/Liu Xuanxuan: 21-17, 17-21, 23-25

Tunggal Putra:  Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay v Bai Yupeng: 21-18, 21-14

Ganda Putra:  Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana vs Di Zijian/Wang Chang: 14-21, 20-22

Tunggal Putri :  Putri Kusuma Wardani v Wang Zhiyi: 14-21, 13-21

Ganda Putri: Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Liu Xuanxuan/Yuting Xia: (tidak dimainkan) (*)

Sony Langsung Ketemu Unggulan Teratas

Chou Tien Chen, unggulan teraras di Singapore Open (foto;BWF)
TIKET ke babak utama Singapore Open 2018 sudah di tangan Sony Dwi Kuncoro. Kemenangan dua game langsung 21-19, 21-10 atas mantan rekannya dulu di Pelatnas PBSI Shesar Hiren Rustavito di Singapura pada Selasa waktu setempat (17/7/2018) membuat dia bisa berlaga di babak elite.

Sebelumnya, untuk bisa lolos ke babak utama, Sony memang butuh dua kemenangan. Kemenangan perdana juga diraihnya dua game yang ketat 21-18, 21-18 atas Sitthikom Thammasin dari Thailand.

Ini menjadi kemenangan perdana bagi Sony karena sebelumnya belum pernah berjumpa. Sedangkan hasil positif atas Vito, sapaan karib Shesar Hiren Rustavito, membuat Arek Suroboyo tersebut membalas kekalahan yang dialami di Indonesia International Series 15 April lalu.

Selain Sony, dari babak kualifikasi tunggal putra, Indonesia juga meloloskan Firman Abdul Kholik. Dia menang atas Kai Schafer (Jerman) 21-13, 12-21, 23-21. Kemudian, pebulu tangkis kidal ini menundukkan Fabio Caponio (Italia) 21-5, 21-9.

Hanya di babak utama, Sony dan Firman bertemu dengan lawan yang berat. Sony langsung menantang unggulan teratas Chou Tien Chen dari Taiwan. Dalam tiga kali pertemuan, bapak dua putri ini tak pernah kalah. Kali terakhir, Sony menyerah di All England 2017 dengan 13-21, 11-21.

Di ajang resmi, Firman dan Ihsan baru sekali berjumpa di Indonesia Masters 2016. Hasilnya, Ihsan menang rubber game 21-15, 9-21, 17-21. (*)

Berharap Kenangan Manis Kembali Terulang

Senin, 16 Juli 2018

Sitthikom Thammasin.(foto: badmintonasia.org)
DUA tahun lalu, Sony Dwi Kuncoro membuat pentas dunia terhentak. Memulai dari babak kualifikasi, dia mampu keluar sebagai juara dalam Singapore Open 2016.

Satu demi satu lawan dibabat habis. Usai lolos ke babak utama, juniornya Anthony Ginting menjadi lawan pertama  yang dipermalukan. Legenda hidup asal Tiongkok Lin Dan dihentikan di semifinal. Puncaknya, di babak final, Sony memupus asa Son Wan-ho dari Korea Selatan dengan tiga game 21-16, 13-21, 14-21.

Sayang, setahun kemudian, Sony tak bisa mengulangi. Bapak dua putri ini langsung tersungkur dalam penampilan perdana usai dikalahkan Lee Dong-keun dari Korea Selatan.

Kini, Sony berharap kenangan manis dua tahun lalu terulang. Hanya, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut tak mau jumawa.

''Fokus satu demi satu pertandingan. Itu yang utama,'' kata Sony saat dihubungi melalui media sosial.

Di babak pertama kualifikasi, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 itu akan ditantang wakil Thailand Sitthikom Thammasin. Dari sisi ranking, Sony masih kalah.

Pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut ada di posisi 60. Ini di atas 20 peringkat dari Sony.

 Di babak kualifikasi tunggal putra, selain Sony ada juga nama Shesar Hiren Rustavito. Hanya, jika keduanya menang di babak I kualifikasi, mereka akan saling bertemu guna berebut tiket babak  utama. (*)

Gapai Tiket Semifinal Dulu

Putri Kusuma Wardani
TIKET semifinal di tangan Indonesia dalam Asia Junior Championships 2018. Ini dipastikan setelah Indonesia menang 3-1 atas Thailand.

Skor pertama diperoleh Putri Kusuma Wardani setelah menang dari Phittayaporn Chaiwan. Putri mengatasi Chaiwan dalam dua game 21-16, 21-17. Namun, kedudukan menjadi imbang 1-1, ketika Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay tak berhasil mengatasi Kunlavut Vitidsarn. Ikhsan kalah 15-21, 15-21 dalam 42 menit.

“Sebenarnya tadi menurut analisis pelatih, memang tunggal putra dan putri mereka lebih unggul. Kekuatan kami ada di ganda, jadi kalau bisa mencuri satu poin dari tunggal,''kata Ricky Soebagdja, wakil manajer Indonesia

 Penampilan dari tunggal putri, ujar dia luar biasa. Pihaknya sangat mengapresiasi.

 ''Kuncinya tadi memang di ganda tidak boleh meleset. Secara keseluruhan penampilan yang di luar harapan adalah tunggal putra. Karena banyak mati sendiri dan pemain Thailand tampak tidak cukup sulit melawan Indonesia,” ucap Ricky seperti dikutip dari media PBSI.

Beruntung di dua partai berikutnya, Indonesia berhasil mengamankan kemenangan. Pasangan ganda putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana dari ganda putra sama-sama dalam sukses mengatasi lawan.

“Game pertama kami sudah main bagus. Tapi game kedua saya mainnya agak kurang yakin malah lawannya jadi berkembang. Itu yang nggak boleh seharusnya,” jelas Rehan usai bertanding di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta.

Petandingan Indonesia v Thailand:
Tunggal Putri:  Putri Kusuma Wardani v Phittayaporn Chaiwan 21-16, 21-17

Tunggal Putra: Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay v Kunlavut Vitidsarn 15-21, 15-21

Ganda Putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Benyapa Aimsaard/Chasinee Korepap 21-17, 21-17

Ganda Putra: Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana v Thanawin Madee/Wachirawit Sothon: 21-14, 21-23, 21-15

Ganda Campuran: Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Phittayaporn Chaiwan/Kunlavut Vitidsarn: (tidak dimainkan) (*)

Gagal Jadi Juara Grup

Minggu, 15 Juli 2018

INDONESIA gagal menjadi juara Grup D Asia Junior Championships 2018. Merah putih menyerah 2-3 kepada Jepang di babak di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta, Minggu (15/7/2018) tersebut.

“Hasil di grup ini Indonesia jadi runner-up. Prediksi lawan Jepang memang ramai. Tapi kalau dilihat penampilan para atlet, bisa dibilang masih belum maksimal,” kata Ricky Soebagdja, wakil manajer tim Indonesia.

Dua poin pertama melayang dari genggaman Indonesia. Ini setelah pasangan ganda campuran, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan tunggal putra, Alberto Alvin Yulianto kalah.

Indonesia sempat menahan laju Jepang setelah Ghifari Anandaffa Prihardika/Pramudya Kusumawardana Riyanto merebut kemenangan 17-21, 21-6 dan 23-21. Mereka mengalahkan Hiroki Midorikawa/Hiroki Nakayama dalam waktu 50 menit.

Sayang di partai keempat, Stephani Widjaja tak berhasil mengatasi Hirari Mizui dengan baik. Stephani kalah dua game langsung, 16-21 dan 7-21 dari Mizui.

Di partai terakhir, pasangan ganda putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti menyumbangkan satu poin buat Indonesia. Mereka sukses menang dari Natsu Saito/Rumi Yoshida dengan skor 21-18 dan 22-20. Hasil pertandingan Agatha/Fadia memperkecil jarak kekalahan Indonesia 2-3 dari Jepang.

“Saat pemilihan atlet kami sudah berdiskusi dengan pelatih, mana yang paling pas. Untuk di tunggal putri, sayang penampilannya tidak sesuai harapan. Ini yang nanti harus dievaluasi penyebabnya,” tambah Ricky.

Meski kalah, Indonesia dipastikan lolos ke babak perempat final sebagai runner up grup D. Selain Indonesia dan Jepang, enam negara lain yang lolos ialah Tiongkok, Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea Selatan, dan India. (*)

Permalukan Penakluk Tontowi/Liliyana

PASANGAN Chris Adcock/Gabriella Adcock jadi mimpi buruk bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Malaysia Open 2018. Keduanya mampu membuat mati kutu pasangan ganda campuran terbaik Indonesia itu.

Tapi, nama  kehebatan Chris/Gabrielle seakan tak ada artinya di depan pasangan muda merah putih Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja. Mereka kalah dua game langsung 12-21, 12-21.

Padahal, di atas kertas Hafiz/Gloria tak terlalu diunggulkan. Ranking mereka , 11, kalah dari pasangan suami istri asal Inggris yang kini ada di posisi keenam dunia tersebut.Ini merupakan pertemuan dari kedua pasangan.

Bagi Hafiz/Gloria kememangan di Negeri Gajah Putih tersebut merupakan gelar perdana. Keduanya baru dipasangkan Oktober tahun lalu.

Pekan lalu, Hafiz/Gloria menjadi sorotan. Keduanya mampu menembus ajang turnamen akbar, Indonesia Open. Sayang, langkah keduanya dihentikan seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang akhirnya keluar menjadi juara.

Kemenangan itu membuat Indonesia sukses membawa pulang dua gelar. Satu lagi posisi terhormat disumbangkan pasangan ganda putri Gresyia Polii/Apriani Rahayu. (*)

Fokus Dulu di Grup

Sabtu, 14 Juli 2018

Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (foto:PBSI)
GENDERANG perang sudah ditabuh Tim Indonesia dalam  Kejuaraan Beregu beregu Asia Junior Championsips 2018. Kemenangan menjadi target yang dibidik saat menghadapi Jepang dan Singapura yang menjadi lawan di Grup D.

“Saya rasa kekuatan cukup baik di junior Indonesia. Tahun lalu Gregoria jadi kartu as kami. Tapi sekarang dengan komposisi tahun ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Seperti Agatha (Imanuella)/(Siti) Fadia (Silva Ramadhanti), tahun lalu ke semifinal, lalu juga Ikhsan yang semakin matang. Jadi kami optimis,” ungkap Manajer Indonesia Susy Susanti.

Apalagi, lanjut dia, target seperti tahun lalu. Yakni masuk finaldan berusaha lebih.

''Tapi kami fokus dulu di grup,” lanjut Susy.

Ajang ini akan bergulir pada 14-17 Juli di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta.

Berikut Skuad Indonesia di Asia Junior Championships 2018:

Tim Putra :
1. Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay
2. Karono
3. Alberto Alvin Yulianto
4. Rehan Naufal Kusharjanto
5. Pramudya Kusumawardana Riyanto
6. Ghifari Anandaffa Prihardika
7. Daniel Marthin
8. Leo Rolly Carnando

Tim Putri :
1. Putri Kusuma Wardani
2. Stephani Widjaja
3. Ribka Sugiarto
4. Febriana Dwipuji Kusuma
5. Siti Fadia Silva Ramadhanti
6. Agatha Imanuela
7. Lisa Ayu Kusumawati
8. Putri Syaikah (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger