www.smashyes.com

www.smashyes.com

Harus Rasakan Turnamen Level Bawah

Rabu, 28 Maret 2018

PP PBSI tahu diri. Induk organisasi bulu tangkis di Indonesia tersebut tak mau memaksakan tunggal putrinya berlaga di level atas.

Setelah mengirim Dinar Dyah Ayustine dkk ke Vietnam International Challenge 2018 dan juara. Kini, harapan serupa terjadi di New Orleans Open 2018 yang dilaksanakan di Prancis.
 Dalam ajang yang masuk kategori super 100 tersebut , di tunggal kaum hawa PBSI mengirimkan Gregoria Mariska Tunjung dan Ruselli Hartawan.

Dengan ranking 49 dunia, Gregoria ditempatkan sebagai unggulan kedelapan. Di babak I, juara dunia junior ini akan ditantang wakil Denmark Julie Dawal. Ini menjadi pertemuan dari kedua atlet. Sementara. Ruselli, yang berstatus nonunggulan, melawan Ksenia Polikarpova.

Sejak digulirkan pada 2012, belum ada wakil Indonesia yang menjadi juara di New Orleans Open. (*)

Bukan Kelasnya Kento

Senin, 26 Maret 2018

DIA menjadi pahlawan saat Jepang untuk kali pertama menjadi juara Piala Thomas 2014. Di semifinal, seorang Kento Momota memastikan kemenangan negaranya atas Tiongkok dengan skor telak 3-0.

Kento mampu mengandaskan perlawanan wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, Du Pengyu, dengan 23-25, 21-18, 21-14. Dua hari kemudian di babak final yang dilaksanakan di Siri Complex Sport, New Delhi, India, (25/5/2014), dia menyumbangkan satu angka berkat keunggulan 21-15, 21-17 atas Chong Wei Feng.

Sayang, petaka terjadi 2016. Federasi bulu tangkis Jepang menjatuhkan sanksi karena terbukti melakukan judi ilegal. Imbasnya, ranking dunianya yang berada di posisi kedua terus merosot.

Saat kembali dari sanksi, kerja keras harus dilakukan pebulu tangkis 26 tahun tersebut. Dia memulai kejuaraan dari babak kualifikasi.
 Gelar juara pun beberapa sempat kembali diraih. Hanya, itu bukan di ajang bergengsi, super series dan super series premier.

 Pada 2018, Kento sempat nihil gelar. Tapi, itu terobati di Vietnam International Challenge.

Dalam final yang dilaksanakan di Hanoi pada Minggu waktu setempat (25/3/2018), Kento menundukkan Goh Giap Chin (Malaysia) dengan dua game mudah 21-9, 21-15. (*) 

Untung Masih Ada Dinar

DINAR Dyah Ayustine menyelamatkan muka Indonesia di Vietnam International Challenge 2018. Dia sukses naik ke podium juara nomor tunggal putri dalam turnamen yang masuk level challenge tersebut.

Dalam final yang dilaksanakan Minggu (25/3/2018) di Hanoi, Dinar mengalahkan Asuka Takahashi dari Jepang dengan tiga game 13-21, 21-16, 21-14. Ini menjadi gelar perdana bagi pebulu tangkis yang digembleng di Pelatnas Cipayung tersebut pada 2018. Bahkan, pada 2017, Dinar juga belum pernah merasakan manisnya naik podium terhormat.

Di Vietnam International Challenge, gelar yang diraih Dinar menghentikan puasa gelar di tunggal putri. Kali terakhir srikandi merah putih yang jadi pemenang di ajang tersebut adalah Hana Ramadhini pada 2013.

Sebenarnya tahun ini, Hana kembali turun. Bahkan, dengan ranking yang dimiliki, 40, dia menempati unggulan teratas.

Sayang, langkahnya terhenti di babak II. Hana dipaksa harus mengakui ketangguhan Liang Ting Yu dari Taiwan dengan rubber game 19-21, 21-12, 17-21. (*)

Tak Percaya Bisa Pertahankan Gelar

Senin, 19 Maret 2018

RAIHAN sukses pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon terus berlanjut. Mereka berhasil naik podium juara di ajang All England 2018 BWF World Tour Super 1000.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Arena Birmingham, Kevin/Marcus mempermalukan rival beratnya, Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark), dengan 21-18, 21-17. Ini membuat pasangan ranking satu dunia ini mempertahanan gelar yang mereka raih tahun lalu.

Kevin/Marcus terus melanjutkan dominasi mereka dengan permainan yang kaya akan pukulan-pukulan ‘ajaib'. Tak jarang penonton berdecak kagum.

“Tentunya senang bisa mempertahankan gelar, apalagi gelar yang bergengsi, jadi luar biasa. Kunci kemenangannya fokus poin demi poin, tidak membuat kesalahan sendiri, seminim mungkin lah kami buat kesalahan, dan selalu fokus,” ujar Kevin setelah laga seperti dikutip media PBSI.

Marcus menambahkan, dia senang sekali bisa juara All England lagi. Apalagi, putra pelatih Kurnia Hu ini tidak menyangka juga bisa juara dua kali.

''Memang agak susah jalannya, tidak gampang banget,” kata Marcus.

Seperti sudah diperkirakan, pertandingan kedua pasangan memang selalu berlangsung sengit. Boe/Mogensen bisa dibilang lawan terberat Kevin/Marcus yang belum terkalahkan sejak China Open Super Series Premier 2017.

“Kami enjoy melakukan semuanya, happy, tidak ada tekanan. Tiap main jadi fokus satu demi satu dan lakukan yang terbaik,” tambah Marcus ketika ditanya rahasia suksesnya dan Kevin.

Pebulu tangkis yang juga akrab disapa Sinyo ini memuji lawan yang tampil lebih baik, tidak seperti pertemuan terakhir di China Open 2017. Buktinya, mereka sudah mendapat poinnya. 

''Mereka sepertinya lebih siap menghadapi kami,” tutur Marcus.


Kemenangan ini sekaligus membuat Kevin/Marcus memperbaiki catatan rekor pertemuan mereka dengan Boe/Mogensen menjadi 4-4.


 Dengan hasil ini, kelima sektor di All England 2018 dimenangkan oleh lima negara yang berbeda

Distribusi Gelar All England 2018

Ganda Campuran
Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang) vs Zheng Siwei/Huang Yaqiong (5/Tiongkok) 15-21, 22-20, 21-16

Tunggal Putri
Tai Tzu Ying (1/Taiwan) vs Akane Yamaguchi (2/Jepang) 22-20, 21-13

Tunggal Putra
Shi Yuqi (7/Tiongkok) vs Lin Dan (6/Tiongkok) 21-19, 16-21, 21-9

Ganda Putri
Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen (3/Denmark) vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (4/Jepang) 21-19, 21-18

Ganda Putra
Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (1/Indonesia) vs Mathias Boe/Carsten Mogensen (2/Denmark) 21-18, 21-17

Peraih Perunggu Olimpiade 2012 Tutup Usia

Jumat, 09 Maret 2018


BULU tangkis Korea Selatan berduka.Salah satu mantan andalanya, Jhung Jae-sung, tutup usia pada Jumat waktu setempat dengan usia yang masih muda, 35 tahun.

Kali pertama, jenazah Jae-sung ditemukan oleh istrinya pada pagi hari. Belum diketahui penyebab kematian mantan pasangan legenda ganda putra dunia, Lee Yong-dae,tersebut. Hasil otopsi akan diumumkan pada Sabtu besok. Hanya di berbagai sumber disebutkan bahwa Jae-sung terkena serangan jantung.

Bersama Yong-dae, mereka merupasalah salah satu pasangan tangguh dunia.  Mereka pernah meraih medali perunggu di Olimpiade London 2012.

Di pesta olahraga empat tahunan tersebut, Jae-sung/Yong-dae dikalahkan Mathias Boe/Cartsen Mogensen (Denmark) di babak semifinal. Namun, di perebutan perunggu, mereka melibas pasangan Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

"Saya sangat sedih mendengar berita itu. Dia selalu fit saat sebagai pemain,'' kata Boon Heong seperti dikutip media Malaysia.

Ucapan belasungkawa juga dilontarkan mantan tunggal putra terkuat dunia asal Malaysia Lee Chong Wei. Dia mendoakan agar istri dan dua anaknya tabah menghadapi kepergiaan Jae-sung.

Selain meraih perunggu Olimpiade London 2012, dia tercatat pernah menjadi finalis Kejuaraan Dunia 2007 dan 2009. (*)

Rombak Pasangan untuk Ikuti Jejak Gresyia/Apriani

Kamis, 08 Maret 2018

SEKTOR ganda putri melakukan bongkar pasang. Tujuannya untuk menemukan komposisi terbaik.

Sebelumnya, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI Eng Hian menemukan kombinasi senior-junior Greysia Polii/Apriyani Rahayu dan Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris yang penampilannya kian membaik. Namun, Eng masih mencari satu hingga dua kombinasi lagi demi mengokohkan skuad ke Piala Uber 2018 dan Asian Games 2018.

Pasangan Nitya Krishinda Maheswari/Yulfira Barkah terpaksa dipisah oleh Eng. Begitu pula Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani.

Kini, Nitya diduetkan dengan Ketut. Sedangkan Anggia bersama Meirisa Cindy Sahputri. Sementara Yulfira akan berpasangan dengan Rosyita Eka Putri Sari yang baru akan come back usai absen panjang akibat cedera yang dialaminya di SEA Games 2017.

“Sampai saat ini saya melihat prestasi Anggia/Ketut belum konsisten, sedangkan mereka sudah cukup lama dipasangkan. Begitu juga Nitya/Yulfira yang progressnya stuck. Sedangkan target saya untuk Nitya adalah bisa mendekati kualitas dan prestasi seperti pada waktu berpasangan dengan Greysia,” jelas Eng seperti dikutip media PBSI.

Dia melihat Nitya dan Ketut bisa saling melengkapi dari segi kualitas individu dan kebutuhan sebagai partner di lapangan.  Yulfira yang merupakan pemain muda, dinilai Eng, masih butuh banyak jam terbang dan pengalaman untuk meningkatkan performanya. Yulfira pun perlu mengasah lagi kemampuannya untuk bersaing di level yang lebih tinggi.

Eng juga berharap Rosyita dapat menyesuaikan diri dengan atmosfer pertandingan yang sudah lama tak dirasakannya dalam beberapa bulan terakhir akibat pemulihan cedera.

“Yulfira masih butuh proses lagi, saya melihat tipe permainan Yulfira lebih cocok dengan Rosyita. Untuk Rosyita, masalah yang ada tinggal melepasakan trauma cedera saja, secara umum kondisi Rosyita sudah pulih,” ujarnya.

Pasangan-pasangan baru akan diberi kesempatan di beberapa turnamen untuk melihat hasil dan progressnya. Setiap turnamen akan ada target untuk pantauan.

''Tetapi khusus Nitya/Ketut tuntutannya tentu lebih tinggi dari pasangan yang lainnya,” beber Eng.

Sejumlah pasangan baru ini memiliki kesempatan untuk tampil di Asian Games 2018 sebagai ganda kedua. Greysia/Apriyani menjadi kandidat terkuat untuk mengisi slot ganda pertama.

“Untuk ganda kedua di Asian Games, masih terbuka untuk siapapun dengan dasar prestasi terbaik. Soal Piala Uber, saya masih melihat dulu kebutuhan dan hasil dari tournamen sampai batas waktu entry by name,” ujar Eng.

Nitya/Ketut, Anggia/Cindy dan Rosyita/Yulfira akan memulai debut mereka di turnamen Osaka International Challenge 2018 dan China Masters 2018 BWF World Tour Super 100. (*)

Bisa Lolos karena Unggul Rekor

HENDRA Setiawan/M. Ahsan memulai debut di German Open 2018 dengan mulus. Keduanya menundukkan wakil Inggris Marcus Ellis/Chris Langridge dengan dua game langsung 21-16, 21-14 di Mulheim-An-Der-Rhur pada Rabu waktu setempat (7/3/2018).

Kemenangan ini mengulangi sukses Hendra/Ahsan saat bertemu lawan yang sama dalam Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta. Ketika itu, mereka juga unggul straight game 21-16, 22-20.

Di babak kedua German Open 2015, Hendra/Ahsan akan menantang unggulan kelima Kim Astrup/Anders Rasmussen dari Denmark.Di atas kertas, wakil Indonesia akan memetik kemenangan.

Alasannya, Hendra/Ahsan tak pernah kalah dalam tiga kali pertemuan. Itu terjadi sebelum keduanya sempat diceraikan oleh PBSI usai Olimpiade Rio Agustus 2016.

Ya, karena sempat mengalami penurunan, keduanya sempat berpisah. Ahsan, yang masih berada di Pelatnas Cipayung, digandengkan dengan Rian Agung. Sedangkan Hendra, yang memutuskan menjadi pebulu tangkis profesional, memilih Tan Boon Heong asal Malaysia sebagai rekannya.

Sayang, penampilan bersama pasangan barunya itu tak memuaskan. Akhirnya, Hendra dan Ahsan pun kembali digandengkan.

Tujuannya agar nomor ganda Indonesia di pentas internasional tetap terjaga. Selain itu, keduanya juga diharapkan mampu melapisi pasangan muda Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon yang kini duduk di nomor satu dunia. (*)

Kesempatan Kedua Hendra/Ahsan

Selasa, 06 Maret 2018

PBSI tak ragu lagi memasangkan Hendra Setiawan/M. Ahsan. Kali ini, keduanya diduetkan di German Open 2018.

Sebelumnya, pasangan juara dunia 2013 dan 2015 tersebut turun di India Open 2018 . Hasilnya, Hendra/Ahsan mampu menembus babak semifinal.

Hanya, langkah ganda senior ini dihentikan juniornya, Kevin Sanjaya/Marcus ''Sinyo'' Gideon. Penampilan tersebut menjadi debut keduanya setelah hampir dua tahun diceraikan.

Lama absen membuat Hendra/Ahsan kini terdampar di peringkat 171 dunia. Padahal, mereka pernah menjadi pasangan nomor satu dunia.

Di di babak I German Open 2018,Hendra/Ahsan ditantang wakil Inggris Marcus Ellis/Chris Langridge. Ini menjadi pertemuan kedua bagi kedua pasangan.

Pertemuan perdana terjadi di Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta. Ketika itu, Hendra/Ahsan menang 21-16, 22-20. Dalam ajang itu, pasangan senior merah putih tersebut akhirnya keluar sebagai juara. (*) 

Kembali Jumpa dengan Finalis Rio 2016

INDONESIA menambah wakil di ganda campuran dalam German Open 2018. Mereka yang lolos ke babak elite itu adalah pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeve Oktavianti.

Di babak kualifikasi yang dilaksanakan di Mulheim-An-Der-Rhur Selasa waktu setempat (6/3/2018), Praveen/Melati menang atas Kristoffer Knudsen/Isabella Nielsen dengan dua game langsung 21-14, 21-11. Satu kemenangan tersebut sudah cukup untuk menemani sesama pasangan Pelatnas Cipayung Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

Di babak utama, tugas berat sudah menghadang Praveen/Melati. Pasangan yang berasal dari satu klub, Djarum Kudus, tersebut bersua dengan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Pasangan Malaysia tersebut merupakan peraih perak Olimpiade Rio 2016. Saat itu, di final, Soon/Ying menyerah kepada wakil Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Pertemuan Praveen/Melati dengan ganda negeri jiran tersebut merupakan kali kedua. Hasilnya, mereka menang di India Open 31 Januari 2018 lalu dengan tiga game 12-21, 21-15, 21-15. (*)    

Panaskan Mesin di German Open

Senin, 05 Maret 2018

DUA tunggal putra Indonesia, Anthony Ginting dan Jonatan Christie, panasi mesin. Keduanya tampil dalam German Open 2018 yang berlangsung pekan ini.

Turnamen tersebut menjadi ajang pemanasan sebelum berlaga di event lebih bergengsi, All England 2018, pekan depan. Tujuannya di kejuarana dunia tak resmi itu Anthony dan Jonatan bisa mengibarkan sang saka Merah Putih.

 Dari undian German Open 2018yang dirilis, di babak I, keduanya berhadapan dengan lawan yang tak terlalu berat. Anthony, yang diunggulkan di posisi kelima, berjumpa dengan wakil kualifikasi. Sedangkan Jonatan, unggulan kedelapan, dijajal wakil India Sai Praneeth.

 Meski unggulan kelima tapi Jonatan pantang menganggap enteng lawan. Praneeth pernah mengalahkan dia di final Thailand Open 2017 dengan 21-17, 21-18, 21-19.

Sejak dilaksanakan 2000, belum ada satu pun wakil Indonesia yang bisa menjadi juara tunggal putra di German Open. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger