www.smashyes.com

www.smashyes.com

Minta Maaf Lewat Video Durasi 51 Detik

Selasa, 31 Juli 2018

KEPUTUSAN mengejutkan sudah diambil Lee Chong Wei. Tunggal putra terbaik Malaysia tersebut sudah memutuskan mundur dari Kejuaraan Dunia 2018 dan Asian Games 2018.

Alasannya, pebulu tangkis 35 tahun tersebut mengalami masalah kesehatan, khususnya pernafasan. Namun, itu tak membuat Chong Wei segera gantung raket.

Melalui tayangan video, dia memastikan akan segera kembali dalam keadaan sehat. Saat ini, atlet nomor dunia dunia tersebut tengah menjalani terapi di Taiwan.

Penampilannya di video tersebut merupakan yang pertama setelah ada kabar kondisi kesehatannya terbanggu dan itu akan sangat mempengaruhi perjalanan karirnya ke depan. ''Saya akan kembali ke lapangan bulu tangkis segera,'' ucap Chong Wei. 

Dalam video berdurasi 15 menit tersebut, yang diperkirakan diambil di sebuah ruamhan di hotel, Chong Wei juga minta maaf kepada publik bulu tangkis Tiongkok karena tidak bisa bertemu dengan mereka yang akan mendukung dalam Kejuaraan Dunia 2018.Permintaan maaf juga disampikan Chong Wei kepada musuh dan yang juga sahabat baiknya, Lin Dan, yang akan meluncurkan produk baru di sela-sela Kejuaraan Dunia 2018.

Dua Juara Dunia Junior Bertemu di Babak II

GREGORIA Mariska Tunjung dan Chen Yu Fei tak jauh beda usianya. Keduanya sama-sama menyandang status juara dunia junior.

Hanya, tahun saat memenangi berbeda. Gregoria naik ke podium terhormat pada 2017 di Jakarta. Sementara Chen yang berasal dari Tiongkok dinobatkan sebagai pemenang setahun sebelumnya di Bibao, Spanyol.

Keduanya pun saling bertemu dua kali. Dalam Kejuarana Dunia Junior 2016, Chen yang menang dengan dua game 23-25,14-21. Tapi, kekalahan itu mampu dibales Gregoria di Indonesia Open 2017 dengan kemenangan 17-21, 21-19, 21-19.

Kini, dua juara dunia junior tersebut kembali bertemu. Ajang pun lebih bergengsi, Kejuaraan Dunia 2018. Gregoria dan Chen akan adu kecerdikan di babak II.

Ini setelah di babak I, keduanya mampu mengalahkan lawan-lawannya di Nanjing, Tiongkok, pada Senin waktu setempat (30/7/2018). Gregoria menang 21-18, 18-21, 21-14 atas pebulu tangkis tangguh Eropa asal Skotlandia Kirsty Gilmour dan Chen memperoleh bye.

Dilihat dari ranking, Gregoria di atas kertas kalah. Saat ini, dia ada di posisi 22 dan Chen di posisi kelima. Hanya melihat grafik permainan, tak menutup kemungkinan wakil merah putih yang akan memetik kemenangan. (*)

Hanya Jojo yang Harus Pulang

Anthony Ginting saat melawan Suppanyu (foto;PBSI)
PENAMPILAN mengecewakan ditunjukan Jonatan Christie. Ditempatkan sebagai unggulan ke-13, pebulu tangkis spesialis tunggal tersebut kalah dua game langsung mudah 12-21, 16-21 dari Daren Liew di Babak I Kejuaraan Dunia 20198 di Nanjing, Tiongkok, pada Selasa waktu setempat (31/7/2018).

Pil pahit itu membuat tunggal putra nomor dunia Indonesia tersebut saling mengalahkan. Pada pertemuan sebelumnya yang juga terjadi pada tahun ini yakni di Malaysia Open, Jojo, sapaan karib Jonatan Christie, unggul straight game 21-18, 21-17.

 Ini membuat lelaki yang pernah membintangi film layar kaca itu menjadi satu-satunya tunggal putra merah putih yang langsung kalah di penampilan perdana. Dua rekannya, Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto, sama-sama memetik kemenangan dan lolos ke babak II.

Anthony, yang diunggulkan di posisi 12, menang 21-19, 21-14 atas wakil Thailand Suppanyu Avihingsanon. Pertemuan di Nanjing ini menjadi yang pertama bagi kedua.

Sedangkan Tommy menghentikan perlawanna Kalle Koljonen (Finlandia) dengan 21-16, 21-14. Putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto tersebut merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang bukan berasal dari Pelatnas PBSI Cipayung. (*)

Mantan Pelatnas Dobrak Dominasi Sirnas

Minggu, 29 Juli 2018

JUARA: Pia (kanan) dan Tiara Rosalia (foto: djarum)
DOMINASI pasangan Nadiya Melati/Dian Fitriani di ajang sirkuit nasional (sirnas) mulai goyah. Setelah hampir selalu menjadi juara, kali ini langkah keduanya tersandung dalam Seri Jabar

Dalam final yang dilaksanakan di Sukabumi pada Sabtu (28/7/2018), Nadiya/Fitriani menyerah dua game langsung 16-21. 10-21 kepada Pia Zebadiah/Tiara Rosalia. Nadiya/Fitriani membela bendera Pertamina. Sementara Pia dan Tiara beda bendera. Pia tetap setia dengan Jaya Raya dan Tiara dengan panji-panji Mutiara Bandung.

Sebelumnya, di semifinal, Pia/Tiara juga menghentikan laju pasangan ratu sirnas lainnya, Devi Tika/Keshya Nurvita Hanadia (Berkat Abadi Banjarmasin) dengan 21-12, 21-15.

Pia dan Tiara merupakan pebulu tangkis yang juga sama-sama pernah digembleng di Pelatnas Cipayung.Hanya, Pia lebih senior dibandingkan pasangannya.

Adik juara Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido tersebut pernah menjadi ganda campyran 10 besar dunia saat berpasangan dengan Fran Kurniawan.

Sementara Tiara merupakan pebulu tangkis 25 tahun yang  pada 2018 ini baru terpental dari Pelatnas Cipayung. (*)

Duh, Ihsan Kalah Lagi dari Wakil Thailand

Sitthikom Thammasin tak alami kesulitan kalahkan Ihsan
PEBULU tangkis Thailand benar-benat jadi momok bagi Ihsan Maulana Mustofa. Tahun ini, dia tiga kali bertemu dengan tunggal Negeri Gajah Putih,julukan Thailand, tiga kali pemuda 22 tahun tersebut menelan kekalahan.

Terakhir yang mengalahkan Ihsan adalah Sitthikom Thammasin dengan dua game yang mudah 10-21, 13-21. Ironisnya, pil pahit tersebut ditelannya di babak final Akita Masters 2018 yang dilaksanakan di Akita, Jepang, pada Minggu (29/7/2018).

Pertemuan Ihsan dengan Sittihom ini merupakan kali ketiga. Sebelumnya, mereka saling mengalahkan. Kegagalan ini membuat Ihsan masih nihil gelar selama 2018.

Hasil yang sama juga dialami pasangan ganda campuran Alfian Eka Prasetyo/Angelica Wiratama. Di final, mereka dihentikan oleh wakil tuan rumah Kohei Gondo/Ayane Kurihara dengan 9-21, 23-21, 17-21.

Untung, dari tiga wakil  yang menembus babak pemungkas masih ada Akbar Bintang Cahyono/Moh Reza Pahlevi. Mereka membawa pulang nomor ganda putra usai melibas ganda Jepang Hirokatsu Hashimoto/Hiroyuki Saeki dengan dua game langsung 21-16, 21-6. (*)

Ranking Sony Kembali Naik

Sony sudah duduk di peringkat 50-an dunia
SONY Dwi Kuncoro memang sudah tak sehebat dulu. Tapi, dia belum pernah mau menyerah untuk tampil di ajang internasional.

 Bahkan, pebulu tangkis yang kini sudah berusia 34 tahun tersebut baru saja menembus semifinal Thailand Open serta lolos ke babak utama Singapore Open 2018.

 Imbasnya, poin yang dikumpulkan dari ajang tersebut cukup mendongkrak ranking bapak dua anak tersebut. Setelah sempat lama berkutat di kisaran 80-an dunia, Sony naik 25 peringkat usai dari Negeri Gajah Putih, julukan Thailand.

 Kemudian, pekan ini, dari rilis yang diluncurkan Kamis (26/7/2018), arek Suroboyo tersebut kembali mengalami lonjakan peringkat. Hanhya, itu tak banyak.

 Sony naik dua setrip ke posisi 53. Ranking terbaik yang diduduki selama 2018.

 Pada 2000-an, Sony merupakan salah satu tunggal putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dia mampu menembus semifinal Olimpiade Athena 2004 dan akhirnya memberikan sumbangan medali perunggu. Juara Asia juga pernah dirasakannya tiga kali di era tersebut.

 Sayang, usia yang terus bertambah dan cedera yang susah diajak kompromi membuat Sony harus meninggalkan Pelatnas Cipayung pada 2013. (*)

Ihsan Melawan Kutukan

Ihsan Maulana Mustofa menembus final
KANS Ihsan Maulana Mustofa mengakhiri paceklik gelar sudah di depan mata. Pebulu tangkis masa depan Indonesia tersebut mampu menembus babak final Akita Masters 2018.

Dalam pertandingan semifinal yang dilaksanakan di Akita, Jepang, pada Sabtu waktu setempat, Ihsan menang rubber game 14-21, 21-14, 21-15 atas Yu Igarashi dari Jepang. Di babak final, tunggal ketiga Indonesia di ajang Piala Thomas 2018 tersebut akan menghadapi tantangan wakil Thailand Sitthikom Thammasin. Sebelumnya, dia menghentikan laju mantan peringkat kedua dunia asal Denmark Jan O Jorgensen dengan straight game 21-19, 21-16.

 Bagi Ihsan, pertemuan dengan Sitthikom di Negeri Sakura, julukan Jepang, kali ini akan menjadi kali ketiga. Dalam dua kali pertemuan lalu, keduanya saling berbagi kemenangan.

 Pada 2013, saat masih sama-sama di junior, Sitthikom menang dengan dua game langsung 21-15, 21-12. Kemudian tiga tahun lalu, giliran Ihsan yang unggul di Malaysia Masters dengan 21-19, 21-5.

 Hanya, pada 2018 ini, Ihsan kurang beruntung jika bertemu dengan wakil Thailand. Dua kali dia menelan kekalahan dari wakil Negeri Gajah Putih, yakni oleh Kanthapon Wangchaoren di Thailand Open dengan 14-21, 13-21 dan di Malaysia Masters oleh Suppanyu Avihinhgsanon dengan 21-7, 19-21, 19-21. (*)

Chong Wei Mundur dari Kejuaraan Dunia dan Asian Games

Jumat, 27 Juli 2018

KEPUTUSAN mengejutkan diambil Lee Chong Wei. Tunggal putra terbaik Malaysia tersebut memutuskan mundur dari dua kejuaraan besar, Kejuaraan Dunia di Nanjing, Tiongkok, dan Asian Games di Indonesia.

Padahal, dua ajang tersebut sudah ada di depan mata. Kejuaraan Dunia dilaksanakan 27 Juli-5 Agustus dan Asian Games dimulai 18 Agustus.

Chong mundur dengan alasan kesehatan. Dia mengalami masalah dengan pernafasan.

''Dengan menyesal, Datuk Lee telah memberikan informasi kepada BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) kondisinya lagi tidak bagus karena mengalami masalah dengan pernafasan,'' tulis BAM dalam pernyataan seperti dikutip dari media Malaysia.

Dokter, ujar BAM, menganjutkan kepada atlet 34 tahun itu untuk istirahat dan menjalani perawatan. Akibatnya, Chong Wei tak boleh menjalani aktivitas fisik yang berat mininalk dalam jangka waktu satu bulan.

BAM juga meminta kepada publik untuk menghormati keputusan Chong Wei usai menjalani penyembuhan.

 ''Kita berdoa agar proses penyembuhannya bisa berjalan cepat,'' tulis BAM. (*)

Kaki Ihsan Sudah di Semifinal

Ihsan Maulana Mustofa semakin dekat ke tangga juara (foto:djarum)


SUDAH banyak turnamen yang diikuti oleh Ihsan Maulana Mustofa. Tapi, langkah di Akita Masters 2018 bisa jadi yang terjauh.

Dalam ajang yang menyediakan hadiah total YSD 75 ribu tersebut, Ihsan sudah sampai babak semifinal. Artinya, tinggal dua langkah lagi, Ihsan akan menjadi juara.

Tiket semifinal berhasil diraih Ihsan usai menang 21-16, 24-22 atas pebulu tangkis Taiwan Yang Chih Chieh di Akita, Jepang, pada Jumat watu setempat (27/7/2018). Untuk bisa menembus babak final, dia harus bisa menyingkirkan Yu Igarashi dari Jepang.

Di atas kertas, Ihsan bisa menang. Rankingnya, 40, masih  lebih bagus 14 setrip dibandingkan lawan. Hanya, tipe pebulu tangkis Jepang yang terkenal tak mudah menyerah bisa merepotkan Ihsan.

Sukses Ihsan menembus semifinal gagal diikuti wakil Indonesia lainnya, Chico Aura. Dia dihentikan mantan tunggal terbaik Denmark yang pernah menempati ranking dua dunia, Jan O Jorgensen, dengan tiga game 21-19, 19-21, 21-8. (*)

Tantang Mantan Ranking 2 Dunia

Kamis, 26 Juli 2018

Chico Aura Dwi (foto;PBSI)
MUNGKIN ini tak pernah terbayang di benak Chico Aura Dwi. Dia akan berjumpa dengan seorang mantan pebulu tangkis ranking dua dunia Jan O Jorgensen dalam sebuah ajang yang bukan level atas.

Itu setelah Chico memetik kemenangan di babak III Akita Masters 2018. Dalam pertandingan yang digelar di Akita pada Kamis (26/7/2018), pebulu tangkis Pelatnas Cipayung ini menang dua game 21-19, 21-17 atas Seong Hyun-son dari Korea Selatan.

Sementara, Jorgensen dipaksa bertarung tiga game 16-21, 21-14, 21-14 untuk menundukan wakil Jepang Riichi Takeshita.

Dari sisi ranking dan pengalaman, Chico tak ada apa-apanya. Saat ini, dia ada di ranking 240 dunia. Sedang Jorgensen di ranking 49 dunia.

Hanya, dari sisi stamina bisa menjadi nilai lebih Chico.Dengan usia 10 tahun lebih muda, atlet asal PB Exist tersebut bisa menerapkan permainan yang bisa menguras tenaga Jorgensen.

Selain Chico, di babak perempat final tunggal putra, Indonesia juga meloloskan Ihsan Maulana Mustofa. Di babak III, unggulan kedua ini menghentikan perlawanan Takuma Ueda dari Jepang dengan 21-13, 21-18. (*) 

Tetap Ingin Ada Yang Juara Dunia

Para atlet bersama Susu Susanti (foto: PBSI)
INDONESIA memang tak tampil dengan kekuatan penuh dalam Kejuaraan Dunia 2018. Tapi, bagi merah putih ajang yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, pada 30 Juli - 5 Agustus 2018 tetap dipandang penting.

Indonesia mengirim 29 pebulu tangkis di turnamen yang akan dihelat di Nanjing Youth Olympic Games Sports Park Arena. Beberapa diantaranya adalah pemain-pemain muda seperti pasangan ganda campuran Yantoni Edi Saputra/Marsheilla Gischa Islami dan pasangan ganda putri junior, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela.Bagi sejumlah pemain seperti Yantoni/Gischa, Fadia/Agatha, ini merupakan kejuaraan dunia pertama bagi mereka.

"Ikut kejuaraan dunia pertama kalinya, tentunya senang dan saya harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan. Persiapan jelang kejuaraan dunia pasti beda dengan kejuaraan lain, latihannya lebih intens dan ada program khusus," kata Gischa kepada situs PBSI.

 Nomor ganda putra masih menjadi andalan, pasangan ranking satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, mengincar gelar di kejuaraan dunia tahun ini. Sayang, pasangan ganda campuran juara bertahan, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, tidak ambil bagian di kejuaraan dunia tahun ini karena tengah fokus mempersiapkan diri menuju Asian Games 2018.

"Para atlet sudah menunjukkan siap bertanding. Kami berharap mereka bisa memberikan yang terbaik. Kali ini memang pasukan-pasukan muda yang turun, tetapi kami tetap berharap dan punya keyakinan," kata Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI.

 Target PBSI, ungkanya, satu gelar. Harapannya bisa lebih dari satu.

''Kami tidak memfokuskan pasti dari ganda putra, bisa dari sektor mana saja. Tapi kalau peluang memang paling besar dari ganda putra, ganda campuran juga berpeluang, begitu juga ganda putri. Tanpa bermaksud mengecilkan tunggal putra dan tunggal putri, justru ini jadi penyemangat dan harus bisa membuktikan kalau mereka juga mampu," ucap Susy.

Para pemain menjalani program persiapan selama kurang lebih tiga pekan, usai mereka ikut turnamen Indonesia Open 2018. Namun, ada beberapa pebulu tangkis yang mengikuti sejumlah turnamen seperti Thailand Open 2018 dan Asia Junior Championships 2018.

 Tim Indonesia akan bertolak ke Nanjing pada Sabtu (28/7)  menggunakan maskapai Cathay Pacific, nomor penerbangan CX 718 pada pukul 08.15. WIB.(*)

Daftar Wakil Indonesia di Kejuaraan Dunia 2018:
Tunggal Putra: Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Tommy Sugiarto

Tunggal Putri: Fitriani, Gregoria Mariska Tunjung

Ganda Putra: Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso

 Ganda Putri: Greysia Polii/Apriyani Rahayu, Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela

 Ganda Campuran: Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Ronald Alexander/Annisa Saufika, Yantoni Edi Saputra/Marsheilla Gischa Islami


Yahya Pertahankan Emas ASG 2018

Rabu, 25 Juli 2018

Yahya (atas dua dari kiri) di podium (foto:luluk hadiyanto)
BACK To Back. Itulah yang dilakukan Nur Yahya Ady Velani dalam ASEAN Schoo Games 2018.

Untuk kali kedua, pebulu tangkis asal Surabaya tersebut mampu meraih emas di nomor tunggal putra. Dalam final yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (25/7/2018), Yahya, sapaan karib Nur Yahya Ady Velani, menghentikan ambisi wakil tuan rumah Jacky Kok dengan tiga game yang ketat 21-12,20-22, 21-19.

 ''Perjuangan Nur Yahya cukup berat. Dengan kaki berdarah, dia bisa mempertahankan emas ASG 2018,'' ungkap Pelatih Bulu Tangkis Asian School Games 2018.

Di game pertama, ungkap dia, Yahya bermain sangat baik. Dia bisa mengendalikan permainan.

''Mainnya tadi sudah mampu mengontrol dengan baik di game pertama.  Namun di game kedua, Yahya terlalu santai, tidak mempercepat tempo permainan di saat unggul 19-15,'' ujar Luluk.

Akibatnya, terang dia, lawannya mampu mengejar. Di game ketiga,saling kejar mengejar angka.

 ''Namun, keberuntungan masih berpihak pada Yahya,'' ucap Luluk yang pernah menjadi ganda nomor satu dunia bersama Alvent Yulianto tersebut. (*)

Bukan Lagi di Turnamen Level Atas

Jan O Jorgensen (foto:badminton photo)

POSISI nomor dua dunia pernah diduduki Jan O Jorgensen. Juara Piala Thomas dan Eropa juga disabet.

Tapi, kini pebulu tangkis 30 tahun tersebut harus rela bermain di turnamen level bawah. Buktinya, Jorgensen tampil dalam Akita Masters 2018.

Ini dilakukan untuk mencari poin guna mendongkrak rankingnya. Saat ini, Jorgensen terpuruk di posisi 46 dunia.

Laju lelaki asal Denmark tersebut sudah sampai babak III. Sebelumnya, Jorgensen, yang diunggulkan di posisi kelima, dipaksa bertarung tiga game 21-19, 18-21, 21-17 oleh wakil Taiwan Hsueh Hsuan Yi. 

Di babak ketiga, juara Eropa 2014 tersebut akan ditantang wakil tuan rumah Riichi Takeshita. Ini menjadi pertemuan pertama bagi keduanya.

Dari sisi ranking, Jorgensen masih unggul. Rankingnya jauh di atas wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, yang terpuruk di posisi 139.

Di tunggal putra ini, Indonesia sudah meloloskan Firman Abdul Kholik, Chico Aura Dwi, Panji Ahmad Maulana, dan Ihsan Maulana Mustafa. (*)

Masih Bisa Juara meski hanya Satu

Minggu, 22 Juli 2018

SATU gelar juara berhasil dimiliki Indonesia pada Asia Junior Championships 2018. Ini dipastikan melalui kemenangan pasangan ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiartousai mengalahkan Pearly Koong Le Tan/Ee Wei Toh, Malaysia, dengan 21-12, 21-16 di Jaya Raya Hall di Ciputat, Tangerangm Banten, Minggu (22/7/2018).

“Alhamdulillah, senang dan bersyukur. Tapi nggak boleh cepat puas,” kata Febriana ditemui usai pertandingan seperti dikutip media PBSI.

Dari pelatih, ujarnya, tidak ada target. Tapi, tambah Febriana,m dari diri sendiri yang memasang target.

''Alhamdulillah bisa menang, tapi masih banyak turnamen kedepannya, nggak boleh langsung puas,” ujar Ribka menambahkan.

 Febriana/Ribka tampil percaya diri dalam merebut poin demi poin. Dalam waktu 20 menit, keduanya membungkus kemenangan untuk merah putih.

“Di lapangan perasaan tegang pasti ada, tapi harus bisa diatasi. Kami tadi main lepas aja, nggak mikir menang kalah, hasil sudah ada yang menentukan,” ujar Ribka.

Dengan demikian, Indonesia berhasil memperoleh empat medali, dengan satu emas dan tiga perunggu. Sebelumnya tiga perunggu diraih oleh Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, Pramudya Kusumawardana/Ghifari Anandaffa Prihardika dan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti. (*)

Untung Masih Ada Hendra/Ahsan

INDONESIA batal malu di Singapore Open 2018. Pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan naik ke podium juara.
Di babak final, Minggu (22/7/2018) di Singapore Indoor Stadium, mereka menundukan pasangan muda Tiongkok Ou Xuanyi/Xiangyu Ren 21-13, 21-19. Bagi Ahsan/Hendra ini gelar pertama kalinya sejak dipasangkan kembali awal tahun 2018 ini.

“Pastinya kita senang dengan hasil ini bisa juara lagi, sejak tahun beberapa tahun lalu dan kali ini juara lagi. Untuk pertandingan tadi walau kita mendominasi tapi tak mudah, karena kita harus tetap terus fokus dan berusaha agar lawan tidak berkembang mainnya.” Ujar Ahsan.

 Sebelumnya, pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir harus puas hanya meraih posisi runner-up. Unggulan teratas  ini ditaklukan pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai dalam pertarungan dua game langsung 19-21, 18-21.

Bagi Tontowi/Liliyana ini kekalahan pertama mereka dari pasangan Malaysia itu. Diakui Liliyana, meski penampilan hari ini cukup baik tapi fokus dilapangannya kurang di jaga.

“Hasil ini menjadi bahan koreksi buat kita. Saya pribadi juga sudah bersyukur juga bisa sampai final juga. Tapi tetap namanya sudah di final, kita pastinya berusaha ingin menang juga. Memang tinggal sedikit lagi, kita tadi bisa menang hanya fokusnya aja. Mungkin ini faktor kelelahan, karena minggu lalu ikut di Indonesia Open dan persiapan hanya seminggu kurang.”sahut Liliyana.

Dengan hasil ini, dia tetap bersyukur bisa sampai final dan menatap ke depannya sebagai persiapan untuk Asian Games.(*)

Dari Ciputat Langsung ke Nanjing

Sabtu, 21 Juli 2018

Agatha Imanuela/Siti Fadiah (foto: PBSI)
AGATHA Imanuela/Siti Fadiah gagal mengantarkan Indonesia meraih juara dalam Asian Junior Championship 2018. Tapi, mereka tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan.

 Ini karena pengalaman besar segara didapat keduanya. Ya, Agatha/Siti harus segera pergi ke Nanjing, Tiongkok.

 Mereka akan tampil dalam Kejuaraan Dunia Senior yang dilaksanakan 30 Juli-5 Agustus tersebut. Tapi, Agatha/Siti tentu tak ditargetkan bisa melangkah jauh.

 Di babak kedua, mereka sudah dihadang unggulan keempat Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto. Itu pun kalau di babak I Agatha/Siti bisa menundukkan Selena Piek/Cheryl Seinen dari Belanda.

 Di nomor ganda putri ini, Agatha/Siti hanya menjadi pendamping bagi para seniornya. Tumpuanakan diberikan kepada Greysia Polii/Apriyani Rahayu. (*)

Tinggal Berharap di Ganda Putri

ASA: Febriana Dwi Puji/Ribka Sugiarto (foto:PBSI)
ASA Indonesia di Asian Junior Championship 2018 tinggal bergantung kepada pasangan ganda putri Febriana Dwi Puji/Ribka Sugiarto. Ini setelah rekan-rekannya yang lain bertumbangan di babak semifinal dalam pertandingan yang dilaksanakan di Jaya Raya Hall Sport di Ciputat, Tangerang, Banten, pada Sabtu (21/7/2018).

Febriana/Ribka, yang ditempatkan sebagai unggulan keempat, mempermalukan unggulan teratas Liu Xuanxuan/Yuting Xia dari Tiongkok dengan rubber game 25-23, 14-21, 21-15. Pertandingan kedua pasangan ini memakan waktu 1 jam lima menit.

Di babak pemungkas, mereka akan dijajal ganda Malaysia Pearly Koong Eei Wei Toh yang di semifinal menunduan wakil Indonesia lainnya yang juga unggulan kedua Agatha Imanuela/Siti Fadia dengan 21-15, 23-21.

Kekalahan juga terjadi di tunggal putra. Andalan Indonesia di nomor ini, Ikhsan Leonardo, menyerah mudah dalam dua game 7-21, 14-21 kepada Lakshya Sen. Hal sama juga  menimpa pasangan ganda putra Ghifari Anandaffa/Pramudya Kusumawardhana yang dihentikan unggulan teratas Di Zijian/Wang Chang (Tiongkok) 21-15, 22-20.

Jika menang di ganda putri, gelar itu juga mampu menjadi pengobat kegagalan di beregu. Di  kelompok itu, langkah Indonesia dihentikan Tiongkok di semifinal. (*)

Mengejar Sejarah Lima Tahun Lalu

Hendra/Ahsan (kanan) menyalami Angga/Rian (foto;PBSI)
SENIORITAS memegang peran besar. Buktinya, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mampu mengalahkan juniornya dalam babak semifinal Singapore Open 2018.

Di ganda putra, Hendra/Ahsan menghentikan perlawanan Angga Pratama/Rian Agung Saputra dengan dua game 21-16, 21-13 pada Sabtu waktu setempat (21/7/2018). Ini menjadi kemenangan kedua dalam tiga pertemuan. Dalam pertemuan sebelumnya, Hendra/Ahsan kalah 20-22, 19-21 dari Angga/Rian di Australia Open 2013.

Di babak final, mantan juara dunia itu akan berjumpa dengan wakil Tiongkok Ou Xuanyi/Xiangyu Ren yang menundukkan rekannya sendiri Han Chengkai/Zhou Haodong 21-17, 26-24.Bagi Hendra/Ahsan pertandingan tersebut bakal menjadi pertemuan perdana.

Sementara, Tontowi/Liliyana menang 26-24, 21-17 atas Bintang Akbar Cahyono/Winny Oktavina. Di babak final, pasangan yang baru saja menjadi juara Indonesia Open 2018 tersebut dijajal wakil Malaysia Goh Soon Huat/Shevon Jemie. Unggulan kedua ini melibas Dechapol/Sapsiree (Thailand) dengan 21-18, 21-14.

Kans bagi Indonesia meraih juara tetap terbuka. Menariknya, Hendra/Ahsan dan Tontowi/Liliyana pernah sama-sama naik ke podium terhormat di Negeri Singa, julukan Singapura. Itu terjadi pada 2013. (*)


Juara Bertahan Sudah Pulang Duluan

Jumat, 20 Juli 2018

Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti (foto:PBSI)

JUARA bertahan ganda campuranAsia Junior Championships tersingkir.
Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti terhenti di babak perempat final Asia Junior Championships 2018. Rehan/Fadia tak berhasil mengulangi kesuksesannya di tahun lalu, setelah kalah dari wakil Korea, Chan Wang/Na Eun Jeong 21-16, 16-21, 18-21 di Jaya Raya Sport Hall, Jakarta, Kamis (20/7/2018).

“Tahun lalu Rehan/Fadia masih baru di junior, jadi mereka bisa main lepas, nothing to lose. Tahun ini mungkin karena mereka menjadi tumpuan. Tapi tetap harus dilawan. Game kedua, game ketiga sudah kelihatan sekali mentalnya tertekan, terutama Fadia tadi paniknya kelihatan,” ujar Nova Widianto, pelatih ganda campuran yang mendampingi.

Tapi hasil itu, jelas dia, bagus juga untuk mengukur kemampuan mereka di Kejuaraan Dunia Junior nanti. Awalnya, prediksi Nova, Tiongkok dan Jepang yang cukup kuat.

''Tapi ternyata di delapan besar ini juga kekuatan sudah merata. Sebelum AJC ini kan Tiongkok dan Jepang yang kelihatan menguasai, Koreanya tidak terlalu kelihatan,” tambah Nova.

Hasil itu menyisakan catatan penampilan Rehan/Fadia yang harus diperbaiki. Namun Nova yakin, anak didiknya ini mampu bersaing dan memberikan penampilan terbaiknya di Kejuaraan Dunia Junior mendatang.

''Penampilan mereka akan terus diperbaiki. Secara teknik, Rehan powernya masih kurang, harus ditingkatkan lagi. Harus siap untuk menghadapi lawan yang nggak gampang mati. Tapi di Kejuaraan Dunia Junior nanti kami optimis. Mereka akan dipersiapkan lagi,” kata Nova.

Selain Rehan/Fadia, pasangan ganda campuran lainnya, Pramudya Kusumawardana Riyanto/Ribka Sugiarto juga harus menelan kekalahan. Pramudya/Ribka kalah dari Guo Xinwa/Liu Xuanxuan (Tiongkok) 14-21, 20-22.

Dengan demikian, babak semifinal Asia Junior Championships 2018 harus berjalan tanpa wakil ganda campuran Indonesia. (*)

Ladeni Tantangan Junior

Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandouw
SATU tiket final nomor ganda campuran di Singapore Open 2018 menjadi milik Indonesia. Dua wakil merah putih akan saling bertemu di babak semifinal.

Satunya pasti adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Ini karena mereka merupakan unggulan teratas.

Hanya, lawan yang dihadapi di babak semifinal masih asing di telinga publik bulu tangkis. Siapa? Mereka adalah Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandouw.

Di babak perempat final yang dilaksanakan di Singapore Indoor Stadium, pasangan yang kini berada di ranking 64 dunia tersebut menundukkan Liao Min Chun/Chen Hsiao Huan dari Taiwan dengan straight game 21-10, 21-13.

Sementara Tontowi/Liliyana tak mengalami kesulitan menundukkan wakil Hongkong Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah dengan dua game mudah 21-16, 21-15. Kemenangan ini memperlebar kemenangan mereka. Dalam delapan kali perjumpaan, Tontowi/Liliyana menang enam kali dan pernah dua kali mengalami kekalahan.

Sayang, sukses dua pasangan ini tak bisa iikuti Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Juara dunia junior 2017 tersebut dihentikan pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai dengan 17-21, 13-21.

Tontowi/Liliyana sudah dua kali menjuarai Singapore Open yakni pada 2011dan 2013. (*)

Mimpi Buruk Chong Wei Bisa Terulang

Kamis, 19 Juli 2018


Brice Laverdez dua kali mengalahkan Lee Chong Wei
PADA 2017, Lee Chong Wei datang dengan ambisi besar. Pebulu tangkis tunggal putra andalan Malaysia ini diunggulkan di tempat kedua dalam ajang yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, tersebut.

Tapi, kenyataan berkata lain. Jangankan menembus final, Chong Wei sudah tersungkur di babak I. Lawan yang mengalahkannya adalah Brice Laverdez asal Pancis dengan 19-21, 24-22, 17-21.

Pada 2018, mimpi tersebut bisa kembali terulang. Chong Wei, yang kini sudah berusia 35 tahun, kembali berjumpa dengan Brice dalam Kejuaraan Dunia yang dilaksanakan di Nanjing, TIongkok, 30 Juli-5 Agustus tersebut.

Sekretaria BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia) Datuk Ng Chin Chai percaya bahwa Chong Wei akan tetap di treknya. Apalagi, dia tak bertemu dengan Lin Dan dkk dari Tiongkok.

''Memang tak mudah mengalahkan atlet Tiongkok di turnamen-turnamen besar,'' jelas lelaki yang hadir dalam undian Kejuaraan Dunia 2018 yang dilaksnakan Rabu (18/7/2018).

Sebelumnya, Chong Wei belum pernah menjadi juara dunia. Hanya, dia sudah tiga kali menembus babak final, 2011, 2013, dan 2015.

Dalam Kejuarana Dunia 2018 nomor tunggal putra ini, Indonesia diwakili Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Tommy Sugiarto. (*)

Kembali ke Pangkuan Tiongkok

KEANGKERAN Tiongkok di nomor beregu junior belum tergoyahkan. Negeri Panda ini kali kesekian mampu menjadi juara Asia.

Dalam final yang dilaksanakan di Jaya Raya Sport Hall, Jakarta, Sabtu (17/7/2018), Tiongkok menghentikan perlawanan Jepang dengan skor 3-0. Kemenangan  negeri terpadat penduduknya di dunia tersebut dimulai dari pasangan ganda campuran Guo Xinwa/Liu Xuanxuan yang menang dua game langsung 21-19, 21-14 atas Hiroyuki Midorikawa/Natsu Saito.

Kemudian, tunggal putra andalan mereka, Li Shifeng juga unggul straight game 21-16, 21-15 atas Taiki Kato. Tiongkok menutup perlawanan Negeri Sakura, julukan Tiongko,, melalui pasangan ganda putra Di Zijian/Wang Chang yang menghentikan perlawanan Hiroyuki Midorikawa/Hiroyuki Nakayama dengan rubber game 20-22, 21-9, 21-12.

Dua partai lainnya, Zhiyi Wang melawan Hirari Mizui (tunggal putri) dan  Liu Xuanxuan/Yuting Xia dengan Natsu Saito/Rumi Yoshida (ganda putri) tak jadi dilaksanakan.

Tahun lalu, Tiongkok gagal meraih gelar setelah empat tahun beruntun menjadi juara. Pada 2017, posisi terhormat jatuh ke tangan Korea Selatan yang mengalahkan Indonesia. Merah Puth sendiri tahun ini dihentikan Tiongkok di babak semifinal. (*)

Juara Dunia Junior Pulangkan Unggulan Kelima

Rinov Rivaldy /Pitha Haningtyas Mentari (foto;PBSI)
CAPAIAN besar dibukukan Rinov Rivaldy /Pitha Haningtyas Mentari pada 2017. Mereka mampu keluar sebagai juara dunia junior nomor ganda campuran.

Sayang, titel itu seakan kurang berarti di level senior. Keduanya belum bisa meraih prestasi.

 Rinov/Mentari selalu tersungkur sebelum menembus babak final. Capaian terbaik adalah menembus babak semifinal Vietnam International Challenge 2018.

Kini, keduanya kembali menempa kemampuan di Singapore Open. Langkah Rinov/Mentari dalam ajang berhadiah total USD 355.000 tersebut sudah sampai perempat final.

Pada babak II yang dilaksanakan di Singura pada Kamis waktu setempat (19/7/2017), pasangan yang  memulai langkahnya dari babak kualifikasi tersebut menumbangkan unggulan kelima asal Jerman Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich dengan 13-21, 21-14, 21-15..

 “Hari ini mainnya masih di bawah performance, masih 60% lah belum setabil. Lepas game pertama, pikiran masih kosong dan menang angin jadi cangung. Game dua dan game tiga, lebih nekat lagi mainnya dan lebih cari poin banyak. Kuncinya kemenangan tadi, yakin aja sih dengan kemampuan kita sendiri, pasti bisa,” kata Rinov seperti dikutip dari media PBSI.

Rinov/Mentari kembali akan menantang pasangan unggulan ke dua Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai (Malaysia) di babak perempat final nanti. Keduanya tetap optmistis bisa kembali memetik kemenangan.

Selain pasangan Rinov/Mentari yang lolos ke babak perempat final, ada juga pasangan unggulan teratas Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka mengalahkan pasangan tuan rumah Danny Bawa Chrisnanta/Wong Jia Ying Crystal. (*)

Hanya sampai Semifinal

Selasa, 17 Juli 2018

Ikhsan Rumbay merayakan kemenangan (foto;PBSI)
AMBISI Indonesia menembus final Asia Junior Championships 2018 kandas. Langkah penerus Taufik Hidayat tersebut dihentikan Tiongkok dengan 1-3 pada Senin (16/7). di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta.

Junior merah putih kehilangan poin pertamanya usai Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti kalah 21-17, 17-21, 23-25 dari Guo Xinwa/Liu Xuanxuan. Ghifari/Fadia sebenarnya sempat membuka peluang, dengan merebut game pertama mereka. Sayang setelahnya, Ghifari/Fadia kalah di game dua dan tiga.

Tertinggal 0-1 tak membuat Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay patah semangat. Ikhsan berhasil membawa Indonesia untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1, setelah menang 21-18, 21-14 dari Bai Yupeng.

Namun akhirnya, kemenangan rupanya bukan milik Indonesia untuk kali ini. Indonesia harus menerima kekalahan setelah dua wakil berikutnya gagal merebut merebut poin. Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana dan Putri Kusuma Wardani sama-sama kalah dua game langsung dari lawan.

“Tadi pagi lawan Thailand dia mendapatkan lawan yang berat, dan bisa mengatasi. Di pertandingan kedua ini dia juga dapat lawan berat lagi dan menjadi salah satu poin penentu Indonesia. Tapi saya lihat dia belum bisa lebih tenang. Moment pembukaannya sebenarnya sudah bagus, tapi belum bisa mempertahankan tempo dan fokus. Sehingga begitu dapat bola yang nggak enak, dia masih gampang goyang. Tapi kalau saya lihat dia sudah cukup maksimal,” kata Jeffer Rosobin, pelatih tunggal putri, mengenai penampilan Putri Kusuma Wardani.

Dengan demikian Tiongkok lah yang berhasil maju ke babak final. Mereka kemudian akan menghadapi Jepang di laga puncak tersebut.

Hasil Lengkap Pertandingan Indonesia v Tiongkok:

Ganda Campuran: Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Guo Xinwa/Liu Xuanxuan: 21-17, 17-21, 23-25

Tunggal Putra:  Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay v Bai Yupeng: 21-18, 21-14

Ganda Putra:  Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana vs Di Zijian/Wang Chang: 14-21, 20-22

Tunggal Putri :  Putri Kusuma Wardani v Wang Zhiyi: 14-21, 13-21

Ganda Putri: Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Liu Xuanxuan/Yuting Xia: (tidak dimainkan) (*)

Sony Langsung Ketemu Unggulan Teratas

Chou Tien Chen, unggulan teraras di Singapore Open (foto;BWF)
TIKET ke babak utama Singapore Open 2018 sudah di tangan Sony Dwi Kuncoro. Kemenangan dua game langsung 21-19, 21-10 atas mantan rekannya dulu di Pelatnas PBSI Shesar Hiren Rustavito di Singapura pada Selasa waktu setempat (17/7/2018) membuat dia bisa berlaga di babak elite.

Sebelumnya, untuk bisa lolos ke babak utama, Sony memang butuh dua kemenangan. Kemenangan perdana juga diraihnya dua game yang ketat 21-18, 21-18 atas Sitthikom Thammasin dari Thailand.

Ini menjadi kemenangan perdana bagi Sony karena sebelumnya belum pernah berjumpa. Sedangkan hasil positif atas Vito, sapaan karib Shesar Hiren Rustavito, membuat Arek Suroboyo tersebut membalas kekalahan yang dialami di Indonesia International Series 15 April lalu.

Selain Sony, dari babak kualifikasi tunggal putra, Indonesia juga meloloskan Firman Abdul Kholik. Dia menang atas Kai Schafer (Jerman) 21-13, 12-21, 23-21. Kemudian, pebulu tangkis kidal ini menundukkan Fabio Caponio (Italia) 21-5, 21-9.

Hanya di babak utama, Sony dan Firman bertemu dengan lawan yang berat. Sony langsung menantang unggulan teratas Chou Tien Chen dari Taiwan. Dalam tiga kali pertemuan, bapak dua putri ini tak pernah kalah. Kali terakhir, Sony menyerah di All England 2017 dengan 13-21, 11-21.

Di ajang resmi, Firman dan Ihsan baru sekali berjumpa di Indonesia Masters 2016. Hasilnya, Ihsan menang rubber game 21-15, 9-21, 17-21. (*)

Berharap Kenangan Manis Kembali Terulang

Senin, 16 Juli 2018

Sitthikom Thammasin.(foto: badmintonasia.org)
DUA tahun lalu, Sony Dwi Kuncoro membuat pentas dunia terhentak. Memulai dari babak kualifikasi, dia mampu keluar sebagai juara dalam Singapore Open 2016.

Satu demi satu lawan dibabat habis. Usai lolos ke babak utama, juniornya Anthony Ginting menjadi lawan pertama  yang dipermalukan. Legenda hidup asal Tiongkok Lin Dan dihentikan di semifinal. Puncaknya, di babak final, Sony memupus asa Son Wan-ho dari Korea Selatan dengan tiga game 21-16, 13-21, 14-21.

Sayang, setahun kemudian, Sony tak bisa mengulangi. Bapak dua putri ini langsung tersungkur dalam penampilan perdana usai dikalahkan Lee Dong-keun dari Korea Selatan.

Kini, Sony berharap kenangan manis dua tahun lalu terulang. Hanya, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut tak mau jumawa.

''Fokus satu demi satu pertandingan. Itu yang utama,'' kata Sony saat dihubungi melalui media sosial.

Di babak pertama kualifikasi, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 itu akan ditantang wakil Thailand Sitthikom Thammasin. Dari sisi ranking, Sony masih kalah.

Pebulu tangkis Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, tersebut ada di posisi 60. Ini di atas 20 peringkat dari Sony.

 Di babak kualifikasi tunggal putra, selain Sony ada juga nama Shesar Hiren Rustavito. Hanya, jika keduanya menang di babak I kualifikasi, mereka akan saling bertemu guna berebut tiket babak  utama. (*)

Gapai Tiket Semifinal Dulu

Putri Kusuma Wardani
TIKET semifinal di tangan Indonesia dalam Asia Junior Championships 2018. Ini dipastikan setelah Indonesia menang 3-1 atas Thailand.

Skor pertama diperoleh Putri Kusuma Wardani setelah menang dari Phittayaporn Chaiwan. Putri mengatasi Chaiwan dalam dua game 21-16, 21-17. Namun, kedudukan menjadi imbang 1-1, ketika Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay tak berhasil mengatasi Kunlavut Vitidsarn. Ikhsan kalah 15-21, 15-21 dalam 42 menit.

“Sebenarnya tadi menurut analisis pelatih, memang tunggal putra dan putri mereka lebih unggul. Kekuatan kami ada di ganda, jadi kalau bisa mencuri satu poin dari tunggal,''kata Ricky Soebagdja, wakil manajer Indonesia

 Penampilan dari tunggal putri, ujar dia luar biasa. Pihaknya sangat mengapresiasi.

 ''Kuncinya tadi memang di ganda tidak boleh meleset. Secara keseluruhan penampilan yang di luar harapan adalah tunggal putra. Karena banyak mati sendiri dan pemain Thailand tampak tidak cukup sulit melawan Indonesia,” ucap Ricky seperti dikutip dari media PBSI.

Beruntung di dua partai berikutnya, Indonesia berhasil mengamankan kemenangan. Pasangan ganda putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana dari ganda putra sama-sama dalam sukses mengatasi lawan.

“Game pertama kami sudah main bagus. Tapi game kedua saya mainnya agak kurang yakin malah lawannya jadi berkembang. Itu yang nggak boleh seharusnya,” jelas Rehan usai bertanding di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta.

Petandingan Indonesia v Thailand:
Tunggal Putri:  Putri Kusuma Wardani v Phittayaporn Chaiwan 21-16, 21-17

Tunggal Putra: Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay v Kunlavut Vitidsarn 15-21, 15-21

Ganda Putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Benyapa Aimsaard/Chasinee Korepap 21-17, 21-17

Ganda Putra: Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana v Thanawin Madee/Wachirawit Sothon: 21-14, 21-23, 21-15

Ganda Campuran: Ghifari Anandaffa Prihardika/Siti Fadia Silva Ramadhanti v Phittayaporn Chaiwan/Kunlavut Vitidsarn: (tidak dimainkan) (*)

Gagal Jadi Juara Grup

Minggu, 15 Juli 2018

INDONESIA gagal menjadi juara Grup D Asia Junior Championships 2018. Merah putih menyerah 2-3 kepada Jepang di babak di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta, Minggu (15/7/2018) tersebut.

“Hasil di grup ini Indonesia jadi runner-up. Prediksi lawan Jepang memang ramai. Tapi kalau dilihat penampilan para atlet, bisa dibilang masih belum maksimal,” kata Ricky Soebagdja, wakil manajer tim Indonesia.

Dua poin pertama melayang dari genggaman Indonesia. Ini setelah pasangan ganda campuran, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan tunggal putra, Alberto Alvin Yulianto kalah.

Indonesia sempat menahan laju Jepang setelah Ghifari Anandaffa Prihardika/Pramudya Kusumawardana Riyanto merebut kemenangan 17-21, 21-6 dan 23-21. Mereka mengalahkan Hiroki Midorikawa/Hiroki Nakayama dalam waktu 50 menit.

Sayang di partai keempat, Stephani Widjaja tak berhasil mengatasi Hirari Mizui dengan baik. Stephani kalah dua game langsung, 16-21 dan 7-21 dari Mizui.

Di partai terakhir, pasangan ganda putri Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti menyumbangkan satu poin buat Indonesia. Mereka sukses menang dari Natsu Saito/Rumi Yoshida dengan skor 21-18 dan 22-20. Hasil pertandingan Agatha/Fadia memperkecil jarak kekalahan Indonesia 2-3 dari Jepang.

“Saat pemilihan atlet kami sudah berdiskusi dengan pelatih, mana yang paling pas. Untuk di tunggal putri, sayang penampilannya tidak sesuai harapan. Ini yang nanti harus dievaluasi penyebabnya,” tambah Ricky.

Meski kalah, Indonesia dipastikan lolos ke babak perempat final sebagai runner up grup D. Selain Indonesia dan Jepang, enam negara lain yang lolos ialah Tiongkok, Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea Selatan, dan India. (*)

Permalukan Penakluk Tontowi/Liliyana

PASANGAN Chris Adcock/Gabriella Adcock jadi mimpi buruk bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Malaysia Open 2018. Keduanya mampu membuat mati kutu pasangan ganda campuran terbaik Indonesia itu.

Tapi, nama  kehebatan Chris/Gabrielle seakan tak ada artinya di depan pasangan muda merah putih Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja. Mereka kalah dua game langsung 12-21, 12-21.

Padahal, di atas kertas Hafiz/Gloria tak terlalu diunggulkan. Ranking mereka , 11, kalah dari pasangan suami istri asal Inggris yang kini ada di posisi keenam dunia tersebut.Ini merupakan pertemuan dari kedua pasangan.

Bagi Hafiz/Gloria kememangan di Negeri Gajah Putih tersebut merupakan gelar perdana. Keduanya baru dipasangkan Oktober tahun lalu.

Pekan lalu, Hafiz/Gloria menjadi sorotan. Keduanya mampu menembus ajang turnamen akbar, Indonesia Open. Sayang, langkah keduanya dihentikan seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang akhirnya keluar menjadi juara.

Kemenangan itu membuat Indonesia sukses membawa pulang dua gelar. Satu lagi posisi terhormat disumbangkan pasangan ganda putri Gresyia Polii/Apriani Rahayu. (*)

Fokus Dulu di Grup

Sabtu, 14 Juli 2018

Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (foto:PBSI)
GENDERANG perang sudah ditabuh Tim Indonesia dalam  Kejuaraan Beregu beregu Asia Junior Championsips 2018. Kemenangan menjadi target yang dibidik saat menghadapi Jepang dan Singapura yang menjadi lawan di Grup D.

“Saya rasa kekuatan cukup baik di junior Indonesia. Tahun lalu Gregoria jadi kartu as kami. Tapi sekarang dengan komposisi tahun ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Seperti Agatha (Imanuella)/(Siti) Fadia (Silva Ramadhanti), tahun lalu ke semifinal, lalu juga Ikhsan yang semakin matang. Jadi kami optimis,” ungkap Manajer Indonesia Susy Susanti.

Apalagi, lanjut dia, target seperti tahun lalu. Yakni masuk finaldan berusaha lebih.

''Tapi kami fokus dulu di grup,” lanjut Susy.

Ajang ini akan bergulir pada 14-17 Juli di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta.

Berikut Skuad Indonesia di Asia Junior Championships 2018:

Tim Putra :
1. Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay
2. Karono
3. Alberto Alvin Yulianto
4. Rehan Naufal Kusharjanto
5. Pramudya Kusumawardana Riyanto
6. Ghifari Anandaffa Prihardika
7. Daniel Marthin
8. Leo Rolly Carnando

Tim Putri :
1. Putri Kusuma Wardani
2. Stephani Widjaja
3. Ribka Sugiarto
4. Febriana Dwipuji Kusuma
5. Siti Fadia Silva Ramadhanti
6. Agatha Imanuela
7. Lisa Ayu Kusumawati
8. Putri Syaikah (*)

Gagal Bertemu dengan Tommy

Tommy Sugiarto melaju ke babak final Thailand Open 2018
NASIB kurang beruntung memayungi Sony Dwi Kuncoro. Dia menyerah dengan duece 21-23 di game saat berhadapan dengan wakil Jepang Kanta Tsuneyama di babak semifinal Thailand Open 2018 di Bangkok pada Sabtu waktu setempat (14/7/2018).

Di game pertama, Sony kalah 13-21. Tapi, di game kedua, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut unggul 21-14. Ini merupakan pertemuan perdana Sony dengan atlet Negeri Sakura, julukan Jepang, tersebut.

''Belum rezeki,'' tulis Sony singkat saat dihubungi melalui media sosial.

Sebenarnya, di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, penampilan Sony cukup  baik. Dia harus melalui dari babak kualifikasi.

Tapi, satu demi satu lawan yang dihadapi mampu dikalahkan. Termasuk salah satu penghuni Pelatnas PBSI Ihsan Maulana Mustofa di babak I.

Begitu juga di perempat final. Sony mampu membalas kekalahan dari Huang Yuxiang dari Tiongkok.

Kekalahan Sony ini juga membuat laga final sesama pebulu tangkis Indonesia (all Indonesian finals) urung terlaksana. Di babak semifinal lainnya, wakil merah putih Tommy Sugiarto menghentikan perlawanan andalan tuan rumah Suppanyu Avihingsanon.

Hasil itu membuat Tommy selalu menang dalam dua kali pertemuan. Sebelumnya, putra legenda bulu tangkis dunia Icuk Sugiarto itu unggul di Malaysia Open 2011. (*)

Pasang Target Tembus Final

Jumat, 13 Juli 2018

INDONESIA pantang malu di kandang dalam Asia Junior Championships 2018. Merah putih  menargetkan menembus babak final beregu yang dilaksanakan 14-17 Juli 2018, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Jakarta. Di penyisihan, Indonesia menghuni grup D bersama Jepang dan Singapura.
“Untuk beregu memang kalau dibilang berat enggak, dibilang enteng juga enggak. Karena kita tahu Jepang juga cukup baik,''kata Manajer Tim Indonesia Susy Susanti seperti dikutip dari media PBSI.

Pihaknya tetap waspada dan konsentrasi satu-satu, tidak lengah. Kalau target,  ucap Susy, mudah-mudahan bisa minimal seperti tahun lalu, ke final.

''Tapi kami tetap berusaha meningkatkan. Apalagi sebagai tuan rumah, ini mungkin terakhir, yang berikutnya sudah bukan di Indonesia lagi,” ujar Susy.

Pada laga pertamanya, Indonesia akan menghadapi Singapura (15/7) pada pukul 09.00 WIB. Kemudian pada hari yang sama Indonesia bertemu Jepang, pukul 16.00 WIB.

Berbicara mengenai kondisi timnya, Susy menjelaskan, pebulu tangkis Indonesia yang diturunkan dalam kondisi yang baik. Berbagai persiapan sudah dilakukan sejak enam bulan sebelum pertandingan.

“Persiapan cukup baik. Dari tahun lalu kami persiapkan dari awal tahun paling tidak enam bulan. Mereka latihan intensif, lebih terfokus dan sparing dengan senior juga. Tahun lalu hasilnya cukup baik, mudah-mudahan tahun ini juga lebih baik lagi,” lanjut Susy.

Pembagian Grup

Grup A: Tiongkok, Malaysia, Myanmar

Grup B: Thailand, Taiwan, Hong Kong, Macau

Grup C: Korea, India, Kazakhstan, Sri Lanka

Grup D: Indonesia, Jepang, Singapura (*)

Lawan Bakal Lebih Berat Son

Kanta Tsuneyama yang akan menantang Sony (foto:zimbio)
TAK banyak waktu bagi Sony Dwi Kuncoro untuk lolos ke babak semifinal Thailand Open 2018. Bahkan, tidak sampai 30 menit atau setengah jam baginya untuk memeras keringat.

Padahal, lawan yang dihadapi bapak dua putri ini bukan pebulu tangkis kacangan. Sony melawan Huang Yuxiang dari Tiongkok. Ranking Huang pun jauh lebih baik dibandingkan Sony.

Arek Suroboyo tersebut ''hanya'' di posisi 80. Sedangkan  Huang di posisi 38.

Selain itu, dalam pertemuan sebelumnya, Sony kalah. Dia menyerah dua game langsung 17-21, 9-21 di Malaysia Open 2017.

''Ya, saya kalah dalam pertemuan pertama,'' ungkap Sony saat dihubungi melalui media sosial.

Di babak semifinal, mantan tunggal putra terbaik Indonesia tersebut akan ditantang Kanta Tsuneyama. Di perempat final, pebulu tangkis Jepang itu   menghentikan wakil tuan rumah Khosit Phetpradab dengan straight game 21-15, 21-13.

Kemampuan pebulu tangkis Negeri Sakura, julukan Jepang, tersebut tak boleh dipandang sebelah mata. Di Indonesia Open 2018, dia mempermalukan mantan nomor satu dunia Jan O Jorgensen (Denmark) di babak I. Di babak II, Kanta melumat Brice Laverdez (Prancis), yang di babak I memulangkan legenda hidup asal Tiongkok Lin Dan. Sayang, langkahnya dihentikan pebulu tangkis nomor satu dunia sekarang Viktor Axelsen (Denmark). (*)

Gregoria Beri Harapan

Gregoria langkahnya sudah sampai semifinal
PENAMPILAN Gregoria Mariska semakin menunjukan tren positif. Dia tak lagi sering tumbang di babak-babak perdana.

Bahkan, kini langkah Gregoria menembus babak semifinal Thailand Open 2018. Itu setelah juara dunia junior tunggal putri 2017 tersebut menundukkan Michelle Li dari Kanada dengan dua game langsung 21-17, 21-8 di Bangkok pada Jumat waktu setempat (13/7/2018).

Ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua pebulu tangkis. Hanya, kemenangan Gregoria ini termasuk kejutan.

Kok bisa? Dari sisi ranking, Gregoria kalah. Dia ada di posisi 29 sedangkan Michelle di 14.

Namun, di lapangan berkata lain.Penampilan Gregoria lebih baik dibandingkan Michelle.

Sejak 1994, setelah Susi Susanti tidak ada lagi wakil Indonesia yang menjadi juara di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Kini Susi merupakan Kabid Binpres dari PP PBSI. (*)

Kembali Jadi Pasangan Nomor Satu

Kamis, 12 Juli 2018

Tontowi/Liliyana saat tampil di Indonesia Open 2018 (foto:PBSI)
PASANGAN Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir duduk kembali di singgasananya. Gelar juara Indonesia Open 2018 membuat mereka naik dua setrip ke posisi teratas dunia.

Pekan lalu, Tontowi/Liliyana masih ada di ranking ketiga. Apalagi, saat itu, ,mereka juga gagal menjadi pemenang di Malaysia Open.

Untung kegagalan tersebut terbalas di kandang sendiri. Tontowi/Liliyana memenangi Indonesia, salah satu turnamen yang masuk dalam jajaran tertinggi di dunia.

Pada babak final yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (18/7/2018), pasangan yang sama -sama berasal dari PB Djarum Kudus tersebut menundukkan wakil Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dengan dua game langsung 21-17, 21-8. Pasangan negeri jiran itu juga pernah dikalahkan Tontowi/Liliyana di final Olimpiade Rio, Brasil, 2016.

Atas keberhasilan ini, keduanya langsung diguyur bonus ratusan juta rupiah dari Djarum Foundation pada Rabu (11/7/2018). Usai dari Indonesia Open 2018, Tontowi/Liliyana akan bertanding di Singapore Open. (*)

Akhirnya Bisa Kalahkan Prannoy

Prannoy H.S.dikalahkan Sony Dwi Kuncoro (foto: indiaexpress)
SATU demi satu halangan dilewati Sony Dwi Kuncoro di Thailand Open 2018. Sekarang, pebulu tangkis tunggal putra berusia 34 tahun tersebut sudah sampai ke babak perempat final.

Itu setelah dia mengalahkan H.S. Prannoy dari India dengan dua game langsung 21-18, 21-14 di Bangkok, Kamis (12/7/2018). Hasil itu membuat Sony memperkecil ketinggalan kekalahannya atas lawan yang sama menjadi 1-2.  Dua kali  pil pahit tersebut ditelan bapak dua putri itu di Macau Open 2014 dan India Open Grand Prix Gold 2011.

Sebenarnya, di atas kertas, Sony tak diunggulkan menembus perempat final. Dari sisi ranking dunia, suami dari Gading Safitri tersebut kalah jauh.

Saat ini, dia ada di posisi 80. Sementara Prannoy sudah di ranking 11 dunia.

Sehari sebelumnya, saat dihubungi melalui media sosial, Sony tak gentar melawan Prannoy. Dia tetap optimistis bisa memenangkan pertandingan.

Sebenarnya, Thailand Open bukan ajang yang asing bagi dia. Mantan tunggal terbaik Indonesia itu pernah menjadi juara pada 2012.

Ketika itu, Sony tampil luar biasa. Lin Dan yang tengah berada di puncak penampilan dipecundangi dengan dua game langsung 21-17, 21-16. Di babak final, peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 tersebut melibas wakil Tiongkok lainnya, Chen Yuekuen, dengan 21-17, 21-14. (*)

Guyuran Bonus kepada Juara Indonesia Open

Rabu, 11 Juli 2018

PB Djarum memberikan apresiasi kepada tiga pebulu tangkisnya yang meraih prestasi di Indonesia Open 2018. Mereka adalah pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir serta pemain ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo. Ketihanya  dihadiahi bonus senilai masing-masing Rp 200 juta dari Djarum Foundation serta voucher senilai Rp. 50 juta dari Blibli.com.

Trio juara menerima apresiasi. (foto: PBSI)
 Kevin menjuarai Indonesia Open 2018 bersama Marcus Fernaldi Gideon. Ini membuat keduanya kini kian mantap di posisi puncak rangking dunia.

Acara penyerahan bonus dilangsungkan di Galeri Indonesia Kaya dan dihadiri para penerima penghargaan kecuali Richard Mainaky yang berhalangan hadir. Pemberian bonus ini merupakan lanjutan dari komitmen Bakti Olahraga Djarum Foundation yang dimulai sejak 2009 .

"Djarum Foundation berkomitmen untuk memberi apresiasi kepada pemain dan pelatih yang berjasa, apalagi ini di kandang sendiri. Buat Owi (sapaan karib Tontowi)/Butet (sapaan karib Liliyana Natsir) ini pecah telor karena sebelumnya tidak pernah juara Indonesia Open di Istora. Kalau buat Kevin, ini pertama kalinya juara Indonesia Open, mudah-mudahan tahun depan juara lagi," ujar Yoppy Rosimin, Program Director Djarum Foundation.

Dengan acara itu, pihaknya mengharapkan rencana pensiun yang sudah disusun Butet bisa diurungkan. Alasannya, Butet, kata Yoppy sambil bercanda, takut dikejar Kevin jumlah bonusnya.

Dituturkan Yoppy, Tontowi/Liliyana sudah kali delapan mendapatkan apresiasi.Sedangkan bagi Kevin, ini adalah kali ketiga .

Yoppy melanjutkan bahwa Djarum Foundation berencana untuk tak putus memberikan apresiasi kepada atletnya yang berprestasi dengan tujuan utama memberi motivasi kepada atlet serta menggugah para pengusaha dan berbagai pihak untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan bulutangkis Tanah Air.

 "Buat saya sih tidak munafik ya, bonus itu pasti menambah motivasi. Tapi dari awal pertandingan saya tidak memikirkan bonus dan fokus sama target saya dulu. Kami berterima kasih banyak atas penghargaan kepada prestasi kami, terima kasih untuk PB Djarum, Djarum Foundation, Blibli.com dan Tiket.com atas yang selalu mendukung kami," sebut Liliyana.

 Tontowi mengucapkan terima kasih buat apresiasi yang diberikan tak henti-hentinya. Mudah-mudahan, ungkap dia, ini bisa menjadi acuan buat para atlet PB Djarum supaya termotivasi juga untuk berprestasi.

Tidak hanya pemain, jerih payah pelatih membawa anak didiknya di podium juara pun diapresiasi. Kepala Pelatih Ganda Putra PP PBSI Herry Iman Pierngadi, Asisten Pelatih Ganda Putra PP PBSI Aryono Miranat, Kepala Pelatih Ganda Campuran PP PBSI Richard Mainaky serta Asisten Pelatih Ganda Campuran PP PBSI Vita Marissa dihadiahi masing-masing satu kulkas Polytron serta voucher senilai Rp. 5 juta dari Blibli.com. (*)

Sony Sukses Balaskan Dendam

Sony melaju ke babak II Thailand Open 2018
PERTANDINGAN simulasi Piala Thomas 2012 di Solo tak dilupakan Sony Dwi Kuncoro. Dia harus turun ke lapangan meski kondisinya lagi tak prima.

 Imbasnya, Sony menyerah kepada pebulu muda kala itu, Ihsan Maulana Mustofa. Kekalahan itu membuat bapak dua putri tersebut gagal menembus Piala Thomas.

Yang menyakitkan lagi, Sony dicoret dari Pelatnas Cipayung. Tempat yang sudah dihuninya selama 10 tahun lebih.

Setelah itu, Sony tak pernah berjumpa lagi dengan Ihsan. Hingga akhirnya pada Rabu (11/7/2018), keduanya berjumpa di babak I Thailand Open 2018.

Hasilnya, Sony mampu membalas kekalahan di Kota Bengawan, julukan Solo. Suami Gading Safitri ini menang dua game langsung 21-19, 21-8.

Di babak kedua, lawan berat sudah menunggu Sony. Dia menantang unggulan keempat H.S. Prannoy dari India.

Pebulu tangkis ranking 14 dunia tersebut bisa menjadi batu sandungan bagi Sony. Kok bisa? Dari dua kali pertemuan, mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut tak pernah memetik kemenangan. Itu terjadi di Macau Open 2014 dan India Grand Prix Gold 2011. (*)

Mantan Tunggal Putri No 1 Malaysia Tinggalkan Tim Nasional

Selasa, 10 Juli 2018

Tee Jing Yi (foto NST)
KERJA sama Tee Jing Yi dengan Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) selesai. Ini setelah pebulu tangkis putri berusia 27 tahun tersebut memutuskan mundur.

Sejak usia 15, Jing Yi sudah bergabung dengan BAM. Namanya terukir dua kali berlaga di ajang olimpiade. Waktunya banyak dihabiskan di nomor tunggal sebelum banting setir ke nomor ganda pada akhir tahun lalu.

Jing Yi bermain di Malaysian Open dua pekan lalu. Berpasangan dengan Goh Yea Ching, mereka kalah 19-21, 18-21 dari pasangan Korea Selatan Kim Hye-rin/Kong Hee-yong di babak I.

Jing Yi berpasangan dengan Soong Fie Cho, yang sudah meraih tiga gelar. Salah satunya Malaysian International Challenge pada April lalu.

Mereka duduk di ranking 32 dunia atau kedua terbaik di Malaysia setelah pasangan nomor 15 dunia 15 Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean.

Saat dikonfirmasi, Jing Yi membenarkan dia telah meninggalkan tim nasional. Dia juga belum memutuskan untuk menjadi pebulu tangkis mandiri.

“Saat ini saya hanya ingin istirahat dari bulu tangkis,'' ujar perempuan yang lima kali membela Malaysia di ajang Piala Uber tersebut seperti dikutip media Malaysia.

Untuk ke depannya, dia masih menunggu. Hanya, Jing Yi mengaku masih ingin meneruskan karir di olahraga tepok bulu tersebut. (*)

Lolos Babak Utama, Harus Hadapi Junior

Sony Dwi Kuncoro menang dua kali di babak kualifikasi
ASA Sony Dwi Kuncoro menembus babak utama Thailand Open 2018 tercapai. Arek Suroboyo ini mampu memetik dua kemenangan dalam pertandingan babak kualifikasi yang dilaksanakan di Bangkok Selasa waktu setempat (10/7/2018).

Pada pertandingan pertama, Sony menundukkan Lu Chia Huang dari Taiwan dengan dua game langsung 21-15, 21-13. Tiket ke babak diraih mantan tunggal terbaik Indonesia tersebut setelah menghentikan perlawanan Kartikey Gulshan Kumar dari India dengan 21-14, 28-26.

Namun, di babak kedua, Indonesia sudah dipastikan kehilangan satu wakil. Ini karena Sony berjumpa dengan juniornya, Ihsan Maulana Mustofa.

Dari sisi ranking saat ini, Sony kalah. Dia ada di posisi 80 dunia sedangkan juniornya tersebut berada di posisi 44 dunia.

Hanya, dalam segi pengalaman, Sony tetap unggul. Dia pernah menjadi salah satu tunggal terbaik Indonesia dan dunia. Perunggu Olimpiade Athena 2004 pernah diraih.

 ''Saya fokus saja melawan Ihsan,'' ujar Sony. (*)

Kembali Memulai dari Babak Kualifikasi

Senin, 09 Juli 2018

Sony Dwi Kuncoro tak bisa langsung ke babak utama
TAMPIL dari  babak kualifiikasi sudah jadi hal yang biasa bagi seorang Sony Dwi Kuncoro. Penyebabnya,ranking dunia yang dimiliki belum bisa untuk tampil di babak utama. Meski itu hanya turnamen level IV.

Ini dilakoni Sony dalam Thailand Open 2018. Sebuah turnamen yang masuk kategori  world tour super 500.

 Pebulu tangkis yang kini sudah berusia 34 tahun tersebut harus merangkak dari bawah. Di babak I ajang yang dilaksanakan di Bangkok itu, Sony akan berjumpa dengan wakil Taiwan Lu Chia Huang.

 Di atas kertas, arek Suroboyo tersebut lebih diunggulkan. Selain ranking yang jauh lebih baik, 80, sementara lawannya, 133, Sony unggul dalam sisi pengalaman.

 Hanya, untuk faktor stamina bisa jadi bumerang bagi Sony. Lawannya masih berusia 21 dan dianggap punya stamina yang lebih prima.

Selain Sony, waki Indonesia yang harus melalui babak kualifikasi di Negeri Gajah, julukan Thailand, adalah Firman Abdul Kholik dan Shesar Hiren Rustavito.

Sedangkan yang langsung lolos ke babak utama adalah Ihsan Maulana Mustofa dan Tommy Sugiarto (*)

Masuk Salah Satu Turnamen Terbaik di Dunia

INDONESIA Open 2018 World Tour Super 1000 dinobatkan menjadi salah satu turnamen terbaik oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Pertimbangannnya, ajang tersebut mampu menyajikan tontonan bulu tangkis yang dikemas menarik. Hal ini mendukung tujuan BWF yang ingin bulutangkis lebih dikenal, banyak ditonton dan dicintai di seluruh dunia.

"Kami berterima kasih kepada PBSI, Blibli dan semua pihak yang sudah bekerja keras di event ini. Sudah lama turnamen ini menjadi yang terbaik, Indonesia Open selangkah lebih baik dan membuat bulu tangkis bisa dinikmati," kata Darren Parks, Event Director BWF, menyebut Istora sebagai salah satu tempat pertandingan bulu tangkis terbaik.

Dia mengaku sudah beberapa kali menyaksikan turnamen-turnamen. Indonesia Open, ujar Park, adalah salah satu yang terbaik.

''Fans datang kemari dan tentunya apa yang mereka dapat di sini akan terkenang di ingatan mereka," tambah Parks.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Turnamen Achmad Budiharto mengatakan bahwa pelaksanaan turnamen berlangsung lancar. Pihaknya bersyukur karena turnamen ini bisa diselesaikan dengan baik, selamat dan sukses.

''Ini semua karena kerja keras kita semua. Hasilnya pun tidak mengecewakan, kita dapat dua gelar," ucap Budi, sapaan karub Achmad Budiharto.

 Dilihat dari kehadiran penonton, tambah dia, juga sangat memuaskan dan memecahkan rekor. Kalau biasanya babak awal ada dua-tiga ribu penonton, ungkap Budi, sekarang tembus empat ribuan.

''Ada hal-hal baru yang tahun ini kami akomodir, misalnya karena ini event keluarga, jadi kami sediakan Blibli Mart dan kids corner," ujar Budi yang juga merupakan Sekretaris Jenderal PP PBSI. (*)

Sukses Ulangi 2008

Kevin/Marcus usai penyerahan juara (foto;PBSI)
DI kandang sendiri, sapu bersih pernah dilakukan di Indonesia Open. Tapi, tanpa gelar juga pernah dialami.

Tapi, capaian terakhir terbaik terakhir pada 2008. Indonesia mampu meraih dua gelar melalui Sony Dwi Kuncoro di tunggal putra dan pasangan ganda putri Vita Marissa/Liliyana Natsir.

 Setelah itu, itu baru kembali diulangi pada 2018 ini. Merah putih berkibar dua kali . Hanya dari nomor yang berbeda, kali ini ganda putra dan ganda campuran yang jadi penyelamat muka Indonesia.

Di ganda putra, pasangan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon naik ke podium juara setelah mengalahkan pasangan Jepang Takuto Inoue/Yuki Kaneko dengan dua game langsung 21-13, 21-16 di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (8/7).

Ini menjadi kemenangan keempat selama empat kali pertemuan. Sekaligus, menjadi gelar perdana di Indonesia Open. Tahun lalu, dengan posisi sama sebagai unggulan teratas, Kevin/Marcus langsung tersingkir di babak I.

Sementara, di ganda campuran, Tontowi/Liliyana menang mudah atas lawannya dari Malaysia Chang Peng Soon/Goh Liu Ying dengan straight game 21-17, 21-8. Ini menjadi gelar kedua di ajang yang sama setelah kesuksesan tahun lalu.

Bagi Indonesia, sukses ini menjadi bekal menyongsong Asian Games 2018 yang digelar di kandang sendiri. Apalagi, tempat yang dipakai sama. (*)

Hasil Final Indonesia Open 2018
Tunggal Putra
Kento Momota (Jepang) v Viktor Axelsen (Denmark) 21-14, 21-9

Tunggal Putri
Tai Tzu Ying (Taiwan) v Chen Yufei (Tiongkok) 21-23, 21-15, 21-9

Ganda Putra
Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon (Indonesia) v Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang) 21-13, 21-16

Ganda Putri
Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) v Mayu Matsutomo/Wakana Nakahara (Jepang) 21-14, 21-16, 21-14

Ganda Campuran
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia) v Chen Peng Soon/Goh Liu Yong (Malaysia) 21-17, 21-8

Tetap Respek kepada Tontowi/Liliyana

Minggu, 08 Juli 2018

Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (foto:TSN)
LAGA final ganda campuran Olimpiade Rio de Janeiro 2016 kembali terulang. wakil Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akan berhadapan dengan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) di babak final Indonesia Open 2018 yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (8/7).

 Ini merupakan pertemuan pertama bagi kedua pasangan setelah olimpiade. Dari sepuluh kali pertemuan, Chan/Goh baru satu kali berhasil mengalahkan Tontowi/Liliyana.

"Kami sudah mempersiapkan diri kalau kami akan melawan satu stadion, ha ha ha," canda Goh dalam konferensi pers usai pertandingan Sabtu (7/7).

Dia mengaku bermain baik dan berharap bisa terulang saat final. dan kami bisa menerapkan pola permainan kami. Meski, Goh secara sportif respek kepada Tontowi/Liliyana.
"Sebelumnya kami akan melakukan analisis dan persiapan," kata Chan.

Indonesia meloloskan dua wakil ke final. Selain Tontowi/Liliyana, pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juga melaju ke babak pemungkas setelah mengalahkan sesama wakil Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Di babak final, Kevin/Marcus akan berhadapan dengan Takuto Inoue/Yuki Kaneko dari Jepang.(*)

Edisi Perdana Telah Terbit

Sabtu, 07 Juli 2018

Majalah Edisi Perdana Sudah Bisa Anda Baca
Klik di sini Edisi Juni


Tiga Juara Bertahan Sudah Tersingkir

Kamis, 05 Juli 2018

DUA juara bertahan nomor tunggal di Indonesia Open kalah. Ini setelah di Sayaki Sato menyerah tiga game 19-21, 21-17, 14-21  dari Kirsty Gilmour dari Skotlandia di babak II nomor tunggal putri yang dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (5/7/2018).

Tahun lalu, gadis asal Jepang tersebut naik ke podium juara. Di babak final, dia mengalahkan Sung Ji-hyun asal Korea Selatan dengan 21-13, 17-21, 21-14.

Sebenarnya, kekalahan Sayaki ini tidak terlalu mengejutkan. Dalam tiga pertemuan sebelumnya, dia dua kali menyerah.

Sementara di tunggal putra, sehari sebelumnya, Kidambi Srikanth (India)  dipulangkan oleh Kento Momota (Jepang) dengan rubber game 12-21, 21-14, 21-15.  Bagi Momota, ini menjadi kemenangan ketujuh dari 10 kali pertemuan. Atau menjadi empat kemenangan beruntun.

Pada Rabu, juara ganda putra Li Junhui/Liu Yuchen juga kehilangan gelar. Unggulan keempat ini kalah 19-21, 15-21 dari wakil Rusia Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov. Hasil ini membuat tinggal dua pemenang tahun lalu yang masih bertahan, yakni Chen Qingchen/Jia Yifan (ganda putri) dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia) di ganda ganda campuran. (*)


Junior yang Lebih Unggul

Rabu, 04 Juli 2018

BAGI Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, Hendra  Setiawan/Mohammad Ahsan adalah senior. Dari sisi prestasi, seniornya tersebut lebih mentereng.

Mereka pernah menjadi juara dunia dan Indonesia Open. Dua capaian yang belum pernah dilakukan Kevin/Ahsan.

 Memang, capaian itu tengah diperjuangkan oleh Kevin/Marcus. Langkah itu dimulai dari Indonesia Open yang kini tengah berlangsung.

 Menariknya, kedua pasangan langsung bertemu di babak pertama Indonesia Open 2018. Hasilnya, sang junior yang memetik kemenangan.

 Kevin/Marcus unggul tiga game 21-16, 18-21, 21-10 di Istora Senayan, Jakarta, pada Rabu (4/7/2018).  Ini juga membuat Kevin/Marcus unggul 3-2 dalam lima kali pertemuan.

 Di Indonesia Open 2018. Kevin/Marcus menjadi salah satu tumpuan tuan rumah. Ini karena mereka
menempati unggulan teratas .

 Hanya, selama ini, keduanya belum pernah tampil memuaskan di ajang bergengsi tersebut. Tahun lalu, Kevin/Marcus sudah tersingkir dalam penampilan pertama. (*)

Penakluk Kevin/Marcus Angkat Koper

NAMA He Jiting/Tan Jing mencuat pekan lalu. Ini setelah pasangan ganda putra asal Tiongkok tersebut mampu mengalahkan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon di babak perempat final Malaysia Open 2018.

 Padahal, dalam ajang berhadiah total USD 750 ribu tersebut, Kevin/Marcus menempati unggulan teratas dan belum terkalahkan selama 2018 di ajang perorangan.  He/Tan diperkirakan bisa menjadi kuda hitam dalam Indonesia Open 2018.

 Namun ternyata di atas lapangan berkata lain. He/Tan sudah angkat koper di babak I.

Mereka dipaksa harus mengakui ketangguhan wakil Indonesia Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama dengan tiga game 16-21, 21-17, 26-24 di Istora Senayan, Jakarta, pada Rabu waktu setempat (4/7/2018).  Bagi Ricky, penampilan di ganda putra merupakan yang pertama bagi dia selama 2018.

Selama ini, dia lebih banyak turun di ganda campuran. Di nomor ini, Ricky ditandemkan dengan Debby Susanto. Menariknya, dia ganda campuran, dia juga menundukkan He Jiting. Hanya, dia berpasangan dengan Du Yue. (*)

Lin Dan-Chen Long Tak Pernah Juara

Selasa, 03 Juli 2018

LIN Dan dan Chen Long boleh menepuk dada. Keduanya pernah sama-sama meraih emas olimpiade.

Lin Dan melakukannya pada 2008 di Beijing (Tiongkok) dan 2012 di London (Inggris). Sementara Chen melakukannya 2016 di Rio (Brasil).

Berbagai juara internasional pun sukses diraih kedua wakil Negeri Panda, julukan Tiongkok, tersebut. Di All England, Lin dan Chen meraihnya lebih dari sekali.

Namun, semua itu seakan tak artinya kalau berbicara Indonesia Open. Dua legenda tersebut belum pernah juara. Pada 2017, Lin tumbang di babak I dan Chen di perempat final.

Di tahun ini, hasil lebih buruk lagi. Lin  kembali tersungkur dalam penampilan perdana.

Pebulu tangkis 35 tahun tersebut kalah tiga game 15-21, 21-9, 14-21 dari Kumar Prannoy (India). Ini menjadi kekalahan kedua beruntun dari tiga kali perjumpaan.

Chen sendiri takluk ditundukan Brice Laverdez asal Prancis dengan rubber game 17-21, 20-22, 19-21. Kekalahan ini menjadi pil pahit pertama bagi Chen selama enam kali pertemuan. (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger