www.smashyes.com

www.smashyes.com

Raja-Ratu Tetap Bertakhta

Kamis, 09 Agustus 2018

KEJUARAAN Dunia 2018 memberikan dampak.  Banyak perubahan yang terjadi dalam ranking yang dirilis BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) pada Kamis (9/8/2018).

Di tunggal putra, posisi teratas masih ditempati oleh Viktor Axelsen dari Denmark. Ini masih wajar karena dia mampu menembus babaj final sebelum ditundukkan oleh Kento Momota, yang kini naik tiga setrip di posisi keempat.

Lee Chong Wei turun satu setrip ke posisi ketiga. Ini dampak dari absennya lelaki asal Malaysia tersebut pada kejuaraan yang dilaksnakan di Nanjing, Tiongkok, pekan lalu itu. Posisinya diduduki Shi Yuqi (Tiongkok).

Begitu juga di tunggal putri. Meski gagal juara, Tai Tzu Ying (Taiwan) tetap sebagai ratu. Hanya, Carolina Marin  yang mengalami lonjakan dua setrip ke posisi keenam.

Kegagalan juara ganda putra juga tak mempengaruhi Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon di tempat pertama. Namun, posisinya dibayangi rival asal Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen, yang mampu menjadi juara dalam event papan atas dunia tersebut. (*)

Baru Marin Yang Bisa

Rabu, 08 Agustus 2018

INDONESIA pernah punya Susy Susanti. Tiongkok juga banyak melahirkan juara dunia tunggal putri. Bahkan, Negeri Panda, julukan Tiongkok, sudah 15 kali melahirkan pemenang dalam kejuaraan bergengsi tersebut.

Hanya, Susy dan pebulu tangkis Tiongkok belum bisa menyaingi Carolina Marin. Kok bisa? Ini karena atlet Spanyol tersebut mampu tiga kali menjadi juara.

Gelar pertama diraih pada 2014, kemudian 2015, dan terakhir tahun ini. Kejuaraan Dunia 2016 tidak dilaksanakan karena bersamaan dengan Olimpiade di Rio de Janeiro, Brasil. Pada 2017, Marin terhenti di babak perempat final.

Pada 2018 atau gelar ketiga diraih setelah mengalahkan P.V. Sindhu dengan dua game langsung 21-19, 21-10 dalam final yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, pada Minggu waktu setempat (5/8).

''Saya tidak bisa mendiskripsikan emosi saya sekarang. Saya sangat emosional,'' kata Marin seperti dikutip dari media BWF.

Baginya, juara kali ini diraih dengan tidak mudah. Andalan Negeri Matador, julukan Spanyol, tersebut mempersiapkan diri cukup lama.

''Yang pasti, tanpa kerja tim itu semua akan menjadi tidak mungkin. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka,'' lanjut Marin. (*)

Kento, Jepang yang Pertama

KEJUARAAN Dunia 2018 punya arti penting bagi Jepang. Untuk kali pertama wakil Negeri Sakura, julukan Jepang, mampu menjadi juara di nomo bergengsi,tunggal putra.
Pahlawan bagi Jepang tersebut adalah Kento Momota.Dalam final yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, Minggu (5/8/2018), dia menundukkan wakil Tiongkok Shi Yuqi dengan dua game yang mudah 21-11, 21-13.

Sebelumnya, nomor tunggal putra selalu didominasi tiga negara, Tiongkok, Indonesia, dan Denmark. Bahkan, Malaysia yang selama satu dekade mempunyai Lee Chong Wei pun tak pernah juara.

Gelar juara ini seakan menjadi penebus masa kelamnya. Pada 2016, lelaki yang diunggulkan di posisi keenam dalam Kejuaraan Dunia 2018 tersebut tersandung masalah kriminal. Dia terlibat dalam judi gelap di sebuah kasino.

Dia pun dilarang tampil dalam semua kejuaraan dalam waktu tertentu. Imbasnya, ranking dunia yang dimiliki turun drastis.

Saat comeback, Kento harus tampil di babak kualifikasi atau di kejuaraan-kejuaraan kecil. Tujuannya untuk mendongkrak kembali ranking. Hingga akhirnya, dia sudah menempati ranking tujuh dunia sekarang.

Shi sendiri merupakan bintang baru bulu tangkis Tiongkok. Dengan usia masih 22 tahun, dia diharapkan mampu meneruskan kejayaam Lin Dan dan Chen Long yang sudah dimakan usia dan performanya tak stabil lagi. (*)


Sekilas Tentang
Nama: Kento Momota
Lahir: Kagawa, 1 September 1994
Ranking Terbaik: 2 (7 April 2016)
Ranking Sekarang: 7


Prestasi:
Juara Junior Asia 2012
Juara Dunia Junior 2012
Semifinalis Kejuaraan Dunia 2015
Juara Dunia 2018

Lin Dan yang Tak Lagi Super

Kamis, 02 Agustus 2018

Shi Yuqi singkirkan Lin Dan (foto: xinhua)
NAMA Lin Dan sempat membuat gentar semua lawan. Lima kali juara dunia dan dua kali emas olimpiade nomo tunggal putra sudah menjadi garansi.

Tapi, beberapa tahun terakir seiring umur yang terus bertambah, tahun ini 35, prestasinya mulai labil. Banyak gelar yang lepas dari genggaman dari setiap turnamen yang diikuti.

Salah satunya adalah Kejuaraan Dunia 2018. Di babak III, Lin Dan dipermalukan juniornya, Shi Yuqi, dengan dua game langsung 15-21, 9-21.

Ironisnya, ini menjadi kekalahan kelima dalam enam kali pertemuan. Empat perjumpaan terakhir, Super Dan, julukan Lin Dan, tak pernah memetik kemenangan.

Lin Dan menjadi juara dunia pada 2006, 2007, 2009, 2011, dan 2013. Pada 2008 dan 2012 tidak dilaksanakan karena ada ajang olimpiade, Beijing dan London. Keduanya juga dimenangi suami dari mantan ratu bulu tangkis dunia, Xie Xinfang tersebut. (*)

Buru Juara untuk Kado Ultah

Kevin dan Marcus mampu tembus perempat final (foto;PBSI)
 LANGKAH Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di Kejuaraan Dunia 2018 sudah sampai perempat final. Ini setelah keduanya menang dua game 21-19, 21-12 atas Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov (Rusia) di Nanjing, Tiongkok,  pada Kamis waktu setempat (2/8/2018).

Kevin/Marcus merasa tampil lebih baik dari laga perdana mereka kemarin. Keduanya memang tampil lebih solid dan jarang membuat kesalahan sendiri.

"Hari ini kami mainnya lebih enak, kami sudah coba lapangan, jadi lebih mengerti situasi lapangannya seperti apa," kata Marcus seperti dikutip dari media PBSI.

 Di awal permainan, dia memang banyak mati-mati sendiri. Tetapi, dia dan Kevin, lanjutnya, bermain jauh lebih. baik dari kemarin.

''Lawan kemarin kan juga tidak jelek, bagus juga. Hari ini kami sudah menemukan ritme permainan kami, pertahanan kami lebih rapat," sebut Kevin.

Hari ini menjadi hari yang spesial bagi Kevin, ia tengah merayakan hari ulang tahunnya yang ke-23. Ia pun berharap mendapat kado manis yaitu gelar juara dunia yang tentu didambakannya dan Marcus.

"Semoga dapat kado ulang tahun di turnamen ini," ucap Kevin sambil melempar senyum. (*)

Kevin/Marcus Harus Tampil Tiga Game

Rabu, 01 Agustus 2018

Kevin/Marcus saat tampil di babak II (foto;PBSI)
 JALAN terjal menghadang pasangan nomor satu dunia asal Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Mereka dipaksa kerja keras di babak kedua Kejuaraan Dunia 2018.

Kevin/Marcus dipaksa memeras keringat lebih banyak oleh Han Chengkai/Zhou Haodong (Tiongkok) sebelum menang 18-21, 21-14, 21-18 di Nanjing, Tiongkok, pada Rabu waktu setempat (1/8/2018).

Laga ini merupakan pertemuan pertama bagi kedua pasangan. Di game pertama, Kevin/Marcus bermain di bawah tekanan karena masih mencari formula terbaik untuk mengatasi kecepatan dan serangan tajam bertubi-tubi yang dihujankan Han/Zhou.

"Lawannya tidak mudah dimatikan. Mereka fight-nya luar biasa. Selain itu mereka mainnya nothing to lose banget, jadi tadi dapat speed nya dan jarang membuat kesalahan sendiri," kata Marcus usai pertandingan seperti dikutip dari media PBSI.

Dia dan Kevin merasa tidak tampil maksimal. Sehingga, mereka, lanjut dia, belum bisa mengeluarkan seratus persen kemampuan .

''Tapi seharusnya besok kami main lebih baik karena hari ini sudah tanding cukup sengit," jelas Kevin.

 Kevin/Marcus, yang merupakan unggulan pertama, adalah ujung tombak Indonesia untuk meraih gelar. Kevin/Marcus tentunya juga mendambakan gelar juara dunia yang merupakan gelar bergengsi selain olimpiade.

"Tekanan pasti ada, namanya kan kejuaraan besar. Tetapi kami nggak mau memikirkan itu, jalani saja, nikmati permainan," tutur Marcus.

 Sementara itu, pasangan Tiongkok mengaku cukup kaget mereka bisa memberikan perlawanan sengit kepada pasangan ranking satu dunia. Hanya,  di saat-saat kritis, mereka tegang.

''Jadi banyak membuat kesalahan. Jika kami bertemu lagi dengan mereka, kami yakin bisa tampil lebih baik," ujar Zhou. (*)

Gregoria Ikut Terhenti

 LANGKAH Gregoria Mariska Tunjung di Kejuaraan Dunia 2018 terhenti. Dia harus mengakui keunggulan Chen Yufei (Tiongkok) dengan skor 17-21, 20-22 di babak kedua Kejuaraan Dunia 2018 di Nanjing, Tiongkok, Rabu waktu setempat (1/8).

Di game kedua, Gregoria punya peluang besar saat unggul jauh 17-10. Sayang, dia belum mampu memanfaatkan keunggulan tersebut.

Enam poin berturut-turut diraih Chen. Dia pun balik memberikan tekanan pada Gregoria saat berhasil menyamakan kedudukan 18-18.

 Peluang kembali terbuka saat Gregoria menyamakan kedudukan 20-20 dan memaksakan terjadinya setting. Sayangnya saat tertinggal 20-21, pengembalian Gregoria yang gagal melewati net, membuat pertandingan berakhir.

 "Waktu unggul 17-10, saya berpikir bahwa saya punya kesempatan karena Chen fisiknya kurang bagus kalau main sampai tiga game. Saat tersusul dan saya membuat kesalahan, saya nggak mikir poinnya masih jauh, justru saya mikir jangan sampai terkejar," jawab Gregoria seperti dikutip dari media PBSI.

Dia mengaku banyak ragu-ragu dan terlalu memikirkan jaga keunggulan. Bukannya mikir pola main.

''Lawan mengubah pola main, awalnya dia menyerang dan ini lebih enak buat saya mengatur permainan. Tapi dia ubah jadi reli dan saya terlalu lama beradaptasi, dia berkembang, saya masih di situ-situ saja," ujarnya.

Ini membuat  Gregoria kalah dua kali dalam tiga pertemuan. Menariknya, keduanya merupakan mantan juara dunia junior. Gregoria menjadi pemenang pada 2017 sedang Chen setahun sebelumnya alias 2016. (*)

Sudah Tak Ada Wakil Tunggal Putra

KEJUARAAN Dunia 2018 baru memasuki babak II. Tapi, Indonesia sudah dipastikan gagal menjadi juara di tunggal putra.

Kok bisa? Ini karena semua wakilnya sudah bertumbangan. Setelah Jonatan Christie di babak I, kali ini Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto yang kalah di babak II.

Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Nanjing, Tiongkok, Rabu waktu setempat (1/8), Anthony, yang diunggulkan di posisi ke-12, secara mengejutkan takluk dua game langsung 17-21, 13-21 kepada Kanta Tsuneyama dari Jepang.

Ini menjadi kekalahan kedua dari Anthonya dari lawan yang sama. Hanya, di atas kertas, seharusnya dia bisa memetik kemenangan. Rankingnya, 12, jauh di atas lawannya yang hanya 27.

Pil pahit juga ditelan Tommy. Putra mantan juara dunia Icuk Sugiarto tersebut dihentikan wakil Denmark Hans Kristian Vittinghus dengan straight game 14-21, 15-21. Sebenarnya, posisi Tommy lebih diunggulkan. Dalam tiga kali pertemuan sebelumnya, dia selalu memetik kemenangan.

Kegagalan ini membuat puasa gelar Indonesia di sektor tunggal putra semakin panjang. Kali terakhir wakil merah putih yang menjadi juara adalah Taufik Hidayat pada 2005 di Amerika Serikat (AS). (*)

DOWNLOAD MAJALAH DIGITAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. smashyes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger